Minggu, 07 Juli 2013

cerpenku


CINTA SUCI GADIS BATANG HARI



Pertama kali tiga bulan setelah pertunangan itu. Langit sore memancarkan sinar merah kekuningan. Terlihat dari kejahuan sepasang wanita dan laki-laki yang sedang mengayuh perahu kecil mengarung ombak kecil yang amat elok. Sungai yang indah itu bernama batang hari yang menjadi saksi perjalanan cinta suci dua anak manusia ditengah sungai itu.
“kapan kau kan pergi?” tunangannya bertanya
Wanita berjilbab itu bernama aisyah. Gadis yang amat elok rupa dan sholeha. Kini telah menjadi tunangan laki-laki yang ia kagumi selama ini.
“kalau tidak ada halangan, insyallah besok!”
Laki-laki yang berkayuh dan duduk didepannya itu bernama syamsul. Laki-laki yang berhasil memikat hati aisyah hingga menjadi tunangannya. Syamsul yang diharapkannya menjadi pemimpin jika nanti mereka menikah.
“kapan kau kan pulang?” Tanya aisyah
“entah lah, aku juga tak tahu kapan?” kata laki-laki itu berkayuh semakin menepi
Mata wanita itu memandang entah kemana. Mungkin pada ombak kecil yang datang silih berganti dari hulu dan dari hilir. Mungkin pada cakrawala yang mulai berwarna merah. Atau mungkin pada jamban tempat mencuci itu. Atau mungkin juga dia tidak melihat kemana-mana.
“apa yang ada di pikiranmu? Tampak kau tak bersemangat?”
“aku memikirkanmu. Aku memikirkan kau akan pergi lama” aisyah melihat ke tepi sungai, sekali-kali ia melihat kearah rumahnya.
“jangan terlalu pikirkan. Aku akan baik-baik saja”
Dimasukkan tangan kecil wanita itu kedalam air. Lalu menggenggam dengan erat. Dia melakukannya bukan untuk ingin memukul atau marah pada tunangannya itu. Tapi untuk mendapatkan kekuatan. Agar dia tidak menangis. Agar dia tidak menceburkan diri ke sungai.
Langit sore tampak semakin menghilang. Tampak dari kejahuan mereka orang-orang ramai mandi dan mencuci. Hati wanita itu amat terpukul akan kepergian tunangannya besok. Dia takut hal yang tak diinginkan terjadi padanya. Wanita itu tak kuasa menahan rasa sakit. Sekali-kali dia melihat kearah rumahnya yang sederhana. Terkena pancar sinar matahari sore terlihat seperti lukisan. Indah sekali.
Terlihat dari tepi tebing sungai Batanghari. Sesosok pemuda yang memakai kopiah hitam dan kain sarung berdiri menengok arah wanita dan laki-laki yang bertunangan itu bercengkraman ditengah sungai. Pemuda itu benama rahmad. Dia adalah guru ngaji anak desa sengeti, sering kali pula ia menjadi penceramah dimasjid. Pemuda itu sangat mencintai wanita bertunangan yang ditengah sungai itu. Seakan ia menginginkan wanita itu kelak menjadi isterinya. Tetapi, wanita itu tidak pernah tahu kalau pemuda bersarung itu mencintainya. Pemuda itu tak pernah berkata cinta pada wanita itu. Lalu pemuda itu pergi dengan rasa kecemburuannya.
****
Pagi yang amat cerah. Cuaca terang. Langit pun jernih. Burung-burung dengan riangnya bertabangan dari satu batu candi ke batu candi yang lainnya. Diantaranya orang-orang sibuk menuai padi yang menguning, ada pun gadis-gadis desa mencuci baju di jamban tepi sungai batang hari. Di tengah keriangan pagi itu bagi orang-orang . namun tetapi, tidak bagi aisyah. Bagi wanita itu, pagi ini adalah pagi yang amat menyakitkan. Ia tak ingin terbangun dari tidurnya semalam. Ia ingin selamanya tertidur tapi bukan mati kalau pagi ini melihat tunangannya pergi dan entah kapan akan kembali.
“jaga dirimu baik-baik syah?” tunangannya berpesan.
Dengan menyandang tas hitam besar. Syamsul berpamit pergi pada tunangannya. Aisyah benci mendengarkan ucapan tunangannya itu. Rasanya lebih menyakitkan dari apa pun. Aisyah memandang gulungan ombak sungai batang hari. Dengan mata berlinang mutiara, dia menggenggamkan tangannya agar linangan mutiara itu tak jatuh di pipinya.
“insyallah, kamu juga jaga dirimu baik-baik!”
Aisyah tak menengok tunanganya. Rasanya tak kuat dia melihat wajah tunangannya itu. Sejujurnya wanita itu tidak menginginkan kepergian tunangannya. Hati dia ingin tunangannya selalu berada disampingnya. Tapi ini takdir tuhan. Dia harus kuat menjalankan takdir itu.
“aku berangkat dulu syah?” ucap syamsul dengan menengok ke aisyah.
 Dan aisyah pun begitu. Dia memandang kedua bola mata laki-laki itu dengan hati luka. Dia dengan jelas melihat wajah tunangannya. Syamsul mengangkatkan tangannya. Lalu aisyah memegangnya lalu dihantarkan ke keningnya. Dengan lembut aisyah mencium tangan tunangannya. Rasanya dia tak ingin melepaskan tangannya. Dia ingin tunangannya tak pergi dan selalu ada disampingnya.
“aku akan selalu menunggu cintamu pulang disini sul. Ditepi sungai batang hari. Begitu selesai, pulanglah dengan segera.” Kata aisyah menangis.
Tak kuasa rupanya syamsul menoleh aisyah. Dia hanya menganggukan kepalanya. Tak bersuara dan lalu pergi dari hadapan aisyah.
dibalik batang sawo besar itu. tampak rahmad sekali-kali menengokkan kepalanya sedikit. dia melihat kejadian pertemuan terakhir wanita yang ia cintai itu dengan tunangannya. sebagai makhluk tuhan biasa, tampak rahmad kasihan dan rasa sedih melihat wanita yang ditinggal tunangannya itu terluka. tampak ia menggenggam tangannya. lalu memukul batang sawo itu dengan pelan. tak tega melihat aisyah bersedih dia pun mendekati aisyah.
"assalamualaikum?" ucapnya pada aisyah
 aisyah pun menghapus air matanya. lalu berbalik menghadap rahmad.
"wa'alaikumsalam!"
angin sungai sepoi-sepoi. daun sawo berjatuhan dengan sendirinya. gelombang menghantarkan buih-buih kecil ketepi. desahan percik air menari dengan ikan. ingin rasanya rahmat memeluk gadis dihadapanya itu dengan lembut. ingin rasanya dia mengajak wanita itu bermain perahu ketengah sungai untuk menghibur hati aisyah yang lara. namun rahmad tak ingin mendatangkan fitnah. apa lagi ia tahu agama, tak baik bila seorang wanita yang sudah bertunangan berdua dengan laki-laki lain.
"berapa lama syamsul pergi? dan kapan ia akan pulang?" tanya rahmad
"aku tidak tahu kapan, syamsul juga tak tahu kapan dia pulang!"
aisyah berbalik badan menghadap ke sungai. rahmad pun melangkah dan berdiri disamping wanita itu. mereka pun menghadap kesungai. terlihat mata mereka berdua menutup tertiup angin. terlihat pula jilbab aisyah dan kain rahmat bergelombang kecil tertiup angin.
"aku tahu perasaanmu kini syah, bersabar lah?" tutur rahmat.
aisyah tak mengerti dengan kata rahmat. sekali ia melihat laki-laki itu. lalu menengok ke sungai kembali.
" insyallah. assalamualaikum?" ucap aisyah pergi.
aisyah pergi dengan tiba-tibanya. entah apa yang membuatnya pergi. mungkin dia takut menimbulkan fitnah. atau mungkin dirumahnya masih banyak pekerjaan. atau mungkin dia tidak menyukai rahmat. entah lah.
"wa'alaikumsalam"
rahmat tak menahan aisyah. tak hayalnya dia melihat kesungai itu. dia tidak menginginkan hati aisyah terluka lebih dalam. dan membiarkan dia pergi. dalam hatinya selalu berharap aisyah lebih lama berada disampingnya, agar dia bisa menghibur hatinya yang terkoyak.
****
"Kapan tunanganmu akan pulang syah?” Fatimah sahabatnya bertanya
Lima bulan setelah kepergian syamsul, aisyah tampak menyendiri setiap harinya. Kadang pula dia termenung di tengah teras rumah. Entah apa yang dia pikirkan. Mungkin dia memikirkan syamsul. Atau mungkin dia memikirkan hidupnya. atau mungkin tidak memikirkan apa-apa.
"entah lah. aku tidak tahu kapan dia pulang, mah?"
dengan membalik-balik baju yang mereka cuci. kedua sahabat itu tak hentinya berbicara.
"apa kau tahu dimana syamsul bekerja?"
"tidak. dia tidak pernah memberi tahu padaku"
"kenapa?"
"entah lah"
hawa panas mentari terasa sedikit menyengat kulit. namun kedua sahabat itu dengan riangnya mencuci dijamban apung yang kecil itu. begitu berbeda ekspresi wajah aisyah saat fatimah menanyakan syamsul. sekali-kali dia termenung. terkadang menoleh kearah lain.
