Minggu, 20 September 2015

nadir




LELAKI PUJAAN...
Pagi buta sekali wanita sederhana itu telah tebangun dari mimpinnya. Tepat pada pukul 4.30 pagi wanita itu bergegas membantu sang ibu membuat kue untuk dijual. Gadis itu hanya hidup dengan ibunya tiga tahun yang lalu setelah ayahnya meninggal, dia harus bekerja keras untuk membantu ibunya berjualan untuk membiayai sekolahnya. Nadir begitulah  orang-orang memanggilnya. Wanita yang tak cantik dan tidak kaya tapi dia memiliki hati yang baik. Cita-citanya menjadi guru membuatnya harus membanting tulang hingga tak kenal lelah, letih dan dahaga untuk mencari uang agar terus bersekolah. Didalam rumah gubuk yang kecil itu nadir banyak menghabiskan waktu-waktunya didapur. Kebanyakan anak-anak sebayanya asik bermain namun tidak dengannya. Hidup nadir memang malang semua orang menjauhinya, entah mengapa semua orang membencinya. Mungkin karena dia tidak cantik? Atau mungkin dia miskin? Entahlah. Tak hanya dirumah dia dibenci orang. Disekolah dia juga terbuang, terkucilkan  oleh temannya. Memang malang nasib gadis itu.
“sudah berapa banyak kuenya, dir?” tanya ibunya
“lumayan banyak buk”
Didalam gubuk itu terdengar ibu dan anaknya sedang asik bercakap-cakap. Nadir yang duduk diatas kursi yang tua itu sedang menghitung kue yang akan dibawaknya kesekolah. Setiap hari nadir selalu membawa kue hasil buatan ibunya kesekolah untuk dijual. Alhamdulillah kue nadir selalu habis terjual.
“nanti kamu titipkan saja dikopsis sekolahmu. Tidak usah dijaga. Nanti pelajaran kamu terganggu. Sebentar lagi kan kamu mau ujian. Kamu harus belajar biar lulus” ucap wanita separuh baya itu pada anaknya.
“iya buk” tegas anaknya yang tak hayal menghitung kue didepannya.
“iya sudah. Mandi sana nanti kamu kesiangan berangkat kesekolah, ini biar ibu saja yang merapikan” sebut ibunya
Wanita itu tidak bersuara. Dia hanya mengikuti apa kata ibunya. Mentari pagi bersinar cerah hingga tampak masuk disela-sela atap rumah tua  yang berlubang. Hanya rumah tua yang rapuh inilah harta satu-satunya yang dimiliki oleh nadir dan ibunya. Ayahnya tidak meninggalkan banyak harta untuk keluarganya. Sepoi angin pagi terasa berhembus menari-nari diatas kulit hingga menusuk kedalam tulang. Didalam gubuk rumah yang tua itu tampak nadir berhias diri memakaikan pakaian sekolahnya. Terlihat juga ibunya sedari tadi siap pergi kepasar untuk berjualan kue hasil buatannya.
“nadir berangkat sekolah dulu ya buk?” ucap nadir sambil mencium tangan ibunya
“iya. Hati-hati nak”
Gadis berjilbab putih itu pun langsung pergi dan melangkah kesekolah. Terlihat ditangan kanannya dia membawa bingkisan kue hasil buatannya untuk dijual. Sinar mentari yang menyengat kulit selalu mengiringi langkah gadis berjilbab itu kesekolah. Nadir sungguh anak yang sederhana. Tidak pernah meminta lebih pada tuhan. Dia selalu bersyukur apa yang sudah tuhan berikan pada dirinya. Dia tidak pernah meminta kaya, dia pun tidak pernah meminta menjadi cantik. Dia bersyukur telah dikaruniai keluarga yang baik padanya. Panas pagi agak membuat nadir letih, terlihat sekali-kali dia menghapus keringat yang bercucuran dipipinya. Setiap hari dia melakukan hal yang sama untuk berangkat kesekolah. Tidak ada temannya yang bersedia membantunya. Jangankan membantu, melihatnya saja tidak ada yang sudi.
Setibanya disekolah. Nadir langsung menuju kopsis sekolah untuk menitipkan kue yang telah dibuatnya. Suasana terasa panas menyengat. Pagi itu memang sangat terasa berbeda, cuaca yang panas. Nadir pun melangkah kekelasnya. Kelas nadir agak jauh, tepat samping perpustakaan sekolah. Beberapa langkah dari kopsis tiba-tiba terdengar suara yang memanggil nama gadis itu.
“nadir” teriaknya
Wanita itu pun mencoba mencari-cari sumber bunyi tersebut. Dia menengok kekiri dan kekanan tapi dia tidak menemukan siapa yang memanggilnya. Lalu gadis itu mengabaikan suara itu. Mungkin dia salah dengar pikirnya dalam hati.
“nadir?” teriaknya lagi
Itu benar-benar memanggil namaku sebutnya dalam hati. Tetapi siapa yang memanggil nama wanita itu? Ah suara itu membuatnya penasaran. Tak hayalnya nadir menengok kekiri dan kekanan alangkah sukanya saat gadis itu melihat wanita cantik berkaca mata yang melambaikan tanganya dibalik kerumunan siswa dihadapannya itu. Itu ternyata fatimah. Sahabatnya. Fatimah memang berbeda dengan nadir sungguh berbeda. Fatimah memilki rupawan yang sangat elok, dia juga pintar, dia anak orang yang berada dan terpandang. Sungguh jauh berbeda dengan nadir yang memiliki banyak kekurangan. Fatimah anak yang baik dan tidak sombong. Hanya dia yang bersedia menjadi sahabat nadir. Disaat semua orang menjauhinya fatimah datang bagaikan malaikat penyelamatnya.
“fatimah?” serunya
”kamu dari mana, dir?” tanya wanita yang cantik itu
“aku dari kopsis. Antar kue ibuku” jawabnya
“berapa banyak ibu kamu buat kue hari ini?” tanyanya kembali
“iya, seperti biasa” katanya “oh iya, kamu sudah belum tugas fisika?” tanyanya malu
“sudah. Kamu?” ucapnya pada nadir
Dengan malu-malu nadir menjawab “e-e belum mah. Aku tidak mengerti. Mau tidak kamu mengajari aku” tanyanya
“serius kamu belum?”
“iya aku belum selesai”
“iya sudah nanti aku ajari kamu dikelas. Ayo kita kekelas sebentar lagi mau masuk” ajak gadis itu pada nadir
Dalam setiap langkah mereka tersimpan harapan yang besar pada kedua wanita yang berjalan itu. Terutama pada nadir. Dia selalu bertanya-tanya pada dirinya. Akan menjadi apa dirinya kelak? Akankah dia menjadi bintang yang paling bersinar diantara bintang-bintang yang lain dengan kekurangan yang dia miliki? Ataukah dia akan menjadi penerus ibunya menjual kue? Dia selalu meratap nasibnya yang tak menentu arah. Sering kali dia menyendiri disudut sekolah dan bertanya-tanya pada siapa saja yang di lihatnya. Mungkin pada semut merah yang berbaris didinding itu, atau mungkin pada rumput ilalang yang bergoyang, atau tidak bertanya sama siapa pun? Dia selalu bertanya adakah orang yang menyukainya? Sungguh jauh pikirannya. Terkadang terbesit dibenaknya tentang laki-laki dipujaannya. Rivandi nama laki-laki pujaannya itu. Laki-laki yang ia kenal sejak awal masuk kesekolah dan kini mereka satu kelas. Nadir menyadari akan dirinya. Tidak mungkin rivandi yang memiliki wajah yang tampan rupawan menyukai gadis yang tidak cantik dan tidak kaya sepertinya. Nadir tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada laki-laki itu. Dia menyimpan perasaannya itu dalam selembar buku catatannya. Terkadang datang rasa benci pada laki-laki pujaannya itu. Setiap kali laki-laki itu mencaci akan keburukan rupa gadis berjilbab itu. Seringkali menghina akan kekurangannya.
“aku nanti boleh main ketempat kamu tidak, dir?” tanya wanita yang duduk disamping gadis berjilbab itu
“main kerumah aku? Tapi rumah aku tidak bagus, mah?” jawab nadir
“tidak apa-apa. Aku  pengen melihat sungai didekat rumah kamu”
Nadir hanya tersenyum mendengar kata-kata sahabatnya itu. Suasana terasa menyengat. Suasana kelas tampak tak enak. Gelisah dan gerah yang terasa ditubuh. Nadir dengan cepatnya menulis tugas fisikanya. Sekali-kali dia melihat kearah laki-laki yang duduk dikursi sudut depan kelas itu. Dia tersenyum saat melihat laki-laki itu. Tenyata dia adalah rivandi laki-laki pujaannya. Sekali-kali laki-laki itu pun melihat kegadis yang menulis itu. Entah apa yang dilihatnya. Apa dia melihat nadir? Apa yang lebih dari gadis itu? Sehingga dia melihatnya. Atau mungkin dia melihat gadis berkaca mata samping nadir itu? Entahlah.
Dilihatnya laki-laki itu berulang-ulang. Laki-laki itu mendekatinya. Mengapa? Hatinya semakin tak tertahan bergetar. Langkah laki-laki itu semakin mendekatinya. Memang benar laki-laki itu mendekati meja nadir.
“fatimah. Nanti aku mau berbicara padamu?” sebut laki-laki itu
Betapa kecewanya wanita itu. Ternyata laki-laki itu bukan bercakap denganya tapi dengan fatimah yang duduk disampingnya. Senyumannya pun terlihat mengerut masam. Harapannya laki-laki itu berbicara padanya. Tapi. Ah sudahlah. Gadis itu melanjutkan kembali menulis yang sempat terhenti karena laki-laki itu.
“denganku? Mau berbicara masalah apa?” tanya wanita cantik itu
Lalu laki-laki itu melihat kearah gadis yang sedang menulis itu. Mengapa dia melihatnya dengan benci seperti itu?
“nanti saja. Aku tunggu disudut belakang sekolah” ucap laki-laki itu
“mengapa tidak sekarang saja?” sebutnya
Lalu laki-laki itu melarikan diri tanpa menyimak permintaan fatimah. Nadir hanya diam menunduk tak mengerti. Dia mencoba menjelaskannya. Tapi tidak bisa. Perkataan laki-laki itu membuatnya penasaran. Apa yang ingin dia katakan pada fatimah? Laki-laki itu membuat hati gadis itu sakit. Dia begitu kejam. Dia tidak menjaga perasaannya. Sedangkan wanita yang cantik itu kembali membaca buku didepan. Dia tidak begitu menampik perkataan laki-laki yang tampan itu. Mengapa nadir begitu penasaran? Sungguh perasaan itu membuatnya berubah.
Tepat jam 10 pagi. Suasana menjadi pecah saat jam istirahat tiba. Hawa panas masih terasa dikulit. Daun-daun jatuh berguguran tertiup angin. Angin yang sepoi-sepoi behembus hingga terkena kulit dan terasa agak sejuk. Gadis cantik berkaca mata itu melangkah kesudut sekolah untuk bertemu dengan laki-laki yang sudah ia janji akan menemuinya. Gadis cantik itu tidak seorang diri. Terlihat disampingnya wanita berjilbab putih berjalan menelusuri alun-alun sekolah bersama fatimah. Dengan hati yang sangat berat nadir melangkah kesudut sekolah untuk menemani fatimah menumui laki-laki itu.
“maaf, sudah membuat kamu lama menunggu” sebut wanita cantik itu pada laki-laki didepnnya.
