Sabtu, 25 September 2021

KUPU-KUPU DI NEGERI HITAM PUTIH

 

Orang-orang berlarian. Berlindung dari amarah yang sedang terjadi. Amarah tanpa alasan, membabi buta. Sekelompok orang mengusir orang berkulit hitam. Menyuruh mereka pergi dari desa itu. Dengan alasan mereka bukan penduduk asli desa. Bisa dibilang karena mereka berbeda. Sekelompok orang itu kesal, karena orang-orang hitam tidak mau pergi juga.

Malam itu mereka melakukannya dengan kasar. Mengusir mereka secara paksa. Api membumbung, menjalar di rumah-rumah. Orang- orang berkulit hitam itu melawan. Membuat pertengkaran. Dan saling pukul. Anak-anak dan wanita bersembunyi. Seorang pemilik toko berbaik hati menjadikan tokonya tempat berlindung bagi anak-anak dan wanita. Kericuhan sedang terjadi.

Tidak hanya terjadi di desa mereka. Dunia juga sedang terjadi huru-hara. Perbedaan yang membuat terpecah. Kelompok ini dan kelompok itu. Berpisah, saling beradu. Sampai terjadi penjarahan yang tidak perlu. Malam itu, sekelebat cahaya muncul. Cahaya itu kecil lalu kemudian semakin cerah dan berpencar. Dengan cepat, cahaya itu menyebar ke seluruh dunia.  Menyilaukan mata. Dan saat orang-orang membuka mata mereka kembali, warna di dunia telah lenyap. Tidak tersisa. Lalu mereka bertanya, untuk apa membedakan saat semua warna mereka sama. Hanya hitam dan putih.

***

Aku berjalan lesu. Sembari melihat-lihat hasil fotoku. Membosankan. Semuanya terlihat sama saja. Hanya hitam dan putih. Tidak ada objek lain yang menarik. Aku masuk ke toko peralatan petualang. Toko ini sudah jadi langgananku. Aku suka berpetualang, dan aku suka memotret. Dengan berpetualang aku melihat hal-hal menarik, dan aku suka memotretnya untuk mengabadikannya. Jika beruntung, aku bisa menjualnya.

Aku duduk di kursi. Menunggu pemilik toko datang. Kali ini, aku tidak ingin membeli peralatan. Aku hanya ingin mengobrol dengan pemilik toko. Aku dekat dengan pemilik toko ini. Namanya Gugum. Umurnya sudah kepala empat. Dulu, saat dunia masih berwarna dan saat kericuhan itu terjadi, dia yang menyelamatkanku. Aku yatim piatu sedari kecil, aku tidur di toko ini. Pak Gugum berbaik hati memberiku tempat tinggal.

Pak Gugum muncul. Mendekatiku yang duduk menunggunya.

“Kau bukan ingin membeli barang heh? Apa yang ingin kau bicarakan?” Pak Gugum memberiku secangkir kopi.

Aku menyeruputnya. “ Yah, aku hanya bosan dengan dunia yang seperti ini. Aku bosan berpetualang tanpa melihat hal baru. Dahulu orang berpetualang berharap bertemu hutan yang hijau, daun-daun yang gugur, mengering, sungai yang jernih, burung-burung cantik, tersesat di adiwarna alam yang memabukkanmu di dalamnya. Sekarang yang kulihat hanyalah hitam dan putih.”

Pak Gugum menyeruput kopinya. Terdiam sebentar. “Kau mau melihat sesuatu yang luar biasa. Ke tempat yang belum pernah dikunjungi siapapun.”

Aku mengangguk dengan bingung. Semakin bingung ketika Pak Gugum menutup pintu toko dan memasang tulisan ‘tutup’. Menutup semua jendela, mematikan lampu, mengambil korek dan menyalakan lilin. Mengangkat pot dan mengambil kunci yang ada di bawahnya. Lalu membuka laci, dan mengambil sebuah gulungan. Gulungan itu ia bentangkan di hadapanku. Aku terpana. Gulungan itu berwarna coklat dengan bercak menguning. Tidak berwarna hitam putih. Gulungan itu, menunjukkan sebuah jalan. Astaga! Ini sebuah peta. Peta ajaib!

“Kau lihat, peta ini?”

Aku mengangguk. Masih terpana.

“ Peta ini adalah jalan menuju pulau. Oh, bukan pulau biasa. Menuju pulau berwarna. Satu-satunya warna yang tersisa di dunia ini. Aku menemukan kertas ini jauh sebelum dunia ini hitam putih. Petualangan ini sangat berbahaya, dengan pemandangan yang mendebarkan. Jauh dari peradaban. Kau harus menyiapkan semuanya jika ingin pergi ke pulau ini.”

Tentu. Aku sangat ingin pergi ke pulau ini. Aku perhatikan dengan seksama lagi peta ini. Ah.. jauh dari peradaban dan sangat berbahaya kata Pak Gugum. Lihatlah, ini hanya memerlukan 3 hari perjalanan dengan berjalan kaki. Pak Gugum suka mendramatisir sesuatu. Aku hanya menggeleng pelan. Baiklah. Aku akan menyiapkan semuanya.

***

Aku beristirahat sejenak. Pulau itu sudah dekat. Aku duduk selonjor. Menatap sekitar. Sampai pandanganku terpaku pada sesuatu. Kupu-kupu. Tidak, bukan kupu-kupu biasa.                    Kupu-kupu itu memiliki motif yang cantik dengan warna hijau dan biru. Bukan hitam putih. Aku mengambil kamera. Perlahan, aku mendekati kupu-kupu itu. Setelah lumayan dekat, aku memencet tombol di kamera. Cekrek.

Ah! Kupu-kupu itu kabur. Aku mengejarnya. Mengikutinya. Melihat kupu-kupu itu sambil berlari melewati bebatuan dan rumput-rumput tinggi. Setelah berlari jauh, aku kehilangan kupu-kupu itu. Ah, sial. Sekarang apa? Aku tidak mengenali jalan ini. Namun, aku melihat ada mata air. Mungkin aku bisa meminumnya.

 Aku menghampiri mata air itu. Meminumya. Aku tersedak. Astaga! Aku terkejut sekali melihat warna airnya. Air itu mengalir menjadi dua aliran. Satu aliran dengan warna pelangi. Unik sekali. Tunggu, sepertinya ada sesuatu di balik mata air ini. Aku menyibak tanaman liar yang menutupi di belakang mata air.

Wow! Ini, inilah pulau itu. Pulau yang dimaksud Pak Gugum. Pulau ini sangat berwarna. Dengan warna-warni bunga. Dan hijaunya pohon serta sungai indah yang berwarna pelangi. Aku melihat apel yang ranum. Dengan warna merah yang sangat menggoda. Perutku berontak. Aku menggoyangkan pohonnya, apel jatuh, aku menggigitnya. Manis. Ini enak sekali. Akan ku bawa beberapa untuk Pak Gugum. Aku mengambil kameraku.  Memotret pulau ini. Untuk menyimpannya sebagai tempat yang paling luar biasa. Aku harus memberitahu Pak Gugum kalau aku berhasil menemukan pulau ini.

***

Tunggu. Foto itu, foto yang kuambil saat di pulau berwarna itu. Dimana itu berada? Baru saja aku ingin menunjukkannya pada Pak Gugum. Aku menelusuri jalan yang tadi aku tempuh. Barangkali foto itu jatuh.

“Hey, kau mencari ini?” seseorang menghampiriku. Menunjukkan sebuah foto.

“Ah, Jen. Benar, foto itu milikku.” Celaka, foto itu ada di Jen. Aku ceroboh sekali. Sepertinya foto itu jatuh dan diambil olehnya.

“ Dimana kau mengambil foto ini? Tempat ini indah sekali kawan, dan sangat berwarna. Pulau ajaib kah?” Jen menjauhkan foto itu. Mencegahku mengambilnya.

“Berikan!”

“ Apakah ini peta menuju pulau ajaib itu?” Jen menunjukkan gulungan berwarna coklat, dengan bercak kuning.

Bodohnya aku. Peta itu jatuh di tangannya juga. Aku sudah tahu apa yang akan dilakukannya.

“ Aku akan pergi ke tempat ini. Menemukan sungai pelangi. Menimba air sungai, dan membawa air itu ke desa ini. Menemukan cara untuk memulihkan desa kita dari warna hitam putih.” Jen menatapku dan tersenyum menang.

“Kau gila. Menimba air dan membawanya ke desa? Itu tiga hari perjalanan pulang-pergi yang melelahkan. Melewati bebatuan dan rumput-rumput tinggi. Air itu akan tumpah di perjalanan, dan saat kau kembali kau hanya akan membawa tong kosong.”

“Aku kuat tidak sepertimu, lemah. Aku mempunyai otot. Aku dan teman-temanku akan membawa air ajaib itu kemari.” Jen meninggalkanku. Menghampiri teman-temannya dan menjelaskan rencananya dengan berapi-api.

***

Aku menghela napas. Jen mendapatkan air itu. Menunjukkannya padaku air ajaib itu. Aku tidak tahu apa yang dia rencanakan. Aku sedang duduk di toko peralatan. Pak Gugum melihatku yang sedari tadi melamun. Ada beberapa orang di toko ini. Kadang toko ini memang sering dipakai untuk tempat berkumpul.

“Apa yang tengah kau pikirkan?” Pak Gugum memecah lamunanku.

“Eh, ya. Kau membuatku terbangun.” Aku menyeruput kopi.”Aku…sedang memikirkan apa yang akan dilakukan Jen selanjutnya. Apakah ia akan cukup dengan air ajaib itu? Atau dia menginginkan yang lebih. Mengeruk pulau itu lagi dan lagi. Tapi, Jen telah banyak berubah. Kurasa dia hanya ingin mengubah dunia kembali normal. Dunia hitam putih membuatnya banyak berpikir. Yah, aku tidak tahu juga. Sifat orang cepat berubah,”

Terdiam. Hening sebentar. Satu orang menyentil kesunyian.

“ Kau tahu? Aku juga tidak senang dengan perbuatan mereka. Mereka seperti serakah sekali. Ingin memiliki semuanya, padahal apa, saat warna itu ada, mereka menyalahkan kita, mengatakan bahwa kita adalah warna yang tidak seharusnya ada. Warna itu berkumpul dengan warna itu. Jika semua terlihat sama, untuk apa warna itu ada”

Hening lagi.

“Mengapa kalian melawan perbuatan itu?” Pak Gugum menyela keheningan.

Semua pandangan tertuju pada Pak Gugum.

“Mengapa kalian tidak mendukungnya? Bukankah itu hal yang baik? Mereka ingin mengembalikan warna itu. Mengubah dunia menjadi berwarna kembali, cerah, dengan warna-warni kehidupan. Mengapa kalian menentangnya? Mengatakan mereka akan ini mereka akan itu. Sudah 10 tahun berlalu, dunia hitam putih saja. Kalian tidak ingin semua kembali normal?”

 “Tapi ketika dunia kembali normal, mereka akan melakukan hal yang sama. Membeda-bedakan lagi, memisah-misahkan lagi.” Bantah seseorang.

“Kalau begitu inilah kesempatannya. Kalian bisa bekerja sama. Menyatukan lagi warna itu, membuatnya indah kembali.”

Terdiam cukup lama. Lalu, satu-persatu wajah mereka mulai menunjukkan dukungan. Persetujuan untuk bekerja sama. Harapan bahwa warna itu masih ada. Akan bersinar pada waktunya.

***

Kerja sama itu dimulai. Setelah beberapa perbincangan berat, kami sepakat untuk bersama menemukan cara untuk mengubah dunia kembali normal. Seluruh desa membantu. Kami menimba air sungai, melakukan percobaan dengan cara menanam bibit hitam putih di tanah ajaib itu. Merawatnya. Jika gagal dengan tanaman itu tetap berwarna hitam putih, kami lakukan lagi. Menanam lagi, merawatnya lagi. Menyiramnya dengan air ajaib.