"sekarang sudah lima bulan syamsul meninggalkan kau syah. apa kau tidak ada niat untuk menghubungi dia? ya, walau hanya sekedar menanyakan kabarnya?" sahabatnya kembali bertanya.
"sudah ku coba, mah. tapi, teleponnya tidak aktif!" jawabnya kemudian "atau mungkin dia terlalu sibuk hingga tak sempat menghubungiku. aku juga tidak tahu"
"syah. kalau dia memang sayang padamu pasti dia akan menghubungimu walau sesibuk apapun pekerjaannya. seorang pacar saja akan memberi kabar pada pacarnya jika dia pergi jauh. apalagi syamsul itu tunanganmu. apa kau tak pernah curiga padanya?"
"curiga kenapa?" aisyah bertanya sambil melihat cuciannya
"iya, kalau-kalau syamsul sudah punya yang baru" tuturnya
aisyah diam termenung. tangannya pun berhenti mencuci. di pikirannya mungkin benar syamsul sudah memiliki wanita lain dihatinya atau mungkin syamsul sudah lupa dengan pertunangannya. entah lah. pertanyaan fatimah amat menyudutkan aisyah. hingga aisyah tak dapat berkata-kata. tangan kecilnya pun tak kuasa digeraknya. mungkin perkataan fatimah itu menyinggung perasaannya. namun aisyah tetap sabar. ia selalu berdo'a pada tuhan semoga hal yang buruk tak pernah terjadi pada dirinya dan syamsul.
sementara itu, pemuda yang mencintai aisyah sibuk dengan kerjanya mengajar anak desa mengaji dan kadang dia pula memberi ceramah pada anak-anak desa. selama syamsul pergi beberapa bulan yang lalu, aisyah terlihat sendiri meratap dan memikirkan tunangannya. rahmad selalu melihat keadaan wanita itu dari kejahuan. ia tak mendekat. dia takut aisyah akan menolak. ingin rasanya pemuda itu menghibur wanita yang merana itu. tapi tak bisa...

“...jadi kita hidup di dunia ini hanyalah sementara. Berbanyak lah beramal. Bertawakal kepada allah. Harta dan jabatan seseorang tidak menjamin  sesorang itu masuk surga atau neraka. Tapi, ibadah lah yang menentukan seseorang masuk surga atau neraka.” Tutur rahmat saat memberi ceramah pada anak desa.
Sore itu tak sengaja aisyah mendengar ceramah rahmad di masjid saat dia selesai mengerjakan shalat ashar.
“dan manusia itu jangan terlarut dalam kesedihan. Apabila di tinggal sama orang yang kita sayangi. Misalnya, ditinggal kedua orang tau kita. Entah kah pergi lama atau meninggal dunia. Atau juga ditinggal pacar kita. Kita tidak boleh bersedih yang larut. Berdo’a lah dan banyak tawakal kepada allah agar orang kita kasihi di lindungi oleh allah" tegas rahmat.
Aisyah termenung. Diatas sajadah merah yang bercorak gambar ka’bah itu aisyah mendengarkan ceramah rahmad. Hatinya agak tenang. Hatinya luluh saat mendengar ceramah rahmat. Isi cerah rahmat benar-benar menceritakan kisah yang terjadi padanya saat ini.
Semua anak desa selesai mengaji. Satu-persatu mencium tangan rahmad dan pulang. Tak sengaja saat rahmad keluar masjid, ia bersua dengan aisyah.
“assalamualaikum, syah?” ucap rahmat mengangkat kedua tangannya.
“wa’alaikumsalam?”
“bagaimana kabarmu syah?” tanyanya
“alhamdullah baik mat. Kamu sendiri?”
“iya, seperti yang kamu lihat sekarang”
Tak kuasa rahmad menahan getaran hatinya yang selalu tak menentu arah. Mungkin rahmat malu. Atau mungkin dia takut atau pun dia tidak merasakan apa pun. Mereka pun pulang bersama. Tampak dibelakang gerombolan anak-anak yang pulang ngaji itu rahmad dan aisyah melangkah dengan santainya. Di tengah perjalanan. Sekali-kali rahmad melihat wanita itu dengan bahagianya. Aisyah menengok. Rahmad pun tersenyum malu.
“ceramahmu bagus tadi, mad?” tutur aisyah
“ah, biasa saja syah. Hanya itu yang aku bisa sampaikan pada anak-anak” jawab rahmad malu.
“orang tua kamu beruntung  sekali mad, memiliki anak sepertimu. Apa lagi pacar kamu, punya laki-laki Sholeh, baik. Sepertimu?”
Langkah rahmad terhenti mendengar kata aisyah. Matanya melihat kekosongan. Mukanya berubah pucat pasih. Rahmad mengerti dengan sikapnya. Dia melihat mata aisyah lalu berkata.
“a-aku. Belum memiliki kekasih!” ucapnya gugup
Aisyah pun berhenti. Memandang mata rahmad dan tersenyum.
“kenapa? Usiamu sudah cukup untuk berkeluarga mad?” ucapnya
Rahmad kian ragu untuk menjawab. Aisyah memang tak mengerti perasaan laki-laki itu. Sesungguhnya wanita di hadapannya lah yang dia inginkan menjadi kekasihnya.
“berkeluarga? Pacar saja aku tak punya. Syah!” tegas rahmad
Aisyah kembali tersenyum. Dan mereka pun melanjutkan lagkah mereka pulang.
****
Suatu pagi yang mendung. Riuh suara angin merebah disungai batang hari. Terlempar dibalik cela jamban itu menerpa menjadi ombak kecil. Burung-burung terbang menyentuh bebatuan candi yang berlumut. Di sawah-sawah terlihat para wanita separuh baya memakai kain tengkuluk bermotip bunga. Yang sedang menuai padi yang menguning. Rahmad melangkah kerumah aisyah.
“assalamualaikum?” ucapnya
“wa’alaikumsalam?” jawab ibu aisyah “kau jang, masuk lah”
“diluar saja uwak!” jawabnya kemudian “aisyahnya ada wak?”
“iya sudah. Duduk lah. Uwak hendak memanggil aisyah dulu” tutur ibunya
“syah. Ada rahmad di luar. Katanya dia hendak menemuimu!” panggil ibunya di kamar.
“ada apa bu?” Tanyanya
“ibu juga tidak tahu. Cepatlah kau temui dia. Ibu hendak mengambil air minum dulu.” Ibunya pun pergi kedapur untuk mengambil air.
Sementar itu. Aisyah dengan segeranya keluar kamar dan langsung menemui rahmad yang sudah menunggu di teras rumah.
"assalamualaikum?" ucap aisyah lembut
"wa'alaikumsalam"
"ada keperluan apa mad? tumben main ke sini?" tanya wanita itu " kata ibu ku, kau hendak bertemu denganku?"
"tak ada. aku tadi tak sengaja lewat disini. aku pengen singgah. lagi pula aku sudah lama tidak bertandang kesini."
"ini airnya, minum dulu" ibunya memberi segelas air.
"terima kasih wak. oh iya. sepertinya uwak sudah lama tidak kelihatan yasinan di masjid lagi?"
"iya jang. akhir-akhir ini uwak banyak di sawah. padi uwak sudah menguning semua. hendak di tuai. sebentar lagi uwak hendak ke sawah."
"alhamdulillah wak. allah memberi rezki"
"amin. iya sudah uwak kebelakang dulu. ingin siap-siap hendak kesawah. jangan lupa diminum airnya"
"iya terima kasih wak"
Seketika ibunya masuk kedalam. Kini tinggal aisyah dan rahmad diteras rumah. Mereka banyak berbicara. Entah apa yang dibicarakan. 
"syah, sabtu depan kamu sibuk tidak?" tanya pemuda itu sambil mengembalikan gelas diminumnya diatas meja.
"insyallah tidak mad, kenapa?"
"bisakah kau membantuku?"
"bantu apa mad?"
"membantu mengajar ngaji di masjid. kulihat akhir-akhir ini muridku bertambah banyak sehingga aku mengajar pun lama" pinta rahmad. kemudian "tapi kalau kau tak bisa juga tak apa"
aisyah terseyum juga. sambil mengosok-gosokan  jilbabnya. mendengar itu aisyah pun girang.
"oh itu mad?" katanya senyum "iya, insyallah. kalu tidak ada halangan aku akan membantumu"
rahmad tersenyum. hatinya amat girang. tak disangka aisyah wanita yang dicintainya itu tak menolak ajakannya,
"benarkah itu syah?" tanya girang tak kuasa "terima kasih"
setelah lama bercakap-cakap laki-laki itu pun pulang dengan hati yang bergejolak girang. pada pikirnya aisyah mulai baik padanya. 
hari-hari aisyah tak bersemangat setelah kepergian tunangannya. kadang wanita itu duduk menyendiri ditepi sungai batang hari. ditempat yang sering ia dan tunangannya duduk waktu dulu. mungkin wanita itu menunggu syamsul tunangannya yang entah kapan akan pulang. atau mungkin dia mencoba mengobati hatinya yang lara. ataukah mungkin wanita itu tidak menunggu siapa-siapa dan hanya melihat-lihat percikan air sungai batang hari.
