Jumat, 29 September 2017

CAHAYA SENJA UNTUK LAILA

1
BUMI DAN LANGIT
Namaku Rahmat. Aku adalah laki-laki yang paling merana di dunia. Orang-orang menjauhiku karena sikap dan perilaku aku yang tidak sesuai dengan arti namaku. Orang tua memberi nama Rahmat berharap supaya aku menjadi anak yang mendatangkan kebaikan pada diriku dan orang-orang disekelilingku. Namun harapan itu amat jauh dari diriku. Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara. Aku sangat berbeda dengan adikku Bumi. Dia begitu baik. Berperilaku baik dan berbudiman. Orang tua selalu memberi kasih sayang lebih antara aku dan adikku. Usia yang terpaut jauh membuatku terkadang merasa iri terhadap apa yang telah didapat oleh Bumi. Terkadang diriku merasa rendah bila bersampingan dengan adikku Bumi. Menjadi kebanggaan keluarga dengan segudang prestasi membuat aku menjadi benci dengan Bumi adikku.
Langit adalah sahabat kecilku. Dia adalah laki-laki yang sempurna. Tak jauh beda dengan adikku Bumi bila aku lihat Langit aku merasa jauh bila disetarakan dengan dirinya. Langit adalah pemuda yang tampan memiliki segudang bakat dan ide kreasi yang manakjubkan. Menjadi idola setiap wanita disekolah membuatku menjadi minder saatku jalan dengan Langit. Tapi bila dilihat-lihat wajahku tak begitu jelek, bila dibandingkan dengan Langit rupaku tak jauh beda hanya aku adalah laki-laki yang tak bisa mengurus diriku sendiri.
“ma, nanti aku pulang agak sore. Ada jam tambahan disekolah” ucapku menyantap roti yang dilumuri selai nanas kesukaanku
“jam berapa?” tanya mama tak melihat kearahku
Sejenak aku menahan lumatan roti dimulutku dan melihat kearah mama yang sibuk melayani bumi “jam 3” sambungku dan melanjutkan mengunyah roti dimulutku
“kenapa tidak pulang dulu. Jam setengah dua kan kamu sudah pulang?” sambung papa mengoles slai dirotinya
Aku kembali berhenti mengunyah roti dimulutku, sesaat aku menelan lumatan selai nanas sebelum aku menjawab pertanyaan papa.

“tidak sempat pa, habis sekolah langsung ngerjain tugas dirumah teman. Lalu langsung kesekolah lagi”
Papa tidak menjawab ucapanku. Dia hanya asik memakan roti yang telah dioles selai cokelat diatas rotinya. Begitu pun dengan mama. Mereka tidak pernah melayani aku dengan sepenuh hati hanya setengah memberikan kasih sayang mereka padaku. Ataukah usiaku telah dewasa sehingga kasih sayang mereka sedikit berkurang padaku dan memberi lebih pada bumi adikku? Tapi itu tidaklah adil. Aku juga anak mereka aku juga butuh kasih sayang dari mereka.
“pa, besok bumi ikut lomba olimpiade fisika. Acaranya akan berlangsung meriah. Dihadiri langsung oleh menteri pendidikan”
“oh iya. Jam berapa acaranya? kalau sempat papa juga mau lihat bumi lomba” 
Begitulah kasih sayang yang tak pernah aku dapat. Dimanja dan diperlakukan seperti bumi. Aku hanya diam mendengar percakapan bumi dan papa. Aku hanya melumat roti dimulutku dengan penuh kebencian. Bumi dan bumi seringkali papa membandingkan aku dengan adikku. Itulah yang membuat aku semakin tidak suka dengan adikku bumi.
“gak tau pa, kata guru bumi sekitar jam 9 pagi itu pun belum pasti” jawab bumi memandang mata papa
“kalau jam segitu papa tidak bisa hadir. Masih banyak kerjaan dikantor”
“tidak apa-apa pa. Do’aoin saja semoga bumi lancar lombanya”
Percakapan itu semakin membuatku merasa tidak enak. Angin pagi yang sejuk pun tidak membuat hatiku merasa nyaman diantara orang-orang itu. Selai nanas yang aku kunyah terasa hambar dilidah.
“lihat adikmu, bang. Baru kelas satu sudah ikut lomba olimpiade. Kamu sudah bertahun-tahun sekolah tidak pernah papa dengar kamu ikut lomba, yang ada surat peringatan dari sekolah karena kelakuanmu” sambung papa melihatku sedikit tersenyum kecil.
Mama melihatku. Aku merasa tidak enak untuk menelan manis roti dimulutku karena mendengar sindiran papa dengan sengaja membandingkan diriku dengan bumi. Aku tidak melihat kearah papa dan mama. Aku hanya mencoba untuk menelan roti yang telah hancur dimulutku. Sungguh ucapan papa itu begitu ganas aku dengar.
“papa” ucap mama membela
“lihat pakaiannya saja tidak rapi. Kusut begitu seperti gembel  saja”
Papa please stop membuatku merasa terhina dimatamu. Bumi memandang papa yang tersenyum manis setelah menyidirku. Mama tak bersuara. Matanya melihat kearah pakaianku yang sedikit kusut.
“pa, sudah donk. Jangan menghina abang seperti itu” ucap bumi
“iya pa. Kenapa sih papa selalu membandingkan rahmat dengan bumi? Rahmat kan juga anak kita?”
Papa sedikit mengerutkan keningnya. Roti ditangannya telah habis. Hanya sisa roti yang sedikit menempel ditangannya. Aku tidak bersuara hanya melihat kearah selai nanas didepanku. Bumi melihatku. Mama melanjutkan menghabiskan roti ditangannya. Roti itu seperti duri sungguh tidak enak untuk ditelan. Ucapan papa sungguh membuat hatiku sakit. Aku hanya seperti burung gagak yang tidak diterima oleh angsa-angsa yang cantik.
Ucapan papa membuatku tidak enak untuk menjalankan sekolahku. Ucapan itu seperti bom atom yang meleda ditelingaku. Pagi yang cerah disekolah seperti malam yang kelam. Penuh kabut tebal yang menyelimuti atmosfer sekolah.
“nanti kamu pulang sendiri saja” ucapku tak bersemangat pada bumi yang berdiri disamping motor yang aku kendarain
“abang mau kemana?” tanyanya
“kan, sudah aku bilang. Nanti aku ada jam tambahan. Pulangnya sore”
“bumi tunggu abang saja. Lagian bumi juga ada jam tambahan”
“jangan. Nanti mama marah. Kamu pulang sendirian saja” ucapku sedikit keras karena hatiku tidak enak pada bumi
“tapi bang..”
“terserah kamu saja. Aku tidak peduli. Kamu mau nunggu aku sampe sore atau pulang sendiri” sebutku marah
Bumi terdiam. Dia tidak menjawab ucapanku. Dia menundukkan kepalanya. Lalu aku pun pergi meninggalkan adikku sendiri. Kusadari sikapku pada bumi berlebihan, tapi aku tidak suka dengannya. Karena dia, papa dan mama selalu membandingkan aku dengannya.
Sekolah adalah surgaku. Jauh dari papa dan mama. Tidak ada kata bumi yang terdengar. Tidak ada perkataan yang menghina dan membanding-bandingkan aku dengan bumi adikku. Aku selalu menikmati hembusan angin pagi yang sejuk sejenak menghilangkan beban dibatin. Aku ingin menikmati hidup ini. Aku tidak ingin kehadiran orang-orang yang membuat hidupku merasa berat dan terbeban bila dijalankan.
“rahmat” teriak sosok pemuda dari kejauhan
Itu langit Sahabatku. 10 tahun bersahabat selama itu pula aku selalu dibandingkan dengan langit. Dia laki-laki yang sempurna. Semua yang dicari ada di dia. Mulai kepintaran, cinta, tahta dan wanita. Bila dilihat dengan jelas langit tidak jauh beda dengan bumi adikku, hanya saja perilaku langit tidak sebaik dengan bumi.
what up bro? Gimana nanti jadi gak?” ucap langit penuh semangat
“gak tau bro?” jawabku singkat
“kenapa? Nyokap bokap kamu gak boleh?”
“iya”
“aduh sayang sekali mat, kalo lo gak pergi bakalan rugi. Ada barang baru?” terdengar nafas langit saat membisik ditelingaku
Sejenak aku diam mencoba untuk menarik nafas dalam. Langit terus mendesak aku untuk menerima tawaran darinya.
“lihat saja nanti” ucapku lesu
Hembusan angin begitu menyejukkan hati. Kepalaku terasa segar ketika angin sepoi berhembus dirambut kepalaku. Langkah kakiku menyusuri setiap alun sekolah menuju kekelas. Disinilah aku merasa sangat bebas. Sekolah membuka cakrawala buatku bebas mengekspresikan diri. Teman, guru dan ide gilaku. Dan langit cowok itu sungguh sempurna. Berkulit putih bersih, harum parfumnya yang sangat menyengat terasa hingga menusuk kedalam hidung. Wajahnya yang bersih dan berpakaian rapi membuatku merasa malu bila berjalan dengannya. Kakiku dan langit terus menyusuri setiap kotak-kotak keramik sekolah hingga sampai dikelasku. Didalam kelas teman-temanku telah menunggu. Merekalah yang membuatku selalu hidup dan bersemangat untuk menjalankan hari-hariku disekolah.
“hai mat? Jadi gak nanti?” tanya lintang
“eh, lihat aja nanti” jawabku tersenyum
“ayo lah, ada barang baru” timpal riyan yang berdiri seketika berhenti di sampingku sambil memukul bahuku.
“iya lihat saja nanti” jawabku sedikit memaksa
Lalu aku melemparkan tasku dikursi biasa aku tempati. Suara kumpulan teman-teman yang tak hentinya terdengar dengan jelas ditelingaku. Suara bising itu terdengan jelas digendang telingaku. Mataku merasa bosan dengan orang-orang itu. Kulihat sekeliling ruang kelasku, mataku mencari-cari sosok perempuan yang telah menjadi semangat aku untuk bersekolah. Setelah sekian lama mataku mencari-cari dan akhirnya perempuan itu pun muncul dibalik pintu kelas. Dia adalah laila, perempuan pujaanku. Dia lah salah satu tujuan mengapa aku tetap bersekolah. Aku melihat perempuan itu berjalan masuk ke dalam kelas, dia tersenyum aku pun membalas senyumannya. Tak hanya aku yang menyukai laila, langit sahabatku pun suka pada siswi teladan itu. Namun bila aku pikirkan, laila tidaklah sepadan denganku, aku dengannya bagaikan langit dan bumi. Mungkin saja laila sepadan dengan langit dengan segudang imajinasi dan ide kratif yang mencakar cakrawala dengan sejuta karya yang telah dikenal oleh bangsa. Salah satu karyanya foto yang terpajang dikamarku. Fotografer adalah salah satu kelebihan yang dimiliki oleh langit. Mungkin aku tidaklah sehebat dan seberani langit untuk menyatakan perasaannya dengan laila. Bibirku membeku saat aku bertatapan muka dengan wanita pujaanku itu. Mata indahnya begitu bergairah dan memecahkan kata-kataku.
Pagi itu, laila begitu ayu dan anggun. Kepalanya yang berbalut jilbab putih menambah kecantikannya terpancar disetiap sudut sekolah. Kulihat langit mendekati laila, perlahan kaki langit melangkah menuju wanita yang duduk tersenyum itu.
good morning, ukhti?” tempal langit yang berdiri seketika berhenti di depan meja laila sambil tersenyum ke arah laila.
“selamat pagi. Langit” balasnya
“bagaimana, nanti jadi tidak kita ngerjain tugas bareng?”
“insyallah. Siapa saja yang mau ikut?”
“selain saya, itu mereka juga mau ikut?” balas langit sambil menunjuk ke arah segerombolan anak-anak yang berdiri didekatku.
Perasaanku sedikit bergetar, rasa cemburu terbesit dibalik hatiku melihat langit berbicara dengan laila. Kusimpan senyum dibibirku, mataku kembali memandang daun-daun yang bergoyang diluar kelas. Suasana sejuk pagi itu tiba-tiba terasa panas membakar. Bagaikan jahanam yang membakar didalam ruang kelas.
2
PERMAINAN HATI
Hawa panas sekolah seakan membakar seluruh tubuhku. Keringat yang membasahi bajuku sangat terasa dikulit. Sore  itu mentari sangat cerah bersinar hingga menyengat dikulit. Kepalaku terasa terbakar. Kulihat bumi adikku duduk termenung sambil memegang buku olimpiadenya. Aku sedikit membuat bumi menunggu lama. Aku terlihat kesihan pada adikku. Aku menyusuri setiap jalan, kakiku melangkah mendekati bumi yang duduk diantara pohon yang rindang itu. Bumi tak menyadari akan kedatanganku. Kulihat dia asik membaca bukunya.
“bumi, ayo pulang?” tempalku
Seketika bumi melihat kearahku yang berdiri disampingnya. Dia sedikit terkejut akan kedatanganku dengan tiba-tiba. Dan bumi pun menutupi buku yang dia baca.
“abang!” sapanya
“ayo pulang. Nanti mama khawatir kamu pulang terlalu sore”
Bumi tidak menjawab dia hanya menganggukkan kepalanya. Bumi adikku sangat patuh pada apa yang aku katakan. Wajar saja papa dan mama menyayanginya dengan lebih. Dia selalu mengikuti apa yang papa dan mama minta. Berbeda denganku yang selalu membangkang.
“nanti bilang sama mama, abang pulang habis magrib”
“abang mau kemana?” tanya bumi melihatku
“abang mau kerumah langit”
“abang kan belum makan. Makan dulu”
“sudah tadi”
“tapi bang...”
Langkahku berhenti. Mataku melihat kearah bumi yang juga berhenti tepat disampingku. Kulihat matanya yang penuh kekhawatiran itu. Aku memasangkan wajah yang masam padanya, mata bumi menunduk tak melihatku. Mungkin dia takut diamarahi, atau mungkin dia tidak suka melihatku berkata demikian. Namun, aku tahu jawaban dari mata layu adikku itu. Sesungguhnya dia tidak ingin aku pergi dan segera pulang bersamanya. Aku tahu bumi sangat menyayangiku, dia tidak ingin melihatku dimarah sama papa setiap hari. Tapi bagiku, sayangnya bumi membuat aku semakin benci padanya. Karena kasih sayang papa dan mama seluruhnya untuk bumi. Kutahu ini tidaklah adil baginya. Namun, hatiku terlanjur sakit padanya. Karena aku selalu dibandingkan dengan bumi. Aku tidak berkata, kuteruskan langkahku menuju motorku yang terparkir dihalaman sekolah. Beberapa langkah menuju motor, langkahku kembali berhenti. Kumendengar seorang memanggilku dari kejauhan. “rahmat” ucapnya....
Aku pun mencari-cari sumber suara itu. Tidak hanya aku, bumi pun melihat kekiri dan kanan mencari suara yang memanggil namaku. Beberapa saat kumencari-cari suara itu, tiba-tiba berlari seorang gadis pujaan hati mendekatiku dan bumi.
“eh, laila” ucapku
Setelah dapat menghapiriku, Sejenak laila terdiam menatap mataku. Lalu dia tersenyum dan aku pun membalasnya. Matanya sungguh indah dan menawan, wajahnya sangat ayu. Kumenatap dalam matanya semakin kutatap mata indah itu hatiku semakin bermain. Berdetak kencang seakan diterjang oleh kencangnya angin sore.
“hai bumi” sapanya sambil menundukkan kepalanya pada adikku
“hai kak” bumi membalas sapaan itu
“oh ya mat, ini buku yang kamu mau pinjam. Semuanya sudah aku salin jadi satu. Nanti kamu pelajari saja yang dirangkuman terakhir. Rumusnya sudah aku pisahin” sebutnya tersenyum
Lalu gadis itu menyodorkan buku yang dia ambil dari tasnya. Aku selalu meminjakan catatan laila ketika ujian akan datang. Aku suka dengan tulisan laila yang begitu cantik dan rapi.
“oh, iya”
Senyum dibibir laila belum juga menghilang. Tak bosan mataku memandang senyuman kecil itu. Senyuman itu semakin membuat hatiku bermain lebih dahsyat. Kedatangan laila mengubah perasaanku yang buruk menjadi membaik. Kemarahanku pada bumi menghilang ketika laila datang. Laila mampu membuatku tersenyum seakan langit sore terlihat bermain dengan awan-awan yang indah menyelimuti mentari yang bersinar merah keemasan dibagian barat. Bumi tak bersuara, dia hanya melihat pergaulanku dengan laila gadis pujaanku itu.
thanks, ya” ucapku menarik buku dari tangan laila
“iya”
“iya sudah, aku duluan ya, La. Bukunya aku pinjam dulu besok aku balikin” sebutku
“iya santai saja. Good luck ya?” sebutnya
Aku dan Bumi pun naik motor dan motorku melaju dengan pelan dan meninggalkan laila seorang diri. Tak jauh dari hadapan lailai ku mendengar laila kembali memanggil namaku.
“rahmat” ucapnya
Lalu motor Vario yang aku tunggangi pun berhenti. Kumelihat kearah laila yang berdiri dari kejauhan. Dia tersenyum lebar, matanya semakin enak dipandang. Wajahnya yang bulat terlihat anggun dan menawan “hati-hati” sambungnya.
Sungguh anggun rupanya wanita itu. Ucapanya mampu mengalihkan duniaku. Hatiku semakin bermain hebat. Jantungku berdetak kencang seakan ingin jatuh. Lalu aku membalas senyuman laila yang indah itu dan menganggukkan kepala dengan pelan yang berarti memberika isyarat iya atas ucapan laila. Setelah senyuman itu menghilang motorku pun melaju semakin menghilang dari gerbang sekolah dan dari laila perempuan cantik itu.
Senyuman laila begitu ayu dan anggun. Sejauh aku membawa motor hanya senyuman laila yang ada dikepalaku. Sepanjang perjalanan aku selalu tersenyum bahagia. Langit sore yang indah dengan perpaduan awan putih sedikit biru dan angin sore sepoi membawa keberuntungan bagiku. kudapat melihat keindahan senyuman bidadari yang berwujud manusia.
Senyuman laila menghilang ketika malam datang. Kulihat jam dindingku berdetak kecil. Suara radio bumi adikku terdengar dengan jelas dari teras rumahku. Pukul telah menunjukkan tepat jam 11 malam. Tak terlihat mama dan papa diruang keluarga mungkin sudah terlelap tidur. Dan aku pun langsung naik keruang atas dan masuk ke kamar. Setiba dikamar, aku melihat bumi sedang belajar. Jendela yang terbuka kecil dan tirai jendela terlihat bergelombang kerena tertiup angin menghasi indahnya kamarku.
“belum tidur?” ucapku pada bumi
Bumi tidak langsung menjawab, kulihat dia menarik nafas dalam. Menghirup udara malam yang menyejukkan jiwa dan raga. Rupanya bumi telah menyadari akan kedatanganku. Dia melihat kearahku, tangannya sejenak berhenti menulis lalu dia tersenyum kecil setelah itu melanjutkan menulis kembali.
“belum” sebutnya tak melihatku
“kenapa? Bukannya besok sekolah? Memangnya tidak mengantuk?”
“bumi nunggu abang pulang”
“kenapa?” tanyaku
Bumi tidak menjawab. Dia hanya asik menulis. Beberapa detik aku menunggu jawaban dari bumi. Akhirnya dia berkata.
“tidak apa-apa. Kalau pintu rumah sudah terkunci, mama dan papa sudah tidur yang bukakan pintu siapa? Emangnya abang mau tidur diluar?”
“iya tapi kan tidak semestinya kamu tidur larut malam begini. Kan besok mau sekolah”
“abang sendiri? Bukankah besok juga sekolah?” tanya bumi
Pertanyaan itu tidak dapat ku jawab. Aku hanya diam memandang adikku. Perkataan bumi ada benarnya. Aku merasa bersalah padanya. Karena menungguku bumi harus tidur larut malam.
“lain kali tidak usah menuggu abang, kalau mengantuk tidur saja. Kalau abang pulangnya jam 3 pagi emangnya mau kamu nunggu abang sampai jam segitu” ujarku
Bumi tidak merespon perkataanku. “abang” sebutnya
Tiba-tiba tangan bumi berhenti menulis. Pandangan bumi melihat kearahku yang berdiri dibelakangnya. Suara radio tua itu terdengar merdu. Nyanyiannya begitu indah didengar oleh telingaku.
Kumelihat kearah bumi yang memasangkan wajah tak seperti biasanya, terlihat sedikit takut. Keningya terlihat mengerut, bumi memainkan bibirnya kearah kanan dan kiri memberi tanda bahwa dia ingin mengatakan sesuatu. Aku hanya terdiam berdiri sambil melepaskan pakaian sekolahku yang masih aku pakai. Mata bumi terlihat ragu untuk berkata denganku.
“bumi tidak ingin melihat abang selalu dimarah papa. Bumi tidak ingin abang benci sama bumi karena papa selalu membandingkan abang dengan bumi. Bumi tidak pernah bermaksud untuk membandingkan abang dengan bumi. Bumi sedih mendengar abang selalu direndahkan sama papa dan teman-teman abang. Bumi sayang abang. Karena hanya abang saudara bumi satu-satunya. Bila bumi merasa butuh seorang untuk berbagi cerita, tidak ada orang lain selain abang. Tapi bumi takut bang, karena bumi tahu setiap kali bumi ingin berkata, abang terlihat tidak suka. Abang benci sama bumi karena papa seringkali membandingkan bumi sama abang”
Ucapan bumi seakan tamparan bagiku. Perasaanku bermain sangat hebat melebihi perasaan hatiku ketika aku menatap wajah laila tadi siang. Mataku termenung sejenak menatap cermin yang menempel didinding kamarku. Salahkah aku pada adikku. Sehingga dia berkata demikian? Aku tidak menjawab perkataan bumi. Aku pun tidak melihat kearahnya. Lalu aku kembali melepaskan jam tanganku yang sempat terhenti oleh perkataan bumi. Aku merasa bersalah padanya. Aku terlalu membuat bumi takut. Aku menarik nafas dalam sungguh pekataan bumi itu sangat menyesakkan dadaku. Suasana kamarku sangat sunyi sepi, hanya terlihat tirai jendela yang bergoyang karena tertiup angin, bumi tidak bersuara aku pun begitu hanya terdengar suara nyanyian lawas dari radio tua itu yang membuat kamarku terdengar sedikit ramai.
Mataku melihat kearah adikku bumi yang duduk memandang kearahku. Wajahnya begitu sedih kelihatannya, matanya sedikit berlinang. Bibirnya terlihat mengerut. Aku dapat menggambarkan kekecewaannya terhadapku. Aku merasa bersalah padanya. Sejenak aku memandang matanya yang sedih itu. Beberapa detik aku melihat bumi aku pun pergi kekamar mandi meninggalkan bumi seorang diri. Kumelakukan itu, bukan karena aku marah pada bumi. Tetapi, aku tidak ingin bumi melihat air mataku terjatuh dihadannya karena ucapannya itu. Aku meninggalkan bumi tanpa satu kata pun. Didalam kamar mandi itu aku menangis dengan hebatnya. Aku mencoba untuk menahan suaraku agar suara tangisanku tidak terdengar oleh bumi. Perasaanku sangat pedih. Kata-kata bumi sungguh menyayat hatiku. Kutahu bumi sangat menyayangiku namun karena orang-orang sering kali membandingkan aku dengannya membuat aku semakin benci padanya. Air mataku tak berhenti mengalir. Sungguh hatiku sedih mendengarkan ucapan adikku. Perasaan hatiku sangat bermain hebat. Permainan hati yang indah telah aku dapat dari gadis pujaanku laila ketika aku dan dia saling bertatapan muka dan permainan hati yang sedih juga aku dapat dari adikku bumi. Sungguh permainan hati ini tidak dapat aku tahankan.
3
MENDUNG MEMBAWA PETAKA
Setelah hatiku bermain hebat karena wajah laila yang amat mempersona dan sakitnya hatiku karena perkataan adikku semalam membuatku tidak enak untuk menjalankan kegiatanku disekolah. Pagi ini sedikit mendung, awan hitam menghiasi setiap lingkaran bola atom raksasa yang indah. Sinar mentari pagi tak terlihat, hanya udara sejuk terasa dikulit. Pagi yang sejuk ini aku tidak banyak berbicara pada bumi adikku. Rasa sakit hatiku semalam masih terasa, kalimatnya yang terasa panas ditelinga itu membuat ubun-ubunku seakan keluar dari kepalaku. Antara rasa benci dan kesihan masih mengambang dikepalaku. Pikiranku tidak lepas dari bumi adikku. Kata-kata itu mampu menghilangkan gambaran wajah laila yang anggun dari kepalaku.
“rahmat?” Sapa gadis pujaanku
Langkah laila dari belakang tak terdengar oleh telingaku. Mungkin aku asik menikmati hawa sejuk yang menari dikulitku. Atau mungkin aku masih memikirkan perkataan bumi. Pagi ini laila terlihat sangat cantik dan anggun berjilbab putih dengan garis-garis kecil yang melingkar disetiap ujungnya, semua tertegun melihat paras wajahnya yang cantik. Mungkin tak hanya aku, langit dan teman yang lain juga begitu. Mungkin saja pohon-pohon dan seisi sekolah juga terpana dengan kecantikan wajahnya.
“eh, laila. Tumben siang datangnya?”
“iya nih tadi ada kerjaan dirumah. Oh ya, bagaimana sudah kamu salin belum tugas kemaren?”
“sudah, sudah. Oh iya ini buku kamu”
Aku mengeluarkan buku laila dari tasku. Aku sangat suka meminjam buku catatan laila, tulisannya sangat cantik dan rapi tak jauh dari paras wanita berjilbab ini.
“benaran sudah. Kalau belum, pinjam saja dulu. Aku masih ada copiannya kok”
“ngak, sudah. Ini aku kembalikan bukumu”
“iya sudah”
Lalu laila mengambil bukunya dari tanganku dan memasukkannya ke dalam tasnya. Pagi itu hatiku sangat senang pasalnya tanpa sengaja aku berjalan bersama gadis pujaannku. Aku tidak tahu laila mengarti atau tidak dengan perasaanku ini. Aku tidak lah memiliki keberanian untuk mengatakan itu semua. Mungkin melalui sebuah puisi yang aku buat didalam buku laila itu dia mengerti perasaanku padanya.
“oh ya la, aku ada sesuatu untuk....”
“rahmat” tempal langit berlari seketika berhenti disampingku
Tak sempat melanjutkan perkataanku, langit tiba-tiba datang memukul bahuku. Pukulan itu sedikit terasa sakit namun tak apa itulah langit dengan semaunya berbuat pada orang. Aku tak melanjutkan cakapan aku dengan laila.
“eh, lang. Sama siapa?” tanyaku
“sendiri. Yang lain belum pada datang” jawabnya “eh ada neng gelis. Selamat pagi cantik?” ucapnya ketika melihat laila berjalan disamping kananku
Dengan ramah laila membalas ucapan langit yang sedikit membuat hatiku sakit.
“selamat pagi langit”
“pulang sama siapa nanti? Kalau tidak ada teman. Pulangnya sama aku saja” ucap langit sedikit memaksa
Aku hanya diam dan melirik-lirik percakapan langit dan laila. Langit benar-benar membuat hatiku sakit. Hawa yang terasa sejuk dikulit terasa panas karena ucapan langit. Langit begitu pemberani, dia sempat menyatakan perasaannya pada laila namun ditolak. Laila mengatakan ada seorang laki-laki yang ia tunggu untuk menjadi pacar. Dan aku tidak tahu siapa laki-laki yang disukai oleh gadis yang cantik ini. Tapi siapa pun itu orangnya dia begitu beruntung mendapatkan laila menjadi kekasihnya.
“hhmm.. tidak apa-apa lang. Aku nanti dijemput sama ayahku”
“sekali aja. Pulang sama aku” pinta langit sedikit memaksa
“terima kasih langit. Tapi tidak bisa”
“iya sudahlah, kalau orang tidak suka jangan dipaksa” sambungku
Usaha langit pun sia-sia. Laila menolak ajakan langit untuk pulang bersama. Tapi langit tidak putus asa untuk mendapatkan laila. Gadis pujaannya dan juga gadis pujaanku. Hatiku terasa terbakar ucapan langit sangat menyakitkan hatiku. Ingin rasanya aku pergi dari kedua orang itu. ingin rasanya aku menarik tangan laila agar langit tidak mengganggu. Namun itu semua tidaklah sanggup aku lakukan. Aku bukanlah langit sang pemberani, aku hanyalah seorang pecundang yang bisa mencintainya dalam diam.
Kutuliskan sebuah puisi cinta dihalaman terakhir buku laila yang aku pinjam. Aku sedikit menunjukkan bakatku dalam sastra pada gadis pujaanku. Aku ingin memberi tahunya kalau aku juga punya kelebihan tidak hanya saja membuat kekacauan. Aku ingin memberitahunya bila aku juga seperti langit yang mempunyai seribu ide dan bakatnya yang cemerlang.
Disudut sekolah, tempat biasa aku, langit dan teman-teman menghabiskan waktu bersama. Kegilaan yang kami buat akan mejadi saksi perjalananku dimasa sekolah. Karena tingkahku jugalah puluhan surat panggilan orang tua telah aku terima. Namun tidak pernah aku beri kepada papa dan mamaku. Aku tahu bila surat itu aku kasih, papa dan mama akan sangat marah padaku.
Dari kejauhan aku melihat bumi adikku berjalan bersama teman-temannya dan didampingi oleh seorang guru. Aku tidak ingin bumi melihatku seperti ini. Kegilaan yang kami buat ini adalah bagian dari hidup kami, tidak hanya di dalam sekolah diluar sekolah pun kami lakukan lebih dari apa yang kami buat sekarang.
“sedang apa kalian?” teriak seorang guru seketika membuka matanya dengan lebar
Aku, langit dan teman lainnya terkejut dengan kedatangan guru tersebut. Langit dan teman lainnya langsung membuang  rokok yang dihisapnya. Namun tidak denganku, jariku tetap mengapit rokok yang telah habis setengah.
“rahmat” teriaknya kembali
Kulihat dibelakang guruku itu berdiri bumi adikku dan temannya yang lain. Bumi menundukkan kepalanya seperti biasanya ketika aku memarahinya. Tapi kali ini aku tidak tahu dia mengapa dia menundukkan kepalanya. mungkin saja bumi malu melihat tingkah lakuku.
“rahmat ikut bapak ke ruangan” pintanya
Ketika aku berada diruang guru tak seorang pun yang ada terlihat didalamnya. Tidak ada langit, teman-teman yang telah membawa aku kedalam bilik neraka ini. Hanya aku lihat bumi yang berdiri disampingku.
“bapak sudah bosan melihat tingkah kamu seperti ini, rahmat. Jari bapak sudah letih mengetik surat penggilan untuk orang tua kamu. tapi sifat kamu tetap saja tidak berubah” ucap kepala sekolah memecah di tengah suasana kantor yang sepi dan menggema di seluruh koridor koridor sela sela ruangan kantor. “apa mau kamu, ha?” tanya kepala sekolah itu dengan wajah yang datar.
“mau saya, teman-teman saya diintrogasi juga bukan hanya saya saja” sebutku
“siapa? Langit? Jangan kamu urusin orang lain. Coba kamu urus diri kamu.”
“loh, bukannya mereka juga merokok bersama saya disudut sekolah tadi pak? Mengapa mereka tidak menghadap? Ini tidak adil” sambungku
“rahmat-rahmat. Apa yang kamu bisa selain membuat kekacauan, ha? Jangan kamu samakan dirimu dengan langit. Iya, bapak akui dia sedikit nakal. Tapi dia sering membanggakan sekolah dengan idenya yang cemerlang. Dia sering memenangkan perlombaan. Bahkan dia pernah mendapat medali perak di lomba foto grafer tingkat nasional. Nah kalau kamu apa?”
Kulihat bapak kepala sekolah tersenyum mengenang detik-detik kemenangan langit kala itu hadiahnya langsung diterima oleh kepala sekolah.
“loh, itu kan beda waktunya pak? Waktu dulu jangan disamakan dengan waktu sekarang”
“pandai kamu menjawab iya. Baiklah besok bapak minta kamu ajak kedua orang tua kamu kesekolah. Bapak ingin bicara. Bapak sudah capek dengan tingkah kamu” ucapnya
“ini tidak adil pak” balasku dengan segera menggelengkan kepalaku
“apanya yang tidak adil? Katakan?”
Aku terdiam. Sejenak kumenkmati atmosfer ruangan yang kurasakan seperti jahanam yang membuat hatiku sakit. Cibiran itu seperti bara api yang panas. Kulihat bumi berdiri disampingku. dia hanya berdiam diri, dia tidak membela bumi  hanya menundukkan kepalanya.
“seharusnya kamu itu mencotoh adik kamu. lihat bumi anak yang pintar, rajin, sopan pemenang olimpiade sains. Tidak seperti kamu. tidak bisa apa-apa” tegasnya
Perkataan itu seperti tombak yang menancap ditelingaku. tidak hanya papa yang selalu membandingkan aku dengan bumi namun guru dan kepala sekolah pun melakukan hal yang sama. Aku melihat kearah bumi dengan mata yang penuh kebencian. Ucapan kepala sekolah itu membuat aku semakin benci dengan laki-laki yang berdiri disampingku ini. Kata-kata itu seperti jahanam yang keluar dari mulut singa yang hanya mampu mengaum dalam sangkar. Wajahku memerah, amarahku semakin tinggi. Bumi melihat kearahku. Namun aku tidak melihatnya. Aku hanya menatap wajah kepala sekolah yang berdiri dihadapanku.
“bumi lagi. Bumi lagi. Semua orang membandingkan aku dengan bumi. Asal bapak tahu..” aku menunjukkan jari telunjukku tepat didepan wajah kepala sekolah “aku memang tidak bisa seperti dia. Aku tidak punya otak sehebat dia. Tapi aku juga punya kelebihan” balasku dengan nada yang tinggi
Kepala sekolah tertawa mendengar ucapan itu “kelebihan?” sebutnya kembali “kelebihan apa yang kamu punya?”
Aku semakin emosi, wajahku sangat memerah. Mataku penuh kegelapan. Darahku mengalir dengan cepat. Jantung hatiku berdetak hebat. Sungguh dahsyat kurasakan setan berbisik ditelingaku untuk membalas ucapan kepala sekolah itu. kugenggamkan tanganku, ingin rasanya kumemukul laki-laki yang berdiri dihadapanku ini. Ingin rasanya kumembalas ucapanya itu dengan melayangkan seonggok buku diatas mejanya.
“abang” ucap bumi menarik genggaman tanganku
Mendengar ucapan bumi, hatiku berkata untuk tidak melakukannya lalu aku melepaskan genggaman tanganku dan langsung pergi dari hadapan laki-laki yang berdiri tersenyum itu.
Bumi mengejarku hingga keluar ruangan. Aku dengan cepat melangkah meninggalkan ruangan yang penuh duri yang mencabikkan harga diriku. Dengan sigap pula bumi menyusulku dari belakang. Hawa panas dalam ruangan kepala sekolah terasa hingga keluar walaupun langit mendung dan angin terasa sejuk dikulit.
“abang” kudengar bumi terus menerus memanggilku. Namun aku tetap melangkah jauh
“abang”
“apa?”  ucapku dengan emosi
Langkahku terhenti, bumi tak henti-hentinya memanggilku. Hatiku yang panas merasa benci bumi selalu memanggilku.
“abang, apa yang abang lakukan dengan bapak kepala sekolah tadi. Tidak seharusnya abang melakukan itu?”
“lalu, aku harus melakukan apa? harus menundukkan kepala seperti kamu, ha?”
“seharusnya abang bisa mengendalikan emosi abang. Sikap abang terlalu berlebihan”
“apa aku harus diam ketika dia merendahkanku? Aku sudah bosan orang-orang membandingkan aku, kamu dan langit. Tidak dirumah sekolah orang-orang selalu membandingkan aku dengan kamu”
“abang tidak perlu mendengarkan apa yang orang katakan”
“aku punya telinga, bagaimana tidak mendengar bila orang itu membandingkan aku dengan kamu didepanku”
“tapi bang....”
shut up” teriakku
Aku mengangkat tanganku yang kugenggam didepan wajah bumi. Seketika bumi terkejut melihat itu. Emosiku tak dapat kukendalikan, hampir-hampir genggaman itu sampai diwajah bumi adikku. Lalu aku pun melarikan diri meninggalkan bumi seorang diri. Aku melarikan diri dalam keadaan emosi. Hatiku masih terasa panas dan sakit mendengar perkataan kepala sekolah itu.
