Sabtu, 25 September 2021

BERKAH BELAJAR DI RUMAH

 

Jujur saja, aku sangat kesulitan belajar daring. Selain karena pelajaran kurang mengena, aku punya masalah lebih pelik. Kekurangan fasilitas internet. Gawai di rumahku hanya ada enam. Dipakai untuk delapan orang. Sebenarnya anggota keluargaku ada sembilan, tetapi adik bungsuku belum bersekolah. Mungkin sah-sah saja bagi kalian enam gawai  untuk delapan orang. Tetapi kalian harus tahu tentang hal ini sebelum kalian menyimpulkannya.

Jadi enam gawai tersebut terdiri dari empat handphone, itu pun sudah lama, kecuali handphone Ibu yang dibeli untuk keperluan bekerja (awalnya Ibu tidak memiliki handphone), dan dua laptop. Satu laptop Bapak, dan yang satunya adalah laptopku. Kubeli memakai uangku sendiri, hasil mengikuti beberapa lomba.

Yang sering dipakai untuk keperluan belajar adalah tiga gawai. Yaitu laptopku, handphone Ibu, juga handphone Bapak. Karena laptop Bapak dipakai untuk bekerja dan juga dua handphone lainnya adalah milik dua abangku, jarang mereka mengizinkan untuk memakai handphonenya. Yang memakai tiga gawai itu untuk keperluan belajar ada tiga orang. Aku dan dua adik laki-lakiku. Tetapi masalahnya, yang memakai untuk keperluan bekerja adalah orang tuaku. Jarang kami bisa memakainya untuk belajar. Yang tersisa hanya laptopku. Tetapi menjadi percuma, karena tidak memiliki jaringan.

***

 Aku memiliki banyak hambatan dalam belajar daring, karena ketiadaan gawai. Hanya saat ujian saja aku bisa memakainya. Di luar ujian, memakai gawai yang memiliki jaringan internet itu merupakan sesuatu yang sulit.

Karena aku tidak belajar, aku memutuskan untuk beralih ke kesibukan yang lain. Semenjak ibu bekerja, aku yang mengerjakan tugas rumah. Menyapu, mengepel, dan memasak. Menyapu dan mengepel paling menyebalkan. Aku memulainya dengan membereskan ruang keluarga. Mengusir orang yang masih santai sembari menonton Televisi. Menyuruhnya jangan bersantai-santai. Lakukan sesuatu, jemur baju, cuci piring, atau apalah. Lalu mulai menyapu, dilanjutkan dengan mengepel dan membereskan kamar.

Setelah kamarku bersih, aku pergi ke dapur. Yang pertama kulakukan adalah memindahkan piring, peralatan masak, yang sudah kotor ke bak cuci piring. Lalu menyusun peralatan yang sudah dicuci di rak kaca. Mengelap meja makan. Dan yang sungguh menyebalkan adalah mengelap kompor.

Sebenarnya tidak sulit membereskannya. Yang sulit adalah aku dengan perasaan lapang dada ketika mengelapnya. Aku keberatan sekali aku harus mengelap kompor. Karena, bukan aku yang menyebabkan kompor kotor. Aku selalu menggunakannya dengan hati-hati agar tidak ada noda yang jatuh ke kompor setelah aku bersihkan. Kalaupun ada noda yang mengenai kompor, aku langsung mengelapnya sampai bersih semula. Tetapi jika orang lain yang memakainya, kompor bertumpah banyak noda. Banyak sekali noda yang aku temukan disana. Bekas nasi goreng, noda bumbu, garam, minyak, tepung, dan noda-noda yang lainnya. Tetapi aku tetap mengelap kompor meskipun aku kurang senang melakukannya. Karena itu akan berdampak pada pekerjaanku. Aku tidak suka ketika aku memasak dengan dapur yang keadaannya berantakan.

Setelah ketiga ruangan itu bersih, aku melanjutkannya dengan memasak tentunya. Karena dapurnya telah aku bersihkan, memasak jadi lebih menyenangkan. Berhubung dengan memasak, tentu kita memerlukan bahan-bahan. Dan bahan-bahan itu didapatkan dengan membelinya. Jadi tugasku berbelanja. Untungnya, kami memiliki tukang sayur langganan. Yang setiap hari  mendatangi setiap rumah. Jadi aku tidak perlu repot-repot ke pasar untuk membeli bahan-bahan masakan. Karena kendaraan dirumahku jarang ada.

***

 Awalnya aku tidak bisa memasak lauk pauk. Jadi aku selalu membeli sesuai pesanan ibu ketika belanja, dan menanyakan cara mengolah bahan-bahan yang ibu pesan tadi. Awalnya yang paling sering aku masak adalah kangkung. Aku mengolahnya menjadi cah kangkung. Itu selalu enak. Bosan memasak kangkung, aku mulai bertanya pada ibu bagaimana cara membuat buncis tahu kecap. Ibu memberi tahu resepnya, lantas aku membeli bahan-bahannya dan mulai mencoba resep dari ibu. Ternyata berhasil. Mudah sekali. Aku mencoba membuat sop ayam. Aku meminta resepnya kepada ibu. Aku coba untuk membuatnya. Sukses. Aku mulai lihai dalam hal memasak.

Aku pun mulai tertarik untuk membuat berbagai macam kue dan roti. Untuk roti dan kue, resepnya tidak kudapatkan dari ibu. Karena ibuku kurang ahli dalam membuat roti dan kue bolu. Jadi aku berselancar di dunia maya. Mencari resep dari beberapa kanal Youtube. Aku membuatnya untuk keluargaku. Terkadang aku ingin memberi tetangga kue buatanku. Tetapi, aku malu karena boluku belum sebagus buatan tetanggaku.

 Seiring berjalannya waktu, karena aku selalu belajar untuk memperbaiki kesalahanku, boluku semakin hari semakin enak. Saat ibu membawanya ke tempat kerja, temannya tidak menyangka brownies yang ibu bawa adalah buatanku. Karena rasanya seperti yang dijual di gerai yang sudah terkenal di Indonesia. Seperti brownies Amanda.

Aku menjadi percaya diri untuk berjualan bolu dan roti. Awalnya aku mencoba untuk berjualan roti sobek. Ibu membelikan bahan-bahan yang aku perlukan. Aku menghitung modal dan menetapkan harga yang sesuai. Pelanggan pertamaku adalah teman ibu. Beliau membelinya agar aku semakin semangat berjualan. Beliau memesannya melalui via whatsapp.

Awalnya, aku yakin sekali roti sobekku akan matang dengan hasil yang memuaskan. Tetapi, ketika mengeluarkannya dari oven, ternyata rotiku mengkerut di bagian atasnya. Bagian bawahnya pun keras. Sepertinya karena terlalu lama di oven. Akhirnya roti sobek itu tidak jadi dijual. Roti sobek itu langsung diserbu dengan saudaraku. Mau hasilnya seperti apa juga, mereka tetap memakannya.

Apakah ada yang salah dengan adonannya? Atau mungkin teknik memanggangku yang salah. Aku tidak putus asa, aku mencobanya lagi. Dengan resep yang berbeda, yang lebih meyakinkan. Tetapi hasilnya sama saja.

Atau mungkin karena ovenku. Ovenku memakai oven tangkring. Agak sulit memang. Apalagi ovenku tidak ada api atas, jadi mungkin matangnya tidak merata. Itu yang menyebabkan bagian bawah roti, matang lebih cepat sehingga mengeras. Bagian atas rotinya malah mengkerut. Aku memilih untuk tidak melanjutinya. Masalahnya ada di ovennya. Itu berarti harus membeli oven yang memiliki api atas dan api bawah, agar roti matang sempurna. Tetapi aku belum memiliki uang untuk membeli oven. Aku harus mencari jenis makanan yang paling mudah aku buat dan paling digemari pembeli.

***

“Adinda, kamu sudah menemukan makanan untuk dijual? Ada sekolah berasrama yang belum memiliki jajanan. Mereka ingin menjual makanan yang sehat dan enak.”

Ibuku menawarkan lagi untuk berjualan. Nantinya daganganku dititipkan di toko sekolah tempat ibu mengajar. Aku mulai mencari-cari dagangan apa yang harus aku buat. Ketika mengutak-atik internet, aku menemukan sebuah resep yang cocok untuk berjualan.

Awalnya aku ingin berjualan bolu, tapi setelah kupikir-pikir bolu terlalu biasa. Orang mungkin bosan dengan bolu. Karena pangsaku adalah anak-anak asrama, mungkin mereka membutuhkan sesuatu yang segar. Kutemukanlah resep puding sedot.

Aku mencobanya terlebih dahulu. Pertama aku membuat puding sedot, ketika puding sedotnya kumasukkan ke dalam kulkas dan setelah dingin, puding sedotnya pecah dan menyebabkan warnanya terpisah, sehingga membuat pudingnya berair.  Selain penampilannya menjadi kurang layak dan kurang menarik, puding menjadi cepat basi.

Aku mulai ragu, bisakah aku meneruskan usaha ini, atau aku menyerah saja…?

“Ibu, sepertinya aku tidak mau membuat apapun lagi, aku tidak mau jualan, aku selalu gagal, aku kesal….”

 Ibu memberitahuku, mungkin karena aku tidak mengaduknya secara terus menerus. Memang, aku meninggalkan panci yang berisi puding yang sedang dimasak sampai mendidih. Aku tidak mengaduknya. Karena aku merasa pegal jika mengaduknya terus menerus. Tetapi mau bagaimana lagi, hanya itu kuncinya untuk membuat puding sedot menjadi tidak berair lagi.

Baiklah. Aku mencobanya sekali lagi. Kali ini tanganku tangguh mengaduk panci yang berisi puding. Aku mengaduknya dengan whisk secara perlahan. Agar pudingku tidak bertumpahan. Lima menit cukup untuk memasak puding menjadi matang. Aku memasukkannya ke dalam kulkas, setelah aku menuangkan puding yang telah dimasak ke dalam kemasan. Aku menunggu pudingku dingin. Kali ini bisakah pudingku menghasilkan penampilan yang bagus? Harap-harap cemas aku menunggunya.

Aku membuka kulkas, memastikan pudingku sudah dingin. Setelah aku cek, pudingku sudah dingin. Aku tersenyum senang. Kali ini, pudingku tidak pecah, hasilnya memuaskan. Aku semakin percaya diri untuk berjualan.

Setelah kurasa aku sudah menemukan kunci untuk membuat puding sedot yang enak, Aku meminta ibu untuk membeli bahan-bahan yang aku perlukan. Semuanya kulakukan sendiri. Bermodalkan spidol permanen, aku menggambar kemasannya agar menarik. Karena aku tidak terlalu pandai menggambar, aku suka menjiplak gambar yang ada di sampul buku tulis. Atau yang mudah, aku menggambar wajah dengan ekspresi yang berbeda-beda.

Tak disangka, ternyata puding sedotku laku. Bahkan dalam sehari, 50 bungkus habis. Uang hasil jualan itu aku tabung. Karena aku tergoda sekali untuk membeli logam mulia. Karena ibu kerap mengatakan kepadaku kalau harga emas itu selalu naik setiap tahunnya.

Aku ingin mulai membelinya dari ukuran yang kecil. Seberat 1 gram. Tak mudah perjuanganku untuk mewujudkan anganku. Aku setiap hari harus memproduksi 50 puding sedot. Dengan jumlah itu aku mengumpulkan uang lebih banyak. Setiap kemasan kuhargai sebesar Rp 3000, 00 . Jadi omsetku Rp 150.000, 00 setiap harinya. 

Waktu yang kuperlukan untuk memproduksi 50 puding sedot rata-rata adalah sekitar 3 jam. Namun begitu, aku tetap melaksanakan tugas rumahku, yaitu menyapu, mengepel, memasak. Karena itu jika malam tiba, adalah waktu yang paling nikmat untuk merebahkan diri. Tubuhku pegal sekali seharian bekerja tiada henti.

***

 “Ibu, ayo kita beli emas!”

“Uangmu sudah cukup?” tanya ibu.

Aku mengangguk mantap. Lalu menunjukkan uangku.

 “Tentu sudah,” jawabku.

Akhirnya, kerja kerasku terbayarkan. Ibu menghubungi temannya yang menjadi agen penjualan emas batangan. Kami mendatangi rumahnya dan akhirnya, aku menggenggam emas 1 gram itu. Hasil kerja kerasku.  

Selain berjualan, aku pun kini berburu berbagai lomba. Rencananya, jika aku memenangkan lomba tersebut, uangnya akan kubelikan sesuatu yang bermanfaat.

Disamping membeli sesuatu yang bermanfaat, dan bernilai ekonomis juga dapat menghasilkan sesuatu, aku suka membelanjakannya untuk menambah koleksi bukuku. Tetapi aku membelinya bukan hanya untuk sekedar suka. Aku membelinya sebagai bahan amunisi untuk menambah perbendaharan kosakata dan wawasanku dalam berkarya. Aku tidak suka membeli sesuatu yang hanya untuk kesenangan sementara. Misalnya, gawai, yang aku anggap belum aku perlukan untuk saat ini. Karena, aku bisa meminjamnya dari orang tuaku. Gawai menurutku hanyalah suatu pemborosan uang dan waktu. Kita jadi harus membeli kuota, dan menghabiskan waktu bermain gawai.

Namun, masa pandemi ini merubah segalanya. Kegiatan belajar-mengajar tidak bisa lagi dilakukan dengan tatap muka, atau datang langsung ke sekolah. Pembelanjaran kini dilakukan dengan cara jarak jauh. Itu berarti diperlukan gawai sebagai medianya. Karena itu aku merasa perlu untuk membeli gawai, agar aku dan adik-adikku bisa mengikuti pelajaran yang diberikan guru-guru kami melalui gawai. Gawai yang tadinya merupakan kebutuhan tersier, atau kebutuhan yang bisa diabaikan, sekarang menjadi kebutuhan utama atau premier, bagiku sebagai seorang pelajar.

Untuk meminta kepada orang tuaku, aku enggan. Karena bagiku, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Karena itu aku berburu berbagai lomba cerpen yang berhadiah uang, seperti lomba cerpen ini. Harapanku, jika aku memenangkan lomba ini, aku akan membelikan gawai untuk keperluan belajar, aku dan adik-adikku.

Dari semua kejadian itu aku belajar untuk terus produktif semasa di rumah. Masa di rumah bukanlah masa untuk berleha-leha. Tetapi masa untuk belajar, belajar untuk menjadi lebih baik. Masa untuk memikirkan bagaimana keadaan kita setelah pandemi berlalu. Apakah kita ingin tetap sama seperti saat ini. Atau kita akan berubah lebih maju.

Belajar tidak hanya di sekolah. Di rumah kita belajar untuk membantu orang tua. Mungkin dulu kita tidak pernah bisa memasak. Tapi karena di rumah kita lapar, dan terpaksa untuk memasak kita jadi bisa memasak. Kita belajar untuk mengurus rumah. Tetapi tentu saja pendidikan sekolah juga penting. Seimbang ilmu  yang kita miliki. Di sekolah kita belajar berhitung, pengetahuan. Di rumah kita membutuhkan ilmu yang tidak akan didapatkan hanya dari buku pelajaran. Seperti pengalaman. Ilmu bersabar. Ilmu untuk menghargai. Saling mencintai dan menghargai dengan sesama keluarga. Bukan hanya semata-mata tahu dan hapal tentang toleransi di mata pelajaran PKN, tapi kita dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari di rumah. Lingkungan dan rumah adalah tempat untuk kita mengaplikasikan ilmu yang kita pelajari di sekolah.

Kawan, jangan pandang pandemi dengan benci. Jadikan ia sebagai motivasi untuk terus berinovasi. Jangan hanya duduk tergugu. Tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tapi bangkitlah, dan tunjukkan bahwa kita masih tetap berkarya walau dari rumah. 

Tetaplah mematuhi protokol kesehatan. Demi keselamatan dan keamanan. Jangan lupa untuk olahraga, makan makanan yang bergizi, menjaga pola tidur dengan cara tidak tidur larut malam. Dan yang lebih penting adalah, meningkatkan iman, agar meningkat imun kita. Semoga pandemi cepat berlalu. 

BENIH PESONA JORA

 

Matahari terbenam indah, kawanan burung burung beranjak pulang, warna jingga menguasai langit, pesonanya lekat dan menawan, senja tiba lagi, mengingatkan kembali atas pahit dan manis sebuah pencapaian, seolah memutar kembali denyut waktu keadaan, dalam sekejap  membuat siapapun terhenyak oleh syahdu, banyak yang berubah dalam hidupku, tapi aku masih Jora yang dulu, Jora sepuluh tahun lalu, gadis keras kepala yang selalu ingin tahu.

***

Sepuluh tahun lalu,

Pagi baru saja menyapa, matahari belum sempat memperlihatkan sinar terangnya, hujan membungkus kota kami, nikmat yang diberikan oleh sang pencipta. Aku tidak akan bercerita tentang pagi yang dipenuhi teriakan Ibu yang menyuruhku cepat untuk bersiap ke sekolah, atau Ayah yang membunyikan klakson mobilnya berulang kali agar aku mempercepat sarapanku. Hari ini, besok, atau besoknya lagi, aku tidak akan berangkat ke sekolah, apa aku sedang liburan? Tentu tidak, aku benar benar berada di rumah selama satu bulan ini, virus yang mewabah di negaraku, adalah penyebabnya.

Corona virus, kata-kata yang tidak asing di telingaku, atau bahkan sangat tidak asing. Aku mendengarnya saat sedang menonton televisi di pagi, siang, dan  sore hari, kata-kata itu tak pernah absen diucapkan. Virus jahat yang membuat aku dan keluargaku mengurung diri, yang membuat kami enggan menyapa dan menyalami satu sama lain, yang membuat sebuah jarak antara kami, membuat semuanya memisahkan diri dari keramaian, dan yang membuatku sangat amat merindukan ayahku, seorang garda terdepan, lelaki paling hebat di mataku.

Setelah sarapan, aku bersiap mengikuti pembelajaran online yang disediakan sekolahku, mengerjakan berbagai tugas dan menonton video pembelajaran yang diberikan. Pembelajaran menjadi sangat terbatas karena wabah virus ini, aku memutuskan untuk lebih banyak belajar sendiri, membaca seluruh isi buku pelajaran dan menguasainya secara mandiri tiap materinya, aku tidak akan kalah dari  virus ini. Virus ini tidak akan bisa mengubah Jora si gadis giat menjadi malas, aku menolak bersantai selama karantina, aku memikirkan banyak hal, setelah ayahku menelepon dan berkata,

“Kau selalu bilang ingin jadi orang hebat Jora, tapi apa yang kau lakukan untuk itu, nak? Virus ini semakin mewabah, mengalahkan berbagai tubuh manusia, dan apa kau akan biarkan dia mengalahkan semangatmu juga?”

Senja mulai pergi, malam perlahan menjelang, para penghias langit malam mulai memunculkan diri, langit semakin gelap, jutaan bintang bertebaran di penjuru langit, pesona bulan terlihat indah, terang membulat. Aku masih memperhatikan bulan dari jendela kamarku. Ibuku berteriak, membuyarkan lamunanku.

“Ayah..”

Tubuhku melemas saat ibu menyebut nama ayah, penglihatanku menghitam, nafasku tersendat. Tidak ada yang tahu kalau ayah terinfeksi, Ayah terinfeksi tanpa gejala. Ayah pergi, Aku memeluk ibu dan menenangkan adikku. Menangis? Tidak sama sekali, putri sulung di keluarga harus kuat, sesakit apapun hatinya. Aku, Jora Alana, putri sulung keluarga, tidak akan mau kalah dari virus ini.

Keadaan semakin buruk, banyak orang-orang tidak memakai masker karena tak  sanggup membelinya, setiap hari sabtu aku turun ke jalan membagikan masker kain, mengunjungi rumah orang tidak mampu untuk berbagi makanan, mereka kehilangan pekerjaan, aku berbincang sedikit dengan pedagang bakso bakar yang jualannya tidak laku, aku merasa iba, virus ini benar benar membuat semua orang kesusahan. Aku tidak tinggal diam, aku selalu berpikir bagaimana caranya gadis 15 tahun ini membantu memperbaiki keadaan.

Bagaimana dengan kartu pendeteksi virus? Aku langsung membuka beberapa artikel tentang beberapa bahan yang bisa mendeteksi virus, dan langsung membelinya. Apakah aku benar benar bisa membuatnya? Tidak ada yang tahu jika aku belum mencoba bukan? malam semakin larut, aku masih sibuk merancang kartuku. Apakah alat ini bisa menjadi harapan baru di tengah pandemi? Aku sangat berharap alat ini membantu. Aku mengusap muka,mengusir rasa kantuk.

