Jumat, 13 November 2020

CERPEN

 

Mutiara Kemingking

“Bagaimana mau sekolah tinggi-tinggi. Coba kau lihat, jangankan Bahasa Inggris, Bahasa gaul saja kau tidak bisa” suara Evan menggema.

Pagi itu, diskusi dimulai. Di dalam kelas itu terdengar riuh bagikan petir yang saling sahut menyahut. Ada yang menjerit karena kesal, ada yang marah karena pendapatnya tidak ditanggapi ada seribu tingkah. Pagi itu, sekitar pukul 07.15 mentari mulai meninggi, di ufuk timur cahayanya mulai bersembunyi di balik awan-awan putih. Hawa panas mulai terasa menyengat di kulit. Angin kecil mulai masuk ke dalam kelas disela-sela pentilasi hingga membuat tirai jendela bergelombang kecil.

Pagi itu di Kemingking udara terasa panas. Mungkin sudah masuk musim kemarau. Daun-daun yang hijau mulai menguning. Duku mulai membesar berjajar ditepi jalan utama. Candi Gumpung masih kokoh berdiri, Telago Rajo masih menyimpan airnya. Sungguh anugerah Tuhan yang luar biasa.

“Bahasa gaul? Untuk apa aku memakai Bahasa alay itu. Kita tinggal di Indonesia tanah melayu jangan kau bawakan Bahasa itu kesini” Zawati mulai memanas. Ia memang ahli dalam berdebat. Ia meladeni berdebat dengan Evan laki-laki yang bercita-cita kuliah di UGM.

Lintang. Laki-laki yang duduk termenung di sudut kelas menyaksikan perdebatan orang-orang itu. Ia memang tidak tertarik dengan pelajaran Bahasa Indonesia apalagi melihat gurunya, Pak Indra yang jadul dan tidak gaul. Baginya Bahasa Indonesia sulit untuk dipahami. Ia terbiasa menggunakan Bahasa daerahnya jika berkomunkasi dengan teman-temannya bahkan dengan gurunya sekalipun.

“Apa salahnya. Coba kau buka mato kau, Ti. Dunia sudah maju sekarang. Kau lihat, orang sudah pergi kebulan. Nah, kau masih saja tidak berkembang” ledek Evan pada Zawati.

Sejenak Zawati terdiam, ia menarik nafas dalam mencoba mencari pertolongan dari teman-temannya. Ia menoleh ke kanan ke kiri namun tidak ada satu pun yang peduli. Kini ia benar-benar sendiri. sementara itu, Pak Indra laki-laki paro baya itu melihat pergaulan siswa-siswanya. Ia hanya duduk memperhatikan dan mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari orang-orang itu. Sekali-kali ia menulis entah apa yang ia tulis.

“Walaupun dunia sudah maju tapi kita tidak boleh melupakan asal kita. Jangan seperti kacang lupa dengan kulitnya” wajah Zawati mulai memerah. Ia benar-benar marah.

“Lantas apa yang kau mau lakukan? Mau tunak di dusun ini? Seperti perempuan-perempuan desa lainnya? selesai sekolah nikah?”

“Banyak yang kita lakukan sebagai generasi muda. Salah satunya kita harus menjujung tinggi Bahasa kita. Bahasa daerah ini sebagai identitas kita. Agar kita tidak lupa dari mana kita berasal”

“Bahasa kita? Bahasa daerah kita yang kuno ini? Kenyok, belambun, kelagik. Itu? Mau kau pakai Bahasa nyai, datuk kau itu?” ucapnya kemudian “Pastilah orang-orang tertawa mendengarkan itu, Ti. Coba la buka pikiran kau itu. Kita harus lihat dunia. Buka mata. Dunia bukan hanya di Kemingking ini saja” Evan membalas. Kali ini ia benar-benar membuat Zawati mati suri tak berdaya.

“Sudahlah, Ti. Tidak Telap kau melawan Evan Dewekan. Dia itu keras kepala, tidak mau kalah” Husna berbisik kecil ditelinga Zawati. Ia melihat Zawati sudah lelah. Matanya merah, pandangannya hanya ada kebencian pada laki-laki itu.

“Tidak, Na. aku tidak terima dia merendahkan Bahasa kita. Bahasa nenek buyut kita”

“Iya kulo tahu. Tapi ini kau dewekan, Ti”

Zawati tidak pernah menghiraukan ucapan sahabatnya. Ia tidak marah jika dirinya diremehkan orang lain tapi ia akan marah jika sudah berkaitan dengan harga diri daerahnya, ia tidak pernah menyerah. Itu prinsipnya.

