HATI YANG BERSEDIH
C
|
erita,
cinta dan tawa bersama sang ayah masih begitu jelas teriang ditelinga laki-laki
yang duduk termenung itu. Desiran angin berembus menerpa ke wajah laki-laki
itu. Ia menatap ke langit biru nan jernih diangkasa. Matanya penuh harapan dan
kasih sayang tergambar dengan jelas dimata yang indah itu. Kecintaanya kepada
sang ayah dan ibunda membuatnya tak pernah lelah untuk berjuang melewati
kerikil kehidupan. Nasibnya yang malang selalu datang sejak ia kecil.
Kecerdasan dalam bertindak membuatnya selalu menjadi kebanggaan sang ayah.
Hingga membuat ia dibenci oleh saudaranya. Hingga sang ayah menghembuskan nafas
terakhirnya. Kini kisah itu menjadi cerita lama masa lalunya. Kini hanya
terdengar caci makian, hina dan kecongkakan jiwa yang ia dapat. Sungguh malang
nasib laki-laki itu.
Pagi itu
sekitar pukul 7 terlihat mentari membuka cahaya merahnya dengan malu. Dua tahun
setelah kepergian kedua orang tuanya. Ia terlihat tak bersemangat untuk
menjalankan hari-hari yang begitu suram. Di rumah yang mewah itu ia tinggal
bersama ke enam saudara laki-lakinya. Cinta dan sayangnya tak pernah pudar
kepada sang kakak dan adik-adiknya. Ia berjanji akan merawat dan memelihara
keluarga yang diamanahkan oleh sang ayah padanya. Laki-laki itu kembali melihat
pada langit biru yang terbentang itu. Mata indahnya terlihat berkaca.
Sekali-kali ia mengkedipkan matanya untuk menahan air mata agar tidak membasahi
pipinya. Laki-laki itu sungguh berbeda dengan saudaranya yang lain. Ia begitu
sederhana dan tidak terlena dengan harta yang dimiliki oleh kedua orang tuanya.
Matanya tak henti-henti menerawang kelangit biru. Entah mengapa yang membuatnya
selalu meratap seperti itu. Ditengah lamunannya tiba-tiba terdengar suara
memanggilnya dari kejauhan.
“kakak..”
Mendengar
teriakan itu, laki-laki yang termenung itu lalu menghapus air matanya yang
sedikit terjatuh dikelopak mata. Mendengar suara itu, laki-laki yang berdiri
itu mencari-cari suara yang memanggilnya. Tiba-tiba seorang anak laki-laki
kecil yang tampan datang menghampiri laki-laki itu. Dilihatnya laki-laki kecil
itu. Ia adik bungsungnya firman adik tercintanya, belahan jiwanya, mentari
hidupnya, jantung hatinya. Sesaat ia termenung melihat anak kecil itu. Dilihat
wajahnya yang lugu dan polos itu. Hancur sudah hati laki-laki yang berbaju
merah itu. Tidak pernah terpikir olehnya sang ayah dan ibunda akan meninggalkan
anak laki-laki kecil yang berdiri di
depannya itu. Ia menggenggam tangan kecilnya yang lemah. Ia melakukan itu bukan
untuk marah pada adiknya karena telah mengganggu waktunya tapi untuk menahan
agar air matanya tidak terjatuh dihadapan adiknya.
“kak,
nanti cibon ikut abang ya?” sebutnya
“kemana?”
tanyanya
“nonton
bioskop” sebutnya kembali.
Laki-laki
itu termenung sesaat mendengar perkataan adiknya. Rasa takut kejadian dua tahun
yang lalu yang menimpa kedua orang tuanya karena kecelakaan maut hingga
merenggut nyawa bidadari dan malaikat dalam hidupnya. Laki-laki itu tak ingin
kejadian itu kembali menimpa saudaranya yang lain, karena ia amat mencintai saudara-saudaranya.
Lalu laki-laki itu tersenyum lalu mendekati laki-laki kecil yang berdiri
dihadapannya itu. Lalu ia berjongkok tepat didepan anak kecil itu.
“nonton
lagi? Minggu lalu kan sudah?”
Tidak
ingin melukai hati adik tercintanya laki-laki itu sangat berhati-hati dalam
ucapanya agar tidak menyinggung perasaannya karena laki-laki itu tidak ingin
melihat adiknya pergi. Dan laki-laki itu tidak ingin adiknya pergi jauh dari
dirinya. Bibir kecil Anak itu terlihat mengerut mendengar jawaban dari sang kakak.
Dari ucapan dan senyuman sang kakak ia tahu jawabannya. Senyum sang kakak
memberi isyarat kalau sang kakak tidak mengizinkan ia untuk pergi. Anak kecil
itu terus menerus membujuk sang kakak agar mendapatkan izin untuk nonton
bersama saudara yang lainnya.
“boleh ya
kak, aa’, babas. Apung juga ikut. Kakak mau ikut? Nanti cibon tanya sama abang”
Senyuman
laki-laki itu terlihat menghilang, karena rasa takut masih bersarang dalam
hatinya. Mendengar rintihan sang adik yang terus menerus membujuknya hati laki-laki
yang khawatir itu pun luluh mendengar ucapannya. Suara kecilnya telah lelehkan
hatinya yang sangat berat untuk melepaskan sang adik pergi jauh darinya.
Laki-laki itu kembali tersenyum pada sang adik. Dia ingin melihat adiknya
bahagia ia tidak ingin melihat saudara-saudaranya bersedih dan kesusahan.
“iya
sudah cibon boleh pergi. Kakak dirumah saja. Kalau kakak pergi yang jaga rumah
siapa?” sebut laki-laki itu pada sang adik
Mendengar
itu anak kecil yang berdiri itu tersenyum lebar. Tanpa berkata-kata lalu ia
mencium pipi sang kakak dan langsung melarikan diri dari hadapan sang kakak.
“terima kasih kak”. Ucapnya.
Laki-laki
yang berjongkok itu tak bersemangat rupanya untuk membangunkan tubuhnya. Rasa
takut dan khawatir yang mendalam terlihat memancar dimatanya yang indah itu.
Sekali-kali ia menahan diri untuk tidak berpikir yang lain-lain pada sang adik
tercinta. Angin sepoi pagi menerjang kulit laki-laki yang takut itu.
Digenggamnya kembali tangan kecilnya itu. Ia melakukan bukan untuk menahan rasa
dingin angin pagi yang berhembus, namun untuk menahan rasa takut didalam
hatinya.
Rasa
takut laki-laki itu kembali terlihat. Sekitar pukul 11 siang adik dan
saudaranya telah bersiap untuk pergi menonton bersama. laki-laki yang takut itu
meniti satu persatu anak tangga. Ia melangkah dengan pelan. Mendekati
saudaranya yang telah berkumpul dan bersip untuk berangkat menonton.
“kak, aa’
sudah ganteng belum?” sebut adiknya
“sudah” Jawab laki-laki itu tersenyum penuh khawatir.
“babas bagaimana
kak? Rambut babas sudah rapi belum?” tanya bastian
Dilihatnya
rambut kribo adiknya. Laki-laki itu melihat-lihat disela-sela rambutnya yang
agak sedikit acak-acak karena gesekan tangan iqbal saat mereka bergurau didalam
kamar.
“cibon
gimana kak?” tanya adik bungsunya
Laki-laki
itu tersenyum melihat adiknya itu. sungguh tampan rupawan, sebutnya didalam
hati. Laki-laki itu tak hentinya melihat kearah adik-adiknya. Dilihatnya satu
persatu adiknya yang tampan itu. dilihatnya pula abang-abangnya yang terlihat
tampan memakai baju kaos putih sangat serasi dengan celana yang dipakainya.
Laki-laki itu tersenyum melihat kegagahan sang abang. Sesaat laki-laki itu
termenung menatap wajah sang abang. Hatinya kembali bersedih ia teringat sang
ayah, dilihatnya wajah abangnya dengan jelas mata, hidung, bibir sungguh sangat
serupa dengan sang ayahnya. Sungguh itu membuat laki-laki itu sedih. Percakapan
terdengar diantara saudaranya, ada yang terlihat membersihkan bajunya yang
kotor ada pula yang bertingkah tidak jelas.
“ayo
cepat. cibon, aa’, babas duduk dibelakang sama abang” sebut abangnya
Sang
abang kian mendesak adik-adiknya untuk bergegas menaiki mobil yang sudah
terparkir dipedan rumah yang megah itu.
“cibon
duduk didepan, sama mas juga aconk”
sebut cibon sedikit membangkang.
“tidak
bisa cibon, kalau cibon duduk didepan nanti muk susah nyetirnya”
Mendengar
itu anak kecil yang berbaju hitam itu mengikuti perkataan sang abang.
Detik-detik perjalanan mendekati. Laki-laki yang tak berdaya itu menyaksikan
kepergian saudara-saudaranya. Dari balik pintu yang putih itu ia melihat dengan
jelas mobil hitam melaju dengan pelan, lambaian tangan sang adik terlihat
dengan jelas dimata laki-laki yang berdiri itu. Lalu ia membalas lambaian
tangannya.
Kini
tinggalah seorang diri laki-laki yang terluka itu. Sungguh malang nasibnya. Tak
pernah mendapatkan kasih sayang dari abang-abangnya. Disaat kesendiriannya ia
mencoba menghibur diri untuk melihat-lihat album foto kenangannya masa lalu.
Diambilya foto-foto yang sedikit usang itu dari lemari kecilnya. Dibuka lembar
pertama ia melihat keakraban fotonya besama saudara-saudaranya, lalu ia
tersenyum kecil. Lalu ia membuka kembali lembar kedua dari album foto itu.
Tiba-tiba ia termenung sambil mengusap foto itu dengan jarinya. Terlihat
senyumnya menghilang. Entah apa yang dilihat oleh laki-laki itu hingga ia
termenung tak bergerak sedikit pun. Air matanya mengalir pelan keluar dari
sela-sela kelopak matanya yang indah itu. Mengapa laki-laki itu menangis?
Dirabanya kembali foto yang ditangannya. Ternyata itu foto ia bersama ayah dan
ibundanya. Sungguh pilu hati laki-laki itu. air matanya tak terbendungi keluar
dari selaput mata yang mulai layu itu. Diciumnya foto itu. Ia menangis dengan
kencang mengingat kisah yang ada difoto itu bersama sang ayah dan ibundanya.
Sungguh tak bisa terlukiskan hati laki-laki itu. Begitu lengkap penderitaannya.
Ditinggal pergi saudaranya seorang diri, dan kini ia mencoba menghibur diri
dengan melihat kisah masa lalunya namun air mata yang keluar saat melihat itu.
“ayah,
bunda. Kakak, rindu....” sebut laki-laki yang menangis itu.
Tak kuasa
menahan getir hati yang tak kunjung
berkesudahan, lalu laki-laki itu pergi dan meninggalkan album foto yang
terbuka lebar di atas mejanya. Ia tidak ingin bersedih terlalu lama mengingat
masa lalunya. Laki-laki itu pun pergi ketempat biasa ia menghilangkan rasa
sedih. Laki-laki yang berjalan itu membawa buku ditangannya. Ia menuju
kebelakang rumah yang indah dengan dihiasi tanaman yang cantik, dengan kolam renang
yang indah. Dipendopo kecil itu laki-laki itu mulai menulis ceritanya, setiap
goresan itu, terlukis kisahnya bersama hidupnya, kasih sayangnya lenyap dimakan
kecongkakan jiwa saudaranya. Laki-laki yang malang itu selalu meratap
kesedihannya dalam setiap bait, baris, kalimat yang ia tulis. Waktu tak
berhenti bergerak, mentari mulai condong ke ufuk barat, memberikan isyarat bila
kegelapan malam akan segera datang. Dua jam telah dilewati laki-laki yang
malang itu menulis dengan buku kecilnya. Matanya tertatap pada jam dinding yang
terus berdetak. Kegelisahan hatinya terlihat saat menunggu saudaranya yang tak
kunjung pulang. Kegelisahan hati yang tak terbendungi. Dilihatnya telepon yang
ada disampingnya, ingin rasanya laki-laki itu menekan tombol telepon itu untuk
segera menanyakan keberadaan saudaranya. Namun apa dayanya laki-laki yang
terduduk itu, sungguh itu bukanlah langkah yang diharapkan oleh saudaranya. Ia
takut bila saudaranya semakin membenci dirinya bila ia menelpon abangnya.
Kegelapan malam mulai terlihat cahaya mentari tak terlihat dimata lagi. Hanya
terdengar suara jengkrik. Sunyi sepi terlihat dalam rumah mewah itu. laki-laki
itu semakin gelisah saat ia melihat jam dinding yang telah menunjukkan pukul
7.30 kegelisahan hatinya semakin mencuat, matanya tergambar rasa takut pada
diri saudaranya. Hawa sejuk mulai terasa, suasana sunyi terlukiskan dalam rumah
itu. hanya terdengar suara televisi yang dilihat laki-laki itu untuk mencoba
menghibur dirinya.
Beberapa
saat dalam penungguan itu, laki-laki itu mendengar suara mobil dari luar rumah,
terlihat sinar cahaya lampu mobil yang masuk disela-sela pintu rumah yang masih
terbuka. Bergegas laki-laki itu melihat kedatangan saudara-saudaranya.
Dilihatnya satu persatu saudaranya yang turun dari mobil hitam itu. hati
laki-laki itu sedikit bahagia, saat melihat adik bungsunya terbaring tertidur
di rangkulan abangnya.
“sini,
biar kakak yang bawa tas abang?” sebut laki-laki yang tergopoh-gopoh itu
Abangnya
tak menangkap ucapan laki-laki itu. Dia tidak pernah dihiraukan. Sedangkan
laki-laki yang menggendongkan adiknya itu terus melangkah menuju kamar. Melihat
sikap abangnya, laki-laki yang bahagia itu hanya tersenyum. Senyum penuh
kekecewaan.
“aa’,
babas sudah makan?”
“sudah
kak,” jawab singkat bastian “babas mau tidur sudah ngantuk”
“ya,
sudah. Sekarang kekamar, istirahat. Jangan lupa bersih-bersih”
Bastian
dan iqbal pun melarikan diri dari hadapan pemuda yang sendirian itu tanpa
mengucapkan kata-kata. Lalu laki-laki itu pun segera melarikan diri kekamar
untuk melihat adik-adiknya yang letih itu.
******
Mentari
pagi bersinar cerah. Langit pun begitu jernih, burung-burung berterbangan,
melompat dari satu ranting ke ranting lainnya. Hawa pagi yang hangat menemani
sarapan keluarga di rumah mewah itu. satu persatu penghuni rumah menuju meja
makan, telihat dimeja makan telah dihidangkan berbagai macam masakan. Semua berjajar duduk dengan rapi.
“masak
apa kak?” tanya rivandi yang baru tiba
di meja makan
“nasi
goreng, mie goreng juga ada. Apung mau apa?”
“nasi goreng saja”
“muk,
nanti apung pulangnya agak sore. Soalnya apung mau latihan basket disekolah”
Sesaat
suasana sunyi. Hanya terdengar dentingan piring dari bastian yang tengah
melahap makanannya. Pemuda yang bertanya itu berkali-kali memandang wajah
abangnya untuk menunggu jawabannya. Lalu abangnya menganggukkan kepala
mengatakan iya. Lalu rivandi segera mengambil piring yang telah berisi nasi
goreng dari tangan laki-laki yang duduk disampingnya itu.
Setelah
percakapan dan sarapan itu selesai, semua pemuda itu bergegas melangkah
mengambil peralatan sekolah dan kerjanya masing-masing. Hadi abang tertua
mengambil tas hitam yang diletaknya diatas kursi tak jauh dari tempat duduknya.
Sugiarto anak kedua itu mengambil kunci mobilnya dan siap untuk mengantarkan
adiknya kesekolah. Alan dan rahmat memegang baju praktikum yang akan dilakukan
di kampusnya. Sementara itu, samir laki-laki yang malang itu melihat
adik-adiknya pergi kesekolah, ia tersenyum ketika melihat adik-adiknya
melambaikan tangannya tanda mereka akan berangkat kesekolah. Sementara itu
abang-abangnya tak memperdulikan dirinya. Lalu laki-laki itu membersihkan meja
makan yang agak kotor karena ada nasi yang terjatuh. Dengan telaten laki-laki
itu menjalankan pekerjaan yang biasa ia kerjakan sejak 2 tahun silam. Setelah
menyelesaikan tugasnya, laki-laki itu pun bergegas mengambil tasnya yang akan
dibawa ke kampus. Dilihatnya sejenak peralatannya, takutnya ada yang
terlupakan. Rasa tak ada yang terlupakan laki-laki itu pun segera meninggalkan
rumah yang mewah itu.
Satu
persatu laki-laki itu menyusuri bebatuan tua yang tersusun di alun-alun kota,
kehulu dan kehilir mobil dan motor melintasi setiap jalan. Dihalte itu
laki-laki yang berbaju putih itu tegak berdiri menunggu angkot yang lewat.
Beberapa menit, dilihatnya kekiri kekanan tak ada satupun angkot lewat. Mentari
semakin meninggi. Panas pagi agak menyengat. Keringat kecil sedikit membasahi
bajunya. Di balik keramaian mobil yang lewat, tak sengaja laki-laki itu melihat
mobil hitam melintas dihadapannya. Laki-laki itu melihatnya dengan wajah yang
heran, sepertinya laki-laki itu mengenali mobil itu. setelah dilihatnya dengan
jelas, ternyata laki-laki yang berada didalam mobil itu adalah sugiarto
abangnya. Sampai hati laki-laki didalam mobil itu tak berhenti untuk mengambil
laki-laki yang kepanasan itu. dia hanya melihatnya dan lewat tanpa
memberhentikan mobilnya. Sedangkan laki-laki yang berdiri di halte itu memberi
senyuman dan menganggukkan kepalanya memberi hormat kepada abang tercinta.
Sepertinya laki-laki dihalte itu tak bersedih. Sudah biasa dia mengalami hal
seperti itu. sesaat sesudah itu, sebuah angkot melintas dihadapan laki-laki
yang telah lama menunggu itu dan ia pun segera menaiki angkot
langgannanya.
Suasana
panas terasa hingga pelosok kota, didalam kelas tempat samir belajar pun terasa
panas, terlihat berkali-kali ia mengusap keringat dikepalanya. Samir membuka
buku tulisannya, entah apa yang ia tulis, dalam kepanasan itu terdengar
percakapan teman-temannya. Ditengah menanti pelajaran tiba-tiba dekan fakultas
memanggilnya. Belum sampai didekat samir dekan itu dengan lantang membuka
amplop putih dari dalam tas nya.
“samir,..”
Dengan
tertawa lepas dekan tersebut melangkah mendekati samir yang tengah duduk. Samir
melihatnya dengan heran. Tak biasanya pak dekan menemuinya dikelas. Perasaan laki-laki
itu agak aneh mungkin ada tugas besar dari kampus.?
“bapak,
sudah lama mencari kamu samir. Ada proyek untuk kamu?”
Ucap pak
dekan dengan semangatnya.
“proyek
apa pak dekan? Proyek bangunan? Atau proyek membangun jalan kampus baru?” ledek
laki-laki yang duduk itu sambil tertawa kecil.
“ah,.
Samir. Bapak kali ini serius. Kamu jangan bercanda. Bila kamu main-main dalam
proyek ini akan berakibat fatal”
“haha..
bapak terlalu serius. Memang proyek apa toh pak dekan?” tanya laki-laki yang
duduk itu.
“ini coba kamu baca”
Pak dekan
memberikan amplop putih dari tangannya kepada samir yang tengah duduk itu. Lalu
laki-laki itu membangunkan tubuhnya dan
mengambil amplop dari pak dekan yang
terlihat wajahnya agak serius. Hati laki-laki itu sedikit takut, hatinya
bergetar membuka amplop putih itu. Lalu laki-laki itu pun membaca satu-persatu
kalimat setiap baris dalam surat itu. Dalam menghayati kalimat demi kalimat
dari surat itu, pak dekan berkali-kali menjelaskan lebih detil isi surat yang
ditengah baca oleh samir.
“lembaga
editor meminta kepada pihak kampus untuk membuat novel. Bulan depan acaranya.
Kamu akan diundang diacara itu”
Laki-laki
itu tak menghentikan bacaannya, dia terus menerus membaca setiap kata dalam
surat itu. hatinya sungguh bahagia mendapat kepercayaan membuat proyek yang
besar ini. Langsung dari percetak buku editor yang telah melahirkan ribuan juta
buku-buku yang menjadi best seller. Setelah membaca surat itu. Samir memasukkan
kembali surat tersebut ke dalam apmlop
putih itu.
“mengapa
harus saya pak?” tanyanya
“apa
maksud kamu?”
“masih
banyak penulis yang hebat-hebat di kampus kita. Misalnya rangga, alin. Mereka
sudah profesional pak. Sudah banyak buku yang mereka ciptakan. Lagi pula, saya
tidak mengerti dalam menulis. Apa lagi dalam membuat novel. Itu bukan bidang
saya pak”
Mendengar
itu, pak dekan tertawa kecil. Perutnya agak geli menggelitik mendengar ucapan
mahasiswa asistenya itu.
“mengapa
kamu selalu menyimpankan setiap bakat yang ada pada kamu?”
“apa
maksud bapak?”
“bapak
sudah tahu kalau kamu mempunyai bakat dalam menulis. Minggu yang lalu bapak
tidak sengaja menemukan buku tulisan kamu yang tertinggal dalam ruangan bapak.
Lalu bapak membacanya. Sungguh samir,
kalimat tulisan kamu itu. Sungguh menyentuh hati bapak hingga bapak menangis
membacanya. Lalu bapak memberi tulisan itu kepada pak rektor dan pak rektor
punya teman dalam percetakan buku. Oleh karena itu kamu di beri kesempatan oleh
lembaga percetakkan itu untuk mengikuti sayembara menulis”
“tapi,,,
pak?”
Tak
sempat menyelesaikan pembicaraannya, pak dekan langsung memutuskan ucapannya.
Pak dekan tidak mau mendengar alasan dari asistennya itu.
“bapak
sudah baca tulisan alin sama rangga. Iya bagus. Bapak juga suka dengan tulisan
mereka” ucapnya
“nah,
bapak beri saja proyek ini pada mereka” laki-laki itu tersenyum memberi saran
kepada pak dekan yang selalu mendesaknya agar menerima proyek itu.
“tapi
tulisan mereka tidak seperti diksi dalam tulisan kamu. Kalimat
mereka tidak membuat hati bapak bergetar. Baik. Bapak tidak mau mendengar lagi alasan dari kamu.
Bapak percaya kepada kamu. Ini proyek besar jangan kamu sia-siakan. Ini akan
berdampak pada masa depan kamu. Kamu akan menjadi penyair yang terkenal samir”
Laki-laki
yang berdiri itu sekian memasuki dunia khayal dari pak dekan. Masa depan yang
cerah, menjadi terkenal. Hatinya bimbang untuk menerima proyek itu. Bila dia
menerima proyek itu, dia akan pergi meninggalkan keluarganya, adik-adiknya. Itu
tidaklah mungkin dilakukuan oleh laki-laki dalam kebingungan itu. bila dia
menolak, sungguh sombongnya dia, telah diberi kepercayaan oleh pak dekan untuk
melaksanakan proyek itu. sungguh hatinya semakin bimbang.
“ok.
Bapak tunggu jawabannya dua minggu lagi. Bapak akan menemukan kamu kembali.
Berpikirlah, jangan kamu sia-siakan ini”
Lalu pak
dekan melarikan diri dari hadapan laki-laki yang masih bediri itu. berkali-kali
ia melihat amplop putih ditangannya. Sunggu amplop ini telah membuat hatinya
gundah.
“aku
tidak mengerti dengan pak dekan. Mengapa dia memberi proyek itu padaku”
Ditengah
terik matahari yang sangat panas. Samir laki-laki yang gundah itu duduk dibawah
pohon besar yang rindang. Udara dibawahnya sangat sejuk. Tiupan angin sangat
dingin menjejukkan hati yang gundah. Terlihat seorang pemuda yang duduk
disamping samir. Pemuda yang berbadan tegap, putih tampan rupawan. Berperawakan
seperti rahmat adiknya. Amar namanya. Pemuda yang banyak bakat. Pemuda yang
hebat. Pemuda yang selalu mendapat penghargaan dari kampus. Di tengah terik
matahari yang menusuk ubun-ubun amar mendengarkan penjelasan samir yang tak
pernah selesai dengan kegundahan hatinya.
“itu
tandanya pak dekan percaya sama kamu mir”
“tapi aku
tidak bisa menulis. Apa lagi membuat novel, tidak mudah mar. Itu bukan bidang
aku”
“kamu mau
menolak permintaan pak dekan? Jangan samir. Pak dekan sudah banyak berkorban
untuk kita, untuk kampus”
Lalu
samir berdiri. Dia terus memberi penjelasan kepada sahabatnya yang duduk itu
tentang kegundahan hatinya yang tak menentu.
“aku tahu
mar, tapi aku takut. Bila nanti kalau aku menerima dan tulisan aku tidak bagus.
Aku jadi malu, pak dekan juga malu. Semua akan menerima malunya. Itu karena
tulisan aku tidak bagus.”
Kemudian
amar pun berdiri mendekati sahabatnya yang gundah itu. perlahan-lahan amar
mendekati samir, perlahan-lahan pula amar memberi saran dan penjelasan pada
samir.
“jangan
pesimis seperti itu, mir. Kamu belum mencobanya. Tidak salahkan bila kamu
mencobanya dulu.” Ucapnya kemudian “sampai kapan kamu berbohong kepada setiap
orang. Sampai kapan kamu akan menyimpan bakat kamu dalam menulis samir? Pak
dekan tidak salah memilih kamu. Aku percaya kamu memiliki kemampuan yang hebat
dalam menulis. Bila kamu bimbang tidak bisa menulis dalam sayambara proyek itu,
coba beri tulisan kamu yang lain kepada pak dekan buktikan kepadanya bila kamu tidak
main-main dalam proyek ini”
Mendengar
itu, laki-laki yang tak berekspresi itu termenung. Matanya tak bercahaya.
Matanya menatap dengan gundah.
“kapan
kamu memberi jawabannya?”
“dua minggu lagi”
“masih
lama. Masih ada kesempatan untuk menulis. Kamu buat cerita pendek tentang apa
saja. Setelah selesai kamu berikan kepada pak dekan. Jangan bimbang seperti itu
samir. Kamu tidak sendirian ada aku disamping kamu”
Hati
samir bergetar mendengar ucapan amar. Tak terbendungi getaran hatinya yang
selalu bergejolak. Sungguh amar teman yang baik. Sahabat sejatinya. Dilihatnya
wajah amar yang berdiri disampingnya itu. ditatapnya wajah yang tampannya. Mata
yang penuh inspirasi. Samir tersenyum sedikit legah mendengar ucapan amar. Ia
menjadi bersemangat menulis karena dorongan semangat dari sahabatnya.
KECONGKAKAN JIWA
K
|
egundahan
hati samir membuatnya tak enak menjalankan aktifitasnya. Kepercayaan pak dekan
padanya membuat laki-laki itu tidak enak
bila menolak permintaan orang yang berjasa dalam hidupnya. Malam yang dingin,
hujan rintik kecil membasahi rumput dihalam rumah mewah itu. hiruk pikuk
terdengar dari percakapan saudara-saudaranya. Didalam kamar besar itu. samir
selalu menatap ke langit yang gelap gulita, mencoba mencari jawaban atas
kegundahan hatinya. Sungguh ia begitu gelisah. Matanya yang kecil itu terlukis
dengan jelas betapa gundahnya laki-laki yang berkaca mata itu. sesaat terlintas
dipikirannya atas perkataan sahabatnya amar. Untuk mencoba menulis cerita
pendek untuk diberikan kepada pak dekan dalam tanda bukti sayembara itu. ia
bimbang, bila saja ia menerima proyek tersebut maka ia akan meninggalkan
saudara-saudaranya dan akan pergi meninggalkan tanah kelahirannya. Itu tidaklah
akan terjadi pada diri laki-laki yang bersedih itu. beberapa menit setelah
terdiam membisu. Laki-laki yang berdiri itu mencoba memulai menulis untuk
memberikan tanda keseriusan dalam sayembara proyek itu. kelincahan tangan dan
begitu gesit pemuda itu menulis satu per satu kalimat yang indah. Hawa dingin
menerpa masuk disela-sela pintu jendela yang terbuka, laki-laki itu begitu
khusuk menulis hingga ia tak mendengar panggilan abangnya yang baru saja pulang
kerja.
“samir..”
Laki-laki
itu tak menghiraukan panggilan abangnya karena ia begitu khusuk menulis bukunya
yang berjudul “mentari yang kelam” untuk 3 hari lagi akan diberikan kepada pak
dekan.
“samir” sebut abangnya lagi
Namun,
laki-laki yang menulis itu tak menampik suara yang memanggilnya. Ia tetap
menulis dengan tenang. Melihat perkataanya tidak dianggap oleh sang adik, laki-laki
yang berdiri di balik pintu itu mendekati laki-laki yang menulis itu dengan
langka yang cepat dan berkata dengan nada yang agak kasar.
“samir.
Apa yang kamu lakukan? Kamu tidak dengar berkali-kali aku memanggil kamu”
Laki-laki
yang menulis itu terkejut dengan kedatangan abangnya tiba-tiba. Laki-laki itu
memberhentikan tulisannya karena ia tidak ingin abangnya tahu kalau ia sedang
menulis. Karena abangnya tidak suka melihat samir menghabiskan waktunya untuk
menulis.
“muk?
Maaf muk, samir tidak mendengar panggilan muk” sebut laki-laki yang duduk itu
“iya, iya
aku tahu. Karena kamu asik menulis. Apa ini? Ini apa?”
Laki-laki
itu mengambil tulisan dari tangan samir. Samir tak berdaya, tak kuasa ia untuk
melawan kepada sang abang karena ia sungguh adik yang patuh dan taat kepada
abang sebagai pengganti sang ayah.
“jangan
muk. Samir mohon jangan dihancurkan”
Lalu
pemuda yang kejam itu menggenggam kertas yang ada ditangannya. Dan melemparnya
diwajah samir yang berdiri didepannya itu. samir laki-laki itu hanya melihat
dengan kaku bagaimana abangnya berperilaku padanya.
“aku
sudah bilang sama kamu. Jangan menulis lagi. Apa yang kamu harapkan dari
tulisan itu, ha? Apa tulisan itu dapat
membantu menghidupkan masa depan kamu? Atau kamu mau memberi tahu kepada semua
orang atas penderitaan kamu selama ini, agar semua orang tahu kalau aku selalu
berbuat jahat kepadamu? Iya?”
“tidak
muk. Tidak seperti itu. Tidak ada niat samir untuk berbuat seperti apa yang muk
katakan”
Laki-laki
itu mencoba untuk membela. Namun laki-laki yang kejam itu selalu menyudutkan
samir yang matanya mulai berkaca.
“lantas
apa, Ha? Aku memang berbeda sama ayah. Cukup kamu dulu dapat perhatian lebih
dari ayah. Kini tidak ada lagi perhatian itu. kamu harus mandiri”
“muk..”
“kamu
ngelawan sama aku?”
Samir pun
terdiam membisu tanpa kata-kata. Dia tak pernah mendapatkan perkataan seperti
itu. sungguh laki-laki itu begitu kejam terhadap adiknya. Tidak pernah menjaga
perasaan laki-laki yang berdiri bersedih itu. sementara itu, adik-adiknya tak
mengetahui pergaulan samir dan abangnya di dalam kamar itu. sungguh hidup samir
tak seindah dulu.
“aku
capek, sekarang buatkan kopi. Antarkan kekamar. Jangan lama”Perintah laki-laki
yang kejam itu.
Sungguh
itu tidak adil bagi pemuda yang bersedih itu. sekian banyak caci makian dari
abangnya yang membuat hatinya terluka, dan abangnya selalu membuat samir
seperti pembantu dirumahnya sendiri. Dengan hati yang hancur samir menjalankan
perintah abangnya, ia kemudian langsung pergi kedapur untuk membuat kopi sang abang.
Dengan tetesan air mata, samir melangkah menuju dapur. Sesaat ia menahan air
matanya. Dilihatnya foto yang terpajang di dinding tepat diatas lemari yang
antik ibundanya, tangisannya tak terbendungi ia teringat pada sang ibunda dan
ayah. Lalu pemuda itu membawa kopi buatannya kepada sang abang yang telah
menunggu di ruang keluarga bersama saudara yang lainnya. Samir melangkah dengan
pelan, takut gelas yang dibawanya terjatuh. Penuh harap cemas laki-laki itu
membawa segelas kopi. Pikiranya tak menentu, air matanya hampir terjatuh namun
ia mencoba menahannya agar tidak terjatuh membasahi pipinya. Beberapa langkah
mendekati sang abang tiba-tiba dengan sengaja rahmat adiknya mendorong samir
dari belakang sampai ia terjatuh dan kopi yang ia bawa mengenai pakaian
abangnya. Semua terkejut begitu pun dengan adik-adiknya.
“ya, allah. Muk maaf”
“samir.
Apa yang kamu lakukan?” tanya sugiarto abangnya
“dia
sengaja muk numpahi minumanya. Biar muk tidak bisa minum” ucap rahmat adiknya
“tidak
muk, demi allah samir tidak sengaja, maaf muk, sini biar samir bersihkan”
Lalu
abangnya mendorong samir dengan sekuat hati. Dengan nada yang marah ia berdiri
dan mencaci laki-laki yang terjatuh itu.
“kalau
kamu tidak ikhlas membuat kopi untuk aku, jangan kamu lakukan. Aku tidak memaksa.
Mau jadi apa kamu? Kerja seperti ini saja tidak becus”
“maaf muk”
Samir
selalu memohon dan bersimpuh pada abangnya, ia merasa bersalah telah
menumpahkan kopi ke baju abangnya. Namun itu bukan salah laki-laki itu. itu
salah adiknya rahmat. Ia sengaja mendorong samir agar dia dapat menyaksikan
laki-laki itu di siksa oleh abangnya.
“maaf,
kamu bilang minta maaf. Panas, kamu tahu itu. ha? Terlahir tidak ada gunanya
lebih baik kamu mati saja samir”
“kalau
hidup itu menyusahkan orang lain lebih baik mati saja, mungkin itu baik. Biar
cepat masuk neraka” ucap adiknya alan
Memang
malang nasib laki-laki itu. sungguh hancur hatinya. Cacian dan kecongkakan dari
saudaranya selalu ia terima. Ia berharap akan ayahnya kembali membela dirinya
yang tak berdaya karena hatinya tak kuasa menahan amarah saudaranya.
“menangis?
memang air mata kamu itu bisa membuat hati aku luluh? Tidak, aku benci sama
kamu. Aku tidak pernah suka sama kamu. Kamu itu sudah membuat sial dalam hidup
kita”
Lengkap
sudah penderitaan laki-laki itu. dibalik cacian itu. keempat adiknya hanya
melihat kejadian yang dilakukan oleh abangnya kepada kakaknya yang tak berdaya
itu. ingin rasanya mereka menolong sang kakak, namun apa daya mereka. Tak dapat
berbuat. Karena mereka merasa takut pada sang abang. Lalu laki-laki itu semakin
disiksa, dipukul dan ditendang, dibawanya samir oleh sang abang ke kamar mandi
untuk memberi pelajaran kepada laki-laki yang menangis itu.
“ampun muk. Ampun muk”
Samir
merintih memohon kepada sang abang, namun sang abang dan saudaranya tidak
menghiraukan perkataan adiknya. Samir ditarik, hingga sampai dikamar mandi lalu
samir dibasahi dengan air yang sangat dingin.
“itu,
pelajaran untuk kamu. Biar kamu itu mengerti. Hidup itu jangan selalu
menyusahkan orang lain. Hidup itu jangan ada sandiwara. Tulis semua siksaan ini
dengan tulisan kamu itu”
“ampun muk, ampun”
Samir tak
kuasa menahan dinginnya air, ia selalu memohon kepada sang abang untuk
memberhentikan menyiram air padanya. Namun abangnya tak memberhentikan juga.
Rahmat pun begitu, tak henti-hentinya memukul dan menendang sang kakak yang
tengah kesakitan itu. tak kuasa menahan air mata, akhirnya samir menyerah, ia
tak berdaya ia pasrah kepada tuhan. Ia tak melawan dan berkata-kata lagi, ia
membiarkan dirinya dipukul dan ditendang dan sekujur tubuhnya dibasahi oleh air
yang dingin. Firman adik bungsunya menangis melihat sang kakak tercinta disiksa
sekian rupa, tak kuasa menahan hatinya melihat kakak terbaring tak berdaya.
Lalu ia menangis mencoba menahan tangan abangnya untuk berhenti menyiksa
lak-laki yang terbaring itu, namun ia ditahan masnya, hingga ia tak dapat
bergerak mendekati sang kakak.
“lepas
mas. Cibon mau menolong kakak”
Firman
memberontak untuk melepaskan gengaman tangan masnya. Namun ia tak dapat
melepasnya.
“tidak bisa.
kamu jangan ikut campur. Nanti kamu akan dimarahi muk”
Melihat
kakak terus disiksa. Akhirnya firman melarikan diri kekamar. Ia tidak ingin
melihat kesusahan sang kakak. Ia terus menangis hingga kekamar. Namun tidak
dengan bastian, iqbal dan rivandi. Mereka melihat dengan jelas kakaknya disiksa
oleh abang-abangnya. Seklai-kali mata mereka memandang kearah lain karena tidak
tega melihat sang kakak. Beberapa menit setelah itu. akhirnya abangnya berhenti
memukul dan menyiramkan air pada samir. Mereka pergi dan meninggalkan samir
sendiri terbaring lemas tak berdaya. Adiknya melihat itu dengan jelas, namun ia
tak berdaya menolong sang kakak, karena ancaman dari sang abang.
“jangan
ada yang membantunya. Kalau ada yang menolongnya muk akan pukul. Mengerti?” ucap
abangnya pada adiknya.
Ketiga
adiknya terdiam menganggukkan kepala tanda mengerti ucapan sang abang. Adiknya
melangkah pergi meninggalkan samir seorang diri dilihatnya laki-laki yang
terbaring itu sungguh kasihan.
Setelah
kejadian itu, samir telah membersihkan diri. Dan mengganti pakaiannya. Namun
sakit hatinya tak kunjung hilang setelah kejadian itu. samir duduk termenung
diatas kursi yang biasa ia duduk untuk menulis. Matanya tak henti-hentinya
mengeluarkan air mata. Dalam renungannya ia teringat betapa kejamnya
saudara-saudaranya seandainya sang ayah masih hidup, hidup laki-laki itu
tidaklah seperti sekarang. Dalam renungannya, tiba-tiba adiknya datang
menghampiri samir yang tengah duduk mengingat peristiwa yang telah menyakiti
hatinya.
“kakak?” sebutnya
Laki-laki
itu menghapus air matanya yang terjatuh di pipinya, ia tak ingin melihat
adiknya bersedih hati karenanya. Dipeluknya samir dengan erat. Sungguh hancur
sudah hati dan perasaan laki-laki itu. dengan penuh kasih sayang samir mencium
kepala sang adik yang sangat ia cintai.
“kakak tidak apa-apa?” sebutnya
Tak
tergambarkan lagi perasaan laki-laki itu. Air matanya tak tertahan lagi
olehnya, sehingga mengalir dipipi yang usang itu.
“tidak, kakak tidak apa-apa”
“kakak
menangis?”
“tidak. Kakak tidak menangis”
“mata
kakak merah berair”
“ah.
Sudah lah. Kakak tidak apa-apa. Cibon belum tidur?”
“cibon
sayang kakak? Cibon takut kehilangan kakak. Muk, abang, aconk, mas sudah jahat
sama kakak. Dulu waktu ayah masih hidup, kakak tidak pernah dilakukan seperti itu”
Oh tuhan,
kuatkan hati laki-laki itu. sungguh rapu hatinya. Air matanya selalu mengalir
hingga mengenai ubun-ubun adiknya. Berkali-kali ia mencium adiknya, sungguh
Adiknya begitu menyayanginya. Angin malam menusuk hingga tulang, hawa sejuk
menemani pergaulan antara kakak dan adiknya. Cakrawala yang gelap tanpa
bintang, begitulah isi hati samir saat ini. Rintik hujan tak juga reda, remang
lampu kamar memancarkan cahaya yang indah hingga mengenai dua beraudara yang
bersedih itu.
“kakak
tidak apa-apa. Muk melakukan itu, karena kakak yang salah. Kakak telah
menumpakan kopi dipakaian muk. Wajar kalau muk marah pada kakak” sebut samir
“itu kan
bukan salah kakak. Aconk yang salah, aconk dengan sengaja mendorong kakak
hingga jatuh kan?”
Samir
tersenyum. Dipelukinya anak kecil itu. sekian kalinya ia mencium kelapa
adiknya.
“itu
bukan salah aconk, aconk tidak sengaja menyenggol kakak”
“tidak
kak, cibon lihat sendiri. Aconk yang mendorong kakak. Cibon tidak mengerti
dengan orang-orang itu. mengapa mereka sangat membenci kakak? Cibon benci
dengan orang-orang itu”
“eh,
tidak boleh seperti itu. Aconk orang yang baik tidak mungkin aconk melakukan
itu sama kakak. Ingat pesan ayah. Kita tidak boleh saling membenci, dendam.
Kita bersaudara saling menjaga satu sama lain”
“tapi
mereka tidak pernah berpikir seperti itu, kak”
Laki-laki
itu termenung sesaatn merangkai kata-kata untuk menjawab pertanyaan adik
tercintanya. Sungguh hatinya tak enak untuk meladeni pertanyaan adiknya.
“cibon, sekarang tidur ya. Sudah malam besok sekolah. Lain kali kakak akan
menjawab pertanyaan cibon”
Alangkah pilunya
hati samir, melihat dirinya yang menjadi korban perilaku saudaranya. Tak kuasa
menahan gejolak jiwa yang terus menerus membuat air matanya bercucuran.
CURAHAN HATI
P
|
agi yang sedikit mendung, hawa dingin terasa
sangat sejuk dikulit. Semua orang terlihat sibuk mejalankan aktifitasnya
masing-masing. Hiruk pikuk suara knalpot motor terdengar dengan jelas oleh
samir yang tengah duduk di halte tempat biasa ia menunggu angkot untuk pergi ke
kampus. Hati yang terluka masih ia rasakan pedihnya. Namun ia tidak ingin
menjadi alasan untuk tidak berangkat kekampus untuk menuntut ilmu. Pemuda itu terlihat menunggu dengan sabar
angkot datang menghampiri halte tempat ia duduki itu. Ditangannya ia membawa
buku tulisannya untuk dilihatkan kepada amar sahabatnya. Buku yang nanti akan
menjadi sayembara dari kampus. Sekian lama menunggu akhirnya angkot yang
ditunggu-tunggu tiba juga. Samir langsung menaiki dengan hati-hati angkot
tujuan kampusnya.
Setiba dikampus
dilihat-lihatnya sekitar kelas belajarnya, tak begitu ramai rupanya pagi itu.
Mungkin karena hawa pagi masih dingin oleh karena itu mahasiswa datang agak
siang. Samir duduk termenung di bawah pohon itu. Sekali-kali matanya menutup
karena terkenang kejadian semalam. Diatas kursi yang mulai rapuh itu ia selalu
berharap kepada tuhan agar segera dibebaskan dari penderitaan ini. Dalam
lamunannya tiba-tiba ia terdengar seorang laki-laki memanggil namanya. Ia
terbangun dari lamunannya. Ia segera mencari-cari sumber suara itu. dilihatnya
dari kejauhan dekat fakultas ekonomi seorang pemuda melambaikan tangannya.
Samir tersenyum, ia membalas lambaian pemuda itu. Lalu kemudian pemuda itu
berlari mendekati samir yang duduk sendiri. Akhirnya amar dapat meraih tangan
samir dan amar pun duduk disamping samir yang selalu menundukkan kepalanya.
“bagaimana?
Sudah siap tulisannya?” tanya amar
Lalu
laki-laki itu membuka tasnya dan mengeluarkan buku tulisannya yang ia
selesaikan semalam. Dan memberikannya kepada amar yang tak melihat kearah
pemuda yang menunduk itu.
“ini,
coba kamu baca dahulu. Nanti kalau ada yang kurang bilang sama aku, nanti aku
akan perbaiki” pintanya
Amar
melihat pemuda itu, ia sedikit heran. Tak biasanya samir bersikap itu kepada
amar. Hari itu samir berbeda, tampak tak bersemangat suaranya tak kuasa untuk
keluar dari tenggorokan. Ia selalu menundukkan kepalanya. Amar mencoba menjawab
rasa penasarannya, namun ia tidak bisa.
“samir, lihat aku?” sebutnya
Namun
samir tak mengikuti perintah amar. Samir tahu, amar akan melihat wajahnya yang
lembam itu. Dan samir tidak ingin amar akan mendatangi kepada saudaranya.
“samir
lihat aku” pintanya lagi.
Tidak
ingin membuat amar marah, samir pun melihat kearah amar yang memegang
tulisannya itu. Betapa terkejutnya amar ketika melihat dengan jelas wajah
laki-laki yang duduk didepannya itu. Wajahnya penuh biru lembam seperti terkena
pukul. Sesaat amar termenung, tak bisa membayangkan keadaan sahabatnya itu.
“samir.
Kenapa wajah kamu?” tanya amar penuh khawatir
“tidak apa-apa”
“samir,
jujur dengan aku. Siapa yang melakukan ini?”
“melakukan
apa? aku tidak apa-apa mar”
Laki-laki
itu mencoba menutupi kejadian yang telah ia alami semalam. Ia tidak ingin
melihat amar susah karenanya. Ia juga tidak ingin melibatkan saudaranya karena
masalah ini.
“saudaramu?”
Laki-laki
itu hanya diam. Samir tak hayalnya menundukkan kepalanya. Ia mencoba untuk
tidak berkata apa pun.
“tolong
jangan kau sembunyikan. Siapa yang melakukan ini?”
Samir tak
juga menjawab. Dia hanya terdiam membisu. Dia juga tak melihat amar.
“bajingan,
aku akan temui dia” sebut laki-laki yang marah itu
Beberapa
langkah dari samir. Tiba-tiba samir menghentikan langkahnya.
“amar”
sebutnya kemudian “aku mohon jangan kau lakukan”
“tidak. Aku akan temui dia”
“amar,
aku mohon. Aku tidak ingin masalah ini menjadi panjang. Biarlah. Aku tidak
apa-apa”
Amarpun
mendekat samir yang berdiri dihadapannya itu. dilihat matanya yang mulai layu
itu, dilihat dengan jelas pula wajahnya yang penuh dengan kekecewaan. Amar
melangkah mendekati samir.
“mengapa
kau membiarkan dirimu disakiti? Aku tidak mengerti dengan dirimu? Lihatlah
wajahmu yang biru. Coba kau tengok bibirmu yang biru itu. Kau dipukuli, kau
dizalim oleh mereka. Kau tidak melawan. Ini yang namanya baik-baik saja?” sebut
amar
Samir
melihat laki-laki didepannya itu. dengan mata yang membesar, darah yang
mengalir degan derasnya. Dia tak enak, tubuhnya penuh amarah. Tangannya penuh
dendam. Wajahnya yang tampan seketika menghilang karena amarah itu. samir
laki-laki itu mencoba untuk menenangkan diri amar yang amarahnya tak elok.
“amar.
Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Ini hanya biasa. Percayalah”.
“tapi,
samir. Coba kamu lihat. Aku tidak tega melihat kamu seperti ini?”
“amar,
percayalah. Aku baik-baik saja?”
Mendengar
itu, amar tak berdaya karena rayuan sang sahabat. Angin sepoi yang menerpa,
daun-daun berguguran dengan indahnya. Begitu sejuk terasa dikulit. Samir
mencoba menutupi masalah yang tengah dihadapinya. Sekali-kali amar melihat
samir dengan wajah yang kasihan. Begitu malang nasib laki-laki itu.
Penderitaannya tak unjung juga berakhir. Terkadang terbesit dipikirannya untuk
mengakhiri hidupnya. Namun, ia tak ingin melakukannya. Karena ada orang-orang
yang selalu menyayanginya. Adik-adiknya, belahan jiwanya, jantung hatinya, dan
amar sang mentari yang selalu memberi energi semangat dalam hidupnya.
Lalu
kemudian dua laki-laki itu pergi menuju ruang dekan untuk menyerahkan tulisan
samir. Tepat pukul 10 pagi, mentari agak meninggi diatas kepala, hawa sejuk
berubah menjadi gerah, keringat bercucuran disekujur tubuh. Lalu pemuda itu
ahirnya dapat menemuan ruang dekan, terlihat didalam ruang itu dekan telah lama
menunggu.
“masuk”
kemudian “silahkan duduk” sebut dekan yang terlihat tampan dengan jas hitam
yang licin begitu serasih dengan celana yang sangat rapi.
“bagaimana?
Mana tulisannya?”
“ini pak”
Lalu
samir memberikan tulisannya ke dekan yang tak terlihat berwajah ceria.
“itu
belum selesai pak, baru setengah” sebut amar
Sekali-kali
dekan melihat-lihat tulisan samir.“mentari yang kelam” sebutnya “sepertinya
menarik, nanti saya akan baca”
“terima kasih pak” ucap amar
Samir
yang duduk tak bersemangat itu hanya bisa diam seribu kata, perasaan yang
semain gundah. Ingin rasanya ia menjerit sekuat hatinya.
“samir” sebut pak dekan
Samir tak
mendengar. Ia hanya menundukkan kepalanya. Melihat sahabatnya terdiam amar
semakin tak mengertin dengan tingkah laku samir. Perasaan yang terluka, hati
yang sakit teroyak oleh kecongkakan saudaranya telah membunuh semangat dirinya.
“samir” sebut sahabatnya
“ha, iya
pak. Adakah yang kurang dari tulisan saya? Nanti saya akan perbaiki” sebutnya.
Sungguh
samir tak kuasa mengingat kejadian semalam. Pergaulan saudaranya yang telah
menyakiti dirinya. Amar semakin tak mengerti, hari itu samir seperti orang yang
tida punya pendirian. Seperti orang yang bodoh. Hingga menjawab pertanyaan pak
dekan saja tak kuasa.
“tidak
samir, saya tidak mengatakan seperti itu. Nanti saya akan baca tulisan kamu”
Sesaat
suasana ruang dekan menjadi sunyi. Tak terdengar suara yang keluar dari ketiga
orang yang berbincang itu. Pak dekan melihat ke wajah samir yang tak sehat itu.
Ia melihatnya dengan heran. Wajah samir sungguh berbeda tak seperti apa yang ia
lihat seperti biasanya.
“samir, wajahmu?” sebutnya
Smir
melihat. Namun ia hanya tersenyum. Tak terlihat energi semangat diwajahnya yang
sedikit memudar itu.
“tidak apa pak” sebutnya
Pak dekan
hanya menganggukkan kepalanya dengan heran. Sementara itu amar sahabatnya
melihat dengan kekhwatiran, kekecewaan dengan ssikap samir yang berbohong.
Suasana sunyi itu tak lama. Lalu kedua pemuda itu keluar dari ruang dekan yang
besar itu.
“aku
tidak mengerti dengan kamu. Mengapa kamu selalu menyimpan masalah yang kamu
hadapi? Hingga berbohong sama pak dekan” sebut sahabatnya amar
“aku
tidak ingin menjadi beban pak dekan dan semua orang”
“beban?”
Langkah
amar terhenti. Sesaat ia menarik nafas panjang. Ia mencoba untuk merangkai
kata-kata untuk mengatakan hal yang terbaik untuk sahabat yang berdiri
dihadapannya itu.
“samir.
Aku sudah mengenalmu cukup lama. Begitu pun denganmu. Aku sudah anggap kau
sebagai saudaraku. Aku hanya menceritakan masalahku kepadamu. Karena aku
percaya padamu” sebut sami lagi
Samir
hanya terdiam mendengar setiap kalimat-kalimat yang keluar dari amar yang
sedikit nada yang yang kecewa.
“mengapa
kamu tidak pernah menceritakan semua masalah yang kamu hadapi? Aku tahu kalau
kamu terbebani bila dirumah. Karena kamu selalu menjadi keegoisan
saudara-saudaramu”
“amar” sebutnya
“aku tahu
maksud kamu mencoba menutupi semua kesalahan saudaramu. Tapi tidak seharusnya
kamu mengorbanan dirimu samir. Kamu melindungi orang-orang yang tidak berguna
itu”
“amar sudah” teriak samir
Amar
terdiam, lalu membalikan badannya membelakangi samir yang sedikit emosi karena
mendengarkan ucapan amar yang menyebutkan saudara-saudaranya.
“kamu tidak tahu apa-apa amar”
“aku
tahu. Aku tidak tahu permasalahan kamu. Justru itu aku ingin tahu. Biar aku
dapat membantu kamu keluar dari pemasalahan itu”
“aku
tidak ada masalah apa” sebut samir dengan nada yang lantang
“bohong”
sebut amar “kamu itu bodoh, tidak mencintai dirimu sendiri. Hanya pasrah bila
disakiti. Itu yang namanya tidak ada masalah”
Emosi
amar kian mencuat. Begitu pun dengan amar. Pemuda yang sakit itu melihat amar
dengan wajah yang tak elok. Matanya merah, jantungnya berdetak dengan cepat.
Wajahnya berubah. Suasana tak enak, mentari kian memanas, angin tak berhembus
dengan teratur. Daun-daun berguguran menyaksian pergaulan kedua sahabat yang
berdebat hebat itu.
“kamu
tidak mengerti dengan permasalahan ini. Asalkan kamu tahu amar. Aku hanya
menjalankan amanah dari orang tuaku. Aku akan selalu hormat dengan
abang-abangku. Aku akan menutup semua kesalahan mereka. Aku telah berjanji akan
melakukan semua demi saudara-saudaraku”
“tapi
tidak seharusnya kamu mengorbankan dirimu”
“lalu
bagaimana lagi caranya aku untuk taat pada mereka? Coba katakan?” sebut samir
Amar
terdiam sesaat. Samir menangis kecil matanya berkaca. Linangan air matanya
terlihat dengan jelas menggumpal dikelopak matany yang telah layu lunglai itu.
“aku
adalah anak yang malang. Terlahir
terbuang”
Jatuh
sudah air mata samir. Ia menangis kecil ia duduk di kursi yang ada
disampingnya. Amar tak kuasa melihatnya. Samir kembali menceritakan semua
perasaannya.
“semua
orang membenciku. Tak sudih menjadikan aku sebagai saudara mereka. Aku tidaklah
memiliki kemampuan seperti mereka. Aku hanya mampu untuk melindungi diri
mereka. Bahkan aku akan rela melakukan apa pun demi mereka. Bahkan taruhannya
adalah nyawaku. Karena aku menyayangi mereka”
Curahan
hati yang sangat menyusuk hati. Amar menangis, tak kuasa menahan air matanya
yang terjatuh. Samir yang malang itu menangis dengan hebatnya. Perasaannya yang
sangat sakit. Amar membalikkan badanya, dilihatnya samir yang terduduk tak
berdaya dan air mata yang mengalir kencang, didekatnya samir. Amar pun
berjongkok mendekati wajah samir yang berlumur
air mata itu. Dilihatnya dengan jelas mata samir yang mulai layu lunglai
itu.
“maafkan
aku. Aku tidak bermaksud untuk membuat kamu menangis. Aku hanya mencoba untuk
melindungimu. Karena aku tahu tidaklah sudih saudaramu melindungi dirimu karena
bagi mereka kamu tidaklah ada. Kumohon maafkanlah aku.”
Hancur
sudah perasaan hati dua pemuda yang bersedih itu. Samir yang bersedih itu
menangis dengan kuatnya mendengar perkataan amar. Sungguh amar mentari dalam
hidupnya. Amar yang baik itu pun menangis dalam pelukan samir yang malang tak
berdaya itu.
“janganlah
takut. Aku akan melindungi dirimu. Karena kamu begitu berharga dalam diriku”
sebut amar dalam tangisanya.
B
|
MALAIKAT PENGGANTI AYAH
umi kian
berputar dengan indahnya. Langit yang begitu indah melukiskan keagungan sang
maha pencipta, dirumah yang mewah itu sekian banyak penderitaan yang dihadapi
samir. Tidak dapat terlukiskan lagi perasaannya yang rapuh, bertahun
mendapatkan perlakuan yang sangat tidak layak dari saudara-saudara. Kecongkakan
jiwa yang terus bergulir dalam hidupnya. Pagi itu, langit jernih, bersih dan
sungguh indah terpapar diangasa nan jauh disana. Samir duduk tersenyum didepan
cermin yang besar dikamarnya. Dilihatnya penampilan dirinya pagi itu. Dengan
jelas ia lihat dari ujung rambut hingga kaki. Ia selalu tersenyum, entah
mengapa sikapnya berbeda pagi itu. Tak hayalnya ia tersenyum seorang diri.
“kak.
Sudah jam berapa?” tanya firman adiknya
Laki-laki
itu pun melihat ke arah kanannya untuk melihat jam yang tergantung di tembok
dinding kamarnya.
“setengah delapan” jawabnya
“kok mas
belum sampai juga ya?” sebut adinya lagi
“mungkin
lagi di jalan, kata mas kan pesawatnya ditunda beberapa menit. Ada gangguan
teknis” jawab samir
Beberapa
menit setelah itu, terdengar teriakan yang jelas dari iqbal adiknya.
“cibon, mas sudah sampai”
Anak
kecil itu langsung pergi meninggalkan samir seorang diri. Betapa
bahagianya hati samir mendengar kabar
itu. Belahan jiwanya tlah datang dari
tanah seberang. Belahan jiwanya, malaikat pelindungnya mata hatinya yang selama
ini ia tunggu-tunggu. Samir berlari keluar dari kamarnya. Ia berlari
tergopoh-gopoh tak kuasa menahan hati yang rindu untuk memeluk mata hatinya. Akhirnya
samir dapat melihat pemuda yang tampan itu, berpakai kemeja hitam sungguh
tampan. Ia melihatnya dengan jelas senyuman dibibirnya. Senyuman yang tak biasa
terlihat ketika ia dirumah, karena bila dirumah hanya beban dan siksaan yang ia
dapat. Lalu laki-laki yang tampan itu melihat samir yang berdiri dari kejauhan,
ia tersenyum samir pun membalasnya. Alangkah suka hati laki-laki yang tersenyum
itu dapat melihat malaikatnya datang. Lalu laki-laki yang baru datang itu
berlari mengejar samir yang berdiam diri menyaksikan percakapan antara
saudaranya dengan malaikatnya yang baru datang itu.
“kakak” sebutnya
Samir
terdiam seakan tak percaya yang ia lihat adalah laki-laki pelindungnya.
Dilihatnya mata laki-laki itu, sungguh mata yang indah terlukis dengan jelas
kebahagian yang dalam. Lalu samir berlari untuk meraih tangan laki-laki itu.
Akhirnya samir dapat meriah tangan pemuda yang tampan itu, sungguh tangan yang
begitu penuh inspirasi, lalu ia menciumnya. Tak kuasa menahan rasa rindu pada
laki-laki yang selama ini ditunggu-tunggu lalu kedua pemuda itu memeluk satu
sama lain.
“kakak
apa kabar?” sebut pemuda yang bernama dimas itu
“baik
mas. Mas sehat?” sebut samir
“mas baik”
Setelah
melepas rindu kedua pemuda itu melepaskan pelukannya. Kebahagiaan tergambar dengan
jelas dikedua wajah pemuda itu. Sungguh hati yang gundah samir telah terganti
dengan hati yang bahagia. Sementara itu dari jauhana laki-laki itu,
abang-abangnya dan adiknya melihat dengan kebencian. Sungguh tak ada terlihat
kebahagiaanpun melihat samir yang tersenyum bahagia itu.
“mas kangen sama kakak”
“kakak
juga. Katanya kemarin mau ke sini, sudah di tunggu-tunggu tidak juga datang”
“maaf,
kemarin mas ada pameran di surabaya, acaranya tidak bisa ditunda, mangkanya mas tunda ke sini”
laki-laki itu menjelasnya
“bagaimana
acaranya? bulan depan jadi ke paris?”
“mudah-mudahan
kalau tidak ada halangan, mas pergi paris untuk menghadiri pameran itu. Kakak
mau ikut?” tanyanya
“tidak. Tidak tertarik”
Lalu
pemuda itu mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Pemuda itu memberikan sebuah buku
pada samir. Pemuda itu tersenyum. Lalu samir membalasnya.
“ini untuk kakak” sebutnya
“apa ini
mas? Buku?” tanya samir
“itu kan
buku kakak pesan kemarin”
Melihat
itu. Lalu adik-adiknya berlari menghadap pemuda yang baru tiba itu.
“mas
untuk cibon mana?” Tanya firmas sang adik
“iya mas,
untuk aa’ babas mana?” sebut pula iqbal
“Kalian
ini, tidak mau kalah sama kakak. Itu didalam koper ada banyak oleh-oleh untuk
kalian, jangan lupa kasih yang lain juga”
Mendengar
itu lalu adik-adiknya pun berlari untuk mengambil oleh-oleh di dalam koper itu. Sementara itu samir dengan pemuda
itu pergi ke kamar meninggalkan saudaranya lain. Kemudian saudara-saudaranya
menyaksikan pergaulan samir dengan pemuda itu dengan jelas. Sungguh kebencian
terlihat dimata abang dan adik samir. Sungguh malang nasib samir pemuda itu,
menjadi kebencian saudara-saudaranya. Namun hari itu ia merasa legah, karena
belahan jiwanya ada disampingnya.
Malam
yang kelam. Tak ada bintang yang terlihat, bulan bersinar dengan terangnya.
Hingga membuat bumi terlihat bersinar cerah. Di malam yang sunyi itu, terlihat
samir dan pemuda itu duduk bercangkraman di pendopoh kecil yang berdiri tepat
di dekat kolam. Sungguh bahagia hati
laki-laki itu. Dapat berdua dengan malaikat pelindungnya.
“kata
amar, kakak ada proyek menulis buku dari kampus ya?” tanya pemuda itu
Lalu
samir terdiam sejenak. Ah pertanyaan itu membuatnya tak bersemangat untuk
menjawabnya.
“iya mas. Bulan depan acaranya”
“dalam
rangka acara apa?”
“kata
dekan sayembara media percetakan”
“hadiahnya?”
“lumayan
besar”
“bagus.
Berapa orang perwakilan dari kampus?”
“hanya
kakak!”
“kalau
menang jalan-jalan ya?”
“ah mas.
Tidak lah. Kakak mau sumbangin untuk anak panti ayah. Ya kalau saja menang”
“kok gitu”
“rasanya
kakak tak bersemangat untuk ikut sayembara itu” sebutnya
“mengapa?” tanyanya
“tidak
apa-apa. Hanya saja kakak takut tidak bisa menulis dengan baik”
“ya kan
usaha. Pak dekan sudah percaya sama kakak. Jangan pernah menolak kepercayaan
orang lain”
“lagian
kakak tidak mengerti sama pak dekan. Mengapa kakak yang dipilih. Kan masih
banyak penulis yang hebat di kampus. Juga bisa cari penulis yang hebat-hebat
dari komunitas penulis pemuda”
“itu
hanya pikiran kakak saja. Sayangnya pak dekan tak sepaham dengan pendapat
kakak. Tidak apa-apa coba saja dulu mas akan dukung kakak. Mas akan bantu apa
yang kakak butuhkan”
Betapa
bahagianya hati samir mendengar itu, sungguh betapa sukanya saat ia mendengar
ucapan malaikatnya yang sama seperti amar yang selalu memberi semangat padanya.
Malaikat pengganti ayahnya telah membuka hatinya. Adang ia juga merasa sedih
bila mengenang perilaku saudaranya terhadap dirinya. Sekali-kali ia termenung
saat mengenangi itu. Ingin rasanya ia menjerit untuk memberitahu kepada dunia
bila hatinya terluka oleh malaikat-malaikatnya. Ingin rasanya ia menceritakan
dukaannya kepada malaikat pengganti ayahnya, namun ia tidak mampu melakukan itu
karena hatinya tak kuasa untuk mengatakannya.
“kapan mas pulang?”tanyanya
“besok”
“besok?”
ulang samir
Mendengar
itu, senyum dibibirnya menghilang, samir termenung. Tak berdaya kelihatannya
mendengar itu. Langit malam yang indah, terang bulan bercahaya hingga ke
bintang nan jauh di langit yang kelam namun keindahan malam tidak melukiskan
hati samir ketika ia mendengar ucapan malaikatnya itu.
“kenapa?”tanya
laki-laki yang duduk itu
“tidak,
secepat itu. Mas?” tanya samir
“mas ada
kerjaan, hari rabu besok. Ada pameran di kampus mas. Mas ketua panitiannya.
Kalau mas tinggal kan susah, siapa yang mengurus pameran itu?”
Samir
terdiam dan termenung. Hanya bisa mengerutkan kepalanya. Hatinya tak kuasa
menahan kekecewaan dari malaikatnya itu. Dilihatnya laki-laki yang duduk itu,
betapa bahagianya hati samir dapat melihat dengan jelas malaikatnya itu, tapi
sayang ia akan kesepian karena besok malaikatnya itu akan pergi
meninggalkannya.
“jangan
sedih seperti itu, mas janji akan selalu menemui kakak”
“tapi mas”
Laki-laki
yang duduk itu mendekati samir yang tengah bersedih hati itu. Dilihatnya samir
dengan jelas, tampak matanya tergambar kekecewaan yang amat mendalam. Lalu
laki-laki itu berjongkok tepat di hadapan samir yang duduk tak berdaya itu.
“kenapa?”
“tidak
ada apa-apa mas”
“ada
masalah?”
“tidak”
“jujur
sama mas, kakak ada masalah?”
“tidak mas” ulangnya
“kak, mas
sudah lama tahu sifat kakak. Lidah kakak boleh berbohong. Tapi mata kakak
tidak. Dari tadi mas tidak melihat sinar dimata kakak tidak ada semangat untuk
memandang dunia ini. Mata yang penuh kekecewaan. Ada apa? Ada yang tak enak
dihati kakak?” tanya laki-laki yang tampan itu.
“mas...”
ucap samir lalu “sebenarnya...”
Tak kuasa
lidah samir untuk mengatakan kepada malaikatnya itu perasaan dan keadaan
hatinya saat ini. Hati yang terluka, setiap hati dihadapi dengan kekerasan dan
kecongkakan jiwa oleh saudara-saudaranya. Janji pada orang tuanya menjadi
penghalang untuk samir bercerita semua peristiwa yang dialaminya. Samir melihat
masnya dengan keraguan, begitu berat ia untuk membuka mulutnya. Dipandangnya
laki-laki yang berjongkok itu berkali-kali.
“sebenarnya
apa?” tanya pemuda itu
“tidak,
sebenarnya kakak akan rindu sama mas. Kalau mas nanti sudah pulang”
Dipeluknya
samir dengan erat oleh pemuda itu. Sesaat mereka tak bersuara hanya terdengar
suara binatang jengkrik yang berbunyi. Dibalik pelukkan itu air mata samir hampir-hampir
terjatuh dibalik kelopak matanya yang tak indah lagi. Samir begitu nyaman saat
berada dipelukan masnya serasa berada dipelukan sang ayah, yang mana ia dapat
dikala sang ayah masih hidup dahulu kala. Hancur sudah hati samir, terkenang
sudah pikirannya pada sang ayah. Dipeluknya dengan erat tubuh masnya yang tak
terlalu besar itu, samir melakukannya itu untuk menahan air matanya yang mulai
mengenai bola matanya, ia menahan agar
air mata itu tidak mengenai tubuh
malaikatnya itu. Sekali-kali ia terkenang juga perkara yang sering terjadi
padanya. Ia mengenangi nasibnya sesaat masnya pulang. Ia tidak tahu apa yang
akan dilakukan oleh saudaranya terhadap dirinya.
Pagi
sekali, sekitar pukul 6.30 mentari sedang naik hangatnya terasa menusuk dikulit
hawa nan sejuk pun terasa diubun-ubun. Sesak nafas samir yang tengah merapikan
pakaian masnya untuk pulang ketanah jawa. Nafasnya terasa tak kuasa untuk
keluar dari tenggorokan yang penuh sesak kehancuran. Didalam bilik kamar yang
besar itu, terlihat samir duduk di kasur dan memasukkan pakaian malaikatnya itu
kedalam koper. Dilihatnya satu persatu baju yang terlihat rapi itu, begitu
berat hatinya untuk melepaskan belahannya itu. Ia ingin selalu berada
didekatnya untuk menjadi pelidung dirinya. “bagaimana, sudah siap?” tanya
masnya tiba-tiba
Mendengar
itu samir agak terkejut, dilihatnya masnya yang terlihat sibuk sedari tadi
merapikan pakaiannya. Samir memandangnya dengan jelas sungguh tampan rupawan
laki-laki itu, pikirnya dalam hati.
“sudah
mas, semua sudah kakak masukan kedalam koper”
“kemeja
mas yang merah sudah dikoper belum?” tanya laki-laki itu lagi
“sudah mas, semuanya sudah siap”
Beberapa
detik suasana kamar sunyi sepi, samir melihat masnya tengah sibuk memandang
dirinya dibalik cermin yang besar dan merapikan rambutnya yang terlihat
berantakan. Sungguh samir terlihat tak berdaya, sedih hatinya terlukis dnegan
jelas, raut wajahnya yang usang nampak tergambar.
“mas..”
sebutnya
“iya”
Laki-laki
yang bercermin itu tak melihat, samir memandangnya dengan linangan air mata.
Berkali-kali ia tersedu sedan tak bisa menahan sesak di dadanya.
“kakak?” sebut laki-laki itu
Laki-laki
itu melihat samir berdiri memandangnya dengan deraian air mata, ia memandangnya
dengan heran, didekatnya samir yang menangis itu, dipeluknya samir yang tak kunjung usai menangis itu.
“kenapa
menangis? Kakak kan sudah janji sama mas
tidak akan menangis?”
Hancur
sudah hati samir. Tangisannya tak terbendungi air matanya semakin mengalir
dengan kencangnya. Dipeluknya laki-laki itu dengan erat. Lalu laki-laki itu
membalasnya.
“mas,
jangan pergi. Kakak mau mas disini saja” sebut samir tersedu
“kak,
dengarkan mas. Mas sayang pada kakak. Mas juga akan rindu dengan kakak dan
adik-adik. Mas juga ingin tinggal bersama kakak dan adik-adik disini, tapi
tidak bisa, mas punya kegiatan sendiri. Kakak kan tahu kegiatan mas. Kakak
jangan sedih. Mas akan selalu memberi kabar pada kakak”
Mendengar
itu tangisan samir semakin menjadi-jadi terlihat air matanya membasahi baju
masnya.
“kakak
jangan putus asa. Hadapi cobaan dengan ikhlas, tawakal pada tuhan, skenario
tuhan itu akan lebih baik daripada rencana yang
dibuat oleh manusia. Itu kan yang almarhum ayah sampaikan kepada
anaknya”
Tak dapat
tergambarkan lagi perasaan samir yang bersedih itu. Hatinya hancur, tak menentu
arah, perasaannya galau tak ada arti.
Matanya layu tak bercahaya. Darahnya mengalir dengan cepat, jantungnya berdetak
dengan kencang.ia mencoba untuk menahan air matanya dia mencoba menggenggam
tangan kecil yang lemah itu untuk menahan air matanya agar tidak keluar dari
bola matanya yang tak elok itu. Hati samir semakin sedih tak jua ia dapat
menahan sedu tangisannya sekali-kali pemuda tampan itu meraba kepala samir yang
menangis itu. Terkenang sudah ia pada mediang ayahnya. Disaat dipelukan masnya
ia merasa ada dipelukan ayahnya diwaktu dulu. Suasana hati samir pecah, resah
hati yang membalut didalam hatinya. Sekali-kali ia teringat dengan nasibnya
selepas malaikatnya pergi ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya.
Beberapa hari samir merasa nyaman dan tenang berada dirumah karena saudaranya
tak ada yang menyakitinya karena samir selalu dilindungi oleh malaikat
pelindungnya.
“sudah.
Sudah. Mas harus pergi sekarang. Nanti mas ketinggalan pesawat. Kakak mau ikut
mengantar mas ke bandara” tanya laki-laki berparas tampan itu
Lalu
samir pun melepaskan dirinya dari pelukan masnya yang tampak berat untuk
melepas pelukkannya itu. Samir tak menjawab tak hayalnya ia menangis. Melihat
pertanyaannya tak dijawab oleh samir laki-laki yang hendak pergi itu mengulangi
pertanyaannya hingga didengar oleh samir.
“kakak
mau ikut ke bandara?”
Samir tak
menjawab. Ia hanya menggelengkan kepala. Hatinya hancur tak bersisah.
“iya sudah, mas pergi dulu”
Satu per
satu kaki laki-laki itu melangakah menuju pintu kamar. Sekali-kali ia melangkah
dengan berhenti. Sungguh berat hati laki-laki itu meninggalkan laki-laki yang
menangis itu. Dilihatnya samir yang bersedih hati dibelakangnya. Beberapa saat
ia melihatnya, tergambar dengan jelas dimata laki-laki itu linangan air matanya.
Lalu tiba-tiba ia berlari mendekati samir yang menangis tak berkesudahan itu.
Dipeluknya dengan erat tubuh samir yang lemah itu dikecupnya kepalanya.
Terjatuh sudah air mata laki-laki yang tampan itu.
“jaga diri kakak baik-baik”
Lalu
laki-laki itu melepaskan pelukkannya dan melarikan diri keluar dari kamar.
Sedangkan samir laki-laki itu bersedih dan menangis dengan kesendiriannya. Air
mata samir yang tak kunjung untuk berhenti mengalir. Dilihatnya dari kejauhan
malikatnya itu pergi melangkah meninggalkan rumah mewah itu. Didalam kamar yang
besar itu samir menyaksikan mobil putih pergi menjauhi rumah itu. Deraian air
mata mengalir dengan cepat menyaksikan kepergian malaikatnya itu. Tangisan yang
bersedu terdengar dengan jelas dalam dada samir yang tak berdaya itu, lalu
mobil itu semakin menghilang, lalu laki-laki yang menangis itu terjatuh
kelantai karena tak dapat menahan tubuhnya yang lemah kakinya yang
bergetar.
“aku akan
selalu menunggu pelukanmu wahai malaikat pengganti ayah”
KESEDIHAN YANG TAK BERKESUDAHAN
D
|
ua minggu
setelah kepergian malaikatnya samir tak hayalnya meratap nasibnya. Kesedihan
yang tak berkesudah yang dialaminya di dalam rumah yang mewah itu membuatnya
tak enak untuk menjalankan aktifitas. Langit malam yang kelam tak ada bintang
terlihat, malam itu menggambarkan isi hati samir saat ini. Malam yang kelam
bagaikan lautan yang tak bertepi, tak terlihat cahaya bulan yang bersinar.
Malam yang dingin, hawa sejuk memaku pada kulit yang mulai usang. Malam itu
samir terbangun dari mimpinya, dilihatnya jarum jam yang berdetak di dinding
kamarnya. Pukul menunjukkan jam 2 pagi, ia membasahi wajahnya dengan air yang
suci, seperti malam-malam biasanya samir melaksanakan shalat malam, ia selalu
berdo’a untuk kebaikan orang tuanya dirinya, saudara-saudaranya. Laki-laki itu
berpakaian sangan rapi dan suci berbalut kokoh putih menjadikan ia seperti
malaikat yang tak bersayap. Dilihatnya adik-adiknya yang tengah tertidur lelap.
Ia melihatnya dengan heran, satu adiknya tak terlihat dimatanya, dimana apung?
Begitulah pikirnya. Matanya mulai layu itu terlihat selalu berzikir memanggil
keagungan sang raja dunia. Dilihatnya kembali jam yang tak berhenti bergerak
itu. Ia begitu khawatir dengan adiknya. Ah, mungkin ia tidur bersama abangnya
atau bersama adiknya yang lain, pikirnya. Samir laki-laki itu dengan rendah
hati dan begitu lemah menghadap kepada sang penciptanya, alunan syair ayat
allah selalu terdengar begitu syahdu ketia ia mengucapkan ayat-ayat yang begitu
dahsyat. Hati akan bergetar bila mendengarkan lantunan ayat suci itu, begitu
damai dan tenang hati samir. Sejenak ia termenung mengingat almarhum ayah dan
ibundanya dilihatnya gambar yang terpasang di diding kamarnya tepat di
hadapannya. Deraian air matanya kembali mengalir, kala ia melihat malaikatnya
itu. Begitu cepat belahan jiwanya pergi meninggalkannya. Terbesit dalam dada
laki-laki itu untuk meninggalkan keluarganya, ingin rasanya ia untuk mengakhiri
penyiksaan yang tiada henti. Ingin rasanya ia untuk pergi dari rumahnya dan
pergi merantau ke tanah seberang. Namun, tiada daya laki-laki itu untuk
melakukan hal sedemikian. Ketika ia melihat wajah adik-adiknya,
malaikat-malaikat kecilnya rasa itu pun seketika menghilang dari benaknya.
Sejenak laki-laki itu duduk termenung diatas sajadah merahnya. Dalam balutan
atmosfer yang begitu sejuk dan amat menusuk dalam jiwa, diluar kamar terdengar
suara keributan. Seketika laki-laki itu terbangun dalam lamunanya.
“dari
mana?”
“rumah
teman, muk?”
“kamu
tahu jam berapa sekarang?”
Samir mendengar
dengan samar-samar suara itu dari dalam kamarnya. Seketika ia mendengar suara
yang begitu besar dari sudut rumahnya. Lalu laki-laki itu pun berlari
tergopoh-gopoh meninggalan malaikatnya yang tengah tidur pulas. Ia tak
menyangka apa yang ia lihat, malam itu.
“apa ni?” sebut abangnya
“itu
bukan punya apung muk?”
“bohong.
Lalu punya siapa yang ada di saku baju kamu itu kalau bukan punya kamu?”
“apung
tidak tahu muk, sumpah itu bukan punya apung” sebut laki-laki yang menangis
itu.
Ppprrrukkk
Laki-laki
yang marah itu menampar adiknya yang menangis itu
“beraninya
kamu bersumpah, dengan bukti yang sudah ada. Muk tidak pernah mengajarkan
kalian untuk melakukan hal yang berdosa ini. Muk sekolahkan kalian untuk
pintar. Bukan menjadi pecandu barang haram ini”
Wajah
laki-laki yang marah itu berubah seketika. Wajahnya merah, matanya membesar.
Darahnya mengalir dengan cepat jantungnya berdetak dengan kencang. Samir
melihatnya dengan jelas. Begitu kejam pikirnya dalam hati. Samir menangis,
melihat adiknya yang tak berdaya tergeletak dilantai. Sementara itu
saudara-saudara lainnya hanya melihat dengan keheranan. Tak seorang pun yang
berani untuk memisahkan perkara itu.
“sumpah
muk, itu bukan punya apung. Apung tidak pernah memakai barang seperti itu”
Prruukkk
Laki-laki
itu kembali memukul adiknya yang terbaring lemah itu. Seketika samir berlari
mendekati adiknya yang terus dipukul.
“muk. Sudah. Kesihan apung”
“awas.
Jangan ikut campur.”
“tidak
muk. Cukup. Kesihan apung” sebut samir
Mendengar
itu, laki-laki yang marah itu sejenak terdiam. Lalu melihat ke arah samir yang
berdiri disampingnya.
“kesihan?
Lihat ini. Dia memakai barang haram ini, masih juga kamu membela dia?”
“muk.
Jangan menyimpulkan dulu. Belum tentu apung menggunakan barang itu”
“apanya.
Sudah terbutkti barang ini ada dibajunya”
“iya muk.
Bisa saja kan temannya iseng bercanda meletakkan barang itu disaku apung dan
lupa mengambilnya lagi”
“muk
bukan orang bodoh. Muk tahu dia pemakai barang itu”
Samir
terdiam. Laki-laki yang marah itu pun terdiam. Apung hanya menangis dalam
kesakitannya.
“masuk”
sebut abangnya
“tidak”
jawab samir
Laki-laki
itu melihat samir. Matanya membesar bibirnya bergetar kecil. Wajahnya semakin
memerah. Tangannya dingin, bagaikan embun pagi yang turun ke bumi. Samir
melihat itu. Abangnya marah, namun ia tidak menghiraukan semua karena ia ingin
melindungi diri adiknya.
“menjawab”
“muk.
Tidak bisahkan kita selesaikan masalah ini dengan baik. Tidak perlu dengan
kekerasan. Kesihan apung”
“tidak.
Ini akibatnya kalau mendidik dengan lemah. Dia akan melunjak. Menginjak-injak
kepala kita”
“kalau
muk tidak percaya dengan apung, apung bersedia tes urine. Apung berani. Kalau
apung tidak pernah menggunakan barang itu”
Seketika
mendengar itu, Mata laki-laki itu semakin membesar. Digenggam tangannya dengan
erat. Dengan cepat genggaman itu dilayangkan kearah adiknya yang menangis itu.
Melihat itu samir tak diam diri ia berlari mendekati adiknya untuk melindungi
diri adiknya dari pukulan itu. Samir pun terkena pukulan itu.
“kakak”
sebut laki-laki yang menangis itu
Laki-laki
itu tak henti-hentinya memukul samir. Samir memeluk adiknya dengan erat ia
mencoba untuk melindungi setiap tubuhnya agar tidak terkena pukulan itu. Samir
merasa pusing, karena kepalanya terkena pukulan itu. Penglihatannya tak jelas.
Hampir-hampir ia terjatuh, namun hatinya berkata ia harus kuat untuk melindungi
adiknya. Sementara itu, saudaranya yang lain melihatnya dengan rasa tak
kesihan. Sekali-kali bibirnya tersenyum melihat samir disiksa seakan binatang
yang disembelih.
“muk
tidak pernah mendidik adik muk untuk menjadi orang jahat. Muk ingin adik-adik
muk menjadi orang-orang yang baik”
“sudah cukup muk” sebut samir
“apa,
cukup apa. Salah sendiri membela orang yang salah”
“cukup
muk. Sakit muk” samir merintih
Melihat
samir yang semakin lemah, laki-lai itu pun menyudahi siksaan itu. Lalu
meninggalkan kedua pemuda yang menangis tak berdaya itu.
“apung.
Apung tidak apa-apa?” tanya samir dengan wajah yang khawatir
“tidak kak. Apung tidak apa-apa”
“wajah
apung merah”
Samir
semakin menjadi-jadi. Tangisannya pecah, ingin rasanya ia teriak. Ingin rasanya
ia memukul balik saudaranya itu. Ingin rasanya ia lari bersama adiknya untuk
mengadu hal tersebut dengan malaikat pelindungnya yang jauh di tanah jawa.
Namun hatinya tak berdaya. Raganya yang lemah. Batinnya tergoncang dengan
hebat.
“kakak
tidak apa-apa?” tanya adiknya
Laki-laki
yang menangis itu tidak menjawab tak kuasa rupanya ia untuk berkata-kata samir
hanya menganggukkan kepalanya. Lalu adiknya memeluk samir dengan erat. Dalam
tangisan itu adiknya merasa nyaman dan tenang dikala dipelukan sang kakak.
“maafkan
apung kak, karena apung. Kakak kena pukul sama muk” sebut adiknya.
Ya tuhan,
betapa malangnya nasib laki-laki itu. Laki-laki yang tak beruntung. Selalu
dikucilkan keluarganya sendiri. Samir mencium
kepala adiknya dengan penuh kasih sayang.
Dalam
kamar, terdengar dua bersaudara itu berbincang-bincang. Adiknya yang selalu
menyesali kakaknya yang terkena pukul karenanya. Samir yang duduk termnenung
tak hayalnya melihat-lihat suasana kamar. Matanya kosong tak dapat terlukiskan
suasa hatinya saat ini. Sekali-kali ia melihat adiknya yang tertidur itu. Apung
adiknya mendekati dan duduk disamping samir yang termenung itu.
“kak, apung minta maaf”
Samir
tersenyum mendengar itu. Lalu ia duduk lebih dekat dengan adiknya, samir
kembali tersenyum melihat adiknya yang tampak menahan rasa sakit karena pukulan
abangnya.
“maaf untuk apa?” tanya samir
“apung,...”
sebut adiknya patah-patah “kakak marah sama apung ya?” tanya adiknya kembali
“iya,
kakak marah”
“tapi
apung, tidak...”
“lain
kali kalau mau tidur ditempat teman apung, izin dulu. Biar muk, abang tidak
khawatir”
“kakak
percaya kan sama apung. Kalau apung tidak pemakai barang haram itu?”
“menurut apung?” tanya samir
“tidak
tahu... tapi sumpah kak. Apung tidak memakai barang itu”
Samir
tersenyum mendengar perkataan adiknya, dilihat mata adiknya yang begitu serius.
Seakan ia merasa bersalah.
“iya,
kakak percaya”
“kakak
tidak bohong?”
“apung.
Kakak hidup sama apung sudah lama. Begitu pun dengan apung. Kakak tahu saat
adik kakak berbohong atau tidak. Mulut kita bisa berbohong tapi mata dan hati
tidak bisa kita bohongi. Disaat apung tadi dipukul sama muk, kenapa kakak
melindungi apung? Karena kakak tahu apung tidak memakai barang haram itu,
karena kakak tahu apung sudah jujur tidak berbohong. Kalau saja tadi apung
berbohong, kakak juga tidak akan membela apung”
“maafkan
apung kak. Karena apung kakak sakit-sakit dipukul”
“sakit
ini tidaklah ada arti dibandingkan dengan sebuah kejujuran. Kakak rela sakit,
kakak rela terluka untuk membela orang yang jujur. Bagi kakak, kejujuran apung
sudah menjadi obat bagi kakak”
“kak
pecaya sama apung, tapi muk saja tidak percaya”
“apung.
Muk tadi hanya emosi. Muk terlalu khawatir sama apung, muk tidak ingin apung terkena
sesuatu yang buruk, muk tidak bermaksud untuk menyakiti apung dan kakak.
Memangnya apung tadi dari mana sampai pulang malam begini?”
“ha.
Apung, tadi kerumah riski teman basket apung. Apung ketiduran, setelah apung
bangun sudah malam. hp apung mati. Jadi apung tidak bisa kasih kabar”
“kenapa
tidak nginap saja. Pulang jam segini kan bahaya”
“nginap?
Kalau nginap habis apung sama muk. Pulang jam segini saja dimarah. Apalagi
nginap”
“kan
kalau apung beritahu, muk tidak akan marah”
“maafkan apung kakak”
Tangisan
dua saudara itu terdengar begitu haru. Dalam pelukan yang penuh keihlasan itu
samir mengusapkan kepala adiknya dengan pelan. Matanya yang berlinang air mata
selalu melihat kedinding yang terpajang foto almarhum orang tuanya. Samir
laki-laki yang malang itu mencoba untuk menghiburkan dirinya dengan melihat
foto orang tuanya karena telah melahirkan anak-anak yang hebat. Namun semakin
dipandang matanya semakin berderai air mata. Angin sepoi pagi nan buta sekali
menemani percakapan dua anak adam yang bersaudara itu. Remang lampu kamar
terpancar dengan indahnya.
KABAR DARI PAK DEKAN
K
|
eceriaan
canda dan tawa terlukis dengan jelas atmosfer dikala samir berada di kampusnya.
Amar pemuda yang tampan itu selalu mendampingi setiap langkah dan nafasnya.
Hawa kampus siang itu sangat panas, terik matahari sangat terasa membakar
dikulit. Hari itu sangat ditunggu-tunggu oleh samir pemuda yang berjalan itu
karena hari ini pak dekan akan memberitahu pemenang sayembara menulis itu. Dua
bulan setelah pemberian tulisannya yang berjudul “mentari yang kelam”pak dekan
begitu bersemangat dengan tulisannya. Sangat haru membiru, hati bagai tertusuk
sembilu ketika membaca tulisan samir yang begitu indah dengan kata-kata yang
sangat cantik dan halus. Dua pemuda itu terus menyusuri alun-alun kampus menuju
ruang pak dekan. Hari ini pak dekan telah berjanji akan menemui samir di
ruangannya.
“bagaimana
siap tidak menerima kabar itu?” sebut amar
“ya, aku
tidak tahu. Kalau lolos syukur kalau tidak ya sudah belum rezeki. Lagi pula aku
harap tidak lolos”
“loh. kok
gitu. Aku yakin kamu pasti lolos, lagian tulis seindah itu tidak lolos”
Terdengar
dua pemuda yang berjalan itu bercakap-cakap, hati samir tak menentu rasa
penasaran yang dalam membuatnya segera berjalan dengan begitu cepat ke ruang
pak dekan untuk mendengar berita yang akan disampaikan oleh pak dekan. Dua
menit setelah berjalan yang menuju keruang pak dekan akhirnya pemuda itu sampai
juga. Pak dekan dari tadi telah menunggunya. Lalu pemuda itu masuk ke dalam
ruangan yang besar itu.
“samir,
amar? Masuk” sebut pak dekan yang tengah menulis
“ya pak”
sebut amar
“duduk”
Hawa
panas sangat terasa hingga ke dalam ruang dekan, samir terlihat hanya diam tak
bersuara. Sekali-kali ia melihat isi ruang pak dekan yang sedikit berubah.
“mengapa?
Terlihat berubah?” tanya pak dekan
Samir tak
menjawab. Ia hanya menganggukkan kepalanya, dia diam seribu bahasa. Sungguh
tingkahnya begitu tak menentu. Hatinya tak tertahan lagi. Pak dekan telah
membuatnya diam seribu kata.
“bapak
mohon maaf samir. Bapak tidak tahu harus mulai dari mana mengatakan ini” sebut
dekan yang duduk dihadapan kedua pemuda itu
“maksud
bapak. Samir tidak lolos?” tanya amar penasaran
Lalu pak
dekan berdiri dan melangkah membelakangi pemuda yang duduk itu.
“entahlah.
Bapak serba salah harus mengatakan hal ini”
“katakan
saja pak. Tidak apa-apa. Saya akan terima apa yang bapak katakan” sebut samir
dengan wajah yang tak menentu
Sesaat
suasa ruang sunyi tak terdengar suara yang keluar dari pak dekan maupun kedua
pemuda itu, pak dekan telah membuat amar dan samir penasaran. Hal ini telah
membuat jiwa samir bergejolak hatinya tak menentu. Sikapnya berubah sekali-kali
ia melihat ke arah amar yang duduk di sampingnya.
“dua hari
yang lalu bapak terima kabar ini dari pak rektor. Ada sekitar 700 orang yang
mengikuti sayembara itu. dari berbagai kalangan, ada yang penulis profesional,
guru, dosen bahkan artis pun ikut dalam sayembara itu. dari sekian banyak penulis yang ikut sayembara
hanya ada satu pemenang. Dan sebenarnya bapak sangat berat harus mengatakan ini
padamu” jelas pak dekan
Dua
pemuda itu tak bersuara hanya mendengar penjelasan pak dekan yang berdiri
didepan mereka. Lalu pak dekan membalikkan badannya dan melihat ke arah samir
dan amar. Pemuda itu melihatnya dengan heran, mengapa pak dekan melihat dengan
wajah seperti itu? sebut amar didalam hatinya. Samir terdiam mendengarkan
ucapan pak dekan. Dari ucapan pak dekan ia telah tahu arti dari ucapannya,
wajah samir terlihat lesu. Senyum dibibirnya menghilang hanya terlihat wajah
yang cemberut masam. Ia tak hayalnya menundukkan kepalanya.
“pak,
jangan membuat kami penasaran. Apakah samir lolos dari sembayara itu?” tanya
amar tergopoh-gopoh
“apakah
dari ucapan saya tadi kalian tidak mengerti?” sebut pak dekan
“tapi
pak..”
“amar,
sudah. Terima saja kekalahan ini”
“tidak
bisa mir, tulisan seindah itu tidak lolos?”
“sudah lah. Aku tidak apa-apa”
Sementara
itu pak dekan melihat pergaulan anak pemuda yang duduk di depannya itu. samir
yang begitu sabar menerima keputusan itu, kabar dari pak dekan tidak membuatnya
kecil hati, terlihat bibirnya senyum kecil, memberikan isyarat bahwa ia
menerima semua kabar yang disampaikan. Sementara itu amar yang duduk
disampingnya begitu emosi dengan keputusan itu, ia merasa kabar itu tak adil
bagi samir.
“ayo kita
keluar” sebut samir dengan suara sedikit lesu
“kita
keluar dulu pak” sebut amar
Sekian
kalinya pak dekan melihat dua pemuda itu bertingkah aneh. Dengan jelas pula pak
dekan melihat langkah dua pemuda itu melangkah menuju pintu keluar, langkah
sepatu yang terdengar dengan jelas membuat telinga pak dekan sekian bising, dan
beberapa langkah sebelum dari pintu langkah mereka terhenti.
“tunggu,
ini ada surat dari pak rektor untuk kamu samir” sebut pak dekan
Mendengar
itu samir dan amar seketika membalikkan badanya. Ia melihat dengan jelas amplop
putih diatas meja pak dekan. Amar melihat wajah pak dekan berubah seketika,
matanya sedikit berkaca. Lalu pemuda itu mendekat pak dekan yang mulai
menangis,
“bapak, menangis?” tanya amar
Pak dekan
tak menjawab, ia hanya menangis. Sikap pak dekan membuat pemuda itu semakin
penasaran dengan isi surat itu.
“tidak,
bapak tidak apa-apa. Kalian bisa membacanya sendiri” seru pak dekan
Lalu amar
mengambil amplop putih dari meja pak dekan dan segera membaca isi surat itu. ia
membuka dengan cepat. Rasa penasaran tak terbendungi dalam hatinya. Sementara
itu samir hanya heran dan tak mengerti dengan sikapa pak dekan yang tiba-tiba
menangis. Amar begitu khusuk membaca surat itu, alangkah sukanya hati amar
membaca itu. dilihatnya samir yang berdirinya disampingnya itu, sekali-kali ia
melihat ke arah pak dekan. Matanya berkaca, wajahnya tak dapat dilukiskan.
“samir” sebutnya
“ada apa
mar?” sebutnya penasaran “apa yang terjadi?”
Sesaat
amar terdiam, air amtanya mengalir, amar menangis. Samir semakin tak mengerti
dengan sikap amar, dilihatnya dengan jelas wajah sahabatnya itu wajah yang
penuh penasaran. Lalu amar melihat ke arah samir yang berwajah penuh tanda
tanya itu. sesaat amar melihatnya, terjatuh sudah air matanya, lalu amar
memeluk samir dengan erat hingga samir tak dapat bernafas.
“amar, kenapa? Apa yang terjadi”
“kamu
lolos mir. Kamu menang dalam sayembara itu”
Alangkah
sukanya hati samir mendengar ucapan amar yang menangis itu, lalu samir membaca
surat itu untuk memastikan kebenaran ucapan sahabatnya itu. setelah membacanya
tiba-tiba samir bergetar, tangannya dingin tubuhnya lemah, tabuhnya berubah tak
menentu. Matanya membesar tak dapat melukiskan perasaannya. Hatinya terus
bergejolak hingga membuatnya terhempas duduk di kursi. Sungguh kabar itu
membuatnya lemah. Sekali-kali ia melihat amar. Lalu pak dekan menghampirinya
“kamu
menang. Kamu hebat. Kamu pahlawan bapak” ucapnya
Samir tak
bersuara, dia hanyut dalam kesenangan, pak dekan berhasil membuat penasaran
kedua pemuda itu.
“surat
ini tidak bohong kan pak?” tanya samir tergopoh-gopoh
“tidak,
itu benar” sebut laki-laki paruh baya itu
“kamu
menang mir?” ucap amar penuh bangga
“ya
allah, terima kasih” ucapnya
Samir
menangis dalam keharuan sekian kalinya amar memeluk samir yang duduk itu.
sekali-kali pak dekan memeluk asistennya itu. kabar baik itu sangat enak
didengar oleh pemuda itu, namun samir termenung, ia ragu untuk menerima tawaran
ini. Seketika senyum dan tawa dalam bibirnya menghilang, amar dan pak dekan pun
melihatnya dengan penuh tanda tanya.
“kenapa?
Kamu tidak suka kemenanganmu ini?” tanya haru pak dekan
“tidak
pak. Saya masih bimbang, bila saya menerima tawaran ini saya akan meninggalkan
keluarga saya”
“samir.
Ini kesempatan bagus untuk kamu. Jangan kamu tolak, ini usaha kamu. Kamu jangan
menghawatirkan keluarga kamu. Pikirkan masa depan kamu”
“tapi
mar. Aku tidak bisa meninggalkan keluarga aku. Adik-adik aku masih membutuhkan
aku”
“keluarga
kamu banyak samir. Dia bisa tinggal sama abang kamu. Kamu harus membuktikan
kepada abang kamu kalau kamu bisa hidup mandiri dengan tulisan kamu, selama ini
mereka meremehkan kamu kan, mereka mengecilkan kamu kalau menulis itu tidak ada
gunanya. Sekarang saatnya kamu tunjukkan kepada mereka kalau kamu itu orang
yang hebat”
Hati
samir gundah dan gelisah. Pikirannya tak menentu. Hatinya bimbang untuk
menerima tawaran itu. ia amat menyayangi keluarganya namun ia juga ingin
mengejar cita-citanya untuk menjadi penyair terkenal. Samir memang tak bisa
memberi jawaban pikirannya hanya teringat kepada adik-adiknya bila ia
meninggalkannya.
“itu
kesempatan kamu mir” ucap dekan yang berbahagia itu “bapak tidak memaksakan
kamu untuk menerima atau tidak tawaran itu. ini adalah kesempatan yang baik
untuk kamu. hidup adalah pilihan, kamu harus memilih diantara yang terpenting
dalam hidup kamu. kesempatan tidak datang untuk kedua kalinya. Pikir saja
kesempatan ini”
Samir
termenung. Meratap dalam keraguan, hatinya bergejolak penuh dengan keraguan.
Matanya merah. Sekali-kali ia menengok ke atas untuk mencari jawabannya, namun
hatinya tetap dalam keraguan itu. sementara itu amar melihatnya dalam was-was,
ia ingin yang terbaik untuk sahabatnya.
“bapak
tunggu jawabannya satu minggu lagi. Bila kamu bersedia secapatnya kita akan
menandatangani kontrak dengan editor percetakan itu. bapak beri kamu waktu
untuk berpikir”
Dalam
ruangan itu samir semakin tak menentu, pikirannya kacau, hatinya gundah,
tubuhnya terasa lemah. Didesak harus menerima tawaran itu namun ia juga tak
ingin meninggalkan keluarganya. Sungguh kabar pak dekan itu membuatnya gundah.
Diskusi
itu tak berhenti dalam ruang pak dekan. Dibawah pohon besar dibelakang kampus
samir dan pemuda yang setia bersamanya itu duduk dengan suasana hati yang kacau
tak menentu. Samir yang memegang amplop itu terus menerus membacanya.
Kesempatan yang sangat baik untu dirinya. Dibawah pohon itu terdengar
percakapan kedua pemuda yang dalam keraguan itu.
“jadi
kamu mau menolak tawaran itu?” tanya amar singkat
“entahlah.
Aku tidak tahu”
“kamu
sudah bersusah payah membuat buku itu, siang malam kamu tidak tidur untuk
mengikuti sayembara itu, lalu tiba-tiba kabar baik itu datang. Lalu kamu
menolaknya?”
Samir tak
bersuara. Ia hanya mendengar pemuda yang disampingnya itu bercakap seorang
diri.
“aku
tidak mengerti apa yang ada dipikiran kamu?” sambungnya
“aku
masih ragu harus menerima ini”
“apa yang
kamu ragukan lagi? Adikmu? Saudara kamu banyak samir, biar saudara kamu yang
menjaganya”
“tidak
bisa mar, aku takut jauh dari mereka”
“jangan
lemah seperti ini mir. Kamu itu jangan menjadi orang bodoh. Jangan rasa ragu
itu menggerogoti pikiran kamu”
“kamu tak
tahu mar”
“sudahlah.
Kamu terima saja tawaran itu, kamu harus keluar dari rumah itu. biar kamu tidak
terbelenggu dalam siksaan yang terus menerus menyakiti dirimu?”
“bukan
itu saja mar, masih banyak yang aku pertimbangkan?”
“apa?
Rumah kamu? abang-abang kamu? mereka itu sudah tidak memperdulikan kamu samir.
Mereka sudah tidak pernah menganggap kamu di rumah itu” sebutnya lalu “nanti
kalau kamu tidak berani untuk mengatakan hal ini, biar saya yang mengatakan
kepada abang-abang kamu”
“jangan,
nanti biar aku sendiri saja”
Samir
terdiam. Sungguh keraguan itu telah memakan hatinya hingga habis. Hati nurani
yang bersih itu tidak dapat ia pergunakan. Matanya tak bercahaya. Tak
terlukiskan kebijaksanaan seperti biasanya.
“sudahlah
mir. Inilah saatnya. Masa depan kamu ada pada dirimu sendiri, bukan orang lain.
Kesempatan ini hanya datang sekali. Pikir saja sendiri yang terbaik untuk diri
kamu sendiri”
PERSEKONGKOLAN RAHMAT
DAN WANITA PENGGODA
P
|
erjalanan
samir begitu panjang, didalam rumah yang anggun itu samir duduk menyendiri
disudut rumah, tempat biasa jika ia ada masalah atau pun ia rindu akan
malaikatnya yang telah tiada. Samir yang duduk terbelenggu bagaikan burung
gagak yang tak menentu arah. Rasa bimbang akan tawaran pak dekan masih
menyelimuti pikiran dan hatinya. Kabar dari pak dekan sungguh membuatnya
terlena dalam kalbu yang bimbang. Malam yang gelap menemani hati samir yang
gundah, bintang yang bersinar seakan tertawa melihat tingkah samir yang duduk
seperti orang yang tak punya pikiran. Matanya yang kosong menerawang ke langit
yang gelap tak bersinar seakan mencari petunjuk untuk rasa bimbang itu. Rasa
bimbang yang menyelimuti hatinya begitu dalam, matanya yang termenung
membuatnya terbuai dalam pikirannya yang ksong hingga ia tidak menyadari
kedatangan adiknya rahmat.
“samir?”
sebutnya
Samir tak
jua mendengar ucapan adiknya. Laki-laki itu semakin termenung dalam pikirannya
yang dalam. Rahmat adiknya melihat dengan aneh tak mengerti dengan tingkah
samir yang duduk tak menanggapi ucapannya.
“samir?”
ucapnya kembali
Mendengar
ucapan itu samir terbangun dari belenggu yang merenggut pikirannya. Dilihatnya
laki-laki yang duduk disampingnya itu. aconk? Pikirnya. Mengapa dia disini, apa
yang dia ingin lakukan? Sebutkan dalam hati. Samir melihat itu dengan heran dan
rasa takut. Hatinya tak tenang rasa gelisah tampak dengan jelas darinya, rasa
takut akan terjadi padanya.
“aconk?”
sebut samir heran
Pemuda
itu melihat kesamir yang duduk tak mengerti itu. pemuda itu tersenyum kecil,
alangkah bahagianya hati samir melihat itu. tak seperti biasanya pemuda itu
duduk dan tersenyum pada samir.
“besok
kamu banyak kerjaan tidak?” tanya pemuda itu kembali
“tidak,
ada apa?”
“aku
minta tolong. Bisa?”
“minta
tolong apa?”
“besok
aku ada janji sama teman aku. Dia dari jakarta Kita ketemuannya di hotel prima
abadi, aku mau kamu menemani aku untuk menemuinya, bisa?”
Alangkah
sukanya hati samir mendengar berita itu. kabar itu seakan menenangkan jiwanya.
Rasa tak percaya membuatnya selalu tersenyum kepada pemuda di hadapannya itu.
dilihat pemuda itu, sungguh tenang dan lembut sebutnya. Pemuda itu memang terlihat
sangat dingin, sikapnya yang lembut membuat samir begitu bahagia. Sesaat samir
termenung, ya tuhan terima kasih anugerahmu telah meluluhkan hatinya, sebut
samir.
“mengapa
harus kakak?” tanya samir yang berbahagia itu
“lalu,
siapa lagi? Abang tidak bisa, jadwal kuliahnya penuh sampai sore. Muk kerja.
Mas alan sibuk dengan laptopnya”
“jam
berapa?”
“sekitar
jam 2 an”
“tidak
bisa conk. Kakak takut nanti kakak hanya bisa membuat aconk malu disana?”
“justru
itu. kalau tidak kamu aku tidak sanggup untuk meladeninya?”
“kenapa?”
“dia itu
orang pintar, bahasa inggrisnya bagus. Pemikirannya panjang, aku tidak bisa
menyeimbanginya”
“lalu?”
“kamu kan
pintar, asisten dosen. Ya, otak kalian tidak jauh beda, kalau berbicara pasti
nyambung. Dia itu sukanya berbicara masalah sosial. Kan kamu suka gituan?”
Samir
termenung. Kabar itu seakan menghentak-hentakkan hatinya. Kabar dari aconk itu
lebih dia suka dari pada kabar dari pak
dekan tempo hari. Rasa takut seketika menghilang dari hati samir. Hanya
ketenangan dan kesejukan jiwa yang terasa. Samir tersenyum. Tak pernah
dipercayai olehnya seorang pemuda yang duduk disampingnya itu adalah rahmat
adiknya yang selama ini menyiksa dirinya bersama keluarganya yang lain. Rasa
benci yang sempat datang karena perilakunya pada samir hilang seketika dari
dalam pikiran samir. Kini rasa sayang dan cinta terlihat dimatanya yang
bercahaya itu.
“kalau
jam 2 kakak belum sampai dirumah”
“aku
jemput kamu dikampus. Kita pergi sama-sama”
Ucapan
pemuda itu sungguh enak didengar olehnya. Begitulah yang ia inginkan selama
ini, bisa diantar dan dijemput sama pemuda itu. yang mana ia dulu rasakan saat
ayahnya masih hidup.
“tapi..”
ucap samir
“tapi
apa. Kamu jangan khawatir, aku tidak akan berbuat apa-apa sama kamu jangan
takut” kata pemuda itu lalu “tapi kalau kamu tidak bisa, juga tidak apa-apa.
Nanti aku sendiri saja yang menemuinya”
“insyallah,
kakak usahakan” kata samir
“serius?
Ok. Besok aku akan jemput kamu dikampus.”
“iya”
Lalu
pemuda itu melarikan diri dari hadapan samir. Kini tinggallah samir seorang
diri. Rasa bahagia tak terbendungi olehnya. Senyum selalu terlihat dibibirnya.
Langit malam pun tersenyum melihat tingkah laki-laki yang bebahagia itu.
matanya bercahaya, terlukis suka cita yang sangat dalam. Ingin rasanya
laki-laki itu memberitahu berita ini pada sahabatnya amar. Ingin rasanya ia
berlari dan memeluk rahmat adiknya itu. sungguh rasa bimbang kabar pak dekan
seketika menghilang mendengar kabar dari
rahmat adiknya itu.
Lalu
samir pun melangkah dan ingin segera menyampaikan berita baik itu kepada
adiknya rivandi yang tengah duduk menulis tugas sekolahnya. Adiknya melihat
dengan heran, tingkah samir begitu aneh. Sekali-kali pemuda yang menulis itu
melihat senyum dibibir kakaknya.
“ada apa
kak? Habis berbicara sama mas toh?” tanya adiknya
Samir
hanya tersenyum lepas bila ia dekat dengan malaikat penggi ayahnya, atau samir
selesai berbicara lewat tepon dengan masnya yang jauh di tanah jawa.
“tidak”
“lalu?”
“tidak
apa-apa, kakak lagi senang saja”
“iya, ada
apa? Apa yang membuat kakak senang. Tak seperti biasanya kakak tersenyum lepas
seperti itu. terakhir apung lihat kakak tersenyum seperti itu beberapa bulan
yang lalu saat mas dimas kesini? Ada apa toh kak. Cerita sama apung, jangan
buat apung penasaran”
“kakak
besok mau pergi, mau bertemu sama seseorang”
Rivandi
adiknya semakin tak mengerti yang diucapkan oleh samir. Dilihatnya kembali
kakaknya yang terhentinya tersenyum.
“siapa?”
“anak
jakarta”
“wah.
Cewek atau cowok?”
“cewek”
“kekasih
kakak ya?”
Rivandi
seakan membuang rasa penasarannya. Ia selalu bertanya pada pemuda itu. rivandi
mendekati kakaknya yang merabahkan tubuhnya diatas kasur yang begitu lembut
seperti kapas putih. Ia ingin tahu lebih dalam perempuan yang ingin berjumpa
pada kakaknya.
“kekasih.
Bukan. Kakak saja belum tahu orangnya”
“ha, jadi
kakak belum pernah bertemu sama dia?”
“belum”
“bagaimana
sih kak. Mau janjian bertemu sama orang yang belum kenal. Lebih baik tidak usah
kak, nanti kakak ditipunya”
“apung,
jangan berburuk sangka dulu. Kakak perginya tidak sendirian”
“sama
siapa? Bang amar?”
“tidak”
“lalu”
“sama
aconk”
“aconk?”
sebut kembali rivandi
Mendengar
itu rivandi melihat pemuda itu tak enak, matanya seolah mengatakan bahwa
pertemuan itu adalah bohong. ini adalah skenario yang dibuat oleh rahmat untuk menjatuhkan
kakak sebutnya dalam hati. Melihat wajah adiknya berubah, samir pun heran,
senyum dibibirnya menghilang. Ia dapat melihat kekecewaan pada adiknya.
“jangan
kak. Lebih baik kakak batalkan pertemuan itu”
“kenapa?”
“kenapa?
Kakak tanya kenapa?” sebutnya sesaat ia tertawa kecil “kak, aconk hanya
memanfaatkan kakak, kita tidak tahu dibalik pertemuan itu. setelah itu kakak
yang menjadi korban”
Rivandi
dengan tegas mengatakan hal itu pada kakaknya. Matanya terlukis rasa khawatir.
Terlihat pula rasa kecewa pada samir.
“apung”
Rivandi
berdiri, ia mejauh dari samir beberapa langkah. Ia tak melihat kakaknya, ia
berpaling dari kakaknya. Dilihatnya seisi kamar itu, entah apa yang ia lihat.
“tidak.
Kakak percaya sama aconk. Aconk sudah janji sama kakak, tidak akan menyakiti
kakak”
“lalu
kakak percaya?” sebutnya
“percaya
sama saudara sendiri tidak salah kan”
“ha,
terserah kakak. Apung Cuma bisa menasihati kakak. Pesan apung. Hati-hati”
Lalu
kemudian rivandi pemuda itu melarikan diri dari hadapan samir dan melanjutkan
menulisnya yang sempat terhenti karena rasa penasaran pada sosok perempuan itu.
melihat tingkah adiknya, samir seolah merasa bersalah. Ia mendekati pemuda yang
menulis itu, dipeluknya tubuh adiknya itu dari belakang dengan lembut. Dekapan
itu sungguh membuat adiknya merasa nyaman dan tenang serasa dipeluk oleh
malaikatnya yang telah telah pergi jauh
dan tak akan kembali. Samir dengan pelan dan perlahan menenangkan hati adiknya
yang tak elok itu. dengan lembut ia berkata
“apung,
kakak tahu apung khawatir sama kakak. Kakak juga sayang sama apung. Aconk
adalah adik kakak, kakak percaya sama aconk, tidak akan menyakiti kakak. Kakak
tahu apung berbicara seperti itu, karena apung selalu melihat kakak disakiti
oleh aconk. Kali ini firasat kakak mengatakan berbeda”
“bagaimana
firasat kakak itu salah?”
Sesaat
samir terdiam, dia tak tahu harus mengatakan apa. Jantungnya berdetak. Tubuhnya
serasa panas dingin.
“apung.
Apung kan tahu, sejak kepergian ayah dan bunda, muk, aconk, abang, dan mas
alan. Tidak pernah berbicara sama kakak. Mereka tak sudih bertatap mata sama
kakak. Kakak rindu akan kebersamaan seperti dulu saat ayah dan bunda masih
hidup. Dua tahun kakak menunggu kebersamaan itu. dan kini tuhan memberi
kesempatan kepada kakak untuk sesaat bersama aconk. Walaupun tidak bisa seperti
dulu tapi ini sudah membayar rasa rindu hati kakak ”
“tapi
kak”
“sudahlah,
hilangkanlah pikiran buruk apung itu. do’akan saja besok kakak bisa lancar
pertemuan sama perempuan itu”
Hati
adiknya tak pernah tenang. Rasa takut pada kakaknya masih bersarang
dipikirannya. Sungguh berat rasanya ia melepaskan kakaknya untuk bertemu wanita
misterius itu. rivandi percaya akan firasat kakaknya itu. rasa tenang dan
nyaman didekapan kakaknya membuat dirinya begitu layu mengikuti perintah sang matahari
hidupnya.
Mentari
pagi begitu indah, begitu menawan memancarkan sinarnya. Diufuk tikur terlihat
dengan jelas langit yang begitu jernih bersinar awan putih bersih menggambarkan
pagi yang cerah. Pagi yang cerah menggambarkan perasaan hati samir. Pagi itu
begitu indah bagi laki-lai yang duduk dihalte itu. senyum tak pernah hilang
dari bibir kecilnya. Hari ini ia akan pergi bersama adiknya rahmat. Alangkah
bahagiannya hati laki-laki itu dapat bernstalgia bersama adiknya. Tak kuasa
hatinya untuk segera memberi kabar baik itu kepada sahabatnya amar.
Amar
pemuda itu tak terlihat dimata samir ketika ia tiba di kelas. Hanya terlihat
beberapa temannya yang asik bercangkraman dengan temannya yang lain. Pagi itu
panas terik matahari sangat membakar ubun-ubun. Terasa kulit terbakar karena
cahayanya yang begitu cerah, namun kebahagiaan hati samir dapat menghalang
panasnya matahari yang terasa panas dikulit. Tak hayalnya laki-laki itu
tersenyum dilihatnya suasana kelas, tak terlihat juga olehnya pemuda yang ia cari
itu. tak sabar hatinya untuk memberi tahu kepada pemuda itu perasaan hatinya.
Beberapa saat ia menunggu, akhirnya ia dapat juga melihat pemuda yang ia tunggu
selama ini.
“amar”
sebutnya
Amar
pemuda itu melihatnya dnegan heran, alis matanya mengangkat ke atas, ia
melihatnya dengan tak mengerti, tingkah samir begitu aneh.
“kamu
baik?” tanyanya
“iya, aku
baik”
“tumben
duluan menyapa, biasanya aku. Kamu aneh senyum-senyum sendirian?”
“aku lagi
senang.”
“ada apa?
Kamu sudah setuju dengan penawaran media percetakan itu?” sebutnya
Seketika
samir tak bersemangat mendengar ucapan sahabatnya. Ia tak ingin sejenak untuk
memikirkan persoalan penawaran itu. hatinya sudah bulat untuk menolak tawaran
itu. ia ingin bersama-sama saudaranya. Kini adiknya telah berubah pikiran untuk
menerima tawaran itu.
“cukup
mar. Aku tidak bersemangat untuk membahas itu”
“lalu
apa?”
“nanti
aku mau bertemu dengan seorang perempuan”
“ha.
Perempuan?” tanya amar tak percaya
“iya,
perempuan. Kenapa Ada yang aneh?”
“tidak
sih, tapi tumben kamu ingin bertemu sama perempuan. Biasanya...”
“dia
teman aconk. Aconk mau bertemu dengannya bersama aku”
Mendengar
itu amar sedikit terkejut. Jantungnya terasa berhenti berdetak.
“aconk”
sebutnya
“iya”
“kamu
yakin?”
“pertanyaan
kamu sama persis seperti apung adikku. Memang ada yang aneh, kalau aconk
mengajak aku untuk menemui temannya?”
“ya aneh.
Tidak ada api toh tiba-tiba ada asap. Samir kamu jangan ikut maunya, mungkin
dia Cuma mau permainkan kamu saja.”
“amar,
percaya sama aku. Aconk tidak apa-apain aku. Dia juga sudah janji sama aku
tidak jahilli aku”
“samir,
kamu jangan terlena dengan rayuan dia. Apa kamu tahu perempuan itu? apa kamu
penah bertemu dengan dia sebelumnya?”
“belum”
“samir,
lebih baik kamu tolak ajakan aconk. Dimana kalian mau bertemu?”
“hotel
prima abadi”
“ha.
Samir. Lebih baik kamu jangan pergi, apalagi bertemu dihotel”
“mengapa?”
“kamu
tidak tahu itu hotel apa?”
“tidak”
“ah,
sudahlah. Percuma saja aku jelasin sama kamu, kamu juga tidak mengerti”
Amar
begitu benci mendengar ucapan samir. Samir begitu polos dengan mudah diajak
oleh adiknya. Sikap amar berubah setelah mendengar perkataan samir. Senyum
dibibirnya tersimpan dibalik bibir merahnya. Samir melihat perubahan siap amar,
Sikap amar begitu serupa dengan sikap adiknya rivandi ketika samir mengatakan
hal yang sama.
“amar”panggilnya
Namun
laki-laki itu pun tak melihat kearah samir. Ia memandang keluar, tak sudih
rasanya ia mendengar ucapan sahabatnya itu, sementara itu samir merayu untuk
melihatnya dan memberikan penjelasan.
“amar.
Dengarkan aku dulu”
“kamu itu
sungguh polos samir. Kamu itu dengan
mudah dirayu oleh musuhmu, karena kamu itu memiliki hati yang berbeda
tidak tahu mana yang baik untuk kamu dan mana yang tidak baik untukmu”
“apa
maksudmu?”
“aconk
hanya memanfaatkan kamu”
“tidak
amar. Aconk....”
“itu,
sikap kamu itu sungguh polos, tidak pernah menelaah lebih jauh. Kamu tahu kan
adik kamu itu selama ini bersikap sama kamu? jangan kamu pikir dia mengajak
kamu bertemu sama perempuan itu sikapnya sudah berubah? Tidak samir. Kamu
salah”
“amar.
Percaya sama aku. Aku yakin dia tidak akan melakukan apa-apa”
“ha,
bodoh. Percaya sama laki-laki bajingan seperti itu”
Mendengar
ucapan amar, seketika samir tak percaya, matanya membesar, hatinya serasa
disayat sembilu. Hinaan itu seperti bom atom yang meledak ditelinganya.
“amar,
jaga mulut kamu. kamu tidak berhak mengatakan seperti itu. kamu juga tidak
berhak melarang aku untuk bertemu dengan siapa saja. Itu hak aku. Kamu jangan
ikut campur, aku akan terima resikonya” ucap samir
Samir
terlihat marah, wajahnya berubah menjadi merah. Aliran darahnya begitu cepat
mengalir, detak jantungnya semakin cepat. Amar pemuda itu terdiam dalam emosi.
Ingin rasanya ia memukul laki-laki yang berdiri dibelakangnya itu, karena
kebodohannya untuk melewati jurang yang curam.
“resiko.
Apa kamu tahu resikonya nanti. Ha. Aku memang tak berhak melarang kamu untuk
bertemu dengan siapa pun. Itu hak kamu, aku hanya memberi peringatan kepadamu,
kalau laki-laki yang mengajakmu itu adalah laki-laki bajingan. Tidak lebih dari
seorang banci”
“amar.
Cukup, aconk adalah adik aku. Aku tidak terima kamu menghina dia. Kalau kamu
menghina dia sama saja kamu menghina aku”
“haha..”
amar tertawa kecil, lalu kemudian “adik? Apakah Dia memang adik kamu? pernahkah
dia menganggapmu abangnya? Kalau memang dia adik kamu pernahkah dia
memperlakukan kamu sebagai abangnya?” sebut amar penuh kebencian
Sungguh
kata-kata amar sangat menyakitkan hati samir. Matanya semakin merah, wajahnya
semakain aneh. Bola matanya terlukis kemarahan. Matanya penuh kebencian pada
laki-laki dihadapannya itu.
“kamu itu
yang pengecut. Hanya bisa membuat perkara dalam hidup orang. Kamu tidak
mengerti apa pun dalam hidup aku. Kamu tidak mengerti semua keadaan aku. Jangan pernah untuk mengatakan hal itu, kalau
kamu tidak tahu masalah pribadi orang”
“perkara?
Aku ini hanya bisa membuat perkara dalam hidup kamu?”
“iya”
“ini
bukan samir yang aku kenal. Samir kini begitu ganas Otak Penuh keegoisan.
Amarah dan benci”
“kamu itu
yang egois. Sok tahu, sok pintar, berlebihan, laki-laki pengecut, banci,
pecundang dan.....”
“samir
stop..”
Genggaman
tangan laki-laki itu hampir ia layangkan di hadapan samir yang menghinanya.
Sungguh kedua pemuda itu bergulat dengan emosi, mata mereka merah tak
bercahaya. Tangan mereka bergetar karena amarah masing-masing, sentara teman
mereka melihat dengan jelas pergaulan hebat kedua sahabat itu. melihat itu,
samir terdiam seketika. Mata merahnya memandang genggaman tangan amar yang
ingin dilayangan padanya. Samir semakin benci melihat itu. amar terdiam, ia tak
tahu apa yang ia lakukan.
“kamu
ingin genggamanmu itu sampai dikepala aku. Silahkan, aku siap. Aku tidak takut
dengan seorang pecundang yang hanya bisa menyelesaikan masalah dengan otot.”
“maaf,
aku terlalu emosi” ucap amar menyesal
“amar,
mulai sekarang kamu jangan pernah masuk kedalam permasalahan aku. Dan kamu
jangan pernah untuk ikut campur dalam permasalahan aku. Ini masalah aku,
biarkan saja aku yang menghadapai masalah aku”
“aku tidak
pernah ikut campur dalam urusan kamu. aku juga tidak ingin tahu, selama ini
kamu yang inginkan aku untuk membantumu menyelesaikan masalahmu dengan
keluargamu”
“kalau
kamu tidak suka. Mengapa kamu mau?”
“karena
aku peduli denganmu sebagai sahabatku. Tidak lebih”
Setelah
perdebatan panjang itu, amar pun pergi meninggalkan samir seorang diri. Samir
yang termenung itu menyaksikan kepergian sahabatnya itu. samir tak menghentikan
langkah amar, hingga ia pergi dari ruangan itu. samir duduk termenung, sungguh
masalah ini menjadi beban bagi batinnya. Karena sahabat baiknya telah
membencinya. Kini tinggal samir seorang diri, dilihatnya orang-orang
disekitarnya. Namun tak seorang pun yang bersimpati padanya.
Terik
matahari siang itu sangat panas. Hawa disekitar kampus tidak enak, gelisah dan
panas begitu terasa. Daun-daun yang berguguran menemani samir yang duduk
sendiri didepan kelasnya. Kegelisahan tampak dengan jelas diwajah samir yang
tengah asik duduk menunggu adiknya rahmat. Perasaannya begitu senang, tak dapat
terlukiskan kesenangan dimatanya. Ditengah kesendirian samir, tiba-tiba seorang
laki-laki muncul dengan tiba-tiba..
“samir”
sebut laki-laki itu
Samir
melihatnya dengan aneh. Matanya menatap dengan kebencian. Bola matanya tak
begerak hanya melihat pada laki-laki yang berdiri dihadapannya itu.
“ada apa
lagi?” tanyanya
“aku..aku
minta maaf”
“untuk
apa?”
“baik.
Aku salah. Aku tidak mengerti dengan perasaan kamu. tapi aku tadi Cuma
hanya....”
“sudahlah
mar, aku tidak ingin lagi mendengar penjelasan apapun”
“tapi
mir”
Ditengah
percakapan dua laki-laki itu, tiba-tiba datang sebuah mobil mewah berwarna
hitam datang menghampiri mereka. Lalu samir dan amar melihat ke arah mobil yang
berhenti di hadapan mereka. Samir tersenyum melihat itu namun amar tak mengerti
dengan sikap samir. Sesaat suasana terdiam tak terdengar percakpan dari
laki-laki itu, dan tiba-tiba keluar seorang pemuda dari dalam mobil itu.
“aconk?”
sebut samir
Pemuda
itu tersenyum melihat samir yang berdiri tersenyum itu. amar melihat dengan
benci, matanya tergambar dengan jelas amarah dan kebencian pada laki-laki yang
berparas tampan itu. amar menggenggam tangannya, ingin rasanya ia mendekati dan
memukul laki-laki bajingan itu, ingin rasasnya amar memberi pelajaran pada
pemuda yang berbaju putih itu. sekali-kali amar melihat kearah samir yang tak
hentinya tersenyum.
“ayo”
sebut rahmat pada samir
Mendengar
itu samir segera bergegas mengambil tas dan bukunya yang ia letak dikursi
disampingnya.
“samir,
kumohon...” ucap amar
“maaf,
mar. Aku pergi dulu”
“samir,
jangan”
Amar
mencoba untuk menahan tangan samir, namun samir tak menghiraukan perkataan
laki-laki yang khawatir itu. ia terus melangkah mendekati mobil mewah itu dan
masuk ke dalamnya. Sesaat amar melihat itu, dan mobil mewah itu pun pergi dari
hadapan amar yang berdiri terdiam dalam kekhawatiran.
Betapa
bahagianya hati samir kala itu, tak hentinya ia menatap wajah adiknya yang
bergitu tampan dan rupawan. Bibirnya terlukis dengan jelas senyum kebahagiaan
yang mendalam. Sementara itu amar yang terduduk termenung dikanti kampus
membayangkan sesuatu hal yang terjadi pada samir.
Kebahagiaan
samir tak hilang hingga samir dan rahmat sampai ditempat perjanjian itu. samir
melihatnya dengan aneh, dilihatnya sekeliling hotel itu, tak seorang pun yang
terlihat. Begitu pun dengan wanita yang dijanjikan itu. sekali-kali samir
melihat rahmat yang berdiri dihadapannya
itu, betapa bahagianya hati laki-laki itu.
“dimana
dia?” tanya samir pada rahmat
“entahlah.
Katanya jam dua, tapi dimana dia?”
“mungkin
lagi dijalan”
“iya.
Kita duduk disana saja dulu”
Samir pun
melangkah kesudut ruangan yang tersedia kursi yang sudah tampak rapuh, samir
tak hayalnya melihat pemuda dihadapannya itu, ia tersenyum lalu pemuda itu
membalasnya. Betapa bahagianya hati samir melihat senyum dibibir laki-laki itu.
beberapa menit dalam kediaman kedua pemuda itu, tak terdengar percakapan antara
pemuda itu, rasa canggung dan tak biasa tergambar dengan tingkah kedua saudara
itu. beberapa menit dalam belenggu bisu itu datang seorang wanita yang berwajah
cantik dan berkulit putih, menghampiri samir dan rahmat yang tengah duduk
terdiam itu.
“rahmat?”
sebutnya
“hei..
raya?”
Samir
melihat dengan jelas pergaulan adiknya dengan wanita yang bernama raya itu.
“apa
kabar?” Ucap wanita itu
“baik.
Kamu apa kabar?”
“baik, oh
iya bagaimana presentasi kemarin?”
“lancar.
Tidak ada kendala” lalu “oh, iya ini kenalkan. Samir saudara aku”
Lalu
samir menyalami wanita yang berbadan tinggi itu.
“samir”
sebutnya
“raya”
Sesaat
samir terdiam dalam perkenalan itu, matanya menatap kearah wanita yang cantik
itu, samir terlena dengan paras wanita itu, sungguh anggun bisiknya dalam hati.
“ayo
duduk raya” sebut rahmat
“oh ini
toh saudara yang kamu bilang asisten dosen itu, mat?” ucap wanita itu
“iya,
samir mahasiswa kesayangan pak dekan”
Mendengar
itu samir tersenyum malu, Samir tak hayalnya melihat kewanita yang duduk itu,
dilihatnya wanita itu dengan dalam, sungguh wanita itu serupa dengan nadia
teman lamanya tetapi nadia tidak memiliki rambut panjang seperti wanita itu.
“rahmat
banyak cerita tentang mas loh?”
“oh,
iya?”
“iya. Dia
bilang kalau mas itu baru saja memenangkan sayembara menulis dari percetakan
yang terkenal dijakarta”
Alangkah
senangnya hati samir mendengar itu. kebencian pada adiknya itu seketika
menghilang dari benaknya. Sekali-kali samir melihat kearah rahmat yang tengah
duduk tersenyum itu
“oh iya?
Dari mana kamu tahu conk, kalau kakak menang dari sayembara itu?” tanya samir
pada adiknya
“ah,
sudahlah kamu jangan tanya dari mana aku tahu kabar itu, satu kampus sudah tahu
kok”
Mendengar
itu mereka pun tertawa dalam keceriaan, hati samir yang bahagia tak dapat
tergambarkan lagi.
“kata
aconk. Kamu anaknya pintar. Suka sosial berbagi bersama” tanya samir pada
wanita cantik itu
“ah,
biasa saja kok mas. Rahmat itu yang
berlebihan. Kalau suka sosial iya memang, dari aku kelas 1 SMA aku aktif dalam
organisasi sosial”
“bagus.
Sudah cantik, baik lagi mempunyai jiwa sosial yang tinggi” sebut samir kembali
Rahmat
pemuda itu tak terdengar bersuara, ia hanya menyaksikan dengan jelas percakapan
antara samir dan wanita itu. seketika suasanya menjadi hening bagaikan suasa
malam hari. Samir larut dalam kebahagaiaan.
“samir,
tunggu sebentar. Aku ingin berbicara pada raya” pinta rahmat
“oh, iya.
Silahkan”
Lalu
rahmat dan laki-laki itu melarikan diri dari hadapan samir yang tengah duduk
itu. samir melihat dengan jelas rahmat dan wanita itu bercakap kecil. Dari
kejauhan samir melihatnya dengan aneh, seperti ada sesuatu yang disembunyikan
dari pemuda dan wanita itu. beberapa menit samir menunggu lalu rahmat mendekati
samir seorang diri.
“raya
mana?”
“toilet”
“bagaimana?
Cantik tidak?”
“apanya
yang cantik?”
“ah,
bilang saja kamu suka kan?” ledeknya
“apaan”
sebut samir sedikit tersenyum malu
Lalu
beberpa menit setelah percakpan rahmat dan samir, raya datang mendekati kedua
pemuda itu. dilihatnya wanita yang berjalan anggun itu, sunggu cantik pikir
samir dalam hatinya. Raya yang berjalan dengan membawa beberapa gelas
ditangannya. Lalu ia duduk ditempatnya.
“ini,
minum. Aku yang ambil”
“kok,
Cuma dua. Raya tidak minum?” tanya samir
“aku
tidak minum gituan. Aku hanya minum air putih saja”
Lalu
samir dengan segera minum air yang dibawa oleh raya begitu pun dengan rahmat.
Segelas air yang manis dan begitu nikmat. Samir melihat rahmat yang duduk
disampingnya, ia tersenyum melihat samir minum air yang di gelas. Dilihatnya
pula wanita yang duduk cantik itu lalu ia tersenyum pula.
“kapan
kamu pulang raya?”
“mungkin
lusa. Soalnya besok aku ada reunian dengan teman SMA. Oh iya, kapan mau main
kejakarta?”
“tidak
tahu, belum ada rencana. Iya kamu tahu sendiri kegiatan kuliah aku, penuh”
“iya pak
dokter”
Samir
hanya duduk mendengar percakapan antara kedua pemuda dan wanita yang cantik
itu. sekali-kali ia memegang kepalanya, dan mengusap matanya karena ia tidak
dapat melihat dengan jelas. Kepalanya sakit, rasa mengantuk terlihat dari
matanya. Melihat tingkah samir, rahmat melihatnya dengan aneh begitu pun dengan
wanita itu
“kamu
tidak apa-apa?” ucap rahmat
“tidak”
“kenapa
mas. Sepertinya mas sakit?” tanya wanita itu
“tidak
apa-apa. Kepala kakak sakit”
“istirahat
saja dulu” sebut rahmat
“iya.
Kita kekamar saja. Aku sudah pesan kamar satu” tutur wanita cantik itu
Tak kuasa
menahan sakit kepalanya, lalu samir pun tertidur. Rahmat dan wanita itu pun
tersenyum melihat itu. sungguh persekokonglan rahmat dan wanita itu begitu
cepat berjalan. Dan samir pun dibawa kedalam kamar hotel itu.
FOTO MEMBAWA PETAKA
B
|
eberapa
hari setelah kejadian dihotel itu, samir selalu terpikir pada dirinya. Dalam
kamar yang besar itu, ia duduk diatas kasur yang besar dan termenung. Dalam
berbalut baju kaos yang berwarna putih ia tak henti-hentinya untuk membayangkan
sesuatu hal yang telah terjadi padanya. Sikap rahmat adiknya tak juga berubah,
setelah pulang bertemu dengan wanita itu sikapnya kembali seperti dulu, yang
kejam dan tak punya perasaan
“ada apa?
Dari tadi apung lihat kakak hanya termenung. Ada masalah?” tanya rivandi
adiknya
“tidak”
“bagaimana
sayembaranya? Kakak terima?” tanyanya
“tidak
pung. Jangan bahas itu lagi, kakak tidak niat untuk ambil kontrak sayembara
itu”
“kenapa?
Itu kan kesempatan bagus kak? Tidak semua orang bisa kan ikut sayembara itu. oh
iya, teman apung sudah ada yang punya novel kakak. Apung lihat, bagus.
Kata-katanya sederhana namun menusuk jiwa, diksinya begitu anggun dan indah”
Mendengar
itu samir pun melihat ke arah adiknya yang sedang menulis. Ia tersenyum dan
mendekati adiknya.
“apung
mau kakak ambil kesempatan itu?”
“kenapa
tidak?”
“meskipun
kakak pergi dari rumah”
Mendengar
itu. adiknya melihat ke pemuda yang berbicara itu. matanya melihat tak enak,
sikapnya berubah bibirnya yang tersenyum lalu menghilang.
“kalau
itu membuat kakak bahagia, kalau itu membuat masa depan kakak baik. Apung
setuju-setuju saja”
Samir pun
tersenyum mendengar itu, dilihatnya adiknya yang tampan itu dan lalu ia
berbisik kecil.
“kakak
yang tidak sanggup pergi dari adik-adik kakak”
Rivandi
tersenyum mendengar itu. dilihatnya laki-laki yang berdiri dihadapannya itu.
sungguh laki-laki yang penuh kebaikan dan keikhlasan. Berjiwa besar seperti
almarhum ayah dan ibunda. Tapi mengapa ia selalu dapat siksaan dari saudaranya.
Apa salah laki-laki itu. sungguh ia adalah anak yang begitu malang.
Di luar
kamar itu, terdengar percakapan antara adik-adik dan saudaranya yang lain.
“muk.
Kapan kita kejogja. Cibon sudah rindu sama ayah bunda” tanya firman adiknya
“tunggu
muk cuti. Sekarang pekerjaan muk banyak”
“kapan
cutinya muk?” iqbal bertanya kembali
“mungkin
bulan depan”
Percakapan
itu sungguh diharapan oleh samir. Ia berharap untuk dapat duduk diantara
laki-laki yang bercengkraman itu, begitu banyak hal yang ingin ia katakan.
Begitu banyak cerita yang ingin ia berikan. Namun itu hanyalah mimpin yang tak
dapat terwujud, tak akan diterima oleh laki-laki yang duduk itu bila samir bergabung
diantara mereka. Diantara percakapan itu tiba-tiba seorang pemuda tampan
malaikat penyelamat hidup samir datang dengan tergopoh-gopoh. Begegas laki-laki
itu membuka pintu tanpa memberi salam.
“mas?”
sebut iqbal heran
Melihat
kejadian itu semua suasana menjadi tak menentu. Rahmat dan alan melihat dengan
heran kelakuan pemuda itu. begitu pun dengan hadi dan sugiarto melihatnya
dengan tak mengerti. Namun pemuda itu terlihat berbeda, amarah dalam dirinya
begitu tinggi, raut wajahnya yang penuh dengan ambisi. Mata yang tak bercahaya
tampak dengan jelas.
“mana
samir?” sebut laki-laki itu
“kakak
didalam kamar. Ada apa mas?” tanya salah satu diantara pemuda itu
Terlihat
ada beberapa orang yang berdiri dibelakang pemuda yang marah itu. pemuda yang
bersaudara itu melihatnya dengan heran. Tak seperti biasanya keluarga dari jawa
datang dengan tiba-tiba tanpa memberi tahu dahulu. Lalu pemuda yang marah itu
langsung berlari menuju kamar untuk menemukan samir
“samir.
Samir” panggilnya sepanjang jalan
Didalam
kamar yang besar itu terdengar percakapan kecil antara samir dan adiknya. Wajah
berseri samir tak hayalnya mengenangi pertemuan antara perempuan cantik dari
jakarta dan dirinya.
“samir....samir”
Mendengar
suara memanggilnya samir pun membangunkan dirinya dari tempat tidurnya. Samir
melihat malaikatnya datang dengan wajah yang tak seperti biasanya penuh amarah
dan benci. Ditangannya tampak ia memegang foto. Samir melihat dengan mata yang
penuh tanda tanya. Betapa bahagianya samir melihat ketangan malaikat
pelindungnya itu. samir tersenyum pada laki-laki itu, namun malaikatnya itu
tidak membalas senyumannya
“mas?”
sebut samir heran
Lalu
dengan tiba-tiba laki-laki yang baru datang itu melangkah mendekati samir yang
duduk penuh keheranan, wajahnya penuh amarah matanya tak tergambar kecerahan,
bibirnya penuh kebencian. Samir tak hayalnya tersenyumm. Wajahnya tampak
bahagia, matanya terlukis dengan jelas suka cita hatinya melihat kedatangan
malaikatnya.
Ppruukkk
Dan
tiba-tiba tangan laki-laki yang tampan itu dilayangkan tangannya kewajah samir
yang tengah duduk bahagia. Melihat itu, seketikan samir memegang pipinya yang
dipukul oleh malaikatnya, rivandi menyaksikan itu mendekati kedua pemuda yang
sedang bergaul tak menentu itu.
“ada apa
mas? Kok, tiba-tiba main pukul saja?” ucap rivandi
“ada apa
mas?” tanya samir tak mengerti
“ini apa?
Jelaskan”
Laki-laki
itu melemparkan dua buah foto dari tangannya.
“ini
apa?”samir bertanya kembali
“jelaskan”
Dengan
nada yang kasar pemuda itu berucap pada samir yang terus menerus memegang pipi
kirinya yang sakit karena pukulan pemuda itu. alangkah terkejutnya samir ketika
ia melihat foto yang ada ditangannya. Ia tak pernah menyangka kalau itu adalah
foto dirinya yang telanjang dada bersama seorang perempuan cantik yang ia temui
beberapa waktu dulu.
“astagfirullah..
mas.. ini..”
“ini apa?
Kamu sudah berbuat zina?”
“astagfirullah.
Demi Allah mas, kakak tidak pernah melakukan itu”
Pprruuuakkk
Tangan
laki-laki itu kembali memukul pipi samir yang duduk penuh kegelisahan.
Sementara itu rivandi adiknya hanya melihat tanpa kata-kata yang keluar dari
mulutnya, ia tak percaya yang ia lihat didalam foto itu. Mendengar keributan
antara kedua pemuda itu terlihat saudara-saudara samir masuk kedalam kamar
termasuk ayah dan bundanya yang baru saja datang.
“ada apa
mas?” tanya hadi dengan heran
Pemuda
itu tak menjawab, ia hanya mengalihkan pandangannya dari sisi samir yang
terduduk itu.
“ada
apa?” laki-laki itu kembali bertanya
Diambilnya
foto dari genggaman samir yang duduk itu, tak hayalnya ia memegang wajahnya
karena sakit. Samir melihat dengan jelas betapa terkejutnya hadi ketika melihat
foto itu. matanya membesar dengan jelas tergambar wajahnya yang amat marah.
Tiba-tiba sugiarto mendekati laki-laki yang tengah memegang foto samir bersama
seorang wanita itu.
“ada apa
muk?”
Sugiarto
pun terkejut melihat foto itu, digenggam tangannya dengan erat. Ingin rasanya
ia memukul samir yang tengah menangis itu, ingin rasanya ia melemparkan diri
samir dari rumah itu karena telah berbuat tidak baik.
“tidak
muk, kakak tidak pernah melakukan hal itu. kakak bisa jelaskan” pujuk samir
pada abang-abangnya
Pprruuak
Akhirnya
tangan hadi pun dilayangkan pada wajah samir yang terus menangis itu.
“kamu.
memalukan. Anak tidak tahu diri”
“foto itu
tidak benar muk. Wanita itu teman aconk?” sebut samir
“hei.
Jangan kau sebut-sebut nama aku dalam masalah kamu. aku tidak tahu masalah
kamu” teriak rahmat dari kejauhan
“jangan
kau buat kakak jadi bersalah seperti ini conk, tolong jelaskan kepada muk,
abang siapa wanita itu”
Lalu
rahmat pun mendekati abangnya yang tengah memegang foto itu, dilihatnya foto
yang ada gamabr samir bersama wanita penggoda itu. sekali-kali laki-laki itu
melihat samir, lalu melihat ke foto itu kembali. Wajahnya tak dapat
tergambarkan, entah apa yang akan laki-laki itu jelaskan.
“kakak
mohon conk, tolong jelaskan” sebut kembali samir
“ini
bukan teman aconk muk. Aconk tidak tahu siapa wanita yang ada didalam foto ini”
Alangkah
pilunya hati samir mendengar pernyataan rahmat. Betapa kecewanya hati laki-laki
yang menangis itu. tak pernah ia duga adiknya akan berdusta seperti itu pada
dirinya. Betapa kejamnya rahmat membuat samir menderita. Tangis samir terdengar
semakin menjadi-jadi, seolah-olah derasnya ombak yang menerpa mengikis karang
yang besar.
“ya Allah
aconk, tega kamu berbohong sama kakak”
Tidak
puas membuat samir tersiksa lalu hadi pun menyeret samir keluar kamar. Dengan
kencang hadi menarik-narik tangan samir hingga ia merasa sakit. Sementara itu,
rivandi hanya diam tanpa berkata-kata melihat samir ditarik oleh abangnya. Ia
tak percaya akan kejadian yang dilihatnya.
“ampun
muk” ucap samir
“ayo
ikut”
“mas,
tolong mas.. bunda, ayah tolong kakak”
Dimas dan
orang tuanya pun tak menghiraukan perkataan samir yang tengah diseret bagaikan
hewan. Tampak dengan jelas diraut wajah hadi dan sugiarto amarah yang sangat
besar. Kecewa dan marah terlukis dengan jelas dikelopak matanya, samir yang
terus menerus memohon ampun pada abang-abangnya namun perkataannya tak pernah
dihiraukan.
“perlakuan
kamu itu memalukan. Seperti binatang. Ayah tidak pernah mengajarkan
anak-anaknya untuk menjadi penzina” sebut hadi dengan nada yang keras
“kakak
tidak pernah berbuat zina muk, demi Allah”
Samir
terus menerus dipukul. Hingga ia terjatuh dilantai tepat diruang keluarga yang
biasa ditempatkan untuk menyelesaikan masalah.
“duduk”
pinta hadi pada samir
Dengan
patuh dan rasa sakit samir mengikuti perintah abangnya.
Pprruuaakk
Tiba-tiba
genggaman riki sepupunya yang tegak berdiri disampingnya memukul samir dengan
keras, hingga bibirnya pecah dan berdarah.
“biadab.
Memalukan keluarga” sebutnya
“apa mau
kamu ha? Kalau kamu ingin membalas perlakuan kita, kamu bisa mengatakan dengan
baik-baik. Jangan kamu membuat malu kita semua” ucap hadi dengan nada yang
keras
“lihat,
semua orang tahu perlakuan kamu. foto itu sudah tersebar di dunia maya, kamu
itu anak yang selalu membuat susah orang. Tidak puas kamu melihat ayah dan
bunda meninggal? Sekarang kamu mau membuat malu keluarga?” cetus sugiarto
“demi
Allah. Kakak tidak pernah melakukan itu”
“ini apa.
Alasan apa lagi yang kamu ingin berikan pada kami lagi? Kebohongan apa lagi
yang kamu ingin berikan kepada kami?”
“foto itu
fitnah muk. Kakak tidak tahu kalau kakak ada difoto itu”
“kamu mau
bilang kalau foto itu editan? Kamu pikir kita bisa dibohong. Mas yang
mengantarkan ini pada kita. Mas yang ahli foto percaya ini bukan foto editan”
Lengkaap
sudah penderitaan samir. Penyesalan dengan perkataan amar dan adiknya kini
mulai terbesit dalam benaknya. Andai saja waktu itu dirinya mendengar ucapan
sahabatnya dan adiknya masalah ini tidak akan terjadi. Samir hanya terdiam, tak
dapat lagi ia berkata-kata karena semua orang tidak mempercayai dirinya lagi.
Dilihatnya orang-orang yang ada disekelilingnya, dilihatnya pula wajah
malaikatnya yang tak melihat kearah samir yang tengah kesakitan itu.
“sungguh,
menyesal aku punya saudara seperti kamu” ucap hadi
Betapa
pilu hati samir mendengar perkataan abangnya itu. betapa sakit hatinya
mendengarkan ucapan yang menyayatkan hati. Samir tak hentinya merenungkan
kekejaman saudara-saudaranya itu. penyesalan itu tak jua hilang dalam benaknya.
“ayah
ingin kamu jujur, apa benar kamu melakukan itu?” tanya ayahnya
“tidak
yah”
“masih
saja kamu berbohong, samir” teriak rahmat adiknya
Dilihatnya
laki-laki yang bebicara itu. dia melihat dengan mata yang tak enak. Penyesalan
tampak jelas dibola matanya.
“kamu
kejam. Conk. Kamu tega memperlakukan kakak seperti ini. Kamu sudah bersekongkol
dengan wanita itu”
“aku
kejam? Kamu itu yang kejam. Sudah mempermalukan keluarga. Entah sudah berapa
kali kamu melakukan zina dengan perempuan lain?”
“sekarang
aku ingin tanya sama kamu?” sebut hadi abangnya lalu “apa mau kamu dari
kelaurga ini?”
“muk,
abang, ayah semuanya. Aku tidak pernah melakukan hal yang serendah itu. foto
itu adalah fitnah. Tidak mungkin aku melanggar aturan dari agamaku. Karena aku
terlahir dari keluarga yang baik”
“jangan
kamu bawak agama. Tidak pantas orang yang kotor seperti kamu berbicara masalah
agama”
“muk
boleh menganggap aku kotor, hina. Tapi aku tidak pernah melakukan hal itu”
Pppruuakk
Sekian
kalinya samir dipukul dan ditendang oleh orang-orang itu, wajahnya yang penuh
darah, bibirnya pecah karena pukulan, matanya yang membiru tampak dengan jelas
sekali-kali ia memejamkan matanya untuk menahan rasa sakit akibat pukulan.
“ayo
katakan? Jujur sama kita. Kalau orang yang ada didalam foto ini adalah kamu”
“baik om,
ia. Itu aku. Tapi demi Allah aku tidak pernah melakukan apa yang dilarang dalam
agama aku”
“akhirnya
kamu jujur juga” sebut hadi yang marah itu
“ayah
kecewa sama kamu”
“cibon
benci kakak” sebut adiknya
Dilihatnya
adik-adiknya yang melarikan itu, belahan jiwanya yang telah membenci dirinya.
Rivandi yang menengok itu merasa kecewa mendengar ucapan kakaknya. Matanya tak
bercahaya, sekali-kali ia menggelengkan kepalanya setelah mendengarkan ucapan
kakaknya.
“tapi percaya
sama kakak yah, om, mas. Kakak tidak pernah melakukan itu”
“sekarang
kamu bereskan barang-barang kamu dan pergi dari sini”
Samir pun
terkejut mendengar itu. tangisannya semakin menjadi-jadi. Tak pernah
dibayangkan olehnya akan seperti ini akhirnya.
“tidak
muk. Jangan.. kakak tidak mau keluar dari rumah ini”
“cepat”
“sudah
muk. Kalau dia tidak juga membereskan pakaiannya, biar aconk saja yang
merapikannya. Biar dia keluar dari rumah ini, keluarga ini tidak pantas
untuknya”
Rahmat
pun belari menuju kamar samir untuk membereskan pakaiannya. Sementara itu samir
berusaha membujuk abangnya dan merayu pada malaikatnya untuk membantu dirinya.
Sungguh samir adalah anak yang malang.
Dia melihat orang-orang disekelilingnya. Dia memandang setiap orang itu seperti
setan, yang tidak punya hati. Sewenang seenaknya. Tidak memiliki rasa iba pada
samir. Rasa benci dan juga amarah terlihat disela-sela tangisannya itu. samir
menggenggam tangannya dengan erat, dia berusaha untuk menahan air matanya dia
berusaha untuk menahan rasa sakit karena pukulan itu. dan akhirnya rahmat
datang menghampiri samir dengan membawa tas hitam besar dan melemparkan tepat
samping samir.
“itu
tasmu. Cepat keluar dari sini” ucap rahmat
Sesaat
samir terdiam dalam tangisannya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk membutikan
perbuatannya itu
“ayo
cepat pergi”
“tapi
muk”
Dan samir
pun dipaksa untuk segera keluar dari rumah yang besar itu. rahmat berusaha
untuk mendorong samir agar keluar dari rumah. Samir pun berontak untuk tidak
keluar dari rumah itu.
“tidak
conk, aku tidak akan keluar dari sini”
“apalagi.
Kamu tidak lagi diharapkan oleh keluarga ini. Kamu itu hanya bisa membuat malu
keluarga”
“tidak
conk”
“jangan
membantah”
“tidak”
Pppruakk
Samir
dipukul hingga ia terjatuh. Betapa sakit hatinya samir melihat perlakuan
orang-orang itu ingin rasanya ia melawan, ingin rasanya ia memukul orang-orang
yang sudah membuatnya terluka. Ia tak hayalnya menangis dalam kesakitan itu.
“sudahlah.
Apalagi yang kamu tunggu. Pergi dari sini” ucap dimas dari kejauhan
Alangkah
sedih hati samir mendengar itu. tak pernah terpikir olehnya malaikat
pelindungnya mengusir dirinya yang lemah itu. dilihatnya laki-laki ayng berdiri
itu dari kejauhan. Samir pun berdiri mencoba untuk kuat dalam peristiwa itu.
“mas,
percaya kalau kakak berbuat seperti itu?” tanya samir pada laki-laki itu
“itu
sudah ada buktinya”
“aku
tidak pernah menyangka mas begitu mudah percaya sama foto itu. selama ini aku menganggap
mas adalah orang yang aku percaya. Tapi itu adalah salah”
“dengar
samir. Mulai hari ini kamu bukan keluarga ini lagi. Kamu bukan saudara kita
lagi. Mulai detik ini Tali persaudaraan kita putus. Jangan pernah kamu kembali
kerumah ini. Rumah sebagus ini tidaklah pantas untuk orang yang hina seperti
kamu” ucap hadi dengan tegas
Betapa
pilunya samir mendengar itu. tangisannya tak berhenti mengalir. Ia mencoba
untuk menguatkan dirinya, sekali-kali ia melihat orang-orang disekelilingnya
rupa-rupa ada yang membantunya. Namun tak sedikit pun suara terdengar olehnya.
Rasa benci dan marah pada orang-orang itu membuat samir sedikit kuat. Matanya
terpancar kekuatan jiwa yang sedikit redup.
“baiklah.
Kalau itu yang kalian inginkan. Sebagai adikmu Aku akan mengikuti apa yang kau
inginkan, sesungguhnya aku patuh padamu. Aku akan pergi dari rumah ini. Rumah
kelahiranku. Rumah yang telah melindungi aku dikala hujan dan panas menerpaku.
aku tidak menginkan orang-orang yang mudah percaya dengan hal yang tidak benar
kepstiannya. aku berjanji, tidak akan pernah kembali kerumah ini lagi. Aku
tidak akan menemukan kalian lagi. Aku telah memaafkan dosa orang-orang yang
telah berbuat zalim padaku. Semoga Allah mengampuni dosa kalian”.
Dan samir
pun mengambil tas hitam disampingnya dan melangkah pergi dari rumah itu.
langkah demi langkah laki-laki itu menyusuri jalan setiap rumahnya. Dengan hati
yang hancur samir meninggalkan malaikat-malaikatnya, dilihatnya laki-laki kecil
itu berdiri dibalik pintu kamarnya, terjatuh sudah air mata samir membasahi
pipinya. Heningan malam menemani langkah samir keluar dari pintu rumahnya, ia
melangkah sesaat ia berhenti melihat rumah yang mewah itu. tangisannya tak
berhenti juga. Linangan air matanya terus mengalir mengenang peristiwa yang telah
ia alami bersama sang ayah dirumah itu. kini kenangan itu telah menjadi dongeng
masa lalu. Kemudian laki-laki itu membalikkan badannya dan melanjutkan
langkahnya, dari kejauhan samir mendengar seorang berteriak memanggil namanya,
lalu langkahnya kembali terhenti.
“kakak”
Laki-laki
itu membalikkan badannya mengarah pada suara itu. dari kejauhan samir melihat
rivandi belari menuju kearahnya.
“jangan
pergi kakak. Kakak tidak boleh pergi” ucapnya
“apung.
Sudah. Apung jangan nangis. Kakak tidak apa-apa. Jaga adik-adik ya. apung patuh
pada muk, jangan sekali-kali membantah ucapan muk”
Rivandi
hanya menangis memeluk samir yang bersedih hati itu.
“kakak,
ayo masuk. Kakak tidak boleh pergi. Ini rumah kakak”
“kakak
sudah kotor. Kakak tidak suci rumah ini tidak pantas untuk kakak yang kotor
ini”
“tidak
kak, apung percaya sama kakak. Kakak tidak berbuat seperti itu”
“apung
percaya sama kakak?”
“lidah
bisa berbohong. Tapi mata dan hati tidak bisa dibohongi. Itu kan yang kakak
ucapkan pada apung”
Samir pun
menangis mendengar ucapan laki-lai yang memeluk erat tubuhnya itu. dikecupnya
kepala laki-laki itu dengan kasih sayang. Kecupan perpisahan kakak dan adik.
“kakak
harus pergi, jaga adik-adik apung”
“tidak
kak”
Samir pun
melepaskan pelukan adiknya dari tubuhnya. Sungguh berat samir meninggalkan
rumah itu. rumah yang telah memberi banyak cerita pada dirinya.
“kakak....”
teriak rivandi
Samir tak
melihat ia semakin cepat berjalan meinggalkan adiknya dan rumah yang mewah itu.
TERUSIR
H
|
eningan malam yang sunyi, angin malam yang berhembus
menerpa setiap langkah samir meninggalkan rumah yang anggun itu. rasa
penyesalan seakan menari diatas kepala laki-laki yang menangis tak berdaya itu,
langit yang cerah bintang bertaburan menghiasi langit malam nan sejuk. Hiruk
pikuk kendaraan terdengar dengan jelas olehnya. Tak terlihat senyum diraut
wajahnya yang penuh dengan darah itu, matanya layu lunglai. Wajah yang pucat
pasih. Pandangan yang tidak elok bagaikan tak bersemangat untuk melihat dunia
yang kejam ini. Sepanjang jalan, ia hanya terbayang wajah sahabatnya amar. Rasa
bersalah padanya tak jua hilang. Rahmat begitu kejam pada diri laki-laki itu.
Tidak ada
tujuan yang harus samir datangkan. Ia hanya mengingat pada amar, mungkin amar
dapat membantunya, dengan rasa bersalah laki-laki itu pun melangkahkan kakinya
menuju kerumah amar yang telah dibencinya. Angin yang berhembus kecil menemani
langkah samir untuk memberanikan diri datang kerumah amar hingga ia sampai juga
tempat tujuan. Dengan tergopoh-gopoh ia melangkah menuju rumah yang berwarna
putih bersih itu. dilihatnya rumah itu, rumah yang berdiri tegak dengan kokoh.
Walaupun rumah itu tak seindah rumahnya samir merasa bila ia berada didalam
rumah ini akan merasa nyaman.
“amar.
Amar?”serunya
Dengan
tergopoh-gopoh dan menahan rasa sakit yang dirasakan, ia memukul-mukul pintu
rumah yang berwarna putih itu, melihat tidak ada tanggapan dari sahabatnya laki-laki
itu kembali memanggil nama pemuda yang bernama amar itu.
“amar.
Amar”
Dengan
samar-samar samir melihat pintu rumah itu terbuka, ia melihat dengan tak jelas
kepalanya terasa sakit. Sekali-kali ia memegang dan mengusap matanya untuk
memperbaiki pengelihatannya. Melihat keadaan samir yang begitu lemah dan penuh
dengan darah, amar pun terkejut, dengan perasaan yang tak menentu amar
menggotong samir untuk masuk karena tidak kuasa lagi rupanya samir untuk
melangkah.
“ya Allah
samir, apa yang terjadi padamu?” tanya pemuda itu
“tolong
aku mar, tolong aku”
“iya, apa
yang harus aku buat untuk kamu”
“tolong
antarkan aku kerumah pak dekan” ucapnya
Ucapan
samir itu membuat amar begitu heran, ia semakin tidak mengerti pada sahabatnya
itu. entah apa yang ia inginkan bertemu dengan pak dekan.
“pak
dekan. Untuk apa?”
“tolong
mar. Antarkan aku kerumah pak dekan”
“iya.
Tapi untuk apa. Kamu bisa tinggal dirumah aku saja. Aku senang bila kamu
tinggal bersama aku”
“tidak
mar, aku ingin pergi jauh. Aku akan terima tawaran sayembara itu. aku ingin
pergi dari kota ini”
“apa.
Kamu serius? Kamu tidak bercanda kan?”
“tidak
mar. Tolong aku, antarkan aku kerumah pak dekan”
“ia.
Nanti akan kuantarkan. Tapi kamu istirahat dulu”
Begitu
sayangnya amar pada laki-laki yang lemah itu. sungguh amar adalah pelita dalam
hidup samir. Penyesalan dalam dirinya pada amar begitu tampak dengan jelas,
bagaimana ia memperlakukan amar dikala amar mencoba untuk membantu dirinya.
Kedua pemuda itu saling berpeluk, tangisan samir terdengar dengan jelas rasa
sakit yang dirasakan sangat membuatnya
tidak enak.
“jelaskan
pada aku apa yang telah terjadi padamu” tanya amar penasaran
“ini
salah aku. Kalau saja waktu itu aku mendengarkan perkataanmu. Mungkin masalah
ini tidak ada”
“maksud
kamu?”
“kamu
masih ingat kan, beberapa hari yang lalu aconk mengajakku untuk bertemuku
dengan seorang wanita dihotel prima abadi, ternyata wanita itu sudah
bersekongkol dengan aconk untuk menjebak aku. Ketika aku lihat wanita itu, aku
tertarik dengan pemikiran dia. Aku tidak percaya dia berbuat seperti itu.
kemudian dia memberi aku minuman yang dibawanya sendiri untuk aku, lalu aku
minum air itu setelah aku minum kepala aku terasa sakit dan sangat berat,
setelah itu aku tidak tahu lagi apa yang terjadi. Ternyata dia mengirimkan foto
aku pada mas dimas, kemudian mas dimas datang kerumah untuk meminta penjelasan
foto itu.” cerita laki-laki yang menangis itu
“kamu
yakin mau menerima tawaran sayembara itu?” tanya pemuda yang baik hati itu
“iya mar”
“adik-adik
kamu?”
“mereka
semua telah membenci aku. Aku telah diusir dari rumah. Aku tidak tahu harus
pergi kemana lagi. Adik, ayah, bunda dan mas dimas pun membenci aku”
“mas
dimas tidak percaya sama kamu?”
“iya”
“bodoh.
Bisa-bisanya mereka percaya sama barang yang tidak jelas asalnya. Lalu apa kamu
tidak meminta pada aconk untuk menjelaskan foto itu?”
“sudah
mar. Tapi dia pintar bersandiwara. Dia mengatakan kalau wanita itu bukanlah
temannya, dia tidak mengenal wanita itu. itu yang membuat aku sakit hati”
“lalu
kamu mengaku?”
“iya. Aku
terpaksa, untuk menghentikan siksaan dari mereka.”
“tidak
ada satu dari mereka pun yang percaya sama kamu?”
“hanya
apung. Dia yang percaya sama aku, dia percaya kalau aku tidak pernah berbuat
seperti itu”
“sabar
samir. Kuatkan dirimu. Kamu tidak sendiri. Ada tuhan yang selalu menjagamu”
Mata
samar pun berlinang. Tangisan samir terdengar dengan jelas, terisak sedu yang
dalam hingga ia tak dapat berkata-kata. Suasana hening mencekam, tak terdengar
bunyi binatang-binatang kecil hanya terdengar rintihan samir yang tak
berkesudahan. Mata amar terlukis dengan jelas betapa ingin ia untuk memukul
orang-orang yang bodoh itu orang-orang yang telah membuang samir, digenggam
tangannya yang terlihat besar menggumpal.
Dan
akhirnya kedua pemuda itu menuju kerumah pak dekan. Itu membuat hati samir
sedikit senang. Betapa tidak, ia ingin memberikan kabar kepada pak dekan bahwa
dirinya ingin segera menerima tawaran percetakan buku itu dan segera pergi dari
tanah kelahirannya. Diantara gedung-gedung yang menjulang tinggi tampaklah
kedua pemuda itu rumah berwarna abu-abu berpagar besi hitam, rumah itu adalah
rumah pak dekan. Samir seakan ingin berlari dengan segera untuk masuk kedalam
rumah itu untuk memeluk pak dekan.
“assalamuailakum.
Pak?” ucap amar
Sementara
itu samir hanya berdiri tegak tak berdaya disamping amar yang sedari tadi
mengetuk pintu dan tak ada jawaban dari pak dekan. Sekian kalinya amar mengetuk
pintu dan ahirnya pintu itu pun terbuka. Alangkah bahagianya hati samir melihat
seorang setengah baya yang berdiri tepat dihadapan mereka. Terjatuh sudah air
mata samir yang bersedih itu. lalu ia memeluk bapak yang dihadapannya, anar
melihat dengan jelas kejadian itu ia hanya terdiam dan tidak mengatakan
apa-apa. Betapa terkejutnya pak dekan melihat samir dengan tiba-tiba memeluknya
sambil menangis.
“ada
apa?” tanya pak dekan
“tolong
saya pak!” isak tangis samir
“ayo
masuk dulu, nanti jelaskan sama bapak apa yang sudah terjadi, ayo masuk mir”
Lalu
kedua pemuda itu pun melangkah masuk kedalam rumah yang begitu indah dengan ornamen
klasik persis seperti rumah peninggalan ayah samir yang telah mmenjadi kenangan
baginya.
“ayo
duduk. Coba kamu samir jelaskan kepada bapak. Mengapa wajah kamu bisa seperti
itu?”
Samir tak
kuasa mehanan air matanya, isak tangisnya tak henti juga. Air mata yang terus
mengalir membuatnya tak dapat berkata-kata. Betapa sakitnya bila samir
menceritakan semua perilaku saudara-saudaranya hingga ia diusir dari rumahnya.
Melihat tidak ada tanggapan dari samir pemuda yang duduk disampingnya mencoba
untuk menjelaskan kepada pak dekan.
“ini
semua karena saudaranya pak” sebutnya
“saudaranya?”
pak dekan kembali bertanya
“Dia
difitnah, selembar foto dirinya tidur bersama seorang wanita”
“apa?
Bagaimana mungkin?”
Pak dekan
semakin tidak mengerti apa yang dijelaskan oleh pemuda itu. pak dekan mencoba
untuk memahami perkataan amar, namun berkali-kali ia menerawang-nerawang keatap
rumahnya untuk mencari penjelasan dari mahasiswanya itu.
“samir
dijebak oleh adiknya sendiri. Sekarang dia diusir dari rumahnya. Tali persaudaraan
antara samir dan keluarganya sudah putus, mereka yang meminta”
Mendengar
penjelasan itu laki-laki parubaya itu sedikit mengerti apa yang dimaksud oleh
pemuda itu. betapa sedih dan terkejutnya pak dekan mendengarkan berita itu.
kabar dari amar itu bagaikan jarum yang menusuk kedalam telinga pak dekan,
sementara itu samir yang terdiam membisu tak menanggapi perkataan amar dan pak
dekan, ia hanya mendnegar pergaulan dari sahabatnya dan dosennya itu.
“jadi apa
yang bisa bapak bantu untuk kamu mir?” tanya laki-laki itu
Sesaat
suasana hening tak terdengar kata-kata dari mulut samir yang bersedih itu,
matanya tak henti-henti berkaca-kaca. Kejadian itu membuatnya sulit untuk
melupankannya. Melihat samir tak menanggap ucapannya pak dekan mencoba untuk
meleraikan pemikiranya.
“samir”
sebut kembali pak dekan
Seketika
samir terkejut dalam lamunannya. Terjatuh sudah air matanya dari kelompak
matanya yang mulai membesar karena tangisannya.
“iya,
pak” ucapnya
“apa yang
bisa bapak bantu?”
“tolong
antarkan saya dengan percetakan itu pak,
saya akan terima kontrak dengan percetakan itu”
Pak dekan
seakan mendengar kabar baik dari asistennya itu. terlihat senyum kecil dari
bibirnya. Sementara itu samir tak henti-hentinya menghapuskan air matanya yang
terus mengalir dari kelopak matanya. Amar berkali-kali melihat ke arah pemuda
yang menangis itu. matanya layu lunglai betapa kasihan amar melihat laki-laki
itu, laki-laki yang malang tak diterima oleh saudaranya, dibuang dari rumahnya.
“sammir,
coba kamu pikirkan lagi. Bapak tidak ingin melepaskan kamu dalam keadaan
seperti ini. Kamu pikirkan keluarga kamu. bapak tidak memaksa kamu” sebut
laki-laki itu
“bapak
tolonglah, saya tidak kuat lagi. Saya merasa tidak berguna lagi. Mungkin nanti
disana nasib saya lebih baik”
“baikalah
kalau itu keinginanmu, besok bapak akan hantarkan kamu kesana. Bapak juga akan
mengurus pindahan kuliah kamu. bagaimana pun kamu tetap kuliah kamu harus
menyelesaikan kamu secepatnya”
“terima
kasih pak”
Samir
sedikit berbahagia mendengar berita itu. amar sedari tadi tak kunjung jua untuk
berbicara, lidahnya terasa terunci oleh waktu yang seakan melenannya dalam
keheningan malam. Suasana terasa sunyi dalam keheningan bagaikan kedukaan.
Sekali-kali amar melihat samir. Tak pernah dibayangkan olehnya samir akan pergi
meninggalkan dirinya seorang, betapa sepi harinya tanpa samir. Tak ada tempat
untuk berbagi bersamanya.
Hari itu
pun tiba, suasana begitu cerah cahaya hangat mentari pagi menusuk kulit hingga
ketulang, suasana bandara yang ramai, hiruk pikuk terdengar dengan jelas
ditelinga samir yang tengah berjalan dengan membawa tas hitamnya, amar yang
berdiri disamping kanannya tak hentinya menengok ke arah samir yang betapa luka
hatinya, tak terlihat pak dekan didekat kedua pemuda itu. entah kemana beliau.
“dimana
pak dekan?” tanya samir
“lagi
mengurus tiket kamu”
Kedua
pemuda itu melangkah dengan tak semangat, terasa berat dihati samir untuk
meninggalkan tanah kelahirannya, betapa rapuh hatinya meninggalkan keluarganya
yang ia sayangi, tak terlihat cahaya diwajah samir yang menyelimuti. Hanya ada
kabut yang bersarang diwajahnya.
“ini
tiket kamu”
Dilihatnya
laki-laki yang berdiri didepannya, dilihatnya mata laki-laki itu tak kuasa
rupanya samir memandang laki-laki berparuh baya itu, dipeluknya laki-laki yang
berbadan kurus itu. terjatuh sudah air matanya.
“terima
kasih pak” sebut samir menangis
Mendengar
tangisan kecil samir, laki-laki itu pun menangis, alangkah sedihnya amar
melihat pergaulan sahabatnya dengan pak dekan. Terjatuh sudah air matanya
membasahi pipinya yang tampan itu.
“sudah,
jangan menangis lagi. Nanti bapak akan surati teman bapak disana. Biar mereka
yang menjemput kamu” sebut laki-laki itu
Sementara
itu samir selalu menangis dalam pelukan itu. perpisahan yang tak pernah
diharapkan oleh laki-laki itu. sungguh jiwanya semakin gundah. Amar melihat itu
semakin terpuruk dalam kesedihan. Dilepasnya pelukan itu dari laki-laki berparu
baya itu dan melihat kearah sahabatnya amar yang berdiri di dekatnya. Sesaat ia
memandang matanya yang berlinang air mata, bola matanya yang sedikit bergerak
untuk mencoba menahan air matanya agar tidak terjatuh dipipinya dalam
kesedihan.
Dipeluknya
laki-laki yang tampan itu. samir tak kuasa menahan kesedihan dan penyesalan
terhadap laki-laki yang tampan itu. sekali-kali ia menangis sedu dipelukan
amar. Sekali-kali pula amar mengusap kepala sahabatnya hingga mengenai
ubun-ubunnya.
“jangan
sedih, jangan kau pikirkan kami disini. Jaga dirimu baik-baik”
“terima
kasih mar. Hanya kamu yang sudih menjadi temanku. Kau selalu perhatian kepadaku
walaupun Aku tidak pernah mendengar nasihat darimu. Walau nasihat itu baik
untuk aku”
“sudahlah.
Yang lalu biarlah berlalu. Jangan kau terbelenggu dalam kesedihanmu. Jangan
biarkan kesedihanmu menguburkan semangatmu” ucap amar yang bersedih
Dilepasnya
pelukan samir dari tubuhnya, dilihatnya mata samir yang berair lalu dihapusnya
air mata suci itu. dilihatnya pula beberapa saat bola matanya yang tak hentinya
mengalir air mata karena mengenang penyesalan yang dulu. Yang paling sedih bagi
laki-laki itu adalah meninggalkan saudaranya.
“ini
untuk kamu. jangan lupa kamu beri aku kabar bila kau telah sampai ditanah
jakarta nanti”
Amar
memberikan HP miliknya kepada samir, melihat itu samir semakin berderai air
mata, sungguh amar adalah laki-laki yang baik sebutnya dalam hati. Ya tuhan,
jagalah laki-laki yang dihadapanya ini. Do’anya.
Samir tak
bersuara, ia hanya mencoba untuk menahan air matanya, ia mencoba untuk menahan
suara tangisannya agar tidak semakin keras terdengar. Waktu kebersamaan mereka
semakin menipis, waktu keberangkatan samir tak lama lagi, waktu singkat itu
tidak disia-siakan oleh kedua pemuda itu untuk menyesali perbuatan satu sama
lain.
“bapak,
terima kasih. Saya berangkat dulu”
Terjatuh
sudah air mata amar mendengar itu, tak sudih kiranya melihat sahabatnya itu.
samir pun melangkah dengan pelan, rasa gundah dan gelisah masih bersarang dalam
hatinya. Semakin terasa di dalam hatinya luka yang tak dapat dijelaskan oleh
pikirannya.
“samir..”
ucap amar
Sejenak
langkah samir terhenti mendengar seruan sahabatnya. Lalu ia membalikkan
badannya dilihatnya laki-laki yang tampan itu berdiri dihadapannya. Dilihatnya wajahnya yang berlumur air mata,
sesaat bibir samir melukiskan kesedihannya. Lalu amar pun berlari mendekati
samir yang tak berdaya itu dan memeluknya dengan erat.
“jaga
dirimu baik-baik. Aku akan selalu merindukan kamu. jangan lupa surati aku” ucap
amar dalam pelukannya
Sementara
itu samir tak berdaya untuk berkata ia hanya terbelenggu dalam tangisannya.
Sekejap amar melepaskan pelukannya dan mempersilahkan samir untuk pergi.
Langkah samir semakin menjauh meninggalkan amar dan pak dekan yang tak
henti-hentinya mengusap air mata yang mengalir. Beberapa menit dalam tangisan
itu, amar dan pak dekan tak dapat melihat samir karena telah melangkah semakin
menjauh dan menghilang diantara orang-orang. Begitu malang nasib laki-laki itu,
terbuang dari kampung halaman, tanah kelahirannya, tanah kebanggaannya, tanah
nenek moyangnya. Diusur dari rumah tempat kelahirannya rumah kebanggaan tempat
ia berbagi cerita dengan almarhum orang tuanya. Sungguh samir laki-laki yang
bernasib malang tak diterima oleh keluarga hingga ia terusir dari tempat yang
ia banggakan. Yaitu keluarganya.
Dibalik
kesedihan hati samir, didalam rumah yang mewah itu tergambar dengan jelas
bagaimana bahagianya adik-adiknya telah menyelesaikan misinya untuk mengusir
samir dari rumah itu. sungguh saudara yang tidak mempunyai hati. Sementara itu
didalam kamar yang besar itu, rivandi seakan terkubur dalam kabut yang
menyelimuti hatinya, ia terus menerus meratap dalam kesedihan, betapa gundah
dan sedih hati laki-laki yang sedikit usam itu. ia selalu menyendiri dalam
kamar berkali-kali ia melihat foto kakaknya yang ada didalam album foto
bersamanya. Terjatuh sudah air matanya dalam kenangan itu.
JAKARTA
T
|
idak
pernah terpikir dalam benak samir untuk kembali menginjak kakinya ditanah ibu
kota yang penuh dengan problema. Terbayang-bayang olehnya dikala dahulu ia
bersama ayah, ibundanya dan saudaranya datang kejakarta. Terbayang olehnya
disaat ia turun dari pesawat dipeluk oleh ayahnya dengan penuh kasih sayang dan
cinta. Bayangan itu hanyalah masa lalunya kini samir seorang diri meniti setiap langkahnya tak ada
seorang pun yang berdiri disampingnya mulai saat ia turun dari pesawat hingga
ia berjalan menuju tempat yang ia telah janjikan bersama temannya. Ia teringat
disaat ia akan pergi kejakarta ia mengabarkan pada sahabatnya yang telah ia
kenal baik. Hari ini sahabatnya itu akan menjemputnya untuk sesaat menumpang
dirumahnya. Sesaat ia terduduk dikursi tunggu matanya mencari-cari orang yang
ia tunggu dibalik kerumunan orang-orang yang berjalan-jalan ia melihat seorang
pemuda melambaikan tangan padanya. Samir melihatnya dengan samar, tak jelas
rupanya mata samir melihat pemuda yang melambaikan tangannya itu. sekali-kali
ia memiringkan kepalanya untuk melihat dengan jelas pemuda itu. disaat ia
melihat dengan jelas wajah pemuda itu samir pun tersenyum. Dilihatnya dengan
jalas pemuda yang berbaju merah itu samir tersenyum lalu pemuda itu pun
membalas senyuman samir. Sesaat kedua pemuda itu saling menebar senyum, lalu
pemuda berbaju merah itu berlari mendekati samir yang sudah berdiri dari tempat
duduknya.
“samir?”
sebutnya dengan ramah
“tuan
abid” jawab samir dengan ramah pula
Pemuda
itu bernama abid, pemuda yang penuh keramahan dan kesejukan hati. Tak ada
banyak perubahan dari pemuda itu seperti pertama kali samir bertemu dengannya
satu tahun yang lalu. Salam dan pelukan sangat terjaga dari kedua pemuda itu.
pelukan dengan kasih sayang dan keikhlasan.
“apa
kabar kamu?” tanya pemuda itu
“alhamdulillah,
baik tuan abid. Bagaimana dengan dirimu tuan?”
“ah,
janganlah kau panggil aku seperti itu tidak enak didengar seolah-olah aku ini
majikan kamu. aku sehat samir” jawab abid dengan nada bercanda
Abid
pemuda yang tampan berwajah putih dan bersih bertubuh tinggi sekilas pemuda itu
seperti amar sahabatnya hanya saja amar memiliki badan yang berisi dan abid
berbadan sedikit kurus.
“kau
datang dengan siapa?” tanya samir pada pemuda itu
“dengan
abangku”
“abangmu?”
“iya,
nanti aku kenalkan dengannya. Dia sudah menunggu dimobil. ayo kesana” ajak
pemuda itu
“ah, aku
jadi tidak enak dengamu. Aku sudah membuatmu susah”
“ah tidak
apa. kalau dibuat susah calon penulis besar kan tidak masalah”
“ah, tuan
ada-ada saja”
Lalu
kedua pemuda itu pun melangkah kemobil hitam dengan nomor polisi B 1345 MN
tampak didalamnya duduk seorang pemuda berkaca mata hitam, itu adalah saudara
sahabatnya abid. Dilihatnya laki-laki yang duduk dimobil itu ia tak menyadari
akan kedatangan samir dan abid dia asik mendengarkan musik dari HPnya.
“mas, mas
ijal” panggil adiknya
Berkali-kali
abid memanggil laki-laki itu sampai ia memukul kaca mobilnya, namun laki-laki
itu pun tak menjawab panggilan adiknya. Sementara itu, samir hanya berdiam diri
melihat sahabatnya memanggil laki-laki didalam mobil itu.
“mas...
mas” panggilnya kembali
Akhirnya
pemuda itu melihat adiknya, dia pun langsung membangunkan dirinya dan keluar
dari mobil yang di naiki itu.
“oh,
sudah ketemu?” sebutnya
“sudah,
itu dia” tunjuk abid
Lalu
pemuda itu langsung ditarik oleh abid mendekati samir yang berdiam diri dengan
pandangan yang tak dimengerti. Dilihatnya samir yang berdiri itu, ia melihatnya
dengan ramah seperti abid adiknya.
“ini
masku, namanya rizal” sebut abid pada samir
“oh, iya,
saya samir. Saya teman tuan abid”
“iya.
Saya rizal. Panggil mas ijal saja”
“dulu
waktu kamu kerumah aku, mas ijal masih diamerika. Tahun kemarin baru lulus”
“jadi
bagaimana rencana kedepannya? Dijakarta tinggal sama siapa? Kalau belum ada
tempat tinggal, tinggal dirumah kita saja. Dirumah masih ada kamar yang kosong,
kalau tinggal dirumah abid ada yang teman untuk bicara, saya jarang ada dirumah
seringan keluar kota untuk survei lokasi tambang” tutur laki-laki itu
Sekilas
pemuda itu seumur dengan hadi abang samir hanya saja rizal memiliki postur
tubuh yang agak tinggi dan tegap. Sikap pemuda itu tidak jauh beda dengan abid
adiknya, pemuda yang ramah dan baik dengan siapa saja. Begitu indah dan
bahagianya bila samir memiliki abang seperti pemuda itu. samir melihatnya
berkali-kali kearah pemuda itu, terbayang sudah wajah abangnya diwajah rizal
yang baik itu, namun samir tak ingin luka itu kembali bersarang pada
pikirannya.
“maaf mas
sebelumnya saya sudah membuat mas dan tuan abid jadi susah menjemput saya,
kalau boleh dan diizinkan saya numpang tinggal beberapa hari dirumah mas sampai
saya menemukan tempat yang saya cari”
“boleh,
kita senang ada teman abid dirumah, kadang dirumah terasa sepi. Jangankan
beberapa hari. Kamu bisa tinggal sampai kamu ingin” sebut laki-laki itu
“ah tidak
mas. Saya tidak enak. Nanti saya hanya membuat susah jika saya tinggal
lama-lama dirumah mas”
“ah, sudahlah.
Ayo kita kerumah dulu. Perut sudah bergoyang lapar ni” sebut abid manja pada
masnya.
Lalu
pemuda itu langsung memasukkan barang samir kedalam mobil begitu baik rupanya
pemuda itu tidak memandang siapa yang datang dia akan layani dengan baik.
Begitu pun dengan samir laki-laki yang malang itu, dirumah ia dibuang dan
dikucilkan tidak diterima oleh semua orang namun dijakarta ia dibuat seperti
raja, abid dan mas rizal yang baru saja ia kenal seakan membuatnya terpesona
dengan kebaikan dirinya. Sungguh tuhan begitu adil disaat dirinya terbuang dari
tanah kelahirannya begitu banyak orang yang menerimanya. Begitu mempesona ibu
kota memanjakan mata samir hingga ia tak dapat berkedip melihat gedung-gedung
yang tinggi, monas yang menjulang tinggi
membayangkan kenangannya bersama ayahnya dulu. Keceriaan yang selalu hadir
dalam hidupnya kini semakin suram terlihat. Senyum dan canda terlihat jelas
diraut wajah dari ketiga pemuda itu didalam mobil hitam yang melaju itu samir
tak hayalnya menebarkan senyum, betapa bahagianya dirinya terlepas dari siksaan
saudaranya dilain sisi ia juga bersedih hati harus meninggalkan adik-adiknya
belahan jiwanya, semangat hidupnya.
Tak
terasa oleh samir, lalu mobil hitam itu pun berhenti dihalaman rumah yang besar
dan megah, sungguh indah terlihat rumah itu, tak seperti rumahnya rumah abid
terlihat sangat modern. Terlihat pula berdiri dua orang sepasang suami isteri
didepan pintu rumah yang berwarna putih itu, ia tersenyum tampak terlihat
senyuman ramah menyambut kedatangan samir dirumah itu. dan ketiga pemuda itu
pun turun dari mobil hitam itu dan melangkah
mendekati sepasang suami isteri itu.
“ayah,
ibu” sapa rizal
“sudah
sampai rupanya?” sebut ibunya
Lalu
samir dan abid sahabatnya berjabat dan mencium tangan laki-laki dan perempuan
yang berdiri dihadapannya.
“ayah,
ibu. Ini samir yang dulu pernah kerumah kita”
“samir.
Apa kabar?” sebut ayahnya
“alhamdulillah
baik om. Om bagaimana kabarnya?”
“ah,
janganlah panggil om, tidak enak didengar. Panggil ayah saja” sebutnya
“ah, iya”
Kehangatan
sangat terasa dikeluarga abid yang sangat ramah dan bersahaja. Senyum dan tawa
selalu terlihat diwajah orang-orang itu. samir yang tak hayalnya tersenyum
kecil dan kadang tertawa mendengar canda rizal dan abid sahabatnya. Beban
terasa hilang dibenak samir tak ada lagi yang ia takutikan didalam rumah itu
tak ada lagi siksaan, cacian, dan kecongkakan jiwa.
“ayo
masuk, istirahat dulu didalam. Dijakarta tinggal dimana? Ada keperluan apa kamu
kejakarta?” tanya ibu abid
“samir
ada keperluan dengan perusahaan percetakan editor yang terbesar itu loh bu.
Beberapa bulan yang lalu samir menang dalam sayembara membuat novel. Besok lusa
dia akan menandatangani kontrak sama perusahaan itu” jawab abid lalu
“rencananya samir mau tinggal sama kita untuk beberapa bulan”
Tak
sempat untuk menjawab pertanyaan perempuan itu, abid langsung menyambar
pertanyaan dari ibunya. Mendengar jawaban abid samir hanya terdiam dan
tersenyum kecil.
“beberapa
bulan? Kenapa? Kalau belum ada tempat tinggal, tinggal disini saja. Temani abid
kalau malam dia sendirian masnya jarang pulang sering keluar kota” sambung
ayahnya
“iya,
abid sudah bilang seperti itu sama samir. Sepertinya dia ragu yah”
“kenapa?”
jawab laki-laki itu
“saya
tidak enak saja membuat orang lain susah. Saya juga ingin mengucapkan terima
kasih kepada ayah, ibu, tuan abid dan mas ijal sudah memberi tumpangan selama
saya dijakarta. Saya sangat berterima kasih dengan keluarga ini yang begitu
baik menerima saya”
“tidak
samir. Tidak ada yang merasa disusahkan oleh kamu. kita bahkan senang kamu
tinggal disini. Tidak apa-apa. tempat tidur? Masih banyak kamar yang kosong,
atau kamu mau tidur dikamar mas? Tidak apa-apa tidur saja” sebut laki-laki yang
berwajah putih itu
“jangan
mir. Kamar mas ijal kotor bau. Lebih enak dikamar aku saja bersih tidak ada
noda yang telihat” kelakar sahabatnya.
Lalu
semua orang tertawa, betapa bahagaianya hati laki-laki yang terusir itu. inilah
yang diharapkan oleh laki-laki itu, andaikan saja keluarganya seperti ini
alangkah bahagianya laki-laki itu. tak hayalnya samir tersenyum kecil melihat
keluarga kecil ini bercangkraman.
Jam
dinding yang berdetak menunjukkan pukul 10 malam, samir terlihat duduk
termenung di dalam kamar itu, dilihatnya sekali-kali fotonya bersama abid pada
acara tahun lalu. Ia pun tersenyum kecil, pikirannya entah kemana sekali-kali
ia menerawang kelangit yang kelam itu mencoba untuk menghibur diri dengan
melihat bintang-bintang yang bertaburan.
“samir?”
ucap laki-laki yang berbadan kurus itu.
Samir pun
terbangun dari lamunannya, ia melihat laki-laki itu dengan wajah yang tak enak, ia hanya
tersenyum kecil melihat sahabatnya itu.
“kenapa?”
sebutnya
“tidak”
“sudah
kau coba menghubungi abangmu?”
Mendengar
itu samir hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Ia tahu akan jawaban dari
sahabatnya itu. tak akan sudih abang-abangnya menerima cakapan terhadap samir
yang malang itu.
“lalu.
Apa yang kamu akan lakukan? Kamu akan lari dari mereka?”
“entahlah.
Aku tidak tahu. Mungkin saja iya, aku tidak ingin mereka membenci aku”
“tidak
salahkan kalau kamu menjelaskan perkara itu “
Lalu
samir menggelengkan kepalanya lalu berata “sudah tuan, aku tidak tahu lagi apa
yang harus aku jelaskan. Mereka tidak percaya sama aku lagi”
“lalu
kapan kamu akan menemui orang perusahaan itu?”
“besok.
Pak dekan kemarin sudah konfirmasi sama orang perusahaan itu”
“baiklah,
besok aku akan minta sama mas ijal untuk mengantarkan kamu ke percetakan editor
itu. mas ijal tahu dimana tempatnya”
Samir
hanya diam tak kuasa rupanya ia meladeni
percakapan sahabatnya itu. abid melihat tingkah samir yang begitu gundah,
perasaan yang tak menentu. Mata yang tak bercahaya, bola mata yang tak begitu
indah.
Pagi yang
cerah, matahari memancarkan cahayanya yang indah. Kota jakarta yang begitu
ramai, terdengar dengan jelasnya suara hiruk pikuk kendaraan yang memadati ibu
kota. Samir terlihat berpakaian yang begitu rapi dan bersih hari ini ia akan
menemukan direktur percetakan editor tersebut. Dengan rasa yang bangga dan
gundah ia pun melangkah dengan bimbang. Abid tak terlihat pagi itu, ia tidak
bisa menghantarkan samir karena ia ada urusan dikampusnya. Samir berjalan
menyusuri rumah yang klasik itu, rizal yang terlihat berjalan disamping samir
yang tak terlihat begitu tampan. Lalu kedua pemuda itu pun masuk kedalam mobil
hitam dan pergi meninggalkan rumah yang indah itu. didalam mobil itu samir
hanya terdiam dan berkali-kali termenung mengenang nasib dirinya. Berkali-kali
pula ia membayaangkan adik-adiknya, hatinya yang begitu terbeban meninggalkan
adiknya. Janji yang ia ingkari pada ayah dan ibunda untuk menjaga adik-adiknya,
rizal hanya terdiam melihat samir yang tak jua terlihat senyum dibibirnya.
Beberapa menit dalam perjalannya mobil itu berhenti dihalaman gedung yang besar
lalu samir pun turun dari mobil hitam itu. alangkah terkejutnya samir melihat
gedung yang tepat dihadapannya itu. ta pernah ia membayangkan sebelumnya untuk
dapat menginjakkan kakinya di tempat percetakkan yang besar itu. terlihat
matanya tak berkedip, ia termenung hatingnya tak dapat di lukiskan perasaan
yang bercampur. Rizal pemuda itu pun segera mengajak samir untuk masuk kedalam
gedung yang besar itu. didalam gedung yang besar itu terlihat begitu banyak
orang-orang yang kehulu dan kehilir menyusuri setiap ruang-ruang yang ada.
Samir memperhatikan setiap benda-benda yang ada didalam gedung itu. lalu kedua
itu melangkah menuju resipsionis untuk menemukan direktur perusahaan.
“selamat
pagi? Ada yang bisa saya bantu?” ucap wanita penjaganya
“selamat
pagi mbak, saya samir. Saya ingin bertemu dengan pak ridwan saputra”
“oh, tuan
samir. Pemenang sayembara itu.”
“ia”
Samir hanya tersenyum mendengar ucapan wanita itu.
“tunggu
sebentar, saya akan konfirmasi kepada asisten pak ridwan”
Lalu
wanita itu menelpon asisten direktur yang disebutnya, terdengar kecil percakpan
antara kedua wanita itu. samir hanya terdiam. Rizal pun tak berdaya, ia hanya
berdiam diri dibelakang samir tak hayalnya ia melihat-lihat lukisan dan
buku-buku yang terpajang, buku-buku yang pernah menjadi best seller dinegeri
ini. Tak sengaja laki-laki itu melihat sebuah foto yang disudut ruang,
laki-laki itu mendekat dan mencoba memastikan foto itu. alangkah terkejutnya
laki-laki itu setelah melihat foto itu dengan jelas “samir” ucapnya kecil. Lalu
pemuda itu semakin mendekati foto itu ia tersenyum melihat foto samir yang
memegang bukunya yang berjudul “mentari yang kelam” yang menjadi buku terbaik.
Lalu
pemuda itu mendekati samir yang tak bergerak dari meja resipsionis. Dan pemuda
itu pun segera memberi tahu kabar baik itu pada samir yang mulai bosan menunggu
kedatangan direktur yang dicarinya.
“samir”
ucapnya
“iya
mas.”
“coba
lihat itu”
“apa
mas?”
Samir
tidak begitu menangkap percakapan laki-laki itu ia hanya menunggu konfirmasi
dari wanita yang dihadapannya itu.
“itu
lihat. Ada foto kamu?”
Lalu
samir membalikan badannya dan melihat kearah foto yang ditunjuk oleh pemuda
yang tampan itu. betapa bangga dan bahagiannya hati samir melihat fotonya. Ia
tersenyum, dan bertingkah seakan ingin berlari menuju foto itu. sekali-kali
pemuda disampingnya itu melihat senyum kecil samir yang keluar dari mulutunya.
Mata samir sedikit berlinang, seandainya amar dan pak dekan ada disampingnya
melihat itu bersamanya pasti laki-laki itu akan semakin bahagia. Lalu disaat
hati samir mengembara wanita yang berdiri dibelakangnya itu berkata dan samir
pun membalikkan badannya.
“tuan,
maaf sudah menunggu. Pak direktur sudah menunggu anda diruangnya. Nanti anda
akan diantar oleh petugas kita ke ruang pak direktur”
“oh, iya
terima kasih mbak” ucap laki-laki yang berbahagia itu
“mari
tuan, saya akan antar ke ruang pak direktur” ucap petugas yang berpakaian rapi
itu
“oh, ia.
Terima kasih mbak. Ayo mas” ucap samir pada pemuda tampan yang berdiri
disampingya itu.
Samir dan
pemuda itu menyusuri setiap ruang itu mengikuti petugas yang berjalan didepannya.
Matanya tak hayal melihat setiap sudut ruang. Begitu banyak buku-buku dan
lukisan yang terlihat, foto orang-orang yang terkenal penulis buku yang
termashur dinegeri ini dan serta buku-buku yang menjadi best seller sepanjang
masa.
“nanti
kalau kamu sudah terkenal. Buku kamu diterima dikelayak ramai foto kamu akan
diletakkan disana samir” ucap rizal pada laki-laki itu
“oh
begitu iya mas”
“iya,
disana foto orang-orang yang pernah menulis buku best seller dan berhasil
menjadi peringkat utama dinegeri ini. Itu penulis cerita remaja yang terkenal
ROMAN PANJAITAN orang sumatera dulu dia hidup susah, tinggal dipinggir sungai.
Tapi berkat bakatnya ia sekarang menjadi penulis terkenal. Dia membuka
percetakan sendiri di daerahnya sudah banyak buku-bukunya difilm kan”
“semoga
saja nasibku akan seperti dia ya mas?”
“mudah-mudahan
saja”
Lalu
laki-laki yang berjalan didepan kedua pemuda itu berhenti tepat di depan ruang
direktur perusahaan. Dilihatnya pintu yang berwarna hitam itu, sepertinya itu
adalah benar ruang pak direktu terlihat tulisan namanya diatas pintu.
“ini, mas
ruangan pak direktur”
Samir
menganggukkan kepala dan tersenyum kepada laki-laki itu, rizal tak jua bersuara
hanya melihat pergaulan samir dan pemuda itu, lalu pemuda itu memukul pelan
pintu ruang pak direktur dan masuk kedalam ruangn itu. didalam ruangan itu
terdengar percakapan kecil antara pemuda itu dan pak direktur.
“selamat
pagi pak. Tuan samir sudah datang. Dia ingin bertemu dengan bapak”
“dimana
dia sekarang?”
“diluar
pak”
“baiklah,
suruh dia masuk”
Dan
petugas itu kembali menemui samir dan rizal yang berdiri diluar ruangan.
“tuan,
pak direktur mempersilahkan masuk”
“baiklah.
Terima kasih mas”
Dan
petugas itu pun melarikan diri dari hadapan samir. Dan samir pun masuk kedalam
ruang itu. dengan rasa bangga dan jantung yang berdetak hebat samir membukakan
pintu dan melangkah bersama pemuda yang disampingnya itu. jantung samir semakin
berdetak, sejenak ia melihat lai-laki yang berdiri menghadap lemari dan membaca
buku yang dipegangnya. Dilihatnya seisi ruangan itu, ruang yang begitu besar
dan rapih tak seperti ruang pak dekan dikampusnya dulu raungan yang kecil dan
sempit. Lalu samir melihat laki-laki itu kembali, laki-laki itu tak berbeda
jauh dengan pak dekan berbada besar dan perut sedikit besar
“selamat
pagi pak” ucap samir
Lalu
laki-laki yang membaca itu menengok kearah samir. Sekali-kali ia termenung
menlihat samir yang berdiri terdiam dari kejauhan. Dibukakan kaca mata yang
dipakainya, dan meletakkan buku yang dipegangnya.
“samir”
ucapnya
“iya pak”
“ayo.
Kesini jangan berdiam disitu saja Silahkan duduk”
Dan kedua
pemuda yang berdiri itu mendekati meja pak direktur dan duduk tepat hadapannya.
Dengan rasa yang tak menentu, jantung samir berdetak dengan kencang lalu samir
menyalimi laki-laki itu begitu pun dengan rizal yang tak bersuara itu.
sekali-kali kedua itu memandang pak direktu yang tak bersuara itu. sesaat samir
termenung, ia terpir pada adik-adiknya. Kebencian adik-adiknya menjadi bebean
pada samir yang tak jua bersemangat dalam hidupnya.
“awalnya
saya mengira kalau kamu berusia diatas 30 tahun. Bapak melihat kata-kata dalam
tulisan kamu sangat indah. Diksinya sangat sederhana dan menarik untuk dibaca.
Sejak kapan kamu suka menulis?” sebut laki-laki yang berkaca mata itu
“sebenarnya
saya tidak begitu suka menulis pak. Hanya sekedar membuang rasa bosan”
“oh,
begitu. Jadi menulis bukan hobi kamu?”
“tidak
begitu. Menulis kalau saja diminta oleh pak dekan. Dan jika saya merasa bosan”
“kuliah
ambil jurusan apa?”
“sastra
pak”
“sastra?
Bagus” kata laki-laki itu lalu kemudian “semoga kita dapat bekerjasama dengan
baik. Ini kontrakkan perusahaan dan kamu. jika kamu dapat berkontribusi dengan
baik dengan perusahaan maka kontrak ini akan kita perpanjang. Semua fasilitas
untuk kamu sudah dipersiapkan oleh perusahaan, komputer, mesin ketik jika
dibutuhkan, mesin cetak sudah disediakan”
Samir dan
rizal pun melihat kertas putih yang berisi perjanjian kontrak antara samir dan
perusahaan, sungguh samir tak pernah menyangka akan dapat bekerja sama dengan percetakan
yang terbesar. Dilihatnya pula uang yang akan diperoleh samir dengan perusahaan
ini. Hati samir semakin bahagia, rizal yang duduk itu tersenyum kecil melihat
perjanjian itu.
“saya
lihat, pasar menerima tulisan kamu. hampir satu juta buku kita terbitkan dan
sangat fantastis dalam satu minggu semua buku terjual tanpa sisa. Banyak
produser film menawarkan kepada perusahaan untuk difilm kan. Saya kira itu
bukan hak perusahaan untuk diangkat menjadi film tanpa seperngetahuan dan
kesepakatan kamu. oleh karena itu saya meminta kepada teman saya untuk meminta
kamu bekerja sama dengan perusahaan ini” cerita pak direktur
Sejenak
samir terdiam dalam keraguan, memikirkan semua resiko yang akan terjadi bila
dirinya menerima tawaran itu. dia akan tinggal dijakarta dan meninggalkan
adik-adiknya ditanah seberang nan jauh. Namun ketika samir membayangkan betapa
kejamnya diri-diri orang itu kepadanya, hanya
benci dan penyesalan yang teriang dikepala laki-laki itu. membayangkan
perkataan saudaranya membuat dirinya menjadi kuat, sering kali abang-abangnya
merendahkan dirinya, sering kali pula saudaranya merendahkan tulisannya, dan
seringkali pula membuang hasil karyanya. Dan kini saatnya samir untuk bangkit
membuktikan kepada saudaranya bahwa dirinya bukanlah laki-laki yang lemah dan
mengemis akan kasihan orang lain. Begitu banyak pelajaran yang didapat oleh
laki-laki itu atas semua yang terjadi padanya. Tanpa bimbang dan ragu lalu
samir menandatangani kertas yang ada dihadapannya itu. laki-laki berkaca mata
itu pun tersenyum melihat samir menggoreskan tinta pena diatas kertas itu.
semenatara itu, rizal yang duduk terdiam itu pun tersenyum melihat sahabat
adiknya itu akan menjadi penulis besar dinegeri ini.
“baiklah,
kontrak kerja kita sudah siap, nanti saya akan kasih kamu satu arsip kontrak
ini. Ingat buatlah semua orang menikmati tulisan kamu”
“baiklah,
terima kasih pak. Tapi, saya meminta satu syarat. Saya minta tolong ketika
tulisan saya nanti diterbitkan, saya tidak ingin menggunakan nama lengkap saya.
Saya ingin memakai nama pena saya RAHMAT WIJAYA ” sebut samir dengan ketegasan
“mengapa?
Bukannya setiap orang menulis memakai namanya sendiri. Agar namanya terkenal
dimasyarakat?”
“saya
tidak ingin melupakan jasa almarhum kedua orang tua saya. Biarlah nama saya
tidak dikenal oleh orang-orang yang terpenting saya ingin orang-orang berdo’a
atas nama orang tua saya ketika orang-orang memberi do’a setelah membaca buku
saya nanti”
Sedetik
laki-laki berbadan besar itu termenung. Begitu haru dan hening mendengar ucapan
pemuda yang bersedih itu. sungguh samir anak yang begitu baik tidak pernah
melupan jasa kedua orang tuanya walaupun kini ia menjadi orang besar. Rizal
terhempas dalam keheningan wajahnya yang penuh dengan kesedihan mendengar
ucapan samir. Tak hayalnya ia melihat
keatas untuk menutupi kesedihannya.
“baiklah,
kalau itu yang kamu inginkan”
Suasana
hening dan sunyi yang terlihat didalam ruangan itu, samir yang duduk dalam
kesedihan. Terlihat diraut wajahnya kesedihan yang tanpa henti. Nasibnya begitu
malang terhempas jauh dinegeri orang tidak diterima dinegerinya sendiri.
PESAN DARI AMAR DAN
PAK DEKAN
T
|
iga bulan
sudah samir berada ditanah ibu kota. Samir mulai terbiasa dengan keadaan kota.
Telah banyak tulisan-tulisan samir yang telah dilahirkan dari tangannya.
Buku-buku yang menjadi buah bibir disetiap kisah-kisahnya. Begitu dahsyat
kata-kata yang ditulisnya begitu indah syair dalam setiap kalimatnya. Tiga
bulan setelah kepergiannya dari amar sahabatnya samir tidak sempat untuk
memberi kabar kepada sahabatnya nanjauh dinegeri sana. Hari itu tepat dihari
tiga bulan dua sahabat itu bepisah jauh. Pagi yang sejuk menerpa ibu kota
terlihat awan sedikit mendung menutupi ibu kota
samir terduduk bersedih menuliskan sepucuk surat untuk sahabatnya yang
begitu ia rindukan
Untuk sahabatku
amar...
Dengan deraian air
mata yang mengalir, dari ibu kota yang penuh keegoisan ini kutulis sepucuk
surat untukmu. Apa kabar sahabatku amar disana? Semoga engkau selalu dalam
keadaan sehat dan dilindungi oleh Allah. Tidak terasa tiga bulan kita tidak
bersama, rasa rindu bergejolak tiada henti bermain didalam hati ini. Maafkan
diriku yang lemah ini amar, kalau sekarang aku baru memberi kabar kepadamu,
bukan bermaksud untuk lari padamu tapi aku hanya sejenak untuk menenangkan hati
yang terlalu sakit karena terhempas dalam dusta. Mungkin kamu selalu mencoba
menghubungiku melalui HP yang kau titipkan padaku waktu itu, tapi maafkan aku
amar, aku belum bisa menggunakan HP itu untuk menghubungi dirimu. Begitu banyak
cerita yang harus aku berikan kepadamu. Andaikan saja kamu hadir disampingku
aku akan bahagia melihat kemasyuran diriku. Amar sahabatku, disini aku tinggal
dirumah sahabatku namanya abid biasa aku panggil dengan nama tuan abid.
Keluarganya begitu baik padaku. Dia mempunyai saudara namanya rizal, ketika aku
lihat dia tidak jauh beda dengan dirimu. Setiap kali aku merindukan kamu, aku
melihat mas rizal untuk menghilangkan rasa rindu itu. Amar, bagaimana kabar pak
dekan? Sungguh aku sangat merindukannya. Tolong sampaikan rasa terima kasihku
kepadanya atas segala kebaikan dirinya selama ini. Sahabatku amar, mungkin kau
pernah melihat atau pun membaca tulisanku. Dalam bukuku aku tidak menggunakan
nama aku. Aku menggukan nama penaku RAHMAT WIJAYA aku tidak ingin menggunakan
namaku dalam tulisan itu karena aku takut luka yang dulu kembali terasa
menyakiti. Bersama surat ini aku berikan satu buku hasil karyaku. Buku yang
berjudul “matahariku” ini terinspirasi dari seorang laki-laki yang selalu
memberi energi dalam hidupku. Namun terkadang aku tidak menerima energi darinya
karena aku terlalu sombong dan merasa energinya tidak penting bagiku, namun
energi itulah yang membuat aku selalu hidup hingga sekarang dan laki-laki itu
sedang membaca tulisan ini. Amar sahabatku, kuingin kau tidak mengatakan dengan
siapa pun bila aku memberikan sepucuk surat padamu aku juga memohon padamu
untuk tidak mengatakan apa pun kepada saudaraku disana. Aku percaya padamu
wahai sahabatku. Cukup sekian kutulis surat ini. Bila ada waktu tolong kau
balas surat ini. Tolong kau kirimkan kealamat dibawah surat ini.
Salam rindu untukmu,
sahabatku amar...
Dari sahabatmu yang
lemah tak berdaya, Samir...
Betapa
pilunya hati amar ketika membaca surat dari sahabatnya tetesan
air mata yang terus mengalir dibalik kelopak matanya terlihat sekali-kali ia
menghapusnya. Rintihan kecil terdengar dibalik mulut amar tak dapat dilukiskan
lagi keadaan hati amar, sungguh kerinduan yang mendalam akan sahabatnya yang
telah pergi jauh agak terobati dengan datangnya sepucuk surat dari jakarta itu.
Tiga bulan setelah kepergian samir
orang-orang yang hidup dirumah yang mewah itu tak juga khawatir pada samir.
Suasana rumah yang mulai tidak teratur telah tampak disetiap sudut rumah. Pakaian
yang dipakai mulai terlihat kusut dan kolot. Didalam kamar yang besar itu
rivandi terlihat termenung didalam duduknya. Dipandangnya langit cakrawala yang
membentang di alam semesta, bintang yang berkedip kecil menemani setiap cahaya
bulan yang tampak bersinar dengan indahnya. Sekali-kali ia teringat kisah tiga
bulan yang lalu pada kakaknya samir. Pemuda yang malang yang terbuang dari
rumah dan kampung halamannya. Laki-laki yang bercelana pendek itu selalu
memperlihatkan wajah sedihnya teringat akan nasib kakaknya.
“pung, bagaimana kabar kakak? Kakak
ada kasih kabar?” tanya iqbal adiknya
“belum. Tidak ada kabar dari kakak”
“apung sudah coba kirim email
kakak?”
“email? Tidak”
“abang amar?”
“apung tidak punya kontaknya”
Beberapa saat adik dan kakak itu
bercakap-cakap terlihat seorang pemuda bercelana panjang berwarna hitam
melangkah kearah kedua laki-laki yang bersaudara itu. lalu laki-laki itu duduk
dikursi disamping rivandi yang tak menyadari akan kedatangan pemuda itu. lalu
iqbal pun melarikan diri meninggalkan pemuda itu bersama rivandi yang
termenung.
“mikir apa?” ucap laki-laki itu
Rivandi terkejut mendengar ucapan
laki-laki itu. dilihatnya pemuda itu, terbayang sudah dipikirannya perlakuan
pemuda itu kepada kakaknya betapa kejamnya ia memukul kakaknya hingga terjatuh.
“mas” ucapnya lesu
“ada masalah?”
“tidak”
“lalu? Kenapa adik mas termenung tak
bersemangat seperti itu?”
“tidak ada apa-apa mas!”
“kalau ada masalah cerita sama mas”
“tidak ada mas. Apung hanya
memikirkan kakak”
Mendengar itu pemuda itu sedikit
terkejut. Senyum dibibirnya terlihat menghilang. Terlihat kebencian yang masih
tampak diraut wajah pemuda itu kepada samir. Sekali-kali rivandi melihat kearah
pemuda itu yang terlihat tak bersemangat ketika mendengar nama samir yang malang itu.
“kenapa apung memikirkan dia?”
“apung tidak percaya saja kakak
terbuang dari rumah ini, terbuang dari tanah kelahirannya. Terpisah dari
keluarganya. Sekarang tidak tahu bagaimana keadaan kakak”
“salah dia sendiri sudah melakukan
perbuatan yang tidak baik”
“dia, dia namanya samir mas. Kakak
tidak pernah melakukan hal itu”
“sudahlah pung jangan pernah membela
dia lagi. Dia sudah mempermalukan keluarga kita lebih baik dia tidak ada disini
daripada dia selalu membuat orang susah”
“apung tidak percaya mas bisa melakukan
hal itu. kakak pernah bilang sama apung, kalau mas itu adalah orang yang kakak
percaya. Setiap hari dihari-hari kakak selalu ada mas, bagi kakak mas itu
adalah malaikat dalam dirinya. Kakak selalu percaya pada mas walaupun mas
pernah melakukan hal yang sangat buruk dalam hidup mas, setiap orang tidak
percaya mas, disetiap orang menjauh mas hanya kakak yang mengerti perasaan mas.
Namun ketika kakak mendapatkan musibah itu, tidak satu orang pun percaya sama
kakak termasuk malaikatnya”
Rivandi pun meninggalkan seorang
diri laki-laki yang terduduk termenung itu. dimas hanya terdiam bisu mendengar
ucapan rivandi yang sangat menyusuk hatinya. Matanya sedikit terlihat menyesal
namun ia tidak memperdulikan ucapan rivandi yang penuh ketegasan itu.
Setelah membaca surat dari
sahabatnya samir, amar mencoba untuk membalasnya. Dalam surat itu amar
melepaskan rasa rindu yang sangat mendalam pada sahabatnya itu. betapa
bahagianya samir mendapat balasan surat dari sahabatnya yang sangat ia
tunggu-tunggu.
Untuk sahabatku samir....
Lepas nafas sesak didada untuk bersua denganmu,
telah ku baca sepucuk surat rindu darimu. Kabarku disini baik-baik saja begitu
pun dengan pak dekan. Bagaimana dengan kabarmu disana? Do’a dan harapan kepada
tuhan selalu kupanjatkan untuk kebaikanmu. Telah ku baca sebuah buku nan indah darimu, buku yang amat elok dan
indah, kata-kata yang menyejukkan kalbu. Sahabatku samir. Pak dekan begitu
bangga denganmu. Kehebatanmu dalam merangkai kata-kata berhasil menciptakan
sebuah kisah yang sangat menggentarkan hati. Pak dekan menitipkan salam rindu
dan bangga akan dirimu.
Samir sahabatku, kapan engkau akan pulang? Tak
kuasa hati ini ingin memeluk dirimu yang telah lama aku rindu, tak kuasa bibir
ini untuk menceritakan sesuatu yang indah untuk aku jelaskan padamu. Tak kuasa
telinga ini untuk mendengarkan cerita yang dahsyat darimu. Maafkan aku samir
tidak dapat menemanimu disaat engkau membutuhkan seorang untuk berbagi cerita.
Aku akan tunggu dirimu ditempat yang telah kita janjikan. Jaga dirimu baik-baik samir, pak dekan berpesan
agar engkau selalu berbahagia disana. Salam rindu dari diriku....
Dari sahabatmu amar....
Tak kuasa samir menahan gejolak
hatinya. Batin yang terus menerus bermain tak menentu. Terjatuh sudah air
matanya mengalir dipipinya yang terlihat tak berdaya itu. mata yang terpancar
rindu yang amat mendalam pada sahabatnya amar.
Setelah membaca surat dari amar
sahabatnya abid melihat dengan heran dan tak mengerti dengan sikap samir yang
menangis seorang diri duduk dikursi menghadap jendela yang terbuka itu.
“samir” panggilnya
Mendengar itu samir pun menghapus
air matanya yang mengalir dipipi, dilihatnya pemuda yang memanggilnya itu, lalu
samir pun tersenyum dengan pemuda itu. abid melihat samir tersenyum ia pun
membalas senyumannya. Dilihatnya mata samir yang merah berairan itu, dilihatnya
pula bulu matanya yang sedikit basah karena air mata.
“kamu menangis?” sebutnya
“tidak” ucap samir tersenyum kecil
Samir mencoba untuk menutupi
kesedihannya. Namun abid tidaklah sebodoh itu, ia mengetahui bahwa laki-laki
dihadapannya itu menangis.
“mengapa? Ada masalah?” tanya abid
sambil duduk dikursi didepannya
“tidak tuan. Aku baik-baik saja”
“mulut bisa berbohong, tapi mata
kamu mengatakan kalau kamu lagi bersedih”
Perkataan itu persis apa yang dikatan oleh adiknya rivandi beberapa bulan
yang lalu ketika dirinya diusir dari rumahnya. Terkenang sudah laki-laki itu
pada adiknya rivandi yang amat ia sayangi. Mengenangi itu samir semakin
terpuruk dalam kesedihannya.
“sudahlah, jangan kau kenang masa
lalumu. Biarlah mereka menyesali akan perbuatannya padamu. Jangan kau membuat
kesedihanmu ini menguburkan semangatmu untuk berkarya. Aku lihat saat kau
tinggal disini kau selalu dalam kesedihan. Aku tahu kau masih mengenang
keluargamu disana. Jangan kau terlalu memikirkannya belum tentu mereka
memikirkan dirimu. Kau sengsara dalam kesedihan sedangkan mereka bersenang
dalam kebahagiaan. Samir, sudahlah mengenang mereka, kau tunjukkan kepada
mereka kalau kau bisa hidup tanpa mereka. Kau bisa berjaya dengan karyamu”
nasihat abid
Nasihat itu agak sedikit membuat
samir kuat namun hatinya tetap juga
bersedih. Samir hanya terdiam mendengarkan ucapan pemuda itu. ia hanya
memandang kertas yang ditangannya.
“tidak tuan, aku tidak memikirkan
mereka aku hanya sedih membaca surat dari sahabatku amar. Dia menanyakan
kabarku. Itu yang membuat aku sedih”
“tidak” abid menggelengkan kepalanya
lalu “kau berbohong. aku tahu kalau kau merindukan keluargamu. Kau sangat
berharap kepada mereka untuk menjemput dan menjengukmu disini”
“tidak tuan, aku tidak pernah
berpikir seperti itu. aku hanya saja menjalankan apa yang mereka pinta”
“apa aku harus surati keluargamu,
untuk menjemputmu?”
“tidak, jangan tuan. Aku tidak ingin
mereka semakin membenciku”
“iya, tapi aku tidak bisa melihatmu
seperti ini. Terpuruk dalam kesedihan, mengharapkan sesuatu yang tak dapat kau
dapati”
“sudahlah. aku tidak apa. aku
baik-baik saja. Biarkan waktu yang menjawabnya”
Sinar bulan yang memancar menemani
pergaulan kedua sahabat itu. abid yang terlihat emosi melihat tingkah samir
yang terpuruk dalam kesedihan harus membuatnya tegas dalam menghadapi samir
laki-laki yang lemah dan baik hati. Samir yang lemah dan tak berdaya itu
mencoba untuk menyembunyikan kesedihannya dibalik kelopak matanya yang mulai layu
lunglai.
BALASAN HATI YANG IKHLAS
S
|
etahun sudah samir menumpang hidup
dari keluarga sahabatnya yang begitu baik. Ayah dan ibunya melayani samir
seperti anak sendiri rizal memperlakukan samir bagaimana ia memperlalukan abid
adiknya. Dan abid pemud yang baik hati itu begitu banyak menolong pemuda yang
malang itu. telah bersedia menjadi pelengkap hidup selama dua tahun, tatkala
semua orang menjauhinya hanya dia seorang yang bersedia menerimanya.
Kini samir harus pergi meninggalkan
rumah abid dan keluarganya. Samir telah mendapatkan hasil dari kesabaran dan
keikhlasan selama ini, ia mendapatkan sebuah rumah yang indah dan begitu anggun
bak istana raja dari perusahaan percetakan dimana tempat ia menciptakan karya
tangannya. Pagi itu sekitar jam 8 pagi, matahari hangat menyinari bumi samir
didampingi oleh keluarga abid menghantarkan dirinya untuk pergi meninggalkan
rumah itu.
“jaga dirimu baik-baik nak?” ucap
laki-laki paruh baya itu
“insyallah yah”
“jangan kau sungkan bila ingin
berkunjung kesini. Disini juga rumahmu, kapan saja kau ingin kerumah pintu
selalu terbuka untuk mu. Jaga dirimu baik-baik” ucap wanita yang baik itu
Samir tersenyum menahan air matanya
agar tidak terjatuh membasahi pipinya. Ia melihat wanita yang menangis itu,
sungguh besar hati wanita itu telah bersedia menumpangkan samir hidup selama
dua tahun.
“ayah, ibu. Samir hanya bisa
mengucapkan terima kasih sudah bersedia menjadi keluarga selama ini. Tidak
banyak saya berikan kepada kelaurga ini selain do’a. Disaat semua orang
menjatuhkan dan menghina saya keluarga ini bersedia memberi harapan kepada
saya. Semoga tuhan membalas kebaikan keluarga ayah dan ibu”
Lalu wanita itu menangis, laki-laki
yang berdiri disampingnya itu menundukkan kepala abid dan rizal yang berdiri
dibelaang samir terharu mendengar ucapan samir yang begitu menyejukan jiwa.
“kami senang mengenalmu, kau orang
yang baik dan budiman” sebut kembali wanita itu
“maaf ibu, ayah selama ini samir
telah membuat banyak susah orang rumah selama saya tinggal disini. Mohon
keikhlasan selama saya tinggal disini makan, minum dan lainnya”
Tak kuasa untuk berbicara wanita itu
hanya diam dalam tangisannya. Ia menangis tersedu mendengarkan ucpan samir.
Wanita itu begitu menyayangi samir seperti anaknya sendiri. Lalu laki-laki
dihadapan samir itu pun berkata
“sudahlah nak, tak perlu kau
berbicara seperi itu. tidak ada yang merasa disusahkan selama kau tinggal
disini. Dirimu begitu baik, semoga tuhan selalu melindungimu”
“saya pergi dulu ayah, ibu”
“iya, hati-hati. Jaga dirimu
baik-baik” ucap wanita itu dengan lemah
Samir pun melangkahkan kakinya
menyusuri setiap jalan dari rumah itu, didampingi oleh abid dan rizal samir
meninggalkan rumah yang besar itu. begitu berat hatinya untuk meninggalkan
keluarga yang baik itu, dua tahun ia telah begitu banyak belajar arti kehidupan
dari keluarga sahabatnya itu.
“bila kau merasa kesepian. Kau bisa
datang kesini samir, rumah kamu kan tidak jauh dari disini” ucap sahabatnya
“iya tuan pasti. Oleh karena itu aku
meminta rumah yang tidak jauh dari disini bila merasa sepi aku bisa main
kesini”
“mengapa kau harus keluar dari rumah
ini samir. Mas pasti akan merindukanmu”
“mas. Sudahlah. kan ada tuan abid
dirumah”
“abid, tidak enak kalau diajak
berbicara. Maunya hanya minta makanan saja” ledeknya pada adiknya
“nanti jangan lupa main ketempat
saya. Kalau ada waktu ajak ibu dan ayah juga berkunjung ke rumah saya. Jangan
sungkan, rumah dan seisinya juga milik keluarga ini” sebut samir
“mengapa begitu?” tanya sahabatnya
tak mengerti
“kita adalah keluarga. Apa yang ada
dirumah itu juga adalah milik kalian juga. Bagaimana ayah dan ibu kalian
katakan padaku waktu pertama kali aku datang kerumah kalian”
Kedua pemuda itu hanya diam. Mobil
hitam itu langsung pergi meninggalkan rumah yang besar itu. tak pernah
dibayangkan oleh samir ia harus tinggal seorang diri di ibu kota yang penuh
teka-teki ini. Mobil hitam itu terus menyusuri setiap jalan disudut kota, hiruk
pikuk terdengar dengan jelas ditelinga samir. Beberapa menit setelah menyusuri
ibu kota lalu mobil itu pun berhenti tepat depan dirumah yang megah dan indah.
Rumah yang berwarnah merah keemasan yang dihiasi dengan ornamen langit diatap
rumahnya. Rumah yang begitu indah seperti rumah-rumah masyarakat belanda.
“ini rumahnya samir” sebut rizal
dengan bangga
“iya mas, ini rumahnya” sebut samir
“menabjubkan. Sungguh indah besar
seperti rumah belanda” sambung abid
“ayo masuk” ajak samir pada pemuda
itu
Lalu kaki pemuda itu melangkah
memasui rumah yang besar itu. dilihatnya disetiap sudut rumah, begitu indah dan
anggun tidak tampak suasana keangkuhan. Begitu ramai terlihat didalam rumah
itu, banyak pegawai yang kehulu kehilir membersihkan setiap sudut rumah. Lalu
ketiga pemuda itu melihat kebelakang rumah itu, alangkah terkejutnya abid dan
rizal ketika melihat anak-anak yang bermain dihalaman rumah samir.
“siapa anak-anak itu?” tanya rizal
penanasaran
“itu anak-anak yatim piatu” ucap
samir dengan penuh kepastian
“anak yatim? Mengapa?” sebut abid
kembali
Samir tersenyum kecil lalu “sepi
bila rumah sebesar ini hanya ada aku seorang. Mereka anak-anak yatim piatu dibawah
asuhan perusahaan tempat aku bekerja. Biarlah mereka merasakan hidup senang,
saya tidak ingin melihat hidup mereka selalu dihina dan direndahkan orang.
Biarlah rumah ini diramaikan oleh do’a anak-anak yang disayangi oleh tuhan”
ucap samir
Abid dan rizal pun melihat ke arah
samir yang berdiri tegap itu. begitu bangga dan bahagia hati kedua pemuda itu
pada samir yang begitu baik. Abid tersenyum pada samir. Dilihatnya mata samir
yang penuh keihlasan itu. rizal tak hayalnya melihat anak-anak itu bermain dengan
riangnya.
“sungguh kau baik samir kau adalah
pemuda yang budiman penuh keihlasan” sambung rizal pada pemuda yang baik itu
“aku tidak ingin mereka seperti
nasibku, direndahkan dan dihina oleh orang-orang. Biarlah mereka tidak
merasakan apa yang aku rasakan. Aku ingin mengubah nasib mereka agar mereka
tidak terbuang dan terusir dari tanah mereka seperti mana yang aku alami” ucap
samir penuh haru
Mendengar itu abid dan rizal
termenung, matanya terlukis penuh kebanggaan. Samir sungguh pemuda yang berhati
mulia begitu kiranya dalam pikiran abid sahabatnya.
“inilah, balasan tuhan padamu.
Balasan hatimu yang ikhlas, samir”
Malam yang kelam, terlihat ada satu
bintang yang bersinar, dalam rumah itu samir tak hayalnya mencoba untuk membuat
setiap orang menikmati kemuliaan yang didapatnya. Rumah yang begitu anggun dan
cantik rupa, didalam ruang kerjanya terlihat foto keluarganya dan foto almarhum
ayah dan ibundanya yang sengaja ia letakkan agar ia selalu mengiangat
orang-orang yang telah membuatnya seperti ini. Tidak diizinkan seorang pun yang
memasuki ruang kerjanya, ia takut foto-fot itu akan dilihat oleh orang banyak.
Foto orang-orang yang telah menjadi malaikat dan matahari yang kelam dalam
hidupnya.
Malam itu samir terlihat gelisah, ia
mencoba untuk menghibur diri dengan melihat-lihat kemegahan gedung ibu kota. Ia
menyusuri jalan dengan mobil hitam yang dikendarai oleh seorang sopir
pribadinya. Tatkala ia selesai menyusuri sudut ibu kota, ia melihat seorang
laki-laki remaja yang duduk ditepi. Lalu mobil hitam itu berhenti tepat
disamping laki-laki yang duduk itu. lalu samir pun turun menghampiri anak
laki-laki yang terlihat pucat pasih itu.
“adik, kamu tidak apa?” sebutnya
Lalu laki-laki itu melihat samir
dengan wajah yang sedikit ketakutan, ia melihat samir yang berpakaian sangat
rapih dan bersih. Sekali-kali ia menundukkan kepalanya. Samir melihat laki-laki
itu dengan jelas, ia terlihat seperti adiknya rivandi berkulit putih kurus
tinggi berambut hitam.
“adik sudah makan?” tanya samir
Laki-laki itu tidak menjawab
pertanyaan samir, ia tak hayalnya memegang perutnya karena sakit tidak terisi
makanan. Samir pemuda yang baik hati itu pun mencoba untuk mengajak laki-laki
itu untuk menaiki mobilnya.
“nama saya samir. Kamu tidak perlu
takut dengan saya. Saya tidak akan berbuat apa-apa pada kamu” sebutnya “kamu
belum makan kan? Ayo kita cari tempat makan”
Mendengar itu laki-laki itu pun
melihat kearah samir karena perutnya terasa sangat lapar laki-laki itu pun
menerima tawaran samir untuk mencari tempat makan. Lalu mobil hitam itu pun
pergi dengan segera, didalam mobil samir tak hayalnya melihat laki-laki disampingnya
itu. sesaat ia melihatnya samir teringat akan adinya rivandi sekilas laki-laki
itu seperti adiknya berwajah bulat dengan dagu sedikit panjang. Dan mobil hitam
itu pun berhenti ditempat biasa samir menghabiskan waktunya bersama sahabatnya
abid dan juga rizal ketika malam hari tiba bila merasa lapar.
Laki-laki itu pun dengan malu dan
takut memasuki tempat makan itu, dengan wajah yang pucat dan pakaian yang
sedikit kusut ia melihat sekeliling ruangan itu, tempat yang begitu indah dan
bersih. Lalu samir mempersilahkan laki-laki itu duduk dan memesan makanan untuk
laki-laki itu.
“makanlah, jangan takut. Saya tidak
akan menyakitimu” ucap smair pada laki-laki itu
Melihat samir tersenyum dan kebaikan
dari wajah samir, anak laki-laki itu pun memakan makanan yang ada dihadapannya.
Dengan lahapnya anak itu makan. Melihat itu samir pun tersenyum kecil,
sekali-kali ia mengerutkan senyumnya. Ia menyimpan seribu pertanyaan dalam
hatinya, apa yang telah terjadi pada anak laki-laki itu.
“nama kamu siapa?” tanya sami pada
anak itu
“ilman” jawabnya
“mengapa kamu malam-malam sendirian
ditepi jalan yang sepi?”
Mendengar pertanyaan samir, anak
laki-laki itu sesaat terdiam dan berhenti menyuapkan makanannya. Terlihat
matanya terbayang-bayang mengingat suatu peristiwa yang dialaminya.
“saya diusir oleh keluarga saya”
sebutnya dengan nada yang lemah
“diusir?” sebut samir kemudian
“mengapa? Mengapa kamu diusir?”
Lalu anak itu menggelengkan
kepalanya “entahlah, saya tidak tahu. Mengapa alasan keluarga saya mengusir
saya. Ketika saya pulang dari rumah teman saya, saya langsung diusir dari
rumah”
“kamu tinggal dimana?”
“luar kota”
“bagaimana kamu bisa sampai
kejakarta?”
“saya menumpang dengan mobil yang
lewat”
Betapa pilu hati samir melihat anak
itu. tak pernah dibayangkan olehnya betapa pilu hatinya ketika diusir oleh
keluarga dengan perbuatan yang tidak pernah dilakukannya. Mata samir terlihat
berkaca-kaca. Sekali-kali ia menutupi matanya agar mataya yang berkaca itu
tidak pecah menjatuhkan air matanya.
“dijakarta kamu akan tinggal
dimana?”
“tidak tahu” anak itu menggelengkan
kepalanya
Tak tahu bagaimana perasaan samir,
hanya terbesit rasa kasihan pada anak itu. dilihatnya dengan jelas anak itu.
tak pernah dibayangkan olehnya bila itu terjadi pada adiknya. Alangkah pilu
hati samir.
“kalau begitu, maukah kamu tinggal
bersama saya?” tanya samir pada pemuda itu
Anak itu tidak menjawab, ia
termenung sesaat, ia merasa ragu dan takut untuk menerima tawaran samir.
Matanya menatap samir dengan penuh keyakinan. Dilihatnya wajah samir yang baik
itu.
“tapi..” jawabnya sedikit ketakutan
“tidak perlu takut. Tinggallah
bersama saya, saya akan menjadikan kamu seperti adikku sendiri” sebut samir
menangis
“kamu menangis?” tanya anak itu
Samir tersenyum dan lalu
menghapuskan air matanya. “saya hanya sedih melihat kamu”
“saya boleh memanggil kamu, kakak?”
tanya anak itu
Ya Tuhan kuatkanlah hati samir.
Mendengar itu samir semakin menjadi-jadi menangis, ingin rasanya ia memeluk
anak laki-laki itu. berbagi kesenangan. Anak itu melihat samir yang menangis
itu. namun ia tidak begitu menanggapinya, ia hanya menunggu jawaban samir atas
pertanyaannya “iya. Boleh” jawab samir penuh haru.
Lalu Samir dan anak laki-laki itu
pun pergi meninggalkan tempat makan itu. tak hayalnya samir memandang anak
laki-laki itu, sungguh wajah rivandi adiknya terlihat jelas diwajah anak
laki-laki itu. tak hayalnya samir tersenyum dengan laki-laki itu. dengan penuh
ramah pula anak laki-laki itu membalas senyuman samir. Sungguh samir sangat
bahagia darahnya mengalir dengan cepat. Jantungnya berdetak dengan kencang.
Samir dan pemuda itu pun berhenti diistana samir yang megah, anak laki-laki itu
memandang samir dengan heran penuh tanda tanya. Dilihatnya rumah yang indah
itu.
“rumah siapa kak?” tanyanya
penasaran
“ini rumah kakak, sekarang ilman
tinggal disini?”
Dengan rasa ragu dan bimbang ilman
pun melangkah menyusuri rumah yang besar itu, rasa takut masih terbesit dalam
hatinya. Namun ketika ia melihat samir rasa takut itu pun hilang.
“wah, rumahnya bagus. Besar” ucapnya
dengan nada yang semangat
“jangan sungkan. Rumah dan seisinya
juga milik ilman”
“terima kasih kak. Saya akan
melayani kakak sebisa saya”
“ah, jangan seperti itu. saya tidak
meminta kamu untuk jadi pelayan saya”
“tidak apa kak, sebagai ucapan
terima kasih saya pada kakak. Izinkan saya untuk mengabdi pada kakak”
Samir tersenyum “iya. Sekarang kamu
mandi bersihkan badanmu. Nanti kakak akan meminta pada petugas untuk
mempersiapkan pakaian untuk kamu. disana kamar kamu, kamu bisa istirahat
disana”
Lalu ilman pemuda itu pun segera
mengikuti perintah samir untuk membersihkan badannya. Sementara samir dengan
segera membersihkan kamar yang akan ditempati oleh pemuda itu. samir pemuda
baik ia melayani anak laki-laki itu seperti keluarganya sendiri. Beberapa menit
kemudian setelah selesai membersihkan kamar ilman, samir mendengar suara
memanggil namanya, suara itu sangat persis dengan suara adiknya rivandi.
“kakak” ucapnya
Lalu samir melihat kearah pemuda
yang berdiri didekat pintu kamar itu. alangkah terkejutnya samir melihat ilman.
Begitu tampan dan bersih, tercium bau sabun harum yang masih melekat dari tubuh
pemuda itu. pemuda itu sangat mirip dengan adiknya baju yang dipakai celana
pendek yang sering kali rivandi memakainya. Samir termenung melihat pemuda itu,
terlihat air mata yang menetes dibalik kelopak matanya. Ilman melihat itu
terheran-heran dengan sikap samir yang tidak dimengerti olehnya.
Samir mendekati pemuda itu,
tangannya bergetar kakinya seakan lemah tak kuasa untuk berjalan, ilman
terlihat takut dengan samir, namun ia tidak berdaya untuk lari karena melihat
samir menangis. Setelah mendapati anak itu lalu samir pun memeluknya dengan
erat, alangkah sedihnya hati samir dapat merangkul pemuda itu. pemuda itu tidak
menolak pelukan samir ia hanya terdiam dalam kebingungan ia tidak mengerti apa
yang ia lakukan, sesaat suasana kamar sunyi hanya terdengar suara tangisan
kecil samir.
“kakak menangis?” sebut pemuda itu
Samir semakin erat memeluk laki-laki
itu. lalu laki-laki itu membals pelukan samir dipeluknya laki-laki yang besedih
itu. menetes sudah air mata samir dipundak anak pemuda itu.
“kakak, baik-baik saja?” katanya lalu
“kakak. Mengapa? Apakah ada yang salah dengan pakaian ini”sebutnya heran
Lalu samir melepaskan pelukannya,
dilihatnya pemuda itu, sungguh ia begitu mirip dengan belahan jiwanya. Pemuda
itu telah membuatnya kembali mengenang adinya yang terpisah jauh.
“tidak. Kakak hanya terkenang dengan
adik kakak”
“adik kakak?” tanya pemuda itu
kembali
“iya. Ikut dengan kakak, saya akan
memberitahu sesuatu padamu”
Dan pemuda itu langsung mengikuti
perintah samir. Tak dipercaya, samir melangkah memasuki ruang kerjanya.
Dibukakan pintu ruangan itu oleh samir dan pemuda itu pun memasukinya.
Dilihatnya seisi ruang itu. sungguh indah dan elok rupa ruangan itu. bersih dan
sangat cantik.
“ini ruang kerja saya. Selama ini
tidak ada satu orang pun yang boleh memasuki ruang ini” sebut samir
“mengapa? Bukankah ruang ini begitu
indah dan elok”
“inilah sebabnya”
Lalu samir melangkah menuju kesebuah
dinding yang terlihat selehai tirai menutupi sebuah foto yang besar, dan samir
pun membuka tirai itu. dan tampak sudah oleh pemuda itu foto keluarganya dan
almarhum orang tuannya. Ilman pemuda itu melihatnya dengan heran. Matanya tak
berkedip saat memandang foto itu, betapa terkejutnya pemuda itu. dilihatnya
foto yang terpasang di dinding ruang itu.
“ini keluarga saya dan ini almarhum
orang tua saya” tunjuk samir pada pemuda itu
“mengapa foto kakak sendiri?”
Sesaat samir terdiam. Dilihatnya
foto dirinya itu, sesaat ia mencoba memejamkan mata untuk mencari jawaban dari
pertanyaan pemuda itu.
“satu tahun lebih kakak tidak
berjumpa dengan keluarga kakak. Kakak diusir dari rumah tempat kelahiran kakak.
Kakak difitnah oleh adik kakak sendiri, kau bisa lihat pemuda berbaju putih
tinggi itu, namanya rahmat kalau dirumah dia dipanggil aconk, saya difitnah
olehnya. Suatu hari dia merayu padaku untuk menemaninya bertemu dengan seorang
wanita disalah satu hotel, namun dengan bodohnya saya mengikuti perintahnya.
Tapi sayang dia sudah bersengkokol dengan wanita itu untuk menjebak saya.
Sebuah foto terlihat saya tidur bersama wanita itu. Semua orang tidak percaya
dengan apa yang aku jelaskan, akhirnya mereka memutuskan tali persaudaraan
antara aku dan mereka. Laki-laki bercelana hitam coklat pendek itu namanya
rivandi dia adik kakak. Hanya dia yang percaya pada kakak. Itu mengapa saat
saya melihat kamu kakak merasa jiwa rivandi ada pada kamu. ketika kamu memakai
pakaian itu sungguh kamu sangat serupa dengannya” cerita samir pada pemuda itu
“jadi,...” sebutnya bingung dan
memandang baju dan celana yang dipakainya “lalu mengapa kakak mengatakan ini
pada saya. Sedangkan orang lain tidak boleh memasuki ruangan ini?”
“entahlah, kakak merasa kalau kamu
adalah orang yang tepat untuk kakak beritahu ini”
Pemuda itu semakin tak mengerti
dengan semua ia dengar dan ia lihat. Seakan ia memasuki dunia samir, ia
terhanyut dalam penjelasan samir. Raut wajah pemuda itu tampak penasaran dengan
foto itu. sunguh nasib kedua pemuda itu tidaklah beruntung.
“mengapa kakak tidak menyuruh
keluarga kakak untuk tinggal bersama kakak disini?”
“tidak. Mereka telah bersumpah untuk
tidak ingin berjumpa lagi dengan kakak. Kakak takut kalau mereka akan semakin
membenci kakak”jelasnya “tapi kakak mohon padamu, agar tidak memberi tahu
kepada siapapun tentang ini. Biarlah foto ini menjadi kenangan kakak masa lalu”
Pemuda itu pun menganggukkan
kepalanya. Dalam hati yang penasaran ilman pemuda itu mencoba untuk mencari
penjelasan yang lebih dalam tentang pemuda dihadapannya itu, sungguh samir yang
malang pemuda yang tak beruntung.
SURAT BALASAN DARI APUNG
T
|
ak terasa dua tahun sudah samir
menghabiskan waktunya diibu kota. Kebahagiaan sili berganti ia raih, mulai dari
keluarga sahabatnya abid yang begitu baik padanya, perusahaan percetakan yang
telah membuatnya terkenal sebagai penyair terbaik dinegeri ini dengan hasil
karyanya yang begitu indah dan diterima oleh kelayak ramai. Amar yang
senantiasa menyurati samir hingga ia menjadi orang yang kuat dalam menjalankan
hidupnya. Abid, sahabatnya yang selalu memberinya pencerahan disaat ia
tersandung kesedihan yang mendalam hingga kini ia terlahir sebagai seorang
laki-laki yang penuh kepastian dan berpegang teguh dalam prinsipnya.
Pagi itu terlihat abid sahabatnya
mengunjungi samir yang terlihat menulis surat. Terlihat samir dengan fokus ia
merangkai kata-kata dalam setiap kalimat disurat itu.
“menulis surat lagi?” tanyanya abid
“iya tuan”
“untuk amar?”
“bukan. Kali ini aku ingin menyurati
adikku rivandi. Aku ingin menanyakan kabarnya dan keluarga yang lain disana”
sebutnya
“setelah dua tahun kamu pergi dari
mereka dan sekarang kamu ingin menyuratinya?” ucap abid dengan nada yang agak
lembut
“itu semua karenamu tuan. Aku banyak
mendapatkan kekuatan dari nasihatmu. Dua tahun aku meninggalkan mereka aku
tidak tahu apakah mereka masih mengingatkanku atau tidak yang penting aku
mencoba untuk menyambungkan tali silaruhmi yang sempat mereka putuskan antara
aku dan mereka”
Abid tak bersuara, samir kembali
menulis sepucuk surat untuk adiknya. Didalam surat itu samir sangat merindukan
belahan jiwanya, jantung hatinya, matahari dalam hidupnya. Kepedihan yang
dirasakan samir beberapa tahun yang lalu kini telah terobati, luka yang pernah
menyayat hatinya kini telah sembuh karena kehadiran sahabatnya amar, abid dan
juga rizal yang telah memberikan semangat dalam hidupnya.
Untuk belahan jiwaku, rahmat rivandi wijaya.....
Hilang sesak nafas didalam dada ini. Dengan
deraian air mata yang mengalir dalam kekuatan yang sudah layu, kumencoba
memberanikan diri untuk menulis sepucuk surat untuk anandaku tercinta rivandi.
Dalam setiap do’aku kuisikan dengan namamu yang suci nan bersih. Apa kabar
adikku tercinta? Semoga engkau selalu sehat dalam lindungan Tuhan. Mungkin
dirimu kini semakin besar, maafkan kakak tidak dapat berada disampingmu untuk
melihat perkembanganmu. Bagaimana keadaan keluarga disana? Adik-adik, muk,
abang, aconk, mas, om, ayah, dan bunda? Tak terasa dua tahun sudah diriku yang
lemah tak berdaya ini meninggalkan rumah, dua tahun rasa rindu ingin berjumpa
dengan belahan jiwa selalu bergejolak dalam dada. Apung, maafkan kakak bila
sekarang kakak baru memberikan kabar padamu. Keadaan kakak baik-baik saja.
Mungkin dua tahun kalian mencoba mencari kakak, maaf kakak tidak dapat memberi
tahu dimana kini kakak tinggal. Dari sudut ibu kota yang penat ini, kakak
berjuang melawan rasa rindu yang amat dalam, rindu yang membunuhku. Percayalah
adikku, kakak amat merindukan dirimu dan juga keluarga disana. Kakak kini tinggal
seorang diri setelah menumpang hidup bersama keluarga sahabat kakak. Keluarga
yang begitu baik dan ramah. Keluarga yang pernah dulu ada ketika ayah dan
ibunda berada disamping kita, sebelum meninggal dunia. Apung, tolong sampaikan
mohon maaf kakak pada muk karena telah membuatnya khawatir. Mohon maaf juga
pada abang kalau kakak tidak bisa menjadi adik yang diharapkan. Apung,
bagaimana kabar aconk? Sungguh kakak sangat merindukannya. Tak kuasa hati ini
bermain ketika kakak tulis surat ini, bergetar tangan ini menggoreskan setiap
kalimat pengharapan dari diriku yang lemah ini.
Apung, kejadian dua tahun yang lalu, telah
membuat kakak kini menjadi orang yang kuat, rasa benci dan dendam insyallah
tidak tumbuh dihati yang bersih ini. Karena sejak kecil telah dibersihkan oleh
kecongkakan jiwa dalam hidup. Wahai belahan jiwaku. Kakak tidak mengharapkan
balasan darimu. Hanya kakak berpesan padamu untuk selalu mendo’akan kakak bila
kau bersedia. Jaga dirimu baik-baik, semoga hatimu seperti hatiku....
Salam rindu dari kakakmu yang hina. Samir....
Bergetar hati rivandi ketika
mendapatkan dan membaca surat dari samir. Begitu dahsyat dan mengguncangkan
hati dengan kalimat yang begitu indah. Dalam kamar yang besar itu rivandi
seorang diri menangis dalam kesedihan. Mengenang nasib samir yang hina.
Kejadian dua tahun lalu hanyalah fitnah yang amat kejam yang didapat olehnya.
Pengakuan aconk telah menyadarkan semua orang akan kesalahan pada laki-laki
yang terbuang jauh itu, penyesalan dan penghinaan diri selalu terbesit dalam
dada keluarga yang kejam dan ganas. Terhempas sudah surat samir terjatuh
kelantai karena rivandi tak kuasa menahan kesedihan yang membuat tangannya
lemah tak berdaya. Ketika rivandi menangis dalam kesedihan, tampak seorang
pemuda datang menghampirinya.
“apung?” sebutnya
Pemuda itu melihatnya dengan penuh
rasa penasaran. Rivandi tak menjawab panggilan pemuda itu, ia tak hayalnya
menangisi nasib kakaknya karena telah difitnah oleh pemuda didekatnya itu.
“apung?” sebutnya kembali
Lalu rivandi melihat kearah pemuda
itu, tak kuasa rivandi melihat mata yang penuh penyesalan itu. ingin rasanya ia
memukul pemuda itu dengan tanganya bagaimana pemuda itu dulu memukul samir
dengan kejamnya. Semakin deras tangisan rivandi ketika ia melihat pemuda itu.
dilihatnya kertas yang terjatuh dilantai itu, dibacanya surat dari samir yang
menggoyangkan jiwa rahmat. Betapa
pilunya rahmat membaca surat itu, menetes sudah air mata penyesalannya bergetar
tangan rahmat ketika membaca setiap kalimat didalam surat itu, bola matanya
bergerak kekanan dan kekiri melihat setiap kata disurat itu.
“kesihan, kakak terusir jauh ke ibu
kota karena difitnah dan dihina karena perbuatan yang tidak pernah ia lakukan,
setiap orang membenci dan menghukumnya memutuskan tali persaudaraan. Tapi,
kakak...” sebut rivandi dalam tangisannya.
“kakak..” ucap rahmat pelan
Lalu rahmat melepaskan surat itu
dari tangannya dan surat itu pun terjatuh, rahmat menjauhkan diri dari surat
yang baru saja ia selesai membacanya dengan suasa hati yang tidak dapat
dilukiskan. Betapa pilu hati rahmat setelah membaca surat yang indah dari sosok
pemuda yang begitu baik dan budiman yang dulu ia perbuat seperti orang yang
tidak berguna.
“kakak kirim surat?” tanya iqbal
dengan tiba-tiba
Sesaat iqbal menunggu jawaban dari
pemuda yang menangis berjongkok itu. ia penuh harap cemas akan kebenaran berita
dari rahmat yang menangis ketika keluar dari kamar setelah membaca surat dari
samir. Sekina menunggu jawaban rivandi pun tidak menjawab perkataan adiknya tak
kuasa rupanya ia berkata. Lalu laki-laki yang berdiri itu pun mengambil surat
yang terletak disampin rivandi yang menangis itu lalu ia membacanya.
“kakak” sebutnya
Betapa pilu hati iqbal ketika
melihat kalimat dalam surat itu. bergejolak hati yang tak menentu bermain
dengan hebatnya tatkala kalimat itu dibacakan.
“ya Allah kakak” sebutnya kembali
Jatuh sudah air mata laki-laki itu.
sekali-kali ia menutupi matanya untuk menahan air matanya. Sesaat ia melihat
rivandi yang menangis itu. lalu ia mendekati rivandi dan memeluknya dengan rasa
menyesal. Dua tahun yang lalu iqbal melihat dengan jelas betapa hina dan
congkaknya perlakuan yang didapat oleh saudaranya rasa penyesalan yang mendalam
juga ia rasakan karena ia tidak percaya pada laki-laki yang terusir itu, ia
hanya percaya kepada saudaranya.
Pagi yang begitu cerah langit ibu
kota yang sedikit kabut karena asap kendaraan, dirumah yang besar itu.
“kakak ada surat untukmu” sebut
ilman pemuda itu
“surat? Dari siapa?”
“tidak tahu. Disini tertulis dari apung”
katanya
Samir melihat-lihat sebuah amplop
putih tertulis namanya dilihatnya amplop tersebut dan betapa terkejutnya samir
saat membaca surat itu ternyata dari adiknya rivandi dengan segera dan
tergopoh-gopoh ia membuka dan membaca isi surat balasan adiknya.
Untuk pergantungan hidupku....
Bergetar tangan ini ketika kutulis surat balasan
ini, hati rapuh yang terlihat saat membaca surat darimu yang begitu indah
menggoyangkan jiwa. Dua tahun tidak bersua membuat rindu yang amat dalam
bermain hebat dalam hati. Air mata yang mengalir tiada henti memberikan isyarat
untuk kuat menghadapi takdir. Kakakku tercinta, kabar apung dan keluarga disini
baik-baik saja, tumbuh dalam kemalangan dan kesengsaraan setelah kakak tiada.
Banyak cerita yang kakak harus tahu dari keluarga yang telah membuat kakak
terusir jauh karena fitnah dan kecongkakakan jiwa yang tiada henti kakak dapat.
Kakakku tercinta, besar hatimu menerima segala cobaan dari tuhan kau tutupi
hatimu yang rapuh walau engkau terlihat tegar. Engkau tertawa didepan layar
namun bersedih dibelakang tirai. Kakakku tercinta, kapan kakak akan pulang?
Sungguh hati yang rapuh tak berdaya ini tak tahan lagi untuk bertemu memeluk
dirimu yang suci itu. kakakku tersayamg, bersama surat ini apung titipkan foto
adik-adik, lihatlah dibalik senyum yang lepas itu tersimpan luka dan rindu yang
amat dalam padamu. Kakak, setiap malam setelah kakak tiada apung dan adik-adik
tak begitu nyenyak untuk tidur karena pikiran yang terbebankan oleh dirimu seorang.
Kakakku tercinta, setelah aconk mengakui akan kesalahannya terhadap kakak kini
semua orang menyesali akan perbuatannya, kini semua orang mencari kakak untuk
mengatakan maaf dari dirimu yang hina itu. kakak kapan akan pulang? Apung amat
merindukan kakak. Sempurnakan do’amu untukku....
Dari diriku yang rindu, apung....
Ya tuhan kuatkanlah hati samir yang
menangis itu. begitu dahsyat kalimat-kalimat surat balasan dari adiknya. Samir
tak kuasa untuk menahan gejolak hatinya yang tiada henti bergetar seolah akan
telepas dari dadanya. Seakli-kali samir mencium foto ditangannya, melihat
belahan jiwanya didalam foto itu samir semakin mencoba untuk menguatkan dirinya
namun itu tidaklah ada arti. Samir tak dapat membohongi hatinya yang rapuh
walau ia mencoba untuk menguatkan. Ilman pemuda yang berdiri melihat samir
menangis itu hanya terdiam dan memandangnya dengan rasa iba. Segenap cobaan
yang ia dapat dari tuhan, dua tahun ingin bersua dengan adik-adik tercinta kini
hati samir sedikit kuat karena balasan surat dari adiknya.
“kakak” sebutnya lembut
Samir tak bersuara hanya terdengar
suara tangisan dari mulutnya. Ilman tak dapat berbuat banyak terhadap pemuda
yang menangis itu.
“kakak, sabarkan dirimu” rayu ilman
Suasana ruang terasa hening, hanya
terdengar suara tangisan samir yang dipeluk oleh pemuda yang baik hati itu.
begitu rapuh hati samir, terlukis dengan jelas dibola matanya betapa lemah diri
pemuda itu. samir tak berdaya, badannya terasa lemah tak sanggup untuk
membangunkan dirinya.
Surat balasan samir pun sampai
dirumah yang besar itu, rumah yang pernah menjadi kenangan oleh samir. Diatas
meja terlihat ada beberapa amplop yang berisi surat-surat. Hadi pagi itu
terlihat melihat-lihat amplop yang terletak diatas meja itu. dilihatnya dnegan
jelas amplop putih yang bertuliskan nama rivandi adiknya. Lalu ia membuka dan
membaca surat balasan dari samir itu. alangkah terkejutnya ketia ia melihat
surat balasan dari samir. Hatinya bergetar hebat seakan menahan nafas dalam
dadanya.
Untuk Matahariku....
Segenap belahan jiwaku kupersembahkan untukmu.
Betapa bahagia hati ini dikala membaca balasan surat darimu. Adikku tercinta,
betapa halus dan indah kata-kata yang engkau rangkai dalam surat balasan itu.
begitu rapuh dan lemah hati ini memandang foto yang engkau titipkan kepadaku.
Getaran hati yang bergejolak ketika kupandang wajah belahan jiwaku. Apung,
adikku tercinta. Entah kapan kakak akan pulang, peristiwa yang lalu masih
teriang ditelinga kakak. Tak sanggup kakak untuk mengenang peristiwa itu.
apung, bersama surat balasan ini kakak titipkan sebuah buku karya tanganku.
Buku yang kuberi judul “bulan merindukan bintang” ini adalah kisah-kisahku
selama hidup. Bagaimana hidup kakak diterpa oleh badai dan kerikil kehidupan.
Apung, semoga buku ini engkau terima dan engkau baca. Bagaimana perjalanan
hidupku yang pahit.
Apung. Titipkan air mata rindu untuk muk dan
abang. Semoga berbahagia dalam hidupnya.
Dari belahan jiwamu,... samir...
Betapa sakit hati pemuda itu ketika
membaca surat balasan dari samir adiknya yang ia buang itu, menetes air mata
yang kejam itu terlukis dengan jelas bagaimana ia menggerakkan bola matanya
untuk menyaksikan tulisan-tulisan disetiap kalimat dalam surat itu. lalu
laki-laki yang menangis itu pun terjatuh dikursi, dengan rasa menyesal dan
merendahkan diri ia mengusapkan air matanya. Sungguh hatinya bergetar tak
terkira. Rasa menyesal selalu bermain didalam pikirannya.
“muk” sebut bastian adiknya
“muk, ada apa? mengapa muk
menangis?”
Tidak kuasa hati hadi menjawab
adinya. Tak kuasa lidahnya untuk mengeluarkan kata-kata.
“muk” panggil rivandi dengan cemas
“ada apa?” katanya lalu “muk?”
sebutnnya
“ada apa bas? Apa yang terjadi?”
tanya firman adiknya
“entahlah, babas juga tidak tahu apa
yang terjadi”
Hiruk pikuk dalam kecemasan terlihat
dari raut wajah anak-anak itu. rivandi melihat digenggaman tangan abangnya
sepucuk surat dari kakaknya, lalu ia membacanya. Dia lihat pula sebuah buku
diatas meja tak jauh dari dirinya. Dibacanya surat itu dan rivandi pun
terhempas dalam kepedihan.
B
|
PERSETERUAN RAHMAT DAN AMAR
eberapa hari setelah membaca surat
balasan dari samir, hadi terlihat termenung dalam hari-harinya. Kabut yang menutupi wajahnya tampak dengan
jelas. Rasa menyesal akan perbuatannya terhadap samir membuatnya terbeban akan
kata maaf dari samir. Hadi terlihat terbaring sakit diatas kasur kamarnya.
Sering kali ia memanggil nama samir yang ia usir dari rumah itu. sekali-kali ia
menengok ke arah foto samir adiknya yang sengaja ia pasang didalam kamarnya.
Terlihat pula saudaranya yang lain menjaga
hadi yang terbaring sakit karena memikirkan adiknya samir yang entah dimana
kini berada.
“bagaimana conk? Apa yang harus kita
lakukan?” tanya rivandi adiknya
“entahlah, aconk juga tidak tahu”
“kesihan muk”
“usaha conk, cari dimana keberadaan
kakak” sambung iqbal
“tapi kemana? Aconk sudah usaha
tanya sama teman kakak. Tapi tidak ada yang tahu dimana kakak berada”
“bang amar?” ucap rivandi “aconk
sudah coba tanya padanya?”
“amar?” ucapnya kecil “aconk tidak
ingin bertemu dengannya”
“kenapa?” tanya adiknya kembali
“aconk tidak suka dengan dia”
“tapi conk, ini bukan masalah suka
tidak suka. Tapi pikirkan muk, kita harus membawa kakak pulang”
Sore itu langit dilukis dengan
campuran warna merah dan kuning keemasan. Tampak rahmat tergopoh-gopoh
berjalan menyusuri sebuah gedung yang besar. Hari ini rahmat ingin berjumpa
dengan amar sahabat samir. Didalam ruang yang kecil dan sempit amar
menghabiskan waktunya bekerja sebagai manager marketing diperusahaan properti.
Cahaya sore yang hangat menyengat kulit masuk melalui sela-sela jendela ruangan
amar.
“permisi pak. Ada seorang yang ingin
bertemu dengan bapak?” sebut seorang petugasnya
“siapa? Perasaan hari ini saya tidak
ada janji dengan siapa pun”
“maaf pak. Katanya nama dia rahmat”
“rahmat?” sebutnya “iya, suruh dia
masuk”
“baik pak”
Lalu petugas itu pun bergegas keluar
ruang dan mempersilahkan masuk rahmat. Tak menahan diri, rahmat melangkah
dengan cepat tak tahan ingin menanyakan kepada pemuda yang ada didalam bilik
itu keberadaan kakaknya. Alangkah terkejutnya amar melihat pemuda itu. amar
melihat dengan mata yang kosong, sedetik bola matanya tak bergerak hingga ia
mengedipkan matanya. Terlukis rasa benci dibibir dan mata amar ketika menatap
mata laki-laki yang berbaju putih itu.
“kamu?” sebut amar dengan benci
“dimana samir?” tanya pemuda itu
“samir? Untuk apa kau menanyakan
dia”
“apa maksud kamu?” tanya rahmat
dengan nada yang acuh
“mengapa kamu menanyakan keberadaan
samir padaku?”
“aku tidak ada waktu untuk
meladenimu. Aku hanya ingin tahu dimana samir sekarang?”
“tidak salahkah kamu bertanya
padaku? Bukankah kamu saudaranya”
Pemuda itu terlihat memandang benci
wajah amar yang sangat acuh terhadapnya. Rahmat diam sesaat lalu melanjutkan
percakapannya dengan amar.
“kau sengaja menyembunyikan dimana
samir tinggal sekarang?”
“untuk apa? apa untungnya bagiku?
Lagi pula mengapa kau sesibuk itu mencari samir”
“amar..” teriaknya sambil menunjuk
kearah amar dengan jari telunjuknya “dia saudaraku. Mengapa? apakah aku tidak
boleh tahu dimana tinggal samir sekarang?”
“haha...” amar tertawa dengan benci,
kemudian “saudara? Oh, ternyata samir itu saudara kamu. kemana saja kamu selama
ini, ha? Setelah kau dan saudaramu melepaskannya, setelah kau putuskan tali
persaudaraan diantaranya, setelah kau buang dia hingga ia pergi dan entah
dimana kini dia berada. Dan sekarang kau baru menanyakan dimana samir?”
Rahmat tak juga bergerak, ia semakin
benci memandang amar yang sangat membenci laki-laki yang berdiri itu. rahmat
melihat dengan jelas bagaimana amar menjawab pertanyaannya dengan amat benci.
“apa maksud kamu?” tanya rahmat
mengerutkan dahinya
“kamu itu sungguh licik rahmat,
bajingan, tidak lebih dari seorang pecundang” ucap amar menunjukkan pada rahmat
yang berdiri menatap benci
Wajah rahmat semakin merah, benci
yang amat dalam mencuat dalam dirinya. Digenggam tangannya, seolah ia ingin
sekali untuk memukul laki-laki yang ada dihadapannya itu. sementara itu amar
yang marah itu mencoba untuk menahan emosi dirinya pada rahmat. Teringat
olehnya bagaimana perlakuan rahmat pada sahabatnya samir dikala dahulu ia
menyakiti hingga melukai diri sahabatnya itu. kedua pemuda itu saling menatap
satu sama lain. Rahmat mendekati amar yang marah itu, ia semakin mendekatinya,
genggaman tangannya tak juga dilepas oleh rahmat.
“dimana samir?” tanya rahmat kembali
Amar hanya diam tak menjawab
pertanyaan rahmat, ia hanya menatapi wajah pemuda yang penuh tanda tanya.
“aku tidak tahu” sebutnya
Lalu tangan rahmat mendekati leher
amar yang berdiam itu, kemudian ia menarik kera baju amar hingga amar sedikit
menyondongkan badannya kedepan, lalu ia kembali menegapkan badannya.
“bohong. Kau jangan main-main
denganku” sebut pemuda itu dengan penuh amarah
Amar tersenyum kecil, ia tak
membalas ancaman dari adik sahabatnya itu.
“sudahlah, aku tidak ingin meladeni
perangaimu itu. kau ingin memukulku? Silahkan, pukul sepuasmu. Aku memang tidak
tahu dimana saudaramu itu berada”
Melihat wajah amar yang sangat penuh
dengan kebencian, wajah yang seolah-olah menapikkan pertanyaan rahmat hingga
emosi dalam dirinya tak terkendali. Dilihatnya bola mata amar yang penuh dengan
kebencian itu, amarah rahmat tak terkendali. Lalu rahmat memukul pemuda yang
dihadapannya itu.
“dimana samir?” teriaknya pada amar
lalu “aku ingin bertemu dengannya?”
Amar memandang pemuda dihadapannya
itu. digenggam tangannya dengan sekuat hatinya. Dipegangnya mulutnya yang
berdarah karena pukulan pemuda itu. Ingin rasanya ia membalas pukulan pemuda
itu. ingin rasanya ia menghabisi pemuda dihadapannya itu.
“ayo sini, kau ingin memukulku? Akan
aku ladeni” sebut rahmat pada amar
Amar tak juga menapikkan perkataan
rahmat. Mendengar itu amar semakin benci melihat pemuda itu, ia melihat dengan
mata yang benci. Bola matanya seolah menggambarkan hatinya yang sakit. Ingin
rasanya amar melemparkan pemuda itu dengan seonggok buku dihadapannya itu,
namun ketika ia ingin melakukan itu amar terbayang pada sahabatnya itu.
teringat sudah bagaimana wajah samir ketika malam itu ia datang kerumahnya
dengan wajah penuh darah, luka karena pemuda itu. mengingat itu wajah amar
semakin benci dengan pemuda itu ingin rasanya ia membalas perlakuannya pada
sahabatnya. Tapi amar tidaklah seperti pemuda itu ia dapat mengendalikan
emosinya, tak seperti biasanya pemuda itu bersikap dingin terhadap pemuda yang
berdiri itu. Dahulu ingin sekali rupanya ia memukul laki-laki itu karena
melihat sahabatnya digauli dengan sangat ganas oleh pemuda itu.
“maaf rahmat. Aku bukanlah orang
sepertimu. Aku banyak belajar dari saudaramu. Dia pernah mengatakan kepadaku
tidak semua permasalahan itu diselesaikan dengan kekerasan” sebutnya lalu
kemudian “seharusnya kau banyak belajar dari dia”
“ha, jangan banyak bersandiwara kamu
amar”
“sandiwara? Siapa yang bersandiwara,
ha? Siapa yang sangat pandai bersandiwara dengan seorang wanita yang cantik,
pintar dari jakarta?” ucap amar dengan benci
Mendengar ucapan amar seolah-olah
rahmat tenggelam dalam masa lalunya, semakin tenggelam dalam penyesalannya.
Rahmat terlihat sedikit tenang. Bola matanya berputar kekiri dan kekanan. Dia
tidak pernah mengira amar mengetahui peristiwa itu, rahmat terlihat bingung
tatapannya kosong tiada arti. Lalu, Amar mendekati rahmat yang berdiri terdiam
itu.
“jangan kau pasangkan wajah seperti
itu, rahmat. Terkejut? Setelah dua tahun pengaharapan ingin dekat bersama
saudaranya, setelah sekian lama ingin berbicara pada adik-adiknya, lalu kabar
baik itu didapatnya, semua orang dijauhinya demi untuk berbicara dengan belahan
jiwanya. Kemudian setelah harapan itu ia dapat, betapa bahagia hatinya. Serasa
saudaranya itu telah berubah. Disaat pengaharapan yang diharapkan itu telah
ditangannya, lalu seorang pemuda telah bersengkokol dengan seorang wanita teman
adiknya sendiri untuk meniduri dirinya dan dia pun difitnah oleh adiknya
sendri. Dan disaat semua orang percaya dengan fitnah itu lalu ia terbuang dari
kampung halamannya, terusir dari rumahnya, dijauhkan dari belahan jiwanya.
Siapa diantara kita yang bersandiwara rahmat?” ucap amar dengan begitu tegas.
Rahmat tak bersuara mulutnya
bergetar karena mengingat masa lalunya. Bola matanya berputar tak tentu arah.
Matanya penuh dengan tanda tanya menggambarkan perasaan hatinya.
“kamu” tunjukknya
Amar menatapi pemuda itu, dilihatnya
tangan pemuda yang menunjuk kearahnya itu.
“tidak puaskah kamu membuatnya
tersiksa?, membuatnya sakit?. Setelah sekian lama ia tidak kamu sentuh dengan
genggamanmu itu? Dan kini kamu ingin melampiaskannya semua padaku?” sebutnya
lalu “tidak bisa rahmat. Jangan kau kira kalau
aku sebodoh samir hanya mengikuti
perintahmu, tunduk pada setiap keganasan kalian. Aku bukanlah samir seorang
pemuda yang baik hati, selalu memaafkan orang yang telah membuatkan tersiksa.
Aku bukanlah samir yang memiliki hati yang selalu mengalah patuh pada
perintahmu”
Beberapa detik kedua pemuda itu
terdiam. Rahmat tak juga berbicara mendengar ucapan amar yang sangat membuat
jiwa tergoncang hebat. Hatinya rapuh. Batinnya begitu lemah. Ia tak melihat
amar, rasa menyesal selalu menyelimuti pikirannya. Merasa bersalah selalu
menghantui dirinya.
“dia sangat menyayangimu rahmat”
ucap amar “dia sangat mengagumi dirimu, dia sangat mengharapkan kau memberi
perlindungan baginya. untuk informasi bagimu dia pernah memukulku karena dia
membela dirimu, dia tidak suka melihat orang lain merendahkan diri
saudara-saudaranya. Dia anak yang baik, dia berbeda dengan kalian. Dia pernah
berkata padaku, bahwa dia sangat patuh dengan abang-abangnya, dia rela
melakukan apapun untuk melindungi saudara-saudaranya walaupun nyawa menjadi
taruhannya. Aku pernah mengajaknya untuk tinggal bersamaku, karena aku tidak
kuat melihat dirinya tersakiti terus-menerus oleh saudaranya. Tapi dia berkata,
dia akan menerima semua sakitnya, biarlah dirinya menangis, asalkan dia bisa
melihat saudaranya tersenyum walau hatinya sakit”
Alangkah pilunya hati rahmat saat
mendengar ucapan amar, ucapan itu seolah meledakkan telinga rahmat. Tubuhnya
bergetak, keringat dingin bercucuran membasahi tubuhnya. Sekian dalam penyeselan
pemuda itu, tak dapat dilukiskan perasaannya, mentari yang masuk begitu panas
menggambarkan betapa panasnya hati rahmat mendengar ucapan sahabat kakaknya
itu.
“sudahlah rahmat. Jangan kau mencari
dia lagi. Biarlah dia menikmati hidupnya sebagai insan makhluk tuhan. Dia juga
butuh kebebasan, jangan kau biarkan dia bagaikan burung dalam sangkar. Biarlah
dia terbang setinggi-tingginya mencari jati dirinya”
“aku hanya ingin tahu
keberadaannya?” sebut rahmat tak berdaya
“terserah padamu percaya atau tidak
padaku. Sungguh aku tidak mengetahui keberadaannya sekarang” ucap amar dengan
mata berkaca-kaca “pulanglah, jangan kau menyesali perbuatanmu disini, cobalah
kamu bercermin lihat dirimu. Sudahkah kau lebih baik darinya?”
Amar sangat terpukul mengucapkan hal
itu. rahmat begitu lemah hati yang bergetar mengenang ucapan amar. Mata rahmat
sedikit berair, menangisi perbuatannya. Samir pemuda yang malang terbuang jauh
hingga tak tentu keberadaannya. Tak tahan mendengar ucapan amar lalu rahmat
pergi meninggalkan amar seorang diri. Rahmat melangkah dengan suasana hati yang
hancur. Matanya kosong tak berisi. Cahaya di matanya menghilang, wajahnya yang
tak ada arti itu selalu menunjukkan senyumnya yang masam. Langahnya semakin
cepat untuk segera keluar dari gedung yang besar itu.
Didalam rumah besar itu, hadi kian
malang terbaring menyesali perbuatannya. Menunggu akan kedatangan adiknya yang
telah terbuang jauh. Ia menanggung atas perbuatan dirinya. Rahmat melihat
abangnya terbaring semakin terpuruk dalam kesedihan. Dilihatnya hadi yang sakit
itu dibalik pintu kamarnya, dilihatnya pula semua orang-orang yang mengusir
samir dikala malam hari itu. terjatuh sudah air mata rahmat membayakan betapa
kejam dirinya pada samir yang tak berdosa itu.
K
|
TATAPAN YANG LAMA HILANG
eberadaan
samir yang menjadi teka-teki oleh keluarganya. Kini samir telah menemukan arti
kehidupan. Kejayaan dan kemasyuran yang dimilikinya begitu melekat
padanya. Hari-hari samir dihabiskan
dirumah mewah itu bersama anak-anak yatim dan ilman pemuda yang ia temukan
beberapa tahun yang lalu. Keberadaan abid sahabatnya menjadi penyokong semangat
dalam hidupnya. Dibawah pohon yang teduh dan rindang itu tampak berdiri seorang
pemuda yang memohon pada samir untuk menghadiri acaranya. canda dan tawa dari
anak-anak yatim terdengar dengan jelas ditelinga pemuda itu. terlihat pula
rizal duduk dikursi yang terpasang dibawah pohon yang sejauk itu. sementara
itu, ilman melihat dengan jelas pergaulan antara ketiga pemuda itu dari
kejauhan
“ayolah
mir, aku mohon” rayu pemuda itu
“tidak
bisa tuan, aku tidak mengerti acara seperti itu. aku belum pernah mengikuti
acara sebesar itu”
“aku
sudah meminta pada pak rektor, beliau tidak bisa. Besok harus terbang surabaya
ada urusan dari kampus”
“coba
tuan tanya sama pak ridwan saja. Beliau sudah sering mengikuti acara seperti
ini, barangkali beliau bersedia”
“sudah
kami diskusikan, tahun lalu beliau jadi narasumber diacara itu. tahun ini
teman-teman meminta kamu yang menjadi narasumbernya”
Samir
sejenak diam, rasa bimbang bermain dikepalanya. Ia tak enak bila harus menolak
permintaan sahabatnya yang begitu baik padanya.
“samir.
Ini acara besar. Yang hadir bukan hanya mahasiswa tapi juga seniman profesional
seluruh nusantara. Kemarin mas sudah berbicara dengan teman mas yang ada di semarang
untuk menjadi narasumber acara abid. Tapi dia tidak bisa. Narasumber diacara
itu bukan orang yang biasa, orang yang sudah pasih dan berpengalaman dalam
bidangnya”
“tapi aku
belum pernah menghadiri acara besar seperti itu mas”
“ayolah
mir, aku mohon”
“temanya
membahas tentang apa?”
“ “seniman
dipasar internasional” kamu tidak perlu membahas tentang temannya, kamu
bisa memberi semangat dan motivasi pada peserta. Tentang kisah perjuangan kamu
misalnya hingga menjadi penulis besar” rayu kembali abid pada samir yang
bimbang
“coba
lihat proposalnya”
Lalu abid
memberikan seberkas kertas daftar peserta acara seminar tersebut. Acar menjadi
kebanggaan kampus abid acara yang ditunggu-tunggu oleh semua seniman.
“lumayan
juga pesertanya. Narasumbernya bukan orang-orang biasa.” Ucapnya membalikkan
kertas tersebut “kapan dan jam berapa acaranya?”
“besok,
jam 10 pagi” sebut abid dengan cepat
“insyallah”
tegas samir
Betapa
sukanya hati abid mendengar jawaban dari samir. Terlihat dengan jelas matanya
terpancar cahaya bahagia. Rizal pemuda berbadan tegap itu pun terlihat
tersenyum. Dipeluknya samir dengan erat oleh sahabatnya rasa bersyukur dan
terima kasih untuk samir.
“terima
kasih tuan samir” ucapnya bahagia
“tapi,
ada syarat” sebut samir
“apa itu.
katakanlah” pinta pemuda yang tersenyum itu
“aku
tidak ingin identitasku diketahui orang. Diacara itu aku ingin memakai nama
penaku sebagai penulis, Rahmat Wijaya bukan Rahmat Samir Wijaya” tegas samir
kembali pada abid.
“sip,
baiklah aku tidak akan menyebutkan identitas aslimu”
Dan acara
besar itu pun tiba, seribu mahasiswa dan seniman tergabung dalam satu ruang yang amat besar. Disudut
ruang terlihat begitu banyak hiasan dan bendera merah putih yang berdiri
sejajar dengan bendera mahasiswa. Hiru pikuk terdengar dengan jelas disudut
ruang, samir begitu gagah memakai jas hitam dan celana hitam. Dibalik kerumunan
orang-orang terlihat sesosok pemuda yang tampan duduk tidak jauh dari panggung
utama, pemuda itu ialah malaikat pengganti ayah samir, dia dulu adalah pemuda
yang diharpakan oleh samir untuk menjadi pelidungnya, pemuda itu ialah dimas,
laki-laki yang telah melukai samir. Abid terlihat sibuk dengan pekerjaannya
rizal yang begitu tampan memakai batik merah mendampingi adik tercinta. Sungguh
abid begitu beruntung memiliki saudara yang baik seperti rizal. Sekian lama samir
duduk menunggu acara tersebut sekali-kali pula abid menghampiri samir yang
terlihat sedikit tegang karena tidak pernah menjadi narasumber diacara yang
begitu besar.
“nama
kamu akan dipanggil diurutan ketiga. Duduk dikursi dibagian tengah” ucap
sahabatnya pada samir
Samir
hanya menganggukan kepalanya memberi isyarat bahwa ia mengerti atas instruksi
dari laki-laki yang sibuk itu.
Acarapun
dimulai, satu persatu narasumber dipanggil oleh moderator begitu pun dengan
samir. Tepuk tangan yang gemuruh terdengar ketika moderator memanggil nama
samir dnegan nama penanya.
“......
dan narasumber berikut ini adalah penulis muda berbakat, termasyuhur hingga
kepelosok nusantara. Terkenal dari buah karya tangannya dengan tulisan yang
begitu anggun dan sangat mengguncangkan jiwa, inilah dia Tuan Rahmat Wijaya”
Dan samir
pun melangkah menuju panggung utama, semua orang berdiri memberi tepukkan
tangan pada samir. Dan samir pun memberi penghormatan kepada para peserta yang
telah menyembut dengan sangat ramah padanya. Alangkah terkejutnya dimas ketika
melihat samir berdiri diatas panggung itu, matanya melihat tak bekedip.
“kakak”
sebutnya kecil
Bola
matanya tak bergerak ia hanya melihat samir yang begitu gagah. Dibalik
keributan orang-orang pemuda itu
seolah-olah tidak percaya apa yang dilihatnya, laki-laki dihadapannya itu ialah
samir orang yang selama ini dicari-cari oleh saudaranya. Samir tidak menyadari
akan kehadiran malaikatnya itu. lalu semua peserta pun duduk kembali begitu pun
dengan dimas. Ia tak hayalnya menengok pemuda yang duduk diatas panggung itu.
Samir tak
henti-hentinya menaburkan senyum, tanda syukur kepada semua orang. Dimas
melihat senyuman itu, sungguh hatinya semakin rapuh. Detak jantungnya semakin
kencang berdetak darahnya semakin kencang mengalir. Dan sekian lama menunggu
acara pun selesai, bergegas pemuda itu mengejar samir hingga ke belakang layar.
“bagus,
materi kamu sangat bagus. Terima kasih samir” sebut abid sahabatnya
“ah,
tuan. Biasa sajsa. Sama-sama, saya melakukannya dengan sebisa saja”
“isi
materinya sangat sederhana. Cerita kamu seolah juga nyata, tapi enak didengar
sesuai dengan zaman sekarang” sambung rizal
Samir
hanya tersenyum mendengar ucapan kedua pemuda itu. sungguh samir sangat
terhormat dalam acara tersebut, tak terbesit sedikit pun dipikirannya dengan
orang-orang dan peristiwa masa lalunya. Entahlah, tak seperti biasanya samir
tak mengingatkan adik-adiknya. Sementara itu dimas semakin cepat mengejar samir
yang telah jauh dari pandangannya.
“samir”
panggilnya
Sejenak
samir berhenti mendengar seseorang memanggil namanya. Dilihatnya orang-orang
disekelilingnya, siapa yang memanggil? Pikirnya. Kedua pemuda bersaudara itu
pun berhenti melangkah dan melihat kearah samir yang terlihat bingung.
“ada apa
mir?” tanya pemuda itu
“tidak
apa-apa mas. Sepertinya aku mendengar seorang memanggil namaku”
“memanggil
nama samir?”
“iya,
mas” Samir mengaggukkan kepalanya.
“ah, itu
hanya perasaan kamu saja. Mereka kan tidak tahu kalau nama kamu samir. Kan
mereka tahu nama kamu Rahmat Wijaya” sambung abid sedikit meledek
Samir pun
mengabaikan panggilan itu, mungkin perkataan sahabatnya ibu ada benarnya.
Langkah samir semakin menjauh namun langkah dimas semakin dekat dengan samir.
“samir”
sebutnya kembali
Dan tak
jauh ketiga pemuda itu melangkah, kaki samir dan ketiga pemuda itu kembali
berhenti karena panggilan itu. sesaat samir dia untuk memastikan panggilan itu.
suara itu tidak asing didengar ditelinga samir. Samir mendengar tak jelas
karena begitu banyak suara yang didengarnya.
“samir”
ucapnya
Lalu
samir dan kedua pemuda itu membalikkan badannya dan melihat kearah suara yang
memanggilnya, badan samir pun berputar mencari suara itu. betapa terkejutnya
samir melihat seorang pemuda yang tampan berdiri dihadapannya. Dilihatnya
dengan jelas bola mata pemuda itu, bola mata yang pernah ia kenal. Sesaat samir
termenung dalam ragu, samir menatap dengan tak percaya. Tatapan yang lama
menghilang itu kembali datang. Mata pemuda itu sedikit memerah karena nafasnya
sesak mengejar samir. Dan pemuda itu mendekati samir yang berdiam diri
seolah-olah pemuda itu akan membuka lukanya kembali. Dan dimas pun memeluk
laki-laki yang terlihat kebingungan itu. abid dan rizal menengok samir dan
pemuda itu berpelukan. Penuh dengan tanda tanya dibenak abid dan rizal tentang
pemuda itu, mengapa samir begitu akrab dengan pemuda yang menangis itu.
“kakak”
sebutnya “ya Allah, sudah lelah mas mencari-cari kakak akhirnya mas berjumpa
dengan kakak. Bagaimana kabar kakak?” ucap laki-laki yang menangis itu.
“mas”
sebutnya ”saya ada. Tidak kemana-mana ada disini. Kabar saya baik-baik saja,
alhamdulillah”
Samir
dengan rendah hati membalas pelukan malaikatnya itu. air matanya terlihat
mengenang dimatanya namun tak jatuh dikelopak matanya. Laki-laki itu kembali
mengingatkan samir pada peristiwa dua tahun yang lalu. Teringat sudah ingatan
samir pada pemuda yang dipelukannya betapa kejamnya pemuda itu memukul dan
membuangnya hingga jauh dari tanah kelahiran. Namun dengan peristiwa itu
membuat samir kuat, dan tak akan meratap merendahkan diri pada siapa pun. Samir
tak menangis air matanya tak sedikit pun terjatuh.
“mas
sehat?” sebut samir
“mas
sehat. Mas tak percaya bisa bertemu dengan kakak disini. Mas bangga dengan
kakak, ternyata buku yang selama ini mas baca karya buah tangan atas nama
Rahmat Wijaya ternyata samir keponakan mas”
Betapa
pilu hati samir mendengar ucapan laki-laki itu. dahulu ia memutuskan tali
persaudaraan antara samir dengannya, namun kini ia datang dengan sejuta rayuan.
“mas juga
hadir diacara ini”
“iya, mas
dipercaya mewakili kampus”
“oh iya
perkenalkan. Ini tuan abid sahabat saya. Dan ini mas rizal saudara tuan abid”
“beliau
ini adalah saudara saya” sebut samir pada kedua pemuda itu
“samir,
mas sama abid mau kesana dulu masih banyak peralatan yang harus dikembalikan”
“oh iya
mas, silahkan”
“mari
mas” ucap rizal pada pemuda itu
Dan kini
tinggallah samir dan malaikatnya itu. samir mencoba untuk menguatkan hatinya
yang sakit. Ia tak begitu menampikan kehadiran malaiatnya itu. ia tak begitu
mengaharapkan kedatangan pemuda itu. sebagai pemuda yang baik hati dan budiman
sebagai saudara samir mempersihlahkan dimas untuk tinggal dirumahnya yang
mewah.
“subhallah,
bagus mewah indah. Tak terlihat suasana keangkuhan sama sekali” sebut dimas
dengan nada bangga
“ini
ilman, adik angkat saya” sebutnya “ini mas dimas. Saudara kakak.”
Lalu
ilman menyalami pemuda itu. dilihatnya dengan jelas pemuda itu. ilman
melihatnya dengan mata yang aneh. Bola matanya sedikit bergerak kekiri dan
kekanan. Pemuda itu seperti yang ada difoto diruang samir begitulah kiranya
pikiran ilman ketika bersalaman dengan pemuda itu. sedikit wajah sinis
dilihatkan oleh ilman pada pemuda itu karena ia telah membuat samir pemuda baik
itu selalu tersiksa batinya.
“dia yang
selalu menemani dan menghibur saya ketika saya merasa bosan dengan pekerjaan”
“kakak
tinggal bersama siapa?”
“didalam
banyak anak yatim piatu, sengaja saya ajak mereka untuk tinggal dirumah saya
hanya sekedar untuk menghibur, agar rumah tidak merasa sepi. Jangan sungkan,
Rumah dan seisinya juga punya mas. Tapi satu tolong jangan masukkan ruang kerja
saya, nanti ruangan itu akan ditunjukkan oleh ilman”
Begitu
mulia dan baik hati pemuda itu. tak begitu benci dan dendam rupanya pada pemuda
yang tampan itu walau dia pernah menyakiti hatinya hingga kini sakit itu masih
melekat dalam hatinya. Alangkah bahagianya hati dimas tatkala ia dapat melihat
dan tinggal bersama malaikatnya. Lalu kemudian dimas dengan segera memberi
kabar baik itu pada keluarganya. Dan ia pun menelpon hadi yang terbaring sakit
itu.
“muk. Apa
kabar?”
“baik
mas, alhamdulillah. Mas apa kabar? Bagaimana acaranya?” ucap laki-laki dalam
telpon itu.
Samir
menyaksikan pemuda itu berbicara dengan saudaranya. Ia melihat hati yang
hancur, dibalik kamarnya ia melihat bagaimana bahagianya hadi mendengar berita
dari malaikat samir itu.
“baik
muk. Acaranya lancar. Sebenarnya ada sesuatu yang hendak mas beritahu dengan
muk dan saudara lain”
“apa itu
mas”
“mas
bertemu kakak. Kini mas tinggal bersama kakak”
Alangkah
suka hati pemuda yang sakit itu. berita itu memberikan kekuatan baginya untuk berdiri
dan bertemu dengan samir. Samir melihatnya dengan hati yang sakit, ia tak
menginginkan orang-orang itu kembali hadir dalam hidupnya. Samir tak berdaya,
ia hanya melihat bagaimana malaikatnya itu memberi kabar pada saudaranya.
P
|
ORANG-ORANG YANG TAK
DIHARAPKAN
agi yang
cerah menemani samir dan dimas pemuda itu menikmati makanan yang tersedia dimeja
makan. Sinar mentari memancar masuk disela-sela jendela rumah besar itu.
kebahagiaan yang menerka hati pemuda tampan itu tak jua sinar, senyum dan ramah
kepada samir selalu ia perlihatkan. Samir laki-laki itu tidak begitu menanggapi
pemuda yang ada di dekatnya itu.
“kakak
kekantor?” tanyanya
“iya”
“mengapa
tidak istirahat saja. Apakah kakak tidak merasa lelah setelah acara kemarin?”
“tidak,
itu hal biasa. Saya sudah biasa menanggung semua penat dalam hidup”
“kak.
Pulanglah, semua orang merindukan kakak. Adik-adik merindukan kakak”
Betapa
rapuh hati samir mendengar itu. sesaat samir melihat pemuda itu, matanya
melihat dengan tiada arti. Pulang? Pikirnya. Tidaklah sanggup hati samir akan
pulang dan mengenang peristiwa dau tahun yang lalu. Tak kuasa akan teringat
kekejaman orang-orang itu pada dirinya.
“pulang?”
sebutnya
“iya,
pulang kerumah!”
“maaf
mas, saya harus pergi sekarang, masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan”
Dan samir
pun pergi melangkah dari meja makan dan meninggalkan pemuda itu seorang diri.
Samir tak bersemangat untuk berbicara pada laki-laki itu. melihat tingkah laku
samir yang acuh dimas tidak mengejar untuk menghentikan langkah samir.
“tuan,
buku yang baru sudah habis terjual” sebut salah satu karyawannya
“alhamdulillah,
itu semua berkat kerja keras kita semua”
“tuan.
Ada seorang yang ingin bertemu dengan anda. Sekarang dia ada diruang tuan”
“oh, iya
terima kasih”
Samir pun
melangkah memasuki ruang kerjanya dan segera menjumpai seorang didalam
ruangannya. Samir semakin bimbang, kehadiran malaikatnya membuat dirinya
semakin menahan batin dalam dadanya. Samir melihat seorang laki-laki duduk
manis dikursinya, ia menghadap kejendela membelakangi meja kerja samir. Samir
melihatnya dengan heran, siapa laki-laki itu? ucapnya.
“selamat
pagi” ucap samir pada laki-laki itu
Mendengar
itu laki-laki yang dudu itu membalikkan kursinya dan menghadap kearah samir
yang berdiri itu. dilihatnya samir yang berdiri itu. alangkah sukanya hati
samir ketika melihat laki-laki yang duduk manis dikursinya.
“amar?”
ucapnya girang
Pemuda
itu tersenyum kecil. Dilihatnya dengan jelas wajah sahabatnya yang berdiri itu,
samir membalas senyuman kecil pemuda itu, ia melihat pemuda itu membangkitkan
tubuhnya dari kursi dan mendekati samir.
“samir.
Apa kabar?” sahutnya
“amar.
Aku sehat. Bagaimana denganmu?”
“aku baik
mir. Aku senang berjumpa denganmu”
“haha..
iya aku juga senang berjumpa denganmu. Aku rindu denganmu mar”.
“aku
juga. Kau tambah kurus saja mir” ledeknya
“ah,
biasa saja. Kini kau bertambah gagah dengan jasmu, mar”
“ah tidak
juga”
“bagaimana
ceritanya kamu bisa sampai kesini?” tanya samir
“itu
mudah bagiku mir. Kita kan bersahabat. Batin kita sudah melekat satu sama lain.
Firasat aku mengatakan kalau kita akan berjodoh. Sejauh mana pun kau pergi
pasti aku akan menemuimu”
Kedua
pemuda itu tertawa saling melepaskan rindu. Rindu yang sangat mendalam lama tak
berjumpa. Tawa yang pernah dulu didengarkan dan kini kembali hadir dalam hidur
samir. Sejenak samir mencoba menenangkan dirinya dengan berbagi bercerita
dengan sahabat lamanya.
“duduk”
ajak samir pada pemuda itu “dengan siapa kau kesini? Pak dekan juga kesini?”
“tidak.
Aku datang seorang diri. Pak dekan titip salam padamu”
“ada
keperluan apa kamu kejakarta?”
“ada
tugas dari kantor untuk menemui klien disini. Kontrak properti baru”
“alhamdulillah.
Semoga rezekimu semakin baik”
“amin.
Dua tahun terlalu lama bagiku berpisah denganmu. Terlalu lama aku menahan siksa
batin merindukan dirimu”
“ah,
kata-katamu sungguh membuat ruangan ini terasa sejuk. Berapa lama kau
dijakarta?”
“tidak
lama. Hanya sehari. Besok pagi-pagi sekali aku langsung pulang. Oleh karena itu
aku menemuimu walaupun tidak lama”
“sehari?”
ucapnya lesu “mengapa tidak lebih lama disini. Nanti aku akan kenalkan dengan
sahabatku abid”
“abid.
Pemuda yang kau ceritakan dalam surat itu?”
“iya”
“tapi
sungguh aku tidak bisa lama bersamamu. Aku sangat menginginkan tinggal bersama
kamu lebih lama disini. Tapi pekerjaan yang membuat aku tidak bisa lama disini.
Nanti kalau ada cuti dari kantor pasti aku akan mengunjungimu lagi”
Lalu amar
melihat kearah jam ditangannya. Kini amar akan pergi karena urusan kerjanya.
Amar adalah sahabat yang baik.
“maaf
mir. Aku harus pergi, klien aku sudah menunggu”
“oh, iya.
Baiklah”
Dan kedua
pemuda bersahabat itu pun saling berpelukan untuk mengakhiri pertemuan mereka.
Rindu menjelma menjadi tawa dan canda dalam beberapa menit kebersamaan kedua
pemuda yang bersahabat. Kini samir akan menjalankan hari-harinya seperti biasa.
Lelah begitu terasa di pikiran samir, lelah akan pekerjaan dan lelah untuk
memikirkan pemuda yang tinggal dirumahnya itu.
Rumah
itulah yang menjadi tempat samir berteduh, dikala penat menghampiri, ketika
masalah datang silih berganti, ketika rindu melanda dalam jiwa ia hanya bisa
menghibur diri dalam rumah yang mewah itu. banyak cerita yang harus amar dengar
darinya. Manisnya hidup yang dirasakan sekarang akan menjadi awal langkahnya
untuk menjadi seorang pemuda yang kuat dan berpegang teguh dalam setiap
katanya. Langkah samir menyusuri setiap jalan halaman rumahnya, buku karyanya
yang baru terlihat menempel ditangannya buku itu akan diperlihatkan kepada abid
sahabatnya. Langkah samir tak juga berhenti, beberapa langkah dari pintu
rumahnya langkah samir terhenti karena ia mendengar teriakan beberapa orang
anak laki-laki yang berdiri dihadapannya.
“kakak”
ucapnya
Pandangan
samir pun mengarah pada suara itu, betapa terkejutnya saat ia melihat anak-anak
itu berdiri. Mereka adalah adik-adiknya, belahan jiwanya, jantung hatinya,
matahari dalam hidupnya. Mata samir sedikit menutup untuk melihat lebih jelas
anak-anak yang berdiri itu, dilihatnya wajah adiknya satu persatu. Betapa
pilunya hati samir ketika teriakan itu kembali ia dengar dari adiknya tercinta
firman.
“kak, ini
cibon?”
Lalu buku
ditangan samir pun terjatuh, tangannya merasa lemah hatinya bergetar hebat, tak
pernah ia membayangkan akan berjumpa dengan adiknya. Kakinya bergetar hebat
seolah tidak dapat berlari mendekati adik-adiknya. Namun samir berusaha melawan
rasa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Rindu yang sangat mendalam membuat
kakinya begitu ringan untuk berlari mendekati anak laki-laki yang tumbuh besar
itu. anak laki-laki itu pun berlari mendekati samir yang mulai menangis itu.
dan setelah sampai akhirnya samir dapat meraih adik-adiknya
“ya,
Allah. Adik kakak” ucapnya
Terjatuh
sudah air mata samir. Dipeluknya laki-laki itu dengan erat. Diciumnya pipi
serta kepala adiknya itu. rindu tiada tara ingin berjumpa dengan adiknya kini
telah di dapat oleh samir.
“ya,
Allah apung. Sudah besar. Babas terlihat tampan, aa’ iqbal. Dan..” sebutnya
memandang adik bungsungnya firman
Sesaat
samir terdiam memandangi wajah adiknya yang ia tinggalkan selama dua tahun itu.
dilihatnya dengan jelas rupa adiknya. Air mata samir bertambah membasahi
pipinya.
“cibon?”
ucapnya “adik apa kabar?”
“baik
kak. Kita sehat. Kakak kemana saja. Kita rindu kakak”
Tak kuasa
samir untuk berbicara, lidahnya tak kuasa untuk berucap karena terkunci oleh
rindu yang tiada tara bergejolak dalam dada.
“kakak
juga rindu adik-adik kakak”
Lalu
keempat anak laki-laki itu pun kembali memeluk samir dengan erat. Tak puas
rasanya mereka untuk melepas rindu yang masih melekat dalam dadanya.
“adik
datang dengan siapa?” tanya samir dengan sangat ramah
“kakak” terdengar
seseorang memanggil namanya dari kejauhan
Lalu
samir menengok kearah suara yang memanggilnya. Betapa pilunya hati samir ketika
melihat orang-orang yang dulu menyakitinya kini kembali hadir didalam hidupnya.
Senyum dibibirnya menghilang, hanya terlihat matanya yang membesar terkejut
karena kehadiran orang-orang itu. sesaat samir diam dalam hening, angin yang
sepoi menerpa disetiap wajah samir yang tak dapat dibaca itu.
“semua
datang. Mereka rindu dengan kakak” ucap rivandi sedih
Lalu
samir melangkah mendekati orang-orang itu dengan perasaan yang tak dapat
diterka. Lalu samir menyalami dan mencium tangan orang-orang itu dengan begitu
ramah. Dipandanginya wajah abang dan adik-adiknya sesaat samir melihat adiknya
Rahmat betapa pilu hatinya luka yang sempat sembuh kini kembali sakit karena
kehadiran orang-orang yang tak diundang ini.
“kakak
sehat?” tanya hadi pada samir
Dilihatnya
pula wajah hadi yang menagis itu. wajah abangnya yang terlihat wajah menyesal
akan perbuatannya. Lalu samir dipeluk dengan erat oleh hadi yang sangat rindu
hingga ia sakit mengingat samir.
“saya
sehat” ucapnya singkat
“muk
rindu akan kakak”
“iya,
saya juga rindu”
Betapa
sakit hatinya mendengarkan ucapan dari hadi itu. rindu itu bukan membuatnya
senang tetapi membuat luka dalam hatinya semakin sakit. Samir tak banyak
berbicara sakit dalam dadanya membuat lidah yang tak bertulang itu semakin
sulit untuk mengungkapkan kata-kata.
“ayo,
masuk. Tidak enak dilihat oleh orang kalau melepas rindu diluar rumah. Ayo adik
kita masuk” ajak samir pada orang-orang itu dan adik-adiknya.
Begitu
baik dan budiman rupanya samir. Hatinya yang sakit tidak membuatnya benci dan
dendam pada orang-orang itu walau telah membuatnya terbuang jauh.
“ilman.
Ilman. Mari kesini” ucap samir pada pemuda yang sibuk bermain dengan anak-anak
yatim itu.
“ini
ilman, adik angkat saya. Dia yang membantu saya selama saya tinggal disini.
Maaf, bila nanti tidak merasa nyaman, karena didalam rumah ini tidak hanya saya
seorang yang tinggal tapi ada juga anak-anak yatim yang saya ajak untuk tinggal
dirumah ini” sebutnya
Lalu
ilman pemuda itu menyalami dengan ramah orang-orang itu. pemuda itu melihatnya
sedikit ragu. Orang-orang yang ada didalam foto itu pikirnya. Ilman begitu
menyukai sosok samir, pemuda itu begitu baik hati kepada sesama. Ia sangat
melayani dengan baik orang-orang itu walau mereka sudah menyakiti hati pemuda
itu.
“jangan
sungkan, rumah dan seisinya milik kalian juga. Tapi satu saya minta ruang kerja
saya jangan dimasukkan. Ruangan itu nanti akan ditunjuk sama ilman.” Pinta
samir
“kamar
cibon dimana kak?” sambung adiknya firman
“adik-adik
tidur sama kakak”
“sama
kakak? Cibonkan sudah besar, kok. Tidur sama kakak?” ledek adiknya lugu
“ya
sudah, adik-adik boleh tidur dimana saja yang adik-adik inginkan” ucapnya
kemudian “berapa lama tinggal disini?” tanya samir pada adiknya
“satu
bulan kak” ucap iqbal
“ajaib,
lama sekali. Sekolah adik bagaimana?”
“libur
semester kak”
“bagus.
Nanti kakak ajak adik-adik mengelilingi kota ini”
Semua
berbahagia, samir tersenyum dengan lepas. Terlihat berbahagia dari luar namun
hati samir sekian sakit menahan luka yang kembali mengoyak hatinya. Samir
mencoba tidak menunjukkan sakit hatinya kepada orang-orang itu. Samir tidak
banyak berbicara dengan orang-orang itu, sakit hati membuat lidahnya terkunci
rapat untuk berbicara pada orang yang telah membuangnya.
Tiga
minggu sudah orang-orang itu mencoba merayu hati samir yang sakit. Telah banyak
tampak wajah penyesalan dari orang yang kejam itu untuk dapat mendengar kata maaf
dari samir. malam yang sunyi sepi. Kelam malam tidak begitu terasa dirumah
besar itu karena sinar lampu yang indah membuat cahaya yang terang. Malam yang
berbintang, tampak orang-orang yang menyesal itu duduk bersama diruang
keluarga. Tampak hadi sedari tadi duduk termenung diatas kursi, rahmat terlihat
duduk disamping abangnya. Dimas malaikat samir selalu memandang bintang yang
berkelip dilangit mata menerawang kosong ke arah langt yang kelam itu. ilman
menyuguhkan segelas air kepada orang-orang itu.
“nak?”
ucap wanita paruh baya itu
“iya,
buk”
“ibu
ingin bertanya padamu”
“bertanya
apa bu?” pinta ramah ilman
“mengapa
samir terlihat seperti orang ketakutan saja ketika melihat kami”
“tidak
bu”
“sudah
tiga minggu kita disini. Samir tak juga bersedia berbicara pada kita. Masihkah
dia benci pada kita?” tanya hadi yang duduk termenung itu
“tidak
mas. Kakak samir bukan orang seperti itu”
“lalu
mengapa dia tidak ingin berbicara dengan kita. Tiga minggu dia mencoba untuk
lari dari kami, disini kami bagaikan makan hati baulam jantung” sambung ibunya
“tidak
bu. Kakak Samir tidaklah orang seperti itu. dia adalah laki-laki yang malang”
“malang?”
sambung rahmat “bukankah kemashuran yang dia miliki ini adalah
keberuntungannya?”
“ini rupa
luarnya saja, tapi batinnya tetap saja dia anak yang malang. Apalah maksud
untuk mencari hidup kalau keinginan tidak sampai?”
“lalu
mengapa dia tidak mengizinkan kita untuk masuk kedalam ruang kerjanya? Apakah
ada sesuatu yang dia sembunyikan?” ucap hadi
“tidak
mas. Samir adalah pemuda malang. Dia mencoba untuk berdiri diatas batinnya yang
tersakiti.” Ilman terdiam sesaat “mari mas ikut dengan saya keruang itu” ajak
ilman pada orang-orang itu.
Kemudian
orang-orang itu pun membangunkan diri dan mengikuti ilman keruang samir yang
tidak jauh dari tempat mereka bercakap. Ilman menyusuri langkahnya menuju ruang
kerja samir, terlihat pintu ruangan itu. begitu indah dan elok rupa ukiran
disetiap pintu itu. dan ilman pun membuka pintu itu dengan perlahan dan
mengajak masuk orang-orang itu.
“disinilah
samir menghabiskan waktu-waktunya. Disinilah lahir karya-karya yang membuatnya
termashur dinegeri ini”
Kemudian
orang-orang itu melihat ruangan itu, dilihatnya setiap sudut ruang yang begitu
indah dan bersih itu. mata orang-orang itu kosong menatap setiap benda yang aa
diruangan itu.
“kalau
ruang yang elok dan sebersih ini, mengapa dia tidak mengizinkan kami untuk
tidak memasukinya”
“inilah
sebabnya” ucap ilman
Lalu
ilman melangkah mendekati meja kerja samir dan menarik sebuah tirai yang
terbentang panjang di dinding ruang itu. dan lalu tirai itu pun terjatuh.
Betapa terkejutnya orang-orang itu melihat foto-foto dibalik tirai itu. mata
mereka termenung menatap foto itu, ibundanya tampak menangis menutupi mulutnya.
Hadi hanya tegak berdiri tak bergerak menatap foto itu. rahmat dan abangnya tak
bersuara begitu pun dengan dimas. Suasana ruang terlihat sunyi, tak terlihat
suara dari orang-orang itu hanya terdengar nafas panjang disalah satu
orang-orang yang terdiam itu. mereka tidak pernah menyangka akan melihat
foto-foto itu sungguh foto yang menyentuh hati.
“dia
sengaja memberi tulisan dibawah bingkai foto itu. foto yang pertama itu adalah
almarhum ayah dan ibundanya dia sengaja memberi nama malaikatku
yang hilang dia
pernah berkata bahwa ayah dan ibundanya adalah malaikat dalam hidupnya, yang
selalu memberi kasih sayang dan melindungi dirinya. Foto keluarga itu dia
sengaja mengukir dengan tulisan mentariku yang kelam katanya dia pernah memiliki matahari yang memberi energi
dalam hidupnya setelah malaiatnya hilang. Namun tatkala suatu hari mentarinya
itu menjadi kelam karena tertutup oleh kabut hitam yang tebal. Dan dia
memasangkan fotonya seorang diri dalam bingkai itu. dia telah terbuang oleh
keluarga dia tidak menginginkan dirinya membuat nama baik keluarganya bercampur
dengan dirinya yang hina” ucap ilman haru
Ruangan
semakin sunyi. Angin sepoi terasa masuk disela-sela jendela yang terbuka.
“katanya.
Dia sengaja memasang foto-foto itu. bila dia merindukan adik-adiknya maka dia
akan segera pergi keruangan ini dan melihat foto-foto itu”
Begitu
pilu dan sulit untuk dipercaya oleh orang-orang itu. hadi semakin kuat menangis
hampir-hampir ia terjatuh lemah mendengar ucapan ilman pemuda dihadapannya itu.
rasa menyesal rahmat tak berkesudahan. Dimas hanya terdiam memandang foto itu
dengan mata berlinang. Lalu orang-ornag itu pun melarikan diri satu per satu
dari ruang itu, karena tidak tahan mendengar dan melihat foto-foto itu dan juga
membayangkan kekejamannya.
Pagi yang
amat dingin, sekitar pukul 07 pagi samir sedang duduk meminum segelas kopi
panas di salah satu ruang dirumah besar itu. Samir tidak dapat untuk mengartikan
perasaan hatinya saat ini. Disaat angin sepoi menerpa wajahnya, seorang
laki-laki datang menghampirinya
“kakak,
bisakah kita berbicara?” pinta ayahnya pada samir
“ingin
berbicara apa, yah?” sebutnya
“ayah
ingin meminta kepastian dari kamu” ucapnya
Samir
memandang wajah laki-laki yang berdiri itu, dan melangkah mendekati orang-orang
yang menunggunya diruang keluarga. Samir melihat semua orang itu duduk dikursi
dengan wajah yang harap cemas. Dan lalu samir pun duduk dikursi yang sengaja
disediakan untuknya. Sesaat hadi melihat adiknya, lalu menundukkan kepalanya
kembali. Rahmat tidak sudih untuk melihat samir karena rasa meyesalnya. Tak
terlihat adik-adiknya hanya tampak rivandi yang duduk didalam lingkaran
orang-orang itu.
“kak. Sudah tiga minggu kita tinggal
bersamamu. Tapi tidak juga kau pernah berbicara pada kami” sebut hadi abangnya
“tiga
minggu menahan batin bagaikan makan hati baulam jantung. Apalagi yang akan kita
lakukan?” sambung ibundanya
“iya, apa
lagi yang akan kita lakukan?” sebut samir pelan
“kakak.
Mohon, maafkanlah segala kesalah yang kami pernah lakukan?” pinta dimas yang
melihat samir iba
Samir
terdiam. Sesaat ia termenung mendengar ucapan malaikatnya itu. begitu sakit
telinganya ketika kata maaf itu dilontarkan oleh pemuda yang iba hati itu. lalu
samir mendorong kursinya pelan dan membangkitkan badannya sambil memandang
pemuda yang berbicara itu.
“maaf?
Setelah kau renggut masa depanku, setelah kau campakkan aku hingga jauh,
setelah kau rampas hak aku. Setelah kau putuskan hubunganku dengan adik-adikku.
Sekarang kau meminta maaf?” ucap samir dengan suara sedikit berat
Orang-orang
itu terdiam. Tak pernah terpikir oleh orang-orang itu samir dapat berbicara
seperti itu.
“mengapa
kakak berbicara sekejam itu. masihkah kakak membenci kami setelah semua
kesalahan yang pernah kami lakukan?” sambung rahmat “bukankah kakak dikenal
seorang pemuda yang baik hati pemaaf dan budiman. Mengapa kakak berbicara
sekejam itu?”
Samir
melihat adiknya dan berkata “iya, begitulah manusia. Teringat akan kesalahan
orang lain padanya walau kesalahan yang kecil dan lupa akan kesalahan yang
pernah dilakukan pada orang lain walau begitu besar”
“kakak”
ucap merendah hadi
“masih
teringat dalam benak ini dua tahun yang lalu, betapa kejamnya kalian kepadaku.
Masih teringat dibenak ketika aku meratap merendahkan diri memohon ampun kepada
kalian namun kalian menendangku dengan semaunya.” cerita samir dengan wajah
yang membayangkan masa lalunya
“kakak”
ucap kembali hadi abangnya
Orang-orang
itu mulai menangis, teringat membayangkan kekejamannya pada pemuda yang berdiri
itu.
“setelah
aku meratap memohon kasihan kepada matahari dan malaikatku namun darah yang
mengalir dibalik bibir ini yang aku dapat. Bukan keinginanku untuk melakukan
ini. Kau sendiri yang mengatakan kalau aku bukan adikmu lagi. Kalian memutus
tali persaudaraan antara aku dan adikku. Kau berkata kalau aku tidaklah pantas
berada diantara kalian, aku tidak pantas berada dirumah mewah yang indah itu
karena aku adalah manusia yang hina dan tak suci. Sebagai adikmu aku patuh
kepadamu karena kau adalah pengganti almarhum ayahku, untuk itu aku mengikuti
apa keinginanmu. Kau hantarkanku kesimpang jalan dan kau tak menghentikan langkahku
dengan mengabaikan teriakan adikku yang menangis. Setelah dua tahun aku mencoba
untuk mengubur luka itu, namun luka itu kembali terasa sakit. Siapa diantara
kita yang kejam, muk?” tegas samir
Wajah
samir berubah merah. Hatinya begitu sakit untuk mengatakan hal itu. ia tak
pernah berpikir akan bersanding berbicara dengan orang jahat itu.
“kak”
sebut hadi
“tidak.
Muk. Aku hanya mengikuti keinginan kalian. kalian putuskan pengaharapan anak
yang malang untuk hidup dan mengharapkan keluarga yang menjadi pelindung dalam
hidupnya.”sebut samir dengan nada yang menahan air matanya ”Sampai kapan kalian
akan meratap merendahkan diri. Aku telah memaafkan dosa orang-orang yang telah
menyakitiku. Pulanglah. Jangan mau meratap dan merendah pada orang yang hina”
Lalu
samir pun melarikan diri dari orang-orang itu. tangisan terdengar dijelas diorang
itu. beberapa langkah dari abangnya langkah samir pun terhenti.
“tidak.
Muk tidak akan pulang sebelum kakak memaafkan kita. Begitukah keputusan kakak,
mengusir kerabat keluarga. Yang sudah mencari kakak kemana-mana?”
Samir
terlihat kuat. Tak tampak air mata yang mengalir dipipinya. Hati samir begitu
hancur dan rapuh, tak kuasa dirinya mengatakan hal sedemikian. Rivandi adiknya
hanya melihat samir yang berderai emoasi, ia tak pernah membayangkan samir
dapat melakukan hal itu. lalu samir pun pergi meninggalkan orang-orang yang
menyesal itu, deraian air mata semakin terlihat mengalir dipipi hadi. Pemuda
itu ta kuasa menahan derasnya air mata setelah mendengar pernyataan yang pahit
dari adiknya.
Setelah
samir mengusir orang-orang itu. pagi yang sedikit mendung mengiringi langkah
keluarga itu untuk pulang. Begitu kejam samir telah mengusir ayah, ibunda dan
saudaranya. Setelah dua tahun perasaan rindu yang menjelma dalam dada dan
setelah orang-orang yang dirindukan itu datang samir dengan hati yang sakit mengusir
orang-orang itu.
“mengapa
samir sekejam itu nak. Mengusir keluarganya sendiri” tanya wanita itu pada
ilman
“tolong
sampaikan maaf kami padanya” sebut merendah adiknya rahmat
Ilman
hanya termenung dan terdiam melihat orang-orang itu pergi menaiki mobil hitam
milik samir untuk mengantarkan ke stasiun. Beigitu berat hati ilman
menghantarkan pemuda dan saudaranya itu.
“kakak.
Saya tidak mengerti mengapa kakak berbicara sekejam itu? bukankah kakak selama
ini merindukan orang-orang itu? setelah mereka datang menemukan kakak. Kakak
malah mengusir mereka”
“kakak
menyesal ilman telah mengusir saudara kakak. Rindu dalam dada kakak masih
bergejolak dengan hebat”
Setelah
beberapa hari kepergian orang-orang itu, samir mendapatkan surat dari adiknya
rivandi. Dengan tergopoh-gopoh samir mengambil surat dari tangan ilman dan tak
sabar dia untuk membaca surat itu.
“kak,
surat dari rivandi untuk kakak”
“mana.
aku ingin membacanya segera” pinta samir tergopoh
Tak tahan
hatinya membaca surat itu. rasa rindu pada adiknya dan saudaranya tak juga
hilang dalam dadanya. Rasa menyesal terbesit dalam benak samir telah membuang
saudaranya.
Untuk kakakku
tercinta.....
Tak pernah terpikir
dalam benakku ketika kakak mengatakan hal yang sangat menyakitkan hati. Ketika
deraian air mata mengalir dalam rasa menyesal kakak membalasnya dengan
kata-kata yang melukai hati. Kakak, apung tahu perasaan kakak. Sakit hati kakak dua tahun yang
lalu belum juga hilang karena kekejaman
saudaramu. Wahai kakakku tercinta, setelah kakak mengusir kami dari rumah
kakak, semua orang memahami keputusan yang kakak ambil. Sesungguhnya kakak
sangat merindukan saudaramu, itu terlihat dari mata kakak yang indah itu.
kakakku tercinta, sungguh hatimu kini telah berubah, hatimu begitu kuat dan
tegar ketika engaku mengucap keputusan itu. wahai kakakku tercinta, pulanglah
maafkanlah kami. Atas segala kesalahan yang pernah kami lakukan. Kakak, muk
sedang sakit badannya kurus wajahnya terlihat pucat. Muk sangat berharap
melihat wajah kakak, sungguh muk sangat merindukan kakak. Kakak semua orang
telah menyesali akan perbuatannya dua tahun yang lalu. Apung percaya akan
kebaikan hati kakak yang suci itu bila ada waktu tolonglah pulang untuk sejenak
melihat muk yang sedang sakit. Kakakku tercinta, setiap malam muk tak tidur
setelah pulang dari rumah kakak muk tak henti-hentinya memanggil nama kakak.
Kakak, pulanglah. Kami sangat merindukan akan kedatangan kakak.
Salam rindu tiada
tara. Adikmu Rivandi......
Rasa
menyesal akan keputusannya terlihat diwajah samir ketika pemuda itu membaca
sepucuk surat dari adiknya. Tangisan terdengar dari mulutnya. Begitu hatinya
bermain hebat dengan rasa menyesal itu. lalu dengan segera ia membalas surat
dari adiknya.
Kepada matahariku...
Segenap kesalahan
yang telah aku lakukan kepada belahan jiwaku yang telah sudih meratap dan
merendahkan diri kepada diriku yang tiada berdaya. Wahai belahan jiwaku, mohon
maafkanlah segenap kesalahan yang telah aku lakukan kepada hatimu yang
tersakiti. Tak kuasa tangan ini untuk menggores setiap kata dalam kertas putih
ini hanya untuk memohon maaf kepada belahan jiwaku. Percayalah wahai belahan
jiwaku, sungguh aku menyesal akan keputusan yang telah aku ambil. Setan telah
bermain dalam hati ini untuk berkata sedemikian. Belahan jiwaku. Rindu yang
amat dalam ini tiada akhir bermain hebat dalam jiwa ini. Kepada matahariku
Rahmat Hadi Syaputra Wijaya. Telah aku susun jari nan sepuluh, telah aku
hantarkan jari-jari ini dalam sepucuk surat ini memohon ampun dan maaf kepadamu
atas segenap kesalahan dan kehilafan yang telah aku buat. Jangan bersedih hati
wahai matahariku. Janganlah kau pikirkan segenap ucapan yang telah aku ucapkan.
Janganlah kau benci terhadap diriku. Wahai matahariku, jangan kau khawatirkan
akan diriku. Percayalah suatu saat nanti aku akan pulang menenmui matahariku
untuk menghilangkan kabut kelam yang menghalangi sinarmu. Wahai matahariku,
percayalah aku akan menjumpaimu, namun tidaklah untuk saat ini karena aku tidak
ingin menjumpai matahariku dengan rasa bersalah yang bersarang dalam benak ini.
Biarlah waktu yang menjawab segenap kerinduan yang bergejolak dalam dada ini.
Wahai matahariku. Segenap hati ini, telah aku do’akan saudarku setiap kalimat
dalam sholatku. Telah aku maaf atas segala kesalahan aku dan engkau yang telah
perbuat. Semoga niscahaya tuhan senantiasa mengabulkan do’a dan harapan kita.
Dari aku yang
terbuang, samir...........
Begitulah
surat balasan samir kepada matarinya. Betapa rapuh hati segenap orang-orang
itu. hadi pemuda yang sakit itu sedikit merasa kuat dan tegar ketika membaca
surat balasan dari malaikatnya itu. terlihat senyum kecil keluar dari mulutnya,
hatinya merasa tenang karena segenap kesalahannya telah dimaafkan oleh adiknya.
Begitulah
akhir nasib samir pemuda yang malang itu, telah berubah menjadi seorang pemuda
yang penyayang dan budiman hidaup dalam
kejayaan karena telah ia terima dari balasan hatinya yang ikhlas. Penyesalan
demi penyesalan telah ia dapat dari orang-orang yang telah menyakitinya. Samir
begitulah pemuda yang baik hati mengaharapkan segenap perlindungan dan kasih
sayang dari orang-orang terdekatnya. Biarlah waktu yang menjawab segenap
pertanyaan dirinya dan saudara-saudaranya.