LELAKI PUJAAN...
Pagi buta sekali wanita sederhana itu
telah tebangun dari mimpinnya. Tepat pada pukul 4.30 pagi wanita itu bergegas
membantu sang ibu membuat kue untuk dijual. Gadis itu hanya hidup dengan ibunya
tiga tahun yang lalu setelah ayahnya meninggal, dia harus bekerja keras untuk
membantu ibunya berjualan untuk membiayai sekolahnya. Nadir begitulah orang-orang memanggilnya. Wanita yang tak
cantik dan tidak kaya tapi dia memiliki hati yang baik. Cita-citanya menjadi
guru membuatnya harus membanting tulang hingga tak kenal lelah, letih dan
dahaga untuk mencari uang agar terus bersekolah. Didalam rumah gubuk yang kecil
itu nadir banyak menghabiskan waktu-waktunya didapur. Kebanyakan anak-anak sebayanya
asik bermain namun tidak dengannya. Hidup nadir memang malang semua orang
menjauhinya, entah mengapa semua orang membencinya. Mungkin karena dia tidak
cantik? Atau mungkin dia miskin? Entahlah. Tak hanya dirumah dia dibenci orang.
Disekolah dia juga terbuang, terkucilkan oleh temannya. Memang malang nasib gadis itu.
“sudah berapa banyak kuenya, dir?”
tanya ibunya
“lumayan banyak buk”
Didalam gubuk itu terdengar ibu dan
anaknya sedang asik bercakap-cakap. Nadir yang duduk diatas kursi yang tua itu
sedang menghitung kue yang akan dibawaknya kesekolah. Setiap hari nadir selalu
membawa kue hasil buatan ibunya kesekolah untuk dijual. Alhamdulillah kue nadir
selalu habis terjual.
“nanti kamu titipkan saja dikopsis
sekolahmu. Tidak usah dijaga. Nanti pelajaran kamu terganggu. Sebentar lagi kan
kamu mau ujian. Kamu harus belajar biar lulus” ucap wanita separuh baya itu
pada anaknya.
“iya buk” tegas anaknya yang tak hayal
menghitung kue didepannya.
“iya sudah. Mandi sana nanti kamu
kesiangan berangkat kesekolah, ini biar ibu saja yang merapikan” sebut ibunya
Wanita itu tidak bersuara. Dia hanya
mengikuti apa kata ibunya. Mentari pagi bersinar cerah hingga tampak masuk
disela-sela atap rumah tua yang
berlubang. Hanya rumah tua yang rapuh inilah harta satu-satunya yang dimiliki
oleh nadir dan ibunya. Ayahnya tidak meninggalkan banyak harta untuk
keluarganya. Sepoi angin pagi terasa berhembus menari-nari diatas kulit hingga
menusuk kedalam tulang. Didalam gubuk rumah yang tua itu tampak nadir berhias
diri memakaikan pakaian sekolahnya. Terlihat juga ibunya sedari tadi siap pergi
kepasar untuk berjualan kue hasil buatannya.
“nadir berangkat sekolah dulu ya buk?”
ucap nadir sambil mencium tangan ibunya
“iya. Hati-hati nak”
Gadis berjilbab putih itu pun langsung
pergi dan melangkah kesekolah. Terlihat ditangan kanannya dia membawa bingkisan
kue hasil buatannya untuk dijual. Sinar mentari yang menyengat kulit selalu
mengiringi langkah gadis berjilbab itu kesekolah. Nadir sungguh anak yang
sederhana. Tidak pernah meminta lebih pada tuhan. Dia selalu bersyukur apa yang
sudah tuhan berikan pada dirinya. Dia tidak pernah meminta kaya, dia pun tidak
pernah meminta menjadi cantik. Dia bersyukur telah dikaruniai keluarga yang
baik padanya. Panas pagi agak membuat nadir letih, terlihat sekali-kali dia
menghapus keringat yang bercucuran dipipinya. Setiap hari dia melakukan hal
yang sama untuk berangkat kesekolah. Tidak ada temannya yang bersedia
membantunya. Jangankan membantu, melihatnya saja tidak ada yang sudi.
Setibanya disekolah. Nadir langsung
menuju kopsis sekolah untuk menitipkan kue yang telah dibuatnya. Suasana terasa
panas menyengat. Pagi itu memang sangat terasa berbeda, cuaca yang panas. Nadir
pun melangkah kekelasnya. Kelas nadir agak jauh, tepat samping perpustakaan
sekolah. Beberapa langkah dari kopsis tiba-tiba terdengar suara yang memanggil nama
gadis itu.
“nadir” teriaknya
Wanita itu pun mencoba mencari-cari
sumber bunyi tersebut. Dia menengok kekiri dan kekanan tapi dia tidak menemukan
siapa yang memanggilnya. Lalu gadis itu mengabaikan suara itu. Mungkin dia
salah dengar pikirnya dalam hati.
“nadir?” teriaknya lagi
Itu benar-benar memanggil namaku sebutnya
dalam hati. Tetapi siapa yang memanggil nama wanita itu? Ah suara itu
membuatnya penasaran. Tak hayalnya nadir menengok kekiri dan kekanan alangkah
sukanya saat gadis itu melihat wanita cantik berkaca mata yang melambaikan
tanganya dibalik kerumunan siswa dihadapannya itu. Itu ternyata fatimah.
Sahabatnya. Fatimah memang berbeda dengan nadir sungguh berbeda. Fatimah memilki
rupawan yang sangat elok, dia juga pintar, dia anak orang yang berada dan
terpandang. Sungguh jauh berbeda dengan nadir yang memiliki banyak kekurangan.
Fatimah anak yang baik dan tidak sombong. Hanya dia yang bersedia menjadi
sahabat nadir. Disaat semua orang menjauhinya fatimah datang bagaikan malaikat
penyelamatnya.
“fatimah?” serunya
”kamu dari mana, dir?” tanya wanita
yang cantik itu
“aku dari kopsis. Antar kue ibuku”
jawabnya
“berapa banyak ibu kamu buat kue hari
ini?” tanyanya kembali
“iya, seperti biasa” katanya “oh iya,
kamu sudah belum tugas fisika?” tanyanya malu
“sudah. Kamu?” ucapnya pada nadir
Dengan malu-malu nadir menjawab “e-e
belum mah. Aku tidak mengerti. Mau tidak kamu mengajari aku” tanyanya
“serius kamu belum?”
“iya aku belum selesai”
“iya sudah nanti aku ajari kamu
dikelas. Ayo kita kekelas sebentar lagi mau masuk” ajak gadis itu pada nadir
Dalam setiap langkah mereka tersimpan harapan
yang besar pada kedua wanita yang berjalan itu. Terutama pada nadir. Dia selalu
bertanya-tanya pada dirinya. Akan menjadi apa dirinya kelak? Akankah dia
menjadi bintang yang paling bersinar diantara bintang-bintang yang lain dengan
kekurangan yang dia miliki? Ataukah dia akan menjadi penerus ibunya menjual
kue? Dia selalu meratap nasibnya yang tak menentu arah. Sering kali dia
menyendiri disudut sekolah dan bertanya-tanya pada siapa saja yang di lihatnya.
Mungkin pada semut merah yang berbaris didinding itu, atau mungkin pada rumput
ilalang yang bergoyang, atau tidak bertanya sama siapa pun? Dia selalu bertanya
adakah orang yang menyukainya? Sungguh jauh pikirannya. Terkadang terbesit
dibenaknya tentang laki-laki dipujaannya. Rivandi nama laki-laki pujaannya itu.
Laki-laki yang ia kenal sejak awal masuk kesekolah dan kini mereka satu kelas.
Nadir menyadari akan dirinya. Tidak mungkin rivandi yang memiliki wajah yang
tampan rupawan menyukai gadis yang tidak cantik dan tidak kaya sepertinya.
Nadir tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada laki-laki itu. Dia menyimpan
perasaannya itu dalam selembar buku catatannya. Terkadang datang rasa benci
pada laki-laki pujaannya itu. Setiap kali laki-laki itu mencaci akan keburukan
rupa gadis berjilbab itu. Seringkali menghina akan kekurangannya.
“aku nanti boleh main ketempat kamu
tidak, dir?” tanya wanita yang duduk disamping gadis berjilbab itu
“main kerumah aku? Tapi rumah aku tidak
bagus, mah?” jawab nadir
“tidak apa-apa. Aku pengen melihat sungai didekat rumah kamu”
Nadir hanya tersenyum mendengar
kata-kata sahabatnya itu. Suasana terasa menyengat. Suasana kelas tampak tak
enak. Gelisah dan gerah yang terasa ditubuh. Nadir dengan cepatnya menulis
tugas fisikanya. Sekali-kali dia melihat kearah laki-laki yang duduk dikursi
sudut depan kelas itu. Dia tersenyum saat melihat laki-laki itu. Tenyata dia
adalah rivandi laki-laki pujaannya. Sekali-kali laki-laki itu pun melihat
kegadis yang menulis itu. Entah apa yang dilihatnya. Apa dia melihat nadir? Apa
yang lebih dari gadis itu? Sehingga dia melihatnya. Atau mungkin dia melihat
gadis berkaca mata samping nadir itu? Entahlah.
Dilihatnya laki-laki itu
berulang-ulang. Laki-laki itu mendekatinya. Mengapa? Hatinya semakin tak tertahan
bergetar. Langkah laki-laki itu semakin mendekatinya. Memang benar laki-laki
itu mendekati meja nadir.
“fatimah. Nanti aku mau berbicara
padamu?” sebut laki-laki itu
Betapa kecewanya wanita itu. Ternyata
laki-laki itu bukan bercakap denganya tapi dengan fatimah yang duduk
disampingnya. Senyumannya pun terlihat mengerut masam. Harapannya laki-laki itu
berbicara padanya. Tapi. Ah sudahlah. Gadis itu melanjutkan kembali menulis
yang sempat terhenti karena laki-laki itu.
“denganku? Mau berbicara masalah apa?”
tanya wanita cantik itu
Lalu laki-laki itu melihat kearah gadis
yang sedang menulis itu. Mengapa dia melihatnya dengan benci seperti itu?
“nanti saja. Aku tunggu disudut
belakang sekolah” ucap laki-laki itu
“mengapa tidak sekarang saja?” sebutnya
Lalu laki-laki itu melarikan diri tanpa
menyimak permintaan fatimah. Nadir hanya diam menunduk tak mengerti. Dia
mencoba menjelaskannya. Tapi tidak bisa. Perkataan laki-laki itu membuatnya
penasaran. Apa yang ingin dia katakan pada fatimah? Laki-laki itu membuat hati
gadis itu sakit. Dia begitu kejam. Dia tidak menjaga perasaannya. Sedangkan
wanita yang cantik itu kembali membaca buku didepan. Dia tidak begitu menampik
perkataan laki-laki yang tampan itu. Mengapa nadir begitu penasaran? Sungguh
perasaan itu membuatnya berubah.
Tepat jam 10 pagi. Suasana menjadi
pecah saat jam istirahat tiba. Hawa panas masih terasa dikulit. Daun-daun jatuh
berguguran tertiup angin. Angin yang sepoi-sepoi behembus hingga terkena kulit
dan terasa agak sejuk. Gadis cantik berkaca mata itu melangkah kesudut sekolah
untuk bertemu dengan laki-laki yang sudah ia janji akan menemuinya. Gadis
cantik itu tidak seorang diri. Terlihat disampingnya wanita berjilbab putih
berjalan menelusuri alun-alun sekolah bersama fatimah. Dengan hati yang sangat
berat nadir melangkah kesudut sekolah untuk menemani fatimah menumui laki-laki
itu.
“maaf, sudah membuat kamu lama
menunggu” sebut wanita cantik itu pada laki-laki didepnnya.