"syah, syah?" terdengar dari kejauhan seseorang memanggil namanya. 
wanita itu pun berbalik. ternyata setelah dilihat temanya fatimah. terlihat belari tergopoh-gopoh dengan menyinsing sedikit kain yang dipakainnya.
"syah" serunya kempas kempis
"ada apa mah?" tanyanya heran "mengapa kamu seperti ini?"
"syamsul, syah"
"ada apa dengan syamsul?" tanya wanita itu cemas
 pikirnya kedatangan fatimah membawa kabar buruk akan tunangannya itu. dia melihat dengan jelas muka fatimah, matanya merah, wajahnya pucat pasih.
"katanya lusa syamsul pulang"
alangkah suka cita hatinya mendengar itu. sudah satu tahun lebih ditinggal tunangannya. dan kini dia kembali. tentu dia akan bertemu dengan syamsul. buah hati rangkaian jantungnya yang amat dikasihnya. dan wanita itu pun pergi dari hadapan fatimah dengan hati yang tak menentu. harapannya menikah dengan syamsul sebentar lagi akan terwujud dan akan hidup bahagia. tapi, kabar itu seperti mimpi buruk bagi rahmad. karena wanita yang ia cintai itu akan menikah dengan syamsul.
pada suatu pagi. kira-kira pukul sembilan. sedang panas mulai hangat. sedang ramai orang menuai padi disawah. sedang ramai angin bertiup ditengah sungai batang hari. tak terlihat gadis-gadis mencuci di jamban. tampak seorang wanita tegak berdiri dengan riang. sepertinya ia sedang menunggu seseorang ditempat itu tepi sungai batang hari. sambil memandang ke kiri dan ke kanan. kalau-kalau orang yang ditunggunya akan segera datang. tetapi, tak seorang pun tak tampak. darahnya semakin berdebar. hatinya semakin tak enak. mulutnya menjadi mengerut.
"sudah lama kau menunggu, syah?" tanya seseorang tiba-tiba dari belakang
tanpa disadari aisyah seorang laki-laki datang menghampirinya. wanita itu pun berbalik menghadap laki-laki itu. alangkah terkejutnya aisyah melihat laki-laki itu. betapa girang hatinya. laki-laki dihadapannya itu ternyata syamsul tunangannya yang baru saja pulang dari kerja. seakan tidak percaya dengan syamsul, aisyah tersenyum dengan laki-laki dihadapannya itu. dan laki-laki itu pun membalas senyumannya.
"maaf syah selama ini aku tak pernah memberi kabar padamu?" ucap laki-laki yang baru datang itu.
"tak apa sul, awalnya aku khawatir padamu. tapi sekarang tak lagi karena kau telah kembali" tutur wanita itu senyum.
lalu, laki-laki dan wanita itu pun berdiri menghadap sungai batang hari.
"bagaimana kabarmu syah?" tanya laki-laki itu
"alhamdullah baik sul. kamu sendiri bagaimana?"
"alhamdulillah baik juga. tak banyak perubahan ditempat ini selama aku pergi. dan kau semakin cantik saja syah!"
tak tahu lagi apa yang dilakukan aisyah. wanita itu tak kuasa menahan kebahagiaan. terlihat dari awal kedatangan syamsul bibirnya selalu memancarkan senyuman. sementara itu, dibalakang sepasang kekasih itu. dibalik batang sawo besar. hati rahmad hancur melihat aisyah dan tunangannya. matanya tergambar kecemburuan amat dalam. mulutnya tak sekecilpun terlihat senyum.
"aku ingin berbicara padamu syah?" tunangannya berkata
aisyah diam. matanya melihat kedepan memandang ombak kecil ditepi sungai. aisyah tak bertanya pada syamsul untuk berbicara hal apa. mungkin aisyah mengira syamsul membicarakan kapan akan menikah. atau mungkin wanita itu mengira dua minggu lagi akan dipinang olehnya.
"aku amat sayang padamu syah" ucap tunanganya lembut " kau bagaikan wanita yang sempurna, sungguh aku akan amat menyesal harus mengatakan ini. syah. ini akan membuatmu sakit hati padaku. mungkin aku akan membenciku selamanya. selama aku bekerja, aku selalu memikirkanmu disini. aku takut kau berkhianat pada cinta kita. tapi aku salah. dengan setianya kau menjaga cinta kita selama aku pergi. aku berdosa padamu syah"
aisyah tak hentinya senyum manis. mendengar ucapan tunangannya itu rasanya dia ingin memeluk tunangannya dengan kasih sayang untuk melepas rindu.
"aku tak akan berkhianat pada cinta kita, sul."
"aku salah padamu syah" katanya kemudian "ini untuk mu" ucapnya dan perlihatkan undangan ditangannya pada aisyah.
"undangan apa sul?" tanya wanita itu
semakin tak terkira senyuman aisyah. dia berkata dalam hati. mungkin ini mungkin contoh undangan untuk pernikahannya dengan syamsul. dia membalik-balik undangan itu. dia membaca keatas dan kebawah. dia lihat pula foto tunangannya di undangan itu.
"minggu depan aku akan menikah dengan wanita kota" tegasnya "kalau ada waktu kau bisa datang"
alangkah pilunya mendengar ucapan tunangannya itu. tiba-tiba mulut aisyah menutup masam. matanya membesar terkejut. hatinya berdebar kencang. terlihat keringat membasahi pipi aisyah.
"benarkah itu sul?" tanyanya tak percaya "mengapa kau tega melakukan ini kepada ku, hatiku sakit mendengar ini sul. selama ini aku setia menunggumu. kau sudah berjanji padaku sepulang dari kerja, kau akan menikahiku." ucap aisyah menangis.
hati aisyah hancur berkeping. hatinya serasa terkoyak. ingin rasanya ia menjatuhkan dirinya dari tebing sungai batang hari. ingin rasanya ia pergi kejamban itu untuk menghanyutkan dirinya.
"mengapa kau secepat ini berubah sul?" tangisnya "kau balas pengorbananku selama ini menunggumu dengan cara seperti ini? kau jahat sul"
sejenak aisyah luluh. lari dan meninggalkan syamsul. air mata yang selalu mengalir di pipinya. tak kuasa dia menahan rasa sakit hatinya. bahkan hatinya lebih sakit saat dia mendengar syamsul akan pergi beberapa tahun yang lalu. syamsul hanya diam, menengok pun tidak juga. dia merasa amat bersalah pada aisyah. diambilnya undangan yang terjatuh dari tangan aisyah. di lihatnya undangan itu. terjatuh air matanya diatas undangan itu. syamsul menangis. digenggam tangannya dengan erat. dibuangnya undangan di tangannya itu dan lalu pergi.
sementara itu. laki-laki yang dibalik pohon besar itu melihat dengan mata penuh dengan ambang kebingungan tak percaya. rahmat hanya diam tak bersuara. sekali-kali menghirup nafas dalam. ia tak tahu apa yang harus dia lakukan. hatinya sakit melihat wanita yangdicintainya itu bersedih hati.
aisyah duduk diatas kursi tua diteras rumahnya. air matanya tertumpah tiada henti. dia selalu mengiangat kata-kata syamsul tadi. begitu tega syamsul mempermainkan cinta aisyah.
***
beberapa minggu setelah itu.
pada suatu petang itu. tampak seorang wanita berjilbab putih kebiruan tegak berdiri melihat sungai yang nan elok itu.ditangannya ia memegang kerikil kecil. kadang ia melemparkan kerikil itu ke sungai. mencoba menghibur diri melihat ikan kecil menari bermain menangkap buih-buih ditepi batang jamban. dari belakang wanita itu. seorang pemuda berkopiah hitam datang tiba-tiba dan berdiri disampingnya.
"assalamualaikum?" ucapnya
wanita berjilbab itu terkejut dan menengok pemuda itu.
"waalaikumsalam" jawabnya pelan tak kuasa.
"aku tahu perasaanmu kini syah. tak mudah menerima ini semua. tapi, apa boleh buat." tuturnya lembut "ini adalah takdir, syah. tuhan sedang menguji imanmu"
aisyah hanya diam. tak hayal melihat ombak kecil yang berpercik kecil di tepi sungai.
"banyaklah bertawakal dan ikhlas. percayalah syah, dibalik semua kejadian ini ada hikmahnya. dan kau akan mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari syamsul"
setelah itu rahmad pergi. beberapa langkah dari aisyah kakinya terhenti kemudian melihat aisyah. dia berharap aisyah kan mengerti dengan kata-katanya tadi. dia berharap akan dapat menggantikan syamsul.
hari berganti hari. rahmad begitu rajin bertandang kerumah aisyah untuk sekedar menghibur hatinya. tampak diraut wajah aisyah kembali tersenyum setelah kejadian yang beberapa lalu. mereka pun kadang duduk berdua ditepi sungai batang hari. dan kadang pula mereka bermain perahu di tengah sungai. kemudian terbayang-bayang pula dalam ingatan aisyah kejadian-kejadian yang telah lalu, pergaulannya dengan syamsul.
