Minggu, 24 April 2016

KARYA ILMIAH



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Apa kabar Indonesia? Setelah berlaku Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada akhir tahun 2015 yang lalu. Barang, jasa, dan tenaga kerja semakin mudah untuk lalu lalang di negara anggota ASEAN. Bagi Indonesia, kesepakatan itu bisa menjadi pedang bermata dua. Jika diolah dan dikelola dengan baik, produk dan tenaga kerja Indonesia berpotensi merajai pasar Asia Tenggara. Sebaliknya, jika tak siap berkompetisi, Indonesia hanya akan menjadi pasar bagi negara anggota ASEAN lain.
Dari sekian banyak negara ASEAN, Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar, yakni 250 juta orang atau 40 persen dari total penduduk ASEAN. Jumlah ini menandakan Indonesia merupakan potensi pasar terbesar sekaligus pemilik sumber daya manusia terbanyak di ASEAN.
Pendidikan merupakan hal yang penting dalam menyambut MEA. Karena dengan pendidikan akan menciptakan sumber daya manusia yang memiliki daya saing profesional dan berkompeten dalam bidangnya. Tetapi, kenyataannya pendidikan indonesia jauh tertinggal dari negara-negara tetangga seperti malaysia. Hal ini yang membuat pemerintah indonesia gencar untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia yang memiliki keterampilan dan profesional melalui pendidikan untuk dapat bersaing dengan negara ASEAN lainnya.
MEA dapat dikatakan berbahaya bagi indoneia, tetapi juga merupakan peluang bagi indonesia untuk menunjukkan kemampuan dalam bebagai bidang.  Selain itu pemerintah juga harus mempersiapkan secara matang infrastruktur, tenaga kerja dan iklim bisnis dalam negeri. Dan diperlukan peraturan yang mendukung dunia usaha seperti membuat aturan untuk mempermudah seseorang untuk mendirikan usaha di Indonesia.
Pasar tunggal Asean telah terbentuk pada tahun 2015, namun masih muncul pro dan kontra dalam isu ini. Bagi yang pro, sedikitnya ada empat alasan yang mendasarinya. Pertama, dengan adanya pasar tunggal Asean, perusahaan dalam negeri dan masyarakat regional akan lebih mampu berkompetisi dengan pasar internasional. Dengan begitu, tingkat kesejahteraan penduduk diprediksi akan meningkat karena persaingan dalam perekonomian dengan terpacunya setiap individu yang ingin memperoleh kehidupan yang layak. Kedua, terbukanya lapangan pekerjaaan yang berarti mengurangi penggangguran negara. Banyaknya perdagangan dan perusahaan internasional yang masuk maka akan sangat membutuhkan tenaga kerja. Ketiga, setiap individu dan barang-barang yang masuk dan keluar akan lebih mudah dan bebas hambatan untuk mengembangkan pasar internasional di negara lain. Keempat, ada suatu kebijakan dalam sistem ini yang mana semua keunggulan dari barang-barang perdagangan setiap negara di kawasan ditampung dalam suatu wadah pasar tunggal. Sehingga, disini akan menguntungkan masing-masing negara karena bergabung menjadi satu dan sesama anggota Asean tidak bersaing dalam ekspor impor barang yang sama. Bilapun sama maka akan dapat bekerjasama.
Sedangkan bagi masyarakat yang kontra, setidaknya ada tiga alasan yang melatarinya. Pertama, belum siapnya beberapa negara Asean untuk mengadakan infrasrtuktur dengan segala kebijakannya yang akan berdampak pada keterpurukan rakyat miskin dan tidak berpendidikan. Kedua, dengan semakin bebasnya sistem ini, maka pengusaha kecil dan pengusaha tradisional yang belum kuat akan dengan mudah tergusur dan gulung tikar akibat persaingan dari pengusaha kelas kakap negara luar. Ketiga, masing-masing negara anggota Asean tidak mustahil bersaing tidak sehat sehingga sulit untuk menyatukan prinsip dan pemikiran. Hal ini juga disebabkan karena masih banyak ketimpangan dan kesenjangan ekonomi antar negara-negara Asia Tenggara.
Namun demikian, paham tidak paham, sepakat tidak sepakat, gong pasar tunggal ini telah ditabuh dan pementasannya telah dimulai pada tahun 2015.








BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pendidikan Indonesia
Di tengah arus globalisasi yang kian besar dan tantangan yang ada di depan mata adalah menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 harus diperhatikan sebagai peluang untuk mensejahterakan rakyat. Dengan arus kapital yang kuat dapat mendorong terciptanya peluang usaha atau bisnis baru dan membuka lapangan pekerjaan baru. Disamping dengan adanya arus investasi asing diperlukan sumberdaya manusia yang kompetibel. Dengan memiliki kemampuan dan pengetahuan dalam menghadapi tantangan MEA 2015 diharapkan adanya transfer teknologi dan informasi untuk kemandirian bangsa kedepan.
Pembangunan nasional di Indonesia mencakup berbagai aspek, di antaranya adalah aspek pendidikan. Sebagai warga negara Indonesia haruslah disadari sepenuhnya akan pentingnya pendidikan, Guna meniti derap langkah dunia ilmu pengetahuan yang semakin maju dan berkembang,  pendidikan memegang  peranan yang sangat penting di tengah-tengah kehidupan manusia, sejalan dengan itu penyelenggaraan pendidikan harus selaras dengan tujuan pendidikan nasional yang telah ditetapkan dalam Udang-Udang Republik Indonesia No. 2 tahun 1989, bab I, Pasal 1 yang berbunyi :
"Pendidkan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik memalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan bagi perannya dimasa yang akan datang"
Sumber daya manusia yang bermutu hanya dapat diwujudkan dengan pendidikan yang bermutu. Pendidikan bermutu adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi-potensi positif yang terpendam dalam diri siswa didik.
Dengan pendidikan bermutu, pendidikan menghasilkan tenaga-tenaga muda potensial yang tangguh dan siap bersaing dalam masyarakat dunia. Oleh karena itu, upaya peningkatan mutu pendidikan merupakan hal yang tidak dapat ditawar lagi dalam rangka meningkatkan mutu sumber daya bangsa Indonesia. Pendidikan merupakan proses sistematis untuk meningkatkan martabat manusia secara holistik. Idealisme pada pendidikan mengedepankankan nilai-nilai humanisme yang mendasar sehingga dengan niai-nilai tersebut mampu membentuk manusia-manusia yang berkualitas. Banyak realita di lapangan yang menunjukkan bahwa kualitas manusia Indonesia sebagai sumber daya yang potensial masih jauh dari harapan. Hal ini terjadi akibat rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia.
Di Indonesia pada kenyataannya, ketenagakerjaan masih menghadapi masalah yang komplek, diantaranya: tingginya tingkat pengangguran, terbatasnya penciptaan dan perluasan kesempatan kerja, rendahnya produktivitas pekerja/buruh serta masih belum maksimalnya penerapan UMK. Masalah ketenagakerjaan lainnya, seperti kasus pemogokan, perselisihan kerja, pemutusan hubungan kerja (PHK), serta kasus pekerja anak, dan sebagainya, juga turut mewarnai bidang ketenagakerjaan. Belum lagi masalah tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri, khususnya yang bekerja di sektor rumah tangga, juga menuai banyak masalah karena minimnya pengawasan dan perlindungan.
Tantangan pendidikan indonesia semakin berat seajalan berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), Indonesia harus melihat tantangan MEA dalam hal pendidikan, yang mana kita ketahui bahwa pendidikan indonesia jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara tetangga.
B.     Fakta Lapangan
Melihat realitas, sumber daya manusia kita belum bisa bersaing secara optimal di pasar. Mobilitas tenaga kerja terampil takkan terbendung pada 2015, saat komunitas Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) berlaku efektif. Indonesia tidak bisa lagi menutup pasar tenaga kerja bagi negara Asean lainnya. Tanpa akselerasi dalam peningkatan kualitas pendidikan dan keterampilan serta kesungguhan dalam dunia pendidikan dan dunia usaha, bukan mustahil, pasar tenaga kerja di sektor usaha yang menjanjikan pendapatan tinggi diisi oleh pekerja asing. Tenaga kerja Indonesia bisa jadi bakal terpinggirkan dan hanya akan menjadi pesuruh bangsa lain.
Kita tidak menafikan bahwa banyak anak bangsa yang memiliki talenta dan kecerdasan luar biasa. Namun, secara umum, daya saing tenaga kerja Indonesia saat ini masih rendah dibandingkan Singapura, Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Filipina. Menurut Asian Productivity Organization (APO), dari setiap 1.000 tenaga kerja Indonesia hanya ada sekitar 4,3% yang terampil, sedangkan Filipina 8,3%, Malaysia 32,6%, dan Singapura 34,7%. (Jurnal, Nur Ulwiyah. 2015 Tantangan Dunia Pendidikan Menghadapi Pasar Tunggal Asean 2015).
Fakta lain menunjukkan, pemerintah telah memasok tenaga kerja Indonesia (TKI) ke sejumlah negara. Hingga Desember 2010, jumlah WNI yang bekerja di luar negeri mencapai 3,29 juta orang. Sebagai bagian dari MEA, kita memang sudah memasok banyak tenaga kerja ke Malaysia dan Singapura. Bahkan, jumlah TKI di Malaysia mencapai 2,2 juta orang. (Jurnal, Nur Ulwiyah. 2015 Tantangan Dunia Pendidikan Menghadapi Pasar Tunggal Asean 2015). Meski begitu, kita juga sering mendengar kisah pilu dari para TKI kita. Nasib mereka pun tidak semakin baik. Buruknya kualitas tenaga kerja ini, mau tidak mau menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan untuk selalu memperbaiki sistem dan prakteknya.
C.     Tantangan Dunia Pendidikan Menghadapi Pasar Tunggal Asean
Ketika pendidikan terlibat menyambut datangnya pasar tunggal Asean 2015, sejatinya adalah mempersiapkan sumber daya manusia yang terampil, peka dan kritis. Terampil bekerja, peka permasalahan dan kritis dalam berperan.
Ketiga kecakapan ini mutlak hadir dalam pasar tunggal Asean. Pasar tunggal tidak bisa dipahami dari aspek ekonomi saja, melainkan juga dari aspek non-ekonomi yaitu ideologi, sosial, politik, budaya, dan sebagainya. Pemahaman ini perlu dibangun dan diinternalisasikan agar Indonesia menjadi negara yang mandiri dan bermartabat. Mandiri berarti bebas dari intervensi bangsa lain dalam menentukan arah kebijakannya, termasuk kebijakan mencerdaskan dan menyejahterakan rakyatnya. Bermartabat berarti bekerjasama dengan bangsa lain tanpa harus kehilangan (karena menjual) harga diri.
Adapun ciri pendidikan hadap-masalah adalah: 1) memilih tugas berdasarkan realitas, 2) dialog sebagai prasyarat sebagai laku pemahaman untuk menguak realitas, 3) murid diarahkan sebagai pemikir yang kritis, 4) mendasari atas kreatifitas, sehingga mendorong refleksi dan tindakan yang benar atas realitas, 5) manusia menjadi makhluq yang berada dan selalu dalam pembelajaran.
Bagi negara Indonesia, pasar tunggal harus menjadi arena penampilan atas keunggulan-keunggulan kompetitif yang dimiliki, sekaligus menjadi cermin koreksi atas ketertinggalan-ketertinggalan dari negara anggota ASEAN yang lain, khususnya ketertinggalan dalam mendidik rakyatnya sebagai sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi.
Untuk mengentas masalah SDM di Indonesia, transformasi pendidikan merupakan suatu keniscayaan karena dengan ini pendidikan manusia Indonesia seutuhnya dapat terlaksana. Dengan terlaksananya pendidikan manusia seutuhnya, pendidikan akan mampu mencetak anak-anak bangsa yang potensial dan siap berperan aktif dalam masyarakat dunia. Sebagai generasi yang potensial, empat pilar pendidikan dapat terintegrasi dalam diri mereka yang nantinya memberikan kesejahteraan bagi kehidupan mereka di masa depan.
MEA akan menjadi tantangan tersendiri bagi Bangsa Indonesia dengan transformasi kawasan ASEAN menjadi pasar tunggal dan basis produksi, sekaligus menjadikan kawasan ASEAN yang lebih dinamis dan kompetitif. Pemberlakuan MEA dapat pula dimaknai sebagai harapan akan prospek dan peluang bagi kerjasama ekonomi antar kawasan dalam skala yang lebih luas, melalui integrasi ekonomi regional kawasan Asia Tenggara, yang ditandai dengan terjadinya arus bebas (free flow) : barang, jasa, investasi, tenaga kerja, dan modal.
Dengan hadirnya ajang MEA ini, Indonesia sejatinya memiliki peluang untuk memanfaatkan keunggulan dengan meningkatkan skala ekonomi dalam negeri, sebagai basis memperoleh keuntungan, dengan menjadikannya sebagai momentum memacu pertumbuhan ekonomi.
MEA mendatang seyogyanya perlu terus dikawal dengan upaya-upaya terencana dan targeted dengan terus meningkatkan sinergitas, utamanya dalam meningkatkan dukungan menata ulang kelembagaan birokrasi, membangun infrastruktur, mengembangkan sumberdaya manusia, perubahan sikap mental serta meningkatkan akses financial terhadap sektor riil yang kesemuanya bermuara pada upaya meningkatkan daya saing ekonomi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Inovasi Media Pembelajaran Berbasis Android

PEMBELAJARAN IPA TERINTEGRASI ETNOSAINS Kurikulum merdeka belajar memiliki empat karakteristik utama untuk mendukung pemulihan pembelajaran ...