Laki-laki itu tidak menyadari
kedatangan gadis-gadis itu. Laki-laki itu berdiri menghadap dinding. Entah apa
yang dilihatnya. Sementara itu, wanita berjilbab putih itu hanya berdiam diri
tegak disamping fatimah dan tak hayalnya menundukkan kepalanya. Mendengar itu
laki-laki itu pun membalikkan badanya kearah kedua gadis yang menemuinya.
Setelah melihat keduanya, mata laki-laki itu temenung. Dia terdiam tak
bersuara. Sesaat terdengar dia menarik nafas dalam. Dilihatnya gadis yang
berjilbab putih itu dengan sangat benci.
“kamu mau berbicara apa?” tanya fatimah
kembali
“hei, mengapa kamu disini?” tanya
laki-laki pada wanita berjilbab itu
Nadir hanya diam tak bersuara. Dia pun
tak bergerak sedikit pun. Terlihat jilbabnya bergelombang tertiup angin. Dia
selalu menundukkan kepalanya. Tak berani untuk melihat laki-laki yang ada
dihadapannya itu. Sesaat suasana hening. Tak ada suara yang terdengar dari
wanita yang cantik itu maupun laki-laki yang tampan itu.
“aku yang mengajak dia kesini?” sebut
gadis berkaca mata itu
“mengapa?” tanya laki-laki itu
“apa salahnya?”
“aku tidak suka melihat dia” tutur
laki-laki itu
Entah apa yang membuat laki-laki itu
sangat benci pada nadir. Seakan jijik melihat kehadiran wanita itu. Percakapan itu
membuat nadir semakin tak mengerti. Dia
mencoba untuk memahaminya tapi dia tak sanggup. Dilihatnya laki-laki dihadapannya
itu. Lalu dia kembali menundukkan kepalanya. Laki-laki itu melihatnya dengan
benci pada nadir. Dilihatnya mata rivandi yang tegak berdiri tepat didepannya.
Matanya terlihat merah. Sepertinya dia marah pada wanita itu.
“kamu mau berbicara apa?” tanya kembali
gadis cantik itu
Laki-laki itu hanya diam. Tak menjawab
pertanyaan gadis yang berdiri disampingnya itu. Lalu laki-laki itu melihat
kearah gadis yang bertanya itu. Matanya kosong tak ada arti. Mungkin dia kecewa
dengan kedatangan gadis berjilbab itu. Kedatangan yang tak pernah
diharapkannya. Sekian lama menunggu jawaban dari mulut laki-laki itu dan tak
kunjung jua terdengar sepatah pun. Lalu wanita cantik itu pun menarik tangan
nadir dan langsung meninggalkan laki-laki itu seorang diri. Laki-laki itu hanya
terdiam, berdiri melihat kepergian dua gadis itu dari hadapannya. Dia tidak
menahannya dan membiarkan wnita itu pergi.
Mata laki-laki itu terlihat merah. Dia
marah, kecewa, dan tak tentu arah. Sedangkan kedua gadis itu semakin
menghjilang dari hadapan rivandi dan berjalan menuju kelasnya. Ditengah
perjalanan, nadir selalu bertanya-tanya apa, yang dia ingin bicarakan pada
fatimah. Mengapa dia hanya diam saat ditanya? Nadir menyadari akan hal itu.
Rivandi tidak menginginkan kedatangannya. Dia sangat membenci nadir mungkin itu
alasannya. Oh tuhan apakah itu salah ku? Ucapnya dalam hati.
“maafkan aku fatimah? Karena aku, kau
tidak bisa berbicara dengan rivandi?” sebutnya
Gadis cantik itu tak menghentikan
langkah kakinya mendengar ucapan sahabatnya itu, dia tetap berjalan menyusuri
ubin demi ubin setiap kelas yang dilewati mereka.
“tidak dir. Ini bukan salah kamu. Dia
sendiri yang tidak mau berbicara. Aku sudah menemuinya disudut sekolah. Tapi
dia hanya diam saja” ucap fatimah
“dia benci padaku. Dia tidak suka
melihat akan kedatanganku” sebutnya kemudian “kalau tahu terjadi seperti ini
aku tidak akan datang bersama kamu menemuinya, fatimah” ucap wanita berjilbab
itu.
Langkah fatimah pun terhenti mendengar
perkataan nadir. Sesaat matanya memandang kedepan, dia mencoba untuk menarik
nafas agar dapat menjelaskan perkara ini pada nadir. Sekali-kali dia jua
melihat kearah siswa yang didepanya.
“tidak dir. Ini bukan salah kamu. Dari
awal aku sudah curiga dengan ajakannya. Kamu tidak salah” tutur wanita cantik
itu
Mendengar itu hati Nadir pun luluh tak
berdaya. Dilihatnya wanita cantik dihadapannya itu. Sungguh dia memang cantik.
Matanya sungguh indah. Wajahnya bersih seperti kapas sangat lembut. Tak heran
laki-laki tampan seperti rivandi jatuh cinta pada wanita cantik itu. Dia juga
baik dan pintar. Tapi fatimah tidak pantas memiliki rivandi yang sombong dan
angkuh. Kadang nadir sangat benci pada rivandi laki-laki itu kala dia mencibiri
dirinya didepan siswa yang lainnya. Terkadang kebencian pada laki-laki itu
sempat hilang dibenak nadir, saat dia melihatnya. Rasa suka dan cinta yang tergambar dipikirannya. Keinginannya sangat
besar untuk menjadikan rivandi kekasihnya. Namun. Kadang dia jua menyadari akan
sesuatu hal yang kurang pada dirinya.
FATIMAH, SAHABATKU!!
“enak ya suasana rumah kamu?” sebut
fatimah
“ah, enak bagaimana? Suasa
perkampungan” jawabnya
“rumah nenek aku juga seperti ini
suasananya, aku suka”
Dua wanita sebaya itu duduk ditepi
sungai yang terbentang luas. Hembusan angin yang menerpa membuat mereka sejenak
menghilangkan dahaga panas yang terasa sejak dari pagi. Dua sahabat itu tak
hayalnya bercerita sambil melihat-lihat aliran sungai yang mengalir dari hulu
kehilir.
“setelah SMA kamu mau melanjutkan
kemana, dir?” tanya fatimah
Wanita berjilbab itu terdiam sejenak.
Mungkin dia ingin merangkai kata-kata untuk menjawab pertanyaan sahabatnya itu.
Dia tampak seperti orang yang bodoh, matanya entah melihat kemana. Mungkin dia
melihat ikan yang bermain didalam air. Atau dia melihat segerombolan buih-buih
kecil yang mengalir atau dia tidak melihat apa-apa.
“entahlah. Mungkin tidak” jawabnya lesu
“mengapa?” tanya sahabatnya kembali
“aku ingin mengubah nasibku. Aku ingin
mengejar cita-citaku. Tapi aku menyadari akan kekuranganku. Aku tidak pintar,
aku tidak memiliki uang yang banyak untuk melanjutkan ke tingkat yang lebih
tinggi lagi” cerita wanita yang duduk temenung itu.
“nadir. Kamu jangan berbicara seperti
itu. Tidak baik. Aku tahu kamu punya kemampuan, kamu harus berusaha, jangan
putus asa” sebut wanita cantik itu
“selama ini aku sudah berusaha untuk
itu. Tapi aku tidak bisa”
“jangan berbicara seperti itu, dir.
Kamu harus yakin pasti bisa. kalau kamu menjadi orang yang hebat,
melanjutkan kuliah tak perlu
membayar lagi” cetusnya lalu “mengapa kamu tidak mencoba mengambil beasiswa
saja.”
“beasiswa hanya untuk orang pintar,
mah. Orang yang mendapat nilai tertinggi seperti kamu. Kalau seperti aku, ya
pasti tidak akan diterima”
Sekian lama dua sahabat itu berbincang.
Ingin rasanya fatimah menangis mendengar curahan hati sahabatnya itu. Terlihat
sekali dia menghapus air matanya yang terjatuh membasahi pipinya. Cerita
sahabatnya itu sangat menyentuh jiwa fatimah. Dia sungguh bersedih hati.
Dipandanginya wanita yang ada didepannya itu. Dia tersenyum, entah mengapa yang
membuatnya tersenyum. Namun nadir tidak menyadari itu.
“aku bangga padamu, dir” ucapnya
tiba-tiba
Wanita itu pun tertawa kecil mendengar
ucapan sahabatnya itu.
“apa yang kau banggakan dari ku
fatimah?” tanyanya kemudian “aku tidak memiliki kelebihan. Aku tidak cantik,
aku tidaklah pintar. Aku tidaklah kaya banyak uang. Semua orang menjauhiku”
“aku bangga padamu, dir. Kamu adalah
wanita yang hebat, mencari uang untuk makan, untuk sekolah. Sedangkan aku?
Hanya bisa menikmati uang dari orang tuaku”
“bukankah itu enak? Tidak perlu bekerja
keras untuk mendapatkan uang” tanya nadir
“itu hanya membuat anak menjadi manja.
Tidak mau berusaha. Tidak mau mandiri”
“itu namanya orang tua kamu masih
sayang padamu”
“maksudmu, dir?” tanyanya
“iya. Orang tua kamu tidak ingin
melihat anaknya bekerja keras. Tidak ingin melihat anaknya susah. Mereka ingin
kamu belajar, menjadi anak yang pintar” jawab nadir
Angin sungai semakin kencang bertiup.
Hembusan angin membuat mata mereka menutup kecil. Percakapan ini sangat berarti
bagi dua sahabat itu. Sungguh nadir adalah wanita yang sangat baik hati.
Disetiap kekurangannya tersimpan hati yang seperti permata. Fatimah sungguh beruntung
mempunyai sahabat yang baik dan peduli seperti nadir. Tapi entah mengapa semua
orang menjauhinya. Apa karena rupanya? Ah, itu tidaklah adil. Mengapa mereka
membenci makhluk ciptaan tuhan. Bukankah nadir juga ciptaan tuhan. Nadir juga
sempurna seperti orang lainnya. Bahkan nadir dikaruniakan hati seperti permata.
Sangat indah.
Dua sahabat itu tak henti-hentinya
menatap sungai dihadapannya. Rumah nadir yang tua itu terlihat sangat indah
dari kejauhan mereka. Seperti rumah dilukisan sunggu indah.
“apakah kau menyukai rivandi?” tanya
nadir pada sahabatnya
Wanita itu sungguh terkejut
mendengarnya. Matanya tak melihat kemana-mana. Dia mencoba untuk memahami
pertanyaan sahabatnya itu. Dilihatnya daun yang bergerak disamping kanannya
itu. Wanita itu tak bersuara.
“nadir? Mengapa kau bertanya seperti
itu?” sahutnya tak mengerti
“sepertinya dia menyukaimu?” tuturnya
Wanita itu kembali terdiam. Dia mencoba
memikirkan kata-kata untuk mengalihkan percakapan. Entah apa yang dikatakan
sahabatnya itu. Sungguh kata-katanya sulit untuk dicerna oleh pikiran wanita
cantik itu.
“ah, itu Cuma perasaan kamu saja, dir.
Aku tidak melihat dari sikapnya kalau dia menyukaiku” jawabnya
“aku melihatnya fatimah. Setiap dia
memperhatikan kamu. Dia selalu tersenyum”
“tidak nadir. Aku tidak pernah suka
padanya. Aku tidak ingin pacaran dulu. Nanti saja.” Sahutnya tersenyum malu
Betapa riangnya hati wanita berkerudung
itu. Dia mendengar sendiri dari mulut sahabatnya itu kalau dia tidak mencintai
laki-laki yang bernama rivandi itu. Nadir tersenyum. Entah apa yang membuatnya
tersenyum. Mungkin dia tersenyum mendengar jawaban itu.
Entah sampai kapan percakapan mereka
akan berakhir. Jam telah menunjukkan jam 3 sore. Sudah 2 jam lebih mereka
bercakap ditepi sungai itu. Memang asyik dan menarik, hawa yang dingin membuat
siapa saja yang singgah akan termenung oleh kesejukan hawa disana.