"syah, mau kah kau menikah denganku?" pemuda berkayuh itu bertanya
cahaya merah matahari amat elok. ombak kecil menerpa perahu mereka. angin tak begitu deras. mata aisyah termenung. tak tahu harus menjawab apa. matanya tampak keraguan. dia tak ingin kejadian yang menyakitkan hatinya akan terulang kembali. katanya mungkin rahmad mencintainya dengan rasa kesihan. karena ditinggal pergi tunangannya menikah dengan orang lain. tapi, dia juga melihat mata pemuda itu penuh dengan keyakinan yang kuat.
"mungkin ini berat bagimu. sebenarnya aku tak tahu lagi dengan perasaanku denganmu. aku berkata seperti ini bukan kasihan denganmu. tapi, percaya lah aku menyayangimu"
mendengar hal itu hati aisyah menjadi gempar. lalu badannya dingin. matanya agak berlinang. kemudian dengan pelan pula ia berkata pada rahmad
"aku tak bisa menjawab sekarang. beri aku untuk meminta petunjuk dengan allah"
rahmad diam menganggukkan kepalanya. dia amat mengerti dengan semuanya. pemuda itu pun berbiduk ke tepi.
"aku ingin malam jum'at nanti kau datang kerumahku" ucap wanita itu diatas jamban "jangan lupa membawa kedua orang tuamu"
sementara itu rahmad tak bersuara, dia sibuk mengikat tali perahu di sela kayu penyangga jamban. kepalanya hanya mengangguk setiap mendengar ucapan aisyah.
***
malam jum'at itu. rahmad terlihat memakai batik jambi bercorak angsa amat tampan kelihatannya. ia melangkah kerumah aisyah dengan orang tuanya. sebelumnya, rahmad telah memberi tahu kepada kedua orang tuanya maksud kedatangan mereka malam jum'at kerumah aisyah. setelah sampai diteras rumah
"assalamualaikum?" ucap ayah rahmad
"waalaikumsalam" terdengar ibu aisyah menyahut
"pak marzuki, ibu ina. masuk. mari. duduk lah. saya hendak memanggil suami saya dulu"
sementara ibu aisyah memangil suaminya. rahmad dan kedua orang tuanya duduk diatas kursi yang sedikit agak tua.
"pak marzuki?" sapa ayah aisyah saat melihat ayah rahmad "apa kabar?" lalu menyalami semua keluarga rahmad."mari duduk. ibu suruh aisyah buat air minum" pinta ayahnya pelan
"jangan susah payah begitu pak ali. jadi tidak enak"
"tak apa lah. jarang-jarang pak ali bertandang kerumah kami"
ketika saling sapa, mereka pun tertawa dengan pulasnya. sementara itu terlihat aisyah membawa air teh hangat. diberinya air itu pada rahmad dan kedua orang tuanya. saat ingin berdiri, ibu rahmad berkata
"bisakah kau duduk bersama kami syah?" pintanya.
aisyah hanya diam menundukkan kepala dan duduk disamping ibunya. dan ayah rahmad mencoba menjelaskan maksud kedatangannya.
"maaf sebelumnya pak, ibu.kedatangan kami mengganggu waktu istirahat bapak dan ibu. seperti ini.. " jelasnya patah-patah "anak saya rahmad, sudah lama menyimpan perasaan ini. dia tidak berani mengatakan sebenarnya pada aisyah. kita bukan mencari kesempatan dalam kesempitan."
"jangan seperti itu pak. silahkan jelaskan lah."
"sebenarnya anak saya rahmad ingin menikahi anak bapak dan ibu. aisyah"
didalam bilik itu jadi sunyi senyap. sunyi sebagai di dalam kubur hanya dengingan jengkrik saja yang kedengaran. sementara itu, pemuda berbatik itu tak bersuara. tak hayal menundukkan kepala. begitu pun aisyah. ia hanya diam disamping ibunya memeluk tempat air yang sudah ia bawakkan tadi. kedua orang tua aisyah dalam kebingungan. mereka tak mengerti. sebelumnya aisyah tak pernah memberi tahu bahwa rahmad ingin menikahinya. tetapi, orang tua mana yang tidak ingin anaknya mendapat suami seperti rahmad. baik, shaleh dan tidak sombong. didalam hening itu ayah aisyah berkata
"maaf sebelumnya. sejujurnya saya dan isteri saya tidak mengetahui maksud kedatangan bapak dan ibu kerumah saya. begitu pun dengan rencana rahmad ingin meminang anak saya. saya tidak ingin mengikut campur dalam masalah ini. yang menjalankan rumah tangga nanti aisyah anak saya. jadi keputusannya kami serahkan pada anak saya"
"bagaimana nak, syah?" tanya ayah rahmad lembut
aisyah serentak menunduk. matanya menoleh kebawah mencoba mencari petunjuk.
"kami terima dengan senang hati apabila anak aisyah menolak pinangan rahmad. kami tidak memaksa anak aisyah"
terlihat mata rahmad bertanya-tanya. matanya tergambar kepasrahan. tapi ia tetap sabar.
"aku terima pinangan rahmad" ucap tegas aisyah.
semua terkejut. mata rahmad terpancar kepuasan. karena harapannya terjawab. ibu dan ayahnya tersenyum begitupun dengan ayah dan ibu aisyah.
"tetapi saya minta beberapa syarat?"
"apa itu" tanya ibu rahmad "katakanlah?"
"syarat yang pertama. apabila nanti saya menikah dengan rahmad, tidak ada yang melarang kapan pun jika saya ingin pulang kerumah ibu saya. yang kedua saya tidak ingin ada kecurigaan yang berlebihan jika nanti telah menikah. dan yang terakhir. saya ingin selama saya bernafas suami saya tidak boleh menikah lagi. kecuali bila saya sakit parah. apa bila tiga persyaratan itu sanggup dipenuhi aku akan menerima pinangan dari rahmad" tutur aisyah dengan arif.
"bagaimana, mad?" tanya ayahnya
"insyallah aku akan menyanggupi" jawab rahmad penuh keyakinan
"baiklah, aku terima pinangan rahmad"
"alhamdullaah, allahu akbar" ucap syukur rahmad mengusap kedua tangannya.
"alhamdulillah" ucap kedua orang tua rahmad dan aisyah.
"baiklah, pernikahan ini segera dilakukan. saya sudah memilih waktu yang abik dalam bulan ini. bagaimana pernikahan ini dilaksanakan dau minggu lagi?"
rencana ayah rahmad pun disetujui kedua belah pihak. kini hati rahmad legah. sekali-kali ia menghembuskan nafasnya dengan pulas. setelah mendapatkan titik temu yang terbaik, rahmad dan kedua orang tuanya pun pulang dengan hati riang. keinginan rahmad menjadi suami aisyah bakal terwujud. dia berjanji akan menjaga aisyah nantinya.
kesibukan pun terlihat dirumah rahmad. berbagai persiapan untuk hari pernikahan pun telah selesai. corak islam dan adat melayu jambi menghiasi tenda-tenda yang terbentang besar. begitu gagahnya rahmad memakai baju adat jambi berwarna merah hati bercorak angsa sepasang. di pinggang terlihat keris siginjai menancap dengan gagahnya. aisyah tampak berseri, ia selalu tersenyum. dengan baju adat melayu jambi dihiasi bungai teratai dan melati menghiasi kepalanya ia pun terlihat amat cantik. selesai ijab kabul dibacakan rahmad dan aisyah pun berdiri berdua menyalami tamu yang hadir. mereka bak raja dan ratu di hari itu.
kini cinta rahmad dan aisyah bersatu. amat bahagia rahmad menjadi suami wanita yang ia cintai. begitu pun dengan aisyah.
kebahagian semakin menyelimuti aisyah dan rahmad. cahaya langit sore itu tampak amat segar. terlihat rahmad dan aisyah berkayuh pelan menyusuri sungai batang hari. batang hari menjadi saksi bisu perjalanan kisah pedih aisyah hingga kini menjadi isteri rahmad.
"tak kusangka , kini kita menjadi suami isteri. dulu aku hanya bisa berkhayal bisa menjadi suamimu." tutur rahmad senyum.
aisyah pun tersenyum malu. kini kebahagian mereka tak ada yang menghalangi. kecuali takdir tuhan. semua masa lalu aisyah dan rahmad telah mereka hanyutkan disungai batang hari yang indah. dari cahaya sore, hati kecil rahmad akan setia menjaga cinta suci gadis batang hari. aisyah. isterinya. 


SYAMSUL BAHARI
SMAN 2 MUARO JAMBI
089699541923

Jumat, 21 Juni 2013

cerpen_Q


Penghianatan diatas persahabatan


Tak terasa hari semakin cepat berlalu, bumi begitu mantap berputar dengan tak sadarnya. Kini ku duduk dikelas XI IPA. Selama satu tahun mencoba untuk beradaptasi disekolah baru. Berbeda sangat kujalankan tiga tahun selama di SMP dulu. Begitu banyak teman, prestasi dan imajinasi mendampingiku dengan setia. Tahun ajaran baru, ketika kudipercaya menjadi ketua OSIS menjalankan perhelakan tradisi orientasi siswa.
“semua siswa harap dapat berkumpul di lapangan, karena acara orientasi akan segera dimulai.” Teriakku dengan pengeras suara.
Ketika semua siswa berbaris rapi, dan kepala sekolah pun sudah buka orientasi. Semua amanat telah disampaikan olwh kepala sekolah. Saatnya siswa  masuk kekelas dengan didampingi panitia MOS.
Ku ingat disaat kududuk sejenak dimimbar upacara, teman baikku ari juga mendaftarkan diri di SMA 2. Ari panggilannya adalah teman terbaikku dari SMP. Saat kududuk dikelas 2 dan ia kelas 1, tak sengaja kita bertemu waktu mengikuti perlombaan olimpiade dan olahraga antar kelas. Dan saat itu pula kita berteman amat baik hingga kini. Tanpa piker panjang ku langsung belari mencari ruang ari dan ternyata dia dikelas X1.
“cepat pasang alatmu, jangan bantah” bentak temanku elno ke ari.
Ku tersenyum, saat kulihat ekspresi wajah ketakutan ari dari lubang-lubang kecil pintu. Kumencoba tuk tak membela dan mendekat. Ku melihat dari kejauhan. Ari tak menyadari keberadaanku dibalik pintu kelas.   
“siapa namamu?” Tanya alin ke ari
“ari, kak”
“Nama lengkap” bentak alin kedua kalinya
“hari wijaya, kak”
“Nah gitu”
Ku tersenyum untuk kesekian kalinya. Melihat kepolosan ari menundukkan kepala ketakutan.
“dari sekolah mana?” Tanya elno
“SMP 6 kak” jawab ari
“sudah punya pacar?” Tanya alin tegas
“belum kak”
“kenapa belum?” kembali Tanya elno
Ari hanya diam, matanya menoleh kebawah entah apa yang dia lihat. Suasana kelas tak baik, suasana bising, ada yang menangis, marah, diam, ada pula yang ketakutan seperti temanku ari. Aku pun masuk ke dalam kelas dan membawa kertas jadwal MOS.
“semua diam, duduk dengan rapi tak ada kepala kalian yang menengok kedepan. Semua melihat kebawah dan pasang semua alat MOS kalian.” Teriak elno kesemua siswa.
“dengarkan perintah kakak yang didepan pasang telinga kalian baik-baik.” Tutur elno.
Semua diam, serentak suasana sunyi tak terdengar sekecil pun desahan nafas siswa. Mereka semua tertunduk takut. Aku pun member jadwal kegiatan MOS selanjutnya.
“terima kasih, kalian tak usah tegang seperti ini, jangan takut kakak-kakak ini tidak akan memakan kalian. Sekarang dengarkan perintah dari kakak. Saya tak akan memberi instruksi kepada kalaian sebelum kalian melihat kedepan.” Kataku dengan santai.
“dengarkan perintah kakak itu, melihat kedepan sekarang. Jangan bantah.” Teriak elno untuk sekian kalinya.
“sudah el, tak perlu seperti itu.” Tegasku ke elno
Dengan malu elno tersenyum, dan mengangkat kedua tangannya dan minta maaf. Semua siswa pun dengan segera mengangkat kepala mereka dan melihat kearahku.
Kudapat melukiskan wajah temanku ari saat dia melihatku. Terkejut, tak percaya dan bingung. Begitulah raut wajahnya. Kupandang wajah sahabatku itu sesaat, kutersenyum dia pun begitu. Rasa takut diwajahnya seketika menghilang. Mungkin dia berkata didepan itu temanku pasti dia akan membela kalau aku dibentak lagi. Dengan tenang pula ari mendengarkan isntruksi dariku.
“sekarang kalian boleh istirahat. Namun, harus mengikuti tata tertib MOS. Setelah istirahat, dan bel dibunyikan kalian boleh masuk ke kelas kembali.” Tuturku.
Semua siswa serentak menjawab dengan menganggukkan kepala.
“dan terakhir untuk namanya hari wijaya harap tetap ditempat.” Pintaku.
Semua keluar tertib dengan wajah berseri, begitu pun dengan kakak panitianya termasuk temanku elno dan alin. Namun, ari termenung. Bola matanya tanpak tergambarrasa takut. Mungkin dia mengira aku akan memarahi dan atau mengerjainnya. Aku pun melangkah kea rah sahabatku itu.
“kenapa ekspresimu?” tanyaku berdiri di depannya.
Ari terkejut, serentak kepalanya tertunduk takut.
“biasa saja ri, aku tidak menjahili kamu.” Tuturku senyum.
Sekali terdengar dengan jelas ari menghembus nafas kepuasan. Bak nahan nafas satu jam.
“sudah lah, lepas saja ember dikepalamu itu, kita keluar panas didalam.” Aku tarik tangan ari.
Aku ajak ari duduk ditempat biasa ku duduk saat jam istirahat. Dibawah pohon yang amat rindang dan begitu sejuk. Semua penat dan beban pasti kan hilang bila kududuk dibawah pohon itu. Ku ingin ari merasakan hawa dibawah pohon itu, agar semua beban dan rasa takunya hilang saat di MOS tadi.
“bagaimana orientasinya tadi?” tanyaku ke ari dengan meminum sebotol air.
“aku tidak tahu harus bilang apa, semua teman lainnyajuga merasakan apa yang aku rasakan” jelasnya.
Aku diam, bingung tak mengerti…
“temanmu semua kejam, pung!” tutur ari kesal
Terlihat sekali-kali jidatnya naik, alisnya pun begitu. Mulutnya menutup dengan jelasnya terlihat kegeramannya. Aku tersenyum, kulihat kearahnya. Ku bertanya dalam hati. Ternyata dia masih ingat panggilan sahabat kita waktu 3 tahun dulu. Menurut sahabatku, Apung adalah panggilanku yang artinya laki-laki yang amat ringan tangan dalam segala hal kebaikan. Cibon panggilanku ke ari, yang artinya pemuda tampan yang baik menurutku.
“yang mana bon, mereka semua baik. Tidak ada yang jahat?” tegasku membela.
“toh, buktinya tadi saja aku selalu dbentak berkali-kali. Mentang-mentang kakak kelas, apa lagi elno sama alin pengen ku tonjok tuh olno!” kegeramannya.
“benaran kamu berani sama elno?” tanyaku
“ya,. Kalau saja dia kecil dariku.”
Aku pun tertawa geli mendengar argument sahabatku itu.
“dasar kamu. Memang tak ada yang berubah dari dulu sikapmu ini” kataku mengosok kepala ari sambil tertawa.
Kita pun tertawa dengan puasnya, terlihat jua wajah ari kesenangan yang amat suka dengan suasana yang sejuk. Hari pertama. Saat kita melepas rindu, Selama 3 tahun tak bersua. Kebahagiaan silih berganti mendampingi kita. Larut dalam canda, tawa dan saling menjahil. Aku tak ingin ada yang mengganggu kesenanganku dan sahabatku. Aku ingin satu hari ini menjadi milik kita. Saat kita menikmati canda, dan tawa, tiba-tiba seorang anak muda putih, bersih dan begitu gagah dating menghampiriku dan sahabatku. Kudengar dengan jelas pula dia memanggil namaku.
“kak, sem?” pangilnya
Kudiam dalam kebingungan begitu pun dengan ari. Serentak tawa canda dan tawa kita hilang saat anak muda itu dating. Dengan baik pula aku melayani anak muda itu.
“iya, ada perlu sama saya?” tanyaku.
“iya, aku disuruh kak elno mencari kakak, untuk minta tanda tangan kakak” tegasnya.
“untuk apa?” tuturku
“mana aku tahu, tanya saja sendiri sama dia” ucapnya tak suka.
“ku tak percaya anak muda itu berbicara kasar padaku, sepertinya ia tak suka dengan apa yang ia kerjakan sekarang. Lalu, aku pun meminta dia menjelaskan maksud tujuannya. Dengan wajah benci pun ia menjawab.
“kalau tidak mau tanda tangan ya sudah, aku tidak suka menunggu lebih lama. Dan aku tak suak pula disuruh-suruh.” Ucapnya.
Kemudian anak muda itu langsung mengambil buku dan pena yang ia lempar disampingku dan pergi. Namun, beberapa langkah kakinya, aku pun memanggil anak muda itu.
“tunggu, mana buku sama penamu?”pintaku
Anak muda itu berhenti, sejenak melihat kedepan lalu berbalik kearahku. Ari hanya diam melihat semuanya. Dia bingung, kulihat pula kebencian ari pada anak muda itu. Tapi, terlihat pula kesabarannya menahan kemarahan. Ingin rasanya ari membelaku, ingin rasanya ia memukul pemuda itu. Namun, tak ada gunanya apalagi ia masih baru disekolah ini.
“siapa nama kamu?” tanyaku kepemuda itu.
“alan” jawabnya singkat
Kupun mencoret bukunya dengan tanda tanganku.
“nanti, kalau ada perlu sama saya kamu  bias menghubungi nomorku. Aku sudah tulis dibukumu itu.” Kataku, sambil memberi buku pada anak muda yang bernama alan itu.
Ia pun langsung mengambil dari tanganku dan langsung pergi tanpa mengucapkan kata-kata, bahkan terima kasih pun ta ku dengar darinya. Bel pun terdengar, aku dan ari pun beranjak dan masuk ke kelas.
****
Pagi senin yang amat cerah. Langit jernih bak syurga buatan terlihat diufuk timur dengan perpaduan cahaya merah keemasan sang surya. Aku turun dari motor melangkah kekelas. Kupandang kiri dan kanan kulihat pula motor biru temanku ari. Ternyata aku kalah cepat dengannya datang kesekolah.
Pukul 07.30 semua siswa berkumpul dihalaman sekolah mengikuti upacara bendera. Ku berdiri paling ujung belakang. Sekali-kali kulihat kearah temanku  ari yang juga berdiri paling belakang. Aku tersenyum padanya. Dia pun membalas. Rasa bangga pun terasa saat ku lihat ari memakai pakaian putih abu-abu dan meninggalkan putih biru. Upacara berlanjut. Serentak suasana hiruk, semua bosan. Kepanasan terlihat dari raut wajah dan baju semua siswa dibasahi keringat.
Upacara berakhir. Semua siswa belari tempat berteduh, aku pun begitu. setengah pejalanan, punggungku terasa berat. kumenengok ke kanan. tak kusangka temanku ary..
"nanti ku tunggu jam istirahat di tempat kemarin ya, pung?" ajak ari padaku.
kuhanya menganggukkan kepala, rasanya tak kuat berbicara karena kepala serasa berputar karena kepanasan. kita pun berpisah diujung jalan kelas. aku melangkah ke kelas dan ari pun begitu.
berhenti sejenak, ku lihat delapan siswa hormat bendera tidak mengikuti upacara karena terlambat. bola mataku berputar melihat-lihat siswa itu. mataku berhenti, kulihat dengan jelas barisan ke empat. laki-laki tinggi putih dan bersih. kuselalu bertanya-tanya dalam hati."sepertinya aku mengenali sosok pemuda itu, tapi entah dimana kulihat". sekali-kali ku menggosok kelapalaku dan mencoba untuk mengingat. setelah kuingat-ingat, ternyata anak muda itu alan. pemuda yang minta tanda tanganku waktu orientasi kemarin. aku tak bisa membayangkan yang dirasakannya berjemur dibawah terik matahari sambil menengok kearah sumber cahaya abadi.
"sem.."
dengan jelas seseorang memanggil namaku, serentak hilang ingatanku sosok pemuda itu. ku pun mencari sumber suara itu. ternyata temanku elno. melambai tangan menyuruhku masuk kelas. ku belari menuju kelas dan meninggalkan delapan siswa tersebut.
***
jarum jam menunjukkan pukul 10.00 bel istirahat pun selesai di bunyikan. aku pun belari keluar dan menuju tempat yang telah dijanjikan temanku ari. ku sedikit telat keluar karena aku harus mengerjakan soal kuis fisika. aku tak tahu entah apa yang kuterima dari ari. mungkin dia marah karena aku agak terlambat. kubelari cepat, ku takut ari marah dan pergi dari tempat itu. tapi, entah apa yang kurasakan, kakiku terhenti. aku diam. mataku tak bergerak. kupandang dengan amat jelas alan duduk sendiri didepan kelasnya. sekali-kali ia mengipaskan bajunya. aku tahu yang diraskan. panas, lelah, mugkin begitu. pasalnya satu jam penuh hormat bendera.tampak jelas pula keringatnya mengalir disekujur tubuh. tak tega melihat alan, aku pun membelinya sebotol air minum.
"kenapa dihukum kamu?" tanyaku duduk samping alan
"aku terlambat upacara, kak?" jawabnya
"salah kamu sendiri, kebanyakan main-main"
aku pun memberi minum kepada alan yang sudah kubeli di KOPSIS sekolah.
"ini, minum?" seruku padanya
tanpa sungkan alan mengambil air itu dari tanganku.
"terima kasih, kak?" ucapnya
aku hanya menganggukkan kepala. bibirku melebar senyum kecil melihat alan minum air dengan hausnya.
"lan, kalau kau tak keberatan, bisakah kau memanggilku dengan namaku saja?" kataku
"kenapa?"
"tak apa, aku hanya ingin tidak ada pandangan yang berlebihan padaku sebagai osis. aku juga pengen seperti teman yang lainnya. dekat sama teman-teman dan juga adik kelasku."
"siap, kak sem"
aku dan alan pun saling bercerita masa sekolah. canda tawa pun tak lekang oleh waktu. tak sedikit pun dari sikap alan yang buruk seperti saat dia minta tanda tangan waktu MOS dulu. perasaan burukku terhadap sikap alan dulu adalah salah. ku kira alan anak yang pemberontak tapi aku salah. cukup lama aku duduk cerita dengan alan, hingga kau lupa dengan ari. mungkin kini ia sudah lama menantiku ditempat itu. atau mungkin dia sudah pergi tak lagi menungguku. aku pun berdiridan pergi dari hadapan alan.
"aku kesana dulu ya lan?" kataku tergesa
"iya sem, terima kasih airnya?" ucapnya menunjuk air ditangannya.
ku tak menghiraukan perkataan alan. ku hanya senyum dan belari secepatnya. kuharap ari masih ada ditempat itu.kuberharap dia tak memarahiku. setibanya dibawah pohon. aku narik nafas panjang. kulihat sekeliling pohon, tak ada seorang pun terlihat oleh mataku.mungkin ari sudah pergi. ku diam duduk, kuhanya terlihat sebotol air minum diatas kursi dan kuyakin itu adalah air minum ari dan sekarang telah pergi. kutermenung menyesali yang terjadi.
dengan rasa menyesal kuberjalan kekelas. tak pernah rasanya aku mengingkari janjiku pada ari.mungkin karena alan? ah, itu bukan salahnya. ini memang salahku. aku tak pintar mengatur waktu.
waktu semakin cepat berlalu. saat kudengar dencingan bel pulang, aku pun keluar dan segera minta maaf pada ari. 
tak sengaja kulihat ari dengan temannya menuju tempat perkir motor. aku pun belari mendekatnya.
"cibon?" ucapku
ari pun menenogkku. matanya terlihat tak baik. wajahnya amat masam bak seperti buah jeruk disimpan seminggu yang sudah kecut.
"maaf, tadi aku terlambatmenemuimu tempat itu. tapi, sungguh akau tak bermaksud ingkar padamu" tegasku
ku semakin menyalahkan diri. ari hanya diam. ia hanya mendengarku berbicara. sekali-kali ia tak menoleh.
"aku tahu, pastinya kau marah padaku. tapi percayalah aku tadi sempat menyusulmu dibawah pohhon itu, tapi kau sudah tak ada lagi"
ku semakin takut. mataku merah. aku berkeringat. ari diam membuatku tak mengerti. mungkin ari akan memarahiku setelah aku berbicara. tapi, syukurlah. ahri ini ari lagi berbaik hati padaku. ari tak marah padaku sedikit pun. tasebalinya ia amat dewasa hari ini.
"sudah lah pung, aku tak marah padamu. aku tahu tugasmu begitu banyak sebagai siswa dan osis" ucap ari tenang.
aku hanya bisa termenung mendengar kata-kata ari. aku hanya bisa mengatakan terima kasih atas maafnya untuk kesalahanku. tapi, tiba-tiba ari berkata padaku.
"tapi jangan lupakan orang yang sudah lama kau kenal dan jangan terlalu dekat dengan orang yang belum kau kenal".
aku tak mengerti mengerti kata-kata ari itu. aku mencoba menjelaskan katanya itu. tapi tak juga bisa.mungkin dia marah padaku. tapi, tak mungkin. ataukah ari mengetahuikalau aku tak menenmuinya karena aku banyak berbicara dengan alan. ah, kalimat itu membuatku tak mengerti.
waktu kian berlalu, enam bulan sudah ari di SMA 2 ini. enam bulan pula aku mengenal alan. aku selalu diajaknya bermain kerumahnya, walau seringkali aku kerumahnya malam hari. demi sahabat baruku alan. kedekatanku dengan alan seakan seperti pertama aku bertemu dengan ari waktu SMP duulu. hariku banyak ku habiskan denagn alan. sore, kita selalu belajar bersama, disekolah duduk bersama, bercerita dan tak habisnya pula aku selalu mengerjakan setiap tugasnya. hariku dengan ari semakin jauh, aku serasa tak peduli dengan apa yang ari lakukan. dan sebaliknya. ku selalu bertanya pada alan hari-harinya. disaat aku dan alan berbicara girang, tak kusadari ari muncul disepanku. aku pun terkejut. tertawaku tertutup. kulihat ari menatapku dengan tak baik. alan tak peduli. dia hanya menoleh kelain arah.
"cibon?" ucapku
"nanti sore kerumahku ya pung? aku ingin belajar mengerjakan tugas tugas kimiaku?" pintanya
"iya, nanti aku kerumahmu"
ari tak berekspresi, sekali melihat kearahku. berkali-kali melihat ke alan. terlihat tak kesukaan ari terhadap alan saat ari melihat alan dengan wajah benci dan pergi.
****
kali ini kucoba tak ingkar janji pada ari. aku pun bersiap berangkat kerumah ari sesuai pesannya. kuambil tasku diatas meja belajarku. tas sudah diatas punggungku. kusiap berangkat. kali ini ku benar-benar menenmpati janjiku. tak sengaja ku lihat Handphone ku, ada satu pesan masuk. kubuka. terkejut, ternyata pesan itu dari temanku alan. dia menyuruhku kerumahnya. aku tak tahu pilih yang mana. aku duduk, mencoba untuk menengkan diri, aku benar-benar tak tahu harus pilih yang mana. aku ingin kerumah ari. dia adalah sahabatku. akhir-akhir ini kedekatanku tampak agak merenggang dan untuk menebus kesalahanku padanya, aku harus pergi kerumahnya. tapi, di sisi lain, alan juga temanku. ia amat baik padaku. aku tak tahu harus pergi kemana. dengan yakinya, aku berdiri melepaskan tas dipunggungku dan pergi kerumah alan. ini memang salah. tai, kurasa ari akan memaafkanku seperti dulu saat aku tak menempati janjiku. untuk kedua kalinya aku mengingkari janjiku pada  ari demi untuk memenuhi perintah teamanku alan.
seperti yang kuduga, ari memaafkan kesalahanku karena keingkaran janjiku padanya untuk kedua kalinya. mungkin ari sudah sedikit dewasa. tak perlu marah-marah seperti SMP dahulu.
***
sudah dua kali kuingkari janjiku pada ari. kali ini kuingin mengajak ari keluar malam. hanya sekedar makan dipinggir jalan untuk menebus semua kesalahanku padanya. kali ini pasti ku tak akan ingkar karena aku yang membuat janji. dan ari pun tak menolak ajakanku.
pukul 8.00, ari menungguku ditempat kujanjikan. aku masih dirumah, bersiap berangkat. kuamat senang, akli ini tak ada penghalang aku untuk menempati janjiku pada ari. aku melangkah keluar rumah,HP disaku bajuku terasa bergetar, kulihat pesan baru. tak kusangka pesan dari alan, seperti biasa dia menyuruh kerumahnya. dia meminta mengerjakan tugasnya."mungkin hanya sebentar"kataku dalam hati. aku pun melaju cepat kerumah alan.
ku pun tiba dirumah alan, seperti biasanya ku disambut dengan baik olehnya. dan mempersilahkan duduk. ku kerjakan tugasnya. tak terasa dua jam ku dirumah alan. aku amat nyaman berada didekat alan. dia memang sahabat yang amat baik. aku tak ingat janjiku dengan ari. aku tak menghiraukan janjiku. yang terpenting bisa melihat sahabatku alan senang. pukul 11 malam. kupulang, mataku amat mengantuk. setiba dirumah. kuambil HP ku didalam motorku. aku amat mengantuk, kurebahkan badanku ditempat tidur yang amat enak. kubuka HP ku. kulihat sepuluh kali panggilan tak terjawab dan enam pesan tak ku baca. alangkah terkejutnya aku. melihat pesan dari ari. serentak aku bangun, mataku membesar, rasa mengantukku hilang. aku tak menyadari pesan dari ari. saat dirumah alan, HP ku didalam motor. kucoba menghubungi ari. tapi, tak bisa. perasaanku tak menentu. rasanya ku ingin menyusul ari. tapi pukul sudah tengah malam. mustahil rasanya ari masih sana. aku rebahkan kembali badanku. dan aku pun tertidur. besok aku akan minta maaf padanya.
***
"cibon?" panggilku
 setiba di SMA. aku berusaha menemui ari dan minta maaf. setelah ku panggil dia, ari hanya melihatku, tak menyaut panggilanku. sepertinya kali ini wajah ari tak bersahabat. dia tetap melangkah kekelasnya. aku pun mengikutinya.
"kau marah?" tanyaku
ari diam. tak sedikit pun berkata. dia duduk aku pun begitu.
"maaf, aku mengakui kesalahanku"
"sudahlah, keluar sekarang. aku tak suka melihat seorang penghianat" tegasnya padaku
 jantungku berdebar cepat mendengar kata ari. aku tak menyangka ia akan berbicara itu padaku.
"semarah kah itu kau pada ku?" tanyaku " aku kinta maaf"
"aku sudah bosan mendengar maaf dari mu"
" mengapa?" tanyaku serentak
"karena aku tak suka penghianat" tegas ari
"dewasa sedikit, bon! jangan sikap SMP dulu kau bawa kesini"
"dewasa? tak usah kau berbicara masalah dewasa. coba tanya sendiri pada dirimu. sudahkah kau dewasa? aku terima kau tak ingin lagi menjadi sahabatku. mungkin kau menemukan sahabat yang lebih baik dari ku?" ari pun marah padaku, aku tak bisa mengendalikan emosi ari. aku pun terbawa emosi.
"aku tak pernah berpikir seperti itu. kau sahabatku"
"mengapa kau taktepati janjimu semalam?"
aku diam sejenak. aku tak bisa membela diri karena aku memang salah di permasalahan ini.
"asal kau tahu, selama empat jam aku menunggumu. aku coba menghubungimu tapi kau abaikan"
"iya, maaf. semalam aku pergi sebentar. HP ku didalam motor!" kataku santai
"pergi kerumah alan kan?" tanyanya 
aku terdiam kembali. dari mana dia tahu kalau semalam aku kerumah alan? atau dia melihatku.
"kau memang salah pilih teman!" tuturnya
"maksudmu?" tanyaku tak mengerti
"apakah kau tak menyadari selama ini dia hanya memanfaatkan dirimu saja?"
aku pun tak mengerti ucapanya.
"maksudmu, alan?" tanyaku
"siapa lagi? dia yang sudah membuat persahabatan kita seperti ini"
emosi kian larut. aku dan aripun selalu beradu argumen saling membela. aku tak tahu harus berbuat apa. ari tak menyalahkanku. tapi, ia menyalahkan alan yang membuat masalah ini. aku pun mencoba membela alan.
"jangan kau bawa-bawa alan ke masalah ini, ini masalah kita?" pinta ku tegas
"lalu siapa? aku tak merasa salah dalam masalah ini. kalau bukan dia yang menyuruhmu kerumahnya masalah ini tak akan terjadi" ari pun berdiri
aku emosi, perasaanku tak elok. badanku panas. aku pun berdiri dan membalas ucapan ari.
"kau tak tau dengan sifat alan, ri. jangan kau bawa dia dalam masalah ini" aku membela
"aku tahu dia. dia hanya memanfaatkan kamu saja.dia hanya palsu berteman denganmu. agar setiap tugas nya kau yang membuatnya." teriak ari padaku
"tutup mulutmu, yang jelas dia lebih baik dari dirimu" kataku menunjuk ke arah ari
ari diam membisu. tak percaya. selama ini aku tak pernah memarahi atau pun berkata kasar padanya. dia melihat mataku dengan jelas. mulutnya bergetar. matanya merah. lalau pergi dari hadapanku dengan penuh kebencian. aku pun terduduk. mataku berlinang, namun tak ada air mata. aku menyesali sikapku padanya. selama ini aku tak pernah bersikap seperti itu. aku pun keluarga kelas. setengah perjalanan menuju kelas, aku bersua temanku alan.
"sem?" sapanya
"alan?" sapaku balik
"mengapa wajahmu kusut seperti itu?" tanaynya heran
"tak apa, aku sedikit pusing" jawabku"aku ke kelas duluan ya, lan?"
aku tak enak berbicara. semua kujankan hari disekolah dengan tak enak. seharian belajar tanpa enak. membuatku ingin segera pulang kerumah, tidur dan istirahat.
setelah semua siswa pulang. ku tinggal seorang diri. ku sengaja pulang belakangan. karena aku disuruh mengambil buku di LAB. kimia. setelah ku dapat buku tersebut, aku pun langsung menuju gerbang sekolah. tapi, langkahku terhenti saatku dengar suara siswa. aku mencoba mendekat suara tersebut. ternyata suara itu berasal dari kelas temanku alan. aku pun segera melanhkah ke kelas itu. setelah ku mendekat ke kelas, kudengar dengan jelas suara kursi di hempas. dan suara keras seperti sedang marah. aku penasaran. aku pun mendekat ke pintu kelas. setelah ku lihat. alangkah terkejutnya aku saat melihat ari dan alan berkelahi. aku melihat dengan jelas alan terbaring kesakitan. mulutnya berdarah. sekali-kali memegang perutnya yang dipukukl ari. aku pun langsung mendekat dan merangkul alan.
".... itu balasannya. karena kau sudah memanfatkan persahabatan kawanku" ari menunjuk ke alan dengan benci
serentak aku menampar ari. aku tak sadar. tanganku serasa bergerak dengan sendirinya. ari diam. matanya menatap dalam. matanya menengok ke arahku dengan antara rasa sakit dan benci.
"alan tak pernah memanfaatkanku. kau salah kira. dia teman yang baik." tegasku membela alan" asal kau  tahu, aku lebih tenang berteman dengan dia. kau tak berhak melarang aku berteman dengan dia." tegasku marah
"aku hanya ingin melihatmu berteman dengan orang yang baik. tidak seperti dia" ucap ari menunjuk alan yang terbaring dilantai.
"ingat, tak ada manusia yang baik. semuanya memiliki kekurangan, termasuk alan. tapi, aku sudah mengenalmu sejak SMP, kau sangat baik tapi tak sebaik alan."
ari diam dan pergi. dia melihatku dengan kebencian. alan tak berdaya, sekujur tubuhnya berdarah dipukul ari. aku pun begitu. kakiku kaku tuk mengejar ari. mulutku terkunci untuk meminta maaf padanya. suasana tak enak. aku pun menghantarkan alan pulang kerumahnya dan mengobati lukanya.
