Jujur
saja, aku sangat kesulitan belajar daring. Selain karena pelajaran kurang
mengena, aku punya masalah lebih pelik. Kekurangan fasilitas internet. Gawai di
rumahku hanya ada enam. Dipakai untuk delapan orang. Sebenarnya anggota keluargaku
ada sembilan, tetapi adik bungsuku belum bersekolah. Mungkin sah-sah saja bagi
kalian enam gawai untuk delapan orang. Tetapi
kalian harus tahu tentang hal ini sebelum kalian menyimpulkannya.
Jadi
enam gawai tersebut terdiri dari empat handphone,
itu pun sudah lama, kecuali handphone Ibu
yang dibeli untuk keperluan bekerja (awalnya Ibu tidak memiliki handphone), dan dua laptop. Satu laptop
Bapak, dan yang satunya adalah laptopku. Kubeli memakai uangku sendiri, hasil
mengikuti beberapa lomba.
Yang
sering dipakai untuk keperluan belajar adalah tiga gawai. Yaitu laptopku, handphone Ibu, juga handphone Bapak. Karena laptop Bapak dipakai untuk bekerja dan juga
dua handphone lainnya adalah milik
dua abangku, jarang mereka mengizinkan untuk memakai handphonenya. Yang memakai tiga gawai itu untuk keperluan belajar
ada tiga orang. Aku dan dua adik laki-lakiku. Tetapi masalahnya, yang memakai
untuk keperluan bekerja adalah orang tuaku. Jarang kami bisa memakainya untuk
belajar. Yang tersisa hanya laptopku. Tetapi menjadi percuma, karena tidak
memiliki jaringan.
***
Aku memiliki banyak hambatan dalam belajar
daring, karena ketiadaan gawai. Hanya saat ujian saja aku bisa memakainya. Di
luar ujian, memakai gawai yang memiliki jaringan internet itu merupakan sesuatu
yang sulit.
Karena
aku tidak belajar, aku memutuskan untuk beralih ke kesibukan yang lain. Semenjak
ibu bekerja, aku yang mengerjakan tugas rumah. Menyapu, mengepel, dan memasak.
Menyapu dan mengepel paling menyebalkan. Aku memulainya dengan membereskan
ruang keluarga. Mengusir orang yang masih santai sembari menonton Televisi.
Menyuruhnya jangan bersantai-santai. Lakukan sesuatu, jemur baju, cuci piring,
atau apalah. Lalu mulai menyapu, dilanjutkan dengan mengepel dan membereskan
kamar.
Setelah
kamarku bersih, aku pergi ke dapur. Yang pertama kulakukan adalah memindahkan
piring, peralatan masak, yang sudah kotor ke bak cuci piring. Lalu menyusun
peralatan yang sudah dicuci di rak kaca. Mengelap meja makan. Dan yang sungguh
menyebalkan adalah mengelap kompor.
Sebenarnya
tidak sulit membereskannya. Yang sulit adalah aku dengan perasaan lapang dada
ketika mengelapnya. Aku keberatan sekali aku harus mengelap kompor. Karena,
bukan aku yang menyebabkan kompor kotor. Aku selalu menggunakannya dengan
hati-hati agar tidak ada noda yang jatuh ke kompor setelah aku bersihkan.
Kalaupun ada noda yang mengenai kompor, aku langsung mengelapnya sampai bersih
semula. Tetapi jika orang lain yang memakainya, kompor bertumpah banyak noda.
Banyak sekali noda yang aku temukan disana. Bekas nasi goreng, noda bumbu,
garam, minyak, tepung, dan noda-noda yang lainnya. Tetapi aku tetap mengelap
kompor meskipun aku kurang senang melakukannya. Karena itu akan berdampak pada
pekerjaanku. Aku tidak suka ketika aku memasak dengan dapur yang keadaannya berantakan.
Setelah
ketiga ruangan itu bersih, aku melanjutkannya dengan memasak tentunya. Karena
dapurnya telah aku bersihkan, memasak jadi lebih menyenangkan. Berhubung dengan
memasak, tentu kita memerlukan bahan-bahan. Dan bahan-bahan itu didapatkan
dengan membelinya. Jadi tugasku berbelanja. Untungnya, kami memiliki tukang
sayur langganan. Yang setiap hari mendatangi setiap rumah. Jadi aku tidak perlu
repot-repot ke pasar untuk membeli bahan-bahan masakan. Karena kendaraan
dirumahku jarang ada.
***
Awalnya aku tidak bisa memasak lauk pauk. Jadi
aku selalu membeli sesuai pesanan ibu ketika belanja, dan menanyakan cara
mengolah bahan-bahan yang ibu pesan tadi. Awalnya yang paling sering aku masak
adalah kangkung. Aku mengolahnya menjadi cah kangkung. Itu selalu enak. Bosan
memasak kangkung, aku mulai bertanya pada ibu bagaimana cara membuat buncis
tahu kecap. Ibu memberi tahu resepnya, lantas aku membeli bahan-bahannya dan
mulai mencoba resep dari ibu. Ternyata berhasil. Mudah sekali. Aku mencoba
membuat sop ayam. Aku meminta resepnya kepada ibu. Aku coba untuk membuatnya.
Sukses. Aku mulai lihai dalam hal memasak.
Aku
pun mulai tertarik untuk membuat berbagai macam kue dan roti. Untuk roti dan
kue, resepnya tidak kudapatkan dari ibu. Karena ibuku kurang ahli dalam membuat
roti dan kue bolu. Jadi aku berselancar di dunia maya. Mencari resep dari
beberapa kanal Youtube. Aku membuatnya
untuk keluargaku. Terkadang aku ingin memberi tetangga kue buatanku. Tetapi,
aku malu karena boluku belum sebagus buatan tetanggaku.
Seiring berjalannya waktu, karena aku selalu
belajar untuk memperbaiki kesalahanku, boluku semakin hari semakin enak. Saat
ibu membawanya ke tempat kerja, temannya tidak menyangka brownies yang ibu bawa
adalah buatanku. Karena rasanya seperti yang dijual di gerai yang sudah
terkenal di Indonesia. Seperti brownies Amanda.
Aku
menjadi percaya diri untuk berjualan bolu dan roti. Awalnya aku mencoba untuk
berjualan roti sobek. Ibu membelikan bahan-bahan yang aku perlukan. Aku
menghitung modal dan menetapkan harga yang sesuai. Pelanggan pertamaku adalah
teman ibu. Beliau membelinya agar aku semakin semangat berjualan. Beliau
memesannya melalui via whatsapp.
Awalnya,
aku yakin sekali roti sobekku akan matang dengan hasil yang memuaskan. Tetapi,
ketika mengeluarkannya dari oven, ternyata rotiku mengkerut di bagian atasnya.
Bagian bawahnya pun keras. Sepertinya karena terlalu lama di oven. Akhirnya
roti sobek itu tidak jadi dijual. Roti sobek itu langsung diserbu dengan
saudaraku. Mau hasilnya seperti apa juga, mereka tetap memakannya.
Apakah
ada yang salah dengan adonannya? Atau mungkin teknik memanggangku yang salah.
Aku tidak putus asa, aku mencobanya lagi. Dengan resep yang berbeda, yang lebih
meyakinkan. Tetapi hasilnya sama saja.
Atau
mungkin karena ovenku. Ovenku memakai oven tangkring. Agak sulit memang.
Apalagi ovenku tidak ada api atas, jadi mungkin matangnya tidak merata. Itu
yang menyebabkan bagian bawah roti, matang lebih cepat sehingga mengeras.
Bagian atas rotinya malah mengkerut. Aku memilih untuk tidak melanjutinya.
Masalahnya ada di ovennya. Itu berarti harus membeli oven yang memiliki api
atas dan api bawah, agar roti matang sempurna. Tetapi aku belum memiliki uang
untuk membeli oven. Aku harus mencari jenis makanan yang paling mudah aku buat
dan paling digemari pembeli.
***
“Adinda,
kamu sudah menemukan makanan untuk dijual? Ada sekolah berasrama yang belum
memiliki jajanan. Mereka ingin menjual makanan yang sehat dan enak.”
Ibuku
menawarkan lagi untuk berjualan. Nantinya daganganku dititipkan di toko sekolah
tempat ibu mengajar. Aku mulai mencari-cari dagangan apa yang harus aku buat.
Ketika mengutak-atik internet, aku menemukan sebuah resep yang cocok untuk
berjualan.
Awalnya
aku ingin berjualan bolu, tapi setelah kupikir-pikir bolu terlalu biasa. Orang
mungkin bosan dengan bolu. Karena pangsaku adalah anak-anak asrama, mungkin
mereka membutuhkan sesuatu yang segar. Kutemukanlah resep puding sedot.
Aku
mencobanya terlebih dahulu. Pertama aku membuat puding sedot, ketika puding
sedotnya kumasukkan ke dalam kulkas dan setelah dingin, puding sedotnya pecah
dan menyebabkan warnanya terpisah, sehingga membuat pudingnya berair. Selain penampilannya menjadi kurang layak dan
kurang menarik, puding menjadi cepat basi.
Aku
mulai ragu, bisakah aku meneruskan usaha ini, atau aku menyerah saja…?
“Ibu,
sepertinya aku tidak mau membuat apapun lagi, aku tidak mau jualan, aku selalu
gagal, aku kesal….”
Ibu memberitahuku, mungkin karena aku tidak
mengaduknya secara terus menerus. Memang, aku meninggalkan panci yang berisi
puding yang sedang dimasak sampai mendidih. Aku tidak mengaduknya. Karena aku
merasa pegal jika mengaduknya terus menerus. Tetapi mau bagaimana lagi, hanya
itu kuncinya untuk membuat puding sedot menjadi tidak berair lagi.
Baiklah.
Aku mencobanya sekali lagi. Kali ini tanganku tangguh mengaduk panci yang
berisi puding. Aku mengaduknya dengan
whisk secara perlahan. Agar pudingku tidak bertumpahan. Lima menit cukup
untuk memasak puding menjadi matang. Aku memasukkannya ke dalam kulkas, setelah
aku menuangkan puding yang telah dimasak ke dalam kemasan. Aku menunggu
pudingku dingin. Kali ini bisakah pudingku menghasilkan penampilan yang bagus?
Harap-harap cemas aku menunggunya.
Aku
membuka kulkas, memastikan pudingku sudah dingin. Setelah aku cek, pudingku
sudah dingin. Aku tersenyum senang. Kali ini, pudingku tidak pecah, hasilnya
memuaskan. Aku semakin percaya diri untuk berjualan.
Setelah
kurasa aku sudah menemukan kunci untuk membuat puding sedot yang enak, Aku
meminta ibu untuk membeli bahan-bahan yang aku perlukan. Semuanya kulakukan
sendiri. Bermodalkan spidol permanen, aku menggambar kemasannya agar menarik.
Karena aku tidak terlalu pandai menggambar, aku suka menjiplak gambar yang ada
di sampul buku tulis. Atau yang mudah, aku menggambar wajah dengan ekspresi
yang berbeda-beda.
Tak
disangka, ternyata puding sedotku laku. Bahkan dalam sehari, 50 bungkus habis.
Uang hasil jualan itu aku tabung. Karena aku tergoda sekali untuk membeli logam
mulia. Karena ibu kerap mengatakan kepadaku kalau harga emas itu selalu naik
setiap tahunnya.
Aku
ingin mulai membelinya dari ukuran yang kecil. Seberat 1 gram. Tak mudah
perjuanganku untuk mewujudkan anganku. Aku setiap hari harus memproduksi 50
puding sedot. Dengan jumlah itu aku mengumpulkan uang lebih banyak. Setiap kemasan
kuhargai sebesar Rp 3000, 00 . Jadi omsetku Rp 150.000, 00 setiap harinya.
Waktu
yang kuperlukan untuk memproduksi 50 puding sedot rata-rata adalah sekitar 3
jam. Namun begitu, aku tetap melaksanakan tugas rumahku, yaitu menyapu,
mengepel, memasak. Karena itu jika malam tiba, adalah waktu yang paling nikmat
untuk merebahkan diri. Tubuhku pegal sekali seharian bekerja tiada henti.
***
“Ibu, ayo kita beli emas!”
“Uangmu
sudah cukup?” tanya ibu.
Aku
mengangguk mantap. Lalu menunjukkan uangku.
“Tentu sudah,” jawabku.
Akhirnya,
kerja kerasku terbayarkan. Ibu menghubungi temannya yang menjadi agen penjualan
emas batangan. Kami mendatangi rumahnya dan akhirnya, aku menggenggam emas 1
gram itu. Hasil kerja kerasku.
Selain
berjualan, aku pun kini berburu berbagai lomba. Rencananya, jika aku
memenangkan lomba tersebut, uangnya akan kubelikan sesuatu yang bermanfaat.
Disamping
membeli sesuatu yang bermanfaat, dan bernilai ekonomis juga dapat menghasilkan
sesuatu, aku suka membelanjakannya untuk menambah koleksi bukuku. Tetapi aku
membelinya bukan hanya untuk sekedar suka. Aku membelinya sebagai bahan amunisi
untuk menambah perbendaharan kosakata dan wawasanku dalam berkarya. Aku tidak
suka membeli sesuatu yang hanya untuk kesenangan sementara. Misalnya, gawai, yang
aku anggap belum aku perlukan untuk saat ini. Karena, aku bisa meminjamnya dari
orang tuaku. Gawai menurutku hanyalah suatu pemborosan uang dan waktu. Kita
jadi harus membeli kuota, dan menghabiskan waktu bermain gawai.
Namun,
masa pandemi ini merubah segalanya. Kegiatan belajar-mengajar tidak bisa lagi
dilakukan dengan tatap muka, atau datang langsung ke sekolah. Pembelanjaran
kini dilakukan dengan cara jarak jauh. Itu berarti diperlukan gawai sebagai
medianya. Karena itu aku merasa perlu untuk membeli gawai, agar aku dan
adik-adikku bisa mengikuti pelajaran yang diberikan guru-guru kami melalui
gawai. Gawai yang tadinya merupakan kebutuhan tersier, atau kebutuhan yang bisa
diabaikan, sekarang menjadi kebutuhan utama atau premier, bagiku sebagai
seorang pelajar.
Untuk
meminta kepada orang tuaku, aku enggan. Karena bagiku, tangan di atas lebih
baik daripada tangan di bawah. Karena itu aku berburu berbagai lomba cerpen
yang berhadiah uang, seperti lomba cerpen ini. Harapanku, jika aku memenangkan
lomba ini, aku akan membelikan gawai untuk keperluan belajar, aku dan
adik-adikku.
Dari
semua kejadian itu aku belajar untuk terus produktif semasa di rumah. Masa di
rumah bukanlah masa untuk berleha-leha. Tetapi masa untuk belajar, belajar
untuk menjadi lebih baik. Masa untuk memikirkan bagaimana keadaan kita setelah
pandemi berlalu. Apakah kita ingin tetap sama seperti saat ini. Atau kita akan
berubah lebih maju.
Belajar
tidak hanya di sekolah. Di rumah kita belajar untuk membantu orang tua. Mungkin
dulu kita tidak pernah bisa memasak. Tapi karena di rumah kita lapar, dan
terpaksa untuk memasak kita jadi bisa memasak. Kita belajar untuk mengurus
rumah. Tetapi tentu saja pendidikan sekolah juga penting. Seimbang ilmu yang kita miliki. Di sekolah kita belajar
berhitung, pengetahuan. Di rumah kita membutuhkan ilmu yang tidak akan
didapatkan hanya dari buku pelajaran. Seperti pengalaman. Ilmu bersabar. Ilmu
untuk menghargai. Saling mencintai dan menghargai dengan sesama keluarga. Bukan
hanya semata-mata tahu dan hapal tentang toleransi di mata pelajaran PKN, tapi
kita dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari di rumah. Lingkungan dan
rumah adalah tempat untuk kita mengaplikasikan ilmu yang kita pelajari di
sekolah.
Kawan,
jangan pandang pandemi dengan benci. Jadikan ia sebagai motivasi untuk terus
berinovasi. Jangan hanya duduk tergugu. Tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Tapi bangkitlah, dan tunjukkan bahwa kita masih tetap berkarya walau dari
rumah.
Tetaplah mematuhi protokol kesehatan. Demi keselamatan dan keamanan. Jangan lupa untuk olahraga, makan makanan yang bergizi, menjaga pola tidur dengan cara tidak tidur larut malam. Dan yang lebih penting adalah, meningkatkan iman, agar meningkat imun kita. Semoga pandemi cepat berlalu.