“aku pulang dulu ya, dir?” sebut wanita
cantik itu
“pulang? Nanti saja. mah?”
“sudah sore. Nanti ibu khawatir padaku”
jawabnya
Akhirnya percakapan kedua sahabat itu
pun berakhir. Waktu yang membatasi percakapan mereka membuat kedua wanita itu
harus berpisah. Fathimah melangkah pulang menuju rumahnya sedangkan nadir
kembali kerumahnya yang tua itu.
*****
Hari itu sinar matahari tak terlihat
diufuk timur. Langit tampak mendung. Disekolah nadir menjalani kegiatan yang
mana seperti biasanya. Setelah menitipkan kue buatan ibunya di kopsis sekolah
wanita itu pun melangkah menuju kelasnya. Wanita itu sungguh tidak bersemangat
bila berada disekolah. Hanya cibiran dan ejekkan yang selalu ia dengar. Ada dua
orang yang selalu membuatnya terus untuk pergi kesekolah. Pertama adalah
sahabatnya fatimah. Fatimah memang berbeda dengan siswa yang lainnya. Dia bagaikan
angsa putih yang yang selalu menemani gagak hitam yang terbuang karena
kekurangannya. Fatimah selalu mengisi hari-hari nadir disekolah dan dia juga
memberi perhatian pada nadir untuk tidak putus asa menjalankan sekolahnya. Yang
kedua adalah laki-laki pujaannya rivandi. Walau pun terkadang laki-laki itu
sering membuat hatinya sakit karena laki-laki itu seringkali mengejeknya. Namun
hatinya tetap menyukai rivandi pujaannya.
Hari itu sepertinya bukan hari
keberuntungan bagi wanita berjilbab itu. Saat melangkah kekelas dia tak sengaja
menabrak seseorang yang tidak dilihatnya.
“ma’af” katanya
“hei. Kalau jalan pakai mata. Lihat
kedepan jangan kebawah. Dasar buruk rupa” ucap laki-laki yang menabrak itu
Betapa sakitnya hati wanita itu
mendengar ucapan laki-laki yang berdiri dihadapannya itu. Dia sangat terkejut
ketika melihat laki-laki itu. Dia adalah laki-laki pujaannya, rivandi. Matanya
selalu menatap laki-laki itu. Sakit hatinya bertambah. Wanita itu tidak
menyangka laki-laki itu berbicara sekejam itu padanya. Wanita itu hanya terdiam
dan membisu. Kepalanya selalu tertunduk kebawah. Namun laki-laki dihadapannya
itu selalu memaki dirinya.
“maaf rivandi. Aku tidak sengaja. Aku
tidak melihatmu. Yang mana kotor, biar saya bersihkan” ucap wanita yang berdiri
didepan laki-laki itu
“hei. kamu sadar tidak? Kamu itu jelek,
bodoh. Jangan pernah menyentuh aku. Nanti bajuku tambah kotor kalau dipegang
sama orang yang kotor” sebut laki-laki itu
Perkataan itu sangat menyakitkan hati
nadir. Hati wanita itu tak dapat lagi dilukiskan, betapa hancur mendengar
ucapan laki-laki pujaannya itu. Dia tidak bisa menahan air matanya. Wanita itu
menangis, ingin rasanya dia berteriak pada tuhan, untuk membuatnya menjadi
cantik. Sekian banyak wanita itu mendengar ejekan laki-laki itu, ingin rasanya
dia memukul laki-laki itu. Digenggam tangan kecilnya itu. Dia melakukan itu
bukan untuk ingin memukul laki-laki itu. Tetapi dia mencoba untuk menahan diri
agar dia tidak menangis lebih kecang. Lalu wanita itu melarikan diri dari
hadapan pujaannya itu. Dan laki-laki itu pun tidak menahan wanita yang besedih
hati itu.
Sepanjang jalan wanita itu hanya
menangis. Pikirannya tak menentu. Pikirannya entah kemana. Hatinya sangat
sakit, dia hanya bisa menangis dan menangis. Hingga tiba didalam kelas wanita
itu selalu menangis. Dan duduk ditempat biasanya. Pagi itu didalam kelas terlihat sepi. Hanya wanita yang bersedih itu
seorang diri terlihat. Dia menangis sekuat hati. Dia tidak percaya dengan
semuanya. Sungguh tega laki-laki itu berkata demikian pada dirinya. Sekian lama
wanita yang menangis itu menunggu didalam kelas terlihat seorang wanita yang
datang. Dipandanginya wanita yang masuk itu. Dia tersenyum wanita cantik itu
pun tersenyum. Fatimah sungguh cantik. Nadir ingin menjadi seperti fatimah mempunyai
wajah yang rupawan dia ingin semua orang memujinya seperti mana setiap orang
memuji diri fatimaah yang elok rupa itu. Wanita cantik itu pun melangkah
berhenti tepat didepan wanita yang bersedih itu. Dan dia berkata.
“nadir?” panggilnya lalu “kamu
menangis?” tanyanya
Wanita yang bersedih didepannya itu pun
menjawab dengan hati yang tidak enak. Karena laki-laki pujaannya yang telah menyakiti hatinya.
“tidak, mah. Aku tidak menangis”
jawabnya mengela
“tapi mata kamu merah. Seperti
menangis” tanya wanita cantik itu.
“ah, tadi aku kelilipan. Entah apa yang
masuk kealam mataku” tutur wanita didepannya itu
Wanita yang sedang bersedih itu mencoba
menutupi kesedihannya agar fatimah sahabatnya tidak tahu apa yang telah terjadi
padanya. Wanita itu pun menjawab dengan tersenyum seolah-olah dia baik-baik
saja.
“benar. Kamu baik-baik saja?” tanya
wanita cantik itu kembali
Sahabatnya itu hanya tersenyum dan
menganggukkan kepala. Hari itu nadir tampak tak bersemangat menjalankan
hari-harinya disekolah. Laki-laki itu telah menghilangkan seleranya untuk
belajar. Jam 8 tepat. Nadir melihat dengan jelas laki-laki itu masuk kedalam
kelas. Dia melihatnya. Tapi laki-laki itu tidak melihatnya. Sungguh dia telah
menyakiti hati wanita yang berkerudung itu. Tak sepantasnya dia mengatakan hal
itu didepannya.
Hari ini sekolah nadir akan menjalankan
ujian percobaan menjelang ujian nasional. Persiapan yang sangat baik telah
dipersiapkan oleh wanita yang menunduk itu. Dia telah belajar setiap hari
setelah membantu ibunya membuat kue. Dia ingin mendapatkan nilai yang terbaik.
Dia ingin membuktikan pada semua orang kalau dirinya bisa menjadi terbaik.
Suasana menjadi sunyi saat semua terlihat mengerjakan soal ujian. Wanita itu
sangat bersemangat mengisi setiap butir-butir soal. Sepertinya wanita itu
benar-benar belajar keras untuk mendapatkan nilai yang tinggi. 2 jam berlalu,
akhirnya wanita itu pun menyelesaikan soal-soal itu. Wanita berjilbab itu
keluar meninggalkan kelasnya. Dia keluar menunggu sahabatnya fatimah yang masih
mengerjakan soalnya. Dia sangat percaya diri. Dia bisa menyelesaikan soal itu
lebih cepat dari sahabatnya fatimah. Akhirnya wanita cantik itu pun
menyelesaikan soalnya. Dua sahabat itu pun pergi meninggalkan kelasnya.
“bagaimana, dir. Soalnya?” tanya
sahabatnya
“lumayan enak mah” jawabnya
“yakin lulus tidak?” tanyanya kembali
“insyallah. Aku yakin lulus mah.”
Jawabnya percaya diri “aku yakin bisa mendapat nilai tertinggi. Aku akan
mengalahkan nilai kamu fatimah”
Wanita yang disampingnya itu hanya
tersenyum. Tak bersuara mendengar perkataan sahabatnya nadir. Tak hayalnya dua
sahabat itu melangkah. Entah kemana mereka akan melangkah.
Tak pernah disangka oleh wanita itu.
Tepat didepan pohon jeruk yang kecil itu dia melihat laki-laki berhenti didepan
dua bersahabat itu. Dia melihatnya. Ternyata dia rivandi laki-laki pujaannya.
Alangkah terkejutnya saat dia melihat mata laki-laki itu. Dia tidak dapat
menahan gejolak hatinya. Antara rasa sakit karena perkataannya tadi dan juga rasa cinta. Entah apa yang membuat
laki-laki itu berdiri dihadapan kedua wanita itu. Mungkin dia ingin meminta
maaf pada wanita berjilbab itu. Dipandangnya laki-laki itu, dia tersenyum
kecil. Hatinya sangat senang melihat laki-laki itu. Sedangkan wanita yang
berdiri disampingnya itu melihat rivandi dengan wajah yang tak mengerti. Dia
mencoba untuk menjelaskan wajah laki-laki yang tampan itu. Dia memang tidak
mengerti mengapa laki-laki itu datang menemuinya.
“ada apa?” tanya wanita cantik itu
“aku ingin berbicara padamu” jawabnya
“masalah apa?” tanyanya kembali pada
laki-laki itu
Laki-laki itu kembali memandang wanita
yang berkerudung itu. Dia melihatnya dengan sangat benci. Wanita itu tak
hayalnya menundukkan kepalanya. Dia tidak melihat laki-laki di depannya itu.
Entah apa yang dilihat oleh laki-laki itu pada wanita berjilbab itu. Pandangan
laki-laki itu membuat wanita cantik itu pun melihat kearah nadir. Dia
melihatnya dengan heran.
“temui aku disudut sekolah. Aku ingin
kau sendirian menemuiku” sebut laki-laki tampan itu pada wanita cantik yang
berdiri disamping nadir.
Lalu laki-laki itu melarikan diri dari
hadapan dua wanita itu. Apa yang ingin dilakukan oleh laki-laki itu? Tak
bisakah dia tidak membuat penasaran diri wanita berjilbab itu? Wanita cantik
itu tak bersemangat ingin menemui laki-laki itu disudut sekolah. Dia tidak
ingin membuang waktunya dengan hal yang tak berguna. Lalu dua sahabat itu
kembali melanjutkan perjalanan mereka.
LELAKI YANG KEJAM...
“kamu mau berbicara apa?” tanya wanita
cantik itu
Setelah bertemu laki-laki dan wanita
cantik itu bercakap disudut sekolah. Fatimah datang menemui rivandi seorang
diri tanpa ditemani nadir sahabatnya.
“aku suka kepadamu?’ sebut laki-laki
didepannya itu
Fatimah tidak mengerti dengan ucapan
laki-laki itu. Dia memandang laki-laki itu dengan aneh. Apa laki-laki itu sudah
gila?
“apa yang kau bicarakan ini?” tanya
wanita itu dengan heran
“aku mencintaimu?” sebut laki-laki itu
kembali
Wanita itu kembali tidak mengerti
dengan ucapan laki-laki itu. Perkataan nadir benar, ternyata rivandi selama ini
menyukai wanita cantik itu. Kedua siswa itu kembali saling memandang satu sama
lain. Dilihatnya mata laki-laki itu. Dia penasaran dengannya. Wanita itu
menatap dengan mata yang kosong tak ada arti. Lalu wanita itu membalikkan tubuhnya.
“aku tidak menyukaimu?” jawabnya
Laki-laki itu pun heran dengan jawaban
wanita itu. Mengapa dia tidak menyukainya? Apa yang kurang dari laki-laki yang
tampan itu?
“apa? Apa aku tidak salah dengar kamu
berbicara seperti itu?” tanya laki-laki itu
“tidak” jawabnya
Laki-laki yang berdiri dibelakang wanita
itu tampak marah dengan wanita didepannya. Mata wanita itu menatap kosong
kedepan. Entah apa yang dilihatnya. Sedangkan laki-laki itu menatap dengan tak
percaya. Apa yang membuat wanita cantik itu tidak menerima cintanya? Pikirnya
dalam hati.