***
saat alan tak masuk sekolah, seperti biasa aku jalankan hari disekolahku sebagai OSIS dan siswa. hari ini serasa berbeda, karena tak ada alan. dan dari kejauhan kelasku, saat istirahat. kulihat dengan jelas ari sahabatku berjalan dengan dua temannya. aku melihat kearahnya. ku tersenyum. kuharap dia melihat dan membalas senyumku. tapi, jauh dari harapanku. dia hanya lewat dan tak menengok kearahku. mungkin dia masih marah padaku. sewajarnya dia marah padaku. karena aku memukuli dan memarahinya kemarin.
dua bulan sudah. ari tak pernah senyum dan menyapa aku. aku terasa rindu tuk bercanda dengannya seperti dulu. atau kah memang tak bisa lagi seperti dulu? aku pun tak sempat mnjenguk dia saat ku dengar dia jatuh dari motor dua minggu yang lalu. ku ingin menjenguk. tapi. kutakut ia akan menolak. karena dia amat benci padaku.
pulang sekolah. tapi aku masih berada dalam ruangan sekolah. aku keruangan alan. aku mengembalikan buku tugasnya. aku masih mendengar suara alan sedang asik bercakraman denagn temannya. tak sabar rasanya aku beri buku ini padanya.
"tugasmu sudah selesai lan?" tanya temanya pada alan
"ya, jelas sudah lah. alan kan ada yang membuatnya" jawab teman satunya
"siapa lan?"
"ya sem lah. dia kan dekat dengan alan. lagi pula sem itu pintar. pantasan dia dapat nilai yang bagus"
kusengaja mendengar perbincangan mereka dibalik pintu kelas. tanpa mereka sadari keberadaanku.
"mangkanya kalau kalian mencari teman yang pintar. agar ada manfaatnya" ucap alan
"maksudmu?" tanya temanya
"aku berteman dengannya hanya memanfaatkan dia saja. tidak mungkin aku berteman seperti dia. dia memang sangat baik. tapi sem itu tidak pantas menjadi temanku" kata alan tertawa
aku terkejut mendengar kata dari mulut alan. selama ini aku salah menilai alan. dan ternyata ari benar. alan hanya memanfaatkan aku saja. ku ingin menangis. hati serasa terkoyak. lidah alan sangat menusuk hati. aku diam dan bersandar ke tembok. sekali-kali aku menyesali yang pernah ku lakukan dengan sahabatku ari.
"kalian mungkin tidak percaya. sem prnah memukuli ari demi membelaku. tapi dia pikir siapa membelaku?" tuturnya lagi.
mataku tak bisa menahan air mata. hingga air mataku terjatuh ke pipi mendengar semua kata-kata yang amat memilukan itu. lalu kuhapus air mataku dan masuk ke kelas.
"benarkah itu lan?" tanyaku serentak
alan dan temanya terkejut dengan kedatanganku
"aku tak menyangka kau seperti ini. apa salah aku padamu lan? aku sudah banyak berkorban untukmu. lan" kataku tenag
alan diam. tak enak denganku. mungkin dia merasa bersalah denganku. tapi amat mengejutkan jawaban alan.
"kau mendengarkan itu semua?"
aku diam tak bersuara
"memang. selama ini aku hanya menjadikan kau tak lebih dari teman. aku memang memanfaatkan kau selama ini. kau berkorban demiku untuk sahabatmu. tapi bagi ku, kau bukan temanku" tuturnya.
aku tak bisa menggambarkan perasaan hatiku. hancur serasa berkeping. aku tak pernah merasakan sakit hati seperti ini. kau tak bersuara. aku hanya membalas dengan senyum kecil atas sikap alan padaku. aku pun menaruhkan buku alan diatas meja kecil yang sudah rapuh seperti hatiku. dan aku pun pulang. dalam keadaan tak elok. hati terasa hancur. mataku berlinang. aku selalu berkata dalam hati. rasanya kuingin menampar wajah alan. agar dia merasakan rasa sakit di khianati.
aku pulang kerumah. aku langsung menelpon ari untuk minta maaf atas kesalahanku selama ini. namun, tak ia angkat. selama dua bulan aku tak pernah menghubungi dia lagi. mungkin ari masih marah padaku. aku amat menyesla telah memutuskan persahabatanku dengan ari hanya untuk memilih teman yang penuh penghianatan.aku tak tahu apa yang harus aku lakukan saat ini. serasa aku berada dalam dunia khayal dan aku yang menjadi peran utamanya.
disekolah. ketika aku mendengar lonceng sekolah dipukul, aku langsung keluar kelas dan pergi kekelas ari untuk minta maaf. rasa takut dan cemas yang kurasakan saat aku hendak melangkah kekelas ari. ku berdiri di depan pintu. kulihat ari seorang diri duduk dan nampak merapikan buku-bukunya.
"cibon?" ucapku lembut
ari tak bersuara. dia hanya menengok kearahku tak peduli kedatanganku.
"untuk apa kau ke sini? bukankah kau tak mengenaliku lagi?" 
ku mendekat. mataku penuh penyesalan.
"aku minta maaf, kau benar. aku salah memilih teman. aku telah tahu semuanya dengan sifat alan.selama ini alan hanya memanfatkanku."
kuberdiri dihadapa ari. namun ari tak juga peduli denganku.
"lalu, mengapa kau katakan semua ini padaku? bukannya alan teman baikmu? ia tak pernah berhianat padamu kan?" tuturnya kemudian "sudah lah, aku ingin pulang?" ari melangkah di hadapanku.
aku tahan ari. aku pegang tangannya. aku tak ingin ia lari sebelum memaafkan aku.
"tunggu, tak bisakah kau memaafkanku?"kataku
ari hanya diam. pandangannya kedepan. ia tak menghiraukanku.
"apa yang bisa kulakukan agar kau memaafkanku?"tanyaku
diam sesaat. aku pun berjongkok dihadapan ari. mungkin ini yang bisa kulakukan agar dia bisa memaafkanku.
"sungguh. aku menyesali semuanya. aku sudah memukul dan memarahimu demi membela alan. aku tahu itu salah. aku minta maaf. sekarang aku pasrah. kau boleh melakukan apa pun padaku. kau boleh memukuliki, itu memang pantas kudpat darimu" kataku nada lembut
ari terkejut melihatku berjongkok. terlihat dimataku. dia ingin merangkulku berdiri. tak sewajarnya melakukan hal ini. tapi ari hanya diam. dan pergi. ia tak memperdulikan ucapanku hingga meninggalkan aku sendiri dikelas yang masih berjongkok. aku menangis kecil. kupandang kedepan. perasaanku tak baik lagi. aku tak marah pada ari. kubiarkan ia pergi. tak tahu apa yang kulakukan lagi untuk mendapatkan maaf dari ari.
keesokan harinya disekolah. kududuk ditempat biasa dibawah pohon. kutermenung. kududuk sendirian. seharian tak kulihat temanku ari. rasa sepi kurasakan tak ada ari. yang biasanya ku habiskan waktuku bersamanya ditempat ini. kini. mungkin semua cerita indah kita menjadi kenangan. disaat kududuk lesu. kudengar suara anak muda datang mendekatiku.
"mengapa sendirian? tanyanya
kumenengok kearahnya. tak kusangka anak muda itu ari temanku yang membawa air minum ditanganya.aku terkejut. mungkin ini hanya imajinasiku saja. aku pun tak bersuara.
"mengapa diam?" ucapnya duduk
ini bukan imajinasiku. pemuda disampingku itu memang ari temanku.
"cibon?" kataku
"mengapa kemarin menangis?" tanyanya senyum.
"tak apa, kau masih marah padaku?" ucapku "aku minta maaf"
"aku tak pernah marah padamu, pung. kau tak pernah buat salah padaku"
aku tersenyum mendengarnya. ari amat baik padaku. ia tak pernah marah padaku walau aku sudah memarahi dan memukulinya. kita pun bercanda tawa bersama. sekali-kali ari menanyakan alan. namun aku hanya diam denagn wajah masam.
"ku kira kau tak lagi ingin menjadi sahabatku" ucapku disela-sela canda
ari menggosokkan kepalaku dan berkata
"tak mungkin begitu. kau tetap sahabatku."
kita pun larut dalam kegirangan. semua masalah kita tak ada lagi. kita pun menjadi sahabat yang paling indah disekolah. aku berjanji. akan menjaga persahabatan ini tanpa ada penghianatan. dan alan sudah menjadikan ku lebih dewasa untuk menghadapi masalah.
setelah masalah ini. aku meninggalkan dan melupankan masa laluku. tak ada lagi alan dan penghianatan dalam kehidupanku. aku mencoba membuka lembar dan cerita baru dengan sahabatku ari.      

Inovasi Media Pembelajaran Berbasis Android

PEMBELAJARAN IPA TERINTEGRASI ETNOSAINS Kurikulum merdeka belajar memiliki empat karakteristik utama untuk mendukung pemulihan pembelajaran ...