1
BUMI DAN LANGIT
Namaku Rahmat.
Aku adalah laki-laki yang paling merana di dunia. Orang-orang menjauhiku karena
sikap dan perilaku aku yang tidak sesuai dengan arti namaku. Orang tua memberi
nama Rahmat berharap supaya aku menjadi anak yang mendatangkan kebaikan pada
diriku dan orang-orang disekelilingku. Namun harapan itu amat jauh dari diriku.
Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara. Aku sangat berbeda dengan adikku Bumi.
Dia begitu baik. Berperilaku baik dan berbudiman. Orang tua selalu memberi
kasih sayang lebih antara aku dan adikku. Usia yang terpaut jauh membuatku
terkadang merasa iri terhadap apa yang telah didapat oleh Bumi. Terkadang
diriku merasa rendah bila bersampingan dengan adikku Bumi. Menjadi kebanggaan
keluarga dengan segudang prestasi membuat aku menjadi benci dengan Bumi adikku.
Langit
adalah sahabat kecilku. Dia adalah laki-laki yang sempurna. Tak jauh beda
dengan adikku Bumi bila aku lihat Langit aku merasa jauh bila disetarakan
dengan dirinya. Langit adalah pemuda yang tampan memiliki segudang bakat dan
ide kreasi yang manakjubkan. Menjadi idola setiap wanita disekolah membuatku
menjadi minder saatku jalan dengan Langit. Tapi bila dilihat-lihat wajahku tak
begitu jelek, bila dibandingkan dengan Langit rupaku tak jauh beda hanya aku
adalah laki-laki yang tak bisa mengurus diriku sendiri.
“ma, nanti
aku pulang agak sore. Ada jam tambahan disekolah” ucapku menyantap roti yang
dilumuri selai nanas kesukaanku
“jam
berapa?” tanya mama tak melihat kearahku
Sejenak
aku menahan lumatan roti dimulutku dan melihat kearah mama yang sibuk melayani
bumi “jam 3” sambungku dan melanjutkan mengunyah roti dimulutku
“kenapa
tidak pulang dulu. Jam setengah dua kan kamu sudah pulang?” sambung papa
mengoles slai dirotinya
Aku
kembali berhenti mengunyah roti dimulutku, sesaat aku menelan lumatan selai
nanas sebelum aku menjawab pertanyaan papa.
“tidak
sempat pa, habis sekolah langsung ngerjain tugas dirumah teman. Lalu langsung
kesekolah lagi”
Papa tidak
menjawab ucapanku. Dia hanya asik memakan roti yang telah dioles selai cokelat
diatas rotinya. Begitu pun dengan mama. Mereka tidak pernah melayani aku dengan
sepenuh hati hanya setengah memberikan kasih sayang mereka padaku. Ataukah
usiaku telah dewasa sehingga kasih sayang mereka sedikit berkurang padaku dan
memberi lebih pada bumi adikku? Tapi itu tidaklah adil. Aku juga anak mereka
aku juga butuh kasih sayang dari mereka.
“pa, besok
bumi ikut lomba olimpiade fisika. Acaranya akan berlangsung meriah. Dihadiri
langsung oleh menteri pendidikan”
“oh iya.
Jam berapa acaranya? kalau sempat papa juga mau lihat bumi lomba”
Begitulah
kasih sayang yang tak pernah aku dapat. Dimanja dan diperlakukan seperti bumi.
Aku hanya diam mendengar percakapan bumi dan papa. Aku hanya melumat roti
dimulutku dengan penuh kebencian. Bumi dan bumi seringkali papa membandingkan
aku dengan adikku. Itulah yang membuat aku semakin tidak suka dengan adikku
bumi.
“gak tau
pa, kata guru bumi sekitar jam 9 pagi itu pun belum pasti” jawab bumi memandang
mata papa
“kalau jam
segitu papa tidak bisa hadir. Masih banyak kerjaan dikantor”
“tidak
apa-apa pa. Do’aoin saja semoga bumi lancar lombanya”
Percakapan
itu semakin membuatku merasa tidak enak. Angin pagi yang sejuk pun tidak
membuat hatiku merasa nyaman diantara orang-orang itu. Selai nanas yang aku
kunyah terasa hambar dilidah.
“lihat
adikmu, bang. Baru kelas satu sudah ikut lomba olimpiade. Kamu sudah
bertahun-tahun sekolah tidak pernah papa dengar kamu ikut lomba, yang ada surat
peringatan dari sekolah karena kelakuanmu” sambung papa melihatku sedikit
tersenyum kecil.
Mama
melihatku. Aku merasa tidak enak untuk menelan manis roti dimulutku karena
mendengar sindiran papa dengan sengaja membandingkan diriku dengan bumi. Aku
tidak melihat kearah papa dan mama. Aku hanya mencoba untuk menelan roti yang
telah hancur dimulutku. Sungguh ucapan papa itu begitu ganas aku dengar.
“papa”
ucap mama membela
“lihat
pakaiannya saja tidak rapi. Kusut begitu seperti gembel saja”
Papa please stop membuatku merasa terhina
dimatamu. Bumi memandang papa yang tersenyum manis setelah menyidirku. Mama tak
bersuara. Matanya melihat kearah pakaianku yang sedikit kusut.
“pa, sudah
donk. Jangan menghina abang seperti itu” ucap bumi
“iya pa.
Kenapa sih papa selalu membandingkan rahmat dengan bumi? Rahmat kan juga anak
kita?”
Papa
sedikit mengerutkan keningnya. Roti ditangannya telah habis. Hanya sisa roti
yang sedikit menempel ditangannya. Aku tidak bersuara hanya melihat kearah
selai nanas didepanku. Bumi melihatku. Mama melanjutkan menghabiskan roti
ditangannya. Roti itu seperti duri sungguh tidak enak untuk ditelan. Ucapan
papa sungguh membuat hatiku sakit. Aku hanya seperti burung gagak yang tidak
diterima oleh angsa-angsa yang cantik.
Ucapan
papa membuatku tidak enak untuk menjalankan sekolahku. Ucapan itu seperti bom
atom yang meleda ditelingaku. Pagi yang cerah disekolah seperti malam yang
kelam. Penuh kabut tebal yang menyelimuti atmosfer sekolah.
“nanti
kamu pulang sendiri saja” ucapku tak bersemangat pada bumi yang berdiri
disamping motor yang aku kendarain
“abang mau
kemana?” tanyanya
“kan,
sudah aku bilang. Nanti aku ada jam tambahan. Pulangnya sore”
“bumi
tunggu abang saja. Lagian bumi juga ada jam tambahan”
“jangan.
Nanti mama marah. Kamu pulang sendirian saja” ucapku sedikit keras karena
hatiku tidak enak pada bumi
“tapi bang..”
“terserah
kamu saja. Aku tidak peduli. Kamu mau nunggu aku sampe sore atau pulang
sendiri” sebutku marah
Bumi
terdiam. Dia tidak menjawab ucapanku. Dia menundukkan kepalanya. Lalu aku pun
pergi meninggalkan adikku sendiri. Kusadari sikapku pada bumi berlebihan, tapi
aku tidak suka dengannya. Karena dia,
papa dan mama selalu membandingkan aku dengannya.
Sekolah adalah surgaku.
Jauh dari papa dan mama. Tidak ada kata bumi yang terdengar. Tidak ada
perkataan yang menghina dan membanding-bandingkan aku dengan bumi adikku. Aku
selalu menikmati hembusan angin pagi yang sejuk sejenak menghilangkan beban
dibatin. Aku ingin menikmati
hidup ini. Aku tidak ingin kehadiran orang-orang yang membuat hidupku merasa
berat dan terbeban bila dijalankan.
“rahmat”
teriak sosok pemuda dari kejauhan
Itu langit
Sahabatku. 10 tahun bersahabat selama itu pula aku selalu dibandingkan dengan
langit. Dia laki-laki yang sempurna. Semua yang dicari ada di dia. Mulai kepintaran,
cinta, tahta dan wanita. Bila dilihat dengan jelas langit tidak jauh beda
dengan bumi adikku, hanya saja perilaku langit tidak sebaik dengan bumi.
“what
up bro? Gimana nanti jadi gak?” ucap langit penuh semangat
“gak tau
bro?” jawabku singkat
“kenapa?
Nyokap bokap kamu gak boleh?”
“iya”
“aduh
sayang sekali mat, kalo lo gak pergi bakalan rugi. Ada barang baru?” terdengar
nafas langit saat membisik ditelingaku
Sejenak
aku diam mencoba untuk menarik nafas dalam. Langit terus mendesak aku untuk
menerima tawaran darinya.
“lihat
saja nanti” ucapku lesu
Hembusan
angin begitu menyejukkan hati. Kepalaku terasa segar ketika angin sepoi berhembus dirambut kepalaku. Langkah
kakiku menyusuri setiap alun sekolah menuju kekelas. Disinilah aku merasa
sangat bebas. Sekolah membuka cakrawala buatku bebas mengekspresikan diri. Teman,
guru dan ide gilaku. Dan langit cowok itu sungguh sempurna. Berkulit putih
bersih, harum parfumnya yang sangat menyengat terasa hingga menusuk kedalam
hidung. Wajahnya yang bersih dan berpakaian rapi membuatku merasa malu bila
berjalan dengannya. Kakiku dan langit terus menyusuri setiap kotak-kotak
keramik sekolah hingga sampai dikelasku. Didalam kelas teman-temanku telah
menunggu. Merekalah yang membuatku selalu hidup dan bersemangat untuk
menjalankan hari-hariku disekolah.
“hai mat?
Jadi gak nanti?” tanya lintang
“eh, lihat
aja nanti” jawabku tersenyum
“ayo lah,
ada barang baru” timpal riyan yang berdiri seketika berhenti di sampingku
sambil memukul bahuku.
“iya lihat
saja nanti” jawabku sedikit memaksa
Lalu aku
melemparkan tasku dikursi biasa aku tempati. Suara kumpulan teman-teman yang
tak hentinya terdengar dengan jelas ditelingaku. Suara bising itu terdengan
jelas digendang telingaku. Mataku merasa bosan dengan orang-orang itu. Kulihat sekeliling
ruang kelasku, mataku mencari-cari sosok perempuan yang telah menjadi semangat
aku untuk bersekolah. Setelah sekian lama mataku mencari-cari dan akhirnya
perempuan itu pun muncul dibalik pintu kelas. Dia adalah laila, perempuan
pujaanku. Dia lah salah satu tujuan mengapa aku tetap bersekolah. Aku melihat
perempuan itu berjalan masuk ke dalam kelas, dia tersenyum aku pun membalas
senyumannya. Tak hanya aku yang menyukai laila, langit sahabatku pun suka pada
siswi teladan itu. Namun bila aku pikirkan,
laila tidaklah sepadan denganku, aku dengannya bagaikan langit dan bumi.
Mungkin saja laila sepadan dengan langit dengan segudang imajinasi dan ide
kratif yang mencakar cakrawala dengan sejuta karya yang telah dikenal oleh
bangsa. Salah satu karyanya foto yang terpajang dikamarku. Fotografer adalah
salah satu kelebihan yang dimiliki oleh langit. Mungkin aku tidaklah sehebat
dan seberani langit untuk menyatakan perasaannya dengan laila. Bibirku membeku
saat aku bertatapan muka dengan wanita pujaanku itu. Mata indahnya begitu
bergairah dan memecahkan kata-kataku.
Pagi itu,
laila begitu ayu dan anggun. Kepalanya yang berbalut jilbab putih menambah
kecantikannya terpancar disetiap sudut sekolah. Kulihat langit mendekati laila,
perlahan kaki langit melangkah menuju wanita yang duduk tersenyum itu.
“good
morning, ukhti?” tempal langit yang berdiri seketika berhenti di depan meja laila sambil
tersenyum ke arah laila.
“selamat pagi. Langit” balasnya
“bagaimana, nanti jadi tidak kita
ngerjain tugas bareng?”
“insyallah. Siapa saja yang mau
ikut?”
“selain saya, itu mereka juga mau
ikut?” balas langit sambil menunjuk ke arah segerombolan anak-anak yang berdiri
didekatku.
Perasaanku sedikit bergetar, rasa cemburu terbesit
dibalik hatiku melihat langit berbicara dengan laila. Kusimpan senyum
dibibirku, mataku kembali memandang daun-daun yang bergoyang diluar kelas. Suasana
sejuk pagi itu tiba-tiba terasa panas membakar. Bagaikan jahanam yang membakar
didalam ruang kelas.
2
PERMAINAN
HATI
Hawa panas sekolah seakan membakar
seluruh tubuhku. Keringat yang membasahi bajuku sangat terasa dikulit.
Sore itu mentari sangat cerah bersinar
hingga menyengat dikulit. Kepalaku terasa terbakar. Kulihat bumi adikku duduk
termenung sambil memegang buku olimpiadenya. Aku sedikit membuat bumi menunggu
lama. Aku terlihat kesihan pada adikku. Aku menyusuri setiap jalan, kakiku melangkah mendekati bumi yang duduk diantara pohon
yang rindang itu. Bumi tak menyadari akan kedatanganku. Kulihat dia asik
membaca bukunya.
“bumi, ayo pulang?” tempalku
Seketika bumi melihat kearahku yang
berdiri disampingnya. Dia sedikit terkejut akan kedatanganku dengan tiba-tiba.
Dan bumi pun menutupi buku yang dia baca.
“abang!” sapanya
“ayo pulang. Nanti mama khawatir
kamu pulang terlalu sore”
Bumi tidak menjawab dia hanya
menganggukkan kepalanya. Bumi adikku sangat patuh pada apa yang aku katakan.
Wajar saja papa dan mama menyayanginya dengan lebih. Dia selalu mengikuti apa
yang papa dan mama minta. Berbeda denganku yang selalu membangkang.
“nanti bilang sama mama, abang
pulang habis magrib”
“abang mau kemana?” tanya bumi
melihatku
“abang mau kerumah langit”
“abang kan belum makan. Makan dulu”
“sudah tadi”
“tapi bang...”
Langkahku berhenti. Mataku melihat
kearah bumi yang juga berhenti tepat disampingku. Kulihat matanya yang penuh
kekhawatiran itu. Aku memasangkan wajah yang masam padanya, mata bumi menunduk
tak melihatku. Mungkin dia takut diamarahi, atau mungkin dia tidak suka
melihatku berkata demikian. Namun, aku tahu jawaban dari mata layu adikku itu.
Sesungguhnya dia tidak ingin aku pergi dan segera pulang bersamanya. Aku tahu
bumi sangat menyayangiku, dia tidak ingin melihatku dimarah sama papa setiap
hari. Tapi bagiku, sayangnya bumi membuat aku semakin benci padanya. Karena
kasih sayang papa dan mama seluruhnya untuk bumi. Kutahu ini tidaklah adil
baginya. Namun, hatiku terlanjur sakit padanya. Karena aku selalu dibandingkan
dengan bumi. Aku tidak berkata, kuteruskan langkahku menuju motorku yang
terparkir dihalaman sekolah. Beberapa langkah menuju motor, langkahku kembali
berhenti. Kumendengar seorang memanggilku dari kejauhan. “rahmat” ucapnya....
Aku pun mencari-cari sumber suara
itu. Tidak hanya aku, bumi pun melihat kekiri dan kanan mencari suara yang
memanggil namaku. Beberapa saat kumencari-cari suara itu, tiba-tiba berlari
seorang gadis pujaan hati mendekatiku dan bumi.
“eh, laila” ucapku
Setelah dapat menghapiriku, Sejenak
laila terdiam menatap mataku. Lalu dia tersenyum dan aku pun membalasnya.
Matanya sungguh indah dan menawan, wajahnya sangat ayu. Kumenatap dalam matanya
semakin kutatap mata indah itu hatiku semakin bermain. Berdetak kencang seakan
diterjang oleh kencangnya angin sore.
“hai bumi” sapanya sambil
menundukkan kepalanya pada adikku
“hai kak” bumi membalas sapaan itu
“oh ya mat, ini buku yang kamu mau
pinjam. Semuanya sudah aku salin jadi satu. Nanti kamu pelajari saja yang
dirangkuman terakhir. Rumusnya sudah aku pisahin” sebutnya tersenyum
Lalu gadis itu menyodorkan buku yang
dia ambil dari tasnya. Aku selalu meminjakan catatan laila ketika ujian akan
datang. Aku suka dengan tulisan laila yang begitu cantik dan rapi.
“oh, iya”
Senyum dibibir laila belum juga
menghilang. Tak bosan mataku memandang senyuman kecil itu. Senyuman itu semakin
membuat hatiku bermain lebih dahsyat. Kedatangan laila mengubah perasaanku yang
buruk menjadi membaik. Kemarahanku pada bumi menghilang ketika laila datang.
Laila mampu membuatku tersenyum seakan langit sore terlihat bermain dengan
awan-awan yang indah menyelimuti mentari yang bersinar merah keemasan dibagian
barat. Bumi tak bersuara, dia hanya melihat pergaulanku dengan laila gadis
pujaanku itu.
“thanks, ya” ucapku menarik
buku dari tangan laila
“iya”
“iya sudah, aku duluan ya, La.
Bukunya aku pinjam dulu besok aku balikin” sebutku
“iya santai saja. Good luck
ya?” sebutnya
Aku dan Bumi pun naik motor dan
motorku melaju dengan pelan dan meninggalkan laila seorang diri. Tak jauh dari
hadapan lailai ku mendengar laila kembali memanggil namaku.
“rahmat” ucapnya
Lalu motor Vario yang aku tunggangi
pun berhenti. Kumelihat kearah laila yang berdiri dari kejauhan. Dia tersenyum
lebar, matanya semakin enak dipandang. Wajahnya yang bulat terlihat anggun dan
menawan “hati-hati” sambungnya.
Sungguh anggun rupanya wanita itu.
Ucapanya mampu mengalihkan duniaku. Hatiku semakin bermain hebat. Jantungku
berdetak kencang seakan ingin jatuh. Lalu aku membalas senyuman laila yang
indah itu dan menganggukkan kepala dengan pelan yang berarti memberika isyarat iya
atas ucapan laila. Setelah senyuman itu menghilang motorku pun melaju semakin
menghilang dari gerbang sekolah dan dari laila perempuan cantik itu.
Senyuman laila begitu ayu dan
anggun. Sejauh aku membawa motor hanya senyuman laila yang ada dikepalaku.
Sepanjang perjalanan aku selalu tersenyum bahagia. Langit sore yang indah
dengan perpaduan awan putih sedikit biru dan angin sore sepoi membawa
keberuntungan bagiku. kudapat melihat keindahan senyuman bidadari yang berwujud
manusia.
Senyuman laila menghilang ketika
malam datang. Kulihat jam dindingku berdetak kecil. Suara radio bumi adikku
terdengar dengan jelas dari teras rumahku. Pukul telah menunjukkan tepat jam 11
malam. Tak terlihat mama dan papa diruang keluarga mungkin sudah terlelap
tidur. Dan aku pun langsung naik keruang atas dan masuk ke kamar. Setiba
dikamar, aku melihat bumi sedang belajar. Jendela yang terbuka kecil dan tirai
jendela terlihat bergelombang kerena tertiup angin menghasi indahnya kamarku.
“belum tidur?” ucapku pada bumi
Bumi tidak langsung menjawab,
kulihat dia menarik nafas dalam. Menghirup udara malam yang menyejukkan jiwa
dan raga. Rupanya bumi telah menyadari akan kedatanganku. Dia melihat kearahku,
tangannya sejenak berhenti menulis lalu dia tersenyum kecil setelah itu
melanjutkan menulis kembali.
“belum” sebutnya tak melihatku
“kenapa? Bukannya besok sekolah?
Memangnya tidak mengantuk?”
“bumi nunggu abang pulang”
“kenapa?” tanyaku
Bumi tidak menjawab. Dia hanya asik
menulis. Beberapa detik aku menunggu jawaban dari bumi. Akhirnya dia berkata.
“tidak apa-apa. Kalau pintu rumah
sudah terkunci, mama dan papa sudah tidur yang bukakan pintu siapa? Emangnya
abang mau tidur diluar?”
“iya tapi kan tidak semestinya kamu
tidur larut malam begini. Kan besok mau sekolah”
“abang sendiri? Bukankah besok juga
sekolah?” tanya bumi
Pertanyaan itu tidak dapat ku jawab.
Aku hanya diam memandang adikku. Perkataan bumi ada benarnya. Aku merasa
bersalah padanya. Karena menungguku bumi harus tidur larut malam.
“lain kali tidak usah menuggu abang,
kalau mengantuk tidur saja. Kalau abang pulangnya jam 3 pagi emangnya mau kamu
nunggu abang sampai jam segitu” ujarku
Bumi tidak merespon perkataanku. “abang”
sebutnya
Tiba-tiba tangan bumi berhenti
menulis. Pandangan bumi melihat kearahku yang berdiri dibelakangnya. Suara
radio tua itu terdengar merdu. Nyanyiannya begitu indah didengar oleh
telingaku.
Kumelihat kearah bumi yang
memasangkan wajah tak seperti biasanya, terlihat sedikit takut. Keningya
terlihat mengerut, bumi memainkan bibirnya kearah kanan dan kiri memberi tanda
bahwa dia ingin mengatakan sesuatu. Aku hanya terdiam berdiri sambil melepaskan
pakaian sekolahku yang masih aku pakai. Mata bumi terlihat ragu untuk berkata
denganku.
“bumi tidak ingin melihat abang
selalu dimarah papa. Bumi tidak ingin abang benci sama bumi karena papa selalu
membandingkan abang dengan bumi. Bumi tidak pernah bermaksud untuk
membandingkan abang dengan bumi. Bumi sedih mendengar abang selalu direndahkan
sama papa dan teman-teman abang. Bumi sayang abang. Karena hanya abang saudara
bumi satu-satunya. Bila bumi merasa butuh seorang untuk berbagi cerita, tidak
ada orang lain selain abang. Tapi bumi takut bang, karena bumi tahu setiap kali
bumi ingin berkata, abang terlihat tidak suka. Abang benci sama bumi karena
papa seringkali membandingkan bumi sama abang”
Ucapan bumi seakan tamparan bagiku.
Perasaanku bermain sangat hebat melebihi perasaan hatiku ketika aku menatap
wajah laila tadi siang. Mataku termenung sejenak menatap cermin yang menempel
didinding kamarku. Salahkah aku pada adikku. Sehingga dia berkata demikian? Aku
tidak menjawab perkataan bumi. Aku pun tidak melihat kearahnya. Lalu aku
kembali melepaskan jam tanganku yang sempat terhenti oleh perkataan bumi. Aku
merasa bersalah padanya. Aku terlalu membuat bumi takut. Aku menarik nafas
dalam sungguh pekataan bumi itu sangat menyesakkan dadaku. Suasana kamarku
sangat sunyi sepi, hanya terlihat tirai jendela yang bergoyang karena tertiup
angin, bumi tidak bersuara aku pun begitu hanya terdengar suara nyanyian lawas
dari radio tua itu yang membuat kamarku terdengar sedikit ramai.
Mataku melihat kearah adikku bumi
yang duduk memandang kearahku. Wajahnya begitu sedih kelihatannya, matanya
sedikit berlinang. Bibirnya terlihat mengerut. Aku dapat menggambarkan
kekecewaannya terhadapku. Aku merasa bersalah padanya. Sejenak aku memandang
matanya yang sedih itu. Beberapa detik aku melihat bumi aku pun pergi kekamar
mandi meninggalkan bumi seorang diri. Kumelakukan itu, bukan karena aku marah
pada bumi. Tetapi, aku tidak ingin bumi melihat air mataku terjatuh dihadannya
karena ucapannya itu. Aku meninggalkan bumi tanpa satu kata pun. Didalam kamar
mandi itu aku menangis dengan hebatnya. Aku mencoba untuk menahan suaraku agar
suara tangisanku tidak terdengar oleh bumi. Perasaanku sangat pedih. Kata-kata
bumi sungguh menyayat hatiku. Kutahu bumi sangat menyayangiku namun karena
orang-orang sering kali membandingkan aku dengannya membuat aku semakin benci
padanya. Air mataku tak berhenti mengalir. Sungguh hatiku sedih mendengarkan
ucapan adikku. Perasaan hatiku sangat bermain hebat. Permainan hati yang indah
telah aku dapat dari gadis pujaanku laila ketika aku dan dia saling bertatapan
muka dan permainan hati yang sedih juga aku dapat dari adikku bumi. Sungguh
permainan hati ini tidak dapat aku tahankan.
3
MENDUNG
MEMBAWA PETAKA
Setelah hatiku bermain hebat karena
wajah laila yang amat mempersona dan sakitnya hatiku karena perkataan adikku
semalam membuatku tidak enak untuk menjalankan kegiatanku disekolah. Pagi ini
sedikit mendung, awan hitam menghiasi setiap lingkaran bola atom raksasa yang indah.
Sinar mentari pagi tak terlihat, hanya udara sejuk terasa dikulit. Pagi yang
sejuk ini aku tidak banyak berbicara pada bumi adikku. Rasa sakit hatiku
semalam masih terasa, kalimatnya yang terasa panas ditelinga itu membuat
ubun-ubunku seakan keluar dari kepalaku. Antara rasa benci dan kesihan masih
mengambang dikepalaku. Pikiranku tidak lepas dari bumi adikku. Kata-kata itu
mampu menghilangkan gambaran wajah laila yang anggun dari kepalaku.
“rahmat?” Sapa gadis pujaanku
Langkah laila dari belakang tak
terdengar oleh telingaku. Mungkin aku asik menikmati hawa sejuk yang menari
dikulitku. Atau mungkin aku masih memikirkan perkataan bumi. Pagi ini laila
terlihat sangat cantik dan anggun berjilbab putih dengan garis-garis kecil yang
melingkar disetiap ujungnya, semua tertegun melihat paras wajahnya yang cantik.
Mungkin tak hanya aku, langit dan teman yang lain juga begitu.
Mungkin saja pohon-pohon dan seisi sekolah juga terpana dengan kecantikan
wajahnya.
“eh, laila. Tumben siang datangnya?”
“iya nih tadi ada kerjaan dirumah.
Oh ya, bagaimana sudah kamu salin belum tugas kemaren?”
“sudah, sudah. Oh iya ini buku kamu”
Aku mengeluarkan buku laila dari
tasku. Aku sangat suka meminjam buku catatan laila, tulisannya sangat cantik
dan rapi tak jauh dari paras wanita berjilbab ini.
“benaran sudah. Kalau belum, pinjam
saja dulu. Aku masih ada copiannya kok”
“ngak, sudah. Ini aku kembalikan
bukumu”
“iya sudah”
Lalu laila mengambil bukunya dari
tanganku dan memasukkannya ke dalam tasnya. Pagi itu hatiku sangat senang
pasalnya tanpa sengaja aku berjalan bersama gadis pujaannku. Aku tidak tahu
laila mengarti atau tidak dengan perasaanku ini. Aku tidak lah memiliki
keberanian untuk mengatakan itu semua. Mungkin melalui sebuah puisi yang aku
buat didalam buku laila itu dia mengerti perasaanku padanya.
“oh ya la, aku ada sesuatu
untuk....”
“rahmat” tempal langit berlari
seketika berhenti disampingku
Tak sempat melanjutkan perkataanku,
langit tiba-tiba datang memukul bahuku. Pukulan itu sedikit terasa sakit namun
tak apa itulah langit dengan semaunya berbuat pada orang. Aku tak melanjutkan
cakapan aku dengan laila.
“eh, lang. Sama siapa?” tanyaku
“sendiri. Yang lain belum pada
datang” jawabnya “eh ada neng gelis. Selamat pagi cantik?” ucapnya ketika
melihat laila berjalan disamping kananku
Dengan ramah laila membalas ucapan
langit yang sedikit membuat hatiku sakit.
“selamat pagi langit”
“pulang sama siapa nanti? Kalau
tidak ada teman. Pulangnya sama aku saja” ucap langit sedikit memaksa
Aku hanya diam dan melirik-lirik
percakapan langit dan laila. Langit benar-benar membuat hatiku sakit. Hawa yang
terasa sejuk dikulit terasa panas karena ucapan langit. Langit begitu
pemberani, dia sempat menyatakan perasaannya pada laila namun ditolak. Laila
mengatakan ada seorang laki-laki yang ia tunggu untuk menjadi pacar. Dan aku
tidak tahu siapa laki-laki yang disukai oleh gadis yang cantik ini. Tapi siapa
pun itu orangnya dia begitu beruntung mendapatkan laila menjadi kekasihnya.
“hhmm.. tidak apa-apa lang. Aku
nanti dijemput sama ayahku”
“sekali aja. Pulang sama aku” pinta
langit sedikit memaksa
“terima kasih langit. Tapi tidak
bisa”
“iya sudahlah, kalau orang tidak
suka jangan dipaksa” sambungku
Usaha langit pun sia-sia. Laila
menolak ajakan langit untuk pulang bersama. Tapi langit tidak putus asa untuk
mendapatkan laila. Gadis pujaannya dan juga gadis pujaanku. Hatiku terasa
terbakar ucapan langit sangat menyakitkan hatiku. Ingin rasanya aku pergi dari
kedua orang itu. ingin rasanya aku menarik tangan laila agar langit tidak
mengganggu. Namun itu semua tidaklah sanggup aku lakukan. Aku bukanlah langit
sang pemberani, aku hanyalah seorang pecundang yang bisa mencintainya dalam
diam.
Kutuliskan sebuah puisi cinta
dihalaman terakhir buku laila yang aku pinjam. Aku sedikit menunjukkan bakatku
dalam sastra pada gadis pujaanku. Aku ingin memberi tahunya kalau aku juga
punya kelebihan tidak hanya saja membuat kekacauan. Aku ingin memberitahunya
bila aku juga seperti langit yang mempunyai seribu ide dan bakatnya yang
cemerlang.
Disudut sekolah, tempat biasa aku,
langit dan teman-teman menghabiskan waktu bersama. Kegilaan yang kami buat akan
mejadi saksi perjalananku dimasa sekolah. Karena tingkahku jugalah puluhan
surat panggilan orang tua telah aku terima. Namun tidak pernah aku beri kepada
papa dan mamaku. Aku tahu bila surat itu aku kasih, papa dan mama akan sangat
marah padaku.
Dari kejauhan aku melihat bumi
adikku berjalan bersama teman-temannya dan didampingi oleh seorang guru. Aku
tidak ingin bumi melihatku seperti ini. Kegilaan yang kami buat ini adalah
bagian dari hidup kami, tidak hanya di dalam sekolah diluar sekolah pun kami
lakukan lebih dari apa yang kami buat sekarang.
“sedang apa kalian?” teriak seorang
guru seketika membuka matanya dengan lebar
Aku, langit dan teman lainnya
terkejut dengan kedatangan guru tersebut. Langit dan teman lainnya langsung
membuang rokok yang dihisapnya. Namun
tidak denganku, jariku tetap mengapit rokok yang telah habis setengah.
“rahmat” teriaknya kembali
Kulihat dibelakang guruku itu
berdiri bumi adikku dan temannya yang lain. Bumi menundukkan kepalanya seperti
biasanya ketika aku memarahinya. Tapi kali ini aku tidak tahu dia mengapa dia
menundukkan kepalanya. mungkin saja bumi malu melihat tingkah lakuku.
“rahmat ikut bapak ke ruangan”
pintanya
Ketika aku berada diruang guru tak
seorang pun yang ada terlihat didalamnya. Tidak ada langit, teman-teman yang
telah membawa aku kedalam bilik neraka ini. Hanya aku lihat bumi yang berdiri
disampingku.
“bapak sudah bosan melihat tingkah
kamu seperti ini, rahmat. Jari bapak sudah letih mengetik surat penggilan untuk
orang tua kamu. tapi sifat kamu tetap saja tidak berubah” ucap kepala sekolah
memecah di tengah suasana kantor yang sepi dan menggema di seluruh koridor
koridor sela sela ruangan kantor. “apa mau kamu, ha?” tanya kepala sekolah itu
dengan wajah yang datar.
“mau saya, teman-teman saya diintrogasi
juga bukan hanya saya saja” sebutku
“siapa? Langit? Jangan kamu urusin
orang lain. Coba kamu urus diri kamu.”
“loh, bukannya mereka juga merokok
bersama saya disudut sekolah tadi pak? Mengapa mereka tidak menghadap? Ini
tidak adil” sambungku
“rahmat-rahmat. Apa yang kamu bisa
selain membuat kekacauan, ha? Jangan kamu samakan dirimu dengan langit. Iya,
bapak akui dia sedikit nakal. Tapi dia sering membanggakan sekolah dengan
idenya yang cemerlang. Dia sering memenangkan perlombaan. Bahkan dia pernah
mendapat medali perak di lomba foto grafer tingkat nasional. Nah kalau kamu
apa?”
Kulihat bapak kepala sekolah
tersenyum mengenang detik-detik kemenangan langit kala itu hadiahnya langsung
diterima oleh kepala sekolah.
“loh, itu kan beda waktunya pak? Waktu
dulu jangan disamakan dengan waktu sekarang”
“pandai kamu menjawab iya. Baiklah
besok bapak minta kamu ajak kedua orang tua kamu kesekolah. Bapak ingin bicara.
Bapak sudah capek dengan tingkah kamu” ucapnya
“ini tidak adil pak” balasku dengan
segera menggelengkan kepalaku
“apanya yang tidak adil? Katakan?”
Aku terdiam. Sejenak kumenkmati
atmosfer ruangan yang kurasakan seperti jahanam yang membuat hatiku sakit.
Cibiran itu seperti bara api yang panas. Kulihat bumi berdiri disampingku. dia
hanya berdiam diri, dia tidak membela bumi
hanya menundukkan kepalanya.
“seharusnya kamu itu mencotoh adik
kamu. lihat bumi anak yang pintar, rajin, sopan pemenang olimpiade sains. Tidak
seperti kamu. tidak bisa apa-apa” tegasnya
Perkataan itu seperti tombak yang menancap
ditelingaku. tidak hanya papa yang selalu membandingkan aku dengan bumi namun
guru dan kepala sekolah pun melakukan hal yang sama. Aku melihat kearah bumi
dengan mata yang penuh kebencian. Ucapan kepala sekolah itu membuat aku semakin
benci dengan laki-laki yang berdiri disampingku ini. Kata-kata itu seperti
jahanam yang keluar dari mulut singa yang hanya mampu mengaum dalam sangkar.
Wajahku memerah, amarahku semakin tinggi. Bumi melihat kearahku. Namun aku tidak
melihatnya. Aku hanya menatap wajah kepala sekolah yang berdiri dihadapanku.
“bumi lagi. Bumi lagi. Semua orang
membandingkan aku dengan bumi. Asal bapak tahu..” aku menunjukkan jari
telunjukku tepat didepan wajah kepala sekolah “aku memang tidak bisa seperti
dia. Aku tidak punya otak sehebat dia. Tapi aku juga punya kelebihan” balasku
dengan nada yang tinggi
Kepala sekolah tertawa mendengar
ucapan itu “kelebihan?” sebutnya kembali “kelebihan apa yang kamu punya?”
Aku semakin emosi, wajahku sangat
memerah. Mataku penuh kegelapan. Darahku mengalir dengan cepat. Jantung hatiku
berdetak hebat. Sungguh dahsyat kurasakan setan berbisik ditelingaku untuk
membalas ucapan kepala sekolah itu. kugenggamkan tanganku, ingin rasanya
kumemukul laki-laki yang berdiri dihadapanku ini. Ingin rasanya kumembalas ucapanya
itu dengan melayangkan seonggok buku diatas mejanya.
“abang” ucap bumi menarik genggaman
tanganku
Mendengar ucapan bumi, hatiku berkata
untuk tidak melakukannya lalu aku melepaskan genggaman tanganku dan langsung
pergi dari hadapan laki-laki yang berdiri tersenyum itu.
Bumi mengejarku hingga keluar
ruangan. Aku dengan cepat melangkah meninggalkan ruangan yang penuh duri yang
mencabikkan harga diriku. Dengan sigap pula bumi menyusulku dari belakang. Hawa
panas dalam ruangan kepala sekolah terasa hingga keluar walaupun langit mendung
dan angin terasa sejuk dikulit.
“abang” kudengar bumi terus menerus
memanggilku. Namun aku tetap melangkah jauh
“abang”
“apa?” ucapku dengan emosi
Langkahku terhenti, bumi tak
henti-hentinya memanggilku. Hatiku yang panas merasa benci bumi selalu
memanggilku.
“abang, apa yang abang lakukan
dengan bapak kepala sekolah tadi. Tidak seharusnya abang melakukan itu?”
“lalu, aku harus melakukan apa?
harus menundukkan kepala seperti kamu, ha?”
“seharusnya abang bisa mengendalikan
emosi abang. Sikap abang terlalu berlebihan”
“apa aku harus diam ketika dia
merendahkanku? Aku sudah bosan orang-orang membandingkan aku, kamu dan langit.
Tidak dirumah sekolah orang-orang selalu membandingkan aku dengan kamu”
“abang tidak perlu mendengarkan apa
yang orang katakan”
“aku punya telinga, bagaimana tidak
mendengar bila orang itu membandingkan aku dengan kamu didepanku”
“tapi bang....”
“shut up” teriakku
Aku mengangkat tanganku yang
kugenggam didepan wajah bumi. Seketika bumi terkejut melihat itu. Emosiku tak
dapat kukendalikan, hampir-hampir genggaman itu sampai diwajah bumi adikku.
Lalu aku pun melarikan diri meninggalkan bumi seorang diri. Aku melarikan diri
dalam keadaan emosi. Hatiku masih terasa panas dan sakit mendengar perkataan
kepala sekolah itu.
Aku melarikan diri dari orang-orang
itu. Aku tidak ingin orang-orang menggangguku. Kuingin menenangkan perasaan dan
hatiku. Disudut sekolah yang berbeda, aku duduk termenung dengan hati yang
masih beremosi. Genggaman tanganku belum juga aku lepaskan. Sekali-kali aku
memukul meja yang rapuh tak terpakai itu untuk meluapkan rasa benciku pada
orang-orang yang aku benci.
“rahmat”
Tiba-tiba kumendengar seorang
memanggil namaku. Suara itu tidak asing ditelingaku. Suara perempuan yang
selalu bermain dikepalaku. Suara yang lembut dan syahdu mencairkan emosiku.
Lalu aku membalikkan tubuhku menghadap seorang yang menungguku. Betapa
terkejutnya ketika aku melihat laila berdiri dihadapanku. Kulihat wajahnya yang
cantik itu. Wajahnya dapat meluluhkan emosiku. Lalu aku melepaskan genggaman
tanganku.
“ada apa? sepertinya kamu sedang
menghadapi masalah?” sebut gadis itu dengan nada suara yang lembut
Sejenak aku terdiam. Aku heran dan
selalu bertanya. Mengapa dia ada disini dan dari mana dia tahu kalau aku ada
disini?
“tidak ada-apa” sambungku
Laila melangkah mendekatiku, dan
duduk dikursi yang terletak tidak jauh dari aku berdiri.
“aku tadi malihat Kamu memarahi bumi,
kudengar juga kamu menyebut nama langit? Apa langit menyakiti kamu?”
“tidak” jawabku
“menyakiti bumi?”
“tidak”
“lalu?”
“tidak ada. Aku hanya sedang
berjuang melawan emosiku”
“mengapa?” tanya laila dengan rasa
penasaran
“aku tidak suka saja orang-orang
membandingkan aku, bumi dan langit. Memang aku tidak bisa seperti mereka.
Langit laki-laki yang hebat dengan segudang ide cemerlangnya. Bumi adikku
selalu menjadi kebanggaan papa dan guru-guru. Aku tidak bisa dipaksa untuk
seperti mereka” tegasku meluapkan emosiku pada laila yang terduduk itu
Laila hanya menyaksikan aku berbicara
sejenak dia senyum. Entah mengapa dia tersenyum seorang diri. Mungkin dia
melihatku seperti orang gila hingga menggelitik perutnya. Atau dia tersenyum
dengan reaksiku.
“oh, itu permasalahannya?” sebutnya,
lalu laila membangunkan dirinya dan mendekatiku. Wajahnya yang selalu tersenyum
itu selalu kubayangkan keindahannya. Wajahnya yang bersih dan jernih itu menggambarkan
keindahan dirinya “seharusnya kamu katakan kepada orang-orang itu. bahwa kamu
adalah seorang laki-laki yang tidak ingin menjadi diri orang lain. Kamu tetap
jadi diri kamu sendiri. Ingat mat, setiap manusia itu dilahirkan memiliki
kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Mungkin saja kelebihan yang kamu
punya tidak dimiliki oleh langit dan bumi dan sebaliknya” tuntasnya
“tapi mereka selalu merendahkan aku.
Mereka bilang aku tidak memiliki kelebihan apa-apa. Aku hanya bisa membuat
kekacauan. Aku seorang laki-laki yang terbuang. Aku bagaikan seekor gagak hitam
yang ingin berubah menjadi angsa putih agar keindahanku bisa dinikmati orang
lain”
“tidak mat. Siapa bilang kamu tidak
memiliki kelebihan?”
“maksud kamu?” tanyaku pada laila
“puisi kamu begitu indah” sebutnya
Aku terheran. Puisi? Puisi apa?
sebutku dalam hati. Laila menatap mataku dengan keindahnya. Dimata gadis itu
tergambar pelangi yang indah. Matanya yang sedikit besar itu sangat cantik tak
bosan rupanya diriku untuk memandang bola matanya yang cantik itu.
“aku sudah membaca puisi kamu dalam
bukuku. Sungguh indah. Aku suka mat” sambungnya “bila kamu kembangkan bakatmu itu akan menjadi modal
kamu untuk menunjukkan kepada orang-orang itu kalau kamu memiliki kelebihan
dalam sastra”
Hatiku luluh. Aku tersenyum kecil.
Akhirnya gadis pujaanku membaca puisi yang kubuat. Memang puitis. Diksinya
sangat indah. Puisi yang kubuat dengan hati dan kembali kehati. Suasana hatiku
kini sedikit dingin mendengar pujian laila. Suasana mendung yang membawa petaka
itu telah berubah menjadi mentari yang memberi sinar dan keindahan setiap
cahayanya.
4
PUISI CINTA
Pesona wajah gadis pujaanku masih
bermain dikepalaku. Sekali-kali aku tersenyum seorang diri mengenang pujian
laila tadi siang. Puisi cinta yang kubuat telah dibaca olehnya. Puisi yang
puitis menggambarkan perasaanku terhadapnya. Namun aku tidak memiliki keberanian
untuk mengungkapkan perasaanku, apalagi aku telah berjanji pada langit untuk
tidak mendekati laila.
“bagaimana caranya untuk
menyampaikan dengan papa dan mama?” tempal bumi adikku seketika dia membuka
pintu kamar dan duduk diatas kursi belajarnya.
“tentang apa?” tanyaku
“masalah abang?”
Pertanyaan bumi membuat perasaanku
menjadi tidak enak. Pertanyaan itu membuatku teringat kejadian yang memalukan
tadi siang ketika aku berada didalam ruang kepala sekolah. Seketika aku
mengingat-ingat kejadian itu senyumanku pun menghilang, terbayang-bayang wajah
kepala sekolah yang berbadan besar dan bermulut seperti singa mengaum dalam
sangkar. Dan ketika aku mengenang perkataan laila aku merasa tenang. Perkataan
itu menjadi energi dalam hidupku. Dan aku pun kembali tersenyum.
“itu menjadi urusan abang”
“tapi bang, papa dan mama harus tau
masalah ini?”
Senyumku kembali menghilang.
Kumelihat kearah bumi yang sedang menulis.
“kamu mau melihat abang dimarahi
papa?” tanyaku sedikit emosi
“tidak bang, tapi abang harus
menyampaikannya. Mama dan papa besok harus kesekolah. Kalu tidak...”
“ngak?” sambungku
Bumi melihatku dengan wajah sedikit
kecewa. Matanya tergambar kekewaan padaku. Dibibirnya tak terlihat senyuman
seolah dia menunjukkan kebencian pada diriku. Bumi adikku sangat baik dan
peduli padaku. Sikapku yang kasar padanya membuat dirinya tidak berani
berbicara padaku. Aku sedikit keras padanya hingga dia tidak berani melihatku
lama-lama. Aku memang berbeda dengan laki-laki itu. Bumi adikku begitu baik dan
dewasa. Bila kulihat lebh dalam ketampanan adikku melebihi ketampananku dan
langit. Kesempurnaan itulah yang membuat aku tidak suka padanya. Hatiku selalu
berbisik untuk selalu memarahinya ketika aku melihatnya.
“tapi bang. Kalau mama dan papa
tidak kesekolah abang tidak bisa ikut ujian?”
“sudah lah. Itu urusan abang. Abang
tahu bagaimana cara mengatasinya”
Bumi tidak melanjutkan perkataan
itu. Dia kembali meneruskan menulis. Dia tidak bersemangat
melanjutkan perdebatan itu. Dia terlihat takut memandangku. Nadaku seolah
marah padanya.
Diruang yang lain, aku melihat mama
duduk sedang membaca majalah paforitnya. Didalam kamarku bumi sedang asik
menulis. Aku medekati mama. Dan duduk di sampingnya.
“ma?” ucapku. Dan mama melihatku
“eh, abang”
“aku mau ngomong sama mama?”
“sama mama? Papa juga?” tanyanya
Aku menggelengkan kepalaku. Dan mama
tersenyum melihat ekspresi wajahku berubah seketika mama menyebutkan nama papa.
Aku sedikit takut untuk mengatakan hal ini pada mama. Lalu aku merebahkan
kepalaku dipaha mama dan dengan kasih sayang mama meraba-raba kepalaku dengan
kasih sayang.
“ma, besok kepala sekolah menyuruh
mama datang kesekolah” ucapku membuka obrolanku dengan mama
“kesekolah? Ada apa?”
Aku tak lagsung menjawab pertanyaan
mama. Pertanyaan itu seakan mengingat aku pada bapak kepala sekolah yang telah
merendahkanku. Sesaat tangan mama berhenti meraba kepalaku dan menunggu jawaban
dariku.
“abang buat onar lagi?” tanya mama
Aku langsung menganggukkan kepala.
Mama terlihat kecewa dan tangannya kembali meneruskan mengelus kepalaku. Mama
sangat berbeda dengan papa. Mama sangat pengertian, aku sangat nyaman dan
tenang bila berada dekat mama.
“apa lagi kali ini yang abang buat?
Abang berkelahi?”
“tidak”
“bolos sekolah?”
Aku menggelengkan kepalaku. Aku
sangat tidak nyam pertanyaan mama. Aku sedikit takut untuk mengatakan yang
sebenarnya pada mama. Aku takut mama memarahi aku bila mama tahu kalau aku
melakukan hal yang sangat memalukannya.
“lalu apa?”
“besok mama juga akan tahu”
Mama terdiam. Tidak melanjutkan
pertanyaannya. Sepertinya mama tahu kalau aku tidak bersemangat untuk
mengatakan permasalah yang sedang aku hadapi disekolah. Mama adalah perempuan
yang sangat pengertian. Berbeda jauh dengan karakter papa, yang selalu
menyalahi aku walaupun aku benar.
****
Pagi yang cerah disekolah telah
terlihat langit dan teman-teman menungguku. Aku bergegas melangkah mendekati
laki-laki yang sempurna tidak ada duanya. Sementara itu bumi melihat
pergaulanku dengan langit dan teman-teman. Bumi melihatku dengan wajah yang tak
enak, matanya terlihat sinis.
“hai mat. Bagaimana? Bang jek nanti
nyuruh kita ke markas?” ucap langit
“oke. Atur saja nanti. Kali ini aku
ikut”
“serius?” sambung jaka “nanti papa
mama kamu marah ikut kita ke markas. Maklum kan anak mama” sebutnya mengejek
“apaan?”
“ayo kita ke kelas” ajak langit
“oke nanti aku nyusul aku mau ke
sana sebentar” sebutku menengok ke arah mading sekolah.
“ok”
Hawa sekolah pagi itu terasa hangat
dikulit, perpaduan antara antara sinar matahari yang mengenai angin sepoi
terasa menari diatas kulit.
Laila gadis cantik itu belum
terlihat juga disekolah. Kulihat bumi asik berbincang dengan teman-temannya.
Senyum dan tawa terlihat diwajah adikku bumi. Kumelihatnya dengan sedikit
dengan menyesal. Sikapku terhadapnya membuat bumi menjauhi denganku. Jangankan
untuk berbicara melihatku pun tak kuasa. Kumelihat semakin jauh, bumi terlihat
tertawa lepas, dari kejauhan bumi melihatku dan tertawanya pun menghilang hanya
terlihat matanya yang menunduk kala dia menatap mataku.
“rahmat?”
Kudengar seorang memanggil namaku
dari kejauhan. Dibalik kerumunan siswa-siswa yang sedang bercakap-cakap itu aku
melihat seorang perempuan melambaikan tangannya. Gadis itu tersenyum, terlihat
dari kejauhan senyumannya itu sangat indah dan menawan. Dia adalah laila. Gadis
pujaan hatiku. Lambaian tangannya begitu ayu, matanya yang bening itu terlihat
terpancar pesona bagaikan pelangi yang menghiasi langit sore tatkala setelah
hujan mengguyuri bumi. Sangat
indah.
“rahmat?” ucapnya kembali
“selamat pagi laila?” sapaku
“pagi juga. Lagi ngapain didekat
mading. Tumben pagi-pagi ada disini? Biasanya nongkrong dikantin sama langit
dan teman-teman lain?”
“sengaja, itu barusan aku nempel
puisi pertamaku dimading sekolah!”
“puisi?” seketika laila terkejut
mendengar ucapanku
“iya, kan kamu sendiri yang bilang
kalau aku harus tunjukkan kelebihanku pada orang-orang yang merendahkanku”
Laila tersenyum. Matanya
melirik-lirik kepuisi yang aku pasang dimading. Terlihat dari wajahnya laila
penasaran dengan puisi yang aku pajang dimading.
“ini untuk kamu?”
Kuhantarkan sebuah surat puisi untuk
laila. Laila melihatnya dengan heran matanya terlihat bingung. Tanganku
bergetar hebat. Jantungku berdetak kencang dan darahku mengalir deras.
Kuberanikan diri untuk memberi sepucuk surat yang kutulis dengan hati. Puisi
cinta ini berisi perasaanku pada laila. Tapi aku tidak tahu entah dia suka atau
tidak dengan puisi yang aku tulis. Kudapat melihat senyuman dibibir laila,
dapat kuliskan kebahagian diwajahnya tatkala dia menerima surat puisi dari ku.
“apa ini mat?” tanyanya
“sebuah puisi”
“puisi lagi?” sebutnya
“iya, puisi untuk kamu laila?”
“untuk ku?”
Aku menganggukkan kepala. Kulihat laila semakin
heran dan bingung melihatku memberikan sebuah surat puisi padanya. Tanganku
dingin, jantungku tak menentu. Pikiranku tak tenang. Aku tidak dapat
menggambarkan suasana hatiku saat ini.
SURAT CINTA
Kutulis surat ini Kala hujan gerimis Bagai bunyi
tambur mainan Anak-anak
peri dunia yang gaib.
Dan angin mendesah Wahai, dik Laila, Aku cinta padamu!
Kutulis surat ini Kala langit menangis dan dua ekor
belibis bercintaan dalam kolam bagai dua anak nakal Jenaka dan manis
mengibaskan ekor serta menggetarkan bulu-bulunya
Wahai, dik Laila Kupinang kau menjadi istriku!
Kaki-kaki hujan yang
runcing menyentuhkan ujungnya di bumi
Kaki-kaki cinta yang tegas bagai kolam berat
gemerlapan
Menempuh ke muka dan tak’kan kunjung diundurkan
Selusin malaikat telah turun dikala hujan gerimis. Dimuka kaca jendela mereka
berkaca dan mencuci rambutnya untuk ke pesta. Wahai, dik Laila, dengan pakaian
pengantin yang anggun bunga-bunga serta keris keramat aku ingin membimbingmu ke
altar untuk dikawinkan.
Aku melamarmu kau tahu dari dulu. Tiada lebih buruk dan tiada lebih baik dari
yang lain...
Penyair dari kehidupan sehari-hari, orang yang bermula
dari kata. Kata yang bermula dari kehidupan, pikir dan rasa.
Semangat kehidupan yang kuat bagai berjuta-juta jarum
alit menusuki kulit langit. Kantong rejeki dan restu wingit. Lalu tumpahlah
gerimis. Angin dan cinta mendesah dalam gerimis. Semangat cintaku yang kuat
bagai seribu tangan gaib menyebarkan seribu jaring. Menyergap hatimu yang
selalu tersenyum padaku.
Engkau adalah putri duyung tawananku. Putri duyung
dengan suara merdu lembut bagai angin laut, mendesahlah bagiku! angin mendesah selalu mendesah dengan
rapatnya yang merdu.
Engkau adalah putri duyung tergolek lemas
mengejap-kejapkan matanya yang indah dalam jaringku. Wahai putri duyung, Aku
menjaringmu. Aku melamarmu.
Kutulis surat ini kala hujan gerimis kerna langit
gadis manja dan manis menangis meminta mainan. Dua anak lelaki nakal bersenda
gurau dalam selokan dan langit iri melihatnya. Wahai dik Laila, kuingin dikau
menjadi ibu anak-anakku!
Untuk gadis pujaanku, Laila...
Dari goresan penaku: Rahmat...
Laila tersenyum seorang diri.
Dibawah pohon yang rindang dan sejuk itu laila tak hentinya menunjukkan
senyumnya. Betapa bahagianya hati laila saat membaca puisi dariku. Puisi itu sungguh menggetarkan jiwa dan hati laila.
Tak hentinya laila tersenyum, rasa bersyukur pada Tuhan tak hentinya dia
ucapkan karenaku juga bisa membuat puisi indah untuknya.
Laila menyimpan hati padaku. Rasa itu tidak pernah diaturkan padaku. Dia malu,
dia ragu dan dia takut. Satu hal yang dia takutinya adalah ketika aku tidak merasakan apa yang dia rasakan.
Rasa cinta itu sangat semakin bergebu-gebu ketika dia
selesai membaca puisiku. Dia selalu meletakkan kertas putih itu didadanya.
Berharap apa yang tertera dalam syair puisi itu menjadi kenyataan.
5
LUKA DALAM
PERSAHABATAN
Hati laila semakin berbunga-bunga.
Begitu pun dengan ku. Saling memandang dengan rasa cinta. Langit begitu indah dan
jernih. Lukisan keagungan sang Maha Kuasa begitu indah terlihat siang itu.
awan-awan yang putih bergaris berjajar menutupi langit yang biru. Atmosfer
sekolah begitu terasa hangat. Begitu pun hawa dimading sekolah. Siang itu
siswa-siswa terlihat ramai disetiap sudut mading sekolah. Puisikut yang indah
itu membius siswa untuk membacanya.
Puisi cintaku akhirnya terdengar
oleh langit. Laki-laki yang sempurna itu tampak marah. Dia tidak pernah menyangka
aku dan dirinya menyukai gadis yang sama. Wajah langit seketika berubah menjadi
benci. Matanya tergambar dengan jelas emosinya yang tinggi.
“anak-anak heboh loh mat dengan
puisi kamu” sebut laila
“ah, biasa saja”
“iya, serius. Puisi kamu itu bagus
bangat. Aku tidak menyangka kamu bisa menulis puisi sebagus itu”
“kamu suka tidak puisi yang aku beri?”
“suka mat. Suka bangat. Aku belum
pernah membaca puisi sebagus itu”
Aku tersenyum mendengar laila
berkata demikian. Sungguh hatiku sangat senang mendengarnya. Namun, dibalik
senyumanku. Langit melihatku dengan benci. Dari matanya tergambar dengan jelas
bara kemarahan. Hawa panas terlihat dengan jelas diwajah langit. Wajahnya
berubah menjadi merah bagaikan api yang membara.
Terlihat langit menggenggamkan
tangannya. Dia begitu emosi dengan dan marah denganku.
Dari kejauhan tampak langit dan
teman-teman berjalan mendekatiku. Laila gadis pujaanku pergi setelah dia
dipanggil kepala sekolah keruangannya. Kini tinggalku sendiri senikmati hatiku
yang sedang dilanda bahagia. Puisi yang kubuat dapat membuka pintu hati laila.
Dan ini adalah langkah awalku untuk mendekati laila gadis pujaan semua
laki-laki disekolah.
“abang” teriak adikku bumi dari kejauhan
Kumelihat bumi berlari mendekatiku.
Dari kejauhan kulihat bumi membawa sebuah buku ditangan kanannya. Seketika
wajahku berubah ketika aku melihat bumi. Perasaan bahagia seketika menghilang
dari hatiku. Perasaan benci hanya tergambar dimataku ketika aku melihat bumi.
“abang. Ini buku abang” sebutnya dan
memberikan bukuku yang aku minta untuk dia membawanya
Aku tidak menjawab. Aku langsung
mengambil buku yang bumi berikan. Lidahku tak kuasa untuk berkata terima kasih
pada bumi. Mulutku membeku. Mataku melihatnya dengan sinis dan benci. Dan aku
pun melangkah pergi dan meninggalkan bumi seorang diri.
“rahmat?” panggil laki-laki dari
jauhan
Langkahku terhenti. Aku menengok
kebelakang. Dari kejauhan langit berlari kecil menuju kearahku. Bumi belum juga
pergi dari tempatnya. Mataku melihat dengan jelas langit mendatangiku dengan
wajah yang tak menentu..
“hei, banci!”
Buk!..
Langit memukul
pelipisku dengan genggaman tangannya. Aku pun terpental hingga terjatuh.
“apa ini?” ucapku
Aku
mencoba membangunkan diriku namun aku kembali dipukul oleh langit. Pelipisku
berdarah. Bumi mau bergerak menolongku tapi dicegah lintang. Tangan bumi ditarik dan ditahan oleh lintang.
Sementara itu diriku semakin lemah dipikul dan ditentang oleh langit.
“abang” ucap bumi dengan sedekit
bergetar melihatku dipukul oleh langit
“banci kamu. Kamu suka kan sama
laila?” tanya langit marah
“apa maksud kamu?”
“aku sudah tahu dari anak-anak. Kamu
menyatakan cintamu pada laila lewat puisi kan?”
Kabar itu membuat langit begitu
marah padaku. Hal yang aku takutkan selama ini terjadi juga. Mata merah marah
langit tampak jelas terlihat. Wajahnya berubah menjadi merah.
Aku membangunkan tubuhku dan
membersihkan darah di pelipisku. Aku melihat mata langit yang merah itu. Tampak
dengan jelas mata itu seperti mata setan. Penuh dengan kegelapan.
“ha, iya. Aku menyukai lailai. Ada
masalah denganmu?” ucapku sedikit berbisik ditelinga langit
Langit melihatku semakin benci. Ucapanku
membuat wajah langit semakin merah.
“kurang ajar”
Bak!
“abang!” sebut bumi ketika melihatku
dipukul
Langit memukulku. Lalu membawaku
kesudut sekolah agar tidak terlihat oleh orang. Sementara itu bumi mengikutiku
dari belakang disusul oleh lintang dan jaka. Setelah sampai disudut sekolah dan
tak tampak seorang pun disana. Disanalah langit dan teman-temannya menghabisiku
karena langit sakit hati padaku karena gadis pujaannya telah menjadi kekasihku.
“kamu tahu kan, aku suka sama
laila?” tanya langit padaku
“tahu!” jawabku
“lalu kenapa kamu menyatakan suka
padanya?”
“apa salahnya? Apakah dia milik
kamu? Tidak kan?”
“kurang ajar”
Bak! Bak!
Bak!
Langit kembali memukulku. Kali ini
langit tidak hanya saja memukul pelipisku dia juga memukul bibir dan perutku.
Pukulan itu sangat sakit. Bumi adikku melihatku dengan wajah yang tak menentu.
Sekali-kali bumi memanggil namaku. Dia mencoba untuk mencegah langit namun
tidak bisa karena tertahan oleh jaka dan lintang.
“bangsat. Dasar teman tidak tahu
diri kamu. Aku percaya kamu. Ini balasan kamu padaku? Selama ini aku bantu kamu
setiap kamu ada masalah. Tapi ini balasannya. Bangsat kamu”
Bak!
“Ah!”
Aku mengerang kesakitan. Melihat itu
dada bumi semakin panas. Bibirnya bergetar ketakutan melihatku tergeletak tak
berdaya.
“haha... Asalkan kamu tahu saja
langit. Semua orang suka sama laila. Termasuk aku. Dia hanya menganggap kamu
sebagai temannya. Tidak lebih. Karena dia tahu kamu itu pengecut berani main
keroyokan seperti ini. Haha” ucapku sedikit menyindir langit
Mendengar itu reaksi langit tidak
menentu. Genggaman tangannya tampak jelas tergumpal besar. Matanya merah,
darahnya mengalir dengan cepat. Terdengar dengan jelas suara nafasnya berhembus
kencang.
“habiskan” ucap langit pada dua
orang temannya
Lalu jaka dan lintang langsung
menjalankan perintah langit. Dengan semaunya dan sesukanya, mereka memukul dan
menendangku. Aku semakin mengerang kesakitan. Bumi menangis melihatku dipukul
seperti hewan. Dia mencoba mencegah mereka namun setiap kali mencoba mencegah
bumi didorong dan terjatuh.
Melihatku tak berdaya, langit dan
kedua temannya berhenti memukul dan menendangku.
“dengar rahmat. Aku tidak akan
mengenal kamu lagi. Kalau kamu tidak ingin mati, jangan pernah kamu datang
kehidup aku lagi. Ingat itu” sebutnya.
Beberapa saat langit dan temannya
menghabisiku, akhirnya langit melarikan diri meninggalkanku seorang diri. Aku
tergeletak tak berdaya, bajuku penuh darah. Pelipis dan bibirku berdarah. Bumi
mendekat dengan perasaan tak menentu. Dia menangis menlihatku tak berdaya.
“abang” “abang” kudengar bumi memanggilku dengan suara yang tersedu-sedu.
6
RUMAH SAKIT
Kepalaku terasa sangat berat.
Penglihatanku tak begitu jelas melihat. Saat aku terbangun aku sudah berada
dirumah sakit. Aku melihat dokter dan seorang perawat sedang mengobati lukaku
karena pukulan langit.
“saya dimana?” tanyaku pada seorang
perawat yang mengobatiku
“tenang. Anda sedang dirumah sakit. Jangan
terlalu banyak bergerak” jawabnya
“siapa yang bawa saya kesini?”
“teman-teman kamu”
“bumi. Adik saya mana?”
“mungkin dia menunggu diluar”
“apa luka saya parah, dok?” tanyaku
kembali
“tidak terlalu parah. Pelipis kamu
hanya luka sedikit tidak perlu dijahit.”
Sementara itu, diluar ruangan UGD
bumi dan teman-teman yang mengantarku menunggu dengan cemas. Wajah bumi
tergambar ketakutan dan kecemasan yang dalam padaku. Bumi sangat khawatirkan keadaanku. Tangannya bergetar dimatanya terlihat linangan air mata yang
selalu mengalir. Sungguh kesihan kumelihat adikku bumi.
“bumi. Bagaimana keadaan rahmat?”
tanya laila tergopoh-gopoh setelah datang kerumah sakit
“kak. Abang masih didalam. Lukanya
sedikit parah”
“bagaimana bisa ini terjadi bumi?”
“aku tidak mengerti kak. Kata langit
dia cemburu pada abang karena puisi yang abang beri pada kakak”
Laila terpaku membisu. Dia tidak
pernah menyangka puisi yang cantik itu memawa petaka pada rahmat. Laila
terlihat menyesal. Matanya terlihat air mata yang berlinang.
“orang tua kamu tahu?” tanya laila
pada bumi
“abang tidak boleh beritahu perkara
ini” jawabnya lesu
Beberapa saat percakapan laila dan
bumi tentang perkara itu. Tiba-tiba aku keluar dari ruang UGD. Semua mata terpaku
pada aku yang kesakitan. Aku keluar dari ruangan dengan pelipis mataku
diberperban dengan kain kasa. Mataku melihat kearah gadis pujaanku. Aku melihat
dengan hati yang tidak enak. Kepalaku hanya menunduk.
“abang” ucap bumi mendekatiku
Sesaat bumi melihatku dengan air
mata. Lalu dia memelukku dengan erat. Aku tahu perasaan adikku. Dia sangat
khawatir padaku.
“abang. Maafkan bumi. Bumi tidak
bisa melindungi abang” sebutnya dalam tangisannya
Aku membalas pelukan adikku. Sungguh
aku sangat menyesal. Bukan karena dia tidak membelaku tapi karena selama ini
aku membuangnya. Aku selalu membencinya. Aku tidak pernah mendengar
kata-katanya. Disaat teman-temanku yang selama ini aku anggap seperti malaikat
pergi meninggalkanku bumi selalu hadir dalam kesepian itu. Kejadian itu membuat
aku sadar akan pentingnya sebuah keluarga. Hanya keluarga mengerti bagaimana
kondisi kita.
“bumi takut bang” sebut bumi
mengerang ketakutan dipelukanku
“sudah. Abang tidak apa-apa”
Bumi hanya menangis dalam pelukanku.
Aku pun begitu. Laila melihatku dengan air mata. Laila pun ikut menangis.
Teman-temanku pun hanya melihat dengan tertegun. Suasana sore itu sangat hanyut
dalam kesedihan. Suasana ruang itu hanya terdengar tangisan bumi yang
tersedu-sedu dipelukanku.
Kumelihat langkah laila mendekatiku.
Dengan wajah yang cemas dia bertanya
“kamu tidak apa-apa, mat?” tanya
laila padaku
“tidak. Aku tidak apa-apa” jawabku
Sedangkan bumi masih memelukku
dengan erat. Tangisannya masih terdengar ditelingaku. Kulihat wajah laila gadis
pujaanku itu. Wajahnya terlihat bersalah. Karena puisi yang aku berikan padanya
membuat langit menghabisi aku.
Setelah beberapa jam dirumah sakit.
Kami pun melangkah pulang, dijalan menuju pulang laila selalu melihat kearahku
pandangan itu begitu membuatku serasa sehat. Sebelum pulang aku dan lailai dan
bumi sejenak duduk dibawah pohon tak jauh dari rumah sakit. Sejenak kami
meluapkan rasa takut yang sedari tadi bersarang di hati laila dan bumi.
“benaran kamu tidak apa-apa mat?”
tanya laila kembali
“tidak la. Cuma sedikit saja”
“aku tidak mengerti dengan langit.
Mengapa dia bisa melakukan ini pada kamu”
“mungkin itu salah aku la, langit
kan suka sama kamu. karena puisi aku itu dia marah sama aku”
“iya, tapi kan tidak harus seperti
ini”
Aku hanya tersenyum melihat laila
membelaku. Kulihat hatinya begitu marah pada langit. Bumi tak melihat laila.
Dia masih terhanyut dalam ketakutannya.
“iya, begitulah langit la. Dia bisa
melakukan apapun yang dia inginkan termasuk dalam menyakiti orang lain”
“tapi aku tidak suka dengan dia mat.
Dia seperti setan bagiku. dia begitu sombong. Sikapnya angkuh selalu
membusungkan dadanya”
“iya. Langit memang hebat. Dia
sempurna. Tapi dia terlalu sombong” tutupku
***
Langit malam mulai terlihat. Cahaya
mentari sore mulai memudar. Suara binatang kecil terdengar ditelinga. Pukul
menunjukkan jam 7 malam. Kami pun melanjutkan pulang kerumah masing-msing.
Laila gadis pujaanku dan kini menjadi kekasihku pulang bersama ayahnya. Aku dan
bumi melangkah menuju rumah. Papa dan mama telah menunggu dirumah. Telah ku
gambarkan perasaan mama saat ini. Hanya khawatir dan kecemasan yang dirasakan.
Karena tak seperti biasanya bumi pulang malam.
Setelah sampai diteras rumah kakiku
sejenak terhenti. Rasa takut yang membuat kakiku terhenti. Papa akan marah
melihatku seperti ini gumamku didalam hati. Perasaanku tidak enak, hawa rumah
terasa tak mendukung. Bumi melihat kearahku.
“abang, bumi takut papa akan marah”
sebutnya
Bumi mendahuluiku untuk mengatakan
itu. Perasaan bumi sama seperti perasaanku.
Lalu aku dan bumi melanjutkan
langkah kaki kami menuju pintu, bumi mengetuk pintu dan akhirnya pintu pun
terbuka. Dan tiba-tiba.
“jam segini baru pulang? Dari mana?”
Papa membentak keras sambil membuka mata dengan lebar.
Bumi gemetar ketakutan. Sementara aku
menundukkan kepala. Aku melihat papa bagaikan malaikat pencabut nyawa yang siap
mencabut nyawaku. Gigi papa bergemeretak menahan amarah. Matanya merah marah.
“pa-papa!” Bumi terbata-bata serak.
“langit.
Kenapa? Kenapa kamu nak?” tanya mama melihatku penuh luka dan darah
“kamu
berkelahi?” tanya papa
Aku tak
menjawab. mama melihatku dengan cemas dan tidak mengerti.
“ayo
masuk” ajak mama
Tak jauh
melangkah. Tiba-tiba papa menghentikan langkah aku dan bumi. Ruang keluarga ini
serasa neraka bagiku. begitu panas.
“kamu
berkelahi?” tanya papa kembali
“langit
kamu berkelahi?” sambung mama
Aku diam.
Bumi pun begitu. Sesaat aku dan bumi terdiam. Tiba-tiba,
Bak!
Papa
memukulku. Tak sempat untuk menjelaskan perkara yang sesungguhnya papa
mendahului penjelasanku.
“kamu mau
menjadi apa? Setiap hari buat onar dan kekacauan? Kali ini apa yang kamu buat,
ha?”
“pa, abang
tidak....”
“Diam kamu
Bumi! Jangan ikut campur! Ini urusan papa dengan laki-laki pembuat onar ini!”
teriak papa pada bumi
“bukan aku
yang memulai. Dia yang tiba-tiba memukulku” jawabku tidak melihat papa dan mama
“siapa?”
tanya papa
“langit”
jawabku
“dari awal
papa tidak suka kamu berteman sama dia. Kamu tidak mau dengar apa kata papa?”
“pa,
sabar. Kejadian ini tidak seperti apa yang papa sangka. Abang tidak salah pa!”
sebut bumi lembut
Bumi
mencoba untuk meredakan suasana. Mama hanya diam melihatku.
“diam
kamu. Kamu jangan mencoba untuk membela dia” bentak papa pada bumi
“pa, bumi
tidak membela siapa-siapa. Tapi abang memang tidak bersalah”
“kalau
tidak bersalah, mengapa dia seperti ini?”
“ini
karena langit dan teman-temannya memukul abang. Abang tidak salah apa pun pa”
“diam
kamu” papa kembali membetak bumi
“pa!”
Bak!
Bumi
dipukul papa. Mama kaget. Aku pun begitu. Kulihat bumi memegang pipinya yang
dipukul papa. Mama mencoba meleraikan papa.
“papa. Apa
yang sudah papa lakukan pada bumi” sebut mama
Papa
terlihat menyesal telah memukul bumi. Matanya yang besar kembali mengecil
genggaman tangannya dilepaskan. Wajah papa berubah. Aku melihat papa dengan
benci. aku tidak menyangka papa bisa memukul anak kesayangannya. Bumi menangis.
Lalu mama memeluk bumi. Tangisan bumi semakin menjadi-jadi.
“ini bukan
salah bumi. Ini salah aku. Kalau papa mau marah, marah sama aku. Bukan pada bumi.
Bumi tidak tahu apa-apa” sebutku pada papa
Suaraku
sedikit membentak papa. Sikap papa berlebihan pada bumi. Aku tidak pernah
melihat papa memukul bumi. Selama ini papa selalu menyayanginya.
“memang
kamu yang salah. Kamu tidak bisa menyenangkan hati orang tua. Hanya bisa
membuat orang susah. Berkelahi, membuat onar disana disini”
“cukup pa”
teriakku “papa tidak tahu denganku. Papa tidak berhak mengatakan kalau aku
tidak bisa apa-apa. kalau papa tidak suka padaku, tidak apa-apa. Aku tidak
memaksa papa untuk suka padaku. Karena bagi papa, aku hanya bisa membuat papa
susah. Ingat pa, suatu saat nanti aku akan tunjukkan pada papa. Kalau aku lebih
hebat daripada apa yang papa pikirkan” tuntasku
“pandai
kamu menjawab!” sebut papa
“papa,
rahmat cukup” ucap mama dengan nada meleraikan
Lalu bumi
melarikan diri. Menghilang dari hadapan kami. Dia tidak berkata apa pun. Dia
hanya menangis. Suasana ruang itu seperti dineraka. Papa terlihat emosi
begitupun dengan aku. Mama mencoba menjadi air. Tapi tidak bisa. Mama tidak
banyak melakukan sesuatu.
“sudah.
Masuk kamar” pinta mama padaku
Aku
langsung menjalankan perintah mama. Meninggalkan papa dalam keadaan tak
menentu. Rasa menyesal masih bersarang diwajah papa. Pertama kali papa memukul
bumi, papa tidak bisa mengendalikan emosi.
Didalam
kamar kulihat bumi duduk dikursi yang ada diluar kamar. Angin malam berhembus
sepoi. Sejuk terasa dikulit. Langit malam sangat indah, ribuan bintang
menghiasi setiap sudut cakrawala. Kulihat air mata bumi sekali-kali mengalir
dikelopak matanya. Hatinya terasa sakit dengan sikap papa.
“maafkan
abang” sebutku
Bumi tak
melihat. Dia hanya menatap kelangit hitam yang penuh dengan bintang.
“karena
abang kamu dipukul papa” sambungku
Bumi tak
juga menjawab. dia hanya menghapus air matanya sedikit mengalir. Kamar itu
sangat sepi seperti kuburan. Tak terdengar suara apa pun hanya sekali-kali
kudengar dari luar ruang kamar mama memarahi papa atas sikap papa terhadap
bumi. Aku mencoba mendekati bumi yang tak juga memberikan tanggapan terhadapku.
“masih
marah sama papa?” tanyaku “sikap papa memang begitu. Papa tidak suka melihat
anak-anaknya membantah apa yang papa bilang” sambungku
“tapi
tidak semestinya papa melakukan itu pada anak-anaknya” ucap bumi tidak juga
melihat
Lalu aku
duduk dikursi tepat samping bumi. Aku memulai membuka diskusi dengan bumi.
“papa
tidak marah sama kamu. Sebenarnya papa marah sama abang”
“tapi
mengapa? Abang kan tidak salah. Yang salahkan langit” ucap bumi kesal
“ini
mungkin salah abang. Dari awalkan papa melarang abang berteman sama langit.
Tapi abang tidak mau dengar”
“abang
juga sih tidak mau dengar apa kata bumi. Bumi kan tidak suka abang berteman
sama langit. Langit itu orangnya jahat. Sombong. Berbuat sesukanya”
“iya,
maaf. Abang yang salah. Abang janji abang tidak akan berteman sama langit lagi”
Bumi
melihatku. dia begitu semangat ketika mendengar aku akan tinggalkan langit.
Itulah yang bumi inginkan. Dari awal ketika dia melihat langit, bumi terlihat
tidak suka. Memang, tidak hanya bumi. Hampir setiap siswa tidak menyukai
langit.
“janji?”
sebutnya
“iya janji” tuntasku
7
PERTEMUAN DI ASH-SHAHABAH
Kejadian
itu telah menyadariku. Kini hidupku telah berubah. Aku tidak ingin mengenal
langit dan teman-teman yang dulu membuatku terbelenggu dalam lobang kegelapan.
Masa laluku telah aku hanyutkan bersama kenangan pahitku. Masa sekolahku kini
kulanjutkan ditempat kuliahku. Hari pertama kuliah aku sangat bersemangat.
Ingin bertemu teman baru, kelas baru dan suasana baru. Aku ambil jurusan
sastra, aku ingin meneruskan bakatku dalam menulis. Kuingin menunjukkan pada papa
dan orang-orang yang merendahkan aku dulu bahwa aku adalah laki-laki yang
memiliki kelebihan yang tidak ada diorang lain.
Hubunganku
dengan lailai semakin dekat begitu pun dengan bumi adikku. Bumi dan laila yang
selalu memberiku semangat dalam menggali semangatku untuk menulis. Telah banyak
buku yang aku tulis. Semua pengalamanku aku ceritakan disetiap goresan kertas.
Laila dan
aku satu universitas namun kita beda jurusan. Laila mengambil jurusan
Pendidikan Fisika. Memang tidak heran, karena dia memang hebat dalam bidang
sains. Waktu SMA dia pernah mendapatkan medali emas olimpiade sains tingkat
nasional. Aku mengambil jurusan sastra. Karena aku ingin menjadi seorang
penulis.
Universitas
Islam adalah pilihanku. Papa dan mama sempat bertanya. Mengapa universitas
Islam? Hanya singkat jawabanku aku menjawab aku ingin memberikan mahkota untuk
papa dan mama kelak disyurga. Mendengar itu papa dan mama terdiam. Papa dan
mama memberikan kebebasan padaku untuk memilih universitas dan jurusan yang aku
suka.
Pagi itu, cahaya mentari pagi bermain
hebat di setiap sudut kampus. Di mataku Cahayanya sangat mempesona Cahaya
mataharinya yang kuning keemasan seolah menyapu atap-atap rumah, gedung-gedung,
menara-menara, dan kendaraan-kendaraan yang lalu lalang di jalan.
Kubah
masjid Ash-Shahabah yang megah dan indah itu terlihat anggun dan cantik karena
pantulan cahaya Allah. Subhanallah gumamku dalam hati. Hatiku selalu
bertasbih pada Allah melihat keagungan dan kuasa Allah. Mataku selalu terpaku
melihat syurga dunia ciptaan Allah yang selalu memberi kenikmatan tak
terhingga. Sombong bila manusia tidak bersyukur atas kenikmatan yang sudah
Allah berikan. Kenikmatan Allah yang mana lagi kamu dustakan?
Usai
shalat Dhuha di masjid Ash-shahabah, aku melangkahkan kakiku menuju fakultas
Adab Universitas Islam Sulthan Thaha Saifuddin, Aku keluar masjid lewat pintu
utara. Menyusuri trotoar yang melintas tepat di utara masjid. Jalan raya itulah
yang memisahkan Masjid Ash-shahabah dengan Fakultasku. 10 menit lagi kuliahku
aku akan segera dimulai aku begegas melangkah menuju ke kelas yang agak jauh
dari jalan utama.
“assalamu’alaikum
mat?” ucap salah satu teman baruku
“wa’alikumsalam
Rendra”
Rendra
adalah teman baruku. Kami dipertemukan saat melaksanakan perkenalan kampus
dulu. Aku sempat bertanya mengapa dia diberi nama Rendra. Apa diambil dari nama
seorang pengaran terkenal itu W.S Rendra? Katanya ayah dia sangat suka dengan
sastra. Dan salah satu penyair yang dia suka adalah W.S Rendra itulah mengapa
ayahnya memberi nama dia Rendra.
“jangan
lupa besok, tulisan kamu ya?” ucapnya
“astagfirullah. Maaf ren. Aku lupa”
“sudah aku
duga. Kalau tidak diingatkan pasti kamu lupa. Ya sudah besok saja”
“maaf ya,
ren”
“iya tidak
apa-apa. Aku kesana dulu. Sudah
ditunggu orang”
“iya.
Terima kasih ren”
Aku
melanjutkan perjalananku ke kelas. Fakultas adab begitu indah dan cantik. Kubah
besar menghiasi atap dekanat. Taman mahasiswa yang bersih tempat diskusi
mahasiswa. Jam menunjukkan tepat pukul
12 siang. Aku bergegas kemasjid Ash-Shahabah untuk melaksanakan shalat Zuhur.
Azan terdengar bersahut-sahutan. Subhanallah, Maha Besar Allah dengan segala
ciptannya. Ucapku dalam hati. Aku segera melaksankan shalat zuhur, ku ingat
ba’da zuhur aku akan menemui laila untuk mengambil buku yang aku pinjam.
Hatiku
selalu bertasbih mengucap syukur pada Allah. Segala Puji dan kebesarannya yang
telah ia berikan padaku. Siang itu masjid Ash-Ashahabah dipenuhi oleh
mahasiswa. Ketika iqomah dikumandangkan oleh salah satu mahasiswa, semua
mahasiswa berdesak-desakan menuju sap paling depan. Tapi sayang aku tidak dapat
menempati sap paling depan karena telah dipenuhi oleh mahasiswa lain..
Selama
menjalankan shalat hatiku tak hentinya berdzikir memuja nama Allah yang maha
suci lagi maha indah. Setelah selesai shalat zuhur. Kuingat laila telah
menungguku, hatiku menjadi tidak enak karena menunggu terlalu lama.
“assalamu’alaikum,
rahmat tunggu saya dibawah pohon cemara disamping masjid Ash-Shahabah. Saya akan segera kesana. Terima kasih”
Begitulah
pesan singkat laila melalui SMS HP ku. Laila tahu, bila sudah masuk shalat
akulah orang yang pertama penghuni masjid Ash-Shahabah.
“assalamu’alikum
rahmat?”
“wa’alakumsalam”
ucapku
Aku tidak
menyadari kedatangan seorang didekatku karena aku asik membaca buku sastra
karangan W.S Rendra. Betapa terkejutnya aku saat seorang perempuan shaleh dan
cantik berdiri dihadapanku. Berjilbab biru menutupi setiap tubuhnya. Matanya
indah tak berubah seperti dulu. Perempuan itu laila kekasihku, cinta Allah,
sayang Rasullullah.
“eh, la”
sapaku tersenyum dengan keindahan laila
“maaf, mat
sudah membuatmu menunggu lama”
“tidak
Apa-apa. Kamu
sudah shalat?” tanyaku
“sudah.
Tadi shalat di
mushalah Tarbiyah”
Aku
tersenyum. Sejenak aku terdiam begitu pun dengan laila. Angin yang berhembus
sangat menjejukkan jiwa. Pohon cemara tak henti-hentinya bergoyang berzikir
pada Sang Pencipta.
“bagaimana
kuliahnya?” tanyaku membuka percakapan
“alhamdulillah
seperti biasa. Pergaulan dengan rumus” katanya
“ah, kamu
ada-ada saja”
“ini buku
kamu” ucapnya sembari memberi buku yang aku pinjam
“alhamdulillah.
Kamu masih simpan buku tua ini?”
“masih”
“buku ini
sudah langkah. Ditoko buku tidak menjual lagi buku seperti ini. Kecuali
ditempat buku-buku tua seperti toko dipersimpangan jalan supermarket dekat
pasar itu”
“aku suka membacanya.
Tidak bosan membacanya. Setiap kali membacanya pasti aku menangis” sebutnya
tersenyum malu
Karangan
W.S Rendra begitu dahsyat. Kata-kata yang dirangkainya membuat hati menjadi
terhanyut dalam setiap kalimatnya. Setiap kali membacanya akan menangis
mengenang kisah memilukan dari tokoh yang dibuat oleh penyair terkenal itu. Aku
tersenyum kecil, lalu berkata
“iya,
kalimatnya sangat indah dan menggoyangkan hati. Siapa saja yang membacanya
pasti akan terbawa perasaan”
“iya”
Siang itu
langit dilukiskan perpaduan biru dan awan putih sungguh indah ciptaan Sang
Kuasa. Burung-burung terbang dari satu pohon kepohon lainnya. Hatiku tak
hentinya bersyukur. Laila begitu cantik rupanya sepadan dengan apa yang dia
pakai.
Mataku
melihat-lihat mahasiswa yang lewat, tak sengaja aku terlihat seorang laki-laki
yang sedang memasangkan sepatunya didepan pintu utama masjid Ash-Shahabah.
Laki-laki itu tidak asing dimataku. Sepertinya aku pernah melihat laki-laki
itu. Tapi aku tidak mengingat dimana aku berjumpa dengannya. Dia terlihat
tampan berbaju kemeja putih, tidak jauh seperti langit sahabat lamaku. Ah,
tidak mungkin itu langit. Gumamku. Aku mencoba mengingat-ingat laki-laki itu. Wajahnya tak begitu jelas terlihat karena terhalang
oleh mahasiswa yang lewat.
“mat?” panggil
laila
Aku tidak
menanggapi panggilan laila. Dia terheran-heran melihatku seperti orang
kebingungan.
“rahmat”
panggilnya kembali
“oh, iya.
Maaf”
“kenapa,
mat?” tanya laila
“tidak
apa-apa”
Aku selalu
melihat kearah laki-laki yang memasang sepatu itu. Sungguh dia membuat hatiku
penasaran. Beberapa saat aku menatap wajah laki-laki itu dan akhirnya dia pun
berdiri menatap wajahku. Dia tersenyum. Aku terheran. Mengapa dia tersenyum?
Sebutku. Apakah dia mengenaliku? Aku melihat dia melangkah mendekatiku dan laila.
Aku semakin penasaran.
“rahmat
kan?” tanyanya
Aku
semakin heran dan bingung laki-laki itu mengenaliku. Tapi aku tidak tahu siapa
dia. Laila juga bingung melihat laki-laki itu.
“iya”
“MasyAllah.
Apa kabar kamu?” tanya laki-laki itu kembali
“alhamdulillah
baik” sebutku
Kami
saling bersalaman. Berjabat tangan tanda bersaudaraan. Laki-laki itu membuka
percakapan seperti dia sangat mengenaliku.
“masih
ingat denganku?”
Aku
menggelengkan kepalaku. Dia heran. Keningnya terlihat mengerut karena kebingungan.
“amar.
Sahabat lamamu” sebutnya
“amar?”
sebutku kembali mencoba mengingat-ingat nama teman-temanku waktu sekolah dulu
Tidak ada
nama amar waktu SMA dulu. Hanya ada langit, lintang, jaka dan ada beberapa
temanku yang lain.
“Amar
Al-Ihsan” ucapnya tersenyum
Beberapa
saat aku mengingat-ingat nama-nama sahabat lamaku dan akhirnya aku mengingat
laki-laki dihapanku ini. Dia adalah Amar Al-Ikhlas sahabat sewaktu SMP dulu.
Setelah lulus SMP dia melanjutkan sekolah agama di jogja dan tinggal di asrama.
Setelah lulus SMP kami pun tidak pernah bertemu atau pun berkomunikasi lewat HP
atau lainnya. Sempat dulu aku mencari no HP nya pada teman-teman tapi tidak ada
hasilnya.
“Subhanallah.
Amar” sebutku girang
“Alhamdulillah.
Akhirnya ingat juga”
“iya, aku
ingat. Kamu apa kabar?” tanyaku
“Alhamdulillah
sehat. Kamu?”
“Alhamdulillah,
sehat”
Subhanallah
rahasia Allah siapa yang tahu? Bertahun-tahun aku mencari laki-laki dihadapanku
ini, sungguh hatiku senang tak terkira dapat berjumpa dengan sahabatku amar.
Laila melihatku dan amar dengan heran. Matanya sekali-kali melihat kearah lain
mencari jawaban dari penasarannya.
“oh iya,
kenalkan ini laila. Temanku. Dan laila ini amar sahabat baikku”
Amar dan laila saling menyapa satu
sama lain. Aku melihat kedua orang itu sangat senang. Mengapa amar baru datang
dalam hidupku? Mengapa tidak dari dulu. Terik matahari sangat menyengat. Kulit
terasa terbakar. Angin sepoi dan sejuk menemani perbincangan kami, hembusan
angin menggoyangkan setiap daun-daun cemara yang rindang. Masjid ash-shahabah
terlihat sepi dari mahasiswa. Hanya terlihat beberapa mahasiswa yang tengah
melaksanakan shalat zuhur.
“kamu kuliah disini ya mar?” tanyaku
“iya mat. Aku Fakultas Ushuluddin. Kamu
sendiri? Kuliah disini?”
“iya mar, aku fakultas adab jurusan sastra”
“sastra? Wah mantap itu mat. Kan
dari dulu kamu ada bakat dalam menulis” sebut amar mengingat-ingat kebiasaanku
menulis saat SMP dahulu.
“oh, ternyata rahmat suka menulis
sejak dulu ya?”
“iya. Waktu SMP dulu dia pernah
menjadi penulis cerpen terbaik tingkat provinsi”
“eh..eh.. amar, jangan berlebihan
ya. Allah tidak suka itu” sebutku tersipu malu
“eh.. saya tidak berlebihan ya. It is real no gosip.”
“laila..” teriak seorang perempuan
memanggil laila dari kejauhan.
Laila pun menengok kearah perempuan
yang melambaikan tangannya pada laila. Perempuan itu rani sahabat baru laila.
Aku dengan rani pernah bertemu
diperpustakaan kampus saat aku menemani laila mencari buku. Rani perempuan yang
baik. Tidak jauh berbeda dengan laila. Berjilbab panjang dan sangat tertutup.
Kemudian laila membalas lambaian tangan rani.
“rahmat, amar. Saya sudah ditunggu
rani. Jam 13.20 nanti kita ada kelas. Saya duluan ya” sebut laila
“iya. Hati-hati la” sebutku
“Assalamu’alaikum.” Ucap lailai “wa’alaikumsalam”
Laila melangkah menjauhi aku dan
amar. Laila terlihat begitu anggun dan cantik bila dipandang dari belakang. Aku
dan amar melanjutkan percakapan kami yang sempat terputus.
“bagaimana kabar mikail?” tanya amar
membuka percakapan
Sejenak aku mengiat-ingat nama
mikail. Aku sudah banyak lupa dengan teman-teman SMP aku dulu.
“mikail?” tanyaku bingung
“iya, mikail teman SMP dulu”
“oh, mikail yang badan kurus kecil
itu?” sebutku setelah ingat dengan mikail sahabat lamaku
“ha, iya. Yang nyebur dikolam ikan”
tawa amar saat mengingat masa kenangan sekolah dulu.
Aku pun tertawa geli mengenang masa itu. Waktu SMP aku memiliki 3
sahabat dekat. Amar, mikail dan syahdan. Semua kegiatan sekolah selalu
kami kerjakan bersama-sama. Setelah lulus SMP kami pun menghilang tanpa
berkomunikasi satu sama lain. Kudengar setelah lulus SMP mikail melanjutkan
sekolah di surabaya pondok pesantren milik keluarganya. Sementara itu syahdan
melanjutkan ke jakarta sekolah madrasah.
“aku tidak tahu mar. Setelah lulus
sekolah aku tidak pernah berkomunikasi dengan mereka lagi. Dengan kamu saja
tidak pernah. Alhamdulillah Allah pertemukan kita disini”
“pernah kamu melacak mereka?”
“sudah berbagai cara aku lakuin mar.
Facebook, twitter, No. HP sudah aku coba tapi juga tidak bisa. Kamu juga, menghilang
begitu saja”
“maaf mat. Dipondok tempat aku
sekolah tidak diizinkan bawa HP. Orang tua saja kalau mau nanya kabar anaknya
lewat telpon pondok”
“ketat juga peraturan sekolah kamu
ya”
“iya begitu lah. Tapi aku dengar
mikail melanjutkan study S1 nya di mesir. Tapi syahdan sikentung itu tidak tahu
dimana sekarang”
“bagaimana kabar mereka ya? Aku rindu dengan mereka. Syahdan
bagaimana kabar badannya masih besar atau tidak” sebutku tersenyum
“kudengar mereka sudah berubah.
Mikail sering ceramah dimasjid-masjid besar disurabaya. Syahdan pun sekarang
sudah kurus menjalankan program diet ketat”
“diet?” sebutku tertawa dan amar pun
begitu
“how about you?” tanya amar
serius melihatku
Sejenak aku terdiam. Aku malu mau
menceritakan masa sekolahku yang penuh kegelapan. Memiliki teman yang tidak
seperti teman-teman waktu SMP dahulu. Mungkin amar akan tertawa mendengar
cerita pahitku, tidak seindah cerita seperti masa SMP bersama dia dulu.
“aku malu mar?” sebutku
“malu? Why?”
“sebenarnya, setelah aku lulus SMP
aku melanjutkan kesekolah umum biasa....”
Aku pun menceritakan kisah sekolahku
semasa SMA dulu. Hatiku sedikit bergetak saat aku bercerita. Amar mengingatkan
aku kepada langit temanku semasa SMA dahulu. Ingin rasanya aku pergi dari
hadapan amar agar aku tidak mengingat langit.
“berbeda dengan masa SMP dulu. Aku
punya 3 orang teman. Kita selalu bersama-sama. Aku berharap mereka seperti
kalian yang membawa kebaikan dalam hidupku. Tapi, kenyataannya mereka membawa
aku kedalam lubang kegelapan. Setiap hari bikin onar, kekacauan, memakai barang
haram. Tidak pernah patuh sama orang tua. Selalu bantah perintah orang tua.
Sampai suatu hari aku sadar mereka itu siapa”
“apakah kamu tidak mencoba mencari
teman yang lebih baik?”
“sudah kucoba mar. Tapi setiap kali
aku dekat dengan seorang mereka akan memukul orang itu. Mereka itu berkuasa di
SMA. Terkenal nakal. Tapi langit anaknya pintar, dengan ide kreatifnya”
“langit? Siapa?” tanya amar dengan
rasa penasaran
“langit adalah laki-laki yang
berkuasa di sekolah dulu. Dia pintar, sering memenangkan lomba tingkat
nasional. Semua guru percaya sama dia walau dia berbuat salah”
“lalu”
“dia tampan, sekilas kulihat dia
seperti adikku bumi. Tapi sikapnya jauh. Bumi anaknya baik. Sedangkan langit
anaknya sombong dan angkuh. Kita menyukai seorang perempuan yang sama. Bintang
sekolah. Siswi teladan. Tapi langit tidak mengetahui kalau aku juga suka dengan
perempuan itu. Suatu hari aku menyatakan cinta pada siswi itu lewat suatu
puisi. Dan dia menerima cintaku. Kabar itu sampai ditelinga langit. Dia amrah.
Dan memukulku sampai aku masuk kerumah sakit”
“lalu, gadis itu”
“awalnya dia ingin memarahi langit
tapi aku menghalaunya. Aku tidak ingin masalah menjadi besar. Biarkan aku saja
menerima resiko ini aku tidak ingin dia juga terluka oleh langit”
“dimana dia sekarang. Apakah kamu
masih berhubungan dengan dia?”
“iya. Dia ada disini?”
“disini?” tanya amar bingun
Matanya melihat kemana-mana mencari
perempuan yang aku ceritakan itu. Setelah mencari-cari amar tidak menemukan
seorang pun didekatnya.
“siapa?” tanya amar kembali
“dia.. dia... laila” ucapku
Amar tersenyum. Pertanyaannya terjawab sudah.
Beberapa detik menunggu akhirnya dia tahu perempuan yang menjadi pengikat
hatiku.
8
HARI
YANG MENEGANGKAN
Dua tahun
telah berlalu. Kedekatanku dengan laila semakin dekat. Pernah terbesit
dikepalaku untuk melamar kekasihku itu setelah lulus sarjanaku nanti. Menimba
keluarga yang sakinah penuh dengan ridho Allah.
Persahabatanku
dengan amar semakin erat. Dia seperti saudaraku sendiri. Banyak aku belajar
tentang hidup dari laki-laki yang shaleh itu. Kita banyak menghabiskan waktu
bersama-sama. Mulai mencari buku-buku refrensi untuk menulis, mencari link
lomba menulis dan lainnya. Kini kejayaanku dalam menulis semakin sukses. Itu
berkat do’a keluarga dan kedua sahabatku laila dan amar. Setelah membuka
percetakan buku, buku-buku ku semakin laris dipasaran bahkan sempat ditawarkan diangkat
menajdi sebuah film disalah satu buku karanganku.
Malam itu
suasana rumah terlihat sepi, hanya aku dan bumi terlihat. Mama dan papa pergi
ke palembang menghadiri resepsi pernikahan mas rio adik bungsu papa. Aku dan
bumi duduk diruang keluarga sambil menonton TV sekedar menghibur diri
menghindar dari kebosanan.
“bagaimana
tawaran dari produser kemarin bang?” tanya bumi membuka pembicaraan
“belum
abang jawab?”
“kenapa?”
“tawarannya
murah bangat”
“ngak
apa-apa. Ambil saja”
“eh, enak
saja. Penghasilan buku abang saja lebih besar dari itu”
“itu baru
kotornya saja bang”
“iya bumi.
Biasanya kalau produser yang lain kotornya lebih dari itu. Uangnya juga kan
tidak abang makan sendiri. Sumbangin kepanti, masjid. Kalau segitu mana cukup”
Tiba-tiba
bel rumahku terdengar berbunyi, pembicaraan aku dan bumi pun terhenti. Sejenak
bumi terdiam akupun begitu. Bel pun terdengar berkali-kali berbunyi. Lalu bumi
pun membangunkan diri dan membuka pintu. Setelah dibuka ternyata amar berdiri
membelakangi pintu dengan membawa tas hitam besar.
“assalamu’alaikum”
“wa’alaikumsalam.
Eh bang amar”
“rahmat
ada?” tanya laki-laki itu pada bumi
“ada.
Masuk bang” ajak bumi “apaan itu bang” tanya bumi matanya melihat ketas hitam
amar
“biasa,
kitabnya abangmu”
“itu
buku-buku bang rahmat?”
“iya.
Kenapa?”
Bumi tidak
menjawab. Dia hanya menggelengkan kepalanya melihat buku-buku yang ada didalam
tas amar. Sepertinya bumi heran melihat buku-buku itu.
“bang. Ada
abang amar”
“eh, bro.
Duduk” ajakku
“bro ini
buku yang kamu mau” ucap amar
“wah gila
bro, banyak sekali”
“aku
sengaja mencari buku tua-tua ini biar refrensi kamu semakin banyak dan tulisan
kamu semakin bagus. Kan sayembara Nasional bro” ucapnya sedikit ngeledek
“abang
ikut sayembara menulis lagi ya?” tempal bumi
Aku
tersenyum. Aku tidak meilhat adikku.
“iya,
abang kamu mau ikut lomba sayembara menulis. Kamu tahu tidak hadiahnya berapa?”
“berapa
emangnya bang?”
“200 juta”
“wah. Bang
banyak benar. Kalau menang bumi minta 10% ya?”
“eh, enak
saja 10%. Abang amar yang 10%. Bumi 1% saja” sebut amar bercanda
Aku hanya
tersenyum melihat perdebatan kedua laki-laki itu. aku tidak pernah mengharapkan
hadiah 200 juta itu. aku hanya ingin memberikan yang terbaik dalam tulisanku.
Sayembara itu tinggal beberapa bulan lagi. Aku tidak ada persiapan sama sekali.
Judul tulisanku pun belum terpikir dikepalaku.
“kalian
ini. Belum apa-apa sudah minta jatah. Yang harus dipikirkan itu tulisannya
bagaimana, judulnya saja belum terpikirkan. Apalagi untuk menang”
“tenang
bro. Didalam sini sudah aku siapkan judul-judul yang bagus, mulai judul jadul
sampai modern”
“judul
jadul. Emang film” sebut bumi
Amar pun
tersenyum aku pun begitu. Suasana ruangan malam itu sangat hangat, suara tawa
dan percakapan kami terdengar begitu ramai. Hembusan angin terasa berhembus
disetiap ruangan. Bumi dan amar seakan menikmati lambaian ciptaan Tuhan itu.
“laila
tahu tidak kamu ikut sayembara ini?” gumam amar setelah suasana ruangan menyadi
sunyi
“tidak”
jawabku
“kenapa?”
“tidak
apa-apa. Aku sengaja tidak memberi tahu padanya”
“orang tua
kamu?”
“tidak
juga”
“bang
amar. Jangankan mama dan papa. Aku saja tidak pernah dikasih tahu kalau bang
rahmat ikut sayembara” sindir bumi
“ah, kalau
abang kasih tahu kamu emangnya kamu mau bantu? Lihat abang menulis saja kamu
kabur”
“iya
setidaknya kasih tau kan aku bisa bantu do’a” tutupnya
Amar
tersenyum mendengar percakapan antara aku dan bumi. Aku sangat menyayangi
adikku. Sejek kejadian beberapa tahun yang lalu membuatku semakin sayang
padanya, tidak hanya bumi, papa dan mama semakin aku sayang merekalah
orang-orang yang selama ini yang aku inginkan selalu ada disampingku tersenyum
melihatku, bangga dengan karya-karyaku.
***
Pagi yang
cerah di Sulthan Thaha Saifuddin, cahaya emas bermain mesrah memancarkan
berkahnya disetiap sudut kampus. Seperti biasa kubah Ash-Shabah terlihat cantik
dimataku. Keindahannya mengalahkan kecantikan kekasihku laila. Rumah Allah itu
sungguh indah gumamku dalam hati. Setelah selesai shalat sunah duha aku
langsung melangkahkan kakiku ke fakultas. Mahasiswa terlihat ramai disetiap
alun-alun ada yang membaca buku, ada yang ketawa dan ada yang sedang menunggu
mobil jemputan dari kampu bagi mahasiswi yang tinggal diasrama. Kampus
menyediakan mobil khusus untuk mengantar dan menjemput mahasiswi yang tinggal
di asrama. Asrama putri berbeda dengan asrama putra. Asrama putra berada
dikawasan kampus. Sedangkan asrama putri berada diluar kampus sekitar 25 menit
dari kampus.
Pagi ini
terlihat ramai dipusat perpustakaan. Ramai mahasiswa mengunjungi perpustakaan.
Tidak heran karena pagi ini ada pameran buku dari perpustakaan provinsi. Banyak
buku-buku yang tersedia mulai dari fiksi sampai buku pelajaran. Hari ini, laila
akan menemuiku diperpustakaan ini. Beberapa menit menunggu laila, perempuan itu
tidak juga terlihat. Sekali-kali aku melihat ke jam tanganku.
“assalamu’alaikum
rahmat?”
“wa’alaikumsalam”
jawabku
Beberapa
detik kumelihat jam tanganku, laila berdiri dihadapanku. Pagi itu dia sangat
cantik dengan perpaduan baju biru dan jilbab biru muda.
“eh,
laila. Kupikir kamu tidak datang”
“maaf mat,
sudah menunggu lama. Tadi ada urusan sama dosen”
“tidak
apa. ayo masuk”pintaku
Aku dan
laila masuk kedalam perpustakaan. Sungguh begitu indah, tulisan kaligrafi
menghiasi setiap sudut ruangan. Ada satu hal yang membuat mataku terpaku pada
sebuah kotak berdinding kaca bening. Kumendekat, kulihat dengan jelas sebuah
Al-Qur’an tua yang dipajang ditengah pusat perpustakaan. Subhanallah gumamku
dalam hati.
“Al-Qur’an
tua ya mat?” tanya laila padaku
“sepertinya.
Subhanallah. Al-Qur’an ini diambil dari kota seberang. Desa yang menjadi pusat
peradaban islam
di kota ini. Al-Qur’an ini
telah banyak melahirkan ulama-ulama tersohor dinegeri ini”
Laila
terdiam mendengar penjelasanku. Matanya hanya melihat kearah Al-Qur’an yang tua
itu. Tulisan ayat Allah begitu indah, enak dipandang. Tulisan yang tiada
tanding. Beberapa menit aku dan laila melihat-lihat keagungan sang kuasa yang
ada perpustakaan islam ini.
Pertama
kalinya aku melangkah kakiku ke perpustakaan. Selama beberapa tahun kuliah
disini aku tidak pernah berkunjung ke perpustakaan pusat aku banyak
menghabiskan waktuku diperpustakaan fakultas.
Aku dan laila
melanjutkan langkah kaki untuk mencari buku. Begitu banyak buku yang tersusun
dirak buku-buku. Berbagai macam jenis buku, karya ilmiah dan artikel. Kulihat
pula beberapa karyaku yang terpajang dibagian
buku fiksi. Aku tersenyum, laila terheran melihatku tersenyum.
“ada apa
mat?” tanya laila
“tidak”
“mengapa
kamu tersenyum?”
Aku
menggelengkan kepalaku. Aku meneruskan langkah kakiku. Ada beberapa buku karya
mahasiswa yang ada dirak buku tersebut.
“laila”
Teriak
seorang perempuan dari sudut ruang. Mata laila melihat kearah suara tersebut.
Suara tersebut berasal dari sahabat laila rani yang sedari tadi telah menunggu.
“kau
janjian juga dengan rani?” tanyaku
“iya”
Aku dan
laila melangkah mendekat. Rani tersenyum melihatku aku pun membalasnya.
“assalamu’alikum
mat?” ucapnya
“wa’alaikumsalam”
jawabku “sudah lama?”
“tidak
juga”
“kamu
sendirian ran?” tanya laila pada perempuan berjilbab hitam itu
“tadi sama
mas agung. Sekarang sudah pergi, katanya ada janji sama dosen. Kau sudah lama?”
rani kembali bertanya
“tidak
juga. Sampai diperpus aku langsung kesini”
“kau sakit
la?” tanya rani “wajahmu terlihat pucat pasih?” sambungnya
Memang
laila terlihat pucat, bibirnya terlihat sedikit biru. Seperti orang sakit.
Mataku melihat kearah kekasihku yang berdiri disampingku. Wajah laila terlihat
sedikit pudar senyuman dibibirnya menghilang. Mungkin apa yang rani katakan itu
benar laila sedang sakit. Tapi dia tidak mengatakan apa-apa padaku.
“ah,
tidak. Aku tidak sakit. Kamu ada-ada saja”
Rani
tersenyum mendengar laila berkata demikian. Hatiku sedikit tenang mendengar
laila baik-baik saja. Tapi perasaanku tidak enak sepertinya ada sesuatu yang
dirahasiakan laila dariku.
“amar tidak
ikut?” tanya rani padaku
“sebentar
lagi dia kesini. Dia lagi ujian”
“bagaimana
tulisan kamu yang kemarin. Sudah dikirim?”
“sudah
ran. Do’akan saja yang terbaik”
Rani
mengangguk dan tersenyum. Dua hari yang lalu dia mendaftarkan diriku mengikuti
lomba menulis tingkat nasional antar mahasiswa. Aku sangat kaget ketika rani
mengatakan itu, ingin rasanya aku menolak tapi aku tidak enak dengan rani
karena dia sudah mendaftarkan aku. Lomba menulis itu diselenggarakan oleh OSAKA
surat kabar ternama yang selalu mencari bakat anak negeri melalui tulisan.
Sesaat aku dan kedua perempuan itu terdiam tiba-tiba HP aku berbunyi kulihat
ada SMS dari amar. Dia sudah berada dilantai bawah dan aku segera menyusulnya.
“maaf. Aku
lihat amar dilantai dasar. Katanya dia sudah sampai” kataku pada kedua
perempuan yang sedang membaca buku
Kedua
perempuan itu menganggukkan kepala. Mata mereka hanya terfokus pada buku yang
mereka baca. Kulihat kedua perempuan hebat itu membaca buku karangan ALBERT
EINSTEN yang sangat menginspirasi dalam dunia Fisika Modern.
Lalu aku
melangkah keluar meninggalkan kedua perempuan itu sejenak. Tak lama
kumencari-cari amar akhirnya kudapat melihat sahabatku dengan berpakaian sangat
rapi. Aku dan amar pun langsung masuk keruang.
“ada rani
sama laila juga” sebutnya setelah sampai dimeja yang sedang aku duduk
“assalamu’alaikum,
akhi amar?” ucap kedua wanita itu
Amar
menganggukkan kepalanya dan menjawab salam dari
kedua perempuan yang ada dihadapannya itu. sementara itu aku duduk termenung
melihat gadis pujaanku yang lagi membaca. Aku melihat laila sekali-kali
memegang kepalanya. aku selalu bertanya-tanya dalam hati ada apa dengan laila
apakah dia sakit? Rani tidak menyadari sikap laila begitu pun dengan amar. Rani
sahabat laila dengan asik membaca buku dihadapannya. Amar pun begitu, dengan
khusuknya menyimak setiap tulisan didalam kitabnya.
Kupandangi
laila. Sekian kumemandangnya dia selalu memegang kepalanya. sepertinya dia
menahan rasa sakit dari kepalanya. melihat sikap laila aku ingin mendekat dan
memegang kepalanya yang sakit namun hubungan kami adalah hubungan yang suci aku
tidak ingin menodai hubungan suci karena bisikan setan dalam hati.
“kau tidak
apa laila?” tanya rani ketika melihat sikap laila yang aneh
“tidak.
Aku tidak apa-apa” jawabnya
“wajah kamu
pucat sekali la. Kamu sakit?” tanya rani kembali
“tidak.
Aku baik-baik saja”
Melihat
sikap rani yang penuh kekhawatiran, aku dan amar pun menatap laila dengan wajah
yang serupa dengan rani. Hatiku sangat takut dan cemas. Wajah laila begitu
pucat bibirnya sedikit membiru terlihat pecah-pecah kecil dibibirnya.
“astagfirullah
laila, hidung kamu berdarah”
Seketika
aku berdiri mendekati laila dengan wajah penuh kekhawatiran. Amar melihat laila
dengan cemas, sekali-kali laila memegang kepalanya. Rani melihat dengan hati
yang tidak enak dipeluknya laila dengan erat. Darah dihidung laila mengalir
lebih banyak. Beberapa kali laila memegang kepalanya, terlihat dari matanya dia
menahan rasa sakit, dia menangis memanggil nama rani
“sakit
ran, kepalaku sakit” ucapnya
Lalu
tiba-tiba tubuh laila terjatuh pingsan. Orang-orang mendekati laila, rani
terhanyut dalam tangisannya. Aku semakin takut hatiku tak menentu. Pikirannku
tak menentu.
“ya Allah.
Laila” sebut rani dalam tangisannya
Tak pikir panjang kami
pun bergegas membawa laila kerumah sakit dengan mobil ambulance kampus. Hatiku
semakin bergetar hebat. Hatiku semakin takut, mataku tak bercahaya menatap
dalam kebingungan. Jantungku berdetak dengan cepat. Aku tidak pernah melihat
laila seperti ini. Tia tidak pernah memberitahuku bila dirinya sakit. Dan mobil
ambulance pun melaju dengan cepat.
9
KABAR
DARI DOKTER
Setiba
dirumah sakit, laila langsung dibawa ke UGD. Rani hanyut dalam tangisannya.
Laila terbaring tak berdaya. Aku melihatnya dengan hati yang sakit. Hatiku
selalu bertasbih memuja nama Allah, berzikir menyebut nama Allah Tuhan yang
maha penyembuh, Sang Kuasa Maha Kuasa dibalik segala rencana manusia. Amar
melihat laila dengan mata yang bingung. Terlukis diwajahnya kecemasan yang
dalam.
“mas,
maaf. Tunggu diluar saja” ucap salah satu perawat yang menangani laila
“tapi mbak
laila sendirian didalam” sebut rani dalam tangisannya
“iya, tapi
tidak ada yang boleh masuk selain perawat dan dokter”
“tapi
mbak...”
“sudah
ran, tenangkan dirimu. Biarkan dokter yang menangani laila. Kita berdo’a saja
yang terbaik untuk laila” ucapku menenangkan rani tampak seperti orang gila
Mendengar
itu, rani sedikit tenang namun tangisannya semakin menjadi-jadi. Amar hanya
diam melihat rani menangis seperti orang gila. Jilbab biru rani tampak merah
karena dilumuri darah. Rani menghapus setiap darah yang mengalir dari hidung
laila saat didalam ambulance.
Pagi itu,
perasaan aku, amar dan rani tidak enak. Kami semua duduk didepan ruang UGD
tempat laila diperiksa. Semua hati bergetar bertasbih pada Sang Kuasa. Berdo’a
kepada Allah semoga gadis didalam itu dalam keadaan baik-baik saja. Mataku melihat
rani yang selalu menangis, bibirnya selalu bergetar menyebut nama Allah. Cahaya
matahari pagi itu amat terik terasa panas yang masuk disela-sela jendela hingga
menusuk kulit. Suasana lorong ruang itu tidak enak terasa. Sangat panas dan
penuh kegelisahan.
Jarum Jam
terasa lama bergerak, bumi terasa lambat berputar. Kegelisaha hati sangat
bermain dalam dada. Darah mengalir sangat cepat. Detak jantung terasa berhenti
berdetak.
“Suster di
mana perempuan yang pingsan itu?” Tanya Ibu Laila dengan mata penuh kecemasan
pada seorang perawat di depan ruang gawat darurat.
“gadis
berjilbab?” “iya sus”
“gadis itu
masih diperiksa sama dokter”
“dimana
ruangnya?”
“disana”
tunjuknya
Perempuan
paru bayah itu pun langsung melangkah kaki menuju ruang UGD. Kudapat melihat
wajah ibu laila, dihiasi dengan cemas dan khawatir begitu pun ayahnya yang
berdiri dibelakang perempuan berkerudung merah itu. Sesaat rani melihat ibu
laila, lalu air matanya pun tumpah dan rani berlari memeluk ibu laila.
“ibu.
Laila” ucapnya
“kita
do’akan saja yang terbaik” sebut wanita itu menenangkan sahabat laila
Selain
dekat dengan laila, rupanya rani juga dekat dengan keluarga laila. Orang tua
laila sudah menganggap rani seperti anaknya sendiri. Orang tua laila sangat
baik dan ramah kepada setiap orang.
“laila
sakit apa bu?”
“ibu juga
tidak tahu nak, laila tidak pernah cerita sama ibu ataupun ayahnya kalau dia
sakit”
“saya
takut melihat kondisi laila buk. Saya takut terjadi sesuatu yang buruk padanya”
“sudah
ran, tidak baik berbicara seperti itu. Sebaiknya kita berdo’a untuk kebaikan laila. Kita serahkan
semuanya pada Allah” sambung amar menenangkan kedua wanita itu
Rani terus
meneteskan air mata. Ia ingin tabah. Tapi ia tetap menangis. Kedua mata ayah
laila tampak berkaca-kaca. Aku hanya diam melihat suasana haru biru dengan
tangisan rani dan ibu laila. Amar termenung disampingku, tak terdengar suara
dari mulutnya mungkin dia sedang berzikir dalam hatinya.
Beberapa
detik dalam tangisan, tiba-tiba pintu UGD itu pun terbuka dan terlihat dokter
yang memeriksa laila keluar dengan dua suster dibelakangnya.
“keluarga
laila purnama sari?” ucap dokter muda
“iya saya
ibunya dok”
Ibu dan ayah laila pun mendekati
dokter yang berdiri didepan pintu ruang UGD itu. Sesaat aku melihat dokter
tersebut, tampaknya dia enggan
memberitahu hasil pemeriksaan laila. Kulihat pula tangannya memegang sebuah
kertas putih. Sepertinya itu hasil pemeriksaan laila, sebutku dalam hati.
Mataku menerawang entah kemana. Hatiku tak hentinya berzikir pada Allah semoga
tulisan didalam kertas putih itu membawa kabar yang baik. Lalu dokter itu pun
membaca hasil pemeriksaan laila.
“maaf bu,
anak ibu terkena kanker otak stadium akhir” sebutnya
Kabar itu
seperti tombak yang menancap ditelingaku. Mataku termenung, lututku lemas bergetar.
Ibu laila menangis dengan kencang. Air mata rani meleleh.
“ya Allah.
Anakku. Ayah laila” teriak ibu itu dalam tangisannya
“sabar”
jawab laki-laki yang memeluk ibu laila
“ya Allah
Laila” sebut rani
Amar
terdiam, jantungnya terasa berhenti berdetak. Hatinya terasa panas. Hatiku
berhenti berzikir. Sempat terbesit dalam hatiku zikirku selama ini hanya
sia-sia saja. Kedua mataku berkaca-kaca. Keringat dinginku bermunculan satu
persatu membasahi bajuku. Sungguh malang kekasihku itu mengapa Tuhan memberi
cobaan seperti ini kepadanya. Hatiku tak menentu pikiranku tak tenang, angin
yang berembus menari dengan asiknya diatas kulitku yang panas. Lalu rani dan
ibu laila masuk kedalam ruang dimana tempat laila terbaring lemah kemudian
ayahnya menyusul dan amar membangunkan diriku. Tubuhku terasa lemah tak
berdaya. Lututku bergetar hebat tak sanggup rasanya aku melihat wajah
kekasihku.
Namun aku
paksakan kakiku melangkah masuk kedalam ruang UGD. Kulihat laila kekasihku
terbaring diatas kasur beroda, darah dihidungnya telah dibersihkan, matanya
terlihat layu namun dibibirnya masih tersimpan senyumnya yang manis. Hatiku
semakin sedih, ingin rasanya aku memeluk kekasihku yang terbaring itu, ingin
rasanya aku menjerit meluapkan kekecewaanku. Aku lihat tangan amar mengelus
pundakku, aku tahan air mataku agar tidak meleleh dipipiku.
“ibu” ucap
laila ketika melihat ibunya menangis
Kemudian perempuan paru baya itu mencium anaknya yang
lemah terbaring tak bedaya
“sabarkan
hatimu nak”
“ini
cobaan dari Allah” sebut ayahnya
Rani tak
hentinya menangis. Dipeluknya sahabatnya yang terbaring itu.
“laila.
Sabarkan hatimu, jangan lupakan Allah. Dalam keadaan apapun kita selalu ingat
padanya”
“Insyallah”
jawabnya tersenyum kecut
Hatiku semakin sedih
melihat pergaulan laila dengan orang-orang itu. Tak kuasa hatiku untuk mendekat
kekasihku mataku berlinang sekali-kali aku mengedipkan mataku untuk menahan air
mataku tidak keluar. Amar sekali-kali menghapus air matanya yang sedikit
mengalir dibalik kelopak matanya. laila melihatku, dia tersenyum. Dari kejauhan
senyumnya begitu manis tampak senyumnya untuk menahan rasa sakit yang
dirasakannya. Terjatuh sudah air mataku. Tak kusadari air mata mengalir
dipipiku.
10
HUJAN
Hujan
terdengar riuh pecah ditelinga. Air yang berjatuhan mengenai setiap debu-debu
yang bertaburan. Malam itu hujan gerimis telah berubah menjadi hujan yang deras
membuat gaduh setiap penduduk bumi, petir terdengar bersahut-sahutan diangkasa.
Didalam kamarku, aku duduk dimuka jendela mengingat ucapan laila ketika aku
mengunjunginya dirumah sakit tadi siang. Malam itu suara hujan lebih enak
kudengar dari pada suara radio tua milik bumi adikku. Entah mengapa malam itu,
aku tak begitu merasa mengantuk pikiranku hanya terfokus pada laila. Wanita
yang tengah berjuang melawan kanker yang bersarang dalam dirinya. Kabar itu
serasa gemuruh yang pecah dalam telingaku. Aku tidak mengerti dengan perasaanku
antara sedih dan tidak percaya dengan apa yang terjadi pada laila. Aku selalu
mencoba menguatkan diri laila dengan kondisi dirinya.
Kini dua
tahun berlalu. Lalila berjuang melawan kankernya. Setiap bulan dirawat dirumah
sakit. Kemoterapi selalu dijalannya untuk menghilangkan kanker yang bersarang
didalam tubuhnya. Dokter telah mendiaknosa hidup laila tidak akan lama sekitar
delapan bulan kedepan. Namun, aku bangga pada laila, walau dalam keadaannya
seperti itu dia tetap wanita yang hebat. Ia tidak pernah mengeluh apalagi putus
asa untuk hidup lebih lama.
Mentari
pagi terasa panas dikulit, cahaya kuningnya begitu cerah memancar hingga
kebumi. Aku berjalan menyusuri alun-alun rumah sakit. Pagi itu aku mencoba
untuk melihat laila, hanya sekedar menghibur dirinya. Kamar nomor 20 menjadi
saksi bisu bagaimana pengorbanan laila memperjuangkan hidupnya. Kakiku terus
melangkah, hingga aku sampai dikamar laila. Sejenak aku berdiri dibalik pintu
kamar nomor 20 itu, sejenak aku menarik nafas, aku selalu berbisik dalam hatiku
untuk selalu kuat bila bertatapan mata dengan lailai. Walau hatiku mengatakan
aku tidak bisa dan aku paksakan diri membuka pintu kamar itu.
Aku lihat
laila terbaring, memandang kearah langit yang cerah. Kulihat pula dibalik
selaput matanya mengalir air mata yang penuh harap akan hidupnya. Kulihat pula
rani sahabat laila duduk termenung disamping laila. Mereka tidak menyadari akan
kedatanganku.
“assalamu’alaikum”
ucapku
Kedua
wanita itu melihat kearahku dan menjawab salam dariku. “wa’alaikumsalam”.
Kulihat laila tersenyum, dibalik senyumannya itu tersimpan harapan yang penuh
pada diriku. Dia pernah berkata padaku agar aku tidak pernah meninggalkan
shalat dan selalu ingat pada Tuhan.
“rahmat?”
sebut wanita yang terbaring sakit itu.
Wanita
yang berbaju biru itu laila, purnama laila sari kekasihku. Ia telah mengubah
hidupku. Ia telah menjadi pelita dalam hidupku. Dia seperti sinar bulan purna
yang selalu memberikan cahaya dalam hidupku. Aku sungguh berterima kasih
padanya. Entah mengapa wanita berjilbab itu
memilih aku untuk menjadikan kekasihnya padahal begitu banyak laki-laki
yang lebih sempurna dari pada aku.
Aku hanya
tersenyum, mataku terlihat berlinang. Sungguh aku tidak kuasa melihat kekasihku
yang terbaring menahan rasa sakit. Aku tidak mendekati kedua wanita itu, aku
hanya menunggu jawaban hatiku. Apakah aku harus mendekati wanita itu? atau
apakah aku harus keluar meninggalkan laila karena hatiku begitu sakit. Sungguh
Tuhan berilah aku jawaban.
“rahmat?”
ucap kembali laila sembari memberi senyum padaku
Aku
terbangun dari lamunanku, suara itu semakin menusuk dalam diriku. Aku pun
melangkah mendekati laila dan rani. Kulihat pula laila menghapus air matanya
yang terlihat mengalir kecil dikelopak matanya. Rani hanya tersenyum padaku dan
aku pun membalasnya.
“ini ada
makanan untuk laila. Laila belum makan kan?” sebutku menyodorkan bingkisan dari
tanganku
“alhamdulillah.
Terima kasih rahmat. Kamu datang dengan siapa? Dengan Amar?”
Aku
tersenyum kecut. Sungguh kesihan wanita itu sebutku dalam hati “tidak, aku
datang seorang diri. Amar ada kelas pagi ini. Aku sengaja ingin menjenguk
laila. Bagaimana kabar kamu?”
“aku baik
mat. Alhamdulillah. Semalam kepalaku agak sedikit sakit. Tapi sekarang sudah
enakkan”
“kamu
tidak ada kelas pagi ini, mat?” tanya rani padaku.
“tidak.
Dosennya tidak datang. Semalam kamu tidur sini ya ran?”
“tidak.
Aku tadi pagi kesini. Semalam aku ada acara keluarga. Oh iya bagaimana tulisan
kamu. sudah selesai?”
“belum.
Sedikit lagi. Kalau sudah selesai mau baca?”
“mau, mau
bangat. Iya kan la?”
“iya”
jawab laila
“rahmat?
Rani?” ucap laila
Ditengah
percakapan kosong itu, tiba-tiba dengan suara yang sedikit lesu dan tak berdaya
laila memanggil namaku dan sahabatnya rani. Aku melihat kearah kekasihku.
Matanya begitu layu lunglai, dibawah matanya terlihat menghitam. Bola matanya
tak bercahaya lagi. Hanya terlihat keceriaan yang mulai menghilang. Mendengar
itu rani pun melihat wanita yang sakit itu. Dan laila terlihat mengambil tangan
rani dan mengelusnya.
“maafkan
aku. Rahmat. Rani. Selama ini sudah membuat kalian susah karena aku. Aku tidak
tahu harus bagaimana lagi untuk berterima kasih pada kalian. rahmat. Rani.
Rambutku kini mulai menipis. Kata dokter umurku tidak panjang lagi. Aku hanya
ingin berpesan pada kalian, setelah aku pergi nanti tolong jangan lupakan aku.
Tolong do’akan aku disetiap sholat kalian”
Kata-kata
itu bagaikan badai yang menerjang telingaku. Tuhan, kuatkan hatiku. Kulihat
mata laila yang menangis itu. tak kuasa hatiku menahan rasa sedih, aku hanya
tersenyum untuk menahan air mataku agar tidak terjatuh dipipi. Rani pecah
dalam tangisannya. Dipeluknya laila
dengan erat, dalam pelukkan itu aku mendengar rani berbisik kecil ditelinga
laila.
“tidak la,
aku tidak merasa susah karenamu. Aku ikhlas apa yang telah aku lakukan padamu.
kamu pasti sehat. Kamu jangan lemah seperti ini. Dokter bukan tuhan. Hidup,
mati kita tuhan yang menentukan. Jangan kamu berkata seperti itu”
Terjatuh
sudah air mataku. Tak kuasa aku menahan air mataku. Melihat dua wanita yang
hebat itu menangis. aku selalu berbisik dalam hati berdo’a pada tuhan agar
panjangkan umur laila sampai aku dan dirinya bisa bersatu, mendirikan keluarga
yang sakinah bersama anak-anak yang sholeh dan sholeha. Sekali-kali aku
menghapus air mataku, namun terjatuh kembali. Wajah laila begitu layu dan lesu,
matanya kosong dan tak menawan. Cahaya mentari yang masuk disela-sela jendela
kamar laila pun terlihat tak berdaya melihat wanita yang sakit itu menangis. Tak kuasa kumelihat laila bersedih
hati, aku pun pergi dari hadapan wanita itu. Diluar kamar laila aku meluapkan
segala kesedihanku mendengar ucapan laila yang begitu menusuk hati. Serasa
tubuhku hampir terjatuh kelantai karena kakiku terasa lemah dan tak berdaya.
Air mataku tak dapat kutahan, mengalir sekuat hatiku menjerit karena mendengar
kekasihku. Laila melihatku pergi dari hadapannya, namun aku tak memperdulikan
wanita itu karena hatiku terlanjur sakit. Hatiku kian menjerit, darahku terasa
mengalir cepat seakan berlomba menerjang kulitku untuk keluar dari tubuhku.
Kumencoba kuatkan hatiku. Kulihat laila dari sela pintu kamarnya yang dipasang
kaca bening kecil. Sehingga aku dapat melihat laila yang masih menangis
dipelukan rani. Tak sengaja disaat laila ingin melepaskan pelukannya, mata
layunya itu menengok ke arahku yang sedang melihatnya dari luar. Wajah laila
begitu pucat pasih bagaikan cendawan dibasuh sungguh ia begitu layu tak
berdaya. Semakin laila melihatku hatiku semakin sakit, tangisanku semakin
menjadi-jadi.
“laila”
sebutku dalam tangisanku
Cahaya
mentari semakin menyengat dikulit. Keringat dibadanku terasa membasahi baju
yang aku pakai. Beberapa orang terheran melihatku menangis tersedu-sedu dibalik
pintu nomor 20 itu. Kakiku semakin terasa lemah tak berdaya, dan aku pun
terjatuh kelantai. Kulihat seorang pemuda medekatiku, dia terheran melihatku
seperti orang tak sadarkan diri.
“mas. Anda
tidak apa-apa?” ucapnya
Sementara itu aku tidak
memperdulikan pemuda itu. Aku terhanyut dalam kesedihanku. Lidahku tak kuasa
berkata-kata. Ingin rasanya aku menceritakan kesedihanku pada pemuda itu atau
ingin rasanya aku menghempaskan kursi disampingku untuk meluapkan rasa
kekecewaanku. Aku semakin terhanyut dalam tangisanku, aku mengabaikan
pertanyaan pemuda yang tidak aku kenal itu. Dia semakin heran melihatku, lalu
dia pergi meninggalkan ku dalam tangisanku seorang diri.
Tak lama
setelah pemuda yang tidak kukenal itu pergi, kudengar suara hentakan sepatu
yang tidak asing kudengar. Itu seperti suara sepatu amar ucapku dalam hati.
Kudengar langkah kecil amar mendekati aku yang sedang menangis. Kulihat pula
wajah amar yang heran melihatku menangis tersedu-sedu.
“rahmat
mengapa kau menangis?” tanyanya dengan heran
Mendengar
itu aku langsung memeluk amar dengan erat. Amar dengan heran pula membalas
pelukkanku. Aku semakin kencang menangis dalam pelukan amar.
“ada apa
mat? Ceritalah!” tanya amar kembali
“lailai”
ucapku
“laila?
Kenapa dengan dia?” tanya amar dengan penasaran
Aku tidak
menjawab pertanyaan itu. Pertanyaan amar membuatku semakin terpuruk dalam
kesedihan, lidahku seakan sulit berkata-kata. Pikiranku tak menentu hanya ada
laila dalam benakku. Kulihat amar berdiri mendekati pintu kamar laila untuk
memastikan laila dalam keadaan baik-baik saja. Tak jauh amar melangkah, aku pun
menahan dirinya agar tidak masuk kedalam ruang laila.
“amar.
Jangan” pinta dalam tangisanku
Kaki amar
pun terhenti. Amar melihatku dengan penuh penasaran. Aku mencoba untuk menatap
mata amar yang dapat kulukiskan betapa khawatir dirinya pada laila. Kumencoba
menahan air mataku, aku sedikit kuat untuk tidak menangis. Amar melihatku. Lalu
ia menarik tanganku kembali. Dan berkata dengan nada yang syahdu.
“rahmat.
Dengarkan aku. Coba kamu jelaskan dengan perlahan apa yang sudah terjadi.
Tenangkan dirimu, Arju” ucapnya
sambil mengeluskan dadanya.
Aku
mencoba untuk menenangkan diri. Sejenak aku menarik nafas dalam untuk
menenangkan diri. Sekali-kali aku menatap wajah amar yang mulai memerah karena
panas cahaya mentari.
“jelaskan
padaku” ucapnya kembali
“aku tidak
kuat melihat laila mar” sahutku tersedu-sedu
Amar
kembali memelukku. Aku merasa kuat ketika aku berada dipelukan sahabatku,
hatiku begitu damai dan tentram. Angin seakan berhembus dengan syahdu. Cahaya
mentari begitu kasar menyengat dikulit kini terasa seakan memancarkan keindahan
warnanya.
“sabar
mat, tabahkan hatimu. Tidak ada gunanya bila kau seperti ini. Lebih baik kita
berdo’a untuk kebaikan laila. Jangan kau membuatnya semakin tak berdaya karena
kau selalu bersedih. Jangan kau larikan diri padanya ”
Dan aku
semakin menangis mendengar ucapan amar. Aku termenung, mataku tak melihat
kearah kiri dan kanan, aku tarpaku menatap tembok kamar laila. Kalimat amar
telah menyadarkanku betapa lemahnya aku. Dahulu ketika aku belum mengenal
laila, hidupku seakan berkubang dengan dunia gelap gulita, aku tak bisa
mengenal siapa diriku. Sehingga laila malaikat penyelamatku datang dengan
mengubah hidupku.
Amar
adalah sahabatku yang terbaik. Dua manusia yang telah mengubah hidupku menjadi
lebih baik. Laila kekasihku dan amar sahabatku. Meraka adalah malaikat
penyelamat dalam hidupku. Aku selalu meyesal apa yang telah aku perbuat pada
masa laluku. Hidup bergelimang dengan dosa hanya memikirkan tahta, wanita dan
harta hingga aku jauh dari tuhan. Ketika telah aku menemukan diriku dengan
hadirnya laila dalam hidupku, kini Tuhan kembali menguji kekuatan cintaku.
Inilah artinya cinta sejati yang sesungguhnya, perjuang untuk saling menjaga
satu sama lain. Dikala satu tulang rusuk sakit maka semua anggota tubuh akan
terasa sakit.
Amar
merangkul dan menitiku untuk berdiri. Rasa sedih dalam hatiku membuat kakiku
begitu lemah dan tak berdaya. Rasa cinta yang amat dalam pada laila telah
membuatku takut akan kehilangan kekasihku itu. aku dan amar pun pergi melangkah
meninggalkan kamar laila. Aku dapat menggambarkan suasana kamar laila saat ini.
Rani dalam kesedihan, laila dalam pengharapan.
Kakiku
jauh melangkah hingga hingga tak terlihat lagi kamar laila. Amar mencoba
membujukku untuk menenangkan diri dari suasana sedih yang berkalut.
Cahaya
panas mentari siang begitu menyengat. Panas yang begitu menyakiti kulit,
perasaan yang gemuruh. Jantung yang berdetak tak terkendali. Semua pikiranku
ada di rumah sakit, pikiranku ada pada laila.
“bagaimana
bukumu mat?” tanya amar
“sedikit
lagi. Aku ingin mempersembahkan buku itu untuk laila dan kau mar. Kalian yang
membuatku menjadi seperti ini, keluar dari dunia yang kelam penuh noda dan
dosa”. Amar tersenyum kecil langkah kakinya mendeati pohon yang rindang tepat
didepan kelasku. “Tapi aku takut, laila tidak sempat membaca buku aku” sebutku
Mendengar
ucapanku amar menghentikan langkahnya, senyumnya menghilang seketika. Dia
melihatku, kupandangi pula matanya yang hitam bersih itu, dia tak berbicara.
Lalu tersenyum kembali padaku. Ku tahu isyarat itu, amar menyembunyikan
kesedihannya dibalik senyumnya yang menghilang. Perasaan amar sama halnya
dengan perasaanku terhadap laila kekasihku. Amar begitu menyanyangi laila,
baginya laila adalah saudaranya.
Panas mentari tak hanya
terasa di rumah sakit ketika aku mengunjungi laila, tetapi juga terasa
menyengat hingga di kampus. Cahaya kuning matahari membuatku dan amar sedikit
berkeringat. Pikiranku selalu saja tidak enak, masih saja terpikir dengan
perkataan laila.
11
SENYUMAN
YANG SAKIT
Cinta
sejati telah membuktikan kebesaran Tuhan, cinta suci aku dan laila telah
membuktikan itu. namun ketika cinta sejati itu datang ada satu hati yang
terkoyak. Hari-hari selanjutnya, aku menjalankan aktifitasku seperti biasanya.
Kini aku melanjutkan hobiku dalam menulis. Telah banyak buku-buku yang aku
ciptakan buku-buku yang sakit. Didalam ruang yang kecil tempat aku biasa
menulis, aku hanya termenung menatap cahaya yang masuk disela jendela yang
sedikit terbuka. Alunan angin yang berhembus menggoyangkan tirai jendela itu.
pikiran aku tak menentu mata kosong tak berisi. Aku merasa damai dan tenang
bila aku berada didalam ruang yang kecil sederhana itu. didalam ruang itu aku
tak mendengar satu suara pun, hanya putaran jam dinding yang berdetak yang aku
simak. Lamunan aku berlanjut, pikiranku tak menentu hanya ada laila kekasihku.
“assalamu’alaikum?”
Aku
terbangun dari lamunanku ketika aku mendengar suara seorang mengetuk pintu
ruanganku. Suara itu tidak asing lagi aku dengar, suara yang telah menjadi
cahaya dalam hidupku. Aku menghapus air mataku yang sedikit mengalir di balik kelopak
mataku. “wa’alaikumsalam” ucapku
Lalu aku
mempersilahkan seorang dibalik pintu ruangku untuk masuk. Hembusan angin pagi
yang dingin terasa sangat sejuk dikulit. Kumelihat pintu ruanganku terbuka
kecil, kulihat wanita berjilbab panjang nan anggun melangkah mendekati mejaku.
Alangkah suka hatiku melihat perempuan itu. Hatiku tak menentu hatiku antara
senang dan sedih. Kulihat wajah kekasihku itu, bibirnya tersungging senyum
bibirnya yang merah alami menutupi sakit dalam dirinya.
“laila?”
ucapku
Aku tersenyum.
Dia membalasnya. Kulihat dia membawa sebuah kotak kecil yang dibungkus plastik
putih.
“ini untuk
kamu rahmat”
“apa ini?”
“makanan
kesukaan kamu”
“wah,
tidak usah repot-repot la, kamu kan sedang sakit. Lebih baik kamu istirahat
saja”
“ibu yang
menyuruhku untuk mengantar padamu”
“bilang ke
ibu kamu. lain kali tidak usah repot-repot untuk bikin makanan untuk aku.
Apalagi ngerepoti kamu yang antar kesini”
“kalau itu
aku tidak janji. Kamu tahu sendiri kan ibu itu orangnya bagaimana. Kalau
keinginannya tidak dituruti bisa-bisa lebih aneh tingkahnya”
“iya
sudah. Kamu datang dengan siapa?”
“sendiri”
“rani
tidak ikut?”
“tidak,
dia lagi ada kerjaan dirumahnya”
Suasana
dalam ruangan itu sangat hangat, percakapan aku dan wanita pujaannku itu sangat
enak didengar. Tidak melanggar hukum negara dan agama. Laila sangat menghormati
dirinya sebagai wanita. Dia sangat menjaga dirinya dari laki-laki siapa pun itu
termasuk aku. Karena itulah aku sangat takut untuk mendekati laila walau hanya
sekedar salaman.
“bagaimana
keadaan kamu sekarang?” tanyaku lirih
“aku baik
mat. Jangan kau hiraukan”
Aku
tersenyum. Sungguh aku bangga pada wanita dihadapanku itu, tetap tersenyum
walau dalam keadaan sakit. Bisa mengatakan baik-baik saja walau dirinya sedang
melawan maut.
“kamu sudah
makan?”
“sudah
mat. Tadi ibu masaki ikan gabus bakar dengan bumbu kuning”
“pasti
enak” gumamku
“sekarang
makananku dikontrol. Tidak seperti dulu, selagai perut bisa nampung apapun yang
dimakan pasti langsung masuk”
“laila!”sebutku
menatap wanita itu
Laila
melihatku. Matanya kosong begitu pun dengan mataku. Bibirnya pucat pasih,
wajahnya tak bercahaya hanya tampak garis kecil didekat hidungnya karena
senyumnya yang sakit itu.
Kedua
mataku berkaca. Linangan air mataku mengumpul dibola mataku. Aku mencoba untuk
menahan air mataku agar tidak meleleh didepan wanita berjilbab putih itu.
Sesaat laila menatapku dalam. Aku tak dapat melukiskan kepedihan yang dirasakan
olehnya. Sekali-kali pikiranku teringat kata-katanya dalam beberapa bulan yang
lalu ketika aku mengunjunginya dirumah sakit. Mengingat kata-kata wanita itu
air mataku pun meleleh dipipi.
“rahmat.
Kau menangis?” tanya laila heran
“terima
kasih” ucapku dengan suara yang berat
“terima
kasih untuk apa?” tanya laila
“terima
kasih telah menjadi malaikat dalam hidupku”
Laila
tersenyum kecil. Aku pun membalasnya. Detak jam terdengar sangat merdu.
“mat.
Sudahlah. Jangan kau menangis seperti itu”
Lalu aku
menghapus air mataku. Aku terlihat sangat lemah. Pertama kali aku menangis
dihadapan wanita pujaanku itu. Hatiku sangat sakit. Lidahku tak dapat berkata.
Kugenggam tanganku agar tangisanku tidak menjadi-jadi. Lalu aku hapuskan air
mataku dan mengalihkan pandanganku dari wajah perempuan yang sakit itu.
“maaf”
sebutku
Laila tak
berbicara dia hanya melihat tingkahku yang aneh. Langkah kakiku sungguh aneh
sekali-kali melangkah kelemari disamping mejaku, sekali-kali melangkah kemeja
disamping kursi tua yang biasa aku duduk. Aku seperti orang gila aku melakukan
itu untuk menyimpan air mataku agar tidak keluar saat memandang wanita yang
cantik itu. Dan aku kembali ketempat dimana aku melihat perempuan sakit itu
masuk keruangku. Aku manatap wajah wanita itu dalam. Sungguh kasihan gumamku.
“bagaimana
tulisan kamu itu?” ucapnya
“tulisanku
yang mana kau maksud?”
“itu, yang
kamu ingin berikan padaku dan rani?”
“oh, yang
itu. Sedikit lagi! Kenapa? Mau baca?”
“mau
bangat. Aku sangat suka dengan tulisan kamu mat. Bahasanya sangat halus dan
diksinya sangat sederhana. Ceritanya pun menarik seola-olah memang terjadi,
berhasil masuk dalam perasaan. Kalau ceritanya sedih pasti menangis. Kalau
antagonis pasti terbawa emosi”
“Kamu lebih
suka tulisanku yang mana?”
“ehm,, itu
loh mat yang cowoknya rela mati karena mempertahankan satu nyawa untuk
bidadarinya. Kukira bidadarinya itu adalah pacarnya atau sahabatnya tapi
ibunya. Itu aku suka bangat mat?”
“oh yang
itu. Kisah Mika sang penghuni syurga?”
“iya. Aku
suka bangat”
“tapi
tulisanku yang terakhir ini tidak kalah hebatnya. Kalau kamu membacanya pasti
kamu menangis”
“emang
judulnya apa?”
“cahaya
senja untuk laila”
Laila
kaget. Dia heran karena dalam bukuku ada nama dia terselip dalam judulnya. Dia
pun bertanya padaku dengan heran.
“cahaya
senja untuk laila! Apakah laila dalam buku kamu itu adalah laila aku?” sebutnya
tersipu malu
“menurut
kamu?” tanyaku
Laila
tersenyum malu. Dibibirnya terlihat senyuman yang sakit tampak dia menahan rasa
sakit yang memaku padanya. Matanya yang berkabut terlihat menutupi cahaya
pelangi yang indah darinya. Aku melihatnya tersenyum, sungguh rasa sedih
kulihat perempuan dihadapanku ini mencoba untuk menghibur dirinya walau dalam
keadaan sakit.
Sekali-kali
aku mengalihkan pandanganku, kutak melihat perempuan didepanku aku takut mataku
akan mengeluarkan air mata. Aku tak sanggup melihat senyumannya yang sakit itu.
“aku tidak
tahu” sebutnya tersipu malu
“kalau
begitu, besok saja dibaca. Kalau sudah dibaca pasti dapat jawabannya” sebutku
“ah,
rahmat bikin aku penasaran saja”
“iya besok
saja bacanya”
“sekarang
saja. Mumpung aku ada disini”
“itu tidak
adil namanya”
“tidak
adil? Kenapa?”
“aku kan
sudah janji sama rani mau ngasih buku ini. Kalau aku ngasih buku ini sama kamu
duluan kan tidak adil namanya”
“ah,
rahmat rani besok saja. Lagi pula dia tidak akan marah kalau aku yang bacanya
duluan”
“hm,
tidak. Tidak. Tidak adil namanya”
“ayolah
rahmat. Aku takut nanti tidak sempat membacanya karena terlebih dahulu
dipanggil sama Allah”
Aku tak
meneruskan percakapan itu. perkataan laila seperti bom atom yang meledak
ditelingaku. Aku terdiam membisu. Mataku melihat ke perempuan yang duduk manis
itu. sungguh kata-katanya sangat menyakitkan hatiku. Aku kembali menggenggamkan
tanganku menahan air mataku agar tidak meleleh dihadapan wanita ini.
“laila. Kamu
ngomong apa? tidak baik berbicara seperti itu”
Laila
melihatku dengan wajah menyesal. Sungguh dia tidak sadar akan ucapannya.
“maaf kan
aku rahmat. Ya sudah kalau kamu tidak boleh aku membacanya tidak apa-apa. Aku
tunggu saja kalau bukunya memang sudah selesai. Aku dan rani bisa membaca”
Aku
menganggukkan kepala. Lidahku tekunci tak dapat menjawab perkataan laila.
hatiku selalu berzikir pada Allah agar selalu melindungi dan panjangkan umur
serta sehatkan perempuan yang sakit ini.
Sungguh
wajahnya terlihat pucat pasih bagaikan cendawan dibasuh. Cahaya yang dulu
bersinar cerah diwajahnya kini mulai memudar. Bola matanya yang bulat itu
terlihat sedikit menutup.
“dimana
amar? Biasanya jam segini dia ada disini” tanya wanita itu
Pertanyaan
laila membangunkanku dari lamunanku. Suasana ruang pagi sangat terik. Matahari
memancarkan cahaya sucinya hingga memabasahi baju.
“amar? Dia
ada kelas. Sebentar lagi kesini. Mau menunggu amar?” tanyaku
“em,
rasanya tidak perlu. Aku ada janji sama rani nanti jam 11. Kalau begitu aku
pergi dulu”
“mau aku
hantarkan?”
“tidak
perlu. Aku bisa sendiri”
“iya sudah
kalau begitu. Hati-hati dijalan”
“insyallah.
Assalamu’alaikum?”
“wa’alaikumsalam”
Laila
kembali tersenyum aku dapat melihat senyumannya yang sakit itu. Sungguh hatiku tidak dapat tertahnkan. Jantungku
berdetak kencang seolah ingin keluar. Darahku mengalir kencang. Pagi itu hati
dan perasaanku tak menentu hanya dihantui rasa takut pada perempuan yang
tersenyum itu.
12
PESONA GADIS
ASH-SHAHABAH
Masjid Ash-Shahabah memang begitu
indah dipandang. Kubah yang besar menghiasi disetiap atap langit-langit masjid.
Pepohonan tertata rapi menghiasi setiap sudut masjid. Siang itu aku dan amar
berbincang-bincang didekat masjid ash-shahabah tepatnya dibawah pohon cemara
yang berada sebelah timur dari fakultasku. Siang itu matahari tak terlihat
mengeluarkan cahaya sucinya. Hanya sekali-kali terik. Siang itu awan-awan putih
nan jernih menutupi sekujur badan bola api yang bersinar itu. Sungguh kuasa
Allah tiada tara.
“subhanallah. Aku kagum dengan
wanita-wanita itu” ucap amar membuka pembicaraan
“maksud kamu?”
“Berjilbab, menutupi seluruh tubuh.
Tidak tahu panas dan hujan kain itu tetap menutupi kepala dan tubuh mereka”
jelasnya
“bukankah itu yang diperintahkan
oleh agama kita?” sebutku
“iya benar. Sungguh beruntung mereka
yang menjalankan perintah Allah. Coba kau lihat kekasihmu itu” tunjuknya ketika
mata amar menemukan sosok laila dan rani yang sedang berjalan menuju tempat
wudhu untuk mensucikan hati dan pikirannya sebelum menghadap Allah ”perempuan
yang shaleha insyAllah, calon isteri yang taat dan calon ibu yang
beriman dan berpendidikan. Coba kau
lihat wanita satunya. Tidak beda dengan kekasihmu itu. Wanita yang shaleha dan penyayang. Apakah kau dapat melihat kecantikan
wanita itu selain dari wajahnya?”
Mataku seketika melihat kearah
laila. Aku tidak menyadari akan kedatangan laila. Amar sungguh jeli. Matanya
dapat melihat laila walau ditutupi mahasiswa lainnya.
“tidak” jawabku singkat
Mataku tak melihat kearah amar.
Pandanganku hanya terpaku pada laila dan rani yang sungguh cantiknya siang itu,
amar memang benar. Sungguh laila dan rani terlihat anggun dan cantik, laila
berjilbab biru muda dan rani berjilbab hijau tua sangat serasi dengan baju yang
dipakainya sangat cantik dan menakjubkan.
“bagiku seorang wanita kecantikannya
tidak dilihat dari wajah dan apa yang dia pakai, melainkan dari hati dan sebuah
kain panjang yang menutupi kepala serta menjalar kebawah”
“iya, benar kamu mar”
“coba kamu lihat perempuan malaysia
bercadar itu. Sungguh luar biasa pengorbanannya menegakkan perintah Allah untuk
menutupi seluruh tubuhnya hanya terlihat mata dan telapak tangannya”
“tapi aku heran dengan mereka apakah
mereka tidak merasa gerah dan kepanasan berpakaian seperti itu?”
“aku pernah bertanya demikian pada
seorang perempuan malaysia yang berpakaian serupa dengan dia. Berjilbab panjang
dan bercadar. Aku sangat terkejut dengan jawabanya sungguh dahsyat dan luar
biasa. Dia mengatakan lebih baik aku kepanasan ketika didunia dari pada aku
kepanasan diakhirat nanti karena aku membuka dan menunjukkan auratku kepada
bukan mahramku”
“bagaimana dengan wanita yang tidak
pakai jilbab, tetapi memiliki paras yang ayu dan apakah dia termasuk wanita cantik dimatamu
amar?”
“cantik itu relatf, dari segi mana
seorang itu memandangnya. Bagiku secantik apa pun wanita itu bila dia tidak
berjilbab dan tidak menutup aurat, wanita itu tidak termasuk dalam tipeku.
Karena bagiku walau wanita yang sederhana tidak secantik wanita lain namun dia
baik shaleh dan berjilbab, dialah wanita yang cantik bagiku”
“contohnya?”
“ibumu, rani, kekasihmu dan banyak
lagi wanita cantik berjilbab”
“tapi terkadang aku merasa bersalah
mar. Pantaskah aku memiliki laila? Dia adalah wanita yang baik. Sedangkan aku
adalah laki-laki yang tidak sepadan dengannya. Masa laluku penuh dengan
kegelapan, penuh dosa”
“jangan kau khawatirkan itu mat. Itu
hanyalah masa lalumu. Cobalah kau menatap masa depanmu. Jangan kau terbebani
dengan masa lalumu. Biarlah masa lalumu itu menjadi saksi perjalanan hidupmu
yang terpenting kini kau fokus pada masa depanmu”
Langit siang itu dilukiskan warna biru
jernih. Terik panas matahari menerpa hingga kebumi. Mahasiswi yang berbalut
kain yang panjang itu sangat anggun dan cantik. Warna-warni menghiasi disetiap
sudut ash-shabah. Takbir dalam setiap shalat terdengar dengan jelas dari tempat
aku dan amar duduk. Dibawah pohon cemara disebelah utara perpustakaan tidak
jauh dari masjid. Dibawah pohon cemara tempat paforit aku dan amar ketika terik
matahari menebar cahayanya. Sejenak untuk menyejukkan hati dan pikiran. Entah
mengapa ketika aku berada dibawah pohon cemara ini, hatiku merasa tenang
bagaikan perasaanku ketika berada didekat laila kekasihku.
“apakah laila dan rani akan kesini?”
tiba-tiba amar bertanya
“tidak tahu. Mungkin saja iya.
Seperti biasanya”
“apakah kamu tidak menghubunginya?”
“tidak”
Mataku selalu memandang kearah
gadis-gadis berjilbab yang sili berganti keluar dan masuk ke masjid kebanggaan
mahasiswa sulthan thaha saifuddin itu. Pesona wanita itu sungguh dahsyat
termasuk dua wanita yang baru keluar dari pintu utama masjid ash-shabah dan
melangkah menuju kearah aku dan amar.
“assalamu’alaikum. Akhi amar wa akhi rahmat?”
“wa’alaikumsalam ukhti”
“sudah shalat?” tanya rani
“alhamdulillah sudah” jawab amar
“mengapa memandang kami seperti itu
rahmat tidak baik”
“ah, tidak. Siapa yang memandang kalian”
“eh, dari tadi aku lihat kalian memandang kearah aku dan laila. ayo ada
apa?” guyon rani
“jangan kepedeaan kamu ran.
Kita tidak memandang kalian kita lagi memandang rumput yang bergoyang itu”
sambung amar datar
“mengapa?” tanya laila
“karena rumput itu sangat cantik.
Seperti kalian” jawabku
Seketika amar melihatku. rani dan
laila tersipu malu. Hembusan angin semakin kencang berhembus. Daun-daun yang
berguguran menemani setiap percakapan kami.
“rahmat. Ayo jangan macam-macam
kamu. jaga ucapanmu itu. Nanti kedua wanita itu tiba-tiba pingsan mendengar
ucapanmu itu” ucap amar penuh tawa
Laila dan rani pun hanyut dalam
kegelian. Aku pun begitu. Namun aku memandang senyuman laila sangat sakit. Ya
Tuhan jagalah wanita dihadapanku ini. Jangan engkau biarkan dia merana dalam
sakitnya. Sepoi angin berhembus dengan syahdu, kumenghirup udara segar yang
bermain disetiap alam semesta. Terik matahari tak jua kunjung redup tampak
semakin memancarkan cahayanya yang panas. Sungguh langit yang begitu jernih
tampak seperti lukisan sangat indah.
“kalian tidak ada kelas siang ini?”
tempalku seketika semua terdiam setelah gelak tawa kecil karena lelucon dari
amar
“tidak. Kelasnya sudah habis?”
“habis. Dimakan siapa? Dimakan rani
atau kamu laila?” sambung amar sembari membuat canda ditengah terik matahari
Laila dan rani pun tertawa kecil
karena mendengar ucapan amar. Amar dan aku pun tertawa. Selera humor amar
sangatlah tinggi, dialah kadang menghiburku disaat aku merasa gelisah. Dia juga
pula memberi tawa dalam setiap tulisanku.
Kulihat laila kekasihku sekali-kali
memegang kepalanya, kuheran sedari tadi setiap ingin tertawa ia harus memegang
kepalanya sepertinya dia menahan sesuatu. Wajahnya yang pucat itu tergambar
dengan jelas betapa sedihnya wanita cantik dihadapanku ini. Matanya yang bulat
besar itu masih terlihat sinar ketegaran walau hampir habis. Bibirnya yang
pucat tampak dengan jelas terlukis diwajahnya yang cantik itu.
“la, kamu tidak apa-apa?” tanya rani
ketika melihat laila sedikit mengerang kesakitan
“tidak ran, aku tidak apa-apa”
jawabnya tersenyum kecil
“serius kamu tidak apa-apa? aku
lihat kamu selalu memegang kepalamu. Apa kepala kamu sakit?”
“tidak ran. Sungguh aku tidak
apa-apa”
Aku melihat percakapan kedua wanita
itu, amar hanya terdiam termenung memandang percakapan dua bidadari yang shaleh
itu. Laila berbohong, aku dapat melihatnya itu dari raut matanya. sepertinya
kepala laila menahan rasa sakit dari kepalanya namun dia mencoba untuk
menutupinya. Hatiku semakin tidak enak, jantungku berdetak semakin hebat darahku
mengalir semakin deras, ya Allah engkau kuatkan wanita itu.
Aku hanya diam, entah apa yang aku pikirkan tentang
laila. antara sedih dan bangga. Sedih ketika aku melihat wajahnya yang tak
berdaya. Dan bangga dengan semua
perjuangan dirinya menutupi semua kelemahannya dengan berpura-pura berbahagia
dalam sakitnya.
13
KEINDAHAN
KOTA SEBERANG
Sore itu, langit begitu indah.
Cahaya merahnya memancar disetiap pejuru negeri. Perpaduan antara awan dan
cahaya merahnya sangat indah bak lukisan. Ramai santri-santri bermain-main
dimasjid ada pula yang menghafal al-qur’an dipelantaran sungai ada pula yang
bermain, berlari-lari, menyapu halaman dan melaksanakan kegiatan lainnya.
Alunan sungai batanghari sangatlah indah terdengar. Hembusan angin menari-nari
dikulit. Sore itu, aku, amar, rani dan laila berjalan-jalan menyusuri kota
seberang menyaksikan keindahan kuasa ciptaan Allah. Sungguh indah betapa besar
kuasanya. Hatiku tak hentinya berzikir menyebut nama Allah. Kulihat menara yang
indah dan cantik yang berdiri ditengah-tengah sungai yang mengalir itu.
“menara apa itu mat?” tanya amar
Waktu SMP dulu kami sering
menghabiskan waktu di kota seberang, melihat santri-santri yang sedang
menghafal al-qur’an bermain bola bersama dan juga menggoda santri-santir
perempuan. Saat dulu ketika aku, amar dan teman lainnya berkunjung ke kota
seberang menara yang cantik itu belum dibangun wajar saja amar tidak tahu itu
meanara apa. Setelah lulus SMP amar langsung hijrah ke jogja dan tak
pulang-pulang.
“itu menara gentala arasy, mar. Ikon
kota ini. Beberapa tahun yang lalu dibuat” jelasku
“subhanallah. Cantik mat. Apa
fungsinya?”
“coba kau lihat jembatan yang
tergantung melintasi sungai yang mengalir dibawahnya”
Amar pun melihat jembatan yang
cantik itu. Memang ku lihat amar begitu terpesona dengan keindahan jembatan
arasy yang terbentang sejauh mata memandang.
“jembtan itu berfungsi sebagai
tranportasi warga bila hendak pergi ke kota atau sebaliknya. Sore-sore seperti
sekarang jembatan ini ramai dikunjungi oleh pemuda-pemudi, santri-santri juga
sering bermain kesana. Coba kau lihat, disana ada museumnya”
“museum? Ada apa disana?”
“nanti kita lihat nikmati dulu cahaya matahari sorenya”
Amar sangat menikmati cahaya sore
yang berwarna kuning keemasan yang terpancar dibalik awan-awan kecil. Sore ini
kami sangat beruntung. Ramai orang-orang mengunjungi jembatan yang cantik ini.
Ramai pula warga-warga yang mencari ikan dengan pukat dan jalanya. Ramai pula
terlihat gadis-gadis desa dan perempuan-perempuan paru baya yang mencuci diatas
jamban terapung ditepi sungai batanghari. Hatiku tak henti-hentinya bertasbih
pada Allah Azzawajala dengan segala keajaiban dan ciptaannya yang maha dahsyat.
Ombak yang bergulung kecil terdengar dengan syahdu ditelingaku, tampak ikan-ikan
bermain tak jauh dari buih-buih ombak yang terhempas mengenai kayu-kayu jamban
yang terapung itu. Sore itu laila amatlah cantik. Dia
bagaikan sinar matahari yang bersembunyi dibalik awan-awan yang putih itu,
berpakai baju hijau tua sangat serasi dengan jilbabnya.
“subhanallah, cantik ya mat kota
ini?” sebut laila disela lamunanku karena aku terpesona oleh kecantikan
kekasihku itu.
“ah, iya sangat cantik. Tak
henti-hentinya Allah memperlihatkan keindahan ciptaannya. Langit dan matahari,
sore ini sangat serasi. Sinarnya memancar diseluruh pelosok negeri. Ombak
bermain dengan indahnya menunjukkan kejantanan sungai batanghari”
“iya, aku sangat suka dengan cahaya
senja ini. Warnanya cantik tidak terasa panas dikulit”
“apakah kau mau cahaya senja itu
menjadi milikmu seorang?” sebutku
Laila melihatku, dia tersenyum
sepertinya dia tidak mengerti maksud perkataanku.
“maksud kamu?” tanyanya
“iya, apakah kau mau cahaya senja
yang cantik itu?”
“apakah bisa kau mengambilnya dan
memberikan padaku?”
“bisa”
“caranya?”
“suatu saat akan kutunjukkan. Dan
cahaya senja itu akan menjadi milikmu. Laila”
Mendengar itu laila tersenyum kecil.
Wajahnya tak melihat kearahku. Dia hanya asik melihat pemandangan langkah yang
Allah telah memperlihatkannya padaku dan laila. Hiruk pikuk pemuda-pemudi terdengar riuh pecah ditelingaku.
Ramai orang-orang mengabadikan cahaya senja sore ini. Aku dan laila pun tidak
ketinggalan dengan latar belakang cahaya emas itu aku dan laila asik berfoto
sebagai kenangan indah sore ini.
“rahmat, laila. Ayo pulang” teriak rani dari kejauhan
Mendengar itu aku dan laila pun
melangkah menuju kearah rani dan amar. Sebelum mengakhiri perjalan sore ini aku
sudah janji dengan amar akan menunjukkan sesuatu yang dahsyat didalam museum
menara yang cantik itu. Museum itu sangat cantik, banyak
sejarah-sejarah yang tersimpan dalam museum kecil yang menjadi pusat wisata.
Ruangannya tidak terlalu besar, namun seisi ruangan terpajang foto-foto sejarah
yang amat menakjubkan.
“mat, Al-Qur’an” sebut amar ketika
melihat Al-Qur’an tua disudut ruang
“iya, itu Al-Qur’an tua. Ditulis
tangan oleh ulama seberang. Kalian tahu Al-Qur’an yang ada diperpustakaan
kita?” semua mengangguk “tidak bedanya dengan Al-Qur’an ini. Yang ini ditulis
oleh KH. Husein Azhari adik kandung dari KH. Qadir Husein. KH. Qadir Husein
yang menulis Al-Qur’an yang diperpustakaan. Jasa beliau sangat dihormati oleh
masyarakat seberang. Beliau sangat cinta dengan islam sehingga banyak
pesantren-pesantren yang didirikannya. Pondok Pesantern As’ad juga beliau yang
mendirikannya. Dulu As’ad hanya mengajarkan tentang kitab-kitab tanpa ada mata
pelajaran umum. Tapi melihat perkembangan zaman As’ad berubah menjadi modern
dan terkenal”
Amar, rani dan laila termenung
mendengar penjelasannku. Keindahan Al-Qur’an telah menghipnotis ketiga
sahabatku. Tidak hanya itu keindahan menara yang berdiri kokoh tepat berada
diatas kepala kami tampak anggun dan megah bila dilihat museumnya. Cahaya senja
tak juga reda, kaki kami pun melangkah jauh meninggalkan menara cantik itu.
Masih banyak tempat sejarah yang harus kami kunjungi. Dikota seberang.
Keindahan menara gentala arasy akan selalu kami kenang, cahaya senja itu akan
selalu kami ingat dengan keindahannya. Dan janjiku pada laila, akan memberinya
cahaya senja itu untuknya.
Sebelum pulang kami mengunjungi satu
pesantren modern dikota seberang yang sangat terkenal. Aku teringat dengan
sahabat lamaku, Imam. Imam adalah pengasuh pondok pesantren As’ad. Pesantren
yang modern dan bangunannya yang indah dengan ukiran kaligrafi disetiap atap
gedungnya. Berdiri pula dengan kokoh masjid agung besar tepat disamping asrama
putri. Kedisiplinan sangat dijunjung di Pondok pesantren ini, disiplin waktu,
kebersihan dan lainnya. Memang tidak salah As’ad terpilih menjadi pondok
pesantren terbaik. Sejauh mata memandang tidak terlihat satu pun sampah yang
mengotori halaman.
“rahmat”
Seorang pemuda memanggilku dari
kejauhan. Aku melihatnya, ternyata itu Imam sahabatku. Aku berlari
mendekatinya. Dia pun begitu. Amar dan kedua perempuan itu menyusul berjalan
dibelakangku.
“nah, benarkan kamu?” sebutnya
“assalamu’alaikum, mam?”
“wa’alaikumsalam”
Kami pun saling bersalam. Genggaman
tangannya begitu halus dan lembut. Genggaman tangan orang-orang shaleh.
“apa kabar kamu mat?”
“alhamdulillah baik. Kamu apa
kabar?”
“alhamdulillah baik juga, dari
mana?”
“tidak dari mana-mana hanya
lihat-lihat keindahan kota seberang. Oh iya, kenalkan ini amar” mereka pun
saling berjabat tangan “ini rani dan ini laila” sebutku
“oh, ini toh laila yang kau
ceritakan itu” sebut imam sedikit berbisik
Aku tersenyum malu sambil memandang
laila yang berdiri dibelakangku. Aku pernah menceritakan sosok laila padanya.
Aku sangat mengagumi sosok perempuan berkerudung biru yang berdiri
dibelakangku.
“mau kemana kita?” tanyaku pada imam
“mari kita ketaman saja. Biasanya
sore ini banyak santri-santri latihan ekstrakurikuler. Mana tahu bisa jadi
referensi buat menulis”
Kami pun melangkah mengikuti langkah
kaki imam menuju taman yang diceritakannya itu. Hatiku tak hentinya bertasbih memuja keagungan sang Maha
Kuasa melihat keindahan gedung-gedung yang mencakar langit menghiasi setiap
sudut As’ad. Sinar matahari tampak bermain diatas atap-atap ruang belajar
santri, asrama santri terlihat indah karena terkena pancaran sinar matahari
sore.
“lihatlah, begitulah aktivitas
sehari-hari santri disini”
“itu ekstrakurikuler apa?” tunjuk
rani pada sekumpulan santri yang berada didekat gedung kepala
“itu seloko melayu. Salah satu
kebudayaan negeri melayu. Tidak hanya silat, pidato bahasa arab tapi semua
ekstrakurikuler ada disini mulai dari yang tradisional sampai modern”
“bagus. Tempatnya saya suka. Bersih
dan disiplin” sambung amar
“iya, itulah yang kepala terapkan
pada guru dan santri-santri”
Aku, amar, rani dan laila sangat
sekumpulan santri-santri yang sedang menjalankan aktivitas ekstrakurikulernya. Mentari
sore mulai menghilang namun awan putih masih menyelimuti langit dibagian barat.
Keindahan gentalan arasy sangat nampak dari kejauhan. Keindahan yang tiada
tara.
“abang rahmat?”
Kumendengar seorang berteriak
memanggil namaku dari kejauhan. Sontak aku dan semua orang melihat kearah suara
itu. Kulihat dari kejauhan seorang pemuda melambaikan tangannya padaku. Aku
tersenyum dia pun membalasnya. Bila dilihat pemuda itu tidak terlalu tinggi
kira-kira seperti bumi adikku tapi bumi memiliki tubuh yang sedikit berisi.
Lalu pemuda itu berlari mendekatiku. Senyum di bibirnya tampak dengan jelas
dimataku senyum bahagia karena telah lama tidak berjumpa.
“abang. Apa kabar?” sebutnya
Aku pun menyalimi pemuda
dihadapanku. Pemuda yang menyalamiku itu Hanif wafiy biasa kupanggil afi. Aku
bertemu dengannya beberapa bulan yang lalu. Dia yang menemaniku mengelilingi
kota seberang saat aku mencari referensi untuk menulis. Dia anak asli kota
seberang, masih keluarga dekat dengan langit sahabat SMA aku dulu. Dia sangat
berbeda dengan langit afi anak yang baik, pintar dan berbudiman tidak jauh berbeda dengan bumi adikku. Aku sangat
menyukai sosok afi yang sangat ramah dengan semua orang.
“baik. Afi apa kabar?” sebutku
“alhamdulillah baik bang? Sudah lama
afi tidak jumpa abang”
Aku tersenyum kecil “iya, sudah lama
kita tidak berjumpa kenalkan ini teman-teman abang. Ini abang amar, kak rani
dan kak laila. Dan ini hanif wafiy biasa aku panggil dia afi” dengan sangat
ramah afi menyalami satu persatu sahabatku
“kau kenal dengannya mat?” tanya
imam heran
“iya. Aku sangat mengenalinya. Waktu
itu dia yang menemani aku mengelilingi kota seberang sekedar untuk survei untuk
referensi”
“bagaimana tulisan abang, sudah
selesai?” tanya afi
“alhamdulillah sedikit lagi. Afi
tidak ikut teman-teman latihan?”
“ekstrakurikuler afi dibidang
akademik bang. Dibagian kebumian. Afi tidak tertarik seperti itu”
“eh, jangan salah kamu afi silat itu
sangat berguna dalam hidup kamu”
“eh, afi tidak bilang silat itu
tidak berguna loh bang imam, bang imam sendiri bilang seperti itu”
Kami semua tertawa melihat
percakapan kedua pemuda penghuni pesantren itu. Imam sangat baik pada semua
santri dia seperti abang bagi santri-santri lainnya. Dia sangat dekat dengan
semua santri termasuk afi. Dia pernah berkata padaku kalau imam adalah sosok
abang yang dipanuti setiap santri disini kebijaksanaan imam sangatlah menarik
perhatian setiap santri.
“afi ini salah satu santri terbaik
yang dimiliki as’ad. Minggu lalu baru pulang dari jogja ikut lomba olimpiade
kebumian dan mendapat emas”
“ah, bang imam berlebihan. Tidak kok
bang itu Cuma kebetulan saja”
“eh, bang imam tidak bohong loh”
“iya, jangan kasih tahu bang rahmat
afi jadi malu” bisik afi pada imam
Kami pun tertawa melihat tingkah
kedua pemuda itu benar kata afi imam sangatlah baik pada semua santri dapat
kulihat bagaimana imam memperlakukan afi seperti adiknya sendiri.
“bang rahmat. Bang langit titip
salam dengan abang. Katanya kalau bertemu sama abang rahmat bang langit titip
salam rindu katanya”
Mataku sejenak termenung. Langit?
Benarkah yang dia katakan? Sebutku dalam hati.
“wa’alaikumsalam. Sampaikan pada
bang langit abang juga titip salam rindu dan bangga padanya”
“insyallah. Iya sudah kalau begitu,
afi kekelas dulu yang bang. Nanti guru afi marah kalau lama-lama keluar kelas.
Jangan bosan main kesini yang bang. Afi tunggu janji abang kalau sudah selesai
bukunya afi mau baca”
“insyallah iya sudah, belajar dengan
baik ya?”
“insyallah. Assalamu’alaikum”
“wa’alaikumsalam”
Afi semakin jauh menghilang
dihadapanku. Sore yang sangat berkah. Begitu banyak rahasia Allah yang
ditunjukkan hari ini. Menikmati keindahan cahaya sore yang indah, bertemu
sahabat lama imam dan baru saja bercangkraman dengan sahabat dan telah aku
anggap seperti adikku sendiri hanif wafiy. Pemuda yang baik seperti bumi.
“aku sangat tertarik dengan anak
itu” ucap imam membuka percakapan
“siapa? Afi maksud kamu?” tanyaku
“iya afi. Pertama kali aku
melihatnya aku sudah tahu dia anak yang baik dan pintar”
“dia sering memenangkan lomba”
“selalu mat. Setiap kali dia ikut
lomba pulangnya pasti dapat juara. Dari sekian banyak santri aku sangat dekat
dengannya. Dia sering kali bercerita denganku. Dia sangat kritis, sedikit saja
salah ucap langsung dikritiknya. Kepala sekolah yang ngundurin diri dari
pesantren karena ulah dia dan teman-temannya”
“oh, ya! kenapa?”
“awalnya mereka menduga kalau kepala
sekolah memakai uang SPP santri untuk kepentingan pribadi. Dia sudah janji pada
santri ingin membuat lapangan serbaguna. Tapi tidak juga ditepati, katanya uang
SPP itu sudah habis dibeliin alat sekolah lainnya. Mereka menyelidiki kepala
sekolah itu tapi dugaan mereka benar selama ini benar kepala sekolah memakai
uang itu untuk keperluan pribadi dan langsung mengundurkan diri”
“sampai segitunya”
“iya. Oh ya, tadi aku dengar kau
menyebutkan nama langit. Apakah kau mengenalinya?”
“iya aku kenal dengannya. Kenapa?”
“tidak apa-apa. Afi sering kali
cerita denganku tentang langit. Katanya langit itu laki-laki yang hebat.
Katanya dia ingin mengalahi medali langit itulah yang membuat afi termotivasi
menjadi yang terbaik”
“iya, benar. Langit itu laki-laki
yang hebat. Kita dulu satu sekolah. Dia siswa yang penuh dengan prestasi.
Menjadi idola semua para wanita. Tapi dia berbeda dengan afi. Afi anak yang
baik. Sedangkan dulu langit adalah laki-laki yang sombong dan angkuh segala
cara dilakukan untuk mendapatkan yang dia inginkan”
Ceritaku menutup pertemuan kami dangan imam pemuda
yang baik itu. mentari sore mulai memudar awan hitan mulai tampak menutupi
segenap cahaya yang indah itu as’ad tampak kokoh berdiri menyaksikan kepergian
kami.
14
TAMU TAK
DIUNDANG
Pagi itu
kampus Sulthan Thaha Saifuddin di hiasi dengan ribuan buku-buku yang tertata
rapi disetiap sudut kampus. Mentari pagi yang merkah di ufuk timur memancarkan
keindahannya. Warna kuning keemasan menemani setiap langkah kami untuk menuju
ke stand pameran. Hari ini Sulthan
Thaha Saifuddin dipenuhi oleh stand-stand pameran buku dan foto-foto yang
sangat menakjubkan. Seluruh mahasiswa dinegeri ini berkumpul di kampusku untuk
memperlihatkan hasil karyanya. Tak terkecuali denganku, aku juga ikut
perpartisipasi dalam acara pameran tersebut. Buku-bukuku tersusun rapi di stand
dari kampusku.
“subhanallah.
Ramai sekali ya mat pesertanya” timpal amar seketika melihat-lihat suasana yang
begitu indahnya.
“apa tidak
ramai. Seluruh mahasiswa se-Indonesia berkumpul di sini”
“berapa hari
acaranya mat?” tanya laila
“satu
minggu. Menteri pendidikan dan menteri agama akan hadir diacara penutupan besok”
“wah, bagus
itu. Ini bisa mengangkat nama baik kampus kita” tempal rani
Suasa ramai
terlihat sili berganti. Pameran-pameran yang terbesar diadakan di kampusku.
Subhanallah ucapku dalam hati. Mentari pagi yang hangat cahayanya bermain hebat
di kepalaku hingga terasa panas. Dari sekian banyak pameran yang ada, mataku
tertatik pada kumpulan-kumpulan lukisan yang menakjubkan. Ayat-ayat Allah
dengan indahnya tertulis diatas kertas berwarna putih.
“mat mau
kemana?” tanya amar
Aku tidak
menjawab. Aku hanya tersenyum dan menunjukkan ke arah stand lukisan itu. Jarak
kami sedikit jauh. Hingga amar sedikit berteriak bila ingin berbicara padaku.
Sahabatku melihat-lihat ke stand buku-buku sastra dari mahasiswa Aceh. Aku
melangkah menuju stand lukisan dari mahasiswa ISI Padang.
ISI Padang. Itu kan kampus
langit gumamku
dalam hati. Kudengar langit kuliah di Institut Seni Indonesia Padang. Sungguh
lukisan itu menghipnotis mataku.
“subhanallah.
Cantik sekali lukisan ini mat?” timpal amar seketika berdiri disampingku
Mendengar
itu aku pun melihat kearah amar dan kedua perempuan yang cantik itu.
“iya, cantik
lukisannya. Mahasiswa dari mana mat?” tanya rani
“entahlah,
tapi disini ditulis dari ISI Padang”
“ISI
Padang?” sambung laila
Senyum
dibibirnya menghilang ketika aku menyebutkan ISI Padang. Kumelihat laila.
Kutahu perasaan laila. Mungkin saja lukisan itu karya langit. Mungkin begitulah
gerangan kata hati gadis pujaanku itu. Aku tersenyum melihat raut wajah laila
yang seketika berubah.
“emangnya
mengapa kalau dari ISI Padang, la?” tanya rani pada laila
“e..e..
tidak apa-apa” ucap rani patah
“ngak
apa-apa. Teman SMA kita dulu juga ada yang kuliah di ISI Padang. Dia juga hebat
dalam melukis dan fotografer. Tapi saya rasa tidak mungkin lukisan ini punya
dia”
“kemana penjaganya
ya?” sebut rani
“entahlah,
dari tadi juga tidak ada penjaganya” ucapku
Lukisan itu
sungguh luar biasa. Tulisannya yang menakjubkan membuat mata kami terpana.
Mentari pagi semakin meninggi, cahayanya mulai menghangatkan kulit.
Kumencari-cari penjaga stand dari ISI Padang, namun tak juga terlihat.
Sekali-kali rani memanggil penjaganya tapi tak juga datang. Kami pun mulai
lelah, keringat telah bermunculan, sedikit membasahi bajuku. Aku sungguh
bersemangat melihat-lihat lukisannya. Sungguh luar biasa. Gumamku. Beberapa
menit kami menunggu, tiba-tiba terdengar suara laki-laki dari belakang kami.
“maaf mbak,
mas. Ada yang saya bantu” ucapnya
Betapa
terkejutnya aku melihat laki-laki yang berbaju kemeja kotak-kotak merah
dihadapanku. Kulihat wajahnya dengan jelas. Kulihat matanya yang besar bersih
itu. Laki-laki itu langit sahabat SMA ku dulu. Laila pun terkejut dengan
kedatangan langit dihadapan kami. Terkenang sudah dikepalaku peristiwa dulu.
Betapa kejamnya laki-laki dihadapanku ini memukul dan manghabisiku hingga aku
masuk kerumah sakit. Langit tidak banyak perubahan. Tubuhnya yang tinggi tegap
dan putih masih menarik perhatian para wanita. Aku tersenyum. Lalu langit
membalasnya.
Langit pun
tidak menyangka berjumpa denganku. Wajahnya terlihat kaget saat menatap mataku.
“langit?”
ucapku
“rahmat?”
balasnya
“ini lukisan
kamu?”
“iya begitu
la” lalu “kamu apa kabar?”
Kulihat dia
mengulurkan tangannya. Dan aku pun mencoba untuk meraihnya dan akhirnya dapat
aku meraihnya. Kami pun bersalaman. Hatiku merasa tidak enak. Hatiku tidak
dapat kulukiskan. Entahlah, aku tidak mengerti dengan perasaan hatiku yang
tidak dapat kujelaskan dengan kata-kata. Berat rasanya aku mengulurkan tanganku
untuk berjabatan tangan dengan langit. Tapi, aku tidak berhak melakukan itu,
aku tidak berhak untuk bersikap sombong pada semua orang apalagi untuk berjabat
tangan dengan langit.
“alhamdulillah
baik langit. Kamu apa kabar?”
“baik juga.
Kamu kuliah disini?”
“iya”
“ambil
jurusan apa?”
“sastra”
“sastra.
Bagus. Kamu kan dari dulu ada bakat dalam sastra terutama merangkai kata
menjadi sebuah puisi”
Langit
tersenyum kecil. Aku pun begitu. Aku tidak tahu maksud langit berbicara
demikian. Apakah dia menyindirku karena puisi cintaku semasa SMA dulu. Atau
mungkin dia ada maksud lain. Entahlah. Kulihat langit sangat hangat padaku.
Tidak tampak keangkuhan dan sombong dalam dirinya.
“itu langit
sahabat rahmat waktu SMA dulu ya la?” tanya rani berbisik
“iya”
“jadi itu
orang yang suka sama kamu dulu”
“hus, jangan
gosip”
Kudengar
rani dan laila bercakap kecil membahas tentang laki-laki dihadapanku ini.
Sementara itu, amar melihatnya dengan dingin. Dia hanya menyaksikan pertemuanku
dengan langit dengan ditemani oleh cahaya indah matahari yang panas.
“oh iya,
kenalkan. Ini amar sahabatku. Ini rani dan kalau yang ini pasti kamu tidak lupa
kan?” sebutku
Amar pun
berjabat tangan dengan langit. Sementara itu, laila melihatnya dengan tidak
enak. Hatinya semakin hebat bermain, perasaannya tidak menentu.
“saya langit
sahabat rahmat waktu SMA dulu, senang berkenalan dengan kalian” lalu kemudian
“nah, kalau perempuan yang satu ini tidak pernah aku lupakan. Gadis tercantik
sejagat raya. Laila Purnama Sari” ucapnya
Laila
tersenyum kecil mendengar ucapan langit. Amar melirik kearahku. Rani melihat
langit dengan wajah yang tidak enak. Mendengar itu, hatiku sedikit bermain. Aku
tersenyum kecut. Perasaanku bermain dengan sendirinya. Rasa cemburu Sedikit
terbesit dalam hatiku mendengar ucapan langit pada kekasih pujaanku.
“aku dengar
dari afi kamu kuliah di ISI Padang ya?”
“afi? Kamu
kenal denganya?”
“iya aku
kenal baik dengannya. Dia banyak cerita tentang kamu dan karyamu”
“dia cerita
apa saja tentangku? Pasti cerita yang jelek-jelek ya?”
“tidak,
tidak. Dia banyak memuji kamu. Dia bilang kalau kamu dikampus menjadi idola setiap
mahasiswi. Lukisan kamu juga sering ikut pameran internasional. Kalau tidak
salah afi bilang terakhir kamu ikut pameran di polandia kan?”
“ah, si afi
berlebihan. Iya aku kuliah di ISI. Dan lihatlah, ini hasil karyaku” sebutnya
Sikapnya
yang besar hati masih tampak dari diri langit. Ia selalu suka membanggakan
dirinya dan karyanya. Tidak bedanya waktu SMA dahulu ketika ia mendapatkan
medali perak tingkat nasional dari karya fotografinya.
“subhanallah.
Bagus sekali lukisan-lukisan kamu lang”
“ah, biasa saja.
Aku lihat, penampilan kamu sedikit berbeda dari penampilan kamu SMA dulu”
“ah, biasa
saja lang” jawabku
“iya,
serius. Seperti pak ustadz” ucapnya tertawa kecil
Aku tidak
tahu harus berkata apa. Aku tidak tahu dengan perasaan hatiku. Entah senang
atau tidak dengan kehadiran langit. Kehadiran langit begitu menyesakkan hatiku.
Setiap kali aku menatap wajahnya setiap kali itu pula aku terkenang pada
peristiwa beberapa tahun yang lalu. Sementara itu laila hanya berdiam diri
dengan menatap pergaulanku dengan langit. Wajahnya tidak melihatku ataupun
langit dia asik menundukkan kepalanya. Entah apa yang dilihatnya.
“laila. Apa
kabar kamu?” tanya langit melihat perempuan yang berdiri di belakangku
Mendengar
itu seketika laila melihat kearah langit. Sejenak dia diam, dilihatnya mata
langit yang bersih, mata yang pernah mengisi hari-hari laila waktu SMA dulu.
Mata yang pernah membuatnya terluka.
“aku baik.
Alhamdulillah” ucapnya
“kamu sakit
ya la? Wajah kamu pucat?” tanyanya kembali
Aku melihat
laila. Benar wajahnya laila sedikit pucat. Mungkin laila letih karena sedari
tadi memutar stand-stand mahasiswa.
“kamu
sakit?” tanya rani
“ah, tidak
aku tidak sakit. Aku sehat” jawabnya
Mendengar
itu, langit tersenyum. Aku pun begitu. Tapi senyumku bukanlah senyum bahagia.
Namun senyum kekhawatiran pada gadis pujaanku. Aku tahu dia menutupi rasa sakit
itu dari kami. Sungguh dialah wanita yang luar biasa.
“berapa lama
kamu disini?” tanyaku
“satu
minggu”
“lama juga.
Tidak ada rencana untuk berkunjung kerumah keluarga kamu di seberang?”
“entahlah,
aku juga tidak tahu. Acara disini sangat padat. Tapi aku usahakan untuk
berkunjung kerumah keluargaku” beberapa saat langit terdiam, lalu kemudian
“lain kali bolehkan aku berkunjung kerumah kamu mat? Sudah lama aku tidak
kerumah kamu?”
Permintaan
langit sangat sulit untuk aku jawab. Sesaat aku terdiam. Bukannya aku tidak
mengizinkan langit untuk berkunjung kerumahku. Tapi, ah entahlah. Masalahnya
ada di bumi adikku. Aku tidak tahu bumi mengizinkan atau tidak langit untuk
menginjak rumahku. Karena sejak peristiwa beberapa tahun lalu membuat bumi
tidak menyukai laki-laki dihadapanku ini.
Hatiku
benar-benar bimbang. Aku melihat laila. Matanya yang bercahaya itu sedikit
redup, alisnya sedikit mengangkat. Matanya yang indah itu menatapku dengan
kekhawatiran. Aku tahu isi mata laila. Dia berusaha untuk mengatakan tidak pada
permintaan langit. Beberapa menit langit menunggu jawaban. Dan akhirnya aku
berbicara
“boleh,
lang. Boleh sangat. Silahkan saja kamu kerumah aku. Kapan pun kamu mau kerumah
aku, pintu rumahku selalu untuk siapa pun”
Mendengar
itu langit tersenyum. Laila kembali menundukkan kepalanya. Mungkin dia kecewa
mendengarkan jawabanku. Amar dan rani hanya terdiam mendengarkan semua
pergaulanku dengan langit.
Entahlah,
aku tidak tahu harus berkata apa. Perasaanku tidak menentu. Mengapa aku dengan
mudahnya mengatakan itu. Aku tidak tahu dengan reaksi adikku bumi bila
mendengar jawabanku. Mungkin jika dia berada diposisiku, dia akan mengatakan
tidak pada permintaan langti. Tapi apa dayanya aku. Aku hanya manusia biasa.
Manusia lemah tanpa kekuatan kecuali dari Allah.
Kumelirik
laila, wajahnya pucat pasih. Sekali-kali dia memijat kepalanya. Sekali-kali ia
memejamkan matanya. Lalu laila melihatku. Dia tersenyum. Akupun membalasnya.
Syukurlah dia baik-baik saja gumamku dalam hati. Mentari pagi yang meninggi
mulai bersinar cerah. Teriknya sangat terasa dikulit, sungguh begitu
menyesakkan dada. Ditengah perbincangan kami, tiba-tiba laila jatuh pingsan
ketanah. Sontak membuat aku terkejut. Kulihat wajah laila yang pucat pasih itu,
hatiku cemas dan tak hentinya berdo’a pada Allah. Tampak dengan jelas darah
mengalir dari hidung laila membuat aku semakin cemas. Rani tak karuan, hatinya
gelisah berkali-kali ia memanggil nama laila.
“laila..laila”
ucapnya
“laila. Ya
Allah” sebutku
Kecemasanku
rani, amar dan Langit bertambah menjadi-jadi ketika aku melihat laila tiba-tiba
kejang dan tubuhnya kaku. Rani menangis, berteriak memanggil nama laila.
Mendengar teriakan rani, sontak membuat mahasiswa yang hadir bertanya-tanya dan
mendekat.
“bawa
kerumah sakit saja mat?” ucap langit
Tanpa pikir
panjang aku mengakat laila dan membawanya ke rumah sakit. Sungguh hatiku
gundah. Rasa khawatir bersarang dalam hati kecilku. Wajah laila yang pucat
begitu tampak dengan jelas. Darah tak hentinya mengalir dari hidung. Dengan
cemas dan khawatir pula rani menghapus darah yang mengalir dibalik hidung
perempuan yang pingsan itu.
Kecemasan
masih terbalut dalam hatiku. Amar mencoba mengelus punggungku untuk
menenangkanku. Rani hanya bisa terduduk menangis dikursi tunggu. Dadaku terasa
panas. Darahku mengalir dengan kencang jantungku berdetak tak menentu. Dalam
hati aku tak hentinya bertasbih dan berdo’a pada Allah semoga senantiasa
menjaga dan melindungi laila purnama sari.
***
Malam yang
kelam, tak terlihat bintang yang bersinar. Cahaya bulan terpancar hingga ke
pelosok negeri. Hawa dingin terasa menusuk kulit suara binatang-binatang kecil
terdengar merdu ditelingaku. Didalam kamar, aku duduk dimuka jendela. Meratap
dan merenungkan nasib kekasihku yang terbaring dirumah sakit. Sungguh kesihan.
Sementara itu, bumi hanya menyaksikan kebisuanku menatap cakrawala yang tak
bersahabat dengan hatiku. Sesak dalam dada begitu sulit untukku mencoba
menerima segala cobaan hidup.
“bang..bang”
ucap bumi memanggilku
Seketika aku
melihat kearah bumi adikku yang duduk tepat dibelakangku.
“iya”
“abang tidak
apa-apa?” tanyanya
“abang
baik-baik saja”
“abang
menangis?”
“tidak”
“mata abang
merah berair”
Mendengar
itu aku hapus air mata yang keluar dibalik kelopak mataku.
“tu kan,
abang nangis. Katanya preman, masa preman nangis” ucap bumi tertawa kecil
Bumi mencoba
menghiburku, berharap aku tertawa. Namun guyonan bumi tidak membuat perasaanku
menjadi baik. Pikiranku hanya ada laila. Beberapa saat bumi dan aku
bercengkraman, tiba-tiba pintu rumahku diketuk oleh seorang. Seketika bumi
menarikku keluar kamar dan segera membuka pintu. Langkahku tak berarti, langkah
kecilku menyusuri setiap ubin rumah. Bumi semakin mendekati pintu dan
membukanya. Ketika bumi membuka pintu tiba-tiba terlihat seorang laki-laki
berdiri membelakangi pintu.
“iya, cari
siapa mas?” ucap bumi pada laki-laki itu
Dan
laki-laki itu pun membalikkan tubuhnya menghadap bumi. Seketika bumi kaget
melihat laki-laki yang berdiri dihadapannya. Laki-laki itu langit. Laki-laki
yang pernah memukulku didepan bumi adikku dan kini dia kembali hadir.
Aku melihat
langit dengan hati tidak enak. Bumi melihatku. Aku tahu perasaan bumi. Mungkin
dia ingin marah padaku atau dia ingin memukul laki-laki dihadapannya itu.
“hai, kamu
bumi kan?” tanya langit
Bumi tak menjawabnya
dia hanya menganggukkan kepalanya.
“rahmatnya
ada?”
Sesaat bumi
termenung. Tiba-tiba aku datang menghampiri bumi dan langit.
“langit?”
ucapku
“eh rahmat”
“silakan
masuk”
Bumi kembali
melirikku. Entah apa yang ada dipikiran adikku. Mungkin perasaan takut. Atau
perasaan lain. Langit melangkah masuk ke dalam, bumi melihatnya dengan benci.
Tak sedikit pun senyum terlihat dibalik bibir bumi.
“duduk lang”
ajakku pada langit
Dengan
segera langit mengikuti instruksiku.
“papa sama
mama kamu mana?”
“papa sama
mama lagi ke palembang ada keluarga adik sepupu mama aku menikah”
“jadi kamu
sama bumi saja tinggal dirumah?”
“iya,
begitulah. Mau minum apa lang?”
“terserah.
Apa saja lah mat”
“Tunggu
sebentar. Aku mau kebelakang dulu”
Langit
melihat-lihat isi ruangan, memang tidak sama seperti dulu ia kerumahku. Satu
tahun yang lalu mama mendekorasi ruangan tamu. Sementara itu aku langsung pergi
ke dapur untuk menjamu langit dan bumi mengikuti aku dari belakang. Kudengar
langkah bumi semakin cepat melangkah mendekatiku. Aku tahu apa yang akan
dikatakan oleh adikku.
“abang,
tunggu bumi”
“ada apa?”
“ada apa
abang tanya. Kenapa dia kesini?”
“dia siapa?”
“abang
jangan pura-pura tidak tahu”
“langit mau
silaturahmi kerumah kita. Tidak salahkan?”
“dengan
semua apa yang dia lakukan ke abang dulu?”
“sudahlah
bumi, itu masalah lalu”
“masalah
lalu, masalah sekarang bagi bumi sama saja. Dia yang sudah menghabisi dan buat
abang masuk kerumah sakit. Dia yang sudah membuat abang lupa dengan keluarga.
Terjerumus kelobang hitam”
“bumi.
Sudahlah, abang tidak suka bumi ungkit-ungkit masa lalu abang. Abang tahu, kita
adalah manusia biasa tidak lepas dari hilaf dan kesalahan. Tapi kita belajar
dari kesalahan yang kita buat. Tolong bumi, pahamkan abang”
Perdebatan
aku dan bumi pun tidak terhindarkan. Aku tidak begitu menanggapi perkataan
bumi. Akut takut dia akan menjauhiku lagi apabila aku terlalu menekannya.
“abang sudah
janji kan tidak dekat dengan dia lagi?”
Aku mencoba
mengertikan keinginan bumi. Dengan pelan-pelan aku menjelaskan pertemuan aku
dan langit.
“bumi.
Dengarkan abang. Abang tidak sengaja bertemu langit. Dia ikut acara pameran di
kampus abang. Dia mewakili kampusnya dalam pameran itu. Dia mau main kerumah.
Tidak mungkinkan abang menolaknya”
“bilang saja
kalau abang lagi sibuk. Tidak ada waktu melayani dia”
“bumi. Tidak
mungkin abang bilang gitu. Apa salahnya dia berkunjung kerumah kita!”
“bumi tidak
suka dia bang. Abang tahu itu kan?”
“iya, mau
gimana lagi dia sudah ada disini. Tidak mungkinkan abang mau ngusir dia”
“tapi bang?”
“sudah.
Lebih baik kamu bikin minuman untuk langit. Dia pasti kehausan”
“ogah, kalau
bumi yang bikin minuman untuk dia. Bumi masukin racun biar dia cepat mati”
“bumi. Tidak
baik begitu, bagaimana pun langit itu tamu kita”
“kita? Tamu
abang bukan tamu bumi. Sudahlah bang, susah kalau ngomong sama orang keras
kepala kaya abang. Kalau terjadi sesuatu dengan abang nanti tanggung saja
sendiri”
“bumi. Bumi”
Bumi
melarikan diri dari hadapanku. Aku bebenar-benar dalam keadaan bimbang. Satu
sisi aku mendapatkan tamu yang tak diundang langit. Sisi lain, bumi adikku
tidak ingin berbicara padaku. Sungguh hatiku bimbang.
Seaat aku
tepikan egoku pada bumi, dengan ramah aku melayani langit. Dia begitu halus berbicara
tidak seperti dahulu. Sesaat aku menatap wajahnya, teringat sudah dikepalaku
wajah bumi beberapa tahun yang lalu saat dia memukulku. Wajahnya merah, matanya
membesar.
“aku mau
tanya sama kamu mat?” tanya langit membuka pembicaraan
“tanya apa
lang?”
“sebenarnya
laila sakit apa?”
Sesaat aku
diam. Pertanyaan itu membuatku kaku. Langit membuat hatiku semakin sakit.
Kembali kulihat wajahnya yang penuh penasaran, beberapa menit langit menunggu
jawaban dariku. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Apakah aku harus
menceritakan semua tentang laila dan penyakitnya? Aku takut bila aku
menceritakaan semua langit akan bersimpati pada laila dan langit akan semakin
dekat dengannya lalu aku akan tersingkir dari laila. Astagfirullah. Terbesit dalam hatiku pirasaat yang buruk. Tidak
mungkin laila sampai begitu padaku.
“sebenarnya
laila sedang sakit lang?”
“sakit apa
mat?”
Sesaat aku
terdiam. Berat rasanya aku ingin menceritakan semua ini, namun hatiku terus
mendesak untuk menceritakan kepahitan yang dialami gadis pujaanku itu.
“kanker otak
stadium akhir?”
“kanker?”
Langit kaget
mendengar jawabanku. Matanya membesar terkejut. Bola matanya tidak bergerak
kekiri maupun ke kanan.
“iya. Dua
tahun yang lalu setelah lulus SMA kanker itu mulai bersarang dikepalanya. Dia
sering sakit kepala. Setiap kali aku tanya apakah dia sakit, laila selalu saja
mengatakan kalau dia baik-baik saja. Hingga suatu hari dia pingsan
diperpustakaan. Dan dokter mengatakan kalau dia terkena kanker otak stadium
akhir”
“kenapa dia
tidak istirahat saja? Tidak usah kuliah dulu fokus saja dengan pengobatan?”
“dia tidak
mau. Katanya percuma berobat?”
“barapa lama
dia bisa bertahan?” tanya langit
Aku terdiam.
Pertanyaan langit semakin sulit aku jawab. Semakin langit bertanya semakin
sakit hatiku. Ketika kami berbicara tentang laila. Pikiranku teringat pada
laila yang terbari dirumah sakit.
Sesaat
langit menunggu jawaban dariku.
“rahmat.
Berapa lama laila bisa bertahan?”
“kata
dokter, hidupnya tidak lama lang. 8 bulan saja”
Mendengar
itu wajah langit seketika berubah. Terlihat wajah kecewa, sedih dan penyesalan.
Kudapat melihat tingkah langit aneh. Dia seakan-akan ingin segera pergi dan
menemukan laila. Ingin rasanya langit memeluk laila dengan simpati darinya,
ingin rasanya langit bertemu laila untuk menghiburnya.
15
PERPISAHAN YANG
MENGGETARKAN
Rasa
prihatin dan kasihan tampak diraut wajah langit pada laila kekasihku. Pertama
kali dia mendengarkan ceritaku semalam dia merasa ingin segera menemui laila,
dia ingin menghibur sahabat SMA nya yang lagi terbaring melawan kankernya.
Pagi yang
sedikit mendung, awan hitam tampak menghiasi cakrawala, mentari pagi terlihat
sembunyi dibalik cela-cela awan hitam yang menari diufuk timur. Hembusan angin
pagi yang sejuk menari hebat dikulit. Tiupan angin sepoi membuat rambutku
sedikit acak-acak. Hatiku tak menentu, semalam aku mendapatkan kabar dari rani
kalau laila meradang kesakitan, darah yang keluar dari hidungnya pun tak
berhenti. Langkah kakiku menyusuri setiap ubin rumah sakit. Kakiku terasa berat
untuk melangkah. Bukan karena ada langit disampingku, aku mengajak laki-laki
itu untuk menjenguk laila. Ketika aku mengajaknya untuk menjenguk laila,
terpancar diraut wajahnya bahagia walaupun sedikit. Bumi adikku dan amar
sahabatku berjalan dengan cemas dibelakangku.
“masih jauh
ya mat ruangan laila?” tanya laki-laki yang berjalan disampingku
Aku tidak
melihat kearah langit aku hanya fokus pada jalanku “tidak, sebentar lagi.
Ruangnya nomor 20” ujarku
Laila sangat
suka ruangan nomor 20 itu, setiap kali dia dirawat dia hanya ingin kamar nomor
20. Karena menurut dia kamar itu telah bersahabat dengannya. Langkah kakiku
semakin cepat melaju, kamar laila sudah terlihat dimataku, tampak juga ayah
laila berdiri didepan pintunya sambil menelpon seseorang.
“itu ayah
laila kan?” tanya kembali langit
“iya. Itu
ayahnya”
Laki-laki
itu tidak melihat dan menyadari akan kedatangan kami. Sepertinya ayah laila
sibuk. Sepertinya dia sedang menelpon seorang yang penting. Kami pun langsung
memasuki ruangan laila tanpa terlebih dahulu menyapa ayah laila takut
mengganggu.
Perlahan aku
mendahului langkah langit untuk membuka pintu ruangan bernomor 20. Sedikit
terbesit dihatiku untuk menutup kembali pintu itu. Langkahku berhenti. Langit
melihat kearahku. Amar dan bumi pun melihatku. Sejenak laki-laki itu menatap
mataku. Aku ragu untuk masuk kedalam, aku takut tidak bisa menahan air mataku
ketika aku melihat perempuan terbaring kesakitan itu.
“ada apa
mat?” tanya khawatir langit padaku
Aku
melihatnya, aku menatap mata langit dalam. Matanya terpancar sinar cinta pada
laila. Sinar cinta yang dulu pernah ada ketika SMA hatiku sedikit berbisik,
bagaimana cinta itu tumbuh kembali pada langit. Astagfirullah, aku beristigfar.
Setan telah berbisik dihat kecilku. Tidak mungkin itu terjadi kedatangan langit
hanya ingin menjenguk laila.
“ada apa
mat?” tanya kembali amar
Aku melihat
kearah amar langit pun melihatnya. Bumi menatapku dengan wajah aneh. Mungkin
bumi tahu jawabannya dari mataku.
“tidak. Ayo
kita masuk” ajakku
Langkah kaki
kami pun melangkah memasuki ruangan laila. Kulihat laila terbaring lemah diatas
kasur yang beralas kain panjang berwarna putih kulihat pula sajadah merah yang
menutupi sekujur tubuh laila sebagai selimutnya, sajadah itu adalah pemberian
dariku hadiah ulang tahunnya satu tahun yang lalu. Aku tersenyum kecil. Dia
memakai sajadahku menemani tidurnya. Kulihat pula selang kecil melingkar
dilehernya dan menancap dikedua hidugnya. Senyumku menghilang hanya rasa iba
yang ada.
Kulihat rani
terbaring disamping laila, matanya terbuka menerawang kelangit tanganya
mengelus jari-jemari laila. Rani adalah malaikat dalam hidup laila. Sahabat
yang amat baik dan sabar. Bagi laila, rani lebih dari sahabatnya dia seperti
saudaranya. Kuliat Ibunya laila tertidur lelap kursi sofa disamping kasur laila.
Wajah letih dan lelah tampat diraut wanita paruh baya itu.
“asslamu’alaikum”
ucapku
Salamku
membangunkan rani dari lamunannya. Dia melihatku dan ketiga laki-laki yang
berdiri disampingku.
“wa’alaikumsalam.
Rahmat?”
Aku
tersenyum rani pun membalasnya. Aku melangkah mendekati perempuan berkerudung
putih yang sedang menghapus air matanya. Aku melangkah dengan pelan. Takut
membangunkan laila.
“ini aku
bawakan makanan untuk kamu dan ibu juga ayah laila”
“terima
kasih”
Aku melihat
kembali laila yang tertidur pulas. Wajahnya pucat pasih, bibirnya sedikit
membiru. Kelopak matanya mulai menghitam. Kumelihat kearah langit. Matanya layu
rasa iba tergambar diraut wajah laki-laki berbaju kaos biru muda yang berdiri
disampingku.
“bagaimana
keadaan laila?” tanya langit
Langit
mendahuluiku untuk bertanyaa. Pertanyaanku sama persis dengan pertanyaan
langit. Aku tersenyum kecil sambil menunggu jawaban dari rani.
“alhamdulillah
dia baik”
“semalam
katamu dia meradang kesakitan. Apa benar?”
“iya,
semalam laila meradang kesakitan, kepalanya pusing sangat hebat. Darah keluar
dari hidungnya bertambah banyak. Aku khawatir, mangkanya aku menelpon kamu.
Alhamdulillah kata dokter tidak apa-apa. Itu efek dari obat yang diberikan
kemarin” jelasnya
Kumelihat
laila kembali rasa iba yang terbesit dalam hatiku. Ya Allah jagalah wanita yang
mencintaimu dan menyayangi kekasihmu ini. Berilah dia kekuatan untuk
menjalankan takdirmu, sebutku dalam hati. Ingin rasanya air mataku keluar
melihat laila terbaring tak berdaya.
“apa
sakitnya sudah membaik?” tanya berbisik langit pada rani
Tak sempat
menjawab pertanyaan langit, tangan rani diraba oleh laila. Seketika rani
menengok kearah laila. Aku melihat laila mencoba membuka matanya dengan pelan.
Dia tersenyum padaku. Aku pun membalasnya.
“rahmat” ucapnya
pelan
Aku
menganggukkan kepala seraya berkata “assalamualaiku” “wa’alaikumsalam” ucapnya
Lailai
melihat-lihat orang disekelilingku matanya melihat kearah amar yang berdiri
tidak jauh dariku, bumi dan langit. Aku melihat dengan jelas dibibir laila ketika
dia melihat langit, senyumannya menghilang. Entah mengapa senyuman perempuan
itu menghilang.
“langit?”
ucap laila sambil menganggukkan kepalanya
Aku
tersenyum lega laila menerima akan kedatangan langit. Kulihat langit senyum
manis pada perempuan terbaring tak berdaya yang berselimut sajadah itu.
“iya, aku
disini la” ucap langit dengan suara sedikit parau. “kamu apa kabar?” tanya
langit
“alhamdulillah
aku baik lang. Aku sehat” lalu “kamu apa kabar?”
“aku sehat”
Kulihat
laila dan langit saling membalas senyuman. Hatiku sedikit bermain, namun dapat
aku atasi. Hembusan angin yang masuk disela-sela pentilasi jendela kamar terasa
sangat sejuk. Sekali-kali rani merapikan jilbab laila yang sedikit miring
kekanan.
“berapa lama
lagi kamu disini?” tanya laila pada langit
Sejenak
langit terdiam. Dia menatap mata laila dalam. Rasa iba yang aku tangkap dibalik
tatapan dalam mata langit. Aku dapat menggambarkan bahwa ingin rasanya langit
untuk berlama-lama disini untuk menemani laila, ingin rasanya langit untuk
menghibur laila. Namun rasanya tidak mungkin. Besok langit akan pulang ke tanah
minang melanjutkan kuliahnya. Tidak tega rasanya langit untuk meninggalkan
laila terbaring sakit. Ingin rasanya dia tetap disini menemani laila. Rasa iba
langit dapat kurasakan juga.
“tinggal
hari ini saja. Besok aku harus pulang lagi ke Padang” ucap lesu langit
Senyuman
laila menghilang. Lalu terlihat kembali. Mungkin laila merasa sedikit kecewa
karena pertemuannya dengan langit begitu singkat, sebab sejak kelulusan SMA
kami tidak pernah bertemu dengan langit. Mungkin saja senyuman kecil laila itu
mengatakan kalau langit lebih baik cepat pergi agar tidak mengganggunya, aku
ataupun bumi adikku.
“mengapa
cepat sekali. Aku saja baru bertemu dengan kamu lang. Apa kamu tidak rindu
dengan sahabat lama kamu rahmat dan aku?”
“sebenarnya
aku ingin berlama-lama disini. Aku sangat rindu dengan kalian. Tapi aku tidak
bisa meninggalkan kuliah aku lama-lama. Aku ingin cepat menyelesaikan kuliah
aku dan segera pulang agar bisa berkumpul kembali dengan kalian lagi”
Mendengar
itu laila tersenyum. Hatiku sedikit lega mendengar jawaban langit. Sungguh dia
telah berubah bahasanya sangat halus. Tutur katanya tidak seperti dulu lagi.
“kamu jangan
sedih ya, disini kan kamu banyak yang menemani ada rani, amar, ibu, ayah dan
kekasihmu rahmat”
Ucapan
langit membuatku kaget. Laila melihatku. Aku tidak pernah bercerita pada langit
kalau laila adalah kekasihku. Dari mana laki-laki ini tahu kalau laila
kekasihku, ucapku dalam hati.
Sesaat
suasana sunyi. Hanya terdengar nafas ibu laila yang tengah terlelap tidur. Bumi
melirikku dengan tersenyum manis. Akhirnya laki-laki ini mengakui bila laila
adalah kekasih abangku begitulah isi tatapan bumi. Aku tersenyum malu. Laila
pun begitu. Rani hanya mengelus tangan laila yang terhempas lemah di dadanya.
“langit...”
ucap laila senyum malu
Langit
tersenyum melihat laila terhibur. Aku pun begitu. Lalu kemudian.
“laila...”
sebut langit
Tatapan
langit sangat serius. Ucapannya tegas dan bulat. Sepertinya ada sesuatu yang
ingin disampaikan oleh laki-laki itu, mungkinkah dia ingin menyatakan cintanya
pada laila? Ah, itu tidak mungkin langit sendiri yang mengatakan kalau aku
adalah kekasih perempuan itu tidak mungkin langit ingin menduakan cinta laila.
Ataukah langit menagih janjinya pada laila untuk menjaganya seumur hidupnya
seperti yang dia katakan pada laila waktu SMA dulu?
Sesaat
suasana hening kembali. Hanya hembusan angin pagi yang terasa dan suara kecil
terdengar dari tirai jendela karena tertiup angin. Raut wajah bumi begitu tegang
dan serius. Aku pun terbawa suasana. Hatiku selalu bertanya-tanya. Amar mengisi
raut wajahnya dengan penuh kekhawatiran tidak kalah pula dengan bumi adikku.
Dia selalu siap siaga bila laki-laki yang berdiri disampingku berbuat sesuatu
diluar dugaannya seperti dahulu kala.
“aku minta
maaf!” ucap bumi lembut. Suaranya sedikit berat seperti menahan sesuatu,
mungkin dia menahan kesedihannya melihat laila. “aku minta maaf atas semua
kesalahanku selama ini? Aku tidak tahu, sempat atau tidak aku minta maaf sebelum
aku atau kamu yang pergi duluan. Sekurang-kurangnya dosaku berkurang padamu”
Hatiku
hancur mendengar ucapan langit. Ingin rasanya aku menangis.aku menatap wajah
langit. Bola matanya sungguh serius dan penuh ketegasan. Laila mencoba menahan
air matanya agar tidak meleleh dipipinya. Bumi tertunduk malu. Dia merasa
bersalah pada langit telah menuduhnya macam-macam. Amar tidak melihatku ataupun
bumi matanya termenung menengok keluar ruangan. Rani apa dayanya perempuan itu.
Perempuan lemah apabila mendengarkan kata-kata perpisahan dia tidak dapat
menahan air matanya.
“tidak lang,
kamu tidak ada salah apa pun padaku”
“aku mohon
maafkanlah segala kesalahanku”
“langit.
Sudahlah, aku tidak pernah merasa kamu ada salah apa pun padaku. Kalau pun ada,
sudah aku maafkan langit”
Langit
memasangkan wajah memohon, mungkin dia sekarang sudah berubah. Dia menunjukkan
wajahnya uang begitu penuh dosa pada perempuan itu. Tapi itu tidak adil bagiku.
Mengapa langit hanya meminta maaf pada laila. Bagaimana denganku? Bukankah dia
juga pernah membuatku terjerumus dalam lobang hitam karenanya. Tapi, ah
sudahlah aku sudah memaafkan dia. Tidak sepatutnya aku berbuat sombong.
Langit
tersenyum seraya mengucapkan terima kasih pada perempuan itu. Bibirnya
tersungging senyum kecil senyuman lega serasa terlepas dari kesengsaraan.
Suasana ruangan menjadi sunyi. Hanya terdengar isak tangisan rani sejenak.
Langit terlepas dari kesalahannya. Kedatangan langit yang aku duga membawa
sengsara namun tidak sama sekali bahkan kedatangan langit membuat hati laila
semakin bahagia.
Perbincanganku
dan langit berlanjut diluar ruangan. Sebelum langit pulang ia ingin berbicara
empat mata padaku. Apa yang dia ingin perbuat? Tepat dibawah pohon cemara yang
cukup rindang aku dan langit memulai perbincangan serius ini. Awalnya bumi
adikku ingin mengikutiku dia khawatir terjadi sesuatu padaku. Namun aku
menahannya agar tetap didalam ruangan bersama amar. Bumi begitu protektif
dengan langit, dia masih trauma dengan kejadian yang sudah aku lupan itu.
“rahmat. Aku
tidak tahu harus mengawalnya dari mana?”
Ucap langit
membuka perbincangan sesaat beberapa detik aku dan langit tidak bersuara.
“apa maksud
kamu lang?” aku kembali bertanya
Langit
menatap wajahku dalam. Tatapan itu persis seperti langit menatap mata laila
ketika didalam tadi. Hatiku mulai tidak enak ketika langit menatapku seperti
itu. Sejenak aku diam, langit pun tak bersuara. Lalu dia mengulurkan tangannya.
Aku kaget. Ada apa dengan laki-laki ini?
“aku minta
maaf?” katanya
Aku semakin
tidak mengerti padanya. Benarkah ini langit sahabatku SMA aku dulu? Laki-laki
ini membuat hatiku bertanya-tanya. Sepertinya langit benar-benar berubah tidak
seperti dulu lagi. Dengan hati yang berkalut aku pun mengulurkan tanganku pada
langit. Tangan langit terasa bergetar kecil. Darahku semakin hebat mengalir.
Pikiranku tak menentu.
“maaf? Untuk
apa lang?”
“kamu sudah
lupa? Atau pura-pura lupa kejadian dulu waktu kita masih SMA?”
Sudah aku
duga. Firasatku benar. Dan akhirnya dia minta maaf padaku. Aku tersenyum dan
aku bangga akan keberanian dan kebesaran hati langit untuk minta maaf. Dia
tidak hanya memiliki rupa yang menawan tapi juga keberanian yang tak
terkalahkan.
“tidak lang,
kamu tidak salah. Aku yang salah pada kamu”
“tidak. Aku
yang salah. Aku minta maaf”
“sudahlah lang,
kalau begitu kita sama-sama saling memaafkan. Lagi pula aku sudah melupakan
kejadian itu. Sekarang kita menatap masa depan”
Langit
tersipu malu. Senyum kecil dibibirnya tampak dengan jelas. Bola matanya yang
bersih tampak dengan jelas tergambar kebahagiaan.
“lalu, jadi
besok kamu pulang ke Padang?” tanyaku kembali
“iya, jadi”
“pasti laila
sedih mendengar kalau kamu benar-benar akan pulang”
“ah,
sudahlah. Kan ada kamu yang menjaganya”
“boleh aku
bertanya?”
“tanya apa
mat? Silahkan”
“dari mana
kamu tahu kalau laila kekasihku? Sebelumnya aku tidak pernah memberitahu
kepadamu kalau laila itu kekasihku”
Diriku masih
penasaran pada langit tentang itu. Sebelumnya aku tidak pernah memberitahu
padanya kalau laila adalah kekasihku. Mungkinkah rani yang memberi tahu
padanya? Atau amar? Ah, kurasa tidak mungkin. Entahlah. Hatiku semakin
penasaran untuk bertanya.
“ehm” langit
tertawa kecil “aku tahu, tidak perlu kau memberitahu aku kalau laila kekasihmu.
Dari bola matamu, cara kau memandang wajahnya aku tahu tatapan itu bukanlah
tatapan biasa. Tatapan penuh dengan cinta sejati”
Aku menaji
malu. Rasa tidak enak dihati pun dapat aku rasakan pada langit. Dulu langit
beria-ria ingin menjadikan gadis itu pemain surinya. Namun, ah salahkah aku
bila aku juga menginginkan gadis itu menjadi bidadariku?
“maafkan aku
lang?”
“maaf untuk
apa?” langit membalasnya
“aku tahu.
Kalau kau...”
“ngomong apa
kamu mat. Tidak ada yang perlu memaafkan dan dimaafkan. Kamu tidak salah.
Masalah yang lalu biarkanlah berlalu jangan menjadi pikiran. Tidak ada gunanya.
Sekarang kita bersama-sama menatap masa depan” sesaat langit terdiam kemudian
“boleh aku meminta sesuatu padamu?”
“apa itu
lang?”
Langit
kembali terdiam. Matanya menunduk. Sesaat dia tidak melihatku. Aku menjadi
penasaran.
“tolong kamu
jaga laila. Jangan kamu kecewakan dia. Aku percaya sama kamu mat”
Aku tidak
menajawab pertanyaan langit. Sungguh ucapan langit membuat lidahku membeku. Aku
hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Langit membalas senyumanku. Didalam
hati kecilku berbisik pasti lang aku akan menjaga laila. Aku akan ingat
pesanmu.
Permintaan
langit mengakhiri pertemuan kami. Langit semakin jauh menghilang dari
pandanganku. Begitulah pesan terakhinya padaku sebelum ia kembali ke tanah
minang. Aku termenung menatap kepergian langit. Bola mataku tak bergerak. Angin
yang berhembus membuat sekali-kali mataku berkedip. Aku termenung jauh.
“abang?”
teriak bumi dari kejauhan
Suara bumi
membangunkan lamunanku. Kulihat bumi berlari mendekatiku,
“abang. Oke?
Laki-laki itu tidak menyentuh abang kan?”
“ngomong apa
kamu bumi? Langit tidak berbuat apa-apa sama abang. Tidak baik prasangka buruk
terhadap orang lain”
“bumi hanya takut saja bang” “sudah. Abang tidak apa-apa. Ayo masuk”
16
TANGIS DUA
SAHABAT
Sayup-sayup
rani mendengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an dari masjid Al-Barokah yang
berdiri tidak jauh dari kamar laila. Lamunan sang sahabat jauh menerawang
cakrawala yang terbentang. Mata perempuan itu kosong tak tampak cahaya yang
menari dibola matanya. Terlihat air matanya mengalir kecil dibalik kelopak
matanya. Wajahnya begitu lesu dan tak berdaya. Sekali-kali ia melihat
sahabatnya yang terbaring disampingnya.
“ran”
perempuan sakit itu meraba tangan rani
Seketika
rani melihat kearah laila. Rani tersenyum, lalu laila membalasnya.
“iya la, ada
apa? Kamu mau apa? Mau makan? Minum?”
Laila
tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dengan lemah. Ditatapnya mata rani
dengan dalam. Laila menerawang jauh dibola mata perempuan yang dihadapannya
itu. Laila tersenyum kecil, sungguh rani adalah malaikat yang dititip Tuhan
padanya untuk menanggung segenap kepedihan yang dirasakan oleh laila. Rani
menggenggam tangan laila dengan lembut. Bibirnya tersenyum.
“rahmat sama
amar tidak kesini?” tanya laila
“belum,
mereka masih ada kelas. Rahmat, dia titip salam rindu padamu katanya”
Alangkah
suka hati laila mendengar ucapan sahabatnya. Senyuman dibibir laila tampak
tersungging lebar. Matanya bersinar walaupun hampir-hampir sudah tak tampak
cahayanya.
Siang itu,
langit sedikit mendung. Awan hitam menghiasi setiap cakrawala. Tampaknya hujan
akan turun. Terasa hembusan angin yang menari dikulit. Sekali-kali laila
menutupi tangannya karena terasa dingin.
“tolong
tutupkan kaki aku rani, aku merasa dingin”
Rani pun
dengan segera mengikuti permintaan laila. Dengan hati yang ikhlas dan penuh
kasih sayang rani mengulurkan selimut pada kaki laila.
“rani”
ucapnya
“iya la”
“aku merasa
tubuhku tidak kuat lagi. Aku sudah melihat kematian didepan mataku”
“jangan kau
berbicara seperti itu la. Tidak baik”
Laila
tersenyum melihat ketabahan sahabatnya. Rani mencoba menahan air matanya agar
tidak meleleh dihadapan laila. Namun air mata itu pun berkali-kali mengalir
membasahi pipi rani yang putih kemerahan.
“kamu jangan
menangis ran, aku tidak suka melihat kamu menangis nanti cantik kamu hilang”
laila menggoda rani
Rani tersipu
malu. Dihapusnya air mata yang mengalir dipipinya setiap kali dihapus air mata
yang lainnya kembali mengalir. Kecintaan rani pada laila begitu tulus dan
ikhlas walau mereka dipertemukan hanya beberapa tahun saja. Wajah rani memerah
karena menahan rasa sedih, laila tak henti-hentinya mengelus tangan rani
matanya lalu melirik-lirik mata rani yang hitam kecokelatan. Hati rani gelisah.
Petanda apa ini, tidak seperti biasanya laila seperti ini? Sebutnya dalam hati.
“kamu mau
apa la?” tanya rani kembali dengan hati yang tak menentu
Laila
menggelengkan kepalanya
“tidak. Aku
tidak mau apa-apa ran. Aku hanya ingin kamu menemani aku disini”
“iya, aku
disini la”
“rahmat dan
amar belum datang ya?”
“sebentar
lagi la, sabar ya”
“ran. Aku
mau ngomong sama kamu?”
“apa itu la,
katakanlah”
“aku Cuma
bisa mengucapkan terima kasih atas segala kebaikan kamu. Aku tahu kamu pasti
lelah menemani aku selama dirumah sakit. Maaafkan aku ya ran?”
“kamu
berbicara apa la, sudah aku katakan, kalau aku tidak pernah merasa lelah untuk
menjaga sahabat aku yang baik ini. Kita sudah janjikan untuk saling menjaga dan
melengkapi apabila salah satu diantara kita sedang diuji oleh Allah. Apa kau
sudah lupa dengan janji itu?”
Laila menggelengkan
kepalanya lalu senyum manis terlihat dibibirnya.
“aku tidak
lupa la. Tapi aku merasa aku yang lebih banyak menyusakan kalian”
“tidak la
ada yang merasa kesusahan. Kita menjalaninya dengan ikhlas la, kamu jangan
khawatir. Aku, rahmat dan amar akan selalu ada disisi kamu”
“ran, aku
minta maaf”
“maaf untuk
apa la?”
“maaf untuk
segala kesalahan dan khilaf yang telah aku perbuat pada kamu. Tolong sampaikan
juga pada amar dan rahmat apabila aku tidak sempat bertemu dengan mereka”
“kamu
ngomong apa la. Tidak baik. Kamu tidak perlu minta maaf seperti itu insyAllah
aku sudah memaafkan kamu begitu pun dengan amar dan rahmat. Lagi pula selama
kamu menjadi sahabat aku, kamu tidak pernah berbuat salah padaku. Bahkan kamu
yang banyak membantu aku”
“ran, aku merasa
kalau ajalku sudah dekat. Dimataku sudah tampak malaikat-malaikat maut yang
siap mencabut nyawaku”
Mendengar
itu rani menangis. Laila pun begitu. Tangisan kedua sahabat itu cukup kencang
hingga terdengar dari luar ruangan. Dipeluknya laila dengan erat oleh rani.
Tangisan rani tak berhenti juga malahan semakin menjadi-jadi.
“istigfar
la, ingat Allah la. Jangan kau lupakan gusti Allah. Itu hanya khayalan kamu
saja. Kamu jangan berbicara seperti itu lagi ya, kamu membuat aku takut saja”
“aku ingin
bertanya padamu ran”
“tanya apa
la, silahkan”
“apakah kamu
akan mengingatkan aku kalau aku sudah tiada?”
Alangkah
pilunya mendengar ucapan sahabatnya itu. Air mata membasahi pipi rani, langit
cerah memancarkan panasnya dengan dahsyat. Rani ingin kuat, namun air matanya
tetap mengalir.
“la. Apa
yang kau katakan itu. Tidak baik. Kau tidak akan mati kau pasti sembuh”
“tidak ran.
Aku sudah tidak kuat lagi”
Mendengar
itu tangisan rani semakin menjadi-jadi. Sejanak rani berpikir tidak seperti
biasanya laila berbicara seperti itu. Laila adalah wanita yang kuat ia tidak
mengeluh dengan penyakitnya, ia tidak pernah putus asa untuk sembuh. Tapi entah
mengapa hati pagi menjelang siang ini laila selalu melantur tentang kematian.
Rani mencoba menggenggam tangannya yang sudah lemah untuk menahan tangisannya
agar tidak bertambah menajdi-jadi. Tetapi sekian lama rani menahan tangisannya
sekian itu pula air mata sucinya keluar dari kelopak matanya yang sudah mulai
lelah.
“mengapa kau
berbicara seperti itu la, kau pasti sembuh. Kau tidak boleh putus asa seperti
ini. Kuatkan dirimu, laila purnama sari adalah wanita yang kuat, ia tidak
pernah mengeluh dengan penyakitnya. Ingat Allah la, ingat ibu dan ayahmu,
kesihan mereka bila mendengar ini. Kamu jangan sedih ya, aku, rahmat dan amar akan
senantiasa ada disamping kamu”
“kau sungguh
baik sekali ran, aku bersyukur Allah menitipkan bidadari yang baik seperti
kamu. Aku selalu berdo’a agar kamu senantiasa sehat dan dipanjangkan umur
hingga kamu memiliki anak dan cucu. Jangan lupa jika kamu sudah mempunyai anak
nanti sering-sering kamu ceritakan tentang aku ya, tentang persahabatan kita”
Hancur sudah
hati rani. Tangisannya tidak tertahan lagi. Rani menggenggam tangan laila untuk
menguatkannya. Air mata keluar dari kelopak mata laila. Dipeluknya laila oleh
rani, suasana sunyi hanya terdengar tangisan dua sahabat itu.
“kau
berbicara apa la, jangan berbicara seperti itu. Kau buat aku takut. Aku selalu
mendo’akan yang terbaik untukmu. Jangan khawatir jika aku punya anak dan cucu
nanti aku akan bercerita padanya tentang kamu, rahmat dan amar kalau aku punya
seorang bidadari berwujud manusia. Bidadari cantik yang turun dari syurga.
Bidadari yang hebat dan pintar. Bidadari yang selalu tersenyum. Bidadari yang
shaleha. Bidadari yang baik tiada tanding. Bidadari yang hidupnya ingin seperti
fatimah anak kanjeng nabi. Bidadari yang cinta sahabat-sahabatnya. Bidadari
yang harum baunya. Bidadari yang sempurna. Dan bidadari itu bernama Laila
Purnama Sari” tutupnya
Laila
menangis air matanya mengalir dengan perlahan di kelopak matanya. Rani memeluk
laila sambil berbisik kecil di telinga laila yang terbaring tak berdaya.
“selalu
ingat Allah la”
Tangisan
keduanya pecah. Dipeluknya rani dengan tangannya yang lemah. Mata perempuan
sakit itu kosong kali ini tidak tampak cahaya sedikit pun hanya tampak
kegelapan, kematian dan kehancuran. Suasana ruangan itu tidak menentu tidak
tampak cahaya dan hembusan angin yang menggoyangkan tirai jendela ruangan.
Detak jam dinding begitu merdu terdengar oleh rani. Bagi laila jarum jam yang
berdetak itu menunjukkan waktu kematiannya telah dekat. Isak tangis kedua
perempuan itu terdengar oleh seorang dokter yang menangani laila yang ditemani
oleh seorang perawat yang berdiri disampingnya.
“sudah dulu
ya menangisnya. Kita periksa dulu” kata dokter puji astuti seketika mendekati
kedua perempuan yang sedang berpelukan menangis itu.
Mendengar
itu kedua perempuan bersahabat yang menangis seketika melihat arah sumber
suara, melihat kedatangan dokter puji rani pun melepaskan pelukannya. Laila
tersenyum pada dokter, melihat peralatan yang dibawa oleh dokter puji tampak
cahaya sembuh dimatanya walaupun sedikit. Dokter puji astuti adalah salah satu
dokter yang mengurus segala kesehatan laila sejak pertama perempuan itu
dirawat. Dokter cantik itu sangat tahu akan kehendak laila. Sering kali dokter
spesialis kanker itu menghibur laila ketika ia hampir-hampir putus asa akan
penyakitnya.
“mengapa
menangis? Ingat kematian lagi?” tanyanya pada laila
Laila
tersenyum. Rani hanya melirik kearah laila yang tak bersuara.
“setiap
manusia akan mengalami kematian tanpa kecuali, laila, dokter, rani, ayah dan
ibu laila pun akan menempuh masa kematian itu. Jangan dipikirkan tentang hal
itu yang perlu kita ingatkan adalah bekal kita untuk kematian. Tidak perlu takut
selagi kita ingat pada Allah, senantiasa berzikir padanya insyallah kematian
yang kita takuti itu akan kita tunggu-tunggu untuk berjumpa pada maha pencipta”
ucap kembali dokter berjilbab itu sebelum ia memeriksa kesehatan laila.
Seperti
biasanya, sebelum memeriksa laila, dokter puji senantiasa memberi nasihat
kepada laila. Dokter puji selali memberi pencerahan kepada setiap pasien
sebelum memeriksa atau mengobatinya kata dokter puji tujuannya adalah agar
manusia senantiasa menerima takdir Tuhan dengan lapang dada dan ikhlas.
Laila
tersenyum kembali. Seperti biasanya, pada saat dokter puji memberi nasihat
padanya laila hanya tersenyum dan memandang bola mata wanita berjilbab itu
dengan penuh kebanggaan pada sang dokter itu.
“semalam
tidurnya bagaimana? Enak?” tanya dokter itu sambil mebolak-balik selang infus
yang bersarang ditangan laila.
“alhamdulillah.
Enak dok” laila tersenyum
“nah, gitu
dong. Kan kalau senyum terlihat cantik. Dokter jadi semangat mau datang kesini
setiap hari” dokter puji menggoda
Laila
tersenyum lebar. Rani pun begitu. Tangan dokter itu siap memeriksa laila,
beberapa kali ia menyuntikkan cairan dalam infus laila. Katanya cairan itu
untuk menambah cairan dan mereda rasa sakit.
Stetoskop
menempel didada laila, dokter puji memeriksa detak jantung laila.
“buka
matanya. Kita periksa matanya dulu” pintanya
laila
mengikuti instruksi dokter. Rani melihatnya dengan cemas dalam hatinya tak
berhenti berdo’a agar laila baik-baik saja. Beberapa menit dokter puji
melihat-lihat mata laila. Sekali mata yang kiri dan sekali mata yang kanan.
Lalu dokter itu meriksa kembali detak jantung laila. Dokter puji melihat
perawat di sampingnya. Matanya tampak tergambar ketakutan. Senyum dibibirnya
menghilang. Rani selalu bertanya-tanya dengan sikap dokter puji. Sesaat dokter
itu selesai memeriksa detak jantung laila kemudian tangan kecil dokter puji
menggenggam pergelangan tangan laila untuk memeriksa denyut nadinya. Kali ini
dokter puji tidak melihat perawat disampingnya namun melihat kearah rani yang
berdiri di hadapannya. Rani melihatnya dengan rasa takut. Mengapa dokter
melihatku seperti itu? Begitulah pertanyaan rani dalam hatinya.
“alhamdulillah
selesai. Dokter bangga pada kamu laila, semakin hari kamu semakin sehat.
Penyakit kamu juga semakin baik” sebut dokter puji tersenyum
Senyuman
dokter itu adalah senyuman menghibur. Rani dapat melihat itu. Seperti biasanya
dokter puji selalu tersenyum dan mengatakan hal yang menyenangkan hati apabila
selesai memeriksa laila. Kali ini ini senyumnya berbeda, rani melihat senyuman
itu dengan penuh tanda tanya. Apakah ini senyuman petanda buruk? Sebutnya
kembali dalam hati.
“dokter
keluar dulu ya la, jangan lupa minum obatnya dan istirahat yang banyak”
pesannya lalu kemudian “Rani bisa ikut dokter sebentar?”
Rani pun
mengiyakan permintaan dokter puji dan mengikutinya dari belakang. Diluar
ruangan dokter menjelaskan keadaan laila.
“bagaimana
dok keadaan laila?” tanya rani tergopoh-gopoh
Seketika
senyuman dokter puji menghilang senyuman itu berganti dengan raut wajah
kekhawatiran. Sesaat dokter itu terdiam. Beberapa lamanya rani menunggu jawaban
dari dokter puji, namun tak kunjung juga ia dapat Lalu rani pun bertanya
kembali pada dokter dihapannya.
“bagaimana
dok, keadaan laila?”
Dokter puji
melihat rani. Ditatapnya mata rani dalam. Dalam tatapan itu rani telah
mendapatkan jawabannya, tatapan dokter puji telah memberi jawabannya.
“maafkan
saya ran, saya harus mengatakan yang sesungguhnya”
“apa yang
terjadi dok?”
“kesehatan
laila semakin menurun. Kekebalan tubuhnya semakin lemah. Kenker itu sudah
menyebar kemana-mana. Terakhir saya memeriksa laila, kanker itu hanya menyerang
otaknya namun sekarang sudah menyerang saraf-sarafnya. Saya mohon sama kamu
agar tidak meninggalkan laila, kamu jangan menangis didepannya kamu harus
memberi semangat padanya. Kamu jangan mengatakan hal yang mengada-ada tentang
penyakitnya. Saya takut kesehatanya semakin menurun”
Mendengar
penjelasan dokter puji rani pun menangis. Dia menutupi mulutnya agar
tangisannya tidak terdengar oleh laila.
“inalillahi”
rani tersentak kaget.
Lalu ia
kembali menangis tersedu-sedu
“berapa lama
lagi laila bisa bertahan dokter?”
Perempuan
berbaju putih itu menggelengkan kepalanya.
“entahlah,
perkiraan kedokteran kira-kira tidak lebih dari satu bulan lagi”
“ya Allah”
rani menangis
“tapi itu
semua kehendak yang maha kuasa. Umur manusia hanya Allah yang menentukan”
“tolong dok.
Lakukan sesuatu pada laila agar dia bisa sembuh saya mohon”
“maaf ran,
kita sudah berusaha maksimal mungkin. Kanker laila sudah menyebar kemana-mana
untuk kemoterapi pun sudah tidak ada gunanya lagi. Sekarang kita hanya bisa
banyak berdo’a pada Allah semoga saja ada keajaiban untuk laila”
Beberapa
menit dokter puji menjelaskan penyakit laila pada rani. Akhirnya sahabat laila
itu pun kembali mendekati laila yang terbari itu. Jarum jam telah menunkukkan
pukul 13.30 siang langkah rani semakin mendekat laila. Rani tersenyum pada
laila. Air matanya tidak tampak sama sekali. Hanya terlihat bulu matanya yang
masih masah karena menangis saat mendengar penjelasan dokter puji tadi.
“umurku
tidak lama lagi ya ran. Tinggal berapa bulan. Satu bulan dua bulan?” tanya
laila
Rupanya
senyuman rani menjadi pertanyaan besar bagi laila. Berharap senyuman itu
membuat laila senang malahan menjadi beban rani. Sentak pertanyaan itu membuat
rani bingung untuk menjawabnya. Ingin rasanya rani memeluk sahabatnya dengan
erat. Ingin rasanya rani mencium pipi laila dengan kasih sayang. Ia selalu menahan
air matanya agar tidak meleleh di hadapan laila, dia ingat pesan dari dokter
puji agar tidak menangis dihadapan laila.
Ditatapnya
mata laila dalam sesaat rani menerawang masuk kedalam bola mata itu. Lalu
kemudian terjatuhlah air mata rani mengalir dipipinya yang merah. Lalu rani
merangkul laila dengan kasih sayang. Dalam pelukan itu tangis rani semakin
menjadi-jadi. Lalu ia berbisik ditelinga laila dan berkata
“tabahkan
hatimu” sebutnya menangis
Mendengar
itu laila pun menangis. Laila membalas pelukan rani. Dan dia berkata
“aku ikhlas
ran. Aku sudah ridho dengan ketentuan yang sudah Allah berikan padaku.
Insyallah aku akan terima dengan ikhlas”
Tangisan kedua sahabat itu kembali pecah lidah rani kaku untuk berkata
tidak kuasa rupanya untuk mengucapkan kata-kata lagi. Dalam hatinya hanya
tampak rapuh dan lemah. Hatinya sakit tak berdaya.
17
SENANDUNG
GERIMIS
Dua hari
setelah tangis dua sahabat dalam salah satu ruangan dirumah sakit itu. Jarum jam terasa begitu
lama berputar. Detik-detik berjalan terasa begitu berat. Matahari terasa lambat
berjalan. Dan malah terasa sangat panjang. Aku merasa menunggu empat hari untuk
menyelesaikan tulisanku bagaikan menunggu empat tahun lamanya.
Ya, kira-kira empat hari lagi tulisanku selesai dan segera aku cetakkan
kemudian segera aku berikan kepada laila dan rani. Semua tulisanku telah
matang. Mulai desain cover, daftar isi hanya tinggal satu bab lagi yaitu bab
terakhir. “aku akan segera beri buku ini pada laila agar dia tahu siapa laila
yang aku maksud dalam buku ini” gumamku. Aku sudah membayangkan hari bahagia
itu. Aku akan membayangkan senyum bahagia laila dan rani ketika membaca bukuku.
Rani sangat semangat untuk membaca bukuku apa lagi laila dia sangat penasaran
dengan tokoh perempuan yang ada dicerita bukuku yang berjudul Cahaya Senja Untuk Laila dia selalu
bertanya-tanya apakah laila dalam ceritaku itu adalah laila dirinya? Aku tidak
sabar rasanya untuk memberikan buku ini padanya.
“sudah selesai bukunya, bang?” tanya bumi seketika duduk disampingku
Pertanyaan bumi membangunkan dari lamunanku. Aku menganggukkan kepala
seraya berkata
“sedikit lagi. Tinggal satu bab lagi” jawabku penuh percaya diri.
“emang bagus ceritanya?” sindir bumi
“wah. Wah.. kamu meremehkan kemampuan abang? Mau baca?”
“oh, no”
Bumi langsung menolak. Dia sangat tidak suka membaca buku. Apalagi
membaca bukuku, jangankan untuk membacanya melihatnya saja seperti jijik.
Begitulah bumi dia hanya suka dengan sains seperti laila kekasihku.
“kak laila sudah baca?”
“belum”
“kenapa belum?”
“bagaimana kamu ini. Bukunya saja belum saja. Bagaimana abang mau
berikan sama laila”
“oh, gitu”
Pagi itu gerimis turun. Aku membayangkan jika laila sudah membaca buku,
alangkah indahnya melihat senyuman kekasihku sambil menikmati gerimis yang
turun. Aku dan laila duduk dipelantaran rumah atau cafe biasa kami kunjungi
sambil menikmati pemandangan dua belibis bermain dikala awan menjatuhkan
butiran-butiran air. Ku dapat menyaksikan senyuman manis laila dibibirnya yang
kecil. Matanya bermain dengan dahsyat saat membaca bukuku.
“abang tidak kerumah sakit?”
Aku terdiam. Bumi melirik kearahku. Dia melihatku tersenyum seorang
diri. Dipikiranku hanya ada aku dan laila sedang membaca buku dengan hati yang
damai.
“abang tidak kerumah sakit?”
tidak puas melihatku bumi kembali bertanya. Pertanyaannya kali ini
sedikit memaksa.
“ha.. iya nanti. Abang lagi nunggu abang amar. Katanya dia juga ingin
menjenguk laila”
“bumi ikut ya. Boleh?”
“iya, boleh”
Aku kembali menatap laptop dihadapanku. Tanganku sempat terhenti karena
bumi. Lalu aku menyelesaikan segera bukuku.
Hujan gerimis masih terdengar riuh ditelingaku. Aku asik dengan
tulisanku hingga aku tidak menyadari kedatangan amar. Amar melihatku, kepalanya
terlihat garis-garis karena kebingungan melihatku tersenyum dan tertawa seorang
diri. Lalu dia memukulku bahuku dengan pelan.
“assalamu’alaikum, akhi rahmat?” ucapnya
Suara amar membangunkanku dari imajinasiku. Seketika aku melihat amar
yang berdiri dibelakangku.
“wa’alaikumsalam. Eh bro, sudah lama?” tanyaku
“sudah 2 tahun abang amar disini!” jawab bumi menyindirku
“sori. Sori. Sudah makan?”
“sudah mat. Santai saja. Gimana jadi tidak kita kerumah sakit?”
“jadi dong”
“semangat amat. Sudah rindu dengan buah hati kamu ya?” ledeknya
“apaan sih mar”
“lalu?”
“itu loh bang amar. Bang rahmat mau ngasih bukunya pada buah hatinya dan
buah hati bang amar. Mangkanya bang rahmat semangat sekali mau kerumah sakit?” sambung bumi
“eh tunggu”
putus amar lalu “buah hati abang?”
“iya”
“siapa?”
“kak rani!”
Mendengar
itu aku pun tertawa. Amar tersipu malu. Bumi tersenyum kecil. Amar melihatku
dengan salah tingkah.
“apaan kamu
bumi. Jangan fitnah kamu?”
“oh, jadi
sekrang kamu jadian sama rani secara diam-diam ya bro”
“eh, adik
sama abang sama saja sukanya ngebuli orang. Nanti didengar sama orangnya kan
jadi tidak enak”
“kalau tidak
enak dienaki bang. Biar cocok nanti ditambah sedikit garam atau gula biar enak
rasanya” cetus bumi
Aku tertawa
semakin kencang. Gerimis semakin enak didengar. Amar mengejar bumi karena telah
mengebulinya. Aku melanjutkan menyelesaikan tulisanku. Sedikit lagi kataku.
Jariku smeakin hebat menekan satu persatu huruf demi huruf di laptopku.
Kedengar teriakan bumi dari luar kamarku. Akhirnya amar berhasil menangkap bumi
dan memberi dia pelajaran.
“gimana bro
sudah selesai tulisan kamu?”
“sedikit
lagi”
“berapa bab
lagi?”
“tinggal
satu bab. Bab terakhir”
“kapan kamu
mau ngasih pada laila?”
“entahlah,
aku tidak tahu. Mungkin besok atau lusa”
Amar hanya
diam. Dia asyik menyaksikan jari-jemariku menari diatas laptopku. Bumi entah
dimana dia, suasana kamar terasa sunyi. Tidak terdengar tertawa ataupun suara
nafas bumi adikku. Hanya terlihat angin yang meniup tirai jendela kamarku
hingga bergelombang kecil.
Gerimis tipis turun perlahan. Hatiku tak bisa diajak tenang. Antara
senang dan sedih. Senang karena aku dapat menyelesaikan tulisanku dan segera
memberinya kepada laila dan rani. Sedih karena buah hatiku kesakitan melawan
kanker ganasnya. Ingin rasanya aku segera tiba dirumah sakit untuk menyampaikan
berita gembira ini dan meminta kepada laila agar segera membacanya biar ia tahu
siapa laila dalam bukuku. Hatiku tak tenang, seribu macam telah aku perbuat
dalam langkahku hatiku menulis sebuah puisi:
gerimis turun perlahan
wajah kekasih membayang
dalam daun-daun yang basah
diriku resah
menanti pertemuan
yang tenang
cinta kasih dan sayang
Tuhan
tolong damaikan
hatiku yang gamang
Benar kata banyak orang,
jika orang jatuh cinta akan mampu menulis syair beratus-ratus bait jumlahnya.
Hatiku masih ingin mendendangkan puisi lagi. Namun,
“abang? Kenapa? Ada yang
aneh. Kok senyum sendiri?” suara bumi adikku membuyarkan lamunanku. Aku tersipu
malu. Amar berdiri di samping kananku sambil mengusap-usap rambutku.
“sabar ya bro, sebentar lagi
kita sampai keruangannya. Simpan saja senyumanmu itu untuk dia. Jangan kau
senyum-senyum sendiri disini. Nanti disangka orang kita membawa kabur pasien
sakit jiwa lagi” ledeknya
Bumi tertawa geli begitu pun
dengan amar. Aku tidak menghiraukan perkataan amar, aku hanya menyunggingkan
senyuman dibibirku.
Langkah kaki kami semakin dekat dengan ruangan laila. Hatiku semakin
bermain hebat. Senyum dibibirku tak juga hilang. Bergetar hatiku, semakin deras
darahku mengalir semakin kencang jantungku berdetak. Keringat sedikit membasahi
bajuku. Gerimis tipis semakin ramai membasahi tanah hingga rumput-rumput
menjadi basah.
Diluar ruangan kulihat rani
berbincang-bincang bersama ayah dan ibu laila. Ada pula dokter puji astuti.
Dari kejauhan aku dapat melihat raut wajah mereka tegang dan serius. Kumelihat
mata rani seperti biasa dibasahi oleh air mata. Senyumku sedikit menghilang
namun masih ada. Hatiku gelisah tak menentu. Apa yang terjadi dengan laila?
Ucapku dalam hati. Langkah kami semakin mendekati orang-orang itu untuk
mendapatkan jawaban dari pertanyaanku.
“itu rani, ayah dan ibu laila
mat. Mengapa mereka ada diluar?” tanya amar
Amar melihatnya dengan cemas
pula. Bumi hanya menatapnya dengan wajah datar.
“assalamualaiku?” ucapku
“wa’alaikumsalam”
“ada apa?” tanyaku
tergopoh-gopoh
Melihatku rani menangis. Aku
heran dan kaget. Mengapa rani menangis apakah aku ada salah padanya? Ibu dan
ayah laila melihatku dengan wajah iba.
“rahmat” ucap perempuan paru
baya itu sambil menatapku dengan mata berlinang
“ada apa bu, laila baik-baik
saja kan?”
Sesaat semua terdiam. Rani
menangis semakin kencang. Dokter puji hanya menatapku dengan memasangkan wajah
sedih. Seribu pertanyaan dalam hati tentang semua keadaan ini.
“baiklah. Saya pergi dulu.
Tolong jangan tinggalkan laila sendiri. Dan obatnya harus dihabiskan” ucap
dokter perempuan itu dan langsung meninggalkan kami semua.
“iya terima kasih dok” ucap
ibu laila dengan suara nsedikit parau
Suasana kembali sunyi. Tidak
terdengar percakapan diantara kami. Rani menangis. Ibunya hanya berdiri dengan
sedih. Ayah laila mencoba untuk tegar namun tampak juga kesedihan diraut
wajahnya.
“rahmat?” ucap ayah laila
padaku
Aku menengok kearah laki-laki
yang berdiri dihadapanku.
“kata dokter keadaan laila
semakin lemah. Kankernya sudah menyebar kemana-mana. Sekarang sudah menyerang
saraf otaknya. Ketahanan tubuhnya semakin melemah. Dokter menyarankan agar
laila istirahat total, laila jangan banyak berbicara agar kesehatannya tidak
semakin lemah” jelas laki-laki itu.
Aku hanya termenung mendengarkan
cerita laki-laki dihadapanku. Mataku menatapnya dengan kosong. Jantungku terasa
berhenti berdetak, darahku seakan berhenti mengalir. Gerimis yang turus terasa
panas. Cerita ayah laila bagaikan jahanam yang membakar telingaku. Amar
menatapnya dengan pilu bumi tak bersuara hanya melirik kearahku dengan wajah
yang tak menentu.
Rani dipeluk oleh ibu laila.
Rani hanya menangis tak kuasa lagi ia untuk berbicara. Sejuta bahasa kaku
dilidahnya. Mataku berlinang. Namun aku mencoba untuk kuat. Kugenggam tanganku
agar lelehan air mataku tidak mengalir dipipiku.
Kebahagiaan hatiku untuk
berjumpa dengan laila dan ingin mengatakan kalau bukuku akan segera diterbit
kandas sudah. Dokter berpesan kalau laila harus istirahat dan jangan banyak
berbicara. Sungguh gerimis pagi ini sangat menyakitkan.
Sesaat aku terdiam, lalu rani
mencoba untuk berbicara. Sesaat dia melihatku. Au heran. Mungkin dia ingin
mengatakan sesuatu padaku. Lalu dia berkata
“rahmat, amar. Aku mau
berbicara?” sebutnya sambil menghapus air matanya.
Aku menganggukkan kepala.
Kakiku melangkah mengikuti setiap langkah kaki rani. Rani melangkah jauh dari
ruangan laila. Mengapa? Ada sesuatu yang dia rahasiakan sehingga ibu dan ayah
laila tidak boleh mengetahuinya? Amar dan bumi mengikutiku dari belakang.
Langkah rani semakin cepat hingga sampai dibawah satu pohon rindang, namun
tidak terlalu tinggi kira-kira tingginya seperti pohon cemara disamping masjid
Ash-Shahabah. Daub pohon rindang itu begitu menyejukkan hati, matahari tidak
dapat menembus setiap helai daunnya begitu pun dengan gerimis yang turun.
“ada apa ran?” tanyaku membuka
diskusi
“semalam laila selalu
menanyakan kamu sama amar?”
“tanya apa? Adakah sesuatu pesan
darinya?”
“entahlah. Aku tidak tahu dia
ingin berpesan apa”
“bagaimana keadaan laila
sekarang ran?” tanya amar menatap rani dengan penasaran
Mendengar itu rani menangis.
Kita heran mengapa tiba-tiba rani menangis. Matanya selalu menunduk. Mungkin
dia ingat kata-kata laila? Atau dia mengingat kata dokter puji kalau laila
umurnya tidak lama.
“ada apa ran?” tanyaku heran
“laila” sebutnya menangis
“ada apa dengannya?” sambung
amar
“laila”
“iya ada apa dengannya?”
ucapku tegas
“kata dokter, umur laila tidak
kurang dari dua bulan”
“inalillahi” sentak amar kaget
“ya Allah” ucap bumi
Kabar itu seperti racun.
Telingaku sungguh panas mendengar kabar buruk itu. Rani menangis. Aku pun
begitu. Kubalikkan tubuhku membelakangi rani. Aku tidak dapat menahan air
mataku. Amar mencoba mengelus punggungku, langit seakan menangis mendengar
kabar jahanam ini.
Rani semakin kencang menangis.
Amar mencoba melerainya. Namun dia tidak kuasa. Kakiku lemah seakan ingin
terjatuh ketanah. Bumi memukul bahuku dengan pelan. Mataku kosong. Aku tidak
melihat kemana-mana. Hanya menatap sejuta air yang sedang turun membasahi
setiap daun dan rumput yang bergoyang.
“dokter bilang kanker laila
sudah menyebar kemana-mana hingga ke sarafnya” ucap perempuan itu kembali
“aku tidak tahu lagi mat mau
berbuat apa, laila sudah merasa tidak kuat lagi. Dia merasa kematian sudah
didepan matanya”
Air mataku meleleh dengan
hebatnya. Ya Tuhan tabahkanlah hati kami, kuatkan hati kami janganlah engkau
lari daripada kami. Hatiku selalu bertasbih mengucap asma Allah.
Kabar ini sungguh menyakitkan
hatiku melebihi dari apapun. Sakitnya hatiku ketika dulu langit memukulku atau
sakitnya hatiku ketika papa memberi setengah kasih sayangnya padaku dulu
tidaklah sebanding dengan sakit hatiku ketika aku mendengar kabar dari
perempuan yang menangis dibelakangku itu.
Mata amar semakin terlihat
berlinang. Namun dia mencoba menggenggamkan tangannya agar linangannya itu
tidak menjadi butiran air. Bumi kaget. Tubuhnya berkeringat. Dia menatapku.
Berkali-kali dia memukul bahuku.
“sabarkan hatimu bang” ucapnya
Aku melihat bumi. Dia menatapku dengan tatapan yang sama ketika aku
masuk kerumah sakit dalu karena langit dan teman-temannya.
18
LANGIT SEOLAH RUNTUH
Gerimis telah berubah
menjadi hujan yang sangat deras. Kilat mengerjap dan halilintar menyambar.
Kamarku tampak begitu fana dan kerdil dalam guyuran hujan. Kumelihat seeorang
laki-laki remaja berbaju kokoh putih mengangkat sedikit celana hitamnya dan
berjalan hati-hati dengan payung di bawah hujan. Laki-laki itu baru keluar dari
masjid. Ia baru saja ikut rapat remaja masjid Al Taqwa.
Akhirnya ia sampai ke
rumah. Laki-laki itu adalah Bumi adikku.
”Assalamu’alaikum. Mama sama papa belum
pulang ya bang!” Panggil bumi begitu masuk pintu kamar yang lengang. Aku tidak
mendengar ucapan bumi. Lamunanku jauh terbawa oleh hujan ”abang!”
”Iya!” Jawabku. ”mama sama
papa belum pulang?” Tanya bumi kembali. ”belum” “abang sudah makan? Ni bumi ada
makanan dari masjid” kue kotak itu diletakkan diatas meja tepat disampingku.
“abang sudah shalat?”
“sudah”
“ada kabar dari kak rani
tetang kak laila?” kumelihat bumi yang sedari tadi mengelus-elus bajunya karena
percikan air. Sesaat aku diam, lalu bumi menengok kearahku. Aku menggelengkan
kepala lalu dia kembali mengeringkan bajunya dengan handuk.
“abang amar jadi kesini?”
“nggak tahu”
Dan tiba-tiba HP ku
berbunyi, aku lihat ternyata rani yang menelpon aku langsung mengangkatnya.
“assalamualaikum ran?”
“wa’alaikumsalam rahmat”
Suara rani terdengar berat
dan basah tidak seperti biasanya. Sekali-kali terdengar dia mengisak.
“ada apa ran?”
“bisa kamu kerumah sakit
sekarang?”
Perasaan hatiku tidak
enak. Hatiku berprasangka buruk pada kekasihku itu. Ya Allah jagalah dia.
“ada apa ran? Apa laila
merasa kesakitan lagi?”
“lebih dri itu mat,
ceparlah kamu kesini. Dia yang meminta kamu kesini. Tadi aku sudah menelpon
amar dia dijalan menuju rumah sakit. Kumohon padamu mat?”
“oke. Baiklah aku akan
segera kesana. Assalamualaiku?”
“ya Allah” ucapku
tergopoh-gopoh
“ada apa bang?” sambung
bumi
“abang mau kerumah sakit.
Rani nelpon abang katanya darurat” “bumi ikut”
Hujan deras menemani aku
dan bumi menuju kerumah sakit. Kulihat jam di tanganku menunjukkan pukul 9.20
malam. Hatiku gelisah seribu pertanyaan bermunculan dihatiku.
Begitu sampai di Rumah
Sakit, sang petugas sudah tahu kenapa aku datang. Tanpa bertanya petugas
berkumis tipis itu langsung menunjukkan jarinya kearah kamar laila, sambil
berkata,
“sudah ditunggu mas”
Ada apa ini? Mengapa
kehadiranku begitu penting hingga petugas saja menunggu kedatanganku. Kulihat
dari kejauhan beberapa perawat dan dokter keluar masuk kamar laila. Hatiku
semakin cemas. Bumi hanya diam dan mengikuti langkahku.
Aku langsung membuka pintu
kamar perlahan dengan tangan
gemetaran. Jantungku
berdegup kencang. Kulihat semua sudah hadir, begitupun dengan bu de laila. Amar
lebih dahulu datang daripadaku.
“sebentar lagi rahmat
datang. Kamu yang sabar ya la” ucap rani pelan
Orang-orang itu tidak
menyadari kedatanganku. Beberapa lamanya aku berdiri didekat pintu. Kulihat
kekasihku dengan jelas. Malam ini wajahnya bercahaya matanya sungguh indah
seperti mata ketika SMA dulu. Bibirnya merah sedikit kehitaman. Kulihat pula
sajadah merah terbentang menutupi sebagian tubuhnya. Aku tersenyum melihat sajadah
merah itu. Itu adalah sajadah dariku. Hadiah ulang tahun laila yang ke 19
tahun.
“mana rahmat bu?” tanya
kembali pada ibunya
“sabar ya nak. Rahmat lagi
dijalan”
Kulihat nafas laila berat.
Matanya yang indah itu kosong hanya menerawang tak menentu. Jari-jarinya
menggenggam tangan rani. Amar melihatnya dengan iba.
“ayah, rahmat belum datang
juga ya?”
“sebentar lagi nak. Dia
lagi dijalan”
Nafas lalila semakin
sesak. Tangan dan kakinya terasa dingin. Ibunya menangis melihat laila. Rani
hanya bisa menggenggamkan tangannya dia tidak kuasa lagi menangis karena air
matanya telah habis. Mataku semakin dalam melihatnya. Dan terjatuh sudah air
mataku meleleh dipipiku. Hatiku hancur melihat kekasihku seperti itu. Aku dapat
merasakan kesakitan yang dirasakan oleh laila.
“rahmat tidak datang ya
ran” sebutnya lalu kemudian “tidak apa-apa. Mungkin dia capek”
“assalamualaikum?”
“wa’alaikumsalam” “Aku disini la. Aku datang” ucapku sambil menghapus air
mataku agar tidak terlihat dihadapan kekasihku.
Mendengar itu semua orang
melihatku. Laila tersenyum aku pun begitu. Rani semakin sedih melihatku. Amar
menengokku tanpa senyuman. Ibu dan laila tersenyum.
“itu rahmat. Dia sudah
tiba” ucap ayahnya menghibur
Laila tersenyum lepas
ketika melihatku. Aku melangkah mendekati laila.
“ada apa? Rindu ya?” ucapku
menggoda
Laila semakin tersenyum
lepas. Nafasnya begitu sesak. Kudapat melihat nafas laila yang begitu sesak
seperti berlomba-lomba ingin keluar.
Aku merasakan langit
seolah runtuh menimpa kepalaku. Pikiranku terasa gelap. Air mataku langsung
tumpah. Aku merasa kematian laila diujung mataku. Pedang yang sangat tajam
seolah telah membabat leherku. Tombak paling tajam dan berkarat seolah menancap
di dadaku. Dadaku sesak melihat kekasihku. Seluruh persendianku seolah dipaku
dengan paku-paku berkarat nan runcing. Tulang-tulangku seolah telah dilolosi
satu per satu. Sesaat lamanya aku tidak bisa berbuat apa-apa. Seolah-olah bumi
hendak membetot kakiku. Air mataku terus meleleh membasahi pipiku.
“rahmat. Jangan menangis.
Aku tidak apa-apa” sebut laila dalam sesaknya
“tidak. Aku tidak
menangis” sebutku menghapus air mata
“maafkan aku mat. Sudah
mengganggu waktu istirahat kamu. Kamu datang dengan siapa?”
“dengan adikku, bumi”
Laila melihat kearah bumi
yang berdiri disamping kanan amar lalu ia tersenyum dan bumi pun membalasnya.
“rahmat, terima kasih
sudah menjadi sahabat saya selama ini. Kamu adalah sahabat yang baik. Aku
bersyukur dapat berkenalan denganmu”
“tidak. Aku yang berterima
kasih kepadamu karena kamu sudih menjadi sahabat aku. Kamu yang sudah mengubah hidupku”
lalu “rahmat. Aku ingin minta maaf padamu atas segala kesalahanku padamu,
selama ini aku sudah menyusahkan kamu”
“maaf untuk apa. Kamu
tidak pernah berbuat salah padaku. Tidak ada yang merasa disusahkan?”
“rahmat. Aku rasa hidupku
sudah tidak kuat lagi, bayang-bayang kematian sudah didepan mata. Jika aku
terlebih dahulu dipanggil Allah kamu jangan bersedih, kamu jangan menangis
ingat masa-masa kita bersama dulu”
“tidak la, jangan
berbicara seperti itu tidak baik. Kamu akan sembuh. Kamu harus kuat”
“ran”
“iya la aku disini”
“maafkan segala kesalahanku ya? Aku tidak kuat lagi ran”
Semua orang menangis. Aku
terpaku menatap laila yang tak berdaya. Nafasnya semakin sesak. Rani menangis,
amar mengluarkan sedikit air mata. Bumi mengelus bahuku.
“amar, kamu disini juga?”
“iya aku disini la”
“tolong jaga sahabat aku
rani ya, dia adalah sahabat terbaikku. Rahmat, bumi adikmu tidak kesini?”
“bumi disini kak”
Laila melihat bumi yang
berdiri dibelakangku. Dia tersenyum, sungguh manis senyumannya itu.
“jaga abangmu ya, jangan
sampai dia seperti dulu lagi. Dan rahmat kamu jangan kasar-kasar sama bumi lagi
ya, kesihan dia tidak ada teman lagi selain kamu”
Bumi menganggukkan kepala.
Aku hanya menangis mendengar ucapan laila.
“ayah. Ibu”
“iya nduk ibu dan ayah
disini”
“laila minta maaf segala
kesalahan laila selama menjadi anak ayah dan ibu, tolong ikhlaskan segala makan
dan minum laila selama ini”
“tidak nak, kamu jangan
berbicara seperti itu. Ayah dan ibu sayang sama kamu”
“sakit bu, kepala laila
sakit”
Laila mengerang kesakitan.
Ia tidak tahu kepada siapa harus minta tTolong, kecuali kepada Allah yang maha
pemberi penyakit dan maha penyembuh. Sejak jam tiga sore tadi kepalanya terasa
pusing. Tubuhnya lemas. Perut sakit. Ia sudah tidak tahan. Ia merintih. Ajalnya
ia rasa seperti akan datang.
“sabar nak, ingat Allah
banyak istigfar”
Laila mengerang kesakitan.
Kepalanya seperti kena godam. Ia merasa diintai oleh bayang-bayang kematian. Ia
sudah tidak tahan.Tangannya gemetaran. Sekujur tubuh laila terasa dingin
seperti es batu.
“ayah, ibu tolong
ikhlaskan laila pergi ya, ibu sama ayah jangan sedih jika laila sudah tidak ada
lagi. Maafkan laila tidak bisa disamping ibu dan ayah lagi” lalu “ran, aku
titip ibu sama ayah ya, aku sangat mencintai ayah sama ibuku”
“tidak la, kamu tidak
boleh berbicara seperti itu”
“rahmat maafkan aku tidak
bisa membaca bukumu lagi. Biarlah laila dalam bukumu itu menjadi rahasianya
sendiri”
Betapa pilunya hatiku. Air
mataku tidak terbendungi. Lelah hati ini menahan kekecewaan, begitu pilu
mendengar ucapannya. Ya Allah kuatkan hatiku. Semua orang menangis deras, rani
tak terhitung lagi menghapus air matanya. Ayah rani mendekat. Kulihat dia berjongkok
didekat kepala laila.
“ayah ucapkan
kalimat-kalimat Allah”
Ya Allah. Jangan engkau
ambil kekasihku. Kami masih membutuhkan dia. Aku bertasbih mengucap nama Allah.
Dalam hatiku tak henti-hentinya aku berzikir memuja asma Allah. Segala puji
bagi Allah yang menghidupkan dan mematikan makhluknya. Segala puji bagi Allah
tuhan yang maha agung dan maha kuasa.
Nafas laila semakin sesak.
Turun naik hingga ketenggorokan. Matanya sekali-kali membesar kemudian menutup
kembali. Rani tak tahan lagi menahan lelehan air matanya.
“ashaduanlaa illaha illaallahu waashaduana Muhammadar
asulullah”
ucap ayahnya ditepi telingan
laila.
Kudengar laila mengikuti
kalimat yang diucap ayahnya, suaranya begitu parau dan berat.
Laila tersenyum mendengar
kalimat Allah itu. Matanya terpancar cahaya. Namun cahaya itu semakin redup.
Mata laila semakin layu lunglai.
“sekali lagi yah”
“ashaduanlaa illaha illaallahu waashaduana Muhammadar
asulullah”
Ucap ayahnya pelan dengan
isak tangis tak tertahankan lagi. Melihat itu, ibu laila semakin terpuruk.
Wajahnya basah dengan air mata. Linangan air mata bumi dan amar menjadi
butir-butiran air. Jantungku semakin kencang berdetak. Hawa panas ruangan
menambah kekegelisahanku.
“sekali lagi yah” pinta
lirih laila
“ashaduanlaa illaha illaallahu waashaduana Muhammadar asulullah”
“Allah!!” ucap laila
spontan.
Kulihat nafas laila
berhenti, dadanya tidak terlihat kembang kempis lagi. Matanya menutup dengan
sendirinya. Tubuh laila kaku dan dingin.
“ya Allah” ucap rani
“la, laila” panggil
ayahnya
“ya Allah laila” jerit
ibunya spontan
Dokter mendekat dan
memeriksa laila yang terbaring kaku. Dokter itu membolak-balikkan pergelangan
laila untuk memeriksa denyut nadinya. Jari dokter puji meriksa denyut dileher
laila dan merasakan hembusan nafas dihidungnya. Raut wajah dokter puji berubah,
tampak sedih. Semua orang penasaran dan menunggu jawaban dari dokter puji Dan
dia berkata.
“innalillahwainailahirojiun”
ucapnya lirih kemudian “laila sudah dipanggil Allah” ucapnya kembali
Seketika ruangan menjadi
pecah oleh tangisan. Mendengar itu hatiku hancur. Tangisku semakin deras. Aku
tidak tahu lagi yang akan kulakukan. Kutidak dapat melukiskan perasaanku saat
ini. Kumenatap amar dibelakangku. Dia melihatku dengan iba. Dia menangis lalu
memelukku.
“ya Allah” ucapku
“sabarkan hatimu. Tetap
dalam ketabahan dan ingat Allah” lirihnya
Aku terus meneteskan air mata. Aku ingin tabah.
Tapi aku tetap menangis. Ibu lalia menjerit memanggil-manggil anak semata
wayangnya namun laki-laki yang berdiri disamping kanannya itu mencoba unutuk
menyabarkan isterinya. Bu de rani menangis tak tertahankan. Rani memeluk laila,
sekali-kali ia memanggil laila yang terbaring kaku. Aku tahu perasaan rani saat
ini. Sakit hatiku tidaklah sebanding dengan sakit hatinya. Begitu pilu rupanya
rani. Sekali-kali ia memukul-mukul wajah laila namun dihalau oleh seorang
suster.
“tabahkan hatimu mbak!”
ucap suster itu
Tangisan rani langsung
meledak.
“laila... laila”
Perawat yang ramah itu
merangkul rani. Terus berusaha menghibur dan menenangkan rani. Rani merasa bumi
bagaikan berputar. Rasanya ia ingin jatuh. Ia juga merasakan seperti ada belati
yang dihunjamkan ke ubun-ubun kepalanya. Dalam pelukan perawat itu rani
pingsan.
Bagiku langit seolah
runtuh. Hujan semakin deras, langit pun ikut menangis akan kepergian kekasihku.
Suara hujan itu seperti jarum yang menusuk telingaku. Langit seolah hancur
menimpa kepalaku. Hidupku tak berarti lagi. Kekasihku telah pergi untuk
selamanya. Bidadari hidupku telah pergi meninggalkanku. Kepalaku panas. Darahku
semakin kencang mengalir, jantungku semakin kencang berdetak. Hidupku terasa
tidak ada gunanya lagi. Cahaya dalam hidupku telah hilang. Hidupku merasa
kegelapan tanpa cahaya yang minyaniri. Bumi mengelus punggungku. Matanya
bercucuran air mata. Aku semakin kencang manangis dalam dekapan amar.
“sabar, tabahkan hatimu bang. Abang harus kuat”
tutup bumi.
20
JIWA YANG
BANGKIT
Dua hari setelah wafatnya
laila. Aku mencoba untuk tegar dalam kesedihan. Banyak cerita yang aku lalui
tanpa bidadariku. Sayang dan cinta kami pada laila terlalu kecil dibandingkan
dengan rasa sayang Allah pada laila. Kubur laila masih basah, bunga-bunga yang
ditabur pun belum mengering. Kepedihanku masih terasa. Tidak enak rasanya menjalankan
aktivitasku di rumah maupun di kampus. Cahaya mentari pagi yang bersinar diatas
kubah Ash-Shahabah begitu kaku. Tidak seperti biasanya cahaya itu tidaklah enak
dipandang.
Rani masih dalam duka.
Sekali-kali dia termenung jauh. Terkenang pada sahabatnya yang jauh disana.
Hari-hari kami kini telah berbeda. Tidak ada lagi perempuan berkerudung yang
selalu mengajarkanku arti kehidupan. Tidak ada lagi perempuan yang hebat untuk
mengoreksi tulisanku. Sungguh aku sangat rindu dengan kekasihku Laila Purnama
Sari.
“assalamualaikum, rahmat?”
tiba-tiba seorang perempuan menghampiriku.
Aku terkejut. Dia berdiri
dibelakangku. Aku melihatnya. Dia adalah rani. Aku tersenyum dia pun
membalasnya. Pandanganku melihat kesamping rani, kumencoba untuk mencari-cari
mana tahu ada kekasihku berdiri disamping perempuan itu. Tapi “astagfirullah”
lirihku. Laila sudah tiada. Aku selalu mengenangi dimana ada rani pasti ada
laila disampingnya. Kini hanya ada rani seorang tidak ada laila disampingnya.
“wa’alaikumsalam ran!!”
ucapku
Rasanya aku tidak enak
untuk berbicara. Lidahku terasa lemah. Kata-kataku terasa hambar didengar.
“nanti malam ada pengajian
tiga hari dirumah laila. Bila ada waktu kita bisa hadir bersama-sama. Ajak amar
dan bumi sekali”
Aku menutupi mataku.
Kuhirup udara pagi. Begitu sejuk rasanya. Lalu aku membuka mata kembali “tiga
hari ya? Tidak terasa sudah tiga hari laila pergi meninggalkan kita”
“iya” lirih perempuan itu
dengan mata berkaca-kaca.
“insyallah” ucapku
Rani berusaha tersenyum.
Kudapat melukiskan senyuman rani. Senyuman itu adalah senyuman kesedihan.
Senyuman yang menyimpan pedih yang medalam. Dia berusaha menyimpan kesedihannya
dihadapanku. Aku tidak pernah menghadiri acara pengajian dirumah laila sejak
dia pergi. Aku tidak kuat untuk hadir. Kenangan-kenangan indah bersamanya masih
teringat dikepalaku. Aku takut kenangan itu membuatku tidak dapat melupakan
laila. Namun, aku berusaha untuk bangkit.
“amar mana?” tanya kembali
rani
“masih ada kelas. Sebentar
lagi dia kesini. Kamu mau kemana setelah ini?”
“mau kepusara laila.
Bacakan yasin. Kamu mau ikut?”
Ya Allah. Tabahkan hatiku.
Mataku berlinang mengenang itu. Kepalaku masih teringat wajah kekasihku
saat-saat terakhir dia dikuburkan. Wajahnya yang cantik bercahaya, senyumannya
yang tersungging dibibirnya masih jelas diingatanku. Aku takut bila pergi
ingatan itu melemahkan hatiku.
“lain kali saja. Kali ini
kamu sendirian saja ya!”
Rani tidak bertanya
mengapa. Mungkin dia paham perasaanku. Dia menganggukkan kepala.
“ya sudah, aku duluan mat.
Assalamualaikum” “waalaikumsalam” tutupku.
Mentari pagi semakin
meninggi. Aktifitasku dikampus terasa hambar. Kesedihanku masih terasa.
Kenangan dikampus bersama laila masih teringat dikepalaku. Dibawah pohon cemara
kududuk sendiri termenung jauh membayangkan sanda gurau bersama kekasihku
dahulu dibawah pohon ini. Masjid Ash-Shahabah begitu ramai mahasiswa menunggu
waktu shalat zuhur. Ada yang ngobrol, ada yang mengaji, ada yang sekedar
membaca buku. Mataku melihatnya dengan lesu. Aku semakin terpuruk dalam
kesedihan. Ditanganku sebuah buku terbaruku. Rencananya buku ini aku beri pada
laila. Aku sudah janji padanya untuk memberikan buku ini padanya. Dia selalu
bertanya-tanya tentang laila dalam buku ini. Aku masih ingat dia bertanya
padaku ketika kami sedang berkunjung ke kota seberang “apakah laila dalam
bukumu itu laila aku?” pertanyaan itu menjadi sebuah kenangan kini hanya yang
tinggal laila yang hidup tapi tidak berwujud hanya hidup didalam tulisanku.
Sekali-kali kupandangi bukuku yang berjudul Cahaya
Senja Untuk Laila berlinang air mataku ketika aku melihatnya. Rasa bersalah
terbesit dalam hatiku. Mengapa aku tidak memberi jawaban dahulu bahwasanya
laila dalam bukuku itu adalah laila dirinya. Laila bidadari yang cantik
rupawan.
“assalamualaikum?”
Aku terbangun dari
lamunanku. Aku lihat amar duduk disamping kiriku. Kuhapus air mataku yang
sedikit keluar dari kelopak mataku. Aku tersenyum sambil mejawab salam dari
sahabatku “wa’alaikumsalam”
Amar mengangkat alisnya
lalu dia tersenyum. Amar cukup tegar dalam menerima cobaan ini.
“nangis lagi?” sebutnya
Aku tersenyum malu. Aku
menunduk. Mataku masih terasa basah karena air mata.
“sampai kapan kamu mau
begini? Siang malam selalu bersedih. Seharusnya kamu harus terima takdir dari
Allah”
“bukannya aku tidak terima
takdir dari Allah. Tapi aku merasa terlalu cepat”
“mat. Hidup, jodoh dan maut
kita sudah terprogram di laumahfuz-Nya Allah. Kamu, aku, bumi, papa dan mama
kamu pasti akan mengalami hal yang sama. Kita sebagai makhluknya tidak boleh
bersedih berlebihan kita banyak berdo’a untuk almarhumah biar dia tenang
disana. Kalau kamu seperti ini, bagaimana kamu akan bangkit dari
keterpurukanmu.”
“aku masih rindu dengan
dia mar. Dialah yang mengubah hidupku. Dialah cahaya yang selalu bersinar
disetiap waktu. Dialah yang membuatku mengenal Allah lebih jauh”
“rahmat. Aku tahu, kamu
dan laila sudah ditakdirkan untuk bertemu, dan jodoh pertemuan kalian hanya
sampai disini. Kamu lihat Ibu dan ayah laila, mereka sayang teramat padanya
tetapi mereka sudah mengikhlaskan kepergian laila”
“aku mencoba untuk ikhlas.
Namun setiap hatiku mengikhlaskan kepergiannya malah bayang-bayang laila menari
dikepalaku”
“banyak-banyak ingat Allah
mat”
“sudah mar. Hatiku selalu
berzikir pada Allah tapi air mataku mengalir dengan sendirinya”
“astagfirullah mat” lirih
amar “apakah kamu sudah lupa dengan pesan laila waktu dirumah sakit. Dia
berpesan agar kamu jangan menangis dan bersedih ketika dia sudah tiada. Kamu
sendiri yang mengatakan iya. Tapi lihat kamu sekarang selalu bersedih, jangan
terlalu mengenang itu mat. Tidak baik. Sesungguhnya jangan kamu mencintai
makhluk Allah secara berlebihan itu tidak baik. Cintailah Allah sebagai cinta
pertama dan cinta sejatimu. Bila kamu mencintai Allah insyallah rasa sakitmu
akan terobati”
Aku tersenyum. Ada
benarnya kata sahabatku amar. Aku tidak boleh bersedih secara berlebihan.
Pertemuan dan perpishan aku dan laila sudah diatur oleh Allah dalam
skenarionya. Aku amat menyayangi laila tetapi laila milik Allah dan Allah lebih
sayang padanya.
Rencana Allah begitu sempurna.
Allah menitipkan laila dalam hidupku dalam beberapa tahun saja untuk mengubah
hidupku. Aku jauh dari Allah dan hampir melupakannya. Hidup dengan kegelapan
dengan penuh dosa, disaat kegelapan itu hampir menutupi hidupi ada sinar yang
masuk menerobos kegelapan itu. Dan kini sinar itu telah redup untuk
selama-lamanya.
“itu buku kamu terbaru?”
tanya amar sambil menunjuk buku ditanganku
“iya. Ini buku terbaruku”
“sudah siap?”
“sudah. Tinggal
diterbitkan. Mau baca?”
“boleh”
“tapi nanti. Aku sudah
janji sama rani untuk memberinya terlebih dahulu”
Aku mencoba untuk bangkit.
Amar telah mengajarkanku banyak arti tentang kehidupan. Banyak cerita kedepan
yang harus kami lalui bersama tanpa laila. Sedih, senang, pahit ataupun manis
biarlah waktu yang menjawabnya. Tak berkesudahan apabila aku terpuruk dalam
belenggu air mata.
Dirumah, bumi juga
berusaha menguatkanku. Sekarang dia sangat suka berdiskusi denganku. Bumi tidak
ingin melihatku bersedih kepanjangan. Dia berusaha menghiburku dengan membaca
beberapa koleksi buku karyaku padahal sebenarnya dia sangat tidak suka membaca
buku-buku fiksi.
“bagaimana bukunya sudah
dicetak?” tanya bumi seketika duduk disampingku
“sudah”
“boleh bumi pinjam untuk
baca?”
“boleh”
“cahaya senja untuk laila. Sepertinya menarik”
“baca saja dulu baru tahu
menarik atau tidak”
“ya pasti meanriklah,
semua buku-buku abang yang bumi baca semuanya bagus-bagus kata-katanya
sederhana tapi menusuk jiwa” sebutnya sedikit menggoda
“jangan berlebihan memuji
nanti abang bisa terbang. Kalau sudah terbang nanti susah turunnya”
“kalau susah turunnya,
pakai tangga saja atau pakai eskalator he..hehe” ucap bumi penuh tawa
Begitulah bumi menghiburku.
Suasana kamarku begitu ramai terasa. Terdengar tawa dan gurau dari bumi.
Kesedihanku menghilang seketika.
“kak rani sudah baca?”
“belum”
“kenapa?”
“abang merasa masih
bersalah pada laila. Dulu abang ingin dia menjadi orang pertama membacanya.
Setelah itu baru rani. Sekarang dia sudah tiada, berat rasanya hati abang
memberi buku ini pada rani”
“sudahlah bang, jangan dipikirkan
lagi. Yang terpenting abang harus tepati janji abang sama kak rani. Lagi pula
tidak salah kalau abang memberi buku ini padanya. Bumi rasa kak rani juga
senang bisa membaca buku abang. Dari dulu kan dia nunggu-nunggu buku ini”
“insyallah besok abang
beri padanya” tutupku
Keesokan harinya, masjid
Ash-Shahabah menunjukkan keindahannya. Lukisan asma Allah menghiasi
disudut-sudut masjid. Sungguh cantik rupanya. Kubahnya yang besar memancarkan
cahaya mentari pagi yang mulai meninggi. Janjiku pada rani akan kutepati hari
ini. Tangan kananku membawa buku terbaruku. Sedih rasanya hatiku karena laila
tidak sempat membacanya.
Ditempat biasa, kulihat
rani sudah menunggu. Kakiku melangkah mendekati perempuan berkerudung biru
duduk termenung jauh. Amar melangkah disamping kiriku. Kaki kami semakin cepat
melangkah karena cuaca begitu menyengatkan kulit.
“assalamu’alaikum” sapaku
ketika sampai dekat rani “wa’alaikumsalam. Rahmat, amar?”
“sudah lama ran?” tanya
amar membuka pembicaraan
“tidak, aku baru sampai
juga”
Kulihat senyum kecil
dibibirnya. Kulihat perempuan cantik itu. Mataku terasa aneh. Ada sesuatu yang
tidak asing dimataku. Aku mencari-cari sesuatu yang aneh itu. Apa? Sepertinya
ada sesuatu yang biasa aku lihat di perempaun lain dari rani. Sejenak aku termenung.
Dan akhirnya aku mendapat jawabannya. Jilbab biru muda itu. Itu adalah jilbab
laila yang biasa dia pakai ketika kuliah. Garis-garis biru tua melikar disetiap
ujung jilbab. Aku tersenyum. Mataku mulai berlinang. Hatiku sedih pikiranku
kembali mengingat laila. Tapi aku mencoba untuk tegar aku kuat. Aku tidak ingin
terlihat lemah dihadapan rani dan amar. Aku sudah berjanji pada laki-laki
disampingku ini untuk tidak bersedih lagi. Sesaat kami terdiam dan suasana
sunyi menghiasi pertemuan kami pagi itu. Lalu aku berkata
“ini untuk kamu” lalu aku
memberikan sebuah buku pada perempuan yang masih mengenang sahabatnya
“apa ini mat?” jawabnya
menarik buku itu dari tanganku “buku? Untuk aku” tuntasnya
“itu janjiku dulu padamu”
kataku
Rani melihatnya. Amar hanya
diam menundukkan kepala.
“Cahaya Senja Untuk Laila.” Sesaat dia diam “akhirnya selesai juga
buku ini. Sudah lama aku tunggu-tunggu aku penasaran dengan tokoh perempuan
yang kau katakan itu. Selain aku laila....” ucapnya seketika dia diam.
Mata rani berlinang
terkenang dengan sahabatnya. Selain dirinya, Laila juga menanti-nanti buku yang
dipengang oleh rani. Mereka sudah berjanji akan membacanya bersama ketika aku
menyelesaikan buku itu. Tapi janji itu tinggal kenangan. Kini hanya rani
seorang diri yang dapat membacanya.
Aku tersenyum tegar. Aku
mencaba menguatkan hatiku yang sebenarnya juga sedih. Amar melihat ke rani.
Linangan air mata rani menjadi butiran air yang mengalir pelan dipipi merahnya.
“iya, laila juga
menunggu-nunggu ingin membaca buku ini. Dulu dia sangat teringin sekali
membacanya, dia memaksaku untuk memberi jawaban siapa laila dalam bukuku itu,
tapi aku tidak memberi jawaban. Aku ingin dia sendiri yang mencari jawabannya.
Waktu itu buku ini juga belum selesai dan sekarang sudah selesai tapi sayangnya
laila sudah tiada. Allah lebih sayang padanya”
Rani semakin sedih
mengingat itu. Air matanya semakin deras keluar. Matanya masah, wajahnya
memerah. Amar mencoba untuk meleraikan suasana agar tidak tegang.
“tapi laila pasti senang
kalau kamu sudah menyelesaikan buku ini. Walau pun dia tidak bisa membacanya,
setidaknya sahabat baiknya bisa memwakili menemukan jawaban dari pertanyaan
laila” amar mulai menenangkan rani.
Tangisan rani semakin
kencang, isaknya terdengar ditelingaku. Amar terheran. Adakah salah dari
ucapannya? Begitu kiranya dia bertanya dalam hati.
Aku tersenyum untuk
menguatkan rani yang menangis. Aku melirih.
“sudah ran kamu jangan
bersedih seperti itu lagi tidak baik. Aku tahu kamu sayang pada laila. Tapi
Allah lebih sayang padanya. Laila itu hanya titipan Allah. Kita harus terima
bahwasanya laila itu bukan milik kita selamanya. Kita semua akan menempuh
masa-masa kematian juga. Untuk sekarang yang terpenting kita selalu ingat Allah
dan mendo’akan laila, jangan terlarut dalam kesedihan ran, jika laila tahu
kalau sahabatnya selalu sedih pasti dia akan marah padamu”
Kata-kataku langsung
mengenai jiwa rani. Dia melihatku. Dia tersenyum. Aku melihat hatinya sedikit
tegar. Dia menghapus air matanya. Amar melirikku. Dia memasang wajah bingung
melihatku berbicara setegar itu pada rani. Dia tersenyum bangga. Jiwaku mulai
bangkit dari kesedihan. Aku banyak belajar dari laila kekasihku. Selama ia
sakit aku tidak pernah ia mengeluarkan air matanya walaupun aku tahu dia sangat
kesakitan. dia wanita yang kuat dan tegar. Keikhlasan hatinyalah yang membuat
dia menajdi perempuan yang tegar menerima cobaan dan takdir sang Ilahi.
Laila telah pergi untuk
selamanya. Dia menunggu kami di syurga Allah. Didunia ini kami akan membekali
diri dengan ketakwaan pada Allah seperti yang diajarkan oleh laila pada kami.
“jika kita mau bertemu Allah, maka banyaklah bertakwa padanya”
Kini aku telah membuka
cabang tokoh buku yang baru. Sudah ada tiga cabang yang tersebar. Alhamdulillah
selalu ramai dikunjungi oleh para penikmat dan pencita Allah. Aku, amar dan
rani juga membuka swalayan untuk siswa, mahasiswa dan masyarakat umum. Selain
menjual buku-buku islami kami juga menyediakan segala kebutuhan alat tulis,
percetakan, printing, dan studio foto. Swalayan itu kami berinama swalayan
Purnama Sari. Kami ambil dari nama sahabat terbaik kami kekasihku Laila Purnama
Sari.
Kami memperkejakan sekitar 1000 karyawan,
alhamdulillah usaha kami berjalan dengan baik. Setengah dari penghasilan kami
sumbangkan pada panti asuhan dibawah naungan kampus kami. Selain itu, kami juga
memberikan beasiswa kepada anak-anak miskin yang memiliki semangat tinggi untuk
menuntut ilmu.
21
DAN CAHAYA SENJA
UNTUK LAILA
Kepergian laila telah
sampai ketelinga langit sahabat SMA ku. Ketika mendengar kabar itu, dia
langsung menelponku. Langit kaget. Dia menangis. “mengapa secapat ini? Aku
sudah berjanji padanya untuk menemuinya setelah lulus kuliah nanti” begitulah
kata bumi yang kudengar lewat telepon itu. Isak tangisnya membuat suara bumi
tidak jelas didengar oleh telingaku. Bumi ikut berduka cita atas kepergian
laila. Rasa cinta dulu pada laila masih terselip dihati kecilnya. Aku tahu itu.
Tapi, ah sudahlah kenyataanya Allah lebih sayang pada laila.
Keindahan kota seberang
masih memikat mataku. Jembatan yang berdiri diatas sungai yang mengalir itu
sungguh menawan. Pesantren As’ad tampak dari kejauhan. Cahaya sore yang
berwarna kuning keemasan memanjakan mataku. Sungguh indah rupanya. Cahaya senja
itu seperti cahaya senja yang pernah ada ketika aku dan laila berjalan berdua
melintasi jembatan ini. Masih ingat aku bertanya pada laila “apakah kau mau cahaya senja itu menjadi milikmu
seorang?”
Waktu itu laila bingung
mendengar pertanyaanku. Sesaat dia menatap wajahku dengan bingung. Dan dia berkata
“apakah bisa kau mengambilnya dan
memberikan padaku?”
“bisa” jawabku
“caranya?”
“suatu saat akan kutunjukkan. Dan
cahaya senja itu akan menjadi milikmu. Laila” lalu laila terseyum malu.
Kini cahaya
senja itu telah miliknya. Dalam bukuku telah aku berikan cahaya senja itu
padanya.
Dalam bukuku
laila sangat senang ketika aku beri cahaya senja yang begitu elok dan rupawan
padanya. Wajahnya seperti berbunga-bunga.
Betapa banyak manusia yang menjalani hidup apa adanya, biasa-biasa saja,
ala kadarnya. Hidup dalam keadaan terbelenggu oleh siapa dirinya sebenarnya.
Hidup dalam tawanan rasa malas, langkah yang penuh keraguan dan kegamangan.
Hidup tanpa semangat hidup yang seharusnya. Hidup tanpa kekuatan nyawa terbaik
yang dimilikinya.
Saya amati orang-orang di sekitar saya. Di antara mereka ada yang telah
menemukan jati dirinya. Hidup dinamis dan prestatif. Sangat faham untuk apa ia
hidup dan bagaimana ia harus hidup. Hari demi hari aku lalui dengan penuh
semangat dan optimis. Detik demi detik yang aku dilalui adalah kumpulan
prestasi dan rasa bahagia. Semakin besar rintangan menghadap semakin besar pula
semangatk untuk menaklukkannya.
Namun tidak sedikit yang hidup apa adanya. Mereka hidup apa adanya
karena tidak memiliki arah yang jelas. Tidak faham untuk apa dia hidup, dan
bagaimana ia harus hidup. Saya sering mendengar orang-orang yang ketika
ditanya, ”Bagaimana Anda menjalani hidup Anda?” atau ”Apa prinsip hidup Anda?”,
mereka menjawab dengan jawaban yang filosofis,
“Saya menjalani hidup ini mengalir bagaikan air. Santai saja.”
Tapi sayangnya mereka tidak benar-benar tahu filosofi “mengalir bagaikan
air”. Mereka memahami hidup mengalir bagaikan air itu ya hidup santai.
Sebenarnya jawaban itu mencerminkan bahwa mereka tidak tahu bagaimana mengisi
hidup ini. Bagaimana cara hidup yang berkualitas. Sebab mereka tidak tahu siapa
sebenarnya diri mereka? Potensi terbaik apa yang telah dikaruniakan oleh Tuhan
kepada mereka. Bisa jadi mereka sebenarnya adalah “seekor singa” tapi tidak
tahu kalau dirinya “seekor singa”. Mereka menganggap dirinya adalah “seekor
kambing” sebab selama ini hidup dalam kawanan kambing.
Setiap orang telah disiapkan oleh Allah cobaannya masing-masing. Entah
itu cobaan baik ataupu tidak. Tinggal lagi bagaimana kita sebagai makhluknya
menyikapi cobaan itu. Dengan keimanan dan ketakwaan yang istiqomah insyAllah
cobaan seberat apapun akan terasa ringan. Demikian pula cobaan yang aku lalui.
Dimulai dari cobaan yang berat bagi diriku. Terbelenggu dalam maksiat dan
dosa-dosa. Datang seorang perempuan yang mengubah hidupku. Kedekatanku
dengannya menumbuhkan benih-benih cinta diantara aku dan dia. Cintaku dan dia
adalah cinta yang suci tidak ternoda oleh maksiat insyAllah. Cinta yang datang
dari hati. Dia banyak mengajarkanku untuk mengenal Allah. Dia banyak mengajakku
untuk mengenal siapa diriku sebagai ciptaan Allah. Apa bakat yang Allah
titipkan padaku. Namun, aku sadari rasa sayangku padanya tidaklah sebanding
dengan rasa sayang Allah padanya. Disaat aku telah mengenal Allah dan tahu
siapa jati diriku Allah mengambilnya dariku. Cobaan terberat yang aku jalani
dari Allah. Dengan lapang dada aku terima segenap takdir yang Allah rencanakan.
Satu hal yang aku ambil dari kisahku. Janganlah mencintai sesuatu itu
secara berlebihan. Janganlah mencintai sesuatu itu dengan hati. Ketika Allah
mengambilnya dari kita, maka hati akan terasa sakit. Maka cintailah Allah
dengan sepenuh hati ketika sesuatu yang kita cintai diambil olehnya maka Allah
senantiasa ada dihati kita.
Dalam tulisan terakhir dibukuku yang berjudul Cahaya Senja Untuk Laila, aku menulis
sebuah kalimat mengatakan padanya “maafkan aku laila telah menjadikan kamu
cinta keduaku. Sesungguhnya Cinta
pertamaku adalah Allah”