Tak terasa hari semakin cepat berlalu, bumi begitu mantap
berputar dengan tak sadarnya. Kini ku duduk dikelas XI IPA. Selama satu tahun
mencoba untuk beradaptasi disekolah baru. Berbeda sangat kujalankan tiga tahun
selama di SMP dulu. Begitu banyak teman, prestasi dan imajinasi mendampingiku
dengan setia. Tahun ajaran baru, ketika kudipercaya menjadi ketua OSIS
menjalankan perhelakan tradisi orientasi siswa.
“semua siswa harap dapat berkumpul di lapangan, karena acara
orientasi akan segera dimulai.” Teriakku dengan pengeras suara.
Ketika semua siswa berbaris rapi, dan kepala sekolah pun
sudah buka orientasi. Semua amanat telah disampaikan olwh kepala sekolah.
Saatnya siswa masuk kekelas dengan
didampingi panitia MOS.
Ku ingat disaat kududuk sejenak dimimbar upacara, teman
baikku ari juga mendaftarkan diri di SMA 2. Ari panggilannya adalah teman
terbaikku dari SMP. Saat kududuk dikelas 2 dan ia kelas 1, tak sengaja kita
bertemu waktu mengikuti perlombaan olimpiade dan olahraga antar kelas. Dan saat
itu pula kita berteman amat baik hingga kini. Tanpa piker panjang ku langsung
belari mencari ruang ari dan ternyata dia dikelas X1.
“cepat pasang alatmu, jangan bantah” bentak temanku elno ke
ari.
Ku tersenyum, saat kulihat ekspresi wajah ketakutan ari dari
lubang-lubang kecil pintu. Kumencoba tuk tak membela dan mendekat. Ku melihat
dari kejauhan. Ari tak menyadari keberadaanku dibalik pintu kelas.
“siapa namamu?” Tanya alin ke ari
“ari, kak”
“hari wijaya, kak”
“Nah gitu”
Ku tersenyum untuk kesekian kalinya. Melihat kepolosan ari
menundukkan kepala ketakutan.
“dari sekolah mana?” Tanya elno
“SMP 6 kak” jawab ari
“sudah punya pacar?” Tanya alin tegas
“belum kak”
“kenapa belum?” kembali Tanya elno
Ari hanya diam, matanya menoleh kebawah entah apa yang dia
lihat. Suasana kelas tak baik, suasana bising, ada yang menangis, marah, diam,
ada pula yang ketakutan seperti temanku ari. Aku pun masuk ke dalam kelas dan
membawa kertas jadwal MOS.
“semua diam, duduk dengan rapi tak ada kepala kalian yang
menengok kedepan. Semua melihat kebawah dan pasang semua alat MOS kalian.”
Teriak elno kesemua siswa.
“dengarkan perintah kakak yang didepan pasang telinga kalian
baik-baik.” Tutur elno.
Semua diam, serentak suasana sunyi tak terdengar sekecil pun
desahan nafas siswa. Mereka semua tertunduk takut. Aku pun member jadwal
kegiatan MOS selanjutnya.
“terima kasih, kalian tak usah tegang seperti ini, jangan
takut kakak-kakak ini tidak akan memakan kalian. Sekarang dengarkan perintah
dari kakak. Saya tak akan memberi instruksi kepada kalaian sebelum kalian
melihat kedepan.” Kataku dengan santai.
“dengarkan perintah kakak itu, melihat kedepan sekarang.
Jangan bantah.” Teriak elno untuk sekian kalinya.
“sudah el, tak perlu seperti itu.” Tegasku ke elno
Dengan malu elno tersenyum, dan mengangkat kedua tangannya
dan minta maaf. Semua siswa pun dengan segera mengangkat kepala mereka dan
melihat kearahku.
Kudapat melukiskan wajah temanku ari saat dia melihatku.
Terkejut, tak percaya dan bingung. Begitulah raut wajahnya. Kupandang wajah
sahabatku itu sesaat, kutersenyum dia pun begitu. Rasa takut diwajahnya
seketika menghilang. Mungkin dia berkata didepan itu temanku pasti dia akan
membela kalau aku dibentak lagi. Dengan tenang pula ari mendengarkan isntruksi
dariku.
“sekarang kalian boleh istirahat. Namun, harus mengikuti
tata tertib MOS. Setelah istirahat, dan bel dibunyikan kalian boleh masuk ke
kelas kembali.” Tuturku.
Semua siswa serentak menjawab dengan menganggukkan kepala.
“dan terakhir untuk namanya hari wijaya harap tetap
ditempat.” Pintaku.
Semua keluar tertib dengan wajah berseri, begitu pun dengan
kakak panitianya termasuk temanku elno dan alin. Namun, ari termenung. Bola
matanya tanpak tergambarrasa takut. Mungkin dia mengira aku akan memarahi dan
atau mengerjainnya. Aku pun melangkah kea rah sahabatku itu.
“kenapa ekspresimu?” tanyaku berdiri di depannya.
“biasa saja ri, aku tidak menjahili kamu.” Tuturku senyum.
Sekali terdengar dengan jelas ari menghembus nafas kepuasan.
Bak nahan nafas satu jam.
“sudah lah, lepas saja ember dikepalamu itu, kita keluar
panas didalam.” Aku tarik tangan ari.
Aku ajak ari duduk ditempat biasa ku duduk saat jam
istirahat. Dibawah pohon yang amat rindang dan begitu sejuk. Semua penat dan
beban pasti kan hilang bila kududuk dibawah pohon itu. Ku ingin ari merasakan
hawa dibawah pohon itu, agar semua beban dan rasa takunya hilang saat di MOS
tadi.
“bagaimana orientasinya tadi?” tanyaku ke ari dengan meminum
sebotol air.
“aku tidak tahu harus bilang apa, semua teman lainnyajuga
merasakan apa yang aku rasakan” jelasnya.
Aku diam, bingung tak mengerti…
“temanmu semua kejam, pung!” tutur ari kesal
Terlihat sekali-kali jidatnya naik, alisnya pun begitu.
Mulutnya menutup dengan jelasnya terlihat kegeramannya. Aku tersenyum, kulihat
kearahnya. Ku bertanya dalam hati. Ternyata dia masih ingat panggilan sahabat
kita waktu 3 tahun dulu. Menurut sahabatku, Apung adalah panggilanku yang
artinya laki-laki yang amat ringan tangan dalam segala hal kebaikan. Cibon
panggilanku ke ari, yang artinya pemuda tampan yang baik menurutku.
“yang mana bon, mereka semua baik. Tidak ada yang jahat?”
tegasku membela.
“toh, buktinya tadi saja aku selalu dbentak berkali-kali.
Mentang-mentang kakak kelas, apa lagi elno sama alin pengen ku tonjok tuh
olno!” kegeramannya.
“benaran kamu berani sama elno?” tanyaku
“ya,. Kalau saja dia kecil dariku.”
Aku pun tertawa geli mendengar argument sahabatku itu.
“dasar kamu. Memang tak ada yang berubah dari dulu sikapmu
ini” kataku mengosok kepala ari sambil tertawa.
Kita pun tertawa dengan puasnya, terlihat jua wajah ari
kesenangan yang amat suka dengan suasana yang sejuk. Hari pertama. Saat kita
melepas rindu, Selama 3 tahun tak bersua. Kebahagiaan silih berganti
mendampingi kita. Larut dalam canda, tawa dan saling menjahil. Aku tak ingin
ada yang mengganggu kesenanganku dan sahabatku. Aku ingin satu hari ini menjadi
milik kita. Saat kita menikmati canda, dan tawa, tiba-tiba seorang anak muda
putih, bersih dan begitu gagah dating menghampiriku dan sahabatku. Kudengar
dengan jelas pula dia memanggil namaku.
“kak, sem?” pangilnya
Kudiam dalam kebingungan begitu pun dengan ari. Serentak
tawa canda dan tawa kita hilang saat anak muda itu dating. Dengan baik pula aku
melayani anak muda itu.
“iya, ada perlu sama saya?” tanyaku.
“iya, aku disuruh kak elno mencari kakak, untuk minta tanda
tangan kakak” tegasnya.
“untuk apa?” tuturku
“mana aku tahu, tanya saja sendiri sama dia” ucapnya tak
suka.
“ku tak percaya anak muda itu berbicara kasar padaku,
sepertinya ia tak suka dengan apa yang ia kerjakan sekarang. Lalu, aku pun
meminta dia menjelaskan maksud tujuannya. Dengan wajah benci pun ia menjawab.
“kalau tidak mau tanda tangan ya sudah, aku tidak suka menunggu
lebih lama. Dan aku tak suak pula disuruh-suruh.” Ucapnya.
Kemudian anak muda itu langsung mengambil buku dan pena yang
ia lempar disampingku dan pergi. Namun, beberapa langkah kakinya, aku pun
memanggil anak muda itu.
“tunggu, mana buku sama penamu?”pintaku
Anak muda itu berhenti, sejenak melihat kedepan lalu
berbalik kearahku. Ari hanya diam melihat semuanya. Dia bingung, kulihat pula
kebencian ari pada anak muda itu. Tapi, terlihat pula kesabarannya menahan
kemarahan. Ingin rasanya ari membelaku, ingin rasanya ia memukul pemuda itu.
Namun, tak ada gunanya apalagi ia masih baru disekolah ini.
“siapa nama kamu?” tanyaku kepemuda itu.
“alan” jawabnya singkat
Kupun mencoret bukunya dengan tanda tanganku.
“nanti, kalau ada perlu sama saya kamu bias menghubungi nomorku. Aku sudah tulis
dibukumu itu.” Kataku, sambil memberi buku pada anak muda yang bernama alan
itu.
Ia pun langsung mengambil dari tanganku dan langsung pergi
tanpa mengucapkan kata-kata, bahkan terima kasih pun ta ku dengar darinya. Bel
pun terdengar, aku dan ari pun beranjak dan masuk ke kelas.
****
Pagi senin yang amat cerah. Langit jernih bak syurga buatan
terlihat diufuk timur dengan perpaduan cahaya merah keemasan sang surya. Aku
turun dari motor melangkah kekelas. Kupandang kiri dan kanan kulihat pula motor
biru temanku ari. Ternyata aku kalah cepat dengannya datang kesekolah.
Pukul 07.30 semua siswa berkumpul dihalaman sekolah
mengikuti upacara bendera. Ku berdiri paling ujung belakang. Sekali-kali
kulihat kearah temanku ari yang juga berdiri
paling belakang. Aku tersenyum padanya. Dia pun membalas. Rasa bangga pun
terasa saat ku lihat ari memakai pakaian putih abu-abu dan meninggalkan putih
biru. Upacara berlanjut. Serentak suasana hiruk, semua bosan. Kepanasan
terlihat dari raut wajah dan baju semua siswa dibasahi keringat.
Upacara berakhir. Semua siswa belari tempat berteduh, aku
pun begitu. setengah pejalanan, punggungku terasa berat. kumenengok ke kanan. tak kusangka temanku ary..
"nanti ku tunggu jam istirahat di tempat kemarin ya, pung?" ajak ari padaku.
kuhanya menganggukkan kepala, rasanya tak kuat berbicara karena kepala serasa berputar karena kepanasan. kita pun berpisah diujung jalan kelas. aku melangkah ke kelas dan ari pun begitu.
berhenti sejenak, ku lihat delapan siswa hormat bendera tidak mengikuti upacara karena terlambat. bola mataku berputar melihat-lihat siswa itu. mataku berhenti, kulihat dengan jelas barisan ke empat. laki-laki tinggi putih dan bersih. kuselalu bertanya-tanya dalam hati."sepertinya aku mengenali sosok pemuda itu, tapi entah dimana kulihat". sekali-kali ku menggosok kelapalaku dan mencoba untuk mengingat. setelah kuingat-ingat, ternyata anak muda itu alan. pemuda yang minta tanda tanganku waktu orientasi kemarin. aku tak bisa membayangkan yang dirasakannya berjemur dibawah terik matahari sambil menengok kearah sumber cahaya abadi.
"sem.."
dengan jelas seseorang memanggil namaku, serentak hilang ingatanku sosok pemuda itu. ku pun mencari sumber suara itu. ternyata temanku elno. melambai tangan menyuruhku masuk kelas. ku belari menuju kelas dan meninggalkan delapan siswa tersebut.
***
jarum jam menunjukkan pukul 10.00 bel istirahat pun selesai di bunyikan. aku pun belari keluar dan menuju tempat yang telah dijanjikan temanku ari. ku sedikit telat keluar karena aku harus mengerjakan soal kuis fisika. aku tak tahu entah apa yang kuterima dari ari. mungkin dia marah karena aku agak terlambat. kubelari cepat, ku takut ari marah dan pergi dari tempat itu. tapi, entah apa yang kurasakan, kakiku terhenti. aku diam. mataku tak bergerak. kupandang dengan amat jelas alan duduk sendiri didepan kelasnya. sekali-kali ia mengipaskan bajunya. aku tahu yang diraskan. panas, lelah, mugkin begitu. pasalnya satu jam penuh hormat bendera.tampak jelas pula keringatnya mengalir disekujur tubuh. tak tega melihat alan, aku pun membelinya sebotol air minum.
"kenapa dihukum kamu?" tanyaku duduk samping alan
"aku terlambat upacara, kak?" jawabnya
"salah kamu sendiri, kebanyakan main-main"
aku pun memberi minum kepada alan yang sudah kubeli di KOPSIS sekolah.
"ini, minum?" seruku padanya
tanpa sungkan alan mengambil air itu dari tanganku.
"terima kasih, kak?" ucapnya
aku hanya menganggukkan kepala. bibirku melebar senyum kecil melihat alan minum air dengan hausnya.
"lan, kalau kau tak keberatan, bisakah kau memanggilku dengan namaku saja?" kataku
"kenapa?"
"tak apa, aku hanya ingin tidak ada pandangan yang berlebihan padaku sebagai osis. aku juga pengen seperti teman yang lainnya. dekat sama teman-teman dan juga adik kelasku."
"siap, kak sem"
aku dan alan pun saling bercerita masa sekolah. canda tawa pun tak lekang oleh waktu. tak sedikit pun dari sikap alan yang buruk seperti saat dia minta tanda tangan waktu MOS dulu. perasaan burukku terhadap sikap alan dulu adalah salah. ku kira alan anak yang pemberontak tapi aku salah. cukup lama aku duduk cerita dengan alan, hingga kau lupa dengan ari. mungkin kini ia sudah lama menantiku ditempat itu. atau mungkin dia sudah pergi tak lagi menungguku. aku pun berdiridan pergi dari hadapan alan.
"aku kesana dulu ya lan?" kataku tergesa
"iya sem, terima kasih airnya?" ucapnya menunjuk air ditangannya.
ku tak menghiraukan perkataan alan. ku hanya senyum dan belari secepatnya. kuharap ari masih ada ditempat itu.kuberharap dia tak memarahiku. setibanya dibawah pohon. aku narik nafas panjang. kulihat sekeliling pohon, tak ada seorang pun terlihat oleh mataku.mungkin ari sudah pergi. ku diam duduk, kuhanya terlihat sebotol air minum diatas kursi dan kuyakin itu adalah air minum ari dan sekarang telah pergi. kutermenung menyesali yang terjadi.
dengan rasa menyesal kuberjalan kekelas. tak pernah rasanya aku mengingkari janjiku pada ari.mungkin karena alan? ah, itu bukan salahnya. ini memang salahku. aku tak pintar mengatur waktu.
waktu semakin cepat berlalu. saat kudengar dencingan bel pulang, aku pun keluar dan segera minta maaf pada ari.
tak sengaja kulihat ari dengan temannya menuju tempat perkir motor. aku pun belari mendekatnya.
"cibon?" ucapku
ari pun menenogkku. matanya terlihat tak baik. wajahnya amat masam bak seperti buah jeruk disimpan seminggu yang sudah kecut.
"maaf, tadi aku terlambatmenemuimu tempat itu. tapi, sungguh akau tak bermaksud ingkar padamu" tegasku
ku semakin menyalahkan diri. ari hanya diam. ia hanya mendengarku berbicara. sekali-kali ia tak menoleh.
"aku tahu, pastinya kau marah padaku. tapi percayalah aku tadi sempat menyusulmu dibawah pohhon itu, tapi kau sudah tak ada lagi"
ku semakin takut. mataku merah. aku berkeringat. ari diam membuatku tak mengerti. mungkin ari akan memarahiku setelah aku berbicara. tapi, syukurlah. ahri ini ari lagi berbaik hati padaku. ari tak marah padaku sedikit pun. tasebalinya ia amat dewasa hari ini.
"sudah lah pung, aku tak marah padamu. aku tahu tugasmu begitu banyak sebagai siswa dan osis" ucap ari tenang.
aku hanya bisa termenung mendengar kata-kata ari. aku hanya bisa mengatakan terima kasih atas maafnya untuk kesalahanku. tapi, tiba-tiba ari berkata padaku.
"tapi jangan lupakan orang yang sudah lama kau kenal dan jangan terlalu dekat dengan orang yang belum kau kenal".
aku tak mengerti mengerti kata-kata ari itu. aku mencoba menjelaskan katanya itu. tapi tak juga bisa.mungkin dia marah padaku. tapi, tak mungkin. ataukah ari mengetahuikalau aku tak menenmuinya karena aku banyak berbicara dengan alan. ah, kalimat itu membuatku tak mengerti.
waktu kian berlalu, enam bulan sudah ari di SMA 2 ini. enam bulan pula aku mengenal alan. aku selalu diajaknya bermain kerumahnya, walau seringkali aku kerumahnya malam hari. demi sahabat baruku alan. kedekatanku dengan alan seakan seperti pertama aku bertemu dengan ari waktu SMP duulu. hariku banyak ku habiskan denagn alan. sore, kita selalu belajar bersama, disekolah duduk bersama, bercerita dan tak habisnya pula aku selalu mengerjakan setiap tugasnya. hariku dengan ari semakin jauh, aku serasa tak peduli dengan apa yang ari lakukan. dan sebaliknya. ku selalu bertanya pada alan hari-harinya. disaat aku dan alan berbicara girang, tak kusadari ari muncul disepanku. aku pun terkejut. tertawaku tertutup. kulihat ari menatapku dengan tak baik. alan tak peduli. dia hanya menoleh kelain arah.
"cibon?" ucapku
"nanti sore kerumahku ya pung? aku ingin belajar mengerjakan tugas tugas kimiaku?" pintanya
"iya, nanti aku kerumahmu"
ari tak berekspresi, sekali melihat kearahku. berkali-kali melihat ke alan. terlihat tak kesukaan ari terhadap alan saat ari melihat alan dengan wajah benci dan pergi.
****
kali ini kucoba tak ingkar janji pada ari. aku pun bersiap berangkat kerumah ari sesuai pesannya. kuambil tasku diatas meja belajarku. tas sudah diatas punggungku. kusiap berangkat. kali ini ku benar-benar menenmpati janjiku. tak sengaja ku lihat Handphone ku, ada satu pesan masuk. kubuka. terkejut, ternyata pesan itu dari temanku alan. dia menyuruhku kerumahnya. aku tak tahu pilih yang mana. aku duduk, mencoba untuk menengkan diri, aku benar-benar tak tahu harus pilih yang mana. aku ingin kerumah ari. dia adalah sahabatku. akhir-akhir ini kedekatanku tampak agak merenggang dan untuk menebus kesalahanku padanya, aku harus pergi kerumahnya. tapi, di sisi lain, alan juga temanku. ia amat baik padaku. aku tak tahu harus pergi kemana. dengan yakinya, aku berdiri melepaskan tas dipunggungku dan pergi kerumah alan. ini memang salah. tai, kurasa ari akan memaafkanku seperti dulu saat aku tak menempati janjiku. untuk kedua kalinya aku mengingkari janjiku pada ari demi untuk memenuhi perintah teamanku alan.
seperti yang kuduga, ari memaafkan kesalahanku karena keingkaran janjiku padanya untuk kedua kalinya. mungkin ari sudah sedikit dewasa. tak perlu marah-marah seperti SMP dahulu.
***
sudah dua kali kuingkari janjiku pada ari. kali ini kuingin mengajak ari keluar malam. hanya sekedar makan dipinggir jalan untuk menebus semua kesalahanku padanya. kali ini pasti ku tak akan ingkar karena aku yang membuat janji. dan ari pun tak menolak ajakanku.
pukul 8.00, ari menungguku ditempat kujanjikan. aku masih dirumah, bersiap berangkat. kuamat senang, akli ini tak ada penghalang aku untuk menempati janjiku pada ari. aku melangkah keluar rumah,HP disaku bajuku terasa bergetar, kulihat pesan baru. tak kusangka pesan dari alan, seperti biasa dia menyuruh kerumahnya. dia meminta mengerjakan tugasnya."mungkin hanya sebentar"kataku dalam hati. aku pun melaju cepat kerumah alan.
ku pun tiba dirumah alan, seperti biasanya ku disambut dengan baik olehnya. dan mempersilahkan duduk. ku kerjakan tugasnya. tak terasa dua jam ku dirumah alan. aku amat nyaman berada didekat alan. dia memang sahabat yang amat baik. aku tak ingat janjiku dengan ari. aku tak menghiraukan janjiku. yang terpenting bisa melihat sahabatku alan senang. pukul 11 malam. kupulang, mataku amat mengantuk. setiba dirumah. kuambil HP ku didalam motorku. aku amat mengantuk, kurebahkan badanku ditempat tidur yang amat enak. kubuka HP ku. kulihat sepuluh kali panggilan tak terjawab dan enam pesan tak ku baca. alangkah terkejutnya aku. melihat pesan dari ari. serentak aku bangun, mataku membesar, rasa mengantukku hilang. aku tak menyadari pesan dari ari. saat dirumah alan, HP ku didalam motor. kucoba menghubungi ari. tapi, tak bisa. perasaanku tak menentu. rasanya ku ingin menyusul ari. tapi pukul sudah tengah malam. mustahil rasanya ari masih sana. aku rebahkan kembali badanku. dan aku pun tertidur. besok aku akan minta maaf padanya.
***
"cibon?" panggilku
setiba di SMA. aku berusaha menemui ari dan minta maaf. setelah ku panggil dia, ari hanya melihatku, tak menyaut panggilanku. sepertinya kali ini wajah ari tak bersahabat. dia tetap melangkah kekelasnya. aku pun mengikutinya.
"kau marah?" tanyaku
ari diam. tak sedikit pun berkata. dia duduk aku pun begitu.
"maaf, aku mengakui kesalahanku"
"sudahlah, keluar sekarang. aku tak suka melihat seorang penghianat" tegasnya padaku
jantungku berdebar cepat mendengar kata ari. aku tak menyangka ia akan berbicara itu padaku.
"semarah kah itu kau pada ku?" tanyaku " aku kinta maaf"
"aku sudah bosan mendengar maaf dari mu"
" mengapa?" tanyaku serentak
"karena aku tak suka penghianat" tegas ari
"dewasa sedikit, bon! jangan sikap SMP dulu kau bawa kesini"
"dewasa? tak usah kau berbicara masalah dewasa. coba tanya sendiri pada dirimu. sudahkah kau dewasa? aku terima kau tak ingin lagi menjadi sahabatku. mungkin kau menemukan sahabat yang lebih baik dari ku?" ari pun marah padaku, aku tak bisa mengendalikan emosi ari. aku pun terbawa emosi.
"aku tak pernah berpikir seperti itu. kau sahabatku"
"mengapa kau taktepati janjimu semalam?"
aku diam sejenak. aku tak bisa membela diri karena aku memang salah di permasalahan ini.
"asal kau tahu, selama empat jam aku menunggumu. aku coba menghubungimu tapi kau abaikan"
"iya, maaf. semalam aku pergi sebentar. HP ku didalam motor!" kataku santai
"pergi kerumah alan kan?" tanyanya
aku terdiam kembali. dari mana dia tahu kalau semalam aku kerumah alan? atau dia melihatku.
"kau memang salah pilih teman!" tuturnya
"maksudmu?" tanyaku tak mengerti
"apakah kau tak menyadari selama ini dia hanya memanfaatkan dirimu saja?"
aku pun tak mengerti ucapanya.
"maksudmu, alan?" tanyaku
"siapa lagi? dia yang sudah membuat persahabatan kita seperti ini"
emosi kian larut. aku dan aripun selalu beradu argumen saling membela. aku tak tahu harus berbuat apa. ari tak menyalahkanku. tapi, ia menyalahkan alan yang membuat masalah ini. aku pun mencoba membela alan.
"jangan kau bawa-bawa alan ke masalah ini, ini masalah kita?" pinta ku tegas
"lalu siapa? aku tak merasa salah dalam masalah ini. kalau bukan dia yang menyuruhmu kerumahnya masalah ini tak akan terjadi" ari pun berdiri
aku emosi, perasaanku tak elok. badanku panas. aku pun berdiri dan membalas ucapan ari.
"kau tak tau dengan sifat alan, ri. jangan kau bawa dia dalam masalah ini" aku membela
"aku tahu dia. dia hanya memanfaatkan kamu saja.dia hanya palsu berteman denganmu. agar setiap tugas nya kau yang membuatnya." teriak ari padaku
"tutup mulutmu, yang jelas dia lebih baik dari dirimu" kataku menunjuk ke arah ari
ari diam membisu. tak percaya. selama ini aku tak pernah memarahi atau pun berkata kasar padanya. dia melihat mataku dengan jelas. mulutnya bergetar. matanya merah. lalau pergi dari hadapanku dengan penuh kebencian. aku pun terduduk. mataku berlinang, namun tak ada air mata. aku menyesali sikapku padanya. selama ini aku tak pernah bersikap seperti itu. aku pun keluarga kelas. setengah perjalanan menuju kelas, aku bersua temanku alan.
"sem?" sapanya
"alan?" sapaku balik
"mengapa wajahmu kusut seperti itu?" tanaynya heran
"tak apa, aku sedikit pusing" jawabku"aku ke kelas duluan ya, lan?"
aku tak enak berbicara. semua kujankan hari disekolah dengan tak enak. seharian belajar tanpa enak. membuatku ingin segera pulang kerumah, tidur dan istirahat.
setelah semua siswa pulang. ku tinggal seorang diri. ku sengaja pulang belakangan. karena aku disuruh mengambil buku di LAB. kimia. setelah ku dapat buku tersebut, aku pun langsung menuju gerbang sekolah. tapi, langkahku terhenti saatku dengar suara siswa. aku mencoba mendekat suara tersebut. ternyata suara itu berasal dari kelas temanku alan. aku pun segera melanhkah ke kelas itu. setelah ku mendekat ke kelas, kudengar dengan jelas suara kursi di hempas. dan suara keras seperti sedang marah. aku penasaran. aku pun mendekat ke pintu kelas. setelah ku lihat. alangkah terkejutnya aku saat melihat ari dan alan berkelahi. aku melihat dengan jelas alan terbaring kesakitan. mulutnya berdarah. sekali-kali memegang perutnya yang dipukukl ari. aku pun langsung mendekat dan merangkul alan.
".... itu balasannya. karena kau sudah memanfatkan persahabatan kawanku" ari menunjuk ke alan dengan benci
serentak aku menampar ari. aku tak sadar. tanganku serasa bergerak dengan sendirinya. ari diam. matanya menatap dalam. matanya menengok ke arahku dengan antara rasa sakit dan benci.
"alan tak pernah memanfaatkanku. kau salah kira. dia teman yang baik." tegasku membela alan" asal kau tahu, aku lebih tenang berteman dengan dia. kau tak berhak melarang aku berteman dengan dia." tegasku marah
"aku hanya ingin melihatmu berteman dengan orang yang baik. tidak seperti dia" ucap ari menunjuk alan yang terbaring dilantai.
"ingat, tak ada manusia yang baik. semuanya memiliki kekurangan, termasuk alan. tapi, aku sudah mengenalmu sejak SMP, kau sangat baik tapi tak sebaik alan."
ari diam dan pergi. dia melihatku dengan kebencian. alan tak berdaya, sekujur tubuhnya berdarah dipukul ari. aku pun begitu. kakiku kaku tuk mengejar ari. mulutku terkunci untuk meminta maaf padanya. suasana tak enak. aku pun menghantarkan alan pulang kerumahnya dan mengobati lukanya.
***
saat alan tak masuk sekolah, seperti biasa aku jalankan hari disekolahku sebagai OSIS dan siswa. hari ini serasa berbeda, karena tak ada alan. dan dari kejauhan kelasku, saat istirahat. kulihat dengan jelas ari sahabatku berjalan dengan dua temannya. aku melihat kearahnya. ku tersenyum. kuharap dia melihat dan membalas senyumku. tapi, jauh dari harapanku. dia hanya lewat dan tak menengok kearahku. mungkin dia masih marah padaku. sewajarnya dia marah padaku. karena aku memukuli dan memarahinya kemarin.
dua bulan sudah. ari tak pernah senyum dan menyapa aku. aku terasa rindu tuk bercanda dengannya seperti dulu. atau kah memang tak bisa lagi seperti dulu? aku pun tak sempat mnjenguk dia saat ku dengar dia jatuh dari motor dua minggu yang lalu. ku ingin menjenguk. tapi. kutakut ia akan menolak. karena dia amat benci padaku.
pulang sekolah. tapi aku masih berada dalam ruangan sekolah. aku keruangan alan. aku mengembalikan buku tugasnya. aku masih mendengar suara alan sedang asik bercakraman denagn temannya. tak sabar rasanya aku beri buku ini padanya.
"tugasmu sudah selesai lan?" tanya temanya pada alan
"ya, jelas sudah lah. alan kan ada yang membuatnya" jawab teman satunya
"siapa lan?"
"ya sem lah. dia kan dekat dengan alan. lagi pula sem itu pintar. pantasan dia dapat nilai yang bagus"
kusengaja mendengar perbincangan mereka dibalik pintu kelas. tanpa mereka sadari keberadaanku.
"mangkanya kalau kalian mencari teman yang pintar. agar ada manfaatnya" ucap alan
"maksudmu?" tanya temanya
"aku berteman dengannya hanya memanfaatkan dia saja. tidak mungkin aku berteman seperti dia. dia memang sangat baik. tapi sem itu tidak pantas menjadi temanku" kata alan tertawa
aku terkejut mendengar kata dari mulut alan. selama ini aku salah menilai alan. dan ternyata ari benar. alan hanya memanfaatkan aku saja. ku ingin menangis. hati serasa terkoyak. lidah alan sangat menusuk hati. aku diam dan bersandar ke tembok. sekali-kali aku menyesali yang pernah ku lakukan dengan sahabatku ari.
"kalian mungkin tidak percaya. sem prnah memukuli ari demi membelaku. tapi dia pikir siapa membelaku?" tuturnya lagi.
mataku tak bisa menahan air mata. hingga air mataku terjatuh ke pipi mendengar semua kata-kata yang amat memilukan itu. lalu kuhapus air mataku dan masuk ke kelas.
"benarkah itu lan?" tanyaku serentak
alan dan temanya terkejut dengan kedatanganku
"aku tak menyangka kau seperti ini. apa salah aku padamu lan? aku sudah banyak berkorban untukmu. lan" kataku tenag
alan diam. tak enak denganku. mungkin dia merasa bersalah denganku. tapi amat mengejutkan jawaban alan.
"kau mendengarkan itu semua?"
aku diam tak bersuara
"memang. selama ini aku hanya menjadikan kau tak lebih dari teman. aku memang memanfaatkan kau selama ini. kau berkorban demiku untuk sahabatmu. tapi bagi ku, kau bukan temanku" tuturnya.
aku tak bisa menggambarkan perasaan hatiku. hancur serasa berkeping. aku tak pernah merasakan sakit hati seperti ini. kau tak bersuara. aku hanya membalas dengan senyum kecil atas sikap alan padaku. aku pun menaruhkan buku alan diatas meja kecil yang sudah rapuh seperti hatiku. dan aku pun pulang. dalam keadaan tak elok. hati terasa hancur. mataku berlinang. aku selalu berkata dalam hati. rasanya kuingin menampar wajah alan. agar dia merasakan rasa sakit di khianati.
aku pulang kerumah. aku langsung menelpon ari untuk minta maaf atas kesalahanku selama ini. namun, tak ia angkat. selama dua bulan aku tak pernah menghubungi dia lagi. mungkin ari masih marah padaku. aku amat menyesla telah memutuskan persahabatanku dengan ari hanya untuk memilih teman yang penuh penghianatan.aku tak tahu apa yang harus aku lakukan saat ini. serasa aku berada dalam dunia khayal dan aku yang menjadi peran utamanya.
disekolah. ketika aku mendengar lonceng sekolah dipukul, aku langsung keluar kelas dan pergi kekelas ari untuk minta maaf. rasa takut dan cemas yang kurasakan saat aku hendak melangkah kekelas ari. ku berdiri di depan pintu. kulihat ari seorang diri duduk dan nampak merapikan buku-bukunya.
"cibon?" ucapku lembut
ari tak bersuara. dia hanya menengok kearahku tak peduli kedatanganku.
"untuk apa kau ke sini? bukankah kau tak mengenaliku lagi?"
ku mendekat. mataku penuh penyesalan.
"aku minta maaf, kau benar. aku salah memilih teman. aku telah tahu semuanya dengan sifat alan.selama ini alan hanya memanfatkanku."
kuberdiri dihadapa ari. namun ari tak juga peduli denganku.
"lalu, mengapa kau katakan semua ini padaku? bukannya alan teman baikmu? ia tak pernah berhianat padamu kan?" tuturnya kemudian "sudah lah, aku ingin pulang?" ari melangkah di hadapanku.
aku tahan ari. aku pegang tangannya. aku tak ingin ia lari sebelum memaafkan aku.
"tunggu, tak bisakah kau memaafkanku?"kataku
ari hanya diam. pandangannya kedepan. ia tak menghiraukanku.
"apa yang bisa kulakukan agar kau memaafkanku?"tanyaku
diam sesaat. aku pun berjongkok dihadapan ari. mungkin ini yang bisa kulakukan agar dia bisa memaafkanku.
"sungguh. aku menyesali semuanya. aku sudah memukul dan memarahimu demi membela alan. aku tahu itu salah. aku minta maaf. sekarang aku pasrah. kau boleh melakukan apa pun padaku. kau boleh memukuliki, itu memang pantas kudpat darimu" kataku nada lembut
ari terkejut melihatku berjongkok. terlihat dimataku. dia ingin merangkulku berdiri. tak sewajarnya melakukan hal ini. tapi ari hanya diam. dan pergi. ia tak memperdulikan ucapanku hingga meninggalkan aku sendiri dikelas yang masih berjongkok. aku menangis kecil. kupandang kedepan. perasaanku tak baik lagi. aku tak marah pada ari. kubiarkan ia pergi. tak tahu apa yang kulakukan lagi untuk mendapatkan maaf dari ari.
keesokan harinya disekolah. kududuk ditempat biasa dibawah pohon. kutermenung. kududuk sendirian. seharian tak kulihat temanku ari. rasa sepi kurasakan tak ada ari. yang biasanya ku habiskan waktuku bersamanya ditempat ini. kini. mungkin semua cerita indah kita menjadi kenangan. disaat kududuk lesu. kudengar suara anak muda datang mendekatiku.
"mengapa sendirian? tanyanya
kumenengok kearahnya. tak kusangka anak muda itu ari temanku yang membawa air minum ditanganya.aku terkejut. mungkin ini hanya imajinasiku saja. aku pun tak bersuara.
"mengapa diam?" ucapnya duduk
ini bukan imajinasiku. pemuda disampingku itu memang ari temanku.
"cibon?" kataku
"mengapa kemarin menangis?" tanyanya senyum.
"tak apa, kau masih marah padaku?" ucapku "aku minta maaf"
"aku tak pernah marah padamu, pung. kau tak pernah buat salah padaku"
aku tersenyum mendengarnya. ari amat baik padaku. ia tak pernah marah padaku walau aku sudah memarahi dan memukulinya. kita pun bercanda tawa bersama. sekali-kali ari menanyakan alan. namun aku hanya diam denagn wajah masam.
"ku kira kau tak lagi ingin menjadi sahabatku" ucapku disela-sela canda
ari menggosokkan kepalaku dan berkata
"tak mungkin begitu. kau tetap sahabatku."
kita pun larut dalam kegirangan. semua masalah kita tak ada lagi. kita pun menjadi sahabat yang paling indah disekolah. aku berjanji. akan menjaga persahabatan ini tanpa ada penghianatan. dan alan sudah menjadikan ku lebih dewasa untuk menghadapi masalah.
setelah masalah ini. aku meninggalkan dan melupankan masa laluku. tak ada lagi alan dan penghianatan dalam kehidupanku. aku mencoba membuka lembar dan cerita baru dengan sahabatku ari.
"nanti ku tunggu jam istirahat di tempat kemarin ya, pung?" ajak ari padaku.
kuhanya menganggukkan kepala, rasanya tak kuat berbicara karena kepala serasa berputar karena kepanasan. kita pun berpisah diujung jalan kelas. aku melangkah ke kelas dan ari pun begitu.
berhenti sejenak, ku lihat delapan siswa hormat bendera tidak mengikuti upacara karena terlambat. bola mataku berputar melihat-lihat siswa itu. mataku berhenti, kulihat dengan jelas barisan ke empat. laki-laki tinggi putih dan bersih. kuselalu bertanya-tanya dalam hati."sepertinya aku mengenali sosok pemuda itu, tapi entah dimana kulihat". sekali-kali ku menggosok kelapalaku dan mencoba untuk mengingat. setelah kuingat-ingat, ternyata anak muda itu alan. pemuda yang minta tanda tanganku waktu orientasi kemarin. aku tak bisa membayangkan yang dirasakannya berjemur dibawah terik matahari sambil menengok kearah sumber cahaya abadi.
"sem.."
dengan jelas seseorang memanggil namaku, serentak hilang ingatanku sosok pemuda itu. ku pun mencari sumber suara itu. ternyata temanku elno. melambai tangan menyuruhku masuk kelas. ku belari menuju kelas dan meninggalkan delapan siswa tersebut.
***
jarum jam menunjukkan pukul 10.00 bel istirahat pun selesai di bunyikan. aku pun belari keluar dan menuju tempat yang telah dijanjikan temanku ari. ku sedikit telat keluar karena aku harus mengerjakan soal kuis fisika. aku tak tahu entah apa yang kuterima dari ari. mungkin dia marah karena aku agak terlambat. kubelari cepat, ku takut ari marah dan pergi dari tempat itu. tapi, entah apa yang kurasakan, kakiku terhenti. aku diam. mataku tak bergerak. kupandang dengan amat jelas alan duduk sendiri didepan kelasnya. sekali-kali ia mengipaskan bajunya. aku tahu yang diraskan. panas, lelah, mugkin begitu. pasalnya satu jam penuh hormat bendera.tampak jelas pula keringatnya mengalir disekujur tubuh. tak tega melihat alan, aku pun membelinya sebotol air minum.
"kenapa dihukum kamu?" tanyaku duduk samping alan
"aku terlambat upacara, kak?" jawabnya
"salah kamu sendiri, kebanyakan main-main"
aku pun memberi minum kepada alan yang sudah kubeli di KOPSIS sekolah.
"ini, minum?" seruku padanya
tanpa sungkan alan mengambil air itu dari tanganku.
"terima kasih, kak?" ucapnya
aku hanya menganggukkan kepala. bibirku melebar senyum kecil melihat alan minum air dengan hausnya.
"lan, kalau kau tak keberatan, bisakah kau memanggilku dengan namaku saja?" kataku
"kenapa?"
"tak apa, aku hanya ingin tidak ada pandangan yang berlebihan padaku sebagai osis. aku juga pengen seperti teman yang lainnya. dekat sama teman-teman dan juga adik kelasku."
"siap, kak sem"
aku dan alan pun saling bercerita masa sekolah. canda tawa pun tak lekang oleh waktu. tak sedikit pun dari sikap alan yang buruk seperti saat dia minta tanda tangan waktu MOS dulu. perasaan burukku terhadap sikap alan dulu adalah salah. ku kira alan anak yang pemberontak tapi aku salah. cukup lama aku duduk cerita dengan alan, hingga kau lupa dengan ari. mungkin kini ia sudah lama menantiku ditempat itu. atau mungkin dia sudah pergi tak lagi menungguku. aku pun berdiridan pergi dari hadapan alan.
"aku kesana dulu ya lan?" kataku tergesa
"iya sem, terima kasih airnya?" ucapnya menunjuk air ditangannya.
ku tak menghiraukan perkataan alan. ku hanya senyum dan belari secepatnya. kuharap ari masih ada ditempat itu.kuberharap dia tak memarahiku. setibanya dibawah pohon. aku narik nafas panjang. kulihat sekeliling pohon, tak ada seorang pun terlihat oleh mataku.mungkin ari sudah pergi. ku diam duduk, kuhanya terlihat sebotol air minum diatas kursi dan kuyakin itu adalah air minum ari dan sekarang telah pergi. kutermenung menyesali yang terjadi.
dengan rasa menyesal kuberjalan kekelas. tak pernah rasanya aku mengingkari janjiku pada ari.mungkin karena alan? ah, itu bukan salahnya. ini memang salahku. aku tak pintar mengatur waktu.
waktu semakin cepat berlalu. saat kudengar dencingan bel pulang, aku pun keluar dan segera minta maaf pada ari.
tak sengaja kulihat ari dengan temannya menuju tempat perkir motor. aku pun belari mendekatnya.
"cibon?" ucapku
ari pun menenogkku. matanya terlihat tak baik. wajahnya amat masam bak seperti buah jeruk disimpan seminggu yang sudah kecut.
"maaf, tadi aku terlambatmenemuimu tempat itu. tapi, sungguh akau tak bermaksud ingkar padamu" tegasku
ku semakin menyalahkan diri. ari hanya diam. ia hanya mendengarku berbicara. sekali-kali ia tak menoleh.
"aku tahu, pastinya kau marah padaku. tapi percayalah aku tadi sempat menyusulmu dibawah pohhon itu, tapi kau sudah tak ada lagi"
ku semakin takut. mataku merah. aku berkeringat. ari diam membuatku tak mengerti. mungkin ari akan memarahiku setelah aku berbicara. tapi, syukurlah. ahri ini ari lagi berbaik hati padaku. ari tak marah padaku sedikit pun. tasebalinya ia amat dewasa hari ini.
"sudah lah pung, aku tak marah padamu. aku tahu tugasmu begitu banyak sebagai siswa dan osis" ucap ari tenang.
aku hanya bisa termenung mendengar kata-kata ari. aku hanya bisa mengatakan terima kasih atas maafnya untuk kesalahanku. tapi, tiba-tiba ari berkata padaku.
"tapi jangan lupakan orang yang sudah lama kau kenal dan jangan terlalu dekat dengan orang yang belum kau kenal".
aku tak mengerti mengerti kata-kata ari itu. aku mencoba menjelaskan katanya itu. tapi tak juga bisa.mungkin dia marah padaku. tapi, tak mungkin. ataukah ari mengetahuikalau aku tak menenmuinya karena aku banyak berbicara dengan alan. ah, kalimat itu membuatku tak mengerti.
waktu kian berlalu, enam bulan sudah ari di SMA 2 ini. enam bulan pula aku mengenal alan. aku selalu diajaknya bermain kerumahnya, walau seringkali aku kerumahnya malam hari. demi sahabat baruku alan. kedekatanku dengan alan seakan seperti pertama aku bertemu dengan ari waktu SMP duulu. hariku banyak ku habiskan denagn alan. sore, kita selalu belajar bersama, disekolah duduk bersama, bercerita dan tak habisnya pula aku selalu mengerjakan setiap tugasnya. hariku dengan ari semakin jauh, aku serasa tak peduli dengan apa yang ari lakukan. dan sebaliknya. ku selalu bertanya pada alan hari-harinya. disaat aku dan alan berbicara girang, tak kusadari ari muncul disepanku. aku pun terkejut. tertawaku tertutup. kulihat ari menatapku dengan tak baik. alan tak peduli. dia hanya menoleh kelain arah.
"cibon?" ucapku
"nanti sore kerumahku ya pung? aku ingin belajar mengerjakan tugas tugas kimiaku?" pintanya
"iya, nanti aku kerumahmu"
ari tak berekspresi, sekali melihat kearahku. berkali-kali melihat ke alan. terlihat tak kesukaan ari terhadap alan saat ari melihat alan dengan wajah benci dan pergi.
****
kali ini kucoba tak ingkar janji pada ari. aku pun bersiap berangkat kerumah ari sesuai pesannya. kuambil tasku diatas meja belajarku. tas sudah diatas punggungku. kusiap berangkat. kali ini ku benar-benar menenmpati janjiku. tak sengaja ku lihat Handphone ku, ada satu pesan masuk. kubuka. terkejut, ternyata pesan itu dari temanku alan. dia menyuruhku kerumahnya. aku tak tahu pilih yang mana. aku duduk, mencoba untuk menengkan diri, aku benar-benar tak tahu harus pilih yang mana. aku ingin kerumah ari. dia adalah sahabatku. akhir-akhir ini kedekatanku tampak agak merenggang dan untuk menebus kesalahanku padanya, aku harus pergi kerumahnya. tapi, di sisi lain, alan juga temanku. ia amat baik padaku. aku tak tahu harus pergi kemana. dengan yakinya, aku berdiri melepaskan tas dipunggungku dan pergi kerumah alan. ini memang salah. tai, kurasa ari akan memaafkanku seperti dulu saat aku tak menempati janjiku. untuk kedua kalinya aku mengingkari janjiku pada ari demi untuk memenuhi perintah teamanku alan.
seperti yang kuduga, ari memaafkan kesalahanku karena keingkaran janjiku padanya untuk kedua kalinya. mungkin ari sudah sedikit dewasa. tak perlu marah-marah seperti SMP dahulu.
***
sudah dua kali kuingkari janjiku pada ari. kali ini kuingin mengajak ari keluar malam. hanya sekedar makan dipinggir jalan untuk menebus semua kesalahanku padanya. kali ini pasti ku tak akan ingkar karena aku yang membuat janji. dan ari pun tak menolak ajakanku.
pukul 8.00, ari menungguku ditempat kujanjikan. aku masih dirumah, bersiap berangkat. kuamat senang, akli ini tak ada penghalang aku untuk menempati janjiku pada ari. aku melangkah keluar rumah,HP disaku bajuku terasa bergetar, kulihat pesan baru. tak kusangka pesan dari alan, seperti biasa dia menyuruh kerumahnya. dia meminta mengerjakan tugasnya."mungkin hanya sebentar"kataku dalam hati. aku pun melaju cepat kerumah alan.
ku pun tiba dirumah alan, seperti biasanya ku disambut dengan baik olehnya. dan mempersilahkan duduk. ku kerjakan tugasnya. tak terasa dua jam ku dirumah alan. aku amat nyaman berada didekat alan. dia memang sahabat yang amat baik. aku tak ingat janjiku dengan ari. aku tak menghiraukan janjiku. yang terpenting bisa melihat sahabatku alan senang. pukul 11 malam. kupulang, mataku amat mengantuk. setiba dirumah. kuambil HP ku didalam motorku. aku amat mengantuk, kurebahkan badanku ditempat tidur yang amat enak. kubuka HP ku. kulihat sepuluh kali panggilan tak terjawab dan enam pesan tak ku baca. alangkah terkejutnya aku. melihat pesan dari ari. serentak aku bangun, mataku membesar, rasa mengantukku hilang. aku tak menyadari pesan dari ari. saat dirumah alan, HP ku didalam motor. kucoba menghubungi ari. tapi, tak bisa. perasaanku tak menentu. rasanya ku ingin menyusul ari. tapi pukul sudah tengah malam. mustahil rasanya ari masih sana. aku rebahkan kembali badanku. dan aku pun tertidur. besok aku akan minta maaf padanya.
***
"cibon?" panggilku
setiba di SMA. aku berusaha menemui ari dan minta maaf. setelah ku panggil dia, ari hanya melihatku, tak menyaut panggilanku. sepertinya kali ini wajah ari tak bersahabat. dia tetap melangkah kekelasnya. aku pun mengikutinya.
"kau marah?" tanyaku
ari diam. tak sedikit pun berkata. dia duduk aku pun begitu.
"maaf, aku mengakui kesalahanku"
"sudahlah, keluar sekarang. aku tak suka melihat seorang penghianat" tegasnya padaku
jantungku berdebar cepat mendengar kata ari. aku tak menyangka ia akan berbicara itu padaku.
"semarah kah itu kau pada ku?" tanyaku " aku kinta maaf"
"aku sudah bosan mendengar maaf dari mu"
" mengapa?" tanyaku serentak
"karena aku tak suka penghianat" tegas ari
"dewasa sedikit, bon! jangan sikap SMP dulu kau bawa kesini"
"dewasa? tak usah kau berbicara masalah dewasa. coba tanya sendiri pada dirimu. sudahkah kau dewasa? aku terima kau tak ingin lagi menjadi sahabatku. mungkin kau menemukan sahabat yang lebih baik dari ku?" ari pun marah padaku, aku tak bisa mengendalikan emosi ari. aku pun terbawa emosi.
"aku tak pernah berpikir seperti itu. kau sahabatku"
"mengapa kau taktepati janjimu semalam?"
aku diam sejenak. aku tak bisa membela diri karena aku memang salah di permasalahan ini.
"asal kau tahu, selama empat jam aku menunggumu. aku coba menghubungimu tapi kau abaikan"
"iya, maaf. semalam aku pergi sebentar. HP ku didalam motor!" kataku santai
"pergi kerumah alan kan?" tanyanya
aku terdiam kembali. dari mana dia tahu kalau semalam aku kerumah alan? atau dia melihatku.
"kau memang salah pilih teman!" tuturnya
"maksudmu?" tanyaku tak mengerti
"apakah kau tak menyadari selama ini dia hanya memanfaatkan dirimu saja?"
aku pun tak mengerti ucapanya.
"maksudmu, alan?" tanyaku
"siapa lagi? dia yang sudah membuat persahabatan kita seperti ini"
emosi kian larut. aku dan aripun selalu beradu argumen saling membela. aku tak tahu harus berbuat apa. ari tak menyalahkanku. tapi, ia menyalahkan alan yang membuat masalah ini. aku pun mencoba membela alan.
"jangan kau bawa-bawa alan ke masalah ini, ini masalah kita?" pinta ku tegas
"lalu siapa? aku tak merasa salah dalam masalah ini. kalau bukan dia yang menyuruhmu kerumahnya masalah ini tak akan terjadi" ari pun berdiri
aku emosi, perasaanku tak elok. badanku panas. aku pun berdiri dan membalas ucapan ari.
"kau tak tau dengan sifat alan, ri. jangan kau bawa dia dalam masalah ini" aku membela
"aku tahu dia. dia hanya memanfaatkan kamu saja.dia hanya palsu berteman denganmu. agar setiap tugas nya kau yang membuatnya." teriak ari padaku
"tutup mulutmu, yang jelas dia lebih baik dari dirimu" kataku menunjuk ke arah ari
ari diam membisu. tak percaya. selama ini aku tak pernah memarahi atau pun berkata kasar padanya. dia melihat mataku dengan jelas. mulutnya bergetar. matanya merah. lalau pergi dari hadapanku dengan penuh kebencian. aku pun terduduk. mataku berlinang, namun tak ada air mata. aku menyesali sikapku padanya. selama ini aku tak pernah bersikap seperti itu. aku pun keluarga kelas. setengah perjalanan menuju kelas, aku bersua temanku alan.
"sem?" sapanya
"alan?" sapaku balik
"mengapa wajahmu kusut seperti itu?" tanaynya heran
"tak apa, aku sedikit pusing" jawabku"aku ke kelas duluan ya, lan?"
aku tak enak berbicara. semua kujankan hari disekolah dengan tak enak. seharian belajar tanpa enak. membuatku ingin segera pulang kerumah, tidur dan istirahat.
setelah semua siswa pulang. ku tinggal seorang diri. ku sengaja pulang belakangan. karena aku disuruh mengambil buku di LAB. kimia. setelah ku dapat buku tersebut, aku pun langsung menuju gerbang sekolah. tapi, langkahku terhenti saatku dengar suara siswa. aku mencoba mendekat suara tersebut. ternyata suara itu berasal dari kelas temanku alan. aku pun segera melanhkah ke kelas itu. setelah ku mendekat ke kelas, kudengar dengan jelas suara kursi di hempas. dan suara keras seperti sedang marah. aku penasaran. aku pun mendekat ke pintu kelas. setelah ku lihat. alangkah terkejutnya aku saat melihat ari dan alan berkelahi. aku melihat dengan jelas alan terbaring kesakitan. mulutnya berdarah. sekali-kali memegang perutnya yang dipukukl ari. aku pun langsung mendekat dan merangkul alan.
".... itu balasannya. karena kau sudah memanfatkan persahabatan kawanku" ari menunjuk ke alan dengan benci
serentak aku menampar ari. aku tak sadar. tanganku serasa bergerak dengan sendirinya. ari diam. matanya menatap dalam. matanya menengok ke arahku dengan antara rasa sakit dan benci.
"alan tak pernah memanfaatkanku. kau salah kira. dia teman yang baik." tegasku membela alan" asal kau tahu, aku lebih tenang berteman dengan dia. kau tak berhak melarang aku berteman dengan dia." tegasku marah
"aku hanya ingin melihatmu berteman dengan orang yang baik. tidak seperti dia" ucap ari menunjuk alan yang terbaring dilantai.
"ingat, tak ada manusia yang baik. semuanya memiliki kekurangan, termasuk alan. tapi, aku sudah mengenalmu sejak SMP, kau sangat baik tapi tak sebaik alan."
ari diam dan pergi. dia melihatku dengan kebencian. alan tak berdaya, sekujur tubuhnya berdarah dipukul ari. aku pun begitu. kakiku kaku tuk mengejar ari. mulutku terkunci untuk meminta maaf padanya. suasana tak enak. aku pun menghantarkan alan pulang kerumahnya dan mengobati lukanya.
***
saat alan tak masuk sekolah, seperti biasa aku jalankan hari disekolahku sebagai OSIS dan siswa. hari ini serasa berbeda, karena tak ada alan. dan dari kejauhan kelasku, saat istirahat. kulihat dengan jelas ari sahabatku berjalan dengan dua temannya. aku melihat kearahnya. ku tersenyum. kuharap dia melihat dan membalas senyumku. tapi, jauh dari harapanku. dia hanya lewat dan tak menengok kearahku. mungkin dia masih marah padaku. sewajarnya dia marah padaku. karena aku memukuli dan memarahinya kemarin.
dua bulan sudah. ari tak pernah senyum dan menyapa aku. aku terasa rindu tuk bercanda dengannya seperti dulu. atau kah memang tak bisa lagi seperti dulu? aku pun tak sempat mnjenguk dia saat ku dengar dia jatuh dari motor dua minggu yang lalu. ku ingin menjenguk. tapi. kutakut ia akan menolak. karena dia amat benci padaku.
pulang sekolah. tapi aku masih berada dalam ruangan sekolah. aku keruangan alan. aku mengembalikan buku tugasnya. aku masih mendengar suara alan sedang asik bercakraman denagn temannya. tak sabar rasanya aku beri buku ini padanya.
"tugasmu sudah selesai lan?" tanya temanya pada alan
"ya, jelas sudah lah. alan kan ada yang membuatnya" jawab teman satunya
"siapa lan?"
"ya sem lah. dia kan dekat dengan alan. lagi pula sem itu pintar. pantasan dia dapat nilai yang bagus"
kusengaja mendengar perbincangan mereka dibalik pintu kelas. tanpa mereka sadari keberadaanku.
"mangkanya kalau kalian mencari teman yang pintar. agar ada manfaatnya" ucap alan
"maksudmu?" tanya temanya
"aku berteman dengannya hanya memanfaatkan dia saja. tidak mungkin aku berteman seperti dia. dia memang sangat baik. tapi sem itu tidak pantas menjadi temanku" kata alan tertawa
aku terkejut mendengar kata dari mulut alan. selama ini aku salah menilai alan. dan ternyata ari benar. alan hanya memanfaatkan aku saja. ku ingin menangis. hati serasa terkoyak. lidah alan sangat menusuk hati. aku diam dan bersandar ke tembok. sekali-kali aku menyesali yang pernah ku lakukan dengan sahabatku ari.
"kalian mungkin tidak percaya. sem prnah memukuli ari demi membelaku. tapi dia pikir siapa membelaku?" tuturnya lagi.
mataku tak bisa menahan air mata. hingga air mataku terjatuh ke pipi mendengar semua kata-kata yang amat memilukan itu. lalu kuhapus air mataku dan masuk ke kelas.
"benarkah itu lan?" tanyaku serentak
alan dan temanya terkejut dengan kedatanganku
"aku tak menyangka kau seperti ini. apa salah aku padamu lan? aku sudah banyak berkorban untukmu. lan" kataku tenag
alan diam. tak enak denganku. mungkin dia merasa bersalah denganku. tapi amat mengejutkan jawaban alan.
"kau mendengarkan itu semua?"
aku diam tak bersuara
"memang. selama ini aku hanya menjadikan kau tak lebih dari teman. aku memang memanfaatkan kau selama ini. kau berkorban demiku untuk sahabatmu. tapi bagi ku, kau bukan temanku" tuturnya.
aku tak bisa menggambarkan perasaan hatiku. hancur serasa berkeping. aku tak pernah merasakan sakit hati seperti ini. kau tak bersuara. aku hanya membalas dengan senyum kecil atas sikap alan padaku. aku pun menaruhkan buku alan diatas meja kecil yang sudah rapuh seperti hatiku. dan aku pun pulang. dalam keadaan tak elok. hati terasa hancur. mataku berlinang. aku selalu berkata dalam hati. rasanya kuingin menampar wajah alan. agar dia merasakan rasa sakit di khianati.
aku pulang kerumah. aku langsung menelpon ari untuk minta maaf atas kesalahanku selama ini. namun, tak ia angkat. selama dua bulan aku tak pernah menghubungi dia lagi. mungkin ari masih marah padaku. aku amat menyesla telah memutuskan persahabatanku dengan ari hanya untuk memilih teman yang penuh penghianatan.aku tak tahu apa yang harus aku lakukan saat ini. serasa aku berada dalam dunia khayal dan aku yang menjadi peran utamanya.
disekolah. ketika aku mendengar lonceng sekolah dipukul, aku langsung keluar kelas dan pergi kekelas ari untuk minta maaf. rasa takut dan cemas yang kurasakan saat aku hendak melangkah kekelas ari. ku berdiri di depan pintu. kulihat ari seorang diri duduk dan nampak merapikan buku-bukunya.
"cibon?" ucapku lembut
ari tak bersuara. dia hanya menengok kearahku tak peduli kedatanganku.
"untuk apa kau ke sini? bukankah kau tak mengenaliku lagi?"
ku mendekat. mataku penuh penyesalan.
"aku minta maaf, kau benar. aku salah memilih teman. aku telah tahu semuanya dengan sifat alan.selama ini alan hanya memanfatkanku."
kuberdiri dihadapa ari. namun ari tak juga peduli denganku.
"lalu, mengapa kau katakan semua ini padaku? bukannya alan teman baikmu? ia tak pernah berhianat padamu kan?" tuturnya kemudian "sudah lah, aku ingin pulang?" ari melangkah di hadapanku.
aku tahan ari. aku pegang tangannya. aku tak ingin ia lari sebelum memaafkan aku.
"tunggu, tak bisakah kau memaafkanku?"kataku
ari hanya diam. pandangannya kedepan. ia tak menghiraukanku.
"apa yang bisa kulakukan agar kau memaafkanku?"tanyaku
diam sesaat. aku pun berjongkok dihadapan ari. mungkin ini yang bisa kulakukan agar dia bisa memaafkanku.
"sungguh. aku menyesali semuanya. aku sudah memukul dan memarahimu demi membela alan. aku tahu itu salah. aku minta maaf. sekarang aku pasrah. kau boleh melakukan apa pun padaku. kau boleh memukuliki, itu memang pantas kudpat darimu" kataku nada lembut
ari terkejut melihatku berjongkok. terlihat dimataku. dia ingin merangkulku berdiri. tak sewajarnya melakukan hal ini. tapi ari hanya diam. dan pergi. ia tak memperdulikan ucapanku hingga meninggalkan aku sendiri dikelas yang masih berjongkok. aku menangis kecil. kupandang kedepan. perasaanku tak baik lagi. aku tak marah pada ari. kubiarkan ia pergi. tak tahu apa yang kulakukan lagi untuk mendapatkan maaf dari ari.
keesokan harinya disekolah. kududuk ditempat biasa dibawah pohon. kutermenung. kududuk sendirian. seharian tak kulihat temanku ari. rasa sepi kurasakan tak ada ari. yang biasanya ku habiskan waktuku bersamanya ditempat ini. kini. mungkin semua cerita indah kita menjadi kenangan. disaat kududuk lesu. kudengar suara anak muda datang mendekatiku.
"mengapa sendirian? tanyanya
kumenengok kearahnya. tak kusangka anak muda itu ari temanku yang membawa air minum ditanganya.aku terkejut. mungkin ini hanya imajinasiku saja. aku pun tak bersuara.
"mengapa diam?" ucapnya duduk
ini bukan imajinasiku. pemuda disampingku itu memang ari temanku.
"cibon?" kataku
"mengapa kemarin menangis?" tanyanya senyum.
"tak apa, kau masih marah padaku?" ucapku "aku minta maaf"
"aku tak pernah marah padamu, pung. kau tak pernah buat salah padaku"
aku tersenyum mendengarnya. ari amat baik padaku. ia tak pernah marah padaku walau aku sudah memarahi dan memukulinya. kita pun bercanda tawa bersama. sekali-kali ari menanyakan alan. namun aku hanya diam denagn wajah masam.
"ku kira kau tak lagi ingin menjadi sahabatku" ucapku disela-sela canda
ari menggosokkan kepalaku dan berkata
"tak mungkin begitu. kau tetap sahabatku."
kita pun larut dalam kegirangan. semua masalah kita tak ada lagi. kita pun menjadi sahabat yang paling indah disekolah. aku berjanji. akan menjaga persahabatan ini tanpa ada penghianatan. dan alan sudah menjadikan ku lebih dewasa untuk menghadapi masalah.
setelah masalah ini. aku meninggalkan dan melupankan masa laluku. tak ada lagi alan dan penghianatan dalam kehidupanku. aku mencoba membuka lembar dan cerita baru dengan sahabatku ari.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar