Pertama kali tiga bulan setelah pertunangan itu. Langit sore
memancarkan sinar merah kekuningan. Terlihat dari kejahuan sepasang wanita dan
laki-laki yang sedang mengayuh perahu kecil mengarung ombak kecil yang amat
elok. Sungai yang indah itu bernama batang hari yang menjadi saksi perjalanan
cinta suci dua anak manusia ditengah sungai itu.
“kapan kau kan pergi?” tunangannya bertanya
Wanita berjilbab itu bernama aisyah. Gadis yang amat elok
rupa dan sholeha. Kini telah menjadi tunangan laki-laki yang ia kagumi selama
ini.
“kalau tidak ada halangan, insyallah besok!”
Laki-laki yang berkayuh dan duduk didepannya itu bernama
syamsul. Laki-laki yang berhasil memikat hati aisyah hingga menjadi
tunangannya. Syamsul yang diharapkannya menjadi pemimpin jika nanti mereka
menikah.
“kapan kau kan pulang?” Tanya aisyah
“entah lah, aku juga tak tahu kapan?” kata laki-laki itu
berkayuh semakin menepi
Mata wanita itu memandang entah kemana. Mungkin pada ombak
kecil yang datang silih berganti dari hulu dan dari hilir. Mungkin pada
cakrawala yang mulai berwarna merah. Atau mungkin pada jamban tempat mencuci
itu. Atau mungkin juga dia tidak melihat kemana-mana.
“apa yang ada di pikiranmu? Tampak kau tak bersemangat?”
“aku memikirkanmu. Aku memikirkan kau akan pergi lama”
aisyah melihat ke tepi sungai, sekali-kali ia melihat kearah rumahnya.
“jangan terlalu pikirkan. Aku akan baik-baik saja”
Dimasukkan tangan kecil wanita itu kedalam air. Lalu menggenggam
dengan erat. Dia melakukannya bukan untuk ingin memukul atau marah pada
tunangannya itu. Tapi untuk mendapatkan kekuatan. Agar dia tidak menangis. Agar
dia tidak menceburkan diri ke sungai.
Langit sore tampak semakin menghilang. Tampak dari kejahuan
mereka orang-orang ramai mandi dan mencuci. Hati wanita itu amat terpukul akan
kepergian tunangannya besok. Dia takut hal yang tak diinginkan terjadi padanya.
Wanita itu tak kuasa menahan rasa sakit. Sekali-kali dia melihat kearah rumahnya
yang sederhana. Terkena pancar sinar matahari sore terlihat seperti
lukisan. Indah sekali.
Terlihat dari tepi tebing sungai Batanghari. Sesosok pemuda
yang memakai kopiah hitam dan kain sarung berdiri menengok arah wanita dan
laki-laki yang bertunangan itu bercengkraman ditengah sungai. Pemuda itu benama
rahmad. Dia adalah guru ngaji anak desa sengeti, sering kali pula ia menjadi
penceramah dimasjid. Pemuda itu sangat mencintai wanita bertunangan yang
ditengah sungai itu. Seakan ia menginginkan wanita itu kelak menjadi isterinya.
Tetapi, wanita itu tidak pernah tahu kalau pemuda bersarung itu mencintainya. Pemuda
itu tak pernah berkata cinta pada wanita itu. Lalu pemuda itu pergi dengan rasa
kecemburuannya.
****
Pagi yang amat cerah. Cuaca terang. Langit pun jernih. Burung-burung
dengan riangnya bertabangan dari satu batu candi ke batu candi yang lainnya. Diantaranya
orang-orang sibuk menuai padi yang menguning, ada pun gadis-gadis desa mencuci
baju di jamban tepi sungai batang hari. Di tengah keriangan pagi itu bagi
orang-orang . namun tetapi, tidak bagi aisyah. Bagi wanita itu, pagi ini adalah
pagi yang amat menyakitkan. Ia tak ingin terbangun dari tidurnya semalam.
Ia ingin selamanya tertidur tapi bukan mati kalau pagi ini melihat tunangannya
pergi dan entah kapan akan kembali.
“jaga dirimu baik-baik syah?” tunangannya berpesan.
Dengan menyandang tas hitam besar. Syamsul berpamit pergi
pada tunangannya. Aisyah benci mendengarkan ucapan tunangannya itu. Rasanya lebih
menyakitkan dari apa pun. Aisyah memandang gulungan ombak sungai batang hari. Dengan
mata berlinang mutiara, dia menggenggamkan tangannya agar linangan mutiara itu
tak jatuh di pipinya.
“insyallah, kamu juga jaga dirimu baik-baik!”
Aisyah tak menengok tunanganya. Rasanya tak kuat dia melihat
wajah tunangannya itu. Sejujurnya wanita itu tidak menginginkan kepergian
tunangannya. Hati dia ingin tunangannya selalu berada disampingnya. Tapi ini
takdir tuhan. Dia harus kuat menjalankan takdir itu.
“aku berangkat dulu syah?” ucap syamsul dengan menengok ke
aisyah.
Dan aisyah pun begitu.
Dia memandang kedua bola mata laki-laki itu dengan hati luka. Dia dengan jelas
melihat wajah tunangannya. Syamsul mengangkatkan tangannya. Lalu aisyah
memegangnya lalu dihantarkan ke keningnya. Dengan lembut aisyah mencium tangan
tunangannya. Rasanya dia tak ingin melepaskan tangannya. Dia ingin tunangannya
tak pergi dan selalu ada disampingnya.
“aku akan selalu menunggu cintamu pulang disini sul. Ditepi sungai
batang hari. Begitu selesai, pulanglah dengan segera.” Kata aisyah menangis.
Tak kuasa rupanya syamsul menoleh aisyah. Dia hanya
menganggukan kepalanya. Tak bersuara dan lalu pergi dari hadapan aisyah.
dibalik batang sawo besar itu. tampak rahmad sekali-kali menengokkan kepalanya sedikit. dia melihat kejadian pertemuan terakhir wanita yang ia cintai itu dengan tunangannya. sebagai makhluk tuhan biasa, tampak rahmad kasihan dan rasa sedih melihat wanita yang ditinggal tunangannya itu terluka. tampak ia menggenggam tangannya. lalu memukul batang sawo itu dengan pelan. tak tega melihat aisyah bersedih dia pun mendekati aisyah.
"assalamualaikum?" ucapnya pada aisyah
aisyah pun menghapus air matanya. lalu berbalik menghadap rahmad.
"wa'alaikumsalam!"
angin sungai sepoi-sepoi. daun sawo berjatuhan dengan sendirinya. gelombang menghantarkan buih-buih kecil ketepi. desahan percik air menari dengan ikan. ingin rasanya rahmat memeluk gadis dihadapanya itu dengan lembut. ingin rasanya dia mengajak wanita itu bermain perahu ketengah sungai untuk menghibur hati aisyah yang lara. namun rahmad tak ingin mendatangkan fitnah. apa lagi ia tahu agama, tak baik bila seorang wanita yang sudah bertunangan berdua dengan laki-laki lain.
"berapa lama syamsul pergi? dan kapan ia akan pulang?" tanya rahmad
"aku tidak tahu kapan, syamsul juga tak tahu kapan dia pulang!"
aisyah berbalik badan menghadap ke sungai. rahmad pun melangkah dan berdiri disamping wanita itu. mereka pun menghadap kesungai. terlihat mata mereka berdua menutup tertiup angin. terlihat pula jilbab aisyah dan kain rahmat bergelombang kecil tertiup angin.
"aku tahu perasaanmu kini syah, bersabar lah?" tutur rahmat.
aisyah tak mengerti dengan kata rahmat. sekali ia melihat laki-laki itu. lalu menengok ke sungai kembali.
" insyallah. assalamualaikum?" ucap aisyah pergi.
aisyah pergi dengan tiba-tibanya. entah apa yang membuatnya pergi. mungkin dia takut menimbulkan fitnah. atau mungkin dirumahnya masih banyak pekerjaan. atau mungkin dia tidak menyukai rahmat. entah lah.
"wa'alaikumsalam"
rahmat tak menahan aisyah. tak hayalnya dia melihat kesungai itu. dia tidak menginginkan hati aisyah terluka lebih dalam. dan membiarkan dia pergi. dalam hatinya selalu berharap aisyah lebih lama berada disampingnya, agar dia bisa menghibur hatinya yang terkoyak.
****
"Kapan tunanganmu akan pulang syah?” Fatimah sahabatnya bertanya
SYAMSUL BAHARI
SMAN 2 MUARO JAMBI
089699541923
dibalik batang sawo besar itu. tampak rahmad sekali-kali menengokkan kepalanya sedikit. dia melihat kejadian pertemuan terakhir wanita yang ia cintai itu dengan tunangannya. sebagai makhluk tuhan biasa, tampak rahmad kasihan dan rasa sedih melihat wanita yang ditinggal tunangannya itu terluka. tampak ia menggenggam tangannya. lalu memukul batang sawo itu dengan pelan. tak tega melihat aisyah bersedih dia pun mendekati aisyah.
"assalamualaikum?" ucapnya pada aisyah
aisyah pun menghapus air matanya. lalu berbalik menghadap rahmad.
"wa'alaikumsalam!"
angin sungai sepoi-sepoi. daun sawo berjatuhan dengan sendirinya. gelombang menghantarkan buih-buih kecil ketepi. desahan percik air menari dengan ikan. ingin rasanya rahmat memeluk gadis dihadapanya itu dengan lembut. ingin rasanya dia mengajak wanita itu bermain perahu ketengah sungai untuk menghibur hati aisyah yang lara. namun rahmad tak ingin mendatangkan fitnah. apa lagi ia tahu agama, tak baik bila seorang wanita yang sudah bertunangan berdua dengan laki-laki lain.
"berapa lama syamsul pergi? dan kapan ia akan pulang?" tanya rahmad
"aku tidak tahu kapan, syamsul juga tak tahu kapan dia pulang!"
aisyah berbalik badan menghadap ke sungai. rahmad pun melangkah dan berdiri disamping wanita itu. mereka pun menghadap kesungai. terlihat mata mereka berdua menutup tertiup angin. terlihat pula jilbab aisyah dan kain rahmat bergelombang kecil tertiup angin.
"aku tahu perasaanmu kini syah, bersabar lah?" tutur rahmat.
aisyah tak mengerti dengan kata rahmat. sekali ia melihat laki-laki itu. lalu menengok ke sungai kembali.
" insyallah. assalamualaikum?" ucap aisyah pergi.
aisyah pergi dengan tiba-tibanya. entah apa yang membuatnya pergi. mungkin dia takut menimbulkan fitnah. atau mungkin dirumahnya masih banyak pekerjaan. atau mungkin dia tidak menyukai rahmat. entah lah.
"wa'alaikumsalam"
rahmat tak menahan aisyah. tak hayalnya dia melihat kesungai itu. dia tidak menginginkan hati aisyah terluka lebih dalam. dan membiarkan dia pergi. dalam hatinya selalu berharap aisyah lebih lama berada disampingnya, agar dia bisa menghibur hatinya yang terkoyak.
****
"Kapan tunanganmu akan pulang syah?” Fatimah sahabatnya bertanya
Lima bulan setelah kepergian syamsul, aisyah tampak
menyendiri setiap harinya. Kadang pula dia termenung di tengah teras rumah. Entah
apa yang dia pikirkan. Mungkin dia memikirkan syamsul. Atau mungkin dia
memikirkan hidupnya. atau mungkin tidak memikirkan apa-apa.
"entah lah. aku tidak tahu kapan dia pulang, mah?"
dengan membalik-balik baju yang mereka cuci. kedua sahabat itu tak hentinya berbicara.
"apa kau tahu dimana syamsul bekerja?"
"tidak. dia tidak pernah memberi tahu padaku"
"kenapa?"
"entah lah"
hawa panas mentari terasa sedikit menyengat kulit. namun kedua sahabat itu dengan riangnya mencuci dijamban apung yang kecil itu. begitu berbeda ekspresi wajah aisyah saat fatimah menanyakan syamsul. sekali-kali dia termenung. terkadang menoleh kearah lain.
"sekarang sudah lima bulan syamsul meninggalkan kau syah. apa kau tidak ada niat untuk menghubungi dia? ya, walau hanya sekedar menanyakan kabarnya?" sahabatnya kembali bertanya.
"sudah ku coba, mah. tapi, teleponnya tidak aktif!" jawabnya kemudian "atau mungkin dia terlalu sibuk hingga tak sempat menghubungiku. aku juga tidak tahu"
"syah. kalau dia memang sayang padamu pasti dia akan menghubungimu walau sesibuk apapun pekerjaannya. seorang pacar saja akan memberi kabar pada pacarnya jika dia pergi jauh. apalagi syamsul itu tunanganmu. apa kau tak pernah curiga padanya?"
"curiga kenapa?" aisyah bertanya sambil melihat cuciannya
"curiga kenapa?" aisyah bertanya sambil melihat cuciannya
"iya, kalau-kalau syamsul sudah punya yang baru" tuturnya
aisyah diam termenung. tangannya pun berhenti mencuci. di pikirannya mungkin benar syamsul sudah memiliki wanita lain dihatinya atau mungkin syamsul sudah lupa dengan pertunangannya. entah lah. pertanyaan fatimah amat menyudutkan aisyah. hingga aisyah tak dapat berkata-kata. tangan kecilnya pun tak kuasa digeraknya. mungkin perkataan fatimah itu menyinggung perasaannya. namun aisyah tetap sabar. ia selalu berdo'a pada tuhan semoga hal yang buruk tak pernah terjadi pada dirinya dan syamsul.
sementara itu, pemuda yang mencintai aisyah sibuk dengan kerjanya mengajar anak desa mengaji dan kadang dia pula memberi ceramah pada anak-anak desa. selama syamsul pergi beberapa bulan yang lalu, aisyah terlihat sendiri meratap dan memikirkan tunangannya. rahmad selalu melihat keadaan wanita itu dari kejahuan. ia tak mendekat. dia takut aisyah akan menolak. ingin rasanya pemuda itu menghibur wanita yang merana itu. tapi tak bisa...
“...jadi kita hidup di dunia ini hanyalah sementara. Berbanyak
lah beramal. Bertawakal kepada allah. Harta dan jabatan seseorang tidak
menjamin sesorang itu masuk surga atau
neraka. Tapi, ibadah lah yang menentukan seseorang masuk surga atau neraka.”
Tutur rahmat saat memberi ceramah pada anak desa.
Sore itu tak sengaja aisyah mendengar ceramah rahmad di
masjid saat dia selesai mengerjakan shalat ashar.
“dan manusia itu jangan terlarut dalam kesedihan. Apabila di
tinggal sama orang yang kita sayangi. Misalnya, ditinggal kedua orang tau kita.
Entah kah pergi lama atau meninggal dunia. Atau juga ditinggal pacar kita. Kita
tidak boleh bersedih yang larut. Berdo’a lah dan banyak tawakal kepada allah
agar orang kita kasihi di lindungi oleh allah" tegas rahmat.
Aisyah termenung. Diatas sajadah merah yang bercorak gambar
ka’bah itu aisyah mendengarkan ceramah rahmad. Hatinya agak tenang. Hatinya
luluh saat mendengar ceramah rahmat. Isi cerah rahmat benar-benar menceritakan
kisah yang terjadi padanya saat ini.
Semua anak desa selesai mengaji. Satu-persatu mencium tangan
rahmad dan pulang. Tak sengaja saat rahmad keluar masjid, ia bersua dengan
aisyah.
“assalamualaikum, syah?” ucap rahmat mengangkat kedua
tangannya.
“wa’alaikumsalam?”
“bagaimana kabarmu syah?” tanyanya
“alhamdullah baik mat. Kamu sendiri?”
“iya, seperti yang kamu lihat sekarang”
Tak kuasa rahmad menahan getaran hatinya yang selalu tak
menentu arah. Mungkin rahmat malu. Atau mungkin dia takut atau pun dia tidak
merasakan apa pun. Mereka pun pulang bersama. Tampak dibelakang gerombolan
anak-anak yang pulang ngaji itu rahmad dan aisyah melangkah dengan santainya.
Di tengah perjalanan. Sekali-kali rahmad melihat wanita itu dengan bahagianya.
Aisyah menengok. Rahmad pun tersenyum malu.
“ceramahmu bagus tadi, mad?” tutur aisyah
“ah, biasa saja syah. Hanya itu yang aku bisa sampaikan pada
anak-anak” jawab rahmad malu.
“orang tua kamu beruntung
sekali mad, memiliki anak sepertimu. Apa lagi pacar kamu, punya laki-laki Sholeh, baik.
Sepertimu?”
Langkah rahmad terhenti mendengar kata aisyah. Matanya
melihat kekosongan. Mukanya berubah pucat pasih. Rahmad mengerti dengan
sikapnya. Dia melihat mata aisyah lalu berkata.
“a-aku. Belum memiliki kekasih!” ucapnya gugup
Aisyah pun berhenti. Memandang mata rahmad dan tersenyum.
“kenapa? Usiamu sudah cukup untuk berkeluarga mad?” ucapnya
Rahmad kian ragu untuk menjawab. Aisyah memang tak mengerti
perasaan laki-laki itu. Sesungguhnya wanita di hadapannya lah yang dia inginkan
menjadi kekasihnya.
“berkeluarga? Pacar saja aku tak punya. Syah!” tegas rahmad
Aisyah kembali tersenyum. Dan mereka pun melanjutkan lagkah
mereka pulang.
****
Suatu pagi yang mendung. Riuh suara angin merebah disungai
batang hari. Terlempar dibalik cela jamban itu menerpa menjadi ombak kecil. Burung-burung
terbang menyentuh bebatuan candi yang berlumut. Di sawah-sawah terlihat para
wanita separuh baya memakai kain tengkuluk bermotip bunga. Yang sedang menuai
padi yang menguning. Rahmad melangkah kerumah aisyah.
“assalamualaikum?” ucapnya
“wa’alaikumsalam?” jawab ibu aisyah “kau jang, masuk lah”
“diluar saja uwak!” jawabnya kemudian “aisyahnya ada wak?”
“iya sudah. Duduk lah. Uwak hendak memanggil aisyah dulu”
tutur ibunya
“syah. Ada rahmad di luar. Katanya dia hendak menemuimu!”
panggil ibunya di kamar.
“ada apa bu?” Tanyanya
“ibu juga tidak tahu. Cepatlah kau temui dia. Ibu hendak
mengambil air minum dulu.” Ibunya pun pergi kedapur untuk mengambil air.
Sementar itu. Aisyah dengan segeranya keluar kamar dan
langsung menemui rahmad yang sudah menunggu di teras rumah.
"assalamualaikum?" ucap
aisyah lembut
"wa'alaikumsalam"
"ada keperluan apa mad? tumben
main ke sini?" tanya wanita itu " kata ibu ku, kau hendak bertemu
denganku?"
"tak ada. aku tadi tak sengaja
lewat disini. aku pengen singgah. lagi pula aku sudah lama tidak bertandang
kesini."
"ini airnya, minum dulu"
ibunya memberi segelas air.
"terima kasih wak. oh iya.
sepertinya uwak sudah lama tidak kelihatan yasinan di masjid lagi?"
"iya jang. akhir-akhir ini uwak
banyak di sawah. padi uwak sudah menguning semua. hendak di tuai. sebentar lagi
uwak hendak ke sawah."
"alhamdulillah wak. allah
memberi rezki"
"amin. iya sudah uwak
kebelakang dulu. ingin siap-siap hendak kesawah. jangan lupa diminum
airnya"
"iya terima kasih wak"
Seketika ibunya masuk kedalam. Kini
tinggal aisyah dan rahmad diteras rumah. Mereka banyak berbicara. Entah apa
yang dibicarakan.
"syah, sabtu depan kamu sibuk tidak?" tanya pemuda itu sambil mengembalikan gelas diminumnya diatas meja.
"insyallah tidak mad, kenapa?"
"bisakah kau membantuku?"
"bantu apa mad?"
"membantu mengajar ngaji di masjid. kulihat akhir-akhir ini muridku bertambah banyak sehingga aku mengajar pun lama" pinta rahmad. kemudian "tapi kalau kau tak bisa juga tak apa"
aisyah terseyum juga. sambil mengosok-gosokan jilbabnya. mendengar itu aisyah pun girang.
"oh itu mad?" katanya senyum "iya, insyallah. kalu tidak ada halangan aku akan membantumu"
rahmad tersenyum. hatinya amat girang. tak disangka aisyah wanita yang dicintainya itu tak menolak ajakannya,
"benarkah itu syah?" tanya girang tak kuasa "terima kasih"
setelah lama bercakap-cakap laki-laki itu pun pulang dengan hati yang bergejolak girang. pada pikirnya aisyah mulai baik padanya.
hari-hari aisyah tak bersemangat setelah kepergian tunangannya. kadang wanita itu duduk menyendiri ditepi sungai batang hari. ditempat yang sering ia dan tunangannya duduk waktu dulu. mungkin wanita itu menunggu syamsul tunangannya yang entah kapan akan pulang. atau mungkin dia mencoba mengobati hatinya yang lara. ataukah mungkin wanita itu tidak menunggu siapa-siapa dan hanya melihat-lihat percikan air sungai batang hari.
"syah, syah?" terdengar dari kejauhan seseorang memanggil namanya.
wanita itu pun berbalik. ternyata setelah dilihat temanya fatimah. terlihat belari tergopoh-gopoh dengan menyinsing sedikit kain yang dipakainnya.
"syah" serunya kempas kempis
"ada apa mah?" tanyanya heran "mengapa kamu seperti ini?"
"syamsul, syah"
"ada apa dengan syamsul?" tanya wanita itu cemas
pikirnya kedatangan fatimah membawa kabar buruk akan tunangannya itu. dia melihat dengan jelas muka fatimah, matanya merah, wajahnya pucat pasih.
"katanya lusa syamsul pulang"
alangkah suka cita hatinya mendengar itu. sudah satu tahun lebih ditinggal tunangannya. dan kini dia kembali. tentu dia akan bertemu dengan syamsul. buah hati rangkaian jantungnya yang amat dikasihnya. dan wanita itu pun pergi dari hadapan fatimah dengan hati yang tak menentu. harapannya menikah dengan syamsul sebentar lagi akan terwujud dan akan hidup bahagia. tapi, kabar itu seperti mimpi buruk bagi rahmad. karena wanita yang ia cintai itu akan menikah dengan syamsul.
pada suatu pagi. kira-kira pukul sembilan. sedang panas mulai hangat. sedang ramai orang menuai padi disawah. sedang ramai angin bertiup ditengah sungai batang hari. tak terlihat gadis-gadis mencuci di jamban. tampak seorang wanita tegak berdiri dengan riang. sepertinya ia sedang menunggu seseorang ditempat itu tepi sungai batang hari. sambil memandang ke kiri dan ke kanan. kalau-kalau orang yang ditunggunya akan segera datang. tetapi, tak seorang pun tak tampak. darahnya semakin berdebar. hatinya semakin tak enak. mulutnya menjadi mengerut.
"sudah lama kau menunggu, syah?" tanya seseorang tiba-tiba dari belakang
tanpa disadari aisyah seorang laki-laki datang menghampirinya. wanita itu pun berbalik menghadap laki-laki itu. alangkah terkejutnya aisyah melihat laki-laki itu. betapa girang hatinya. laki-laki dihadapannya itu ternyata syamsul tunangannya yang baru saja pulang dari kerja. seakan tidak percaya dengan syamsul, aisyah tersenyum dengan laki-laki dihadapannya itu. dan laki-laki itu pun membalas senyumannya.
"maaf syah selama ini aku tak pernah memberi kabar padamu?" ucap laki-laki yang baru datang itu.
"tak apa sul, awalnya aku khawatir padamu. tapi sekarang tak lagi karena kau telah kembali" tutur wanita itu senyum.
lalu, laki-laki dan wanita itu pun berdiri menghadap sungai batang hari.
"bagaimana kabarmu syah?" tanya laki-laki itu
"alhamdullah baik sul. kamu sendiri bagaimana?"
"alhamdulillah baik juga. tak banyak perubahan ditempat ini selama aku pergi. dan kau semakin cantik saja syah!"
tak tahu lagi apa yang dilakukan aisyah. wanita itu tak kuasa menahan kebahagiaan. terlihat dari awal kedatangan syamsul bibirnya selalu memancarkan senyuman. sementara itu, dibalakang sepasang kekasih itu. dibalik batang sawo besar. hati rahmad hancur melihat aisyah dan tunangannya. matanya tergambar kecemburuan amat dalam. mulutnya tak sekecilpun terlihat senyum.
"aku ingin berbicara padamu syah?" tunangannya berkata
aisyah diam. matanya melihat kedepan memandang ombak kecil ditepi sungai. aisyah tak bertanya pada syamsul untuk berbicara hal apa. mungkin aisyah mengira syamsul membicarakan kapan akan menikah. atau mungkin wanita itu mengira dua minggu lagi akan dipinang olehnya.
"aku amat sayang padamu syah" ucap tunanganya lembut " kau bagaikan wanita yang sempurna, sungguh aku akan amat menyesal harus mengatakan ini. syah. ini akan membuatmu sakit hati padaku. mungkin aku akan membenciku selamanya. selama aku bekerja, aku selalu memikirkanmu disini. aku takut kau berkhianat pada cinta kita. tapi aku salah. dengan setianya kau menjaga cinta kita selama aku pergi. aku berdosa padamu syah"
aisyah tak hentinya senyum manis. mendengar ucapan tunangannya itu rasanya dia ingin memeluk tunangannya dengan kasih sayang untuk melepas rindu.
"aku tak akan berkhianat pada cinta kita, sul."
"aku salah padamu syah" katanya kemudian "ini untuk mu" ucapnya dan perlihatkan undangan ditangannya pada aisyah.
"undangan apa sul?" tanya wanita itu
semakin tak terkira senyuman aisyah. dia berkata dalam hati. mungkin ini mungkin contoh undangan untuk pernikahannya dengan syamsul. dia membalik-balik undangan itu. dia membaca keatas dan kebawah. dia lihat pula foto tunangannya di undangan itu.
"minggu depan aku akan menikah dengan wanita kota" tegasnya "kalau ada waktu kau bisa datang"
alangkah pilunya mendengar ucapan tunangannya itu. tiba-tiba mulut aisyah menutup masam. matanya membesar terkejut. hatinya berdebar kencang. terlihat keringat membasahi pipi aisyah.
"benarkah itu sul?" tanyanya tak percaya "mengapa kau tega melakukan ini kepada ku, hatiku sakit mendengar ini sul. selama ini aku setia menunggumu. kau sudah berjanji padaku sepulang dari kerja, kau akan menikahiku." ucap aisyah menangis.
hati aisyah hancur berkeping. hatinya serasa terkoyak. ingin rasanya ia menjatuhkan dirinya dari tebing sungai batang hari. ingin rasanya ia pergi kejamban itu untuk menghanyutkan dirinya.
"mengapa kau secepat ini berubah sul?" tangisnya "kau balas pengorbananku selama ini menunggumu dengan cara seperti ini? kau jahat sul"
sejenak aisyah luluh. lari dan meninggalkan syamsul. air mata yang selalu mengalir di pipinya. tak kuasa dia menahan rasa sakit hatinya. bahkan hatinya lebih sakit saat dia mendengar syamsul akan pergi beberapa tahun yang lalu. syamsul hanya diam, menengok pun tidak juga. dia merasa amat bersalah pada aisyah. diambilnya undangan yang terjatuh dari tangan aisyah. di lihatnya undangan itu. terjatuh air matanya diatas undangan itu. syamsul menangis. digenggam tangannya dengan erat. dibuangnya undangan di tangannya itu dan lalu pergi.
sementara itu. laki-laki yang dibalik pohon besar itu melihat dengan mata penuh dengan ambang kebingungan tak percaya. rahmat hanya diam tak bersuara. sekali-kali menghirup nafas dalam. ia tak tahu apa yang harus dia lakukan. hatinya sakit melihat wanita yangdicintainya itu bersedih hati.
aisyah duduk diatas kursi tua diteras rumahnya. air matanya tertumpah tiada henti. dia selalu mengiangat kata-kata syamsul tadi. begitu tega syamsul mempermainkan cinta aisyah.
***
beberapa minggu setelah itu.
pada suatu petang itu. tampak seorang wanita berjilbab putih kebiruan tegak berdiri melihat sungai yang nan elok itu.ditangannya ia memegang kerikil kecil. kadang ia melemparkan kerikil itu ke sungai. mencoba menghibur diri melihat ikan kecil menari bermain menangkap buih-buih ditepi batang jamban. dari belakang wanita itu. seorang pemuda berkopiah hitam datang tiba-tiba dan berdiri disampingnya.
"assalamualaikum?" ucapnya
wanita berjilbab itu terkejut dan menengok pemuda itu.
"waalaikumsalam" jawabnya pelan tak kuasa.
"aku tahu perasaanmu kini syah. tak mudah menerima ini semua. tapi, apa boleh buat." tuturnya lembut "ini adalah takdir, syah. tuhan sedang menguji imanmu"
aisyah hanya diam. tak hayal melihat ombak kecil yang berpercik kecil di tepi sungai.
"banyaklah bertawakal dan ikhlas. percayalah syah, dibalik semua kejadian ini ada hikmahnya. dan kau akan mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari syamsul"
setelah itu rahmad pergi. beberapa langkah dari aisyah kakinya terhenti kemudian melihat aisyah. dia berharap aisyah kan mengerti dengan kata-katanya tadi. dia berharap akan dapat menggantikan syamsul.
hari berganti hari. rahmad begitu rajin bertandang kerumah aisyah untuk sekedar menghibur hatinya. tampak diraut wajah aisyah kembali tersenyum setelah kejadian yang beberapa lalu. mereka pun kadang duduk berdua ditepi sungai batang hari. dan kadang pula mereka bermain perahu di tengah sungai. kemudian terbayang-bayang pula dalam ingatan aisyah kejadian-kejadian yang telah lalu, pergaulannya dengan syamsul.
"syah, mau kah kau menikah denganku?" pemuda berkayuh itu bertanya
cahaya merah matahari amat elok. ombak kecil menerpa perahu mereka. angin tak begitu deras. mata aisyah termenung. tak tahu harus menjawab apa. matanya tampak keraguan. dia tak ingin kejadian yang menyakitkan hatinya akan terulang kembali. katanya mungkin rahmad mencintainya dengan rasa kesihan. karena ditinggal pergi tunangannya menikah dengan orang lain. tapi, dia juga melihat mata pemuda itu penuh dengan keyakinan yang kuat.
"mungkin ini berat bagimu. sebenarnya aku tak tahu lagi dengan perasaanku denganmu. aku berkata seperti ini bukan kasihan denganmu. tapi, percaya lah aku menyayangimu"
mendengar hal itu hati aisyah menjadi gempar. lalu badannya dingin. matanya agak berlinang. kemudian dengan pelan pula ia berkata pada rahmad
"aku tak bisa menjawab sekarang. beri aku untuk meminta petunjuk dengan allah"
rahmad diam menganggukkan kepalanya. dia amat mengerti dengan semuanya. pemuda itu pun berbiduk ke tepi.
"aku ingin malam jum'at nanti kau datang kerumahku" ucap wanita itu diatas jamban "jangan lupa membawa kedua orang tuamu"
sementara itu rahmad tak bersuara, dia sibuk mengikat tali perahu di sela kayu penyangga jamban. kepalanya hanya mengangguk setiap mendengar ucapan aisyah.
***
malam jum'at itu. rahmad terlihat memakai batik jambi bercorak angsa amat tampan kelihatannya. ia melangkah kerumah aisyah dengan orang tuanya. sebelumnya, rahmad telah memberi tahu kepada kedua orang tuanya maksud kedatangan mereka malam jum'at kerumah aisyah. setelah sampai diteras rumah
"assalamualaikum?" ucap ayah rahmad
"waalaikumsalam" terdengar ibu aisyah menyahut
"pak marzuki, ibu ina. masuk. mari. duduk lah. saya hendak memanggil suami saya dulu"
sementara ibu aisyah memangil suaminya. rahmad dan kedua orang tuanya duduk diatas kursi yang sedikit agak tua.
"pak marzuki?" sapa ayah aisyah saat melihat ayah rahmad "apa kabar?" lalu menyalami semua keluarga rahmad."mari duduk. ibu suruh aisyah buat air minum" pinta ayahnya pelan
"jangan susah payah begitu pak ali. jadi tidak enak"
"tak apa lah. jarang-jarang pak ali bertandang kerumah kami"
ketika saling sapa, mereka pun tertawa dengan pulasnya. sementara itu terlihat aisyah membawa air teh hangat. diberinya air itu pada rahmad dan kedua orang tuanya. saat ingin berdiri, ibu rahmad berkata
"bisakah kau duduk bersama kami syah?" pintanya.
aisyah hanya diam menundukkan kepala dan duduk disamping ibunya. dan ayah rahmad mencoba menjelaskan maksud kedatangannya.
"maaf sebelumnya pak, ibu.kedatangan kami mengganggu waktu istirahat bapak dan ibu. seperti ini.. " jelasnya patah-patah "anak saya rahmad, sudah lama menyimpan perasaan ini. dia tidak berani mengatakan sebenarnya pada aisyah. kita bukan mencari kesempatan dalam kesempitan."
"jangan seperti itu pak. silahkan jelaskan lah."
"sebenarnya anak saya rahmad ingin menikahi anak bapak dan ibu. aisyah"
didalam bilik itu jadi sunyi senyap. sunyi sebagai di dalam kubur hanya dengingan jengkrik saja yang kedengaran. sementara itu, pemuda berbatik itu tak bersuara. tak hayal menundukkan kepala. begitu pun aisyah. ia hanya diam disamping ibunya memeluk tempat air yang sudah ia bawakkan tadi. kedua orang tua aisyah dalam kebingungan. mereka tak mengerti. sebelumnya aisyah tak pernah memberi tahu bahwa rahmad ingin menikahinya. tetapi, orang tua mana yang tidak ingin anaknya mendapat suami seperti rahmad. baik, shaleh dan tidak sombong. didalam hening itu ayah aisyah berkata
"maaf sebelumnya. sejujurnya saya dan isteri saya tidak mengetahui maksud kedatangan bapak dan ibu kerumah saya. begitu pun dengan rencana rahmad ingin meminang anak saya. saya tidak ingin mengikut campur dalam masalah ini. yang menjalankan rumah tangga nanti aisyah anak saya. jadi keputusannya kami serahkan pada anak saya"
"bagaimana nak, syah?" tanya ayah rahmad lembut
aisyah serentak menunduk. matanya menoleh kebawah mencoba mencari petunjuk.
"kami terima dengan senang hati apabila anak aisyah menolak pinangan rahmad. kami tidak memaksa anak aisyah"
terlihat mata rahmad bertanya-tanya. matanya tergambar kepasrahan. tapi ia tetap sabar.
"aku terima pinangan rahmad" ucap tegas aisyah.
semua terkejut. mata rahmad terpancar kepuasan. karena harapannya terjawab. ibu dan ayahnya tersenyum begitupun dengan ayah dan ibu aisyah.
"tetapi saya minta beberapa syarat?"
"apa itu" tanya ibu rahmad "katakanlah?"
"syarat yang pertama. apabila nanti saya menikah dengan rahmad, tidak ada yang melarang kapan pun jika saya ingin pulang kerumah ibu saya. yang kedua saya tidak ingin ada kecurigaan yang berlebihan jika nanti telah menikah. dan yang terakhir. saya ingin selama saya bernafas suami saya tidak boleh menikah lagi. kecuali bila saya sakit parah. apa bila tiga persyaratan itu sanggup dipenuhi aku akan menerima pinangan dari rahmad" tutur aisyah dengan arif.
"bagaimana, mad?" tanya ayahnya
"insyallah aku akan menyanggupi" jawab rahmad penuh keyakinan
"baiklah, aku terima pinangan rahmad"
"alhamdullaah, allahu akbar" ucap syukur rahmad mengusap kedua tangannya.
"alhamdulillah" ucap kedua orang tua rahmad dan aisyah.
"baiklah, pernikahan ini segera dilakukan. saya sudah memilih waktu yang abik dalam bulan ini. bagaimana pernikahan ini dilaksanakan dau minggu lagi?"
rencana ayah rahmad pun disetujui kedua belah pihak. kini hati rahmad legah. sekali-kali ia menghembuskan nafasnya dengan pulas. setelah mendapatkan titik temu yang terbaik, rahmad dan kedua orang tuanya pun pulang dengan hati riang. keinginan rahmad menjadi suami aisyah bakal terwujud. dia berjanji akan menjaga aisyah nantinya.
kesibukan pun terlihat dirumah rahmad. berbagai persiapan untuk hari pernikahan pun telah selesai. corak islam dan adat melayu jambi menghiasi tenda-tenda yang terbentang besar. begitu gagahnya rahmad memakai baju adat jambi berwarna merah hati bercorak angsa sepasang. di pinggang terlihat keris siginjai menancap dengan gagahnya. aisyah tampak berseri, ia selalu tersenyum. dengan baju adat melayu jambi dihiasi bungai teratai dan melati menghiasi kepalanya ia pun terlihat amat cantik. selesai ijab kabul dibacakan rahmad dan aisyah pun berdiri berdua menyalami tamu yang hadir. mereka bak raja dan ratu di hari itu.
kini cinta rahmad dan aisyah bersatu. amat bahagia rahmad menjadi suami wanita yang ia cintai. begitu pun dengan aisyah.
kebahagian semakin menyelimuti aisyah dan rahmad. cahaya langit sore itu tampak amat segar. terlihat rahmad dan aisyah berkayuh pelan menyusuri sungai batang hari. batang hari menjadi saksi bisu perjalanan kisah pedih aisyah hingga kini menjadi isteri rahmad.
"tak kusangka , kini kita menjadi suami isteri. dulu aku hanya bisa berkhayal bisa menjadi suamimu." tutur rahmad senyum.
aisyah pun tersenyum malu. kini kebahagian mereka tak ada yang menghalangi. kecuali takdir tuhan. semua masa lalu aisyah dan rahmad telah mereka hanyutkan disungai batang hari yang indah. dari cahaya sore, hati kecil rahmad akan setia menjaga cinta suci gadis batang hari. aisyah. isterinya.
"benarkah itu sul?" tanyanya tak percaya "mengapa kau tega melakukan ini kepada ku, hatiku sakit mendengar ini sul. selama ini aku setia menunggumu. kau sudah berjanji padaku sepulang dari kerja, kau akan menikahiku." ucap aisyah menangis.
hati aisyah hancur berkeping. hatinya serasa terkoyak. ingin rasanya ia menjatuhkan dirinya dari tebing sungai batang hari. ingin rasanya ia pergi kejamban itu untuk menghanyutkan dirinya.
"mengapa kau secepat ini berubah sul?" tangisnya "kau balas pengorbananku selama ini menunggumu dengan cara seperti ini? kau jahat sul"
sejenak aisyah luluh. lari dan meninggalkan syamsul. air mata yang selalu mengalir di pipinya. tak kuasa dia menahan rasa sakit hatinya. bahkan hatinya lebih sakit saat dia mendengar syamsul akan pergi beberapa tahun yang lalu. syamsul hanya diam, menengok pun tidak juga. dia merasa amat bersalah pada aisyah. diambilnya undangan yang terjatuh dari tangan aisyah. di lihatnya undangan itu. terjatuh air matanya diatas undangan itu. syamsul menangis. digenggam tangannya dengan erat. dibuangnya undangan di tangannya itu dan lalu pergi.
sementara itu. laki-laki yang dibalik pohon besar itu melihat dengan mata penuh dengan ambang kebingungan tak percaya. rahmat hanya diam tak bersuara. sekali-kali menghirup nafas dalam. ia tak tahu apa yang harus dia lakukan. hatinya sakit melihat wanita yangdicintainya itu bersedih hati.
aisyah duduk diatas kursi tua diteras rumahnya. air matanya tertumpah tiada henti. dia selalu mengiangat kata-kata syamsul tadi. begitu tega syamsul mempermainkan cinta aisyah.
***
beberapa minggu setelah itu.
pada suatu petang itu. tampak seorang wanita berjilbab putih kebiruan tegak berdiri melihat sungai yang nan elok itu.ditangannya ia memegang kerikil kecil. kadang ia melemparkan kerikil itu ke sungai. mencoba menghibur diri melihat ikan kecil menari bermain menangkap buih-buih ditepi batang jamban. dari belakang wanita itu. seorang pemuda berkopiah hitam datang tiba-tiba dan berdiri disampingnya.
"assalamualaikum?" ucapnya
wanita berjilbab itu terkejut dan menengok pemuda itu.
"waalaikumsalam" jawabnya pelan tak kuasa.
"aku tahu perasaanmu kini syah. tak mudah menerima ini semua. tapi, apa boleh buat." tuturnya lembut "ini adalah takdir, syah. tuhan sedang menguji imanmu"
aisyah hanya diam. tak hayal melihat ombak kecil yang berpercik kecil di tepi sungai.
"banyaklah bertawakal dan ikhlas. percayalah syah, dibalik semua kejadian ini ada hikmahnya. dan kau akan mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari syamsul"
setelah itu rahmad pergi. beberapa langkah dari aisyah kakinya terhenti kemudian melihat aisyah. dia berharap aisyah kan mengerti dengan kata-katanya tadi. dia berharap akan dapat menggantikan syamsul.
hari berganti hari. rahmad begitu rajin bertandang kerumah aisyah untuk sekedar menghibur hatinya. tampak diraut wajah aisyah kembali tersenyum setelah kejadian yang beberapa lalu. mereka pun kadang duduk berdua ditepi sungai batang hari. dan kadang pula mereka bermain perahu di tengah sungai. kemudian terbayang-bayang pula dalam ingatan aisyah kejadian-kejadian yang telah lalu, pergaulannya dengan syamsul.
"syah, mau kah kau menikah denganku?" pemuda berkayuh itu bertanya
cahaya merah matahari amat elok. ombak kecil menerpa perahu mereka. angin tak begitu deras. mata aisyah termenung. tak tahu harus menjawab apa. matanya tampak keraguan. dia tak ingin kejadian yang menyakitkan hatinya akan terulang kembali. katanya mungkin rahmad mencintainya dengan rasa kesihan. karena ditinggal pergi tunangannya menikah dengan orang lain. tapi, dia juga melihat mata pemuda itu penuh dengan keyakinan yang kuat.
"mungkin ini berat bagimu. sebenarnya aku tak tahu lagi dengan perasaanku denganmu. aku berkata seperti ini bukan kasihan denganmu. tapi, percaya lah aku menyayangimu"
mendengar hal itu hati aisyah menjadi gempar. lalu badannya dingin. matanya agak berlinang. kemudian dengan pelan pula ia berkata pada rahmad
"aku tak bisa menjawab sekarang. beri aku untuk meminta petunjuk dengan allah"
rahmad diam menganggukkan kepalanya. dia amat mengerti dengan semuanya. pemuda itu pun berbiduk ke tepi.
"aku ingin malam jum'at nanti kau datang kerumahku" ucap wanita itu diatas jamban "jangan lupa membawa kedua orang tuamu"
sementara itu rahmad tak bersuara, dia sibuk mengikat tali perahu di sela kayu penyangga jamban. kepalanya hanya mengangguk setiap mendengar ucapan aisyah.
***
malam jum'at itu. rahmad terlihat memakai batik jambi bercorak angsa amat tampan kelihatannya. ia melangkah kerumah aisyah dengan orang tuanya. sebelumnya, rahmad telah memberi tahu kepada kedua orang tuanya maksud kedatangan mereka malam jum'at kerumah aisyah. setelah sampai diteras rumah
"assalamualaikum?" ucap ayah rahmad
"waalaikumsalam" terdengar ibu aisyah menyahut
"pak marzuki, ibu ina. masuk. mari. duduk lah. saya hendak memanggil suami saya dulu"
sementara ibu aisyah memangil suaminya. rahmad dan kedua orang tuanya duduk diatas kursi yang sedikit agak tua.
"pak marzuki?" sapa ayah aisyah saat melihat ayah rahmad "apa kabar?" lalu menyalami semua keluarga rahmad."mari duduk. ibu suruh aisyah buat air minum" pinta ayahnya pelan
"jangan susah payah begitu pak ali. jadi tidak enak"
"tak apa lah. jarang-jarang pak ali bertandang kerumah kami"
ketika saling sapa, mereka pun tertawa dengan pulasnya. sementara itu terlihat aisyah membawa air teh hangat. diberinya air itu pada rahmad dan kedua orang tuanya. saat ingin berdiri, ibu rahmad berkata
"bisakah kau duduk bersama kami syah?" pintanya.
aisyah hanya diam menundukkan kepala dan duduk disamping ibunya. dan ayah rahmad mencoba menjelaskan maksud kedatangannya.
"maaf sebelumnya pak, ibu.kedatangan kami mengganggu waktu istirahat bapak dan ibu. seperti ini.. " jelasnya patah-patah "anak saya rahmad, sudah lama menyimpan perasaan ini. dia tidak berani mengatakan sebenarnya pada aisyah. kita bukan mencari kesempatan dalam kesempitan."
"jangan seperti itu pak. silahkan jelaskan lah."
"sebenarnya anak saya rahmad ingin menikahi anak bapak dan ibu. aisyah"
didalam bilik itu jadi sunyi senyap. sunyi sebagai di dalam kubur hanya dengingan jengkrik saja yang kedengaran. sementara itu, pemuda berbatik itu tak bersuara. tak hayal menundukkan kepala. begitu pun aisyah. ia hanya diam disamping ibunya memeluk tempat air yang sudah ia bawakkan tadi. kedua orang tua aisyah dalam kebingungan. mereka tak mengerti. sebelumnya aisyah tak pernah memberi tahu bahwa rahmad ingin menikahinya. tetapi, orang tua mana yang tidak ingin anaknya mendapat suami seperti rahmad. baik, shaleh dan tidak sombong. didalam hening itu ayah aisyah berkata
"maaf sebelumnya. sejujurnya saya dan isteri saya tidak mengetahui maksud kedatangan bapak dan ibu kerumah saya. begitu pun dengan rencana rahmad ingin meminang anak saya. saya tidak ingin mengikut campur dalam masalah ini. yang menjalankan rumah tangga nanti aisyah anak saya. jadi keputusannya kami serahkan pada anak saya"
"bagaimana nak, syah?" tanya ayah rahmad lembut
aisyah serentak menunduk. matanya menoleh kebawah mencoba mencari petunjuk.
"kami terima dengan senang hati apabila anak aisyah menolak pinangan rahmad. kami tidak memaksa anak aisyah"
terlihat mata rahmad bertanya-tanya. matanya tergambar kepasrahan. tapi ia tetap sabar.
"aku terima pinangan rahmad" ucap tegas aisyah.
semua terkejut. mata rahmad terpancar kepuasan. karena harapannya terjawab. ibu dan ayahnya tersenyum begitupun dengan ayah dan ibu aisyah.
"tetapi saya minta beberapa syarat?"
"apa itu" tanya ibu rahmad "katakanlah?"
"syarat yang pertama. apabila nanti saya menikah dengan rahmad, tidak ada yang melarang kapan pun jika saya ingin pulang kerumah ibu saya. yang kedua saya tidak ingin ada kecurigaan yang berlebihan jika nanti telah menikah. dan yang terakhir. saya ingin selama saya bernafas suami saya tidak boleh menikah lagi. kecuali bila saya sakit parah. apa bila tiga persyaratan itu sanggup dipenuhi aku akan menerima pinangan dari rahmad" tutur aisyah dengan arif.
"bagaimana, mad?" tanya ayahnya
"insyallah aku akan menyanggupi" jawab rahmad penuh keyakinan
"baiklah, aku terima pinangan rahmad"
"alhamdullaah, allahu akbar" ucap syukur rahmad mengusap kedua tangannya.
"alhamdulillah" ucap kedua orang tua rahmad dan aisyah.
"baiklah, pernikahan ini segera dilakukan. saya sudah memilih waktu yang abik dalam bulan ini. bagaimana pernikahan ini dilaksanakan dau minggu lagi?"
rencana ayah rahmad pun disetujui kedua belah pihak. kini hati rahmad legah. sekali-kali ia menghembuskan nafasnya dengan pulas. setelah mendapatkan titik temu yang terbaik, rahmad dan kedua orang tuanya pun pulang dengan hati riang. keinginan rahmad menjadi suami aisyah bakal terwujud. dia berjanji akan menjaga aisyah nantinya.
kesibukan pun terlihat dirumah rahmad. berbagai persiapan untuk hari pernikahan pun telah selesai. corak islam dan adat melayu jambi menghiasi tenda-tenda yang terbentang besar. begitu gagahnya rahmad memakai baju adat jambi berwarna merah hati bercorak angsa sepasang. di pinggang terlihat keris siginjai menancap dengan gagahnya. aisyah tampak berseri, ia selalu tersenyum. dengan baju adat melayu jambi dihiasi bungai teratai dan melati menghiasi kepalanya ia pun terlihat amat cantik. selesai ijab kabul dibacakan rahmad dan aisyah pun berdiri berdua menyalami tamu yang hadir. mereka bak raja dan ratu di hari itu.
kini cinta rahmad dan aisyah bersatu. amat bahagia rahmad menjadi suami wanita yang ia cintai. begitu pun dengan aisyah.
kebahagian semakin menyelimuti aisyah dan rahmad. cahaya langit sore itu tampak amat segar. terlihat rahmad dan aisyah berkayuh pelan menyusuri sungai batang hari. batang hari menjadi saksi bisu perjalanan kisah pedih aisyah hingga kini menjadi isteri rahmad.
"tak kusangka , kini kita menjadi suami isteri. dulu aku hanya bisa berkhayal bisa menjadi suamimu." tutur rahmad senyum.
aisyah pun tersenyum malu. kini kebahagian mereka tak ada yang menghalangi. kecuali takdir tuhan. semua masa lalu aisyah dan rahmad telah mereka hanyutkan disungai batang hari yang indah. dari cahaya sore, hati kecil rahmad akan setia menjaga cinta suci gadis batang hari. aisyah. isterinya.
SYAMSUL BAHARI
SMAN 2 MUARO JAMBI
089699541923




Tidak ada komentar:
Posting Komentar