Laki-laki itu tidak menyadari kedatangan gadis-gadis itu. Laki-laki itu berdiri menghadap dinding. Entah apa yang dilihatnya. Sementara itu, wanita berjilbab putih itu hanya berdiam diri tegak disamping fatimah dan tak hayalnya menundukkan kepalanya. Mendengar itu laki-laki itu pun membalikkan badanya kearah kedua gadis yang menemuinya. Setelah melihat keduanya, mata laki-laki itu temenung. Dia terdiam tak bersuara. Sesaat terdengar dia menarik nafas dalam. Dilihatnya gadis yang berjilbab putih itu dengan sangat benci.
“kamu mau berbicara apa?” tanya fatimah kembali
“hei, mengapa kamu disini?” tanya laki-laki pada wanita berjilbab itu
Nadir hanya diam tak bersuara. Dia pun tak bergerak sedikit pun. Terlihat jilbabnya bergelombang tertiup angin. Dia selalu menundukkan kepalanya. Tak berani untuk melihat laki-laki yang ada dihadapannya itu. Sesaat suasana hening. Tak ada suara yang terdengar dari wanita yang cantik itu maupun laki-laki yang tampan itu.
“aku yang mengajak dia kesini?” sebut gadis berkaca mata itu
“mengapa?” tanya laki-laki itu
“apa salahnya?”
“aku tidak suka melihat dia” tutur laki-laki itu
Entah apa yang membuat laki-laki itu sangat benci pada nadir. Seakan jijik melihat kehadiran wanita itu. Percakapan itu membuat nadir  semakin tak mengerti. Dia mencoba untuk memahaminya tapi dia tak sanggup. Dilihatnya laki-laki dihadapannya itu. Lalu dia kembali menundukkan kepalanya. Laki-laki itu melihatnya dengan benci pada nadir. Dilihatnya mata rivandi yang tegak berdiri tepat didepannya. Matanya terlihat merah. Sepertinya dia marah pada wanita itu.
“kamu mau berbicara apa?” tanya kembali gadis cantik itu
Laki-laki itu hanya diam. Tak menjawab pertanyaan gadis yang berdiri disampingnya itu. Lalu laki-laki itu melihat kearah gadis yang bertanya itu. Matanya kosong tak ada arti. Mungkin dia kecewa dengan kedatangan gadis berjilbab itu. Kedatangan yang tak pernah diharapkannya. Sekian lama menunggu jawaban dari mulut laki-laki itu dan tak kunjung jua terdengar sepatah pun. Lalu wanita cantik itu pun menarik tangan nadir dan langsung meninggalkan laki-laki itu seorang diri. Laki-laki itu hanya terdiam, berdiri melihat kepergian dua gadis itu dari hadapannya. Dia tidak menahannya dan membiarkan wnita itu pergi.
Mata laki-laki itu terlihat merah. Dia marah, kecewa, dan tak tentu arah. Sedangkan kedua gadis itu semakin menghjilang dari hadapan rivandi dan berjalan menuju kelasnya. Ditengah perjalanan, nadir selalu bertanya-tanya apa, yang dia ingin bicarakan pada fatimah. Mengapa dia hanya diam saat ditanya? Nadir menyadari akan hal itu. Rivandi tidak menginginkan kedatangannya. Dia sangat membenci nadir mungkin itu alasannya. Oh tuhan apakah itu salah ku? Ucapnya dalam hati.
“maafkan aku fatimah? Karena aku, kau tidak bisa berbicara dengan rivandi?” sebutnya
Gadis cantik itu tak menghentikan langkah kakinya mendengar ucapan sahabatnya itu, dia tetap berjalan menyusuri ubin demi ubin setiap kelas yang dilewati mereka.
“tidak dir. Ini bukan salah kamu. Dia sendiri yang tidak mau berbicara. Aku sudah menemuinya disudut sekolah. Tapi dia hanya diam saja” ucap fatimah
“dia benci padaku. Dia tidak suka melihat akan kedatanganku” sebutnya kemudian “kalau tahu terjadi seperti ini aku tidak akan datang bersama kamu menemuinya, fatimah” ucap wanita berjilbab itu.
Langkah fatimah pun terhenti mendengar perkataan nadir. Sesaat matanya memandang kedepan, dia mencoba untuk menarik nafas agar dapat menjelaskan perkara ini pada nadir. Sekali-kali dia jua melihat kearah siswa yang didepanya.
“tidak dir. Ini bukan salah kamu. Dari awal aku sudah curiga dengan ajakannya. Kamu tidak salah” tutur wanita cantik itu
Mendengar itu hati Nadir pun luluh tak berdaya. Dilihatnya wanita cantik dihadapannya itu. Sungguh dia memang cantik. Matanya sungguh indah. Wajahnya bersih seperti kapas sangat lembut. Tak heran laki-laki tampan seperti rivandi jatuh cinta pada wanita cantik itu. Dia juga baik dan pintar. Tapi fatimah tidak pantas memiliki rivandi yang sombong dan angkuh. Kadang nadir sangat benci pada rivandi laki-laki itu kala dia mencibiri dirinya didepan siswa yang lainnya. Terkadang kebencian pada laki-laki itu sempat hilang dibenak nadir, saat dia melihatnya. Rasa suka dan cinta yang  tergambar dipikirannya. Keinginannya sangat besar untuk menjadikan rivandi kekasihnya. Namun. Kadang dia jua menyadari akan sesuatu hal yang kurang pada dirinya.







FATIMAH, SAHABATKU!!
“enak ya suasana rumah kamu?” sebut fatimah
“ah, enak bagaimana? Suasa perkampungan” jawabnya
“rumah nenek aku juga seperti ini suasananya, aku suka”
Dua wanita sebaya itu duduk ditepi sungai yang terbentang luas. Hembusan angin yang menerpa membuat mereka sejenak menghilangkan dahaga panas yang terasa sejak dari pagi. Dua sahabat itu tak hayalnya bercerita sambil melihat-lihat aliran sungai yang mengalir dari hulu kehilir.
“setelah SMA kamu mau melanjutkan kemana, dir?” tanya fatimah
Wanita berjilbab itu terdiam sejenak. Mungkin dia ingin merangkai kata-kata untuk menjawab pertanyaan sahabatnya itu. Dia tampak seperti orang yang bodoh, matanya entah melihat kemana. Mungkin dia melihat ikan yang bermain didalam air. Atau dia melihat segerombolan buih-buih kecil yang mengalir atau dia tidak melihat apa-apa.
“entahlah. Mungkin tidak” jawabnya lesu
“mengapa?” tanya sahabatnya kembali
“aku ingin mengubah nasibku. Aku ingin mengejar cita-citaku. Tapi aku menyadari akan kekuranganku. Aku tidak pintar, aku tidak memiliki uang yang banyak untuk melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi lagi” cerita wanita yang duduk temenung itu.
“nadir. Kamu jangan berbicara seperti itu. Tidak baik. Aku tahu kamu punya kemampuan, kamu harus berusaha, jangan putus asa” sebut wanita cantik itu
“selama ini aku sudah berusaha untuk itu. Tapi aku tidak bisa”
“jangan berbicara seperti itu, dir. Kamu harus yakin pasti bisa. kalau kamu menjadi orang yang hebat, melanjutkan       kuliah tak perlu membayar lagi” cetusnya lalu “mengapa kamu tidak mencoba mengambil beasiswa saja.”
“beasiswa hanya untuk orang pintar, mah. Orang yang mendapat nilai tertinggi seperti kamu. Kalau seperti aku, ya pasti tidak akan diterima”
Sekian lama dua sahabat itu berbincang. Ingin rasanya fatimah menangis mendengar curahan hati sahabatnya itu. Terlihat sekali dia menghapus air matanya yang terjatuh membasahi pipinya. Cerita sahabatnya itu sangat menyentuh jiwa fatimah. Dia sungguh bersedih hati. Dipandanginya wanita yang ada didepannya itu. Dia tersenyum, entah mengapa yang membuatnya tersenyum. Namun nadir tidak menyadari itu.
“aku bangga padamu, dir” ucapnya tiba-tiba
Wanita itu pun tertawa kecil mendengar ucapan sahabatnya itu.
“apa yang kau banggakan dari ku fatimah?” tanyanya kemudian “aku tidak memiliki kelebihan. Aku tidak cantik, aku tidaklah pintar. Aku tidaklah kaya banyak uang. Semua orang menjauhiku”
“aku bangga padamu, dir. Kamu adalah wanita yang hebat, mencari uang untuk makan, untuk sekolah. Sedangkan aku? Hanya bisa menikmati uang dari orang tuaku”
“bukankah itu enak? Tidak perlu bekerja keras untuk mendapatkan uang” tanya nadir
“itu hanya membuat anak menjadi manja. Tidak mau berusaha. Tidak mau mandiri”
“itu namanya orang tua kamu masih sayang padamu”
“maksudmu, dir?” tanyanya
“iya. Orang tua kamu tidak ingin melihat anaknya bekerja keras. Tidak ingin melihat anaknya susah. Mereka ingin kamu belajar, menjadi anak yang pintar” jawab nadir
Angin sungai semakin kencang bertiup. Hembusan angin membuat mata mereka menutup kecil. Percakapan ini sangat berarti bagi dua sahabat itu. Sungguh nadir adalah wanita yang sangat baik hati. Disetiap kekurangannya tersimpan hati yang seperti permata. Fatimah sungguh beruntung mempunyai sahabat yang baik dan peduli seperti nadir. Tapi entah mengapa semua orang menjauhinya. Apa karena rupanya? Ah, itu tidaklah adil. Mengapa mereka membenci makhluk ciptaan tuhan. Bukankah nadir juga ciptaan tuhan. Nadir juga sempurna seperti orang lainnya. Bahkan nadir dikaruniakan hati seperti permata. Sangat indah.
Dua sahabat itu tak henti-hentinya menatap sungai dihadapannya. Rumah nadir yang tua itu terlihat sangat indah dari kejauhan mereka. Seperti rumah dilukisan sunggu indah.
“apakah kau menyukai rivandi?” tanya nadir pada sahabatnya
Wanita itu sungguh terkejut mendengarnya. Matanya tak melihat kemana-mana. Dia mencoba untuk memahami pertanyaan sahabatnya itu. Dilihatnya daun yang bergerak disamping kanannya itu. Wanita itu tak bersuara.
“nadir? Mengapa kau bertanya seperti itu?” sahutnya tak mengerti
“sepertinya dia menyukaimu?” tuturnya
Wanita itu kembali terdiam. Dia mencoba memikirkan kata-kata untuk mengalihkan percakapan. Entah apa yang dikatakan sahabatnya itu. Sungguh kata-katanya sulit untuk dicerna oleh pikiran wanita cantik itu.
“ah, itu Cuma perasaan kamu saja, dir. Aku tidak melihat dari sikapnya kalau dia menyukaiku” jawabnya
“aku melihatnya fatimah. Setiap dia memperhatikan kamu. Dia selalu tersenyum”
“tidak nadir. Aku tidak pernah suka padanya. Aku tidak ingin pacaran dulu. Nanti saja.” Sahutnya tersenyum malu
Betapa riangnya hati wanita berkerudung itu. Dia mendengar sendiri dari mulut sahabatnya itu kalau dia tidak mencintai laki-laki yang bernama rivandi itu. Nadir tersenyum. Entah apa yang membuatnya tersenyum. Mungkin dia tersenyum mendengar jawaban itu.
Entah sampai kapan percakapan mereka akan berakhir. Jam telah menunjukkan jam 3 sore. Sudah 2 jam lebih mereka bercakap ditepi sungai itu. Memang asyik dan menarik, hawa yang dingin membuat siapa saja yang singgah akan termenung oleh kesejukan hawa disana.