Cahaya para penghias langit malam hampir pudar, hari sudah subuh, dan aku sadar aku belum tidur hingga pagi, kartuku sudah jadi, semoga ini benar benar berfungsi. Aku amat gugup, tapi aku berharap lebih pada kartu ini. Aku tidak tahu ingin membawa kartu ini kemana, dan aku memutuskan untuk ke rumah sakit ayah dulu, tempatnya bekerja dan gugur. Aku ingin menemui temannya yang juga seorang dokter hebat seperti ayah.

“Dia sedang sibuk, anda ada perlu apa?”

Jawab seorang perawat, aku bilang ini sangat mendesak, dan dia tetap tidak mengizinkan aku menemui om Arai, aku bersikeras dan membuat kegaduhan di ruangan konsultasi. Mungkin ia berpikir aku hanyalah anak kecil yang tidak tahu apa apa.

“Aku kenal dia!”

Seru om Arai menghentikan aku yang sedang betengkar dengan perawat itu. Aku tersenyum penuh kemenangan.

“Jora? Ada perlu apa?” Tanya om Arai

Aku menyerahkan kartuku dan menjelaskan kegunaannya.

“Kartu ini bekerja untuk mendiagnosis virus corona secara cepat dan akurat dari jarak lima meter, alat ini bekerja dengan mengambil sampel hembusan napas, jika ada yang terjangkit dari jarak lima meter, sensor-sensor didalam sini akan menginderanya dan berbunyi dengan sendirinya”

Aku menjelaskan lebih banyak hal tentang kartuku yang bekerja dengan mengambil sampel hembusan napas ini. Para perawat menggeleng tidak percaya meremehkan. Aku benar-benar kesal.

“Kami akan periksa lagi kartu buatanmu Jora, aku benar-benar tidak bisa meremehkan anak dari dokter hebat ini bukan?” Om Arai tersenyum.

“Yang benar saja, dok”

Seorang perawat protes karena menganggap kartuku hanyalah lelucon anak-anak biasa, aku sudah bersiap ingin adu debat dengannya, sampai seorang ibu-ibu datang dan ingin konsultasi atas penyakitnya, dan tiba-tiba alatku berbunyi nyaring.

Para perawat saling bertatapan, suasana tiba-tiba menjadi hening, aku memundurkan langkah  menjauh, begitu pula yang lainnya. Semua orang hampir panik sampai om Arai berseru memanggil beberapa garda terdepan, ibu itu diminta diam dan menuruti protokol medis. Aku masih sangat kaget. Sore itu juga, namaku dikenal dan diakui banyak orang, alatku ingin dibuat dalam bentuk banyak yang akan dibagikan pada seluruh masyarakat, dan 97 persen dinyatakan akurat.

Sore itu juga, senja yang sama,senja keseribu dalam hidupku,langit benar benar mempesona,matahari beranjak pergi,tenggelam di ufuk barat sana,namaku masuk di dalam berita,para dokter berterimakasih kepada harapan baru ditengah pandemi yang kuciptakan,apakah ayah disana juga akan tersenyum kepadaku? Aku menangis,pertama kalinya sesudah ayah pergi. Ayah, aku tidak akan kalah dari virus ini,dan apapun yang akan menghalangiku, Jora tidak akan berubah menjadi gadis malas. Aku tersenyum pada langit yang sekarang terlihat sangat menawan.

Matahari beranjak terbit di ufuk timur sana, pagi yang indah menyapaku, langit biru terbentang luas diatas sana. Burung-burung mulai bersahut-sahutan. Aku mengikat rambut ikalku, membereskan buku-buku belajarku,dan tersenyum.

Ibuku memanggilku dengan girang, melihat namaku tertulis di televisi. Aku tertawa kecil  lalu meminta izin kepada ibuku untuk membagikan masker kain lagi karena hari ini aku tidak mengikuti pembelajaran daring. Saat ingin bersiap membagikan masker, sekawanan remaja 15 tahun menghampiriku. Masing masing mereka membawa satu kotak masker kain. Aku tersenyum walau bingung. Apa namaku di televisi sudah memotivasi mereka?

“Jora kan? Kami akan membantumu” Ujar seorang gadis berjaket ungu.

Aku tersenyum dan mengangguk. Kami akhirnya bersama sama membagikan masker kain di jalan. Lalu kami sepakat membuat komunitas perkumpulan remaja untuk membantu masyarakat yang kesusahan ditengah pandemi. Dan mendapat respon bagus dari pemerintah hingga akhirnya kami diberi biaya yang lebih banyak untuk berbagi sembako dan masker  pada yang tidak mampu. Komunitas ini berjalan lancar dan benar benar memotivasi generasi muda lainnya.

Orang-orang mulai membawa kartu masing-masing, kartu hasil ideku sudah di produksi dan dibagikan oleh masyarakat banyak, kartu itu dinamakan Joradetector, diambil dari namaku. Aku mendongakkan muka ke langit, hujan, aku bergegas pulang ke rumah, meminta izin pada anggota komunitas lain dan pergi. Langit mendung dan gelap, tapi hatiku terasa riang, cepat sembuh bumiku.

***

Kembali ke masa sekarang,

Aku kembali tersadar dari sebuah lamunan panjang, saat ini, corona virus bukan lagi virus yang mewabah, melainkan penyakit biasa yang umum di alami manusia, ekonomi kembali normal, bumi sudah sembuh, aku mengikuti jejak ayahku, menjadi garda terdepan. Aku teringat sesuatu, dengan berlari kecil aku memasuki gudang rumahku dan menemukan kartuku. Kartu yang dulu pernah membuat seorang Jora kecil diakui banyak orang, dan memiliki pesona indah atas giat kerjanya sendiri.

PENANTI SANDYAKALA

 

            Deburan ombak yang begitu tenteram, secara perlahan menelisik gendang telingaku. Sembari menyaksikan hangatnya semburat tipis langit jingga, yang tampak terbentang dengan tenang di atas sana. Teriknya sinar matahari yang juga seakan ikut terasa teduh akibat terpantul buaian air pantai. Tanpa sadar, semua itu benar-benar melenakan pandangan.

            Siang menjelang petang yang indah, sangat disayangkan untuk sekedar dilewatkan. Sejujurnya, aku di sini tidak sendiri. Tentu saja ada cukup banyak pengunjung yang hilir mudik kesana kemari. Tidak mungkin pula jika aku terduduk seorang diri, menikmati kesunyian di sore hari. Di tepian pantai, membersamai irama air yang terus menerus berayun.

            Tidak, maksud ku tadi hanya bercanda. Pada kenyataannya, aku memang tidak sendiri untuk pergi bersantai kesini.

            Lihatlah, sekiranya berjarak lima meter di depan ku. Dengan tubuh rampingnya yang tengah menghadap ke satu arah yang sama, secara tidak langsung terlihat sedang membelakangi ku. Entah apa yang saat ini ia lakukan, satu hal pasti bahwa ia sedang menundukkan kepalanya.

            Suasana yang amat sangat menenangkan untukku, namun bisa saja tidak untuknya. Meskipun begitu, aku berusaha percaya padanya. Sebab ia yang lebih dulu mengajakku kesini. Setelah sekian lama tak lagi menginginkan sepasang kakinya untuk menapak kembali ke tempat seperti ini. Lalu, entah angin apa yang akhirnya memutar balikkan keinginannya itu.

*****

            Kejadian dua tahun yang lalu, ku rasa masih sangat melekat pada ingatannya. Meski ia telah berusaha, untuk melupakan dan berdamai dengan masa lalunya. Namun kenyataannya, semua kejadian menyenangkan hingga menyakitkan dalam hidup. Tidak semua dapat dengan mudah kita kendalikan begitu saja. Butuh proses, dengan waktu yang tidak dapat kita ketahui.

            Perlahan aku menghampirinya, dan menepuk pelan pundaknya dari belakang. Ia pun sedikit menggeser tubuhnya, seraya menatap sekilas wajahku. Ya hanya sekilas, hanya sesaat. Tidak sempat ku lihat dan ku tatap dengan jelas, bagaimana raut wajahnya.

            Hitungan persekian detik, setelah aku mencari kenyamanan untuk duduk.

            Terdengar helaan napas yang keluar dari mulutnya. Selanjutnya, aku hanya melihat jari jemari yang sedang mencoret-coret asal hamparan pasir di depannya. Dan kali ini juga, aku masih belum mengerti apa yang tengah ia rasakan, begitu pula apa yang harus ku lakukan..

            “Kak” panggilnya secara tiba-tiba. Tanpa mengalihkan atensi nya, pada pasir-pasir yang saat ini tengah ia genggam.

            Aku hanya menoleh, mencoba fokus pada setiap kata yang tampaknya ingin ia utarakan. Semakin aku menunggu, semakin cepat pula rasanya waktu berjalan.

            “Ya, ada apa?” tiga kata dariku yang akhirnya terucapkan.

            Itu pun hanya dibalasnya dengan gelengan kepala dan helaan napasnya.

            “Bukannya bakal lebih tenang kalo di keluarin?” kataku.

            “Lagi pula, kalem gini bukan kamu banget” sambung ku lagi.

            Nah! baru juga ku katakan. Cengiran itu perlahan terbit, walau lambat laun kembali menciut. Tidak mengapa, mungkin saja ia masih butuh jeda, untuk benar-benar mengatakannya.

            “Kalau suka ya biasa aja. Dan kalaupun ga suka, yaudah jangan sampai terlampau ga suka” katanya. Seakan meniru gayaku saat sedang menasehatinya.

            Aku berdehem, membenarkan sekaligus mengindahkan perkataanya. Bersamaan dengan semilir angin, yang tengah menerpa rambutnya dan rambutku. Mengisi kekosongan dialog di antara kami.

            “Rasanya, baru sekarang aku mengerti. Antara ditarik dan diulur keberanian yang ku punya. Dulu ku kira, pantai dan seluruh teman temannya sama sekali ga bisa ditolak pesonanya.” Ia menarik, dan menghembuskan napasnya kembali.

            “Tapi setelah kejadian itu, pandangan ku tentangnya seketika sirna. Masih ga nyangka si, kalau air yang keliatannya tenang, emang bener ya tanpa sadar bisa menghanyutkan. Seketika tampak seram dan kelam” ucapnya. Seraya menampilkan ekspresi bergidik ngeri.

            Sedari tadi aku hanya mendengarkannya. Tanpa menyela bahkan menyanggah perkataannya. Ia yang juga sepertinya masih ingin menyuarakan perasaannya, sengaja ku biarkan bersuara.

            “Dan ternyata, apa yang pernah kakak bilang emang bener ya. Segala sesuatu yang ada di dunia ini, sangat memerlukan keseimbangan kita. Kalau di pikir-pikir, udah seharusnya kali ya. Pas kita ngeliat sesuatu hal, harusnya ga cuman dari satu arah dan satu sisi doang. Ga seharusnya deh, kita menilai semua itu cuman dari satu sisi aja, terus cepet-cepet nyimpulinnya sendirian.”

            Aku pun tersenyum, mendengar penuturan panjang yang keluar langsung dari mulutnya.

            “Hm, ada perumpamaan yang lebih sederhana nih” ucapku. Sembari menggapai ranting kecil yang tergeletak di dekat ku.

             Ia memutarkan seluruh tubuhnya, hingga sepenuhnya menghadap ke arah ku. Lalu perlahan, mulai ku kikis hamparan pasir yang berada di antara kami. Menghasilkan dua goresan lengkung berbentuk angka enam. Berulang kali sengaja ku tebalkan garis pinggirnya, supaya terlihat jelas dengannya yang sedang duduk di seberang ku.

            “Ayo coba lihat! Kalau dari sana, keliatannya angka berapa?” tanyaku menggebu.

            “Sembilan-kan?” jawabnya, merasa pasti di awal. Namun tak lama kemudian tampak ia ragukan.

            “Sembilah dari sini dan juga enam dari sana..”

            Dengan cepat aku mengangguk. Entah ia sudah mengerti, akan mengarah kemana perbincangan ku kali ini. Atau masih belum sadar, jika hal ini bisa saja menjadi inti penutupnya.

            “Yaa bener banget, baru juga goresan kecil kaya gini. Tapi kalau kita ngeliatnya cuman dari satu sisi aja, hasilnya bakal jauh beda kan ya. Gimana kalau segala sesuatu di kehidupan ini, mencakup dunia beserta isinya. Eh ga, benda tiga dimensi aja dulu. Pas kita ngeliatnya cuman dari salah satu sisinya. Sedangkan orang lain juga punya sudut pandang yang lain. Apa kamu yakin untuk tetap dan terus mampu bertahan sama satu sudut pandang itu tadi?”

            “Ga perlu di perjelas lebih dalem. Karena setiap kita, punya caranya sendiri untuk nangkep berbagai makna juga pelajaran di setiap kejadian. Tapi satu hal yang penting banget buat kamu inget, sekalipun luasnya air itu—” jari telunjukku yang mengarah tepat ke depan sana.

            “Yang emang ga bisa dipungkiri, karena udah buat kamu takut setengah mati. Tapi dari itu, seharusnya kamu ga boleh lupa. Kalau setelahnya, sadar ga sadar kamu jadi punya nyali, begitu juga tingkat waspada yang lebih tinggi dari sebelumnya.”

            “Suasana yang terasa jadi semakin seimbang, itu juga bagian dari pembahasan kan?” balasnya dengan pertanyaan.

            “Rasanya waspada dan kehati-hatian terus mengitar di benakku. Meski rasa terpana itu masih akan selalu menduduki posisi pertamanya. Mwehhe..”

            Aku terkekeh, lelucon asal darinya, bisa saja membuat mataku sipit bahkan hampir mengeluarkan airnya. Isi dalam perut melilit tak jelas, dan tawa yang terdengar tersentak-sentak. Sebab apa lagi jika bukan karena muka konyolya itu. Mungkin kalau ingn jujur saja, ia terlalu menggemaskan et—tidak apa tadi katanya? Oh tentu saja teman semua khilaf mendengarkannya.

            “Oh manusia, lihat lah awan itu” teriaknya tiba-tiba sambil menepuk brutal badanku.

            Yap, itu dia. Gadis yang baru saja ku sadari, bahwa nyatanya ia sudah tak lagi menjadi bocah. Sedang maju dan memundurkan tubuhnya, seakan menjadi fotografer yang handal. Sibuk berlarian kesana kemari, guna memperlihatkan hasil jepretannya kepada ku.

            Segera ku pandangi dengan seksama, bergantian menatap paparan langit bersemburat merah. Yang benar-benar tampak indah. Ancang-ancang matahari terbenam pun, juga ku rasa tidak akan kalah indahya dari penampakan langit saat ini.

KUPU-KUPU DI NEGERI HITAM PUTIH

 

Orang-orang berlarian. Berlindung dari amarah yang sedang terjadi. Amarah tanpa alasan, membabi buta. Sekelompok orang mengusir orang berkulit hitam. Menyuruh mereka pergi dari desa itu. Dengan alasan mereka bukan penduduk asli desa. Bisa dibilang karena mereka berbeda. Sekelompok orang itu kesal, karena orang-orang hitam tidak mau pergi juga.

Malam itu mereka melakukannya dengan kasar. Mengusir mereka secara paksa. Api membumbung, menjalar di rumah-rumah. Orang- orang berkulit hitam itu melawan. Membuat pertengkaran. Dan saling pukul. Anak-anak dan wanita bersembunyi. Seorang pemilik toko berbaik hati menjadikan tokonya tempat berlindung bagi anak-anak dan wanita. Kericuhan sedang terjadi.

Tidak hanya terjadi di desa mereka. Dunia juga sedang terjadi huru-hara. Perbedaan yang membuat terpecah. Kelompok ini dan kelompok itu. Berpisah, saling beradu. Sampai terjadi penjarahan yang tidak perlu. Malam itu, sekelebat cahaya muncul. Cahaya itu kecil lalu kemudian semakin cerah dan berpencar. Dengan cepat, cahaya itu menyebar ke seluruh dunia.  Menyilaukan mata. Dan saat orang-orang membuka mata mereka kembali, warna di dunia telah lenyap. Tidak tersisa. Lalu mereka bertanya, untuk apa membedakan saat semua warna mereka sama. Hanya hitam dan putih.

***

Aku berjalan lesu. Sembari melihat-lihat hasil fotoku. Membosankan. Semuanya terlihat sama saja. Hanya hitam dan putih. Tidak ada objek lain yang menarik. Aku masuk ke toko peralatan petualang. Toko ini sudah jadi langgananku. Aku suka berpetualang, dan aku suka memotret. Dengan berpetualang aku melihat hal-hal menarik, dan aku suka memotretnya untuk mengabadikannya. Jika beruntung, aku bisa menjualnya.

Aku duduk di kursi. Menunggu pemilik toko datang. Kali ini, aku tidak ingin membeli peralatan. Aku hanya ingin mengobrol dengan pemilik toko. Aku dekat dengan pemilik toko ini. Namanya Gugum. Umurnya sudah kepala empat. Dulu, saat dunia masih berwarna dan saat kericuhan itu terjadi, dia yang menyelamatkanku. Aku yatim piatu sedari kecil, aku tidur di toko ini. Pak Gugum berbaik hati memberiku tempat tinggal.

Pak Gugum muncul. Mendekatiku yang duduk menunggunya.

“Kau bukan ingin membeli barang heh? Apa yang ingin kau bicarakan?” Pak Gugum memberiku secangkir kopi.

Aku menyeruputnya. “ Yah, aku hanya bosan dengan dunia yang seperti ini. Aku bosan berpetualang tanpa melihat hal baru. Dahulu orang berpetualang berharap bertemu hutan yang hijau, daun-daun yang gugur, mengering, sungai yang jernih, burung-burung cantik, tersesat di adiwarna alam yang memabukkanmu di dalamnya. Sekarang yang kulihat hanyalah hitam dan putih.”

Pak Gugum menyeruput kopinya. Terdiam sebentar. “Kau mau melihat sesuatu yang luar biasa. Ke tempat yang belum pernah dikunjungi siapapun.”

Aku mengangguk dengan bingung. Semakin bingung ketika Pak Gugum menutup pintu toko dan memasang tulisan ‘tutup’. Menutup semua jendela, mematikan lampu, mengambil korek dan menyalakan lilin. Mengangkat pot dan mengambil kunci yang ada di bawahnya. Lalu membuka laci, dan mengambil sebuah gulungan. Gulungan itu ia bentangkan di hadapanku. Aku terpana. Gulungan itu berwarna coklat dengan bercak menguning. Tidak berwarna hitam putih. Gulungan itu, menunjukkan sebuah jalan. Astaga! Ini sebuah peta. Peta ajaib!

“Kau lihat, peta ini?”

Aku mengangguk. Masih terpana.

“ Peta ini adalah jalan menuju pulau. Oh, bukan pulau biasa. Menuju pulau berwarna. Satu-satunya warna yang tersisa di dunia ini. Aku menemukan kertas ini jauh sebelum dunia ini hitam putih. Petualangan ini sangat berbahaya, dengan pemandangan yang mendebarkan. Jauh dari peradaban. Kau harus menyiapkan semuanya jika ingin pergi ke pulau ini.”

Tentu. Aku sangat ingin pergi ke pulau ini. Aku perhatikan dengan seksama lagi peta ini. Ah.. jauh dari peradaban dan sangat berbahaya kata Pak Gugum. Lihatlah, ini hanya memerlukan 3 hari perjalanan dengan berjalan kaki. Pak Gugum suka mendramatisir sesuatu. Aku hanya menggeleng pelan. Baiklah. Aku akan menyiapkan semuanya.

***

Aku beristirahat sejenak. Pulau itu sudah dekat. Aku duduk selonjor. Menatap sekitar. Sampai pandanganku terpaku pada sesuatu. Kupu-kupu. Tidak, bukan kupu-kupu biasa.                    Kupu-kupu itu memiliki motif yang cantik dengan warna hijau dan biru. Bukan hitam putih. Aku mengambil kamera. Perlahan, aku mendekati kupu-kupu itu. Setelah lumayan dekat, aku memencet tombol di kamera. Cekrek.

Ah! Kupu-kupu itu kabur. Aku mengejarnya. Mengikutinya. Melihat kupu-kupu itu sambil berlari melewati bebatuan dan rumput-rumput tinggi. Setelah berlari jauh, aku kehilangan kupu-kupu itu. Ah, sial. Sekarang apa? Aku tidak mengenali jalan ini. Namun, aku melihat ada mata air. Mungkin aku bisa meminumnya.

 Aku menghampiri mata air itu. Meminumya. Aku tersedak. Astaga! Aku terkejut sekali melihat warna airnya. Air itu mengalir menjadi dua aliran. Satu aliran dengan warna pelangi. Unik sekali. Tunggu, sepertinya ada sesuatu di balik mata air ini. Aku menyibak tanaman liar yang menutupi di belakang mata air.

Wow! Ini, inilah pulau itu. Pulau yang dimaksud Pak Gugum. Pulau ini sangat berwarna. Dengan warna-warni bunga. Dan hijaunya pohon serta sungai indah yang berwarna pelangi. Aku melihat apel yang ranum. Dengan warna merah yang sangat menggoda. Perutku berontak. Aku menggoyangkan pohonnya, apel jatuh, aku menggigitnya. Manis. Ini enak sekali. Akan ku bawa beberapa untuk Pak Gugum. Aku mengambil kameraku.  Memotret pulau ini. Untuk menyimpannya sebagai tempat yang paling luar biasa. Aku harus memberitahu Pak Gugum kalau aku berhasil menemukan pulau ini.

***

Tunggu. Foto itu, foto yang kuambil saat di pulau berwarna itu. Dimana itu berada? Baru saja aku ingin menunjukkannya pada Pak Gugum. Aku menelusuri jalan yang tadi aku tempuh. Barangkali foto itu jatuh.

“Hey, kau mencari ini?” seseorang menghampiriku. Menunjukkan sebuah foto.

“Ah, Jen. Benar, foto itu milikku.” Celaka, foto itu ada di Jen. Aku ceroboh sekali. Sepertinya foto itu jatuh dan diambil olehnya.

“ Dimana kau mengambil foto ini? Tempat ini indah sekali kawan, dan sangat berwarna. Pulau ajaib kah?” Jen menjauhkan foto itu. Mencegahku mengambilnya.

“Berikan!”

“ Apakah ini peta menuju pulau ajaib itu?” Jen menunjukkan gulungan berwarna coklat, dengan bercak kuning.

Bodohnya aku. Peta itu jatuh di tangannya juga. Aku sudah tahu apa yang akan dilakukannya.

“ Aku akan pergi ke tempat ini. Menemukan sungai pelangi. Menimba air sungai, dan membawa air itu ke desa ini. Menemukan cara untuk memulihkan desa kita dari warna hitam putih.” Jen menatapku dan tersenyum menang.

“Kau gila. Menimba air dan membawanya ke desa? Itu tiga hari perjalanan pulang-pergi yang melelahkan. Melewati bebatuan dan rumput-rumput tinggi. Air itu akan tumpah di perjalanan, dan saat kau kembali kau hanya akan membawa tong kosong.”

“Aku kuat tidak sepertimu, lemah. Aku mempunyai otot. Aku dan teman-temanku akan membawa air ajaib itu kemari.” Jen meninggalkanku. Menghampiri teman-temannya dan menjelaskan rencananya dengan berapi-api.

***

Aku menghela napas. Jen mendapatkan air itu. Menunjukkannya padaku air ajaib itu. Aku tidak tahu apa yang dia rencanakan. Aku sedang duduk di toko peralatan. Pak Gugum melihatku yang sedari tadi melamun. Ada beberapa orang di toko ini. Kadang toko ini memang sering dipakai untuk tempat berkumpul.

“Apa yang tengah kau pikirkan?” Pak Gugum memecah lamunanku.

“Eh, ya. Kau membuatku terbangun.” Aku menyeruput kopi.”Aku…sedang memikirkan apa yang akan dilakukan Jen selanjutnya. Apakah ia akan cukup dengan air ajaib itu? Atau dia menginginkan yang lebih. Mengeruk pulau itu lagi dan lagi. Tapi, Jen telah banyak berubah. Kurasa dia hanya ingin mengubah dunia kembali normal. Dunia hitam putih membuatnya banyak berpikir. Yah, aku tidak tahu juga. Sifat orang cepat berubah,”

Terdiam. Hening sebentar. Satu orang menyentil kesunyian.

“ Kau tahu? Aku juga tidak senang dengan perbuatan mereka. Mereka seperti serakah sekali. Ingin memiliki semuanya, padahal apa, saat warna itu ada, mereka menyalahkan kita, mengatakan bahwa kita adalah warna yang tidak seharusnya ada. Warna itu berkumpul dengan warna itu. Jika semua terlihat sama, untuk apa warna itu ada”

Hening lagi.

“Mengapa kalian melawan perbuatan itu?” Pak Gugum menyela keheningan.

Semua pandangan tertuju pada Pak Gugum.

“Mengapa kalian tidak mendukungnya? Bukankah itu hal yang baik? Mereka ingin mengembalikan warna itu. Mengubah dunia menjadi berwarna kembali, cerah, dengan warna-warni kehidupan. Mengapa kalian menentangnya? Mengatakan mereka akan ini mereka akan itu. Sudah 10 tahun berlalu, dunia hitam putih saja. Kalian tidak ingin semua kembali normal?”

 “Tapi ketika dunia kembali normal, mereka akan melakukan hal yang sama. Membeda-bedakan lagi, memisah-misahkan lagi.” Bantah seseorang.

“Kalau begitu inilah kesempatannya. Kalian bisa bekerja sama. Menyatukan lagi warna itu, membuatnya indah kembali.”

Terdiam cukup lama. Lalu, satu-persatu wajah mereka mulai menunjukkan dukungan. Persetujuan untuk bekerja sama. Harapan bahwa warna itu masih ada. Akan bersinar pada waktunya.

***

Kerja sama itu dimulai. Setelah beberapa perbincangan berat, kami sepakat untuk bersama menemukan cara untuk mengubah dunia kembali normal. Seluruh desa membantu. Kami menimba air sungai, melakukan percobaan dengan cara menanam bibit hitam putih di tanah ajaib itu. Merawatnya. Jika gagal dengan tanaman itu tetap berwarna hitam putih, kami lakukan lagi. Menanam lagi, merawatnya lagi. Menyiramnya dengan air ajaib.

 Dengan banyak tanaman yang gagal, ada satu yang tetap bertahan. Terus tumbuh setiap hari, warnanya pun berbeda. Hijau dengan batangnya yang coklat. Hari esoknya lagi pohon itu menumbuhkan bunga. Kami sangat bersemangat. Tanaman ini tumbuh dengan luar biasa. Melewati masa tumbuh yang seharusnya. Kami merayakannya dengan bersantai di pulau. Berendam di sungai ajaib, dan menikmati apel ranum. Rasanya nyaman dan menyenangkan.

                                                                     ***                 

“Siapa yang mencabut tanaman ini?!” Jen berteriak dengan sangat marah.

Baru saja kami sampai di pulau berwarna, ingin melanjutkan merawat tanaman itu, yang ingin dirawat telah rusak tercabut hingga akarnya. Semuanya hanya terdiam dengan pandangan kecewa. Menatap tanah, kosong.

“Baiklah Jen, kau jangan emosi dulu. Masalah ini tidak dapat diselesaikan dengan panas,” aku mencegah Jen yang hendak mengamuk.

“Pelakunya ada di antara kalian kan?!” Jen mulai menuduh.

“Hey, jangan asal tuduh kau!”

“Apa? Dari awal, kalian tidak mendukung ini dilakukan kan? Menentang kami, membicarakan di belakang. Pengecut!”

Buk! Satu orang memukul Jen. “Jangan sembarang kau!”

Jen yang tidak terima balas memukul. Yang lain membelanya, memukul yang lainnya. Wanita dan anak-anak berteriak histeris, menghindari gerombolan sebelum bertambah parah, dan terkena imbasnya. Buk! Aku terkena salah satu pukulan. Sakit. Aku harus keluar dari pertengkaran ini. Menyibak orang-orang yang ganas menyerang.

“ Hiks…huaaa, tolong…” aku mendengar tangisan anak kecil. Sepertinya dari pertengkaran itu.

“Berhenti! Berhenti semuanya!” aku mencoba menghentikan pertengkaran.

Mereka tetap saling memukul, mendorong. Baiklah, sekarang apa yang aku lakukan. Anak kecil itu ada di dalam pertengkaran, tidak bisa keluar. Aku menarik napas panjang.

“Semuanya, BERHENTI!” aku berteriak sekuat tenaga.

Pertengkaran terhenti. Pandangan mengarah padaku. Aku segera mencari anak kecil itu. Ketemu! Anak itu sedang meringkuk ketakutan, menangis. Aku menggendongnya. Ada banyak luka. Sepertinya dia tertindih.

“Ini, inilah hasil pertengkaran kalian! Hanya membuang waktu. Ayo kita kembali ke desa. Mengobati yang terluka,”

Aku mendekati seorang wanita, ia adalah dokter di desa kami. Memberikan anak itu padanya. Wanita itu mengobati anak itu dengan peralatan seadanya. Setelah keadaan anak itu membaik, kami semua kembali ke desa. Dengan kembali terpecah.

***

Aku menatap pulau ajaib. Masih dengan warnanya yang cantik. Namun aku tidak bersemangat lagi. Aku duduk di tanah, merentangkan tanganku, menyentuh rumput basah. Terpaku pada sebuah bunga. Sebentar, awalnya bunga itu berwarna. Sekarang, warna dari bunga itu seperti di gerogoti. Mulai hilang dari kelopaknya lalu berlanjut ke daunnya.

Aku mengerti, bukan air ajaib itu yang membuat warna itu ada, atau pun pulau ini. Bahkan pulau ini hanya pulau biasa. Tetapi saat bersatu. Warna itu ada. Berpencar, perlahan menyebar indah.

Aku memotret bunga itu. Lalu kembali ke desa.

***

            “Jen, aku perlu bicara denganmu. Dengan kalian semua”

            Aku mengumpulkan seluruh orang di desa. Mengajak semua bicara.

            “Tak ada lagi yang perlu dibicarakan,” Jen tampak acuh.

            “Sampai kapan kita seperti ini terus?”

            “Sampai pelaku yang mencabut seluruh kerja keras kita tertangkap” Jen menjawab.

            Ah..dia bahas masalah itu lagi

            “Hey, Jen aku sudah tahu siapa pelakunya. Pelaku yang membuat dunia hitam putih. Kita. Itu adalah kita kawan, tidak ada yang namanya pahlawan jika semuanya saling menyalahkan. Aku pun sama bersalahnya. Aku pengecut. Tidak pernah mau bekerja sama. Membiarkan kita terus hidup seperti ini.”

            Jen terdiam. Begitu juga yang lainnya.

            “Kita berbeda dengan orang kota, kawan. Kita punya kesempatan. Kita menemukan pulau itu. Kita semua pikir, pulau itu ajaib. Tidak, pulau itu hanya pulau biasa. Aku baru menyadarinya. Warna itu bisa hilang di pulau.Inilah buktinya.” Aku menunjukkan foto bunga yang setengah berwarna. Semua melihatnya. Lantas terdiam.

“ Kerja sama kita lah yang ajaib. Persatuan kita yang membuat warna itu. Indah bagai sihir.  Menakjubkan sekali rasanya,” aku mengambil jeda. “Mari kita lanjutkan apa yang telah kita mulai. Perbaiki warna itu dan menyatukannya.”

Termenung. Ada yang menatap tanah, menatap langit, lalu mereka mulai saling tatap. Tatapan untuk menyakinkan. Untuk melanjutkan lagi yang telah dimulai. Dan satu orang meningkatkan gelora itu.

“Nah, ayo kita mulai bekerja lagi!”

“Ayo!”  “Ayo!”

Kami tersenyum lantas tertawa. Saling bertepuk bahu.

            Mulai bekerja lagi. Kali ini, bukan untuk mendapatkan warna itu. Biar warna itu yang mendapatkan kita. Kali ini kami membenahi desa. Memperbaiki fasilitas yang rusak. Memasang lampu di setiap jalanan. Menerangi desa saat malam. Membuat tempat bersantai untuk berkumpul. Menanam bersama. Padi, jagung, apel, kami tanam semua. Lantas saat panen kami memasak bersama. Menyantapnya bersama. Menikmati pemandangan hitam putih.

***

            Desa kami makin indah. Nyaman dan menakjubkan. Tidak ada lagi membeda-bedakan. Untuk segera tahu kalau kita satu kesatuan. Anak-anak bermain saling berkejaran. Orang dewasa duduk menikmati makanan. Ibu-ibu menjaga anaknya tetap aman.

            Perlahan-lahan warna itu mulai menyebar. Merayap dari pulau itu hinggap di desa kami.

Aku melihat anak-anak yang berlari mengejar sesuatu. Kupu-kupu. Mereka mengejar kupu-kupu cantik dengan warna hijau dan biru. Sepertinya aku mengenali kupu-kupu itu. Dimana aku pernah bertemu? Kupu-kupu itu terbang ke arahku. Hinggap di jemariku. Cahaya muncul. Menyilaukan, cahaya itu berpencar memecah. Menyebar ke seluruh dunia.

Perlahan, aku membuka mata. Warna. Aku melihat warna. Melihat tubuhku, kulitku yang berwarna hitam dan bajuku yang berwarna coklat, sepatuku yang hitam mengkilap. Dan seluruh desa yang diterangi dengan lampu warna-warni. Semuanya tersenyum senang. Tertawa bahagia. Berseru riang. Warna itu telah kembali.

***

“Kau berhasil nak,” pak Gugum menepuk pundakku.

Aku tersenyum. Melihat desa yang dipenuhi lampu berwarna-warni. Dimana jalanan menghidupi malam.

“Tidak. Kita, kita semua berhasil.” Aku membalasnya.

Pak Gugum balas tersenyum.  

Inovasi Media Pembelajaran Berbasis Android

PEMBELAJARAN IPA TERINTEGRASI ETNOSAINS Kurikulum merdeka belajar memiliki empat karakteristik utama untuk mendukung pemulihan pembelajaran ...