Rabu, 08 November 2017

Membujuk Generasi yang "Menunduk"


Gadget
Mendengar kata “Gadget” yang ada di bayangan saya adalah benda dengan ukuran yang tidak besar dan bisa dibawa kemana-mana. Dimana saja saya berada disitu saya bisa melihat Gadget. Baik di rumah, di masjid, di sekolah, di pasar bahkan di jalan pun semua orang main Gadget. Penomena Gadget pada zaman sekarang memang menjadi life style yang tidak dapat dipungkiri kehadirannya. Bukan hanya saja orang dewasa, anak-anak pun menjadi kecanduan main Gadget. Dan dengan kehadiran Gadget ditengah-tengah zaman modern seperti ini menjadikan generasi sekarang menjadi generasi “menunduk.”
Menarik untuk kita telaah lebih jauh mengenai pengaruh kehadiran Gadget terhadap generasi sekarang terutama pengaruh Gadget pada generasi muda. Kali ini saya ingin memberi pandangan mengenai pengaruh perkembangan Gadget terhadap perilaku dan sikap generasi sekarang.  
Dizaman milenium sekarang ini, perkembangan Gadget tidak dapat dipungkiri kehadirannya, dengan kehadiran Gadget dapat membujuk generasi untuk “menunduk.”
Kemajuan teknologi adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan ini, karena kemajuan teknologi akan berjalan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Setiap inovasi diciptakan untuk memberikan manfaat positif bagi kehidupan manusia. Teknologi juga memberikan banyak kemudahan, serta sebagai cara baru dalam melakukan aktivitas manusia. Manusia juga sudah menikmati banyak manfaat yang dibawa oleh inovasi-inovasi teknologi yang telah dihasilkan dalam dekade terakhir ini.

Pada era globalisasi saat ini, penguasaan teknologi menjadi prestise dan indikator kemajuan suatu negara. Negara dikatakan maju jika memiliki tingkat penguasaan teknologi tinggi (high technology), sedangkan negara-negara yang tidak bisa beradaptasi dengan kemajuan teknologi sering disebut sebagai negara gagal (failed country).
Pada satu sisi, perkembangan dunia IPTEK yang demikian mengagumkan itu memang telah membawa manfaat yang luar biasa bagi kemajuan peradaban umat manusia. Jenis-jenis pekerjaan yang sebelumnya menuntut kemampuan fisik yang cukup besar, kini relatif sudah bisa digantikan oleh perangkat mesin-mesin otomatis. Demikian juga ditemukannya formulasi-formulasi baru kapasitas komputer, seolah sudah mampu menggeser posisi kemampuan otak manusia dalam berbagai bidang ilmu dan aktivitas manusia.
Di sisi lain, manusia tidak bisa menipu diri sendiri akan kenyataan bahwa teknologi mendatangkan malapetaka dan kesengsaraan bagi manusia modern. Kemajuan teknologi, yang semula untuk memudahkan manusia, ketika urusan itu semakin mudah, maka muncul “kesepian” dan keterasingan baru, yakni lunturnya rasa solidaritas, kebersamaan, dan silaturrahmi. Contohnya penemuan televisi, komputer, internet, dan handphone telah mengakibatkan kita terlena dengan dunia layar. Layar kemudian menjadi teman setia, bahkan kita lebih memperhatikan dunia layar dibandingkan istri/suami, dan anak sekalipun.
Facebook, twitter, BBM, WhatsApp, Instagram dan Youtube kini menjadi fenomenal dikalangan masyarakat umum di Indonesia. Dengan Aplikasi tersebut membuat komunikasi lebih mudah, cepat dan praktis. Dan kini, Aplikasi tersebut menjadi konsumsi sehari-hari bagi masyarakat umum, tidak kecuali bagi pelajar dan mahasiswa. Kemunculan teknologi yang praktis ini akan menjadi pedang bermata dua bila kita tidak bijak dalam menggunakannya. 
Genenrasi "Menunduk"

Generasi “menunduk” itulah istilah unik dan tepat untuk menggambarkan masyarakat modern terutama dikalangan pelajar dan mahasiswa yang penggila Gadget dan Internet. Alasannya, coba kita perhatikan, hampir setiap orang menunduk karena terfokus pada Gadget yang mereka genggam, tidak mengenal tempat dan waktu. Apakah hal ini merupakan sebuah kesalahan? Sebenarnya tidak. Tetapi, hal itu akan menjadi sebuah kesalahan ketika dilalukan secara berlebihan hingga dampak buruk terjadi.
Pada kenyataannya, dampak buruk memang sudah terjadi akibat aktifitas generasi “menunduk” tersebut. Dampak buruk itu lebih dirasakan pada diri sendiri, baru kemudian pada orang lain. Krisis moral dan disfungsi sosial yang berlebih menjadi titik akibat dari kenyataan tersebut. Tidak sedikitkita temui berita kriminal yang berawal dari hubungan di jejaring sosial, cybersex, tuntutan dan hujatan, hoax, dan kasus-kasus yang lain. Dalam kesehariannya pun generasi “menunduk” cenderung melalaikan tugas-tugasnya karena keasikan main Gadget.

Pengaruh Negatif Teknonogi (Gadget) bagi generasi “menunduk”
Meskipun teknologi memberikan banyak manfaat bagi manusia, namun di sisi lain kemajuan teknologi (Gadget) akan berpengaruh negatif pada aspek sosial budaya, kepribadian dan karakter generasi “menunduk”:

Kemerosotan moral di kalangan warga masyarakat, khususnya di kalangan remaja dan pelajar.

Kemajuan kehidupan ekonomi yang terlalu menekankan pada upaya pemenuhan berbagai keinginan material, telah menyebabkan sebagian warga masyarakat menjadi kaya dalam materi tetapi miskin dalam rohani. 
Lunturnya Tradisi di Masyarakat

Kenakalan dan tindak menyimpang di kalangan remaja semakin meningkat semakin lemahnya kewibawaan tradisi-tradisi yang ada di masyarakat, seperti gotong royong dan tolong-menolong telah melemahkan kekuatan kekuatan sentripetal yang berperan penting dalam menciptakan kesatuan sosial. Akibat lanjut bisa dilihat bersama, kenakalan dan tindak menyimpang di kalangan remaja dan pelajar semakin meningkat dalam berbagai bentuknya, seperti perkelahian, corat-coret, pelanggaran lalu lintas sampai tindak kejahatan.

Pola interaksi anak terhadap teman dan keluarga yang berubah
Kehadiran gadget membuat anak cenderung menyendiri, ini membuat anak sibuk dengan aktivitasnya sendiri dengan gadgetnya.

Kurangnya komunikasi anak dan keluarga 


Keluarga yang baik anak menciptakan anak yang baik pula. Komunikasi yang baik terhadap anak akan membawa kenyaman dan keterbukaan anak terhadap orang tua.

Namun, dengan kehadiran gadget membuat komunikasi anak dan keluarga berkurang anak cenderung menundunduk menatap layar gagdet-nya untuk mencari informasi yang up to date melalui media masa dibanding berkomunikasi dengan keluarga.
Tugas sekolah tak kunjung selesai

Dampak negatif dari kemajuan teknologi banyak mendatangkan kelalaian anak terhadap tugas sekolah atau kuliahnya. Pasalnya anak lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membuka atau membaca sesuatu yang tidak penting dari layar gadget-nya sehingga lupa tugasnya sebagai pelajar.

Mendatangkan mala petaka

Baru-baru ini dunia dihebohkan dengan istilah Hoax, yaitu berita yang berisi kebencian dan berita bohong. Media sosial dapat mendatangkan mala petaka bagi pengguna yang tidak bijak.
Dengan kemudahan bermedia sosial generasi menunduk dapat berinteraksi ataupun mengeluarkan aspirasi yang berlebihan. Hal ini akan dapat mendatangkan mala petaka seperti kebencian, fitnah dan kekersasan.

Kurangnya kegiatan positif anak di sekolah mauapun di lingkungan masyarakat

Akibat kehadiran gadget sedikit banyaknya telah membuat kurangnya kegiatan positif anak zaman sekarang
Di sekolah misalnya, anak-anak lebih suka mencari berita-berita tidak penting, atau selfi ria bersama teman-temannya dibandingkan ikut kegiatan ekstrakurikuler. Dalam lingkungan masyarakat, kehadiran Gadget membuat pergaulan anak terbatas. Anak-anak kurang mengikuti kegiatan atau organisasi-organisasi masyarakat. Misalnya remaja masjid. Anak-anak lebih suka menyendiri dalam kamar ataupun di rumah dengan Gadgetnya.


Sebenarnya, masih banyak pengaruhburuk dari perkembangan Gadget terhadap perilaku anak-anak yang menyimpang. Itu hanya beberapa yang saya temui disekitar lingkungan saya. Namun demikian, belum terlambat bila kita ingin turn back crime terhadap pengaruh buruk anak terhadap perkembangan Gadget.
Saya selaku generasi muda mencoba memberi solusi terhadap pengaruh negatif perkembangan Gadget. Intinya bila kita ingin balas balik pengaruh buruk gadget terhadap generasi menunduk, kita bisa memulainya pada diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Apabila kita bekerjasama mengatasi pengaruh buruk Gadget saya yakin kita dapat membujuk generasi yang“menunduk” kearah yang lebih positif.


Keluarga yang harmonis dan perhatian





Keluarga merupakan salah satu komunitas terkecil yang menjadi landasan pertama untuk membentuk karakter anak. Keluarga yang baik, akan menciptakan generasi yang baik pula. Pengaruh baik atau buruk dari perkembangan Gadget dimulai dari keluarga. Keluarga yang selalu memperhatikan perilaku anak dapat memfilter sikap negatif anak dari pengaruh buruk Gadget.

Tanamkan nilai Agama yang baik



Dari segala permasalahan diatas, Nilai-nilai agama yang baik itulah jawabannya. Peran agama memang sangat diperlukan di tengah masyarakat modern ini. Pertama, karena nilai-nilai agama memang yang paling tepat sebagai acuan moral masyarakat. Kedua, karena agama berguna untuk menumbuhkan kadar spiritualitas yang tinggi. Jika kadar spiritualitas seseorang tinggi, otomatis ia tidak akan melakukan hal-hal yang tidak bermoral.



Bila dihubungkan dengan problem generasi “menunduk” yang bebas melangkah di dunia maya, maka agama memiliki peran sebagai filter. Karena dalam  mengakses internet tidak ada hal-hal yang membatasi kita untuk membuka apa saja. Akibatnya sulit untuk memfilter mana yang baik dan yang buruk. Di sinilah perlu adanya kesadaran dari dalam untuk membentengi diri kita dari hal negatif. Selain itu, perlu adanya upaya-upaya yang dilakukan sebagai bentuk konkrit untuk menanamkan nilai dan norma agama tersebut.Salah satu upaya itu adalah mengalihkan kegiatan mengakses internet ke arah yang positif seperti aktif di blog-blog keilmuan atau blog-blog yang bernafaskan keagamaan. Bisa juga mengalihkan pada hal-hal yang berhubungan dengan minat dan bakat para pengguna internet untuk menunjukkan kreatifitasnya. Tentu didasarkan pada nilai-nilai yang positif.

Pengawasan orang tua yang intense







Orang tua yang sibuk dengan pekerjaan tanpa pengawasan yang intense terhadap anak menjadi salah satu faktor anak berperilaku menyimpang. Sesibuk apapun orang tua, alangkah lebih baik selalu menyempatkan berkomunikasi pada anak. Misalnya bertanya berita apa yang up to date dan menjadi tranding topic sekarang, dan perintahkan anak untuk mencarinya menggunakan Gadgetnya tetapi harus tetap dalam pengawasan orang tua.

Jangan mengikuti keinginan anak yang berlebihan
Anak yang selalu menuntut keinginannya menjadi salah satu faktor pengaruh buruk generasi sekarang. Keinginan anak yang berlebihan anak menjadi mata pedang yang dapat melukai diri sendiri. Orang tua seharusnya selektif memilih dan menuruti keinginan anak. Anak dibawah umur seharusnya tidak perlu diberikan Gadget/smartphone yang dapat mempengaruhi perilakunya. Anak dibawah umur sepatutnya diberikan barang-barang yang berguna untuk dirinya sesuai dengan umurnya.

Upaya selanjutnya yang harus kita lakukan adalah menyadarkan para individualis 
Agar mereka meyeimbangkan sosialisasinya antara di dunia maya maupun nyata. Upaya ini bisa dilakukan oleh orang-orang terdekat seperti keluarga, guru atau teman untuk meredamkan sikap mereka yang cenderung egois. Misalnya, kita sampaikan tentang pentingnya silaturrahim. Bahwa silaturrahim tidak hanya dilakukan di dunia maya tetapi juga dunia nyata yang lebih real.

Peran Pemerintah 

Demi menciptakan Indonesia bebas generasi “menunduk” saya berharap peran pemerintah dalam menangani pengguna Gadget dalam negeri dapat di kurangi. Terutama pengguna gadget pada generasi muda. 

Menurut saya, peran pemerintah masih lemah mencegah pengguna Gadget dibawah umur. Salah satu peran pemerintah dalam mencegah generasi “menunduk” adalah membuat peraturan atau undang-undang untuk generasi dibawah umur dilarang menggunakan Gadget. Apabila melanggar, akan mendapat hukuman ataupun denda yang setimpal. Memang, menggunakan Gadget adalah hak pribadi seorang tetapi ini adalah cara yang ampuh untuk mengurangi dampak buruk dari perkembangan Gadget pada generasi yang “menunduk.”


Sekian. Terima Kasih....... !!! 




Inovasi Media Pembelajaran Berbasis Android

PEMBELAJARAN IPA TERINTEGRASI ETNOSAINS Kurikulum merdeka belajar memiliki empat karakteristik utama untuk mendukung pemulihan pembelajaran ...