Senin, 12 Agustus 2013

MERDEKA INDONESIA


“OI, KAMI INGIN MERDEKA. KAMI ADALAH ANAK BUKAN TERNAK”




Genap sudah Soekarno-hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia ke-68. Terbilang usia Indonesia setengah abad lebih Indonesia masih tergak berdiri bersaing dengan Negara lain. Bapak proklamator Indonesia telah memperjuangkan Indonesia dari tangan penjajah. Untuk menghormati jasa-jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan tanah air setiap tanggal 17 agustus diperingatkan hari kelahiran tanah air Indonesia yang dahulu telah di merdekakan oleh soekarno-hatta pada tanggal 17 agustus 1945. Pada kesempatan ini, saya mewakili anak putra putri tanah air untuk mendeskripsikan arti merdeka yang sesungguhnya. Dalam tulisan ini saya tidak bermaksud untuk menyinggung atau pun mencelah pihak lain. Tulisan ini adalah sebagian kecil kritikan untuk orang tua ataupun pemerintah dari anak Indonesia.
Bila kita berbicara masalah merdeka. Sesungguhnya dari 68 tahun silam Negara Indonesia telah mendapatkan kemerdekaannya. Dalam garis besar saya mengartikan merdeka adalah bebas. Sampai saat ini Negara Indonesia sudah merdeka. Tapi bagaimana dengan rakyat Indonesia? Apakah sudah merdeka?
Salah satunya adalah anak. Anak merupakan amanat dan sekaligus karunia tuhan yang maha esa yang dalam dirinya melekat harkat dan mertabat seutuhnya. Sebagai tunas bangsa, mempunyai potensi, mempunyai peran strategis bagi kelangsungan eksistensi bangsa dan Negara. Oleh karena itu Negara dan orang dewasa perlu memberkan perlindungan dan kesejahteraan anak, antara lain melalui pemenuhan hak dan partisipasi anak.
Sebagian dari anak Indonesia belum merasakan arti merdeka. Banyak yang terlahir dari keluarga miskin terpaksa tidak bersekolah. Setiap harinya mereka membantu orang tua untuk mencari uang agar memenuhi kebutuhan sehari-hari. Anak-anak jalanan yang jarang diperhatikan, mereka setiap harinya berhadapan langsung dengan kekerasan dilingkungan masyarakat. Misalnya diperas preman-preman yang berkeliaran di masyarakat. Si preman tak segan-segan melakukan kekerasan kepada anak apabila ia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan dari si anak. Begitukah kemerdekaan bagi anak Indonesia?
Saat ini pemerintah berupaya untuk mengurangi jumlah anak jalanan di Indonesia. Anak-anak jalanan di bawa ke panti asuhan atau lembaga-lembaga yang meneampung anak yang sudah tidak mempunyai orang tua lagi. Tujuannya agar mereka terhindar dari kekerasan yang terjadi dimasyarakat dan juga mereka diberi pengajaran di lembaga tersebut.
Tapi apakah orang tua sudah melindungi anak dari kekerasan?. Akhir-akhir ini banyak kita jumpai orang tua yang menyiksa naak kandungnya sendiri. Bahkan ada yang tega membunuhnya. Berbagai alasan dikatakan oleh orang tua yang tega melakukan kekerasan itu. Salah satunya, anak tidak menurut apa kata orang tuanya, atau anak membantahperintah orang tuanya. Memang salah satu kewajiban anak terhadap orang tuanya adalah patuh dan taat pada segala perintah orang tua ynag tidak bertentangan  dengan agama. Namun apakah sikap ornag tua seharusnya seperti itu? Sebaiknya orang tua menasehati terlebih dahulu kepada anak untuk menuruti perintahnya.

Terkadang orang tua hanya bersikap semaunya. Tidak memikirkan akibat yang akan diterima olehnya maupun anaknya. Orang tua juga hanya menuruti egois dan nafsunya pada saat lagi marah. Bahkan anak terkadang dijadikan sperti hewan ternak. Pabila anak tidak mengikuti pa yang dikatakan orang tuanya, amak sia anak akan dipukul seperti kerbau yang bejalan tidak sesuai keinginan  pemiliknya. Apabila kerbau lari dari gerombolannya maka akan dipukul.
Lalu bagaimana dengan pemerintah? Apa sebenarnya fungsi UU No. 4 tahun 1979 tentang kesejahteraan anak. UU No. 39 tentang hak asasi manusia. UU No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak?
Begitu susah payah pemerintah membentuk UU dan lembaga-lembaga perlindungan yang menyatakan untuk melindung dan mensejahterakan anak. Tetapi sampai saat ini ternak anak masih meraja lela di Indonesia.
Bagi orang tua. Kami adalah anak bukan ternak. Jangan samakan kami dengan kerbau atau hewan ternak lainnya. Apa bila tidak mengikuti perintah kami akan dipukul. Kami tidak membutukan pukulan itu. Tapi, kami membutuhkan hak dan kewajiban kami sebagai anak. Kami membutukan kasih sayang bukan pukulan. Kami membutukan pendidikan bukan mengamen disepanjang jalan lampu merah. Kami membutuhkan perlindungan bukan pelecehan seksual. Kami membutuhkan semua hak dan kewajiban kami.

Kami ingin merdeka. Kami tak ingin dijadikan budak oleh orang yang menindas kami. Untuk pemerintah, tolong sampaikanlah perlindungan itu kepada kami. kami tak ingin merdeka hanya dirasakan oleh Negara Indonesia tapi kami anak Indonesia juga ingin mendapatkan kemerdekaan itu.
SYAMSUL BAHARI
SMAN 2 MUARO JAMBI
089699541923         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Inovasi Media Pembelajaran Berbasis Android

PEMBELAJARAN IPA TERINTEGRASI ETNOSAINS Kurikulum merdeka belajar memiliki empat karakteristik utama untuk mendukung pemulihan pembelajaran ...