Jumat, 21 Juni 2013

cerpen_Q


Penghianatan diatas persahabatan


Tak terasa hari semakin cepat berlalu, bumi begitu mantap berputar dengan tak sadarnya. Kini ku duduk dikelas XI IPA. Selama satu tahun mencoba untuk beradaptasi disekolah baru. Berbeda sangat kujalankan tiga tahun selama di SMP dulu. Begitu banyak teman, prestasi dan imajinasi mendampingiku dengan setia. Tahun ajaran baru, ketika kudipercaya menjadi ketua OSIS menjalankan perhelakan tradisi orientasi siswa.
“semua siswa harap dapat berkumpul di lapangan, karena acara orientasi akan segera dimulai.” Teriakku dengan pengeras suara.
Ketika semua siswa berbaris rapi, dan kepala sekolah pun sudah buka orientasi. Semua amanat telah disampaikan olwh kepala sekolah. Saatnya siswa  masuk kekelas dengan didampingi panitia MOS.
Ku ingat disaat kududuk sejenak dimimbar upacara, teman baikku ari juga mendaftarkan diri di SMA 2. Ari panggilannya adalah teman terbaikku dari SMP. Saat kududuk dikelas 2 dan ia kelas 1, tak sengaja kita bertemu waktu mengikuti perlombaan olimpiade dan olahraga antar kelas. Dan saat itu pula kita berteman amat baik hingga kini. Tanpa piker panjang ku langsung belari mencari ruang ari dan ternyata dia dikelas X1.
“cepat pasang alatmu, jangan bantah” bentak temanku elno ke ari.
Ku tersenyum, saat kulihat ekspresi wajah ketakutan ari dari lubang-lubang kecil pintu. Kumencoba tuk tak membela dan mendekat. Ku melihat dari kejauhan. Ari tak menyadari keberadaanku dibalik pintu kelas.   
“siapa namamu?” Tanya alin ke ari
“ari, kak”
“Nama lengkap” bentak alin kedua kalinya
“hari wijaya, kak”
“Nah gitu”
Ku tersenyum untuk kesekian kalinya. Melihat kepolosan ari menundukkan kepala ketakutan.
“dari sekolah mana?” Tanya elno
“SMP 6 kak” jawab ari
“sudah punya pacar?” Tanya alin tegas
“belum kak”
“kenapa belum?” kembali Tanya elno
Ari hanya diam, matanya menoleh kebawah entah apa yang dia lihat. Suasana kelas tak baik, suasana bising, ada yang menangis, marah, diam, ada pula yang ketakutan seperti temanku ari. Aku pun masuk ke dalam kelas dan membawa kertas jadwal MOS.
“semua diam, duduk dengan rapi tak ada kepala kalian yang menengok kedepan. Semua melihat kebawah dan pasang semua alat MOS kalian.” Teriak elno kesemua siswa.
“dengarkan perintah kakak yang didepan pasang telinga kalian baik-baik.” Tutur elno.
Semua diam, serentak suasana sunyi tak terdengar sekecil pun desahan nafas siswa. Mereka semua tertunduk takut. Aku pun member jadwal kegiatan MOS selanjutnya.
“terima kasih, kalian tak usah tegang seperti ini, jangan takut kakak-kakak ini tidak akan memakan kalian. Sekarang dengarkan perintah dari kakak. Saya tak akan memberi instruksi kepada kalaian sebelum kalian melihat kedepan.” Kataku dengan santai.
“dengarkan perintah kakak itu, melihat kedepan sekarang. Jangan bantah.” Teriak elno untuk sekian kalinya.
“sudah el, tak perlu seperti itu.” Tegasku ke elno
Dengan malu elno tersenyum, dan mengangkat kedua tangannya dan minta maaf. Semua siswa pun dengan segera mengangkat kepala mereka dan melihat kearahku.
Kudapat melukiskan wajah temanku ari saat dia melihatku. Terkejut, tak percaya dan bingung. Begitulah raut wajahnya. Kupandang wajah sahabatku itu sesaat, kutersenyum dia pun begitu. Rasa takut diwajahnya seketika menghilang. Mungkin dia berkata didepan itu temanku pasti dia akan membela kalau aku dibentak lagi. Dengan tenang pula ari mendengarkan isntruksi dariku.
“sekarang kalian boleh istirahat. Namun, harus mengikuti tata tertib MOS. Setelah istirahat, dan bel dibunyikan kalian boleh masuk ke kelas kembali.” Tuturku.
Semua siswa serentak menjawab dengan menganggukkan kepala.
“dan terakhir untuk namanya hari wijaya harap tetap ditempat.” Pintaku.
Semua keluar tertib dengan wajah berseri, begitu pun dengan kakak panitianya termasuk temanku elno dan alin. Namun, ari termenung. Bola matanya tanpak tergambarrasa takut. Mungkin dia mengira aku akan memarahi dan atau mengerjainnya. Aku pun melangkah kea rah sahabatku itu.
“kenapa ekspresimu?” tanyaku berdiri di depannya.
Ari terkejut, serentak kepalanya tertunduk takut.
“biasa saja ri, aku tidak menjahili kamu.” Tuturku senyum.
Sekali terdengar dengan jelas ari menghembus nafas kepuasan. Bak nahan nafas satu jam.
“sudah lah, lepas saja ember dikepalamu itu, kita keluar panas didalam.” Aku tarik tangan ari.
Aku ajak ari duduk ditempat biasa ku duduk saat jam istirahat. Dibawah pohon yang amat rindang dan begitu sejuk. Semua penat dan beban pasti kan hilang bila kududuk dibawah pohon itu. Ku ingin ari merasakan hawa dibawah pohon itu, agar semua beban dan rasa takunya hilang saat di MOS tadi.
“bagaimana orientasinya tadi?” tanyaku ke ari dengan meminum sebotol air.
“aku tidak tahu harus bilang apa, semua teman lainnyajuga merasakan apa yang aku rasakan” jelasnya.
Aku diam, bingung tak mengerti…
“temanmu semua kejam, pung!” tutur ari kesal
Terlihat sekali-kali jidatnya naik, alisnya pun begitu. Mulutnya menutup dengan jelasnya terlihat kegeramannya. Aku tersenyum, kulihat kearahnya. Ku bertanya dalam hati. Ternyata dia masih ingat panggilan sahabat kita waktu 3 tahun dulu. Menurut sahabatku, Apung adalah panggilanku yang artinya laki-laki yang amat ringan tangan dalam segala hal kebaikan. Cibon panggilanku ke ari, yang artinya pemuda tampan yang baik menurutku.
“yang mana bon, mereka semua baik. Tidak ada yang jahat?” tegasku membela.
“toh, buktinya tadi saja aku selalu dbentak berkali-kali. Mentang-mentang kakak kelas, apa lagi elno sama alin pengen ku tonjok tuh olno!” kegeramannya.
“benaran kamu berani sama elno?” tanyaku
“ya,. Kalau saja dia kecil dariku.”
Aku pun tertawa geli mendengar argument sahabatku itu.
“dasar kamu. Memang tak ada yang berubah dari dulu sikapmu ini” kataku mengosok kepala ari sambil tertawa.
Kita pun tertawa dengan puasnya, terlihat jua wajah ari kesenangan yang amat suka dengan suasana yang sejuk. Hari pertama. Saat kita melepas rindu, Selama 3 tahun tak bersua. Kebahagiaan silih berganti mendampingi kita. Larut dalam canda, tawa dan saling menjahil. Aku tak ingin ada yang mengganggu kesenanganku dan sahabatku. Aku ingin satu hari ini menjadi milik kita. Saat kita menikmati canda, dan tawa, tiba-tiba seorang anak muda putih, bersih dan begitu gagah dating menghampiriku dan sahabatku. Kudengar dengan jelas pula dia memanggil namaku.
“kak, sem?” pangilnya
Kudiam dalam kebingungan begitu pun dengan ari. Serentak tawa canda dan tawa kita hilang saat anak muda itu dating. Dengan baik pula aku melayani anak muda itu.
“iya, ada perlu sama saya?” tanyaku.
“iya, aku disuruh kak elno mencari kakak, untuk minta tanda tangan kakak” tegasnya.
“untuk apa?” tuturku
“mana aku tahu, tanya saja sendiri sama dia” ucapnya tak suka.
“ku tak percaya anak muda itu berbicara kasar padaku, sepertinya ia tak suka dengan apa yang ia kerjakan sekarang. Lalu, aku pun meminta dia menjelaskan maksud tujuannya. Dengan wajah benci pun ia menjawab.
“kalau tidak mau tanda tangan ya sudah, aku tidak suka menunggu lebih lama. Dan aku tak suak pula disuruh-suruh.” Ucapnya.
Kemudian anak muda itu langsung mengambil buku dan pena yang ia lempar disampingku dan pergi. Namun, beberapa langkah kakinya, aku pun memanggil anak muda itu.
“tunggu, mana buku sama penamu?”pintaku
Anak muda itu berhenti, sejenak melihat kedepan lalu berbalik kearahku. Ari hanya diam melihat semuanya. Dia bingung, kulihat pula kebencian ari pada anak muda itu. Tapi, terlihat pula kesabarannya menahan kemarahan. Ingin rasanya ari membelaku, ingin rasanya ia memukul pemuda itu. Namun, tak ada gunanya apalagi ia masih baru disekolah ini.
“siapa nama kamu?” tanyaku kepemuda itu.
“alan” jawabnya singkat
Kupun mencoret bukunya dengan tanda tanganku.
“nanti, kalau ada perlu sama saya kamu  bias menghubungi nomorku. Aku sudah tulis dibukumu itu.” Kataku, sambil memberi buku pada anak muda yang bernama alan itu.
Ia pun langsung mengambil dari tanganku dan langsung pergi tanpa mengucapkan kata-kata, bahkan terima kasih pun ta ku dengar darinya. Bel pun terdengar, aku dan ari pun beranjak dan masuk ke kelas.
****
Pagi senin yang amat cerah. Langit jernih bak syurga buatan terlihat diufuk timur dengan perpaduan cahaya merah keemasan sang surya. Aku turun dari motor melangkah kekelas. Kupandang kiri dan kanan kulihat pula motor biru temanku ari. Ternyata aku kalah cepat dengannya datang kesekolah.
Pukul 07.30 semua siswa berkumpul dihalaman sekolah mengikuti upacara bendera. Ku berdiri paling ujung belakang. Sekali-kali kulihat kearah temanku  ari yang juga berdiri paling belakang. Aku tersenyum padanya. Dia pun membalas. Rasa bangga pun terasa saat ku lihat ari memakai pakaian putih abu-abu dan meninggalkan putih biru. Upacara berlanjut. Serentak suasana hiruk, semua bosan. Kepanasan terlihat dari raut wajah dan baju semua siswa dibasahi keringat.
Upacara berakhir. Semua siswa belari tempat berteduh, aku pun begitu. setengah pejalanan, punggungku terasa berat. kumenengok ke kanan. tak kusangka temanku ary..
"nanti ku tunggu jam istirahat di tempat kemarin ya, pung?" ajak ari padaku.
kuhanya menganggukkan kepala, rasanya tak kuat berbicara karena kepala serasa berputar karena kepanasan. kita pun berpisah diujung jalan kelas. aku melangkah ke kelas dan ari pun begitu.
berhenti sejenak, ku lihat delapan siswa hormat bendera tidak mengikuti upacara karena terlambat. bola mataku berputar melihat-lihat siswa itu. mataku berhenti, kulihat dengan jelas barisan ke empat. laki-laki tinggi putih dan bersih. kuselalu bertanya-tanya dalam hati."sepertinya aku mengenali sosok pemuda itu, tapi entah dimana kulihat". sekali-kali ku menggosok kelapalaku dan mencoba untuk mengingat. setelah kuingat-ingat, ternyata anak muda itu alan. pemuda yang minta tanda tanganku waktu orientasi kemarin. aku tak bisa membayangkan yang dirasakannya berjemur dibawah terik matahari sambil menengok kearah sumber cahaya abadi.
"sem.."
dengan jelas seseorang memanggil namaku, serentak hilang ingatanku sosok pemuda itu. ku pun mencari sumber suara itu. ternyata temanku elno. melambai tangan menyuruhku masuk kelas. ku belari menuju kelas dan meninggalkan delapan siswa tersebut.
***
jarum jam menunjukkan pukul 10.00 bel istirahat pun selesai di bunyikan. aku pun belari keluar dan menuju tempat yang telah dijanjikan temanku ari. ku sedikit telat keluar karena aku harus mengerjakan soal kuis fisika. aku tak tahu entah apa yang kuterima dari ari. mungkin dia marah karena aku agak terlambat. kubelari cepat, ku takut ari marah dan pergi dari tempat itu. tapi, entah apa yang kurasakan, kakiku terhenti. aku diam. mataku tak bergerak. kupandang dengan amat jelas alan duduk sendiri didepan kelasnya. sekali-kali ia mengipaskan bajunya. aku tahu yang diraskan. panas, lelah, mugkin begitu. pasalnya satu jam penuh hormat bendera.tampak jelas pula keringatnya mengalir disekujur tubuh. tak tega melihat alan, aku pun membelinya sebotol air minum.
"kenapa dihukum kamu?" tanyaku duduk samping alan
"aku terlambat upacara, kak?" jawabnya
"salah kamu sendiri, kebanyakan main-main"
aku pun memberi minum kepada alan yang sudah kubeli di KOPSIS sekolah.
"ini, minum?" seruku padanya
tanpa sungkan alan mengambil air itu dari tanganku.
"terima kasih, kak?" ucapnya
aku hanya menganggukkan kepala. bibirku melebar senyum kecil melihat alan minum air dengan hausnya.
"lan, kalau kau tak keberatan, bisakah kau memanggilku dengan namaku saja?" kataku
"kenapa?"
"tak apa, aku hanya ingin tidak ada pandangan yang berlebihan padaku sebagai osis. aku juga pengen seperti teman yang lainnya. dekat sama teman-teman dan juga adik kelasku."
"siap, kak sem"
aku dan alan pun saling bercerita masa sekolah. canda tawa pun tak lekang oleh waktu. tak sedikit pun dari sikap alan yang buruk seperti saat dia minta tanda tangan waktu MOS dulu. perasaan burukku terhadap sikap alan dulu adalah salah. ku kira alan anak yang pemberontak tapi aku salah. cukup lama aku duduk cerita dengan alan, hingga kau lupa dengan ari. mungkin kini ia sudah lama menantiku ditempat itu. atau mungkin dia sudah pergi tak lagi menungguku. aku pun berdiridan pergi dari hadapan alan.
"aku kesana dulu ya lan?" kataku tergesa
"iya sem, terima kasih airnya?" ucapnya menunjuk air ditangannya.
ku tak menghiraukan perkataan alan. ku hanya senyum dan belari secepatnya. kuharap ari masih ada ditempat itu.kuberharap dia tak memarahiku. setibanya dibawah pohon. aku narik nafas panjang. kulihat sekeliling pohon, tak ada seorang pun terlihat oleh mataku.mungkin ari sudah pergi. ku diam duduk, kuhanya terlihat sebotol air minum diatas kursi dan kuyakin itu adalah air minum ari dan sekarang telah pergi. kutermenung menyesali yang terjadi.
dengan rasa menyesal kuberjalan kekelas. tak pernah rasanya aku mengingkari janjiku pada ari.mungkin karena alan? ah, itu bukan salahnya. ini memang salahku. aku tak pintar mengatur waktu.
waktu semakin cepat berlalu. saat kudengar dencingan bel pulang, aku pun keluar dan segera minta maaf pada ari. 
tak sengaja kulihat ari dengan temannya menuju tempat perkir motor. aku pun belari mendekatnya.
"cibon?" ucapku
ari pun menenogkku. matanya terlihat tak baik. wajahnya amat masam bak seperti buah jeruk disimpan seminggu yang sudah kecut.
"maaf, tadi aku terlambatmenemuimu tempat itu. tapi, sungguh akau tak bermaksud ingkar padamu" tegasku
ku semakin menyalahkan diri. ari hanya diam. ia hanya mendengarku berbicara. sekali-kali ia tak menoleh.
"aku tahu, pastinya kau marah padaku. tapi percayalah aku tadi sempat menyusulmu dibawah pohhon itu, tapi kau sudah tak ada lagi"
ku semakin takut. mataku merah. aku berkeringat. ari diam membuatku tak mengerti. mungkin ari akan memarahiku setelah aku berbicara. tapi, syukurlah. ahri ini ari lagi berbaik hati padaku. ari tak marah padaku sedikit pun. tasebalinya ia amat dewasa hari ini.
"sudah lah pung, aku tak marah padamu. aku tahu tugasmu begitu banyak sebagai siswa dan osis" ucap ari tenang.
aku hanya bisa termenung mendengar kata-kata ari. aku hanya bisa mengatakan terima kasih atas maafnya untuk kesalahanku. tapi, tiba-tiba ari berkata padaku.
"tapi jangan lupakan orang yang sudah lama kau kenal dan jangan terlalu dekat dengan orang yang belum kau kenal".
aku tak mengerti mengerti kata-kata ari itu. aku mencoba menjelaskan katanya itu. tapi tak juga bisa.mungkin dia marah padaku. tapi, tak mungkin. ataukah ari mengetahuikalau aku tak menenmuinya karena aku banyak berbicara dengan alan. ah, kalimat itu membuatku tak mengerti.
waktu kian berlalu, enam bulan sudah ari di SMA 2 ini. enam bulan pula aku mengenal alan. aku selalu diajaknya bermain kerumahnya, walau seringkali aku kerumahnya malam hari. demi sahabat baruku alan. kedekatanku dengan alan seakan seperti pertama aku bertemu dengan ari waktu SMP duulu. hariku banyak ku habiskan denagn alan. sore, kita selalu belajar bersama, disekolah duduk bersama, bercerita dan tak habisnya pula aku selalu mengerjakan setiap tugasnya. hariku dengan ari semakin jauh, aku serasa tak peduli dengan apa yang ari lakukan. dan sebaliknya. ku selalu bertanya pada alan hari-harinya. disaat aku dan alan berbicara girang, tak kusadari ari muncul disepanku. aku pun terkejut. tertawaku tertutup. kulihat ari menatapku dengan tak baik. alan tak peduli. dia hanya menoleh kelain arah.
"cibon?" ucapku
"nanti sore kerumahku ya pung? aku ingin belajar mengerjakan tugas tugas kimiaku?" pintanya
"iya, nanti aku kerumahmu"
ari tak berekspresi, sekali melihat kearahku. berkali-kali melihat ke alan. terlihat tak kesukaan ari terhadap alan saat ari melihat alan dengan wajah benci dan pergi.
****
kali ini kucoba tak ingkar janji pada ari. aku pun bersiap berangkat kerumah ari sesuai pesannya. kuambil tasku diatas meja belajarku. tas sudah diatas punggungku. kusiap berangkat. kali ini ku benar-benar menenmpati janjiku. tak sengaja ku lihat Handphone ku, ada satu pesan masuk. kubuka. terkejut, ternyata pesan itu dari temanku alan. dia menyuruhku kerumahnya. aku tak tahu pilih yang mana. aku duduk, mencoba untuk menengkan diri, aku benar-benar tak tahu harus pilih yang mana. aku ingin kerumah ari. dia adalah sahabatku. akhir-akhir ini kedekatanku tampak agak merenggang dan untuk menebus kesalahanku padanya, aku harus pergi kerumahnya. tapi, di sisi lain, alan juga temanku. ia amat baik padaku. aku tak tahu harus pergi kemana. dengan yakinya, aku berdiri melepaskan tas dipunggungku dan pergi kerumah alan. ini memang salah. tai, kurasa ari akan memaafkanku seperti dulu saat aku tak menempati janjiku. untuk kedua kalinya aku mengingkari janjiku pada  ari demi untuk memenuhi perintah teamanku alan.
seperti yang kuduga, ari memaafkan kesalahanku karena keingkaran janjiku padanya untuk kedua kalinya. mungkin ari sudah sedikit dewasa. tak perlu marah-marah seperti SMP dahulu.
***
sudah dua kali kuingkari janjiku pada ari. kali ini kuingin mengajak ari keluar malam. hanya sekedar makan dipinggir jalan untuk menebus semua kesalahanku padanya. kali ini pasti ku tak akan ingkar karena aku yang membuat janji. dan ari pun tak menolak ajakanku.
pukul 8.00, ari menungguku ditempat kujanjikan. aku masih dirumah, bersiap berangkat. kuamat senang, akli ini tak ada penghalang aku untuk menempati janjiku pada ari. aku melangkah keluar rumah,HP disaku bajuku terasa bergetar, kulihat pesan baru. tak kusangka pesan dari alan, seperti biasa dia menyuruh kerumahnya. dia meminta mengerjakan tugasnya."mungkin hanya sebentar"kataku dalam hati. aku pun melaju cepat kerumah alan.
ku pun tiba dirumah alan, seperti biasanya ku disambut dengan baik olehnya. dan mempersilahkan duduk. ku kerjakan tugasnya. tak terasa dua jam ku dirumah alan. aku amat nyaman berada didekat alan. dia memang sahabat yang amat baik. aku tak ingat janjiku dengan ari. aku tak menghiraukan janjiku. yang terpenting bisa melihat sahabatku alan senang. pukul 11 malam. kupulang, mataku amat mengantuk. setiba dirumah. kuambil HP ku didalam motorku. aku amat mengantuk, kurebahkan badanku ditempat tidur yang amat enak. kubuka HP ku. kulihat sepuluh kali panggilan tak terjawab dan enam pesan tak ku baca. alangkah terkejutnya aku. melihat pesan dari ari. serentak aku bangun, mataku membesar, rasa mengantukku hilang. aku tak menyadari pesan dari ari. saat dirumah alan, HP ku didalam motor. kucoba menghubungi ari. tapi, tak bisa. perasaanku tak menentu. rasanya ku ingin menyusul ari. tapi pukul sudah tengah malam. mustahil rasanya ari masih sana. aku rebahkan kembali badanku. dan aku pun tertidur. besok aku akan minta maaf padanya.
***
"cibon?" panggilku
 setiba di SMA. aku berusaha menemui ari dan minta maaf. setelah ku panggil dia, ari hanya melihatku, tak menyaut panggilanku. sepertinya kali ini wajah ari tak bersahabat. dia tetap melangkah kekelasnya. aku pun mengikutinya.
"kau marah?" tanyaku
ari diam. tak sedikit pun berkata. dia duduk aku pun begitu.
"maaf, aku mengakui kesalahanku"
"sudahlah, keluar sekarang. aku tak suka melihat seorang penghianat" tegasnya padaku
 jantungku berdebar cepat mendengar kata ari. aku tak menyangka ia akan berbicara itu padaku.
"semarah kah itu kau pada ku?" tanyaku " aku kinta maaf"
"aku sudah bosan mendengar maaf dari mu"
" mengapa?" tanyaku serentak
"karena aku tak suka penghianat" tegas ari
"dewasa sedikit, bon! jangan sikap SMP dulu kau bawa kesini"
"dewasa? tak usah kau berbicara masalah dewasa. coba tanya sendiri pada dirimu. sudahkah kau dewasa? aku terima kau tak ingin lagi menjadi sahabatku. mungkin kau menemukan sahabat yang lebih baik dari ku?" ari pun marah padaku, aku tak bisa mengendalikan emosi ari. aku pun terbawa emosi.
"aku tak pernah berpikir seperti itu. kau sahabatku"
"mengapa kau taktepati janjimu semalam?"
aku diam sejenak. aku tak bisa membela diri karena aku memang salah di permasalahan ini.
"asal kau tahu, selama empat jam aku menunggumu. aku coba menghubungimu tapi kau abaikan"
"iya, maaf. semalam aku pergi sebentar. HP ku didalam motor!" kataku santai
"pergi kerumah alan kan?" tanyanya 
aku terdiam kembali. dari mana dia tahu kalau semalam aku kerumah alan? atau dia melihatku.
"kau memang salah pilih teman!" tuturnya
"maksudmu?" tanyaku tak mengerti
"apakah kau tak menyadari selama ini dia hanya memanfaatkan dirimu saja?"
aku pun tak mengerti ucapanya.
"maksudmu, alan?" tanyaku
"siapa lagi? dia yang sudah membuat persahabatan kita seperti ini"
emosi kian larut. aku dan aripun selalu beradu argumen saling membela. aku tak tahu harus berbuat apa. ari tak menyalahkanku. tapi, ia menyalahkan alan yang membuat masalah ini. aku pun mencoba membela alan.
"jangan kau bawa-bawa alan ke masalah ini, ini masalah kita?" pinta ku tegas
"lalu siapa? aku tak merasa salah dalam masalah ini. kalau bukan dia yang menyuruhmu kerumahnya masalah ini tak akan terjadi" ari pun berdiri
aku emosi, perasaanku tak elok. badanku panas. aku pun berdiri dan membalas ucapan ari.
"kau tak tau dengan sifat alan, ri. jangan kau bawa dia dalam masalah ini" aku membela
"aku tahu dia. dia hanya memanfaatkan kamu saja.dia hanya palsu berteman denganmu. agar setiap tugas nya kau yang membuatnya." teriak ari padaku
"tutup mulutmu, yang jelas dia lebih baik dari dirimu" kataku menunjuk ke arah ari
ari diam membisu. tak percaya. selama ini aku tak pernah memarahi atau pun berkata kasar padanya. dia melihat mataku dengan jelas. mulutnya bergetar. matanya merah. lalau pergi dari hadapanku dengan penuh kebencian. aku pun terduduk. mataku berlinang, namun tak ada air mata. aku menyesali sikapku padanya. selama ini aku tak pernah bersikap seperti itu. aku pun keluarga kelas. setengah perjalanan menuju kelas, aku bersua temanku alan.
"sem?" sapanya
"alan?" sapaku balik
"mengapa wajahmu kusut seperti itu?" tanaynya heran
"tak apa, aku sedikit pusing" jawabku"aku ke kelas duluan ya, lan?"
aku tak enak berbicara. semua kujankan hari disekolah dengan tak enak. seharian belajar tanpa enak. membuatku ingin segera pulang kerumah, tidur dan istirahat.
setelah semua siswa pulang. ku tinggal seorang diri. ku sengaja pulang belakangan. karena aku disuruh mengambil buku di LAB. kimia. setelah ku dapat buku tersebut, aku pun langsung menuju gerbang sekolah. tapi, langkahku terhenti saatku dengar suara siswa. aku mencoba mendekat suara tersebut. ternyata suara itu berasal dari kelas temanku alan. aku pun segera melanhkah ke kelas itu. setelah ku mendekat ke kelas, kudengar dengan jelas suara kursi di hempas. dan suara keras seperti sedang marah. aku penasaran. aku pun mendekat ke pintu kelas. setelah ku lihat. alangkah terkejutnya aku saat melihat ari dan alan berkelahi. aku melihat dengan jelas alan terbaring kesakitan. mulutnya berdarah. sekali-kali memegang perutnya yang dipukukl ari. aku pun langsung mendekat dan merangkul alan.
".... itu balasannya. karena kau sudah memanfatkan persahabatan kawanku" ari menunjuk ke alan dengan benci
serentak aku menampar ari. aku tak sadar. tanganku serasa bergerak dengan sendirinya. ari diam. matanya menatap dalam. matanya menengok ke arahku dengan antara rasa sakit dan benci.
"alan tak pernah memanfaatkanku. kau salah kira. dia teman yang baik." tegasku membela alan" asal kau  tahu, aku lebih tenang berteman dengan dia. kau tak berhak melarang aku berteman dengan dia." tegasku marah
"aku hanya ingin melihatmu berteman dengan orang yang baik. tidak seperti dia" ucap ari menunjuk alan yang terbaring dilantai.
"ingat, tak ada manusia yang baik. semuanya memiliki kekurangan, termasuk alan. tapi, aku sudah mengenalmu sejak SMP, kau sangat baik tapi tak sebaik alan."
ari diam dan pergi. dia melihatku dengan kebencian. alan tak berdaya, sekujur tubuhnya berdarah dipukul ari. aku pun begitu. kakiku kaku tuk mengejar ari. mulutku terkunci untuk meminta maaf padanya. suasana tak enak. aku pun menghantarkan alan pulang kerumahnya dan mengobati lukanya.
***
saat alan tak masuk sekolah, seperti biasa aku jalankan hari disekolahku sebagai OSIS dan siswa. hari ini serasa berbeda, karena tak ada alan. dan dari kejauhan kelasku, saat istirahat. kulihat dengan jelas ari sahabatku berjalan dengan dua temannya. aku melihat kearahnya. ku tersenyum. kuharap dia melihat dan membalas senyumku. tapi, jauh dari harapanku. dia hanya lewat dan tak menengok kearahku. mungkin dia masih marah padaku. sewajarnya dia marah padaku. karena aku memukuli dan memarahinya kemarin.
dua bulan sudah. ari tak pernah senyum dan menyapa aku. aku terasa rindu tuk bercanda dengannya seperti dulu. atau kah memang tak bisa lagi seperti dulu? aku pun tak sempat mnjenguk dia saat ku dengar dia jatuh dari motor dua minggu yang lalu. ku ingin menjenguk. tapi. kutakut ia akan menolak. karena dia amat benci padaku.
pulang sekolah. tapi aku masih berada dalam ruangan sekolah. aku keruangan alan. aku mengembalikan buku tugasnya. aku masih mendengar suara alan sedang asik bercakraman denagn temannya. tak sabar rasanya aku beri buku ini padanya.
"tugasmu sudah selesai lan?" tanya temanya pada alan
"ya, jelas sudah lah. alan kan ada yang membuatnya" jawab teman satunya
"siapa lan?"
"ya sem lah. dia kan dekat dengan alan. lagi pula sem itu pintar. pantasan dia dapat nilai yang bagus"
kusengaja mendengar perbincangan mereka dibalik pintu kelas. tanpa mereka sadari keberadaanku.
"mangkanya kalau kalian mencari teman yang pintar. agar ada manfaatnya" ucap alan
"maksudmu?" tanya temanya
"aku berteman dengannya hanya memanfaatkan dia saja. tidak mungkin aku berteman seperti dia. dia memang sangat baik. tapi sem itu tidak pantas menjadi temanku" kata alan tertawa
aku terkejut mendengar kata dari mulut alan. selama ini aku salah menilai alan. dan ternyata ari benar. alan hanya memanfaatkan aku saja. ku ingin menangis. hati serasa terkoyak. lidah alan sangat menusuk hati. aku diam dan bersandar ke tembok. sekali-kali aku menyesali yang pernah ku lakukan dengan sahabatku ari.
"kalian mungkin tidak percaya. sem prnah memukuli ari demi membelaku. tapi dia pikir siapa membelaku?" tuturnya lagi.
mataku tak bisa menahan air mata. hingga air mataku terjatuh ke pipi mendengar semua kata-kata yang amat memilukan itu. lalu kuhapus air mataku dan masuk ke kelas.
"benarkah itu lan?" tanyaku serentak
alan dan temanya terkejut dengan kedatanganku
"aku tak menyangka kau seperti ini. apa salah aku padamu lan? aku sudah banyak berkorban untukmu. lan" kataku tenag
alan diam. tak enak denganku. mungkin dia merasa bersalah denganku. tapi amat mengejutkan jawaban alan.
"kau mendengarkan itu semua?"
aku diam tak bersuara
"memang. selama ini aku hanya menjadikan kau tak lebih dari teman. aku memang memanfaatkan kau selama ini. kau berkorban demiku untuk sahabatmu. tapi bagi ku, kau bukan temanku" tuturnya.
aku tak bisa menggambarkan perasaan hatiku. hancur serasa berkeping. aku tak pernah merasakan sakit hati seperti ini. kau tak bersuara. aku hanya membalas dengan senyum kecil atas sikap alan padaku. aku pun menaruhkan buku alan diatas meja kecil yang sudah rapuh seperti hatiku. dan aku pun pulang. dalam keadaan tak elok. hati terasa hancur. mataku berlinang. aku selalu berkata dalam hati. rasanya kuingin menampar wajah alan. agar dia merasakan rasa sakit di khianati.
aku pulang kerumah. aku langsung menelpon ari untuk minta maaf atas kesalahanku selama ini. namun, tak ia angkat. selama dua bulan aku tak pernah menghubungi dia lagi. mungkin ari masih marah padaku. aku amat menyesla telah memutuskan persahabatanku dengan ari hanya untuk memilih teman yang penuh penghianatan.aku tak tahu apa yang harus aku lakukan saat ini. serasa aku berada dalam dunia khayal dan aku yang menjadi peran utamanya.
disekolah. ketika aku mendengar lonceng sekolah dipukul, aku langsung keluar kelas dan pergi kekelas ari untuk minta maaf. rasa takut dan cemas yang kurasakan saat aku hendak melangkah kekelas ari. ku berdiri di depan pintu. kulihat ari seorang diri duduk dan nampak merapikan buku-bukunya.
"cibon?" ucapku lembut
ari tak bersuara. dia hanya menengok kearahku tak peduli kedatanganku.
"untuk apa kau ke sini? bukankah kau tak mengenaliku lagi?" 
ku mendekat. mataku penuh penyesalan.
"aku minta maaf, kau benar. aku salah memilih teman. aku telah tahu semuanya dengan sifat alan.selama ini alan hanya memanfatkanku."
kuberdiri dihadapa ari. namun ari tak juga peduli denganku.
"lalu, mengapa kau katakan semua ini padaku? bukannya alan teman baikmu? ia tak pernah berhianat padamu kan?" tuturnya kemudian "sudah lah, aku ingin pulang?" ari melangkah di hadapanku.
aku tahan ari. aku pegang tangannya. aku tak ingin ia lari sebelum memaafkan aku.
"tunggu, tak bisakah kau memaafkanku?"kataku
ari hanya diam. pandangannya kedepan. ia tak menghiraukanku.
"apa yang bisa kulakukan agar kau memaafkanku?"tanyaku
diam sesaat. aku pun berjongkok dihadapan ari. mungkin ini yang bisa kulakukan agar dia bisa memaafkanku.
"sungguh. aku menyesali semuanya. aku sudah memukul dan memarahimu demi membela alan. aku tahu itu salah. aku minta maaf. sekarang aku pasrah. kau boleh melakukan apa pun padaku. kau boleh memukuliki, itu memang pantas kudpat darimu" kataku nada lembut
ari terkejut melihatku berjongkok. terlihat dimataku. dia ingin merangkulku berdiri. tak sewajarnya melakukan hal ini. tapi ari hanya diam. dan pergi. ia tak memperdulikan ucapanku hingga meninggalkan aku sendiri dikelas yang masih berjongkok. aku menangis kecil. kupandang kedepan. perasaanku tak baik lagi. aku tak marah pada ari. kubiarkan ia pergi. tak tahu apa yang kulakukan lagi untuk mendapatkan maaf dari ari.
keesokan harinya disekolah. kududuk ditempat biasa dibawah pohon. kutermenung. kududuk sendirian. seharian tak kulihat temanku ari. rasa sepi kurasakan tak ada ari. yang biasanya ku habiskan waktuku bersamanya ditempat ini. kini. mungkin semua cerita indah kita menjadi kenangan. disaat kududuk lesu. kudengar suara anak muda datang mendekatiku.
"mengapa sendirian? tanyanya
kumenengok kearahnya. tak kusangka anak muda itu ari temanku yang membawa air minum ditanganya.aku terkejut. mungkin ini hanya imajinasiku saja. aku pun tak bersuara.
"mengapa diam?" ucapnya duduk
ini bukan imajinasiku. pemuda disampingku itu memang ari temanku.
"cibon?" kataku
"mengapa kemarin menangis?" tanyanya senyum.
"tak apa, kau masih marah padaku?" ucapku "aku minta maaf"
"aku tak pernah marah padamu, pung. kau tak pernah buat salah padaku"
aku tersenyum mendengarnya. ari amat baik padaku. ia tak pernah marah padaku walau aku sudah memarahi dan memukulinya. kita pun bercanda tawa bersama. sekali-kali ari menanyakan alan. namun aku hanya diam denagn wajah masam.
"ku kira kau tak lagi ingin menjadi sahabatku" ucapku disela-sela canda
ari menggosokkan kepalaku dan berkata
"tak mungkin begitu. kau tetap sahabatku."
kita pun larut dalam kegirangan. semua masalah kita tak ada lagi. kita pun menjadi sahabat yang paling indah disekolah. aku berjanji. akan menjaga persahabatan ini tanpa ada penghianatan. dan alan sudah menjadikan ku lebih dewasa untuk menghadapi masalah.
setelah masalah ini. aku meninggalkan dan melupankan masa laluku. tak ada lagi alan dan penghianatan dalam kehidupanku. aku mencoba membuka lembar dan cerita baru dengan sahabatku ari.      

Senin, 13 Mei 2013

PUISI GURUKU

"teruntuk sahabat"

sahabat sejati tak kan melukai hati
sahabat sejati menitik kan air mata
ketika sayap ku patah
sahabat sejati merindukan canda tawa
di keheningan malam
sahabat sejati bak air sungai nan jernih, sejukkan jiwa nan lara
ketiak puing-puing itu hancur
kau hadir bak jamur yang tumbuh subur di batang-batang
kayu nan rapuh
menghiasi putihmu nan putih
hingga kau punya percaya diri

sahabat
kita dipertemukan dalam suka cita
dengan dihiasi tawa canda yang takkan sirna
dan ketika dilanda kebencian
ingatlah masa bahagia kita sewaktu kita kenal dulu

sahabat
jika memilih, aku kan memilih kau dari seribu bintang dilangit
jika ku tunjuk aku kan tujuk kau sebagai pelepas dahaga ku
ketika merana jiwa nan sepi
sahabat
jangan kau adili aku dengan kebencianmu
dikarenakan aku lupa membalas jasamu
kau takkan terganti diantara beribu bintang,
diantara beribu debu, dan diantara beribu virus.
sahabat tunggu aku ditempat yang sudah kita janjikan
tuk bercanda seperti waktu dulu.
karya : Afrida Asnita, S.Pd, 
SMAN 2 MUARO JAMBI


Sabtu, 16 Februari 2013

puisi untuk kawan ku.....


Mungkin apa yang kurasakan , sama halnya dengan kalian. Ketika mendengar kepegian sahabat kita dengan tiba-tiba. Tanpa pesan dan kata apa pun yang membuat ketidakpercayaan dengar kabar tersebut.
Memang kepergiaannya banyak meninggalkan luka dihati, pacar, kakak, adik, sahabat dan keluarga. Ia adalah sosok sahabat yang care dengan sesama. Kepergiannya dengan usia yang sangat muda, membuat semua sahabatnya menyaangkan. Sahabat kita NURKHOLIS telah tiada, namun semua bayangnya selalu terukir dalam setiap langkah. Selama 17 tahun ia bersama kita, pastinya ia selalu membuat warna dalam hidup.
Kini, persahabatan kita terhalang batu nisan, namun engkau kan selaluada di hati kami. Sangat singkat memang perjalanan sahabat ka, tapi ia adalah milik tuhan yang seakan waktu kan dipanggil olehnya.
Terima kasih kawan kami, NURKHOLIS, walau pertemuan kita sangat singkat, kita yakin engkau kan senang dialam sana. Selamat jalan kawan, semoga do’a kami menyertai perjalanan engkau menuju syurganya, dan izinkanlah, kami untk mengenang hari-hari itu yang indah bersamamu dulu. Kawan kami, NURHOLIS..
I WISH NOTHING BUT THE BEST FOR YOU…..

PUISI UNTUK KAWAN KU..

Ku kan tahu betapa waktu cepat berlalu
Baru kemarin waktu kita bersama
Kita dipertemukan dalam suka dan duka.
Kawan,
Kabar itu serasa mimpi
Ketika malam yang sunyi dan hampa
Sedetik aku terduduk dalam ragu
Kepergianu dengan tiba-tiba
Tanpa pesan dan kata-kata
Membuatku tak percaya dengannya

Kawan,
Kabar itu serasa bisikan
Hanya singgah sejenak dibenakku
Tak pernah ku hirakan
Rasanya ku ingin berteriak
Rasanya ku ingin protes pada waktu
Namun, mulutku terkunci rapat oleh air mata
Kawan,
Sunyi yang menyeret dalam kehampaan
Melukiskan kesedihan yang tak berakhir
Tuk mengenai dan mengingat kepergiamu
Kini hari-hariku kan terasa sepi
Canda, tawamu kini jadi kenangan
Kawan,
Engkau adalah sahabat yang terbaik
Kan ku ingat selalu hariku bersamamu
Kan ku jaga pesan dan kenangan itu
Walau engkau telah tiada
Terima kasih kawan, atas semuanya
Walau batu nisan memisahkan kita
Namun, engkau kan selalu hidup dihatiku

Selamat jalan kawan..
Semoga do’a ku mengiringimu
Menuju singgah sana syurganya.

WE WILL ALWAYS MISS YOU…

SYAMSUL BAHARI

Rabu, 06 Februari 2013

cerpen_Q part 2


“LUKISAN SENJA”

“boleh aku berbicara padamu?”
Sahabatnya bertanya.
Sore itulangit dilukis dengan campuran  warna merah dan kuning keemasan. Azam ingin terbang ke bola atom raksasa itu dengan sayap cahaya yang indah, tapi persengkokolan antara sakit memaku dirinya pada sebuah kursi mekanis beroda, mematahkan keinginananya untuk menjelajahi cakrawala. Penyakit yang diidapnya menjadi penghalang untuk menjadi kasatria yang tangguh. Kebahagiaan yang dulu setia mendampingi, kini telah pergi jauh, jauh sekali…. Ia hanya bias duduk dengan kursi roda tua, yang terlihat sandaran kursinya yang sobek-sobek kecil. Yang dulu ia dikenal sebagai laki-laki idaman di sekolah dengan puluhan teman perempuan maupun laki-laki. Kini cerita itu seperti dongeng yang lalu, temannya satu per satu menjahuinya dengan semua keadaanya sekarang.
“aku minta maaf”
Sahabatnya yang berjongkok itu bernama furqon, anak muda yang menjadi tempat amarahnya diwaktu ia sekolah dahulu, yang kini hadir dalam suasana hati terkoyak dengan semua terjadi. Sahabatnya itu hanya bias menggeggam tangannya yang kurus kering yang tinggal kulit pembalut tulang, muka yang pucat pasi, bagai cendawan dibasuh, matanya pudar tak bercahaya lagi, sangat lemah lunglai kelihatanya, sehingga menggerakkan  jarinya tak kuasa rupanya. Sebentar-sebentar terdengar bunyi sesak dan batuk. Akan tetapi dilihat dari pipi yang sudah kempis itu masih tampak terbayang juga tanda penyelesalan dan kelemahananya yang telah ia perbuat pada sahabatnya, yang kini menjadi pelita bagi hidupnya.
“aku, minta maaf dengan semua dosaku padamu, kedatanganku kesini hanya minta maaf, dan juga mohon do’a restumu”
Sahabatnya itu menggenggam erat tangannya dan menciumnya.
“besok aku akan pergi untuk kurun waktu yang lama, aku akan melanjutkan sekolah diluar sana. Aku mendapatkan beasiswa dari sekolah” linangan air mata tak terbendungi membasuhi pipi sahabatnya itu.
Tak ada yang lain pikirannya, hanyalah bagaimana dia bisa turun dari kursi roda itu seperti semula dan dapat melihat sahabat pelitanya itu sukses atau sampai kapan tuhan akan membiarkan dia tak berdaya, lemah ini secepatnya akan pergi untuk selamanya. Lalu anak sakit itu gelisah, mengerang-erang karena kesakitan. Furqon dengan segera berdiri denagn  cemas lalu membisikkan azam dengan lemah lembut “apa yang tak baik, zam? Tempat duduk? Sandaran? Atau hendak makan, minum?”
Azam hanya menggelengkan kepalanya, sambil mengerutkan dahinya.
Congkak dan sombongnya, angkuh dan tinggi hatinya dahulu tak ada lagi, sekarang yang tampak kemurungan dan sesal yang tak habis-habisnya.
“mengapa secepat ini?” sahut azam menundukkan kepalanya.
“aku hanya sebentar, aku pergi bukan untuk main-main, tapi untuk mengejar cita-citaku. Setelah kembali nanti, aku akan langsung menemukan kau, zam”
Azam terlihat sangat terpukul karena kepergian furqon, ia merasa akan kesepian yang tak berkesudahan setelah sahabtanya pergi jauh dan entah kapan kembali
“menapa menangis? Aku tak akan lupa padamu zam, aku akan ingat selalu padamu. Engkau merasa kesepian? Disini ada bule, ibumu, dan temanmu yang akan menghiburmu, zam”
Azam tak bisa melakukan apa pun. Dia hanya bisa menggenggam tangan sahabatnya sangat erat, ia tak menginginkan furqon untuk pergi.
“mengapa tuhan membiarkan aku tak bedaya seperti ini, tuhan memang tak adil padaku, aku ingin sembuh, ingin sembuh”
Tanpa pikir apa pun furqon sahabatnya memeluk dengan erat dengan penuh kasih sayangseorang sahabat, linangan air mata mereka pun tak dapat ditahan membasuhi pipi.
“jangan bicara seperti itu zam, kau pasti sembuh, pasti sembuh…. Kau pasti akan melihatku pulang nanti tidak dengan roda lagi zam, aku akan bawak prestasi yang bagus zam, hanya untukmu… kau harus sembuh zam..”
Suasana sunyi sepi, hanya terdengar tangisan mereka, kicau burung pun tak terdengar. Suasana menjadi pecah bela, bak karang dihantam ombak lautan yang besar nan elok dan indah.
****
Hari itu pun tiba.
Pagi yang amat cerah, cuaca terang, langit pun jernih. Burung-burung beterbangan, sambil berbunyi-bunyi dengan riangnya. Ditengah laut yang luas dan tenang itu tampaklah karang-karang yang asik bergurau dengan ikan-ikan yang cantik. Semua alam kelihatan girang dan gembira menyambut kedatangan furqon melangkah kerumah sahabatnya azam.
“assalamualaikum?”
“waalaikumsalam” sahut ibu azam tengah menjahit baju yang sobek.
“azamnya ada bu le?”
“ada nak, masuk lah!”
Kepergian furqon sangat membuat azam terpukul, terbilang dari ia sakit hingga sekarang, hanya furqon yang rajin mengunjungi dan selalu member semangat pada sahabatnya yang sedang sakit.
“bagaimana kabarmu zam?” Tanya sahabatnya furqon membungkukkan badannya
Azam hanya diam, dia tak menggerakkan apa pun darinya. Kedatangan furqon membuat ia sangat terpukul. Ia berharap furqon tak datang jka hanya membawa kabar buruk ini.
“bu le, saya bisa bawak azam keluar sebentar, sekedar melihat-lihat lautan?”
“ya sudah, ndak apa-apa, hati-hati”
Kesetiaan ibunya sangat luar biasa, siang, malam, pagi dan sore ibunya merawat dan menyayangi azam dengan kasih sayang. Begitu pun dengan furqon, ia merasa kasih sayang ibu azam sama halnya dengan ibunya sendiri. Tapi sayang, ibu azam tak mengetahui sam sekali maksud kedatangan furqon kali ini, yang ingin pamit pergi dalam waktu yang cukup lama untuk meneruskan pendidikannya. Terlihat di tepi pantai yang amat indah, bak syurga buatan yang mengalirkan ombak kecil dan buih-buih yang halus, tampak furqon yang berdiri diatas batu besar dan azam duduk tak berdaya diatas kursi rodanya.
“maaf, kedatanganku kali ini membawa kabar yang tak enak bagimu, aku sangat tak tahu harus memilih yang terbaik diantara ini. Aku begitu menyayangi keluargaku, ibu dan ayahku, aku juga menyayangi sahabat terbaikku, aku juga menyayangi ibunya sahabatku yang sudah kuanggap ibuku sendiri yang sangat baik padaku. Tapi, disisi lain, aku harus pergi meninggalkan semuanya.” Tutur furqon yang menoleh kelaut yang luas.
“pergi lah, jangan pikirkan aku dan ibu. Aku akan baik-baik saja” terdengar ucapan sangat pelan dari mulut azam.
Furqon pun terdiam mendengar kata-kata azam, bak kata semangat yang luar biasa dari sahabatnya, walau dalam hatinya sangat terkoyak. Furqon tersenyum manis dan memeluk azam dari belakang.
“aku ingat waktu sekolah dulu, kau adalah laki-laki yang diidolakan setiap orang, engkau tampan, gagah. Aku juga ingat kau menjahiliku disudut sekoalh dengan teman-temanmu. Kau mencoretku dengan spidol hitam seperti badut, bajuku juga seperti orang gila”
Azam mencoba untuk tersenyum, tetapi dibalik senyumnya itu, tampak kekuatannya sudah habis. Diraba-raba kepala sahabatnya, dan setelah itu dapat, air matanya pun berlinang jatuh mengalir disela-sela matanya.
“aku berjanji demi sahabatku, jika nanti aku pulang, aku kan bawa engkau kenangan yang banyak dan aku juga kan cerita pengalamanku disana. Nanti aku akan cerita pada teman baruku, bahwa aku punya sahabat yang sangat gagah, sangat baik, sangat kuat. Namanya azam?”
Air mata azam tak terbendungi mendengar kata-kata furqon, tubuh azam lemas tak berdaya, tangannya pun terhempas kedadanya dari atas kepala furqon. Dan dengan lemah lembut azam berkata:
“aku ingin menjelajahi matahari, aku ingin mengarungi laut yang luas bersama sahabatku, aku akan menunggu kepulanganmu fur, agar engkau dan aku bisa pergi ke sana.”
Terkoyak sudah hati furqon, karang, laut, ikan, dan pasir pun ikut terkoyak mendengar azam yang sangat tak berdaya. Furqon menggenggam tangannya, ia tak ingin menangis, tangisannya hanya membuat luka pada hatinya dan sahabatnya. Dia mencoba untuk tegar, bagaikan sebuah karang yang besar dihantam ombak besar, namun kekuatannya begitu lemah menahan guncangan ombak.
“aku berjanji, demi laut, karang, ikan… jika aku pulang nanti, aku akan menjelajahi dunia bersama sahabatku, azam.”
Kata terakhir itulah yang menjadi perpisahan kedua persahabatan anak muda tersebut. Walau hati terasa terkoyak, namun mencoba untuk tegar, walau kian hari kian merana. Keberangkatan furqon terasa hampa, karena sahabatnya yang sakit itu tak dapat melihat kepergiannya, begitu pun sebaliknya dengan azam. Suka cita terlihat dari raut wajah keluarga furqon, namun berbeda dengan furqon, ia merasa bersalah meninggalkan sahabatnya yang sedang sakit.
***
Tiga tahun setelah itu….
Keadaan laki-laki sakit yang duduk dikursi roda itu tak Nampak perubahan untuk sembuh, tetapi ia tak pernah putus asa. Azam selalu duduk dimuka pintunya demi menanti kedatangan sahabatnya yang entah dimana ia bersekolah. Walau azam tak mengetahui keberadaan furqon, namun furqon selalu mengirimkan surat untuk sahabatnya azam. Terlihat suatu pagi yang amat cerah, langit tampak bersih, ibunya sedang membacakan serangkai surat dari sahabatnya furqon.
Untuk sahabatku azam
Assalamualaikum,..
Apa kabar sahabatku azam yang tampan? Semoga engkau sekarang telah turun dari kursi rodamu, ya? Aminn. Oh iya, bu le ku bagaimana kabarnya, zam? Semuanya bagaimana? Semoga sehat selalu iya? Kabarku disini baik-baik saja, engkau jangan pikirkan aku zam.
Zam, disini aku banyak mendapatkan teman yang pastinya baik-baik, tetapi sayangnya engkau tak ada disini. Oh, iya kemarin juga aku sempat bercerita pada mereka mengenai dirimu, zam. Ternyata mereka sangat suka dengan sosok dirimu. Sahabatku azam, mungkin aku tak kan lama lagi akan pulang. Aku ingat, ketika pulang nanti, akan ceritakan semua pengalamanku di sini. Dan aku ingin mengajakmu menjelajahi matahari dan laut. Jaga dirimu dengan baik sahabatku azam… tunggu aku ditempat yang telah kita janjikan…
Wassalamualaikum,…
Sahabatmu.
Furqon.
Azam mencoba menahan air matanya agar tak mengalir dipipinya. Tapi, apa dayanya azam, siapa yang tak menangis mendengar isi kalimat itu. Ibu azam pun tak bisa menahan air matanya sehingga ia pun menangis dengan harunya. Berita furqon membuat hati azam sedikit enakkan, karena tak lama lagi sahabatnya akan pulang. Tetapi, azam merasa sedih, karena tak bisa melihat kedatangan sahabatnya karena perasaan ia tak enak, karena tak bakalan lama lagi dirinya dipanggil tuhan.
“ada apa nak? Mana yang sakit? Tanganmu? Kepalamu?”
Ujar ibunya melihat azam gelisa kesakitan. Lalu ibunya membawa azam ke dalam kamar.
“bu..?”
“ada apa le?”
Azam mencoba untuk bercerita pada ibunya.
“nanti, apabila aku tak sempat melihat kepulangan furqon, karena aku lebih dulu dipanggil tuhan, tolong sampaikan pada furqon, aku sangat berterima kasih padanya, ia telah menjadi energy kehidupan untukku. Mohon maaf jika nanti janjiku padanya untuk menjelajahi dunia tak dapat kulakukan bersamanya, karena aku akan pergi meninggalkannya”
Tampak benar kehancuran hati ibunya mendengar ucapan anaknya itu. Pada pikirnya azam tak sanggup lagi menahan sakit yang dideritanya.
“ah, itu jangan dikenang-kenang nak, tak baik?” ujar ibunya dengan hati yang hancur luluh “hilangkan semua pikiran buruk itu, kamu pasti sembuh nak?”
Tangisan pun tak tertahan lagi, entah apa yang menjadi perasaan ibunya kini, hatinya terlebih dari terkoyak dengan semua ia rasakan.
Hari demi hari, azam selalu menanti kedatangan sahabatnya furqon. Dan akan menanti janjinya untuk terbang ke angkasa dan kelaut jingga. Tak bosanya azam selalu bertanya pada ibunya. Kapankah furqon akan pulang?
“mana furqon? Apakah dia telah pulang?”
“sebentar lagi nak! Masuk lah, kita menunggu didalam kamar saja?”
Kata-kata itu lah yang selalu diucap ibunya, kerap kali azam menanyakan kedatangan furqon.
***
Pada suatu pagi, dua tahun setelah azam menerima sepucuk surat dari sahabatnya furqon,kira-kira pukul Sembilan, sedang panas mulai hangat, sedang ramai orang dipekan, sedang sunyi tengah jalan, tampak seorang anak muda dengan membawa tas hitam disandanganya. Dengan muka yang berseri-seri itu berjalan secepat-cepat langkahnya, menuju rumah ada dipinggir pantai. Anak muda itu ialah furqon yang baru saja pulang dari kuliahnya yang sangat jauh, entah dimana tempatnya.
Alangkah suka cita hatinya, pulang kehalaman kampungnya. Tentunya ia akan menemukan azam sahabatnya, ia telah berjanji sepulang dari sana akan menjelajahi cakrawala dan lautan yang luas dan indah. Furqon terlihat heran, seringkali ia menoleh kehulu dan kehilir, karena tak Nampak seorang pun yang ditemuinya. Setengah perjalanan ia bersua seorang ibu yang pulang dari melayat..
“assalamualaikum?”
“waalaikumsalam”
“dari mana bu?” Tanya furqon cepat
“melayat” jawab ibu itu
“melayat? Siapa yang mati?” Tanya furqon dengan darah berdebar
“disana?” jawab ibu itu sambil menunjukkan jarinya kearah hilir
“siapa namanya?” Tanya furqon tergopoh-gopoh
“Tanya saja kesana!” kata ibu itu pula, lalu melarikan dirinya.
Darahnya semakin berdebar, hatinya semakin tak enak, mukanya menjadi murang. Tanpa piker panjang lagi, lalu ia berjalan begelut-gelut menuju rumah sahabatnya azam. Disana ia akan dapat keterangan siapa yang mati itu, beberapa saat ia berjalan, sampailah dihalaman rumah azam. Alangkah terkejutnya orang ramai-ramai. Perempuan-perempuan penuh berdiri dikeranda dengan membawa kembang dan tikar. Diantaranya terdengar juga suara bu le nya dengan nyata menyebut-nyebut nama azam. Sesudah itu, terdengar pula olehnya suara ibunya berseru:
“ya allah! Itu dia anakku furqon telah dating! Sudah terlambat nak!azam sudah pergi?”
Hamper-hampir si furqon jatuh kebumi, karena tiba-tiba kepalanya menjadi pening dan pemandangannya berputar-putar. Ada beberapa lamanya ia dalam hal demikian. Kemudian berangsur-angsur pikirannya tenang kembali. Setelah ingatannya kembali, furqon belari seperti orang gila menuju ke sana. “azam” serunya sepanjang jalan menyerbu kedalam kerumunan orang banyak itu dengan membawa tas hitamnya. Ia pun rubuh tertimpa pada sisi kubur, yang baru saja sudah ditimbuni orang, dan baru pula talkinnya habis dibaca.
“mengapa engkau pergi secepat ini zam, mengapa aku pulang harus mengantarkan engkau kesini, bukannya kita sudah berjanji akan menjelajahi matahari dan laut sepulang aku dari kuliah, sekarang aku sudah disini zam, bangun kita pergi sekarang, bangun zam…..”
Furqon tak kuasa menangis dengan kerasnya mengingat kepergian sahabatnya. Ibu dan ayahnya pun segera datng menolong. Anak muda itu diangkat ketempat yang teduh. Akan tetapi, tiba-tiba furqon mengusir orang itu disekitarnya tak lebih adalah orang tua ia sendiri, namun ia tak mengetahuinya.
Ia membuka tas hitam yang di sandangnya. Tak ada yang mengira, furqon mengeluarkan papan nama yang sangat cantik dengan tulisan nama sahabatnya azam, yang sengaja ia pesan saat ia kuliah dulu. Dan ia pun menunjukkan poto-potonya ditempat ia kuliah bersama teman-temanya.
“ini, aku bawa janjiku untukmu, baguskan ada nama kamu zam, aku pesan hanya untukmu, aku juga bawa poto teman-temanku disana yang mengagumi dirimu zam, bangun zam, bangun… ini kubawa untukmu”         
Dalam tangis bersedih-sedih itu, ia menghentam-hentamkan tanah, sambil mencabut-cabut rumput. Furqon pun terbaring pingsan dan langsung diangkat oleh orang tuanya dan langsung dibawa puulang. Dan terlihat sekali-kali furqon dating ke tempat terakhir mereka bertemu, sebelum furqon berangkat kuliahnya.
Beberapa hari sesudah itu,
Pada sore itu, tampak anak muda yang duduk dan memegang kepala nisan azam. Ternyata anak muda itu sahabatnya, furqon.
“apa kabar, zam?, maaf kali ini aku dating bukan untuk pamit pergi, tapi, aku datang untukmu. Kini janji kita tinggal kenangan, aku akan menjelajahi cakrawala dengan seorang diri. Kini aku telah mencapai cita-citaku zam, sarjanah adalah cita-citaku, itu semua berkat engkau zam, tapi saying, engkau taksempat melihat ku pakai baju sarjanaku. Aku menyayangimu zam, kau adalah sahabat terbaikku. Dulu, kau sering kali menjahiliku waktu sekolah, kini telah menjadi kenangan, aku bangga padamu zam, kau memang yang terbaik. Walau dunia kita berbeda, engkau akan tetap diduniaku, selamat jalan sahabat, semoga engkau tenang dialam sana, aku akan selalu mengingat dan menyayangimu. Tunggu aku disana, kita akan menjelajahi alam syurga bersama”
 Takdir memang tak ada yang mengira, begitu pun dengan azam dan furqon. Tangis furqon selalu membasuhi nisan azam. Kecintaan furqon pada sahabatnya sangat besar, bak matahari selalu member energy sinar. Furqon terbaring memeluk diatas tanah kuburan azam. Dari kejahuan matahari senja, laut dan anak muda itu tampak seperti lukisan. Lukisan senja. Sangat indah. SEKIAN  
SYAMSUL BAHARI
SMAN 2 MUARO JAMBI
089699541923


   

Inovasi Media Pembelajaran Berbasis Android

PEMBELAJARAN IPA TERINTEGRASI ETNOSAINS Kurikulum merdeka belajar memiliki empat karakteristik utama untuk mendukung pemulihan pembelajaran ...