Aku melarikan diri dari orang-orang itu. Aku tidak ingin orang-orang menggangguku. Kuingin menenangkan perasaan dan hatiku. Disudut sekolah yang berbeda, aku duduk termenung dengan hati yang masih beremosi. Genggaman tanganku belum juga aku lepaskan. Sekali-kali aku memukul meja yang rapuh tak terpakai itu untuk meluapkan rasa benciku pada orang-orang yang aku benci.
“rahmat”
Tiba-tiba kumendengar seorang memanggil namaku. Suara itu tidak asing ditelingaku. Suara perempuan yang selalu bermain dikepalaku. Suara yang lembut dan syahdu mencairkan emosiku. Lalu aku membalikkan tubuhku menghadap seorang yang menungguku. Betapa terkejutnya ketika aku melihat laila berdiri dihadapanku. Kulihat wajahnya yang cantik itu. Wajahnya dapat meluluhkan emosiku. Lalu aku melepaskan genggaman tanganku.
“ada apa? sepertinya kamu sedang menghadapi masalah?” sebut gadis itu dengan nada suara yang lembut
Sejenak aku terdiam. Aku heran dan selalu bertanya. Mengapa dia ada disini dan dari mana dia tahu kalau aku ada disini?
“tidak ada-apa” sambungku
Laila melangkah mendekatiku, dan duduk dikursi yang terletak tidak jauh dari aku berdiri.
“aku tadi malihat Kamu memarahi bumi, kudengar juga kamu menyebut nama langit? Apa langit menyakiti kamu?”
“tidak” jawabku
“menyakiti bumi?”
“tidak”
“lalu?”
“tidak ada. Aku hanya sedang berjuang melawan emosiku”
“mengapa?” tanya laila dengan rasa penasaran
“aku tidak suka saja orang-orang membandingkan aku, bumi dan langit. Memang aku tidak bisa seperti mereka. Langit laki-laki yang hebat dengan segudang ide cemerlangnya. Bumi adikku selalu menjadi kebanggaan papa dan guru-guru. Aku tidak bisa dipaksa untuk seperti mereka” tegasku meluapkan emosiku pada laila yang terduduk itu
Laila hanya menyaksikan aku berbicara sejenak dia senyum. Entah mengapa dia tersenyum seorang diri. Mungkin dia melihatku seperti orang gila hingga menggelitik perutnya. Atau dia tersenyum dengan reaksiku.
“oh, itu permasalahannya?” sebutnya, lalu laila membangunkan dirinya dan mendekatiku. Wajahnya yang selalu tersenyum itu selalu kubayangkan keindahannya. Wajahnya yang bersih dan jernih itu menggambarkan keindahan dirinya “seharusnya kamu katakan kepada orang-orang itu. bahwa kamu adalah seorang laki-laki yang tidak ingin menjadi diri orang lain. Kamu tetap jadi diri kamu sendiri. Ingat mat, setiap manusia itu dilahirkan memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Mungkin saja kelebihan yang kamu punya tidak dimiliki oleh langit dan bumi dan sebaliknya” tuntasnya
“tapi mereka selalu merendahkan aku. Mereka bilang aku tidak memiliki kelebihan apa-apa. Aku hanya bisa membuat kekacauan. Aku seorang laki-laki yang terbuang. Aku bagaikan seekor gagak hitam yang ingin berubah menjadi angsa putih agar keindahanku bisa dinikmati orang lain”
“tidak mat. Siapa bilang kamu tidak memiliki kelebihan?”
“maksud kamu?” tanyaku pada laila
“puisi kamu begitu indah” sebutnya
Aku terheran. Puisi? Puisi apa? sebutku dalam hati. Laila menatap mataku dengan keindahnya. Dimata gadis itu tergambar pelangi yang indah. Matanya yang sedikit besar itu sangat cantik tak bosan rupanya diriku untuk memandang bola matanya yang cantik itu.
“aku sudah membaca puisi kamu dalam bukuku. Sungguh indah. Aku suka mat” sambungnya “bila kamu kembangkan bakatmu itu akan menjadi modal kamu untuk menunjukkan kepada orang-orang itu kalau kamu memiliki kelebihan dalam sastra”
Hatiku luluh. Aku tersenyum kecil. Akhirnya gadis pujaanku membaca puisi yang kubuat. Memang puitis. Diksinya sangat indah. Puisi yang kubuat dengan hati dan kembali kehati. Suasana hatiku kini sedikit dingin mendengar pujian laila. Suasana mendung yang membawa petaka itu telah berubah menjadi mentari yang memberi sinar dan keindahan setiap cahayanya.
4
PUISI CINTA
Pesona wajah gadis pujaanku masih bermain dikepalaku. Sekali-kali aku tersenyum seorang diri mengenang pujian laila tadi siang. Puisi cinta yang kubuat telah dibaca olehnya. Puisi yang puitis menggambarkan perasaanku terhadapnya. Namun aku tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaanku, apalagi aku telah berjanji pada langit untuk tidak mendekati laila.
“bagaimana caranya untuk menyampaikan dengan papa dan mama?” tempal bumi adikku seketika dia membuka pintu kamar dan duduk diatas kursi belajarnya.
“tentang apa?” tanyaku
“masalah abang?”
Pertanyaan bumi membuat perasaanku menjadi tidak enak. Pertanyaan itu membuatku teringat kejadian yang memalukan tadi siang ketika aku berada didalam ruang kepala sekolah. Seketika aku mengingat-ingat kejadian itu senyumanku pun menghilang, terbayang-bayang wajah kepala sekolah yang berbadan besar dan bermulut seperti singa mengaum dalam sangkar. Dan ketika aku mengenang perkataan laila aku merasa tenang. Perkataan itu menjadi energi dalam hidupku. Dan aku pun kembali tersenyum.
“itu menjadi urusan abang”
“tapi bang, papa dan mama harus tau masalah ini?”
Senyumku kembali menghilang. Kumelihat kearah bumi yang sedang menulis.
“kamu mau melihat abang dimarahi papa?” tanyaku sedikit emosi
“tidak bang, tapi abang harus menyampaikannya. Mama dan papa besok harus kesekolah. Kalu tidak...”
“ngak?” sambungku
Bumi melihatku dengan wajah sedikit kecewa. Matanya tergambar kekewaan padaku. Dibibirnya tak terlihat senyuman seolah dia menunjukkan kebencian pada diriku. Bumi adikku sangat baik dan peduli padaku. Sikapku yang kasar padanya membuat dirinya tidak berani berbicara padaku. Aku sedikit keras padanya hingga dia tidak berani melihatku lama-lama. Aku memang berbeda dengan laki-laki itu. Bumi adikku begitu baik dan dewasa. Bila kulihat lebh dalam ketampanan adikku melebihi ketampananku dan langit. Kesempurnaan itulah yang membuat aku tidak suka padanya. Hatiku selalu berbisik untuk selalu memarahinya ketika aku melihatnya.
“tapi bang. Kalau mama dan papa tidak kesekolah abang tidak bisa ikut ujian?”
“sudah lah. Itu urusan abang. Abang tahu bagaimana cara mengatasinya”
Bumi tidak melanjutkan perkataan itu. Dia kembali meneruskan menulis. Dia tidak bersemangat melanjutkan perdebatan itu. Dia terlihat takut memandangku. Nadaku seolah marah padanya.
Diruang yang lain, aku melihat mama duduk sedang membaca majalah paforitnya. Didalam kamarku bumi sedang asik menulis. Aku medekati mama. Dan duduk di sampingnya.
“ma?” ucapku. Dan mama melihatku
“eh, abang”
“aku mau ngomong sama mama?”
“sama mama? Papa juga?” tanyanya
Aku menggelengkan kepalaku. Dan mama tersenyum melihat ekspresi wajahku berubah seketika mama menyebutkan nama papa. Aku sedikit takut untuk mengatakan hal ini pada mama. Lalu aku merebahkan kepalaku dipaha mama dan dengan kasih sayang mama meraba-raba kepalaku dengan kasih sayang.
“ma, besok kepala sekolah menyuruh mama datang kesekolah” ucapku membuka obrolanku dengan mama
“kesekolah? Ada apa?”
Aku tak lagsung menjawab pertanyaan mama. Pertanyaan itu seakan mengingat aku pada bapak kepala sekolah yang telah merendahkanku. Sesaat tangan mama berhenti meraba kepalaku dan menunggu jawaban dariku.
“abang buat onar lagi?” tanya mama
Aku langsung menganggukkan kepala. Mama terlihat kecewa dan tangannya kembali meneruskan mengelus kepalaku. Mama sangat berbeda dengan papa. Mama sangat pengertian, aku sangat nyaman dan tenang bila berada dekat mama.
“apa lagi kali ini yang abang buat? Abang berkelahi?”
“tidak”
“bolos sekolah?”
Aku menggelengkan kepalaku. Aku sangat tidak nyam pertanyaan mama. Aku sedikit takut untuk mengatakan yang sebenarnya pada mama. Aku takut mama memarahi aku bila mama tahu kalau aku melakukan hal yang sangat memalukannya.
“lalu apa?”
“besok mama juga akan tahu”
Mama terdiam. Tidak melanjutkan pertanyaannya. Sepertinya mama tahu kalau aku tidak bersemangat untuk mengatakan permasalah yang sedang aku hadapi disekolah. Mama adalah perempuan yang sangat pengertian. Berbeda jauh dengan karakter papa, yang selalu menyalahi aku walaupun aku benar.
****
Pagi yang cerah disekolah telah terlihat langit dan teman-teman menungguku. Aku bergegas melangkah mendekati laki-laki yang sempurna tidak ada duanya. Sementara itu bumi melihat pergaulanku dengan langit dan teman-teman. Bumi melihatku dengan wajah yang tak enak, matanya terlihat sinis.
“hai mat. Bagaimana? Bang jek nanti nyuruh kita ke markas?” ucap langit
“oke. Atur saja nanti. Kali ini aku ikut”
“serius?” sambung jaka “nanti papa mama kamu marah ikut kita ke markas. Maklum kan anak mama” sebutnya mengejek
“apaan?”
“ayo kita ke kelas” ajak langit
“oke nanti aku nyusul aku mau ke sana sebentar” sebutku menengok ke arah mading sekolah.
“ok”
Hawa sekolah pagi itu terasa hangat dikulit, perpaduan antara antara sinar matahari yang mengenai angin sepoi terasa menari diatas kulit.
Laila gadis cantik itu belum terlihat juga disekolah. Kulihat bumi asik berbincang dengan teman-temannya. Senyum dan tawa terlihat diwajah adikku bumi. Kumelihatnya dengan sedikit dengan menyesal. Sikapku terhadapnya membuat bumi menjauhi denganku. Jangankan untuk berbicara melihatku pun tak kuasa. Kumelihat semakin jauh, bumi terlihat tertawa lepas, dari kejauhan bumi melihatku dan tertawanya pun menghilang hanya terlihat matanya yang menunduk kala dia menatap mataku.
“rahmat?”
Kudengar seorang memanggil namaku dari kejauhan. Dibalik kerumunan siswa-siswa yang sedang bercakap-cakap itu aku melihat seorang perempuan melambaikan tangannya. Gadis itu tersenyum, terlihat dari kejauhan senyumannya itu sangat indah dan menawan. Dia adalah laila. Gadis pujaan hatiku. Lambaian tangannya begitu ayu, matanya yang bening itu terlihat terpancar pesona bagaikan pelangi yang menghiasi langit sore tatkala setelah hujan mengguyuri bumi. Sangat indah.
“rahmat?” ucapnya kembali
“selamat pagi laila?” sapaku
“pagi juga. Lagi ngapain didekat mading. Tumben pagi-pagi ada disini? Biasanya nongkrong dikantin sama langit dan teman-teman lain?”
“sengaja, itu barusan aku nempel puisi pertamaku dimading sekolah!”
“puisi?” seketika laila terkejut mendengar ucapanku
“iya, kan kamu sendiri yang bilang kalau aku harus tunjukkan kelebihanku pada orang-orang yang merendahkanku”
Laila tersenyum. Matanya melirik-lirik kepuisi yang aku pasang dimading. Terlihat dari wajahnya laila penasaran dengan puisi yang aku pajang dimading.
“ini untuk kamu?”
Kuhantarkan sebuah surat puisi untuk laila. Laila melihatnya dengan heran matanya terlihat bingung. Tanganku bergetar hebat. Jantungku berdetak kencang dan darahku mengalir deras. Kuberanikan diri untuk memberi sepucuk surat yang kutulis dengan hati. Puisi cinta ini berisi perasaanku pada laila. Tapi aku tidak tahu entah dia suka atau tidak dengan puisi yang aku tulis. Kudapat melihat senyuman dibibir laila, dapat kuliskan kebahagian diwajahnya tatkala dia menerima surat puisi dari ku.
“apa ini mat?” tanyanya
“sebuah puisi”
“puisi lagi?” sebutnya
“iya, puisi untuk kamu laila?”
“untuk ku?”
Aku menganggukkan kepala. Kulihat laila semakin heran dan bingung melihatku memberikan sebuah surat puisi padanya. Tanganku dingin, jantungku tak menentu. Pikiranku tak tenang. Aku tidak dapat menggambarkan suasana hatiku saat ini.

SURAT CINTA
Kutulis surat ini Kala hujan gerimis Bagai bunyi tambur mainan Anak-anak peri dunia yang gaib.
Dan angin mendesah Wahai, dik Laila, Aku cinta padamu!
Kutulis surat ini Kala langit menangis dan dua ekor belibis bercintaan dalam kolam bagai dua anak nakal Jenaka dan manis mengibaskan ekor serta menggetarkan bulu-bulunya
Wahai, dik Laila Kupinang kau menjadi istriku!
Kaki-kaki hujan yang runcing menyentuhkan ujungnya di bumi
Kaki-kaki cinta yang tegas bagai kolam berat gemerlapan
Menempuh ke muka dan tak’kan kunjung diundurkan Selusin malaikat telah turun dikala hujan gerimis. Dimuka kaca jendela mereka berkaca dan mencuci rambutnya untuk ke pesta. Wahai, dik Laila, dengan pakaian pengantin yang anggun bunga-bunga serta keris keramat aku ingin membimbingmu ke altar untuk dikawinkan.
Aku melamarmu kau tahu dari dulu. Tiada lebih buruk dan tiada lebih baik dari yang lain...
Penyair dari kehidupan sehari-hari, orang yang bermula dari kata. Kata yang bermula dari kehidupan, pikir dan rasa.
Semangat kehidupan yang kuat bagai berjuta-juta jarum alit menusuki kulit langit. Kantong rejeki dan restu wingit. Lalu tumpahlah gerimis. Angin dan cinta mendesah dalam gerimis. Semangat cintaku yang kuat bagai seribu tangan gaib menyebarkan seribu jaring. Menyergap hatimu yang selalu tersenyum padaku.
Engkau adalah putri duyung tawananku. Putri duyung dengan suara merdu lembut bagai angin laut, mendesahlah bagiku!  angin mendesah selalu mendesah dengan rapatnya yang merdu.
Engkau adalah putri duyung tergolek lemas mengejap-kejapkan matanya yang indah dalam jaringku. Wahai putri duyung, Aku menjaringmu. Aku melamarmu.
Kutulis surat ini kala hujan gerimis kerna langit gadis manja dan manis menangis meminta mainan. Dua anak lelaki nakal bersenda gurau dalam selokan dan langit iri melihatnya. Wahai dik Laila, kuingin dikau menjadi ibu anak-anakku!
Untuk gadis pujaanku, Laila...
Dari goresan penaku: Rahmat... 
Laila tersenyum seorang diri. Dibawah pohon yang rindang dan sejuk itu laila tak hentinya menunjukkan senyumnya. Betapa bahagianya hati laila saat membaca puisi dariku. Puisi itu sungguh menggetarkan jiwa dan hati laila. Tak hentinya laila tersenyum, rasa bersyukur pada Tuhan tak hentinya dia ucapkan karenaku juga bisa membuat puisi indah untuknya.
Laila menyimpan hati padaku. Rasa itu tidak pernah diaturkan padaku. Dia malu, dia ragu dan dia takut. Satu hal yang dia takutinya adalah ketika aku tidak merasakan apa yang dia rasakan.
Rasa cinta itu sangat semakin bergebu-gebu ketika dia selesai membaca puisiku. Dia selalu meletakkan kertas putih itu didadanya. Berharap apa yang tertera dalam syair puisi itu menjadi kenyataan.
5
LUKA DALAM PERSAHABATAN
Hati laila semakin berbunga-bunga. Begitu pun dengan ku. Saling memandang dengan rasa cinta. Langit begitu indah dan jernih. Lukisan keagungan sang Maha Kuasa begitu indah terlihat siang itu. awan-awan yang putih bergaris berjajar menutupi langit yang biru. Atmosfer sekolah begitu terasa hangat. Begitu pun hawa dimading sekolah. Siang itu siswa-siswa terlihat ramai disetiap sudut mading sekolah. Puisikut yang indah itu membius siswa untuk membacanya.
Puisi cintaku akhirnya terdengar oleh langit. Laki-laki yang sempurna itu tampak marah. Dia tidak pernah menyangka aku dan dirinya menyukai gadis yang sama. Wajah langit seketika berubah menjadi benci. Matanya tergambar dengan jelas emosinya yang tinggi.
“anak-anak heboh loh mat dengan puisi kamu” sebut laila
“ah, biasa saja”
“iya, serius. Puisi kamu itu bagus bangat. Aku tidak menyangka kamu bisa menulis puisi sebagus itu”
“kamu suka tidak puisi yang aku beri?”
“suka mat. Suka bangat. Aku belum pernah membaca puisi sebagus itu”
Aku tersenyum mendengar laila berkata demikian. Sungguh hatiku sangat senang mendengarnya. Namun, dibalik senyumanku. Langit melihatku dengan benci. Dari matanya tergambar dengan jelas bara kemarahan. Hawa panas terlihat dengan jelas diwajah langit. Wajahnya berubah menjadi merah bagaikan api yang membara.
Terlihat langit menggenggamkan tangannya. Dia begitu emosi dengan dan marah denganku.
Dari kejauhan tampak langit dan teman-teman berjalan mendekatiku. Laila gadis pujaanku pergi setelah dia dipanggil kepala sekolah keruangannya. Kini tinggalku sendiri senikmati hatiku yang sedang dilanda bahagia. Puisi yang kubuat dapat membuka pintu hati laila. Dan ini adalah langkah awalku untuk mendekati laila gadis pujaan semua laki-laki disekolah.
“abang” teriak adikku bumi dari kejauhan
Kumelihat bumi berlari mendekatiku. Dari kejauhan kulihat bumi membawa sebuah buku ditangan kanannya. Seketika wajahku berubah ketika aku melihat bumi. Perasaan bahagia seketika menghilang dari hatiku. Perasaan benci hanya tergambar dimataku ketika aku melihat bumi.
“abang. Ini buku abang” sebutnya dan memberikan bukuku yang aku minta untuk dia membawanya
Aku tidak menjawab. Aku langsung mengambil buku yang bumi berikan. Lidahku tak kuasa untuk berkata terima kasih pada bumi. Mulutku membeku. Mataku melihatnya dengan sinis dan benci. Dan aku pun melangkah pergi dan meninggalkan bumi seorang diri.
“rahmat?” panggil laki-laki dari jauhan
Langkahku terhenti. Aku menengok kebelakang. Dari kejauhan langit berlari kecil menuju kearahku. Bumi belum juga pergi dari tempatnya. Mataku melihat dengan jelas langit mendatangiku dengan wajah yang tak menentu..
“hei, banci!”
Buk!..
Langit memukul pelipisku dengan genggaman tangannya. Aku pun  terpental hingga terjatuh.
“apa ini?” ucapku
Aku mencoba membangunkan diriku namun aku kembali dipukul oleh langit. Pelipisku berdarah. Bumi mau bergerak menolongku tapi dicegah lintang. Tangan bumi ditarik dan ditahan oleh lintang. Sementara itu diriku semakin lemah dipikul dan ditentang oleh langit.
“abang” ucap bumi dengan sedekit bergetar melihatku dipukul oleh langit
“banci kamu. Kamu suka kan sama laila?” tanya langit marah
“apa maksud kamu?”
“aku sudah tahu dari anak-anak. Kamu menyatakan cintamu pada laila lewat puisi kan?”
Kabar itu membuat langit begitu marah padaku. Hal yang aku takutkan selama ini terjadi juga. Mata merah marah langit tampak jelas terlihat. Wajahnya berubah menjadi merah.
Aku membangunkan tubuhku dan membersihkan darah di pelipisku. Aku melihat mata langit yang merah itu. Tampak dengan jelas mata itu seperti mata setan. Penuh dengan kegelapan.
“ha, iya. Aku menyukai lailai. Ada masalah denganmu?” ucapku sedikit berbisik ditelinga langit
Langit melihatku semakin benci. Ucapanku membuat wajah langit semakin merah.
“kurang ajar”
Bak!
“abang!” sebut bumi ketika melihatku dipukul
Langit memukulku. Lalu membawaku kesudut sekolah agar tidak terlihat oleh orang. Sementara itu bumi mengikutiku dari belakang disusul oleh lintang dan jaka. Setelah sampai disudut sekolah dan tak tampak seorang pun disana. Disanalah langit dan teman-temannya menghabisiku karena langit sakit hati padaku karena gadis pujaannya telah menjadi kekasihku.
“kamu tahu kan, aku suka sama laila?” tanya langit padaku
“tahu!” jawabku
“lalu kenapa kamu menyatakan suka padanya?”
“apa salahnya? Apakah dia milik kamu? Tidak kan?”
“kurang ajar”
Bak! Bak! Bak!
Langit kembali memukulku. Kali ini langit tidak hanya saja memukul pelipisku dia juga memukul bibir dan perutku. Pukulan itu sangat sakit. Bumi adikku melihatku dengan wajah yang tak menentu. Sekali-kali bumi memanggil namaku. Dia mencoba untuk mencegah langit namun tidak bisa karena tertahan oleh jaka dan lintang.
“bangsat. Dasar teman tidak tahu diri kamu. Aku percaya kamu. Ini balasan kamu padaku? Selama ini aku bantu kamu setiap kamu ada masalah. Tapi ini balasannya. Bangsat kamu”
Bak!
“Ah!”
Aku mengerang kesakitan. Melihat itu dada bumi semakin panas. Bibirnya bergetar ketakutan melihatku tergeletak tak berdaya.
“haha... Asalkan kamu tahu saja langit. Semua orang suka sama laila. Termasuk aku. Dia hanya menganggap kamu sebagai temannya. Tidak lebih. Karena dia tahu kamu itu pengecut berani main keroyokan seperti ini. Haha” ucapku sedikit menyindir langit
Mendengar itu reaksi langit tidak menentu. Genggaman tangannya tampak jelas tergumpal besar. Matanya merah, darahnya mengalir dengan cepat. Terdengar dengan jelas suara nafasnya berhembus kencang.
“habiskan” ucap langit pada dua orang temannya
Lalu jaka dan lintang langsung menjalankan perintah langit. Dengan semaunya dan sesukanya, mereka memukul dan menendangku. Aku semakin mengerang kesakitan. Bumi menangis melihatku dipukul seperti hewan. Dia mencoba mencegah mereka namun setiap kali mencoba mencegah bumi didorong dan terjatuh.
Melihatku tak berdaya, langit dan kedua temannya berhenti memukul dan menendangku.
“dengar rahmat. Aku tidak akan mengenal kamu lagi. Kalau kamu tidak ingin mati, jangan pernah kamu datang kehidup aku lagi. Ingat itu” sebutnya.
Beberapa saat langit dan temannya menghabisiku, akhirnya langit melarikan diri meninggalkanku seorang diri. Aku tergeletak tak berdaya, bajuku penuh darah. Pelipis dan bibirku berdarah. Bumi mendekat dengan perasaan tak menentu. Dia menangis menlihatku tak berdaya. “abang” “abang” kudengar bumi memanggilku dengan suara yang tersedu-sedu.
6
RUMAH SAKIT
Kepalaku terasa sangat berat. Penglihatanku tak begitu jelas melihat. Saat aku terbangun aku sudah berada dirumah sakit. Aku melihat dokter dan seorang perawat sedang mengobati lukaku karena pukulan langit.
“saya dimana?” tanyaku pada seorang perawat yang mengobatiku
“tenang. Anda sedang dirumah sakit. Jangan terlalu banyak bergerak” jawabnya
“siapa yang bawa saya kesini?”
“teman-teman kamu”
“bumi. Adik saya mana?”
“mungkin dia menunggu diluar”
“apa luka saya parah, dok?” tanyaku kembali
“tidak terlalu parah. Pelipis kamu hanya luka sedikit tidak perlu dijahit.”
Sementara itu, diluar ruangan UGD bumi dan teman-teman yang mengantarku menunggu dengan cemas. Wajah bumi tergambar ketakutan dan kecemasan yang dalam padaku. Bumi sangat khawatirkan keadaanku. Tangannya bergetar dimatanya terlihat linangan air mata yang selalu mengalir. Sungguh kesihan kumelihat adikku bumi.
“bumi. Bagaimana keadaan rahmat?” tanya laila tergopoh-gopoh setelah datang kerumah sakit
“kak. Abang masih didalam. Lukanya sedikit parah”
“bagaimana bisa ini terjadi bumi?”
“aku tidak mengerti kak. Kata langit dia cemburu pada abang karena puisi yang abang beri pada kakak”
Laila terpaku membisu. Dia tidak pernah menyangka puisi yang cantik itu memawa petaka pada rahmat. Laila terlihat menyesal. Matanya terlihat air mata yang berlinang.
“orang tua kamu tahu?” tanya laila pada bumi
“abang tidak boleh beritahu perkara ini” jawabnya lesu
Beberapa saat percakapan laila dan bumi tentang perkara itu. Tiba-tiba aku keluar dari ruang UGD. Semua mata terpaku pada aku yang kesakitan. Aku keluar dari ruangan dengan pelipis mataku diberperban dengan kain kasa. Mataku melihat kearah gadis pujaanku. Aku melihat dengan hati yang tidak enak. Kepalaku hanya menunduk.
“abang” ucap bumi mendekatiku
Sesaat bumi melihatku dengan air mata. Lalu dia memelukku dengan erat. Aku tahu perasaan adikku. Dia sangat khawatir padaku.
“abang. Maafkan bumi. Bumi tidak bisa melindungi abang” sebutnya dalam tangisannya
Aku membalas pelukan adikku. Sungguh aku sangat menyesal. Bukan karena dia tidak membelaku tapi karena selama ini aku membuangnya. Aku selalu membencinya. Aku tidak pernah mendengar kata-katanya. Disaat teman-temanku yang selama ini aku anggap seperti malaikat pergi meninggalkanku bumi selalu hadir dalam kesepian itu. Kejadian itu membuat aku sadar akan pentingnya sebuah keluarga. Hanya keluarga mengerti bagaimana kondisi kita.
“bumi takut bang” sebut bumi mengerang ketakutan dipelukanku
“sudah. Abang tidak apa-apa”
Bumi hanya menangis dalam pelukanku. Aku pun begitu. Laila melihatku dengan air mata. Laila pun ikut menangis. Teman-temanku pun hanya melihat dengan tertegun. Suasana sore itu sangat hanyut dalam kesedihan. Suasana ruang itu hanya terdengar tangisan bumi yang tersedu-sedu dipelukanku.
Kumelihat langkah laila mendekatiku. Dengan wajah yang cemas dia bertanya
“kamu tidak apa-apa, mat?” tanya laila padaku
“tidak. Aku tidak apa-apa” jawabku
Sedangkan bumi masih memelukku dengan erat. Tangisannya masih terdengar ditelingaku. Kulihat wajah laila gadis pujaanku itu. Wajahnya terlihat bersalah. Karena puisi yang aku berikan padanya membuat langit menghabisi aku.
Setelah beberapa jam dirumah sakit. Kami pun melangkah pulang, dijalan menuju pulang laila selalu melihat kearahku pandangan itu begitu membuatku serasa sehat. Sebelum pulang aku dan lailai dan bumi sejenak duduk dibawah pohon tak jauh dari rumah sakit. Sejenak kami meluapkan rasa takut yang sedari tadi bersarang di hati laila dan bumi.
“benaran kamu tidak apa-apa mat?” tanya laila kembali
“tidak la. Cuma sedikit saja”
“aku tidak mengerti dengan langit. Mengapa dia bisa melakukan ini pada kamu”
“mungkin itu salah aku la, langit kan suka sama kamu. karena puisi aku itu dia marah sama aku”
“iya, tapi kan tidak harus seperti ini”
Aku hanya tersenyum melihat laila membelaku. Kulihat hatinya begitu marah pada langit. Bumi tak melihat laila. Dia masih terhanyut dalam ketakutannya.
“iya, begitulah langit la. Dia bisa melakukan apapun yang dia inginkan termasuk dalam menyakiti orang lain”
“tapi aku tidak suka dengan dia mat. Dia seperti setan bagiku. dia begitu sombong. Sikapnya angkuh selalu membusungkan dadanya”
“iya. Langit memang hebat. Dia sempurna. Tapi dia terlalu sombong” tutupku
***
Langit malam mulai terlihat. Cahaya mentari sore mulai memudar. Suara binatang kecil terdengar ditelinga. Pukul menunjukkan jam 7 malam. Kami pun melanjutkan pulang kerumah masing-msing. Laila gadis pujaanku dan kini menjadi kekasihku pulang bersama ayahnya. Aku dan bumi melangkah menuju rumah. Papa dan mama telah menunggu dirumah. Telah ku gambarkan perasaan mama saat ini. Hanya khawatir dan kecemasan yang dirasakan. Karena tak seperti biasanya bumi pulang malam.
Setelah sampai diteras rumah kakiku sejenak terhenti. Rasa takut yang membuat kakiku terhenti. Papa akan marah melihatku seperti ini gumamku didalam hati. Perasaanku tidak enak, hawa rumah terasa tak mendukung. Bumi melihat kearahku.
“abang, bumi takut papa akan marah” sebutnya
Bumi mendahuluiku untuk mengatakan itu. Perasaan bumi sama seperti perasaanku.
Lalu aku dan bumi melanjutkan langkah kaki kami menuju pintu, bumi mengetuk pintu dan akhirnya pintu pun terbuka. Dan tiba-tiba.
“jam segini baru pulang? Dari mana?”
Papa membentak keras sambil membuka mata dengan lebar. Bumi  gemetar ketakutan. Sementara aku menundukkan kepala. Aku melihat papa bagaikan malaikat pencabut nyawa yang siap mencabut nyawaku. Gigi papa bergemeretak menahan amarah. Matanya merah marah.
“pa-papa!” Bumi terbata-bata serak.
“langit. Kenapa? Kenapa kamu nak?” tanya mama melihatku penuh luka dan darah
“kamu berkelahi?” tanya papa
Aku tak menjawab. mama melihatku dengan cemas dan tidak mengerti.
“ayo masuk” ajak mama
Tak jauh melangkah. Tiba-tiba papa menghentikan langkah aku dan bumi. Ruang keluarga ini serasa neraka bagiku. begitu panas.
“kamu berkelahi?” tanya papa kembali
“langit kamu berkelahi?” sambung mama
Aku diam. Bumi pun begitu. Sesaat aku dan bumi terdiam. Tiba-tiba,
Bak!
Papa memukulku. Tak sempat untuk menjelaskan perkara yang sesungguhnya papa mendahului penjelasanku.
“kamu mau menjadi apa? Setiap hari buat onar dan kekacauan? Kali ini apa yang kamu buat, ha?”
“pa, abang tidak....”
“Diam kamu Bumi! Jangan ikut campur! Ini urusan papa dengan laki-laki pembuat onar ini!” teriak papa pada bumi
“bukan aku yang memulai. Dia yang tiba-tiba memukulku” jawabku tidak melihat papa dan mama
“siapa?” tanya papa
“langit” jawabku
“dari awal papa tidak suka kamu berteman sama dia. Kamu tidak mau dengar apa kata papa?”
“pa, sabar. Kejadian ini tidak seperti apa yang papa sangka. Abang tidak salah pa!” sebut bumi lembut
Bumi mencoba untuk meredakan suasana. Mama hanya diam melihatku.
“diam kamu. Kamu jangan mencoba untuk membela dia” bentak papa pada bumi
“pa, bumi tidak membela siapa-siapa. Tapi abang memang tidak bersalah”
“kalau tidak bersalah, mengapa dia seperti ini?”
“ini karena langit dan teman-temannya memukul abang. Abang tidak salah apa pun pa”
“diam kamu” papa kembali membetak bumi
“pa!”
Bak!
Bumi dipukul papa. Mama kaget. Aku pun begitu. Kulihat bumi memegang pipinya yang dipukul papa. Mama mencoba meleraikan papa.
“papa. Apa yang sudah papa lakukan pada bumi” sebut mama
Papa terlihat menyesal telah memukul bumi. Matanya yang besar kembali mengecil genggaman tangannya dilepaskan. Wajah papa berubah. Aku melihat papa dengan benci. aku tidak menyangka papa bisa memukul anak kesayangannya. Bumi menangis. Lalu mama memeluk bumi. Tangisan bumi semakin menjadi-jadi.
“ini bukan salah bumi. Ini salah aku. Kalau papa mau marah, marah sama aku. Bukan pada bumi. Bumi tidak tahu apa-apa” sebutku pada papa
Suaraku sedikit membentak papa. Sikap papa berlebihan pada bumi. Aku tidak pernah melihat papa memukul bumi. Selama ini papa selalu menyayanginya.
“memang kamu yang salah. Kamu tidak bisa menyenangkan hati orang tua. Hanya bisa membuat orang susah. Berkelahi, membuat onar disana disini”
“cukup pa” teriakku “papa tidak tahu denganku. Papa tidak berhak mengatakan kalau aku tidak bisa apa-apa. kalau papa tidak suka padaku, tidak apa-apa. Aku tidak memaksa papa untuk suka padaku. Karena bagi papa, aku hanya bisa membuat papa susah. Ingat pa, suatu saat nanti aku akan tunjukkan pada papa. Kalau aku lebih hebat daripada apa yang papa pikirkan” tuntasku
“pandai kamu menjawab!” sebut papa
“papa, rahmat cukup” ucap mama dengan nada meleraikan
Lalu bumi melarikan diri. Menghilang dari hadapan kami. Dia tidak berkata apa pun. Dia hanya menangis. Suasana ruang itu seperti dineraka. Papa terlihat emosi begitupun dengan aku. Mama mencoba menjadi air. Tapi tidak bisa. Mama tidak banyak melakukan sesuatu.
“sudah. Masuk kamar” pinta mama padaku
Aku langsung menjalankan perintah mama. Meninggalkan papa dalam keadaan tak menentu. Rasa menyesal masih bersarang diwajah papa. Pertama kali papa memukul bumi, papa tidak bisa mengendalikan emosi.
Didalam kamar kulihat bumi duduk dikursi yang ada diluar kamar. Angin malam berhembus sepoi. Sejuk terasa dikulit. Langit malam sangat indah, ribuan bintang menghiasi setiap sudut cakrawala. Kulihat air mata bumi sekali-kali mengalir dikelopak matanya. Hatinya terasa sakit dengan sikap papa.
“maafkan abang” sebutku
Bumi tak melihat. Dia hanya menatap kelangit hitam yang penuh dengan bintang.
“karena abang kamu dipukul papa” sambungku
Bumi tak juga menjawab. dia hanya menghapus air matanya sedikit mengalir. Kamar itu sangat sepi seperti kuburan. Tak terdengar suara apa pun hanya sekali-kali kudengar dari luar ruang kamar mama memarahi papa atas sikap papa terhadap bumi. Aku mencoba mendekati bumi yang tak juga memberikan tanggapan terhadapku.
“masih marah sama papa?” tanyaku “sikap papa memang begitu. Papa tidak suka melihat anak-anaknya membantah apa yang papa bilang” sambungku
“tapi tidak semestinya papa melakukan itu pada anak-anaknya” ucap bumi tidak juga melihat
Lalu aku duduk dikursi tepat samping bumi. Aku memulai membuka diskusi dengan bumi.
“papa tidak marah sama kamu. Sebenarnya papa marah sama abang”
“tapi mengapa? Abang kan tidak salah. Yang salahkan langit” ucap bumi kesal
“ini mungkin salah abang. Dari awalkan papa melarang abang berteman sama langit. Tapi abang tidak mau dengar”
“abang juga sih tidak mau dengar apa kata bumi. Bumi kan tidak suka abang berteman sama langit. Langit itu orangnya jahat. Sombong. Berbuat sesukanya”
“iya, maaf. Abang yang salah. Abang janji abang tidak akan berteman sama langit lagi”
Bumi melihatku. dia begitu semangat ketika mendengar aku akan tinggalkan langit. Itulah yang bumi inginkan. Dari awal ketika dia melihat langit, bumi terlihat tidak suka. Memang, tidak hanya bumi. Hampir setiap siswa tidak menyukai langit.
“janji?” sebutnya
“iya janji” tuntasku
7
PERTEMUAN DI ASH-SHAHABAH
Kejadian itu telah menyadariku. Kini hidupku telah berubah. Aku tidak ingin mengenal langit dan teman-teman yang dulu membuatku terbelenggu dalam lobang kegelapan. Masa laluku telah aku hanyutkan bersama kenangan pahitku. Masa sekolahku kini kulanjutkan ditempat kuliahku. Hari pertama kuliah aku sangat bersemangat. Ingin bertemu teman baru, kelas baru dan suasana baru. Aku ambil jurusan sastra, aku ingin meneruskan bakatku dalam menulis. Kuingin menunjukkan pada papa dan orang-orang yang merendahkan aku dulu bahwa aku adalah laki-laki yang memiliki kelebihan yang tidak ada diorang lain.
Hubunganku dengan lailai semakin dekat begitu pun dengan bumi adikku. Bumi dan laila yang selalu memberiku semangat dalam menggali semangatku untuk menulis. Telah banyak buku yang aku tulis. Semua pengalamanku aku ceritakan disetiap goresan kertas.
Laila dan aku satu universitas namun kita beda jurusan. Laila mengambil jurusan Pendidikan Fisika. Memang tidak heran, karena dia memang hebat dalam bidang sains. Waktu SMA dia pernah mendapatkan medali emas olimpiade sains tingkat nasional. Aku mengambil jurusan sastra. Karena aku ingin menjadi seorang penulis.
Universitas Islam adalah pilihanku. Papa dan mama sempat bertanya. Mengapa universitas Islam? Hanya singkat jawabanku aku menjawab aku ingin memberikan mahkota untuk papa dan mama kelak disyurga. Mendengar itu papa dan mama terdiam. Papa dan mama memberikan kebebasan padaku untuk memilih universitas dan jurusan yang aku suka.
Pagi itu, cahaya mentari pagi bermain hebat di setiap sudut kampus. Di mataku Cahayanya sangat mempesona Cahaya mataharinya yang kuning keemasan seolah menyapu atap-atap rumah, gedung-gedung, menara-menara, dan kendaraan-kendaraan yang lalu lalang di jalan.
Kubah masjid Ash-Shahabah yang megah dan indah itu terlihat anggun dan cantik karena pantulan cahaya Allah. Subhanallah gumamku dalam hati. Hatiku selalu bertasbih pada Allah melihat keagungan dan kuasa Allah. Mataku selalu terpaku melihat syurga dunia ciptaan Allah yang selalu memberi kenikmatan tak terhingga. Sombong bila manusia tidak bersyukur atas kenikmatan yang sudah Allah berikan. Kenikmatan Allah yang mana lagi kamu dustakan?
Usai shalat Dhuha di masjid Ash-shahabah, aku melangkahkan kakiku menuju fakultas Adab Universitas Islam Sulthan Thaha Saifuddin, Aku keluar masjid lewat pintu utara. Menyusuri trotoar yang melintas tepat di utara masjid. Jalan raya itulah yang memisahkan Masjid Ash-shahabah dengan Fakultasku. 10 menit lagi kuliahku aku akan segera dimulai aku begegas melangkah menuju ke kelas yang agak jauh dari jalan utama.
“assalamu’alaikum mat?” ucap salah satu teman baruku
“wa’alikumsalam Rendra”
Rendra adalah teman baruku. Kami dipertemukan saat melaksanakan perkenalan kampus dulu. Aku sempat bertanya mengapa dia diberi nama Rendra. Apa diambil dari nama seorang pengaran terkenal itu W.S Rendra? Katanya ayah dia sangat suka dengan sastra. Dan salah satu penyair yang dia suka adalah W.S Rendra itulah mengapa ayahnya memberi nama dia Rendra.
“jangan lupa besok, tulisan kamu ya?” ucapnya
astagfirullah. Maaf ren. Aku lupa”
“sudah aku duga. Kalau tidak diingatkan pasti kamu lupa. Ya sudah besok saja”
“maaf ya, ren”
“iya tidak apa-apa. Aku kesana dulu. Sudah ditunggu orang”
“iya. Terima kasih ren”
Aku melanjutkan perjalananku ke kelas. Fakultas adab begitu indah dan cantik. Kubah besar menghiasi atap dekanat. Taman mahasiswa yang bersih tempat diskusi mahasiswa.  Jam menunjukkan tepat pukul 12 siang. Aku bergegas kemasjid Ash-Shahabah untuk melaksanakan shalat Zuhur. Azan terdengar bersahut-sahutan. Subhanallah, Maha Besar Allah dengan segala ciptannya. Ucapku dalam hati. Aku segera melaksankan shalat zuhur, ku ingat ba’da zuhur aku akan menemui laila untuk mengambil buku yang aku pinjam.
Hatiku selalu bertasbih mengucap syukur pada Allah. Segala Puji dan kebesarannya yang telah ia berikan padaku. Siang itu masjid Ash-Ashahabah dipenuhi oleh mahasiswa. Ketika iqomah dikumandangkan oleh salah satu mahasiswa, semua mahasiswa berdesak-desakan menuju sap paling depan. Tapi sayang aku tidak dapat menempati sap paling depan karena telah dipenuhi oleh mahasiswa lain..
Selama menjalankan shalat hatiku tak hentinya berdzikir memuja nama Allah yang maha suci lagi maha indah. Setelah selesai shalat zuhur. Kuingat laila telah menungguku, hatiku menjadi tidak enak karena menunggu terlalu lama.
“assalamu’alaikum, rahmat tunggu saya dibawah pohon cemara disamping masjid Ash-Shahabah. Saya akan segera kesana. Terima kasih”
Begitulah pesan singkat laila melalui SMS HP ku. Laila tahu, bila sudah masuk shalat akulah orang yang pertama penghuni masjid Ash-Shahabah.
“assalamu’alikum rahmat?”
“wa’alakumsalam” ucapku
Aku tidak menyadari kedatangan seorang didekatku karena aku asik membaca buku sastra karangan W.S Rendra. Betapa terkejutnya aku saat seorang perempuan shaleh dan cantik berdiri dihadapanku. Berjilbab biru menutupi setiap tubuhnya. Matanya indah tak berubah seperti dulu. Perempuan itu laila kekasihku, cinta Allah, sayang Rasullullah.
“eh, la” sapaku tersenyum dengan keindahan laila
“maaf, mat sudah membuatmu menunggu lama”
“tidak Apa-apa. Kamu sudah shalat?” tanyaku
“sudah. Tadi shalat di mushalah Tarbiyah”
Aku tersenyum. Sejenak aku terdiam begitu pun dengan laila. Angin yang berhembus sangat menjejukkan jiwa. Pohon cemara tak henti-hentinya bergoyang berzikir pada Sang Pencipta.
“bagaimana kuliahnya?” tanyaku membuka percakapan
“alhamdulillah seperti biasa. Pergaulan dengan rumus” katanya
“ah, kamu ada-ada saja”
“ini buku kamu” ucapnya sembari memberi buku yang aku pinjam
“alhamdulillah. Kamu masih simpan buku tua ini?”
“masih”
“buku ini sudah langkah. Ditoko buku tidak menjual lagi buku seperti ini. Kecuali ditempat buku-buku tua seperti toko dipersimpangan jalan supermarket dekat pasar itu”
“aku suka membacanya. Tidak bosan membacanya. Setiap kali membacanya pasti aku menangis” sebutnya tersenyum malu
Karangan W.S Rendra begitu dahsyat. Kata-kata yang dirangkainya membuat hati menjadi terhanyut dalam setiap kalimatnya. Setiap kali membacanya akan menangis mengenang kisah memilukan dari tokoh yang dibuat oleh penyair terkenal itu. Aku tersenyum kecil, lalu berkata
“iya, kalimatnya sangat indah dan menggoyangkan hati. Siapa saja yang membacanya pasti akan terbawa perasaan”
“iya”
Siang itu langit dilukiskan perpaduan biru dan awan putih sungguh indah ciptaan Sang Kuasa. Burung-burung terbang dari satu pohon kepohon lainnya. Hatiku tak hentinya bersyukur. Laila begitu cantik rupanya sepadan dengan apa yang dia pakai.
Mataku melihat-lihat mahasiswa yang lewat, tak sengaja aku terlihat seorang laki-laki yang sedang memasangkan sepatunya didepan pintu utama masjid Ash-Shahabah. Laki-laki itu tidak asing dimataku. Sepertinya aku pernah melihat laki-laki itu. Tapi aku tidak mengingat dimana aku berjumpa dengannya. Dia terlihat tampan berbaju kemeja putih, tidak jauh seperti langit sahabat lamaku. Ah, tidak mungkin itu langit. Gumamku. Aku mencoba mengingat-ingat laki-laki itu. Wajahnya tak begitu jelas terlihat karena terhalang oleh mahasiswa yang lewat.
“mat?” panggil laila
Aku tidak menanggapi panggilan laila. Dia terheran-heran melihatku seperti orang kebingungan.
“rahmat” panggilnya kembali
“oh, iya. Maaf”
“kenapa, mat?” tanya laila
“tidak apa-apa”
Aku selalu melihat kearah laki-laki yang memasang sepatu itu. Sungguh dia membuat hatiku penasaran. Beberapa saat aku menatap wajah laki-laki itu dan akhirnya dia pun berdiri menatap wajahku. Dia tersenyum. Aku terheran. Mengapa dia tersenyum? Sebutku. Apakah dia mengenaliku? Aku melihat dia melangkah mendekatiku dan laila. Aku semakin penasaran.
“rahmat kan?” tanyanya
Aku semakin heran dan bingung laki-laki itu mengenaliku. Tapi aku tidak tahu siapa dia. Laila juga bingung melihat laki-laki itu.
“iya”
“MasyAllah. Apa kabar kamu?” tanya laki-laki itu kembali
“alhamdulillah baik” sebutku
Kami saling bersalaman. Berjabat tangan tanda bersaudaraan. Laki-laki itu membuka percakapan seperti dia sangat mengenaliku.
“masih ingat denganku?”
Aku menggelengkan kepalaku. Dia heran. Keningnya terlihat mengerut karena kebingungan.
“amar. Sahabat lamamu” sebutnya
“amar?” sebutku kembali mencoba mengingat-ingat nama teman-temanku waktu sekolah dulu
Tidak ada nama amar waktu SMA dulu. Hanya ada langit, lintang, jaka dan ada beberapa temanku yang lain.
“Amar Al-Ihsan” ucapnya tersenyum
Beberapa saat aku mengingat-ingat nama-nama sahabat lamaku dan akhirnya aku mengingat laki-laki dihapanku ini. Dia adalah Amar Al-Ikhlas sahabat sewaktu SMP dulu. Setelah lulus SMP dia melanjutkan sekolah agama di jogja dan tinggal di asrama. Setelah lulus SMP kami pun tidak pernah bertemu atau pun berkomunikasi lewat HP atau lainnya. Sempat dulu aku mencari no HP nya pada teman-teman tapi tidak ada hasilnya.
“Subhanallah. Amar” sebutku girang
“Alhamdulillah. Akhirnya ingat juga”
“iya, aku ingat. Kamu apa kabar?” tanyaku
“Alhamdulillah sehat. Kamu?”
“Alhamdulillah, sehat”
Subhanallah rahasia Allah siapa yang tahu? Bertahun-tahun aku mencari laki-laki dihadapanku ini, sungguh hatiku senang tak terkira dapat berjumpa dengan sahabatku amar. Laila melihatku dan amar dengan heran. Matanya sekali-kali melihat kearah lain mencari jawaban dari penasarannya.
“oh iya, kenalkan ini laila. Temanku. Dan laila ini amar sahabat baikku”
Amar dan laila saling menyapa satu sama lain. Aku melihat kedua orang itu sangat senang. Mengapa amar baru datang dalam hidupku? Mengapa tidak dari dulu. Terik matahari sangat menyengat. Kulit terasa terbakar. Angin sepoi dan sejuk menemani perbincangan kami, hembusan angin menggoyangkan setiap daun-daun cemara yang rindang. Masjid ash-shahabah terlihat sepi dari mahasiswa. Hanya terlihat beberapa mahasiswa yang tengah melaksanakan shalat zuhur.
“kamu kuliah disini ya mar?” tanyaku
“iya mat. Aku Fakultas Ushuluddin. Kamu sendiri? Kuliah disini?”
“iya mar, aku fakultas adab jurusan sastra”
“sastra? Wah mantap itu mat. Kan dari dulu kamu ada bakat dalam menulis” sebut amar mengingat-ingat kebiasaanku menulis saat SMP dahulu.
“oh, ternyata rahmat suka menulis sejak dulu ya?”
“iya. Waktu SMP dulu dia pernah menjadi penulis cerpen terbaik tingkat provinsi”
“eh..eh.. amar, jangan berlebihan ya. Allah tidak suka itu” sebutku tersipu malu
“eh.. saya tidak berlebihan ya. It is real no gosip.”
“laila..” teriak seorang perempuan memanggil laila dari kejauhan.
Laila pun menengok kearah perempuan yang melambaikan tangannya pada laila. Perempuan itu rani sahabat baru laila. Aku  dengan rani pernah bertemu diperpustakaan kampus saat aku menemani laila mencari buku. Rani perempuan yang baik. Tidak jauh berbeda dengan laila. Berjilbab panjang dan sangat tertutup. Kemudian laila membalas lambaian tangan rani.
“rahmat, amar. Saya sudah ditunggu rani. Jam 13.20 nanti kita ada kelas. Saya duluan ya” sebut laila
“iya. Hati-hati la” sebutku
“Assalamu’alaikum.” Ucap lailai “wa’alaikumsalam”
Laila melangkah menjauhi aku dan amar. Laila terlihat begitu anggun dan cantik bila dipandang dari belakang. Aku dan amar melanjutkan percakapan kami yang sempat terputus.
“bagaimana kabar mikail?” tanya amar membuka percakapan
Sejenak aku mengiat-ingat nama mikail. Aku sudah banyak lupa dengan teman-teman SMP aku dulu.
“mikail?” tanyaku bingung
“iya, mikail teman SMP dulu”
“oh, mikail yang badan kurus kecil itu?” sebutku setelah ingat dengan mikail sahabat lamaku
“ha, iya. Yang nyebur dikolam ikan” tawa amar saat mengingat masa kenangan sekolah dulu.
Aku pun tertawa geli mengenang masa itu. Waktu SMP aku memiliki 3 sahabat dekat. Amar, mikail dan syahdan. Semua kegiatan sekolah selalu kami kerjakan bersama-sama. Setelah lulus SMP kami pun menghilang tanpa berkomunikasi satu sama lain. Kudengar setelah lulus SMP mikail melanjutkan sekolah di surabaya pondok pesantren milik keluarganya. Sementara itu syahdan melanjutkan ke jakarta sekolah madrasah.
“aku tidak tahu mar. Setelah lulus sekolah aku tidak pernah berkomunikasi dengan mereka lagi. Dengan kamu saja tidak pernah. Alhamdulillah Allah pertemukan kita disini”
“pernah kamu melacak mereka?”
“sudah berbagai cara aku lakuin mar. Facebook, twitter, No. HP sudah aku coba tapi juga tidak bisa. Kamu juga, menghilang begitu saja”
“maaf mat. Dipondok tempat aku sekolah tidak diizinkan bawa HP. Orang tua saja kalau mau nanya kabar anaknya lewat telpon pondok”
“ketat juga peraturan sekolah kamu ya”
“iya begitu lah. Tapi aku dengar mikail melanjutkan study S1 nya di mesir. Tapi syahdan sikentung itu tidak tahu dimana sekarang”
“bagaimana kabar mereka  ya? Aku rindu dengan mereka. Syahdan bagaimana kabar badannya masih besar atau tidak” sebutku tersenyum
“kudengar mereka sudah berubah. Mikail sering ceramah dimasjid-masjid besar disurabaya. Syahdan pun sekarang sudah kurus menjalankan program diet ketat”
“diet?” sebutku tertawa dan amar pun begitu
how about you?” tanya amar serius melihatku
Sejenak aku terdiam. Aku malu mau menceritakan masa sekolahku yang penuh kegelapan. Memiliki teman yang tidak seperti teman-teman waktu SMP dahulu. Mungkin amar akan tertawa mendengar cerita pahitku, tidak seindah cerita seperti masa SMP bersama dia dulu.
“aku malu mar?” sebutku
“malu? Why?”
“sebenarnya, setelah aku lulus SMP aku melanjutkan kesekolah umum biasa....”
Aku pun menceritakan kisah sekolahku semasa SMA dulu. Hatiku sedikit bergetak saat aku bercerita. Amar mengingatkan aku kepada langit temanku semasa SMA dahulu. Ingin rasanya aku pergi dari hadapan amar agar aku tidak mengingat langit.
“berbeda dengan masa SMP dulu. Aku punya 3 orang teman. Kita selalu bersama-sama. Aku berharap mereka seperti kalian yang membawa kebaikan dalam hidupku. Tapi, kenyataannya mereka membawa aku kedalam lubang kegelapan. Setiap hari bikin onar, kekacauan, memakai barang haram. Tidak pernah patuh sama orang tua. Selalu bantah perintah orang tua. Sampai suatu hari aku sadar mereka itu siapa”
“apakah kamu tidak mencoba mencari teman yang lebih baik?”
“sudah kucoba mar. Tapi setiap kali aku dekat dengan seorang mereka akan memukul orang itu. Mereka itu berkuasa di SMA. Terkenal nakal. Tapi langit anaknya pintar, dengan ide kreatifnya”
“langit? Siapa?” tanya amar dengan rasa penasaran
“langit adalah laki-laki yang berkuasa di sekolah dulu. Dia pintar, sering memenangkan lomba tingkat nasional. Semua guru percaya sama dia walau dia berbuat salah”
“lalu”
“dia tampan, sekilas kulihat dia seperti adikku bumi. Tapi sikapnya jauh. Bumi anaknya baik. Sedangkan langit anaknya sombong dan angkuh. Kita menyukai seorang perempuan yang sama. Bintang sekolah. Siswi teladan. Tapi langit tidak mengetahui kalau aku juga suka dengan perempuan itu. Suatu hari aku menyatakan cinta pada siswi itu lewat suatu puisi. Dan dia menerima cintaku. Kabar itu sampai ditelinga langit. Dia amrah. Dan memukulku sampai aku masuk kerumah sakit”
“lalu, gadis itu”
“awalnya dia ingin memarahi langit tapi aku menghalaunya. Aku tidak ingin masalah menjadi besar. Biarkan aku saja menerima resiko ini aku tidak ingin dia juga terluka oleh langit”
“dimana dia sekarang. Apakah kamu masih berhubungan dengan dia?”
“iya. Dia ada disini?”
“disini?” tanya amar bingun
Matanya melihat kemana-mana mencari perempuan yang aku ceritakan itu. Setelah mencari-cari amar tidak menemukan seorang pun didekatnya.
“siapa?” tanya amar kembali
“dia.. dia... laila” ucapku
Amar tersenyum. Pertanyaannya terjawab sudah. Beberapa detik menunggu akhirnya dia tahu perempuan yang menjadi pengikat hatiku.
8
HARI YANG MENEGANGKAN
Dua tahun telah berlalu. Kedekatanku dengan laila semakin dekat. Pernah terbesit dikepalaku untuk melamar kekasihku itu setelah lulus sarjanaku nanti. Menimba keluarga yang sakinah penuh dengan ridho Allah.
Persahabatanku dengan amar semakin erat. Dia seperti saudaraku sendiri. Banyak aku belajar tentang hidup dari laki-laki yang shaleh itu. Kita banyak menghabiskan waktu bersama-sama. Mulai mencari buku-buku refrensi untuk menulis, mencari link lomba menulis dan lainnya. Kini kejayaanku dalam menulis semakin sukses. Itu berkat do’a keluarga dan kedua sahabatku laila dan amar. Setelah membuka percetakan buku, buku-buku ku semakin laris dipasaran bahkan sempat ditawarkan diangkat menajdi sebuah film disalah satu buku karanganku.
Malam itu suasana rumah terlihat sepi, hanya aku dan bumi terlihat. Mama dan papa pergi ke palembang menghadiri resepsi pernikahan mas rio adik bungsu papa. Aku dan bumi duduk diruang keluarga sambil menonton TV sekedar menghibur diri menghindar dari kebosanan.
“bagaimana tawaran dari produser kemarin bang?” tanya bumi membuka pembicaraan
“belum abang jawab?”
“kenapa?”
“tawarannya murah bangat”
“ngak apa-apa. Ambil saja”
“eh, enak saja. Penghasilan buku abang saja lebih besar dari itu”
“itu baru kotornya saja bang”
“iya bumi. Biasanya kalau produser yang lain kotornya lebih dari itu. Uangnya juga kan tidak abang makan sendiri. Sumbangin kepanti, masjid. Kalau segitu mana cukup”
Tiba-tiba bel rumahku terdengar berbunyi, pembicaraan aku dan bumi pun terhenti. Sejenak bumi terdiam akupun begitu. Bel pun terdengar berkali-kali berbunyi. Lalu bumi pun membangunkan diri dan membuka pintu. Setelah dibuka ternyata amar berdiri membelakangi pintu dengan membawa tas hitam besar.
“assalamu’alaikum”
“wa’alaikumsalam. Eh bang amar”
“rahmat ada?” tanya laki-laki itu pada bumi
“ada. Masuk bang” ajak bumi “apaan itu bang” tanya bumi matanya melihat ketas hitam amar
“biasa, kitabnya abangmu”
“itu buku-buku bang rahmat?”
“iya. Kenapa?”
Bumi tidak menjawab. Dia hanya menggelengkan kepalanya melihat buku-buku yang ada didalam tas amar. Sepertinya bumi heran melihat buku-buku itu.
“bang. Ada abang amar”
“eh, bro. Duduk” ajakku
“bro ini buku yang kamu mau” ucap amar
“wah gila bro, banyak sekali”
“aku sengaja mencari buku tua-tua ini biar refrensi kamu semakin banyak dan tulisan kamu semakin bagus. Kan sayembara Nasional bro” ucapnya sedikit ngeledek
“abang ikut sayembara menulis lagi ya?” tempal bumi
Aku tersenyum. Aku tidak meilhat adikku.
“iya, abang kamu mau ikut lomba sayembara menulis. Kamu tahu tidak hadiahnya berapa?”
“berapa emangnya bang?”
“200 juta”
“wah. Bang banyak benar. Kalau menang bumi minta 10% ya?”
“eh, enak saja 10%. Abang amar yang 10%. Bumi 1% saja” sebut amar bercanda
Aku hanya tersenyum melihat perdebatan kedua laki-laki itu. aku tidak pernah mengharapkan hadiah 200 juta itu. aku hanya ingin memberikan yang terbaik dalam tulisanku. Sayembara itu tinggal beberapa bulan lagi. Aku tidak ada persiapan sama sekali. Judul tulisanku pun belum terpikir dikepalaku.
“kalian ini. Belum apa-apa sudah minta jatah. Yang harus dipikirkan itu tulisannya bagaimana, judulnya saja belum terpikirkan. Apalagi untuk menang”
“tenang bro. Didalam sini sudah aku siapkan judul-judul yang bagus, mulai judul jadul sampai modern”
“judul jadul. Emang film” sebut bumi
Amar pun tersenyum aku pun begitu. Suasana ruangan malam itu sangat hangat, suara tawa dan percakapan kami terdengar begitu ramai. Hembusan angin terasa berhembus disetiap ruangan. Bumi dan amar seakan menikmati lambaian ciptaan Tuhan itu.
“laila tahu tidak kamu ikut sayembara ini?” gumam amar setelah suasana ruangan menyadi sunyi
“tidak” jawabku
“kenapa?”
“tidak apa-apa. Aku sengaja tidak memberi tahu padanya”
“orang tua kamu?”
“tidak juga”
“bang amar. Jangankan mama dan papa. Aku saja tidak pernah dikasih tahu kalau bang rahmat ikut sayembara” sindir bumi
“ah, kalau abang kasih tahu kamu emangnya kamu mau bantu? Lihat abang menulis saja kamu kabur”
“iya setidaknya kasih tau kan aku bisa bantu do’a” tutupnya
Amar tersenyum mendengar percakapan antara aku dan bumi. Aku sangat menyayangi adikku. Sejek kejadian beberapa tahun yang lalu membuatku semakin sayang padanya, tidak hanya bumi, papa dan mama semakin aku sayang merekalah orang-orang yang selama ini yang aku inginkan selalu ada disampingku tersenyum melihatku, bangga dengan karya-karyaku.
***
Pagi yang cerah di Sulthan Thaha Saifuddin, cahaya emas bermain mesrah memancarkan berkahnya disetiap sudut kampus. Seperti biasa kubah Ash-Shabah terlihat cantik dimataku. Keindahannya mengalahkan kecantikan kekasihku laila. Rumah Allah itu sungguh indah gumamku dalam hati. Setelah selesai shalat sunah duha aku langsung melangkahkan kakiku ke fakultas. Mahasiswa terlihat ramai disetiap alun-alun ada yang membaca buku, ada yang ketawa dan ada yang sedang menunggu mobil jemputan dari kampu bagi mahasiswi yang tinggal diasrama. Kampus menyediakan mobil khusus untuk mengantar dan menjemput mahasiswi yang tinggal di asrama. Asrama putri berbeda dengan asrama putra. Asrama putra berada dikawasan kampus. Sedangkan asrama putri berada diluar kampus sekitar 25 menit dari kampus.
Pagi ini terlihat ramai dipusat perpustakaan. Ramai mahasiswa mengunjungi perpustakaan. Tidak heran karena pagi ini ada pameran buku dari perpustakaan provinsi. Banyak buku-buku yang tersedia mulai dari fiksi sampai buku pelajaran. Hari ini, laila akan menemuiku diperpustakaan ini. Beberapa menit menunggu laila, perempuan itu tidak juga terlihat. Sekali-kali aku melihat ke jam tanganku.
“assalamu’alaikum rahmat?”
“wa’alaikumsalam” jawabku
Beberapa detik kumelihat jam tanganku, laila berdiri dihadapanku. Pagi itu dia sangat cantik dengan perpaduan baju biru dan jilbab biru muda.
“eh, laila. Kupikir kamu tidak datang”
“maaf mat, sudah menunggu lama. Tadi ada urusan sama dosen”
“tidak apa. ayo masuk”pintaku
Aku dan laila masuk kedalam perpustakaan. Sungguh begitu indah, tulisan kaligrafi menghiasi setiap sudut ruangan. Ada satu hal yang membuat mataku terpaku pada sebuah kotak berdinding kaca bening. Kumendekat, kulihat dengan jelas sebuah Al-Qur’an tua yang dipajang ditengah pusat perpustakaan. Subhanallah gumamku dalam hati.
“Al-Qur’an tua ya mat?” tanya laila padaku
“sepertinya. Subhanallah. Al-Qur’an ini diambil dari kota seberang. Desa yang menjadi pusat peradaban islam di kota ini. Al-Qur’an ini telah banyak melahirkan ulama-ulama tersohor dinegeri ini”
Laila terdiam mendengar penjelasanku. Matanya hanya melihat kearah Al-Qur’an yang tua itu. Tulisan ayat Allah begitu indah, enak dipandang. Tulisan yang tiada tanding. Beberapa menit aku dan laila melihat-lihat keagungan sang kuasa yang ada perpustakaan islam ini.
Pertama kalinya aku melangkah kakiku ke perpustakaan. Selama beberapa tahun kuliah disini aku tidak pernah berkunjung ke perpustakaan pusat aku banyak menghabiskan waktuku diperpustakaan fakultas.
Aku dan laila melanjutkan langkah kaki untuk mencari buku. Begitu banyak buku yang tersusun dirak buku-buku. Berbagai macam jenis buku, karya ilmiah dan artikel. Kulihat pula beberapa karyaku yang terpajang dibagian buku fiksi. Aku tersenyum, laila terheran melihatku tersenyum.
“ada apa mat?” tanya laila
“tidak”
“mengapa kamu tersenyum?”
Aku menggelengkan kepalaku. Aku meneruskan langkah kakiku. Ada beberapa buku karya mahasiswa yang ada dirak buku tersebut.
“laila”
Teriak seorang perempuan dari sudut ruang. Mata laila melihat kearah suara tersebut. Suara tersebut berasal dari sahabat laila rani yang sedari tadi telah menunggu.
“kau janjian juga dengan rani?” tanyaku
“iya”
Aku dan laila melangkah mendekat. Rani tersenyum melihatku aku pun membalasnya.
“assalamu’alikum mat?” ucapnya
“wa’alaikumsalam” jawabku “sudah lama?”
“tidak juga”
“kamu sendirian ran?” tanya laila pada perempuan berjilbab hitam itu
“tadi sama mas agung. Sekarang sudah pergi, katanya ada janji sama dosen. Kau sudah lama?” rani kembali bertanya
“tidak juga. Sampai diperpus aku langsung kesini”
“kau sakit la?” tanya rani “wajahmu terlihat pucat pasih?” sambungnya
Memang laila terlihat pucat, bibirnya terlihat sedikit biru. Seperti orang sakit. Mataku melihat kearah kekasihku yang berdiri disampingku. Wajah laila terlihat sedikit pudar senyuman dibibirnya menghilang. Mungkin apa yang rani katakan itu benar laila sedang sakit. Tapi dia tidak mengatakan apa-apa padaku.
“ah, tidak. Aku tidak sakit. Kamu ada-ada saja”
Rani tersenyum mendengar laila berkata demikian. Hatiku sedikit tenang mendengar laila baik-baik saja. Tapi perasaanku tidak enak sepertinya ada sesuatu yang dirahasiakan laila dariku.
“amar tidak ikut?” tanya rani padaku
“sebentar lagi dia kesini. Dia lagi ujian”
“bagaimana tulisan kamu yang kemarin. Sudah dikirim?”
“sudah ran. Do’akan saja yang terbaik”
Rani mengangguk dan tersenyum. Dua hari yang lalu dia mendaftarkan diriku mengikuti lomba menulis tingkat nasional antar mahasiswa. Aku sangat kaget ketika rani mengatakan itu, ingin rasanya aku menolak tapi aku tidak enak dengan rani karena dia sudah mendaftarkan aku. Lomba menulis itu diselenggarakan oleh OSAKA surat kabar ternama yang selalu mencari bakat anak negeri melalui tulisan. Sesaat aku dan kedua perempuan itu terdiam tiba-tiba HP aku berbunyi kulihat ada SMS dari amar. Dia sudah berada dilantai bawah dan aku segera menyusulnya.
“maaf. Aku lihat amar dilantai dasar. Katanya dia sudah sampai” kataku pada kedua perempuan yang sedang membaca buku
Kedua perempuan itu menganggukkan kepala. Mata mereka hanya terfokus pada buku yang mereka baca. Kulihat kedua perempuan hebat itu membaca buku karangan ALBERT EINSTEN yang sangat menginspirasi dalam dunia Fisika Modern.
Lalu aku melangkah keluar meninggalkan kedua perempuan itu sejenak. Tak lama kumencari-cari amar akhirnya kudapat melihat sahabatku dengan berpakaian sangat rapi. Aku dan amar pun langsung masuk keruang.
“ada rani sama laila juga” sebutnya setelah sampai dimeja yang sedang aku duduk
“assalamu’alaikum, akhi amar?” ucap kedua wanita itu
Amar menganggukkan kepalanya dan menjawab salam dari kedua perempuan yang ada dihadapannya itu. sementara itu aku duduk termenung melihat gadis pujaanku yang lagi membaca. Aku melihat laila sekali-kali memegang kepalanya. aku selalu bertanya-tanya dalam hati ada apa dengan laila apakah dia sakit? Rani tidak menyadari sikap laila begitu pun dengan amar. Rani sahabat laila dengan asik membaca buku dihadapannya. Amar pun begitu, dengan khusuknya menyimak setiap tulisan didalam kitabnya.
Kupandangi laila. Sekian kumemandangnya dia selalu memegang kepalanya. sepertinya dia menahan rasa sakit dari kepalanya. melihat sikap laila aku ingin mendekat dan memegang kepalanya yang sakit namun hubungan kami adalah hubungan yang suci aku tidak ingin menodai hubungan suci karena bisikan setan dalam hati.
“kau tidak apa laila?” tanya rani ketika melihat sikap laila yang aneh
“tidak. Aku tidak apa-apa” jawabnya
“wajah kamu pucat sekali la. Kamu sakit?” tanya rani kembali
“tidak. Aku baik-baik saja”
Melihat sikap rani yang penuh kekhawatiran, aku dan amar pun menatap laila dengan wajah yang serupa dengan rani. Hatiku sangat takut dan cemas. Wajah laila begitu pucat bibirnya sedikit membiru terlihat pecah-pecah kecil dibibirnya.
“astagfirullah laila, hidung kamu berdarah”
Seketika aku berdiri mendekati laila dengan wajah penuh kekhawatiran. Amar melihat laila dengan cemas, sekali-kali laila memegang kepalanya. Rani melihat dengan hati yang tidak enak dipeluknya laila dengan erat. Darah dihidung laila mengalir lebih banyak. Beberapa kali laila memegang kepalanya, terlihat dari matanya dia menahan rasa sakit, dia menangis memanggil nama rani
“sakit ran, kepalaku sakit” ucapnya
Lalu tiba-tiba tubuh laila terjatuh pingsan. Orang-orang mendekati laila, rani terhanyut dalam tangisannya. Aku semakin takut hatiku tak menentu. Pikirannku tak menentu.
“ya Allah. Laila” sebut rani dalam tangisannya
Tak pikir panjang kami pun bergegas membawa laila kerumah sakit dengan mobil ambulance kampus. Hatiku semakin bergetar hebat. Hatiku semakin takut, mataku tak bercahaya menatap dalam kebingungan. Jantungku berdetak dengan cepat. Aku tidak pernah melihat laila seperti ini. Tia tidak pernah memberitahuku bila dirinya sakit. Dan mobil ambulance pun melaju dengan cepat.
9
KABAR DARI DOKTER
Setiba dirumah sakit, laila langsung dibawa ke UGD. Rani hanyut dalam tangisannya. Laila terbaring tak berdaya. Aku melihatnya dengan hati yang sakit. Hatiku selalu bertasbih memuja nama Allah, berzikir menyebut nama Allah Tuhan yang maha penyembuh, Sang Kuasa Maha Kuasa dibalik segala rencana manusia. Amar melihat laila dengan mata yang bingung. Terlukis diwajahnya kecemasan yang dalam.
“mas, maaf. Tunggu diluar saja” ucap salah satu perawat yang menangani laila
“tapi mbak laila sendirian didalam” sebut rani dalam tangisannya
“iya, tapi tidak ada yang boleh masuk selain perawat dan dokter”
“tapi mbak...”
“sudah ran, tenangkan dirimu. Biarkan dokter yang menangani laila. Kita berdo’a saja yang terbaik untuk laila” ucapku menenangkan rani tampak seperti orang gila
Mendengar itu, rani sedikit tenang namun tangisannya semakin menjadi-jadi. Amar hanya diam melihat rani menangis seperti orang gila. Jilbab biru rani tampak merah karena dilumuri darah. Rani menghapus setiap darah yang mengalir dari hidung laila saat didalam ambulance.
Pagi itu, perasaan aku, amar dan rani tidak enak. Kami semua duduk didepan ruang UGD tempat laila diperiksa. Semua hati bergetar bertasbih pada Sang Kuasa. Berdo’a kepada Allah semoga gadis didalam itu dalam keadaan baik-baik saja. Mataku melihat rani yang selalu menangis, bibirnya selalu bergetar menyebut nama Allah. Cahaya matahari pagi itu amat terik terasa panas yang masuk disela-sela jendela hingga menusuk kulit. Suasana lorong ruang itu tidak enak terasa. Sangat panas dan penuh kegelisahan.
Jarum Jam terasa lama bergerak, bumi terasa lambat berputar. Kegelisaha hati sangat bermain dalam dada. Darah mengalir sangat cepat. Detak jantung terasa berhenti berdetak.
“Suster di mana perempuan yang pingsan itu?” Tanya Ibu Laila dengan mata penuh kecemasan pada seorang perawat di depan ruang gawat darurat.
“gadis berjilbab?” “iya sus”
“gadis itu masih diperiksa sama dokter”
“dimana ruangnya?”
“disana” tunjuknya
Perempuan paru bayah itu pun langsung melangkah kaki menuju ruang UGD. Kudapat melihat wajah ibu laila, dihiasi dengan cemas dan khawatir begitu pun ayahnya yang berdiri dibelakang perempuan berkerudung merah itu. Sesaat rani melihat ibu laila, lalu air matanya pun tumpah dan rani berlari memeluk ibu laila.
“ibu. Laila” ucapnya
“kita do’akan saja yang terbaik” sebut wanita itu menenangkan sahabat laila
Selain dekat dengan laila, rupanya rani juga dekat dengan keluarga laila. Orang tua laila sudah menganggap rani seperti anaknya sendiri. Orang tua laila sangat baik dan ramah kepada setiap orang.
“laila sakit apa bu?”
“ibu juga tidak tahu nak, laila tidak pernah cerita sama ibu ataupun ayahnya kalau dia sakit”
“saya takut melihat kondisi laila buk. Saya takut terjadi sesuatu yang buruk padanya”
“sudah ran, tidak baik berbicara seperti itu. Sebaiknya kita berdo’a untuk kebaikan laila. Kita serahkan semuanya pada Allah” sambung amar menenangkan kedua wanita itu
Rani terus meneteskan air mata. Ia ingin tabah. Tapi ia tetap menangis. Kedua mata ayah laila tampak berkaca-kaca. Aku hanya diam melihat suasana haru biru dengan tangisan rani dan ibu laila. Amar termenung disampingku, tak terdengar suara dari mulutnya mungkin dia sedang berzikir dalam hatinya.
Beberapa detik dalam tangisan, tiba-tiba pintu UGD itu pun terbuka dan terlihat dokter yang memeriksa laila keluar dengan dua suster dibelakangnya.
“keluarga laila purnama sari?” ucap dokter muda
“iya saya ibunya dok”
Ibu dan ayah laila pun mendekati dokter yang berdiri didepan pintu ruang UGD itu. Sesaat aku melihat dokter tersebut, tampaknya dia enggan memberitahu hasil pemeriksaan laila. Kulihat pula tangannya memegang sebuah kertas putih. Sepertinya itu hasil pemeriksaan laila, sebutku dalam hati. Mataku menerawang entah kemana. Hatiku tak hentinya berzikir pada Allah semoga tulisan didalam kertas putih itu membawa kabar yang baik. Lalu dokter itu pun membaca hasil pemeriksaan laila.
“maaf bu, anak ibu terkena kanker otak stadium akhir” sebutnya
Kabar itu seperti tombak yang menancap ditelingaku. Mataku termenung, lututku lemas bergetar. Ibu laila menangis dengan kencang. Air mata rani meleleh.
“ya Allah. Anakku. Ayah laila” teriak ibu itu dalam tangisannya
“sabar” jawab laki-laki yang memeluk ibu laila
“ya Allah Laila” sebut rani
Amar terdiam, jantungnya terasa berhenti berdetak. Hatinya terasa panas. Hatiku berhenti berzikir. Sempat terbesit dalam hatiku zikirku selama ini hanya sia-sia saja. Kedua mataku berkaca-kaca. Keringat dinginku bermunculan satu persatu membasahi bajuku. Sungguh malang kekasihku itu mengapa Tuhan memberi cobaan seperti ini kepadanya. Hatiku tak menentu pikiranku tak tenang, angin yang berembus menari dengan asiknya diatas kulitku yang panas. Lalu rani dan ibu laila masuk kedalam ruang dimana tempat laila terbaring lemah kemudian ayahnya menyusul dan amar membangunkan diriku. Tubuhku terasa lemah tak berdaya. Lututku bergetar hebat tak sanggup rasanya aku melihat wajah kekasihku.
Namun aku paksakan kakiku melangkah masuk kedalam ruang UGD. Kulihat laila kekasihku terbaring diatas kasur beroda, darah dihidungnya telah dibersihkan, matanya terlihat layu namun dibibirnya masih tersimpan senyumnya yang manis. Hatiku semakin sedih, ingin rasanya aku memeluk kekasihku yang terbaring itu, ingin rasanya aku menjerit meluapkan kekecewaanku. Aku lihat tangan amar mengelus pundakku, aku tahan air mataku agar tidak meleleh dipipiku.
“ibu” ucap laila ketika melihat ibunya menangis
Kemudian perempuan paru baya itu mencium anaknya yang lemah terbaring tak bedaya
“sabarkan hatimu nak”
“ini cobaan dari Allah” sebut ayahnya
Rani tak hentinya menangis. Dipeluknya sahabatnya yang terbaring itu.
“laila. Sabarkan hatimu, jangan lupakan Allah. Dalam keadaan apapun kita selalu ingat padanya”
“Insyallah” jawabnya tersenyum kecut
Hatiku semakin sedih melihat pergaulan laila dengan orang-orang itu. Tak kuasa hatiku untuk mendekat kekasihku mataku berlinang sekali-kali aku mengedipkan mataku untuk menahan air mataku tidak keluar. Amar sekali-kali menghapus air matanya yang sedikit mengalir dibalik kelopak matanya. laila melihatku, dia tersenyum. Dari kejauhan senyumnya begitu manis tampak senyumnya untuk menahan rasa sakit yang dirasakannya. Terjatuh sudah air mataku. Tak kusadari air mata mengalir dipipiku.
10
HUJAN
Hujan terdengar riuh pecah ditelinga. Air yang berjatuhan mengenai setiap debu-debu yang bertaburan. Malam itu hujan gerimis telah berubah menjadi hujan yang deras membuat gaduh setiap penduduk bumi, petir terdengar bersahut-sahutan diangkasa. Didalam kamarku, aku duduk dimuka jendela mengingat ucapan laila ketika aku mengunjunginya dirumah sakit tadi siang. Malam itu suara hujan lebih enak kudengar dari pada suara radio tua milik bumi adikku. Entah mengapa malam itu, aku tak begitu merasa mengantuk pikiranku hanya terfokus pada laila. Wanita yang tengah berjuang melawan kanker yang bersarang dalam dirinya. Kabar itu serasa gemuruh yang pecah dalam telingaku. Aku tidak mengerti dengan perasaanku antara sedih dan tidak percaya dengan apa yang terjadi pada laila. Aku selalu mencoba menguatkan diri laila dengan kondisi dirinya.
Kini dua tahun berlalu. Lalila berjuang melawan kankernya. Setiap bulan dirawat dirumah sakit. Kemoterapi selalu dijalannya untuk menghilangkan kanker yang bersarang didalam tubuhnya. Dokter telah mendiaknosa hidup laila tidak akan lama sekitar delapan bulan kedepan. Namun, aku bangga pada laila, walau dalam keadaannya seperti itu dia tetap wanita yang hebat. Ia tidak pernah mengeluh apalagi putus asa untuk hidup lebih lama.
Mentari pagi terasa panas dikulit, cahaya kuningnya begitu cerah memancar hingga kebumi. Aku berjalan menyusuri alun-alun rumah sakit. Pagi itu aku mencoba untuk melihat laila, hanya sekedar menghibur dirinya. Kamar nomor 20 menjadi saksi bisu bagaimana pengorbanan laila memperjuangkan hidupnya. Kakiku terus melangkah, hingga aku sampai dikamar laila. Sejenak aku berdiri dibalik pintu kamar nomor 20 itu, sejenak aku menarik nafas, aku selalu berbisik dalam hatiku untuk selalu kuat bila bertatapan mata dengan lailai. Walau hatiku mengatakan aku tidak bisa dan aku paksakan diri membuka pintu kamar itu.
Aku lihat laila terbaring, memandang kearah langit yang cerah. Kulihat pula dibalik selaput matanya mengalir air mata yang penuh harap akan hidupnya. Kulihat pula rani sahabat laila duduk termenung disamping laila. Mereka tidak menyadari akan kedatanganku.
“assalamu’alaikum” ucapku
Kedua wanita itu melihat kearahku dan menjawab salam dariku. “wa’alaikumsalam”. Kulihat laila tersenyum, dibalik senyumannya itu tersimpan harapan yang penuh pada diriku. Dia pernah berkata padaku agar aku tidak pernah meninggalkan shalat dan selalu ingat pada Tuhan.
“rahmat?” sebut wanita yang terbaring sakit itu.
Wanita yang berbaju biru itu laila, purnama laila sari kekasihku. Ia telah mengubah hidupku. Ia telah menjadi pelita dalam hidupku. Dia seperti sinar bulan purna yang selalu memberikan cahaya dalam hidupku. Aku sungguh berterima kasih padanya. Entah mengapa wanita berjilbab itu  memilih aku untuk menjadikan kekasihnya padahal begitu banyak laki-laki yang lebih sempurna dari pada aku.
Aku hanya tersenyum, mataku terlihat berlinang. Sungguh aku tidak kuasa melihat kekasihku yang terbaring menahan rasa sakit. Aku tidak mendekati kedua wanita itu, aku hanya menunggu jawaban hatiku. Apakah aku harus mendekati wanita itu? atau apakah aku harus keluar meninggalkan laila karena hatiku begitu sakit. Sungguh Tuhan berilah aku jawaban.
“rahmat?” ucap kembali laila sembari memberi senyum padaku
Aku terbangun dari lamunanku, suara itu semakin menusuk dalam diriku. Aku pun melangkah mendekati laila dan rani. Kulihat pula laila menghapus air matanya yang terlihat mengalir kecil dikelopak matanya. Rani hanya tersenyum padaku dan aku pun membalasnya.
“ini ada makanan untuk laila. Laila belum makan kan?” sebutku menyodorkan bingkisan dari tanganku
“alhamdulillah. Terima kasih rahmat. Kamu datang dengan siapa? Dengan Amar?”
Aku tersenyum kecut. Sungguh kesihan wanita itu sebutku dalam hati “tidak, aku datang seorang diri. Amar ada kelas pagi ini. Aku sengaja ingin menjenguk laila. Bagaimana kabar kamu?”
“aku baik mat. Alhamdulillah. Semalam kepalaku agak sedikit sakit. Tapi sekarang sudah enakkan”
“kamu tidak ada kelas pagi ini, mat?” tanya rani padaku.
“tidak. Dosennya tidak datang. Semalam kamu tidur sini ya ran?”
“tidak. Aku tadi pagi kesini. Semalam aku ada acara keluarga. Oh iya bagaimana tulisan kamu. sudah selesai?”
“belum. Sedikit lagi. Kalau sudah selesai mau baca?”
“mau, mau bangat. Iya kan la?”
“iya” jawab laila
“rahmat? Rani?” ucap laila
Ditengah percakapan kosong itu, tiba-tiba dengan suara yang sedikit lesu dan tak berdaya laila memanggil namaku dan sahabatnya rani. Aku melihat kearah kekasihku. Matanya begitu layu lunglai, dibawah matanya terlihat menghitam. Bola matanya tak bercahaya lagi. Hanya terlihat keceriaan yang mulai menghilang. Mendengar itu rani pun melihat wanita yang sakit itu. Dan laila terlihat mengambil tangan rani dan mengelusnya.
“maafkan aku. Rahmat. Rani. Selama ini sudah membuat kalian susah karena aku. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi untuk berterima kasih pada kalian. rahmat. Rani. Rambutku kini mulai menipis. Kata dokter umurku tidak panjang lagi. Aku hanya ingin berpesan pada kalian, setelah aku pergi nanti tolong jangan lupakan aku. Tolong do’akan aku disetiap sholat kalian”
Kata-kata itu bagaikan badai yang menerjang telingaku. Tuhan, kuatkan hatiku. Kulihat mata laila yang menangis itu. tak kuasa hatiku menahan rasa sedih, aku hanya tersenyum untuk menahan air mataku agar tidak terjatuh dipipi. Rani pecah dalam  tangisannya. Dipeluknya laila dengan erat, dalam pelukkan itu aku mendengar rani berbisik kecil ditelinga laila.
“tidak la, aku tidak merasa susah karenamu. Aku ikhlas apa yang telah aku lakukan padamu. kamu pasti sehat. Kamu jangan lemah seperti ini. Dokter bukan tuhan. Hidup, mati kita tuhan yang menentukan. Jangan kamu berkata seperti itu”
Terjatuh sudah air mataku. Tak kuasa aku menahan air mataku. Melihat dua wanita yang hebat itu menangis. aku selalu berbisik dalam hati berdo’a pada tuhan agar panjangkan umur laila sampai aku dan dirinya bisa bersatu, mendirikan keluarga yang sakinah bersama anak-anak yang sholeh dan sholeha. Sekali-kali aku menghapus air mataku, namun terjatuh kembali. Wajah laila begitu layu dan lesu, matanya kosong dan tak menawan. Cahaya mentari yang masuk disela-sela jendela kamar laila pun terlihat tak berdaya melihat wanita yang sakit itu  menangis. Tak kuasa kumelihat laila bersedih hati, aku pun pergi dari hadapan wanita itu. Diluar kamar laila aku meluapkan segala kesedihanku mendengar ucapan laila yang begitu menusuk hati. Serasa tubuhku hampir terjatuh kelantai karena kakiku terasa lemah dan tak berdaya. Air mataku tak dapat kutahan, mengalir sekuat hatiku menjerit karena mendengar kekasihku. Laila melihatku pergi dari hadapannya, namun aku tak memperdulikan wanita itu karena hatiku terlanjur sakit. Hatiku kian menjerit, darahku terasa mengalir cepat seakan berlomba menerjang kulitku untuk keluar dari tubuhku. Kumencoba kuatkan hatiku. Kulihat laila dari sela pintu kamarnya yang dipasang kaca bening kecil. Sehingga aku dapat melihat laila yang masih menangis dipelukan rani. Tak sengaja disaat laila ingin melepaskan pelukannya, mata layunya itu menengok ke arahku yang sedang melihatnya dari luar. Wajah laila begitu pucat pasih bagaikan cendawan dibasuh sungguh ia begitu layu tak berdaya. Semakin laila melihatku hatiku semakin sakit, tangisanku semakin menjadi-jadi.
“laila” sebutku dalam tangisanku
Cahaya mentari semakin menyengat dikulit. Keringat dibadanku terasa membasahi baju yang aku pakai. Beberapa orang terheran melihatku menangis tersedu-sedu dibalik pintu nomor 20 itu. Kakiku semakin terasa lemah tak berdaya, dan aku pun terjatuh kelantai. Kulihat seorang pemuda medekatiku, dia terheran melihatku seperti orang tak sadarkan diri.
“mas. Anda tidak apa-apa?” ucapnya
Sementara itu aku tidak memperdulikan pemuda itu. Aku terhanyut dalam kesedihanku. Lidahku tak kuasa berkata-kata. Ingin rasanya aku menceritakan kesedihanku pada pemuda itu atau ingin rasanya aku menghempaskan kursi disampingku untuk meluapkan rasa kekecewaanku. Aku semakin terhanyut dalam tangisanku, aku mengabaikan pertanyaan pemuda yang tidak aku kenal itu. Dia semakin heran melihatku, lalu dia pergi meninggalkan ku dalam tangisanku seorang diri.
Tak lama setelah pemuda yang tidak kukenal itu pergi, kudengar suara hentakan sepatu yang tidak asing kudengar. Itu seperti suara sepatu amar ucapku dalam hati. Kudengar langkah kecil amar mendekati aku yang sedang menangis. Kulihat pula wajah amar yang heran melihatku menangis tersedu-sedu.
“rahmat mengapa kau menangis?” tanyanya dengan heran
Mendengar itu aku langsung memeluk amar dengan erat. Amar dengan heran pula membalas pelukkanku. Aku semakin kencang menangis dalam pelukan amar.
“ada apa mat? Ceritalah!” tanya amar kembali
“lailai” ucapku
“laila? Kenapa dengan dia?” tanya amar dengan penasaran
Aku tidak menjawab pertanyaan itu. Pertanyaan amar membuatku semakin terpuruk dalam kesedihan, lidahku seakan sulit berkata-kata. Pikiranku tak menentu hanya ada laila dalam benakku. Kulihat amar berdiri mendekati pintu kamar laila untuk memastikan laila dalam keadaan baik-baik saja. Tak jauh amar melangkah, aku pun menahan dirinya agar tidak masuk kedalam ruang laila.
“amar. Jangan” pinta dalam tangisanku
Kaki amar pun terhenti. Amar melihatku dengan penuh penasaran. Aku mencoba untuk menatap mata amar yang dapat kulukiskan betapa khawatir dirinya pada laila. Kumencoba menahan air mataku, aku sedikit kuat untuk tidak menangis. Amar melihatku. Lalu ia menarik tanganku kembali. Dan berkata dengan nada yang syahdu.
“rahmat. Dengarkan aku. Coba kamu jelaskan dengan perlahan apa yang sudah terjadi. Tenangkan dirimu, Arju” ucapnya sambil mengeluskan dadanya.
Aku mencoba untuk menenangkan diri. Sejenak aku menarik nafas dalam untuk menenangkan diri. Sekali-kali aku menatap wajah amar yang mulai memerah karena panas cahaya mentari.
“jelaskan padaku” ucapnya kembali
“aku tidak kuat melihat laila mar” sahutku tersedu-sedu
Amar kembali memelukku. Aku merasa kuat ketika aku berada dipelukan sahabatku, hatiku begitu damai dan tentram. Angin seakan berhembus dengan syahdu. Cahaya mentari begitu kasar menyengat dikulit kini terasa seakan memancarkan keindahan warnanya.
“sabar mat, tabahkan hatimu. Tidak ada gunanya bila kau seperti ini. Lebih baik kita berdo’a untuk kebaikan laila. Jangan kau membuatnya semakin tak berdaya karena kau selalu bersedih. Jangan kau larikan diri padanya ”
Dan aku semakin menangis mendengar ucapan amar. Aku termenung, mataku tak melihat kearah kiri dan kanan, aku tarpaku menatap tembok kamar laila. Kalimat amar telah menyadarkanku betapa lemahnya aku. Dahulu ketika aku belum mengenal laila, hidupku seakan berkubang dengan dunia gelap gulita, aku tak bisa mengenal siapa diriku. Sehingga laila malaikat penyelamatku datang dengan mengubah hidupku.
Amar adalah sahabatku yang terbaik. Dua manusia yang telah mengubah hidupku menjadi lebih baik. Laila kekasihku dan amar sahabatku. Meraka adalah malaikat penyelamat dalam hidupku. Aku selalu meyesal apa yang telah aku perbuat pada masa laluku. Hidup bergelimang dengan dosa hanya memikirkan tahta, wanita dan harta hingga aku jauh dari tuhan. Ketika telah aku menemukan diriku dengan hadirnya laila dalam hidupku, kini Tuhan kembali menguji kekuatan cintaku. Inilah artinya cinta sejati yang sesungguhnya, perjuang untuk saling menjaga satu sama lain. Dikala satu tulang rusuk sakit maka semua anggota tubuh akan terasa sakit.
Amar merangkul dan menitiku untuk berdiri. Rasa sedih dalam hatiku membuat kakiku begitu lemah dan tak berdaya. Rasa cinta yang amat dalam pada laila telah membuatku takut akan kehilangan kekasihku itu. aku dan amar pun pergi melangkah meninggalkan kamar laila. Aku dapat menggambarkan suasana kamar laila saat ini. Rani dalam kesedihan, laila dalam pengharapan.
Kakiku jauh melangkah hingga hingga tak terlihat lagi kamar laila. Amar mencoba membujukku untuk menenangkan diri dari suasana sedih yang berkalut.
Cahaya panas mentari siang begitu menyengat. Panas yang begitu menyakiti kulit, perasaan yang gemuruh. Jantung yang berdetak tak terkendali. Semua pikiranku ada di rumah sakit, pikiranku ada pada laila.
“bagaimana bukumu mat?” tanya amar
“sedikit lagi. Aku ingin mempersembahkan buku itu untuk laila dan kau mar. Kalian yang membuatku menjadi seperti ini, keluar dari dunia yang kelam penuh noda dan dosa”. Amar tersenyum kecil langkah kakinya mendeati pohon yang rindang tepat didepan kelasku. “Tapi aku takut, laila tidak sempat membaca buku aku” sebutku
Mendengar ucapanku amar menghentikan langkahnya, senyumnya menghilang seketika. Dia melihatku, kupandangi pula matanya yang hitam bersih itu, dia tak berbicara. Lalu tersenyum kembali padaku. Ku tahu isyarat itu, amar menyembunyikan kesedihannya dibalik senyumnya yang menghilang. Perasaan amar sama halnya dengan perasaanku terhadap laila kekasihku. Amar begitu menyanyangi laila, baginya laila adalah saudaranya.
Panas mentari tak hanya terasa di rumah sakit ketika aku mengunjungi laila, tetapi juga terasa menyengat hingga di kampus. Cahaya kuning matahari membuatku dan amar sedikit berkeringat. Pikiranku selalu saja tidak enak, masih saja terpikir dengan perkataan laila.
11
SENYUMAN YANG SAKIT
Cinta sejati telah membuktikan kebesaran Tuhan, cinta suci aku dan laila telah membuktikan itu. namun ketika cinta sejati itu datang ada satu hati yang terkoyak. Hari-hari selanjutnya, aku menjalankan aktifitasku seperti biasanya. Kini aku melanjutkan hobiku dalam menulis. Telah banyak buku-buku yang aku ciptakan buku-buku yang sakit. Didalam ruang yang kecil tempat aku biasa menulis, aku hanya termenung menatap cahaya yang masuk disela jendela yang sedikit terbuka. Alunan angin yang berhembus menggoyangkan tirai jendela itu. pikiran aku tak menentu mata kosong tak berisi. Aku merasa damai dan tenang bila aku berada didalam ruang yang kecil sederhana itu. didalam ruang itu aku tak mendengar satu suara pun, hanya putaran jam dinding yang berdetak yang aku simak. Lamunan aku berlanjut, pikiranku tak menentu hanya ada laila kekasihku. “assalamu’alaikum?”
Aku terbangun dari lamunanku ketika aku mendengar suara seorang mengetuk pintu ruanganku. Suara itu tidak asing lagi aku dengar, suara yang telah menjadi cahaya dalam hidupku. Aku menghapus air mataku yang sedikit mengalir di balik kelopak mataku. “wa’alaikumsalam” ucapku
Lalu aku mempersilahkan seorang dibalik pintu ruangku untuk masuk. Hembusan angin pagi yang dingin terasa sangat sejuk dikulit. Kumelihat pintu ruanganku terbuka kecil, kulihat wanita berjilbab panjang nan anggun melangkah mendekati mejaku. Alangkah suka hatiku melihat perempuan itu. Hatiku tak menentu hatiku antara senang dan sedih. Kulihat wajah kekasihku itu, bibirnya tersungging senyum bibirnya yang merah alami menutupi sakit dalam dirinya.
“laila?” ucapku
Aku tersenyum. Dia membalasnya. Kulihat dia membawa sebuah kotak kecil yang dibungkus plastik putih.
“ini untuk kamu rahmat”
“apa ini?”
“makanan kesukaan kamu”
“wah, tidak usah repot-repot la, kamu kan sedang sakit. Lebih baik kamu istirahat saja”
“ibu yang menyuruhku untuk mengantar padamu”
“bilang ke ibu kamu. lain kali tidak usah repot-repot untuk bikin makanan untuk aku. Apalagi ngerepoti kamu yang antar kesini”
“kalau itu aku tidak janji. Kamu tahu sendiri kan ibu itu orangnya bagaimana. Kalau keinginannya tidak dituruti bisa-bisa lebih aneh tingkahnya”
“iya sudah. Kamu datang dengan siapa?”
“sendiri”
“rani tidak ikut?”
“tidak, dia lagi ada kerjaan dirumahnya”
Suasana dalam ruangan itu sangat hangat, percakapan aku dan wanita pujaannku itu sangat enak didengar. Tidak melanggar hukum negara dan agama. Laila sangat menghormati dirinya sebagai wanita. Dia sangat menjaga dirinya dari laki-laki siapa pun itu termasuk aku. Karena itulah aku sangat takut untuk mendekati laila walau hanya sekedar salaman.
“bagaimana keadaan kamu sekarang?” tanyaku lirih
“aku baik mat. Jangan kau hiraukan”
Aku tersenyum. Sungguh aku bangga pada wanita dihadapanku itu, tetap tersenyum walau dalam keadaan sakit. Bisa mengatakan baik-baik saja walau dirinya sedang melawan maut.
“kamu sudah makan?”
“sudah mat. Tadi ibu masaki ikan gabus bakar dengan bumbu kuning”
“pasti enak” gumamku
“sekarang makananku dikontrol. Tidak seperti dulu, selagai perut bisa nampung apapun yang dimakan pasti langsung masuk”
“laila!”sebutku menatap wanita itu
Laila melihatku. Matanya kosong begitu pun dengan mataku. Bibirnya pucat pasih, wajahnya tak bercahaya hanya tampak garis kecil didekat hidungnya karena senyumnya yang sakit itu.
Kedua mataku berkaca. Linangan air mataku mengumpul dibola mataku. Aku mencoba untuk menahan air mataku agar tidak meleleh didepan wanita berjilbab putih itu. Sesaat laila menatapku dalam. Aku tak dapat melukiskan kepedihan yang dirasakan olehnya. Sekali-kali pikiranku teringat kata-katanya dalam beberapa bulan yang lalu ketika aku mengunjunginya dirumah sakit. Mengingat kata-kata wanita itu air mataku pun meleleh dipipi.
“rahmat. Kau menangis?” tanya laila heran
“terima kasih” ucapku dengan suara yang berat
“terima kasih untuk apa?” tanya laila
“terima kasih telah menjadi malaikat dalam hidupku”
Laila tersenyum kecil. Aku pun membalasnya. Detak jam terdengar sangat merdu.
“mat. Sudahlah. Jangan kau menangis seperti itu”
Lalu aku menghapus air mataku. Aku terlihat sangat lemah. Pertama kali aku menangis dihadapan wanita pujaanku itu. Hatiku sangat sakit. Lidahku tak dapat berkata. Kugenggam tanganku agar tangisanku tidak menjadi-jadi. Lalu aku hapuskan air mataku dan mengalihkan pandanganku dari wajah perempuan yang sakit itu.
“maaf” sebutku
Laila tak berbicara dia hanya melihat tingkahku yang aneh. Langkah kakiku sungguh aneh sekali-kali melangkah kelemari disamping mejaku, sekali-kali melangkah kemeja disamping kursi tua yang biasa aku duduk. Aku seperti orang gila aku melakukan itu untuk menyimpan air mataku agar tidak keluar saat memandang wanita yang cantik itu. Dan aku kembali ketempat dimana aku melihat perempuan sakit itu masuk keruangku. Aku manatap wajah wanita itu dalam. Sungguh kasihan gumamku.
“bagaimana tulisan kamu itu?” ucapnya
“tulisanku yang mana kau maksud?”
“itu, yang kamu ingin berikan padaku dan rani?”
“oh, yang itu. Sedikit lagi! Kenapa? Mau baca?”
“mau bangat. Aku sangat suka dengan tulisan kamu mat. Bahasanya sangat halus dan diksinya sangat sederhana. Ceritanya pun menarik seola-olah memang terjadi, berhasil masuk dalam perasaan. Kalau ceritanya sedih pasti menangis. Kalau antagonis pasti terbawa emosi”
“Kamu lebih suka tulisanku yang mana?”
“ehm,, itu loh mat yang cowoknya rela mati karena mempertahankan satu nyawa untuk bidadarinya. Kukira bidadarinya itu adalah pacarnya atau sahabatnya tapi ibunya. Itu aku suka bangat mat?”
“oh yang itu. Kisah Mika sang penghuni syurga?”
“iya. Aku suka bangat”
“tapi tulisanku yang terakhir ini tidak kalah hebatnya. Kalau kamu membacanya pasti kamu menangis”
“emang judulnya apa?”
“cahaya senja untuk laila”
Laila kaget. Dia heran karena dalam bukuku ada nama dia terselip dalam judulnya. Dia pun bertanya padaku dengan heran.
“cahaya senja untuk laila! Apakah laila dalam buku kamu itu adalah laila aku?” sebutnya tersipu malu
“menurut kamu?” tanyaku
Laila tersenyum malu. Dibibirnya terlihat senyuman yang sakit tampak dia menahan rasa sakit yang memaku padanya. Matanya yang berkabut terlihat menutupi cahaya pelangi yang indah darinya. Aku melihatnya tersenyum, sungguh rasa sedih kulihat perempuan dihadapanku ini mencoba untuk menghibur dirinya walau dalam keadaan sakit.
Sekali-kali aku mengalihkan pandanganku, kutak melihat perempuan didepanku aku takut mataku akan mengeluarkan air mata. Aku tak sanggup melihat senyumannya yang sakit itu.
“aku tidak tahu” sebutnya tersipu malu
“kalau begitu, besok saja dibaca. Kalau sudah dibaca pasti dapat jawabannya” sebutku
“ah, rahmat bikin aku penasaran saja”
“iya besok saja bacanya”
“sekarang saja. Mumpung aku ada disini”
“itu tidak adil namanya”
“tidak adil? Kenapa?”
“aku kan sudah janji sama rani mau ngasih buku ini. Kalau aku ngasih buku ini sama kamu duluan kan tidak adil namanya”
“ah, rahmat rani besok saja. Lagi pula dia tidak akan marah kalau aku yang bacanya duluan”
“hm, tidak. Tidak. Tidak adil namanya”
“ayolah rahmat. Aku takut nanti tidak sempat membacanya karena terlebih dahulu dipanggil sama Allah”
Aku tak meneruskan percakapan itu. perkataan laila seperti bom atom yang meledak ditelingaku. Aku terdiam membisu. Mataku melihat ke perempuan yang duduk manis itu. sungguh kata-katanya sangat menyakitkan hatiku. Aku kembali menggenggamkan tanganku menahan air mataku agar tidak meleleh dihadapan wanita ini.
“laila. Kamu ngomong apa? tidak baik berbicara seperti itu”
Laila melihatku dengan wajah menyesal. Sungguh dia tidak sadar akan ucapannya.
“maaf kan aku rahmat. Ya sudah kalau kamu tidak boleh aku membacanya tidak apa-apa. Aku tunggu saja kalau bukunya memang sudah selesai. Aku dan rani bisa membaca”
Aku menganggukkan kepala. Lidahku tekunci tak dapat menjawab perkataan laila. hatiku selalu berzikir pada Allah agar selalu melindungi dan panjangkan umur serta sehatkan perempuan yang sakit ini.
Sungguh wajahnya terlihat pucat pasih bagaikan cendawan dibasuh. Cahaya yang dulu bersinar cerah diwajahnya kini mulai memudar. Bola matanya yang bulat itu terlihat sedikit menutup.
“dimana amar? Biasanya jam segini dia ada disini” tanya wanita itu
Pertanyaan laila membangunkanku dari lamunanku. Suasana ruang pagi sangat terik. Matahari memancarkan cahaya sucinya hingga memabasahi baju.
“amar? Dia ada kelas. Sebentar lagi kesini. Mau menunggu amar?” tanyaku
“em, rasanya tidak perlu. Aku ada janji sama rani nanti jam 11. Kalau begitu aku pergi dulu”
“mau aku hantarkan?”
“tidak perlu. Aku bisa sendiri”
“iya sudah kalau begitu. Hati-hati dijalan”
“insyallah. Assalamu’alaikum?”
“wa’alaikumsalam”
Laila kembali tersenyum aku dapat melihat senyumannya yang sakit itu. Sungguh hatiku tidak dapat tertahnkan. Jantungku berdetak kencang seolah ingin keluar. Darahku mengalir kencang. Pagi itu hati dan perasaanku tak menentu hanya dihantui rasa takut pada perempuan yang tersenyum itu.
12
PESONA GADIS ASH-SHAHABAH
Masjid Ash-Shahabah memang begitu indah dipandang. Kubah yang besar menghiasi disetiap atap langit-langit masjid. Pepohonan tertata rapi menghiasi setiap sudut masjid. Siang itu aku dan amar berbincang-bincang didekat masjid ash-shahabah tepatnya dibawah pohon cemara yang berada sebelah timur dari fakultasku. Siang itu matahari tak terlihat mengeluarkan cahaya sucinya. Hanya sekali-kali terik. Siang itu awan-awan putih nan jernih menutupi sekujur badan bola api yang bersinar itu. Sungguh kuasa Allah tiada tara.
“subhanallah. Aku kagum dengan wanita-wanita itu” ucap amar membuka pembicaraan
“maksud kamu?”
“Berjilbab, menutupi seluruh tubuh. Tidak tahu panas dan hujan kain itu tetap menutupi kepala dan tubuh mereka” jelasnya
“bukankah itu yang diperintahkan oleh agama kita?” sebutku
“iya benar. Sungguh beruntung mereka yang menjalankan perintah Allah. Coba kau lihat kekasihmu itu” tunjuknya ketika mata amar menemukan sosok laila dan rani yang sedang berjalan menuju tempat wudhu untuk mensucikan hati dan pikirannya sebelum menghadap Allah ”perempuan yang shaleha insyAllah, calon isteri yang taat dan calon ibu yang beriman dan berpendidikan. Coba  kau lihat wanita satunya. Tidak beda dengan kekasihmu itu. Wanita yang shaleha dan penyayang. Apakah kau dapat melihat kecantikan wanita itu selain dari wajahnya?”
Mataku seketika melihat kearah laila. Aku tidak menyadari akan kedatangan laila. Amar sungguh jeli. Matanya dapat melihat laila walau ditutupi mahasiswa lainnya.
“tidak” jawabku singkat
Mataku tak melihat kearah amar. Pandanganku hanya terpaku pada laila dan rani yang sungguh cantiknya siang itu, amar memang benar. Sungguh laila dan rani terlihat anggun dan cantik, laila berjilbab biru muda dan rani berjilbab hijau tua sangat serasi dengan baju yang dipakainya sangat cantik dan menakjubkan.
“bagiku seorang wanita kecantikannya tidak dilihat dari wajah dan apa yang dia pakai, melainkan dari hati dan sebuah kain panjang yang menutupi kepala serta menjalar kebawah”
“iya, benar kamu mar”
“coba kamu lihat perempuan malaysia bercadar itu. Sungguh luar biasa pengorbanannya menegakkan perintah Allah untuk menutupi seluruh tubuhnya hanya terlihat mata dan telapak tangannya”
“tapi aku heran dengan mereka apakah mereka tidak merasa gerah dan kepanasan berpakaian seperti itu?”
“aku pernah bertanya demikian pada seorang perempuan malaysia yang berpakaian serupa dengan dia. Berjilbab panjang dan bercadar. Aku sangat terkejut dengan jawabanya sungguh dahsyat dan luar biasa. Dia mengatakan lebih baik aku kepanasan ketika didunia dari pada aku kepanasan diakhirat nanti karena aku membuka dan menunjukkan auratku kepada bukan mahramku”
“bagaimana dengan wanita yang tidak pakai jilbab, tetapi memiliki paras yang ayu dan  apakah dia termasuk wanita cantik dimatamu amar?”
“cantik itu relatf, dari segi mana seorang itu memandangnya. Bagiku secantik apa pun wanita itu bila dia tidak berjilbab dan tidak menutup aurat, wanita itu tidak termasuk dalam tipeku. Karena bagiku walau wanita yang sederhana tidak secantik wanita lain namun dia baik shaleh dan berjilbab, dialah wanita yang cantik bagiku”
“contohnya?”
“ibumu, rani, kekasihmu dan banyak lagi wanita cantik berjilbab”
“tapi terkadang aku merasa bersalah mar. Pantaskah aku memiliki laila? Dia adalah wanita yang baik. Sedangkan aku adalah laki-laki yang tidak sepadan dengannya. Masa laluku penuh dengan kegelapan, penuh dosa”
“jangan kau khawatirkan itu mat. Itu hanyalah masa lalumu. Cobalah kau menatap masa depanmu. Jangan kau terbebani dengan masa lalumu. Biarlah masa lalumu itu menjadi saksi perjalanan hidupmu yang terpenting kini kau fokus pada masa depanmu”
Langit siang itu dilukiskan warna biru jernih. Terik panas matahari menerpa hingga kebumi. Mahasiswi yang berbalut kain yang panjang itu sangat anggun dan cantik. Warna-warni menghiasi disetiap sudut ash-shabah. Takbir dalam setiap shalat terdengar dengan jelas dari tempat aku dan amar duduk. Dibawah pohon cemara disebelah utara perpustakaan tidak jauh dari masjid. Dibawah pohon cemara tempat paforit aku dan amar ketika terik matahari menebar cahayanya. Sejenak untuk menyejukkan hati dan pikiran. Entah mengapa ketika aku berada dibawah pohon cemara ini, hatiku merasa tenang bagaikan perasaanku ketika berada didekat laila kekasihku.
“apakah laila dan rani akan kesini?” tiba-tiba amar bertanya
“tidak tahu. Mungkin saja iya. Seperti biasanya”
“apakah kamu tidak menghubunginya?”
“tidak”
Mataku selalu memandang kearah gadis-gadis berjilbab yang sili berganti keluar dan masuk ke masjid kebanggaan mahasiswa sulthan thaha saifuddin itu. Pesona wanita itu sungguh dahsyat termasuk dua wanita yang baru keluar dari pintu utama masjid ash-shabah dan melangkah menuju kearah aku dan amar.
“assalamu’alaikum. Akhi amar wa akhi rahmat?”
“wa’alaikumsalam ukhti
“sudah shalat?” tanya rani
“alhamdulillah sudah” jawab amar
“mengapa memandang kami seperti itu rahmat tidak baik”
“ah, tidak. Siapa yang memandang kalian”
“eh, dari tadi aku lihat kalian memandang kearah aku dan laila. ayo ada apa?” guyon rani
“jangan kepedeaan kamu ran. Kita tidak memandang kalian kita lagi memandang rumput yang bergoyang itu” sambung amar datar
“mengapa?” tanya laila
“karena rumput itu sangat cantik. Seperti kalian” jawabku
Seketika amar melihatku. rani dan laila tersipu malu. Hembusan angin semakin kencang berhembus. Daun-daun yang berguguran menemani setiap percakapan kami.
“rahmat. Ayo jangan macam-macam kamu. jaga ucapanmu itu. Nanti kedua wanita itu tiba-tiba pingsan mendengar ucapanmu itu” ucap amar penuh tawa
Laila dan rani pun hanyut dalam kegelian. Aku pun begitu. Namun aku memandang senyuman laila sangat sakit. Ya Tuhan jagalah wanita dihadapanku ini. Jangan engkau biarkan dia merana dalam sakitnya. Sepoi angin berhembus dengan syahdu, kumenghirup udara segar yang bermain disetiap alam semesta. Terik matahari tak jua kunjung redup tampak semakin memancarkan cahayanya yang panas. Sungguh langit yang begitu jernih tampak seperti lukisan sangat indah.
“kalian tidak ada kelas siang ini?” tempalku seketika semua terdiam setelah gelak tawa kecil karena lelucon dari amar
“tidak. Kelasnya sudah habis?”
“habis. Dimakan siapa? Dimakan rani atau kamu laila?” sambung amar sembari membuat canda ditengah terik matahari
Laila dan rani pun tertawa kecil karena mendengar ucapan amar. Amar dan aku pun tertawa. Selera humor amar sangatlah tinggi, dialah kadang menghiburku disaat aku merasa gelisah. Dia juga pula memberi tawa dalam setiap tulisanku.
Kulihat laila kekasihku sekali-kali memegang kepalanya, kuheran sedari tadi setiap ingin tertawa ia harus memegang kepalanya sepertinya dia menahan sesuatu. Wajahnya yang pucat itu tergambar dengan jelas betapa sedihnya wanita cantik dihadapanku ini. Matanya yang bulat besar itu masih terlihat sinar ketegaran walau hampir habis. Bibirnya yang pucat tampak dengan jelas terlukis diwajahnya yang cantik itu.
“la, kamu tidak apa-apa?” tanya rani ketika melihat laila sedikit mengerang kesakitan
“tidak ran, aku tidak apa-apa” jawabnya tersenyum kecil
“serius kamu tidak apa-apa? aku lihat kamu selalu memegang kepalamu. Apa kepala kamu sakit?”
“tidak ran. Sungguh aku tidak apa-apa”
Aku melihat percakapan kedua wanita itu, amar hanya terdiam termenung memandang percakapan dua bidadari yang shaleh itu. Laila berbohong, aku dapat melihatnya itu dari raut matanya. sepertinya kepala laila menahan rasa sakit dari kepalanya namun dia mencoba untuk menutupinya. Hatiku semakin tidak enak, jantungku berdetak semakin hebat darahku mengalir semakin deras, ya Allah engkau kuatkan wanita itu.
Aku hanya diam, entah apa yang aku pikirkan tentang laila. antara sedih dan bangga. Sedih ketika aku melihat wajahnya yang tak berdaya. Dan bangga dengan semua perjuangan dirinya menutupi semua kelemahannya dengan berpura-pura berbahagia dalam sakitnya.
13
KEINDAHAN KOTA SEBERANG
Sore itu, langit begitu indah. Cahaya merahnya memancar disetiap pejuru negeri. Perpaduan antara awan dan cahaya merahnya sangat indah bak lukisan. Ramai santri-santri bermain-main dimasjid ada pula yang menghafal al-qur’an dipelantaran sungai ada pula yang bermain, berlari-lari, menyapu halaman dan melaksanakan kegiatan lainnya. Alunan sungai batanghari sangatlah indah terdengar. Hembusan angin menari-nari dikulit. Sore itu, aku, amar, rani dan laila berjalan-jalan menyusuri kota seberang menyaksikan keindahan kuasa ciptaan Allah. Sungguh indah betapa besar kuasanya. Hatiku tak hentinya berzikir menyebut nama Allah. Kulihat menara yang indah dan cantik yang berdiri ditengah-tengah sungai yang mengalir itu.
“menara apa itu mat?” tanya amar
Waktu SMP dulu kami sering menghabiskan waktu di kota seberang, melihat santri-santri yang sedang menghafal al-qur’an bermain bola bersama dan juga menggoda santri-santir perempuan. Saat dulu ketika aku, amar dan teman lainnya berkunjung ke kota seberang menara yang cantik itu belum dibangun wajar saja amar tidak tahu itu meanara apa. Setelah lulus SMP amar langsung hijrah ke jogja dan tak pulang-pulang.
“itu menara gentala arasy, mar. Ikon kota ini. Beberapa tahun yang lalu dibuat” jelasku
“subhanallah. Cantik mat. Apa fungsinya?”
“coba kau lihat jembatan yang tergantung melintasi sungai yang mengalir dibawahnya”
Amar pun melihat jembatan yang cantik itu. Memang ku lihat amar begitu terpesona dengan keindahan jembatan arasy yang terbentang sejauh mata memandang.
“jembtan itu berfungsi sebagai tranportasi warga bila hendak pergi ke kota atau sebaliknya. Sore-sore seperti sekarang jembatan ini ramai dikunjungi oleh pemuda-pemudi, santri-santri juga sering bermain kesana. Coba kau lihat, disana ada museumnya”
“museum? Ada apa disana?”
“nanti kita lihat  nikmati dulu cahaya matahari sorenya”
Amar sangat menikmati cahaya sore yang berwarna kuning keemasan yang terpancar dibalik awan-awan kecil. Sore ini kami sangat beruntung. Ramai orang-orang mengunjungi jembatan yang cantik ini. Ramai pula warga-warga yang mencari ikan dengan pukat dan jalanya. Ramai pula terlihat gadis-gadis desa dan perempuan-perempuan paru baya yang mencuci diatas jamban terapung ditepi sungai batanghari. Hatiku tak henti-hentinya bertasbih pada Allah Azzawajala dengan segala keajaiban dan ciptaannya yang maha dahsyat. Ombak yang bergulung kecil terdengar dengan syahdu ditelingaku, tampak ikan-ikan bermain tak jauh dari buih-buih ombak yang terhempas mengenai kayu-kayu jamban yang terapung itu. Sore itu laila amatlah cantik. Dia bagaikan sinar matahari yang bersembunyi dibalik awan-awan yang putih itu, berpakai baju hijau tua sangat serasi dengan jilbabnya.
“subhanallah, cantik ya mat kota ini?” sebut laila disela lamunanku karena aku terpesona oleh kecantikan kekasihku itu.
“ah, iya sangat cantik. Tak henti-hentinya Allah memperlihatkan keindahan ciptaannya. Langit dan matahari, sore ini sangat serasi. Sinarnya memancar diseluruh pelosok negeri. Ombak bermain dengan indahnya menunjukkan kejantanan sungai batanghari”
“iya, aku sangat suka dengan cahaya senja ini. Warnanya cantik tidak terasa panas dikulit”
“apakah kau mau cahaya senja itu menjadi milikmu seorang?” sebutku
Laila melihatku, dia tersenyum sepertinya dia tidak mengerti maksud perkataanku.
“maksud kamu?” tanyanya
“iya, apakah kau mau cahaya senja yang cantik itu?”
“apakah bisa kau mengambilnya dan memberikan padaku?”
“bisa”
“caranya?”
“suatu saat akan kutunjukkan. Dan cahaya senja itu akan menjadi milikmu. Laila”
Mendengar itu laila tersenyum kecil. Wajahnya tak melihat kearahku. Dia hanya asik melihat pemandangan langkah yang Allah telah memperlihatkannya padaku dan laila. Hiruk pikuk pemuda-pemudi terdengar riuh pecah ditelingaku. Ramai orang-orang mengabadikan cahaya senja sore ini. Aku dan laila pun tidak ketinggalan dengan latar belakang cahaya emas itu aku dan laila asik berfoto sebagai kenangan indah sore ini.
“rahmat, laila. Ayo pulang” teriak rani dari kejauhan
Mendengar itu aku dan laila pun melangkah menuju kearah rani dan amar. Sebelum mengakhiri perjalan sore ini aku sudah janji dengan amar akan menunjukkan sesuatu yang dahsyat didalam museum menara yang cantik itu. Museum itu sangat cantik, banyak sejarah-sejarah yang tersimpan dalam museum kecil yang menjadi pusat wisata. Ruangannya tidak terlalu besar, namun seisi ruangan terpajang foto-foto sejarah yang amat menakjubkan.
“mat, Al-Qur’an” sebut amar ketika melihat Al-Qur’an tua disudut ruang
“iya, itu Al-Qur’an tua. Ditulis tangan oleh ulama seberang. Kalian tahu Al-Qur’an yang ada diperpustakaan kita?” semua mengangguk “tidak bedanya dengan Al-Qur’an ini. Yang ini ditulis oleh KH. Husein Azhari adik kandung dari KH. Qadir Husein. KH. Qadir Husein yang menulis Al-Qur’an yang diperpustakaan. Jasa beliau sangat dihormati oleh masyarakat seberang. Beliau sangat cinta dengan islam sehingga banyak pesantren-pesantren yang didirikannya. Pondok Pesantern As’ad juga beliau yang mendirikannya. Dulu As’ad hanya mengajarkan tentang kitab-kitab tanpa ada mata pelajaran umum. Tapi melihat perkembangan zaman As’ad berubah menjadi modern dan terkenal”
Amar, rani dan laila termenung mendengar penjelasannku. Keindahan Al-Qur’an telah menghipnotis ketiga sahabatku. Tidak hanya itu keindahan menara yang berdiri kokoh tepat berada diatas kepala kami tampak anggun dan megah bila dilihat museumnya. Cahaya senja tak juga reda, kaki kami pun melangkah jauh meninggalkan menara cantik itu. Masih banyak tempat sejarah yang harus kami kunjungi. Dikota seberang. Keindahan menara gentala arasy akan selalu kami kenang, cahaya senja itu akan selalu kami ingat dengan keindahannya. Dan janjiku pada laila, akan memberinya cahaya senja itu untuknya.
Sebelum pulang kami mengunjungi satu pesantren modern dikota seberang yang sangat terkenal. Aku teringat dengan sahabat lamaku, Imam. Imam adalah pengasuh pondok pesantren As’ad. Pesantren yang modern dan bangunannya yang indah dengan ukiran kaligrafi disetiap atap gedungnya. Berdiri pula dengan kokoh masjid agung besar tepat disamping asrama putri. Kedisiplinan sangat dijunjung di Pondok pesantren ini, disiplin waktu, kebersihan dan lainnya. Memang tidak salah As’ad terpilih menjadi pondok pesantren terbaik. Sejauh mata memandang tidak terlihat satu pun sampah yang mengotori halaman.
“rahmat”
Seorang pemuda memanggilku dari kejauhan. Aku melihatnya, ternyata itu Imam sahabatku. Aku berlari mendekatinya. Dia pun begitu. Amar dan kedua perempuan itu menyusul berjalan dibelakangku.
“nah, benarkan kamu?” sebutnya
“assalamu’alaikum, mam?”
“wa’alaikumsalam”
Kami pun saling bersalam. Genggaman tangannya begitu halus dan lembut. Genggaman tangan orang-orang shaleh.
“apa kabar kamu mat?”
“alhamdulillah baik. Kamu apa kabar?”
“alhamdulillah baik juga, dari mana?”
“tidak dari mana-mana hanya lihat-lihat keindahan kota seberang. Oh iya, kenalkan ini amar” mereka pun saling berjabat tangan “ini rani dan ini laila” sebutku
“oh, ini toh laila yang kau ceritakan itu” sebut imam sedikit berbisik
Aku tersenyum malu sambil memandang laila yang berdiri dibelakangku. Aku pernah menceritakan sosok laila padanya. Aku sangat mengagumi sosok perempuan berkerudung biru yang berdiri dibelakangku.
“mau kemana kita?” tanyaku pada imam
“mari kita ketaman saja. Biasanya sore ini banyak santri-santri latihan ekstrakurikuler. Mana tahu bisa jadi referensi buat menulis”
Kami pun melangkah mengikuti langkah kaki imam menuju taman yang diceritakannya itu. Hatiku tak hentinya bertasbih memuja keagungan sang Maha Kuasa melihat keindahan gedung-gedung yang mencakar langit menghiasi setiap sudut As’ad. Sinar matahari tampak bermain diatas atap-atap ruang belajar santri, asrama santri terlihat indah karena terkena pancaran sinar matahari sore.
“lihatlah, begitulah aktivitas sehari-hari santri disini”
“itu ekstrakurikuler apa?” tunjuk rani pada sekumpulan santri yang berada didekat gedung kepala
“itu seloko melayu. Salah satu kebudayaan negeri melayu. Tidak hanya silat, pidato bahasa arab tapi semua ekstrakurikuler ada disini mulai dari yang tradisional sampai modern”
“bagus. Tempatnya saya suka. Bersih dan disiplin” sambung amar
“iya, itulah yang kepala terapkan pada guru dan santri-santri”
Aku, amar, rani dan laila sangat sekumpulan santri-santri yang sedang menjalankan aktivitas ekstrakurikulernya. Mentari sore mulai menghilang namun awan putih masih menyelimuti langit dibagian barat. Keindahan gentalan arasy sangat nampak dari kejauhan. Keindahan yang tiada tara.
“abang rahmat?”
Kumendengar seorang berteriak memanggil namaku dari kejauhan. Sontak aku dan semua orang melihat kearah suara itu. Kulihat dari kejauhan seorang pemuda melambaikan tangannya padaku. Aku tersenyum dia pun membalasnya. Bila dilihat pemuda itu tidak terlalu tinggi kira-kira seperti bumi adikku tapi bumi memiliki tubuh yang sedikit berisi. Lalu pemuda itu berlari mendekatiku. Senyum di bibirnya tampak dengan jelas dimataku senyum bahagia karena telah lama tidak berjumpa.
“abang. Apa kabar?” sebutnya
Aku pun menyalimi pemuda dihadapanku. Pemuda yang menyalamiku itu Hanif wafiy biasa kupanggil afi. Aku bertemu dengannya beberapa bulan yang lalu. Dia yang menemaniku mengelilingi kota seberang saat aku mencari referensi untuk menulis. Dia anak asli kota seberang, masih keluarga dekat dengan langit sahabat SMA aku dulu. Dia sangat berbeda dengan langit afi anak yang baik, pintar dan berbudiman tidak jauh  berbeda dengan bumi adikku. Aku sangat menyukai sosok afi yang sangat ramah dengan semua orang.
“baik. Afi apa kabar?” sebutku
“alhamdulillah baik bang? Sudah lama afi tidak jumpa abang”
Aku tersenyum kecil “iya, sudah lama kita tidak berjumpa kenalkan ini teman-teman abang. Ini abang amar, kak rani dan kak laila. Dan ini hanif wafiy biasa aku panggil dia afi” dengan sangat ramah afi menyalami satu persatu sahabatku
“kau kenal dengannya mat?” tanya imam heran
“iya. Aku sangat mengenalinya. Waktu itu dia yang menemani aku mengelilingi kota seberang sekedar untuk survei untuk referensi”
“bagaimana tulisan abang, sudah selesai?” tanya afi
“alhamdulillah sedikit lagi. Afi tidak ikut teman-teman latihan?”
“ekstrakurikuler afi dibidang akademik bang. Dibagian kebumian. Afi tidak tertarik seperti itu”
“eh, jangan salah kamu afi silat itu sangat berguna dalam hidup kamu”
“eh, afi tidak bilang silat itu tidak berguna loh bang imam, bang imam sendiri bilang seperti itu”
Kami semua tertawa melihat percakapan kedua pemuda penghuni pesantren itu. Imam sangat baik pada semua santri dia seperti abang bagi santri-santri lainnya. Dia sangat dekat dengan semua santri termasuk afi. Dia pernah berkata padaku kalau imam adalah sosok abang yang dipanuti setiap santri disini kebijaksanaan imam sangatlah menarik perhatian setiap santri.
“afi ini salah satu santri terbaik yang dimiliki as’ad. Minggu lalu baru pulang dari jogja ikut lomba olimpiade kebumian dan mendapat emas”
“ah, bang imam berlebihan. Tidak kok bang itu Cuma kebetulan saja”
“eh, bang imam tidak bohong loh”
“iya, jangan kasih tahu bang rahmat afi jadi malu” bisik afi pada imam
Kami pun tertawa melihat tingkah kedua pemuda itu benar kata afi imam sangatlah baik pada semua santri dapat kulihat bagaimana imam memperlakukan afi seperti adiknya sendiri.
“bang rahmat. Bang langit titip salam dengan abang. Katanya kalau bertemu sama abang rahmat bang langit titip salam rindu katanya”
Mataku sejenak termenung. Langit? Benarkah yang dia katakan? Sebutku dalam hati.
“wa’alaikumsalam. Sampaikan pada bang langit abang juga titip salam rindu dan bangga padanya”
“insyallah. Iya sudah kalau begitu, afi kekelas dulu yang bang. Nanti guru afi marah kalau lama-lama keluar kelas. Jangan bosan main kesini yang bang. Afi tunggu janji abang kalau sudah selesai bukunya afi mau baca”
“insyallah iya sudah, belajar dengan baik ya?”
“insyallah. Assalamu’alaikum” “wa’alaikumsalam”
Afi semakin jauh menghilang dihadapanku. Sore yang sangat berkah. Begitu banyak rahasia Allah yang ditunjukkan hari ini. Menikmati keindahan cahaya sore yang indah, bertemu sahabat lama imam dan baru saja bercangkraman dengan sahabat dan telah aku anggap seperti adikku sendiri hanif wafiy. Pemuda yang baik seperti bumi.
“aku sangat tertarik dengan anak itu” ucap imam membuka percakapan
“siapa? Afi maksud kamu?” tanyaku
“iya afi. Pertama kali aku melihatnya aku sudah tahu dia anak yang baik dan pintar”
“dia sering memenangkan lomba”
“selalu mat. Setiap kali dia ikut lomba pulangnya pasti dapat juara. Dari sekian banyak santri aku sangat dekat dengannya. Dia sering kali bercerita denganku. Dia sangat kritis, sedikit saja salah ucap langsung dikritiknya. Kepala sekolah yang ngundurin diri dari pesantren karena ulah dia dan teman-temannya”
“oh, ya! kenapa?”
“awalnya mereka menduga kalau kepala sekolah memakai uang SPP santri untuk kepentingan pribadi. Dia sudah janji pada santri ingin membuat lapangan serbaguna. Tapi tidak juga ditepati, katanya uang SPP itu sudah habis dibeliin alat sekolah lainnya. Mereka menyelidiki kepala sekolah itu tapi dugaan mereka benar selama ini benar kepala sekolah memakai uang itu untuk keperluan pribadi dan langsung mengundurkan diri”
“sampai segitunya”
“iya. Oh ya, tadi aku dengar kau menyebutkan nama langit. Apakah kau mengenalinya?”
“iya aku kenal dengannya. Kenapa?”
“tidak apa-apa. Afi sering kali cerita denganku tentang langit. Katanya langit itu laki-laki yang hebat. Katanya dia ingin mengalahi medali langit itulah yang membuat afi termotivasi menjadi yang terbaik”
“iya, benar. Langit itu laki-laki yang hebat. Kita dulu satu sekolah. Dia siswa yang penuh dengan prestasi. Menjadi idola semua para wanita. Tapi dia berbeda dengan afi. Afi anak yang baik. Sedangkan dulu langit adalah laki-laki yang sombong dan angkuh segala cara dilakukan untuk mendapatkan yang dia inginkan”
Ceritaku menutup pertemuan kami dangan imam pemuda yang baik itu. mentari sore mulai memudar awan hitan mulai tampak menutupi segenap cahaya yang indah itu as’ad tampak kokoh berdiri menyaksikan kepergian kami.
14
TAMU TAK DIUNDANG
Pagi itu kampus Sulthan Thaha Saifuddin di hiasi dengan ribuan buku-buku yang tertata rapi disetiap sudut kampus. Mentari pagi yang merkah di ufuk timur memancarkan keindahannya. Warna kuning keemasan menemani setiap langkah kami untuk menuju ke stand pameran. Hari ini Sulthan Thaha Saifuddin dipenuhi oleh stand-stand pameran buku dan foto-foto yang sangat menakjubkan. Seluruh mahasiswa dinegeri ini berkumpul di kampusku untuk memperlihatkan hasil karyanya. Tak terkecuali denganku, aku juga ikut perpartisipasi dalam acara pameran tersebut. Buku-bukuku tersusun rapi di stand dari kampusku.
“subhanallah. Ramai sekali ya mat pesertanya” timpal amar seketika melihat-lihat suasana yang begitu indahnya.
“apa tidak ramai. Seluruh mahasiswa se-Indonesia berkumpul di sini”
“berapa hari acaranya mat?” tanya laila
“satu minggu. Menteri pendidikan dan menteri agama akan hadir diacara penutupan besok”
“wah, bagus itu. Ini bisa mengangkat nama baik kampus kita” tempal rani
Suasa ramai terlihat sili berganti. Pameran-pameran yang terbesar diadakan di kampusku. Subhanallah ucapku dalam hati. Mentari pagi yang hangat cahayanya bermain hebat di kepalaku hingga terasa panas. Dari sekian banyak pameran yang ada, mataku tertatik pada kumpulan-kumpulan lukisan yang menakjubkan. Ayat-ayat Allah dengan indahnya tertulis diatas kertas berwarna putih.
“mat mau kemana?” tanya amar
Aku tidak menjawab. Aku hanya tersenyum dan menunjukkan ke arah stand lukisan itu. Jarak kami sedikit jauh. Hingga amar sedikit berteriak bila ingin berbicara padaku. Sahabatku melihat-lihat ke stand buku-buku sastra dari mahasiswa Aceh. Aku melangkah menuju stand lukisan dari mahasiswa ISI Padang.
ISI Padang. Itu kan kampus langit gumamku dalam hati. Kudengar langit kuliah di Institut Seni Indonesia Padang. Sungguh lukisan itu menghipnotis mataku.
“subhanallah. Cantik sekali lukisan ini mat?” timpal amar seketika berdiri disampingku
Mendengar itu aku pun melihat kearah amar dan kedua perempuan yang cantik itu.
“iya, cantik lukisannya. Mahasiswa dari mana mat?” tanya rani
“entahlah, tapi disini ditulis dari ISI Padang”
“ISI Padang?” sambung laila
Senyum dibibirnya menghilang ketika aku menyebutkan ISI Padang. Kumelihat laila. Kutahu perasaan laila. Mungkin saja lukisan itu karya langit. Mungkin begitulah gerangan kata hati gadis pujaanku itu. Aku tersenyum melihat raut wajah laila yang seketika berubah.
“emangnya mengapa kalau dari ISI Padang, la?” tanya rani pada laila
“e..e.. tidak apa-apa” ucap rani patah
“ngak apa-apa. Teman SMA kita dulu juga ada yang kuliah di ISI Padang. Dia juga hebat dalam melukis dan fotografer. Tapi saya rasa tidak mungkin lukisan ini punya dia”
“kemana penjaganya ya?” sebut rani
“entahlah, dari tadi juga tidak ada penjaganya” ucapku
Lukisan itu sungguh luar biasa. Tulisannya yang menakjubkan membuat mata kami terpana. Mentari pagi semakin meninggi, cahayanya mulai menghangatkan kulit. Kumencari-cari penjaga stand dari ISI Padang, namun tak juga terlihat. Sekali-kali rani memanggil penjaganya tapi tak juga datang. Kami pun mulai lelah, keringat telah bermunculan, sedikit membasahi bajuku. Aku sungguh bersemangat melihat-lihat lukisannya. Sungguh luar biasa. Gumamku. Beberapa menit kami menunggu, tiba-tiba terdengar suara laki-laki dari belakang kami.
“maaf mbak, mas. Ada yang saya bantu” ucapnya
Betapa terkejutnya aku melihat laki-laki yang berbaju kemeja kotak-kotak merah dihadapanku. Kulihat wajahnya dengan jelas. Kulihat matanya yang besar bersih itu. Laki-laki itu langit sahabat SMA ku dulu. Laila pun terkejut dengan kedatangan langit dihadapan kami. Terkenang sudah dikepalaku peristiwa dulu. Betapa kejamnya laki-laki dihadapanku ini memukul dan manghabisiku hingga aku masuk kerumah sakit. Langit tidak banyak perubahan. Tubuhnya yang tinggi tegap dan putih masih menarik perhatian para wanita. Aku tersenyum. Lalu langit membalasnya.
Langit pun tidak menyangka berjumpa denganku. Wajahnya terlihat kaget saat menatap mataku.
“langit?” ucapku
“rahmat?” balasnya
“ini lukisan kamu?”
“iya begitu la” lalu “kamu apa kabar?”
Kulihat dia mengulurkan tangannya. Dan aku pun mencoba untuk meraihnya dan akhirnya dapat aku meraihnya. Kami pun bersalaman. Hatiku merasa tidak enak. Hatiku tidak dapat kulukiskan. Entahlah, aku tidak mengerti dengan perasaan hatiku yang tidak dapat kujelaskan dengan kata-kata. Berat rasanya aku mengulurkan tanganku untuk berjabatan tangan dengan langit. Tapi, aku tidak berhak melakukan itu, aku tidak berhak untuk bersikap sombong pada semua orang apalagi untuk berjabat tangan dengan langit.
“alhamdulillah baik langit. Kamu apa kabar?”
“baik juga. Kamu kuliah disini?”
“iya”
“ambil jurusan apa?”
“sastra”
“sastra. Bagus. Kamu kan dari dulu ada bakat dalam sastra terutama merangkai kata menjadi sebuah puisi”
Langit tersenyum kecil. Aku pun begitu. Aku tidak tahu maksud langit berbicara demikian. Apakah dia menyindirku karena puisi cintaku semasa SMA dulu. Atau mungkin dia ada maksud lain. Entahlah. Kulihat langit sangat hangat padaku. Tidak tampak keangkuhan dan sombong dalam dirinya.
“itu langit sahabat rahmat waktu SMA dulu ya la?” tanya rani berbisik
“iya”
“jadi itu orang yang suka sama kamu dulu”
“hus, jangan gosip”
Kudengar rani dan laila bercakap kecil membahas tentang laki-laki dihadapanku ini. Sementara itu, amar melihatnya dengan dingin. Dia hanya menyaksikan pertemuanku dengan langit dengan ditemani oleh cahaya indah matahari yang panas.
“oh iya, kenalkan. Ini amar sahabatku. Ini rani dan kalau yang ini pasti kamu tidak lupa kan?” sebutku
Amar pun berjabat tangan dengan langit. Sementara itu, laila melihatnya dengan tidak enak. Hatinya semakin hebat bermain, perasaannya tidak menentu.
“saya langit sahabat rahmat waktu SMA dulu, senang berkenalan dengan kalian” lalu kemudian “nah, kalau perempuan yang satu ini tidak pernah aku lupakan. Gadis tercantik sejagat raya. Laila Purnama Sari” ucapnya
Laila tersenyum kecil mendengar ucapan langit. Amar melirik kearahku. Rani melihat langit dengan wajah yang tidak enak. Mendengar itu, hatiku sedikit bermain. Aku tersenyum kecut. Perasaanku bermain dengan sendirinya. Rasa cemburu Sedikit terbesit dalam hatiku mendengar ucapan langit pada kekasih pujaanku.
“aku dengar dari afi kamu kuliah di ISI Padang ya?”
“afi? Kamu kenal denganya?”
“iya aku kenal baik dengannya. Dia banyak cerita tentang kamu dan karyamu”
“dia cerita apa saja tentangku? Pasti cerita yang jelek-jelek ya?”
“tidak, tidak. Dia banyak memuji kamu. Dia bilang kalau kamu dikampus menjadi idola setiap mahasiswi. Lukisan kamu juga sering ikut pameran internasional. Kalau tidak salah afi bilang terakhir kamu ikut pameran di polandia kan?”
“ah, si afi berlebihan. Iya aku kuliah di ISI. Dan lihatlah, ini hasil karyaku” sebutnya
Sikapnya yang besar hati masih tampak dari diri langit. Ia selalu suka membanggakan dirinya dan karyanya. Tidak bedanya waktu SMA dahulu ketika ia mendapatkan medali perak tingkat nasional dari karya fotografinya.
“subhanallah. Bagus sekali lukisan-lukisan kamu lang”
“ah, biasa saja. Aku lihat, penampilan kamu sedikit berbeda dari penampilan kamu SMA dulu”
“ah, biasa saja lang” jawabku
“iya, serius. Seperti pak ustadz” ucapnya tertawa kecil
Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku tidak tahu dengan perasaan hatiku. Entah senang atau tidak dengan kehadiran langit. Kehadiran langit begitu menyesakkan hatiku. Setiap kali aku menatap wajahnya setiap kali itu pula aku terkenang pada peristiwa beberapa tahun yang lalu. Sementara itu laila hanya berdiam diri dengan menatap pergaulanku dengan langit. Wajahnya tidak melihatku ataupun langit dia asik menundukkan kepalanya. Entah apa yang dilihatnya.
“laila. Apa kabar kamu?” tanya langit melihat perempuan yang berdiri di belakangku
Mendengar itu seketika laila melihat kearah langit. Sejenak dia diam, dilihatnya mata langit yang bersih, mata yang pernah mengisi hari-hari laila waktu SMA dulu. Mata yang pernah membuatnya terluka.
“aku baik. Alhamdulillah” ucapnya
“kamu sakit ya la? Wajah kamu pucat?” tanyanya kembali
Aku melihat laila. Benar wajahnya laila sedikit pucat. Mungkin laila letih karena sedari tadi memutar stand-stand mahasiswa.
“kamu sakit?” tanya rani
“ah, tidak aku tidak sakit. Aku sehat” jawabnya
Mendengar itu, langit tersenyum. Aku pun begitu. Tapi senyumku bukanlah senyum bahagia. Namun senyum kekhawatiran pada gadis pujaanku. Aku tahu dia menutupi rasa sakit itu dari kami. Sungguh dialah wanita yang luar biasa.
“berapa lama kamu disini?” tanyaku
“satu minggu”
“lama juga. Tidak ada rencana untuk berkunjung kerumah keluarga kamu di seberang?”
“entahlah, aku juga tidak tahu. Acara disini sangat padat. Tapi aku usahakan untuk berkunjung kerumah keluargaku” beberapa saat langit terdiam, lalu kemudian “lain kali bolehkan aku berkunjung kerumah kamu mat? Sudah lama aku tidak kerumah kamu?”
Permintaan langit sangat sulit untuk aku jawab. Sesaat aku terdiam. Bukannya aku tidak mengizinkan langit untuk berkunjung kerumahku. Tapi, ah entahlah. Masalahnya ada di bumi adikku. Aku tidak tahu bumi mengizinkan atau tidak langit untuk menginjak rumahku. Karena sejak peristiwa beberapa tahun lalu membuat bumi tidak menyukai laki-laki dihadapanku ini.
Hatiku benar-benar bimbang. Aku melihat laila. Matanya yang bercahaya itu sedikit redup, alisnya sedikit mengangkat. Matanya yang indah itu menatapku dengan kekhawatiran. Aku tahu isi mata laila. Dia berusaha untuk mengatakan tidak pada permintaan langit. Beberapa menit langit menunggu jawaban. Dan akhirnya aku berbicara
“boleh, lang. Boleh sangat. Silahkan saja kamu kerumah aku. Kapan pun kamu mau kerumah aku, pintu rumahku selalu untuk siapa pun”
Mendengar itu langit tersenyum. Laila kembali menundukkan kepalanya. Mungkin dia kecewa mendengarkan jawabanku. Amar dan rani hanya terdiam mendengarkan semua pergaulanku dengan langit.
Entahlah, aku tidak tahu harus berkata apa. Perasaanku tidak menentu. Mengapa aku dengan mudahnya mengatakan itu. Aku tidak tahu dengan reaksi adikku bumi bila mendengar jawabanku. Mungkin jika dia berada diposisiku, dia akan mengatakan tidak pada permintaan langti. Tapi apa dayanya aku. Aku hanya manusia biasa. Manusia lemah tanpa kekuatan kecuali dari Allah.
Kumelirik laila, wajahnya pucat pasih. Sekali-kali dia memijat kepalanya. Sekali-kali ia memejamkan matanya. Lalu laila melihatku. Dia tersenyum. Akupun membalasnya. Syukurlah dia baik-baik saja gumamku dalam hati. Mentari pagi yang meninggi mulai bersinar cerah. Teriknya sangat terasa dikulit, sungguh begitu menyesakkan dada. Ditengah perbincangan kami, tiba-tiba laila jatuh pingsan ketanah. Sontak membuat aku terkejut. Kulihat wajah laila yang pucat pasih itu, hatiku cemas dan tak hentinya berdo’a pada Allah. Tampak dengan jelas darah mengalir dari hidung laila membuat aku semakin cemas. Rani tak karuan, hatinya gelisah berkali-kali ia memanggil nama laila.
“laila..laila” ucapnya
“laila. Ya Allah” sebutku
Kecemasanku rani, amar dan Langit bertambah menjadi-jadi ketika aku melihat laila tiba-tiba kejang dan tubuhnya kaku. Rani menangis, berteriak memanggil nama laila. Mendengar teriakan rani, sontak membuat mahasiswa yang hadir bertanya-tanya dan mendekat.
“bawa kerumah sakit saja mat?” ucap langit
Tanpa pikir panjang aku mengakat laila dan membawanya ke rumah sakit. Sungguh hatiku gundah. Rasa khawatir bersarang dalam hati kecilku. Wajah laila yang pucat begitu tampak dengan jelas. Darah tak hentinya mengalir dari hidung. Dengan cemas dan khawatir pula rani menghapus darah yang mengalir dibalik hidung perempuan yang pingsan itu.
Kecemasan masih terbalut dalam hatiku. Amar mencoba mengelus punggungku untuk menenangkanku. Rani hanya bisa terduduk menangis dikursi tunggu. Dadaku terasa panas. Darahku mengalir dengan kencang jantungku berdetak tak menentu. Dalam hati aku tak hentinya bertasbih dan berdo’a pada Allah semoga senantiasa menjaga dan melindungi laila purnama sari.
***
Malam yang kelam, tak terlihat bintang yang bersinar. Cahaya bulan terpancar hingga ke pelosok negeri. Hawa dingin terasa menusuk kulit suara binatang-binatang kecil terdengar merdu ditelingaku. Didalam kamar, aku duduk dimuka jendela. Meratap dan merenungkan nasib kekasihku yang terbaring dirumah sakit. Sungguh kesihan. Sementara itu, bumi hanya menyaksikan kebisuanku menatap cakrawala yang tak bersahabat dengan hatiku. Sesak dalam dada begitu sulit untukku mencoba menerima segala cobaan hidup.
“bang..bang” ucap bumi memanggilku
Seketika aku melihat kearah bumi adikku yang duduk tepat dibelakangku.
“iya”
“abang tidak apa-apa?” tanyanya
“abang baik-baik saja”
“abang menangis?”
“tidak”
“mata abang merah berair”
Mendengar itu aku hapus air mata yang keluar dibalik kelopak mataku.
“tu kan, abang nangis. Katanya preman, masa preman nangis” ucap bumi tertawa kecil
Bumi mencoba menghiburku, berharap aku tertawa. Namun guyonan bumi tidak membuat perasaanku menjadi baik. Pikiranku hanya ada laila. Beberapa saat bumi dan aku bercengkraman, tiba-tiba pintu rumahku diketuk oleh seorang. Seketika bumi menarikku keluar kamar dan segera membuka pintu. Langkahku tak berarti, langkah kecilku menyusuri setiap ubin rumah. Bumi semakin mendekati pintu dan membukanya. Ketika bumi membuka pintu tiba-tiba terlihat seorang laki-laki berdiri membelakangi pintu. 
“iya, cari siapa mas?” ucap bumi pada laki-laki itu
Dan laki-laki itu pun membalikkan tubuhnya menghadap bumi. Seketika bumi kaget melihat laki-laki yang berdiri dihadapannya. Laki-laki itu langit. Laki-laki yang pernah memukulku didepan bumi adikku dan kini dia kembali hadir.
Aku melihat langit dengan hati tidak enak. Bumi melihatku. Aku tahu perasaan bumi. Mungkin dia ingin marah padaku atau dia ingin memukul laki-laki dihadapannya itu.
“hai, kamu bumi kan?” tanya langit
Bumi tak menjawabnya dia hanya menganggukkan kepalanya.
“rahmatnya ada?”
Sesaat bumi termenung. Tiba-tiba aku datang menghampiri bumi dan langit.
“langit?” ucapku
“eh rahmat”
“silakan masuk”
Bumi kembali melirikku. Entah apa yang ada dipikiran adikku. Mungkin perasaan takut. Atau perasaan lain. Langit melangkah masuk ke dalam, bumi melihatnya dengan benci. Tak sedikit pun senyum terlihat dibalik bibir bumi.
“duduk lang” ajakku pada langit
Dengan segera langit mengikuti instruksiku.
“papa sama mama kamu mana?”
“papa sama mama lagi ke palembang ada keluarga adik sepupu mama aku menikah”
“jadi kamu sama bumi saja tinggal dirumah?”
“iya, begitulah. Mau minum apa lang?”
“terserah. Apa saja lah mat”
“Tunggu sebentar. Aku mau kebelakang dulu”
Langit melihat-lihat isi ruangan, memang tidak sama seperti dulu ia kerumahku. Satu tahun yang lalu mama mendekorasi ruangan tamu. Sementara itu aku langsung pergi ke dapur untuk menjamu langit dan bumi mengikuti aku dari belakang. Kudengar langkah bumi semakin cepat melangkah mendekatiku. Aku tahu apa yang akan dikatakan oleh adikku.
“abang, tunggu bumi”
“ada apa?”
“ada apa abang tanya. Kenapa dia kesini?”
“dia siapa?”
“abang jangan pura-pura tidak tahu”
“langit mau silaturahmi kerumah kita. Tidak salahkan?”
“dengan semua apa yang dia lakukan ke abang dulu?”
“sudahlah bumi, itu masalah lalu”
“masalah lalu, masalah sekarang bagi bumi sama saja. Dia yang sudah menghabisi dan buat abang masuk kerumah sakit. Dia yang sudah membuat abang lupa dengan keluarga. Terjerumus kelobang hitam”
“bumi. Sudahlah, abang tidak suka bumi ungkit-ungkit masa lalu abang. Abang tahu, kita adalah manusia biasa tidak lepas dari hilaf dan kesalahan. Tapi kita belajar dari kesalahan yang kita buat. Tolong bumi, pahamkan abang”
Perdebatan aku dan bumi pun tidak terhindarkan. Aku tidak begitu menanggapi perkataan bumi. Akut takut dia akan menjauhiku lagi apabila aku terlalu menekannya.
“abang sudah janji kan tidak dekat dengan dia lagi?”
Aku mencoba mengertikan keinginan bumi. Dengan pelan-pelan aku menjelaskan pertemuan aku dan langit.
“bumi. Dengarkan abang. Abang tidak sengaja bertemu langit. Dia ikut acara pameran di kampus abang. Dia mewakili kampusnya dalam pameran itu. Dia mau main kerumah. Tidak mungkinkan abang menolaknya”
“bilang saja kalau abang lagi sibuk. Tidak ada waktu melayani dia”
“bumi. Tidak mungkin abang bilang gitu. Apa salahnya dia berkunjung kerumah kita!”
“bumi tidak suka dia bang. Abang tahu itu kan?”
“iya, mau gimana lagi dia sudah ada disini. Tidak mungkinkan abang mau ngusir dia”
“tapi bang?”
“sudah. Lebih baik kamu bikin minuman untuk langit. Dia pasti kehausan”
“ogah, kalau bumi yang bikin minuman untuk dia. Bumi masukin racun biar dia cepat mati”
“bumi. Tidak baik begitu, bagaimana pun langit itu tamu kita”
“kita? Tamu abang bukan tamu bumi. Sudahlah bang, susah kalau ngomong sama orang keras kepala kaya abang. Kalau terjadi sesuatu dengan abang nanti tanggung saja sendiri”
“bumi. Bumi”
Bumi melarikan diri dari hadapanku. Aku bebenar-benar dalam keadaan bimbang. Satu sisi aku mendapatkan tamu yang tak diundang langit. Sisi lain, bumi adikku tidak ingin berbicara padaku. Sungguh hatiku bimbang.
Seaat aku tepikan egoku pada bumi, dengan ramah aku melayani langit. Dia begitu halus berbicara tidak seperti dahulu. Sesaat aku menatap wajahnya, teringat sudah dikepalaku wajah bumi beberapa tahun yang lalu saat dia memukulku. Wajahnya merah, matanya membesar.
“aku mau tanya sama kamu mat?” tanya langit membuka pembicaraan
“tanya apa lang?”
“sebenarnya laila sakit apa?”
Sesaat aku diam. Pertanyaan itu membuatku kaku. Langit membuat hatiku semakin sakit. Kembali kulihat wajahnya yang penuh penasaran, beberapa menit langit menunggu jawaban dariku. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Apakah aku harus menceritakan semua tentang laila dan penyakitnya? Aku takut bila aku menceritakaan semua langit akan bersimpati pada laila dan langit akan semakin dekat dengannya lalu aku akan tersingkir dari laila. Astagfirullah. Terbesit dalam hatiku pirasaat yang buruk. Tidak mungkin laila sampai begitu padaku.
“sebenarnya laila sedang sakit lang?”
“sakit apa mat?”
Sesaat aku terdiam. Berat rasanya aku ingin menceritakan semua ini, namun hatiku terus mendesak untuk menceritakan kepahitan yang dialami gadis pujaanku itu.
“kanker otak stadium akhir?”
“kanker?”
Langit kaget mendengar jawabanku. Matanya membesar terkejut. Bola matanya tidak bergerak kekiri maupun ke kanan.
“iya. Dua tahun yang lalu setelah lulus SMA kanker itu mulai bersarang dikepalanya. Dia sering sakit kepala. Setiap kali aku tanya apakah dia sakit, laila selalu saja mengatakan kalau dia baik-baik saja. Hingga suatu hari dia pingsan diperpustakaan. Dan dokter mengatakan kalau dia terkena kanker otak stadium akhir”
“kenapa dia tidak istirahat saja? Tidak usah kuliah dulu fokus saja dengan pengobatan?”
“dia tidak mau. Katanya percuma berobat?”
“barapa lama dia bisa bertahan?” tanya langit
Aku terdiam. Pertanyaan langit semakin sulit aku jawab. Semakin langit bertanya semakin sakit hatiku. Ketika kami berbicara tentang laila. Pikiranku teringat pada laila yang terbari dirumah sakit.
Sesaat langit menunggu jawaban dariku.
“rahmat. Berapa lama laila bisa bertahan?”
“kata dokter, hidupnya tidak lama lang. 8 bulan saja”
Mendengar itu wajah langit seketika berubah. Terlihat wajah kecewa, sedih dan penyesalan. Kudapat melihat tingkah langit aneh. Dia seakan-akan ingin segera pergi dan menemukan laila. Ingin rasanya langit memeluk laila dengan simpati darinya, ingin rasanya langit bertemu laila untuk menghiburnya.
15
PERPISAHAN YANG MENGGETARKAN
Rasa prihatin dan kasihan tampak diraut wajah langit pada laila kekasihku. Pertama kali dia mendengarkan ceritaku semalam dia merasa ingin segera menemui laila, dia ingin menghibur sahabat SMA nya yang lagi terbaring melawan kankernya.
Pagi yang sedikit mendung, awan hitam tampak menghiasi cakrawala, mentari pagi terlihat sembunyi dibalik cela-cela awan hitam yang menari diufuk timur. Hembusan angin pagi yang sejuk menari hebat dikulit. Tiupan angin sepoi membuat rambutku sedikit acak-acak. Hatiku tak menentu, semalam aku mendapatkan kabar dari rani kalau laila meradang kesakitan, darah yang keluar dari hidungnya pun tak berhenti. Langkah kakiku menyusuri setiap ubin rumah sakit. Kakiku terasa berat untuk melangkah. Bukan karena ada langit disampingku, aku mengajak laki-laki itu untuk menjenguk laila. Ketika aku mengajaknya untuk menjenguk laila, terpancar diraut wajahnya bahagia walaupun sedikit. Bumi adikku dan amar sahabatku berjalan dengan cemas dibelakangku.
“masih jauh ya mat ruangan laila?” tanya laki-laki yang berjalan disampingku
Aku tidak melihat kearah langit aku hanya fokus pada jalanku “tidak, sebentar lagi. Ruangnya nomor 20” ujarku
Laila sangat suka ruangan nomor 20 itu, setiap kali dia dirawat dia hanya ingin kamar nomor 20. Karena menurut dia kamar itu telah bersahabat dengannya. Langkah kakiku semakin cepat melaju, kamar laila sudah terlihat dimataku, tampak juga ayah laila berdiri didepan pintunya sambil menelpon seseorang.
“itu ayah laila kan?” tanya kembali langit
“iya. Itu ayahnya”
Laki-laki itu tidak melihat dan menyadari akan kedatangan kami. Sepertinya ayah laila sibuk. Sepertinya dia sedang menelpon seorang yang penting. Kami pun langsung memasuki ruangan laila tanpa terlebih dahulu menyapa ayah laila takut mengganggu.
Perlahan aku mendahului langkah langit untuk membuka pintu ruangan bernomor 20. Sedikit terbesit dihatiku untuk menutup kembali pintu itu. Langkahku berhenti. Langit melihat kearahku. Amar dan bumi pun melihatku. Sejenak laki-laki itu menatap mataku. Aku ragu untuk masuk kedalam, aku takut tidak bisa menahan air mataku ketika aku melihat perempuan terbaring kesakitan itu.
“ada apa mat?” tanya khawatir langit padaku
Aku melihatnya, aku menatap mata langit dalam. Matanya terpancar sinar cinta pada laila. Sinar cinta yang dulu pernah ada ketika SMA hatiku sedikit berbisik, bagaimana cinta itu tumbuh kembali pada langit. Astagfirullah, aku beristigfar. Setan telah berbisik dihat kecilku. Tidak mungkin itu terjadi kedatangan langit hanya ingin menjenguk laila.
“ada apa mat?” tanya kembali amar
Aku melihat kearah amar langit pun melihatnya. Bumi menatapku dengan wajah aneh. Mungkin bumi tahu jawabannya dari mataku.
“tidak. Ayo kita masuk” ajakku
Langkah kaki kami pun melangkah memasuki ruangan laila. Kulihat laila terbaring lemah diatas kasur yang beralas kain panjang berwarna putih kulihat pula sajadah merah yang menutupi sekujur tubuh laila sebagai selimutnya, sajadah itu adalah pemberian dariku hadiah ulang tahunnya satu tahun yang lalu. Aku tersenyum kecil. Dia memakai sajadahku menemani tidurnya. Kulihat pula selang kecil melingkar dilehernya dan menancap dikedua hidugnya. Senyumku menghilang hanya rasa iba yang ada.
Kulihat rani terbaring disamping laila, matanya terbuka menerawang kelangit tanganya mengelus jari-jemari laila. Rani adalah malaikat dalam hidup laila. Sahabat yang amat baik dan sabar. Bagi laila, rani lebih dari sahabatnya dia seperti saudaranya. Kuliat Ibunya laila tertidur lelap kursi sofa disamping kasur laila. Wajah letih dan lelah tampat diraut wanita paruh baya itu.
“asslamu’alaikum” ucapku
Salamku membangunkan rani dari lamunannya. Dia melihatku dan ketiga laki-laki yang berdiri disampingku.
“wa’alaikumsalam. Rahmat?”
Aku tersenyum rani pun membalasnya. Aku melangkah mendekati perempuan berkerudung putih yang sedang menghapus air matanya. Aku melangkah dengan pelan. Takut membangunkan laila.
“ini aku bawakan makanan untuk kamu dan ibu juga ayah laila”
“terima kasih”
Aku melihat kembali laila yang tertidur pulas. Wajahnya pucat pasih, bibirnya sedikit membiru. Kelopak matanya mulai menghitam. Kumelihat kearah langit. Matanya layu rasa iba tergambar diraut wajah laki-laki berbaju kaos biru muda yang berdiri disampingku.
“bagaimana keadaan laila?” tanya langit
Langit mendahuluiku untuk bertanyaa. Pertanyaanku sama persis dengan pertanyaan langit. Aku tersenyum kecil sambil menunggu jawaban dari rani.
“alhamdulillah dia baik”
“semalam katamu dia meradang kesakitan. Apa benar?”
“iya, semalam laila meradang kesakitan, kepalanya pusing sangat hebat. Darah keluar dari hidungnya bertambah banyak. Aku khawatir, mangkanya aku menelpon kamu. Alhamdulillah kata dokter tidak apa-apa. Itu efek dari obat yang diberikan kemarin” jelasnya
Kumelihat laila kembali rasa iba yang terbesit dalam hatiku. Ya Allah jagalah wanita yang mencintaimu dan menyayangi kekasihmu ini. Berilah dia kekuatan untuk menjalankan takdirmu, sebutku dalam hati. Ingin rasanya air mataku keluar melihat laila terbaring tak berdaya.
“apa sakitnya sudah membaik?” tanya berbisik langit pada rani
Tak sempat menjawab pertanyaan langit, tangan rani diraba oleh laila. Seketika rani menengok kearah laila. Aku melihat laila mencoba membuka matanya dengan pelan. Dia tersenyum padaku. Aku pun membalasnya.
“rahmat” ucapnya pelan
Aku menganggukkan kepala seraya berkata “assalamualaiku” “wa’alaikumsalam” ucapnya
Lailai melihat-lihat orang disekelilingku matanya melihat kearah amar yang berdiri tidak jauh dariku, bumi dan langit. Aku melihat dengan jelas dibibir laila ketika dia melihat langit, senyumannya menghilang. Entah mengapa senyuman perempuan itu menghilang.
“langit?” ucap laila sambil menganggukkan kepalanya
Aku tersenyum lega laila menerima akan kedatangan langit. Kulihat langit senyum manis pada perempuan terbaring tak berdaya yang berselimut sajadah itu.
“iya, aku disini la” ucap langit dengan suara sedikit parau. “kamu apa kabar?” tanya langit
“alhamdulillah aku baik lang. Aku sehat” lalu “kamu apa kabar?”
“aku sehat”
Kulihat laila dan langit saling membalas senyuman. Hatiku sedikit bermain, namun dapat aku atasi. Hembusan angin yang masuk disela-sela pentilasi jendela kamar terasa sangat sejuk. Sekali-kali rani merapikan jilbab laila yang sedikit miring kekanan.
“berapa lama lagi kamu disini?” tanya laila pada langit
Sejenak langit terdiam. Dia menatap mata laila dalam. Rasa iba yang aku tangkap dibalik tatapan dalam mata langit. Aku dapat menggambarkan bahwa ingin rasanya langit untuk berlama-lama disini untuk menemani laila, ingin rasanya langit untuk menghibur laila. Namun rasanya tidak mungkin. Besok langit akan pulang ke tanah minang melanjutkan kuliahnya. Tidak tega rasanya langit untuk meninggalkan laila terbaring sakit. Ingin rasanya dia tetap disini menemani laila. Rasa iba langit dapat kurasakan juga.
“tinggal hari ini saja. Besok aku harus pulang lagi ke Padang” ucap lesu langit
Senyuman laila menghilang. Lalu terlihat kembali. Mungkin laila merasa sedikit kecewa karena pertemuannya dengan langit begitu singkat, sebab sejak kelulusan SMA kami tidak pernah bertemu dengan langit. Mungkin saja senyuman kecil laila itu mengatakan kalau langit lebih baik cepat pergi agar tidak mengganggunya, aku ataupun bumi adikku.
“mengapa cepat sekali. Aku saja baru bertemu dengan kamu lang. Apa kamu tidak rindu dengan sahabat lama kamu rahmat dan aku?”
“sebenarnya aku ingin berlama-lama disini. Aku sangat rindu dengan kalian. Tapi aku tidak bisa meninggalkan kuliah aku lama-lama. Aku ingin cepat menyelesaikan kuliah aku dan segera pulang agar bisa berkumpul kembali dengan kalian lagi”
Mendengar itu laila tersenyum. Hatiku sedikit lega mendengar jawaban langit. Sungguh dia telah berubah bahasanya sangat halus. Tutur katanya tidak seperti dulu lagi.
“kamu jangan sedih ya, disini kan kamu banyak yang menemani ada rani, amar, ibu, ayah dan kekasihmu rahmat”
Ucapan langit membuatku kaget. Laila melihatku. Aku tidak pernah bercerita pada langit kalau laila adalah kekasihku. Dari mana laki-laki ini tahu kalau laila kekasihku, ucapku dalam hati.
Sesaat suasana sunyi. Hanya terdengar nafas ibu laila yang tengah terlelap tidur. Bumi melirikku dengan tersenyum manis. Akhirnya laki-laki ini mengakui bila laila adalah kekasih abangku begitulah isi tatapan bumi. Aku tersenyum malu. Laila pun begitu. Rani hanya mengelus tangan laila yang terhempas lemah di dadanya.
“langit...” ucap laila senyum malu
Langit tersenyum melihat laila terhibur. Aku pun begitu. Lalu kemudian.
“laila...” sebut langit
Tatapan langit sangat serius. Ucapannya tegas dan bulat. Sepertinya ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh laki-laki itu, mungkinkah dia ingin menyatakan cintanya pada laila? Ah, itu tidak mungkin langit sendiri yang mengatakan kalau aku adalah kekasih perempuan itu tidak mungkin langit ingin menduakan cinta laila. Ataukah langit menagih janjinya pada laila untuk menjaganya seumur hidupnya seperti yang dia katakan pada laila waktu SMA dulu?
Sesaat suasana hening kembali. Hanya hembusan angin pagi yang terasa dan suara kecil terdengar dari tirai jendela karena tertiup angin. Raut wajah bumi begitu tegang dan serius. Aku pun terbawa suasana. Hatiku selalu bertanya-tanya. Amar mengisi raut wajahnya dengan penuh kekhawatiran tidak kalah pula dengan bumi adikku. Dia selalu siap siaga bila laki-laki yang berdiri disampingku berbuat sesuatu diluar dugaannya seperti dahulu kala.
“aku minta maaf!” ucap bumi lembut. Suaranya sedikit berat seperti menahan sesuatu, mungkin dia menahan kesedihannya melihat laila. “aku minta maaf atas semua kesalahanku selama ini? Aku tidak tahu, sempat atau tidak aku minta maaf sebelum aku atau kamu yang pergi duluan. Sekurang-kurangnya dosaku berkurang padamu”
Hatiku hancur mendengar ucapan langit. Ingin rasanya aku menangis.aku menatap wajah langit. Bola matanya sungguh serius dan penuh ketegasan. Laila mencoba menahan air matanya agar tidak meleleh dipipinya. Bumi tertunduk malu. Dia merasa bersalah pada langit telah menuduhnya macam-macam. Amar tidak melihatku ataupun bumi matanya termenung menengok keluar ruangan. Rani apa dayanya perempuan itu. Perempuan lemah apabila mendengarkan kata-kata perpisahan dia tidak dapat menahan air matanya.
“tidak lang, kamu tidak ada salah apa pun padaku”
“aku mohon maafkanlah segala kesalahanku”
“langit. Sudahlah, aku tidak pernah merasa kamu ada salah apa pun padaku. Kalau pun ada, sudah aku maafkan langit”
Langit memasangkan wajah memohon, mungkin dia sekarang sudah berubah. Dia menunjukkan wajahnya uang begitu penuh dosa pada perempuan itu. Tapi itu tidak adil bagiku. Mengapa langit hanya meminta maaf pada laila. Bagaimana denganku? Bukankah dia juga pernah membuatku terjerumus dalam lobang hitam karenanya. Tapi, ah sudahlah aku sudah memaafkan dia. Tidak sepatutnya aku berbuat sombong.
Langit tersenyum seraya mengucapkan terima kasih pada perempuan itu. Bibirnya tersungging senyum kecil senyuman lega serasa terlepas dari kesengsaraan. Suasana ruangan menjadi sunyi. Hanya terdengar isak tangisan rani sejenak. Langit terlepas dari kesalahannya. Kedatangan langit yang aku duga membawa sengsara namun tidak sama sekali bahkan kedatangan langit membuat hati laila semakin bahagia.
Perbincanganku dan langit berlanjut diluar ruangan. Sebelum langit pulang ia ingin berbicara empat mata padaku. Apa yang dia ingin perbuat? Tepat dibawah pohon cemara yang cukup rindang aku dan langit memulai perbincangan serius ini. Awalnya bumi adikku ingin mengikutiku dia khawatir terjadi sesuatu padaku. Namun aku menahannya agar tetap didalam ruangan bersama amar. Bumi begitu protektif dengan langit, dia masih trauma dengan kejadian yang sudah aku lupan itu.
“rahmat. Aku tidak tahu harus mengawalnya dari mana?”
Ucap langit membuka perbincangan sesaat beberapa detik aku dan langit tidak bersuara.
“apa maksud kamu lang?” aku kembali bertanya
Langit menatap wajahku dalam. Tatapan itu persis seperti langit menatap mata laila ketika didalam tadi. Hatiku mulai tidak enak ketika langit menatapku seperti itu. Sejenak aku diam, langit pun tak bersuara. Lalu dia mengulurkan tangannya. Aku kaget. Ada apa dengan laki-laki ini?
“aku minta maaf?” katanya
Aku semakin tidak mengerti padanya. Benarkah ini langit sahabatku SMA aku dulu? Laki-laki ini membuat hatiku bertanya-tanya. Sepertinya langit benar-benar berubah tidak seperti dulu lagi. Dengan hati yang berkalut aku pun mengulurkan tanganku pada langit. Tangan langit terasa bergetar kecil. Darahku semakin hebat mengalir. Pikiranku tak menentu.
“maaf? Untuk apa lang?”
“kamu sudah lupa? Atau pura-pura lupa kejadian dulu waktu kita masih SMA?”
Sudah aku duga. Firasatku benar. Dan akhirnya dia minta maaf padaku. Aku tersenyum dan aku bangga akan keberanian dan kebesaran hati langit untuk minta maaf. Dia tidak hanya memiliki rupa yang menawan tapi juga keberanian yang tak terkalahkan.
“tidak lang, kamu tidak salah. Aku yang salah pada kamu”
“tidak. Aku yang salah. Aku minta maaf”
“sudahlah lang, kalau begitu kita sama-sama saling memaafkan. Lagi pula aku sudah melupakan kejadian itu. Sekarang kita menatap masa depan”
Langit tersipu malu. Senyum kecil dibibirnya tampak dengan jelas. Bola matanya yang bersih tampak dengan jelas tergambar kebahagiaan.
“lalu, jadi besok kamu pulang ke Padang?” tanyaku kembali
“iya, jadi”
“pasti laila sedih mendengar kalau kamu benar-benar akan pulang”
“ah, sudahlah. Kan ada kamu yang menjaganya”
“boleh aku bertanya?”
“tanya apa mat? Silahkan”
“dari mana kamu tahu kalau laila kekasihku? Sebelumnya aku tidak pernah memberitahu kepadamu kalau laila itu kekasihku”
Diriku masih penasaran pada langit tentang itu. Sebelumnya aku tidak pernah memberitahu padanya kalau laila adalah kekasihku. Mungkinkah rani yang memberi tahu padanya? Atau amar? Ah, kurasa tidak mungkin. Entahlah. Hatiku semakin penasaran untuk bertanya.
“ehm” langit tertawa kecil “aku tahu, tidak perlu kau memberitahu aku kalau laila kekasihmu. Dari bola matamu, cara kau memandang wajahnya aku tahu tatapan itu bukanlah tatapan biasa. Tatapan penuh dengan cinta sejati”
Aku menaji malu. Rasa tidak enak dihati pun dapat aku rasakan pada langit. Dulu langit beria-ria ingin menjadikan gadis itu pemain surinya. Namun, ah salahkah aku bila aku juga menginginkan gadis itu menjadi bidadariku?
“maafkan aku lang?”
“maaf untuk apa?” langit membalasnya
“aku tahu. Kalau kau...”
“ngomong apa kamu mat. Tidak ada yang perlu memaafkan dan dimaafkan. Kamu tidak salah. Masalah yang lalu biarkanlah berlalu jangan menjadi pikiran. Tidak ada gunanya. Sekarang kita bersama-sama menatap masa depan” sesaat langit terdiam kemudian “boleh aku meminta sesuatu padamu?”
“apa itu lang?”
Langit kembali terdiam. Matanya menunduk. Sesaat dia tidak melihatku. Aku menjadi penasaran.
“tolong kamu jaga laila. Jangan kamu kecewakan dia. Aku percaya sama kamu mat”
Aku tidak menajawab pertanyaan langit. Sungguh ucapan langit membuat lidahku membeku. Aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Langit membalas senyumanku. Didalam hati kecilku berbisik pasti  lang aku akan menjaga laila. Aku akan ingat pesanmu.
Permintaan langit mengakhiri pertemuan kami. Langit semakin jauh menghilang dari pandanganku. Begitulah pesan terakhinya padaku sebelum ia kembali ke tanah minang. Aku termenung menatap kepergian langit. Bola mataku tak bergerak. Angin yang berhembus membuat sekali-kali mataku berkedip. Aku termenung jauh.
“abang?” teriak bumi dari kejauhan
Suara bumi membangunkan lamunanku. Kulihat bumi berlari mendekatiku,
“abang. Oke? Laki-laki itu tidak menyentuh abang kan?”
“ngomong apa kamu bumi? Langit tidak berbuat apa-apa sama abang. Tidak baik prasangka buruk terhadap orang lain”
“bumi hanya takut saja bang” “sudah. Abang tidak apa-apa. Ayo masuk”
16
TANGIS DUA SAHABAT
Sayup-sayup rani mendengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an dari masjid Al-Barokah yang berdiri tidak jauh dari kamar laila. Lamunan sang sahabat jauh menerawang cakrawala yang terbentang. Mata perempuan itu kosong tak tampak cahaya yang menari dibola matanya. Terlihat air matanya mengalir kecil dibalik kelopak matanya. Wajahnya begitu lesu dan tak berdaya. Sekali-kali ia melihat sahabatnya yang terbaring disampingnya.
“ran” perempuan sakit itu meraba tangan rani
Seketika rani melihat kearah laila. Rani tersenyum, lalu laila membalasnya.
“iya la, ada apa? Kamu mau apa? Mau makan? Minum?”
Laila tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dengan lemah. Ditatapnya mata rani dengan dalam. Laila menerawang jauh dibola mata perempuan yang dihadapannya itu. Laila tersenyum kecil, sungguh rani adalah malaikat yang dititip Tuhan padanya untuk menanggung segenap kepedihan yang dirasakan oleh laila. Rani menggenggam tangan laila dengan lembut. Bibirnya tersenyum.
“rahmat sama amar tidak kesini?” tanya laila
“belum, mereka masih ada kelas. Rahmat, dia titip salam rindu padamu katanya”
Alangkah suka hati laila mendengar ucapan sahabatnya. Senyuman dibibir laila tampak tersungging lebar. Matanya bersinar walaupun hampir-hampir sudah tak tampak cahayanya.
Siang itu, langit sedikit mendung. Awan hitam menghiasi setiap cakrawala. Tampaknya hujan akan turun. Terasa hembusan angin yang menari dikulit. Sekali-kali laila menutupi tangannya karena terasa dingin.
“tolong tutupkan kaki aku rani, aku merasa dingin”
Rani pun dengan segera mengikuti permintaan laila. Dengan hati yang ikhlas dan penuh kasih sayang rani mengulurkan selimut pada kaki laila.
“rani” ucapnya
“iya la”
“aku merasa tubuhku tidak kuat lagi. Aku sudah melihat kematian didepan mataku”
“jangan kau berbicara seperti itu la. Tidak baik”
Laila tersenyum melihat ketabahan sahabatnya. Rani mencoba menahan air matanya agar tidak meleleh dihadapan laila. Namun air mata itu pun berkali-kali mengalir membasahi pipi rani yang putih kemerahan.
“kamu jangan menangis ran, aku tidak suka melihat kamu menangis nanti cantik kamu hilang” laila menggoda rani
Rani tersipu malu. Dihapusnya air mata yang mengalir dipipinya setiap kali dihapus air mata yang lainnya kembali mengalir. Kecintaan rani pada laila begitu tulus dan ikhlas walau mereka dipertemukan hanya beberapa tahun saja. Wajah rani memerah karena menahan rasa sedih, laila tak henti-hentinya mengelus tangan rani matanya lalu melirik-lirik mata rani yang hitam kecokelatan. Hati rani gelisah. Petanda apa ini, tidak seperti biasanya laila seperti ini? Sebutnya dalam hati.
“kamu mau apa la?” tanya rani kembali dengan hati yang tak menentu
Laila menggelengkan kepalanya
“tidak. Aku tidak mau apa-apa ran. Aku hanya ingin kamu menemani aku disini”
“iya, aku disini la”
“rahmat dan amar belum datang ya?”
“sebentar lagi la, sabar ya”
“ran. Aku mau ngomong sama kamu?”
“apa itu la, katakanlah”
“aku Cuma bisa mengucapkan terima kasih atas segala kebaikan kamu. Aku tahu kamu pasti lelah menemani aku selama dirumah sakit. Maaafkan aku ya ran?”
“kamu berbicara apa la, sudah aku katakan, kalau aku tidak pernah merasa lelah untuk menjaga sahabat aku yang baik ini. Kita sudah janjikan untuk saling menjaga dan melengkapi apabila salah satu diantara kita sedang diuji oleh Allah. Apa kau sudah lupa dengan janji itu?”
Laila menggelengkan kepalanya lalu senyum manis terlihat dibibirnya.
“aku tidak lupa la. Tapi aku merasa aku yang lebih banyak menyusakan kalian”
“tidak la ada yang merasa kesusahan. Kita menjalaninya dengan ikhlas la, kamu jangan khawatir. Aku, rahmat dan amar akan selalu ada disisi kamu”
“ran, aku minta maaf”
“maaf untuk apa la?”
“maaf untuk segala kesalahan dan khilaf yang telah aku perbuat pada kamu. Tolong sampaikan juga pada amar dan rahmat apabila aku tidak sempat bertemu dengan mereka”
“kamu ngomong apa la. Tidak baik. Kamu tidak perlu minta maaf seperti itu insyAllah aku sudah memaafkan kamu begitu pun dengan amar dan rahmat. Lagi pula selama kamu menjadi sahabat aku, kamu tidak pernah berbuat salah padaku. Bahkan kamu yang banyak membantu aku”
“ran, aku merasa kalau ajalku sudah dekat. Dimataku sudah tampak malaikat-malaikat maut yang siap mencabut nyawaku”
Mendengar itu rani menangis. Laila pun begitu. Tangisan kedua sahabat itu cukup kencang hingga terdengar dari luar ruangan. Dipeluknya laila dengan erat oleh rani. Tangisan rani tak berhenti juga malahan semakin menjadi-jadi.
“istigfar la, ingat Allah la. Jangan kau lupakan gusti Allah. Itu hanya khayalan kamu saja. Kamu jangan berbicara seperti itu lagi ya, kamu membuat aku takut saja”
“aku ingin bertanya padamu ran”
“tanya apa la, silahkan”
“apakah kamu akan mengingatkan aku kalau aku sudah tiada?”
Alangkah pilunya mendengar ucapan sahabatnya itu. Air mata membasahi pipi rani, langit cerah memancarkan panasnya dengan dahsyat. Rani ingin kuat, namun air matanya tetap mengalir.
“la. Apa yang kau katakan itu. Tidak baik. Kau tidak akan mati kau pasti sembuh”
“tidak ran. Aku sudah tidak kuat lagi”
Mendengar itu tangisan rani semakin menjadi-jadi. Sejanak rani berpikir tidak seperti biasanya laila berbicara seperti itu. Laila adalah wanita yang kuat ia tidak mengeluh dengan penyakitnya, ia tidak pernah putus asa untuk sembuh. Tapi entah mengapa hati pagi menjelang siang ini laila selalu melantur tentang kematian. Rani mencoba menggenggam tangannya yang sudah lemah untuk menahan tangisannya agar tidak bertambah menajdi-jadi. Tetapi sekian lama rani menahan tangisannya sekian itu pula air mata sucinya keluar dari kelopak matanya yang sudah mulai lelah.
“mengapa kau berbicara seperti itu la, kau pasti sembuh. Kau tidak boleh putus asa seperti ini. Kuatkan dirimu, laila purnama sari adalah wanita yang kuat, ia tidak pernah mengeluh dengan penyakitnya. Ingat Allah la, ingat ibu dan ayahmu, kesihan mereka bila mendengar ini. Kamu jangan sedih ya, aku, rahmat dan amar akan senantiasa ada disamping kamu”
“kau sungguh baik sekali ran, aku bersyukur Allah menitipkan bidadari yang baik seperti kamu. Aku selalu berdo’a agar kamu senantiasa sehat dan dipanjangkan umur hingga kamu memiliki anak dan cucu. Jangan lupa jika kamu sudah mempunyai anak nanti sering-sering kamu ceritakan tentang aku ya, tentang persahabatan kita”
Hancur sudah hati rani. Tangisannya tidak tertahan lagi. Rani menggenggam tangan laila untuk menguatkannya. Air mata keluar dari kelopak mata laila. Dipeluknya laila oleh rani, suasana sunyi hanya terdengar tangisan dua sahabat itu.
“kau berbicara apa la, jangan berbicara seperti itu. Kau buat aku takut. Aku selalu mendo’akan yang terbaik untukmu. Jangan khawatir jika aku punya anak dan cucu nanti aku akan bercerita padanya tentang kamu, rahmat dan amar kalau aku punya seorang bidadari berwujud manusia. Bidadari cantik yang turun dari syurga. Bidadari yang hebat dan pintar. Bidadari yang selalu tersenyum. Bidadari yang shaleha. Bidadari yang baik tiada tanding. Bidadari yang hidupnya ingin seperti fatimah anak kanjeng nabi. Bidadari yang cinta sahabat-sahabatnya. Bidadari yang harum baunya. Bidadari yang sempurna. Dan bidadari itu bernama Laila Purnama Sari” tutupnya
Laila menangis air matanya mengalir dengan perlahan di kelopak matanya. Rani memeluk laila sambil berbisik kecil di telinga laila yang terbaring tak berdaya.
“selalu ingat Allah la”
Tangisan keduanya pecah. Dipeluknya rani dengan tangannya yang lemah. Mata perempuan sakit itu kosong kali ini tidak tampak cahaya sedikit pun hanya tampak kegelapan, kematian dan kehancuran. Suasana ruangan itu tidak menentu tidak tampak cahaya dan hembusan angin yang menggoyangkan tirai jendela ruangan. Detak jam dinding begitu merdu terdengar oleh rani. Bagi laila jarum jam yang berdetak itu menunjukkan waktu kematiannya telah dekat. Isak tangis kedua perempuan itu terdengar oleh seorang dokter yang menangani laila yang ditemani oleh seorang perawat yang berdiri disampingnya.
“sudah dulu ya menangisnya. Kita periksa dulu” kata dokter puji astuti seketika mendekati kedua perempuan yang sedang berpelukan menangis itu.
Mendengar itu kedua perempuan bersahabat yang menangis seketika melihat arah sumber suara, melihat kedatangan dokter puji rani pun melepaskan pelukannya. Laila tersenyum pada dokter, melihat peralatan yang dibawa oleh dokter puji tampak cahaya sembuh dimatanya walaupun sedikit. Dokter puji astuti adalah salah satu dokter yang mengurus segala kesehatan laila sejak pertama perempuan itu dirawat. Dokter cantik itu sangat tahu akan kehendak laila. Sering kali dokter spesialis kanker itu menghibur laila ketika ia hampir-hampir putus asa akan penyakitnya.
“mengapa menangis? Ingat kematian lagi?” tanyanya pada laila
Laila tersenyum. Rani hanya melirik kearah laila yang tak bersuara.
“setiap manusia akan mengalami kematian tanpa kecuali, laila, dokter, rani, ayah dan ibu laila pun akan menempuh masa kematian itu. Jangan dipikirkan tentang hal itu yang perlu kita ingatkan adalah bekal kita untuk kematian. Tidak perlu takut selagi kita ingat pada Allah, senantiasa berzikir padanya insyallah kematian yang kita takuti itu akan kita tunggu-tunggu untuk berjumpa pada maha pencipta” ucap kembali dokter berjilbab itu sebelum ia memeriksa kesehatan laila.
Seperti biasanya, sebelum memeriksa laila, dokter puji senantiasa memberi nasihat kepada laila. Dokter puji selali memberi pencerahan kepada setiap pasien sebelum memeriksa atau mengobatinya kata dokter puji tujuannya adalah agar manusia senantiasa menerima takdir Tuhan dengan lapang dada dan ikhlas.
Laila tersenyum kembali. Seperti biasanya, pada saat dokter puji memberi nasihat padanya laila hanya tersenyum dan memandang bola mata wanita berjilbab itu dengan penuh kebanggaan pada sang dokter itu.
“semalam tidurnya bagaimana? Enak?” tanya dokter itu sambil mebolak-balik selang infus yang bersarang ditangan laila.
“alhamdulillah. Enak dok” laila tersenyum
“nah, gitu dong. Kan kalau senyum terlihat cantik. Dokter jadi semangat mau datang kesini setiap hari” dokter puji menggoda
Laila tersenyum lebar. Rani pun begitu. Tangan dokter itu siap memeriksa laila, beberapa kali ia menyuntikkan cairan dalam infus laila. Katanya cairan itu untuk menambah cairan dan mereda rasa sakit.
Stetoskop menempel didada laila, dokter puji memeriksa detak jantung laila.
“buka matanya. Kita periksa matanya dulu” pintanya
laila mengikuti instruksi dokter. Rani melihatnya dengan cemas dalam hatinya tak berhenti berdo’a agar laila baik-baik saja. Beberapa menit dokter puji melihat-lihat mata laila. Sekali mata yang kiri dan sekali mata yang kanan. Lalu dokter itu meriksa kembali detak jantung laila. Dokter puji melihat perawat di sampingnya. Matanya tampak tergambar ketakutan. Senyum dibibirnya menghilang. Rani selalu bertanya-tanya dengan sikap dokter puji. Sesaat dokter itu selesai memeriksa detak jantung laila kemudian tangan kecil dokter puji menggenggam pergelangan tangan laila untuk memeriksa denyut nadinya. Kali ini dokter puji tidak melihat perawat disampingnya namun melihat kearah rani yang berdiri di hadapannya. Rani melihatnya dengan rasa takut. Mengapa dokter melihatku seperti itu? Begitulah pertanyaan rani dalam hatinya.
“alhamdulillah selesai. Dokter bangga pada kamu laila, semakin hari kamu semakin sehat. Penyakit kamu juga semakin baik” sebut dokter puji tersenyum
Senyuman dokter itu adalah senyuman menghibur. Rani dapat melihat itu. Seperti biasanya dokter puji selalu tersenyum dan mengatakan hal yang menyenangkan hati apabila selesai memeriksa laila. Kali ini ini senyumnya berbeda, rani melihat senyuman itu dengan penuh tanda tanya. Apakah ini senyuman petanda buruk? Sebutnya kembali dalam hati.
“dokter keluar dulu ya la, jangan lupa minum obatnya dan istirahat yang banyak” pesannya lalu kemudian “Rani bisa ikut dokter sebentar?”
Rani pun mengiyakan permintaan dokter puji dan mengikutinya dari belakang. Diluar ruangan dokter menjelaskan keadaan laila.
“bagaimana dok keadaan laila?” tanya rani tergopoh-gopoh
Seketika senyuman dokter puji menghilang senyuman itu berganti dengan raut wajah kekhawatiran. Sesaat dokter itu terdiam. Beberapa lamanya rani menunggu jawaban dari dokter puji, namun tak kunjung juga ia dapat Lalu rani pun bertanya kembali pada dokter dihapannya.
“bagaimana dok, keadaan laila?”
Dokter puji melihat rani. Ditatapnya mata rani dalam. Dalam tatapan itu rani telah mendapatkan jawabannya, tatapan dokter puji telah memberi jawabannya.
“maafkan saya ran, saya harus mengatakan yang sesungguhnya”
“apa yang terjadi dok?”
“kesehatan laila semakin menurun. Kekebalan tubuhnya semakin lemah. Kenker itu sudah menyebar kemana-mana. Terakhir saya memeriksa laila, kanker itu hanya menyerang otaknya namun sekarang sudah menyerang saraf-sarafnya. Saya mohon sama kamu agar tidak meninggalkan laila, kamu jangan menangis didepannya kamu harus memberi semangat padanya. Kamu jangan mengatakan hal yang mengada-ada tentang penyakitnya. Saya takut kesehatanya semakin menurun”
Mendengar penjelasan dokter puji rani pun menangis. Dia menutupi mulutnya agar tangisannya tidak terdengar oleh laila.
“inalillahi” rani tersentak kaget.
Lalu ia kembali menangis tersedu-sedu
“berapa lama lagi laila bisa bertahan dokter?”
Perempuan berbaju putih itu menggelengkan kepalanya.
“entahlah, perkiraan kedokteran kira-kira tidak lebih dari satu bulan lagi”
“ya Allah” rani menangis
“tapi itu semua kehendak yang maha kuasa. Umur manusia hanya Allah yang menentukan”
“tolong dok. Lakukan sesuatu pada laila agar dia bisa sembuh saya mohon”
“maaf ran, kita sudah berusaha maksimal mungkin. Kanker laila sudah menyebar kemana-mana untuk kemoterapi pun sudah tidak ada gunanya lagi. Sekarang kita hanya bisa banyak berdo’a pada Allah semoga saja ada keajaiban untuk laila”
Beberapa menit dokter puji menjelaskan penyakit laila pada rani. Akhirnya sahabat laila itu pun kembali mendekati laila yang terbari itu. Jarum jam telah menunkukkan pukul 13.30 siang langkah rani semakin mendekat laila. Rani tersenyum pada laila. Air matanya tidak tampak sama sekali. Hanya terlihat bulu matanya yang masih masah karena menangis saat mendengar penjelasan dokter puji tadi.
“umurku tidak lama lagi ya ran. Tinggal berapa bulan. Satu bulan dua bulan?” tanya laila
Rupanya senyuman rani menjadi pertanyaan besar bagi laila. Berharap senyuman itu membuat laila senang malahan menjadi beban rani. Sentak pertanyaan itu membuat rani bingung untuk menjawabnya. Ingin rasanya rani memeluk sahabatnya dengan erat. Ingin rasanya rani mencium pipi laila dengan kasih sayang. Ia selalu menahan air matanya agar tidak meleleh di hadapan laila, dia ingat pesan dari dokter puji agar tidak menangis dihadapan laila.
Ditatapnya mata laila dalam sesaat rani menerawang masuk kedalam bola mata itu. Lalu kemudian terjatuhlah air mata rani mengalir dipipinya yang merah. Lalu rani merangkul laila dengan kasih sayang. Dalam pelukan itu tangis rani semakin menjadi-jadi. Lalu ia berbisik ditelinga laila dan berkata
“tabahkan hatimu” sebutnya menangis
Mendengar itu laila pun menangis. Laila membalas pelukan rani. Dan dia berkata
“aku ikhlas ran. Aku sudah ridho dengan ketentuan yang sudah Allah berikan padaku. Insyallah aku akan terima dengan ikhlas”
Tangisan kedua sahabat itu kembali pecah lidah rani kaku untuk berkata tidak kuasa rupanya untuk mengucapkan kata-kata lagi. Dalam hatinya hanya tampak rapuh dan lemah. Hatinya sakit tak berdaya.
17
SENANDUNG GERIMIS
Dua hari setelah tangis dua sahabat dalam salah satu ruangan dirumah sakit itu. Jarum jam terasa begitu lama berputar. Detik-detik berjalan terasa begitu berat. Matahari terasa lambat berjalan. Dan malah terasa sangat panjang. Aku merasa menunggu empat hari untuk menyelesaikan tulisanku bagaikan menunggu empat tahun lamanya.
Ya, kira-kira empat hari lagi tulisanku selesai dan segera aku cetakkan kemudian segera aku berikan kepada laila dan rani. Semua tulisanku telah matang. Mulai desain cover, daftar isi hanya tinggal satu bab lagi yaitu bab terakhir. “aku akan segera beri buku ini pada laila agar dia tahu siapa laila yang aku maksud dalam buku ini” gumamku. Aku sudah membayangkan hari bahagia itu. Aku akan membayangkan senyum bahagia laila dan rani ketika membaca bukuku. Rani sangat semangat untuk membaca bukuku apa lagi laila dia sangat penasaran dengan tokoh perempuan yang ada dicerita bukuku yang berjudul Cahaya Senja Untuk Laila dia selalu bertanya-tanya apakah laila dalam ceritaku itu adalah laila dirinya? Aku tidak sabar rasanya untuk memberikan buku ini padanya.
“sudah selesai bukunya, bang?” tanya bumi seketika duduk disampingku
Pertanyaan bumi membangunkan dari lamunanku. Aku menganggukkan kepala seraya berkata
“sedikit lagi. Tinggal satu bab lagi” jawabku penuh percaya diri.
“emang bagus ceritanya?” sindir bumi
“wah. Wah.. kamu meremehkan kemampuan abang? Mau baca?”
“oh, no”
Bumi langsung menolak. Dia sangat tidak suka membaca buku. Apalagi membaca bukuku, jangankan untuk membacanya melihatnya saja seperti jijik. Begitulah bumi dia hanya suka dengan sains seperti laila kekasihku.
“kak laila sudah baca?”
“belum”
“kenapa belum?”
“bagaimana kamu ini. Bukunya saja belum saja. Bagaimana abang mau berikan sama laila”
“oh, gitu”
Pagi itu gerimis turun. Aku membayangkan jika laila sudah membaca buku, alangkah indahnya melihat senyuman kekasihku sambil menikmati gerimis yang turun. Aku dan laila duduk dipelantaran rumah atau cafe biasa kami kunjungi sambil menikmati pemandangan dua belibis bermain dikala awan menjatuhkan butiran-butiran air. Ku dapat menyaksikan senyuman manis laila dibibirnya yang kecil. Matanya bermain dengan dahsyat saat membaca bukuku.
“abang tidak kerumah sakit?”
Aku terdiam. Bumi melirik kearahku. Dia melihatku tersenyum seorang diri. Dipikiranku hanya ada aku dan laila sedang membaca buku dengan hati yang damai.
“abang tidak kerumah sakit?”
tidak puas melihatku bumi kembali bertanya. Pertanyaannya kali ini sedikit memaksa.
“ha.. iya nanti. Abang lagi nunggu abang amar. Katanya dia juga ingin menjenguk laila”
“bumi ikut ya. Boleh?”
“iya, boleh”
Aku kembali menatap laptop dihadapanku. Tanganku sempat terhenti karena bumi. Lalu aku menyelesaikan segera bukuku.
Hujan gerimis masih terdengar riuh ditelingaku. Aku asik dengan tulisanku hingga aku tidak menyadari kedatangan amar. Amar melihatku, kepalanya terlihat garis-garis karena kebingungan melihatku tersenyum dan tertawa seorang diri. Lalu dia memukulku bahuku dengan pelan.
“assalamu’alaikum, akhi rahmat?” ucapnya
Suara amar membangunkanku dari imajinasiku. Seketika aku melihat amar yang berdiri dibelakangku.
“wa’alaikumsalam. Eh bro, sudah lama?” tanyaku
“sudah 2 tahun abang amar disini!” jawab bumi menyindirku
“sori. Sori. Sudah makan?”
“sudah mat. Santai saja. Gimana jadi tidak kita kerumah sakit?”
“jadi dong”
“semangat amat. Sudah rindu dengan buah hati kamu ya?” ledeknya
“apaan sih mar”
“lalu?”
“itu loh bang amar. Bang rahmat mau ngasih bukunya pada buah hatinya dan buah hati bang amar. Mangkanya bang rahmat semangat sekali mau kerumah sakit?” sambung bumi
“eh tunggu” putus amar lalu “buah hati abang?”
“iya”
“siapa?”
“kak rani!”
Mendengar itu aku pun tertawa. Amar tersipu malu. Bumi tersenyum kecil. Amar melihatku dengan salah tingkah.
“apaan kamu bumi. Jangan fitnah kamu?”
“oh, jadi sekrang kamu jadian sama rani secara diam-diam ya bro”
“eh, adik sama abang sama saja sukanya ngebuli orang. Nanti didengar sama orangnya kan jadi tidak enak”
“kalau tidak enak dienaki bang. Biar cocok nanti ditambah sedikit garam atau gula biar enak rasanya” cetus bumi
Aku tertawa semakin kencang. Gerimis semakin enak didengar. Amar mengejar bumi karena telah mengebulinya. Aku melanjutkan menyelesaikan tulisanku. Sedikit lagi kataku. Jariku smeakin hebat menekan satu persatu huruf demi huruf di laptopku. Kedengar teriakan bumi dari luar kamarku. Akhirnya amar berhasil menangkap bumi dan memberi dia pelajaran.
“gimana bro sudah selesai tulisan kamu?”
“sedikit lagi”
“berapa bab lagi?”
“tinggal satu bab. Bab terakhir”
“kapan kamu mau ngasih pada laila?”
“entahlah, aku tidak tahu. Mungkin besok atau lusa”
Amar hanya diam. Dia asyik menyaksikan jari-jemariku menari diatas laptopku. Bumi entah dimana dia, suasana kamar terasa sunyi. Tidak terdengar tertawa ataupun suara nafas bumi adikku. Hanya terlihat angin yang meniup tirai jendela kamarku hingga bergelombang kecil.
Gerimis tipis turun perlahan. Hatiku tak bisa diajak tenang. Antara senang dan sedih. Senang karena aku dapat menyelesaikan tulisanku dan segera memberinya kepada laila dan rani. Sedih karena buah hatiku kesakitan melawan kanker ganasnya. Ingin rasanya aku segera tiba dirumah sakit untuk menyampaikan berita gembira ini dan meminta kepada laila agar segera membacanya biar ia tahu siapa laila dalam bukuku. Hatiku tak tenang, seribu macam telah aku perbuat dalam langkahku hatiku menulis sebuah puisi:
gerimis turun perlahan
wajah kekasih membayang
dalam daun-daun yang basah
diriku resah
menanti pertemuan
yang tenang
cinta kasih dan sayang
Tuhan
tolong damaikan
hatiku yang gamang
Benar kata banyak orang, jika orang jatuh cinta akan mampu menulis syair beratus-ratus bait jumlahnya. Hatiku masih ingin mendendangkan puisi lagi. Namun,
“abang? Kenapa? Ada yang aneh. Kok senyum sendiri?” suara bumi adikku membuyarkan lamunanku. Aku tersipu malu. Amar berdiri di samping kananku sambil mengusap-usap rambutku.
“sabar ya bro, sebentar lagi kita sampai keruangannya. Simpan saja senyumanmu itu untuk dia. Jangan kau senyum-senyum sendiri disini. Nanti disangka orang kita membawa kabur pasien sakit jiwa lagi” ledeknya
Bumi tertawa geli begitu pun dengan amar. Aku tidak menghiraukan perkataan amar, aku hanya menyunggingkan senyuman dibibirku.
Langkah kaki kami semakin dekat dengan ruangan laila. Hatiku semakin bermain hebat. Senyum dibibirku tak juga hilang. Bergetar hatiku, semakin deras darahku mengalir semakin kencang jantungku berdetak. Keringat sedikit membasahi bajuku. Gerimis tipis semakin ramai membasahi tanah hingga rumput-rumput menjadi basah.
 Diluar ruangan kulihat rani berbincang-bincang bersama ayah dan ibu laila. Ada pula dokter puji astuti. Dari kejauhan aku dapat melihat raut wajah mereka tegang dan serius. Kumelihat mata rani seperti biasa dibasahi oleh air mata. Senyumku sedikit menghilang namun masih ada. Hatiku gelisah tak menentu. Apa yang terjadi dengan laila? Ucapku dalam hati. Langkah kami semakin mendekati orang-orang itu untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaanku.
“itu rani, ayah dan ibu laila mat. Mengapa mereka ada diluar?” tanya amar
Amar melihatnya dengan cemas pula. Bumi hanya menatapnya dengan wajah datar.
“assalamualaiku?” ucapku “wa’alaikumsalam”
“ada apa?” tanyaku tergopoh-gopoh
Melihatku rani menangis. Aku heran dan kaget. Mengapa rani menangis apakah aku ada salah padanya? Ibu dan ayah laila melihatku dengan wajah iba.
“rahmat” ucap perempuan paru baya itu sambil menatapku dengan mata berlinang
“ada apa bu, laila baik-baik saja kan?”
Sesaat semua terdiam. Rani menangis semakin kencang. Dokter puji hanya menatapku dengan memasangkan wajah sedih. Seribu pertanyaan dalam hati tentang semua keadaan ini.
“baiklah. Saya pergi dulu. Tolong jangan tinggalkan laila sendiri. Dan obatnya harus dihabiskan” ucap dokter perempuan itu dan langsung meninggalkan kami semua.
“iya terima kasih dok” ucap ibu laila dengan suara nsedikit parau
Suasana kembali sunyi. Tidak terdengar percakapan diantara kami. Rani menangis. Ibunya hanya berdiri dengan sedih. Ayah laila mencoba untuk tegar namun tampak juga kesedihan diraut wajahnya.
“rahmat?” ucap ayah laila padaku
Aku menengok kearah laki-laki yang berdiri dihadapanku.
“kata dokter keadaan laila semakin lemah. Kankernya sudah menyebar kemana-mana. Sekarang sudah menyerang saraf otaknya. Ketahanan tubuhnya semakin melemah. Dokter menyarankan agar laila istirahat total, laila jangan banyak berbicara agar kesehatannya tidak semakin lemah” jelas laki-laki itu.
Aku hanya termenung mendengarkan cerita laki-laki dihadapanku. Mataku menatapnya dengan kosong. Jantungku terasa berhenti berdetak, darahku seakan berhenti mengalir. Gerimis yang turus terasa panas. Cerita ayah laila bagaikan jahanam yang membakar telingaku. Amar menatapnya dengan pilu bumi tak bersuara hanya melirik kearahku dengan wajah yang tak menentu.
Rani dipeluk oleh ibu laila. Rani hanya menangis tak kuasa lagi ia untuk berbicara. Sejuta bahasa kaku dilidahnya. Mataku berlinang. Namun aku mencoba untuk kuat. Kugenggam tanganku agar lelehan air mataku tidak mengalir dipipiku.
Kebahagiaan hatiku untuk berjumpa dengan laila dan ingin mengatakan kalau bukuku akan segera diterbit kandas sudah. Dokter berpesan kalau laila harus istirahat dan jangan banyak berbicara. Sungguh gerimis pagi ini sangat menyakitkan.
Sesaat aku terdiam, lalu rani mencoba untuk berbicara. Sesaat dia melihatku. Au heran. Mungkin dia ingin mengatakan sesuatu padaku. Lalu dia berkata
“rahmat, amar. Aku mau berbicara?” sebutnya sambil menghapus air matanya.
Aku menganggukkan kepala. Kakiku melangkah mengikuti setiap langkah kaki rani. Rani melangkah jauh dari ruangan laila. Mengapa? Ada sesuatu yang dia rahasiakan sehingga ibu dan ayah laila tidak boleh mengetahuinya? Amar dan bumi mengikutiku dari belakang. Langkah rani semakin cepat hingga sampai dibawah satu pohon rindang, namun tidak terlalu tinggi kira-kira tingginya seperti pohon cemara disamping masjid Ash-Shahabah. Daub pohon rindang itu begitu menyejukkan hati, matahari tidak dapat menembus setiap helai daunnya begitu pun dengan gerimis yang turun.
“ada apa ran?” tanyaku membuka diskusi
“semalam laila selalu menanyakan kamu sama amar?”
“tanya apa? Adakah sesuatu pesan darinya?”
“entahlah. Aku tidak tahu dia ingin berpesan apa”
“bagaimana keadaan laila sekarang ran?” tanya amar menatap rani dengan penasaran
Mendengar itu rani menangis. Kita heran mengapa tiba-tiba rani menangis. Matanya selalu menunduk. Mungkin dia ingat kata-kata laila? Atau dia mengingat kata dokter puji kalau laila umurnya tidak lama.
“ada apa ran?” tanyaku heran
“laila” sebutnya menangis
“ada apa dengannya?” sambung amar
“laila”
“iya ada apa dengannya?” ucapku tegas
“kata dokter, umur laila tidak kurang dari dua bulan”
“inalillahi” sentak amar kaget
“ya Allah” ucap bumi
Kabar itu seperti racun. Telingaku sungguh panas mendengar kabar buruk itu. Rani menangis. Aku pun begitu. Kubalikkan tubuhku membelakangi rani. Aku tidak dapat menahan air mataku. Amar mencoba mengelus punggungku, langit seakan menangis mendengar kabar jahanam ini.
Rani semakin kencang menangis. Amar mencoba melerainya. Namun dia tidak kuasa. Kakiku lemah seakan ingin terjatuh ketanah. Bumi memukul bahuku dengan pelan. Mataku kosong. Aku tidak melihat kemana-mana. Hanya menatap sejuta air yang sedang turun membasahi setiap daun dan rumput yang bergoyang.
“dokter bilang kanker laila sudah menyebar kemana-mana hingga ke sarafnya” ucap perempuan itu kembali
“aku tidak tahu lagi mat mau berbuat apa, laila sudah merasa tidak kuat lagi. Dia merasa kematian sudah didepan matanya”
Air mataku meleleh dengan hebatnya. Ya Tuhan tabahkanlah hati kami, kuatkan hati kami janganlah engkau lari daripada kami. Hatiku selalu bertasbih mengucap asma Allah.
Kabar ini sungguh menyakitkan hatiku melebihi dari apapun. Sakitnya hatiku ketika dulu langit memukulku atau sakitnya hatiku ketika papa memberi setengah kasih sayangnya padaku dulu tidaklah sebanding dengan sakit hatiku ketika aku mendengar kabar dari perempuan yang menangis dibelakangku itu.
Mata amar semakin terlihat berlinang. Namun dia mencoba menggenggamkan tangannya agar linangannya itu tidak menjadi butiran air. Bumi kaget. Tubuhnya berkeringat. Dia menatapku. Berkali-kali dia memukul bahuku.
“sabarkan hatimu bang” ucapnya
Aku melihat bumi. Dia menatapku dengan tatapan yang sama ketika aku masuk kerumah sakit dalu karena langit dan teman-temannya. 
18
LANGIT SEOLAH RUNTUH
Gerimis telah berubah menjadi hujan yang sangat deras. Kilat mengerjap dan halilintar menyambar. Kamarku tampak begitu fana dan kerdil dalam guyuran hujan. Kumelihat seeorang laki-laki remaja berbaju kokoh putih mengangkat sedikit celana hitamnya dan berjalan hati-hati dengan payung di bawah hujan. Laki-laki itu baru keluar dari masjid. Ia baru saja ikut rapat remaja masjid Al Taqwa.
Akhirnya ia sampai ke rumah. Laki-laki itu adalah Bumi adikku.
”Assalamu’alaikum. Mama sama papa belum pulang ya bang!” Panggil bumi begitu masuk pintu kamar yang lengang. Aku tidak mendengar ucapan bumi. Lamunanku jauh terbawa oleh hujan ”abang!”
”Iya!” Jawabku. ”mama sama papa belum pulang?” Tanya bumi kembali. ”belum” “abang sudah makan? Ni bumi ada makanan dari masjid” kue kotak itu diletakkan diatas meja tepat disampingku.
“abang sudah shalat?” “sudah”
“ada kabar dari kak rani tetang kak laila?” kumelihat bumi yang sedari tadi mengelus-elus bajunya karena percikan air. Sesaat aku diam, lalu bumi menengok kearahku. Aku menggelengkan kepala lalu dia kembali mengeringkan bajunya dengan handuk.
“abang amar jadi kesini?” “nggak tahu”
Dan tiba-tiba HP ku berbunyi, aku lihat ternyata rani yang menelpon aku langsung mengangkatnya.
“assalamualaikum ran?” “wa’alaikumsalam rahmat”
Suara rani terdengar berat dan basah tidak seperti biasanya. Sekali-kali terdengar dia mengisak.
“ada apa ran?”
“bisa kamu kerumah sakit sekarang?”
Perasaan hatiku tidak enak. Hatiku berprasangka buruk pada kekasihku itu. Ya Allah jagalah dia.
“ada apa ran? Apa laila merasa kesakitan lagi?”
“lebih dri itu mat, ceparlah kamu kesini. Dia yang meminta kamu kesini. Tadi aku sudah menelpon amar dia dijalan menuju rumah sakit. Kumohon padamu mat?”
“oke. Baiklah aku akan segera kesana. Assalamualaiku?”
“ya Allah” ucapku tergopoh-gopoh
“ada apa bang?” sambung bumi
“abang mau kerumah sakit. Rani nelpon abang katanya darurat” “bumi ikut”
Hujan deras menemani aku dan bumi menuju kerumah sakit. Kulihat jam di tanganku menunjukkan pukul 9.20 malam. Hatiku gelisah seribu pertanyaan bermunculan dihatiku.
Begitu sampai di Rumah Sakit, sang petugas sudah tahu kenapa aku datang. Tanpa bertanya petugas berkumis tipis itu langsung menunjukkan jarinya kearah kamar laila, sambil berkata,
“sudah ditunggu mas”
Ada apa ini? Mengapa kehadiranku begitu penting hingga petugas saja menunggu kedatanganku. Kulihat dari kejauhan beberapa perawat dan dokter keluar masuk kamar laila. Hatiku semakin cemas. Bumi hanya diam dan mengikuti langkahku.
Aku langsung membuka pintu kamar perlahan dengan tangan
gemetaran. Jantungku berdegup kencang. Kulihat semua sudah hadir, begitupun dengan bu de laila. Amar lebih dahulu datang daripadaku.
“sebentar lagi rahmat datang. Kamu yang sabar ya la” ucap rani pelan
Orang-orang itu tidak menyadari kedatanganku. Beberapa lamanya aku berdiri didekat pintu. Kulihat kekasihku dengan jelas. Malam ini wajahnya bercahaya matanya sungguh indah seperti mata ketika SMA dulu. Bibirnya merah sedikit kehitaman. Kulihat pula sajadah merah terbentang menutupi sebagian tubuhnya. Aku tersenyum melihat sajadah merah itu. Itu adalah sajadah dariku. Hadiah ulang tahun laila yang ke 19 tahun.
“mana rahmat bu?” tanya kembali pada ibunya
“sabar ya nak. Rahmat lagi dijalan”
Kulihat nafas laila berat. Matanya yang indah itu kosong hanya menerawang tak menentu. Jari-jarinya menggenggam tangan rani. Amar melihatnya dengan iba.
“ayah, rahmat belum datang juga ya?”
“sebentar lagi nak. Dia lagi dijalan”
Nafas lalila semakin sesak. Tangan dan kakinya terasa dingin. Ibunya menangis melihat laila. Rani hanya bisa menggenggamkan tangannya dia tidak kuasa lagi menangis karena air matanya telah habis. Mataku semakin dalam melihatnya. Dan terjatuh sudah air mataku meleleh dipipiku. Hatiku hancur melihat kekasihku seperti itu. Aku dapat merasakan kesakitan yang dirasakan oleh laila.
“rahmat tidak datang ya ran” sebutnya lalu kemudian “tidak apa-apa. Mungkin dia capek”
“assalamualaikum?” “wa’alaikumsalam” “Aku disini la. Aku datang” ucapku sambil menghapus air mataku agar tidak terlihat dihadapan kekasihku.
Mendengar itu semua orang melihatku. Laila tersenyum aku pun begitu. Rani semakin sedih melihatku. Amar menengokku tanpa senyuman. Ibu dan laila tersenyum.
“itu rahmat. Dia sudah tiba” ucap ayahnya menghibur
Laila tersenyum lepas ketika melihatku. Aku melangkah mendekati laila.
“ada apa? Rindu ya?” ucapku menggoda
Laila semakin tersenyum lepas. Nafasnya begitu sesak. Kudapat melihat nafas laila yang begitu sesak seperti berlomba-lomba ingin keluar.
Aku merasakan langit seolah runtuh menimpa kepalaku. Pikiranku terasa gelap. Air mataku langsung tumpah. Aku merasa kematian laila diujung mataku. Pedang yang sangat tajam seolah telah membabat leherku. Tombak paling tajam dan berkarat seolah menancap di dadaku. Dadaku sesak melihat kekasihku. Seluruh persendianku seolah dipaku dengan paku-paku berkarat nan runcing. Tulang-tulangku seolah telah dilolosi satu per satu. Sesaat lamanya aku tidak bisa berbuat apa-apa. Seolah-olah bumi hendak membetot kakiku. Air mataku terus meleleh membasahi pipiku.
“rahmat. Jangan menangis. Aku tidak apa-apa” sebut laila dalam sesaknya
“tidak. Aku tidak menangis” sebutku menghapus air mata
“maafkan aku mat. Sudah mengganggu waktu istirahat kamu. Kamu datang dengan siapa?”
“dengan adikku, bumi”
Laila melihat kearah bumi yang berdiri disamping kanan amar lalu ia tersenyum dan bumi pun membalasnya.
“rahmat, terima kasih sudah menjadi sahabat saya selama ini. Kamu adalah sahabat yang baik. Aku bersyukur dapat berkenalan denganmu”
“tidak. Aku yang berterima kasih kepadamu karena kamu sudih menjadi sahabat aku. Kamu yang sudah mengubah hidupku” lalu “rahmat. Aku ingin minta maaf padamu atas segala kesalahanku padamu, selama ini aku sudah menyusahkan kamu”
“maaf untuk apa. Kamu tidak pernah berbuat salah padaku. Tidak ada yang merasa disusahkan?”
“rahmat. Aku rasa hidupku sudah tidak kuat lagi, bayang-bayang kematian sudah didepan mata. Jika aku terlebih dahulu dipanggil Allah kamu jangan bersedih, kamu jangan menangis ingat masa-masa kita bersama dulu”
“tidak la, jangan berbicara seperti itu tidak baik. Kamu akan sembuh. Kamu harus kuat”
“ran”
“iya la aku disini” “maafkan segala kesalahanku ya? Aku tidak kuat lagi ran”
Semua orang menangis. Aku terpaku menatap laila yang tak berdaya. Nafasnya semakin sesak. Rani menangis, amar mengluarkan sedikit air mata. Bumi mengelus bahuku.
“amar, kamu disini juga?” “iya aku disini la”
“tolong jaga sahabat aku rani ya, dia adalah sahabat terbaikku. Rahmat, bumi adikmu tidak kesini?”
“bumi disini kak”
Laila melihat bumi yang berdiri dibelakangku. Dia tersenyum, sungguh manis senyumannya itu.
“jaga abangmu ya, jangan sampai dia seperti dulu lagi. Dan rahmat kamu jangan kasar-kasar sama bumi lagi ya, kesihan dia tidak ada teman lagi selain kamu”
Bumi menganggukkan kepala. Aku hanya menangis mendengar ucapan laila.
“ayah. Ibu”
“iya nduk ibu dan ayah disini”
“laila minta maaf segala kesalahan laila selama menjadi anak ayah dan ibu, tolong ikhlaskan segala makan dan minum laila selama ini”
“tidak nak, kamu jangan berbicara seperti itu. Ayah dan ibu sayang sama kamu”
“sakit bu, kepala laila sakit”
Laila mengerang kesakitan. Ia tidak tahu kepada siapa harus minta tTolong, kecuali kepada Allah yang maha pemberi penyakit dan maha penyembuh. Sejak jam tiga sore tadi kepalanya terasa pusing. Tubuhnya lemas. Perut sakit. Ia sudah tidak tahan. Ia merintih. Ajalnya ia rasa seperti akan datang.
“sabar nak, ingat Allah banyak istigfar”
Laila mengerang kesakitan. Kepalanya seperti kena godam. Ia merasa diintai oleh bayang-bayang kematian. Ia sudah tidak tahan.Tangannya gemetaran. Sekujur tubuh laila terasa dingin seperti es batu.
“ayah, ibu tolong ikhlaskan laila pergi ya, ibu sama ayah jangan sedih jika laila sudah tidak ada lagi. Maafkan laila tidak bisa disamping ibu dan ayah lagi” lalu “ran, aku titip ibu sama ayah ya, aku sangat mencintai ayah sama ibuku”
“tidak la, kamu tidak boleh berbicara seperti itu”
“rahmat maafkan aku tidak bisa membaca bukumu lagi. Biarlah laila dalam bukumu itu menjadi rahasianya sendiri”
Betapa pilunya hatiku. Air mataku tidak terbendungi. Lelah hati ini menahan kekecewaan, begitu pilu mendengar ucapannya. Ya Allah kuatkan hatiku. Semua orang menangis deras, rani tak terhitung lagi menghapus air matanya. Ayah rani mendekat. Kulihat dia berjongkok didekat kepala laila.
“ayah ucapkan kalimat-kalimat Allah”
Ya Allah. Jangan engkau ambil kekasihku. Kami masih membutuhkan dia. Aku bertasbih mengucap nama Allah. Dalam hatiku tak henti-hentinya aku berzikir memuja asma Allah. Segala puji bagi Allah yang menghidupkan dan mematikan makhluknya. Segala puji bagi Allah tuhan yang maha agung dan maha kuasa.
Nafas laila semakin sesak. Turun naik hingga ketenggorokan. Matanya sekali-kali membesar kemudian menutup kembali. Rani tak tahan lagi menahan lelehan air matanya.
“ashaduanlaa illaha illaallahu waashaduana Muhammadar asulullah”
ucap ayahnya ditepi telingan laila.
Kudengar laila mengikuti kalimat yang diucap ayahnya, suaranya begitu parau dan berat.
Laila tersenyum mendengar kalimat Allah itu. Matanya terpancar cahaya. Namun cahaya itu semakin redup. Mata laila semakin layu lunglai.
“sekali lagi yah”
“ashaduanlaa illaha illaallahu waashaduana Muhammadar asulullah”
Ucap ayahnya pelan dengan isak tangis tak tertahankan lagi. Melihat itu, ibu laila semakin terpuruk. Wajahnya basah dengan air mata. Linangan air mata bumi dan amar menjadi butir-butiran air. Jantungku semakin kencang berdetak. Hawa panas ruangan menambah kekegelisahanku.
“sekali lagi yah” pinta lirih laila
“ashaduanlaa illaha illaallahu waashaduana Muhammadar asulullah”
“Allah!!” ucap laila spontan.
Kulihat nafas laila berhenti, dadanya tidak terlihat kembang kempis lagi. Matanya menutup dengan sendirinya. Tubuh laila kaku dan dingin.
“ya Allah” ucap rani
“la, laila” panggil ayahnya
“ya Allah laila” jerit ibunya spontan
Dokter mendekat dan memeriksa laila yang terbaring kaku. Dokter itu membolak-balikkan pergelangan laila untuk memeriksa denyut nadinya. Jari dokter puji meriksa denyut dileher laila dan merasakan hembusan nafas dihidungnya. Raut wajah dokter puji berubah, tampak sedih. Semua orang penasaran dan menunggu jawaban dari dokter puji Dan dia berkata.
“innalillahwainailahirojiun” ucapnya lirih kemudian “laila sudah dipanggil Allah” ucapnya kembali
Seketika ruangan menjadi pecah oleh tangisan. Mendengar itu hatiku hancur. Tangisku semakin deras. Aku tidak tahu lagi yang akan kulakukan. Kutidak dapat melukiskan perasaanku saat ini. Kumenatap amar dibelakangku. Dia melihatku dengan iba. Dia menangis lalu memelukku.
“ya Allah” ucapku
“sabarkan hatimu. Tetap dalam ketabahan dan ingat Allah” lirihnya
Aku  terus meneteskan air mata. Aku ingin tabah. Tapi aku tetap menangis. Ibu lalia menjerit memanggil-manggil anak semata wayangnya namun laki-laki yang berdiri disamping kanannya itu mencoba unutuk menyabarkan isterinya. Bu de rani menangis tak tertahankan. Rani memeluk laila, sekali-kali ia memanggil laila yang terbaring kaku. Aku tahu perasaan rani saat ini. Sakit hatiku tidaklah sebanding dengan sakit hatinya. Begitu pilu rupanya rani. Sekali-kali ia memukul-mukul wajah laila namun dihalau oleh seorang suster.
“tabahkan hatimu mbak!” ucap suster itu
Tangisan rani langsung meledak.
“laila... laila”
Perawat yang ramah itu merangkul rani. Terus berusaha menghibur dan menenangkan rani. Rani merasa bumi bagaikan berputar. Rasanya ia ingin jatuh. Ia juga merasakan seperti ada belati yang dihunjamkan ke ubun-ubun kepalanya. Dalam pelukan perawat itu rani pingsan.
Bagiku langit seolah runtuh. Hujan semakin deras, langit pun ikut menangis akan kepergian kekasihku. Suara hujan itu seperti jarum yang menusuk telingaku. Langit seolah hancur menimpa kepalaku. Hidupku tak berarti lagi. Kekasihku telah pergi untuk selamanya. Bidadari hidupku telah pergi meninggalkanku. Kepalaku panas. Darahku semakin kencang mengalir, jantungku semakin kencang berdetak. Hidupku terasa tidak ada gunanya lagi. Cahaya dalam hidupku telah hilang. Hidupku merasa kegelapan tanpa cahaya yang minyaniri. Bumi mengelus punggungku. Matanya bercucuran air mata. Aku semakin kencang manangis dalam dekapan amar.
“sabar, tabahkan hatimu bang. Abang harus kuat” tutup bumi.
20
JIWA YANG BANGKIT
Dua hari setelah wafatnya laila. Aku mencoba untuk tegar dalam kesedihan. Banyak cerita yang aku lalui tanpa bidadariku. Sayang dan cinta kami pada laila terlalu kecil dibandingkan dengan rasa sayang Allah pada laila. Kubur laila masih basah, bunga-bunga yang ditabur pun belum mengering. Kepedihanku masih terasa. Tidak enak rasanya menjalankan aktivitasku di rumah maupun di kampus. Cahaya mentari pagi yang bersinar diatas kubah Ash-Shahabah begitu kaku. Tidak seperti biasanya cahaya itu tidaklah enak dipandang.
Rani masih dalam duka. Sekali-kali dia termenung jauh. Terkenang pada sahabatnya yang jauh disana. Hari-hari kami kini telah berbeda. Tidak ada lagi perempuan berkerudung yang selalu mengajarkanku arti kehidupan. Tidak ada lagi perempuan yang hebat untuk mengoreksi tulisanku. Sungguh aku sangat rindu dengan kekasihku Laila Purnama Sari.
“assalamualaikum, rahmat?” tiba-tiba seorang perempuan menghampiriku.
Aku terkejut. Dia berdiri dibelakangku. Aku melihatnya. Dia adalah rani. Aku tersenyum dia pun membalasnya. Pandanganku melihat kesamping rani, kumencoba untuk mencari-cari mana tahu ada kekasihku berdiri disamping perempuan itu. Tapi “astagfirullah” lirihku. Laila sudah tiada. Aku selalu mengenangi dimana ada rani pasti ada laila disampingnya. Kini hanya ada rani seorang tidak ada laila disampingnya.
“wa’alaikumsalam ran!!” ucapku
Rasanya aku tidak enak untuk berbicara. Lidahku terasa lemah. Kata-kataku terasa hambar didengar.
“nanti malam ada pengajian tiga hari dirumah laila. Bila ada waktu kita bisa hadir bersama-sama. Ajak amar dan bumi sekali”
Aku menutupi mataku. Kuhirup udara pagi. Begitu sejuk rasanya. Lalu aku membuka mata kembali “tiga hari ya? Tidak terasa sudah tiga hari laila pergi meninggalkan kita”
“iya” lirih perempuan itu dengan mata berkaca-kaca.
“insyallah” ucapku
Rani berusaha tersenyum. Kudapat melukiskan senyuman rani. Senyuman itu adalah senyuman kesedihan. Senyuman yang menyimpan pedih yang medalam. Dia berusaha menyimpan kesedihannya dihadapanku. Aku tidak pernah menghadiri acara pengajian dirumah laila sejak dia pergi. Aku tidak kuat untuk hadir. Kenangan-kenangan indah bersamanya masih teringat dikepalaku. Aku takut kenangan itu membuatku tidak dapat melupakan laila. Namun, aku berusaha untuk bangkit.
“amar mana?” tanya kembali rani
“masih ada kelas. Sebentar lagi dia kesini. Kamu mau kemana setelah ini?”
“mau kepusara laila. Bacakan yasin. Kamu mau ikut?”
Ya Allah. Tabahkan hatiku. Mataku berlinang mengenang itu. Kepalaku masih teringat wajah kekasihku saat-saat terakhir dia dikuburkan. Wajahnya yang cantik bercahaya, senyumannya yang tersungging dibibirnya masih jelas diingatanku. Aku takut bila pergi ingatan itu melemahkan hatiku.
“lain kali saja. Kali ini kamu sendirian saja ya!”
Rani tidak bertanya mengapa. Mungkin dia paham perasaanku. Dia menganggukkan kepala.
“ya sudah, aku duluan mat. Assalamualaikum” “waalaikumsalam” tutupku.
Mentari pagi semakin meninggi. Aktifitasku dikampus terasa hambar. Kesedihanku masih terasa. Kenangan dikampus bersama laila masih teringat dikepalaku. Dibawah pohon cemara kududuk sendiri termenung jauh membayangkan sanda gurau bersama kekasihku dahulu dibawah pohon ini. Masjid Ash-Shahabah begitu ramai mahasiswa menunggu waktu shalat zuhur. Ada yang ngobrol, ada yang mengaji, ada yang sekedar membaca buku. Mataku melihatnya dengan lesu. Aku semakin terpuruk dalam kesedihan. Ditanganku sebuah buku terbaruku. Rencananya buku ini aku beri pada laila. Aku sudah janji padanya untuk memberikan buku ini padanya. Dia selalu bertanya-tanya tentang laila dalam buku ini. Aku masih ingat dia bertanya padaku ketika kami sedang berkunjung ke kota seberang “apakah laila dalam bukumu itu laila aku?” pertanyaan itu menjadi sebuah kenangan kini hanya yang tinggal laila yang hidup tapi tidak berwujud hanya hidup didalam tulisanku. Sekali-kali kupandangi bukuku yang berjudul Cahaya Senja Untuk Laila berlinang air mataku ketika aku melihatnya. Rasa bersalah terbesit dalam hatiku. Mengapa aku tidak memberi jawaban dahulu bahwasanya laila dalam bukuku itu adalah laila dirinya. Laila bidadari yang cantik rupawan.
“assalamualaikum?”
Aku terbangun dari lamunanku. Aku lihat amar duduk disamping kiriku. Kuhapus air mataku yang sedikit keluar dari kelopak mataku. Aku tersenyum sambil mejawab salam dari sahabatku “wa’alaikumsalam”
Amar mengangkat alisnya lalu dia tersenyum. Amar cukup tegar dalam menerima cobaan ini.
“nangis lagi?” sebutnya
Aku tersenyum malu. Aku menunduk. Mataku masih terasa basah karena air mata.
“sampai kapan kamu mau begini? Siang malam selalu bersedih. Seharusnya kamu harus terima takdir dari Allah”
“bukannya aku tidak terima takdir dari Allah. Tapi aku merasa terlalu cepat”
“mat. Hidup, jodoh dan maut kita sudah terprogram di laumahfuz-Nya Allah. Kamu, aku, bumi, papa dan mama kamu pasti akan mengalami hal yang sama. Kita sebagai makhluknya tidak boleh bersedih berlebihan kita banyak berdo’a untuk almarhumah biar dia tenang disana. Kalau kamu seperti ini, bagaimana kamu akan bangkit dari keterpurukanmu.”
“aku masih rindu dengan dia mar. Dialah yang mengubah hidupku. Dialah cahaya yang selalu bersinar disetiap waktu. Dialah yang membuatku mengenal Allah lebih jauh”
“rahmat. Aku tahu, kamu dan laila sudah ditakdirkan untuk bertemu, dan jodoh pertemuan kalian hanya sampai disini. Kamu lihat Ibu dan ayah laila, mereka sayang teramat padanya tetapi mereka sudah mengikhlaskan kepergian laila”
“aku mencoba untuk ikhlas. Namun setiap hatiku mengikhlaskan kepergiannya malah bayang-bayang laila menari dikepalaku”
“banyak-banyak ingat Allah mat”
“sudah mar. Hatiku selalu berzikir pada Allah tapi air mataku mengalir dengan sendirinya”
“astagfirullah mat” lirih amar “apakah kamu sudah lupa dengan pesan laila waktu dirumah sakit. Dia berpesan agar kamu jangan menangis dan bersedih ketika dia sudah tiada. Kamu sendiri yang mengatakan iya. Tapi lihat kamu sekarang selalu bersedih, jangan terlalu mengenang itu mat. Tidak baik. Sesungguhnya jangan kamu mencintai makhluk Allah secara berlebihan itu tidak baik. Cintailah Allah sebagai cinta pertama dan cinta sejatimu. Bila kamu mencintai Allah insyallah rasa sakitmu akan terobati”
Aku tersenyum. Ada benarnya kata sahabatku amar. Aku tidak boleh bersedih secara berlebihan. Pertemuan dan perpishan aku dan laila sudah diatur oleh Allah dalam skenarionya. Aku amat menyayangi laila tetapi laila milik Allah dan Allah lebih sayang padanya.
Rencana Allah begitu sempurna. Allah menitipkan laila dalam hidupku dalam beberapa tahun saja untuk mengubah hidupku. Aku jauh dari Allah dan hampir melupakannya. Hidup dengan kegelapan dengan penuh dosa, disaat kegelapan itu hampir menutupi hidupi ada sinar yang masuk menerobos kegelapan itu. Dan kini sinar itu telah redup untuk selama-lamanya.
“itu buku kamu terbaru?” tanya amar sambil menunjuk buku ditanganku
“iya. Ini buku terbaruku”
“sudah siap?”
“sudah. Tinggal diterbitkan. Mau baca?”
“boleh”
“tapi nanti. Aku sudah janji sama rani untuk memberinya terlebih dahulu”
Aku mencoba untuk bangkit. Amar telah mengajarkanku banyak arti tentang kehidupan. Banyak cerita kedepan yang harus kami lalui bersama tanpa laila. Sedih, senang, pahit ataupun manis biarlah waktu yang menjawabnya. Tak berkesudahan apabila aku terpuruk dalam belenggu air mata.
Dirumah, bumi juga berusaha menguatkanku. Sekarang dia sangat suka berdiskusi denganku. Bumi tidak ingin melihatku bersedih kepanjangan. Dia berusaha menghiburku dengan membaca beberapa koleksi buku karyaku padahal sebenarnya dia sangat tidak suka membaca buku-buku fiksi.
“bagaimana bukunya sudah dicetak?” tanya bumi seketika duduk disampingku
“sudah”
“boleh bumi pinjam untuk baca?”
“boleh”
cahaya senja untuk laila. Sepertinya menarik”
“baca saja dulu baru tahu menarik atau tidak”
“ya pasti meanriklah, semua buku-buku abang yang bumi baca semuanya bagus-bagus kata-katanya sederhana tapi menusuk jiwa” sebutnya sedikit menggoda
“jangan berlebihan memuji nanti abang bisa terbang. Kalau sudah terbang nanti susah turunnya”
“kalau susah turunnya, pakai tangga saja atau pakai eskalator he..hehe” ucap bumi penuh tawa
Begitulah bumi menghiburku. Suasana kamarku begitu ramai terasa. Terdengar tawa dan gurau dari bumi. Kesedihanku menghilang seketika.
“kak rani sudah baca?”
“belum”
“kenapa?”
“abang merasa masih bersalah pada laila. Dulu abang ingin dia menjadi orang pertama membacanya. Setelah itu baru rani. Sekarang dia sudah tiada, berat rasanya hati abang memberi buku ini pada rani”
“sudahlah bang, jangan dipikirkan lagi. Yang terpenting abang harus tepati janji abang sama kak rani. Lagi pula tidak salah kalau abang memberi buku ini padanya. Bumi rasa kak rani juga senang bisa membaca buku abang. Dari dulu kan dia nunggu-nunggu buku ini”
“insyallah besok abang beri padanya” tutupku
Keesokan harinya, masjid Ash-Shahabah menunjukkan keindahannya. Lukisan asma Allah menghiasi disudut-sudut masjid. Sungguh cantik rupanya. Kubahnya yang besar memancarkan cahaya mentari pagi yang mulai meninggi. Janjiku pada rani akan kutepati hari ini. Tangan kananku membawa buku terbaruku. Sedih rasanya hatiku karena laila tidak sempat membacanya.
Ditempat biasa, kulihat rani sudah menunggu. Kakiku melangkah mendekati perempuan berkerudung biru duduk termenung jauh. Amar melangkah disamping kiriku. Kaki kami semakin cepat melangkah karena cuaca begitu menyengatkan kulit.
“assalamu’alaikum” sapaku ketika sampai dekat rani “wa’alaikumsalam. Rahmat, amar?”
“sudah lama ran?” tanya amar membuka pembicaraan
“tidak, aku baru sampai juga”
Kulihat senyum kecil dibibirnya. Kulihat perempuan cantik itu. Mataku terasa aneh. Ada sesuatu yang tidak asing dimataku. Aku mencari-cari sesuatu yang aneh itu. Apa? Sepertinya ada sesuatu yang biasa aku lihat di perempaun lain dari rani. Sejenak aku termenung. Dan akhirnya aku mendapat jawabannya. Jilbab biru muda itu. Itu adalah jilbab laila yang biasa dia pakai ketika kuliah. Garis-garis biru tua melikar disetiap ujung jilbab. Aku tersenyum. Mataku mulai berlinang. Hatiku sedih pikiranku kembali mengingat laila. Tapi aku mencoba untuk tegar aku kuat. Aku tidak ingin terlihat lemah dihadapan rani dan amar. Aku sudah berjanji pada laki-laki disampingku ini untuk tidak bersedih lagi. Sesaat kami terdiam dan suasana sunyi menghiasi pertemuan kami pagi itu. Lalu aku berkata
“ini untuk kamu” lalu aku memberikan sebuah buku pada perempuan yang masih mengenang sahabatnya
“apa ini mat?” jawabnya menarik buku itu dari tanganku “buku? Untuk aku” tuntasnya
“itu janjiku dulu padamu” kataku
Rani melihatnya. Amar hanya diam menundukkan kepala.
Cahaya Senja Untuk Laila.” Sesaat dia diam “akhirnya selesai juga buku ini. Sudah lama aku tunggu-tunggu aku penasaran dengan tokoh perempuan yang kau katakan itu. Selain aku laila....” ucapnya seketika dia diam.
Mata rani berlinang terkenang dengan sahabatnya. Selain dirinya, Laila juga menanti-nanti buku yang dipengang oleh rani. Mereka sudah berjanji akan membacanya bersama ketika aku menyelesaikan buku itu. Tapi janji itu tinggal kenangan. Kini hanya rani seorang diri yang dapat membacanya.
Aku tersenyum tegar. Aku mencaba menguatkan hatiku yang sebenarnya juga sedih. Amar melihat ke rani. Linangan air mata rani menjadi butiran air yang mengalir pelan dipipi merahnya.
“iya, laila juga menunggu-nunggu ingin membaca buku ini. Dulu dia sangat teringin sekali membacanya, dia memaksaku untuk memberi jawaban siapa laila dalam bukuku itu, tapi aku tidak memberi jawaban. Aku ingin dia sendiri yang mencari jawabannya. Waktu itu buku ini juga belum selesai dan sekarang sudah selesai tapi sayangnya laila sudah tiada. Allah lebih sayang padanya”
Rani semakin sedih mengingat itu. Air matanya semakin deras keluar. Matanya masah, wajahnya memerah. Amar mencoba untuk meleraikan suasana agar tidak tegang.
“tapi laila pasti senang kalau kamu sudah menyelesaikan buku ini. Walau pun dia tidak bisa membacanya, setidaknya sahabat baiknya bisa memwakili menemukan jawaban dari pertanyaan laila” amar mulai menenangkan rani.
Tangisan rani semakin kencang, isaknya terdengar ditelingaku. Amar terheran. Adakah salah dari ucapannya? Begitu kiranya dia bertanya dalam hati.
Aku tersenyum untuk menguatkan rani yang menangis. Aku melirih.
“sudah ran kamu jangan bersedih seperti itu lagi tidak baik. Aku tahu kamu sayang pada laila. Tapi Allah lebih sayang padanya. Laila itu hanya titipan Allah. Kita harus terima bahwasanya laila itu bukan milik kita selamanya. Kita semua akan menempuh masa-masa kematian juga. Untuk sekarang yang terpenting kita selalu ingat Allah dan mendo’akan laila, jangan terlarut dalam kesedihan ran, jika laila tahu kalau sahabatnya selalu sedih pasti dia akan marah padamu”
Kata-kataku langsung mengenai jiwa rani. Dia melihatku. Dia tersenyum. Aku melihat hatinya sedikit tegar. Dia menghapus air matanya. Amar melirikku. Dia memasang wajah bingung melihatku berbicara setegar itu pada rani. Dia tersenyum bangga. Jiwaku mulai bangkit dari kesedihan. Aku banyak belajar dari laila kekasihku. Selama ia sakit aku tidak pernah ia mengeluarkan air matanya walaupun aku tahu dia sangat kesakitan. dia wanita yang kuat dan tegar. Keikhlasan hatinyalah yang membuat dia menajdi perempuan yang tegar menerima cobaan dan takdir sang Ilahi.
Laila telah pergi untuk selamanya. Dia menunggu kami di syurga Allah. Didunia ini kami akan membekali diri dengan ketakwaan pada Allah seperti yang diajarkan oleh laila pada kami. “jika kita mau bertemu Allah, maka banyaklah bertakwa padanya”
Kini aku telah membuka cabang tokoh buku yang baru. Sudah ada tiga cabang yang tersebar. Alhamdulillah selalu ramai dikunjungi oleh para penikmat dan pencita Allah. Aku, amar dan rani juga membuka swalayan untuk siswa, mahasiswa dan masyarakat umum. Selain menjual buku-buku islami kami juga menyediakan segala kebutuhan alat tulis, percetakan, printing, dan studio foto. Swalayan itu kami berinama swalayan Purnama Sari. Kami ambil dari nama sahabat terbaik kami kekasihku Laila Purnama Sari.
Kami memperkejakan sekitar 1000 karyawan, alhamdulillah usaha kami berjalan dengan baik. Setengah dari penghasilan kami sumbangkan pada panti asuhan dibawah naungan kampus kami. Selain itu, kami juga memberikan beasiswa kepada anak-anak miskin yang memiliki semangat tinggi untuk menuntut ilmu.
21
DAN CAHAYA SENJA UNTUK LAILA
Kepergian laila telah sampai ketelinga langit sahabat SMA ku. Ketika mendengar kabar itu, dia langsung menelponku. Langit kaget. Dia menangis. “mengapa secapat ini? Aku sudah berjanji padanya untuk menemuinya setelah lulus kuliah nanti” begitulah kata bumi yang kudengar lewat telepon itu. Isak tangisnya membuat suara bumi tidak jelas didengar oleh telingaku. Bumi ikut berduka cita atas kepergian laila. Rasa cinta dulu pada laila masih terselip dihati kecilnya. Aku tahu itu. Tapi, ah sudahlah kenyataanya Allah lebih sayang pada laila.
Keindahan kota seberang masih memikat mataku. Jembatan yang berdiri diatas sungai yang mengalir itu sungguh menawan. Pesantren As’ad tampak dari kejauhan. Cahaya sore yang berwarna kuning keemasan memanjakan mataku. Sungguh indah rupanya. Cahaya senja itu seperti cahaya senja yang pernah ada ketika aku dan laila berjalan berdua melintasi jembatan ini. Masih ingat aku bertanya pada laila “apakah kau mau cahaya senja itu menjadi milikmu seorang?”
Waktu itu laila bingung mendengar pertanyaanku. Sesaat dia menatap wajahku dengan bingung. Dan dia berkata
“apakah bisa kau mengambilnya dan memberikan padaku?”
“bisa” jawabku
“caranya?”
“suatu saat akan kutunjukkan. Dan cahaya senja itu akan menjadi milikmu. Laila” lalu laila terseyum malu.
Kini cahaya senja itu telah miliknya. Dalam bukuku telah aku berikan cahaya senja itu padanya.
Dalam bukuku laila sangat senang ketika aku beri cahaya senja yang begitu elok dan rupawan padanya. Wajahnya seperti berbunga-bunga.
Betapa banyak manusia yang menjalani hidup apa adanya, biasa-biasa saja, ala kadarnya. Hidup dalam keadaan terbelenggu oleh siapa dirinya sebenarnya. Hidup dalam tawanan rasa malas, langkah yang penuh keraguan dan kegamangan. Hidup tanpa semangat hidup yang seharusnya. Hidup tanpa kekuatan nyawa terbaik yang dimilikinya.
Saya amati orang-orang di sekitar saya. Di antara mereka ada yang telah menemukan jati dirinya. Hidup dinamis dan prestatif. Sangat faham untuk apa ia hidup dan bagaimana ia harus hidup. Hari demi hari aku lalui dengan penuh semangat dan optimis. Detik demi detik yang aku dilalui adalah kumpulan prestasi dan rasa bahagia. Semakin besar rintangan menghadap semakin besar pula semangatk untuk menaklukkannya.
Namun tidak sedikit yang hidup apa adanya. Mereka hidup apa adanya karena tidak memiliki arah yang jelas. Tidak faham untuk apa dia hidup, dan bagaimana ia harus hidup. Saya sering mendengar orang-orang yang ketika ditanya, ”Bagaimana Anda menjalani hidup Anda?” atau ”Apa prinsip hidup Anda?”, mereka menjawab dengan jawaban yang filosofis,
“Saya menjalani hidup ini mengalir bagaikan air. Santai saja.”
Tapi sayangnya mereka tidak benar-benar tahu filosofi “mengalir bagaikan air”. Mereka memahami hidup mengalir bagaikan air itu ya hidup santai. Sebenarnya jawaban itu mencerminkan bahwa mereka tidak tahu bagaimana mengisi hidup ini. Bagaimana cara hidup yang berkualitas. Sebab mereka tidak tahu siapa sebenarnya diri mereka? Potensi terbaik apa yang telah dikaruniakan oleh Tuhan kepada mereka. Bisa jadi mereka sebenarnya adalah “seekor singa” tapi tidak tahu kalau dirinya “seekor singa”. Mereka menganggap dirinya adalah “seekor kambing” sebab selama ini hidup dalam kawanan kambing.
Setiap orang telah disiapkan oleh Allah cobaannya masing-masing. Entah itu cobaan baik ataupu tidak. Tinggal lagi bagaimana kita sebagai makhluknya menyikapi cobaan itu. Dengan keimanan dan ketakwaan yang istiqomah insyAllah cobaan seberat apapun akan terasa ringan. Demikian pula cobaan yang aku lalui. Dimulai dari cobaan yang berat bagi diriku. Terbelenggu dalam maksiat dan dosa-dosa. Datang seorang perempuan yang mengubah hidupku. Kedekatanku dengannya menumbuhkan benih-benih cinta diantara aku dan dia. Cintaku dan dia adalah cinta yang suci tidak ternoda oleh maksiat insyAllah. Cinta yang datang dari hati. Dia banyak mengajarkanku untuk mengenal Allah. Dia banyak mengajakku untuk mengenal siapa diriku sebagai ciptaan Allah. Apa bakat yang Allah titipkan padaku. Namun, aku sadari rasa sayangku padanya tidaklah sebanding dengan rasa sayang Allah padanya. Disaat aku telah mengenal Allah dan tahu siapa jati diriku Allah mengambilnya dariku. Cobaan terberat yang aku jalani dari Allah. Dengan lapang dada aku terima segenap takdir yang Allah rencanakan.
Satu hal yang aku ambil dari kisahku. Janganlah mencintai sesuatu itu secara berlebihan. Janganlah mencintai sesuatu itu dengan hati. Ketika Allah mengambilnya dari kita, maka hati akan terasa sakit. Maka cintailah Allah dengan sepenuh hati ketika sesuatu yang kita cintai diambil olehnya maka Allah senantiasa ada dihati kita.
Dalam tulisan terakhir dibukuku yang berjudul Cahaya Senja Untuk Laila, aku menulis sebuah kalimat mengatakan padanya “maafkan aku laila telah menjadikan kamu cinta keduaku. Sesungguhnya  Cinta pertamaku adalah Allah” 

Jumat, 15 September 2017

Emas Mutiara dari Tanah Melayu Jambi

Assalamu’alaikum
Hello sahabat sang imajinasi. Apa kabar? Sudah lama gak post karya-karya di catatan sang imajinasi. Kali ini sang imajinasi tidak menampilkan karya sastra seperti puisi, cerpen dan novel. Tapi kali ini sedikit membuat refresing pikiran. Siapa yang tidak suka traveling? Semua pasti suka. Apa lagi adventure dengan alam. Adventure adalah salah satu hobi sang imajinasi dalam menenangkan sejenak pikiran ketika libur semester.
Kebetulan ni “tiket.com” membuat sayembara dalam mengekplor keindahan alam Indonesia. Khususnya bagi daerah sahabat sang imajinasi yang memiliki tempat wisata yang jarang diketahui oleh orang. Uupss. Sangimajinasi tidak ketinggalan juga mau mengeksplor keindahan tempat wisata yang tersembunyi di daerah saya yaitu Jambi. Mau tahu tempat-tempat wisata di Jambi yang tersembunyi? Yuk, kita lihat selengkapnya. Capcus....

Ayo kita terbang ke Sumatera. Saya ingin bertanya. Bila sahabat sang imajinasi ditanya tentang Provinsi yang ada di pulau sumatera, apa yang ada diingatan sobat?. Yups, saya yakin pasti sahabat sang imajinasi akan menyebutkan medan, palembang dan padang. Sebenarnya masih banyak Provinsi yang ada di pulau Sumatera salah satunya Provinsi Jambi.  Saya yakin dari sahabat sangimajinasi tidak banyak mengetahui tentang Jambi. Jambi adalah salah satu Provinsi yang ada di pulau Sumatera yang bertetanggaan dengan Sumatera Selatan dan Sumatera Barat. Provinsi Jambi adalah provinsi yang cukup luas dan memiliki banyak potensi. Tapi sayangnya potensi ini tidak banyak diketahui oleh sahabat-sahabat sangimajinasi diluar sana.
Siapa yang tidak kenal dengan Zumi Zola Zulkifli (Zumi Zola)aktor terkenal tanah air. Sejak dua tahun yang lalu beliau memimpin Provinsi Jambi. Sebagai putera daerah beliau ingin Jambi dikenal oleh banyak orang dan pariwisata menjadi salah satu program beliau untuk mendongkrak nilai pendapatan Jambi. Beliau mengatakan Jambi banyak memiliki potensi wisata yang tidak kalah dari daerah lain.
Gubernur Jambi dan lacak (ikatan kepala, khas Jambi)
Berikut liputan Lukisan Allah yang tersembunyi di Tanah Jambi.
1.    Gunung kerinci
Siapa yang tidak suka naik gunung. Saya yakin sahabat sangimajinasi ada yang suka adventure naik gunung. Tidak hanya Sumatera Barat yang memiliki gunung. Jambi juga memiliki gunung yang diberinama gunung kerinci. Gunung kerinci ini terletak di daerah kabupaten Kerinci. Gunung kerinci merupakan gunung tertinggi dipulau sumatera. Dilereng gunung tertanam kebun teh hingga ribuan hektar. Kabarnya tes kerinci ini merupakan teh yang memiliki kualitas yang terbaik di Indonesia bahkan di Dunia. Bahkan ratu Belanda dan Inggris saja menjadikan teh gunung kerinci ini menjadi teh paforitnya. WAWWWW... (TribunJambi.com).
lambaian gunung kerinci jambi
Ribuan wisatawan baik dari luar maupun lokal setiap tahunnya menyaksikan keindahan pesona gunung kerinci. Tapi akhir-akhir ini, banyak kabar yang mengatakan gunung kerinci masuk dalam kawasan sumatera barat. Mendengar kabar itu, warga jambi khususnya warga kerinci meradang. Namun, Gubernur Jambi mengatakan “jangan takut, gunung kerinci masih milik Jambi” hhmppss syukur....
tuh lihat keren kan sobat...

Tak kalah pentingnya, gunung kerinci yang memiliki ketinggian 3.850 meter telah memikat orang nomor satu di negeri ini. Untuk informasi pada sahabat imajinasi bapak presiden Joko Widodo lebih dulu menaiki puncak gunung kerinci pada saat beliau tergabung MAPALA Universitas Gajah Mada pada tahun 1984 (TribunJambi.com). keren kan!
2.    Danau Gunung Tujuh
Kabupaten Kerinci tak habis-habisnya menyajikan pesona Jambi lewat keindahan alamnya. Kali ini danau gunung tujuh.
anugerah Tuhan  di tanah Jambi
Danau ini merupakan  gunung yang terletak sekitar kayu aro kabupaten kerinci, danau ini merupakan danau kawah yang tertinggi di Asia Tenggara. Sesuai dengan namanya danau ini terbentuk karena proses vulkanis dan dikelilingi 7 gunung yang sudah tak lagi aktif. Sobat, jika ingin mengunjungi tempat ini sobat akan menampuh waktu perjalanan 2 jam dari desa terdekat.
tidak kalah deh dengan raja ampat, Papua
Sobat “tiket.com” masalah keidahannya, Danau Gunung Tujuh ini tak kalah dari danau ranukumbolo di semeru ataupun danau batur di bali karena akan menawarkan sensasi yang berbeda dengan menawarkan ke eksotisan hutan tropis disekitarnya. Sobat, untuk memasuki kawasan ini, sobat bermula masuk ke desa diawal pendakian akan disuguhi perkebunan teh yang sangat indah dan luasnya persawahan sepanjang mata memandang.
sswweeettt kan bray.. ayo buruan ke Jambi
3.    Danau Kaco
Sahabat sang imajinasi yang baik hati, tempat wisata yang tersembunyi di Jambi selanjutnya adalah Danau Kaco, begitulah masyarakat Jambi memanggilnya. Kaco yang dalam bahasa Indonesia berarti kaca. Sobat, danau kaco memiliki air yang sangat bening kebiruan. Danau ini tergolong danau yang kecil tidak seperti danau-danau pada umumnya. Hanya berukuran luas sekitar 30x30 meter.
gak percaya, tuh lihat bening airnya..!! he
Sobat, selain airnya yang jernih kebiruan, kedalaman danau ini masih menjadi misterius dan belum ada yang tau pasti berapa kedalamannya. Sobat “tiket.com” keajabian dari danau kaco lainnya adalah danau kaco ini memancarkan cahaya yang terang saat gelap gulita, apalagi saat  bulan purnama pesona danau kaco ini akan tampak dengan jelas.
keren buat foto...
Meskipun akses menuju danau kaco ini tidak mudah, tidak menghilangkan rasa penasaran wisatawan untuk menyaksikan kilauan danau kaco. Untuk mencapai danau ini pengunjung harus berjalan kaki menyusuri hutan sekitar 4 jam perjalan, melelahkan memang tapi akan terbayar dengan pemandangan yang eksotis yang disugu alam sekitar.
Tuh, mereka aja kesini (My Trip My Adventure)
Sobat “tiket.com” informasi juga untuk sobat, bahwa danau kaco ini memiliki mitos akan lahirnya danau ini. Asal usul danau kaco bermula hadirnya sebuah cerita seorang putri yang ingin dipinang oleh banyak pemuda. Tanpa ragu mereka menitipkan bebatuan mulia pada Raja Gagak yang tak lain adalah ayah sang putri. Akan tetapi, keserakahan justru membuat Raja Gagak menodai putrinya sendiri. Setelah itu, putrinya pun dibenamkan ke dalam danau beserta harta pinangan tersebut.Dan danau ini jarang disentuh oleh masyarakat hingga keindahannya masih terjaga hingga sekarang.http://id.wikipedia.org/wiki/danau_kaco
4.    Geopark Merangin Jambi
Sobat “tiket.com” selanjutnya kita terbang ke Merangin. Surga tersembunyi di Jambi selanjutnya ada di Kabupaten Merangin. Beberapa hari yang lalu, pemerintah Provinsi Jambi mengadakan lomba Arung Jeram tingkat Nasional. Geopark Merangin menjadi tempat acara tersebut.
mantap bro. arusnya deres buuuangattts..
Sobat, Geopark Merangin memiliki luas 20360 kilometer persegi. Perjalanan menuju Geopark ini menempuh waktu 9 jam dari kota jambi. Geopark Merangin merupakan salah satu taman bumi terlengkap di Indonesia bahkan disejajarkan dengan geopark besar dunia yang ada di China dan Amerika dan menjadi salah satu jaringan Geopark Global UNESCO.
batunya sudah tua-tua bro..
Sobat, ditaman Geopark Merangin ini kita bisa menemukan berbagai fosil langka dari fosil hewan laut, batuan vulkanis, sedimen, metamorf dan bahkan fosil endemik pohon purba (Araucarixylon) yang diperkirakan berusia 300 juta tahun. Tapi sayang, dengan terakhir ini sedikit mengganggu ekosistem disini.
tuh lihat, airnya mengalir deras....
Sobat, kalau mengunjungi Geopark Merangin sayang rasanya kalau tidak mencoba arung jeramnya. Sobat “tiket.com” arung jeram di kawasan Geopark Merangin memacu adrenalin dan menawarkan sensasi yang sulit dilupakan karena sepanjang jalur akan disuguhi pemandangan alami dan beberapa air terjun dikanan kiri sungai. Jalur arung jeram Geopark Merangin cukup panjang sekitar 15 km. Penasaran? Sobat bisa mencobanya jika bertandang ke Jambi..
5.    Candi Muaro Jambi
Sobat sang imajinasi, tidak hanyajawa atau tempat lain yang memiliki candi. Di Jambi sendiri juga memiliki candi yang terluas di Asia Tenggara dengan luasnya mencapai 3981 hektar. Tak kalah pentingnya, candi muaro jambi ini luasnya mengalahkan candi borobudur magelang. Kkkkeeeren kan sobat.
candi tinggi
Candi muaro jambi terletak di kecamatan Maro Sebo Kabupaten Muaro Jambi. Candi tersebut diperkirakan berasal dari abad ke-11 M. Sobat, sejak tahun 2009 komplek Candi Muaro Jambi telah dicalonkan ke UNESCO untuk menjadi situs warisan dunia.
mantap brayyy...
Dikompleks Candi Muaro Jambi mempunyai beberapa candi yang menjadi objek wisata diantaranya candi Gumpung, candi kotomahligai, candi kedaton, candi astano, candi tinggi dan masih banyak lagi candi-candi yang menghiasi kompleks percandian ini.
candi gumpung, keren buat foto-foto bareng teman..
Sobat, untuk menuju kompleks candi muaro jambi hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit saja dari pusat kota jambi. Ditengah perjalanan, sobat akan disuguhi eloknya aliran sungai batanghari sungai terpanjang di Sumatera. Belum lagi deretan rumah tradisional khas melayu jambi hingga rimbunnya pepohonan buah khas jambi, durian dan duku.
6.    Gentala Arasy
Objek wisata selanjutnya adalah jembatang Gentala Arasy. Sobat, meskipun masih terbilang baru, tempat ini merupakan salah satu tempat dijadikan ikon kota khas jambi.
subhanAllah.. indah sekali bro...
Dibangun di atas sungai batanghari, jambatan ini khusus dibuat sebagai tempat wisata untuk para penduduk dan juga pengunjung Kota Jambi. Sobat, bila ingin mengunjungi Jembatan Gentala Arasy sebaiknya pada sore dan malam hari.
SubhanAllah. nikmat Allah mana lagi yang kamu dustakan...
Pada sore hari Jembatan Gentala Arasy akan terlihat indah dengan pancaran sunset sore. Dan pada malam hari Jembatan Gentala Arasy akan tampak mempesona dengan hiasan lampu warna-warni.
siap-siap aja melihat jembatan ini.... Jambi punya

Sobat, Jembatan ini memiliki bentuk berkelo-kelok seperti huruf S dengan panjang sekitar 530 meter. Sobat, Menara Gentala Arasy sendiri merupakan sebuah menara ikon yang menggambarkan mengenai sejarah penyebaran Agama Islam di Kota Jambi. Tidak sekedar menara biasa, menara ini juga dimanfaatkan sebagai museum Islam. Di Museum ini, sobat dapat melihat berbagai macam bukti dan sejarah perkembangan Islam di Kota Jambi.
cantik kan...
Oke sobat sang imajinasi, sampai disini dulu ya pertemuan kita. Yang jelas masih banyak tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi. Jika sobat ingin berkunjung ke Jambi jangan lupa hubungi saya ya.. hehe,
Okaayy. Sampai ketemu lagi, nanti saya akan post tempat-tempat yang lebih up to datedari Jambi.. bye... bye...
Assalamu’alaikum....
yyukkk, ke candi muaro jambi


salam hangat dari saya

Inovasi Media Pembelajaran Berbasis Android

PEMBELAJARAN IPA TERINTEGRASI ETNOSAINS Kurikulum merdeka belajar memiliki empat karakteristik utama untuk mendukung pemulihan pembelajaran ...