Mendengar itu, Lintang terperanjat. Ia memandang Evan. Matanya tajam sangat berisi. Ia melihatnya dengan benci. Ingin rasanya ia mematahkan ucapan Evan, ingin rasanya ia berdebat dengan Evan. Tapi, ia takut. Takut ditertawakan karena bahasanya.

“Aku tidak setuju dengan kau, Van! Kau boleh belajar Bahasa apa pun. Bahasa gaul, Bahasa asing sampai Bahasa binatang pun tidak apa. Tapi satu, Bahasa ibu kita jangan kau lupakan. Sebagai generasi muda, aku sangat mencintai Bahasa daerahku, aku bangga dengan Bahasa yang kau bilang kuno itu. Dengan Bahasa kuno itulah Kemingking ini berdiri, dengan Bahasa kuno itulah candi Gumpung masih berdiri kokoh sampai kini. Dengan Bahasa kuno itulah Telago Rago masih menyimpan airnya. Dengan Bahasa kuno itulah Kemingking dikenal. Selagi Kemingking ini berdiri selagi itulah aku mempertahankan Bahasa ibuku” suara Zawati menggema. Ia mencoba mempertahankan harga diri Bahasa daerahnya walau hatinya rapuh tak berdaya lagi.

“Orang desa bukan berarti tidak boleh punya cita-cita. Orang kota, orang desa sama saja. Kami juga punya cita-cita” Zawati sedikit tegar.

Evan terdiam. Ia melihat Zawati tidak enak. Matanya merah. Senyum sinisnya seketika menghilang. Hanya terlihat kebencian.

“Sudahlah, Ti. Lupakan saja cita-citamu itu. Kau urus saja Bahasa kunomu itu. Bahasa kuno kau itu tidak cocok dibawa ke kota. Malu Ti, malu” Evan tertawa kecil.

“Evan, Zawati cukup” Pak Indra melerai perdebatan.

Evan terdiam begitu pun dengan Zawati. Sejenak kelas sunyi tak bersuara. Hanya terdengar beberapa kali kicauan burung balam yang melompat dari satu ranting ke ranting yang lainnya. Harapan Zawati telah pupus. Laki-laki itu sudah menyakiti hatinya. Ia menggenggam tangannya agar tidak menangis. Ia mencoba tersenyum kecil melihat ke arah Pak Indra yang duduk di depan kelas. Dibalik senyumnya tersimpan luka di hatinya.

“Perdebatan ini tidak akan selesai kalau kalian seperti ini” ucap Pak Indra. Lalu kemudian.

“Evan” dari sudut kelas Lintang memanggil dengan suara yang keras.

Semua terdiam. Suara Lintang bagaikan gendang yang ditabuh. Dilihat dari raut wajahnya, sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu pada laki-laki itu. “Ayahku pernah bertanya padaku asal mula tanah Kemingking ini. Pernahkah kau tahu sejarah tanah ini, Van?”

Tiba-tiba lintang bangkit. Wajahnya serius. Matanya penuh dengan angan. Dia seperti orang lain pagi itu. Pak Indra hanya terdiam melihat Lintang berbicara. Matanya tertegun, mulut Pak Indra terkunci melihat bagaimana dengan lantangnya Lintang berbicara.

“Pernahkah kau tau sejarah Kemingking ini? Bagaimana para ninik mamak kita dahulu memperjuangkan tanah Kemingking dan mempertahankan Bahasa daerah ini? Kau seharusnya bijak dalam berkata. Walau kau tidak merasakan perjuangan mereka, setidaknya kau menghargai perjuangan mereka”

Evan terdiam. Tidak menyangka Lintang dengan begitu gagahnya berbicara seperti itu. Selama ini, ia hanya dikenal diam dan tidak peduli dengan pelajaran tapi kali ini dia mulai berbicara. Melihat itu, Zawati tersenyum kecil. Harapan dalam dadanya mulai timbul walau sedikit redup. Lintang harapan satu-satunya untuk memperjuangan argumennya untuk mempertahankan Bahasa daerah Kemingking.

“Sebagai generasi muda. Kalau bukan kita yang menjaga budaya kita siapa lagi? Kalau bukan kita yang melestarikan siapa lagi? Kita boleh saja menggunakan Bahasa asing tapi ingat Van, dengan Bahasa ibulah kau dibesarkan. Dengan Bahasa daerahlah kau mengenal Kemingking ini”

Evan tertegun. Begitu juga Pak Indra. Semua mata terbelalak melihat laki-laki itu. Ia begitu lihai membabat perkataan Evan. Zawati semakin lebar tersenyum ia tambah yakin akan mengalahkan Evan dalam perdebatan itu.

Suasana kelas semakin mencekam. Sunyi dan tak bersuara. Hanya suara Lintang yang terdengar. Hawa panas berubah menjadi dingin. Rimbunnya dedaun membawa angin sepoi masuk hingga menari-nari dikulit dinginnya terasa hingga ketulang.

“Aku tidak peduli sejarah Bahasa kuno ini. Bagiku Bahasa yang kau pakai itu kuno tidak ada kemajuan” Evan mencoba membela diri.

“Kalau begitu kau bukanlah generasi yang baik”

Evan bingung sekali-kali ia mengerutkan keningnya. “Maksudmu?” tanya Evan bingung

“Ingat kata Bung Karno jangan pernah melupakan sejarah. Ini akan membuat dan mengubah siapa diri kita. Kalau kau tidak tahu dan tidak menghargai sejarah Kemingking ini, maka kau tidak akan bisa mengubah bangsa ini. Asalkan kau tahu, Bangsa yang besar ialah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya. Begitupun dengan Kemingking ini. Sebagai generasi Indonesia kita wajib memperjuangkan tanah nenek buyut kita”

Suasana hening. Sesaat Lintang terdiam, ia mencoba menarik nafas dalam. Mencoba menenangkan dirinya agar tidak emosi. Zawati hanya tersenyum melihat kepandaian Lintang merangkai kata-kata. Evan tidak bersuara sekali-kali ia mencoba membantah namun suaranya tidak keluar. Lintang menjadi idola pagi itu.

“Kita wajib melestarikan budaya leluhur kita. Bahasa yang kita pakai inilah Kemingkingan sebenarnya. Kemingking tidak mengenal Bahasa yang kau sebutkan tadi. Kemingking tidak mengenal Bahasa alay yang kau utarakan tadi. Inilah kemingking dengan sejuta sejarah dan peradaban. Untuk Kemingking aku berdiri disini. Karena Kemingking aku hidup. Karena Kemingking aku bernafas. Selagi nyawa ada diraga maka Kemingking tetap ada. Selagi Telago Rajo menyimpan air, selagi Gumpung berdiri kokoh, selagi Astano tegak berdiri aku akan perjuangkan Bahasa Ibuku. Bahasa Kemingking. Bahasa pemersatu Bangsa” Lintang tak hanya dikenal pendiam, ternyata dia juga ahli sejarah. Ia banyak mengetahui sejarah daerah yang ia cintai, Kemingking.

“Apakah kau lupa Van. Ninik mamak, para tuo tuo tengganai dulu menitipkan Kemingking ini pada kita? Pada aku, kau kita semua. Jangan kau banggakan Bahasa alaymu itu. Jangan kau bangga dengan Bahasa penjajah kita dulu. Tapi banggalah dengan Bahasa daerahmu. Walau katamu kuno tapi ingat dengan Bahasa ibulah kau dibesarkan” tutupnya.

Sejenak semua terdiam. Beberapa detik tak terdengar suara apa pun. Zawati hanya tersenyum melihat Lintang, dia bagaikan pahlawan  pagi itu. Pak Indra senyum bangga, Lintang selama ini diam kini ia menunjukkan siapa dirinya. Dia adalah orang yang pertama menentang jika harga diri daerahnya di lecehkan, ia orang pertama memperjuangkan jiwanya jika harga diri daerahnya direndahkan. Evan hanya bisa tertunduk malu. Suaranya seketika menghilang.

Lintang, mutiara Kemingking. Didikan alam. Laki-laki lintas sejarah. Sang penjaga Kemingking. Pelindung negeri seribu candi. Ia terlahir dari alam Kemingking tanah Pusako Betuah wawarisan ninik mamak tuo-tuo tengganai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Inovasi Media Pembelajaran Berbasis Android

PEMBELAJARAN IPA TERINTEGRASI ETNOSAINS Kurikulum merdeka belajar memiliki empat karakteristik utama untuk mendukung pemulihan pembelajaran ...