BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Apa
kabar Indonesia?
Setelah berlaku
Masyarakat
Ekonomi ASEAN (MEA) pada akhir tahun 2015 yang lalu. Barang, jasa, dan
tenaga kerja semakin mudah untuk lalu lalang di negara anggota ASEAN. Bagi
Indonesia, kesepakatan itu bisa menjadi pedang bermata dua. Jika diolah dan
dikelola dengan baik, produk dan tenaga kerja Indonesia berpotensi merajai
pasar Asia Tenggara. Sebaliknya, jika tak siap berkompetisi, Indonesia hanya
akan menjadi pasar bagi negara anggota ASEAN lain.
Dari sekian
banyak negara ASEAN, Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar, yakni 250
juta orang atau 40 persen dari total penduduk ASEAN. Jumlah ini menandakan
Indonesia merupakan potensi pasar terbesar sekaligus pemilik sumber daya
manusia terbanyak di ASEAN.
Pendidikan
merupakan hal yang penting dalam menyambut MEA. Karena dengan pendidikan akan
menciptakan sumber daya manusia yang memiliki daya saing profesional dan
berkompeten dalam bidangnya. Tetapi, kenyataannya pendidikan indonesia jauh
tertinggal dari negara-negara tetangga seperti malaysia. Hal ini yang membuat
pemerintah indonesia gencar untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia yang
memiliki keterampilan dan profesional melalui pendidikan untuk dapat bersaing
dengan negara ASEAN lainnya.
MEA dapat
dikatakan berbahaya bagi indoneia, tetapi juga merupakan peluang bagi indonesia
untuk menunjukkan kemampuan dalam bebagai bidang. Selain itu pemerintah juga harus
mempersiapkan secara matang infrastruktur, tenaga kerja dan iklim bisnis dalam
negeri. Dan diperlukan peraturan yang mendukung dunia usaha seperti membuat
aturan untuk mempermudah seseorang untuk mendirikan usaha di Indonesia.
Pasar
tunggal Asean telah terbentuk pada tahun 2015, namun masih muncul pro dan
kontra dalam isu ini. Bagi yang pro, sedikitnya ada empat alasan yang
mendasarinya. Pertama, dengan adanya pasar tunggal Asean, perusahaan
dalam negeri dan masyarakat regional akan lebih mampu berkompetisi dengan pasar
internasional. Dengan begitu, tingkat kesejahteraan penduduk diprediksi akan
meningkat karena persaingan dalam perekonomian dengan terpacunya setiap
individu yang ingin memperoleh kehidupan yang layak. Kedua, terbukanya
lapangan pekerjaaan yang berarti mengurangi penggangguran negara. Banyaknya
perdagangan dan perusahaan internasional yang masuk maka akan sangat
membutuhkan tenaga kerja. Ketiga, setiap individu dan barang-barang yang
masuk dan keluar akan lebih mudah dan bebas hambatan untuk mengembangkan pasar
internasional di negara lain. Keempat, ada suatu kebijakan dalam sistem
ini yang mana semua keunggulan dari barang-barang perdagangan setiap negara di
kawasan ditampung dalam suatu wadah pasar tunggal. Sehingga, disini akan
menguntungkan masing-masing negara karena bergabung menjadi satu dan sesama
anggota Asean tidak bersaing dalam ekspor impor barang yang sama. Bilapun sama
maka akan dapat bekerjasama.
Sedangkan
bagi masyarakat yang kontra, setidaknya ada tiga alasan yang melatarinya. Pertama,
belum siapnya beberapa negara Asean untuk mengadakan infrasrtuktur dengan
segala kebijakannya yang akan berdampak pada keterpurukan rakyat miskin dan
tidak berpendidikan. Kedua, dengan semakin bebasnya sistem ini, maka
pengusaha kecil dan pengusaha tradisional yang belum kuat akan dengan mudah
tergusur dan gulung tikar akibat persaingan dari pengusaha kelas kakap negara
luar. Ketiga, masing-masing negara anggota Asean tidak mustahil bersaing
tidak sehat sehingga sulit untuk menyatukan prinsip dan pemikiran. Hal ini juga
disebabkan karena masih banyak ketimpangan dan kesenjangan ekonomi antar
negara-negara Asia Tenggara.
Namun
demikian, paham tidak paham, sepakat tidak sepakat, gong pasar tunggal ini
telah ditabuh dan pementasannya telah dimulai pada tahun 2015.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pendidikan Indonesia
Di tengah
arus globalisasi yang kian besar dan tantangan yang ada di depan mata adalah
menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 harus diperhatikan sebagai
peluang untuk mensejahterakan rakyat. Dengan arus kapital yang kuat dapat
mendorong terciptanya peluang usaha atau bisnis baru dan membuka lapangan
pekerjaan baru. Disamping dengan adanya arus investasi asing diperlukan
sumberdaya manusia yang kompetibel. Dengan memiliki kemampuan dan pengetahuan
dalam menghadapi tantangan MEA 2015 diharapkan adanya transfer teknologi dan informasi
untuk kemandirian bangsa kedepan.
Pembangunan
nasional di Indonesia mencakup berbagai aspek, di antaranya adalah aspek
pendidikan. Sebagai warga negara Indonesia haruslah disadari sepenuhnya akan
pentingnya pendidikan, Guna meniti derap langkah dunia ilmu pengetahuan yang
semakin maju dan berkembang, pendidikan
memegang peranan yang sangat penting di
tengah-tengah kehidupan manusia, sejalan dengan itu penyelenggaraan pendidikan
harus selaras dengan tujuan pendidikan nasional yang telah ditetapkan dalam
Udang-Udang Republik Indonesia No. 2 tahun 1989, bab I, Pasal 1 yang berbunyi :
"Pendidkan
adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik memalui kegiatan bimbingan,
pengajaran, dan latihan bagi perannya dimasa yang akan datang"
Sumber
daya manusia yang bermutu hanya dapat diwujudkan dengan pendidikan yang
bermutu. Pendidikan bermutu adalah pendidikan yang mampu mengembangkan
potensi-potensi positif yang terpendam dalam diri siswa didik.
Dengan
pendidikan bermutu, pendidikan menghasilkan tenaga-tenaga muda potensial yang
tangguh dan siap bersaing dalam masyarakat dunia. Oleh karena itu, upaya
peningkatan mutu pendidikan merupakan hal yang tidak dapat ditawar lagi dalam
rangka meningkatkan mutu sumber daya bangsa Indonesia. Pendidikan merupakan proses
sistematis untuk meningkatkan martabat manusia secara holistik. Idealisme pada
pendidikan mengedepankankan nilai-nilai humanisme yang mendasar sehingga dengan
niai-nilai tersebut mampu membentuk manusia-manusia yang berkualitas. Banyak
realita di lapangan yang menunjukkan bahwa kualitas manusia Indonesia sebagai
sumber daya yang potensial masih jauh dari harapan. Hal ini terjadi akibat
rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia.
Di
Indonesia pada kenyataannya, ketenagakerjaan masih menghadapi masalah yang
komplek, diantaranya: tingginya tingkat pengangguran, terbatasnya penciptaan
dan perluasan kesempatan kerja, rendahnya produktivitas pekerja/buruh serta
masih belum maksimalnya penerapan UMK. Masalah ketenagakerjaan lainnya, seperti
kasus pemogokan, perselisihan kerja, pemutusan hubungan kerja (PHK), serta
kasus pekerja anak, dan sebagainya, juga turut mewarnai bidang ketenagakerjaan.
Belum lagi masalah tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri, khususnya yang
bekerja di sektor rumah tangga, juga menuai banyak masalah karena minimnya
pengawasan dan perlindungan.
Tantangan
pendidikan indonesia semakin berat seajalan berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN
(MEA), Indonesia harus melihat tantangan MEA dalam hal pendidikan, yang mana
kita ketahui bahwa pendidikan indonesia jauh tertinggal dibandingkan dengan
negara-negara tetangga.
B. Fakta
Lapangan
Melihat
realitas, sumber daya manusia kita belum bisa bersaing secara optimal di pasar.
Mobilitas tenaga kerja terampil takkan terbendung pada 2015, saat komunitas
Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) berlaku efektif. Indonesia tidak bisa lagi
menutup pasar tenaga kerja bagi negara Asean lainnya. Tanpa akselerasi dalam
peningkatan kualitas pendidikan dan keterampilan serta kesungguhan dalam dunia
pendidikan dan dunia usaha, bukan mustahil, pasar tenaga kerja di sektor usaha
yang menjanjikan pendapatan tinggi diisi oleh pekerja asing. Tenaga kerja
Indonesia bisa jadi bakal terpinggirkan dan hanya akan menjadi pesuruh bangsa
lain.
Kita
tidak menafikan bahwa banyak anak bangsa yang memiliki talenta dan kecerdasan
luar biasa. Namun, secara umum, daya saing tenaga kerja Indonesia saat ini
masih rendah dibandingkan Singapura, Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Filipina.
Menurut Asian Productivity Organization (APO), dari setiap 1.000 tenaga kerja
Indonesia hanya ada sekitar 4,3% yang terampil, sedangkan Filipina 8,3%,
Malaysia 32,6%, dan Singapura 34,7%. (Jurnal, Nur Ulwiyah. 2015 Tantangan Dunia
Pendidikan Menghadapi Pasar Tunggal Asean 2015).
Fakta
lain menunjukkan, pemerintah telah memasok tenaga kerja Indonesia (TKI) ke
sejumlah negara. Hingga Desember 2010, jumlah WNI yang bekerja di luar negeri
mencapai 3,29 juta orang. Sebagai bagian dari MEA, kita memang sudah memasok
banyak tenaga kerja ke Malaysia dan Singapura. Bahkan, jumlah TKI di Malaysia
mencapai 2,2 juta orang. (Jurnal, Nur
Ulwiyah. 2015 Tantangan Dunia Pendidikan
Menghadapi Pasar Tunggal Asean 2015). Meski begitu, kita juga sering
mendengar kisah pilu dari para TKI kita. Nasib mereka pun tidak semakin baik.
Buruknya kualitas tenaga kerja ini, mau tidak mau menjadi tamparan keras bagi
dunia pendidikan untuk selalu memperbaiki sistem dan prakteknya.
C.
Tantangan Dunia
Pendidikan Menghadapi Pasar Tunggal Asean
Ketika
pendidikan terlibat menyambut datangnya pasar tunggal Asean 2015, sejatinya
adalah mempersiapkan sumber daya manusia yang terampil, peka dan kritis.
Terampil bekerja, peka permasalahan dan kritis dalam berperan.
Ketiga
kecakapan ini mutlak hadir dalam pasar tunggal Asean. Pasar tunggal tidak bisa
dipahami dari aspek ekonomi saja, melainkan juga dari aspek non-ekonomi yaitu
ideologi, sosial, politik, budaya, dan sebagainya. Pemahaman ini perlu dibangun
dan diinternalisasikan agar Indonesia menjadi negara yang mandiri dan
bermartabat. Mandiri berarti bebas dari intervensi bangsa lain dalam menentukan
arah kebijakannya, termasuk kebijakan mencerdaskan dan menyejahterakan
rakyatnya. Bermartabat berarti bekerjasama dengan bangsa lain tanpa harus
kehilangan (karena menjual) harga diri.
Adapun
ciri pendidikan hadap-masalah adalah: 1) memilih tugas berdasarkan realitas, 2)
dialog sebagai prasyarat sebagai laku pemahaman untuk menguak realitas, 3)
murid diarahkan sebagai pemikir yang kritis, 4) mendasari atas kreatifitas,
sehingga mendorong refleksi dan tindakan yang benar atas realitas, 5) manusia
menjadi makhluq yang berada dan selalu dalam pembelajaran.
Bagi
negara Indonesia, pasar tunggal harus menjadi arena penampilan atas keunggulan-keunggulan kompetitif yang
dimiliki, sekaligus menjadi cermin koreksi atas ketertinggalan-ketertinggalan
dari negara anggota ASEAN yang lain, khususnya ketertinggalan dalam mendidik
rakyatnya sebagai sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi.
Untuk mengentas masalah SDM di
Indonesia, transformasi pendidikan merupakan suatu keniscayaan karena dengan
ini pendidikan manusia Indonesia seutuhnya dapat terlaksana. Dengan
terlaksananya pendidikan manusia seutuhnya, pendidikan akan mampu mencetak
anak-anak bangsa yang potensial dan siap berperan aktif dalam masyarakat dunia.
Sebagai generasi yang potensial, empat pilar pendidikan dapat terintegrasi
dalam diri mereka yang nantinya memberikan kesejahteraan bagi kehidupan mereka
di masa depan.
MEA akan
menjadi tantangan tersendiri bagi Bangsa Indonesia dengan transformasi kawasan
ASEAN menjadi pasar tunggal dan basis produksi, sekaligus menjadikan kawasan
ASEAN yang lebih dinamis dan kompetitif. Pemberlakuan MEA dapat pula dimaknai
sebagai harapan akan prospek dan peluang bagi kerjasama ekonomi antar kawasan
dalam skala yang lebih luas, melalui integrasi ekonomi regional kawasan Asia
Tenggara, yang ditandai dengan terjadinya arus bebas (free flow) : barang,
jasa, investasi, tenaga kerja, dan modal.
Dengan
hadirnya ajang MEA ini, Indonesia sejatinya memiliki peluang untuk memanfaatkan
keunggulan dengan meningkatkan skala ekonomi dalam negeri, sebagai basis
memperoleh keuntungan, dengan menjadikannya sebagai momentum memacu pertumbuhan
ekonomi.
MEA
mendatang seyogyanya perlu terus dikawal dengan upaya-upaya terencana dan targeted
dengan terus meningkatkan sinergitas, utamanya dalam meningkatkan dukungan
menata ulang kelembagaan birokrasi, membangun infrastruktur, mengembangkan
sumberdaya manusia, perubahan sikap mental serta meningkatkan akses financial
terhadap sektor riil yang kesemuanya bermuara pada upaya meningkatkan daya
saing ekonomi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar