Mutiara Kemingking
“Bagaimana
mau sekolah tinggi-tinggi. Coba kau lihat, jangankan Bahasa Inggris, Bahasa
gaul saja kau tidak bisa” suara Evan menggema.
Pagi itu, diskusi dimulai. Di dalam kelas itu terdengar riuh
bagikan petir yang saling sahut menyahut. Ada yang menjerit karena kesal, ada
yang marah karena pendapatnya tidak ditanggapi ada seribu tingkah. Pagi itu,
sekitar pukul 07.15 mentari mulai meninggi, di ufuk timur cahayanya mulai
bersembunyi di balik awan-awan putih. Hawa panas mulai terasa menyengat di
kulit. Angin kecil mulai masuk ke dalam kelas disela-sela pentilasi hingga
membuat tirai jendela bergelombang kecil.
Pagi itu di Kemingking udara terasa panas. Mungkin
sudah masuk musim kemarau. Daun-daun yang hijau mulai menguning. Duku
mulai membesar berjajar ditepi jalan utama. Candi Gumpung masih kokoh
berdiri, Telago Rajo masih menyimpan airnya. Sungguh anugerah Tuhan yang
luar biasa.
“Bahasa gaul? Untuk apa aku memakai Bahasa alay itu.
Kita tinggal di Indonesia tanah melayu jangan kau bawakan Bahasa itu kesini”
Zawati mulai memanas. Ia memang ahli dalam berdebat. Ia meladeni berdebat
dengan Evan laki-laki yang bercita-cita kuliah di UGM.
Lintang. Laki-laki yang duduk termenung di sudut kelas menyaksikan
perdebatan orang-orang itu. Ia memang tidak tertarik dengan pelajaran Bahasa
Indonesia apalagi melihat gurunya, Pak Indra yang jadul dan tidak gaul. Baginya
Bahasa Indonesia sulit untuk dipahami. Ia terbiasa menggunakan Bahasa daerahnya
jika berkomunkasi dengan teman-temannya bahkan dengan gurunya sekalipun.
“Apa salahnya. Coba kau buka mato kau, Ti. Dunia sudah
maju sekarang. Kau lihat, orang sudah pergi kebulan. Nah, kau masih saja tidak
berkembang” ledek Evan pada Zawati.
Sejenak Zawati terdiam, ia menarik nafas dalam mencoba
mencari pertolongan dari teman-temannya. Ia menoleh ke kanan ke kiri namun
tidak ada satu pun yang peduli. Kini ia benar-benar sendiri. sementara itu, Pak
Indra laki-laki paro baya itu melihat pergaulan siswa-siswanya. Ia hanya duduk
memperhatikan dan mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari orang-orang itu.
Sekali-kali ia menulis entah apa yang ia tulis.
“Walaupun dunia sudah maju tapi kita tidak boleh melupakan
asal kita. Jangan seperti kacang lupa dengan kulitnya” wajah Zawati mulai
memerah. Ia benar-benar marah.
“Lantas apa yang kau mau lakukan? Mau tunak di dusun
ini? Seperti perempuan-perempuan desa lainnya? selesai sekolah nikah?”
“Banyak yang kita lakukan sebagai generasi muda. Salah
satunya kita harus menjujung tinggi Bahasa kita. Bahasa daerah ini sebagai
identitas kita. Agar kita tidak lupa dari mana kita berasal”
“Bahasa kita? Bahasa daerah kita yang kuno ini? Kenyok,
belambun, kelagik. Itu? Mau kau pakai Bahasa nyai, datuk kau itu?” ucapnya
kemudian “Pastilah orang-orang tertawa mendengarkan itu, Ti. Coba la buka
pikiran kau itu. Kita harus lihat dunia. Buka mata. Dunia bukan hanya di Kemingking
ini saja” Evan membalas. Kali ini ia benar-benar membuat Zawati mati suri
tak berdaya.
“Sudahlah, Ti. Tidak Telap kau melawan Evan Dewekan.
Dia itu keras kepala, tidak mau kalah” Husna berbisik kecil ditelinga Zawati.
Ia melihat Zawati sudah lelah. Matanya merah, pandangannya hanya ada kebencian
pada laki-laki itu.
“Tidak, Na. aku tidak terima dia merendahkan Bahasa kita.
Bahasa nenek buyut kita”
“Iya kulo tahu. Tapi ini kau dewekan, Ti”
Zawati tidak pernah menghiraukan ucapan sahabatnya. Ia tidak
marah jika dirinya diremehkan orang lain tapi ia akan marah jika sudah
berkaitan dengan harga diri daerahnya, ia tidak pernah menyerah. Itu
prinsipnya.
Mendengar itu, Lintang terperanjat. Ia memandang Evan.
Matanya tajam sangat berisi. Ia melihatnya dengan benci. Ingin rasanya ia
mematahkan ucapan Evan, ingin rasanya ia berdebat dengan Evan. Tapi, ia takut.
Takut ditertawakan karena bahasanya.
“Aku tidak setuju dengan kau, Van! Kau boleh belajar Bahasa
apa pun. Bahasa gaul, Bahasa asing sampai Bahasa binatang pun tidak apa. Tapi
satu, Bahasa ibu kita jangan kau lupakan. Sebagai generasi muda, aku sangat
mencintai Bahasa daerahku, aku bangga dengan Bahasa yang kau bilang kuno itu.
Dengan Bahasa kuno itulah Kemingking ini berdiri, dengan Bahasa kuno
itulah candi Gumpung masih berdiri kokoh sampai kini. Dengan Bahasa kuno
itulah Telago Rago masih menyimpan airnya. Dengan Bahasa kuno itulah Kemingking
dikenal. Selagi Kemingking ini berdiri selagi itulah aku mempertahankan
Bahasa ibuku” suara Zawati menggema. Ia mencoba mempertahankan harga diri
Bahasa daerahnya walau hatinya rapuh tak berdaya lagi.
“Orang desa bukan berarti tidak boleh punya cita-cita. Orang
kota, orang desa sama saja. Kami juga punya cita-cita” Zawati sedikit tegar.
Evan terdiam. Ia melihat Zawati tidak enak. Matanya merah.
Senyum sinisnya seketika menghilang. Hanya terlihat kebencian.
“Sudahlah, Ti. Lupakan saja cita-citamu itu. Kau urus saja
Bahasa kunomu itu. Bahasa kuno kau itu tidak cocok dibawa ke kota. Malu Ti,
malu” Evan tertawa kecil.
“Evan, Zawati cukup” Pak Indra melerai perdebatan.
Evan terdiam begitu pun dengan Zawati. Sejenak kelas sunyi
tak bersuara. Hanya terdengar beberapa kali kicauan burung balam yang melompat
dari satu ranting ke ranting yang lainnya. Harapan Zawati telah pupus.
Laki-laki itu sudah menyakiti hatinya. Ia menggenggam tangannya agar tidak menangis.
Ia mencoba tersenyum kecil melihat ke arah Pak Indra yang duduk di depan kelas.
Dibalik senyumnya tersimpan luka di hatinya.
“Perdebatan ini tidak akan selesai kalau kalian seperti ini”
ucap Pak Indra. Lalu kemudian.
“Evan” dari sudut kelas Lintang memanggil dengan suara yang
keras.
Semua terdiam. Suara Lintang bagaikan gendang yang ditabuh. Dilihat
dari raut wajahnya, sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu pada laki-laki itu. “Ayahku
pernah bertanya padaku asal mula tanah Kemingking ini. Pernahkah kau tahu
sejarah tanah ini, Van?”
Tiba-tiba lintang bangkit. Wajahnya serius. Matanya penuh
dengan angan. Dia seperti orang lain pagi itu. Pak Indra hanya terdiam melihat
Lintang berbicara. Matanya tertegun, mulut Pak Indra terkunci melihat bagaimana
dengan lantangnya Lintang berbicara.
“Pernahkah kau tau sejarah Kemingking ini? Bagaimana
para ninik mamak kita dahulu memperjuangkan tanah Kemingking dan
mempertahankan Bahasa daerah ini? Kau seharusnya bijak dalam berkata. Walau kau
tidak merasakan perjuangan mereka, setidaknya kau menghargai perjuangan mereka”
Evan terdiam. Tidak menyangka Lintang dengan begitu gagahnya
berbicara seperti itu. Selama ini, ia hanya dikenal diam dan tidak peduli
dengan pelajaran tapi kali ini dia mulai berbicara. Melihat itu, Zawati
tersenyum kecil. Harapan dalam dadanya mulai timbul walau sedikit redup.
Lintang harapan satu-satunya untuk memperjuangan argumennya untuk
mempertahankan Bahasa daerah Kemingking.
“Sebagai generasi muda. Kalau bukan kita yang menjaga budaya
kita siapa lagi? Kalau bukan kita yang melestarikan siapa lagi? Kita boleh saja
menggunakan Bahasa asing tapi ingat Van, dengan Bahasa ibulah kau dibesarkan.
Dengan Bahasa daerahlah kau mengenal Kemingking ini”
Evan tertegun. Begitu juga Pak Indra. Semua mata terbelalak
melihat laki-laki itu. Ia begitu lihai membabat perkataan Evan. Zawati semakin
lebar tersenyum ia tambah yakin akan mengalahkan Evan dalam perdebatan itu.
Suasana kelas semakin mencekam. Sunyi dan tak bersuara. Hanya
suara Lintang yang terdengar. Hawa panas berubah menjadi dingin. Rimbunnya
dedaun membawa angin sepoi masuk hingga menari-nari dikulit dinginnya terasa
hingga ketulang.
“Aku tidak peduli sejarah Bahasa kuno ini. Bagiku Bahasa yang
kau pakai itu kuno tidak ada kemajuan” Evan mencoba membela diri.
“Kalau begitu kau bukanlah generasi yang baik”
Evan bingung sekali-kali ia mengerutkan keningnya. “Maksudmu?”
tanya Evan bingung
“Ingat kata Bung Karno jangan pernah melupakan sejarah. Ini
akan membuat dan mengubah siapa diri kita. Kalau kau tidak tahu dan tidak
menghargai sejarah Kemingking ini, maka kau tidak akan bisa mengubah
bangsa ini. Asalkan kau tahu, Bangsa yang besar ialah bangsa yang menghormati
jasa pahlawannya. Begitupun dengan Kemingking ini. Sebagai generasi
Indonesia kita wajib memperjuangkan tanah nenek buyut kita”
Suasana hening. Sesaat Lintang terdiam, ia mencoba menarik
nafas dalam. Mencoba menenangkan dirinya agar tidak emosi. Zawati hanya
tersenyum melihat kepandaian Lintang merangkai kata-kata. Evan tidak bersuara
sekali-kali ia mencoba membantah namun suaranya tidak keluar. Lintang menjadi
idola pagi itu.
“Kita wajib melestarikan budaya leluhur kita. Bahasa yang
kita pakai inilah Kemingkingan sebenarnya. Kemingking tidak
mengenal Bahasa yang kau sebutkan tadi. Kemingking tidak mengenal Bahasa
alay yang kau utarakan tadi. Inilah kemingking dengan sejuta sejarah dan
peradaban. Untuk Kemingking aku berdiri disini. Karena Kemingking
aku hidup. Karena Kemingking aku bernafas. Selagi nyawa ada diraga maka Kemingking
tetap ada. Selagi Telago Rajo menyimpan air, selagi Gumpung
berdiri kokoh, selagi Astano tegak berdiri aku akan perjuangkan Bahasa
Ibuku. Bahasa Kemingking. Bahasa pemersatu Bangsa” Lintang tak hanya
dikenal pendiam, ternyata dia juga ahli sejarah. Ia banyak mengetahui sejarah
daerah yang ia cintai, Kemingking.
“Apakah kau lupa Van. Ninik mamak, para tuo tuo
tengganai dulu menitipkan Kemingking ini pada kita? Pada aku, kau
kita semua. Jangan kau banggakan Bahasa alaymu itu. Jangan kau bangga dengan
Bahasa penjajah kita dulu. Tapi banggalah dengan Bahasa daerahmu. Walau katamu
kuno tapi ingat dengan Bahasa ibulah kau dibesarkan” tutupnya.
Sejenak semua terdiam. Beberapa detik tak terdengar suara apa
pun. Zawati hanya tersenyum melihat Lintang, dia bagaikan pahlawan pagi itu. Pak Indra senyum bangga, Lintang
selama ini diam kini ia menunjukkan siapa dirinya. Dia adalah orang yang
pertama menentang jika harga diri daerahnya di lecehkan, ia orang pertama
memperjuangkan jiwanya jika harga diri daerahnya direndahkan. Evan hanya bisa
tertunduk malu. Suaranya seketika menghilang.
Lintang, mutiara Kemingking. Didikan alam. Laki-laki lintas sejarah. Sang penjaga Kemingking. Pelindung negeri seribu candi. Ia terlahir dari alam Kemingking tanah Pusako Betuah wawarisan ninik mamak tuo-tuo tengganai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar