Laki-laki
bermata sipit
Rintik
hujan tak kunjung juga reda, tetesan air membasahi tanah yang kering terdengar
merdu bernyanyi ditelingaku, suara hujan lebih enak kudengar daripada suara
radio anggi adikku. Mataku termenung dibalik kaca bening berembun putih. Langit
begitu kelam terlihat cahaya putih menari hebat di langit hingga terdengar
suara gemuruh membuat gaduh rakyat bumi. Sekali-kali kupandangi fotoku di
dinding dekat kertas putih yang berisi tulisan dari sahabatku alan. Sejenak
kutermenung, kuteringat orang-orang didalam foto itu yudi, rahmat, dan alan.
Merekalah orang-orang yang telah memberi warna dalam hidupku. Dua tahun setelah
kelulusan SMA mereka pergi dengan kehidupan mereka masing-masing. Yudi pergi ke
jakarta melanjutkan studinya di UI fakultas ekonomi dan kita selalu cerita
walau lewat dunia maya, rahmat kudengar dia melanjutkan kuliahnya di malaysia
tepatnya Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) pada jurusan hukum internasional
universitas kabanggaannya dari dulu dan kita juga selalu memberi kabar lewat
email dan twitter. Dan alan. Ku tak tahu kabarnya sekarang, setelah SMA dia
pergi tanpa meninggalkan pesan dan kata-kata pamit darinya.
“nangis
lagi?” sebut anggi adikku
Mendengar
itu, aku terbangun dari lamunanku. Kumelihat anggi adikku tetapi dia tidak
melihatku. Dia asik dengan radionya. Kuhapus air mataku yang sedikit mengalir
di kelopak mataku.
“sampai
kapan abang akan begini? Setiap malam anggi lihat abang selalu menatap foto itu
dengan air mata”
“abang
Cuma rindu dengan sahabat-sahabat abang” ucapku memandang anggi
Anggi
tak juga melihatku, dia hanya sibuk menyetel radionya mencari chanel
paforitnya. Aku tersenyum, kupandangi kembali foto yang tergantung di dinding
itu. kupandngi wajah orang-orang yang ada di dalam foto, terakhir yudi dan
rahmat mengirimkan foto terbaru mereka terlihat wajah mereka tidak jauh berubah
dari foto yang ada di dinding itu. Tapi aku tidak tahu dengan wajah alan
laki-laki bermata sipit itu.
“bukankah
tadi siang abang chating lewat facebook dengan orang-orang itu?”
“iya...”
sebutku
“bagaimana
kabar mereka? Mereka baik-baik saja kan?”
“iya
mereka baik-baik saja”
“lalu
apa lagi yang abang sedihkan?”
“alan”
ucapku
Mendengar
itu anggi adikku tidak berkata. Dia hanya menggelengkan kepalanya sambil
memutarkan chanel radio miliknya, dan akhirnya chanel itu pun di dapatnya. Anggi
melihatku. dia melangkah mendekatiku yang berdiri memandangi foto-foto masa SMA
ku. Gemuruh hujan terdengar dengan jelasnya, rintiknya semakin deras membasahi
jendela kamarku hingga hawa dinginya terasa dikulit. Sementara itu suara radio
anggi tidak begitu jelas kudengar karena terhalang oleh derasnya air hujan.
“sahabat
itu akan sedih bila melihat sahabatnya terjatuh” cetus anggi lalu “bila rindu
yang dalam mencuat dalam hati ini pada orang-orang yang jauh disana, hanya do’a
yang bisa kita berikan” sambungnya
“abang
selalu berdo’a yang terbaik untuk sahabat-sabahat abang”
“tapi
do’a abang tidak diiringi dengan keikhlasan”
“maksud
adik?”
Kupandangi anggi adikku yang berdiri
disampingku dengan rasa penasaran dengan ucapanya itu. Anggi kembali melihatku,
dipandanginya mataku yang sedikit berair. Alis mataku sedikit keatas menunggu
jawaban dari anggi atas pertanyaanku. Anggi tersenyum melihat ekspresi wajahku.
Dia sungguh aneh ucapku dalam hati.
“iya,
selama ini abang melepaskan sahabat-sahabat abang dengan rasa tidak ikhlas”
Aku
tertawa kecil mendengar ucapan anggi, lalu anggi kembali melihatku. kini
giliran anggi melihatku dengan aneh. Aku menggelengkan kepalaku mendengar
perkataan anggi adikku. Kembali ku pandangi foto itu. aku diam tak bersuara,
begitu juga dengan anggi hanya terdengar suara musik dari radio.
“apa
yang anggi bicarakan ini?” ucapku tak melihat ke arah anggi “dari dulu abang
sudah ikhlas melepaskan mereka pergi, dari SMA kita sudah berjanji ketika kita
berpisah kita tidak akan sedih satu sama lain”
“tapi
buktinya abang sekarang selalu bersedih, bukan?” ucap anggi kemudian “bukankah
abang sudah berjanji dengan orang-orang itu tidak lagi bersedih mengenang
mereka ketika berpisah? Jangan abang siksa diri abang dengan kesedihan, biarkan
mereka menjalankan hidupnya masing-masing”
“abang
tidak memikirkan yudi dan rahmat tapi abang Cuma rindu dengan sahabat abang
alan”
Kembali
anggi melihatku, dia tersenyum. Namun aku tidak melihat ke arahnya. Dia
memegang punggungku lalu dia memukulnya dengan pelan. Pukulan itu memaksaku
untuk melihat kearahnya.
“coba
abang lihat tulisan itu” tunjuknya
Aku
mengikuti perintah anggi untuk melihat tulisan didinding itu. tulisan itu
membuatku semakin teringat pada alan. Ah, anggi membuatku teringat pada
sahabatku itu.
“tulisan
terakhir dari kata-kata abang alan itu” ucapnya
Mataku
semakin menatap kearah tulisan itu, rasa penasaran dengan tulisan yang ditunjuk
oleh anggi adikku. Tidak ada yang berarti. Tulisan itu tidak ada yang istimewa
sama sekali hampir setiap hari aku membacanya namun tidak ada yang membuatku
penasaran dari tulisan itu. Otakku mencoba untuk menjelaskan arti dari alimat
itu. Namun, tidak bisa juga.
“abang
alan berpesan jangan menggantukan dirimu pada orang lain tetapi percayailah
dirimu sendiri”
Kudapat
melihat kalimat itu. kata-kata itu terdapat pada kalimat terakhir dari tulisan
alan. Dan kalimat itu selalu aku baca namun tidak begitu berarti bagiku.
“iya,
abang melihatnya. Namun tidak ada yang berarti kalimat itu”
“abang..
abang. dari kalimat abang alan itu sudah jelas. Dia berpesan pada abang agar
hidup abang tidak bergantung pada orang lain”
“abang
tidak pernah bergantung pada orang lain. Abang bisa mengerjakannya sendiri”
“iya
anggi tahu. Raga abang tidak, tapi jiwa abang?” ucap anggi
Aku
melihat anggi, ucapannya membuatku tidak mengerti. Aku mencoba untuk mencerna
dari ucapannya namun ucapannya begitu dalam hingga aku tidak dapat
menjelaskannya.
“maksud
kamu?” tanyaku
Anggi
menjauhiku, dia melangkah mendekati radio yang bersuara merdu itu. Suara hujan
begitu bising terdengar. Itu yang membuat anggi mendekati radionya karena suara
radio itu lebih enak didengar. Sesaat aku menunggu jawaban dari anggi yang tak
kunjung memberi penjelasan.
“raga
abang tidak pernah bergantung pada orang lain. Tetapi jiwa abang tetap saja
bergantung pada orang-orang yang ada didalam foto itu”
Kalimat
anggi membuatku semakin tidak mengerti. Kepalaku terasa sakit untuk menjelaskan
ucapannya. Aku melihat kearah anggi. Dia pun membalas pandanganku. Dia
tersenyum melihatku. lalu anggi berdiri mendakatiku kembali.
“apa
maksud adik?” tanyaku kembali pada anggi adikku.
“selama
dua tahun jiwa abang tidak ada bersama raga abang. Jiwa abang terbawa oleh
orang-orang itu. bang, kita boleh saja rindu pada sahabat kita. Tapi jangan
sampai rindu itu membunuh raga kita sendiri”
Aku
terdiam mendengar ucapan anggi adikku, kata-kata anggi tepat menusuk hatiku dan
membuatku sedikit membuka hatiku.
“biarlah
kenangan abang bersama orang-orang itu menjadi saksi bisu perjalan persahabatan
abang. Biarlah kenangan itu yang menjaga pikiran abang bersama sahabat-sahabat
abang. Rindu abang tidak bisa bergantung terus menerus bersama orang-orang itu.
abang merindukan sahabat-sahabat abang tetapi abang mengabaikan raga abang.
Lagi pula abang alan pernah berpesan bila berpisah abang alan tidak akan pernah
melupakan sahabat-sahabatnya. Abang. Biarlah rindu ini tinggal dalam hati
tetapi jangan biarkan dia makan hati abang hingga rindu itu menguasai raga
abang itu tidak baik, bang”
Ucapan
anggi adikku membuatku termenung, sekejap mataku tak berkedip. Hatiku sangat
tersentuh. Mungkin benar ucapan anggi, selama ini rinduku pada orang-orang itu berlebihan
hingga rindu itu membuat ragaku tak bisa kupertahankan. Ucapan anggi membuat
mataku terbuka. Kini kusadar rindu yang ada pada raga ini tidaklah baik
untukku. Biarlah rindu yang dalam ini menjawab pertanyaanku selama ini pada
laki-laki bermata sipit itu.