 Dengan banyak tanaman yang gagal, ada satu yang tetap bertahan. Terus tumbuh setiap hari, warnanya pun berbeda. Hijau dengan batangnya yang coklat. Hari esoknya lagi pohon itu menumbuhkan bunga. Kami sangat bersemangat. Tanaman ini tumbuh dengan luar biasa. Melewati masa tumbuh yang seharusnya. Kami merayakannya dengan bersantai di pulau. Berendam di sungai ajaib, dan menikmati apel ranum. Rasanya nyaman dan menyenangkan.

                                                                     ***                 

“Siapa yang mencabut tanaman ini?!” Jen berteriak dengan sangat marah.

Baru saja kami sampai di pulau berwarna, ingin melanjutkan merawat tanaman itu, yang ingin dirawat telah rusak tercabut hingga akarnya. Semuanya hanya terdiam dengan pandangan kecewa. Menatap tanah, kosong.

“Baiklah Jen, kau jangan emosi dulu. Masalah ini tidak dapat diselesaikan dengan panas,” aku mencegah Jen yang hendak mengamuk.

“Pelakunya ada di antara kalian kan?!” Jen mulai menuduh.

“Hey, jangan asal tuduh kau!”

“Apa? Dari awal, kalian tidak mendukung ini dilakukan kan? Menentang kami, membicarakan di belakang. Pengecut!”

Buk! Satu orang memukul Jen. “Jangan sembarang kau!”

Jen yang tidak terima balas memukul. Yang lain membelanya, memukul yang lainnya. Wanita dan anak-anak berteriak histeris, menghindari gerombolan sebelum bertambah parah, dan terkena imbasnya. Buk! Aku terkena salah satu pukulan. Sakit. Aku harus keluar dari pertengkaran ini. Menyibak orang-orang yang ganas menyerang.

“ Hiks…huaaa, tolong…” aku mendengar tangisan anak kecil. Sepertinya dari pertengkaran itu.

“Berhenti! Berhenti semuanya!” aku mencoba menghentikan pertengkaran.

Mereka tetap saling memukul, mendorong. Baiklah, sekarang apa yang aku lakukan. Anak kecil itu ada di dalam pertengkaran, tidak bisa keluar. Aku menarik napas panjang.

“Semuanya, BERHENTI!” aku berteriak sekuat tenaga.

Pertengkaran terhenti. Pandangan mengarah padaku. Aku segera mencari anak kecil itu. Ketemu! Anak itu sedang meringkuk ketakutan, menangis. Aku menggendongnya. Ada banyak luka. Sepertinya dia tertindih.

“Ini, inilah hasil pertengkaran kalian! Hanya membuang waktu. Ayo kita kembali ke desa. Mengobati yang terluka,”

Aku mendekati seorang wanita, ia adalah dokter di desa kami. Memberikan anak itu padanya. Wanita itu mengobati anak itu dengan peralatan seadanya. Setelah keadaan anak itu membaik, kami semua kembali ke desa. Dengan kembali terpecah.

***

Aku menatap pulau ajaib. Masih dengan warnanya yang cantik. Namun aku tidak bersemangat lagi. Aku duduk di tanah, merentangkan tanganku, menyentuh rumput basah. Terpaku pada sebuah bunga. Sebentar, awalnya bunga itu berwarna. Sekarang, warna dari bunga itu seperti di gerogoti. Mulai hilang dari kelopaknya lalu berlanjut ke daunnya.

Aku mengerti, bukan air ajaib itu yang membuat warna itu ada, atau pun pulau ini. Bahkan pulau ini hanya pulau biasa. Tetapi saat bersatu. Warna itu ada. Berpencar, perlahan menyebar indah.

Aku memotret bunga itu. Lalu kembali ke desa.

***

            “Jen, aku perlu bicara denganmu. Dengan kalian semua”

            Aku mengumpulkan seluruh orang di desa. Mengajak semua bicara.

            “Tak ada lagi yang perlu dibicarakan,” Jen tampak acuh.

            “Sampai kapan kita seperti ini terus?”

            “Sampai pelaku yang mencabut seluruh kerja keras kita tertangkap” Jen menjawab.

            Ah..dia bahas masalah itu lagi

            “Hey, Jen aku sudah tahu siapa pelakunya. Pelaku yang membuat dunia hitam putih. Kita. Itu adalah kita kawan, tidak ada yang namanya pahlawan jika semuanya saling menyalahkan. Aku pun sama bersalahnya. Aku pengecut. Tidak pernah mau bekerja sama. Membiarkan kita terus hidup seperti ini.”

            Jen terdiam. Begitu juga yang lainnya.

            “Kita berbeda dengan orang kota, kawan. Kita punya kesempatan. Kita menemukan pulau itu. Kita semua pikir, pulau itu ajaib. Tidak, pulau itu hanya pulau biasa. Aku baru menyadarinya. Warna itu bisa hilang di pulau.Inilah buktinya.” Aku menunjukkan foto bunga yang setengah berwarna. Semua melihatnya. Lantas terdiam.

“ Kerja sama kita lah yang ajaib. Persatuan kita yang membuat warna itu. Indah bagai sihir.  Menakjubkan sekali rasanya,” aku mengambil jeda. “Mari kita lanjutkan apa yang telah kita mulai. Perbaiki warna itu dan menyatukannya.”

Termenung. Ada yang menatap tanah, menatap langit, lalu mereka mulai saling tatap. Tatapan untuk menyakinkan. Untuk melanjutkan lagi yang telah dimulai. Dan satu orang meningkatkan gelora itu.

“Nah, ayo kita mulai bekerja lagi!”

“Ayo!”  “Ayo!”

Kami tersenyum lantas tertawa. Saling bertepuk bahu.

            Mulai bekerja lagi. Kali ini, bukan untuk mendapatkan warna itu. Biar warna itu yang mendapatkan kita. Kali ini kami membenahi desa. Memperbaiki fasilitas yang rusak. Memasang lampu di setiap jalanan. Menerangi desa saat malam. Membuat tempat bersantai untuk berkumpul. Menanam bersama. Padi, jagung, apel, kami tanam semua. Lantas saat panen kami memasak bersama. Menyantapnya bersama. Menikmati pemandangan hitam putih.

***

            Desa kami makin indah. Nyaman dan menakjubkan. Tidak ada lagi membeda-bedakan. Untuk segera tahu kalau kita satu kesatuan. Anak-anak bermain saling berkejaran. Orang dewasa duduk menikmati makanan. Ibu-ibu menjaga anaknya tetap aman.

            Perlahan-lahan warna itu mulai menyebar. Merayap dari pulau itu hinggap di desa kami.

Aku melihat anak-anak yang berlari mengejar sesuatu. Kupu-kupu. Mereka mengejar kupu-kupu cantik dengan warna hijau dan biru. Sepertinya aku mengenali kupu-kupu itu. Dimana aku pernah bertemu? Kupu-kupu itu terbang ke arahku. Hinggap di jemariku. Cahaya muncul. Menyilaukan, cahaya itu berpencar memecah. Menyebar ke seluruh dunia.

Perlahan, aku membuka mata. Warna. Aku melihat warna. Melihat tubuhku, kulitku yang berwarna hitam dan bajuku yang berwarna coklat, sepatuku yang hitam mengkilap. Dan seluruh desa yang diterangi dengan lampu warna-warni. Semuanya tersenyum senang. Tertawa bahagia. Berseru riang. Warna itu telah kembali.

***

“Kau berhasil nak,” pak Gugum menepuk pundakku.

Aku tersenyum. Melihat desa yang dipenuhi lampu berwarna-warni. Dimana jalanan menghidupi malam.

“Tidak. Kita, kita semua berhasil.” Aku membalasnya.

Pak Gugum balas tersenyum.  

1 komentar:

  1. Harrah's Reno Hotel & Casino, Reno - Mapyro
    HARRAH'S 통영 출장샵 RENO HOTEL & CASINO, 안성 출장샵 Reno - 2021 Updated! Located in Reno, 서산 출장안마 Harrah'S Reno Hotel & Casino is a 5-minute drive 김천 출장샵 from Reno Airport and is 서산 출장마사지

    BalasHapus

Inovasi Media Pembelajaran Berbasis Android

PEMBELAJARAN IPA TERINTEGRASI ETNOSAINS Kurikulum merdeka belajar memiliki empat karakteristik utama untuk mendukung pemulihan pembelajaran ...