Jumat, 13 November 2020

CERPEN

 

Mutiara Kemingking

“Bagaimana mau sekolah tinggi-tinggi. Coba kau lihat, jangankan Bahasa Inggris, Bahasa gaul saja kau tidak bisa” suara Evan menggema.

Pagi itu, diskusi dimulai. Di dalam kelas itu terdengar riuh bagikan petir yang saling sahut menyahut. Ada yang menjerit karena kesal, ada yang marah karena pendapatnya tidak ditanggapi ada seribu tingkah. Pagi itu, sekitar pukul 07.15 mentari mulai meninggi, di ufuk timur cahayanya mulai bersembunyi di balik awan-awan putih. Hawa panas mulai terasa menyengat di kulit. Angin kecil mulai masuk ke dalam kelas disela-sela pentilasi hingga membuat tirai jendela bergelombang kecil.

Pagi itu di Kemingking udara terasa panas. Mungkin sudah masuk musim kemarau. Daun-daun yang hijau mulai menguning. Duku mulai membesar berjajar ditepi jalan utama. Candi Gumpung masih kokoh berdiri, Telago Rajo masih menyimpan airnya. Sungguh anugerah Tuhan yang luar biasa.

“Bahasa gaul? Untuk apa aku memakai Bahasa alay itu. Kita tinggal di Indonesia tanah melayu jangan kau bawakan Bahasa itu kesini” Zawati mulai memanas. Ia memang ahli dalam berdebat. Ia meladeni berdebat dengan Evan laki-laki yang bercita-cita kuliah di UGM.

Lintang. Laki-laki yang duduk termenung di sudut kelas menyaksikan perdebatan orang-orang itu. Ia memang tidak tertarik dengan pelajaran Bahasa Indonesia apalagi melihat gurunya, Pak Indra yang jadul dan tidak gaul. Baginya Bahasa Indonesia sulit untuk dipahami. Ia terbiasa menggunakan Bahasa daerahnya jika berkomunkasi dengan teman-temannya bahkan dengan gurunya sekalipun.

“Apa salahnya. Coba kau buka mato kau, Ti. Dunia sudah maju sekarang. Kau lihat, orang sudah pergi kebulan. Nah, kau masih saja tidak berkembang” ledek Evan pada Zawati.

Sejenak Zawati terdiam, ia menarik nafas dalam mencoba mencari pertolongan dari teman-temannya. Ia menoleh ke kanan ke kiri namun tidak ada satu pun yang peduli. Kini ia benar-benar sendiri. sementara itu, Pak Indra laki-laki paro baya itu melihat pergaulan siswa-siswanya. Ia hanya duduk memperhatikan dan mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari orang-orang itu. Sekali-kali ia menulis entah apa yang ia tulis.

“Walaupun dunia sudah maju tapi kita tidak boleh melupakan asal kita. Jangan seperti kacang lupa dengan kulitnya” wajah Zawati mulai memerah. Ia benar-benar marah.

“Lantas apa yang kau mau lakukan? Mau tunak di dusun ini? Seperti perempuan-perempuan desa lainnya? selesai sekolah nikah?”

“Banyak yang kita lakukan sebagai generasi muda. Salah satunya kita harus menjujung tinggi Bahasa kita. Bahasa daerah ini sebagai identitas kita. Agar kita tidak lupa dari mana kita berasal”

“Bahasa kita? Bahasa daerah kita yang kuno ini? Kenyok, belambun, kelagik. Itu? Mau kau pakai Bahasa nyai, datuk kau itu?” ucapnya kemudian “Pastilah orang-orang tertawa mendengarkan itu, Ti. Coba la buka pikiran kau itu. Kita harus lihat dunia. Buka mata. Dunia bukan hanya di Kemingking ini saja” Evan membalas. Kali ini ia benar-benar membuat Zawati mati suri tak berdaya.

“Sudahlah, Ti. Tidak Telap kau melawan Evan Dewekan. Dia itu keras kepala, tidak mau kalah” Husna berbisik kecil ditelinga Zawati. Ia melihat Zawati sudah lelah. Matanya merah, pandangannya hanya ada kebencian pada laki-laki itu.

“Tidak, Na. aku tidak terima dia merendahkan Bahasa kita. Bahasa nenek buyut kita”

“Iya kulo tahu. Tapi ini kau dewekan, Ti”

Zawati tidak pernah menghiraukan ucapan sahabatnya. Ia tidak marah jika dirinya diremehkan orang lain tapi ia akan marah jika sudah berkaitan dengan harga diri daerahnya, ia tidak pernah menyerah. Itu prinsipnya.

Mendengar itu, Lintang terperanjat. Ia memandang Evan. Matanya tajam sangat berisi. Ia melihatnya dengan benci. Ingin rasanya ia mematahkan ucapan Evan, ingin rasanya ia berdebat dengan Evan. Tapi, ia takut. Takut ditertawakan karena bahasanya.

“Aku tidak setuju dengan kau, Van! Kau boleh belajar Bahasa apa pun. Bahasa gaul, Bahasa asing sampai Bahasa binatang pun tidak apa. Tapi satu, Bahasa ibu kita jangan kau lupakan. Sebagai generasi muda, aku sangat mencintai Bahasa daerahku, aku bangga dengan Bahasa yang kau bilang kuno itu. Dengan Bahasa kuno itulah Kemingking ini berdiri, dengan Bahasa kuno itulah candi Gumpung masih berdiri kokoh sampai kini. Dengan Bahasa kuno itulah Telago Rago masih menyimpan airnya. Dengan Bahasa kuno itulah Kemingking dikenal. Selagi Kemingking ini berdiri selagi itulah aku mempertahankan Bahasa ibuku” suara Zawati menggema. Ia mencoba mempertahankan harga diri Bahasa daerahnya walau hatinya rapuh tak berdaya lagi.

“Orang desa bukan berarti tidak boleh punya cita-cita. Orang kota, orang desa sama saja. Kami juga punya cita-cita” Zawati sedikit tegar.

Evan terdiam. Ia melihat Zawati tidak enak. Matanya merah. Senyum sinisnya seketika menghilang. Hanya terlihat kebencian.

“Sudahlah, Ti. Lupakan saja cita-citamu itu. Kau urus saja Bahasa kunomu itu. Bahasa kuno kau itu tidak cocok dibawa ke kota. Malu Ti, malu” Evan tertawa kecil.

“Evan, Zawati cukup” Pak Indra melerai perdebatan.

Evan terdiam begitu pun dengan Zawati. Sejenak kelas sunyi tak bersuara. Hanya terdengar beberapa kali kicauan burung balam yang melompat dari satu ranting ke ranting yang lainnya. Harapan Zawati telah pupus. Laki-laki itu sudah menyakiti hatinya. Ia menggenggam tangannya agar tidak menangis. Ia mencoba tersenyum kecil melihat ke arah Pak Indra yang duduk di depan kelas. Dibalik senyumnya tersimpan luka di hatinya.

“Perdebatan ini tidak akan selesai kalau kalian seperti ini” ucap Pak Indra. Lalu kemudian.

“Evan” dari sudut kelas Lintang memanggil dengan suara yang keras.

Semua terdiam. Suara Lintang bagaikan gendang yang ditabuh. Dilihat dari raut wajahnya, sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu pada laki-laki itu. “Ayahku pernah bertanya padaku asal mula tanah Kemingking ini. Pernahkah kau tahu sejarah tanah ini, Van?”

Tiba-tiba lintang bangkit. Wajahnya serius. Matanya penuh dengan angan. Dia seperti orang lain pagi itu. Pak Indra hanya terdiam melihat Lintang berbicara. Matanya tertegun, mulut Pak Indra terkunci melihat bagaimana dengan lantangnya Lintang berbicara.

“Pernahkah kau tau sejarah Kemingking ini? Bagaimana para ninik mamak kita dahulu memperjuangkan tanah Kemingking dan mempertahankan Bahasa daerah ini? Kau seharusnya bijak dalam berkata. Walau kau tidak merasakan perjuangan mereka, setidaknya kau menghargai perjuangan mereka”

Evan terdiam. Tidak menyangka Lintang dengan begitu gagahnya berbicara seperti itu. Selama ini, ia hanya dikenal diam dan tidak peduli dengan pelajaran tapi kali ini dia mulai berbicara. Melihat itu, Zawati tersenyum kecil. Harapan dalam dadanya mulai timbul walau sedikit redup. Lintang harapan satu-satunya untuk memperjuangan argumennya untuk mempertahankan Bahasa daerah Kemingking.

“Sebagai generasi muda. Kalau bukan kita yang menjaga budaya kita siapa lagi? Kalau bukan kita yang melestarikan siapa lagi? Kita boleh saja menggunakan Bahasa asing tapi ingat Van, dengan Bahasa ibulah kau dibesarkan. Dengan Bahasa daerahlah kau mengenal Kemingking ini”

Evan tertegun. Begitu juga Pak Indra. Semua mata terbelalak melihat laki-laki itu. Ia begitu lihai membabat perkataan Evan. Zawati semakin lebar tersenyum ia tambah yakin akan mengalahkan Evan dalam perdebatan itu.

Suasana kelas semakin mencekam. Sunyi dan tak bersuara. Hanya suara Lintang yang terdengar. Hawa panas berubah menjadi dingin. Rimbunnya dedaun membawa angin sepoi masuk hingga menari-nari dikulit dinginnya terasa hingga ketulang.

“Aku tidak peduli sejarah Bahasa kuno ini. Bagiku Bahasa yang kau pakai itu kuno tidak ada kemajuan” Evan mencoba membela diri.

“Kalau begitu kau bukanlah generasi yang baik”

Evan bingung sekali-kali ia mengerutkan keningnya. “Maksudmu?” tanya Evan bingung

“Ingat kata Bung Karno jangan pernah melupakan sejarah. Ini akan membuat dan mengubah siapa diri kita. Kalau kau tidak tahu dan tidak menghargai sejarah Kemingking ini, maka kau tidak akan bisa mengubah bangsa ini. Asalkan kau tahu, Bangsa yang besar ialah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya. Begitupun dengan Kemingking ini. Sebagai generasi Indonesia kita wajib memperjuangkan tanah nenek buyut kita”

Suasana hening. Sesaat Lintang terdiam, ia mencoba menarik nafas dalam. Mencoba menenangkan dirinya agar tidak emosi. Zawati hanya tersenyum melihat kepandaian Lintang merangkai kata-kata. Evan tidak bersuara sekali-kali ia mencoba membantah namun suaranya tidak keluar. Lintang menjadi idola pagi itu.

“Kita wajib melestarikan budaya leluhur kita. Bahasa yang kita pakai inilah Kemingkingan sebenarnya. Kemingking tidak mengenal Bahasa yang kau sebutkan tadi. Kemingking tidak mengenal Bahasa alay yang kau utarakan tadi. Inilah kemingking dengan sejuta sejarah dan peradaban. Untuk Kemingking aku berdiri disini. Karena Kemingking aku hidup. Karena Kemingking aku bernafas. Selagi nyawa ada diraga maka Kemingking tetap ada. Selagi Telago Rajo menyimpan air, selagi Gumpung berdiri kokoh, selagi Astano tegak berdiri aku akan perjuangkan Bahasa Ibuku. Bahasa Kemingking. Bahasa pemersatu Bangsa” Lintang tak hanya dikenal pendiam, ternyata dia juga ahli sejarah. Ia banyak mengetahui sejarah daerah yang ia cintai, Kemingking.

“Apakah kau lupa Van. Ninik mamak, para tuo tuo tengganai dulu menitipkan Kemingking ini pada kita? Pada aku, kau kita semua. Jangan kau banggakan Bahasa alaymu itu. Jangan kau bangga dengan Bahasa penjajah kita dulu. Tapi banggalah dengan Bahasa daerahmu. Walau katamu kuno tapi ingat dengan Bahasa ibulah kau dibesarkan” tutupnya.

Sejenak semua terdiam. Beberapa detik tak terdengar suara apa pun. Zawati hanya tersenyum melihat Lintang, dia bagaikan pahlawan  pagi itu. Pak Indra senyum bangga, Lintang selama ini diam kini ia menunjukkan siapa dirinya. Dia adalah orang yang pertama menentang jika harga diri daerahnya di lecehkan, ia orang pertama memperjuangkan jiwanya jika harga diri daerahnya direndahkan. Evan hanya bisa tertunduk malu. Suaranya seketika menghilang.

Lintang, mutiara Kemingking. Didikan alam. Laki-laki lintas sejarah. Sang penjaga Kemingking. Pelindung negeri seribu candi. Ia terlahir dari alam Kemingking tanah Pusako Betuah wawarisan ninik mamak tuo-tuo tengganai.

CERPEN HARAPAN DARI KERTAS BURAM

 HARAPAN DARI KERTAS BURAM

Hujan terdengar riuh pecah ditelinga. Air yang berjatuhan mengenai setiap debu-debu yang bertaburan. Pagi itu, gerimis telah berubah menjadi hujan yang deras membuat gaduh setiap penduduk bumi, petir terdengar bersahut-sahutan diangkasa. Didalam kelasnya, Rangga duduk termenung sambil menatap ke langit biru yang telah berubah menjadi abu-abu.

Pagi itu suara hujan lebih enak didengar olehnya dari pada kertas putih yang bertinta hitam dihadapannya itu.

“Rangga?” panggil Bu Tina padanya. Rangga tidak menyadari panggilan itu, dia asik memandang langit nan jauh disana. Suara hujan sungguh enak di dengar olehnya.

“Rangga?” suara Bu Tina kembali menggema Rangga tak juga mendengarnya. Sepertinya hujan telah membawanya jauh pergi kenegeri fatamorgana, dunia hanya ada dirinya dan orang-orang yang dia sayangi.

“Ranggaaaa?” suara Bu Tina melengking terdengar keras hingga membuat semua siswa melihat kearah Rangga.  Mendengar suara keras itu Rangga terbangun dari lamunannya. Seketika ia kaget. Matanya terbelalak melihat wajah Bu Tina yang merah. Bagaikan singa yang siap menerkam.

Sesaat kelas sunyi hanya terdengar suara hujan dari pantulan atap kelas. Bu Tina terdiam sejenak mencoba mengatur nafasnya. Lalu kemudian “Apa kamu tuli? dari tadi saya manggil kamu?” suara lengkingan Bu Tina kembali menggema. Semua siswa tertunduk takut. Mereka sudah paham dengan Bu Tina kalau dia sedang marah.

 Apapun yang ada dihadapannya tidak akan lolos darinya. Jangankan Rangga gunung pun akan ia angkat kalau ia lagi marah begitu kata anak-anak pada Bu Tina yang dikenal dengan guru yang tegas itu.

“Mengapa kamu melamun? apa yang kamu pikirkan?” tanya Bu Tina pada Rangga. Raut wajahnya tidak berubah. Tetap menyeramkan bagi Rangga. Wajahnya memerah. Matanya membesar. “Apa kamu selesai ujiannya?” tanya Bu Tina kembali. Rangga menggelengkan kepalanya. Sekali-kali ia melihat kebawah menatap kertas putih yang belum ia sentuh dari tadi.

Sekolah bukanlah tempat yang nyaman bagi Rangga. Baginya, sekolah bagaikan jahanam yang membakar jiwanya. Dia benci ujian dia benci ulangan, dia benci tugas dia benci guru-gurunya yang jadul dan tidak gaul dia benci teman-temannya, dia benci bu Tina guru yang membuat hidupnya tidak nyaman disekolah.

Hujan mulai reda, hawa dingin perlahan menghilang kini mulai terasa panas masuk disela-sela jendela kelas. Rangga benar-benar tidak enak. Entah mengapa ia merasa hari ini terasa berbeda. Apa yang ia rasakan semuanya tidak enak dijiwanya. Ia melihat kearah bu tina yang sedang menulis, entah apa yang ia tulis. Rangga tidak peduli. Ia menengok ke kiri dan ke kanan. Semua orang tertunduk mulutnyanya komat kamit seperti lagi berzikir, matanya kenanan kekiri membaca setiap kalimat dikertas putih itu.

“Waktunya tinggal 20 menit lagi” suara bu Tina kembali menggema

Suara Bu Tina sungguh tidak enak didengar oleh Rangga. Ia ingin cepat-cepat keluar dari kelas yang membuatnya tidak enak itu.

“Ngga..Ngga” tiba-tiba bahu Rangga dipukul oleh Gery. Ia menoleh, Gery sepertinya cemas karena ia belum juga menyelesaikan ujiannya. Rangga tak bersuara. Ia hanya mengangkat sedikir kepalanya tanda memberi isyarat

“Apa”

“Kamu sudah selesai belum?”

“Belum”

“Nomor 7 apa jawabannya?”

“Aku belum selesai. Kertas aku masih kosong ni” tunjuk Rangga

“Wwaahh. Para kamu. 20 menit lagi waktunya mau selesai”

“Terus bagaimana?” sambung Ragga

“Oke. Aku ada ide?”

“Apa?” lanjutnya

“Sekarang keluarkan kertas itu!” bisik kecil Gery pada Rangga

“nanti ketahuan sama bu Tina. Jangan cari gara-gara kamu”

“Tidak Ngga, ayolah cepat lihat. Bu Tina tidak bakalan tahu kalau kamu tidak kasih tahu”

“Waktunya tinggal 5 menit lagi” suara bu Tina kembali terdengar mendesak ditelinga Rangga. Mendengar itu, kelas kembali riuh. Suara terdengar pecah. Semua panik. Suasana kelas tak menentu. Gery mencoba merayu Rangga. Ia mengeluarkan seribu jurusnya agar Rangga mau melihat kertas putih buram yang telah ia siapkan dari semalam. Namun, hati kecilnya berkata tidak. Ia tahu resiko yang akan ia dapat jika ketahuan menyalin dari kertas itu.

“Ayo, Ngga. Waktunya mau habis ni. Kamu mau nilai kamu jelek?” Gery mencoba merayu kembali kali ini ia sangat mendesakkan Rangga. Pikiran Rangga kacau. Ia gelisah. Ia melihat ke kanan dan ke kiri. Matanya tak menentu. Sekali-kali ia melihat ke Bu Tina yang sedang merapihkan mejanya dari buku-buku.

“Ayo, Ngga!”

“Aku takut, Ger”

“Tidak apa-apa. Tidak akan ketahuan. Waktunya mau habis ni”

Rangga tergoda. Jiwanya memberontak. Hati kecilnya tidak bisa ditahan atas rayuan Gery yang terus mendesaknya. Ia membukanya dengan perlahan. Ia menengok-nengok ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada yang melihatnya termasuk bu Tina. Hatinya bergetar hebat. Sekali-kali Terbesit dihatinya jika ia didapat oleh bu Tina tengah melihat jawaban dari kertas buram itu.  Ia menulis dengan cepat. Tanggannya bergoyang dengan hebatnya menulis setiap kata, setiap kalimat dari kertas buram itu. Harapannya terpenuh sudah. “aku pasti mendapatkan nilai yang bagus” gumamnya dalam hati.

Wajahnya yang tegang mulai menghilang, seiring dengan waktu berakhir. Ia semangat menulis begitu pun dengan Gery. Sungguh ia sangat beruntung. Waktu kian mendekati titik akhir ujian. Beberapa siswa telah menyelesaikan tugasnya. Tinggal beberapa siswa yang tertinggal. Kelas kembali kondusif. Hawa panas mulai masuk ke kulit terasa hingga ke ubun-ubun. Mata bu Tina melihat kemana-mana. Ia memastikan siswanya benar-benar bekerja dengan baik. Dan seketika ia berteriak.

“Ranggaa!”

Mendengar itu Rangga terbangun dari kekhusukkannya. Ia kaget. Dilihatnya Bu Tina yang berdiri di depan kelas.

“Apa itu, Rangga?” sambungnya

Rangga tak bersuara. Hatinya kecut. Wajahnya mulai pucat. Sekali-kali ia melihat kearah Gery. Ia mencoba menyembunyikan kertas buram itu dari tangannya. Namun, sayangnya bu Tina terlanjur melihatnya. Kaki bu Tina melangkah mendekati Rangga. Melihat itu, Rangga tertunduk takut. Ia merasa hidupnya tidak lama lagi. Bu Tina bagaikan malaikat maut yang siap menyabut nyawanya.