Dibalik tembok kelas itu. Wanita
berjilbab putih itu melihat kedua siswa itu bercakap. Hati sakit. Karena
laki-laki pujaannya itu menyatakan cinta pada sahabat baiknya. Hatinya
benar-benar sakit. Sekali-kali dia menghapus air mata yang mengalir dipipinya
itu.
“beri aku alasan yang masuk akal.
Mengapa kamu tidak mencintaiku? Apa kurang dari aku? Aku kaya, aku tampan, aku
pintar. Semua wanita suka padaku” sebut laki-laki itu dengan sombongnya.
Wanita itu cantik itu jijik mendengar
ucapan laki-laki yang berdiri dibelakangnya itu. Sungguh dia benar sombong.
Wanita berjilbab itu menyaksikan laki-laki itu mengatakan cintanya pada
sahabatnya fatimah. Betapa terkejut hati nadir mendengar ucapan laki-laki pujaannnya.
Dia sombong. Bisiknya dalam hati.
“itu hanya pikiran kamu saja. Aku tidak
menyukai kamu, rivandi” jawab wanita itu sekian kalinya
Sementara itu laki-laki tampan itu
terus menatap wanita yang dihadapannya itu. Dia seakan-akan ingin memeluk
wanita itu, dia ingin mengatakan kalau diri wanita itu sangat mencintai
dirinya. Tapi fatimah bukanlah wanita yang bodoh. Fatimah bukanlah seperti
wanita yang pernah menjadi kekasihnya rivandi, yang mudah termakan rayuan dari
rivandi.
Lalu wanita cantik itu melangkah dari
hadapan laki-laki yang berdiri dibelakangnya itu. Sementara itu nadir
menyaksikan pergaulan antara sahabatnya dengan laki-laki pujaannya itu. Dia
menatap dengan heran tidak mengerti dengan semua yang ia saksikan itu.
Lalu rivandi menghentikan langkah
wanita itu. Dan berkata
“jangan pergi. Beri aku alasan yang
jelas. Mengapa kau tidak menyukai aku?”
Jawaban wanita cantik itu tidaklah
membuat rivandi puas. Dia selalu mendesak fatimah untuk menjelaskan alasannya.
Namun bagi fatimah jawabannya itu cukup jelas. Kalau dia tidak menyukai
laki-laki itu. Fatimah pun kembali melangkahkan kakinya. Tiba-tiba.
“karena wanita jelek itu?” kata
laki-laki itu
Ucapanya semakin tidak menentu. Wanita
jelek? Siapa yang dimaksud rivandi? Fatimah kembali menghentikan langkahnya.
Dan kembali menghadap rivandi.
“siapa yang kamu maksud?” tanyanya
“nadir. Wanita jelek itu?” ucapnya
Alangkah pilunya hati nadir mendengar
ucapan laki-laki itu. Mengapa dia harus mendengarkan itu dari mulut pujaannya.
Nadir menangis kecil mendengarnya. Wanita cantik itu tidak mengerti dengan
ucapan rivandi.
“nadir? Apa maksudmu?”
“karena dia kan, kamu tidak suka padaku?”
katanya
“tolong jaga ucapan kamu. Ini tidak ada
hubungannya dengan nadir. Rivandi”
“ah. Sudahlah mah. Aku tahu dia
menyukai aku. Itu alasan kamu menolak cintaku. Kau ingin menjaga perasaan hati
wanita jelek itu, kan?”
Sekian lengkap penderitaan nadir wanita
yang mendengarkan dibalik tembok itu. Apa salah wanita itu sehingga ia selalu
diejek oleh laki-laki itu. Tangisan nadir menjadi-jadi. Ingin rasanya nadir
berteriak pada dunia. Ingin rasanya dia memukul tembok didepannya itu. Tapi ah,
sungguh dia tidak kuasa malakukan itu. Hati dia sangat pilu. Hatinya sangat hancur mendengar
itu semua. Tak dapat dibendungi air matanya yang mengalir dipipinya itu.
“jaga ucapanmu itu. Mengapa kau begitu
membencinya? Dia tidak pernah menyukai orang yang sombong seperti kamu
rivandi!” ucap wanita itu
Fatimah sangat marah pada laki-laki
itu. Dilihatnya laki-laki itu. Ingin rasanya fatimah memukul rivandi yang berdiri
didepannya itu karena dia telah mengejek sahabatnya nadir. Ingin rasanya
fatimah melempari wajahnya dengan sampah yang berserakan itu. Mulutnya begitu
kotor dan jahat. Entah mengapa. Tiba-tiba laki-laki itu tertawa mendengar
ucapan wanita yang dia cintai itu.
“kamu salah. Wanita jelek itu diam-diam
menyukai diriku. Tapi dia tidak bisa mengungkapkannya langsung padaku. Dia tahu
diri. Aku siapa dan dia siapa?” ucapnya
Sungguh ingin rasanya fatimah
membanting kepala laki-laki itu ketembok yang ada didekatnya itu. Fatimah
sungguh kecewa dengan ucapannya itu. Matanya berlinang air mata. Laki-laki itu
sungguh membuatnya sakit hati.
Wanita yang dibenci oleh laki-laki itu
sangat terpukul olehnya. Nadir selalu menangis dibalik tembok itu. Sungguh
kasihan melihatnya. Tak kuasa mendengar itu semua. Akhirnya wanita yang
berjilbab itu pun pergi meninggalkan wanita yang cantik itu bercakap dengan
laki-laki yang tampan itu.
“kau sungguh keterlaluan rivandi. Apa
yang kau sombongkan darimu? Kau tidaklah tampan, kau tidak ada apa-apanya
dibandingkan nadir. Dia adalah wanita yang hebat tidak seperti kamu” tutur
wanita itu dengan nada yang marah
“hebat? ha..hah.. apa yang kau katakan
itu fatimah. Dia sama sekali tidaklah hebat. coba kamu lihat dia, dia miskin
dia jelek buruk rupa. Aku tidak mengerti dengan kamu. mengapa kau selalu
membelanya? Apa kamu tidak malu berteman dengannya? Kamu itu cantik fatimah,
kamu pintar, masih banyak orang yang ingin menjadi teman kamu. Bukan hanya dia
saja” ucap rivandi
Rivandi sepertinya sangat marah dengan
wanita itu. Begitu pun dengan wanita yang cantik itu. Wajahnya berubah menjadi
merah. Wajahnya sangat berubah. Dipipinya
selalu mengalir air matanya. Laki-laki itu telah membuat wajahnya yang
cantik itu berlumuran air mata. Mendengar perkataan laki-laki itu yang sudah
terlewat batas, tiba-tiba tangan cantik wanita itu pun melayangkan diwajah
laki-laki yang didepannya itu. Fatimah tidak tahan mendengar ucapan rivandi
yang menrendahkan sahabatnya. Dipukulnya pipi kanan laki-laki itu. Itu adalah
balasan karena dia telah merendahkan sahabatnya.
“jangan pernah berbicara seperti itu?
Sekarang aku ingin bertanya padamu. Apakah kamu memiliki teman? Apakah kamu bisa
membayar sekolah kamu dengan hasil kerja kamu sendiri? Kamu itu sombong. Kamu
itu hanya bisa menghabiskan uang orang tua kamu. Kamu itu hanya anak yang manja
penikmat harta orang tua. Sungguh itu tidaklah patut untuk disombongkan”
Wanita itu sangat marah. Laki-laki yang
tampan itu hanya diam mendengar ucapan wanita yang dia cintai itu. Matanya
merah seperti ingin marah pada wanita cantik itu. Tak hayalnya rivandi
laki-laki itu memegang pipi yang dipukul oleh fatimah. Ingin rasanya laki-laki
itu memukul wanita pujaannya itu. Ingin rasanya rasa sakit itu juga dirasakan
oleh wanita itu. Tapi itu tidaklah adil. Tidak ingin rivandi menyakiti wanita
pujaannnya itu. Sekian lama memandang laki-laki itu, fatimah akhirnya pergi
meninggalkan rivandi yang memegang pipinya yang sakit itu. Matanya melihat
kearah fatimah dengan benci. Sungguh kasihan melihat laki-laki itu.
Nadir wanita yang malang itu, entah
dimana kini dia berada. Mungkin dia menyendiri, dibelakang kelas karena hatinya
terlalu sakit. Mungkin dia sekarang lagi menangis kecewa dengan laki-laki
pujaannya itu. Entahlah.
PERMATA YANG HILANG
Hari itu. Tepat pukul 8 pagi. Langit
bersinar cerah. Angin pagi berhembus dengan sepoi. Nadir wanita sederhana itu
dengan lesunya melangkah kekelasnya. Hari itu nadir tidak membawa kue buatanya.
Entah mengapa dia tidak menitipkan kue buatanya dikopsis sekolah. Hati yang
kecewa masih terasa dalam dadanya setelah kejadian tempo hari. Tidak pernah
disangkanya dia akan mendapatkan perbuatan seperti itu. Sungguh lidah pujaannya
itu sangatlah tajam. Telinganya sangat sakit mendengar kata-kata dari pujaannya
itu. Nadir melangkah kecil hingga sampai dikelasnya. Kelas tampak sepi. Sunyi
seperti di kuburan. Wanita itu melangkah menuju tempat duduknya. Langkahnya
terhenti tepat samping mejanya. Matanya terpaku pada sebuah kertas putih yang
terletak diatas mejanya. Apa itu? Sebutnya dalam hati. Karena penasaran wanita
itu pun membukanya. Alangkah terkejutnya saat dia membaca surat itu. Ternyata
dari laki-laki pujaannya rivandi. Mengapa dia mengirimkan surat pada wanita
yang telah dia sakiti itu?
“Temui aku
disudut sekolah usai jam sekolah. Hanya dirimu seorang”
Rivandi.
Betapa bahagiannya hati wanita itu
mendapat surat dari pujaannya itu. Rasa benci pada rivandi pun hilang seketika
setelah dia membaca surat darinya. Cinta memang aneh. Kadang benci dan kadang
sayang. Wanita itu pun selalu tersenyum sembari menyimpan surat itu didalam
saku bajunya. Wanita itu selalu menebar senyum setiap saatnya. Hingga fatimah
bingung melihat sahabatnya itu. Sekali-kali dia melihat rivandi, alangkah
senang hatinya melihat laki-laki yang mengirim surat itu padanya. Namun rivandi
laki-laki itu tidak pernah melihat kearah wanita itu. Tak sabar rasanya wanita
itu mengakhiri pelajaran ini. Agar dia bisa menemui laki-laki itu disudut
sekolah. Nadir tak hentinya melihat jarum jam yang selalu berputar. Tingkahnya
memang aneh. Tidak dapat dimengerti oleh sahabatnya fatimah.
Tibalah saatnya. Akhirnya waktu yang
ditunggu-tunggu datang juga. Nadir bergegas pergi kesudut sekolah untuk menemui
laki-laki pujaannya itu. Alangkah suka hatinya nadir dapat bertatap mata dengan
pujaannya itu. Jantungnya selalu berdetak kencang berdetak tak tentu arah.
Bibirnya selalu menebar senyum tak hayalnya dia melangkah dengan tergopoh-gopoh
untuk menemui laki-laki itu. Dipikirannya hanyalah ada nama laki-laki yang
mengirim surat itu.
Akhirnya wanita itu sampai ditempat
yang ditujuinya. Tepat disudut sekolah. Wanita itu melihat rivandi duduk diatas
kursi sekolah yang rapuh. Dia menghadap tembok itu kemudian diraba-raba tembok
dihadapannya itu. Entah apa yang dilakukannya, nadir pun tidak mengerti. Tak
hentinya senyum dibibir wanita itu terpancar. Kemudian wanita itu memanggil
laki-laki yang duduk itu.
“rivandi?” sebutnya
Lalu laki-laki itu pun menengok wanita
yang baru datang itu. Dia melihat wajahnya yang bersenang. Dia juga melihat
bibirnya yang selalu tersenyum. Laki-laki itu menatap dengan aneh. Laki-laki
itu tampak benci memandang wanita yang berdiri dihadapannya itu.
“ada apa kau ingin bertemu dengan ku,
rivandi?” tanya wanita itu tersenyum
Laki-laki itu tak menjawab pertanyaan
wanita yang berjilbab itu. Dia hanya menengok dengan tak ada arti. Sementara
itu nadir tak hayalnya mencoba menahan detak jantungnya yang berdetak hebat
saat dia memandang wajah laki-lakinya itu. Tiba-tiba laki-laki itu berkata.
“apa kamu tidak menyadari keadaanmu?”
sebut laki-laki itu
Perkataan itu tak dapat dimengerti oleh
wanita itu. Sungguh kata-katanya sangat sulit untuk dicerna oleh otaknya.
“apa maksud kamu rivandi?” tanya wanita
itu tersenyum
“apa kamu menyukaiku?” sebutnya
Betapa riangnya hati wanita itu. Nadir
tak hentinya menggenggam tangannya yang kecil itu. Dia mencoba untuk menahan
diri agar tidak salah tingkah mendengar perkataan rivandi itu. Mendengar
pertanyaan itu nadir hanya menganggukkan kepalanya sembari berkata.
“iya” jawabnya malu
“apa kamu tidak malu menyukaiku?” tanya
kembali laki-laki itu
“tidak. Aku tidak malu menyukaimu”
sebutnya
Tak bisa tergambarkan lagi bagaimana
keadaan hati wanita itu. Sungguh dia begitu riang dapat bercakap dengan laki-laki
pujaannya itu. Dalam pikirannya, rivandi adalah laki-laki yang baik, pikiranya
terhadap rivandi selama ini salah.
“tapi aku malu, mencintai orang seperti
kamu” kata laki-laki itu. “kamu berbeda, kamu itu jelek, kamu itu bodoh”
Alangkah pilunya hati nadir mendengar
itu semua. Dengan lantangnya laki-laki itu mengucap kata yang tak enak itu.
Sungguh sangat memilukan. Hatinya wanita itu hancur. Dia hanya diam tak
bersuara ditundukkan kepalanya seraya mendengar setiap perkataan laki-laki yang
mengoceh dihadapannya itu.
“pikir, kamu itu tidaklah pantas untuk
seorang yang tampan sepertiku”
Kata rivandi menengok wanita yang
hampir menangis itu.
“status sosial kita jauh, nadir. Aku
diatas sedangkan kamu? Entah dimana. Kamu itu pantas mencintai orang seperti
kamu juga, yang jelek, miskin dan bodoh.”
Terjatuh sudah air mata wanita itu.
Sungguh tak pernah disangkanya hal itu terjadi. Senyum dibibirnya berubah
menjadi mengerut. Oh tuhan tolong kuatkan hatiku. Ucapnya dalam hati. Laki-laki
itu tidak ada rasa kasihan melihat wanita yang menangis itu.
“janganlah kau menangis nadir. Wajahmu
nanti bertambah jelek” ejeknya “aku tidak perlu tangisan kamu itu. Aku ingin
kau jauh dari hidupku”
“mengapa kau kejam terhadapku. Vandi?”
tanyanya
“kejam? Aku kejam?” laki-laki itu tertawa
“apakah kamu tidak kejam terhadapku, nadir?” tanyanya
“apa salah aku padamu. Aku tidak pernah
berbuat kejam padamu” tanya wanita yang menangis itu
Ucapan laki-laki itu tidaklah masuk
diakal wanita itu. Mengapa pujaannya itu mengatakan kalau ia sudah berbuat
kejam terhadapnya? Bukankah dia selama ini yang kejam pada wanita itu. Dia
sudah melukai hatinya?
“kamu membuat aku tersiksa selama ini.
Kau telah menyukai aku dengan wajah yang burukmu itu. Itu sangat menyiksa
batinku. Aku tidak mengerti dengan kamu nadir. Mengapa kau bisa menyukai aku.
Apa salah aku padamu”
Laki-laki itu kembali mencaci maki
wanita dihadapannya itu. Ingin rasanya wanita itu menutupi telinganya dengan
tangannya yang kecil itu. Tak kuasa dia mendengar ejekan laki-laki itu. Ingin
rasanya wanita itu memukul laki-laki itu seperti dulu fatimah sahabatnya
memukul laki-laki dihadapannya. Tapi wanita itu tidaklah mampu melakukannya,
tubuhnya sungguh lemas. Tangisannya menjadi-jadi. Tapi laki-laki itu tidak
perduli padanya.
“kau sudah membuat fatimah membenci
padaku”
“fatimah? Aku tidak tahu apa-apa”
“bohong” tuturnya lalu “Kemarin dia
menolak cintaku. Itu semua karena kamu. Dia memukulku itu juga dia membelakamu.
Ha, apa untungnya membela wanita buruk rupa sepertimu. Aku tidak percaya”
Laki-laki itu emosi. Matanya melebar
berwarna merah karena marah pada nadir. Tak kuasa nadir menahan gejolak hatinya
yang berubah menjadi kelam. Sungguh hati yang riang kini menjadi beban tak
menentu. Rivandi laki-laki itu kembali menceritakan kejadian yang pernah
dilihat oleh wanita itu ketika tak sengaja nadir menengok fatimah memukul
laki-laki pujaannya yang kejam itu. Tak kuasa menahan kebenciannya, wanita itu
pun pergi tergopoh-gopoh meninggalkan rivandi seorang diri. Dia selalu menangis
mengingat kata-kata yang memilukan itu. Rasa menyesal menyelimuti pikirannya.
Wanita itu terlihat seperti orang gila.
Tak pernah terpikir dari awal oleh
wanita yang menangis itu. Mengapa rivandi ingin menemuinya? Kalau bukan untuk
mendzalimi dirinya. Lalu wanita itu terjatuh kelantai karena ia begitu lemah.
Dia menangis terus menerus. Ingin rasanya ia memukulkan kepalanya ditembok itu.
Ingin rasanya dia memukul dirinya karena dia terlalu bodoh mempercayai
laki-laki yang membencinya itu. Sungguh tak kuasa ia menahan diri. Sementara
itu, laki-laki yang ia tinggalkan seorang diri itu tak menyesal sedikit pun
atas kelakuannya pada wanita yang terjatuh itu. Dia tidak peduli. Dimana
fatimah sahabatnya? Tidak ada. Fatimah tidak ada dimana-mana. Fatimah sudah
pulang kerumah dari tadi. Wanita itu selalu menyesal akan sikapnya yang bodoh
itu.
Bintang
yang kelam...
Seminggu setelah ujian itu. Langit
tampak cerah bersinar. Angin berhembus menggugurkan daun yang kering.
Burung-burung berterbangan dari satu pohon kepohon yang lainnya. Pagi itu
sekolah tampak bersih setelah rumput yang panjang dipangkas oleh kebersihan
sekolah. Hari ini adalah pengumuman hasil ujian yang telah dilaksanakan satu
minggu yang lalu. Semua siswa harap cemas. Begitupun dengan nadir wanita itu.
Pagi itu nadir terlihat sangat bersemangat untuk kesekolah. Dia tak sabar untuk
melihat pengumuman hasil ujiannya yang lalu. Dia berjalan tergopoh-gopoh menuju
kesekolahnya. Hari itu nadir terlihat tidak membawa kuenya kesekolah. Tangannya
kosong, hanya menyandang tas dipunggungnya.
Tiba saatnya dia disekolah. Pagi itu
dia tidak melihat sahabatnya fatimah. Begitu pun dengan laki-laki pujaannya
rivandi. Langit begitu bersih, burung-burung bermain dengan riangnya. Entah mengapa pagi itu wanita berjilbab itu
terlihat senang. Matanya terlihat cerah. Bibirnya tersenyum. Wanita itu
melangkah ke kelasnya. Tidak ada orang didalam kelas itu. Hanya dia seorang
diri. Wanita itu duduk sembari menunggu fatimah sahabatnya datang. Tak sabar
rasanya wanita itu melihat hasil ujiannya.
Fatimah sungguh begitu baik pada wanita
yang selalu dihina itu. Fatimah yang cantik dan pintar membuat nadir selalu
berjuang untuk menjalankan hidup ini. Semua orang keluar kelas. Hanya tinggal
dua sahabat itu. Rivandi dan temannya telah bergegas untuk melihat hasil ujian
yang tertempel di mading sekolah. Bergegas nadir dan fatimah memasukkan buku
mereka kedalam tas. Tak kuasa mereka menahan rasa penasaran itu pada hasil
ujian seminggu yang lalu. Lalu dua wanita itu pun melangkah meninggalkan
kelasnya dan bergegas menuju kerumunan siswa yang lainnya. Langkah mereka
semakin mendekati siswa itu. Teriakan riang siswa terdengar dengan jelasnya.
Itu membuat kedua wanita bersahabat itu semakin penasaran.
Melihat celah dibalik kerumunan itu,
Lalu nadir dan mencoba fatimah mencoba menerobos masuk kedalamnya. Setelah
berhasil mereka berdiri paling depan diantara yang lain. Jari mereka silih
berganti naik turun mencari nama mereka berdua.
“ayo cari dir nama kita..”
Mendengar itu nadir pun tak kuasa
menggerakkan tangannya mencari namanya dan fatimah. Jarinya terhenti pada nama
siswa pada urutan teratas. Nama siswa itu fatimah sahabatnya.
“fatimah, ini nama kamu.” Sebutnya
“mana dir?” sahutnya tak sabar
Betapa riangnya hati wanita cantik itu
ketika melihat namanya yang tertulis dinomor urut satu.
“aku. Lulus dir” sebutnya
Nadir tak menghiraukannya. Dia tak
menemukan namanya dikertas itu. Dia mencoba mencari satu demi satu setiap nama
dikertas itu. Ah sungguh lelah rupanya wanita itu. Dia tak juga menemukan
namanya. Fatimah sahabatnya membantu. Digerknya jari mereka silih berganti.
Sedangkan rivandi laki-laki itu melihat kedua wanita itu dari kejahuan. Mengapa
dia tidak melihat namanya? Mengapa dia hanya melihat seperti tidak peduli?
Laki-laki itu sungguh beruntung. Namanya tertulis dinomor urut kedua setelah
fatimah. Dia memang hebat. nilainya sungguh sempurna. Kembali nadir dan fatimah
mencari-cari nama nadir yang tak juga terlihat. Setelah beberapa lama mencari.
Fatimah menemukan nilai sahabatnya.
“nadir, ini nama kamu.” Sebutnya
“mana, mah?”
Alangkah terkejutnya wanita itu setelah
melihat namanya yang tertulis paling bawah. Hanya dia seorang yang tidak lulus
dalam ujian itu. sungguh pilu hatinya, wanita cantik itu melihat nadir yang
berubah ekspresi itu. matanya termenung tak percaya. Ingin rasanya dia
menangis.
“bagaimana? Lulus? Jangan pernah
berharap mendapat nilai bagus. Dari dulu kamu selalu mendapat nilai paling bawah
kan?”
Terdengar suara itu ditelinga wanita
yang malang itu. lalu fatimah menengok kekirinya. Ternyata rivandi. Sungguh
senang rupanya melihat nadir wanita yang dibencinya itu tidak lulus. Wanita
cantik itu hanya terdiam tak bersuara.
“dasar, buruk rupa. Bodoh. Kalau bodoh
mending jangan sekolah jual kue saja dipasar”
Semua tertawa mendengar perkataan
laki-laki itu. nadir menangis tertunduk malu. Sahabatnya pun tidak percaya
dengan hasil itu.
“sudah pulang saja. Jangan menangis.
percuma menangis tidak merubah hasilnya juga kan? Wajah kamu itu yang harus
dirubah”
Terdengar tertawa siswa semakin keras.
Semua menyoraki nadir. Sungguh pilu nadir mendengar itu. hatinya sakit. Lebih
sakit saat dulu rivandi mengejeknya. Dia menangis, terlihat fatimah mengelus bahunya.
Ingin rasanya fatimah memukul laki-laki itu. ingin rasanya dia melempar
wajahnya yang sombong itu. lalu wanita yang terluka itu melarikan diri dari
kerumunan siswa itu. dia berlari entah kemana, berlari dengan hati yang remuk
karena dia tidak lulus. Dia malu karena ucapan laki-laki itu. rivandi
keterlaluan telah menghina nadir seperti itu. sedangkan fatimah terlihat
mengejar wanita itu dari belakang, hingga sampai kekelas mereka. Nadir hanya
bisa menangis.
“nadir?” sebut fatimah
Namun wanita itu tidak juga melihat
kearah fatimah. Dia terus menangis, menutupi wajahnya dengan tangannya.
Terlihat kerudung wanita itu basah karena air matanya. Sungguh pilu hatinya.
“nadir.” Sapa kembali wanita itu
Lalu wanita menangis itu menengok
kearah wanita cantik yang duduk disampinya. Mereka saling memandang. Mata nadir
dipenuhi air mata. Rasa iba fatimah pada sahabatnya nadir. Sungguh dunia
tidaklah adil pada wanita yang menangis itu. fatimah mencoba untuk menenangkan
nadir yang menangis itu.
“sabar, dir. Ini belum akhir dari
ujian” ucapnya
Lalu tiba-tiba. Wanita yang menangis
itu memeluk fatimah sahabatnya. Mengapa? Mungkin itu yang bisa dia lakukan saat
ini. Sangat erat rupanya wanita itu memeluknya. Tangisannya pun tak kunjung
berhenti. Air mata kekecewaanya pun tak kunjung juga berhenti mengalir
disela-sela matanya.
“sabar dir. Jangan kau dengarkan
perkataan mereka” ucap fatimah
“aku malu mah” sebutnya
Fatimah semakin erat pula memeluk
sahabatnya itu. ia tak pernah merasa jijik dengan nadir.
“mengapa malu? Kau tidak pernah
melakukan yang salah”
Dielusnya pundak wanita itu. sangat
pelan. Iba rasanya melihat wanita itu. tenggelam dalam kebencian dan
kemalangan. Dimana kau tuhan. Mengapa kau biarkan wanita itu tersakiti?
Fatimah mencoba untuk menahan dirinya.
Digenggamkan tangannya. Bukan karena dia ingin memukul nadir karena
tangisannya. Dia melakukan itu karena dia menahan dirinya agar dia tidak
menangis agar air dia tidak keluar.
“aku ingin seperti kamu fatimah”
sebutnya “kau selalu menjadi pujaan setiap pria. Kau cantik, kau pintar, kau
kaya. Kau disukai setiap laki-laki. Aku hanyalah seonggok sampah yang terbuang,
mencoba mencari orang yang mau menerima sampah yang busuk terbuang. Aku adalah
gagak hitam yang berteman dengan angsa-angsa putih yang elok rupawan” tutur
nadir
Alangkah pilu hati fatimah mendengar
ucapan sahabanya itu. tak kuasa menahan air mata, fatimah pun menangis. air
mata dipipinya mengalir. Air mata kecawa dan sedih bercampur menjadi satu. Tak
kuasa rupanya ia menahan itu. kedua wanita itu larut dalam kesedihan. Dalam
pelukan itu. nadir mengungkapkan perasaannya pada fatimah.
“jangan kau berbicara seperti itu
nadir. Kau tidaklah seperti itu”
Sekian kalinya fatimah memberi
nasihatnya pada nadir. Sungguh fatimah wanita yang berbeda. Dia sanga baik pada
nadir. Dia bersedih saat melihat sahabatnya bersedih.
“apa salah aku, mah? Mereka semua
membenci aku. Mereka jijik melihat rupa aku. Apakah aku tidak boleh hidup
didunia ini. Tuhan tidak adil?”ungkapnya
Dilepaskan pelukan fatimah dari nadir.
Rasanya fatimah ingin marah pada nadir yang menangis itu. mengapa nadir menjadi
wanita yang lemah seperti itu.
“jangan kau berbicara seperti itu.
nadir. Tuhan itu selalu berbuat adil pada setiap manusia”
“mengapa tuhan membiarkan aku hidup
dengan penderitaannku ini?”
“nadir. Percayalah. Disetiap masalah
akan ada hikmahnya. Jangan kau berbicara seperti itu. tuhan akan menolongmu
suatu saat nanti. Percaya itu. sudahlah, jangan kau menangis laagi. Jangan kau
masuk dalam hati perkataan mereka tadi”.
Wanita itu sungguh hebat. tangisan
nadir agak mereda. Wanita cantik itu menghapus air mata wanita yang berduka
itu. fatimah sungguh matahari yang selalu menyinari hidup nadir.
“kamu jangan larut dalam kesedihan ini.
Kita harus belajar dengan giat lagi. Kamu jangan putus asa. satu bulan lagi
kita akan menghadapi ujian akhir. Jangan pernah menghiraukan perkataan orang
padamu. Tunjukkan pada mereka kalau kamu bisa mengalahkan mereka. Kalau kamu
bisa mendapatkan nilai yang bagus”
Nadir hanya diam. Tidak menjawab.
Hatinya masih terasa sakit dengan perbuatan laki-laki itu. sungguh laki-laki
pujaannya itu telah membuat hatinya hancur. Dia begitu kejam. Nadir tak kuasa
menaha sakit hatinya. Tak kuasa rasanya dia menjalankan hari-hari.
MATAHARIKU
Setelah kejadian itu. hampir nadir
tidak bersemangat untuk menjalankan hari-harinya. Rasa sakit hati yang memaku
pada dirinya membuat dia selalu membenci laki-laki yang dahulu menjadi
pujaannya. Rivandi sangat kejam telah membuat hati permatanya menjadi batu yang
hitam. Kejadian ini tak akan pernah
dilupankan oleh nadir. Dia akan selalu mengingatnya sampai kapan pun. Kini
nadir begitu giat belajar. Dia tidak putus asa untuk mendapatkan nilai yang
terbaik. Fatimah sahabatnya selalu membantunya. Dia selalu ada untuk nadir.
Selalu datang disaat nadir membutuhkan seorang untuk mendengarkan cerita
hidupnya yang kelam. Satu bulan menjelang hari-hari itu nadir tak hentinya
membuat suatu perubahan dalam dirinya. Ujian akhir itu akan menentukan masa
depannya. Dia tidak lagi memikirkan laki-laki pujaannya itu. dia telah
menghapuskan nama rivandi dalam hatinya. Terlalu banyak nadir menerima sakit
hati selama ini karena laki-laki itu. memang itu semua telah dilakukannya. Kini
dia tidak lagi memikirkan hal yang tidak penting. Kini dia hanya terfokos untuk
ujiannya bulan depan. Berbagai persiapan telah dilakukannya selama satu bulan
ini. Itu semua berkat sahabatnya fatimah yang selalu memberi energi semangat
padanya.
Dihalaman sekolah itu tampak dua wanita
yang bersahabat duduk dibawah pohon yang rindang itu. terlihat mereka
bercap-cakap. Entah apa yang mereka bicarakan. Fatimah terlihat sangat cantik.
Nadir pun begitu. Nadir wanita itu terlihat sangat berbeda dia lebih percaya
diri. Setiap berjalan dia tidak lagi menundukkan kepalanya. Dia tidak menghiraukan
lagi orang mengatakan apa tentangnya. Hal itu sudah biasa terdengar
ditelingannya.
“bagaimana, nadir. Menghadapi ujian
bulan depan?” tanya wanita cantik itu
“aku tidak tahu lagi apa yang harus aku
lakukan. Sejauh ini aku sudah melakukan semampu aku. Aku serahkan semuanya pada
tuha, biar tuhan yang mengaturnya.” Jawab wanita yang riang itu
Fatimah hanya tersenyum mendengar itu.
tak sengaja nadir melihat laki-laki yang pernah menyakiti hatinya. Rivandi yang
berjalan entah kemana. Kelihatannya dia sangat kessepian. Dia terlalu egois dan
sombong. Dia begitu memilih teman. Teman yang sepadan dengannya. Tapi ah
sudahlah wanita itu tidak ingin lagi mengingat laki-laki itu.
Siang itu saat nadir pulang dari
sekolah tak sengaja ditengah jalan dia melihat sosok laki-laki yang dia benci
itu, rivandi. Dia heran melihat laki-laki itu terlantung berjalan seorang diri.
Mengapa dia tidak pulang? Pikirnya. Dilihatnya pula laki-laki itu memegang
kepalanya. Mengapa? Entahlah. Wanita itu melihatnya dengan heran. Lalu
laki-laki itu tiba-tiba terjatuh ketanah karena kepalanya sakit. Wanita itu
heran dan terkejut dengan laki-laki itu. dia bergegas mendekati laki-laki itu.
“rivandi” ucapnya
Dia sungguh khawatir. Dilihat
sekuliling dirinya tak ada seorang pun terlihat. Wanita itu semakin panik.
Dia tidak tahu apa yang dialakukannya
pada laki-laki yang pingsan itu. ingin rasanya wanita itu meningganlkan
laki-laki yang pingsan itu. dia teringat pada kelakuan rivandi pada dirinya.
Sakit dalam hatinya pun belum hilang hingga saat ini. Tapi itu terlalu kejam.
Nadir bukanlah orang yang pendendam. Dia tidak kuasa melihat laki-laki itu
pingsan seorang diri. Laki-laki itu melihat wanita yang dihadapannya. Dia
melihat antara sadar dan tidak, matanya tak jelas melihatnya. Lalu nadir
mengantarkan laki-laki itu kerumahnya dalam keadaan tak sadarkan diri.
Kemudian nadir melangkah pulang. Kini
khawatiranya pada laki-laki itu hilang. Karena rivandi telah berada dirumahnya.
Dalam perjalanan pulang ia selalu teringat pada laki-laki itu. rivandi. Dia
mencoba untuk menghilangkan nama laki-laki itu karena nadir ingin melupakan
laki-laki itu. tapi tidak bisa. semakin dia melupakan, nama laki-laki itu
selalu membayang dibenaknya.
Malam itu, nadir tengah khusuknya
belajar. Dengan lampu yang remang-remang dia menulis kata perkata tugas
sekolahnya. Terlihat ibunya sibuk dengan membersihkan tempat pekerjaannya.
“kapan kamu akan ujian dir?” tanya
ibunya
“dua minggu lagi buk” jawanya
“tidak terasa, tidak lama lagi kamu
akan lulus sekolah”
“iya bu” jawabnya singkat
“kamu harus belajar lebih giat, agar
lulus dengan nilai yang baik”
“insyallah buk”
“maafkan ibu dir. Ibu tidak bisa
melanjutkan kamu setelah lulus ini. Ibu tidak punya uang” sebut ibunya yang
melihat nadir anaknya belajar
Mendengar itu hati nadir begitu pilu.
Ingin rasanya dia menangis. matanya tertunduk tak berdaya. Tangannya terhenti
menulis setelah mendengar ucapan ibunya. Dia tidak meminta lebih pada ibunya.
Dia menyadari akan keadaannya. Lalu wanita itu berkata.
“sudah buk. Nadir tahu itu. nadir tidak
ingin melihat ibu susah. Nadir tidak ingin membebani itu”
Ibunya hanya tersenyum. Wanita itu
kembali menulis dengan hati yang luluh. Sungguh ibunya
telah meluluhkan perasaannya.
BIMBANG?
Waktu menunjukkan pukul 8 pagi. Sinar
kekuningan mentari pagi itu menyambut nadir yang baru saja sampai diruang
kelasnya. Seperti biasa sebelum menuju kelas dia menitipkan kuenya di kopsis
sekolah. dia melihat gerak-gerik setiap sudut sekolah. tidak ada. Sebutnya.
Entah siapa yang dia cari. Fatimah, mungkin itu jawabannya. Atau mungkin
rivandi laki-laki yang ia tolong hari kemarin. Entahlah.
Didalam kelas tak terlihat siapa-siapa.
Hanya hening sunyi. Kemana semua orang? Tanyanya. Dia melihat jam yang
terpajang didinding kelas itu. dia melihatnya. Benar jam sudah menunjukkan
pukul 8 pagi tapi tidak ada satupun temannya yang terlihat. Aneh rasanya.
Wanita hanya duduk dalam kebodohan. Selalu bertanya-tanya dalam hatinya.
Kesendirian itu mungkin membuatnya lebih baik. Sejenak untuk tidak mendengarkan
ejekan dari teman-temannya. Wanita itu tak hayalnya melihat keluar kelas
mencoba mencari-cari temanya. Tapi tak terlihat juga. Wanita itu penasaran. Dia
keluar kelas untuk mencari jawaban dari pertanyaannya itu. saat melangkah di
depan pintu kelas. Tiba-tiba seorang laki-laki lewat didepannya. Sontak wanita
itu menundukkan kepalanya. Dia melihat wajah laki-laki itu dengan samar. Siapa
dia? Tanyanya dalam hati. Dia menengok lagi. Alangkah terkejutnya wanita itu.
laki-laki itu rivandi pujaannya. Dia benci melihatnya. Hatinya kembali sakit.
tapi, hari itu tampak berbeda dengan laki-laki itu. mengapa? Dia melihat kearah
wanita itu. wajahnya terlihat berbeda tidak seperti biasanya. Ia memang berbeda,
setiap saat melihat nadir, laki-laki itu selalu menghinanya. Tapi hari itu
tidak. Rivandi masuk kekelas tak bersuara. Sungguh tingkahnya membuat wanita
itu bertanya-tanya. Didalam kelas terlihat laki-laki itu duduk dikursi yang
tidak jauh dari wanita itu berdiri didedakt pintu. Hanya terlihat mereka
berdua. Aduhai, betapa indahnya hari itu bagi wanita yang berdiri itu. hanya
mereka berdua tidak ada yang lain. Tapi wanita itu terlalu sakit hati padanya,
kini perasaan suka telah tergantikaan oleh rasa benci yang sangat dalam.
Sekian lama menunggu akhirnya wanita
yang ditunggu-tunggu olehnya telah tampak. Dia senang.
“nadir?”sebutnya
“fatimah. Mengapa baru datang?” tanya
wanita itu
“tadi aku ada pekerjaan. Ibu aku lagi
tidak ada. Jadi aku yang harus melakukannya”
Dua sahabat itu pun masuk dan duduk
ditempatnya. Laki-laki yang duduk itu hanya melihat pada wanita yang
didepannya. Dia melihat tak bersuara. Hanya bola matanya yang terlihat bergerak
kekana dan kekiri. Jam 9 pagi sinar kekuningan mentari terasa menyengat. Aduh.
Sungguh panas matari itu tidaklah enak terasa dikulit. Didalam kelas sungguh
tidaklah enak. Siswa yang aneh. Tingkah laku yang aneh. Wanita itu hanya duduk
diam disamping wanita cantik berkaca mata yang sedang membaca itu.
Disaat kedua wanita itu sibuk dengan
kesibukannya sendiri. Seorang laki-laki tegak berdiri didepan mereka.
“ada apa?” tanya wanita berkaca mata
itu dengan bencinya.
Laki-laki itu tidak langsung menjawab
pertanyaan itu. dia melihat wanita yang dia cintai itu. nadir wanita itu pun
menengok sahabatnya. Dia agak terkejut melihat laki-laki itu. dia tidak ingin
hatinya kembali sakit. lalu wanita menengok kebawah. Entah apa yang dilihatnya.
“nadir. Aku ingin berbicara padamu”
sebutnya
Apa yang dibicarakan oleh laki-laki itu.
apa maksudnya? Wanita itu tidak melihatnya. Dia tidak ingin mengulangi
kesalahan yang sama. Dia tidak ingin laki-laki itu menyakiti hatinya lagi,
seperti mana dia menyakiti hati nadir beberapa hari yang lalu.
“mau berbicara apa lagi? Kamu belum
puas membuatnya tersiksa?” sebut
sahabatnya.
“tidak” jawab laki-laki itu
“lalu apa? Kamu ingin membuat kejutan
yang lain untuk nadir? Kamu ingin mempermalukan dia lagi seperti kamu
mempermalukan dia tempo hari?” wanita itu sangat marah
“tidak, mah. Kamu jangan salah paham
dulu. Aku Cuma minta maaf padanya” sebut rivandi
“ha. Minta maaf? Setelah itu apa?”
wanita itu tersenyum kecil mendengar ucapan laki-laki yang tampan itu.
“apa maksud kamu?” tanya rivandi tak
enak
“setelah sandiwara minta maaf kamu itu.
lalu kamu mau menhina dia lagi? Kamu bilang sama orang lain. Kalau dia jelek
buruk rupa? Kalau dia miskin tidak seperti kamu yang kaya itu?” sebut fatimah
dengan nada yang marah
Sedangkan wanita berjilbab itu tidak
melakukan apa-apa. Dia hanya diam mendengar perdebatan antara sahabatnya dengan
laki-laki pujaannya itu. mata laki-laki itu tidak elok. Seperti saat fatimah
memukulnya dulu. Ia sungguh, sangat mirip. Lalu rivandi melihat fatimah tidak
enak. Matanya aneh seperti marah. Lalu kemudian laki-laki itu melarikan diri
dari hadapan wanita itu. fatimah melihatnya dengan aneh.
“fatimah. Apa yang sudah kamu lakukan
dengannya” tanya wanita berjilbab itu
“sudah, dir. Jangan lagi membela
dirinya”
“dia, Cuma minta maaf sama kita”
Wanita berkaca mata itu melihat nadir.
Dia memandangnya dengan aneh. Mengapa? Nadir membela laki-laki itu? sungguh
tidak dipercaya. Laki-laki itu sudah mendzalimi dirinya. Tapi dia masih
membelanya. Sungguh baik hati wanita itu.
“nadir. Dia hanya berpura-pura. Kita
tidak tahu motif dibalik skenario dia. Aku tidak terima dia menghina kamu. Dia
pantas mendapatkan itu” sebut wanita itu
Nadir terdiam. Hatinya tak menentu
mendengar perkataan sahabatnya itu. wajahnya terlihat murung mungkin dia
kecewa. Kecewa? Mengapa? Biarkan saja laki-laki itu tersiksa.
Mentari terlihat beranjak meninggi
diatas kepala. Sinarnya terasa menyengat dikulit. Suasana sekolah yang terlihat
gersang. Siswa sibuk mengerjakan aktifitasnya masing-masing. Kedua sahabat itu
berjalan berdampingan. Entah kemana tujuan mereka. Wanita berjilbab itu tak
hayalnya memperbaiki jilbab yang dipakainya, telihat sedikit miring kekanan
karena tertiup angin. Mereka menyusuri setiap kelas hingga mereka sampai di
sudut sekolah. ah tempat itu sangatlah tidak enak dilihat oleh wanita berjilbab
itu. karena tempat itulah hatinya merasa sakit hingga kini belum juga hilang.
Mata wanit-wanita itu melihat-lihat
disetiap kerumunan siswa yang mereka lihat. Tidak ada yang spesial. Itu seperti
yang biasa mereka lihat sebelumnya.
“nadir, fatimah”
Terdengar suara memanggil nama wanita
bersahabat itu. siapa? Mereka mencoba mencari-cari suara itu. mereka menengok
kekanan dan kekiri, sering kali mereka saling bertatapan. Mereka agak bingung
mencari suara itu. lalu mereka melihat disudut sekolah itu. mereka melangkah
sangat tepat. Ditempat itu seorang laki-laki berdiri. Dia rivandi. Laki-laki
yang menyukai wanita berkaca mata itu. dan laki-laki yang dicintai oleh wanita
berjilbab itu. mereka saling melihat. Memandang dengan mata yang kosong. Nadir
terlihat sedikit gugup. Ingin rasanya dia segera lari dari tempat itu.
tangannya terasa dingin karena takut pada laki-laki itu. dia tidak ingin lagi
hatinya terluka mendengar ejekkannya atas dirinya.
“mau apa lagi?” tanya sahabatnya
Laki-laki itu diam. Tidak menjawabnya.
Entah apa yang dia inginkan dari wanit-wanita itu. fatimah melihatnya dengan
tidak mengerti. Wajahnya datar tidak ada arti. Biadab. Pikirnya, mengapa dia
hanya diam saja. Beberapa detik setelah pertanyaan itu dan laki-laki itu tidak
menjawabnya. Ditariknya tangan wanita berjilbab itu. mereka pergi dari tempat
itu. namun. Langkah mereka terhenti.
“nadir aku minta maaf?” sebutnya
Fatimah tidak mengerti. Nadir pun
menatap dengan mata yang kosong. Laki-laki itu terus menerus melihat kearah
wanita itu berharap kedua wanita itu membalikkan wajahnya dan memandangnya.
“aku minta maaf. Aku menyesalkan semua
perbuatan aku” sebutnya kembali
Namun kedua wanita itu tidak juga
membalikkan tubuhnya. Laki-laki itu berharap cemas. Wajahnya sangat kesihan
mengemis minta maaf pada wanita yang pernah ia dzalimi. Fatimah tak menampik
semua perkataan laki-laki di belakangnya itu. dia tidak sudi melihat laki-laki
itu. kiranya dia hanya berkata dusta. Tapi, tidak. Nadir membalikkan tubuhnya
menengok laki-laki pujaannya itu. nadir melihatnya dengan kesihan. Wajahnya
sangat penuh pemohonan ampun pada wanita itu. mengapa dia melakukannya? Apa ada
motif dibalik ini semua? Hati wanita itu luluh dengan perkataan laki-laki
dihadapaannya. Dilihatnya laki-laki itu. tiba-tiba wanita itu melihat laki-laki
itu duduk bersujud dihadapannya.
“aku minta maaf nadir. Aku banyak salah
padamu. aku tahu, tidak pantas aku mendapatkan maaf darimu. Hatiku telah buta.
Aku telalu sombong dengan yang aku punya. Aku sungguh berharap akan maaf
darimu”
Wanita itu tekejut. Tidak percaya.
Bodoh. Sungguh laki-laki itu bodoh. Apa yang telah dia lakukan? Sepertinya
laki-laki itu benar-benar menyesali akan perbuatannya. Wajahnya sungguh
menyedihkan. Mendengar itu. wanit berkaca mata itu membalikkan tubuhnya dan
melihat laki-laki itu bersujud dihadpannya. Wanita itu luluh, wajah bencinya
berubah seketika melihat laki-laki itu bersedih diri untuk meminta maaf.
“kau sungguh baik padaku. Sering kali
aku membuatmu sakit hati karena ucapanku. Tapi kau tidak pernah membenciku.
Bahkan kau menolong diriku”
“vandi. Apa yang kamu lakukan.
Bangunlah” ucap nadir
“tidak. Aku tidak akan bangun sebelum
aku mendengar maaf darimu”
“jangan seperti ini. Bangunlah. Tidak
pantas kamu meminta maaf padaku. Kamu tidak pernah berbuat salah padaku” ucap
nadir khawatir
Laki-laki itu semakin menundukkan
kepalanya. Menyesali perbuatannya. Sungguh nadir adalah wanita yang sangat
baik. Tidak pernah terbesit dibenak laki-laki itu. sungguh nadir wanita berhati
permata.