“aku pulang dulu ya, dir?” sebut wanita cantik itu
“pulang? Nanti saja.  mah?”
“sudah sore. Nanti ibu khawatir padaku” jawabnya
Akhirnya percakapan kedua sahabat itu pun berakhir. Waktu yang membatasi percakapan mereka membuat kedua wanita itu harus berpisah. Fathimah melangkah pulang menuju rumahnya sedangkan nadir kembali kerumahnya yang tua itu.
*****

Hari itu sinar matahari tak terlihat diufuk timur. Langit tampak mendung. Disekolah nadir menjalani kegiatan yang mana seperti biasanya. Setelah menitipkan kue buatan ibunya di kopsis sekolah wanita itu pun melangkah menuju kelasnya. Wanita itu sungguh tidak bersemangat bila berada disekolah. Hanya cibiran dan ejekkan yang selalu ia dengar. Ada dua orang yang selalu membuatnya terus untuk pergi kesekolah. Pertama adalah sahabatnya fatimah. Fatimah memang berbeda dengan siswa yang lainnya. Dia bagaikan angsa putih yang yang selalu menemani gagak hitam yang terbuang karena kekurangannya. Fatimah selalu mengisi hari-hari nadir disekolah dan dia juga memberi perhatian pada nadir untuk tidak putus asa menjalankan sekolahnya. Yang kedua adalah laki-laki pujaannya rivandi. Walau pun terkadang laki-laki itu sering membuat hatinya sakit karena laki-laki itu seringkali mengejeknya. Namun hatinya tetap menyukai rivandi pujaannya.
Hari itu sepertinya bukan hari keberuntungan bagi wanita berjilbab itu. Saat melangkah kekelas dia tak sengaja menabrak seseorang yang tidak dilihatnya.
“ma’af” katanya
“hei. Kalau jalan pakai mata. Lihat kedepan jangan kebawah. Dasar buruk rupa” ucap laki-laki yang menabrak itu
Betapa sakitnya hati wanita itu mendengar ucapan laki-laki yang berdiri dihadapannya itu. Dia sangat terkejut ketika melihat laki-laki itu. Dia adalah laki-laki pujaannya, rivandi. Matanya selalu menatap laki-laki itu. Sakit hatinya bertambah. Wanita itu tidak menyangka laki-laki itu berbicara sekejam itu padanya. Wanita itu hanya terdiam dan membisu. Kepalanya selalu tertunduk kebawah. Namun laki-laki dihadapannya itu selalu memaki dirinya.
“maaf rivandi. Aku tidak sengaja. Aku tidak melihatmu. Yang mana kotor, biar saya bersihkan” ucap wanita yang berdiri didepan laki-laki itu
“hei. kamu sadar tidak? Kamu itu jelek, bodoh. Jangan pernah menyentuh aku. Nanti bajuku tambah kotor kalau dipegang sama orang yang kotor” sebut laki-laki itu
Perkataan itu sangat menyakitkan hati nadir. Hati wanita itu tak dapat lagi dilukiskan, betapa hancur mendengar ucapan laki-laki pujaannya itu. Dia tidak bisa menahan air matanya. Wanita itu menangis, ingin rasanya dia berteriak pada tuhan, untuk membuatnya menjadi cantik. Sekian banyak wanita itu mendengar ejekan laki-laki itu, ingin rasanya dia memukul laki-laki itu. Digenggam tangan kecilnya itu. Dia melakukan itu bukan untuk ingin memukul laki-laki itu. Tetapi dia mencoba untuk menahan diri agar dia tidak menangis lebih kecang. Lalu wanita itu melarikan diri dari hadapan pujaannya itu. Dan laki-laki itu pun tidak menahan wanita yang besedih hati itu.
Sepanjang jalan wanita itu hanya menangis. Pikirannya tak menentu. Pikirannya entah kemana. Hatinya sangat sakit, dia hanya bisa menangis dan menangis. Hingga tiba didalam kelas wanita itu selalu menangis. Dan duduk ditempat biasanya. Pagi itu didalam kelas  terlihat sepi. Hanya wanita yang bersedih itu seorang diri terlihat. Dia menangis sekuat hati. Dia tidak percaya dengan semuanya. Sungguh tega laki-laki itu berkata demikian pada dirinya. Sekian lama wanita yang menangis itu menunggu didalam kelas terlihat seorang wanita yang datang. Dipandanginya wanita yang masuk itu. Dia tersenyum wanita cantik itu pun tersenyum. Fatimah sungguh cantik. Nadir ingin menjadi seperti fatimah mempunyai wajah yang rupawan dia ingin semua orang memujinya seperti mana setiap orang memuji diri fatimaah yang elok rupa itu. Wanita cantik itu pun melangkah berhenti tepat didepan wanita yang bersedih itu. Dan dia berkata.
“nadir?” panggilnya lalu “kamu menangis?” tanyanya
Wanita yang bersedih didepannya itu pun menjawab dengan hati yang tidak enak. Karena laki-laki pujaannya  yang telah menyakiti hatinya.
“tidak, mah. Aku tidak menangis” jawabnya mengela
“tapi mata kamu merah. Seperti menangis” tanya wanita cantik itu.
“ah, tadi aku kelilipan. Entah apa yang masuk kealam mataku” tutur wanita didepannya itu
Wanita yang sedang bersedih itu mencoba menutupi kesedihannya agar fatimah sahabatnya tidak tahu apa yang telah terjadi padanya. Wanita itu pun menjawab dengan tersenyum seolah-olah dia baik-baik saja.
“benar. Kamu baik-baik saja?” tanya wanita cantik itu kembali
Sahabatnya itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Hari itu nadir tampak tak bersemangat menjalankan hari-harinya disekolah. Laki-laki itu telah menghilangkan seleranya untuk belajar. Jam 8 tepat. Nadir melihat dengan jelas laki-laki itu masuk kedalam kelas. Dia melihatnya. Tapi laki-laki itu tidak melihatnya. Sungguh dia telah menyakiti hati wanita yang berkerudung itu. Tak sepantasnya dia mengatakan hal itu didepannya.
Hari ini sekolah nadir akan menjalankan ujian percobaan menjelang ujian nasional. Persiapan yang sangat baik telah dipersiapkan oleh wanita yang menunduk itu. Dia telah belajar setiap hari setelah membantu ibunya membuat kue. Dia ingin mendapatkan nilai yang terbaik. Dia ingin membuktikan pada semua orang kalau dirinya bisa menjadi terbaik. Suasana menjadi sunyi saat semua terlihat mengerjakan soal ujian. Wanita itu sangat bersemangat mengisi setiap butir-butir soal. Sepertinya wanita itu benar-benar belajar keras untuk mendapatkan nilai yang tinggi. 2 jam berlalu, akhirnya wanita itu pun menyelesaikan soal-soal itu. Wanita berjilbab itu keluar meninggalkan kelasnya. Dia keluar menunggu sahabatnya fatimah yang masih mengerjakan soalnya. Dia sangat percaya diri. Dia bisa menyelesaikan soal itu lebih cepat dari sahabatnya fatimah. Akhirnya wanita cantik itu pun menyelesaikan soalnya. Dua sahabat itu pun pergi meninggalkan kelasnya.
“bagaimana, dir. Soalnya?” tanya sahabatnya
“lumayan enak mah” jawabnya
“yakin lulus tidak?” tanyanya kembali
“insyallah. Aku yakin lulus mah.” Jawabnya percaya diri “aku yakin bisa mendapat nilai tertinggi. Aku akan mengalahkan nilai kamu fatimah”
Wanita yang disampingnya itu hanya tersenyum. Tak bersuara mendengar perkataan sahabatnya nadir. Tak hayalnya dua sahabat itu melangkah. Entah kemana mereka akan melangkah.
Tak pernah disangka oleh wanita itu. Tepat didepan pohon jeruk yang kecil itu dia melihat laki-laki berhenti didepan dua bersahabat itu. Dia melihatnya. Ternyata dia rivandi laki-laki pujaannya. Alangkah terkejutnya saat dia melihat mata laki-laki itu. Dia tidak dapat menahan gejolak hatinya. Antara rasa sakit karena perkataannya tadi dan  juga rasa cinta. Entah apa yang membuat laki-laki itu berdiri dihadapan kedua wanita itu. Mungkin dia ingin meminta maaf pada wanita berjilbab itu. Dipandangnya laki-laki itu, dia tersenyum kecil. Hatinya sangat senang melihat laki-laki itu. Sedangkan wanita yang berdiri disampingnya itu melihat rivandi dengan wajah yang tak mengerti. Dia mencoba untuk menjelaskan wajah laki-laki yang tampan itu. Dia memang tidak mengerti mengapa laki-laki itu datang menemuinya.
“ada apa?” tanya wanita cantik itu
“aku ingin berbicara padamu” jawabnya
“masalah apa?” tanyanya kembali pada laki-laki itu
Laki-laki itu kembali memandang wanita yang berkerudung itu. Dia melihatnya dengan sangat benci. Wanita itu tak hayalnya menundukkan kepalanya. Dia tidak melihat laki-laki di depannya itu. Entah apa yang dilihat oleh laki-laki itu pada wanita berjilbab itu. Pandangan laki-laki itu membuat wanita cantik itu pun melihat kearah nadir. Dia melihatnya dengan heran.
“temui aku disudut sekolah. Aku ingin kau sendirian menemuiku” sebut laki-laki tampan itu pada wanita cantik yang berdiri disamping nadir.
Lalu laki-laki itu melarikan diri dari hadapan dua wanita itu. Apa yang ingin dilakukan oleh laki-laki itu? Tak bisakah dia tidak membuat penasaran diri wanita berjilbab itu? Wanita cantik itu tak bersemangat ingin menemui laki-laki itu disudut sekolah. Dia tidak ingin membuang waktunya dengan hal yang tak berguna. Lalu dua sahabat itu kembali melanjutkan perjalanan mereka.








LELAKI YANG KEJAM...
“kamu mau berbicara apa?” tanya wanita cantik itu
Setelah bertemu laki-laki dan wanita cantik itu bercakap disudut sekolah. Fatimah datang menemui rivandi seorang diri tanpa ditemani nadir sahabatnya.
“aku suka kepadamu?’ sebut laki-laki didepannya itu
Fatimah tidak mengerti dengan ucapan laki-laki itu. Dia memandang laki-laki itu dengan aneh. Apa laki-laki itu sudah gila?
“apa yang kau bicarakan ini?” tanya wanita itu dengan heran
“aku mencintaimu?” sebut laki-laki itu kembali
Wanita itu kembali tidak mengerti dengan ucapan laki-laki itu. Perkataan nadir benar, ternyata rivandi selama ini menyukai wanita cantik itu. Kedua siswa itu kembali saling memandang satu sama lain. Dilihatnya mata laki-laki itu. Dia penasaran dengannya. Wanita itu menatap dengan mata yang kosong tak ada arti. Lalu wanita itu membalikkan tubuhnya.
“aku tidak menyukaimu?” jawabnya
Laki-laki itu pun heran dengan jawaban wanita itu. Mengapa dia tidak menyukainya? Apa yang kurang dari laki-laki yang tampan itu?
“apa? Apa aku tidak salah dengar kamu berbicara seperti itu?” tanya laki-laki itu
“tidak” jawabnya
Laki-laki yang berdiri dibelakang wanita itu tampak marah dengan wanita didepannya. Mata wanita itu menatap kosong kedepan. Entah apa yang dilihatnya. Sedangkan laki-laki itu menatap dengan tak percaya. Apa yang membuat wanita cantik itu tidak menerima cintanya? Pikirnya dalam hati.
Dibalik tembok kelas itu. Wanita berjilbab putih itu melihat kedua siswa itu bercakap. Hati sakit. Karena laki-laki pujaannya itu menyatakan cinta pada sahabat baiknya. Hatinya benar-benar sakit. Sekali-kali dia menghapus air mata yang mengalir dipipinya itu.
“beri aku alasan yang masuk akal. Mengapa kamu tidak mencintaiku? Apa kurang dari aku? Aku kaya, aku tampan, aku pintar. Semua wanita suka padaku” sebut laki-laki itu dengan sombongnya.
Wanita itu cantik itu jijik mendengar ucapan laki-laki yang berdiri dibelakangnya itu. Sungguh dia benar sombong. Wanita berjilbab itu menyaksikan laki-laki itu mengatakan cintanya pada sahabatnya fatimah. Betapa terkejut hati nadir mendengar ucapan laki-laki pujaannnya. Dia sombong. Bisiknya dalam hati.
“itu hanya pikiran kamu saja. Aku tidak menyukai kamu, rivandi” jawab wanita itu sekian kalinya
Sementara itu laki-laki tampan itu terus menatap wanita yang dihadapannya itu. Dia seakan-akan ingin memeluk wanita itu, dia ingin mengatakan kalau diri wanita itu sangat mencintai dirinya. Tapi fatimah bukanlah wanita yang bodoh. Fatimah bukanlah seperti wanita yang pernah menjadi kekasihnya rivandi, yang mudah termakan rayuan dari rivandi.
Lalu wanita cantik itu melangkah dari hadapan laki-laki yang berdiri dibelakangnya itu. Sementara itu nadir menyaksikan pergaulan antara sahabatnya dengan laki-laki pujaannya itu. Dia menatap dengan heran tidak mengerti dengan semua yang ia saksikan itu.
Lalu rivandi menghentikan langkah wanita itu. Dan berkata
“jangan pergi. Beri aku alasan yang jelas. Mengapa kau tidak menyukai aku?”
Jawaban wanita cantik itu tidaklah membuat rivandi puas. Dia selalu mendesak fatimah untuk menjelaskan alasannya. Namun bagi fatimah jawabannya itu cukup jelas. Kalau dia tidak menyukai laki-laki itu. Fatimah pun kembali melangkahkan kakinya. Tiba-tiba.
“karena wanita jelek itu?” kata laki-laki itu
Ucapanya semakin tidak menentu. Wanita jelek? Siapa yang dimaksud rivandi? Fatimah kembali menghentikan langkahnya. Dan kembali menghadap rivandi.
“siapa yang kamu maksud?” tanyanya
“nadir. Wanita jelek itu?” ucapnya
Alangkah pilunya hati nadir mendengar ucapan laki-laki itu. Mengapa dia harus mendengarkan itu dari mulut pujaannya. Nadir menangis kecil mendengarnya. Wanita cantik itu tidak mengerti dengan ucapan rivandi.
“nadir? Apa maksudmu?”
“karena dia kan, kamu tidak suka padaku?” katanya
“tolong jaga ucapan kamu. Ini tidak ada hubungannya dengan nadir. Rivandi”
“ah. Sudahlah mah. Aku tahu dia menyukai aku. Itu alasan kamu menolak cintaku. Kau ingin menjaga perasaan hati wanita jelek itu, kan?”
Sekian lengkap penderitaan nadir wanita yang mendengarkan dibalik tembok itu. Apa salah wanita itu sehingga ia selalu diejek oleh laki-laki itu. Tangisan nadir menjadi-jadi. Ingin rasanya nadir berteriak pada dunia. Ingin rasanya dia memukul tembok didepannya itu. Tapi ah, sungguh dia tidak kuasa malakukan itu. Hati dia  sangat pilu. Hatinya sangat hancur mendengar itu semua. Tak dapat dibendungi air matanya yang mengalir dipipinya itu.
“jaga ucapanmu itu. Mengapa kau begitu membencinya? Dia tidak pernah menyukai orang yang sombong seperti kamu rivandi!” ucap wanita itu
Fatimah sangat marah pada laki-laki itu. Dilihatnya laki-laki itu. Ingin rasanya fatimah memukul rivandi yang berdiri didepannya itu karena dia telah mengejek sahabatnya nadir. Ingin rasanya fatimah melempari wajahnya dengan sampah yang berserakan itu. Mulutnya begitu kotor dan jahat. Entah mengapa. Tiba-tiba laki-laki itu tertawa mendengar ucapan wanita yang dia cintai itu.
“kamu salah. Wanita jelek itu diam-diam menyukai diriku. Tapi dia tidak bisa mengungkapkannya langsung padaku. Dia tahu diri. Aku siapa dan dia siapa?” ucapnya
Sungguh ingin rasanya fatimah membanting kepala laki-laki itu ketembok yang ada didekatnya itu. Fatimah sungguh kecewa dengan ucapannya itu. Matanya berlinang air mata. Laki-laki itu sungguh membuatnya sakit hati.
Wanita yang dibenci oleh laki-laki itu sangat terpukul olehnya. Nadir selalu menangis dibalik tembok itu. Sungguh kasihan melihatnya. Tak kuasa mendengar itu semua. Akhirnya wanita yang berjilbab itu pun pergi meninggalkan wanita yang cantik itu bercakap dengan laki-laki yang tampan itu.
“kau sungguh keterlaluan rivandi. Apa yang kau sombongkan darimu? Kau tidaklah tampan, kau tidak ada apa-apanya dibandingkan nadir. Dia adalah wanita yang hebat tidak seperti kamu” tutur wanita itu dengan nada yang marah
“hebat? ha..hah.. apa yang kau katakan itu fatimah. Dia sama sekali tidaklah hebat. coba kamu lihat dia, dia miskin dia jelek buruk rupa. Aku tidak mengerti dengan kamu. mengapa kau selalu membelanya? Apa kamu tidak malu berteman dengannya? Kamu itu cantik fatimah, kamu pintar, masih banyak orang yang ingin menjadi teman kamu. Bukan hanya dia saja” ucap rivandi
Rivandi sepertinya sangat marah dengan wanita itu. Begitu pun dengan wanita yang cantik itu. Wajahnya berubah menjadi merah. Wajahnya sangat berubah. Dipipinya  selalu mengalir air matanya. Laki-laki itu telah membuat wajahnya yang cantik itu berlumuran air mata. Mendengar perkataan laki-laki itu yang sudah terlewat batas, tiba-tiba tangan cantik wanita itu pun melayangkan diwajah laki-laki yang didepannya itu. Fatimah tidak tahan mendengar ucapan rivandi yang menrendahkan sahabatnya. Dipukulnya pipi kanan laki-laki itu. Itu adalah balasan karena dia telah merendahkan sahabatnya.
“jangan pernah berbicara seperti itu? Sekarang aku ingin bertanya padamu. Apakah kamu memiliki teman? Apakah kamu bisa membayar sekolah kamu dengan hasil kerja kamu sendiri? Kamu itu sombong. Kamu itu hanya bisa menghabiskan uang orang tua kamu. Kamu itu hanya anak yang manja penikmat harta orang tua. Sungguh itu tidaklah patut untuk disombongkan”
Wanita itu sangat marah. Laki-laki yang tampan itu hanya diam mendengar ucapan wanita yang dia cintai itu. Matanya merah seperti ingin marah pada wanita cantik itu. Tak hayalnya rivandi laki-laki itu memegang pipi yang dipukul oleh fatimah. Ingin rasanya laki-laki itu memukul wanita pujaannya itu. Ingin rasanya rasa sakit itu juga dirasakan oleh wanita itu. Tapi itu tidaklah adil. Tidak ingin rivandi menyakiti wanita pujaannnya itu. Sekian lama memandang laki-laki itu, fatimah akhirnya pergi meninggalkan rivandi yang memegang pipinya yang sakit itu. Matanya melihat kearah fatimah dengan benci. Sungguh kasihan melihat laki-laki itu.
Nadir wanita yang malang itu, entah dimana kini dia berada. Mungkin dia menyendiri, dibelakang kelas karena hatinya terlalu sakit. Mungkin dia sekarang lagi menangis kecewa dengan laki-laki pujaannya itu. Entahlah.




PERMATA YANG HILANG
Hari itu. Tepat pukul 8 pagi. Langit bersinar cerah. Angin pagi berhembus dengan sepoi. Nadir wanita sederhana itu dengan lesunya melangkah kekelasnya. Hari itu nadir tidak membawa kue buatanya. Entah mengapa dia tidak menitipkan kue buatanya dikopsis sekolah. Hati yang kecewa masih terasa dalam dadanya setelah kejadian tempo hari. Tidak pernah disangkanya dia akan mendapatkan perbuatan seperti itu. Sungguh lidah pujaannya itu sangatlah tajam. Telinganya sangat sakit mendengar kata-kata dari pujaannya itu. Nadir melangkah kecil hingga sampai dikelasnya. Kelas tampak sepi. Sunyi seperti di kuburan. Wanita itu melangkah menuju tempat duduknya. Langkahnya terhenti tepat samping mejanya. Matanya terpaku pada sebuah kertas putih yang terletak diatas mejanya. Apa itu? Sebutnya dalam hati. Karena penasaran wanita itu pun membukanya. Alangkah terkejutnya saat dia membaca surat itu. Ternyata dari laki-laki pujaannya rivandi. Mengapa dia mengirimkan surat pada wanita yang telah dia sakiti itu?
“Temui aku disudut sekolah usai jam sekolah. Hanya dirimu seorang”
Rivandi.
Betapa bahagiannya hati wanita itu mendapat surat dari pujaannya itu. Rasa benci pada rivandi pun hilang seketika setelah dia membaca surat darinya. Cinta memang aneh. Kadang benci dan kadang sayang. Wanita itu pun selalu tersenyum sembari menyimpan surat itu didalam saku bajunya. Wanita itu selalu menebar senyum setiap saatnya. Hingga fatimah bingung melihat sahabatnya itu. Sekali-kali dia melihat rivandi, alangkah senang hatinya melihat laki-laki yang mengirim surat itu padanya. Namun rivandi laki-laki itu tidak pernah melihat kearah wanita itu. Tak sabar rasanya wanita itu mengakhiri pelajaran ini. Agar dia bisa menemui laki-laki itu disudut sekolah. Nadir tak hentinya melihat jarum jam yang selalu berputar. Tingkahnya memang aneh. Tidak dapat dimengerti oleh sahabatnya fatimah.
Tibalah saatnya. Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu datang juga. Nadir bergegas pergi kesudut sekolah untuk menemui laki-laki pujaannya itu. Alangkah suka hatinya nadir dapat bertatap mata dengan pujaannya itu. Jantungnya selalu berdetak kencang berdetak tak tentu arah. Bibirnya selalu menebar senyum tak hayalnya dia melangkah dengan tergopoh-gopoh untuk menemui laki-laki itu. Dipikirannya hanyalah ada nama laki-laki yang mengirim surat itu.
Akhirnya wanita itu sampai ditempat yang ditujuinya. Tepat disudut sekolah. Wanita itu melihat rivandi duduk diatas kursi sekolah yang rapuh. Dia menghadap tembok itu kemudian diraba-raba tembok dihadapannya itu. Entah apa yang dilakukannya, nadir pun tidak mengerti. Tak hentinya senyum dibibir wanita itu terpancar. Kemudian wanita itu memanggil laki-laki yang duduk itu.
“rivandi?” sebutnya
Lalu laki-laki itu pun menengok wanita yang baru datang itu. Dia melihat wajahnya yang bersenang. Dia juga melihat bibirnya yang selalu tersenyum. Laki-laki itu menatap dengan aneh. Laki-laki itu tampak benci memandang wanita yang berdiri dihadapannya itu.
“ada apa kau ingin bertemu dengan ku, rivandi?” tanya wanita itu tersenyum
Laki-laki itu tak menjawab pertanyaan wanita yang berjilbab itu. Dia hanya menengok dengan tak ada arti. Sementara itu nadir tak hayalnya mencoba menahan detak jantungnya yang berdetak hebat saat dia memandang wajah laki-lakinya itu. Tiba-tiba laki-laki itu berkata.
“apa kamu tidak menyadari keadaanmu?” sebut laki-laki itu
Perkataan itu tak dapat dimengerti oleh wanita itu. Sungguh kata-katanya sangat sulit untuk dicerna oleh otaknya.
“apa maksud kamu rivandi?” tanya wanita itu tersenyum
“apa kamu menyukaiku?” sebutnya
Betapa riangnya hati wanita itu. Nadir tak hentinya menggenggam tangannya yang kecil itu. Dia mencoba untuk menahan diri agar tidak salah tingkah mendengar perkataan rivandi itu. Mendengar pertanyaan itu nadir hanya menganggukkan kepalanya sembari berkata.
“iya” jawabnya malu
“apa kamu tidak malu menyukaiku?” tanya kembali laki-laki itu
“tidak. Aku tidak malu menyukaimu” sebutnya
Tak bisa tergambarkan lagi bagaimana keadaan hati wanita itu. Sungguh dia begitu riang dapat bercakap dengan laki-laki pujaannya itu. Dalam pikirannya, rivandi adalah laki-laki yang baik, pikiranya terhadap rivandi selama ini salah.
“tapi aku malu, mencintai orang seperti kamu” kata laki-laki itu. “kamu berbeda, kamu itu jelek, kamu itu bodoh”
Alangkah pilunya hati nadir mendengar itu semua. Dengan lantangnya laki-laki itu mengucap kata yang tak enak itu. Sungguh sangat memilukan. Hatinya wanita itu hancur. Dia hanya diam tak bersuara ditundukkan kepalanya seraya mendengar setiap perkataan laki-laki yang mengoceh dihadapannya itu.
“pikir, kamu itu tidaklah pantas untuk seorang yang tampan sepertiku”
Kata rivandi menengok wanita yang hampir menangis itu.
“status sosial kita jauh, nadir. Aku diatas sedangkan kamu? Entah dimana. Kamu itu pantas mencintai orang seperti kamu juga, yang jelek, miskin dan bodoh.”
Terjatuh sudah air mata wanita itu. Sungguh tak pernah disangkanya hal itu terjadi. Senyum dibibirnya berubah menjadi mengerut. Oh tuhan tolong kuatkan hatiku. Ucapnya dalam hati. Laki-laki itu tidak ada rasa kasihan melihat wanita yang menangis itu.
“janganlah kau menangis nadir. Wajahmu nanti bertambah jelek” ejeknya “aku tidak perlu tangisan kamu itu. Aku ingin kau jauh dari hidupku”
“mengapa kau kejam terhadapku. Vandi?” tanyanya
“kejam? Aku kejam?” laki-laki itu tertawa “apakah kamu tidak kejam terhadapku, nadir?” tanyanya
“apa salah aku padamu. Aku tidak pernah berbuat kejam padamu” tanya wanita yang menangis itu
Ucapan laki-laki itu tidaklah masuk diakal wanita itu. Mengapa pujaannya itu mengatakan kalau ia sudah berbuat kejam terhadapnya? Bukankah dia selama ini yang kejam pada wanita itu. Dia sudah melukai hatinya?
“kamu membuat aku tersiksa selama ini. Kau telah menyukai aku dengan wajah yang burukmu itu. Itu sangat menyiksa batinku. Aku tidak mengerti dengan kamu nadir. Mengapa kau bisa menyukai aku. Apa salah aku padamu”
Laki-laki itu kembali mencaci maki wanita dihadapannya itu. Ingin rasanya wanita itu menutupi telinganya dengan tangannya yang kecil itu. Tak kuasa dia mendengar ejekan laki-laki itu. Ingin rasanya wanita itu memukul laki-laki itu seperti dulu fatimah sahabatnya memukul laki-laki dihadapannya. Tapi wanita itu tidaklah mampu melakukannya, tubuhnya sungguh lemas. Tangisannya menjadi-jadi. Tapi laki-laki itu tidak perduli padanya.
“kau sudah membuat fatimah membenci padaku”
“fatimah? Aku tidak tahu apa-apa”
“bohong” tuturnya lalu “Kemarin dia menolak cintaku. Itu semua karena kamu. Dia memukulku itu juga dia membelakamu. Ha, apa untungnya membela wanita buruk rupa sepertimu. Aku tidak percaya”
Laki-laki itu emosi. Matanya melebar berwarna merah karena marah pada nadir. Tak kuasa nadir menahan gejolak hatinya yang berubah menjadi kelam. Sungguh hati yang riang kini menjadi beban tak menentu. Rivandi laki-laki itu kembali menceritakan kejadian yang pernah dilihat oleh wanita itu ketika tak sengaja nadir menengok fatimah memukul laki-laki pujaannya yang kejam itu. Tak kuasa menahan kebenciannya, wanita itu pun pergi tergopoh-gopoh meninggalkan rivandi seorang diri. Dia selalu menangis mengingat kata-kata yang memilukan itu. Rasa menyesal menyelimuti pikirannya. Wanita itu terlihat seperti orang gila.
Tak pernah terpikir dari awal oleh wanita yang menangis itu. Mengapa rivandi ingin menemuinya? Kalau bukan untuk mendzalimi dirinya. Lalu wanita itu terjatuh kelantai karena ia begitu lemah. Dia menangis terus menerus. Ingin rasanya ia memukulkan kepalanya ditembok itu. Ingin rasanya dia memukul dirinya karena dia terlalu bodoh mempercayai laki-laki yang membencinya itu. Sungguh tak kuasa ia menahan diri. Sementara itu, laki-laki yang ia tinggalkan seorang diri itu tak menyesal sedikit pun atas kelakuannya pada wanita yang terjatuh itu. Dia tidak peduli. Dimana fatimah sahabatnya? Tidak ada. Fatimah tidak ada dimana-mana. Fatimah sudah pulang kerumah dari tadi. Wanita itu selalu menyesal akan sikapnya yang bodoh itu.











 Bintang yang kelam...
Seminggu setelah ujian itu. Langit tampak cerah bersinar. Angin berhembus menggugurkan daun yang kering. Burung-burung berterbangan dari satu pohon kepohon yang lainnya. Pagi itu sekolah tampak bersih setelah rumput yang panjang dipangkas oleh kebersihan sekolah. Hari ini adalah pengumuman hasil ujian yang telah dilaksanakan satu minggu yang lalu. Semua siswa harap cemas. Begitupun dengan nadir wanita itu. Pagi itu nadir terlihat sangat bersemangat untuk kesekolah. Dia tak sabar untuk melihat pengumuman hasil ujiannya yang lalu. Dia berjalan tergopoh-gopoh menuju kesekolahnya. Hari itu nadir terlihat tidak membawa kuenya kesekolah. Tangannya kosong, hanya menyandang tas dipunggungnya.
Tiba saatnya dia disekolah. Pagi itu dia tidak melihat sahabatnya fatimah. Begitu pun dengan laki-laki pujaannya rivandi. Langit begitu bersih, burung-burung bermain dengan riangnya.  Entah mengapa pagi itu wanita berjilbab itu terlihat senang. Matanya terlihat cerah. Bibirnya tersenyum. Wanita itu melangkah ke kelasnya. Tidak ada orang didalam kelas itu. Hanya dia seorang diri. Wanita itu duduk sembari menunggu fatimah sahabatnya datang. Tak sabar rasanya wanita itu melihat hasil ujiannya.
Fatimah sungguh begitu baik pada wanita yang selalu dihina itu. Fatimah yang cantik dan pintar membuat nadir selalu berjuang untuk menjalankan hidup ini. Semua orang keluar kelas. Hanya tinggal dua sahabat itu. Rivandi dan temannya telah bergegas untuk melihat hasil ujian yang tertempel di mading sekolah. Bergegas nadir dan fatimah memasukkan buku mereka kedalam tas. Tak kuasa mereka menahan rasa penasaran itu pada hasil ujian seminggu yang lalu. Lalu dua wanita itu pun melangkah meninggalkan kelasnya dan bergegas menuju kerumunan siswa yang lainnya. Langkah mereka semakin mendekati siswa itu. Teriakan riang siswa terdengar dengan jelasnya. Itu membuat kedua wanita bersahabat itu semakin penasaran.
Melihat celah dibalik kerumunan itu, Lalu nadir dan mencoba fatimah mencoba menerobos masuk kedalamnya. Setelah berhasil mereka berdiri paling depan diantara yang lain. Jari mereka silih berganti naik turun mencari nama mereka berdua.
“ayo cari dir nama kita..”
Mendengar itu nadir pun tak kuasa menggerakkan tangannya mencari namanya dan fatimah. Jarinya terhenti pada nama siswa pada urutan teratas. Nama siswa itu fatimah sahabatnya.
“fatimah, ini nama kamu.” Sebutnya
“mana dir?” sahutnya tak sabar
Betapa riangnya hati wanita cantik itu ketika melihat namanya yang tertulis dinomor urut satu.
“aku. Lulus dir” sebutnya
Nadir tak menghiraukannya. Dia tak menemukan namanya dikertas itu. Dia mencoba mencari satu demi satu setiap nama dikertas itu. Ah sungguh lelah rupanya wanita itu. Dia tak juga menemukan namanya. Fatimah sahabatnya membantu. Digerknya jari mereka silih berganti. Sedangkan rivandi laki-laki itu melihat kedua wanita itu dari kejahuan. Mengapa dia tidak melihat namanya? Mengapa dia hanya melihat seperti tidak peduli? Laki-laki itu sungguh beruntung. Namanya tertulis dinomor urut kedua setelah fatimah. Dia memang hebat. nilainya sungguh sempurna. Kembali nadir dan fatimah mencari-cari nama nadir yang tak juga terlihat. Setelah beberapa lama mencari. Fatimah menemukan nilai sahabatnya.
“nadir, ini nama kamu.” Sebutnya
“mana, mah?”
Alangkah terkejutnya wanita itu setelah melihat namanya yang tertulis paling bawah. Hanya dia seorang yang tidak lulus dalam ujian itu. sungguh pilu hatinya, wanita cantik itu melihat nadir yang berubah ekspresi itu. matanya termenung tak percaya. Ingin rasanya dia menangis.
“bagaimana? Lulus? Jangan pernah berharap mendapat nilai bagus. Dari dulu kamu selalu mendapat nilai paling bawah kan?”
Terdengar suara itu ditelinga wanita yang malang itu. lalu fatimah menengok kekirinya. Ternyata rivandi. Sungguh senang rupanya melihat nadir wanita yang dibencinya itu tidak lulus. Wanita cantik itu hanya terdiam tak bersuara.
“dasar, buruk rupa. Bodoh. Kalau bodoh mending jangan sekolah jual kue saja dipasar”
Semua tertawa mendengar perkataan laki-laki itu. nadir menangis tertunduk malu. Sahabatnya pun tidak percaya dengan hasil itu.
“sudah pulang saja. Jangan menangis. percuma menangis tidak merubah hasilnya juga kan? Wajah kamu itu yang harus dirubah”
Terdengar tertawa siswa semakin keras. Semua menyoraki nadir. Sungguh pilu nadir mendengar itu. hatinya sakit. Lebih sakit saat dulu rivandi mengejeknya. Dia menangis, terlihat fatimah mengelus bahunya. Ingin rasanya fatimah memukul laki-laki itu. ingin rasanya dia melempar wajahnya yang sombong itu. lalu wanita yang terluka itu melarikan diri dari kerumunan siswa itu. dia berlari entah kemana, berlari dengan hati yang remuk karena dia tidak lulus. Dia malu karena ucapan laki-laki itu. rivandi keterlaluan telah menghina nadir seperti itu. sedangkan fatimah terlihat mengejar wanita itu dari belakang, hingga sampai kekelas mereka. Nadir hanya bisa menangis.
“nadir?” sebut fatimah
Namun wanita itu tidak juga melihat kearah fatimah. Dia terus menangis, menutupi wajahnya dengan tangannya. Terlihat kerudung wanita itu basah karena air matanya. Sungguh pilu hatinya.
“nadir.” Sapa kembali wanita itu
Lalu wanita menangis itu menengok kearah wanita cantik yang duduk disampinya. Mereka saling memandang. Mata nadir dipenuhi air mata. Rasa iba fatimah pada sahabatnya nadir. Sungguh dunia tidaklah adil pada wanita yang menangis itu. fatimah mencoba untuk menenangkan nadir yang menangis itu.
“sabar, dir. Ini belum akhir dari ujian” ucapnya
Lalu tiba-tiba. Wanita yang menangis itu memeluk fatimah sahabatnya. Mengapa? Mungkin itu yang bisa dia lakukan saat ini. Sangat erat rupanya wanita itu memeluknya. Tangisannya pun tak kunjung berhenti. Air mata kekecewaanya pun tak kunjung juga berhenti mengalir disela-sela matanya.
“sabar dir. Jangan kau dengarkan perkataan mereka” ucap fatimah
“aku malu mah” sebutnya
Fatimah semakin erat pula memeluk sahabatnya itu. ia tak pernah merasa jijik dengan nadir.
“mengapa malu? Kau tidak pernah melakukan yang salah”
Dielusnya pundak wanita itu. sangat pelan. Iba rasanya melihat wanita itu. tenggelam dalam kebencian dan kemalangan. Dimana kau tuhan. Mengapa kau biarkan wanita itu tersakiti?
Fatimah mencoba untuk menahan dirinya. Digenggamkan tangannya. Bukan karena dia ingin memukul nadir karena tangisannya. Dia melakukan itu karena dia menahan dirinya agar dia tidak menangis agar air dia tidak keluar.
“aku ingin seperti kamu fatimah” sebutnya “kau selalu menjadi pujaan setiap pria. Kau cantik, kau pintar, kau kaya. Kau disukai setiap laki-laki. Aku hanyalah seonggok sampah yang terbuang, mencoba mencari orang yang mau menerima sampah yang busuk terbuang. Aku adalah gagak hitam yang berteman dengan angsa-angsa putih yang elok rupawan” tutur nadir
Alangkah pilu hati fatimah mendengar ucapan sahabanya itu. tak kuasa menahan air mata, fatimah pun menangis. air mata dipipinya mengalir. Air mata kecawa dan sedih bercampur menjadi satu. Tak kuasa rupanya ia menahan itu. kedua wanita itu larut dalam kesedihan. Dalam pelukan itu. nadir mengungkapkan perasaannya pada fatimah.
“jangan kau berbicara seperti itu nadir. Kau tidaklah seperti itu”
Sekian kalinya fatimah memberi nasihatnya pada nadir. Sungguh fatimah wanita yang berbeda. Dia sanga baik pada nadir. Dia bersedih saat melihat sahabatnya bersedih.
“apa salah aku, mah? Mereka semua membenci aku. Mereka jijik melihat rupa aku. Apakah aku tidak boleh hidup didunia ini. Tuhan tidak adil?”ungkapnya
Dilepaskan pelukan fatimah dari nadir. Rasanya fatimah ingin marah pada nadir yang menangis itu. mengapa nadir menjadi wanita yang lemah seperti itu.
“jangan kau berbicara seperti itu. nadir. Tuhan itu selalu berbuat adil pada setiap manusia”
“mengapa tuhan membiarkan aku hidup dengan penderitaannku ini?”
“nadir. Percayalah. Disetiap masalah akan ada hikmahnya. Jangan kau berbicara seperti itu. tuhan akan menolongmu suatu saat nanti. Percaya itu. sudahlah, jangan kau menangis laagi. Jangan kau masuk dalam hati perkataan mereka tadi”.
Wanita itu sungguh hebat. tangisan nadir agak mereda. Wanita cantik itu menghapus air mata wanita yang berduka itu. fatimah sungguh matahari yang selalu menyinari hidup nadir.
“kamu jangan larut dalam kesedihan ini. Kita harus belajar dengan giat lagi. Kamu jangan putus asa. satu bulan lagi kita akan menghadapi ujian akhir. Jangan pernah menghiraukan perkataan orang padamu. Tunjukkan pada mereka kalau kamu bisa mengalahkan mereka. Kalau kamu bisa mendapatkan nilai yang bagus”
Nadir hanya diam. Tidak menjawab. Hatinya masih terasa sakit dengan perbuatan laki-laki itu. sungguh laki-laki pujaannya itu telah membuat hatinya hancur. Dia begitu kejam. Nadir tak kuasa menaha sakit hatinya. Tak kuasa rasanya dia menjalankan hari-hari.











MATAHARIKU
Setelah kejadian itu. hampir nadir tidak bersemangat untuk menjalankan hari-harinya. Rasa sakit hati yang memaku pada dirinya membuat dia selalu membenci laki-laki yang dahulu menjadi pujaannya. Rivandi sangat kejam telah membuat hati permatanya menjadi batu yang hitam.  Kejadian ini tak akan pernah dilupankan oleh nadir. Dia akan selalu mengingatnya sampai kapan pun. Kini nadir begitu giat belajar. Dia tidak putus asa untuk mendapatkan nilai yang terbaik. Fatimah sahabatnya selalu membantunya. Dia selalu ada untuk nadir. Selalu datang disaat nadir membutuhkan seorang untuk mendengarkan cerita hidupnya yang kelam. Satu bulan menjelang hari-hari itu nadir tak hentinya membuat suatu perubahan dalam dirinya. Ujian akhir itu akan menentukan masa depannya. Dia tidak lagi memikirkan laki-laki pujaannya itu. dia telah menghapuskan nama rivandi dalam hatinya. Terlalu banyak nadir menerima sakit hati selama ini karena laki-laki itu. memang itu semua telah dilakukannya. Kini dia tidak lagi memikirkan hal yang tidak penting. Kini dia hanya terfokos untuk ujiannya bulan depan. Berbagai persiapan telah dilakukannya selama satu bulan ini. Itu semua berkat sahabatnya fatimah yang selalu memberi energi semangat padanya.
Dihalaman sekolah itu tampak dua wanita yang bersahabat duduk dibawah pohon yang rindang itu. terlihat mereka bercap-cakap. Entah apa yang mereka bicarakan. Fatimah terlihat sangat cantik. Nadir pun begitu. Nadir wanita itu terlihat sangat berbeda dia lebih percaya diri. Setiap berjalan dia tidak lagi menundukkan kepalanya. Dia tidak menghiraukan lagi orang mengatakan apa tentangnya. Hal itu sudah biasa terdengar ditelingannya.
“bagaimana, nadir. Menghadapi ujian bulan depan?” tanya wanita cantik itu
“aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Sejauh ini aku sudah melakukan semampu aku. Aku serahkan semuanya pada tuha, biar tuhan yang mengaturnya.” Jawab wanita yang riang itu
Fatimah hanya tersenyum mendengar itu. tak sengaja nadir melihat laki-laki yang pernah menyakiti hatinya. Rivandi yang berjalan entah kemana. Kelihatannya dia sangat kessepian. Dia terlalu egois dan sombong. Dia begitu memilih teman. Teman yang sepadan dengannya. Tapi ah sudahlah wanita itu tidak ingin lagi mengingat laki-laki itu.
Siang itu saat nadir pulang dari sekolah tak sengaja ditengah jalan dia melihat sosok laki-laki yang dia benci itu, rivandi. Dia heran melihat laki-laki itu terlantung berjalan seorang diri. Mengapa dia tidak pulang? Pikirnya. Dilihatnya pula laki-laki itu memegang kepalanya. Mengapa? Entahlah. Wanita itu melihatnya dengan heran. Lalu laki-laki itu tiba-tiba terjatuh ketanah karena kepalanya sakit. Wanita itu heran dan terkejut dengan laki-laki itu. dia bergegas mendekati laki-laki itu.
“rivandi” ucapnya
Dia sungguh khawatir. Dilihat sekuliling dirinya tak ada seorang pun terlihat. Wanita itu semakin panik.
Dia tidak tahu apa yang dialakukannya pada laki-laki yang pingsan itu. ingin rasanya wanita itu meningganlkan laki-laki yang pingsan itu. dia teringat pada kelakuan rivandi pada dirinya. Sakit dalam hatinya pun belum hilang hingga saat ini. Tapi itu terlalu kejam. Nadir bukanlah orang yang pendendam. Dia tidak kuasa melihat laki-laki itu pingsan seorang diri. Laki-laki itu melihat wanita yang dihadapannya. Dia melihat antara sadar dan tidak, matanya tak jelas melihatnya. Lalu nadir mengantarkan laki-laki itu kerumahnya dalam keadaan tak sadarkan diri.
Kemudian nadir melangkah pulang. Kini khawatiranya pada laki-laki itu hilang. Karena rivandi telah berada dirumahnya. Dalam perjalanan pulang ia selalu teringat pada laki-laki itu. rivandi. Dia mencoba untuk menghilangkan nama laki-laki itu karena nadir ingin melupakan laki-laki itu. tapi tidak bisa. semakin dia melupakan, nama laki-laki itu selalu membayang dibenaknya.
Malam itu, nadir tengah khusuknya belajar. Dengan lampu yang remang-remang dia menulis kata perkata tugas sekolahnya. Terlihat ibunya sibuk dengan membersihkan tempat pekerjaannya.
“kapan kamu akan ujian dir?” tanya ibunya
“dua minggu lagi buk” jawanya
“tidak terasa, tidak lama lagi kamu akan lulus sekolah”
“iya bu” jawabnya singkat
“kamu harus belajar lebih giat, agar lulus dengan nilai yang baik”
“insyallah buk”
“maafkan ibu dir. Ibu tidak bisa melanjutkan kamu setelah lulus ini. Ibu tidak punya uang” sebut ibunya yang melihat nadir anaknya belajar
Mendengar itu hati nadir begitu pilu. Ingin rasanya dia menangis. matanya tertunduk tak berdaya. Tangannya terhenti menulis setelah mendengar ucapan ibunya. Dia tidak meminta lebih pada ibunya. Dia menyadari akan keadaannya. Lalu wanita itu berkata.
“sudah buk. Nadir tahu itu. nadir tidak ingin melihat ibu susah. Nadir tidak ingin membebani itu”
Ibunya hanya tersenyum. Wanita itu kembali menulis dengan hati yang luluh. Sungguh ibunya
telah meluluhkan perasaannya.




BIMBANG?
Waktu menunjukkan pukul 8 pagi. Sinar kekuningan mentari pagi itu menyambut nadir yang baru saja sampai diruang kelasnya. Seperti biasa sebelum menuju kelas dia menitipkan kuenya di kopsis sekolah. dia melihat gerak-gerik setiap sudut sekolah. tidak ada. Sebutnya. Entah siapa yang dia cari. Fatimah, mungkin itu jawabannya. Atau mungkin rivandi laki-laki yang ia tolong hari kemarin. Entahlah.
Didalam kelas tak terlihat siapa-siapa. Hanya hening sunyi. Kemana semua orang? Tanyanya. Dia melihat jam yang terpajang didinding kelas itu. dia melihatnya. Benar jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi tapi tidak ada satupun temannya yang terlihat. Aneh rasanya. Wanita hanya duduk dalam kebodohan. Selalu bertanya-tanya dalam hatinya. Kesendirian itu mungkin membuatnya lebih baik. Sejenak untuk tidak mendengarkan ejekan dari teman-temannya. Wanita itu tak hayalnya melihat keluar kelas mencoba mencari-cari temanya. Tapi tak terlihat juga. Wanita itu penasaran. Dia keluar kelas untuk mencari jawaban dari pertanyaannya itu. saat melangkah di depan pintu kelas. Tiba-tiba seorang laki-laki lewat didepannya. Sontak wanita itu menundukkan kepalanya. Dia melihat wajah laki-laki itu dengan samar. Siapa dia? Tanyanya dalam hati. Dia menengok lagi. Alangkah terkejutnya wanita itu. laki-laki itu rivandi pujaannya. Dia benci melihatnya. Hatinya kembali sakit. tapi, hari itu tampak berbeda dengan laki-laki itu. mengapa? Dia melihat kearah wanita itu. wajahnya terlihat berbeda tidak seperti biasanya. Ia memang berbeda, setiap saat melihat nadir, laki-laki itu selalu menghinanya. Tapi hari itu tidak. Rivandi masuk kekelas tak bersuara. Sungguh tingkahnya membuat wanita itu bertanya-tanya. Didalam kelas terlihat laki-laki itu duduk dikursi yang tidak jauh dari wanita itu berdiri didedakt pintu. Hanya terlihat mereka berdua. Aduhai, betapa indahnya hari itu bagi wanita yang berdiri itu. hanya mereka berdua tidak ada yang lain. Tapi wanita itu terlalu sakit hati padanya, kini perasaan suka telah tergantikaan oleh rasa benci yang sangat dalam.
Sekian lama menunggu akhirnya wanita yang ditunggu-tunggu olehnya telah tampak. Dia senang.
“nadir?”sebutnya
“fatimah. Mengapa baru datang?” tanya wanita itu
“tadi aku ada pekerjaan. Ibu aku lagi tidak ada. Jadi aku yang harus melakukannya”
Dua sahabat itu pun masuk dan duduk ditempatnya. Laki-laki yang duduk itu hanya melihat pada wanita yang didepannya. Dia melihat tak bersuara. Hanya bola matanya yang terlihat bergerak kekana dan kekiri. Jam 9 pagi sinar kekuningan mentari terasa menyengat. Aduh. Sungguh panas matari itu tidaklah enak terasa dikulit. Didalam kelas sungguh tidaklah enak. Siswa yang aneh. Tingkah laku yang aneh. Wanita itu hanya duduk diam disamping wanita cantik berkaca mata yang sedang membaca itu.
Disaat kedua wanita itu sibuk dengan kesibukannya sendiri. Seorang laki-laki tegak berdiri didepan mereka.
“ada apa?” tanya wanita berkaca mata itu dengan bencinya.
Laki-laki itu tidak langsung menjawab pertanyaan itu. dia melihat wanita yang dia cintai itu. nadir wanita itu pun menengok sahabatnya. Dia agak terkejut melihat laki-laki itu. dia tidak ingin hatinya kembali sakit. lalu wanita menengok kebawah. Entah apa yang dilihatnya.
“nadir. Aku ingin berbicara padamu” sebutnya
Apa yang dibicarakan oleh laki-laki itu. apa maksudnya? Wanita itu tidak melihatnya. Dia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Dia tidak ingin laki-laki itu menyakiti hatinya lagi, seperti mana dia menyakiti hati nadir beberapa hari yang lalu.
“mau berbicara apa lagi? Kamu belum puas membuatnya tersiksa?” sebut  sahabatnya.
“tidak” jawab laki-laki itu
“lalu apa? Kamu ingin membuat kejutan yang lain untuk nadir? Kamu ingin mempermalukan dia lagi seperti kamu mempermalukan dia tempo hari?” wanita itu sangat marah
“tidak, mah. Kamu jangan salah paham dulu. Aku Cuma minta maaf padanya” sebut rivandi
“ha. Minta maaf? Setelah itu apa?” wanita itu tersenyum kecil mendengar ucapan laki-laki yang tampan itu.
“apa maksud kamu?” tanya rivandi tak enak
“setelah sandiwara minta maaf kamu itu. lalu kamu mau menhina dia lagi? Kamu bilang sama orang lain. Kalau dia jelek buruk rupa? Kalau dia miskin tidak seperti kamu yang kaya itu?” sebut fatimah dengan nada yang marah
Sedangkan wanita berjilbab itu tidak melakukan apa-apa. Dia hanya diam mendengar perdebatan antara sahabatnya dengan laki-laki pujaannya itu. mata laki-laki itu tidak elok. Seperti saat fatimah memukulnya dulu. Ia sungguh, sangat mirip. Lalu rivandi melihat fatimah tidak enak. Matanya aneh seperti marah. Lalu kemudian laki-laki itu melarikan diri dari hadapan wanita itu. fatimah melihatnya dengan aneh.
“fatimah. Apa yang sudah kamu lakukan dengannya” tanya wanita berjilbab itu
“sudah, dir. Jangan lagi membela dirinya”
“dia, Cuma minta maaf sama kita”
Wanita berkaca mata itu melihat nadir. Dia memandangnya dengan aneh. Mengapa? Nadir membela laki-laki itu? sungguh tidak dipercaya. Laki-laki itu sudah mendzalimi dirinya. Tapi dia masih membelanya. Sungguh baik hati wanita itu.
“nadir. Dia hanya berpura-pura. Kita tidak tahu motif dibalik skenario dia. Aku tidak terima dia menghina kamu. Dia pantas mendapatkan itu” sebut wanita itu
Nadir terdiam. Hatinya tak menentu mendengar perkataan sahabatnya itu. wajahnya terlihat murung mungkin dia kecewa. Kecewa? Mengapa? Biarkan saja laki-laki itu tersiksa.
Mentari terlihat beranjak meninggi diatas kepala. Sinarnya terasa menyengat dikulit. Suasana sekolah yang terlihat gersang. Siswa sibuk mengerjakan aktifitasnya masing-masing. Kedua sahabat itu berjalan berdampingan. Entah kemana tujuan mereka. Wanita berjilbab itu tak hayalnya memperbaiki jilbab yang dipakainya, telihat sedikit miring kekanan karena tertiup angin. Mereka menyusuri setiap kelas hingga mereka sampai di sudut sekolah. ah tempat itu sangatlah tidak enak dilihat oleh wanita berjilbab itu. karena tempat itulah hatinya merasa sakit hingga kini belum juga hilang.
Mata wanit-wanita itu melihat-lihat disetiap kerumunan siswa yang mereka lihat. Tidak ada yang spesial. Itu seperti yang biasa mereka lihat sebelumnya.
“nadir, fatimah”
Terdengar suara memanggil nama wanita bersahabat itu. siapa? Mereka mencoba mencari-cari suara itu. mereka menengok kekanan dan kekiri, sering kali mereka saling bertatapan. Mereka agak bingung mencari suara itu. lalu mereka melihat disudut sekolah itu. mereka melangkah sangat tepat. Ditempat itu seorang laki-laki berdiri. Dia rivandi. Laki-laki yang menyukai wanita berkaca mata itu. dan laki-laki yang dicintai oleh wanita berjilbab itu. mereka saling melihat. Memandang dengan mata yang kosong. Nadir terlihat sedikit gugup. Ingin rasanya dia segera lari dari tempat itu. tangannya terasa dingin karena takut pada laki-laki itu. dia tidak ingin lagi hatinya terluka mendengar ejekkannya atas dirinya.
“mau apa lagi?” tanya sahabatnya
Laki-laki itu diam. Tidak menjawabnya. Entah apa yang dia inginkan dari wanit-wanita itu. fatimah melihatnya dengan tidak mengerti. Wajahnya datar tidak ada arti. Biadab. Pikirnya, mengapa dia hanya diam saja. Beberapa detik setelah pertanyaan itu dan laki-laki itu tidak menjawabnya. Ditariknya tangan wanita berjilbab itu. mereka pergi dari tempat itu. namun. Langkah mereka terhenti.
“nadir aku minta maaf?” sebutnya
Fatimah tidak mengerti. Nadir pun menatap dengan mata yang kosong. Laki-laki itu terus menerus melihat kearah wanita itu berharap kedua wanita itu membalikkan wajahnya dan memandangnya.
“aku minta maaf. Aku menyesalkan semua perbuatan aku” sebutnya kembali
Namun kedua wanita itu tidak juga membalikkan tubuhnya. Laki-laki itu berharap cemas. Wajahnya sangat kesihan mengemis minta maaf pada wanita yang pernah ia dzalimi. Fatimah tak menampik semua perkataan laki-laki di belakangnya itu. dia tidak sudi melihat laki-laki itu. kiranya dia hanya berkata dusta. Tapi, tidak. Nadir membalikkan tubuhnya menengok laki-laki pujaannya itu. nadir melihatnya dengan kesihan. Wajahnya sangat penuh pemohonan ampun pada wanita itu. mengapa dia melakukannya? Apa ada motif dibalik ini semua? Hati wanita itu luluh dengan perkataan laki-laki dihadapaannya. Dilihatnya laki-laki itu. tiba-tiba wanita itu melihat laki-laki itu duduk bersujud dihadapannya.
“aku minta maaf nadir. Aku banyak salah padamu. aku tahu, tidak pantas aku mendapatkan maaf darimu. Hatiku telah buta. Aku telalu sombong dengan yang aku punya. Aku sungguh berharap akan maaf darimu”
Wanita itu tekejut. Tidak percaya. Bodoh. Sungguh laki-laki itu bodoh. Apa yang telah dia lakukan? Sepertinya laki-laki itu benar-benar menyesali akan perbuatannya. Wajahnya sungguh menyedihkan. Mendengar itu. wanit berkaca mata itu membalikkan tubuhnya dan melihat laki-laki itu bersujud dihadpannya. Wanita itu luluh, wajah bencinya berubah seketika melihat laki-laki itu bersedih diri untuk meminta maaf.
“kau sungguh baik padaku. Sering kali aku membuatmu sakit hati karena ucapanku. Tapi kau tidak pernah membenciku. Bahkan kau menolong diriku”
“vandi. Apa yang kamu lakukan. Bangunlah” ucap nadir
“tidak. Aku tidak akan bangun sebelum aku mendengar maaf darimu”
“jangan seperti ini. Bangunlah. Tidak pantas kamu meminta maaf padaku. Kamu tidak pernah berbuat salah padaku” ucap nadir khawatir
Laki-laki itu semakin menundukkan kepalanya. Menyesali perbuatannya. Sungguh nadir adalah wanita yang sangat baik. Tidak pernah terbesit dibenak laki-laki itu. sungguh nadir wanita berhati permata.