“Keluarkan!” pintanya Rangga tak berdaya. Ia hanya tertunduk malu dan takut. Keringat dingin mulai membasahi badannya. “t..t..tidak, bukan apa-apa bu” Rangga tergagap

“Keluarkan!” pinta bu Tina kembali dengan nada yang cukup tinggi

Wajah Rangga pucat pasih seperti cendawan dibasuh. Ia benar-benar tak berdaya. Darahnya terasa panas, jantungnya berdetak kencang. Matanya merah. Sungguh ia benar-benar tak berdaya. Lalu ia mengeluarkan kertas buram itu dari laci mejanya. Ia mengulurkan pada bu Tina. Lalu wanita itu pun mengambilnya. Perlahan ia membolak-balikkan kertas itu. Ia membacanya setiap kalimat. Lalu kemudian.

“Kamu mencontek, Ngga?”

Selesai sudah hidup Rangga. Ia tak berdaya. Ia tidak bisa menghela lagi. Harapan satu-satunya sudah ditangan bu Tina. Ia hanya bisa tertunduk malu. Suara bu Tina pecah ditelinga Rangga, suara itu lebih seram daripada suara petir. Sungguh Rangga tak berdaya.

“Saya minta maaf, Bu” mohonnya

Wajah Rangga sungguh iba. Suaranya parau tak berdaya. Ia hanya pasrah pada Bu Tina. Ia tak melihat wanit itu ia hanya menundukkan kepalanya dari tadi. Melihat Rangga, bu Tina menajdi iba. Ia merasa bersalah membuat Rangga seperti itu. Lalu ia berkata

“Untuk apa kamu berharap pada kertas buram ini. Ia tidak akan bisa membuat massa depanmu lebih baik. Yang mengubah massa depan kamu itu adalah diri kamu sendiri. kalua kamu tidak percaya dengan diri kamu sendiri bagaimana kamu bisa mengubah massa depanmu lebih baik. Lain kali jangan mencontek lagi. Kali ini ibu memaafkan kamu. Ibu yakin kamu bisa jika kamu berusaha keras. Lanjutkan ujiannya” tutup Bu Tina.

Rangga kaget. Matanya membesar. Bukan karena hukuman dari Bu Tina. Tapi ia benar-benar kaget. Hatinya tak bisa tergambarkan dengan apa-apa. Benarkah itu Bu Tina? Apakah itu malaikat penolong saya? Ataukah itu malaikat maut menjelma jadi Bu Tina? Gumamnya dalam hati. Hari itu memang hari keberuntungan baginya. Rangga selamat dari cengraman Bu Tina. Ia merasa lega. Nafasnya berhembus dengan lapang. Sungguh ia beruntung. Ia tertunduk malu. Ia merasa pesan Bu Tina memang ada benarnya ia sudah berharap pada kertas buram dan tidak percaya pada dirinya sendiri. Terima kasih Bu Tina.

 

Kamis, 17 September 2020

Berkarya Ditengah Pandemi

Corona Virus Disease

Mendengar kata ‘virus’ yang terbayang dibenak saya adalah organisme kecil yang menyerang kekebalan tubuh manusia. Jika virus menang maka manusia akan sakit dan bisa disembuhkan dalam bebarapa hari saja. Sejuah ini saya hanya mengenal beberapa virus saja seperti virus flu burung, SARS, MERS, ebola dan lainnya. Namun ketika akhir 2019, dunia dihebohkan dengan kemunculan virus baru yaitu Corona virus disease (covid-19) yang berasal dari negera tembok raksasa yaitu kota wuhan. Dalam pikiran saya, corona virus sama seperti virus lainnya tidak begitu berbahaya jika manusia terinfeksi. Tetapi, berbeda dengan kenyataannya sampai saat ini covid-19 sudah menyerang sekitar sekitar 29 juta orang di dunia. Termasuk Indonesia, hingga saat ini kasus di Indonesia terus meningkat. Ini membuat sebagian besar sekolah di Indonesia tutup dari awal April 2020.

Ilustrasi Virus Corona 2019-nCoV (Public Domain/Centers for Disease Control and Prevention's Public Health Image)

Covid-19 di Jambi

Kehadiran virus covid-19 di Jambi turut mewarnai kehidupan masyarakat dengan berbagai dampak dan fenomena yang ditimbulkannya. Salah satunya adalah berdampak pada ekonomi dan Pendidikan. Sekitar 3 bulan sekolah di Jambi tidak ada aktivitas belajar mengajar. Siswa dianjurkan belajar dari rumah. Hal tersebut merupakan tindak lanjut surat edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan Corona Virus Disease (Covid-19) pada satuan Pendidikan dan arah Direktur Jenderal Kebudayaan terkait area layanan publik serta sebagai upaya dalam menjaga dan melindungi masyarakat guna mengantisipasi penyebaran virus Covid-19.

Kondisi Tugu Keris Siginjei Sepi (metrojambi.com)


Kondisi Jl. Gatot Subroto Jambi (metrojambi.com)

Ini membuat saya dan guru-guru yang lain harus memutar otak mencari cara agar proses pembelajaran online menarik dan tidak membosankan. Seribu cara yang dilakukan guru agar materi pembelajaran tersampaikan dengan baik. Mau tidak mau guru-guru harus beradaptasi dengan model pembelajaran berbasis digital. Kehadiran covid-19 ibarat seperti pedang bermata dua, jika guru memanfaatkan kondisi ini dengan baik, maka dalam membentuk karakter peserta didik akan tercapai, jika tidak dimanfaatkan dengan baik, maka pembentukan karakter peserta didik akan sulit tercapai. 
Kehadiran coronavirus ternyata membawa dampak positif terhadap dunia Pendidikan, bencana kesehatan ini memaksa semua pegiat pendidikan “hijrah” memanfaatkan teknologi dalam mengajar ditengah pandemi ini.

Indahnya menyapa melalui aplikasi zoom

Majelis Pagi bersama anak-anak dengan zoom

Tetap Tersenyum meski hati diselimut kerinduan

SMPIT Nurul ‘Ilmi Jambi

Nuansa sepi tanpa katifitas anak-anak terlihat disetiap sudut mata memandang. Hanya terlihat daun-daun yang bergoyang. Tidak terdengar hiruk pikuk suara anak-anak. Mereka dirumah, mereka belajar dari rumah. Setidaknya tiga bulan lamanya Nurul ‘ilmi sepi senyam tanpa lantunan Al-Quran terdengar. Ini membuat hati saya dan para guru lainnya merasa sedih tidak bisa menyapa dan bersalaman dengan sang penjaga wahyu Allah.

Kegiatan Siswa Sebelum Pandemi

Kegiatan Ikrar Pagi Sebelum Pandemi


Indahnya Shalat Dhuha sebelum pandemi








Belajar dan Bermain


Kunjungan Ke Panti Asuhan




Keseruan Kegiatan Pramuka Sebelum Pandemi

Menghafal Kosa Kata Asing

Corona benar-benar membuat saya memutar otak dalam mengajar bagaimana cara membuat pembelajaran menarik dilakukan selama anak-anak dirumah. Belajar dengan bermain mungkin menjadi solusi yang tepat dalam menciptakan suasana menarik selama belajar dirumah.

Pembelajaran berbasis proyek menjadi salah satu pembelajaran yang sering saya lakukan dalam menciptakan suasana baru ketika mengajar daring. Belajar berbasis proyek menanamkan karakter mandiri dan disiplin pada peserta didik.





Sekolah Tatap Muka di Massa Pandemi
Jambi merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang termasuk dalam zona kuning, pada tahun ajaran baru kementerian Pendidikan Indonesia memperbolehkan siswa sekolah di zona kuning dan hijau. Kabar ini sangat menggembirakan bagi saya dan anak-anak. Namun, siswa masuk dengan protokol kesehatan yang sangat ketat.







Harapan saya dan semua orang. Semoga para guru selalu memberikan yang terbaik pada anak bangsa dalam membentuk karakter peserta didik ditengah pandemi. Saya berdoa pandemi ini segera berlalu...

#CerdasBerkarakter, #BlogBerkarakter, #SeruBelajarKebiasaanBaru, dan #BahagiaBelajardiRumah 



Inovasi Media Pembelajaran Berbasis Android

PEMBELAJARAN IPA TERINTEGRASI ETNOSAINS Kurikulum merdeka belajar memiliki empat karakteristik utama untuk mendukung pemulihan pembelajaran ...