“nadir” ucap wanita cantik itu
Fatimah sahabatnya tersenyum melihat
wanita yang berdiri disampinya itu. dia sangat menganggumi sosok wanita itu.
sungguh wanita sangat baik hati. Sedangkan laki-laki itu tak juga membangunkan
dirinya. Dia selalu meratap atas kesalahannya. Nadir wanita itu melihatnya
seraya berkata
“bangunlah. Jangan kau membuat aku
bersalah seperti ini” ucap wanita itu mendesak
Mendengar itu. lalu laki-laki itu
membangunkan dirinya. Tanpa bersuara. Fatimah wanita cantik itu hanya diam
melihat pergaulan anatara laki-laki yang tampan itu dengan wanita yang
berjilbab itu. tak hayalnya fatimah tersenyum melihat wanita itu.
“terima kasih. Nadir” ucap laki-laki
itu
Nadir pun tersenyum mendengar ucapan
laki-laki itu. hatinya yang benci kini telah luluh karena rivandi. Sungguh
hatinya sangat bimbang. Laki-laki itu sepertinya telah berubah. Kebencian nadir
terhadap laki-laki itu pun luluh. Rasa iba nadir yang hanya terlihat pada
laki-laki itu.
BINTANG YANG TERJATUH..
Sebulan setelah kejadian itu. kini tiba
saatnya nadir dan fatimah melaksanakan ujian akhir sekolah. mentari pagi
terlihat mengintip diufuk timur. Didalam rumah gubuk kecil itu terlihat nadir
bersiap untuk melangkah kesekolah. Harap cemas terbesit dalam pikirannya. Tak
hayalnya dia berdo’a pada tuhan untuk diberi keringanan untuk mengerjakan soal.
Dia hanya pasrah pada tuhan atas semua yang terjadi. Dia telah melakukan usaha
untuk ujiannya. Nadir pun bergegas melarikan diri dari rumahnya. Dia melangkah
dengan pasrah, hatinya sangat bahagia akhirnya penderitaannya akan berakhir.
Tidak ada lagi yang mencaci akan dirinya. Dirinya melangkah dengan cepat. Dia
tak sabar akan memasuki ruang ujiannya.
Mentari pagi kian meninggi tepat pukul
7 pagi. Nadir memasuki sekolahnya. Dia tidak membawa apa pun. Dia tidak membawa
kuenya, dia tidak membawa tasnya. Telihat dia hanya membawa sebuah pensil dan
pena di saku bajunya. Sungguh sederhana penampilannya. Jilbabnya yang usang
memberi warna bagi hidup nadir. Dia melangkah. Terliahat olehnya fatimah yang
berdiri didepan kelasnya itu. ingin rasanya ia mengejar mendekati fatimah itu.
tak sabar rupanya dia melangkah kakikinya kekelas. Rivandi laki-laki itu juga
ia lihat didepan kelasnya. Entah apa yang dia lakukan bersama temannya. Nadir
kian cepat melangkah menuju kelasnya. Akhirnya dia dapat menyentuh tangan
sahabatnya fatimah. Laki-laki itu melihatnya. Dia pun begitu. Rivandi senyum
kecil. Dia pun begitu, sungguh laki-laki itu memang berubah. Sikapnya sangat
dingin. Tak terlihat lagi sombong didirinya.
Waktu itu pun tiba. Nadir dan fatimah
dengan khusuknya mengerjakan soal ujian yang dihadapannya itu. sekali-kali
nadir melihat kearah laki-laki yang duduk didepannya itu. sejenak ia termenung.
Saat melihat laki-laki itu, ia teringat semua kejadiannya yang pernah terjadi
padanya. Sudahlah. Ucapnya. Ruang kelas yang sunyi tanpa suara. Tak terdengar
suara yang keleuar. Hanya terdengar suara batuk kecil siswa.
2 jam berlalu. Akhirnya nadir selesai
mengerjakan soal itu. kerut diwajahnya terlihat jelas. Rasa bosan yang terasa
dipikirannya. Sungguh itu melelahkan.
“mudah-mudahan nilai kita bagus ya
dir?” sebut wanita cantik itu.
“kalau kamu pasti dapat nilai yang bagus. Kalau aku tidak yakin dengan
nilai aku, mah”
“nadir. Jangan berbicara seperti itu”
“sekarang aku pasrah pada tuhan. Apa
pun yang terjadi pada nilai aku” sebutnya
Wanita cantik itu tak hentinya
menganggumi nadir. Wanita yang perkasa itu. sementara itu. laki-laki pujaannya
itu, tak hayalnya memberi semangat pada nadir. Kini hubungan mereka sangat
baik, tak terdengar lagi caci makian pada diri wanita berjilbab itu.
2 minggu setelah itu. hari ini
sangatlah ditunggu-tunggu semua siswa. Hari pengumuman kelulusan. Kabar gembira
dari sekolah. tahun ini disekolah nadir mendapat kesempatan didatangkan oleh
bapak menteri. Mengapa? Tidak seperti biasanya. Pikir semua siswa. Tahun ini,
disekolah itu ada bintang yang jatuh dari langit. Bintang sekolah yang
mendapatkan nilai yang tertinggi seindonesia. Apa iya? Pikir semua siswa.
Pastilah itu fatimah wanita cantik itu. atau tidak rivandi laki-laki tampan
itu. mungkin saja iya. Mereka selalu mendapatkan nilai yang terbaik. Semua
siswa telah berkumpul di aula sekolah. bapak menteri pun terlihat menghadiri
acara tersebut. Terlihat fatimah duduk dibarisan depan. Rivandi laki-laki itu
duduk dibelakngnya. Hari itu nadir tak terlihat. Kemana dia? Pikir sahabatnya
itu. wanita cantik itu mencari-cari nadir tapi tidak juga terlihat oleh
matanya. Wali murid yang duduk rapi, akan menyaksikan bintang yang jatuh itu
menerima penghargaan yang tertinggi. Siapa dia? Mungkin itulah pertanyaan semua
orang tua. Nadir datang terlambat. Dilihatnya wanita berkaca mata itu. nadir
menyusuri kelas bersama ibunya. Sungguh nadir sangat sederhana. Memakai pakaian
yang sudah tidak putih lagi agak berwarna kuning pudar. Jilbabnya sangat usang.
Sungguh kesihan.
“kini tiba saatnya kita akan memberi
tahu kepada bapak dan ibu guru. Bahwa sekolah kita pada tahun ini kedatangan
bintang yang jatuh dari langit. Dia sungguh bintang sederhana. Dulu dia bintang
yang kelam. Tapi kini telah menjadi bintang yang bersinar” sebut kepala sekolah
saat memberi pidato terakhirnya.
Sedangkan wanita cantik itu
mencari-cari sahabatnya yang sederhana itu. dia melihat-lihat kebelakang tapi
tak juga bertemu.
“nadir. Dimana kamu?” tanyanya
“dia sangat berbeda. Dia tidak pintar.
Dia tidak pernah mendapatkan nilai yang tertinggi. Semua guru tidak percaya
pada dirinya. Dulu lugu kini menjadi bintang yang bersinar” sambung kepala
sekolah lalu kemudian “inilah dia bintang yang terjatuh itu...”
Semua siswa penasaran, semua siswa
terlihat memegang dadanya. jantung berdebar kencang. Aliran darah semakin deras
mengalir. Sungguh penasaran. Wanita cantik didepan itu berharap cemas. Begitu
pun dengan rivandi laki-laki itu.
“nadir” sebut kepala sekolah
Alangkah pilunya hati wanita itu.
hatinya kacau. Semua berdiri memberi tepuk tangan. Fatimah menangis haru.
Rivandi laki-laki itu tak hayalnya tersenyum gembira. Ibunya menangis. tapi
dimana nadir?
“untuk anak kami nadir. Dipersilahkan
untuk kedepan” pinta kepala sekolah
Lalu wanita itu berjalan dengan
pelannya. Matanya berlinang air mata. Pipinya dibasahi air matanya. Hatinya
bergetar. Tuhan terima kasih. Ucapnya. Wanita berjilbab itu terus menyusuri
jalanya. Matanya memandang kedepan. Terdengar teriakan teman-temannya yang
mengiringi langkah kakinya. Fatimah tidak hayalnya menangis. bukan karena dia
kecewa karena dia tidak mendapatkan nilai yang terbaik. Dia menangis bahagia.
Karena sahabatnya kini telah menjadi bintang yang bersinar.
Tepuk tangan itu terhenti. Hening
sesaat didalam ruangan. Nadir berdiri dengan bangganya.
“.... janganlah pernah merendahkan
seseorang atas kekurangannya. Dibalik kekurangannya kita tidak tahu kelebihan
dirinya. Terima kasih untuk guru-guruku. Terima kasih atas bimbinganmu selama
ini. Terima kasih untuk ibu. Tak kenal lelah bekerja demi anaknya untuk
sekolah. terima kasih untuk sahabat saya fatimah. Dia adalah malaikat dalam
hidup saya. Dia yang selalu memberi semangat dalam hidup saya. Disaat saat
lelah, disaat saya terjatuh, disaat saya letih dia datang untuk memberi energi
dalam hidup saya. Terima kasih untuk sahabat saya rivandi. Telah mengajarkan
banyak arti dalam hidup ini. Kesalahanmu padaku telah aku maafkan. Percayalah,
bila kita berusaha untuk diri kita. Usaha itu tidakkanlah sia-sia. Biar saja kita
bintang yang tak terang bersinar diantara bintang-bintang. Tapi percayalah
suatu saat kita akan menjadi bintang yang paling bersinar diantara
bintang-bintang itu” tutupnya
Tepuk tangan kembali menghiasi suasana
pemberian hadiah pada nadir. Wanita itu tak hentinya mengucapkan syukur pada
tuhan, fatimah sahabatnya sangat bergembira. Air mata tangisanya selalu
mengalir dipipinya. Sungguh nadir bintang yang bersinar diantara bintang yang
lainnya.
“selamat ya, dir? Kamu telah
membuktikan kalau kamu bisa mendapatkan nilai terbaik” ucap rivandi laki-laki
itu usai menerima penghargaan.
Fatimah memeluk sahabatnya. Tangisan
itu sangat bermakna. Sungguh fatimah luluh hati melihat sahabatnya itu. air
matanya membasahi baju nadir. Rasa bangga terus berkembang dalam dirinya.
“selamat ya, dir. Aku bangga padamu.
kamu telah membuktikan padaku. Kalau kamu bisa mengalahkan nilaiku” sebutnya
Memang demikian. Fatimah telah
terkalahkan. Dulu fatimah tak terkalahkan. Namun kini fatimah mendapatkan urut
dibawah nadir.
“terimah kasih fatimah. Ini semua
berkat kamu. Tidak. Aku tidaklah pintar. Kamu yang hebat. kamu tidak pernah
terkalahkan. Kamu hebat fatimah” ucapnya
“tidak. Kamu yang hebat nadir.”.
Dua sahabat itu tak hentinya saling
memuji. Pelukkan mereka juga belum terlepas. Tangis haru yang selalu terlihat.
Laki-laki itu melihatnya dengan bahagia. Dia menyadari hidup tidaklah enak bila
sendiri tanpa sahabat. Sahabat tidaklah memandang dari segi apa pun. Rivandi
selalu tersenyum. Walau mendapat urut ketiga tidak membuat dia kecewa. Kini
saatnya nadir mengubah hidupnya. Mengubah nasib orang tuanya. Dia akan kuliah
hingga jenjang S3. Tanpa biaya darinya. Sungguh tuhan memang adil padanya.
Hikmah yang tersembunyi pada kejadian yang pernah ia dapat selama ini. Hidup
nadir sungguhlah bahagia. Fatimah, wanita cantik itu telah mengubahnya menjadi
bintang yang bersinar. Rivandi, laki-laki tampan itu kini telah menjadi
sahabatnya. Bukanlah kekasihnya. Dan selamanya bersahabat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar