Minggu, 03 Juli 2016

Laki-laki bermata sipit



Laki-laki bermata sipit
Rintik hujan tak kunjung juga reda, tetesan air membasahi tanah yang kering terdengar merdu bernyanyi ditelingaku, suara hujan lebih enak kudengar daripada suara radio anggi adikku. Mataku termenung dibalik kaca bening berembun putih. Langit begitu kelam terlihat cahaya putih menari hebat di langit hingga terdengar suara gemuruh membuat gaduh rakyat bumi. Sekali-kali kupandangi fotoku di dinding dekat kertas putih yang berisi tulisan dari sahabatku alan. Sejenak kutermenung, kuteringat orang-orang didalam foto itu yudi, rahmat, dan alan. Merekalah orang-orang yang telah memberi warna dalam hidupku. Dua tahun setelah kelulusan SMA mereka pergi dengan kehidupan mereka masing-masing. Yudi pergi ke jakarta melanjutkan studinya di UI fakultas ekonomi dan kita selalu cerita walau lewat dunia maya, rahmat kudengar dia melanjutkan kuliahnya di malaysia tepatnya Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) pada jurusan hukum internasional universitas kabanggaannya dari dulu dan kita juga selalu memberi kabar lewat email dan twitter. Dan alan. Ku tak tahu kabarnya sekarang, setelah SMA dia pergi tanpa meninggalkan pesan dan kata-kata pamit darinya.
“nangis lagi?” sebut anggi adikku
Mendengar itu, aku terbangun dari lamunanku. Kumelihat anggi adikku tetapi dia tidak melihatku. Dia asik dengan radionya. Kuhapus air mataku yang sedikit mengalir di kelopak mataku.
“sampai kapan abang akan begini? Setiap malam anggi lihat abang selalu menatap foto itu dengan air mata”
“abang Cuma rindu dengan sahabat-sahabat abang” ucapku memandang anggi
Anggi tak juga melihatku, dia hanya sibuk menyetel radionya mencari chanel paforitnya. Aku tersenyum, kupandangi kembali foto yang tergantung di dinding itu. kupandngi wajah orang-orang yang ada di dalam foto, terakhir yudi dan rahmat mengirimkan foto terbaru mereka terlihat wajah mereka tidak jauh berubah dari foto yang ada di dinding itu. Tapi aku tidak tahu dengan wajah alan laki-laki bermata sipit itu.
“bukankah tadi siang abang chating lewat facebook dengan orang-orang itu?”
“iya...” sebutku
“bagaimana kabar mereka? Mereka baik-baik saja kan?”
“iya mereka baik-baik saja”
“lalu apa lagi yang abang sedihkan?”
“alan” ucapku
Mendengar itu anggi adikku tidak berkata. Dia hanya menggelengkan kepalanya sambil memutarkan chanel radio miliknya, dan akhirnya chanel itu pun di dapatnya. Anggi melihatku. dia melangkah mendekatiku yang berdiri memandangi foto-foto masa SMA ku. Gemuruh hujan terdengar dengan jelasnya, rintiknya semakin deras membasahi jendela kamarku hingga hawa dinginya terasa dikulit. Sementara itu suara radio anggi tidak begitu jelas kudengar karena terhalang oleh derasnya air hujan.
“sahabat itu akan sedih bila melihat sahabatnya terjatuh” cetus anggi lalu “bila rindu yang dalam mencuat dalam hati ini pada orang-orang yang jauh disana, hanya do’a yang bisa kita berikan” sambungnya
“abang selalu berdo’a yang terbaik untuk sahabat-sabahat abang”
“tapi do’a abang tidak diiringi dengan keikhlasan”
“maksud adik?”
 Kupandangi anggi adikku yang berdiri disampingku dengan rasa penasaran dengan ucapanya itu. Anggi kembali melihatku, dipandanginya mataku yang sedikit berair. Alis mataku sedikit keatas menunggu jawaban dari anggi atas pertanyaanku. Anggi tersenyum melihat ekspresi wajahku. Dia sungguh aneh ucapku dalam hati.
“iya, selama ini abang melepaskan sahabat-sahabat abang dengan rasa tidak ikhlas”
Aku tertawa kecil mendengar ucapan anggi, lalu anggi kembali melihatku. kini giliran anggi melihatku dengan aneh. Aku menggelengkan kepalaku mendengar perkataan anggi adikku. Kembali ku pandangi foto itu. aku diam tak bersuara, begitu juga dengan anggi hanya terdengar suara musik dari radio.
“apa yang anggi bicarakan ini?” ucapku tak melihat ke arah anggi “dari dulu abang sudah ikhlas melepaskan mereka pergi, dari SMA kita sudah berjanji ketika kita berpisah kita tidak akan sedih satu sama lain”
“tapi buktinya abang sekarang selalu bersedih, bukan?” ucap anggi kemudian “bukankah abang sudah berjanji dengan orang-orang itu tidak lagi bersedih mengenang mereka ketika berpisah? Jangan abang siksa diri abang dengan kesedihan, biarkan mereka menjalankan hidupnya masing-masing”
“abang tidak memikirkan yudi dan rahmat tapi abang Cuma rindu dengan sahabat abang alan”
Kembali anggi melihatku, dia tersenyum. Namun aku tidak melihat ke arahnya. Dia memegang punggungku lalu dia memukulnya dengan pelan. Pukulan itu memaksaku untuk melihat kearahnya.
“coba abang lihat tulisan itu” tunjuknya
Aku mengikuti perintah anggi untuk melihat tulisan didinding itu. tulisan itu membuatku semakin teringat pada alan. Ah, anggi membuatku teringat pada sahabatku itu.
“tulisan terakhir dari kata-kata abang alan itu” ucapnya
Mataku semakin menatap kearah tulisan itu, rasa penasaran dengan tulisan yang ditunjuk oleh anggi adikku. Tidak ada yang berarti. Tulisan itu tidak ada yang istimewa sama sekali hampir setiap hari aku membacanya namun tidak ada yang membuatku penasaran dari tulisan itu. Otakku mencoba untuk menjelaskan arti dari alimat itu. Namun, tidak bisa juga.
“abang alan berpesan jangan menggantukan dirimu pada orang lain tetapi percayailah dirimu sendiri”
Kudapat melihat kalimat itu. kata-kata itu terdapat pada kalimat terakhir dari tulisan alan. Dan kalimat itu selalu aku baca namun tidak begitu berarti bagiku.
“iya, abang melihatnya. Namun tidak ada yang berarti kalimat itu”
“abang.. abang. dari kalimat abang alan itu sudah jelas. Dia berpesan pada abang agar hidup abang tidak bergantung pada orang lain”
“abang tidak pernah bergantung pada orang lain. Abang bisa mengerjakannya sendiri”
“iya anggi tahu. Raga abang tidak, tapi jiwa abang?” ucap anggi
Aku melihat anggi, ucapannya membuatku tidak mengerti. Aku mencoba untuk mencerna dari ucapannya namun ucapannya begitu dalam hingga aku tidak dapat menjelaskannya.
“maksud kamu?” tanyaku
Anggi menjauhiku, dia melangkah mendekati radio yang bersuara merdu itu. Suara hujan begitu bising terdengar. Itu yang membuat anggi mendekati radionya karena suara radio itu lebih enak didengar. Sesaat aku menunggu jawaban dari anggi yang tak kunjung memberi penjelasan.
“raga abang tidak pernah bergantung pada orang lain. Tetapi jiwa abang tetap saja bergantung pada orang-orang yang ada didalam foto itu”
Kalimat anggi membuatku semakin tidak mengerti. Kepalaku terasa sakit untuk menjelaskan ucapannya. Aku melihat kearah anggi. Dia pun membalas pandanganku. Dia tersenyum melihatku. lalu anggi berdiri mendakatiku kembali.
“apa maksud adik?” tanyaku kembali pada anggi adikku.
“selama dua tahun jiwa abang tidak ada bersama raga abang. Jiwa abang terbawa oleh orang-orang itu. bang, kita boleh saja rindu pada sahabat kita. Tapi jangan sampai rindu itu membunuh raga kita sendiri”
Aku terdiam mendengar ucapan anggi adikku, kata-kata anggi tepat menusuk hatiku dan membuatku sedikit membuka hatiku.
“biarlah kenangan abang bersama orang-orang itu menjadi saksi bisu perjalan persahabatan abang. Biarlah kenangan itu yang menjaga pikiran abang bersama sahabat-sahabat abang. Rindu abang tidak bisa bergantung terus menerus bersama orang-orang itu. abang merindukan sahabat-sahabat abang tetapi abang mengabaikan raga abang. Lagi pula abang alan pernah berpesan bila berpisah abang alan tidak akan pernah melupakan sahabat-sahabatnya. Abang. Biarlah rindu ini tinggal dalam hati tetapi jangan biarkan dia makan hati abang hingga rindu itu menguasai raga abang itu tidak baik, bang”
Ucapan anggi adikku membuatku termenung, sekejap mataku tak berkedip. Hatiku sangat tersentuh. Mungkin benar ucapan anggi, selama ini rinduku pada orang-orang itu berlebihan hingga rindu itu membuat ragaku tak bisa kupertahankan. Ucapan anggi membuat mataku terbuka. Kini kusadar rindu yang ada pada raga ini tidaklah baik untukku. Biarlah rindu yang dalam ini menjawab pertanyaanku selama ini pada laki-laki bermata sipit itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Inovasi Media Pembelajaran Berbasis Android

PEMBELAJARAN IPA TERINTEGRASI ETNOSAINS Kurikulum merdeka belajar memiliki empat karakteristik utama untuk mendukung pemulihan pembelajaran ...