“nadir” ucap wanita cantik itu
Fatimah sahabatnya tersenyum melihat wanita yang berdiri disampinya itu. dia sangat menganggumi sosok wanita itu. sungguh wanita sangat baik hati. Sedangkan laki-laki itu tak juga membangunkan dirinya. Dia selalu meratap atas kesalahannya. Nadir wanita itu melihatnya seraya berkata
“bangunlah. Jangan kau membuat aku bersalah seperti ini” ucap wanita itu mendesak
Mendengar itu. lalu laki-laki itu membangunkan dirinya. Tanpa bersuara. Fatimah wanita cantik itu hanya diam melihat pergaulan anatara laki-laki yang tampan itu dengan wanita yang berjilbab itu. tak hayalnya fatimah tersenyum melihat wanita itu.
“terima kasih. Nadir” ucap laki-laki itu
Nadir pun tersenyum mendengar ucapan laki-laki itu. hatinya yang benci kini telah luluh karena rivandi. Sungguh hatinya sangat bimbang. Laki-laki itu sepertinya telah berubah. Kebencian nadir terhadap laki-laki itu pun luluh. Rasa iba nadir yang hanya terlihat pada laki-laki itu.











BINTANG YANG TERJATUH..
Sebulan setelah kejadian itu. kini tiba saatnya nadir dan fatimah melaksanakan ujian akhir sekolah. mentari pagi terlihat mengintip diufuk timur. Didalam rumah gubuk kecil itu terlihat nadir bersiap untuk melangkah kesekolah. Harap cemas terbesit dalam pikirannya. Tak hayalnya dia berdo’a pada tuhan untuk diberi keringanan untuk mengerjakan soal. Dia hanya pasrah pada tuhan atas semua yang terjadi. Dia telah melakukan usaha untuk ujiannya. Nadir pun bergegas melarikan diri dari rumahnya. Dia melangkah dengan pasrah, hatinya sangat bahagia akhirnya penderitaannya akan berakhir. Tidak ada lagi yang mencaci akan dirinya. Dirinya melangkah dengan cepat. Dia tak sabar akan memasuki ruang ujiannya.
Mentari pagi kian meninggi tepat pukul 7 pagi. Nadir memasuki sekolahnya. Dia tidak membawa apa pun. Dia tidak membawa kuenya, dia tidak membawa tasnya. Telihat dia hanya membawa sebuah pensil dan pena di saku bajunya. Sungguh sederhana penampilannya. Jilbabnya yang usang memberi warna bagi hidup nadir. Dia melangkah. Terliahat olehnya fatimah yang berdiri didepan kelasnya itu. ingin rasanya ia mengejar mendekati fatimah itu. tak sabar rupanya dia melangkah kakikinya kekelas. Rivandi laki-laki itu juga ia lihat didepan kelasnya. Entah apa yang dia lakukan bersama temannya. Nadir kian cepat melangkah menuju kelasnya. Akhirnya dia dapat menyentuh tangan sahabatnya fatimah. Laki-laki itu melihatnya. Dia pun begitu. Rivandi senyum kecil. Dia pun begitu, sungguh laki-laki itu memang berubah. Sikapnya sangat dingin. Tak terlihat lagi sombong didirinya.
Waktu itu pun tiba. Nadir dan fatimah dengan khusuknya mengerjakan soal ujian yang dihadapannya itu. sekali-kali nadir melihat kearah laki-laki yang duduk didepannya itu. sejenak ia termenung. Saat melihat laki-laki itu, ia teringat semua kejadiannya yang pernah terjadi padanya. Sudahlah. Ucapnya. Ruang kelas yang sunyi tanpa suara. Tak terdengar suara yang keleuar. Hanya terdengar suara batuk kecil siswa.
2 jam berlalu. Akhirnya nadir selesai mengerjakan soal itu. kerut diwajahnya terlihat jelas. Rasa bosan yang terasa dipikirannya. Sungguh itu melelahkan.
“mudah-mudahan nilai kita bagus ya dir?” sebut wanita cantik itu.
“kalau kamu pasti dapat nilai  yang bagus. Kalau aku tidak yakin dengan nilai aku, mah”
“nadir. Jangan berbicara seperti itu”
“sekarang aku pasrah pada tuhan. Apa pun yang terjadi pada nilai aku” sebutnya
Wanita cantik itu tak hentinya menganggumi nadir. Wanita yang perkasa itu. sementara itu. laki-laki pujaannya itu, tak hayalnya memberi semangat pada nadir. Kini hubungan mereka sangat baik, tak terdengar lagi caci makian pada diri wanita berjilbab itu.
2 minggu setelah itu. hari ini sangatlah ditunggu-tunggu semua siswa. Hari pengumuman kelulusan. Kabar gembira dari sekolah. tahun ini disekolah nadir mendapat kesempatan didatangkan oleh bapak menteri. Mengapa? Tidak seperti biasanya. Pikir semua siswa. Tahun ini, disekolah itu ada bintang yang jatuh dari langit. Bintang sekolah yang mendapatkan nilai yang tertinggi seindonesia. Apa iya? Pikir semua siswa. Pastilah itu fatimah wanita cantik itu. atau tidak rivandi laki-laki tampan itu. mungkin saja iya. Mereka selalu mendapatkan nilai yang terbaik. Semua siswa telah berkumpul di aula sekolah. bapak menteri pun terlihat menghadiri acara tersebut. Terlihat fatimah duduk dibarisan depan. Rivandi laki-laki itu duduk dibelakngnya. Hari itu nadir tak terlihat. Kemana dia? Pikir sahabatnya itu. wanita cantik itu mencari-cari nadir tapi tidak juga terlihat oleh matanya. Wali murid yang duduk rapi, akan menyaksikan bintang yang jatuh itu menerima penghargaan yang tertinggi. Siapa dia? Mungkin itulah pertanyaan semua orang tua. Nadir datang terlambat. Dilihatnya wanita berkaca mata itu. nadir menyusuri kelas bersama ibunya. Sungguh nadir sangat sederhana. Memakai pakaian yang sudah tidak putih lagi agak berwarna kuning pudar. Jilbabnya sangat usang. Sungguh kesihan.
“kini tiba saatnya kita akan memberi tahu kepada bapak dan ibu guru. Bahwa sekolah kita pada tahun ini kedatangan bintang yang jatuh dari langit. Dia sungguh bintang sederhana. Dulu dia bintang yang kelam. Tapi kini telah menjadi bintang yang bersinar” sebut kepala sekolah saat memberi pidato terakhirnya.
Sedangkan wanita cantik itu mencari-cari sahabatnya yang sederhana itu. dia melihat-lihat kebelakang tapi tak juga bertemu.
“nadir. Dimana kamu?” tanyanya
“dia sangat berbeda. Dia tidak pintar. Dia tidak pernah mendapatkan nilai yang tertinggi. Semua guru tidak percaya pada dirinya. Dulu lugu kini menjadi bintang yang bersinar” sambung kepala sekolah lalu kemudian “inilah dia bintang yang terjatuh itu...”
Semua siswa penasaran, semua siswa terlihat memegang dadanya. jantung berdebar kencang. Aliran darah semakin deras mengalir. Sungguh penasaran. Wanita cantik didepan itu berharap cemas. Begitu pun dengan rivandi laki-laki itu.   
“nadir” sebut kepala sekolah
Alangkah pilunya hati wanita itu. hatinya kacau. Semua berdiri memberi tepuk tangan. Fatimah menangis haru. Rivandi laki-laki itu tak hayalnya tersenyum gembira. Ibunya menangis. tapi dimana nadir?
“untuk anak kami nadir. Dipersilahkan untuk kedepan” pinta kepala sekolah
Lalu wanita itu berjalan dengan pelannya. Matanya berlinang air mata. Pipinya dibasahi air matanya. Hatinya bergetar. Tuhan terima kasih. Ucapnya. Wanita berjilbab itu terus menyusuri jalanya. Matanya memandang kedepan. Terdengar teriakan teman-temannya yang mengiringi langkah kakinya. Fatimah tidak hayalnya menangis. bukan karena dia kecewa karena dia tidak mendapatkan nilai yang terbaik. Dia menangis bahagia. Karena sahabatnya kini telah menjadi bintang yang bersinar.
Tepuk tangan itu terhenti. Hening sesaat didalam ruangan. Nadir berdiri dengan bangganya.
“.... janganlah pernah merendahkan seseorang atas kekurangannya. Dibalik kekurangannya kita tidak tahu kelebihan dirinya. Terima kasih untuk guru-guruku. Terima kasih atas bimbinganmu selama ini. Terima kasih untuk ibu. Tak kenal lelah bekerja demi anaknya untuk sekolah. terima kasih untuk sahabat saya fatimah. Dia adalah malaikat dalam hidup saya. Dia yang selalu memberi semangat dalam hidup saya. Disaat saat lelah, disaat saya terjatuh, disaat saya letih dia datang untuk memberi energi dalam hidup saya. Terima kasih untuk sahabat saya rivandi. Telah mengajarkan banyak arti dalam hidup ini. Kesalahanmu padaku telah aku maafkan. Percayalah, bila kita berusaha untuk diri kita. Usaha itu tidakkanlah sia-sia. Biar saja kita bintang yang tak terang bersinar diantara bintang-bintang. Tapi percayalah suatu saat kita akan menjadi bintang yang paling bersinar diantara bintang-bintang itu” tutupnya
Tepuk tangan kembali menghiasi suasana pemberian hadiah pada nadir. Wanita itu tak hentinya mengucapkan syukur pada tuhan, fatimah sahabatnya sangat bergembira. Air mata tangisanya selalu mengalir dipipinya. Sungguh nadir bintang yang bersinar diantara bintang yang lainnya.
“selamat ya, dir? Kamu telah membuktikan kalau kamu bisa mendapatkan nilai terbaik” ucap rivandi laki-laki itu usai menerima penghargaan.
Fatimah memeluk sahabatnya. Tangisan itu sangat bermakna. Sungguh fatimah luluh hati melihat sahabatnya itu. air matanya membasahi baju nadir. Rasa bangga terus berkembang dalam dirinya.
“selamat ya, dir. Aku bangga padamu. kamu telah membuktikan padaku. Kalau kamu bisa mengalahkan nilaiku” sebutnya
Memang demikian. Fatimah telah terkalahkan. Dulu fatimah tak terkalahkan. Namun kini fatimah mendapatkan urut dibawah nadir.
“terimah kasih fatimah. Ini semua berkat kamu. Tidak. Aku tidaklah pintar. Kamu yang hebat. kamu tidak pernah terkalahkan. Kamu hebat fatimah” ucapnya
“tidak. Kamu yang hebat nadir.”.
Dua sahabat itu tak hentinya saling memuji. Pelukkan mereka juga belum terlepas. Tangis haru yang selalu terlihat. Laki-laki itu melihatnya dengan bahagia. Dia menyadari hidup tidaklah enak bila sendiri tanpa sahabat. Sahabat tidaklah memandang dari segi apa pun. Rivandi selalu tersenyum. Walau mendapat urut ketiga tidak membuat dia kecewa. Kini saatnya nadir mengubah hidupnya. Mengubah nasib orang tuanya. Dia akan kuliah hingga jenjang S3. Tanpa biaya darinya. Sungguh tuhan memang adil padanya. Hikmah yang tersembunyi pada kejadian yang pernah ia dapat selama ini. Hidup nadir sungguhlah bahagia. Fatimah, wanita cantik itu telah mengubahnya menjadi bintang yang bersinar. Rivandi, laki-laki tampan itu kini telah menjadi sahabatnya. Bukanlah kekasihnya. Dan selamanya bersahabat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Inovasi Media Pembelajaran Berbasis Android

PEMBELAJARAN IPA TERINTEGRASI ETNOSAINS Kurikulum merdeka belajar memiliki empat karakteristik utama untuk mendukung pemulihan pembelajaran ...