Jumat, 15 September 2017

Emas Mutiara dari Tanah Melayu Jambi

Assalamu’alaikum
Hello sahabat sang imajinasi. Apa kabar? Sudah lama gak post karya-karya di catatan sang imajinasi. Kali ini sang imajinasi tidak menampilkan karya sastra seperti puisi, cerpen dan novel. Tapi kali ini sedikit membuat refresing pikiran. Siapa yang tidak suka traveling? Semua pasti suka. Apa lagi adventure dengan alam. Adventure adalah salah satu hobi sang imajinasi dalam menenangkan sejenak pikiran ketika libur semester.
Kebetulan ni “tiket.com” membuat sayembara dalam mengekplor keindahan alam Indonesia. Khususnya bagi daerah sahabat sang imajinasi yang memiliki tempat wisata yang jarang diketahui oleh orang. Uupss. Sangimajinasi tidak ketinggalan juga mau mengeksplor keindahan tempat wisata yang tersembunyi di daerah saya yaitu Jambi. Mau tahu tempat-tempat wisata di Jambi yang tersembunyi? Yuk, kita lihat selengkapnya. Capcus....

Ayo kita terbang ke Sumatera. Saya ingin bertanya. Bila sahabat sang imajinasi ditanya tentang Provinsi yang ada di pulau sumatera, apa yang ada diingatan sobat?. Yups, saya yakin pasti sahabat sang imajinasi akan menyebutkan medan, palembang dan padang. Sebenarnya masih banyak Provinsi yang ada di pulau Sumatera salah satunya Provinsi Jambi.  Saya yakin dari sahabat sangimajinasi tidak banyak mengetahui tentang Jambi. Jambi adalah salah satu Provinsi yang ada di pulau Sumatera yang bertetanggaan dengan Sumatera Selatan dan Sumatera Barat. Provinsi Jambi adalah provinsi yang cukup luas dan memiliki banyak potensi. Tapi sayangnya potensi ini tidak banyak diketahui oleh sahabat-sahabat sangimajinasi diluar sana.
Siapa yang tidak kenal dengan Zumi Zola Zulkifli (Zumi Zola)aktor terkenal tanah air. Sejak dua tahun yang lalu beliau memimpin Provinsi Jambi. Sebagai putera daerah beliau ingin Jambi dikenal oleh banyak orang dan pariwisata menjadi salah satu program beliau untuk mendongkrak nilai pendapatan Jambi. Beliau mengatakan Jambi banyak memiliki potensi wisata yang tidak kalah dari daerah lain.
Gubernur Jambi dan lacak (ikatan kepala, khas Jambi)
Berikut liputan Lukisan Allah yang tersembunyi di Tanah Jambi.
1.    Gunung kerinci
Siapa yang tidak suka naik gunung. Saya yakin sahabat sangimajinasi ada yang suka adventure naik gunung. Tidak hanya Sumatera Barat yang memiliki gunung. Jambi juga memiliki gunung yang diberinama gunung kerinci. Gunung kerinci ini terletak di daerah kabupaten Kerinci. Gunung kerinci merupakan gunung tertinggi dipulau sumatera. Dilereng gunung tertanam kebun teh hingga ribuan hektar. Kabarnya tes kerinci ini merupakan teh yang memiliki kualitas yang terbaik di Indonesia bahkan di Dunia. Bahkan ratu Belanda dan Inggris saja menjadikan teh gunung kerinci ini menjadi teh paforitnya. WAWWWW... (TribunJambi.com).
lambaian gunung kerinci jambi
Ribuan wisatawan baik dari luar maupun lokal setiap tahunnya menyaksikan keindahan pesona gunung kerinci. Tapi akhir-akhir ini, banyak kabar yang mengatakan gunung kerinci masuk dalam kawasan sumatera barat. Mendengar kabar itu, warga jambi khususnya warga kerinci meradang. Namun, Gubernur Jambi mengatakan “jangan takut, gunung kerinci masih milik Jambi” hhmppss syukur....
tuh lihat keren kan sobat...

Tak kalah pentingnya, gunung kerinci yang memiliki ketinggian 3.850 meter telah memikat orang nomor satu di negeri ini. Untuk informasi pada sahabat imajinasi bapak presiden Joko Widodo lebih dulu menaiki puncak gunung kerinci pada saat beliau tergabung MAPALA Universitas Gajah Mada pada tahun 1984 (TribunJambi.com). keren kan!
2.    Danau Gunung Tujuh
Kabupaten Kerinci tak habis-habisnya menyajikan pesona Jambi lewat keindahan alamnya. Kali ini danau gunung tujuh.
anugerah Tuhan  di tanah Jambi
Danau ini merupakan  gunung yang terletak sekitar kayu aro kabupaten kerinci, danau ini merupakan danau kawah yang tertinggi di Asia Tenggara. Sesuai dengan namanya danau ini terbentuk karena proses vulkanis dan dikelilingi 7 gunung yang sudah tak lagi aktif. Sobat, jika ingin mengunjungi tempat ini sobat akan menampuh waktu perjalanan 2 jam dari desa terdekat.
tidak kalah deh dengan raja ampat, Papua
Sobat “tiket.com” masalah keidahannya, Danau Gunung Tujuh ini tak kalah dari danau ranukumbolo di semeru ataupun danau batur di bali karena akan menawarkan sensasi yang berbeda dengan menawarkan ke eksotisan hutan tropis disekitarnya. Sobat, untuk memasuki kawasan ini, sobat bermula masuk ke desa diawal pendakian akan disuguhi perkebunan teh yang sangat indah dan luasnya persawahan sepanjang mata memandang.
sswweeettt kan bray.. ayo buruan ke Jambi
3.    Danau Kaco
Sahabat sang imajinasi yang baik hati, tempat wisata yang tersembunyi di Jambi selanjutnya adalah Danau Kaco, begitulah masyarakat Jambi memanggilnya. Kaco yang dalam bahasa Indonesia berarti kaca. Sobat, danau kaco memiliki air yang sangat bening kebiruan. Danau ini tergolong danau yang kecil tidak seperti danau-danau pada umumnya. Hanya berukuran luas sekitar 30x30 meter.
gak percaya, tuh lihat bening airnya..!! he
Sobat, selain airnya yang jernih kebiruan, kedalaman danau ini masih menjadi misterius dan belum ada yang tau pasti berapa kedalamannya. Sobat “tiket.com” keajabian dari danau kaco lainnya adalah danau kaco ini memancarkan cahaya yang terang saat gelap gulita, apalagi saat  bulan purnama pesona danau kaco ini akan tampak dengan jelas.
keren buat foto...
Meskipun akses menuju danau kaco ini tidak mudah, tidak menghilangkan rasa penasaran wisatawan untuk menyaksikan kilauan danau kaco. Untuk mencapai danau ini pengunjung harus berjalan kaki menyusuri hutan sekitar 4 jam perjalan, melelahkan memang tapi akan terbayar dengan pemandangan yang eksotis yang disugu alam sekitar.
Tuh, mereka aja kesini (My Trip My Adventure)
Sobat “tiket.com” informasi juga untuk sobat, bahwa danau kaco ini memiliki mitos akan lahirnya danau ini. Asal usul danau kaco bermula hadirnya sebuah cerita seorang putri yang ingin dipinang oleh banyak pemuda. Tanpa ragu mereka menitipkan bebatuan mulia pada Raja Gagak yang tak lain adalah ayah sang putri. Akan tetapi, keserakahan justru membuat Raja Gagak menodai putrinya sendiri. Setelah itu, putrinya pun dibenamkan ke dalam danau beserta harta pinangan tersebut.Dan danau ini jarang disentuh oleh masyarakat hingga keindahannya masih terjaga hingga sekarang.http://id.wikipedia.org/wiki/danau_kaco
4.    Geopark Merangin Jambi
Sobat “tiket.com” selanjutnya kita terbang ke Merangin. Surga tersembunyi di Jambi selanjutnya ada di Kabupaten Merangin. Beberapa hari yang lalu, pemerintah Provinsi Jambi mengadakan lomba Arung Jeram tingkat Nasional. Geopark Merangin menjadi tempat acara tersebut.
mantap bro. arusnya deres buuuangattts..
Sobat, Geopark Merangin memiliki luas 20360 kilometer persegi. Perjalanan menuju Geopark ini menempuh waktu 9 jam dari kota jambi. Geopark Merangin merupakan salah satu taman bumi terlengkap di Indonesia bahkan disejajarkan dengan geopark besar dunia yang ada di China dan Amerika dan menjadi salah satu jaringan Geopark Global UNESCO.
batunya sudah tua-tua bro..
Sobat, ditaman Geopark Merangin ini kita bisa menemukan berbagai fosil langka dari fosil hewan laut, batuan vulkanis, sedimen, metamorf dan bahkan fosil endemik pohon purba (Araucarixylon) yang diperkirakan berusia 300 juta tahun. Tapi sayang, dengan terakhir ini sedikit mengganggu ekosistem disini.
tuh lihat, airnya mengalir deras....
Sobat, kalau mengunjungi Geopark Merangin sayang rasanya kalau tidak mencoba arung jeramnya. Sobat “tiket.com” arung jeram di kawasan Geopark Merangin memacu adrenalin dan menawarkan sensasi yang sulit dilupakan karena sepanjang jalur akan disuguhi pemandangan alami dan beberapa air terjun dikanan kiri sungai. Jalur arung jeram Geopark Merangin cukup panjang sekitar 15 km. Penasaran? Sobat bisa mencobanya jika bertandang ke Jambi..
5.    Candi Muaro Jambi
Sobat sang imajinasi, tidak hanyajawa atau tempat lain yang memiliki candi. Di Jambi sendiri juga memiliki candi yang terluas di Asia Tenggara dengan luasnya mencapai 3981 hektar. Tak kalah pentingnya, candi muaro jambi ini luasnya mengalahkan candi borobudur magelang. Kkkkeeeren kan sobat.
candi tinggi
Candi muaro jambi terletak di kecamatan Maro Sebo Kabupaten Muaro Jambi. Candi tersebut diperkirakan berasal dari abad ke-11 M. Sobat, sejak tahun 2009 komplek Candi Muaro Jambi telah dicalonkan ke UNESCO untuk menjadi situs warisan dunia.
mantap brayyy...
Dikompleks Candi Muaro Jambi mempunyai beberapa candi yang menjadi objek wisata diantaranya candi Gumpung, candi kotomahligai, candi kedaton, candi astano, candi tinggi dan masih banyak lagi candi-candi yang menghiasi kompleks percandian ini.
candi gumpung, keren buat foto-foto bareng teman..
Sobat, untuk menuju kompleks candi muaro jambi hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit saja dari pusat kota jambi. Ditengah perjalanan, sobat akan disuguhi eloknya aliran sungai batanghari sungai terpanjang di Sumatera. Belum lagi deretan rumah tradisional khas melayu jambi hingga rimbunnya pepohonan buah khas jambi, durian dan duku.
6.    Gentala Arasy
Objek wisata selanjutnya adalah jembatang Gentala Arasy. Sobat, meskipun masih terbilang baru, tempat ini merupakan salah satu tempat dijadikan ikon kota khas jambi.
subhanAllah.. indah sekali bro...
Dibangun di atas sungai batanghari, jambatan ini khusus dibuat sebagai tempat wisata untuk para penduduk dan juga pengunjung Kota Jambi. Sobat, bila ingin mengunjungi Jembatan Gentala Arasy sebaiknya pada sore dan malam hari.
SubhanAllah. nikmat Allah mana lagi yang kamu dustakan...
Pada sore hari Jembatan Gentala Arasy akan terlihat indah dengan pancaran sunset sore. Dan pada malam hari Jembatan Gentala Arasy akan tampak mempesona dengan hiasan lampu warna-warni.
siap-siap aja melihat jembatan ini.... Jambi punya

Sobat, Jembatan ini memiliki bentuk berkelo-kelok seperti huruf S dengan panjang sekitar 530 meter. Sobat, Menara Gentala Arasy sendiri merupakan sebuah menara ikon yang menggambarkan mengenai sejarah penyebaran Agama Islam di Kota Jambi. Tidak sekedar menara biasa, menara ini juga dimanfaatkan sebagai museum Islam. Di Museum ini, sobat dapat melihat berbagai macam bukti dan sejarah perkembangan Islam di Kota Jambi.
cantik kan...
Oke sobat sang imajinasi, sampai disini dulu ya pertemuan kita. Yang jelas masih banyak tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi. Jika sobat ingin berkunjung ke Jambi jangan lupa hubungi saya ya.. hehe,
Okaayy. Sampai ketemu lagi, nanti saya akan post tempat-tempat yang lebih up to datedari Jambi.. bye... bye...
Assalamu’alaikum....
yyukkk, ke candi muaro jambi


salam hangat dari saya

Minggu, 03 Juli 2016

Laki-laki bermata sipit



Laki-laki bermata sipit
Rintik hujan tak kunjung juga reda, tetesan air membasahi tanah yang kering terdengar merdu bernyanyi ditelingaku, suara hujan lebih enak kudengar daripada suara radio anggi adikku. Mataku termenung dibalik kaca bening berembun putih. Langit begitu kelam terlihat cahaya putih menari hebat di langit hingga terdengar suara gemuruh membuat gaduh rakyat bumi. Sekali-kali kupandangi fotoku di dinding dekat kertas putih yang berisi tulisan dari sahabatku alan. Sejenak kutermenung, kuteringat orang-orang didalam foto itu yudi, rahmat, dan alan. Merekalah orang-orang yang telah memberi warna dalam hidupku. Dua tahun setelah kelulusan SMA mereka pergi dengan kehidupan mereka masing-masing. Yudi pergi ke jakarta melanjutkan studinya di UI fakultas ekonomi dan kita selalu cerita walau lewat dunia maya, rahmat kudengar dia melanjutkan kuliahnya di malaysia tepatnya Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) pada jurusan hukum internasional universitas kabanggaannya dari dulu dan kita juga selalu memberi kabar lewat email dan twitter. Dan alan. Ku tak tahu kabarnya sekarang, setelah SMA dia pergi tanpa meninggalkan pesan dan kata-kata pamit darinya.
“nangis lagi?” sebut anggi adikku
Mendengar itu, aku terbangun dari lamunanku. Kumelihat anggi adikku tetapi dia tidak melihatku. Dia asik dengan radionya. Kuhapus air mataku yang sedikit mengalir di kelopak mataku.
“sampai kapan abang akan begini? Setiap malam anggi lihat abang selalu menatap foto itu dengan air mata”
“abang Cuma rindu dengan sahabat-sahabat abang” ucapku memandang anggi
Anggi tak juga melihatku, dia hanya sibuk menyetel radionya mencari chanel paforitnya. Aku tersenyum, kupandangi kembali foto yang tergantung di dinding itu. kupandngi wajah orang-orang yang ada di dalam foto, terakhir yudi dan rahmat mengirimkan foto terbaru mereka terlihat wajah mereka tidak jauh berubah dari foto yang ada di dinding itu. Tapi aku tidak tahu dengan wajah alan laki-laki bermata sipit itu.
“bukankah tadi siang abang chating lewat facebook dengan orang-orang itu?”
“iya...” sebutku
“bagaimana kabar mereka? Mereka baik-baik saja kan?”
“iya mereka baik-baik saja”
“lalu apa lagi yang abang sedihkan?”
“alan” ucapku
Mendengar itu anggi adikku tidak berkata. Dia hanya menggelengkan kepalanya sambil memutarkan chanel radio miliknya, dan akhirnya chanel itu pun di dapatnya. Anggi melihatku. dia melangkah mendekatiku yang berdiri memandangi foto-foto masa SMA ku. Gemuruh hujan terdengar dengan jelasnya, rintiknya semakin deras membasahi jendela kamarku hingga hawa dinginya terasa dikulit. Sementara itu suara radio anggi tidak begitu jelas kudengar karena terhalang oleh derasnya air hujan.
“sahabat itu akan sedih bila melihat sahabatnya terjatuh” cetus anggi lalu “bila rindu yang dalam mencuat dalam hati ini pada orang-orang yang jauh disana, hanya do’a yang bisa kita berikan” sambungnya
“abang selalu berdo’a yang terbaik untuk sahabat-sabahat abang”
“tapi do’a abang tidak diiringi dengan keikhlasan”
“maksud adik?”
 Kupandangi anggi adikku yang berdiri disampingku dengan rasa penasaran dengan ucapanya itu. Anggi kembali melihatku, dipandanginya mataku yang sedikit berair. Alis mataku sedikit keatas menunggu jawaban dari anggi atas pertanyaanku. Anggi tersenyum melihat ekspresi wajahku. Dia sungguh aneh ucapku dalam hati.
“iya, selama ini abang melepaskan sahabat-sahabat abang dengan rasa tidak ikhlas”
Aku tertawa kecil mendengar ucapan anggi, lalu anggi kembali melihatku. kini giliran anggi melihatku dengan aneh. Aku menggelengkan kepalaku mendengar perkataan anggi adikku. Kembali ku pandangi foto itu. aku diam tak bersuara, begitu juga dengan anggi hanya terdengar suara musik dari radio.
“apa yang anggi bicarakan ini?” ucapku tak melihat ke arah anggi “dari dulu abang sudah ikhlas melepaskan mereka pergi, dari SMA kita sudah berjanji ketika kita berpisah kita tidak akan sedih satu sama lain”
“tapi buktinya abang sekarang selalu bersedih, bukan?” ucap anggi kemudian “bukankah abang sudah berjanji dengan orang-orang itu tidak lagi bersedih mengenang mereka ketika berpisah? Jangan abang siksa diri abang dengan kesedihan, biarkan mereka menjalankan hidupnya masing-masing”
“abang tidak memikirkan yudi dan rahmat tapi abang Cuma rindu dengan sahabat abang alan”
Kembali anggi melihatku, dia tersenyum. Namun aku tidak melihat ke arahnya. Dia memegang punggungku lalu dia memukulnya dengan pelan. Pukulan itu memaksaku untuk melihat kearahnya.
“coba abang lihat tulisan itu” tunjuknya
Aku mengikuti perintah anggi untuk melihat tulisan didinding itu. tulisan itu membuatku semakin teringat pada alan. Ah, anggi membuatku teringat pada sahabatku itu.
“tulisan terakhir dari kata-kata abang alan itu” ucapnya
Mataku semakin menatap kearah tulisan itu, rasa penasaran dengan tulisan yang ditunjuk oleh anggi adikku. Tidak ada yang berarti. Tulisan itu tidak ada yang istimewa sama sekali hampir setiap hari aku membacanya namun tidak ada yang membuatku penasaran dari tulisan itu. Otakku mencoba untuk menjelaskan arti dari alimat itu. Namun, tidak bisa juga.
“abang alan berpesan jangan menggantukan dirimu pada orang lain tetapi percayailah dirimu sendiri”
Kudapat melihat kalimat itu. kata-kata itu terdapat pada kalimat terakhir dari tulisan alan. Dan kalimat itu selalu aku baca namun tidak begitu berarti bagiku.
“iya, abang melihatnya. Namun tidak ada yang berarti kalimat itu”
“abang.. abang. dari kalimat abang alan itu sudah jelas. Dia berpesan pada abang agar hidup abang tidak bergantung pada orang lain”
“abang tidak pernah bergantung pada orang lain. Abang bisa mengerjakannya sendiri”
“iya anggi tahu. Raga abang tidak, tapi jiwa abang?” ucap anggi
Aku melihat anggi, ucapannya membuatku tidak mengerti. Aku mencoba untuk mencerna dari ucapannya namun ucapannya begitu dalam hingga aku tidak dapat menjelaskannya.
“maksud kamu?” tanyaku
Anggi menjauhiku, dia melangkah mendekati radio yang bersuara merdu itu. Suara hujan begitu bising terdengar. Itu yang membuat anggi mendekati radionya karena suara radio itu lebih enak didengar. Sesaat aku menunggu jawaban dari anggi yang tak kunjung memberi penjelasan.
“raga abang tidak pernah bergantung pada orang lain. Tetapi jiwa abang tetap saja bergantung pada orang-orang yang ada didalam foto itu”
Kalimat anggi membuatku semakin tidak mengerti. Kepalaku terasa sakit untuk menjelaskan ucapannya. Aku melihat kearah anggi. Dia pun membalas pandanganku. Dia tersenyum melihatku. lalu anggi berdiri mendakatiku kembali.
“apa maksud adik?” tanyaku kembali pada anggi adikku.
“selama dua tahun jiwa abang tidak ada bersama raga abang. Jiwa abang terbawa oleh orang-orang itu. bang, kita boleh saja rindu pada sahabat kita. Tapi jangan sampai rindu itu membunuh raga kita sendiri”
Aku terdiam mendengar ucapan anggi adikku, kata-kata anggi tepat menusuk hatiku dan membuatku sedikit membuka hatiku.
“biarlah kenangan abang bersama orang-orang itu menjadi saksi bisu perjalan persahabatan abang. Biarlah kenangan itu yang menjaga pikiran abang bersama sahabat-sahabat abang. Rindu abang tidak bisa bergantung terus menerus bersama orang-orang itu. abang merindukan sahabat-sahabat abang tetapi abang mengabaikan raga abang. Lagi pula abang alan pernah berpesan bila berpisah abang alan tidak akan pernah melupakan sahabat-sahabatnya. Abang. Biarlah rindu ini tinggal dalam hati tetapi jangan biarkan dia makan hati abang hingga rindu itu menguasai raga abang itu tidak baik, bang”
Ucapan anggi adikku membuatku termenung, sekejap mataku tak berkedip. Hatiku sangat tersentuh. Mungkin benar ucapan anggi, selama ini rinduku pada orang-orang itu berlebihan hingga rindu itu membuat ragaku tak bisa kupertahankan. Ucapan anggi membuat mataku terbuka. Kini kusadar rindu yang ada pada raga ini tidaklah baik untukku. Biarlah rindu yang dalam ini menjawab pertanyaanku selama ini pada laki-laki bermata sipit itu.

Walau siapa pun aku



Walau siapa pun aku
Melayang aku terbang,
Menyusuri liku jalan yang berkerikil
Terbuai bayangan yang kelam
Berlari kehutan kemudian teriakku
Berlari kelaut kemudian tangisku
Kapan hidup yang kelam akan lari dari tubuh ini?
Melayang aku terbang,
Menyusuri simpang jalan merah berliku
Tampak laki-laki tua menyinsingkan
Baju kumuh tak berwarna
Berambut putih tak menawan
Ribuan kutu-kutu menari riang
Disetiap helai rambut yang membusuk
Melayang aku terbang,
Pergi ku menyusuri laut yang dalam
Hamparan ombak menerjang membasahi
Kaki kecil yang penuh noda
Pelangi yang indah seolah enggan
Menengok buih-buih bermain menari
Ditepi kaki yang hina
Melayang aku terbang,
Tatapan tajam mata sang burung hantu
Melukiskan kisah pilu yang terbentang lebar disetiap jagad raya
Ribuan burung berkicau menyanyi
Berdo’a melambaikan sayapnya yang patah
Mulut terkunci membisu
Mata layu tak bercahaya
Hati menjerit tak ada yang peduli
Melayang aku terbang,
Entah sampai kapan aku kan terbang
Biarkan waktu yang menajwabnya
Walau siapa pun aku
Tak tahu siapa yang peduli.

Minggu, 24 April 2016

KEMANA KU KAN PULANG?



HATI YANG BERSEDIH
C

erita, cinta dan tawa bersama sang ayah masih begitu jelas teriang ditelinga laki-laki yang duduk termenung itu. Desiran angin berembus menerpa ke wajah laki-laki itu. Ia menatap ke langit biru nan jernih diangkasa. Matanya penuh harapan dan kasih sayang tergambar dengan jelas dimata yang indah itu. Kecintaanya kepada sang ayah dan ibunda membuatnya tak pernah lelah untuk berjuang melewati kerikil kehidupan. Nasibnya yang malang selalu datang sejak ia kecil. Kecerdasan dalam bertindak membuatnya selalu menjadi kebanggaan sang ayah. Hingga membuat ia dibenci oleh saudaranya. Hingga sang ayah menghembuskan nafas terakhirnya. Kini kisah itu menjadi cerita lama masa lalunya. Kini hanya terdengar caci makian, hina dan kecongkakan jiwa yang ia dapat. Sungguh malang nasib laki-laki itu.
Pagi itu sekitar pukul 7 terlihat mentari membuka cahaya merahnya dengan malu. Dua tahun setelah kepergian kedua orang tuanya. Ia terlihat tak bersemangat untuk menjalankan hari-hari yang begitu suram. Di rumah yang mewah itu ia tinggal bersama ke enam saudara laki-lakinya. Cinta dan sayangnya tak pernah pudar kepada sang kakak dan adik-adiknya. Ia berjanji akan merawat dan memelihara keluarga yang diamanahkan oleh sang ayah padanya. Laki-laki itu kembali melihat pada langit biru yang terbentang itu. Mata indahnya terlihat berkaca. Sekali-kali ia mengkedipkan matanya untuk menahan air mata agar tidak membasahi pipinya. Laki-laki itu sungguh berbeda dengan saudaranya yang lain. Ia begitu sederhana dan tidak terlena dengan harta yang dimiliki oleh kedua orang tuanya. Matanya tak henti-henti menerawang kelangit biru. Entah mengapa yang membuatnya selalu meratap seperti itu. Ditengah lamunannya tiba-tiba terdengar suara memanggilnya dari kejauhan.
“kakak..”
Mendengar teriakan itu, laki-laki yang termenung itu lalu menghapus air matanya yang sedikit terjatuh dikelopak mata. Mendengar suara itu, laki-laki yang berdiri itu mencari-cari suara yang memanggilnya. Tiba-tiba seorang anak laki-laki kecil yang tampan datang menghampiri laki-laki itu. Dilihatnya laki-laki kecil itu. Ia adik bungsungnya firman adik tercintanya, belahan jiwanya, mentari hidupnya, jantung hatinya. Sesaat ia termenung melihat anak kecil itu. Dilihat wajahnya yang lugu dan polos itu. Hancur sudah hati laki-laki yang berbaju merah itu. Tidak pernah terpikir olehnya sang ayah dan ibunda akan meninggalkan anak laki-laki kecil yang berdiri  di depannya itu. Ia menggenggam tangan kecilnya yang lemah. Ia melakukan itu bukan untuk marah pada adiknya karena telah mengganggu waktunya tapi untuk menahan agar air matanya tidak terjatuh dihadapan adiknya.
“kak, nanti cibon ikut abang ya?” sebutnya
“kemana?” tanyanya
“nonton bioskop” sebutnya kembali.
Laki-laki itu termenung sesaat mendengar perkataan adiknya. Rasa takut kejadian dua tahun yang lalu yang menimpa kedua orang tuanya karena kecelakaan maut hingga merenggut nyawa bidadari dan malaikat dalam hidupnya. Laki-laki itu tak ingin kejadian itu kembali menimpa saudaranya yang lain, karena ia amat mencintai saudara-saudaranya. Lalu laki-laki itu tersenyum lalu mendekati laki-laki kecil yang berdiri dihadapannya itu. Lalu ia berjongkok tepat didepan anak kecil itu.
“nonton lagi? Minggu lalu kan sudah?”
Tidak ingin melukai hati adik tercintanya laki-laki itu sangat berhati-hati dalam ucapanya agar tidak menyinggung perasaannya karena laki-laki itu tidak ingin melihat adiknya pergi. Dan laki-laki itu tidak ingin adiknya pergi jauh dari dirinya. Bibir kecil Anak itu terlihat mengerut mendengar jawaban dari sang kakak. Dari ucapan dan senyuman sang kakak ia tahu jawabannya. Senyum sang kakak memberi isyarat kalau sang kakak tidak mengizinkan ia untuk pergi. Anak kecil itu terus menerus membujuk sang kakak agar mendapatkan izin untuk nonton bersama saudara yang lainnya.
“boleh ya kak, aa’, babas. Apung juga ikut. Kakak mau ikut? Nanti cibon tanya sama abang”
Senyuman laki-laki itu terlihat menghilang, karena rasa takut masih bersarang dalam hatinya. Mendengar rintihan sang adik yang terus menerus membujuknya hati laki-laki yang khawatir itu pun luluh mendengar ucapannya. Suara kecilnya telah lelehkan hatinya yang sangat berat untuk melepaskan sang adik pergi jauh darinya. Laki-laki itu kembali tersenyum pada sang adik. Dia ingin melihat adiknya bahagia ia tidak ingin melihat saudara-saudaranya bersedih dan kesusahan.
“iya sudah cibon boleh pergi. Kakak dirumah saja. Kalau kakak pergi yang jaga rumah siapa?” sebut laki-laki itu pada sang adik
Mendengar itu anak kecil yang berdiri itu tersenyum lebar. Tanpa berkata-kata lalu ia mencium pipi sang kakak dan langsung melarikan diri dari hadapan sang kakak. “terima kasih kak”. Ucapnya.
Laki-laki yang berjongkok itu tak bersemangat rupanya untuk membangunkan tubuhnya. Rasa takut dan khawatir yang mendalam terlihat memancar dimatanya yang indah itu. Sekali-kali ia menahan diri untuk tidak berpikir yang lain-lain pada sang adik tercinta. Angin sepoi pagi menerjang kulit laki-laki yang takut itu. Digenggamnya kembali tangan kecilnya itu. Ia melakukan bukan untuk menahan rasa dingin angin pagi yang berhembus, namun untuk menahan rasa takut didalam hatinya.
Rasa takut laki-laki itu kembali terlihat. Sekitar pukul 11 siang adik dan saudaranya telah bersiap untuk pergi menonton bersama. laki-laki yang takut itu meniti satu persatu anak tangga. Ia melangkah dengan pelan. Mendekati saudaranya yang telah berkumpul dan bersip untuk berangkat menonton.
“kak, aa’ sudah ganteng belum?” sebut adiknya
“sudah” Jawab laki-laki itu tersenyum penuh khawatir.
“babas bagaimana kak? Rambut babas sudah rapi belum?” tanya bastian
Dilihatnya rambut kribo adiknya. Laki-laki itu melihat-lihat disela-sela rambutnya yang agak sedikit acak-acak karena gesekan tangan iqbal saat mereka bergurau didalam kamar.
“cibon gimana kak?” tanya adik bungsunya
Laki-laki itu tersenyum melihat adiknya itu. sungguh tampan rupawan, sebutnya didalam hati. Laki-laki itu tak hentinya melihat kearah adik-adiknya. Dilihatnya satu persatu adiknya yang tampan itu. dilihatnya pula abang-abangnya yang terlihat tampan memakai baju kaos putih sangat serasi dengan celana yang dipakainya. Laki-laki itu tersenyum melihat kegagahan sang abang. Sesaat laki-laki itu termenung menatap wajah sang abang. Hatinya kembali bersedih ia teringat sang ayah, dilihatnya wajah abangnya dengan jelas mata, hidung, bibir sungguh sangat serupa dengan sang ayahnya. Sungguh itu membuat laki-laki itu sedih. Percakapan terdengar diantara saudaranya, ada yang terlihat membersihkan bajunya yang kotor ada pula yang bertingkah tidak jelas.
“ayo cepat. cibon, aa’, babas duduk dibelakang sama abang” sebut abangnya
Sang abang kian mendesak adik-adiknya untuk bergegas menaiki mobil yang sudah terparkir dipedan rumah yang megah itu.
“cibon duduk  didepan, sama mas juga aconk” sebut cibon sedikit membangkang.
“tidak bisa cibon, kalau cibon duduk didepan nanti muk susah nyetirnya”
Mendengar itu anak kecil yang berbaju hitam itu mengikuti perkataan sang abang. Detik-detik perjalanan mendekati. Laki-laki yang tak berdaya itu menyaksikan kepergian saudara-saudaranya. Dari balik pintu yang putih itu ia melihat dengan jelas mobil hitam melaju dengan pelan, lambaian tangan sang adik terlihat dengan jelas dimata laki-laki yang berdiri itu. Lalu ia membalas lambaian tangannya.
Kini tinggalah seorang diri laki-laki yang terluka itu. Sungguh malang nasibnya. Tak pernah mendapatkan kasih sayang dari abang-abangnya. Disaat kesendiriannya ia mencoba menghibur diri untuk melihat-lihat album foto kenangannya masa lalu. Diambilya foto-foto yang sedikit usang itu dari lemari kecilnya. Dibuka lembar pertama ia melihat keakraban fotonya besama saudara-saudaranya, lalu ia tersenyum kecil. Lalu ia membuka kembali lembar kedua dari album foto itu. Tiba-tiba ia termenung sambil mengusap foto itu dengan jarinya. Terlihat senyumnya menghilang. Entah apa yang dilihat oleh laki-laki itu hingga ia termenung tak bergerak sedikit pun. Air matanya mengalir pelan keluar dari sela-sela kelopak matanya yang indah itu. Mengapa laki-laki itu menangis? Dirabanya kembali foto yang ditangannya. Ternyata itu foto ia bersama ayah dan ibundanya. Sungguh pilu hati laki-laki itu. air matanya tak terbendungi keluar dari selaput mata yang mulai layu itu. Diciumnya foto itu. Ia menangis dengan kencang mengingat kisah yang ada difoto itu bersama sang ayah dan ibundanya. Sungguh tak bisa terlukiskan hati laki-laki itu. Begitu lengkap penderitaannya. Ditinggal pergi saudaranya seorang diri, dan kini ia mencoba menghibur diri dengan melihat kisah masa lalunya namun air mata yang keluar saat melihat itu.
“ayah, bunda. Kakak, rindu....” sebut laki-laki yang menangis itu.
Tak kuasa menahan getir hati yang tak kunjung  berkesudahan, lalu laki-laki itu pergi dan meninggalkan album foto yang terbuka lebar di atas mejanya. Ia tidak ingin bersedih terlalu lama mengingat masa lalunya. Laki-laki itu pun pergi ketempat biasa ia menghilangkan rasa sedih. Laki-laki yang berjalan itu membawa buku ditangannya. Ia menuju kebelakang rumah yang indah dengan dihiasi tanaman yang cantik, dengan kolam renang yang indah. Dipendopo kecil itu laki-laki itu mulai menulis ceritanya, setiap goresan itu, terlukis kisahnya bersama hidupnya, kasih sayangnya lenyap dimakan kecongkakan jiwa saudaranya. Laki-laki yang malang itu selalu meratap kesedihannya dalam setiap bait, baris, kalimat yang ia tulis. Waktu tak berhenti bergerak, mentari mulai condong ke ufuk barat, memberikan isyarat bila kegelapan malam akan segera datang. Dua jam telah dilewati laki-laki yang malang itu menulis dengan buku kecilnya. Matanya tertatap pada jam dinding yang terus berdetak. Kegelisahan hatinya terlihat saat menunggu saudaranya yang tak kunjung pulang. Kegelisahan hati yang tak terbendungi. Dilihatnya telepon yang ada disampingnya, ingin rasanya laki-laki itu menekan tombol telepon itu untuk segera menanyakan keberadaan saudaranya. Namun apa dayanya laki-laki yang terduduk itu, sungguh itu bukanlah langkah yang diharapkan oleh saudaranya. Ia takut bila saudaranya semakin membenci dirinya bila ia menelpon abangnya. Kegelapan malam mulai terlihat cahaya mentari tak terlihat dimata lagi. Hanya terdengar suara jengkrik. Sunyi sepi terlihat dalam rumah mewah itu. laki-laki itu semakin gelisah saat ia melihat jam dinding yang telah menunjukkan pukul 7.30 kegelisahan hatinya semakin mencuat, matanya tergambar rasa takut pada diri saudaranya. Hawa sejuk mulai terasa, suasana sunyi terlukiskan dalam rumah itu. hanya terdengar suara televisi yang dilihat laki-laki itu untuk mencoba menghibur dirinya.
Beberapa saat dalam penungguan itu, laki-laki itu mendengar suara mobil dari luar rumah, terlihat sinar cahaya lampu mobil yang masuk disela-sela pintu rumah yang masih terbuka. Bergegas laki-laki itu melihat kedatangan saudara-saudaranya. Dilihatnya satu persatu saudaranya yang turun dari mobil hitam itu. hati laki-laki itu sedikit bahagia, saat melihat adik bungsunya terbaring tertidur di rangkulan abangnya.
“sini, biar kakak yang bawa tas abang?” sebut laki-laki yang tergopoh-gopoh itu
Abangnya tak menangkap ucapan laki-laki itu. Dia tidak pernah dihiraukan. Sedangkan laki-laki yang menggendongkan adiknya itu terus melangkah menuju kamar. Melihat sikap abangnya, laki-laki yang bahagia itu hanya tersenyum. Senyum penuh kekecewaan.
“aa’, babas sudah makan?”
“sudah kak,” jawab singkat bastian “babas mau tidur sudah ngantuk”
“ya, sudah. Sekarang kekamar, istirahat. Jangan lupa bersih-bersih”
Bastian dan iqbal pun melarikan diri dari hadapan pemuda yang sendirian itu tanpa mengucapkan kata-kata. Lalu laki-laki itu pun segera melarikan diri kekamar untuk melihat adik-adiknya yang letih itu.
******
Mentari pagi bersinar cerah. Langit pun begitu jernih, burung-burung berterbangan, melompat dari satu ranting ke ranting lainnya. Hawa pagi yang hangat menemani sarapan keluarga di rumah mewah itu. satu persatu penghuni rumah menuju meja makan, telihat dimeja makan telah dihidangkan berbagai macam masakan.  Semua berjajar duduk dengan rapi.
“masak apa kak?” tanya rivandi yang baru  tiba di meja makan
“nasi goreng, mie goreng juga ada. Apung mau apa?”
“nasi goreng saja”
“muk, nanti apung pulangnya agak sore. Soalnya apung mau latihan basket disekolah”
Sesaat suasana sunyi. Hanya terdengar dentingan piring dari bastian yang tengah melahap makanannya. Pemuda yang bertanya itu berkali-kali memandang wajah abangnya untuk menunggu jawabannya. Lalu abangnya menganggukkan kepala mengatakan iya. Lalu rivandi segera mengambil piring yang telah berisi nasi goreng dari tangan laki-laki yang duduk disampingnya itu.
Setelah percakapan dan sarapan itu selesai, semua pemuda itu bergegas melangkah mengambil peralatan sekolah dan kerjanya masing-masing. Hadi abang tertua mengambil tas hitam yang diletaknya diatas kursi tak jauh dari tempat duduknya. Sugiarto anak kedua itu mengambil kunci mobilnya dan siap untuk mengantarkan adiknya kesekolah. Alan dan rahmat memegang baju praktikum yang akan dilakukan di kampusnya. Sementara itu, samir laki-laki yang malang itu melihat adik-adiknya pergi kesekolah, ia tersenyum ketika melihat adik-adiknya melambaikan tangannya tanda mereka akan berangkat kesekolah. Sementara itu abang-abangnya tak memperdulikan dirinya. Lalu laki-laki itu membersihkan meja makan yang agak kotor karena ada nasi yang terjatuh. Dengan telaten laki-laki itu menjalankan pekerjaan yang biasa ia kerjakan sejak 2 tahun silam. Setelah menyelesaikan tugasnya, laki-laki itu pun bergegas mengambil tasnya yang akan dibawa ke kampus. Dilihatnya sejenak peralatannya, takutnya ada yang terlupakan. Rasa tak ada yang terlupakan laki-laki itu pun segera meninggalkan rumah yang mewah itu.
Satu persatu laki-laki itu menyusuri bebatuan tua yang tersusun di alun-alun kota, kehulu dan kehilir mobil dan motor melintasi setiap jalan. Dihalte itu laki-laki yang berbaju putih itu tegak berdiri menunggu angkot yang lewat. Beberapa menit, dilihatnya kekiri kekanan tak ada satupun angkot lewat. Mentari semakin meninggi. Panas pagi agak menyengat. Keringat kecil sedikit membasahi bajunya. Di balik keramaian mobil yang lewat, tak sengaja laki-laki itu melihat mobil hitam melintas dihadapannya. Laki-laki itu melihatnya dengan wajah yang heran, sepertinya laki-laki itu mengenali mobil itu. setelah dilihatnya dengan jelas, ternyata laki-laki yang berada didalam mobil itu adalah sugiarto abangnya. Sampai hati laki-laki didalam mobil itu tak berhenti untuk mengambil laki-laki yang kepanasan itu. dia hanya melihatnya dan lewat tanpa memberhentikan mobilnya. Sedangkan laki-laki yang berdiri di halte itu memberi senyuman dan menganggukkan kepalanya memberi hormat kepada abang tercinta. Sepertinya laki-laki dihalte itu tak bersedih. Sudah biasa dia mengalami hal seperti itu. sesaat sesudah itu, sebuah angkot melintas dihadapan laki-laki yang telah lama menunggu itu dan ia pun segera menaiki angkot langgannanya.      
Suasana panas terasa hingga pelosok kota, didalam kelas tempat samir belajar pun terasa panas, terlihat berkali-kali ia mengusap keringat dikepalanya. Samir membuka buku tulisannya, entah apa yang ia tulis, dalam kepanasan itu terdengar percakapan teman-temannya. Ditengah menanti pelajaran tiba-tiba dekan fakultas memanggilnya. Belum sampai didekat samir dekan itu dengan lantang membuka amplop putih dari dalam tas nya.
“samir,..”
Dengan tertawa lepas dekan tersebut melangkah mendekati samir yang tengah duduk. Samir melihatnya dengan heran. Tak biasanya pak dekan menemuinya dikelas. Perasaan laki-laki itu agak aneh mungkin ada tugas besar dari kampus.?
“bapak, sudah lama mencari kamu samir. Ada proyek untuk kamu?”
Ucap pak dekan  dengan semangatnya.
“proyek apa pak dekan? Proyek bangunan? Atau proyek membangun jalan kampus baru?” ledek laki-laki yang duduk itu sambil tertawa kecil.
“ah,. Samir. Bapak kali ini serius. Kamu jangan bercanda. Bila kamu main-main dalam proyek ini akan berakibat fatal”
“haha.. bapak terlalu serius. Memang proyek apa toh pak dekan?” tanya laki-laki yang duduk itu.
“ini  coba kamu baca”
Pak dekan memberikan amplop putih dari tangannya kepada samir yang tengah duduk itu. Lalu laki-laki  itu membangunkan tubuhnya dan mengambil  amplop dari pak dekan yang terlihat wajahnya agak serius. Hati laki-laki itu sedikit takut, hatinya bergetar membuka amplop putih itu. Lalu laki-laki itu pun membaca satu-persatu kalimat setiap baris dalam surat itu. Dalam menghayati kalimat demi kalimat dari surat itu, pak dekan berkali-kali menjelaskan lebih detil isi surat yang ditengah baca oleh samir.
“lembaga editor meminta kepada pihak kampus untuk membuat novel. Bulan depan acaranya. Kamu akan diundang diacara itu”
Laki-laki itu tak menghentikan bacaannya, dia terus menerus membaca setiap kata dalam surat itu. hatinya sungguh bahagia mendapat kepercayaan membuat proyek yang besar ini. Langsung dari percetak buku editor yang telah melahirkan ribuan juta buku-buku yang menjadi best seller. Setelah membaca surat itu. Samir memasukkan kembali surat tersebut ke dalam apmlop  putih itu.
“mengapa harus saya pak?” tanyanya
“apa maksud kamu?”
“masih banyak penulis yang hebat-hebat di kampus kita. Misalnya rangga, alin. Mereka sudah profesional pak. Sudah banyak buku yang mereka ciptakan. Lagi pula, saya tidak mengerti dalam menulis. Apa lagi dalam membuat novel. Itu bukan bidang saya pak”
Mendengar itu, pak dekan tertawa kecil. Perutnya agak geli menggelitik mendengar ucapan mahasiswa asistenya itu.
“mengapa kamu selalu menyimpankan setiap bakat yang ada pada kamu?”
“apa maksud bapak?”
“bapak sudah tahu kalau kamu mempunyai bakat dalam menulis. Minggu yang lalu bapak tidak sengaja menemukan buku tulisan kamu yang tertinggal dalam ruangan bapak. Lalu bapak membacanya. Sungguh  samir, kalimat tulisan kamu itu. Sungguh menyentuh hati bapak hingga bapak menangis membacanya. Lalu bapak memberi tulisan itu kepada pak rektor dan pak rektor punya teman dalam percetakan buku. Oleh karena itu kamu di beri kesempatan oleh lembaga percetakkan itu untuk mengikuti sayembara menulis”
“tapi,,, pak?”
Tak sempat menyelesaikan pembicaraannya, pak dekan langsung memutuskan ucapannya. Pak dekan tidak mau mendengar alasan dari asistennya itu.
“bapak sudah baca tulisan alin sama rangga. Iya bagus. Bapak juga suka dengan tulisan mereka” ucapnya
“nah, bapak beri saja proyek ini pada mereka” laki-laki itu tersenyum memberi saran kepada pak dekan yang selalu mendesaknya agar menerima proyek itu.
“tapi tulisan mereka tidak seperti diksi dalam tulisan kamu.  Kalimat  mereka tidak membuat hati bapak bergetar. Baik. Bapak  tidak mau mendengar lagi alasan dari kamu. Bapak percaya kepada kamu. Ini proyek besar jangan kamu sia-siakan. Ini akan berdampak pada masa depan kamu. Kamu akan menjadi penyair yang terkenal samir”
Laki-laki yang berdiri itu sekian memasuki dunia khayal dari pak dekan. Masa depan yang cerah, menjadi terkenal. Hatinya bimbang untuk menerima proyek itu. Bila dia menerima proyek itu, dia akan pergi meninggalkan keluarganya, adik-adiknya. Itu tidaklah mungkin dilakukuan oleh laki-laki dalam kebingungan itu. bila dia menolak, sungguh sombongnya dia, telah diberi kepercayaan oleh pak dekan untuk melaksanakan proyek itu. sungguh hatinya semakin bimbang.
“ok. Bapak tunggu jawabannya dua minggu lagi. Bapak akan menemukan kamu kembali. Berpikirlah, jangan kamu sia-siakan ini”
Lalu pak dekan melarikan diri dari hadapan laki-laki yang masih bediri itu. berkali-kali ia melihat amplop putih ditangannya. Sunggu amplop ini telah membuat hatinya gundah.
“aku tidak mengerti dengan pak dekan. Mengapa dia memberi proyek itu padaku”
Ditengah terik matahari yang sangat panas. Samir laki-laki yang gundah itu duduk dibawah pohon besar yang rindang. Udara dibawahnya sangat sejuk. Tiupan angin sangat dingin menjejukkan hati yang gundah. Terlihat seorang pemuda yang duduk disamping samir. Pemuda yang berbadan tegap, putih tampan rupawan. Berperawakan seperti rahmat adiknya. Amar namanya. Pemuda yang banyak bakat. Pemuda yang hebat. Pemuda yang selalu mendapat penghargaan dari kampus. Di tengah terik matahari yang menusuk ubun-ubun amar mendengarkan penjelasan samir yang tak pernah selesai dengan kegundahan hatinya.
“itu tandanya pak dekan percaya sama kamu mir”
“tapi aku tidak bisa menulis. Apa lagi membuat novel, tidak mudah mar. Itu bukan bidang aku”
“kamu mau menolak permintaan pak dekan? Jangan samir. Pak dekan sudah banyak berkorban untuk kita, untuk kampus”
Lalu samir berdiri. Dia terus memberi penjelasan kepada sahabatnya yang duduk itu tentang kegundahan hatinya yang tak menentu.
“aku tahu mar, tapi aku takut. Bila nanti kalau aku menerima dan tulisan aku tidak bagus. Aku jadi malu, pak dekan juga malu. Semua akan menerima malunya. Itu karena tulisan aku tidak bagus.”
Kemudian amar pun berdiri mendekati sahabatnya yang gundah itu. perlahan-lahan amar mendekati samir, perlahan-lahan pula amar memberi saran dan penjelasan pada samir.
“jangan pesimis seperti itu, mir. Kamu belum mencobanya. Tidak salahkan bila kamu mencobanya dulu.” Ucapnya kemudian “sampai kapan kamu berbohong kepada setiap orang. Sampai kapan kamu akan menyimpan bakat kamu dalam menulis samir? Pak dekan tidak salah memilih kamu. Aku percaya kamu memiliki kemampuan yang hebat dalam menulis. Bila kamu bimbang tidak bisa menulis dalam sayambara proyek itu, coba beri tulisan kamu yang lain kepada pak dekan buktikan kepadanya bila kamu tidak main-main dalam proyek ini”
Mendengar itu, laki-laki yang tak berekspresi itu termenung. Matanya tak bercahaya. Matanya menatap dengan gundah.
“kapan kamu memberi jawabannya?”
“dua minggu lagi”
“masih lama. Masih ada kesempatan untuk menulis. Kamu buat cerita pendek tentang apa saja. Setelah selesai kamu berikan kepada pak dekan. Jangan bimbang seperti itu samir. Kamu tidak sendirian ada aku disamping kamu”
Hati samir bergetar mendengar ucapan amar. Tak terbendungi getaran hatinya yang selalu bergejolak. Sungguh amar teman yang baik. Sahabat sejatinya. Dilihatnya wajah amar yang berdiri disampingnya itu. ditatapnya wajah yang tampannya. Mata yang penuh inspirasi. Samir tersenyum sedikit legah mendengar ucapan amar. Ia menjadi bersemangat menulis karena dorongan semangat dari sahabatnya.

KECONGKAKAN JIWA
K

egundahan hati samir membuatnya tak enak menjalankan aktifitasnya. Kepercayaan pak dekan padanya membuat  laki-laki itu tidak enak bila menolak permintaan orang yang berjasa dalam hidupnya. Malam yang dingin, hujan rintik kecil membasahi rumput dihalam rumah mewah itu. hiruk pikuk terdengar dari percakapan saudara-saudaranya. Didalam kamar besar itu. samir selalu menatap ke langit yang gelap gulita, mencoba mencari jawaban atas kegundahan hatinya. Sungguh ia begitu gelisah. Matanya yang kecil itu terlukis dengan jelas betapa gundahnya laki-laki yang berkaca mata itu. sesaat terlintas dipikirannya atas perkataan sahabatnya amar. Untuk mencoba menulis cerita pendek untuk diberikan kepada pak dekan dalam tanda bukti sayembara itu. ia bimbang, bila saja ia menerima proyek tersebut maka ia akan meninggalkan saudara-saudaranya dan akan pergi meninggalkan tanah kelahirannya. Itu tidaklah akan terjadi pada diri laki-laki yang bersedih itu. beberapa menit setelah terdiam membisu. Laki-laki yang berdiri itu mencoba memulai menulis untuk memberikan tanda keseriusan dalam sayembara proyek itu. kelincahan tangan dan begitu gesit pemuda itu menulis satu per satu kalimat yang indah. Hawa dingin menerpa masuk disela-sela pintu jendela yang terbuka, laki-laki itu begitu khusuk menulis hingga ia tak mendengar panggilan abangnya yang baru saja pulang kerja.
“samir..”
Laki-laki itu tak menghiraukan panggilan abangnya karena ia begitu khusuk menulis bukunya yang berjudul “mentari yang kelam” untuk 3 hari lagi akan diberikan kepada pak dekan.
“samir” sebut abangnya lagi
Namun, laki-laki yang menulis itu tak menampik suara yang memanggilnya. Ia tetap menulis dengan tenang. Melihat perkataanya tidak dianggap oleh sang adik, laki-laki yang berdiri di balik pintu itu mendekati laki-laki yang menulis itu dengan langka yang cepat dan berkata dengan nada yang agak kasar.
“samir. Apa yang kamu lakukan? Kamu tidak dengar berkali-kali aku memanggil kamu”
Laki-laki yang menulis itu terkejut dengan kedatangan abangnya tiba-tiba. Laki-laki itu memberhentikan tulisannya karena ia tidak ingin abangnya tahu kalau ia sedang menulis. Karena abangnya tidak suka melihat samir menghabiskan waktunya untuk menulis.
“muk? Maaf muk, samir tidak mendengar panggilan muk” sebut laki-laki yang duduk itu
“iya, iya aku tahu. Karena kamu asik menulis. Apa ini? Ini apa?”
Laki-laki itu mengambil tulisan dari tangan samir. Samir tak berdaya, tak kuasa ia untuk melawan kepada sang abang karena ia sungguh adik yang patuh dan taat kepada abang sebagai pengganti sang ayah.
“jangan muk. Samir mohon jangan dihancurkan”
Lalu pemuda yang kejam itu menggenggam kertas yang ada ditangannya. Dan melemparnya diwajah samir yang berdiri didepannya itu. samir laki-laki itu hanya melihat dengan kaku bagaimana abangnya berperilaku padanya.
“aku sudah bilang sama kamu. Jangan menulis lagi. Apa yang kamu harapkan dari tulisan itu, ha? Apa  tulisan itu dapat membantu menghidupkan masa depan kamu? Atau kamu mau memberi tahu kepada semua orang atas penderitaan kamu selama ini, agar semua orang tahu kalau aku selalu berbuat jahat kepadamu? Iya?”
“tidak muk. Tidak seperti itu. Tidak ada niat samir untuk berbuat seperti apa yang muk katakan”
Laki-laki itu mencoba untuk membela. Namun laki-laki yang kejam itu selalu menyudutkan samir yang matanya mulai berkaca.
“lantas apa, Ha? Aku memang berbeda sama ayah. Cukup kamu dulu dapat perhatian lebih dari ayah. Kini tidak ada lagi perhatian itu. kamu harus mandiri”
“muk..”
“kamu ngelawan sama aku?”
Samir pun terdiam membisu tanpa kata-kata. Dia tak pernah mendapatkan perkataan seperti itu. sungguh laki-laki itu begitu kejam terhadap adiknya. Tidak pernah menjaga perasaan laki-laki yang berdiri bersedih itu. sementara itu, adik-adiknya tak mengetahui pergaulan samir dan abangnya di dalam kamar itu. sungguh hidup samir tak seindah dulu.
“aku capek, sekarang buatkan kopi. Antarkan kekamar. Jangan lama”Perintah laki-laki yang kejam itu.
Sungguh itu tidak adil bagi pemuda yang bersedih itu. sekian banyak caci makian dari abangnya yang membuat hatinya terluka, dan abangnya selalu membuat samir seperti pembantu dirumahnya sendiri. Dengan hati yang hancur samir menjalankan perintah abangnya, ia kemudian langsung pergi kedapur untuk membuat kopi sang abang. Dengan tetesan air mata, samir melangkah menuju dapur. Sesaat ia menahan air matanya. Dilihatnya foto yang terpajang di dinding tepat diatas lemari yang antik ibundanya, tangisannya tak terbendungi ia teringat pada sang ibunda dan ayah. Lalu pemuda itu membawa kopi buatannya kepada sang abang yang telah menunggu di ruang keluarga bersama saudara yang lainnya. Samir melangkah dengan pelan, takut gelas yang dibawanya terjatuh. Penuh harap cemas laki-laki itu membawa segelas kopi. Pikiranya tak menentu, air matanya hampir terjatuh namun ia mencoba menahannya agar tidak terjatuh membasahi pipinya. Beberapa langkah mendekati sang abang tiba-tiba dengan sengaja rahmat adiknya mendorong samir dari belakang sampai ia terjatuh dan kopi yang ia bawa mengenai pakaian abangnya. Semua terkejut begitu pun dengan adik-adiknya.
“ya, allah. Muk maaf”
“samir. Apa yang kamu lakukan?” tanya sugiarto abangnya
“dia sengaja muk numpahi minumanya. Biar muk tidak bisa minum” ucap rahmat adiknya
“tidak muk, demi allah samir tidak sengaja, maaf muk, sini biar samir bersihkan”
Lalu abangnya mendorong samir dengan sekuat hati. Dengan nada yang marah ia berdiri dan mencaci laki-laki yang terjatuh itu.
“kalau kamu tidak ikhlas membuat kopi untuk aku, jangan kamu lakukan. Aku tidak memaksa. Mau jadi apa kamu? Kerja seperti ini saja tidak becus”
“maaf muk”
Samir selalu memohon dan bersimpuh pada abangnya, ia merasa bersalah telah menumpahkan kopi ke baju abangnya. Namun itu bukan salah laki-laki itu. itu salah adiknya rahmat. Ia sengaja mendorong samir agar dia dapat menyaksikan laki-laki itu di siksa oleh abangnya.
“maaf, kamu bilang minta maaf. Panas, kamu tahu itu. ha? Terlahir tidak ada gunanya lebih baik kamu mati saja samir”
“kalau hidup itu menyusahkan orang lain lebih baik mati saja, mungkin itu baik. Biar cepat masuk neraka” ucap adiknya alan
Memang malang nasib laki-laki itu. sungguh hancur hatinya. Cacian dan kecongkakan dari saudaranya selalu ia terima. Ia berharap akan ayahnya kembali membela dirinya yang tak berdaya karena hatinya tak kuasa menahan amarah saudaranya.
“menangis? memang air mata kamu itu bisa membuat hati aku luluh? Tidak, aku benci sama kamu. Aku tidak pernah suka sama kamu. Kamu itu sudah membuat sial dalam hidup kita”
Lengkap sudah penderitaan laki-laki itu. dibalik cacian itu. keempat adiknya hanya melihat kejadian yang dilakukan oleh abangnya kepada kakaknya yang tak berdaya itu. ingin rasanya mereka menolong sang kakak, namun apa daya mereka. Tak dapat berbuat. Karena mereka merasa takut pada sang abang. Lalu laki-laki itu semakin disiksa, dipukul dan ditendang, dibawanya samir oleh sang abang ke kamar mandi untuk memberi pelajaran kepada laki-laki yang menangis itu.
“ampun muk. Ampun muk”
Samir merintih memohon kepada sang abang, namun sang abang dan saudaranya tidak menghiraukan perkataan adiknya. Samir ditarik, hingga sampai dikamar mandi lalu samir dibasahi dengan air yang sangat dingin.
“itu, pelajaran untuk kamu. Biar kamu itu mengerti. Hidup itu jangan selalu menyusahkan orang lain. Hidup itu jangan ada sandiwara. Tulis semua siksaan ini dengan tulisan kamu itu”
“ampun muk, ampun”
Samir tak kuasa menahan dinginnya air, ia selalu memohon kepada sang abang untuk memberhentikan menyiram air padanya. Namun abangnya tak memberhentikan juga. Rahmat pun begitu, tak henti-hentinya memukul dan menendang sang kakak yang tengah kesakitan itu. tak kuasa menahan air mata, akhirnya samir menyerah, ia tak berdaya ia pasrah kepada tuhan. Ia tak melawan dan berkata-kata lagi, ia membiarkan dirinya dipukul dan ditendang dan sekujur tubuhnya dibasahi oleh air yang dingin. Firman adik bungsunya menangis melihat sang kakak tercinta disiksa sekian rupa, tak kuasa menahan hatinya melihat kakak terbaring tak berdaya. Lalu ia menangis mencoba menahan tangan abangnya untuk berhenti menyiksa lak-laki yang terbaring itu, namun ia ditahan masnya, hingga ia tak dapat bergerak mendekati sang kakak.
“lepas mas. Cibon mau menolong kakak”
Firman memberontak untuk melepaskan gengaman tangan masnya. Namun ia tak dapat melepasnya.
“tidak bisa. kamu jangan ikut campur. Nanti kamu akan dimarahi muk”
Melihat kakak terus disiksa. Akhirnya firman melarikan diri kekamar. Ia tidak ingin melihat kesusahan sang kakak. Ia terus menangis hingga kekamar. Namun tidak dengan bastian, iqbal dan rivandi. Mereka melihat dengan jelas kakaknya disiksa oleh abang-abangnya. Seklai-kali mata mereka memandang kearah lain karena tidak tega melihat sang kakak. Beberapa menit setelah itu. akhirnya abangnya berhenti memukul dan menyiramkan air pada samir. Mereka pergi dan meninggalkan samir sendiri terbaring lemas tak berdaya. Adiknya melihat itu dengan jelas, namun ia tak berdaya menolong sang kakak, karena ancaman dari sang abang.
“jangan ada yang membantunya. Kalau ada yang menolongnya muk akan pukul. Mengerti?” ucap abangnya pada adiknya.
Ketiga adiknya terdiam menganggukkan kepala tanda mengerti ucapan sang abang. Adiknya melangkah pergi meninggalkan samir seorang diri dilihatnya laki-laki yang terbaring itu sungguh kasihan.
Setelah kejadian itu, samir telah membersihkan diri. Dan mengganti pakaiannya. Namun sakit hatinya tak kunjung hilang setelah kejadian itu. samir duduk termenung diatas kursi yang biasa ia duduk untuk menulis. Matanya tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Dalam renungannya ia teringat betapa kejamnya saudara-saudaranya seandainya sang ayah masih hidup, hidup laki-laki itu tidaklah seperti sekarang. Dalam renungannya, tiba-tiba adiknya datang menghampiri samir yang tengah duduk mengingat peristiwa yang telah menyakiti hatinya.
“kakak?” sebutnya
Laki-laki itu menghapus air matanya yang terjatuh di pipinya, ia tak ingin melihat adiknya bersedih hati karenanya. Dipeluknya samir dengan erat. Sungguh hancur sudah hati dan perasaan laki-laki itu. dengan penuh kasih sayang samir mencium kepala sang adik yang sangat ia cintai.
“kakak tidak apa-apa?” sebutnya
Tak tergambarkan lagi perasaan laki-laki itu. Air matanya tak tertahan lagi olehnya, sehingga mengalir dipipi yang usang itu.
“tidak, kakak tidak apa-apa”
“kakak menangis?”
“tidak. Kakak tidak menangis”
“mata kakak merah berair”
“ah. Sudah lah. Kakak tidak apa-apa. Cibon belum tidur?”
“cibon sayang kakak? Cibon takut kehilangan kakak. Muk, abang, aconk, mas sudah jahat sama kakak. Dulu waktu ayah masih hidup, kakak tidak pernah dilakukan seperti itu”
Oh tuhan, kuatkan hati laki-laki itu. sungguh rapu hatinya. Air matanya selalu mengalir hingga mengenai ubun-ubun adiknya. Berkali-kali ia mencium adiknya, sungguh Adiknya begitu menyayanginya. Angin malam menusuk hingga tulang, hawa sejuk menemani pergaulan antara kakak dan adiknya. Cakrawala yang gelap tanpa bintang, begitulah isi hati samir saat ini. Rintik hujan tak juga reda, remang lampu kamar memancarkan cahaya yang indah hingga mengenai dua beraudara yang bersedih itu.
“kakak tidak apa-apa. Muk melakukan itu, karena kakak yang salah. Kakak telah menumpakan kopi dipakaian muk. Wajar kalau muk marah pada kakak” sebut samir
“itu kan bukan salah kakak. Aconk yang salah, aconk dengan sengaja mendorong kakak hingga jatuh kan?”
Samir tersenyum. Dipelukinya anak kecil itu. sekian kalinya ia mencium kelapa adiknya.
“itu bukan salah aconk, aconk tidak sengaja menyenggol kakak”
“tidak kak, cibon lihat sendiri. Aconk yang mendorong kakak. Cibon tidak mengerti dengan orang-orang itu. mengapa mereka sangat membenci kakak? Cibon benci dengan orang-orang itu”
“eh, tidak boleh seperti itu. Aconk orang yang baik tidak mungkin aconk melakukan itu sama kakak. Ingat pesan ayah. Kita tidak boleh saling membenci, dendam. Kita bersaudara saling menjaga satu sama lain”
“tapi mereka tidak pernah berpikir seperti itu, kak”
Laki-laki itu termenung sesaatn merangkai kata-kata untuk menjawab pertanyaan adik tercintanya. Sungguh hatinya tak enak untuk meladeni pertanyaan adiknya. “cibon, sekarang tidur ya. Sudah malam besok sekolah. Lain kali kakak akan menjawab pertanyaan cibon”
Alangkah pilunya hati samir, melihat dirinya yang menjadi korban perilaku saudaranya. Tak kuasa menahan gejolak jiwa yang terus menerus membuat air matanya bercucuran.

CURAHAN HATI
P

 agi yang sedikit mendung, hawa dingin terasa sangat sejuk dikulit. Semua orang terlihat sibuk mejalankan aktifitasnya masing-masing. Hiruk pikuk suara knalpot motor terdengar dengan jelas oleh samir yang tengah duduk di halte tempat biasa ia menunggu angkot untuk pergi ke kampus. Hati yang terluka masih ia rasakan pedihnya. Namun ia tidak ingin menjadi alasan untuk tidak berangkat kekampus untuk menuntut ilmu.  Pemuda itu terlihat menunggu dengan sabar angkot datang menghampiri halte tempat ia duduki itu. Ditangannya ia membawa buku tulisannya untuk dilihatkan kepada amar sahabatnya. Buku yang nanti akan menjadi sayembara dari kampus. Sekian lama menunggu akhirnya angkot yang ditunggu-tunggu tiba juga. Samir langsung menaiki dengan hati-hati angkot tujuan kampusnya.
Setiba dikampus dilihat-lihatnya sekitar kelas belajarnya, tak begitu ramai rupanya pagi itu. Mungkin karena hawa pagi masih dingin oleh karena itu mahasiswa datang agak siang. Samir duduk termenung di bawah pohon itu. Sekali-kali matanya menutup karena terkenang kejadian semalam. Diatas kursi yang mulai rapuh itu ia selalu berharap kepada tuhan agar segera dibebaskan dari penderitaan ini. Dalam lamunannya tiba-tiba ia terdengar seorang laki-laki memanggil namanya. Ia terbangun dari lamunannya. Ia segera mencari-cari sumber suara itu. dilihatnya dari kejauhan dekat fakultas ekonomi seorang pemuda melambaikan tangannya. Samir tersenyum, ia membalas lambaian pemuda itu. Lalu kemudian pemuda itu berlari mendekati samir yang duduk sendiri. Akhirnya amar dapat meraih tangan samir dan amar pun duduk disamping samir yang selalu menundukkan kepalanya.
“bagaimana? Sudah siap tulisannya?” tanya amar
Lalu laki-laki itu membuka tasnya dan mengeluarkan buku tulisannya yang ia selesaikan semalam. Dan memberikannya kepada amar yang tak melihat kearah pemuda yang menunduk itu.
“ini, coba kamu baca dahulu. Nanti kalau ada yang kurang bilang sama aku, nanti aku akan perbaiki” pintanya
Amar melihat pemuda itu, ia sedikit heran. Tak biasanya samir bersikap itu kepada amar. Hari itu samir berbeda, tampak tak bersemangat suaranya tak kuasa untuk keluar dari tenggorokan. Ia selalu menundukkan kepalanya. Amar mencoba menjawab rasa penasarannya, namun ia tidak bisa.
“samir, lihat aku?” sebutnya
Namun samir tak mengikuti perintah amar. Samir tahu, amar akan melihat wajahnya yang lembam itu. Dan samir tidak ingin amar akan mendatangi kepada saudaranya.
“samir lihat aku” pintanya lagi.
Tidak ingin membuat amar marah, samir pun melihat kearah amar yang memegang tulisannya itu. Betapa terkejutnya amar ketika melihat dengan jelas wajah laki-laki yang duduk didepannya itu. Wajahnya penuh biru lembam seperti terkena pukul. Sesaat amar termenung, tak bisa membayangkan keadaan sahabatnya itu.
“samir. Kenapa wajah kamu?” tanya amar penuh khawatir
“tidak apa-apa”
“samir, jujur dengan aku. Siapa yang melakukan ini?”
“melakukan apa? aku tidak apa-apa mar”
Laki-laki itu mencoba menutupi kejadian yang telah ia alami semalam. Ia tidak ingin melihat amar susah karenanya. Ia juga tidak ingin melibatkan saudaranya karena masalah ini.
“saudaramu?”
Laki-laki itu hanya diam. Samir tak hayalnya menundukkan kepalanya. Ia mencoba untuk tidak berkata apa pun.
“tolong jangan kau sembunyikan. Siapa yang melakukan ini?”
Samir tak juga menjawab. Dia hanya terdiam membisu. Dia juga tak melihat amar.
“bajingan, aku akan temui dia” sebut laki-laki yang marah itu
Beberapa langkah dari samir. Tiba-tiba samir menghentikan langkahnya.
“amar” sebutnya kemudian “aku mohon jangan kau lakukan”
“tidak. Aku akan temui dia”
“amar, aku mohon. Aku tidak ingin masalah ini menjadi panjang. Biarlah. Aku tidak apa-apa”
Amarpun mendekat samir yang berdiri dihadapannya itu. dilihat matanya yang mulai layu itu, dilihat dengan jelas pula wajahnya yang penuh dengan kekecewaan. Amar melangkah mendekati samir.
“mengapa kau membiarkan dirimu disakiti? Aku tidak mengerti dengan dirimu? Lihatlah wajahmu yang biru. Coba kau tengok bibirmu yang biru itu. Kau dipukuli, kau dizalim oleh mereka. Kau tidak melawan. Ini yang namanya baik-baik saja?” sebut amar
Samir melihat laki-laki didepannya itu. dengan mata yang membesar, darah yang mengalir degan derasnya. Dia tak enak, tubuhnya penuh amarah. Tangannya penuh dendam. Wajahnya yang tampan seketika menghilang karena amarah itu. samir laki-laki itu mencoba untuk menenangkan diri amar yang amarahnya tak elok.
“amar. Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Ini hanya biasa. Percayalah”.
“tapi, samir. Coba kamu lihat. Aku tidak tega melihat kamu seperti ini?”
“amar, percayalah. Aku baik-baik saja?”
Mendengar itu, amar tak berdaya karena rayuan sang sahabat. Angin sepoi yang menerpa, daun-daun berguguran dengan indahnya. Begitu sejuk terasa dikulit. Samir mencoba menutupi masalah yang tengah dihadapinya. Sekali-kali amar melihat samir dengan wajah yang kasihan. Begitu malang nasib laki-laki itu. Penderitaannya tak unjung juga berakhir. Terkadang terbesit dipikirannya untuk mengakhiri hidupnya. Namun, ia tak ingin melakukannya. Karena ada orang-orang yang selalu menyayanginya. Adik-adiknya, belahan jiwanya, jantung hatinya, dan amar sang mentari yang selalu memberi energi semangat dalam hidupnya.
Lalu kemudian dua laki-laki itu pergi menuju ruang dekan untuk menyerahkan tulisan samir. Tepat pukul 10 pagi, mentari agak meninggi diatas kepala, hawa sejuk berubah menjadi gerah, keringat bercucuran disekujur tubuh. Lalu pemuda itu ahirnya dapat menemuan ruang dekan, terlihat didalam ruang itu dekan telah lama menunggu.
“masuk” kemudian “silahkan duduk” sebut dekan yang terlihat tampan dengan jas hitam yang licin begitu serasih dengan celana yang sangat rapi.
“bagaimana? Mana tulisannya?”
“ini pak”
Lalu samir memberikan tulisannya ke dekan yang tak terlihat berwajah ceria.
“itu belum selesai pak, baru setengah” sebut amar
Sekali-kali dekan melihat-lihat tulisan samir.“mentari yang kelam” sebutnya “sepertinya menarik, nanti saya akan baca”
“terima kasih pak” ucap amar
Samir yang duduk tak bersemangat itu hanya bisa diam seribu kata, perasaan yang semain gundah. Ingin rasanya ia menjerit sekuat hatinya.
“samir” sebut pak dekan
Samir tak mendengar. Ia hanya menundukkan kepalanya. Melihat sahabatnya terdiam amar semakin tak mengertin dengan tingkah laku samir. Perasaan yang terluka, hati yang sakit teroyak oleh kecongkakan saudaranya telah membunuh semangat dirinya.
“samir” sebut sahabatnya
“ha, iya pak. Adakah yang kurang dari tulisan saya? Nanti saya akan perbaiki” sebutnya.
Sungguh samir tak kuasa mengingat kejadian semalam. Pergaulan saudaranya yang telah menyakiti dirinya. Amar semakin tak mengerti, hari itu samir seperti orang yang tida punya pendirian. Seperti orang yang bodoh. Hingga menjawab pertanyaan pak dekan saja tak kuasa.
“tidak samir, saya tidak mengatakan seperti itu. Nanti saya akan baca tulisan kamu”
Sesaat suasana ruang dekan menjadi sunyi. Tak terdengar suara yang keluar dari ketiga orang yang berbincang itu. Pak dekan melihat ke wajah samir yang tak sehat itu. Ia melihatnya dengan heran. Wajah samir sungguh berbeda tak seperti apa yang ia lihat seperti biasanya.
“samir, wajahmu?” sebutnya
Smir melihat. Namun ia hanya tersenyum. Tak terlihat energi semangat diwajahnya yang sedikit memudar itu.
“tidak apa pak” sebutnya
Pak dekan hanya menganggukkan kepalanya dengan heran. Sementara itu amar sahabatnya melihat dengan kekhwatiran, kekecewaan dengan ssikap samir yang berbohong. Suasana sunyi itu tak lama. Lalu kedua pemuda itu keluar dari ruang dekan yang besar itu.
“aku tidak mengerti dengan kamu. Mengapa kamu selalu menyimpan masalah yang kamu hadapi? Hingga berbohong sama pak dekan” sebut sahabatnya amar
“aku tidak ingin menjadi beban pak dekan dan semua orang”
“beban?”
Langkah amar terhenti. Sesaat ia menarik nafas panjang. Ia mencoba untuk merangkai kata-kata untuk mengatakan hal yang terbaik untuk sahabat yang berdiri dihadapannya itu.
“samir. Aku sudah mengenalmu cukup lama. Begitu pun denganmu. Aku sudah anggap kau sebagai saudaraku. Aku hanya menceritakan masalahku kepadamu. Karena aku percaya padamu” sebut sami lagi
Samir hanya terdiam mendengar setiap kalimat-kalimat yang keluar dari amar yang sedikit nada yang yang kecewa.
“mengapa kamu tidak pernah menceritakan semua masalah yang kamu hadapi? Aku tahu kalau kamu terbebani bila dirumah. Karena kamu selalu menjadi keegoisan saudara-saudaramu”
“amar” sebutnya
“aku tahu maksud kamu mencoba menutupi semua kesalahan saudaramu. Tapi tidak seharusnya kamu mengorbanan dirimu samir. Kamu melindungi orang-orang yang tidak berguna itu”
“amar sudah” teriak samir
Amar terdiam, lalu membalikan badannya membelakangi samir yang sedikit emosi karena mendengarkan ucapan amar yang menyebutkan saudara-saudaranya.
“kamu tidak tahu apa-apa amar”
“aku tahu. Aku tidak tahu permasalahan kamu. Justru itu aku ingin tahu. Biar aku dapat membantu kamu keluar dari pemasalahan itu”
“aku tidak ada masalah apa” sebut samir dengan nada yang lantang
“bohong” sebut amar “kamu itu bodoh, tidak mencintai dirimu sendiri. Hanya pasrah bila disakiti. Itu yang namanya tidak ada masalah”
Emosi amar kian mencuat. Begitu pun dengan amar. Pemuda yang sakit itu melihat amar dengan wajah yang tak elok. Matanya merah, jantungnya berdetak dengan cepat. Wajahnya berubah. Suasana tak enak, mentari kian memanas, angin tak berhembus dengan teratur. Daun-daun berguguran menyaksian pergaulan kedua sahabat yang berdebat hebat itu.
“kamu tidak mengerti dengan permasalahan ini. Asalkan kamu tahu amar. Aku hanya menjalankan amanah dari orang tuaku. Aku akan selalu hormat dengan abang-abangku. Aku akan menutup semua kesalahan mereka. Aku telah berjanji akan melakukan semua demi saudara-saudaraku”
“tapi tidak seharusnya kamu mengorbankan dirimu”
“lalu bagaimana lagi caranya aku untuk taat pada mereka? Coba katakan?” sebut samir
Amar terdiam sesaat. Samir menangis kecil matanya berkaca. Linangan air matanya terlihat dengan jelas menggumpal dikelopak matany yang telah layu lunglai itu.
“aku adalah anak  yang malang. Terlahir terbuang”
Jatuh sudah air mata samir. Ia menangis kecil ia duduk di kursi yang ada disampingnya. Amar tak kuasa melihatnya. Samir kembali menceritakan semua perasaannya.
“semua orang membenciku. Tak sudih menjadikan aku sebagai saudara mereka. Aku tidaklah memiliki kemampuan seperti mereka. Aku hanya mampu untuk melindungi diri mereka. Bahkan aku akan rela melakukan apa pun demi mereka. Bahkan taruhannya adalah nyawaku. Karena aku menyayangi mereka”
Curahan hati yang sangat menyusuk hati. Amar menangis, tak kuasa menahan air matanya yang terjatuh. Samir yang malang itu menangis dengan hebatnya. Perasaannya yang sangat sakit. Amar membalikkan badanya, dilihatnya samir yang terduduk tak berdaya dan air mata yang mengalir kencang, didekatnya samir. Amar pun berjongkok mendekati wajah samir yang berlumur  air mata itu. Dilihatnya dengan jelas mata samir yang mulai layu lunglai itu.
“maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk membuat kamu menangis. Aku hanya mencoba untuk melindungimu. Karena aku tahu tidaklah sudih saudaramu melindungi dirimu karena bagi mereka kamu tidaklah ada. Kumohon maafkanlah aku.”
Hancur sudah perasaan hati dua pemuda yang bersedih itu. Samir yang bersedih itu menangis dengan kuatnya mendengar perkataan amar. Sungguh amar mentari dalam hidupnya. Amar yang baik itu pun menangis dalam pelukan samir yang malang tak berdaya itu.
“janganlah takut. Aku akan melindungi dirimu. Karena kamu begitu berharga dalam diriku” sebut amar dalam tangisanya.

B
MALAIKAT PENGGANTI AYAH

umi kian berputar dengan indahnya. Langit yang begitu indah melukiskan keagungan sang maha pencipta, dirumah yang mewah itu sekian banyak penderitaan yang dihadapi samir. Tidak dapat terlukiskan lagi perasaannya yang rapuh, bertahun mendapatkan perlakuan yang sangat tidak layak dari saudara-saudara. Kecongkakan jiwa yang terus bergulir dalam hidupnya. Pagi itu, langit jernih, bersih dan sungguh indah terpapar diangasa nan jauh disana. Samir duduk tersenyum didepan cermin yang besar dikamarnya. Dilihatnya penampilan dirinya pagi itu. Dengan jelas ia lihat dari ujung rambut hingga kaki. Ia selalu tersenyum, entah mengapa sikapnya berbeda pagi itu. Tak hayalnya ia tersenyum seorang diri.
“kak. Sudah jam berapa?” tanya firman adiknya
Laki-laki itu pun melihat ke arah kanannya untuk melihat jam yang tergantung di tembok dinding kamarnya.
“setengah delapan” jawabnya
“kok mas belum sampai juga ya?” sebut adinya lagi
“mungkin lagi di jalan, kata mas kan pesawatnya ditunda beberapa menit. Ada gangguan teknis” jawab samir
Beberapa menit setelah itu, terdengar teriakan yang jelas dari iqbal adiknya.
“cibon, mas sudah sampai”
Anak kecil itu langsung pergi meninggalkan samir seorang diri. Betapa bahagianya  hati samir mendengar kabar itu.  Belahan jiwanya tlah datang dari tanah seberang. Belahan jiwanya, malaikat pelindungnya mata hatinya yang selama ini ia tunggu-tunggu. Samir berlari keluar dari kamarnya. Ia berlari tergopoh-gopoh tak kuasa menahan hati yang rindu untuk memeluk mata hatinya. Akhirnya samir dapat melihat pemuda yang tampan itu, berpakai kemeja hitam sungguh tampan. Ia melihatnya dengan jelas senyuman dibibirnya. Senyuman yang tak biasa terlihat ketika ia dirumah, karena bila dirumah hanya beban dan siksaan yang ia dapat. Lalu laki-laki yang tampan itu melihat samir yang berdiri dari kejauhan, ia tersenyum samir pun membalasnya. Alangkah suka hati laki-laki yang tersenyum itu dapat melihat malaikatnya datang. Lalu laki-laki yang baru datang itu berlari mengejar samir yang berdiam diri menyaksikan percakapan antara saudaranya dengan malaikatnya yang baru datang itu.
“kakak” sebutnya
Samir terdiam seakan tak percaya yang ia lihat adalah laki-laki pelindungnya. Dilihatnya mata laki-laki itu, sungguh mata yang indah terlukis dengan jelas kebahagian yang dalam. Lalu samir berlari untuk meraih tangan laki-laki itu. Akhirnya samir dapat meriah tangan pemuda yang tampan itu, sungguh tangan yang begitu penuh inspirasi, lalu ia menciumnya. Tak kuasa menahan rasa rindu pada laki-laki yang selama ini ditunggu-tunggu lalu kedua pemuda itu memeluk satu sama lain.
“kakak apa kabar?” sebut pemuda yang bernama dimas itu
“baik mas. Mas sehat?” sebut samir
“mas baik”
Setelah melepas rindu kedua pemuda itu melepaskan pelukannya. Kebahagiaan tergambar dengan jelas dikedua wajah pemuda itu. Sungguh hati yang gundah samir telah terganti dengan hati yang bahagia. Sementara itu dari jauhana laki-laki itu, abang-abangnya dan adiknya melihat dengan kebencian. Sungguh tak ada terlihat kebahagiaanpun melihat samir yang tersenyum bahagia itu.
“mas kangen sama kakak”
“kakak juga. Katanya kemarin mau ke sini, sudah di tunggu-tunggu tidak juga datang”
“maaf, kemarin mas ada pameran di surabaya, acaranya tidak bisa  ditunda, mangkanya mas tunda ke sini” laki-laki itu menjelasnya
“bagaimana acaranya? bulan depan jadi ke paris?”
“mudah-mudahan kalau tidak ada halangan, mas pergi paris untuk menghadiri pameran itu. Kakak mau ikut?” tanyanya
“tidak. Tidak tertarik”
Lalu pemuda itu mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Pemuda itu memberikan sebuah buku pada samir. Pemuda itu tersenyum. Lalu samir membalasnya.
“ini untuk kakak” sebutnya
“apa ini mas? Buku?” tanya samir
“itu kan buku kakak pesan kemarin”
Melihat itu. Lalu adik-adiknya berlari menghadap pemuda yang baru tiba itu.
“mas untuk cibon mana?” Tanya firmas sang adik
“iya mas, untuk aa’ babas mana?” sebut pula iqbal
“Kalian ini, tidak mau kalah sama kakak. Itu didalam koper ada banyak oleh-oleh untuk kalian, jangan lupa kasih yang lain juga”
Mendengar itu lalu adik-adiknya pun berlari untuk mengambil oleh-oleh di dalam  koper itu. Sementara itu samir dengan pemuda itu pergi ke kamar meninggalkan saudaranya lain. Kemudian saudara-saudaranya menyaksikan pergaulan samir dengan pemuda itu dengan jelas. Sungguh kebencian terlihat dimata abang dan adik samir. Sungguh malang nasib samir pemuda itu, menjadi kebencian saudara-saudaranya. Namun hari itu ia merasa legah, karena belahan jiwanya ada disampingnya.
Malam yang kelam. Tak ada bintang yang terlihat, bulan bersinar dengan terangnya. Hingga membuat bumi terlihat bersinar cerah. Di malam yang sunyi itu, terlihat samir dan pemuda itu duduk bercangkraman di pendopoh kecil yang berdiri tepat di dekat kolam.  Sungguh bahagia hati laki-laki itu. Dapat berdua dengan malaikat pelindungnya.
“kata amar, kakak ada proyek menulis buku dari kampus ya?” tanya pemuda itu
Lalu samir terdiam sejenak. Ah pertanyaan itu membuatnya tak bersemangat untuk menjawabnya.
“iya mas. Bulan depan acaranya”
“dalam rangka acara apa?”
“kata dekan sayembara media percetakan”
“hadiahnya?”
“lumayan besar”
“bagus. Berapa orang perwakilan dari kampus?”
“hanya kakak!”
“kalau menang jalan-jalan ya?”
“ah mas. Tidak lah. Kakak mau sumbangin untuk anak panti ayah. Ya kalau saja menang”
“kok gitu”
“rasanya kakak tak bersemangat untuk ikut sayembara itu” sebutnya
“mengapa?” tanyanya
“tidak apa-apa. Hanya saja kakak takut tidak bisa menulis dengan baik”
“ya kan usaha. Pak dekan sudah percaya sama kakak. Jangan pernah menolak kepercayaan orang lain”
“lagian kakak tidak mengerti sama pak dekan. Mengapa kakak yang dipilih. Kan masih banyak penulis yang hebat di kampus. Juga bisa cari penulis yang hebat-hebat dari komunitas penulis pemuda”
“itu hanya pikiran kakak saja. Sayangnya pak dekan tak sepaham dengan pendapat kakak. Tidak apa-apa coba saja dulu mas akan dukung kakak. Mas akan bantu apa yang kakak butuhkan”  
Betapa bahagianya hati samir mendengar itu, sungguh betapa sukanya saat ia mendengar ucapan malaikatnya yang sama seperti amar yang selalu memberi semangat padanya. Malaikat pengganti ayahnya telah membuka hatinya. Adang ia juga merasa sedih bila mengenang perilaku saudaranya terhadap dirinya. Sekali-kali ia termenung saat mengenangi itu. Ingin rasanya ia menjerit untuk memberitahu kepada dunia bila hatinya terluka oleh malaikat-malaikatnya. Ingin rasanya ia menceritakan dukaannya kepada malaikat pengganti ayahnya, namun ia tidak mampu melakukan itu karena hatinya tak kuasa untuk mengatakannya.
“kapan mas pulang?”tanyanya
“besok”
“besok?” ulang samir
Mendengar itu, senyum dibibirnya menghilang, samir termenung. Tak berdaya kelihatannya mendengar itu. Langit malam yang indah, terang bulan bercahaya hingga ke bintang nan jauh di langit yang kelam namun keindahan malam tidak melukiskan hati samir ketika ia mendengar ucapan malaikatnya itu.
“kenapa?”tanya laki-laki yang duduk itu
“tidak, secepat itu. Mas?” tanya samir
“mas ada kerjaan, hari rabu besok. Ada pameran di kampus mas. Mas ketua panitiannya. Kalau mas tinggal kan susah, siapa yang mengurus pameran itu?”
Samir terdiam dan termenung. Hanya bisa mengerutkan kepalanya. Hatinya tak kuasa menahan kekecewaan dari malaikatnya itu. Dilihatnya laki-laki yang duduk itu, betapa bahagianya hati samir dapat melihat dengan jelas malaikatnya itu, tapi sayang ia akan kesepian karena besok malaikatnya itu akan pergi meninggalkannya.
“jangan sedih seperti itu, mas janji akan selalu menemui kakak”
“tapi mas”
Laki-laki yang duduk itu mendekati samir yang tengah bersedih hati itu. Dilihatnya samir dengan jelas, tampak matanya tergambar kekecewaan yang amat mendalam. Lalu laki-laki itu berjongkok tepat di hadapan samir yang duduk tak berdaya itu.
“kenapa?”
“tidak ada apa-apa mas”
“ada masalah?”
“tidak”
“jujur sama mas, kakak ada masalah?”
“tidak mas” ulangnya
“kak, mas sudah lama tahu sifat kakak. Lidah kakak boleh berbohong. Tapi mata kakak tidak. Dari tadi mas tidak melihat sinar dimata kakak tidak ada semangat untuk memandang dunia ini. Mata yang penuh kekecewaan. Ada apa? Ada yang tak enak dihati kakak?” tanya laki-laki yang tampan itu.
“mas...” ucap samir lalu “sebenarnya...”
Tak kuasa lidah samir untuk mengatakan kepada malaikatnya itu perasaan dan keadaan hatinya saat ini. Hati yang terluka, setiap hati dihadapi dengan kekerasan dan kecongkakan jiwa oleh saudara-saudaranya. Janji pada orang tuanya menjadi penghalang untuk samir bercerita semua peristiwa yang dialaminya. Samir melihat masnya dengan keraguan, begitu berat ia untuk membuka mulutnya. Dipandangnya laki-laki yang berjongkok itu berkali-kali.
“sebenarnya apa?” tanya pemuda itu
“tidak, sebenarnya kakak akan rindu sama mas. Kalau mas nanti sudah pulang”
Dipeluknya samir dengan erat oleh pemuda itu. Sesaat mereka tak bersuara hanya terdengar suara binatang jengkrik yang berbunyi. Dibalik pelukkan itu air mata samir hampir-hampir terjatuh dibalik kelopak matanya yang tak indah lagi. Samir begitu nyaman saat berada dipelukan masnya serasa berada dipelukan sang ayah, yang mana ia dapat dikala sang ayah masih hidup dahulu kala. Hancur sudah hati samir, terkenang sudah pikirannya pada sang ayah. Dipeluknya dengan erat tubuh masnya yang tak terlalu besar itu, samir melakukannya itu untuk menahan air matanya yang mulai mengenai bola matanya, ia menahan agar  air mata itu  tidak mengenai tubuh malaikatnya itu. Sekali-kali ia terkenang juga perkara yang sering terjadi padanya. Ia mengenangi nasibnya sesaat masnya pulang. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh saudaranya terhadap dirinya.
Pagi sekali, sekitar pukul 6.30 mentari sedang naik hangatnya terasa menusuk dikulit hawa nan sejuk pun terasa diubun-ubun. Sesak nafas samir yang tengah merapikan pakaian masnya untuk pulang ketanah jawa. Nafasnya terasa tak kuasa untuk keluar dari tenggorokan yang penuh sesak kehancuran. Didalam bilik kamar yang besar itu, terlihat samir duduk di kasur dan memasukkan pakaian malaikatnya itu kedalam koper. Dilihatnya satu persatu baju yang terlihat rapi itu, begitu berat hatinya untuk melepaskan belahannya itu. Ia ingin selalu berada didekatnya untuk menjadi pelidung dirinya. “bagaimana, sudah siap?” tanya masnya tiba-tiba
Mendengar itu samir agak terkejut, dilihatnya masnya yang terlihat sibuk sedari tadi merapikan pakaiannya. Samir memandangnya dengan jelas sungguh tampan rupawan laki-laki itu, pikirnya dalam hati.
“sudah mas, semua sudah kakak masukan kedalam koper”
“kemeja mas yang merah sudah dikoper belum?” tanya laki-laki itu lagi
“sudah mas, semuanya sudah siap”
Beberapa detik suasana kamar sunyi sepi, samir melihat masnya tengah sibuk memandang dirinya dibalik cermin yang besar dan merapikan rambutnya yang terlihat berantakan. Sungguh samir terlihat tak berdaya, sedih hatinya terlukis dnegan jelas, raut wajahnya yang usang nampak tergambar.
“mas..” sebutnya
“iya”
Laki-laki yang bercermin itu tak melihat, samir memandangnya dengan linangan air mata. Berkali-kali ia tersedu sedan tak bisa menahan sesak di dadanya.
“kakak?” sebut laki-laki itu
Laki-laki itu melihat samir berdiri memandangnya dengan deraian air mata, ia memandangnya dengan heran, didekatnya samir yang menangis itu, dipeluknya samir yang  tak kunjung usai menangis itu.
“kenapa menangis? Kakak kan sudah janji sama  mas tidak akan menangis?”
Hancur sudah hati samir. Tangisannya tak terbendungi air matanya semakin mengalir dengan kencangnya. Dipeluknya laki-laki itu dengan erat. Lalu laki-laki itu membalasnya.
“mas, jangan pergi. Kakak mau mas disini saja” sebut samir tersedu
“kak, dengarkan mas. Mas sayang pada kakak. Mas juga akan rindu dengan kakak dan adik-adik. Mas juga ingin tinggal bersama kakak dan adik-adik disini, tapi tidak bisa, mas punya kegiatan sendiri. Kakak kan tahu kegiatan mas. Kakak jangan sedih. Mas akan selalu memberi kabar pada kakak”
Mendengar itu tangisan samir semakin menjadi-jadi terlihat air matanya membasahi baju masnya.
“kakak jangan putus asa. Hadapi cobaan dengan ikhlas, tawakal pada tuhan, skenario tuhan itu akan lebih baik daripada rencana yang  dibuat oleh manusia. Itu kan yang almarhum ayah sampaikan kepada anaknya”
Tak dapat tergambarkan lagi perasaan samir yang bersedih itu. Hatinya hancur, tak menentu arah, perasaannya galau  tak ada arti. Matanya layu tak bercahaya. Darahnya mengalir dengan cepat, jantungnya berdetak dengan kencang.ia mencoba untuk menahan air matanya dia mencoba menggenggam tangan kecil yang lemah itu untuk menahan air matanya agar tidak keluar dari bola matanya yang tak elok itu. Hati samir semakin sedih tak jua ia dapat menahan sedu tangisannya sekali-kali pemuda tampan itu meraba kepala samir yang menangis itu. Terkenang sudah ia pada mediang ayahnya. Disaat dipelukan masnya ia merasa ada dipelukan ayahnya diwaktu dulu. Suasana hati samir pecah, resah hati yang membalut didalam hatinya. Sekali-kali ia teringat dengan nasibnya selepas malaikatnya pergi ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya. Beberapa hari samir merasa nyaman dan tenang berada dirumah karena saudaranya tak ada yang menyakitinya karena samir selalu dilindungi oleh malaikat pelindungnya.
“sudah. Sudah. Mas harus pergi sekarang. Nanti mas ketinggalan pesawat. Kakak mau ikut mengantar mas ke bandara” tanya laki-laki berparas tampan itu
Lalu samir pun melepaskan dirinya dari pelukan masnya yang tampak berat untuk melepas pelukkannya itu. Samir tak menjawab tak hayalnya ia menangis. Melihat pertanyaannya tak dijawab oleh samir laki-laki yang hendak pergi itu mengulangi pertanyaannya hingga didengar oleh samir.
“kakak mau ikut ke bandara?”
Samir tak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepala. Hatinya hancur tak bersisah.
“iya sudah, mas pergi dulu”
Satu per satu kaki laki-laki itu melangakah menuju pintu kamar. Sekali-kali ia melangkah dengan berhenti. Sungguh berat hati laki-laki itu meninggalkan laki-laki yang menangis itu. Dilihatnya samir yang bersedih hati dibelakangnya. Beberapa saat ia melihatnya, tergambar dengan jelas dimata laki-laki itu linangan air matanya. Lalu tiba-tiba ia berlari mendekati samir yang menangis tak berkesudahan itu. Dipeluknya dengan erat tubuh samir yang lemah itu dikecupnya kepalanya. Terjatuh sudah air mata laki-laki yang tampan itu.
“jaga diri kakak baik-baik”
Lalu laki-laki itu melepaskan pelukkannya dan melarikan diri keluar dari kamar. Sedangkan samir laki-laki itu bersedih dan menangis dengan kesendiriannya. Air mata samir yang tak kunjung untuk berhenti mengalir. Dilihatnya dari kejauhan malikatnya itu pergi melangkah meninggalkan rumah mewah itu. Didalam kamar yang besar itu samir menyaksikan mobil putih pergi menjauhi rumah itu. Deraian air mata mengalir dengan cepat menyaksikan kepergian malaikatnya itu. Tangisan yang bersedu terdengar dengan jelas dalam dada samir yang tak berdaya itu, lalu mobil itu semakin menghilang, lalu laki-laki yang menangis itu terjatuh kelantai karena tak dapat menahan tubuhnya yang lemah kakinya yang bergetar. 
“aku akan selalu menunggu pelukanmu wahai malaikat pengganti ayah”


KESEDIHAN YANG TAK BERKESUDAHAN
D

ua minggu setelah kepergian malaikatnya samir tak hayalnya meratap nasibnya. Kesedihan yang tak berkesudah yang dialaminya di dalam rumah yang mewah itu membuatnya tak enak untuk menjalankan aktifitas. Langit malam yang kelam tak ada bintang terlihat, malam itu menggambarkan isi hati samir saat ini. Malam yang kelam bagaikan lautan yang tak bertepi, tak terlihat cahaya bulan yang bersinar. Malam yang dingin, hawa sejuk memaku pada kulit yang mulai usang. Malam itu samir terbangun dari mimpinya, dilihatnya jarum jam yang berdetak di dinding kamarnya. Pukul menunjukkan jam 2 pagi, ia membasahi wajahnya dengan air yang suci, seperti malam-malam biasanya samir melaksanakan shalat malam, ia selalu berdo’a untuk kebaikan orang tuanya dirinya, saudara-saudaranya. Laki-laki itu berpakaian sangan rapi dan suci berbalut kokoh putih menjadikan ia seperti malaikat yang tak bersayap. Dilihatnya adik-adiknya yang tengah tertidur lelap. Ia melihatnya dengan heran, satu adiknya tak terlihat dimatanya, dimana apung? Begitulah pikirnya. Matanya mulai layu itu terlihat selalu berzikir memanggil keagungan sang raja dunia. Dilihatnya kembali jam yang tak berhenti bergerak itu. Ia begitu khawatir dengan adiknya. Ah, mungkin ia tidur bersama abangnya atau bersama adiknya yang lain, pikirnya. Samir laki-laki itu dengan rendah hati dan begitu lemah menghadap kepada sang penciptanya, alunan syair ayat allah selalu terdengar begitu syahdu ketia ia mengucapkan ayat-ayat yang begitu dahsyat. Hati akan bergetar bila mendengarkan lantunan ayat suci itu, begitu damai dan tenang hati samir. Sejenak ia termenung mengingat almarhum ayah dan ibundanya dilihatnya gambar yang terpasang di diding kamarnya tepat di hadapannya. Deraian air matanya kembali mengalir, kala ia melihat malaikatnya itu. Begitu cepat belahan jiwanya pergi meninggalkannya. Terbesit dalam dada laki-laki itu untuk meninggalkan keluarganya, ingin rasanya ia untuk mengakhiri penyiksaan yang tiada henti. Ingin rasanya ia untuk pergi dari rumahnya dan pergi merantau ke tanah seberang. Namun, tiada daya laki-laki itu untuk melakukan hal sedemikian. Ketika ia melihat wajah adik-adiknya, malaikat-malaikat kecilnya rasa itu pun seketika menghilang dari benaknya. Sejenak laki-laki itu duduk termenung diatas sajadah merahnya. Dalam balutan atmosfer yang begitu sejuk dan amat menusuk dalam jiwa, diluar kamar terdengar suara keributan. Seketika laki-laki itu terbangun dalam lamunanya.
“dari mana?”
“rumah teman, muk?”
“kamu tahu jam berapa sekarang?”
Samir mendengar dengan samar-samar suara itu dari dalam kamarnya. Seketika ia mendengar suara yang begitu besar dari sudut rumahnya. Lalu laki-laki itu pun berlari tergopoh-gopoh meninggalan malaikatnya yang tengah tidur pulas. Ia tak menyangka apa yang ia lihat, malam itu.
“apa ni?” sebut abangnya
“itu bukan punya apung muk?”
“bohong. Lalu punya siapa yang ada di saku baju kamu itu kalau bukan punya kamu?”
“apung tidak tahu muk, sumpah itu bukan punya apung” sebut laki-laki yang menangis itu.
Ppprrrukkk
Laki-laki yang marah itu menampar adiknya yang menangis itu
“beraninya kamu bersumpah, dengan bukti yang sudah ada. Muk tidak pernah mengajarkan kalian untuk melakukan hal yang berdosa ini. Muk sekolahkan kalian untuk pintar. Bukan menjadi pecandu barang haram ini”
Wajah laki-laki yang marah itu berubah seketika. Wajahnya merah, matanya membesar. Darahnya mengalir dengan cepat jantungnya berdetak dengan kencang. Samir melihatnya dengan jelas. Begitu kejam pikirnya dalam hati. Samir menangis, melihat adiknya yang tak berdaya tergeletak dilantai. Sementara itu saudara-saudara lainnya hanya melihat dengan keheranan. Tak seorang pun yang berani untuk memisahkan perkara itu.
“sumpah muk, itu bukan punya apung. Apung tidak pernah memakai barang seperti itu”
Prruukkk
Laki-laki itu kembali memukul adiknya yang terbaring lemah itu. Seketika samir berlari mendekati adiknya yang terus dipukul.
“muk. Sudah. Kesihan apung”
“awas. Jangan ikut campur.”
“tidak muk. Cukup. Kesihan apung” sebut samir
Mendengar itu, laki-laki yang marah itu sejenak terdiam. Lalu melihat ke arah samir yang berdiri disampingnya.
“kesihan? Lihat ini. Dia memakai barang haram ini, masih juga kamu membela dia?”
“muk. Jangan menyimpulkan dulu. Belum tentu apung menggunakan barang itu”
“apanya. Sudah terbutkti barang ini ada dibajunya”
“iya muk. Bisa saja kan temannya iseng bercanda meletakkan barang itu disaku apung dan lupa mengambilnya lagi”
“muk bukan orang bodoh. Muk tahu dia pemakai barang itu”
Samir terdiam. Laki-laki yang marah itu pun terdiam. Apung hanya menangis dalam kesakitannya.
“masuk” sebut abangnya
“tidak” jawab samir
Laki-laki itu melihat samir. Matanya membesar bibirnya bergetar kecil. Wajahnya semakin memerah. Tangannya dingin, bagaikan embun pagi yang turun ke bumi. Samir melihat itu. Abangnya marah, namun ia tidak menghiraukan semua karena ia ingin melindungi diri adiknya.
“menjawab”
“muk. Tidak bisahkan kita selesaikan masalah ini dengan baik. Tidak perlu dengan kekerasan. Kesihan apung”
“tidak. Ini akibatnya kalau mendidik dengan lemah. Dia akan melunjak. Menginjak-injak kepala kita”
“kalau muk tidak percaya dengan apung, apung bersedia tes urine. Apung berani. Kalau apung tidak pernah menggunakan barang itu”
Seketika mendengar itu, Mata laki-laki itu semakin membesar. Digenggam tangannya dengan erat. Dengan cepat genggaman itu dilayangkan kearah adiknya yang menangis itu. Melihat itu samir tak diam diri ia berlari mendekati adiknya untuk melindungi diri adiknya dari pukulan itu. Samir pun terkena pukulan itu.
“kakak” sebut laki-laki yang menangis itu
Laki-laki itu tak henti-hentinya memukul samir. Samir memeluk adiknya dengan erat ia mencoba untuk melindungi setiap tubuhnya agar tidak terkena pukulan itu. Samir merasa pusing, karena kepalanya terkena pukulan itu. Penglihatannya tak jelas. Hampir-hampir ia terjatuh, namun hatinya berkata ia harus kuat untuk melindungi adiknya. Sementara itu, saudaranya yang lain melihatnya dengan rasa tak kesihan. Sekali-kali bibirnya tersenyum melihat samir disiksa seakan binatang yang disembelih.
“muk tidak pernah mendidik adik muk untuk menjadi orang jahat. Muk ingin adik-adik muk menjadi orang-orang yang baik”
“sudah cukup muk” sebut samir
“apa, cukup apa. Salah sendiri membela orang yang salah”
“cukup muk. Sakit muk” samir merintih
Melihat samir yang semakin lemah, laki-lai itu pun menyudahi siksaan itu. Lalu meninggalkan kedua pemuda yang menangis tak berdaya itu.
“apung. Apung tidak apa-apa?” tanya samir dengan wajah yang khawatir
“tidak kak. Apung tidak apa-apa”
“wajah apung merah”
Samir semakin menjadi-jadi. Tangisannya pecah, ingin rasanya ia teriak. Ingin rasanya ia memukul balik saudaranya itu. Ingin rasanya ia lari bersama adiknya untuk mengadu hal tersebut dengan malaikat pelindungnya yang jauh di tanah jawa. Namun hatinya tak berdaya. Raganya yang lemah. Batinnya tergoncang dengan hebat.
“kakak tidak apa-apa?” tanya adiknya
Laki-laki yang menangis itu tidak menjawab tak kuasa rupanya ia untuk berkata-kata samir hanya menganggukkan kepalanya. Lalu adiknya memeluk samir dengan erat. Dalam tangisan itu adiknya merasa nyaman dan tenang dikala dipelukan sang kakak.
“maafkan apung kak, karena apung. Kakak kena pukul sama muk” sebut adiknya.
Ya tuhan, betapa malangnya nasib laki-laki itu. Laki-laki yang tak beruntung. Selalu dikucilkan keluarganya sendiri. Samir mencium  kepala adiknya dengan penuh kasih sayang.
Dalam kamar, terdengar dua bersaudara itu berbincang-bincang. Adiknya yang selalu menyesali kakaknya yang terkena pukul karenanya. Samir yang duduk termnenung tak hayalnya melihat-lihat suasana kamar. Matanya kosong tak dapat terlukiskan suasa hatinya saat ini. Sekali-kali ia melihat adiknya yang tertidur itu. Apung adiknya mendekati dan duduk disamping samir yang termenung itu.
“kak, apung minta maaf”
Samir tersenyum mendengar itu. Lalu ia duduk lebih dekat dengan adiknya, samir kembali tersenyum melihat adiknya yang tampak menahan rasa sakit karena pukulan abangnya.
“maaf untuk apa?” tanya samir
“apung,...” sebut adiknya patah-patah “kakak marah sama apung ya?” tanya adiknya kembali
“iya, kakak marah”
“tapi apung, tidak...”
“lain kali kalau mau tidur ditempat teman apung, izin dulu. Biar muk, abang tidak khawatir”
“kakak percaya kan sama apung. Kalau apung tidak pemakai barang haram itu?”
“menurut apung?” tanya samir
“tidak tahu... tapi sumpah kak. Apung tidak memakai barang itu”
Samir tersenyum mendengar perkataan adiknya, dilihat mata adiknya yang begitu serius. Seakan ia merasa bersalah.
“iya, kakak percaya”
“kakak tidak bohong?”
“apung. Kakak hidup sama apung sudah lama. Begitu pun dengan apung. Kakak tahu saat adik kakak berbohong atau tidak. Mulut kita bisa berbohong tapi mata dan hati tidak bisa kita bohongi. Disaat apung tadi dipukul sama muk, kenapa kakak melindungi apung? Karena kakak tahu apung tidak memakai barang haram itu, karena kakak tahu apung sudah jujur tidak berbohong. Kalau saja tadi apung berbohong, kakak juga tidak akan membela apung”
“maafkan apung kak. Karena apung kakak sakit-sakit dipukul”
“sakit ini tidaklah ada arti dibandingkan dengan sebuah kejujuran. Kakak rela sakit, kakak rela terluka untuk membela orang yang jujur. Bagi kakak, kejujuran apung sudah menjadi obat bagi kakak”
“kak pecaya sama apung, tapi muk saja tidak percaya”
“apung. Muk tadi hanya emosi. Muk terlalu khawatir sama apung, muk tidak ingin apung terkena sesuatu yang buruk, muk tidak bermaksud untuk menyakiti apung dan kakak. Memangnya apung tadi dari mana sampai pulang malam begini?” 
“ha. Apung, tadi kerumah riski teman basket apung. Apung ketiduran, setelah apung bangun sudah malam. hp apung mati. Jadi apung tidak bisa kasih kabar”
“kenapa tidak nginap saja. Pulang jam segini kan bahaya”
“nginap? Kalau nginap habis apung sama muk. Pulang jam segini saja dimarah. Apalagi nginap”
“kan kalau apung beritahu, muk tidak akan marah”
“maafkan apung kakak”
Tangisan dua saudara itu terdengar begitu haru. Dalam pelukan yang penuh keihlasan itu samir mengusapkan kepala adiknya dengan pelan. Matanya yang berlinang air mata selalu melihat kedinding yang terpajang foto almarhum orang tuanya. Samir laki-laki yang malang itu mencoba untuk menghiburkan dirinya dengan melihat foto orang tuanya karena telah melahirkan anak-anak yang hebat. Namun semakin dipandang matanya semakin berderai air mata. Angin sepoi pagi nan buta sekali menemani percakapan dua anak adam yang bersaudara itu. Remang lampu kamar terpancar dengan indahnya.


KABAR DARI PAK DEKAN
K

eceriaan canda dan tawa terlukis dengan jelas atmosfer dikala samir berada di kampusnya. Amar pemuda yang tampan itu selalu mendampingi setiap langkah dan nafasnya. Hawa kampus siang itu sangat panas, terik matahari sangat terasa membakar dikulit. Hari itu sangat ditunggu-tunggu oleh samir pemuda yang berjalan itu karena hari ini pak dekan akan memberitahu pemenang sayembara menulis itu. Dua bulan setelah pemberian tulisannya yang berjudul “mentari yang kelam”pak dekan begitu bersemangat dengan tulisannya. Sangat haru membiru, hati bagai tertusuk sembilu ketika membaca tulisan samir yang begitu indah dengan kata-kata yang sangat cantik dan halus. Dua pemuda itu terus menyusuri alun-alun kampus menuju ruang pak dekan. Hari ini pak dekan telah berjanji akan menemui samir di ruangannya.
“bagaimana siap tidak menerima kabar itu?” sebut amar
“ya, aku tidak tahu. Kalau lolos syukur kalau tidak ya sudah belum rezeki. Lagi pula aku harap tidak lolos”
“loh. kok gitu. Aku yakin kamu pasti lolos, lagian tulis seindah itu tidak lolos”
Terdengar dua pemuda yang berjalan itu bercakap-cakap, hati samir tak menentu rasa penasaran yang dalam membuatnya segera berjalan dengan begitu cepat ke ruang pak dekan untuk mendengar berita yang akan disampaikan oleh pak dekan. Dua menit setelah berjalan yang menuju keruang pak dekan akhirnya pemuda itu sampai juga. Pak dekan dari tadi telah menunggunya. Lalu pemuda itu masuk ke dalam ruangan yang besar itu.
“samir, amar? Masuk” sebut pak dekan yang tengah menulis
“ya pak” sebut amar
“duduk”
Hawa panas sangat terasa hingga ke dalam ruang dekan, samir terlihat hanya diam tak bersuara. Sekali-kali ia melihat isi ruang pak dekan yang sedikit berubah.
“mengapa? Terlihat berubah?” tanya pak dekan
Samir tak menjawab. Ia hanya menganggukkan kepalanya, dia diam seribu bahasa. Sungguh tingkahnya begitu tak menentu. Hatinya tak tertahan lagi. Pak dekan telah membuatnya diam seribu kata.
“bapak mohon maaf samir. Bapak tidak tahu harus mulai dari mana mengatakan ini” sebut dekan yang duduk dihadapan kedua pemuda itu
“maksud bapak. Samir tidak lolos?” tanya amar penasaran
Lalu pak dekan berdiri dan melangkah membelakangi pemuda yang duduk itu.
“entahlah. Bapak serba salah harus mengatakan hal ini”
“katakan saja pak. Tidak apa-apa. Saya akan terima apa yang bapak katakan” sebut samir dengan wajah yang tak menentu
Sesaat suasa ruang sunyi tak terdengar suara yang keluar dari pak dekan maupun kedua pemuda itu, pak dekan telah membuat amar dan samir penasaran. Hal ini telah membuat jiwa samir bergejolak hatinya tak menentu. Sikapnya berubah sekali-kali ia melihat ke arah amar yang duduk di sampingnya.
“dua hari yang lalu bapak terima kabar ini dari pak rektor. Ada sekitar 700 orang yang mengikuti sayembara itu. dari berbagai kalangan, ada yang penulis profesional, guru, dosen bahkan artis pun ikut dalam sayembara itu. dari  sekian banyak penulis yang ikut sayembara hanya ada satu pemenang. Dan sebenarnya bapak sangat berat harus mengatakan ini padamu” jelas pak dekan
Dua pemuda itu tak bersuara hanya mendengar penjelasan pak dekan yang berdiri didepan mereka. Lalu pak dekan membalikkan badannya dan melihat ke arah samir dan amar. Pemuda itu melihatnya dengan heran, mengapa pak dekan melihat dengan wajah seperti itu? sebut amar didalam hatinya. Samir terdiam mendengarkan ucapan pak dekan. Dari ucapan pak dekan ia telah tahu arti dari ucapannya, wajah samir terlihat lesu. Senyum dibibirnya menghilang hanya terlihat wajah yang cemberut masam. Ia tak hayalnya menundukkan kepalanya.
“pak, jangan membuat kami penasaran. Apakah samir lolos dari sembayara itu?” tanya amar tergopoh-gopoh
“apakah dari ucapan saya tadi kalian tidak mengerti?” sebut pak dekan
“tapi pak..”
“amar, sudah. Terima saja kekalahan ini”
“tidak bisa mir, tulisan seindah itu tidak lolos?”
“sudah lah. Aku tidak apa-apa”
Sementara itu pak dekan melihat pergaulan anak pemuda yang duduk di depannya itu. samir yang begitu sabar menerima keputusan itu, kabar dari pak dekan tidak membuatnya kecil hati, terlihat bibirnya senyum kecil, memberikan isyarat bahwa ia menerima semua kabar yang disampaikan. Sementara itu amar yang duduk disampingnya begitu emosi dengan keputusan itu, ia merasa kabar itu tak adil bagi samir.
“ayo kita keluar” sebut samir dengan suara sedikit lesu
“kita keluar dulu pak” sebut amar
Sekian kalinya pak dekan melihat dua pemuda itu bertingkah aneh. Dengan jelas pula pak dekan melihat langkah dua pemuda itu melangkah menuju pintu keluar, langkah sepatu yang terdengar dengan jelas membuat telinga pak dekan sekian bising, dan beberapa langkah sebelum dari pintu langkah mereka terhenti.
“tunggu, ini ada surat dari pak rektor untuk kamu samir” sebut pak dekan
Mendengar itu samir dan amar seketika membalikkan badanya. Ia melihat dengan jelas amplop putih diatas meja pak dekan. Amar melihat wajah pak dekan berubah seketika, matanya sedikit berkaca. Lalu pemuda itu mendekat pak dekan yang mulai menangis,
“bapak, menangis?” tanya amar
Pak dekan tak menjawab, ia hanya menangis. Sikap pak dekan membuat pemuda itu semakin penasaran dengan isi surat itu.
“tidak, bapak tidak apa-apa. Kalian bisa membacanya sendiri” seru pak dekan
Lalu amar mengambil amplop putih dari meja pak dekan dan segera membaca isi surat itu. ia membuka dengan cepat. Rasa penasaran tak terbendungi dalam hatinya. Sementara itu samir hanya heran dan tak mengerti dengan sikapa pak dekan yang tiba-tiba menangis. Amar begitu khusuk membaca surat itu, alangkah sukanya hati amar membaca itu. dilihatnya samir yang berdirinya disampingnya itu, sekali-kali ia melihat ke arah pak dekan. Matanya berkaca, wajahnya tak dapat dilukiskan.
“samir” sebutnya
“ada apa mar?” sebutnya penasaran “apa yang terjadi?”
Sesaat amar terdiam, air amtanya mengalir, amar menangis. Samir semakin tak mengerti dengan sikap amar, dilihatnya dengan jelas wajah sahabatnya itu wajah yang penuh penasaran. Lalu amar melihat ke arah samir yang berwajah penuh tanda tanya itu. sesaat amar melihatnya, terjatuh sudah air matanya, lalu amar memeluk samir dengan erat hingga samir tak dapat bernafas.
“amar, kenapa? Apa yang terjadi”
“kamu lolos mir. Kamu menang dalam sayembara itu”
Alangkah sukanya hati samir mendengar ucapan amar yang menangis itu, lalu samir membaca surat itu untuk memastikan kebenaran ucapan sahabatnya itu. setelah membacanya tiba-tiba samir bergetar, tangannya dingin tubuhnya lemah, tabuhnya berubah tak menentu. Matanya membesar tak dapat melukiskan perasaannya. Hatinya terus bergejolak hingga membuatnya terhempas duduk di kursi. Sungguh kabar itu membuatnya lemah. Sekali-kali ia melihat amar. Lalu pak dekan menghampirinya
“kamu menang. Kamu hebat. Kamu pahlawan bapak” ucapnya
Samir tak bersuara, dia hanyut dalam kesenangan, pak dekan berhasil membuat penasaran kedua pemuda itu.
“surat ini tidak bohong kan pak?” tanya samir tergopoh-gopoh
“tidak, itu benar” sebut laki-laki paruh baya itu
“kamu menang mir?” ucap amar penuh bangga
“ya allah, terima kasih” ucapnya
Samir menangis dalam keharuan sekian kalinya amar memeluk samir yang duduk itu. sekali-kali pak dekan memeluk asistennya itu. kabar baik itu sangat enak didengar oleh pemuda itu, namun samir termenung, ia ragu untuk menerima tawaran ini. Seketika senyum dan tawa dalam bibirnya menghilang, amar dan pak dekan pun melihatnya dengan penuh tanda tanya.
“kenapa? Kamu tidak suka kemenanganmu ini?” tanya haru pak dekan
“tidak pak. Saya masih bimbang, bila saya menerima tawaran ini saya akan meninggalkan keluarga saya”
“samir. Ini kesempatan bagus untuk kamu. Jangan kamu tolak, ini usaha kamu. Kamu jangan menghawatirkan keluarga kamu. Pikirkan masa depan kamu”
“tapi mar. Aku tidak bisa meninggalkan keluarga aku. Adik-adik aku masih membutuhkan aku”
“keluarga kamu banyak samir. Dia bisa tinggal sama abang kamu. Kamu harus membuktikan kepada abang kamu kalau kamu bisa hidup mandiri dengan tulisan kamu, selama ini mereka meremehkan kamu kan, mereka mengecilkan kamu kalau menulis itu tidak ada gunanya. Sekarang saatnya kamu tunjukkan kepada mereka kalau kamu itu orang yang hebat”
Hati samir gundah dan gelisah. Pikirannya tak menentu. Hatinya bimbang untuk menerima tawaran itu. ia amat menyayangi keluarganya namun ia juga ingin mengejar cita-citanya untuk menjadi penyair terkenal. Samir memang tak bisa memberi jawaban pikirannya hanya teringat kepada adik-adiknya bila ia meninggalkannya.
“itu kesempatan kamu mir” ucap dekan yang berbahagia itu “bapak tidak memaksakan kamu untuk menerima atau tidak tawaran itu. ini adalah kesempatan yang baik untuk kamu. hidup adalah pilihan, kamu harus memilih diantara yang terpenting dalam hidup kamu. kesempatan tidak datang untuk kedua kalinya. Pikir saja kesempatan ini”
Samir termenung. Meratap dalam keraguan, hatinya bergejolak penuh dengan keraguan. Matanya merah. Sekali-kali ia menengok ke atas untuk mencari jawabannya, namun hatinya tetap dalam keraguan itu. sementara itu amar melihatnya dalam was-was, ia ingin yang terbaik untuk sahabatnya.
“bapak tunggu jawabannya satu minggu lagi. Bila kamu bersedia secapatnya kita akan menandatangani kontrak dengan editor percetakan itu. bapak beri kamu waktu untuk berpikir”
Dalam ruangan itu samir semakin tak menentu, pikirannya kacau, hatinya gundah, tubuhnya terasa lemah. Didesak harus menerima tawaran itu namun ia juga tak ingin meninggalkan keluarganya. Sungguh kabar pak dekan itu membuatnya gundah.
Diskusi itu tak berhenti dalam ruang pak dekan. Dibawah pohon besar dibelakang kampus samir dan pemuda yang setia bersamanya itu duduk dengan suasana hati yang kacau tak menentu. Samir yang memegang amplop itu terus menerus membacanya. Kesempatan yang sangat baik untu dirinya. Dibawah pohon itu terdengar percakapan kedua pemuda yang dalam keraguan itu.
“jadi kamu mau menolak tawaran itu?” tanya amar singkat
“entahlah. Aku tidak tahu”
“kamu sudah bersusah payah membuat buku itu, siang malam kamu tidak tidur untuk mengikuti sayembara itu, lalu tiba-tiba kabar baik itu datang. Lalu kamu menolaknya?”
Samir tak bersuara. Ia hanya mendengar pemuda yang disampingnya itu bercakap seorang diri.
“aku tidak mengerti apa yang ada dipikiran kamu?” sambungnya
“aku masih ragu harus menerima ini”
“apa yang kamu ragukan lagi? Adikmu? Saudara kamu banyak samir, biar saudara kamu yang menjaganya”
“tidak bisa mar, aku takut jauh dari mereka”
“jangan lemah seperti ini mir. Kamu itu jangan menjadi orang bodoh. Jangan rasa ragu itu menggerogoti pikiran kamu”
“kamu tak tahu mar”
“sudahlah. Kamu terima saja tawaran itu, kamu harus keluar dari rumah itu. biar kamu tidak terbelenggu dalam siksaan yang terus menerus menyakiti dirimu?”
“bukan itu saja mar, masih banyak yang aku pertimbangkan?”
“apa? Rumah kamu? abang-abang kamu? mereka itu sudah tidak memperdulikan kamu samir. Mereka sudah tidak pernah menganggap kamu di rumah itu” sebutnya lalu “nanti kalau kamu tidak berani untuk mengatakan hal ini, biar saya yang mengatakan kepada abang-abang kamu”
“jangan, nanti biar aku sendiri saja”
Samir terdiam. Sungguh keraguan itu telah memakan hatinya hingga habis. Hati nurani yang bersih itu tidak dapat ia pergunakan. Matanya tak bercahaya. Tak terlukiskan kebijaksanaan seperti biasanya.
“sudahlah mir. Inilah saatnya. Masa depan kamu ada pada dirimu sendiri, bukan orang lain. Kesempatan ini hanya datang sekali. Pikir saja sendiri yang terbaik untuk diri kamu sendiri”


PERSEKONGKOLAN RAHMAT DAN WANITA PENGGODA
P

erjalanan samir begitu panjang, didalam rumah yang anggun itu samir duduk menyendiri disudut rumah, tempat biasa jika ia ada masalah atau pun ia rindu akan malaikatnya yang telah tiada. Samir yang duduk terbelenggu bagaikan burung gagak yang tak menentu arah. Rasa bimbang akan tawaran pak dekan masih menyelimuti pikiran dan hatinya. Kabar dari pak dekan sungguh membuatnya terlena dalam kalbu yang bimbang. Malam yang gelap menemani hati samir yang gundah, bintang yang bersinar seakan tertawa melihat tingkah samir yang duduk seperti orang yang tak punya pikiran. Matanya yang kosong menerawang ke langit yang gelap tak bersinar seakan mencari petunjuk untuk rasa bimbang itu. Rasa bimbang yang menyelimuti hatinya begitu dalam, matanya yang termenung membuatnya terbuai dalam pikirannya yang ksong hingga ia tidak menyadari kedatangan adiknya rahmat.
“samir?” sebutnya
Samir tak jua mendengar ucapan adiknya. Laki-laki itu semakin termenung dalam pikirannya yang dalam. Rahmat adiknya melihat dengan aneh tak mengerti dengan tingkah samir yang duduk tak menanggapi ucapannya.
“samir?” ucapnya kembali
Mendengar ucapan itu samir terbangun dari belenggu yang merenggut pikirannya. Dilihatnya laki-laki yang duduk disampingnya itu. aconk? Pikirnya. Mengapa dia disini, apa yang dia ingin lakukan? Sebutkan dalam hati. Samir melihat itu dengan heran dan rasa takut. Hatinya tak tenang rasa gelisah tampak dengan jelas darinya, rasa takut akan terjadi padanya.
“aconk?” sebut samir heran
Pemuda itu melihat kesamir yang duduk tak mengerti itu. pemuda itu tersenyum kecil, alangkah bahagianya hati samir melihat itu. tak seperti biasanya pemuda itu duduk dan tersenyum pada samir.
“besok kamu banyak kerjaan tidak?” tanya pemuda itu kembali
“tidak, ada apa?”
“aku minta tolong. Bisa?”
“minta tolong apa?”
“besok aku ada janji sama teman aku. Dia dari jakarta Kita ketemuannya di hotel prima abadi, aku mau kamu menemani aku untuk menemuinya, bisa?”
Alangkah sukanya hati samir mendengar berita itu. kabar itu seakan menenangkan jiwanya. Rasa tak percaya membuatnya selalu tersenyum kepada pemuda di hadapannya itu. dilihat pemuda itu, sungguh tenang dan lembut sebutnya. Pemuda itu memang terlihat sangat dingin, sikapnya yang lembut membuat samir begitu bahagia. Sesaat samir termenung, ya tuhan terima kasih anugerahmu telah meluluhkan hatinya, sebut samir.
“mengapa harus kakak?” tanya samir yang berbahagia itu
“lalu, siapa lagi? Abang tidak bisa, jadwal kuliahnya penuh sampai sore. Muk kerja. Mas alan sibuk dengan laptopnya”
“jam berapa?”
“sekitar jam 2 an”
“tidak bisa conk. Kakak takut nanti kakak hanya bisa membuat aconk malu disana?”
“justru itu. kalau tidak kamu aku tidak sanggup untuk meladeninya?”
“kenapa?”
“dia itu orang pintar, bahasa inggrisnya bagus. Pemikirannya panjang, aku tidak bisa menyeimbanginya”
“lalu?”
“kamu kan pintar, asisten dosen. Ya, otak kalian tidak jauh beda, kalau berbicara pasti nyambung. Dia itu sukanya berbicara masalah sosial. Kan kamu suka gituan?”
Samir termenung. Kabar itu seakan menghentak-hentakkan hatinya. Kabar dari aconk itu lebih dia suka dari pada  kabar dari pak dekan tempo hari. Rasa takut seketika menghilang dari hati samir. Hanya ketenangan dan kesejukan jiwa yang terasa. Samir tersenyum. Tak pernah dipercayai olehnya seorang pemuda yang duduk disampingnya itu adalah rahmat adiknya yang selama ini menyiksa dirinya bersama keluarganya yang lain. Rasa benci yang sempat datang karena perilakunya pada samir hilang seketika dari dalam pikiran samir. Kini rasa sayang dan cinta terlihat dimatanya yang bercahaya itu.
“kalau jam 2 kakak belum sampai dirumah”
“aku jemput kamu dikampus. Kita pergi sama-sama”
Ucapan pemuda itu sungguh enak didengar olehnya. Begitulah yang ia inginkan selama ini, bisa diantar dan dijemput sama pemuda itu. yang mana ia dulu rasakan saat ayahnya masih hidup.
“tapi..” ucap samir
“tapi apa. Kamu jangan khawatir, aku tidak akan berbuat apa-apa sama kamu jangan takut” kata pemuda itu lalu “tapi kalau kamu tidak bisa, juga tidak apa-apa. Nanti aku sendiri saja yang menemuinya”
“insyallah, kakak usahakan” kata samir
“serius? Ok. Besok aku akan jemput kamu dikampus.”
“iya”
Lalu pemuda itu melarikan diri dari hadapan samir. Kini tinggallah samir seorang diri. Rasa bahagia tak terbendungi olehnya. Senyum selalu terlihat dibibirnya. Langit malam pun tersenyum melihat tingkah laki-laki yang bebahagia itu. matanya bercahaya, terlukis suka cita yang sangat dalam. Ingin rasanya laki-laki itu memberitahu berita ini pada sahabatnya amar. Ingin rasanya ia berlari dan memeluk rahmat adiknya itu. sungguh rasa bimbang kabar pak dekan seketika  menghilang mendengar kabar dari rahmat adiknya itu.
Lalu samir pun melangkah dan ingin segera menyampaikan berita baik itu kepada adiknya rivandi yang tengah duduk menulis tugas sekolahnya. Adiknya melihat dengan heran, tingkah samir begitu aneh. Sekali-kali pemuda yang menulis itu melihat senyum dibibir kakaknya.
“ada apa kak? Habis berbicara sama mas toh?” tanya adiknya
Samir hanya tersenyum lepas bila ia dekat dengan malaikat penggi ayahnya, atau samir selesai berbicara lewat tepon dengan masnya yang jauh di tanah jawa.
“tidak”
“lalu?”
“tidak apa-apa, kakak lagi senang saja”
“iya, ada apa? Apa yang membuat kakak senang. Tak seperti biasanya kakak tersenyum lepas seperti itu. terakhir apung lihat kakak tersenyum seperti itu beberapa bulan yang lalu saat mas dimas kesini? Ada apa toh kak. Cerita sama apung, jangan buat apung penasaran”
“kakak besok mau pergi, mau bertemu sama seseorang”
Rivandi adiknya semakin tak mengerti yang diucapkan oleh samir. Dilihatnya kembali kakaknya yang terhentinya tersenyum.
“siapa?”
“anak jakarta”
“wah. Cewek atau cowok?”
“cewek”
“kekasih kakak ya?”
Rivandi seakan membuang rasa penasarannya. Ia selalu bertanya pada pemuda itu. rivandi mendekati kakaknya yang merabahkan tubuhnya diatas kasur yang begitu lembut seperti kapas putih. Ia ingin tahu lebih dalam perempuan yang ingin berjumpa pada kakaknya.
“kekasih. Bukan. Kakak saja belum tahu orangnya”
“ha, jadi kakak belum pernah bertemu sama dia?”
“belum”
“bagaimana sih kak. Mau janjian bertemu sama orang yang belum kenal. Lebih baik tidak usah kak, nanti kakak ditipunya”
“apung, jangan berburuk sangka dulu. Kakak perginya tidak sendirian”
“sama siapa? Bang amar?”
“tidak”
“lalu”
“sama aconk”
“aconk?” sebut kembali rivandi
Mendengar itu rivandi melihat pemuda itu tak enak, matanya seolah mengatakan bahwa pertemuan itu adalah bohong. ini adalah skenario yang dibuat oleh rahmat untuk menjatuhkan kakak sebutnya dalam hati. Melihat wajah adiknya berubah, samir pun heran, senyum dibibirnya menghilang. Ia dapat melihat kekecewaan pada adiknya.
“jangan kak. Lebih baik kakak batalkan pertemuan itu”
“kenapa?”
“kenapa? Kakak tanya kenapa?” sebutnya sesaat ia tertawa kecil “kak, aconk hanya memanfaatkan kakak, kita tidak tahu dibalik pertemuan itu. setelah itu kakak yang menjadi korban”
Rivandi dengan tegas mengatakan hal itu pada kakaknya. Matanya terlukis rasa khawatir. Terlihat pula rasa kecewa pada samir.
“apung”
Rivandi berdiri, ia mejauh dari samir beberapa langkah. Ia tak melihat kakaknya, ia berpaling dari kakaknya. Dilihatnya seisi kamar itu, entah apa yang ia lihat.
“tidak. Kakak percaya sama aconk. Aconk sudah janji sama kakak, tidak akan menyakiti kakak”
“lalu kakak percaya?” sebutnya
“percaya sama saudara sendiri tidak salah kan”
“ha, terserah kakak. Apung Cuma bisa menasihati kakak. Pesan apung. Hati-hati”
Lalu kemudian rivandi pemuda itu melarikan diri dari hadapan samir dan melanjutkan menulisnya yang sempat terhenti karena rasa penasaran pada sosok perempuan itu. melihat tingkah adiknya, samir seolah merasa bersalah. Ia mendekati pemuda yang menulis itu, dipeluknya tubuh adiknya itu dari belakang dengan lembut. Dekapan itu sungguh membuat adiknya merasa nyaman dan tenang serasa dipeluk oleh malaikatnya yang  telah telah pergi jauh dan tak akan kembali. Samir dengan pelan dan perlahan menenangkan hati adiknya yang tak elok itu. dengan lembut ia berkata
“apung, kakak tahu apung khawatir sama kakak. Kakak juga sayang sama apung. Aconk adalah adik kakak, kakak percaya sama aconk, tidak akan menyakiti kakak. Kakak tahu apung berbicara seperti itu, karena apung selalu melihat kakak disakiti oleh aconk. Kali ini firasat kakak mengatakan berbeda”
“bagaimana firasat kakak itu salah?”
Sesaat samir terdiam, dia tak tahu harus mengatakan apa. Jantungnya berdetak. Tubuhnya serasa panas dingin.
“apung. Apung kan tahu, sejak kepergian ayah dan bunda, muk, aconk, abang, dan mas alan. Tidak pernah berbicara sama kakak. Mereka tak sudih bertatap mata sama kakak. Kakak rindu akan kebersamaan seperti dulu saat ayah dan bunda masih hidup. Dua tahun kakak menunggu kebersamaan itu. dan kini tuhan memberi kesempatan kepada kakak untuk sesaat bersama aconk. Walaupun tidak bisa seperti dulu tapi ini sudah membayar rasa rindu hati kakak ”
“tapi kak”
“sudahlah, hilangkanlah pikiran buruk apung itu. do’akan saja besok kakak bisa lancar pertemuan sama perempuan itu”
Hati adiknya tak pernah tenang. Rasa takut pada kakaknya masih bersarang dipikirannya. Sungguh berat rasanya ia melepaskan kakaknya untuk bertemu wanita misterius itu. rivandi percaya akan firasat kakaknya itu. rasa tenang dan nyaman didekapan kakaknya membuat dirinya begitu layu mengikuti perintah sang matahari hidupnya.
Mentari pagi begitu indah, begitu menawan memancarkan sinarnya. Diufuk tikur terlihat dengan jelas langit yang begitu jernih bersinar awan putih bersih menggambarkan pagi yang cerah. Pagi yang cerah menggambarkan perasaan hati samir. Pagi itu begitu indah bagi laki-lai yang duduk dihalte itu. senyum tak pernah hilang dari bibir kecilnya. Hari ini ia akan pergi bersama adiknya rahmat. Alangkah bahagiannya hati laki-laki itu dapat bernstalgia bersama adiknya. Tak kuasa hatinya untuk segera memberi kabar baik itu kepada sahabatnya amar.
Amar pemuda itu tak terlihat dimata samir ketika ia tiba di kelas. Hanya terlihat beberapa temannya yang asik bercangkraman dengan temannya yang lain. Pagi itu panas terik matahari sangat membakar ubun-ubun. Terasa kulit terbakar karena cahayanya yang begitu cerah, namun kebahagiaan hati samir dapat menghalang panasnya matahari yang terasa panas dikulit. Tak hayalnya laki-laki itu tersenyum dilihatnya suasana kelas, tak terlihat juga olehnya pemuda yang ia cari itu. tak sabar hatinya untuk memberi tahu kepada pemuda itu perasaan hatinya. Beberapa saat ia menunggu, akhirnya ia dapat juga melihat pemuda yang ia tunggu selama ini.
“amar” sebutnya
Amar pemuda itu melihatnya dnegan heran, alis matanya mengangkat ke atas, ia melihatnya dengan tak mengerti, tingkah samir begitu aneh.
“kamu baik?” tanyanya
“iya, aku baik”
“tumben duluan menyapa, biasanya aku. Kamu aneh senyum-senyum sendirian?”
“aku lagi senang.”
“ada apa? Kamu sudah setuju dengan penawaran media percetakan itu?” sebutnya
Seketika samir tak bersemangat mendengar ucapan sahabatnya. Ia tak ingin sejenak untuk memikirkan persoalan penawaran itu. hatinya sudah bulat untuk menolak tawaran itu. ia ingin bersama-sama saudaranya. Kini adiknya telah berubah pikiran untuk menerima tawaran itu.
“cukup mar. Aku tidak bersemangat untuk membahas itu”
“lalu apa?”
“nanti aku mau bertemu dengan seorang perempuan”
“ha. Perempuan?” tanya amar tak percaya
“iya, perempuan. Kenapa Ada yang aneh?”
“tidak sih, tapi tumben kamu ingin bertemu sama perempuan. Biasanya...”
“dia teman aconk. Aconk mau bertemu dengannya bersama aku”
Mendengar itu amar sedikit terkejut. Jantungnya terasa berhenti berdetak.
“aconk” sebutnya
“iya”
“kamu yakin?”
“pertanyaan kamu sama persis seperti apung adikku. Memang ada yang aneh, kalau aconk mengajak aku untuk menemui temannya?”
“ya aneh. Tidak ada api toh tiba-tiba ada asap. Samir kamu jangan ikut maunya, mungkin dia Cuma mau permainkan kamu saja.”
“amar, percaya sama aku. Aconk tidak apa-apain aku. Dia juga sudah janji sama aku tidak jahilli aku”
“samir, kamu jangan terlena dengan rayuan dia. Apa kamu tahu perempuan itu? apa kamu penah bertemu dengan dia sebelumnya?”
“belum”
“samir, lebih baik kamu tolak ajakan aconk. Dimana kalian mau bertemu?”
“hotel prima abadi”
“ha. Samir. Lebih baik kamu jangan pergi, apalagi bertemu dihotel”
“mengapa?”
“kamu tidak tahu itu hotel apa?”
“tidak”
“ah, sudahlah. Percuma saja aku jelasin sama kamu, kamu juga tidak mengerti”
Amar begitu benci mendengar ucapan samir. Samir begitu polos dengan mudah diajak oleh adiknya. Sikap amar berubah setelah mendengar perkataan samir. Senyum dibibirnya tersimpan dibalik bibir merahnya. Samir melihat perubahan siap amar, Sikap amar begitu serupa dengan sikap adiknya rivandi ketika samir mengatakan hal yang sama.
“amar”panggilnya
Namun laki-laki itu pun tak melihat kearah samir. Ia memandang keluar, tak sudih rasanya ia mendengar ucapan sahabatnya itu, sementara itu samir merayu untuk melihatnya dan memberikan penjelasan.
“amar. Dengarkan aku dulu”
“kamu itu sungguh polos samir. Kamu itu dengan  mudah dirayu oleh musuhmu, karena kamu itu memiliki hati yang berbeda tidak tahu mana yang baik untuk kamu dan mana yang tidak baik untukmu”
“apa maksudmu?”
“aconk hanya memanfaatkan kamu”
“tidak amar. Aconk....”
“itu, sikap kamu itu sungguh polos, tidak pernah menelaah lebih jauh. Kamu tahu kan adik kamu itu selama ini bersikap sama kamu? jangan kamu pikir dia mengajak kamu bertemu sama perempuan itu sikapnya sudah berubah? Tidak samir. Kamu salah”
“amar. Percaya sama aku. Aku yakin dia tidak akan melakukan apa-apa”
“ha, bodoh. Percaya sama laki-laki bajingan seperti itu”
Mendengar ucapan amar, seketika samir tak percaya, matanya membesar, hatinya serasa disayat sembilu. Hinaan itu seperti bom atom yang meledak ditelinganya.
“amar, jaga mulut kamu. kamu tidak berhak mengatakan seperti itu. kamu juga tidak berhak melarang aku untuk bertemu dengan siapa saja. Itu hak aku. Kamu jangan ikut campur, aku akan terima resikonya” ucap samir
Samir terlihat marah, wajahnya berubah menjadi merah. Aliran darahnya begitu cepat mengalir, detak jantungnya semakin cepat. Amar pemuda itu terdiam dalam emosi. Ingin rasanya ia memukul laki-laki yang berdiri dibelakangnya itu, karena kebodohannya untuk melewati jurang yang curam.
“resiko. Apa kamu tahu resikonya nanti. Ha. Aku memang tak berhak melarang kamu untuk bertemu dengan siapa pun. Itu hak kamu, aku hanya memberi peringatan kepadamu, kalau laki-laki yang mengajakmu itu adalah laki-laki bajingan. Tidak lebih dari seorang banci”
“amar. Cukup, aconk adalah adik aku. Aku tidak terima kamu menghina dia. Kalau kamu menghina dia sama saja kamu menghina aku”
“haha..” amar tertawa kecil, lalu kemudian “adik? Apakah Dia memang adik kamu? pernahkah dia menganggapmu abangnya? Kalau memang dia adik kamu pernahkah dia memperlakukan kamu sebagai abangnya?” sebut amar penuh kebencian
Sungguh kata-kata amar sangat menyakitkan hati samir. Matanya semakin merah, wajahnya semakain aneh. Bola matanya terlukis kemarahan. Matanya penuh kebencian pada laki-laki dihadapannya itu.
“kamu itu yang pengecut. Hanya bisa membuat perkara dalam hidup orang. Kamu tidak mengerti apa pun dalam hidup aku. Kamu tidak mengerti semua keadaan aku.  Jangan pernah untuk mengatakan hal itu, kalau kamu tidak tahu masalah pribadi orang”
“perkara? Aku ini hanya bisa membuat perkara dalam hidup kamu?”
“iya”
“ini bukan samir yang aku kenal. Samir kini begitu ganas Otak Penuh keegoisan. Amarah dan benci”
“kamu itu yang egois. Sok tahu, sok pintar, berlebihan, laki-laki pengecut, banci, pecundang dan.....”
“samir stop..”
Genggaman tangan laki-laki itu hampir ia layangkan di hadapan samir yang menghinanya. Sungguh kedua pemuda itu bergulat dengan emosi, mata mereka merah tak bercahaya. Tangan mereka bergetar karena amarah masing-masing, sentara teman mereka melihat dengan jelas pergaulan hebat kedua sahabat itu. melihat itu, samir terdiam seketika. Mata merahnya memandang genggaman tangan amar yang ingin dilayangan padanya. Samir semakin benci melihat itu. amar terdiam, ia tak tahu apa yang ia lakukan.
“kamu ingin genggamanmu itu sampai dikepala aku. Silahkan, aku siap. Aku tidak takut dengan seorang pecundang yang hanya bisa menyelesaikan masalah dengan otot.”
“maaf, aku terlalu emosi” ucap amar menyesal
“amar, mulai sekarang kamu jangan pernah masuk kedalam permasalahan aku. Dan kamu jangan pernah untuk ikut campur dalam permasalahan aku. Ini masalah aku, biarkan saja aku yang menghadapai masalah aku”
“aku tidak pernah ikut campur dalam urusan kamu. aku juga tidak ingin tahu, selama ini kamu yang inginkan aku untuk membantumu menyelesaikan masalahmu dengan keluargamu”
“kalau kamu tidak suka. Mengapa kamu mau?”
“karena aku peduli denganmu sebagai sahabatku. Tidak lebih”
Setelah perdebatan panjang itu, amar pun pergi meninggalkan samir seorang diri. Samir yang termenung itu menyaksikan kepergian sahabatnya itu. samir tak menghentikan langkah amar, hingga ia pergi dari ruangan itu. samir duduk termenung, sungguh masalah ini menjadi beban bagi batinnya. Karena sahabat baiknya telah membencinya. Kini tinggal samir seorang diri, dilihatnya orang-orang disekitarnya. Namun tak seorang pun yang bersimpati padanya.
Terik matahari siang itu sangat panas. Hawa disekitar kampus tidak enak, gelisah dan panas begitu terasa. Daun-daun yang berguguran menemani samir yang duduk sendiri didepan kelasnya. Kegelisahan tampak dengan jelas diwajah samir yang tengah asik duduk menunggu adiknya rahmat. Perasaannya begitu senang, tak dapat terlukiskan kesenangan dimatanya. Ditengah kesendirian samir, tiba-tiba seorang laki-laki muncul dengan tiba-tiba..
“samir” sebut laki-laki itu
Samir melihatnya dengan aneh. Matanya menatap dengan kebencian. Bola matanya tak begerak hanya melihat pada laki-laki yang berdiri dihadapannya itu.
“ada apa lagi?” tanyanya
“aku..aku minta maaf”
“untuk apa?”
“baik. Aku salah. Aku tidak mengerti dengan perasaan kamu. tapi aku tadi Cuma hanya....”
“sudahlah mar, aku tidak ingin lagi mendengar penjelasan apapun”
“tapi mir”
Ditengah percakapan dua laki-laki itu, tiba-tiba datang sebuah mobil mewah berwarna hitam datang menghampiri mereka. Lalu samir dan amar melihat ke arah mobil yang berhenti di hadapan mereka. Samir tersenyum melihat itu namun amar tak mengerti dengan sikap samir. Sesaat suasana terdiam tak terdengar percakpan dari laki-laki itu, dan tiba-tiba keluar seorang pemuda dari dalam mobil itu.
“aconk?” sebut samir
Pemuda itu tersenyum melihat samir yang berdiri tersenyum itu. amar melihat dengan benci, matanya tergambar dengan jelas amarah dan kebencian pada laki-laki yang berparas tampan itu. amar menggenggam tangannya, ingin rasanya ia mendekati dan memukul laki-laki bajingan itu, ingin rasasnya amar memberi pelajaran pada pemuda yang berbaju putih itu. sekali-kali amar melihat kearah samir yang tak hentinya tersenyum.
“ayo” sebut rahmat pada samir
Mendengar itu samir segera bergegas mengambil tas dan bukunya yang ia letak dikursi disampingnya.
“samir, kumohon...” ucap amar
“maaf, mar. Aku pergi dulu”
“samir, jangan”
Amar mencoba untuk menahan tangan samir, namun samir tak menghiraukan perkataan laki-laki yang khawatir itu. ia terus melangkah mendekati mobil mewah itu dan masuk ke dalamnya. Sesaat amar melihat itu, dan mobil mewah itu pun pergi dari hadapan amar yang berdiri terdiam dalam kekhawatiran.
Betapa bahagianya hati samir kala itu, tak hentinya ia menatap wajah adiknya yang bergitu tampan dan rupawan. Bibirnya terlukis dengan jelas senyum kebahagiaan yang mendalam. Sementara itu amar yang terduduk termenung dikanti kampus membayangkan sesuatu hal yang terjadi pada samir.
Kebahagiaan samir tak hilang hingga samir dan rahmat sampai ditempat perjanjian itu. samir melihatnya dengan aneh, dilihatnya sekeliling hotel itu, tak seorang pun yang terlihat. Begitu pun dengan wanita yang dijanjikan itu. sekali-kali samir melihat rahmat  yang berdiri dihadapannya itu, betapa bahagianya hati laki-laki itu.
“dimana dia?” tanya samir pada rahmat
“entahlah. Katanya jam dua, tapi dimana dia?”
“mungkin lagi dijalan”
“iya. Kita duduk disana saja dulu”
Samir pun melangkah kesudut ruangan yang tersedia kursi yang sudah tampak rapuh, samir tak hayalnya melihat pemuda dihadapannya itu, ia tersenyum lalu pemuda itu membalasnya. Betapa bahagianya hati samir melihat senyum dibibir laki-laki itu. beberapa menit dalam kediaman kedua pemuda itu, tak terdengar percakapan antara pemuda itu, rasa canggung dan tak biasa tergambar dengan tingkah kedua saudara itu. beberapa menit dalam belenggu bisu itu datang seorang wanita yang berwajah cantik dan berkulit putih, menghampiri samir dan rahmat yang tengah duduk terdiam itu.
“rahmat?” sebutnya
“hei.. raya?”
Samir melihat dengan jelas pergaulan adiknya dengan wanita yang bernama raya itu.
“apa kabar?” Ucap wanita itu
“baik. Kamu apa kabar?”
“baik, oh iya bagaimana presentasi kemarin?”
“lancar. Tidak ada kendala” lalu “oh, iya ini kenalkan. Samir saudara aku”
Lalu samir menyalami wanita yang berbadan tinggi itu.
“samir” sebutnya
“raya”
Sesaat samir terdiam dalam perkenalan itu, matanya menatap kearah wanita yang cantik itu, samir terlena dengan paras wanita itu, sungguh anggun bisiknya dalam hati.
“ayo duduk raya” sebut rahmat
“oh ini toh saudara yang kamu bilang asisten dosen itu, mat?” ucap wanita itu
“iya, samir mahasiswa kesayangan pak dekan”
Mendengar itu samir tersenyum malu, Samir tak hayalnya melihat kewanita yang duduk itu, dilihatnya wanita itu dengan dalam, sungguh wanita itu serupa dengan nadia teman lamanya tetapi nadia tidak memiliki rambut panjang seperti wanita itu.
“rahmat banyak cerita tentang mas loh?”
“oh, iya?”
“iya. Dia bilang kalau mas itu baru saja memenangkan sayembara menulis dari percetakan yang terkenal dijakarta”
Alangkah senangnya hati samir mendengar itu. kebencian pada adiknya itu seketika menghilang dari benaknya. Sekali-kali samir melihat kearah rahmat yang tengah duduk tersenyum itu
“oh iya? Dari mana kamu tahu conk, kalau kakak menang dari sayembara itu?” tanya samir pada adiknya
“ah, sudahlah kamu jangan tanya dari mana aku tahu kabar itu, satu kampus sudah tahu kok”
Mendengar itu mereka pun tertawa dalam keceriaan, hati samir yang bahagia tak dapat tergambarkan lagi.
“kata aconk. Kamu anaknya pintar. Suka sosial berbagi bersama” tanya samir pada wanita cantik itu
“ah, biasa saja kok mas.  Rahmat itu yang berlebihan. Kalau suka sosial iya memang, dari aku kelas 1 SMA aku aktif dalam organisasi sosial”
“bagus. Sudah cantik, baik lagi mempunyai jiwa sosial yang tinggi” sebut samir kembali
Rahmat pemuda itu tak terdengar bersuara, ia hanya menyaksikan dengan jelas percakapan antara samir dan wanita itu. seketika suasanya menjadi hening bagaikan suasa malam hari. Samir larut dalam kebahagaiaan.
“samir, tunggu sebentar. Aku ingin berbicara pada raya” pinta rahmat
“oh, iya. Silahkan”
Lalu rahmat dan laki-laki itu melarikan diri dari hadapan samir yang tengah duduk itu. samir melihat dengan jelas rahmat dan wanita itu bercakap kecil. Dari kejauhan samir melihatnya dengan aneh, seperti ada sesuatu yang disembunyikan dari pemuda dan wanita itu. beberapa menit samir menunggu lalu rahmat mendekati samir seorang diri.
“raya mana?”
“toilet”
“bagaimana? Cantik tidak?”
“apanya yang cantik?”
“ah, bilang saja kamu suka kan?” ledeknya
“apaan” sebut samir sedikit tersenyum malu
Lalu beberpa menit setelah percakpan rahmat dan samir, raya datang mendekati kedua pemuda itu. dilihatnya wanita yang berjalan anggun itu, sunggu cantik pikir samir dalam hatinya. Raya yang berjalan dengan membawa beberapa gelas ditangannya. Lalu ia duduk ditempatnya.
“ini, minum. Aku yang ambil”
“kok, Cuma dua. Raya tidak minum?” tanya samir
“aku tidak minum gituan. Aku hanya minum air putih saja”
Lalu samir dengan segera minum air yang dibawa oleh raya begitu pun dengan rahmat. Segelas air yang manis dan begitu nikmat. Samir melihat rahmat yang duduk disampingnya, ia tersenyum melihat samir minum air yang di gelas. Dilihatnya pula wanita yang duduk cantik itu lalu ia tersenyum pula.
“kapan kamu pulang raya?”
“mungkin lusa. Soalnya besok aku ada reunian dengan teman SMA. Oh iya, kapan mau main kejakarta?”
“tidak tahu, belum ada rencana. Iya kamu tahu sendiri kegiatan kuliah aku, penuh”
“iya pak dokter”
Samir hanya duduk mendengar percakapan antara kedua pemuda dan wanita yang cantik itu. sekali-kali ia memegang kepalanya, dan mengusap matanya karena ia tidak dapat melihat dengan jelas. Kepalanya sakit, rasa mengantuk terlihat dari matanya. Melihat tingkah samir, rahmat melihatnya dengan aneh begitu pun dengan wanita itu
“kamu tidak apa-apa?” ucap rahmat
“tidak”
“kenapa mas. Sepertinya mas sakit?” tanya wanita itu
“tidak apa-apa. Kepala kakak sakit”
“istirahat saja dulu” sebut rahmat
“iya. Kita kekamar saja. Aku sudah pesan kamar satu” tutur wanita cantik itu
Tak kuasa menahan sakit kepalanya, lalu samir pun tertidur. Rahmat dan wanita itu pun tersenyum melihat itu. sungguh persekokonglan rahmat dan wanita itu begitu cepat berjalan. Dan samir pun dibawa kedalam kamar hotel itu.


FOTO MEMBAWA PETAKA
B

eberapa hari setelah kejadian dihotel itu, samir selalu terpikir pada dirinya. Dalam kamar yang besar itu, ia duduk diatas kasur yang besar dan termenung. Dalam berbalut baju kaos yang berwarna putih ia tak henti-hentinya untuk membayangkan sesuatu hal yang telah terjadi padanya. Sikap rahmat adiknya tak juga berubah, setelah pulang bertemu dengan wanita itu sikapnya kembali seperti dulu, yang kejam dan tak punya perasaan
“ada apa? Dari tadi apung lihat kakak hanya termenung. Ada masalah?” tanya rivandi adiknya
“tidak”
“bagaimana sayembaranya? Kakak terima?” tanyanya
“tidak pung. Jangan bahas itu lagi, kakak tidak niat untuk ambil kontrak sayembara itu”
“kenapa? Itu kan kesempatan bagus kak? Tidak semua orang bisa kan ikut sayembara itu. oh iya, teman apung sudah ada yang punya novel kakak. Apung lihat, bagus. Kata-katanya sederhana namun menusuk jiwa, diksinya begitu anggun dan indah”
Mendengar itu samir pun melihat ke arah adiknya yang sedang menulis. Ia tersenyum dan mendekati adiknya.
“apung mau kakak ambil kesempatan itu?”
“kenapa tidak?”
“meskipun kakak pergi dari rumah”
Mendengar itu. adiknya melihat ke pemuda yang berbicara itu. matanya melihat tak enak, sikapnya berubah bibirnya yang tersenyum lalu menghilang.
“kalau itu membuat kakak bahagia, kalau itu membuat masa depan kakak baik. Apung setuju-setuju saja”
Samir pun tersenyum mendengar itu, dilihatnya adiknya yang tampan itu dan lalu ia berbisik kecil.
“kakak yang tidak sanggup pergi dari adik-adik kakak”
Rivandi tersenyum mendengar itu. dilihatnya laki-laki yang berdiri dihadapannya itu. sungguh laki-laki yang penuh kebaikan dan keikhlasan. Berjiwa besar seperti almarhum ayah dan ibunda. Tapi mengapa ia selalu dapat siksaan dari saudaranya. Apa salah laki-laki itu. sungguh ia adalah anak yang begitu malang.
Di luar kamar itu, terdengar percakapan antara adik-adik dan saudaranya yang lain.
“muk. Kapan kita kejogja. Cibon sudah rindu sama ayah bunda” tanya firman adiknya
“tunggu muk cuti. Sekarang pekerjaan muk banyak”
“kapan cutinya muk?” iqbal bertanya kembali
“mungkin bulan depan”
Percakapan itu sungguh diharapan oleh samir. Ia berharap untuk dapat duduk diantara laki-laki yang bercengkraman itu, begitu banyak hal yang ingin ia katakan. Begitu banyak cerita yang ingin ia berikan. Namun itu hanyalah mimpin yang tak dapat terwujud, tak akan diterima oleh laki-laki yang duduk itu bila samir bergabung diantara mereka. Diantara percakapan itu tiba-tiba seorang pemuda tampan malaikat penyelamat hidup samir datang dengan tergopoh-gopoh. Begegas laki-laki itu membuka pintu tanpa memberi salam.
“mas?” sebut iqbal heran
Melihat kejadian itu semua suasana menjadi tak menentu. Rahmat dan alan melihat dengan heran kelakuan pemuda itu. begitu pun dengan hadi dan sugiarto melihatnya dengan tak mengerti. Namun pemuda itu terlihat berbeda, amarah dalam dirinya begitu tinggi, raut wajahnya yang penuh dengan ambisi. Mata yang tak bercahaya tampak dengan jelas.
“mana samir?” sebut laki-laki itu
“kakak didalam kamar. Ada apa mas?” tanya salah satu diantara pemuda itu
Terlihat ada beberapa orang yang berdiri dibelakang pemuda yang marah itu. pemuda yang bersaudara itu melihatnya dengan heran. Tak seperti biasanya keluarga dari jawa datang dengan tiba-tiba tanpa memberi tahu dahulu. Lalu pemuda yang marah itu langsung berlari menuju kamar untuk menemukan samir
“samir. Samir” panggilnya sepanjang jalan
Didalam kamar yang besar itu terdengar percakapan kecil antara samir dan adiknya. Wajah berseri samir tak hayalnya mengenangi pertemuan antara perempuan cantik dari jakarta dan dirinya.
“samir....samir”
Mendengar suara memanggilnya samir pun membangunkan dirinya dari tempat tidurnya. Samir melihat malaikatnya datang dengan wajah yang tak seperti biasanya penuh amarah dan benci. Ditangannya tampak ia memegang foto. Samir melihat dengan mata yang penuh tanda tanya. Betapa bahagianya samir melihat ketangan malaikat pelindungnya itu. samir tersenyum pada laki-laki itu, namun malaikatnya itu tidak membalas senyumannya
“mas?” sebut samir heran
Lalu dengan tiba-tiba laki-laki yang baru datang itu melangkah mendekati samir yang duduk penuh keheranan, wajahnya penuh amarah matanya tak tergambar kecerahan, bibirnya penuh kebencian. Samir tak hayalnya tersenyumm. Wajahnya tampak bahagia, matanya terlukis dengan jelas suka cita hatinya melihat kedatangan malaikatnya.
Ppruukkk
Dan tiba-tiba tangan laki-laki yang tampan itu dilayangkan tangannya kewajah samir yang tengah duduk bahagia. Melihat itu, seketikan samir memegang pipinya yang dipukul oleh malaikatnya, rivandi menyaksikan itu mendekati kedua pemuda yang sedang bergaul tak menentu itu.
“ada apa mas? Kok, tiba-tiba main pukul saja?” ucap rivandi
“ada apa mas?” tanya samir tak mengerti
“ini apa? Jelaskan”
Laki-laki itu melemparkan dua buah foto dari tangannya.
“ini apa?”samir bertanya kembali
“jelaskan”
Dengan nada yang kasar pemuda itu berucap pada samir yang terus menerus memegang pipi kirinya yang sakit karena pukulan pemuda itu. alangkah terkejutnya samir ketika ia melihat foto yang ada ditangannya. Ia tak pernah menyangka kalau itu adalah foto dirinya yang telanjang dada bersama seorang perempuan cantik yang ia temui beberapa waktu dulu.
“astagfirullah.. mas.. ini..”
“ini apa? Kamu sudah berbuat zina?”
“astagfirullah. Demi Allah mas, kakak tidak pernah melakukan itu”
Pprruuuakkk
Tangan laki-laki itu kembali memukul pipi samir yang duduk penuh kegelisahan. Sementara itu rivandi adiknya hanya melihat tanpa kata-kata yang keluar dari mulutnya, ia tak percaya yang ia lihat didalam foto itu. Mendengar keributan antara kedua pemuda itu terlihat saudara-saudara samir masuk kedalam kamar termasuk ayah dan bundanya yang baru saja datang.
“ada apa mas?” tanya hadi dengan heran
Pemuda itu tak menjawab, ia hanya mengalihkan pandangannya dari sisi samir yang terduduk itu.
“ada apa?” laki-laki itu kembali bertanya
Diambilnya foto dari genggaman samir yang duduk itu, tak hayalnya ia memegang wajahnya karena sakit. Samir melihat dengan jelas betapa terkejutnya hadi ketika melihat foto itu. matanya membesar dengan jelas tergambar wajahnya yang amat marah. Tiba-tiba sugiarto mendekati laki-laki yang tengah memegang foto samir bersama seorang wanita itu.
“ada apa muk?”
Sugiarto pun terkejut melihat foto itu, digenggam tangannya dengan erat. Ingin rasanya ia memukul samir yang tengah menangis itu, ingin rasanya ia melemparkan diri samir dari rumah itu karena telah berbuat tidak baik.
“tidak muk, kakak tidak pernah melakukan hal itu. kakak bisa jelaskan” pujuk samir pada abang-abangnya
Pprruuak
Akhirnya tangan hadi pun dilayangkan pada wajah samir yang terus menangis itu.
“kamu. memalukan. Anak tidak tahu diri”
“foto itu tidak benar muk. Wanita itu teman aconk?” sebut samir
“hei. Jangan kau sebut-sebut nama aku dalam masalah kamu. aku tidak tahu masalah kamu” teriak rahmat dari kejauhan
“jangan kau buat kakak jadi bersalah seperti ini conk, tolong jelaskan kepada muk, abang siapa wanita itu”
Lalu rahmat pun mendekati abangnya yang tengah memegang foto itu, dilihatnya foto yang ada gamabr samir bersama wanita penggoda itu. sekali-kali laki-laki itu melihat samir, lalu melihat ke foto itu kembali. Wajahnya tak dapat tergambarkan, entah apa yang akan laki-laki itu jelaskan.
“kakak mohon conk, tolong jelaskan” sebut kembali samir
“ini bukan teman aconk muk. Aconk tidak tahu siapa wanita yang ada didalam foto ini”
Alangkah pilunya hati samir mendengar pernyataan rahmat. Betapa kecewanya hati laki-laki yang menangis itu. tak pernah ia duga adiknya akan berdusta seperti itu pada dirinya. Betapa kejamnya rahmat membuat samir menderita. Tangis samir terdengar semakin menjadi-jadi, seolah-olah derasnya ombak yang menerpa mengikis karang yang besar.
“ya Allah aconk, tega kamu berbohong sama kakak”
Tidak puas membuat samir tersiksa lalu hadi pun menyeret samir keluar kamar. Dengan kencang hadi menarik-narik tangan samir hingga ia merasa sakit. Sementara itu, rivandi hanya diam tanpa berkata-kata melihat samir ditarik oleh abangnya. Ia tak percaya akan kejadian yang dilihatnya.
“ampun muk” ucap samir
“ayo ikut”
“mas, tolong mas.. bunda, ayah tolong kakak”
Dimas dan orang tuanya pun tak menghiraukan perkataan samir yang tengah diseret bagaikan hewan. Tampak dengan jelas diraut wajah hadi dan sugiarto amarah yang sangat besar. Kecewa dan marah terlukis dengan jelas dikelopak matanya, samir yang terus menerus memohon ampun pada abang-abangnya namun perkataannya tak pernah dihiraukan.
“perlakuan kamu itu memalukan. Seperti binatang. Ayah tidak pernah mengajarkan anak-anaknya untuk menjadi penzina” sebut hadi dengan nada yang keras
“kakak tidak pernah berbuat zina muk, demi Allah”
Samir terus menerus dipukul. Hingga ia terjatuh dilantai tepat diruang keluarga yang biasa ditempatkan untuk menyelesaikan masalah.
“duduk” pinta hadi pada samir
Dengan patuh dan rasa sakit samir mengikuti perintah abangnya.
Pprruuaakk
Tiba-tiba genggaman riki sepupunya yang tegak berdiri disampingnya memukul samir dengan keras, hingga bibirnya pecah dan berdarah.
“biadab. Memalukan keluarga” sebutnya
“apa mau kamu ha? Kalau kamu ingin membalas perlakuan kita, kamu bisa mengatakan dengan baik-baik. Jangan kamu membuat malu kita semua” ucap hadi dengan nada yang keras
“lihat, semua orang tahu perlakuan kamu. foto itu sudah tersebar di dunia maya, kamu itu anak yang selalu membuat susah orang. Tidak puas kamu melihat ayah dan bunda meninggal? Sekarang kamu mau membuat malu keluarga?” cetus sugiarto
“demi Allah. Kakak tidak pernah melakukan itu”
“ini apa. Alasan apa lagi yang kamu ingin berikan pada kami lagi? Kebohongan apa lagi yang kamu ingin berikan kepada kami?”
“foto itu fitnah muk. Kakak tidak tahu kalau kakak ada difoto itu”
“kamu mau bilang kalau foto itu editan? Kamu pikir kita bisa dibohong. Mas yang mengantarkan ini pada kita. Mas yang ahli foto percaya ini bukan foto editan”
Lengkaap sudah penderitaan samir. Penyesalan dengan perkataan amar dan adiknya kini mulai terbesit dalam benaknya. Andai saja waktu itu dirinya mendengar ucapan sahabatnya dan adiknya masalah ini tidak akan terjadi. Samir hanya terdiam, tak dapat lagi ia berkata-kata karena semua orang tidak mempercayai dirinya lagi. Dilihatnya orang-orang yang ada disekelilingnya, dilihatnya pula wajah malaikatnya yang tak melihat kearah samir yang tengah kesakitan itu.
“sungguh, menyesal aku punya saudara seperti kamu” ucap hadi
Betapa pilu hati samir mendengar perkataan abangnya itu. betapa sakit hatinya mendengarkan ucapan yang menyayatkan hati. Samir tak hentinya merenungkan kekejaman saudara-saudaranya itu. penyesalan itu tak jua hilang dalam benaknya.
“ayah ingin kamu jujur, apa benar kamu melakukan itu?” tanya ayahnya
“tidak yah”
“masih saja kamu berbohong, samir” teriak rahmat adiknya
Dilihatnya laki-laki yang bebicara itu. dia melihat dengan mata yang tak enak. Penyesalan tampak jelas dibola matanya.
“kamu kejam. Conk. Kamu tega memperlakukan kakak seperti ini. Kamu sudah bersekongkol dengan wanita itu”
“aku kejam? Kamu itu yang kejam. Sudah mempermalukan keluarga. Entah sudah berapa kali kamu melakukan zina dengan perempuan lain?”
“sekarang aku ingin tanya sama kamu?” sebut hadi abangnya lalu “apa mau kamu dari kelaurga ini?”
“muk, abang, ayah semuanya. Aku tidak pernah melakukan hal yang serendah itu. foto itu adalah fitnah. Tidak mungkin aku melanggar aturan dari agamaku. Karena aku terlahir dari keluarga yang baik”
“jangan kamu bawak agama. Tidak pantas orang yang kotor seperti kamu berbicara masalah agama”
“muk boleh menganggap aku kotor, hina. Tapi aku tidak pernah melakukan hal itu”
Pppruuakk
Sekian kalinya samir dipukul dan ditendang oleh orang-orang itu, wajahnya yang penuh darah, bibirnya pecah karena pukulan, matanya yang membiru tampak dengan jelas sekali-kali ia memejamkan matanya untuk menahan rasa sakit akibat pukulan.
“ayo katakan? Jujur sama kita. Kalau orang yang ada didalam foto ini adalah kamu”
“baik om, ia. Itu aku. Tapi demi Allah aku tidak pernah melakukan apa yang dilarang dalam agama aku”
“akhirnya kamu jujur juga” sebut hadi yang marah itu
“ayah kecewa sama kamu”
“cibon benci kakak” sebut adiknya
Dilihatnya adik-adiknya yang melarikan itu, belahan jiwanya yang telah membenci dirinya. Rivandi yang menengok itu merasa kecewa mendengar ucapan kakaknya. Matanya tak bercahaya, sekali-kali ia menggelengkan kepalanya setelah mendengarkan ucapan kakaknya.
“tapi percaya sama kakak yah, om, mas. Kakak tidak pernah melakukan itu”
“sekarang kamu bereskan barang-barang kamu dan pergi dari sini”
Samir pun terkejut mendengar itu. tangisannya semakin menjadi-jadi. Tak pernah dibayangkan olehnya akan seperti ini akhirnya.
“tidak muk. Jangan.. kakak tidak mau keluar dari rumah ini”
“cepat”
“sudah muk. Kalau dia tidak juga membereskan pakaiannya, biar aconk saja yang merapikannya. Biar dia keluar dari rumah ini, keluarga ini tidak pantas untuknya”
Rahmat pun belari menuju kamar samir untuk membereskan pakaiannya. Sementara itu samir berusaha membujuk abangnya dan merayu pada malaikatnya untuk membantu dirinya. Sungguh samir adalah anak  yang malang. Dia melihat orang-orang disekelilingnya. Dia memandang setiap orang itu seperti setan, yang tidak punya hati. Sewenang seenaknya. Tidak memiliki rasa iba pada samir. Rasa benci dan juga amarah terlihat disela-sela tangisannya itu. samir menggenggam tangannya dengan erat, dia berusaha untuk menahan air matanya dia berusaha untuk menahan rasa sakit karena pukulan itu. dan akhirnya rahmat datang menghampiri samir dengan membawa tas hitam besar dan melemparkan tepat samping samir.
“itu tasmu. Cepat keluar dari sini” ucap rahmat
Sesaat samir terdiam dalam tangisannya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk membutikan perbuatannya itu
“ayo cepat pergi”
“tapi muk”
Dan samir pun dipaksa untuk segera keluar dari rumah yang besar itu. rahmat berusaha untuk mendorong samir agar keluar dari rumah. Samir pun berontak untuk tidak keluar dari rumah itu.
“tidak conk, aku tidak akan keluar dari sini”
“apalagi. Kamu tidak lagi diharapkan oleh keluarga ini. Kamu itu hanya bisa membuat malu keluarga”
“tidak conk”
“jangan membantah”
“tidak”
Pppruakk
Samir dipukul hingga ia terjatuh. Betapa sakit hatinya samir melihat perlakuan orang-orang itu ingin rasanya ia melawan, ingin rasanya ia memukul orang-orang yang sudah membuatnya terluka. Ia tak hayalnya menangis dalam kesakitan itu.
“sudahlah. Apalagi yang kamu tunggu. Pergi dari sini” ucap dimas dari kejauhan
Alangkah sedih hati samir mendengar itu. tak pernah terpikir olehnya malaikat pelindungnya mengusir dirinya yang lemah itu. dilihatnya laki-laki ayng berdiri itu dari kejauhan. Samir pun berdiri mencoba untuk kuat dalam peristiwa itu.
“mas, percaya kalau kakak berbuat seperti itu?” tanya samir pada laki-laki itu
“itu sudah ada buktinya”
“aku tidak pernah menyangka mas begitu mudah percaya sama foto itu. selama ini aku menganggap mas adalah orang yang aku percaya. Tapi itu adalah salah”
“dengar samir. Mulai hari ini kamu bukan keluarga ini lagi. Kamu bukan saudara kita lagi. Mulai detik ini Tali persaudaraan kita putus. Jangan pernah kamu kembali kerumah ini. Rumah sebagus ini tidaklah pantas untuk orang yang hina seperti kamu” ucap hadi dengan tegas
Betapa pilunya samir mendengar itu. tangisannya tak berhenti mengalir. Ia mencoba untuk menguatkan dirinya, sekali-kali ia melihat orang-orang disekelilingnya rupa-rupa ada yang membantunya. Namun tak sedikit pun suara terdengar olehnya. Rasa benci dan marah pada orang-orang itu membuat samir sedikit kuat. Matanya terpancar kekuatan jiwa yang sedikit redup.
“baiklah. Kalau itu yang kalian inginkan. Sebagai adikmu Aku akan mengikuti apa yang kau inginkan, sesungguhnya aku patuh padamu. Aku akan pergi dari rumah ini. Rumah kelahiranku. Rumah yang telah melindungi aku dikala hujan dan panas menerpaku. aku tidak menginkan orang-orang yang mudah percaya dengan hal yang tidak benar kepstiannya. aku berjanji, tidak akan pernah kembali kerumah ini lagi. Aku tidak akan menemukan kalian lagi. Aku telah memaafkan dosa orang-orang yang telah berbuat zalim padaku. Semoga Allah mengampuni dosa kalian”.
Dan samir pun mengambil tas hitam disampingnya dan melangkah pergi dari rumah itu. langkah demi langkah laki-laki itu menyusuri jalan setiap rumahnya. Dengan hati yang hancur samir meninggalkan malaikat-malaikatnya, dilihatnya laki-laki kecil itu berdiri dibalik pintu kamarnya, terjatuh sudah air mata samir membasahi pipinya. Heningan malam menemani langkah samir keluar dari pintu rumahnya, ia melangkah sesaat ia berhenti melihat rumah yang mewah itu. tangisannya tak berhenti juga. Linangan air matanya terus mengalir mengenang peristiwa yang telah ia alami bersama sang ayah dirumah itu. kini kenangan itu telah menjadi dongeng masa lalu. Kemudian laki-laki itu membalikkan badannya dan melanjutkan langkahnya, dari kejauhan samir mendengar seorang berteriak memanggil namanya, lalu langkahnya kembali terhenti.
“kakak”
Laki-laki itu membalikkan badannya mengarah pada suara itu. dari kejauhan samir melihat rivandi belari menuju kearahnya.
“jangan pergi kakak. Kakak tidak boleh pergi” ucapnya
“apung. Sudah. Apung jangan nangis. Kakak tidak apa-apa. Jaga adik-adik ya. apung patuh pada muk, jangan sekali-kali membantah ucapan muk”
Rivandi hanya menangis memeluk samir yang bersedih hati itu.
“kakak, ayo masuk. Kakak tidak boleh pergi. Ini rumah kakak”
“kakak sudah kotor. Kakak tidak suci rumah ini tidak pantas untuk kakak yang kotor ini”
“tidak kak, apung percaya sama kakak. Kakak tidak berbuat seperti itu”
“apung percaya sama kakak?”
“lidah bisa berbohong. Tapi mata dan hati tidak bisa dibohongi. Itu kan yang kakak ucapkan pada apung”
Samir pun menangis mendengar ucapan laki-lai yang memeluk erat tubuhnya itu. dikecupnya kepala laki-laki itu dengan kasih sayang. Kecupan perpisahan kakak dan adik.
“kakak harus pergi, jaga adik-adik apung”
“tidak kak”
Samir pun melepaskan pelukan adiknya dari tubuhnya. Sungguh berat samir meninggalkan rumah itu. rumah yang telah memberi banyak cerita pada dirinya.
“kakak....” teriak rivandi
Samir tak melihat ia semakin cepat berjalan meinggalkan adiknya dan rumah yang mewah itu.

TERUSIR
H

eningan  malam yang sunyi, angin malam yang berhembus menerpa setiap langkah samir meninggalkan rumah yang anggun itu. rasa penyesalan seakan menari diatas kepala laki-laki yang menangis tak berdaya itu, langit yang cerah bintang bertaburan menghiasi langit malam nan sejuk. Hiruk pikuk kendaraan terdengar dengan jelas olehnya. Tak terlihat senyum diraut wajahnya yang penuh dengan darah itu, matanya layu lunglai. Wajah yang pucat pasih. Pandangan yang tidak elok bagaikan tak bersemangat untuk melihat dunia yang kejam ini. Sepanjang jalan, ia hanya terbayang wajah sahabatnya amar. Rasa bersalah padanya tak jua hilang. Rahmat begitu kejam pada diri laki-laki itu.
Tidak ada tujuan yang harus samir datangkan. Ia hanya mengingat pada amar, mungkin amar dapat membantunya, dengan rasa bersalah laki-laki itu pun melangkahkan kakinya menuju kerumah amar yang telah dibencinya. Angin yang berhembus kecil menemani langkah samir untuk memberanikan diri datang kerumah amar hingga ia sampai juga tempat tujuan. Dengan tergopoh-gopoh ia melangkah menuju rumah yang berwarna putih bersih itu. dilihatnya rumah itu, rumah yang berdiri tegak dengan kokoh. Walaupun rumah itu tak seindah rumahnya samir merasa bila ia berada didalam rumah ini akan merasa nyaman.
“amar. Amar?”serunya
Dengan tergopoh-gopoh dan menahan rasa sakit yang dirasakan, ia memukul-mukul pintu rumah yang berwarna putih itu, melihat tidak ada tanggapan dari sahabatnya laki-laki itu kembali memanggil nama pemuda yang bernama amar itu.
“amar. Amar”
Dengan samar-samar samir melihat pintu rumah itu terbuka, ia melihat dengan tak jelas kepalanya terasa sakit. Sekali-kali ia memegang dan mengusap matanya untuk memperbaiki pengelihatannya. Melihat keadaan samir yang begitu lemah dan penuh dengan darah, amar pun terkejut, dengan perasaan yang tak menentu amar menggotong samir untuk masuk karena tidak kuasa lagi rupanya samir untuk melangkah.
“ya Allah samir, apa yang terjadi padamu?” tanya pemuda itu
“tolong aku mar, tolong aku”
“iya, apa yang harus aku buat untuk kamu”
“tolong antarkan aku kerumah pak dekan” ucapnya
Ucapan samir itu membuat amar begitu heran, ia semakin tidak mengerti pada sahabatnya itu. entah apa yang ia inginkan bertemu dengan pak dekan.
“pak dekan. Untuk apa?”
“tolong mar. Antarkan aku kerumah pak dekan”
“iya. Tapi untuk apa. Kamu bisa tinggal dirumah aku saja. Aku senang bila kamu tinggal bersama aku”
“tidak mar, aku ingin pergi jauh. Aku akan terima tawaran sayembara itu. aku ingin pergi dari kota ini”
“apa. Kamu serius? Kamu tidak bercanda kan?”
“tidak mar. Tolong aku, antarkan aku kerumah pak dekan”
“ia. Nanti akan kuantarkan. Tapi kamu istirahat dulu”
Begitu sayangnya amar pada laki-laki yang lemah itu. sungguh amar adalah pelita dalam hidup samir. Penyesalan dalam dirinya pada amar begitu tampak dengan jelas, bagaimana ia memperlakukan amar dikala amar mencoba untuk membantu dirinya. Kedua pemuda itu saling berpeluk, tangisan samir terdengar dengan jelas rasa sakit  yang dirasakan sangat membuatnya tidak enak.
“jelaskan pada aku apa yang telah terjadi padamu” tanya amar penasaran
“ini salah aku. Kalau saja waktu itu aku mendengarkan perkataanmu. Mungkin masalah ini tidak ada”
“maksud kamu?”
“kamu masih ingat kan, beberapa hari yang lalu aconk mengajakku untuk bertemuku dengan seorang wanita dihotel prima abadi, ternyata wanita itu sudah bersekongkol dengan aconk untuk menjebak aku. Ketika aku lihat wanita itu, aku tertarik dengan pemikiran dia. Aku tidak percaya dia berbuat seperti itu. kemudian dia memberi aku minuman yang dibawanya sendiri untuk aku, lalu aku minum air itu setelah aku minum kepala aku terasa sakit dan sangat berat, setelah itu aku tidak tahu lagi apa yang terjadi. Ternyata dia mengirimkan foto aku pada mas dimas, kemudian mas dimas datang kerumah untuk meminta penjelasan foto itu.” cerita laki-laki yang menangis itu
“kamu yakin mau menerima tawaran sayembara itu?” tanya pemuda yang baik hati itu
“iya mar”
“adik-adik kamu?”
“mereka semua telah membenci aku. Aku telah diusir dari rumah. Aku tidak tahu harus pergi kemana lagi. Adik, ayah, bunda dan mas dimas pun membenci aku”
“mas dimas tidak percaya sama kamu?”
“iya”
“bodoh. Bisa-bisanya mereka percaya sama barang yang tidak jelas asalnya. Lalu apa kamu tidak meminta pada aconk untuk menjelaskan foto itu?”
“sudah mar. Tapi dia pintar bersandiwara. Dia mengatakan kalau wanita itu bukanlah temannya, dia tidak mengenal wanita itu. itu yang membuat aku sakit hati”
“lalu kamu mengaku?”
“iya. Aku terpaksa, untuk menghentikan siksaan dari mereka.”
“tidak ada satu dari mereka pun yang percaya sama kamu?”
“hanya apung. Dia yang percaya sama aku, dia percaya kalau aku tidak pernah berbuat seperti itu”
“sabar samir. Kuatkan dirimu. Kamu tidak sendiri. Ada tuhan yang selalu menjagamu”
Mata samar pun berlinang. Tangisan samir terdengar dengan jelas, terisak sedu yang dalam hingga ia tak dapat berkata-kata. Suasana hening mencekam, tak terdengar bunyi binatang-binatang kecil hanya terdengar rintihan samir yang tak berkesudahan. Mata amar terlukis dengan jelas betapa ingin ia untuk memukul orang-orang yang bodoh itu orang-orang yang telah membuang samir, digenggam tangannya yang terlihat besar menggumpal.
Dan akhirnya kedua pemuda itu menuju kerumah pak dekan. Itu membuat hati samir sedikit senang. Betapa tidak, ia ingin memberikan kabar kepada pak dekan bahwa dirinya ingin segera menerima tawaran percetakan buku itu dan segera pergi dari tanah kelahirannya. Diantara gedung-gedung yang menjulang tinggi tampaklah kedua pemuda itu rumah berwarna abu-abu berpagar besi hitam, rumah itu adalah rumah pak dekan. Samir seakan ingin berlari dengan segera untuk masuk kedalam rumah itu untuk memeluk pak dekan.
“assalamuailakum. Pak?” ucap amar
Sementara itu samir hanya berdiri tegak tak berdaya disamping amar yang sedari tadi mengetuk pintu dan tak ada jawaban dari pak dekan. Sekian kalinya amar mengetuk pintu dan ahirnya pintu itu pun terbuka. Alangkah bahagianya hati samir melihat seorang setengah baya yang berdiri tepat dihadapan mereka. Terjatuh sudah air mata samir yang bersedih itu. lalu ia memeluk bapak yang dihadapannya, anar melihat dengan jelas kejadian itu ia hanya terdiam dan tidak mengatakan apa-apa. Betapa terkejutnya pak dekan melihat samir dengan tiba-tiba memeluknya sambil menangis.
“ada apa?” tanya pak dekan
“tolong saya pak!” isak tangis samir
“ayo masuk dulu, nanti jelaskan sama bapak apa yang sudah terjadi, ayo masuk mir”
Lalu kedua pemuda itu pun melangkah masuk kedalam rumah yang begitu indah dengan ornamen klasik persis seperti rumah peninggalan ayah samir yang telah mmenjadi kenangan baginya.
“ayo duduk. Coba kamu samir jelaskan kepada bapak. Mengapa wajah kamu bisa seperti itu?”
Samir tak kuasa mehanan air matanya, isak tangisnya tak henti juga. Air mata yang terus mengalir membuatnya tak dapat berkata-kata. Betapa sakitnya bila samir menceritakan semua perilaku saudara-saudaranya hingga ia diusir dari rumahnya. Melihat tidak ada tanggapan dari samir pemuda yang duduk disampingnya mencoba untuk menjelaskan kepada pak dekan.
“ini semua karena saudaranya pak” sebutnya
“saudaranya?” pak dekan kembali bertanya
“Dia difitnah, selembar foto dirinya tidur bersama seorang wanita”
“apa? Bagaimana mungkin?”
Pak dekan semakin tidak mengerti apa yang dijelaskan oleh pemuda itu. pak dekan mencoba untuk memahami perkataan amar, namun berkali-kali ia menerawang-nerawang keatap rumahnya untuk mencari penjelasan dari mahasiswanya itu.
“samir dijebak oleh adiknya sendiri. Sekarang dia diusir dari rumahnya. Tali persaudaraan antara samir dan keluarganya sudah putus, mereka yang meminta”
Mendengar penjelasan itu laki-laki parubaya itu sedikit mengerti apa yang dimaksud oleh pemuda itu. betapa sedih dan terkejutnya pak dekan mendengarkan berita itu. kabar dari amar itu bagaikan jarum yang menusuk kedalam telinga pak dekan, sementara itu samir yang terdiam membisu tak menanggapi perkataan amar dan pak dekan, ia hanya mendnegar pergaulan dari sahabatnya dan dosennya itu.
“jadi apa yang bisa bapak bantu untuk kamu mir?” tanya laki-laki itu
Sesaat suasana hening tak terdengar kata-kata dari mulut samir yang bersedih itu, matanya tak henti-henti berkaca-kaca. Kejadian itu membuatnya sulit untuk melupankannya. Melihat samir tak menanggap ucapannya pak dekan mencoba untuk meleraikan pemikiranya.
“samir” sebut kembali pak dekan
Seketika samir terkejut dalam lamunannya. Terjatuh sudah air matanya dari kelompak matanya yang mulai membesar karena tangisannya.
“iya, pak” ucapnya
“apa yang bisa bapak bantu?”
“tolong antarkan saya dengan percetakan itu pak,  saya akan terima kontrak dengan percetakan itu”
Pak dekan seakan mendengar kabar baik dari asistennya itu. terlihat senyum kecil dari bibirnya. Sementara itu samir tak henti-hentinya menghapuskan air matanya yang terus mengalir dari kelopak matanya. Amar berkali-kali melihat ke arah pemuda yang menangis itu. matanya layu lunglai betapa kasihan amar melihat laki-laki itu, laki-laki yang malang tak diterima oleh saudaranya, dibuang dari rumahnya.
“sammir, coba kamu pikirkan lagi. Bapak tidak ingin melepaskan kamu dalam keadaan seperti ini. Kamu pikirkan keluarga kamu. bapak tidak memaksa kamu” sebut laki-laki itu
“bapak tolonglah, saya tidak kuat lagi. Saya merasa tidak berguna lagi. Mungkin nanti disana nasib saya lebih baik”
“baikalah kalau itu keinginanmu, besok bapak akan hantarkan kamu kesana. Bapak juga akan mengurus pindahan kuliah kamu. bagaimana pun kamu tetap kuliah kamu harus menyelesaikan kamu secepatnya”
“terima kasih pak”
Samir sedikit berbahagia mendengar berita itu. amar sedari tadi tak kunjung jua untuk berbicara, lidahnya terasa terunci oleh waktu yang seakan melenannya dalam keheningan malam. Suasana terasa sunyi dalam keheningan bagaikan kedukaan. Sekali-kali amar melihat samir. Tak pernah dibayangkan olehnya samir akan pergi meninggalkan dirinya seorang, betapa sepi harinya tanpa samir. Tak ada tempat untuk berbagi bersamanya.
Hari itu pun tiba, suasana begitu cerah cahaya hangat mentari pagi menusuk kulit hingga ketulang, suasana bandara yang ramai, hiruk pikuk terdengar dengan jelas ditelinga samir yang tengah berjalan dengan membawa tas hitamnya, amar yang berdiri disamping kanannya tak hentinya menengok ke arah samir yang betapa luka hatinya, tak terlihat pak dekan didekat kedua pemuda itu. entah kemana beliau.
“dimana pak dekan?” tanya samir
“lagi mengurus tiket kamu”
Kedua pemuda itu melangkah dengan tak semangat, terasa berat dihati samir untuk meninggalkan tanah kelahirannya, betapa rapuh hatinya meninggalkan keluarganya yang ia sayangi, tak terlihat cahaya diwajah samir yang menyelimuti. Hanya ada kabut yang bersarang diwajahnya.
“ini tiket kamu”
Dilihatnya laki-laki yang berdiri didepannya, dilihatnya mata laki-laki itu tak kuasa rupanya samir memandang laki-laki berparuh baya itu, dipeluknya laki-laki yang berbadan kurus itu. terjatuh sudah air matanya.
“terima kasih pak” sebut samir menangis
Mendengar tangisan kecil samir, laki-laki itu pun menangis, alangkah sedihnya amar melihat pergaulan sahabatnya dengan pak dekan. Terjatuh sudah air matanya membasahi pipinya yang tampan itu.
“sudah, jangan menangis lagi. Nanti bapak akan surati teman bapak disana. Biar mereka yang menjemput kamu” sebut laki-laki itu
Sementara itu samir selalu menangis dalam pelukan itu. perpisahan yang tak pernah diharapkan oleh laki-laki itu. sungguh jiwanya semakin gundah. Amar melihat itu semakin terpuruk dalam kesedihan. Dilepasnya pelukan itu dari laki-laki berparu baya itu dan melihat kearah sahabatnya amar yang berdiri di dekatnya. Sesaat ia memandang matanya yang berlinang air mata, bola matanya yang sedikit bergerak untuk mencoba menahan air matanya agar tidak terjatuh dipipinya dalam kesedihan.
Dipeluknya laki-laki yang tampan itu. samir tak kuasa menahan kesedihan dan penyesalan terhadap laki-laki yang tampan itu. sekali-kali ia menangis sedu dipelukan amar. Sekali-kali pula amar mengusap kepala sahabatnya hingga mengenai ubun-ubunnya.
“jangan sedih, jangan kau pikirkan kami disini. Jaga dirimu baik-baik”
“terima kasih mar. Hanya kamu yang sudih menjadi temanku. Kau selalu perhatian kepadaku walaupun Aku tidak pernah mendengar nasihat darimu. Walau nasihat itu baik untuk aku”
“sudahlah. Yang lalu biarlah berlalu. Jangan kau terbelenggu dalam kesedihanmu. Jangan biarkan kesedihanmu menguburkan semangatmu” ucap amar yang bersedih
Dilepasnya pelukan samir dari tubuhnya, dilihatnya mata samir yang berair lalu dihapusnya air mata suci itu. dilihatnya pula beberapa saat bola matanya yang tak hentinya mengalir air mata karena mengenang penyesalan yang dulu. Yang paling sedih bagi laki-laki itu adalah meninggalkan saudaranya.
“ini untuk kamu. jangan lupa kamu beri aku kabar bila kau telah sampai ditanah jakarta nanti”
Amar memberikan HP miliknya kepada samir, melihat itu samir semakin berderai air mata, sungguh amar adalah laki-laki yang baik sebutnya dalam hati. Ya tuhan, jagalah laki-laki yang dihadapanya ini. Do’anya.
Samir tak bersuara, ia hanya mencoba untuk menahan air matanya, ia mencoba untuk menahan suara tangisannya agar tidak semakin keras terdengar. Waktu kebersamaan mereka semakin menipis, waktu keberangkatan samir tak lama lagi, waktu singkat itu tidak disia-siakan oleh kedua pemuda itu untuk menyesali perbuatan satu sama lain.
“bapak, terima kasih. Saya berangkat dulu”
Terjatuh sudah air mata amar mendengar itu, tak sudih kiranya melihat sahabatnya itu. samir pun melangkah dengan pelan, rasa gundah dan gelisah masih bersarang dalam hatinya. Semakin terasa di dalam hatinya luka yang tak dapat dijelaskan oleh pikirannya.
“samir..” ucap amar
Sejenak langkah samir terhenti mendengar seruan sahabatnya. Lalu ia membalikkan badannya dilihatnya laki-laki yang tampan itu berdiri dihadapannya.  Dilihatnya wajahnya yang berlumur air mata, sesaat bibir samir melukiskan kesedihannya. Lalu amar pun berlari mendekati samir yang tak berdaya itu dan memeluknya dengan erat.
“jaga dirimu baik-baik. Aku akan selalu merindukan kamu. jangan lupa surati aku” ucap amar dalam pelukannya
Sementara itu samir tak berdaya untuk berkata ia hanya terbelenggu dalam tangisannya. Sekejap amar melepaskan pelukannya dan mempersilahkan samir untuk pergi. Langkah samir semakin menjauh meninggalkan amar dan pak dekan yang tak henti-hentinya mengusap air mata yang mengalir. Beberapa menit dalam tangisan itu, amar dan pak dekan tak dapat melihat samir karena telah melangkah semakin menjauh dan menghilang diantara orang-orang. Begitu malang nasib laki-laki itu, terbuang dari kampung halaman, tanah kelahirannya, tanah kebanggaannya, tanah nenek moyangnya. Diusur dari rumah tempat kelahirannya rumah kebanggaan tempat ia berbagi cerita dengan almarhum orang tuanya. Sungguh samir laki-laki yang bernasib malang tak diterima oleh keluarga hingga ia terusir dari tempat yang ia banggakan. Yaitu keluarganya.
Dibalik kesedihan hati samir, didalam rumah yang mewah itu tergambar dengan jelas bagaimana bahagianya adik-adiknya telah menyelesaikan misinya untuk mengusir samir dari rumah itu. sungguh saudara yang tidak mempunyai hati. Sementara itu didalam kamar yang besar itu, rivandi seakan terkubur dalam kabut yang menyelimuti hatinya, ia terus menerus meratap dalam kesedihan, betapa gundah dan sedih hati laki-laki yang sedikit usam itu. ia selalu menyendiri dalam kamar berkali-kali ia melihat foto kakaknya yang ada didalam album foto bersamanya. Terjatuh sudah air matanya dalam kenangan itu.



JAKARTA
T

idak pernah terpikir dalam benak samir untuk kembali menginjak kakinya ditanah ibu kota yang penuh dengan problema. Terbayang-bayang olehnya dikala dahulu ia bersama ayah, ibundanya dan saudaranya datang kejakarta. Terbayang olehnya disaat ia turun dari pesawat dipeluk oleh ayahnya dengan penuh kasih sayang dan cinta. Bayangan itu hanyalah masa lalunya kini samir  seorang diri meniti setiap langkahnya tak ada seorang pun yang berdiri disampingnya mulai saat ia turun dari pesawat hingga ia berjalan menuju tempat yang ia telah janjikan bersama temannya. Ia teringat disaat ia akan pergi kejakarta ia mengabarkan pada sahabatnya yang telah ia kenal baik. Hari ini sahabatnya itu akan menjemputnya untuk sesaat menumpang dirumahnya. Sesaat ia terduduk dikursi tunggu matanya mencari-cari orang yang ia tunggu dibalik kerumunan orang-orang yang berjalan-jalan ia melihat seorang pemuda melambaikan tangan padanya. Samir melihatnya dengan samar, tak jelas rupanya mata samir melihat pemuda yang melambaikan tangannya itu. sekali-kali ia memiringkan kepalanya untuk melihat dengan jelas pemuda itu. disaat ia melihat dengan jelas wajah pemuda itu samir pun tersenyum. Dilihatnya dengan jalas pemuda yang berbaju merah itu samir tersenyum lalu pemuda itu pun membalas senyuman samir. Sesaat kedua pemuda itu saling menebar senyum, lalu pemuda berbaju merah itu berlari mendekati samir yang sudah berdiri dari tempat duduknya.
“samir?” sebutnya dengan ramah
“tuan abid” jawab samir dengan ramah pula
Pemuda itu bernama abid, pemuda yang penuh keramahan dan kesejukan hati. Tak ada banyak perubahan dari pemuda itu seperti pertama kali samir bertemu dengannya satu tahun yang lalu. Salam dan pelukan sangat terjaga dari kedua pemuda itu. pelukan dengan kasih sayang dan keikhlasan.
“apa kabar kamu?” tanya pemuda itu
“alhamdulillah, baik tuan abid. Bagaimana dengan dirimu tuan?”
“ah, janganlah kau panggil aku seperti itu tidak enak didengar seolah-olah aku ini majikan kamu. aku sehat samir” jawab abid dengan nada bercanda
Abid pemuda yang tampan berwajah putih dan bersih bertubuh tinggi sekilas pemuda itu seperti amar sahabatnya hanya saja amar memiliki badan yang berisi dan abid berbadan sedikit kurus.
“kau datang dengan siapa?” tanya samir pada pemuda itu
“dengan abangku”
“abangmu?”
“iya, nanti aku kenalkan dengannya. Dia sudah menunggu dimobil. ayo kesana” ajak pemuda itu
“ah, aku jadi tidak enak dengamu. Aku sudah membuatmu susah”
“ah tidak apa. kalau dibuat susah calon penulis besar kan tidak masalah”
“ah, tuan ada-ada saja”
Lalu kedua pemuda itu pun melangkah kemobil hitam dengan nomor polisi B 1345 MN tampak didalamnya duduk seorang pemuda berkaca mata hitam, itu adalah saudara sahabatnya abid. Dilihatnya laki-laki yang duduk dimobil itu ia tak menyadari akan kedatangan samir dan abid dia asik mendengarkan musik dari HPnya.
“mas, mas ijal” panggil adiknya
Berkali-kali abid memanggil laki-laki itu sampai ia memukul kaca mobilnya, namun laki-laki itu pun tak menjawab panggilan adiknya. Sementara itu, samir hanya berdiam diri melihat sahabatnya memanggil laki-laki didalam mobil itu.
“mas... mas” panggilnya kembali
Akhirnya pemuda itu melihat adiknya, dia pun langsung membangunkan dirinya dan keluar dari mobil yang di naiki itu.
“oh, sudah ketemu?” sebutnya
“sudah, itu dia” tunjuk abid
Lalu pemuda itu langsung ditarik oleh abid mendekati samir yang berdiam diri dengan pandangan yang tak dimengerti. Dilihatnya samir yang berdiri itu, ia melihatnya dengan ramah seperti abid adiknya.
“ini masku, namanya rizal” sebut abid pada samir
“oh, iya, saya samir. Saya teman tuan abid”
“iya. Saya rizal. Panggil mas ijal saja”
“dulu waktu kamu kerumah aku, mas ijal masih diamerika. Tahun kemarin baru lulus”
“jadi bagaimana rencana kedepannya? Dijakarta tinggal sama siapa? Kalau belum ada tempat tinggal, tinggal dirumah kita saja. Dirumah masih ada kamar yang kosong, kalau tinggal dirumah abid ada yang teman untuk bicara, saya jarang ada dirumah seringan keluar kota untuk survei lokasi tambang” tutur laki-laki itu
Sekilas pemuda itu seumur dengan hadi abang samir hanya saja rizal memiliki postur tubuh yang agak tinggi dan tegap. Sikap pemuda itu tidak jauh beda dengan abid adiknya, pemuda yang ramah dan baik dengan siapa saja. Begitu indah dan bahagianya bila samir memiliki abang seperti pemuda itu. samir melihatnya berkali-kali kearah pemuda itu, terbayang sudah wajah abangnya diwajah rizal yang baik itu, namun samir tak ingin luka itu kembali bersarang pada pikirannya.
“maaf mas sebelumnya saya sudah membuat mas dan tuan abid jadi susah menjemput saya, kalau boleh dan diizinkan saya numpang tinggal beberapa hari dirumah mas sampai saya menemukan tempat yang saya cari”
“boleh, kita senang ada teman abid dirumah, kadang dirumah terasa sepi. Jangankan beberapa hari. Kamu bisa tinggal sampai kamu ingin” sebut laki-laki itu
“ah tidak mas. Saya tidak enak. Nanti saya hanya membuat susah jika saya tinggal lama-lama dirumah mas”
“ah, sudahlah. Ayo kita kerumah dulu. Perut sudah bergoyang lapar ni” sebut abid manja pada masnya.
Lalu pemuda itu langsung memasukkan barang samir kedalam mobil begitu baik rupanya pemuda itu tidak memandang siapa yang datang dia akan layani dengan baik. Begitu pun dengan samir laki-laki yang malang itu, dirumah ia dibuang dan dikucilkan tidak diterima oleh semua orang namun dijakarta ia dibuat seperti raja, abid dan mas rizal yang baru saja ia kenal seakan membuatnya terpesona dengan kebaikan dirinya. Sungguh tuhan begitu adil disaat dirinya terbuang dari tanah kelahirannya begitu banyak orang yang menerimanya. Begitu mempesona ibu kota memanjakan mata samir hingga ia tak dapat berkedip melihat gedung-gedung yang tinggi,  monas yang menjulang tinggi membayangkan kenangannya bersama ayahnya dulu. Keceriaan yang selalu hadir dalam hidupnya kini semakin suram terlihat. Senyum dan canda terlihat jelas diraut wajah dari ketiga pemuda itu didalam mobil hitam yang melaju itu samir tak hayalnya menebarkan senyum, betapa bahagianya dirinya terlepas dari siksaan saudaranya dilain sisi ia juga bersedih hati harus meninggalkan adik-adiknya belahan jiwanya, semangat hidupnya.
Tak terasa oleh samir, lalu mobil hitam itu pun berhenti dihalaman rumah yang besar dan megah, sungguh indah terlihat rumah itu, tak seperti rumahnya rumah abid terlihat sangat modern. Terlihat pula berdiri dua orang sepasang suami isteri didepan pintu rumah yang berwarna putih itu, ia tersenyum tampak terlihat senyuman ramah menyambut kedatangan samir dirumah itu. dan ketiga pemuda itu pun turun dari mobil hitam itu dan melangkah  mendekati sepasang suami isteri itu.
“ayah, ibu” sapa rizal
“sudah sampai rupanya?” sebut ibunya
Lalu samir dan abid sahabatnya berjabat dan mencium tangan laki-laki dan perempuan yang berdiri dihadapannya.
“ayah, ibu. Ini samir yang dulu pernah kerumah kita”
“samir. Apa kabar?” sebut ayahnya
“alhamdulillah baik om. Om bagaimana kabarnya?”
“ah, janganlah panggil om, tidak enak didengar. Panggil ayah saja” sebutnya
“ah, iya”
Kehangatan sangat terasa dikeluarga abid yang sangat ramah dan bersahaja. Senyum dan tawa selalu terlihat diwajah orang-orang itu. samir yang tak hayalnya tersenyum kecil dan kadang tertawa mendengar canda rizal dan abid sahabatnya. Beban terasa hilang dibenak samir tak ada lagi yang ia takutikan didalam rumah itu tak ada lagi siksaan, cacian, dan kecongkakan jiwa.
“ayo masuk, istirahat dulu didalam. Dijakarta tinggal dimana? Ada keperluan apa kamu kejakarta?” tanya ibu abid
“samir ada keperluan dengan perusahaan percetakan editor yang terbesar itu loh bu. Beberapa bulan yang lalu samir menang dalam sayembara membuat novel. Besok lusa dia akan menandatangani kontrak sama perusahaan itu” jawab abid lalu “rencananya samir mau tinggal sama kita untuk beberapa bulan”
Tak sempat untuk menjawab pertanyaan perempuan itu, abid langsung menyambar pertanyaan dari ibunya. Mendengar jawaban abid samir hanya terdiam dan tersenyum kecil.
“beberapa bulan? Kenapa? Kalau belum ada tempat tinggal, tinggal disini saja. Temani abid kalau malam dia sendirian masnya jarang pulang sering keluar kota” sambung ayahnya
“iya, abid sudah bilang seperti itu sama samir. Sepertinya dia ragu yah”
“kenapa?” jawab laki-laki itu
“saya tidak enak saja membuat orang lain susah. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada ayah, ibu, tuan abid dan mas ijal sudah memberi tumpangan selama saya dijakarta. Saya sangat berterima kasih dengan keluarga ini yang begitu baik menerima saya”
“tidak samir. Tidak ada yang merasa disusahkan oleh kamu. kita bahkan senang kamu tinggal disini. Tidak apa-apa. tempat tidur? Masih banyak kamar yang kosong, atau kamu mau tidur dikamar mas? Tidak apa-apa tidur saja” sebut laki-laki yang berwajah putih itu
“jangan mir. Kamar mas ijal kotor bau. Lebih enak dikamar aku saja bersih tidak ada noda yang telihat” kelakar sahabatnya.
Lalu semua orang tertawa, betapa bahagaianya hati laki-laki yang terusir itu. inilah yang diharapkan oleh laki-laki itu, andaikan saja keluarganya seperti ini alangkah bahagianya laki-laki itu. tak hayalnya samir tersenyum kecil melihat keluarga kecil ini bercangkraman.
Jam dinding yang berdetak menunjukkan pukul 10 malam, samir terlihat duduk termenung di dalam kamar itu, dilihatnya sekali-kali fotonya bersama abid pada acara tahun lalu. Ia pun tersenyum kecil, pikirannya entah kemana sekali-kali ia menerawang kelangit yang kelam itu mencoba untuk menghibur diri dengan melihat bintang-bintang yang bertaburan.
“samir?” ucap laki-laki yang berbadan kurus itu.
Samir pun terbangun dari lamunannya, ia melihat laki-laki itu  dengan wajah yang tak enak, ia hanya tersenyum kecil melihat sahabatnya itu.
“kenapa?” sebutnya
“tidak”
“sudah kau coba menghubungi abangmu?”
Mendengar itu samir hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Ia tahu akan jawaban dari sahabatnya itu. tak akan sudih abang-abangnya menerima cakapan terhadap samir yang malang itu.
“lalu. Apa yang kamu akan lakukan? Kamu akan lari dari mereka?”
“entahlah. Aku tidak tahu. Mungkin saja iya, aku tidak ingin mereka membenci aku”
“tidak salahkan kalau kamu menjelaskan perkara itu “
Lalu samir menggelengkan kepalanya lalu berata “sudah tuan, aku tidak tahu lagi apa yang harus aku jelaskan. Mereka tidak percaya sama aku lagi”
“lalu kapan kamu akan menemui orang perusahaan itu?”
“besok. Pak dekan kemarin sudah konfirmasi sama orang perusahaan itu”
“baiklah, besok aku akan minta sama mas ijal untuk mengantarkan kamu ke percetakan editor itu. mas ijal tahu dimana tempatnya”
Samir hanya diam  tak kuasa rupanya ia meladeni percakapan sahabatnya itu. abid melihat tingkah samir yang begitu gundah, perasaan yang tak menentu. Mata yang tak bercahaya, bola mata yang tak begitu indah.
Pagi yang cerah, matahari memancarkan cahayanya yang indah. Kota jakarta yang begitu ramai, terdengar dengan jelasnya suara hiruk pikuk kendaraan yang memadati ibu kota. Samir terlihat berpakaian yang begitu rapi dan bersih hari ini ia akan menemukan direktur percetakan editor tersebut. Dengan rasa yang bangga dan gundah ia pun melangkah dengan bimbang. Abid tak terlihat pagi itu, ia tidak bisa menghantarkan samir karena ia ada urusan dikampusnya. Samir berjalan menyusuri rumah yang klasik itu, rizal yang terlihat berjalan disamping samir yang tak terlihat begitu tampan. Lalu kedua pemuda itu pun masuk kedalam mobil hitam dan pergi meninggalkan rumah yang indah itu. didalam mobil itu samir hanya terdiam dan berkali-kali termenung mengenang nasib dirinya. Berkali-kali pula ia membayaangkan adik-adiknya, hatinya yang begitu terbeban meninggalkan adiknya. Janji yang ia ingkari pada ayah dan ibunda untuk menjaga adik-adiknya, rizal hanya terdiam melihat samir yang tak jua terlihat senyum dibibirnya. Beberapa menit dalam perjalannya mobil itu berhenti dihalaman gedung yang besar lalu samir pun turun dari mobil hitam itu. alangkah terkejutnya samir melihat gedung yang tepat dihadapannya itu. ta pernah ia membayangkan sebelumnya untuk dapat menginjakkan kakinya di tempat percetakkan yang besar itu. terlihat matanya tak berkedip, ia termenung hatingnya tak dapat di lukiskan perasaan yang bercampur. Rizal pemuda itu pun segera mengajak samir untuk masuk kedalam gedung yang besar itu. didalam gedung yang besar itu terlihat begitu banyak orang-orang yang kehulu dan kehilir menyusuri setiap ruang-ruang yang ada. Samir memperhatikan setiap benda-benda yang ada didalam gedung itu. lalu kedua itu melangkah menuju resipsionis untuk menemukan direktur perusahaan.
“selamat pagi? Ada yang bisa saya bantu?” ucap wanita penjaganya
“selamat pagi mbak, saya samir. Saya ingin bertemu dengan pak ridwan saputra”
“oh, tuan samir. Pemenang sayembara itu.”
“ia” Samir hanya tersenyum mendengar ucapan wanita itu.
“tunggu sebentar, saya akan konfirmasi kepada asisten pak ridwan”
Lalu wanita itu menelpon asisten direktur yang disebutnya, terdengar kecil percakpan antara kedua wanita itu. samir hanya terdiam. Rizal pun tak berdaya, ia hanya berdiam diri dibelakang samir tak hayalnya ia melihat-lihat lukisan dan buku-buku yang terpajang, buku-buku yang pernah menjadi best seller dinegeri ini. Tak sengaja laki-laki itu melihat sebuah foto yang disudut ruang, laki-laki itu mendekat dan mencoba memastikan foto itu. alangkah terkejutnya laki-laki itu setelah melihat foto itu dengan jelas “samir” ucapnya kecil. Lalu pemuda itu semakin mendekati foto itu ia tersenyum melihat foto samir yang memegang bukunya yang berjudul “mentari yang kelam” yang menjadi buku terbaik.
Lalu pemuda itu mendekati samir yang tak bergerak dari meja resipsionis. Dan pemuda itu pun segera memberi tahu kabar baik itu pada samir yang mulai bosan menunggu kedatangan direktur yang dicarinya.
“samir” ucapnya
“iya mas.”
“coba lihat itu”
“apa mas?”
Samir tidak begitu menangkap percakapan laki-laki itu ia hanya menunggu konfirmasi dari wanita yang dihadapannya itu.
“itu lihat. Ada foto kamu?”
Lalu samir membalikan badannya dan melihat kearah foto yang ditunjuk oleh pemuda yang tampan itu. betapa bangga dan bahagiannya hati samir melihat fotonya. Ia tersenyum, dan bertingkah seakan ingin berlari menuju foto itu. sekali-kali pemuda disampingnya itu melihat senyum kecil samir yang keluar dari mulutunya. Mata samir sedikit berlinang, seandainya amar dan pak dekan ada disampingnya melihat itu bersamanya pasti laki-laki itu akan semakin bahagia. Lalu disaat hati samir mengembara wanita yang berdiri dibelakangnya itu berkata dan samir pun membalikkan badannya.
“tuan, maaf sudah menunggu. Pak direktur sudah menunggu anda diruangnya. Nanti anda akan diantar oleh petugas kita ke ruang pak direktur”
“oh, iya terima kasih mbak” ucap laki-laki yang berbahagia itu
“mari tuan, saya akan antar ke ruang pak direktur” ucap petugas yang berpakaian rapi itu
“oh, ia. Terima kasih mbak. Ayo mas” ucap samir pada pemuda tampan yang berdiri disampingya itu.
Samir dan pemuda itu menyusuri setiap ruang itu mengikuti petugas yang berjalan didepannya. Matanya tak hayal melihat setiap sudut ruang. Begitu banyak buku-buku dan lukisan yang terlihat, foto orang-orang yang terkenal penulis buku yang termashur dinegeri ini dan serta buku-buku yang menjadi best seller sepanjang masa.
“nanti kalau kamu sudah terkenal. Buku kamu diterima dikelayak ramai foto kamu akan diletakkan disana samir” ucap rizal pada laki-laki itu
“oh begitu iya mas”
“iya, disana foto orang-orang yang pernah menulis buku best seller dan berhasil menjadi peringkat utama dinegeri ini. Itu penulis cerita remaja yang terkenal ROMAN PANJAITAN orang sumatera dulu dia hidup susah, tinggal dipinggir sungai. Tapi berkat bakatnya ia sekarang menjadi penulis terkenal. Dia membuka percetakan sendiri di daerahnya sudah banyak buku-bukunya difilm kan”
“semoga saja nasibku akan seperti dia ya mas?”
“mudah-mudahan saja”
Lalu laki-laki yang berjalan didepan kedua pemuda itu berhenti tepat di depan ruang direktur perusahaan. Dilihatnya pintu yang berwarna hitam itu, sepertinya itu adalah benar ruang pak direktu terlihat tulisan namanya diatas pintu.
“ini, mas ruangan pak direktur”
Samir menganggukkan kepala dan tersenyum kepada laki-laki itu, rizal tak jua bersuara hanya melihat pergaulan samir dan pemuda itu, lalu pemuda itu memukul pelan pintu ruang pak direktur dan masuk kedalam ruangn itu. didalam ruangan itu terdengar percakapan kecil antara pemuda itu dan pak direktur.
“selamat pagi pak. Tuan samir sudah datang. Dia ingin bertemu dengan bapak”
“dimana dia sekarang?”
“diluar pak”
“baiklah, suruh dia masuk”
Dan petugas itu kembali menemui samir dan rizal yang berdiri diluar ruangan.
“tuan, pak direktur mempersilahkan masuk”
“baiklah. Terima kasih mas”
Dan petugas itu pun melarikan diri dari hadapan samir. Dan samir pun masuk kedalam ruang itu. dengan rasa bangga dan jantung yang berdetak hebat samir membukakan pintu dan melangkah bersama pemuda yang disampingnya itu. jantung samir semakin berdetak, sejenak ia melihat lai-laki yang berdiri menghadap lemari dan membaca buku yang dipegangnya. Dilihatnya seisi ruangan itu, ruang yang begitu besar dan rapih tak seperti ruang pak dekan dikampusnya dulu raungan yang kecil dan sempit. Lalu samir melihat laki-laki itu kembali, laki-laki itu tak berbeda jauh dengan pak dekan berbada besar dan perut sedikit besar
“selamat pagi pak” ucap samir
Lalu laki-laki yang membaca itu menengok kearah samir. Sekali-kali ia termenung menlihat samir yang berdiri terdiam dari kejauhan. Dibukakan kaca mata yang dipakainya, dan meletakkan buku yang dipegangnya.
“samir” ucapnya
“iya pak”
“ayo. Kesini jangan berdiam disitu saja Silahkan duduk”
Dan kedua pemuda yang berdiri itu mendekati meja pak direktur dan duduk tepat hadapannya. Dengan rasa yang tak menentu, jantung samir berdetak dengan kencang lalu samir menyalimi laki-laki itu begitu pun dengan rizal yang tak bersuara itu. sekali-kali kedua itu memandang pak direktu yang tak bersuara itu. sesaat samir termenung, ia terpir pada adik-adiknya. Kebencian adik-adiknya menjadi bebean pada samir yang tak jua bersemangat dalam hidupnya.
“awalnya saya mengira kalau kamu berusia diatas 30 tahun. Bapak melihat kata-kata dalam tulisan kamu sangat indah. Diksinya sangat sederhana dan menarik untuk dibaca. Sejak kapan kamu suka menulis?” sebut laki-laki yang berkaca mata itu
“sebenarnya saya tidak begitu suka menulis pak. Hanya sekedar membuang rasa bosan”
“oh, begitu. Jadi menulis bukan hobi kamu?”
“tidak begitu. Menulis kalau saja diminta oleh pak dekan. Dan jika saya merasa bosan”
“kuliah ambil jurusan apa?”
“sastra pak”
“sastra? Bagus” kata laki-laki itu lalu kemudian “semoga kita dapat bekerjasama dengan baik. Ini kontrakkan perusahaan dan kamu. jika kamu dapat berkontribusi dengan baik dengan perusahaan maka kontrak ini akan kita perpanjang. Semua fasilitas untuk kamu sudah dipersiapkan oleh perusahaan, komputer, mesin ketik jika dibutuhkan, mesin cetak sudah disediakan”
Samir dan rizal pun melihat kertas putih yang berisi perjanjian kontrak antara samir dan perusahaan, sungguh samir tak pernah menyangka akan dapat bekerja sama dengan percetakan yang terbesar. Dilihatnya pula uang yang akan diperoleh samir dengan perusahaan ini. Hati samir semakin bahagia, rizal yang duduk itu tersenyum kecil melihat perjanjian itu.
“saya lihat, pasar menerima tulisan kamu. hampir satu juta buku kita terbitkan dan sangat fantastis dalam satu minggu semua buku terjual tanpa sisa. Banyak produser film menawarkan kepada perusahaan untuk difilm kan. Saya kira itu bukan hak perusahaan untuk diangkat menjadi film tanpa seperngetahuan dan kesepakatan kamu. oleh karena itu saya meminta kepada teman saya untuk meminta kamu bekerja sama dengan perusahaan ini” cerita pak direktur
Sejenak samir terdiam dalam keraguan, memikirkan semua resiko yang akan terjadi bila dirinya menerima tawaran itu. dia akan tinggal dijakarta dan meninggalkan adik-adiknya ditanah seberang nan jauh. Namun ketika samir membayangkan betapa kejamnya diri-diri orang itu kepadanya, hanya  benci dan penyesalan yang teriang dikepala laki-laki itu. membayangkan perkataan saudaranya membuat dirinya menjadi kuat, sering kali abang-abangnya merendahkan dirinya, sering kali pula saudaranya merendahkan tulisannya, dan seringkali pula membuang hasil karyanya. Dan kini saatnya samir untuk bangkit membuktikan kepada saudaranya bahwa dirinya bukanlah laki-laki yang lemah dan mengemis akan kasihan orang lain. Begitu banyak pelajaran yang didapat oleh laki-laki itu atas semua yang terjadi padanya. Tanpa bimbang dan ragu lalu samir menandatangani kertas yang ada dihadapannya itu. laki-laki berkaca mata itu pun tersenyum melihat samir menggoreskan tinta pena diatas kertas itu. semenatara itu, rizal yang duduk terdiam itu pun tersenyum melihat sahabat adiknya itu akan menjadi penulis besar dinegeri ini.
“baiklah, kontrak kerja kita sudah siap, nanti saya akan kasih kamu satu arsip kontrak ini. Ingat buatlah semua orang menikmati tulisan kamu”
“baiklah, terima kasih pak. Tapi, saya meminta satu syarat. Saya minta tolong ketika tulisan saya nanti diterbitkan, saya tidak ingin menggunakan nama lengkap saya. Saya ingin memakai nama pena saya RAHMAT WIJAYA ” sebut samir dengan ketegasan
“mengapa? Bukannya setiap orang menulis memakai namanya sendiri. Agar namanya terkenal dimasyarakat?”
“saya tidak ingin melupakan jasa almarhum kedua orang tua saya. Biarlah nama saya tidak dikenal oleh orang-orang yang terpenting saya ingin orang-orang berdo’a atas nama orang tua saya ketika orang-orang memberi do’a setelah membaca buku saya nanti”
Sedetik laki-laki berbadan besar itu termenung. Begitu haru dan hening mendengar ucapan pemuda yang bersedih itu. sungguh samir anak yang begitu baik tidak pernah melupan jasa kedua orang tuanya walaupun kini ia menjadi orang besar. Rizal terhempas dalam keheningan wajahnya yang penuh dengan kesedihan mendengar ucapan samir.  Tak hayalnya ia melihat keatas untuk menutupi kesedihannya.
“baiklah, kalau itu yang kamu inginkan”
Suasana hening dan sunyi yang terlihat didalam ruangan itu, samir yang duduk dalam kesedihan. Terlihat diraut wajahnya kesedihan yang tanpa henti. Nasibnya begitu malang terhempas jauh dinegeri orang tidak diterima dinegerinya sendiri.





PESAN DARI AMAR DAN PAK DEKAN
T

iga bulan sudah samir berada ditanah ibu kota. Samir mulai terbiasa dengan keadaan kota. Telah banyak tulisan-tulisan samir yang telah dilahirkan dari tangannya. Buku-buku yang menjadi buah bibir disetiap kisah-kisahnya. Begitu dahsyat kata-kata yang ditulisnya begitu indah syair dalam setiap kalimatnya. Tiga bulan setelah kepergiannya dari amar sahabatnya samir tidak sempat untuk memberi kabar kepada sahabatnya nanjauh dinegeri sana. Hari itu tepat dihari tiga bulan dua sahabat itu bepisah jauh. Pagi yang sejuk menerpa ibu kota terlihat awan sedikit mendung menutupi ibu kota  samir terduduk bersedih menuliskan sepucuk surat untuk sahabatnya yang begitu ia rindukan

Untuk sahabatku amar...
Dengan deraian air mata yang mengalir, dari ibu kota yang penuh keegoisan ini kutulis sepucuk surat untukmu. Apa kabar sahabatku amar disana? Semoga engkau selalu dalam keadaan sehat dan dilindungi oleh Allah. Tidak terasa tiga bulan kita tidak bersama, rasa rindu bergejolak tiada henti bermain didalam hati ini. Maafkan diriku yang lemah ini amar, kalau sekarang aku baru memberi kabar kepadamu, bukan bermaksud untuk lari padamu tapi aku hanya sejenak untuk menenangkan hati yang terlalu sakit karena terhempas dalam dusta. Mungkin kamu selalu mencoba menghubungiku melalui HP yang kau titipkan padaku waktu itu, tapi maafkan aku amar, aku belum bisa menggunakan HP itu untuk menghubungi dirimu. Begitu banyak cerita yang harus aku berikan kepadamu. Andaikan saja kamu hadir disampingku aku akan bahagia melihat kemasyuran diriku. Amar sahabatku, disini aku tinggal dirumah sahabatku namanya abid biasa aku panggil dengan nama tuan abid. Keluarganya begitu baik padaku. Dia mempunyai saudara namanya rizal, ketika aku lihat dia tidak jauh beda dengan dirimu. Setiap kali aku merindukan kamu, aku melihat mas rizal untuk menghilangkan rasa rindu itu. Amar, bagaimana kabar pak dekan? Sungguh aku sangat merindukannya. Tolong sampaikan rasa terima kasihku kepadanya atas segala kebaikan dirinya selama ini. Sahabatku amar, mungkin kau pernah melihat atau pun membaca tulisanku. Dalam bukuku aku tidak menggunakan nama aku. Aku menggukan nama penaku RAHMAT WIJAYA aku tidak ingin menggunakan namaku dalam tulisan itu karena aku takut luka yang dulu kembali terasa menyakiti. Bersama surat ini aku berikan satu buku hasil karyaku. Buku yang berjudul “matahariku” ini terinspirasi dari seorang laki-laki yang selalu memberi energi dalam hidupku. Namun terkadang aku tidak menerima energi darinya karena aku terlalu sombong dan merasa energinya tidak penting bagiku, namun energi itulah yang membuat aku selalu hidup hingga sekarang dan laki-laki itu sedang membaca tulisan ini. Amar sahabatku, kuingin kau tidak mengatakan dengan siapa pun bila aku memberikan sepucuk surat padamu aku juga memohon padamu untuk tidak mengatakan apa pun kepada saudaraku disana. Aku percaya padamu wahai sahabatku. Cukup sekian kutulis surat ini. Bila ada waktu tolong kau balas surat ini. Tolong kau kirimkan kealamat dibawah surat ini.
Salam rindu untukmu, sahabatku amar...
Dari sahabatmu yang lemah tak berdaya, Samir...

Betapa pilunya hati amar ketika membaca surat dari sahabatnya tetesan air mata yang terus mengalir dibalik kelopak matanya terlihat sekali-kali ia menghapusnya. Rintihan kecil terdengar dibalik mulut amar tak dapat dilukiskan lagi keadaan hati amar, sungguh kerinduan yang mendalam akan sahabatnya yang telah pergi jauh agak terobati dengan datangnya sepucuk surat dari jakarta itu.
Tiga bulan setelah kepergian samir orang-orang yang hidup dirumah yang mewah itu tak juga khawatir pada samir. Suasana rumah yang mulai tidak teratur telah tampak disetiap sudut rumah. Pakaian yang dipakai mulai terlihat kusut dan kolot. Didalam kamar yang besar itu rivandi terlihat termenung didalam duduknya. Dipandangnya langit cakrawala yang membentang di alam semesta, bintang yang berkedip kecil menemani setiap cahaya bulan yang tampak bersinar dengan indahnya. Sekali-kali ia teringat kisah tiga bulan yang lalu pada kakaknya samir. Pemuda yang malang yang terbuang dari rumah dan kampung halamannya. Laki-laki yang bercelana pendek itu selalu memperlihatkan wajah sedihnya teringat akan nasib kakaknya.
“pung, bagaimana kabar kakak? Kakak ada kasih kabar?” tanya iqbal adiknya
“belum. Tidak ada kabar dari kakak”
“apung sudah coba kirim email kakak?”
“email? Tidak”
“abang amar?”
“apung tidak punya kontaknya”
Beberapa saat adik dan kakak itu bercakap-cakap terlihat seorang pemuda bercelana panjang berwarna hitam melangkah kearah kedua laki-laki yang bersaudara itu. lalu laki-laki itu duduk dikursi disamping rivandi yang tak menyadari akan kedatangan pemuda itu. lalu iqbal pun melarikan diri meninggalkan pemuda itu bersama rivandi yang termenung.
“mikir apa?” ucap laki-laki itu
Rivandi terkejut mendengar ucapan laki-laki itu. dilihatnya pemuda itu, terbayang sudah dipikirannya perlakuan pemuda itu kepada kakaknya betapa kejamnya ia memukul kakaknya hingga terjatuh.
“mas” ucapnya lesu
“ada masalah?”
“tidak”
“lalu? Kenapa adik mas termenung tak bersemangat seperti itu?”
“tidak ada apa-apa mas!”
“kalau ada masalah cerita sama mas”
“tidak ada mas. Apung hanya memikirkan kakak”
Mendengar itu pemuda itu sedikit terkejut. Senyum dibibirnya terlihat menghilang. Terlihat kebencian yang masih tampak diraut wajah pemuda itu kepada samir. Sekali-kali rivandi melihat kearah pemuda itu yang terlihat tak bersemangat ketika mendengar  nama samir yang malang itu.
“kenapa apung memikirkan dia?”
“apung tidak percaya saja kakak terbuang dari rumah ini, terbuang dari tanah kelahirannya. Terpisah dari keluarganya. Sekarang tidak tahu bagaimana keadaan kakak”
“salah dia sendiri sudah melakukan perbuatan yang tidak baik”
“dia, dia namanya samir mas. Kakak tidak pernah melakukan hal itu”
“sudahlah pung jangan pernah membela dia lagi. Dia sudah mempermalukan keluarga kita lebih baik dia tidak ada disini daripada dia selalu membuat orang susah”
“apung tidak percaya mas bisa melakukan hal itu. kakak pernah bilang sama apung, kalau mas itu adalah orang yang kakak percaya. Setiap hari dihari-hari kakak selalu ada mas, bagi kakak mas itu adalah malaikat dalam dirinya. Kakak selalu percaya pada mas walaupun mas pernah melakukan hal yang sangat buruk dalam hidup mas, setiap orang tidak percaya mas, disetiap orang menjauh mas hanya kakak yang mengerti perasaan mas. Namun ketika kakak mendapatkan musibah itu, tidak satu orang pun percaya sama kakak termasuk malaikatnya”
Rivandi pun meninggalkan seorang diri laki-laki yang terduduk termenung itu. dimas hanya terdiam bisu mendengar ucapan rivandi yang sangat menyusuk hatinya. Matanya sedikit terlihat menyesal namun ia tidak memperdulikan ucapan rivandi yang penuh ketegasan itu.
Setelah membaca surat dari sahabatnya samir, amar mencoba untuk membalasnya. Dalam surat itu amar melepaskan rasa rindu yang sangat mendalam pada sahabatnya itu. betapa bahagianya samir mendapat balasan surat dari sahabatnya yang sangat ia tunggu-tunggu.

Untuk sahabatku samir....
Lepas nafas sesak didada untuk bersua denganmu, telah ku baca sepucuk surat rindu darimu. Kabarku disini baik-baik saja begitu pun dengan pak dekan. Bagaimana dengan kabarmu disana? Do’a dan harapan kepada tuhan selalu kupanjatkan untuk kebaikanmu. Telah ku baca sebuah buku  nan indah darimu, buku yang amat elok dan indah, kata-kata yang menyejukkan kalbu. Sahabatku samir. Pak dekan begitu bangga denganmu. Kehebatanmu dalam merangkai kata-kata berhasil menciptakan sebuah kisah yang sangat menggentarkan hati. Pak dekan menitipkan salam rindu dan bangga akan dirimu.
Samir sahabatku, kapan engkau akan pulang? Tak kuasa hati ini ingin memeluk dirimu yang telah lama aku rindu, tak kuasa bibir ini untuk menceritakan sesuatu yang indah untuk aku jelaskan padamu. Tak kuasa telinga ini untuk mendengarkan cerita yang dahsyat darimu. Maafkan aku samir tidak dapat menemanimu disaat engkau membutuhkan seorang untuk berbagi cerita. Aku akan tunggu dirimu ditempat yang telah kita janjikan. Jaga  dirimu baik-baik samir, pak dekan berpesan agar engkau selalu berbahagia disana. Salam rindu dari diriku....
Dari sahabatmu amar....

Tak kuasa samir menahan gejolak hatinya. Batin yang terus menerus bermain tak menentu. Terjatuh sudah air matanya mengalir dipipinya yang terlihat tak berdaya itu. mata yang terpancar rindu yang amat mendalam pada sahabatnya amar.
Setelah membaca surat dari amar sahabatnya abid melihat dengan heran dan tak mengerti dengan sikap samir yang menangis seorang diri duduk dikursi menghadap jendela yang terbuka itu.
“samir” panggilnya
Mendengar itu samir pun menghapus air matanya yang mengalir dipipi, dilihatnya pemuda yang memanggilnya itu, lalu samir pun tersenyum dengan pemuda itu. abid melihat samir tersenyum ia pun membalas senyumannya. Dilihatnya mata samir yang merah berairan itu, dilihatnya pula bulu matanya yang sedikit basah karena air mata.
“kamu menangis?” sebutnya
“tidak” ucap samir tersenyum kecil
Samir mencoba untuk menutupi kesedihannya. Namun abid tidaklah sebodoh itu, ia mengetahui bahwa laki-laki dihadapannya itu menangis.
“mengapa? Ada masalah?” tanya abid sambil duduk dikursi didepannya
“tidak tuan. Aku baik-baik saja”
“mulut bisa berbohong, tapi mata kamu mengatakan kalau kamu lagi bersedih”
Perkataan itu persis apa yang  dikatan oleh adiknya rivandi beberapa bulan yang lalu ketika dirinya diusir dari rumahnya. Terkenang sudah laki-laki itu pada adiknya rivandi yang amat ia sayangi. Mengenangi itu samir semakin terpuruk dalam kesedihannya.
“sudahlah, jangan kau kenang masa lalumu. Biarlah mereka menyesali akan perbuatannya padamu. Jangan kau membuat kesedihanmu ini menguburkan semangatmu untuk berkarya. Aku lihat saat kau tinggal disini kau selalu dalam kesedihan. Aku tahu kau masih mengenang keluargamu disana. Jangan kau terlalu memikirkannya belum tentu mereka memikirkan dirimu. Kau sengsara dalam kesedihan sedangkan mereka bersenang dalam kebahagiaan. Samir, sudahlah mengenang mereka, kau tunjukkan kepada mereka kalau kau bisa hidup tanpa mereka. Kau bisa berjaya dengan karyamu” nasihat abid
Nasihat itu agak sedikit membuat samir kuat  namun hatinya tetap juga bersedih. Samir hanya terdiam mendengarkan ucapan pemuda itu. ia hanya memandang kertas yang ditangannya.
“tidak tuan, aku tidak memikirkan mereka aku hanya sedih membaca surat dari sahabatku amar. Dia menanyakan kabarku. Itu yang membuat aku sedih”
“tidak” abid menggelengkan kepalanya lalu “kau berbohong. aku tahu kalau kau merindukan keluargamu. Kau sangat berharap kepada mereka untuk menjemput dan menjengukmu disini”
“tidak tuan, aku tidak pernah berpikir seperti itu. aku hanya saja menjalankan apa yang mereka pinta”
“apa aku harus surati keluargamu, untuk menjemputmu?”
“tidak, jangan tuan. Aku tidak ingin mereka semakin membenciku”
“iya, tapi aku tidak bisa melihatmu seperti ini. Terpuruk dalam kesedihan, mengharapkan sesuatu yang tak dapat kau dapati”
“sudahlah. aku tidak apa. aku baik-baik saja. Biarkan waktu yang menjawabnya”
Sinar bulan yang memancar menemani pergaulan kedua sahabat itu. abid yang terlihat emosi melihat tingkah samir yang terpuruk dalam kesedihan harus membuatnya tegas dalam menghadapi samir laki-laki yang lemah dan baik hati. Samir yang lemah dan tak berdaya itu mencoba untuk menyembunyikan kesedihannya dibalik kelopak matanya yang mulai layu lunglai.

BALASAN HATI YANG IKHLAS
S

etahun sudah samir menumpang hidup dari keluarga sahabatnya yang begitu baik. Ayah dan ibunya melayani samir seperti anak sendiri rizal memperlakukan samir bagaimana ia memperlalukan abid adiknya. Dan abid pemud yang baik hati itu begitu banyak menolong pemuda yang malang itu. telah bersedia menjadi pelengkap hidup selama dua tahun, tatkala semua orang menjauhinya hanya dia seorang yang bersedia menerimanya.
Kini samir harus pergi meninggalkan rumah abid dan keluarganya. Samir telah mendapatkan hasil dari kesabaran dan keikhlasan selama ini, ia mendapatkan sebuah rumah yang indah dan begitu anggun bak istana raja dari perusahaan percetakan dimana tempat ia menciptakan karya tangannya. Pagi itu sekitar jam 8 pagi, matahari hangat menyinari bumi samir didampingi oleh keluarga abid menghantarkan dirinya untuk pergi meninggalkan rumah itu.
“jaga dirimu baik-baik nak?” ucap laki-laki paruh baya itu
“insyallah yah”
“jangan kau sungkan bila ingin berkunjung kesini. Disini juga rumahmu, kapan saja kau ingin kerumah pintu selalu terbuka untuk mu. Jaga dirimu baik-baik” ucap wanita yang baik itu
Samir tersenyum menahan air matanya agar tidak terjatuh membasahi pipinya. Ia melihat wanita yang menangis itu, sungguh besar hati wanita itu telah bersedia menumpangkan samir hidup selama dua tahun.
“ayah, ibu. Samir hanya bisa mengucapkan terima kasih sudah bersedia menjadi keluarga selama ini. Tidak banyak saya berikan kepada kelaurga ini selain do’a. Disaat semua orang menjatuhkan dan menghina saya keluarga ini bersedia memberi harapan kepada saya. Semoga tuhan membalas kebaikan keluarga ayah dan ibu”
Lalu wanita itu menangis, laki-laki yang berdiri disampingnya itu menundukkan kepala abid dan rizal yang berdiri dibelaang samir terharu mendengar ucapan samir yang begitu menyejukan jiwa.
“kami senang mengenalmu, kau orang yang baik dan budiman” sebut kembali wanita itu
“maaf ibu, ayah selama ini samir telah membuat banyak susah orang rumah selama saya tinggal disini. Mohon keikhlasan selama saya tinggal disini makan, minum dan lainnya”
Tak kuasa untuk berbicara wanita itu hanya diam dalam tangisannya. Ia menangis tersedu mendengarkan ucpan samir. Wanita itu begitu menyayangi samir seperti anaknya sendiri. Lalu laki-laki dihadapan samir itu pun berkata 
“sudahlah nak, tak perlu kau berbicara seperi itu. tidak ada yang merasa disusahkan selama kau tinggal disini. Dirimu begitu baik, semoga tuhan selalu melindungimu” 
“saya pergi dulu ayah, ibu”
“iya, hati-hati. Jaga dirimu baik-baik” ucap wanita itu dengan lemah
Samir pun melangkahkan kakinya menyusuri setiap jalan dari rumah itu, didampingi oleh abid dan rizal samir meninggalkan rumah yang besar itu. begitu berat hatinya untuk meninggalkan keluarga yang baik itu, dua tahun ia telah begitu banyak belajar arti kehidupan dari keluarga sahabatnya itu.
“bila kau merasa kesepian. Kau bisa datang kesini samir, rumah kamu kan tidak jauh dari disini” ucap sahabatnya
“iya tuan pasti. Oleh karena itu aku meminta rumah yang tidak jauh dari disini bila merasa sepi aku bisa main kesini”
“mengapa kau harus keluar dari rumah ini samir. Mas pasti akan merindukanmu”
“mas. Sudahlah. kan ada tuan abid dirumah”
“abid, tidak enak kalau diajak berbicara. Maunya hanya minta makanan saja” ledeknya pada adiknya
“nanti jangan lupa main ketempat saya. Kalau ada waktu ajak ibu dan ayah juga berkunjung ke rumah saya. Jangan sungkan, rumah dan seisinya juga milik keluarga ini” sebut samir
“mengapa begitu?” tanya sahabatnya tak mengerti
“kita adalah keluarga. Apa yang ada dirumah itu juga adalah milik kalian juga. Bagaimana ayah dan ibu kalian katakan padaku waktu pertama kali aku datang kerumah kalian”
Kedua pemuda itu hanya diam. Mobil hitam itu langsung pergi meninggalkan rumah yang besar itu. tak pernah dibayangkan oleh samir ia harus tinggal seorang diri di ibu kota yang penuh teka-teki ini. Mobil hitam itu terus menyusuri setiap jalan disudut kota, hiruk pikuk terdengar dengan jelas ditelinga samir. Beberapa menit setelah menyusuri ibu kota lalu mobil itu pun berhenti tepat depan dirumah yang megah dan indah. Rumah yang berwarnah merah keemasan yang dihiasi dengan ornamen langit diatap rumahnya. Rumah yang begitu indah seperti rumah-rumah masyarakat belanda.
“ini rumahnya samir” sebut rizal dengan bangga
“iya mas, ini rumahnya” sebut samir
“menabjubkan. Sungguh indah besar seperti rumah belanda” sambung abid
“ayo masuk” ajak samir pada pemuda itu
Lalu kaki pemuda itu melangkah memasui rumah yang besar itu. dilihatnya disetiap sudut rumah, begitu indah dan anggun tidak tampak suasana keangkuhan. Begitu ramai terlihat didalam rumah itu, banyak pegawai yang kehulu kehilir membersihkan setiap sudut rumah. Lalu ketiga pemuda itu melihat kebelakang rumah itu, alangkah terkejutnya abid dan rizal ketika melihat anak-anak yang bermain dihalaman rumah samir.
“siapa anak-anak itu?” tanya rizal penanasaran
“itu anak-anak yatim piatu” ucap samir dengan penuh kepastian
“anak yatim? Mengapa?” sebut abid kembali
Samir tersenyum kecil lalu “sepi bila rumah sebesar ini hanya ada aku seorang. Mereka anak-anak yatim piatu dibawah asuhan perusahaan tempat aku bekerja. Biarlah mereka merasakan hidup senang, saya tidak ingin melihat hidup mereka selalu dihina dan direndahkan orang. Biarlah rumah ini diramaikan oleh do’a anak-anak yang disayangi oleh tuhan” ucap samir
Abid dan rizal pun melihat ke arah samir yang berdiri tegap itu. begitu bangga dan bahagia hati kedua pemuda itu pada samir yang begitu baik. Abid tersenyum pada samir. Dilihatnya mata samir yang penuh keihlasan itu. rizal tak hayalnya melihat anak-anak itu bermain dengan riangnya.
“sungguh kau baik samir kau adalah pemuda yang budiman penuh keihlasan” sambung rizal pada pemuda yang baik itu
“aku tidak ingin mereka seperti nasibku, direndahkan dan dihina oleh orang-orang. Biarlah mereka tidak merasakan apa yang aku rasakan. Aku ingin mengubah nasib mereka agar mereka tidak terbuang dan terusir dari tanah mereka seperti mana yang aku alami” ucap samir penuh haru
Mendengar itu abid dan rizal termenung, matanya terlukis penuh kebanggaan. Samir sungguh pemuda yang berhati mulia begitu kiranya dalam pikiran abid sahabatnya.
“inilah, balasan tuhan padamu. Balasan hatimu yang ikhlas, samir”
Malam yang kelam, terlihat ada satu bintang yang bersinar, dalam rumah itu samir tak hayalnya mencoba untuk membuat setiap orang menikmati kemuliaan yang didapatnya. Rumah yang begitu anggun dan cantik rupa, didalam ruang kerjanya terlihat foto keluarganya dan foto almarhum ayah dan ibundanya yang sengaja ia letakkan agar ia selalu mengiangat orang-orang yang telah membuatnya seperti ini. Tidak diizinkan seorang pun yang memasuki ruang kerjanya, ia takut foto-fot itu akan dilihat oleh orang banyak. Foto orang-orang yang telah menjadi malaikat dan matahari yang kelam dalam hidupnya.
Malam itu samir terlihat gelisah, ia mencoba untuk menghibur diri dengan melihat-lihat kemegahan gedung ibu kota. Ia menyusuri jalan dengan mobil hitam yang dikendarai oleh seorang sopir pribadinya. Tatkala ia selesai menyusuri sudut ibu kota, ia melihat seorang laki-laki remaja yang duduk ditepi. Lalu mobil hitam itu berhenti tepat disamping laki-laki yang duduk itu. lalu samir pun turun menghampiri anak laki-laki yang terlihat pucat pasih itu.
“adik, kamu tidak apa?” sebutnya
Lalu laki-laki itu melihat samir dengan wajah yang sedikit ketakutan, ia melihat samir yang berpakaian sangat rapih dan bersih. Sekali-kali ia menundukkan kepalanya. Samir melihat laki-laki itu dengan jelas, ia terlihat seperti adiknya rivandi berkulit putih kurus tinggi berambut hitam.
“adik sudah makan?” tanya samir
Laki-laki itu tidak menjawab pertanyaan samir, ia tak hayalnya memegang perutnya karena sakit tidak terisi makanan. Samir pemuda yang baik hati itu pun mencoba untuk mengajak laki-laki itu untuk menaiki mobilnya.
“nama saya samir. Kamu tidak perlu takut dengan saya. Saya tidak akan berbuat apa-apa pada kamu” sebutnya “kamu belum makan kan? Ayo kita cari tempat makan”
Mendengar itu laki-laki itu pun melihat kearah samir karena perutnya terasa sangat lapar laki-laki itu pun menerima tawaran samir untuk mencari tempat makan. Lalu mobil hitam itu pun pergi dengan segera, didalam mobil samir tak hayalnya melihat laki-laki disampingnya itu. sesaat ia melihatnya samir teringat akan adinya rivandi sekilas laki-laki itu seperti adiknya berwajah bulat dengan dagu sedikit panjang. Dan mobil hitam itu pun berhenti ditempat biasa samir menghabiskan waktunya bersama sahabatnya abid dan juga rizal ketika malam hari tiba bila merasa lapar.
Laki-laki itu pun dengan malu dan takut memasuki tempat makan itu, dengan wajah yang pucat dan pakaian yang sedikit kusut ia melihat sekeliling ruangan itu, tempat yang begitu indah dan bersih. Lalu samir mempersilahkan laki-laki itu duduk dan memesan makanan untuk laki-laki itu.
“makanlah, jangan takut. Saya tidak akan menyakitimu” ucap smair pada laki-laki itu
Melihat samir tersenyum dan kebaikan dari wajah samir, anak laki-laki itu pun memakan makanan yang ada dihadapannya. Dengan lahapnya anak itu makan. Melihat itu samir pun tersenyum kecil, sekali-kali ia mengerutkan senyumnya. Ia menyimpan seribu pertanyaan dalam hatinya, apa yang telah terjadi pada anak laki-laki itu.
“nama kamu siapa?” tanya sami pada anak itu
“ilman” jawabnya
“mengapa kamu malam-malam sendirian ditepi jalan yang sepi?”
Mendengar pertanyaan samir, anak laki-laki itu sesaat terdiam dan berhenti menyuapkan makanannya. Terlihat matanya terbayang-bayang mengingat suatu peristiwa yang dialaminya.
“saya diusir oleh keluarga saya” sebutnya dengan nada yang lemah
“diusir?” sebut samir kemudian “mengapa? Mengapa kamu diusir?”
Lalu anak itu menggelengkan kepalanya “entahlah, saya tidak tahu. Mengapa alasan keluarga saya mengusir saya. Ketika saya pulang dari rumah teman saya, saya langsung diusir dari rumah”
“kamu tinggal dimana?”
“luar kota”
“bagaimana kamu bisa sampai kejakarta?”
“saya menumpang dengan mobil yang lewat”
Betapa pilu hati samir melihat anak itu. tak pernah dibayangkan olehnya betapa pilu hatinya ketika diusir oleh keluarga dengan perbuatan yang tidak pernah dilakukannya. Mata samir terlihat berkaca-kaca. Sekali-kali ia menutupi matanya agar mataya yang berkaca itu tidak pecah menjatuhkan air matanya.
“dijakarta kamu akan tinggal dimana?”
“tidak tahu” anak itu menggelengkan kepalanya
Tak tahu bagaimana perasaan samir, hanya terbesit rasa kasihan pada anak itu. dilihatnya dengan jelas anak itu. tak pernah dibayangkan olehnya bila itu terjadi pada adiknya. Alangkah pilu hati samir.
“kalau begitu, maukah kamu tinggal bersama saya?” tanya samir pada pemuda itu
Anak itu tidak menjawab, ia termenung sesaat, ia merasa ragu dan takut untuk menerima tawaran samir. Matanya menatap samir dengan penuh keyakinan. Dilihatnya wajah samir yang baik itu.
“tapi..” jawabnya sedikit ketakutan
“tidak perlu takut. Tinggallah bersama saya, saya akan menjadikan kamu seperti adikku sendiri” sebut samir menangis
“kamu menangis?” tanya anak itu
Samir tersenyum dan lalu menghapuskan air matanya. “saya hanya sedih melihat kamu”
“saya boleh memanggil kamu, kakak?” tanya anak itu
Ya Tuhan kuatkanlah hati samir. Mendengar itu samir semakin menjadi-jadi menangis, ingin rasanya ia memeluk anak laki-laki itu. berbagi kesenangan. Anak itu melihat samir yang menangis itu. namun ia tidak begitu menanggapinya, ia hanya menunggu jawaban samir atas pertanyaannya “iya. Boleh” jawab samir penuh haru.
Lalu Samir dan anak laki-laki itu pun pergi meninggalkan tempat makan itu. tak hayalnya samir memandang anak laki-laki itu, sungguh wajah rivandi adiknya terlihat jelas diwajah anak laki-laki itu. tak hayalnya samir tersenyum dengan laki-laki itu. dengan penuh ramah pula anak laki-laki itu membalas senyuman samir. Sungguh samir sangat bahagia darahnya mengalir dengan cepat. Jantungnya berdetak dengan kencang. Samir dan pemuda itu pun berhenti diistana samir yang megah, anak laki-laki itu memandang samir dengan heran penuh tanda tanya. Dilihatnya rumah yang indah itu.
“rumah siapa kak?” tanyanya penasaran
“ini rumah kakak, sekarang ilman tinggal disini?”
Dengan rasa ragu dan bimbang ilman pun melangkah menyusuri rumah yang besar itu, rasa takut masih terbesit dalam hatinya. Namun ketika ia melihat samir rasa takut itu pun hilang.
“wah, rumahnya bagus. Besar” ucapnya dengan nada yang semangat
“jangan sungkan. Rumah dan seisinya juga milik ilman”
“terima kasih kak. Saya akan melayani kakak sebisa saya”
“ah, jangan seperti itu. saya tidak meminta kamu untuk jadi pelayan saya”
“tidak apa kak, sebagai ucapan terima kasih saya pada kakak. Izinkan saya untuk mengabdi pada kakak”
Samir tersenyum “iya. Sekarang kamu mandi bersihkan badanmu. Nanti kakak akan meminta pada petugas untuk mempersiapkan pakaian untuk kamu. disana kamar kamu, kamu bisa istirahat disana”
Lalu ilman pemuda itu pun segera mengikuti perintah samir untuk membersihkan badannya. Sementara samir dengan segera membersihkan kamar yang akan ditempati oleh pemuda itu. samir pemuda baik ia melayani anak laki-laki itu seperti keluarganya sendiri. Beberapa menit kemudian setelah selesai membersihkan kamar ilman, samir mendengar suara memanggil namanya, suara itu sangat persis dengan suara adiknya rivandi.
“kakak” ucapnya
Lalu samir melihat kearah pemuda yang berdiri didekat pintu kamar itu. alangkah terkejutnya samir melihat ilman. Begitu tampan dan bersih, tercium bau sabun harum yang masih melekat dari tubuh pemuda itu. pemuda itu sangat mirip dengan adiknya baju yang dipakai celana pendek yang sering kali rivandi memakainya. Samir termenung melihat pemuda itu, terlihat air mata yang menetes dibalik kelopak matanya. Ilman melihat itu terheran-heran dengan sikap samir yang tidak dimengerti olehnya.
Samir mendekati pemuda itu, tangannya bergetar kakinya seakan lemah tak kuasa untuk berjalan, ilman terlihat takut dengan samir, namun ia tidak berdaya untuk lari karena melihat samir menangis. Setelah mendapati anak itu lalu samir pun memeluknya dengan erat, alangkah sedihnya hati samir dapat merangkul pemuda itu. pemuda itu tidak menolak pelukan samir ia hanya terdiam dalam kebingungan ia tidak mengerti apa yang ia lakukan, sesaat suasana kamar sunyi hanya terdengar suara tangisan kecil samir.
“kakak menangis?” sebut pemuda itu
Samir semakin erat memeluk laki-laki itu. lalu laki-laki itu membals pelukan samir dipeluknya laki-laki yang besedih itu. menetes sudah air mata samir dipundak anak pemuda itu.
“kakak, baik-baik saja?” katanya lalu “kakak. Mengapa? Apakah ada yang salah dengan pakaian ini”sebutnya heran
Lalu samir melepaskan pelukannya, dilihatnya pemuda itu, sungguh ia begitu mirip dengan belahan jiwanya. Pemuda itu telah membuatnya kembali mengenang adinya yang terpisah jauh.
“tidak. Kakak hanya terkenang dengan adik kakak”
“adik kakak?” tanya pemuda itu kembali
“iya. Ikut dengan kakak, saya akan memberitahu sesuatu padamu”
Dan pemuda itu langsung mengikuti perintah samir. Tak dipercaya, samir melangkah memasuki ruang kerjanya. Dibukakan pintu ruangan itu oleh samir dan pemuda itu pun memasukinya. Dilihatnya seisi ruang itu. sungguh indah dan elok rupa ruangan itu. bersih dan sangat cantik.
“ini ruang kerja saya. Selama ini tidak ada satu orang pun yang boleh memasuki ruang ini” sebut samir
“mengapa? Bukankah ruang ini begitu indah dan elok”
“inilah sebabnya”
Lalu samir melangkah menuju kesebuah dinding yang terlihat selehai tirai menutupi sebuah foto yang besar, dan samir pun membuka tirai itu. dan tampak sudah oleh pemuda itu foto keluarganya dan almarhum orang tuannya. Ilman pemuda itu melihatnya dengan heran. Matanya tak berkedip saat memandang foto itu, betapa terkejutnya pemuda itu. dilihatnya foto yang terpasang di dinding ruang itu.
“ini keluarga saya dan ini almarhum orang tua saya” tunjuk samir pada pemuda itu
“mengapa foto kakak sendiri?”
Sesaat samir terdiam. Dilihatnya foto dirinya itu, sesaat ia mencoba memejamkan mata untuk mencari jawaban dari pertanyaan pemuda itu.
“satu tahun lebih kakak tidak berjumpa dengan keluarga kakak. Kakak diusir dari rumah tempat kelahiran kakak. Kakak difitnah oleh adik kakak sendiri, kau bisa lihat pemuda berbaju putih tinggi itu, namanya rahmat kalau dirumah dia dipanggil aconk, saya difitnah olehnya. Suatu hari dia merayu padaku untuk menemaninya bertemu dengan seorang wanita disalah satu hotel, namun dengan bodohnya saya mengikuti perintahnya. Tapi sayang dia sudah bersengkokol dengan wanita itu untuk menjebak saya. Sebuah foto terlihat saya tidur bersama wanita itu. Semua orang tidak percaya dengan apa yang aku jelaskan, akhirnya mereka memutuskan tali persaudaraan antara aku dan mereka. Laki-laki bercelana hitam coklat pendek itu namanya rivandi dia adik kakak. Hanya dia yang percaya pada kakak. Itu mengapa saat saya melihat kamu kakak merasa jiwa rivandi ada pada kamu. ketika kamu memakai pakaian itu sungguh kamu sangat serupa dengannya” cerita samir pada pemuda itu
“jadi,...” sebutnya bingung dan memandang baju dan celana yang dipakainya “lalu mengapa kakak mengatakan ini pada saya. Sedangkan orang lain tidak boleh memasuki ruangan ini?”
“entahlah, kakak merasa kalau kamu adalah orang yang tepat untuk kakak beritahu ini”
Pemuda itu semakin tak mengerti dengan semua ia dengar dan ia lihat. Seakan ia memasuki dunia samir, ia terhanyut dalam penjelasan samir. Raut wajah pemuda itu tampak penasaran dengan foto itu. sunguh nasib kedua pemuda itu tidaklah beruntung.
“mengapa kakak tidak menyuruh keluarga kakak untuk tinggal bersama kakak disini?”
“tidak. Mereka telah bersumpah untuk tidak ingin berjumpa lagi dengan kakak. Kakak takut kalau mereka akan semakin membenci kakak”jelasnya “tapi kakak mohon padamu, agar tidak memberi tahu kepada siapapun tentang ini. Biarlah foto ini menjadi kenangan kakak masa lalu”
Pemuda itu pun menganggukkan kepalanya. Dalam hati yang penasaran ilman pemuda itu mencoba untuk mencari penjelasan yang lebih dalam tentang pemuda dihadapannya itu, sungguh samir yang malang pemuda yang tak beruntung.

SURAT BALASAN DARI APUNG
T

ak terasa dua tahun sudah samir menghabiskan waktunya diibu kota. Kebahagiaan sili berganti ia raih, mulai dari keluarga sahabatnya abid yang begitu baik padanya, perusahaan percetakan yang telah membuatnya terkenal sebagai penyair terbaik dinegeri ini dengan hasil karyanya yang begitu indah dan diterima oleh kelayak ramai. Amar yang senantiasa menyurati samir hingga ia menjadi orang yang kuat dalam menjalankan hidupnya. Abid, sahabatnya yang selalu memberinya pencerahan disaat ia tersandung kesedihan yang mendalam hingga kini ia terlahir sebagai seorang laki-laki yang penuh kepastian dan berpegang teguh dalam prinsipnya.
Pagi itu terlihat abid sahabatnya mengunjungi samir yang terlihat menulis surat. Terlihat samir dengan fokus ia merangkai kata-kata dalam setiap kalimat disurat itu.
“menulis surat lagi?” tanyanya abid
“iya tuan”
“untuk amar?”
“bukan. Kali ini aku ingin menyurati adikku rivandi. Aku ingin menanyakan kabarnya dan keluarga yang lain disana” sebutnya
“setelah dua tahun kamu pergi dari mereka dan sekarang kamu ingin menyuratinya?” ucap abid dengan nada yang agak lembut
“itu semua karenamu tuan. Aku banyak mendapatkan kekuatan dari nasihatmu. Dua tahun aku meninggalkan mereka aku tidak tahu apakah mereka masih mengingatkanku atau tidak yang penting aku mencoba untuk menyambungkan tali silaruhmi yang sempat mereka putuskan antara aku dan mereka”
Abid tak bersuara, samir kembali menulis sepucuk surat untuk adiknya. Didalam surat itu samir sangat merindukan belahan jiwanya, jantung hatinya, matahari dalam hidupnya. Kepedihan yang dirasakan samir beberapa tahun yang lalu kini telah terobati, luka yang pernah menyayat hatinya kini telah sembuh karena kehadiran sahabatnya amar, abid dan juga rizal yang telah memberikan semangat dalam hidupnya.


Untuk belahan jiwaku, rahmat rivandi wijaya.....
Hilang sesak nafas didalam dada ini. Dengan deraian air mata yang mengalir dalam kekuatan yang sudah layu, kumencoba memberanikan diri untuk menulis sepucuk surat untuk anandaku tercinta rivandi. Dalam setiap do’aku kuisikan dengan namamu yang suci nan bersih. Apa kabar adikku tercinta? Semoga engkau selalu sehat dalam lindungan Tuhan. Mungkin dirimu kini semakin besar, maafkan kakak tidak dapat berada disampingmu untuk melihat perkembanganmu. Bagaimana keadaan keluarga disana? Adik-adik, muk, abang, aconk, mas, om, ayah, dan bunda? Tak terasa dua tahun sudah diriku yang lemah tak berdaya ini meninggalkan rumah, dua tahun rasa rindu ingin berjumpa dengan belahan jiwa selalu bergejolak dalam dada. Apung, maafkan kakak bila sekarang kakak baru memberikan kabar padamu. Keadaan kakak baik-baik saja. Mungkin dua tahun kalian mencoba mencari kakak, maaf kakak tidak dapat memberi tahu dimana kini kakak tinggal. Dari sudut ibu kota yang penat ini, kakak berjuang melawan rasa rindu yang amat dalam, rindu yang membunuhku. Percayalah adikku, kakak amat merindukan dirimu dan juga keluarga disana. Kakak kini tinggal seorang diri setelah menumpang hidup bersama keluarga sahabat kakak. Keluarga yang begitu baik dan ramah. Keluarga yang pernah dulu ada ketika ayah dan ibunda berada disamping kita, sebelum meninggal dunia. Apung, tolong sampaikan mohon maaf kakak pada muk karena telah membuatnya khawatir. Mohon maaf juga pada abang kalau kakak tidak bisa menjadi adik yang diharapkan. Apung, bagaimana kabar aconk? Sungguh kakak sangat merindukannya. Tak kuasa hati ini bermain ketika kakak tulis surat ini, bergetar tangan ini menggoreskan setiap kalimat pengharapan dari diriku yang lemah ini.
Apung, kejadian dua tahun yang lalu, telah membuat kakak kini menjadi orang yang kuat, rasa benci dan dendam insyallah tidak tumbuh dihati yang bersih ini. Karena sejak kecil telah dibersihkan oleh kecongkakan jiwa dalam hidup. Wahai belahan jiwaku. Kakak tidak mengharapkan balasan darimu. Hanya kakak berpesan padamu untuk selalu mendo’akan kakak bila kau bersedia. Jaga dirimu baik-baik, semoga hatimu seperti hatiku....
Salam rindu dari kakakmu yang hina. Samir....

Bergetar hati rivandi ketika mendapatkan dan membaca surat dari samir. Begitu dahsyat dan mengguncangkan hati dengan kalimat yang begitu indah. Dalam kamar yang besar itu rivandi seorang diri menangis dalam kesedihan. Mengenang nasib samir yang hina. Kejadian dua tahun lalu hanyalah fitnah yang amat kejam yang didapat olehnya. Pengakuan aconk telah menyadarkan semua orang akan kesalahan pada laki-laki yang terbuang jauh itu, penyesalan dan penghinaan diri selalu terbesit dalam dada keluarga yang kejam dan ganas. Terhempas sudah surat samir terjatuh kelantai karena rivandi tak kuasa menahan kesedihan yang membuat tangannya lemah tak berdaya. Ketika rivandi menangis dalam kesedihan, tampak seorang pemuda datang menghampirinya.
“apung?” sebutnya
Pemuda itu melihatnya dengan penuh rasa penasaran. Rivandi tak menjawab panggilan pemuda itu, ia tak hayalnya menangisi nasib kakaknya karena telah difitnah oleh pemuda didekatnya itu.
“apung?” sebutnya kembali
Lalu rivandi melihat kearah pemuda itu, tak kuasa rivandi melihat mata yang penuh penyesalan itu. ingin rasanya ia memukul pemuda itu dengan tanganya bagaimana pemuda itu dulu memukul samir dengan kejamnya. Semakin deras tangisan rivandi ketika ia melihat pemuda itu. dilihatnya kertas yang terjatuh dilantai itu, dibacanya surat dari samir yang menggoyangkan jiwa rahmat.  Betapa pilunya rahmat membaca surat itu, menetes sudah air mata penyesalannya bergetar tangan rahmat ketika membaca setiap kalimat didalam surat itu, bola matanya bergerak kekanan dan kekiri melihat setiap kata disurat itu.
“kesihan, kakak terusir jauh ke ibu kota karena difitnah dan dihina karena perbuatan yang tidak pernah ia lakukan, setiap orang membenci dan menghukumnya memutuskan tali persaudaraan. Tapi, kakak...” sebut rivandi dalam tangisannya.
“kakak..” ucap rahmat pelan
Lalu rahmat melepaskan surat itu dari tangannya dan surat itu pun terjatuh, rahmat menjauhkan diri dari surat yang baru saja ia selesai membacanya dengan suasa hati yang tidak dapat dilukiskan. Betapa pilu hati rahmat setelah membaca surat yang indah dari sosok pemuda yang begitu baik dan budiman yang dulu ia perbuat seperti orang yang tidak berguna.
“kakak kirim surat?” tanya iqbal dengan tiba-tiba
Sesaat iqbal menunggu jawaban dari pemuda yang menangis berjongkok itu. ia penuh harap cemas akan kebenaran berita dari rahmat yang menangis ketika keluar dari kamar setelah membaca surat dari samir. Sekina menunggu jawaban rivandi pun tidak menjawab perkataan adiknya tak kuasa rupanya ia berkata. Lalu laki-laki yang berdiri itu pun mengambil surat yang terletak disampin rivandi yang menangis itu lalu ia membacanya.
“kakak” sebutnya
Betapa pilu hati iqbal ketika melihat kalimat dalam surat itu. bergejolak hati yang tak menentu bermain dengan hebatnya tatkala kalimat itu dibacakan.
“ya Allah kakak” sebutnya kembali
Jatuh sudah air mata laki-laki itu. sekali-kali ia menutupi matanya untuk menahan air matanya. Sesaat ia melihat rivandi yang menangis itu. lalu ia mendekati rivandi dan memeluknya dengan rasa menyesal. Dua tahun yang lalu iqbal melihat dengan jelas betapa hina dan congkaknya perlakuan yang didapat oleh saudaranya rasa penyesalan yang mendalam juga ia rasakan karena ia tidak percaya pada laki-laki yang terusir itu, ia hanya percaya kepada saudaranya.
Pagi yang begitu cerah langit ibu kota yang sedikit kabut karena asap kendaraan, dirumah yang besar itu.
“kakak ada surat untukmu” sebut ilman pemuda itu
“surat? Dari siapa?”
“tidak tahu. Disini tertulis dari apung” katanya
Samir melihat-lihat sebuah amplop putih tertulis namanya dilihatnya amplop tersebut dan betapa terkejutnya samir saat membaca surat itu ternyata dari adiknya rivandi dengan segera dan tergopoh-gopoh ia membuka dan membaca isi surat balasan adiknya.

Untuk pergantungan hidupku....
Bergetar tangan ini ketika kutulis surat balasan ini, hati rapuh yang terlihat saat membaca surat darimu yang begitu indah menggoyangkan jiwa. Dua tahun tidak bersua membuat rindu yang amat dalam bermain hebat dalam hati. Air mata yang mengalir tiada henti memberikan isyarat untuk kuat menghadapi takdir. Kakakku tercinta, kabar apung dan keluarga disini baik-baik saja, tumbuh dalam kemalangan dan kesengsaraan setelah kakak tiada. Banyak cerita yang kakak harus tahu dari keluarga yang telah membuat kakak terusir jauh karena fitnah dan kecongkakakan jiwa yang tiada henti kakak dapat. Kakakku tercinta, besar hatimu menerima segala cobaan dari tuhan kau tutupi hatimu yang rapuh walau engkau terlihat tegar. Engkau tertawa didepan layar namun bersedih dibelakang tirai. Kakakku tercinta, kapan kakak akan pulang? Sungguh hati yang rapuh tak berdaya ini tak tahan lagi untuk bertemu memeluk dirimu yang suci itu. kakakku tersayamg, bersama surat ini apung titipkan foto adik-adik, lihatlah dibalik senyum yang lepas itu tersimpan luka dan rindu yang amat dalam padamu. Kakak, setiap malam setelah kakak tiada apung dan adik-adik tak begitu nyenyak untuk tidur karena pikiran yang terbebankan oleh dirimu seorang. Kakakku tercinta, setelah aconk mengakui akan kesalahannya terhadap kakak kini semua orang menyesali akan perbuatannya, kini semua orang mencari kakak untuk mengatakan maaf dari dirimu yang hina itu. kakak kapan akan pulang? Apung amat merindukan kakak. Sempurnakan do’amu untukku....
Dari diriku yang rindu, apung....


Ya tuhan kuatkanlah hati samir yang menangis itu. begitu dahsyat kalimat-kalimat surat balasan dari adiknya. Samir tak kuasa untuk menahan gejolak hatinya yang tiada henti bergetar seolah akan telepas dari dadanya. Seakli-kali samir mencium foto ditangannya, melihat belahan jiwanya didalam foto itu samir semakin mencoba untuk menguatkan dirinya namun itu tidaklah ada arti. Samir tak dapat membohongi hatinya yang rapuh walau ia mencoba untuk menguatkan. Ilman pemuda yang berdiri melihat samir menangis itu hanya terdiam dan memandangnya dengan rasa iba. Segenap cobaan yang ia dapat dari tuhan, dua tahun ingin bersua dengan adik-adik tercinta kini hati samir sedikit kuat karena balasan surat dari adiknya.
“kakak” sebutnya lembut
Samir tak bersuara hanya terdengar suara tangisan dari mulutnya. Ilman tak dapat berbuat banyak terhadap pemuda yang menangis itu.
“kakak, sabarkan dirimu” rayu ilman
Suasana ruang terasa hening, hanya terdengar suara tangisan samir yang dipeluk oleh pemuda yang baik hati itu. begitu rapuh hati samir, terlukis dengan jelas dibola matanya betapa lemah diri pemuda itu. samir tak berdaya, badannya terasa lemah tak sanggup untuk membangunkan dirinya.
Surat balasan samir pun sampai dirumah yang besar itu, rumah yang pernah menjadi kenangan oleh samir. Diatas meja terlihat ada beberapa amplop yang berisi surat-surat. Hadi pagi itu terlihat melihat-lihat amplop yang terletak diatas meja itu. dilihatnya dnegan jelas amplop putih yang bertuliskan nama rivandi adiknya. Lalu ia membuka dan membaca surat balasan dari samir itu. alangkah terkejutnya ketia ia melihat surat balasan dari samir. Hatinya bergetar hebat seakan menahan nafas dalam dadanya.


Untuk Matahariku....
Segenap belahan jiwaku kupersembahkan untukmu. Betapa bahagia hati ini dikala membaca balasan surat darimu. Adikku tercinta, betapa halus dan indah kata-kata yang engkau rangkai dalam surat balasan itu. begitu rapuh dan lemah hati ini memandang foto yang engkau titipkan kepadaku. Getaran hati yang bergejolak ketika kupandang wajah belahan jiwaku. Apung, adikku tercinta. Entah kapan kakak akan pulang, peristiwa yang lalu masih teriang ditelinga kakak. Tak sanggup kakak untuk mengenang peristiwa itu. apung, bersama surat balasan ini kakak titipkan sebuah buku karya tanganku. Buku yang kuberi judul “bulan merindukan bintang” ini adalah kisah-kisahku selama hidup. Bagaimana hidup kakak diterpa oleh badai dan kerikil kehidupan. Apung, semoga buku ini engkau terima dan engkau baca. Bagaimana perjalanan hidupku yang pahit.
Apung. Titipkan air mata rindu untuk muk dan abang. Semoga berbahagia dalam hidupnya.
Dari belahan jiwamu,... samir...


Betapa sakit hati pemuda itu ketika membaca surat balasan dari samir adiknya yang ia buang itu, menetes air mata yang kejam itu terlukis dengan jelas bagaimana ia menggerakkan bola matanya untuk menyaksikan tulisan-tulisan disetiap kalimat dalam surat itu. lalu laki-laki yang menangis itu pun terjatuh dikursi, dengan rasa menyesal dan merendahkan diri ia mengusapkan air matanya. Sungguh hatinya bergetar tak terkira. Rasa menyesal selalu bermain didalam pikirannya.
“muk” sebut bastian adiknya
“muk, ada apa? mengapa muk menangis?”
Tidak kuasa hati hadi menjawab adinya. Tak kuasa lidahnya untuk mengeluarkan kata-kata.
“muk” panggil rivandi dengan cemas
“ada apa?” katanya lalu “muk?” sebutnnya
“ada apa bas? Apa yang terjadi?” tanya firman adiknya
“entahlah, babas juga tidak tahu apa yang terjadi”
Hiruk pikuk dalam kecemasan terlihat dari raut wajah anak-anak itu. rivandi melihat digenggaman tangan abangnya sepucuk surat dari kakaknya, lalu ia membacanya. Dia lihat pula sebuah buku diatas meja tak jauh dari dirinya. Dibacanya surat itu dan rivandi pun terhempas dalam kepedihan.


B
PERSETERUAN RAHMAT DAN AMAR

eberapa hari setelah membaca surat balasan dari samir, hadi terlihat termenung dalam hari-harinya.  Kabut yang menutupi wajahnya tampak dengan jelas. Rasa menyesal akan perbuatannya terhadap samir membuatnya terbeban akan kata maaf dari samir. Hadi terlihat terbaring sakit diatas kasur kamarnya. Sering kali ia memanggil nama samir yang ia usir dari rumah itu. sekali-kali ia menengok ke arah foto samir adiknya yang sengaja ia pasang didalam kamarnya. Terlihat pula saudaranya yang lain  menjaga hadi yang terbaring sakit karena memikirkan adiknya samir yang entah dimana kini berada.
“bagaimana conk? Apa yang harus kita lakukan?” tanya rivandi adiknya
“entahlah, aconk juga tidak tahu”
“kesihan muk”
“usaha conk, cari dimana keberadaan kakak” sambung iqbal
“tapi kemana? Aconk sudah usaha tanya sama teman kakak. Tapi tidak ada yang tahu dimana kakak berada”
“bang amar?” ucap rivandi “aconk sudah coba tanya padanya?”
“amar?” ucapnya kecil “aconk tidak ingin bertemu dengannya”
“kenapa?” tanya adiknya kembali
“aconk tidak suka dengan dia”
“tapi conk, ini bukan masalah suka tidak suka. Tapi pikirkan muk, kita harus membawa kakak pulang”
Sore itu langit dilukis dengan campuran  warna merah dan kuning keemasan. Tampak rahmat tergopoh-gopoh berjalan menyusuri sebuah gedung yang besar. Hari ini rahmat ingin berjumpa dengan amar sahabat samir. Didalam ruang yang kecil dan sempit amar menghabiskan waktunya bekerja sebagai manager marketing diperusahaan properti. Cahaya sore yang hangat menyengat kulit masuk melalui sela-sela jendela ruangan amar.
“permisi pak. Ada seorang yang ingin bertemu dengan bapak?” sebut seorang petugasnya
“siapa? Perasaan hari ini saya tidak ada janji dengan siapa pun”
“maaf pak. Katanya nama dia rahmat”
“rahmat?” sebutnya “iya, suruh dia masuk”
“baik pak”
Lalu petugas itu pun bergegas keluar ruang dan mempersilahkan masuk rahmat. Tak menahan diri, rahmat melangkah dengan cepat tak tahan ingin menanyakan kepada pemuda yang ada didalam bilik itu keberadaan kakaknya. Alangkah terkejutnya amar melihat pemuda itu. amar melihat dengan mata yang kosong, sedetik bola matanya tak bergerak hingga ia mengedipkan matanya. Terlukis rasa benci dibibir dan mata amar ketika menatap mata laki-laki yang berbaju putih itu.
“kamu?” sebut amar dengan benci
“dimana samir?” tanya pemuda itu
“samir? Untuk apa kau menanyakan dia”
“apa maksud kamu?” tanya rahmat dengan nada yang acuh
“mengapa kamu menanyakan keberadaan samir padaku?”
“aku tidak ada waktu untuk meladenimu. Aku hanya ingin tahu dimana samir sekarang?”
“tidak salahkah kamu bertanya padaku? Bukankah kamu saudaranya”
Pemuda itu terlihat memandang benci wajah amar yang sangat acuh terhadapnya. Rahmat diam sesaat lalu melanjutkan percakapannya dengan amar.
“kau sengaja menyembunyikan dimana samir tinggal sekarang?”
“untuk apa? apa untungnya bagiku? Lagi pula mengapa kau sesibuk itu mencari samir”
“amar..” teriaknya sambil menunjuk kearah amar dengan jari telunjuknya “dia saudaraku. Mengapa? apakah aku tidak boleh tahu dimana tinggal samir sekarang?”
“haha...” amar tertawa dengan benci, kemudian “saudara? Oh, ternyata samir itu saudara kamu. kemana saja kamu selama ini, ha? Setelah kau dan saudaramu melepaskannya, setelah kau putuskan tali persaudaraan diantaranya, setelah kau buang dia hingga ia pergi dan entah dimana kini dia berada. Dan sekarang kau baru menanyakan dimana samir?”
Rahmat tak juga bergerak, ia semakin benci memandang amar yang sangat membenci laki-laki yang berdiri itu. rahmat melihat dengan jelas bagaimana amar menjawab pertanyaannya dengan amat benci.
“apa maksud kamu?” tanya rahmat mengerutkan dahinya
“kamu itu sungguh licik rahmat, bajingan, tidak lebih dari seorang pecundang” ucap amar menunjukkan pada rahmat yang berdiri menatap benci
Wajah rahmat semakin merah, benci yang amat dalam mencuat dalam dirinya. Digenggam tangannya, seolah ia ingin sekali untuk memukul laki-laki yang ada dihadapannya itu. sementara itu amar yang marah itu mencoba untuk menahan emosi dirinya pada rahmat. Teringat olehnya bagaimana perlakuan rahmat pada sahabatnya samir dikala dahulu ia menyakiti hingga melukai diri sahabatnya itu. kedua pemuda itu saling menatap satu sama lain. Rahmat mendekati amar yang marah itu, ia semakin mendekatinya, genggaman tangannya tak juga dilepas oleh rahmat.
“dimana samir?” tanya rahmat kembali
Amar hanya diam tak menjawab pertanyaan rahmat, ia hanya menatapi wajah pemuda yang penuh tanda tanya.
“aku tidak tahu” sebutnya
Lalu tangan rahmat mendekati leher amar yang berdiam itu, kemudian ia menarik kera baju amar hingga amar sedikit menyondongkan badannya kedepan, lalu ia kembali menegapkan badannya.
“bohong. Kau jangan main-main denganku” sebut pemuda itu dengan penuh amarah
Amar tersenyum kecil, ia tak membalas ancaman dari adik sahabatnya itu.
“sudahlah, aku tidak ingin meladeni perangaimu itu. kau ingin memukulku? Silahkan, pukul sepuasmu. Aku memang tidak tahu dimana saudaramu itu berada”
Melihat wajah amar yang sangat penuh dengan kebencian, wajah yang seolah-olah menapikkan pertanyaan rahmat hingga emosi dalam dirinya tak terkendali. Dilihatnya bola mata amar yang penuh dengan kebencian itu, amarah rahmat tak terkendali. Lalu rahmat memukul pemuda yang dihadapannya itu.
“dimana samir?” teriaknya pada amar lalu “aku ingin bertemu dengannya?”
Amar memandang pemuda dihadapannya itu. digenggam tangannya dengan sekuat hatinya. Dipegangnya mulutnya yang berdarah karena pukulan pemuda itu. Ingin rasanya ia membalas pukulan pemuda itu. ingin rasanya ia menghabisi pemuda dihadapannya itu.
“ayo sini, kau ingin memukulku? Akan aku ladeni” sebut rahmat pada amar
Amar tak juga menapikkan perkataan rahmat. Mendengar itu amar semakin benci melihat pemuda itu, ia melihat dengan mata yang benci. Bola matanya seolah menggambarkan hatinya yang sakit. Ingin rasanya amar melemparkan pemuda itu dengan seonggok buku dihadapannya itu, namun ketika ia ingin melakukan itu amar terbayang pada sahabatnya itu. teringat sudah bagaimana wajah samir ketika malam itu ia datang kerumahnya dengan wajah penuh darah, luka karena pemuda itu. mengingat itu wajah amar semakin benci dengan pemuda itu ingin rasanya ia membalas perlakuannya pada sahabatnya. Tapi amar tidaklah seperti pemuda itu ia dapat mengendalikan emosinya, tak seperti biasanya pemuda itu bersikap dingin terhadap pemuda yang berdiri itu. Dahulu ingin sekali rupanya ia memukul laki-laki itu karena melihat sahabatnya digauli dengan sangat ganas oleh pemuda itu.
“maaf rahmat. Aku bukanlah orang sepertimu. Aku banyak belajar dari saudaramu. Dia pernah mengatakan kepadaku tidak semua permasalahan itu diselesaikan dengan kekerasan” sebutnya lalu kemudian “seharusnya kau banyak belajar dari dia”
“ha, jangan banyak bersandiwara kamu amar”
“sandiwara? Siapa yang bersandiwara, ha? Siapa yang sangat pandai bersandiwara dengan seorang wanita yang cantik, pintar dari jakarta?” ucap amar dengan benci
Mendengar ucapan amar seolah-olah rahmat tenggelam dalam masa lalunya, semakin tenggelam dalam penyesalannya. Rahmat terlihat sedikit tenang. Bola matanya berputar kekiri dan kekanan. Dia tidak pernah mengira amar mengetahui peristiwa itu, rahmat terlihat bingung tatapannya kosong tiada arti. Lalu, Amar mendekati rahmat yang berdiri terdiam itu.
“jangan kau pasangkan wajah seperti itu, rahmat. Terkejut? Setelah dua tahun pengaharapan ingin dekat bersama saudaranya, setelah sekian lama ingin berbicara pada adik-adiknya, lalu kabar baik itu didapatnya, semua orang dijauhinya demi untuk berbicara dengan belahan jiwanya. Kemudian setelah harapan itu ia dapat, betapa bahagia hatinya. Serasa saudaranya itu telah berubah. Disaat pengaharapan yang diharapkan itu telah ditangannya, lalu seorang pemuda telah bersengkokol dengan seorang wanita teman adiknya sendiri untuk meniduri dirinya dan dia pun difitnah oleh adiknya sendri. Dan disaat semua orang percaya dengan fitnah itu lalu ia terbuang dari kampung halamannya, terusir dari rumahnya, dijauhkan dari belahan jiwanya. Siapa diantara kita yang bersandiwara rahmat?” ucap amar dengan begitu tegas.
Rahmat tak bersuara mulutnya bergetar karena mengingat masa lalunya. Bola matanya berputar tak tentu arah. Matanya penuh dengan tanda tanya menggambarkan perasaan hatinya.      
 “kamu” tunjukknya
Amar menatapi pemuda itu, dilihatnya tangan pemuda yang menunjuk kearahnya itu.
“tidak puaskah kamu membuatnya tersiksa?, membuatnya sakit?. Setelah sekian lama ia tidak kamu sentuh dengan genggamanmu itu? Dan kini kamu ingin melampiaskannya semua padaku?” sebutnya lalu “tidak bisa rahmat. Jangan kau kira kalau  aku  sebodoh samir hanya mengikuti perintahmu, tunduk pada setiap keganasan kalian. Aku bukanlah samir seorang pemuda yang baik hati, selalu memaafkan orang yang telah membuatkan tersiksa. Aku bukanlah samir yang memiliki hati yang selalu mengalah patuh pada perintahmu”
Beberapa detik kedua pemuda itu terdiam. Rahmat tak juga berbicara mendengar ucapan amar yang sangat membuat jiwa tergoncang hebat. Hatinya rapuh. Batinnya begitu lemah. Ia tak melihat amar, rasa menyesal selalu menyelimuti pikirannya. Merasa bersalah selalu menghantui dirinya.
“dia sangat menyayangimu rahmat” ucap amar “dia sangat mengagumi dirimu, dia sangat mengharapkan kau memberi perlindungan baginya. untuk informasi bagimu dia pernah memukulku karena dia membela dirimu, dia tidak suka melihat orang lain merendahkan diri saudara-saudaranya. Dia anak yang baik, dia berbeda dengan kalian. Dia pernah berkata padaku, bahwa dia sangat patuh dengan abang-abangnya, dia rela melakukan apapun untuk melindungi saudara-saudaranya walaupun nyawa menjadi taruhannya. Aku pernah mengajaknya untuk tinggal bersamaku, karena aku tidak kuat melihat dirinya tersakiti terus-menerus oleh saudaranya. Tapi dia berkata, dia akan menerima semua sakitnya, biarlah dirinya menangis, asalkan dia bisa melihat saudaranya tersenyum walau hatinya sakit”
Alangkah pilunya hati rahmat saat mendengar ucapan amar, ucapan itu seolah meledakkan telinga rahmat. Tubuhnya bergetak, keringat dingin bercucuran membasahi tubuhnya. Sekian dalam penyeselan pemuda itu, tak dapat dilukiskan perasaannya, mentari yang masuk begitu panas menggambarkan betapa panasnya hati rahmat mendengar ucapan sahabat kakaknya itu.
“sudahlah rahmat. Jangan kau mencari dia lagi. Biarlah dia menikmati hidupnya sebagai insan makhluk tuhan. Dia juga butuh kebebasan, jangan kau biarkan dia bagaikan burung dalam sangkar. Biarlah dia terbang setinggi-tingginya mencari jati dirinya”
“aku hanya ingin tahu keberadaannya?” sebut rahmat tak berdaya
“terserah padamu percaya atau tidak padaku. Sungguh aku tidak mengetahui keberadaannya sekarang” ucap amar dengan mata berkaca-kaca “pulanglah, jangan kau menyesali perbuatanmu disini, cobalah kamu bercermin lihat dirimu. Sudahkah kau lebih baik darinya?”
Amar sangat terpukul mengucapkan hal itu. rahmat begitu lemah hati yang bergetar mengenang ucapan amar. Mata rahmat sedikit berair, menangisi perbuatannya. Samir pemuda yang malang terbuang jauh hingga tak tentu keberadaannya. Tak tahan mendengar ucapan amar lalu rahmat pergi meninggalkan amar seorang diri. Rahmat melangkah dengan suasana hati yang hancur. Matanya kosong tak berisi. Cahaya di matanya menghilang, wajahnya yang tak ada arti itu selalu menunjukkan senyumnya yang masam. Langahnya semakin cepat untuk segera keluar dari gedung yang besar itu.         
Didalam rumah besar itu, hadi kian malang terbaring menyesali perbuatannya. Menunggu akan kedatangan adiknya yang telah terbuang jauh. Ia menanggung atas perbuatan dirinya. Rahmat melihat abangnya terbaring semakin terpuruk dalam kesedihan. Dilihatnya hadi yang sakit itu dibalik pintu kamarnya, dilihatnya pula semua orang-orang yang mengusir samir dikala malam hari itu. terjatuh sudah air mata rahmat membayakan betapa kejam dirinya pada samir yang tak berdosa itu.


K
TATAPAN YANG LAMA HILANG
eberadaan samir yang menjadi teka-teki oleh keluarganya. Kini samir telah menemukan arti kehidupan. Kejayaan dan kemasyuran yang dimilikinya begitu melekat padanya.  Hari-hari samir dihabiskan dirumah mewah itu bersama anak-anak yatim dan ilman pemuda yang ia temukan beberapa tahun yang lalu. Keberadaan abid sahabatnya menjadi penyokong semangat dalam hidupnya. Dibawah pohon yang teduh dan rindang itu tampak berdiri seorang pemuda yang memohon pada samir untuk menghadiri acaranya. canda dan tawa dari anak-anak yatim terdengar dengan jelas ditelinga pemuda itu. terlihat pula rizal duduk dikursi yang terpasang dibawah pohon yang sejauk itu. sementara itu, ilman melihat dengan jelas pergaulan antara ketiga pemuda itu dari kejauhan
“ayolah mir, aku mohon” rayu pemuda itu
“tidak bisa tuan, aku tidak mengerti acara seperti itu. aku belum pernah mengikuti acara sebesar itu”
“aku sudah meminta pada pak rektor, beliau tidak bisa. Besok harus terbang surabaya ada urusan dari kampus”
“coba tuan tanya sama pak ridwan saja. Beliau sudah sering mengikuti acara seperti ini, barangkali beliau bersedia”
“sudah kami diskusikan, tahun lalu beliau jadi narasumber diacara itu. tahun ini teman-teman meminta kamu yang menjadi narasumbernya”
Samir sejenak diam, rasa bimbang bermain dikepalanya. Ia tak enak bila harus menolak permintaan sahabatnya yang begitu baik padanya.
“samir. Ini acara besar. Yang hadir bukan hanya mahasiswa tapi juga seniman profesional seluruh nusantara. Kemarin mas sudah berbicara dengan teman mas yang ada di semarang untuk menjadi narasumber acara abid. Tapi dia tidak bisa. Narasumber diacara itu bukan orang yang biasa, orang yang sudah pasih dan berpengalaman dalam bidangnya”
“tapi aku belum pernah menghadiri acara besar seperti itu mas”
“ayolah mir, aku mohon”
“temanya membahas tentang apa?”
“seniman dipasar internasional” kamu tidak perlu membahas tentang temannya, kamu bisa memberi semangat dan motivasi pada peserta. Tentang kisah perjuangan kamu misalnya hingga menjadi penulis besar” rayu kembali abid pada samir yang bimbang
“coba lihat proposalnya”
Lalu abid memberikan seberkas kertas daftar peserta acara seminar tersebut. Acar menjadi kebanggaan kampus abid acara yang ditunggu-tunggu oleh semua seniman.
“lumayan juga pesertanya. Narasumbernya bukan orang-orang biasa.” Ucapnya membalikkan kertas tersebut “kapan dan jam berapa acaranya?”
“besok, jam 10 pagi” sebut abid dengan cepat
“insyallah” tegas samir
Betapa sukanya hati abid mendengar jawaban dari samir. Terlihat dengan jelas matanya terpancar cahaya bahagia. Rizal pemuda berbadan tegap itu pun terlihat tersenyum. Dipeluknya samir dengan erat oleh sahabatnya rasa bersyukur dan terima kasih untuk samir.
“terima kasih tuan samir” ucapnya bahagia
“tapi, ada syarat” sebut samir
“apa itu. katakanlah” pinta pemuda yang tersenyum itu
“aku tidak ingin identitasku diketahui orang. Diacara itu aku ingin memakai nama penaku sebagai penulis, Rahmat Wijaya bukan Rahmat Samir Wijaya” tegas samir kembali pada abid.
“sip, baiklah aku tidak akan menyebutkan identitas aslimu”
Dan acara besar itu pun tiba, seribu mahasiswa dan seniman tergabung  dalam satu ruang yang amat besar. Disudut ruang terlihat begitu banyak hiasan dan bendera merah putih yang berdiri sejajar dengan bendera mahasiswa. Hiru pikuk terdengar dengan jelas disudut ruang, samir begitu gagah memakai jas hitam dan celana hitam. Dibalik kerumunan orang-orang terlihat sesosok pemuda yang tampan duduk tidak jauh dari panggung utama, pemuda itu ialah malaikat pengganti ayah samir, dia dulu adalah pemuda yang diharpakan oleh samir untuk menjadi pelidungnya, pemuda itu ialah dimas, laki-laki yang telah melukai samir. Abid terlihat sibuk dengan pekerjaannya rizal yang begitu tampan memakai batik merah mendampingi adik tercinta. Sungguh abid begitu beruntung memiliki saudara yang baik seperti rizal. Sekian lama samir duduk menunggu acara tersebut sekali-kali pula abid menghampiri samir yang terlihat sedikit tegang karena tidak pernah menjadi narasumber diacara yang begitu besar.
“nama kamu akan dipanggil diurutan ketiga. Duduk dikursi dibagian tengah” ucap sahabatnya pada samir
Samir hanya menganggukan kepalanya memberi isyarat bahwa ia mengerti atas instruksi dari laki-laki yang sibuk itu.
Acarapun dimulai, satu persatu narasumber dipanggil oleh moderator begitu pun dengan samir. Tepuk tangan yang gemuruh terdengar ketika moderator memanggil nama samir dnegan nama penanya.
“...... dan narasumber berikut ini adalah penulis muda berbakat, termasyuhur hingga kepelosok nusantara. Terkenal dari buah karya tangannya dengan tulisan yang begitu anggun dan sangat mengguncangkan jiwa, inilah dia Tuan Rahmat Wijaya”
Dan samir pun melangkah menuju panggung utama, semua orang berdiri memberi tepukkan tangan pada samir. Dan samir pun memberi penghormatan kepada para peserta yang telah menyembut dengan sangat ramah padanya. Alangkah terkejutnya dimas ketika melihat samir berdiri diatas panggung itu, matanya melihat tak bekedip.
“kakak” sebutnya kecil
Bola matanya tak bergerak ia hanya melihat samir yang begitu gagah. Dibalik keributan orang-orang  pemuda itu seolah-olah tidak percaya apa yang dilihatnya, laki-laki dihadapannya itu ialah samir orang yang selama ini dicari-cari oleh saudaranya. Samir tidak menyadari akan kehadiran malaikatnya itu. lalu semua peserta pun duduk kembali begitu pun dengan dimas. Ia tak hayalnya menengok pemuda yang duduk diatas panggung itu.
Samir tak henti-hentinya menaburkan senyum, tanda syukur kepada semua orang. Dimas melihat senyuman itu, sungguh hatinya semakin rapuh. Detak jantungnya semakin kencang berdetak darahnya semakin kencang mengalir. Dan sekian lama menunggu acara pun selesai, bergegas pemuda itu mengejar samir hingga ke belakang layar.
“bagus, materi kamu sangat bagus. Terima kasih samir” sebut abid sahabatnya
“ah, tuan. Biasa sajsa. Sama-sama, saya melakukannya dengan sebisa saja”
“isi materinya sangat sederhana. Cerita kamu seolah juga nyata, tapi enak didengar sesuai dengan zaman sekarang” sambung rizal
Samir hanya tersenyum mendengar ucapan kedua pemuda itu. sungguh samir sangat terhormat dalam acara tersebut, tak terbesit sedikit pun dipikirannya dengan orang-orang dan peristiwa masa lalunya. Entahlah, tak seperti biasanya samir tak mengingatkan adik-adiknya. Sementara itu dimas semakin cepat mengejar samir yang telah jauh dari pandangannya.
“samir” panggilnya   
Sejenak samir berhenti mendengar seseorang memanggil namanya. Dilihatnya orang-orang disekelilingnya, siapa yang memanggil? Pikirnya. Kedua pemuda bersaudara itu pun berhenti melangkah dan melihat kearah samir yang terlihat bingung.
“ada apa mir?” tanya pemuda itu
“tidak apa-apa mas. Sepertinya aku mendengar seorang memanggil namaku”
“memanggil nama samir?”
“iya, mas” Samir mengaggukkan kepalanya.
“ah, itu hanya perasaan kamu saja. Mereka kan tidak tahu kalau nama kamu samir. Kan mereka tahu nama kamu Rahmat Wijaya” sambung abid sedikit meledek
Samir pun mengabaikan panggilan itu, mungkin perkataan sahabatnya ibu ada benarnya. Langkah samir semakin menjauh namun langkah dimas semakin dekat dengan samir.
“samir” sebutnya kembali
Dan tak jauh ketiga pemuda itu melangkah, kaki samir dan ketiga pemuda itu kembali berhenti karena panggilan itu. sesaat samir dia untuk memastikan panggilan itu. suara itu tidak asing didengar ditelinga samir. Samir mendengar tak jelas karena begitu banyak suara yang didengarnya.
“samir” ucapnya
Lalu samir dan kedua pemuda itu membalikkan badannya dan melihat kearah suara yang memanggilnya, badan samir pun berputar mencari suara itu. betapa terkejutnya samir melihat seorang pemuda yang tampan berdiri dihadapannya. Dilihatnya dengan jelas bola mata pemuda itu, bola mata yang pernah ia kenal. Sesaat samir termenung dalam ragu, samir menatap dengan tak percaya. Tatapan yang lama menghilang itu kembali datang. Mata pemuda itu sedikit memerah karena nafasnya sesak mengejar samir. Dan pemuda itu mendekati samir yang berdiam diri seolah-olah pemuda itu akan membuka lukanya kembali. Dan dimas pun memeluk laki-laki yang terlihat kebingungan itu. abid dan rizal menengok samir dan pemuda itu berpelukan. Penuh dengan tanda tanya dibenak abid dan rizal tentang pemuda itu, mengapa samir begitu akrab dengan pemuda yang menangis itu.
“kakak” sebutnya “ya Allah, sudah lelah mas mencari-cari kakak akhirnya mas berjumpa dengan kakak. Bagaimana kabar kakak?” ucap laki-laki yang menangis itu.
“mas” sebutnya ”saya ada. Tidak kemana-mana ada disini. Kabar saya baik-baik saja, alhamdulillah”
Samir dengan rendah hati membalas pelukan malaikatnya itu. air matanya terlihat mengenang dimatanya namun tak jatuh dikelopak matanya. Laki-laki itu kembali mengingatkan samir pada peristiwa dua tahun yang lalu. Teringat sudah ingatan samir pada pemuda yang dipelukannya betapa kejamnya pemuda itu memukul dan membuangnya hingga jauh dari tanah kelahiran. Namun dengan peristiwa itu membuat samir kuat, dan tak akan meratap merendahkan diri pada siapa pun. Samir tak menangis air matanya tak sedikit pun terjatuh.
“mas sehat?” sebut samir
“mas sehat. Mas tak percaya bisa bertemu dengan kakak disini. Mas bangga dengan kakak, ternyata buku yang selama ini mas baca karya buah tangan atas nama Rahmat Wijaya ternyata samir keponakan mas”
Betapa pilu hati samir mendengar ucapan laki-laki itu. dahulu ia memutuskan tali persaudaraan antara samir dengannya, namun kini ia datang dengan sejuta rayuan.
“mas juga hadir diacara ini”
“iya, mas dipercaya mewakili kampus”
“oh iya perkenalkan. Ini tuan abid sahabat saya. Dan ini mas rizal saudara tuan abid”
“beliau ini adalah saudara saya” sebut samir pada kedua pemuda itu
“samir, mas sama abid mau kesana dulu masih banyak peralatan yang harus dikembalikan”
“oh iya mas, silahkan”
“mari mas” ucap rizal pada pemuda itu
Dan kini tinggallah samir dan malaikatnya itu. samir mencoba untuk menguatkan hatinya yang sakit. Ia tak begitu menampikan kehadiran malaiatnya itu. ia tak begitu mengaharapkan kedatangan pemuda itu. sebagai pemuda yang baik hati dan budiman sebagai saudara samir mempersihlahkan dimas untuk tinggal dirumahnya yang mewah.
“subhallah, bagus mewah indah. Tak terlihat suasana keangkuhan sama sekali” sebut dimas dengan nada bangga
“ini ilman, adik angkat saya” sebutnya “ini mas dimas. Saudara kakak.”
Lalu ilman menyalami pemuda itu. dilihatnya dengan jelas pemuda itu. ilman melihatnya dengan mata yang aneh. Bola matanya sedikit bergerak kekiri dan kekanan. Pemuda itu seperti yang ada difoto diruang samir begitulah kiranya pikiran ilman ketika bersalaman dengan pemuda itu. sedikit wajah sinis dilihatkan oleh ilman pada pemuda itu karena ia telah membuat samir pemuda baik itu selalu tersiksa batinya.
“dia yang selalu menemani dan menghibur saya ketika saya merasa bosan dengan pekerjaan”
“kakak tinggal bersama siapa?”
“didalam banyak anak yatim piatu, sengaja saya ajak mereka untuk tinggal dirumah saya hanya sekedar untuk menghibur, agar rumah tidak merasa sepi. Jangan sungkan, Rumah dan seisinya juga punya mas. Tapi satu tolong jangan masukkan ruang kerja saya, nanti ruangan itu akan ditunjukkan oleh ilman”   
Begitu mulia dan baik hati pemuda itu. tak begitu benci dan dendam rupanya pada pemuda yang tampan itu walau dia pernah menyakiti hatinya hingga kini sakit itu masih melekat dalam hatinya. Alangkah bahagianya hati dimas tatkala ia dapat melihat dan tinggal bersama malaikatnya. Lalu kemudian dimas dengan segera memberi kabar baik itu pada keluarganya. Dan ia pun menelpon hadi yang terbaring sakit itu.
“muk. Apa kabar?”
“baik mas, alhamdulillah. Mas apa kabar? Bagaimana acaranya?” ucap laki-laki dalam telpon itu.
Samir menyaksikan pemuda itu berbicara dengan saudaranya. Ia melihat hati yang hancur, dibalik kamarnya ia melihat bagaimana bahagianya hadi mendengar berita dari malaikat samir itu.
“baik muk. Acaranya lancar. Sebenarnya ada sesuatu yang hendak mas beritahu dengan muk dan saudara lain”
“apa itu mas”
“mas bertemu kakak. Kini mas tinggal bersama kakak”
Alangkah suka hati pemuda yang sakit itu. berita itu memberikan kekuatan baginya untuk berdiri dan bertemu dengan samir. Samir melihatnya dengan hati yang sakit, ia tak menginginkan orang-orang itu kembali hadir dalam hidupnya. Samir tak berdaya, ia hanya melihat bagaimana malaikatnya itu memberi kabar pada saudaranya.


P
ORANG-ORANG YANG TAK DIHARAPKAN

agi yang cerah menemani samir dan dimas pemuda itu menikmati makanan yang tersedia dimeja makan. Sinar mentari memancar masuk disela-sela jendela rumah besar itu. kebahagiaan yang menerka hati pemuda tampan itu tak jua sinar, senyum dan ramah kepada samir selalu ia perlihatkan. Samir laki-laki itu tidak begitu menanggapi pemuda yang ada di dekatnya itu.
“kakak kekantor?” tanyanya
“iya”
“mengapa tidak istirahat saja. Apakah kakak tidak merasa lelah setelah acara kemarin?”
“tidak, itu hal biasa. Saya sudah biasa menanggung semua penat dalam hidup”
“kak. Pulanglah, semua orang merindukan kakak. Adik-adik merindukan kakak”
Betapa rapuh hati samir mendengar itu. sesaat samir melihat pemuda itu, matanya melihat dengan tiada arti. Pulang? Pikirnya. Tidaklah sanggup hati samir akan pulang dan mengenang peristiwa dau tahun yang lalu. Tak kuasa akan teringat kekejaman orang-orang itu pada dirinya.
“pulang?” sebutnya
“iya, pulang kerumah!”
“maaf mas, saya harus pergi sekarang, masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan”
Dan samir pun pergi melangkah dari meja makan dan meninggalkan pemuda itu seorang diri. Samir tak bersemangat untuk berbicara pada laki-laki itu. melihat tingkah laku samir yang acuh dimas tidak mengejar untuk menghentikan langkah samir.
“tuan, buku yang baru sudah habis terjual” sebut salah satu karyawannya
“alhamdulillah, itu semua berkat kerja keras kita semua”
“tuan. Ada seorang yang ingin bertemu dengan anda. Sekarang dia ada diruang tuan”
“oh, iya terima kasih”
Samir pun melangkah memasuki ruang kerjanya dan segera menjumpai seorang didalam ruangannya. Samir semakin bimbang, kehadiran malaikatnya membuat dirinya semakin menahan batin dalam dadanya. Samir melihat seorang laki-laki duduk manis dikursinya, ia menghadap kejendela membelakangi meja kerja samir. Samir melihatnya dengan heran, siapa laki-laki itu? ucapnya.
“selamat pagi” ucap samir pada laki-laki itu
Mendengar itu laki-laki yang dudu itu membalikkan kursinya dan menghadap kearah samir yang berdiri itu. dilihatnya samir yang berdiri itu. alangkah sukanya hati samir ketika melihat laki-laki yang duduk manis dikursinya.
“amar?” ucapnya girang
Pemuda itu tersenyum kecil. Dilihatnya dengan jelas wajah sahabatnya yang berdiri itu, samir membalas senyuman kecil pemuda itu, ia melihat pemuda itu membangkitkan tubuhnya dari kursi dan mendekati samir.
“samir. Apa kabar?” sahutnya
“amar. Aku sehat. Bagaimana denganmu?”
“aku baik mir. Aku senang berjumpa denganmu”
“haha.. iya aku juga senang berjumpa denganmu. Aku rindu denganmu mar”.
“aku juga. Kau tambah kurus saja mir” ledeknya
“ah, biasa saja. Kini kau bertambah gagah dengan jasmu, mar”
“ah tidak juga”
“bagaimana ceritanya kamu bisa sampai kesini?” tanya samir
“itu mudah bagiku mir. Kita kan bersahabat. Batin kita sudah melekat satu sama lain. Firasat aku mengatakan kalau kita akan berjodoh. Sejauh mana pun kau pergi pasti aku akan menemuimu”
Kedua pemuda itu tertawa saling melepaskan rindu. Rindu yang sangat mendalam lama tak berjumpa. Tawa yang pernah dulu didengarkan dan kini kembali hadir dalam hidur samir. Sejenak samir mencoba menenangkan dirinya dengan berbagi bercerita dengan sahabat lamanya.
“duduk” ajak samir pada pemuda itu “dengan siapa kau kesini? Pak dekan juga kesini?”
“tidak. Aku datang seorang diri. Pak dekan titip salam padamu”
“ada keperluan apa kamu kejakarta?”
“ada tugas dari kantor untuk menemui klien disini. Kontrak properti baru”
“alhamdulillah. Semoga rezekimu semakin baik”
“amin. Dua tahun terlalu lama bagiku berpisah denganmu. Terlalu lama aku menahan siksa batin merindukan dirimu”
“ah, kata-katamu sungguh membuat ruangan ini terasa sejuk. Berapa lama kau dijakarta?”
“tidak lama. Hanya sehari. Besok pagi-pagi sekali aku langsung pulang. Oleh karena itu aku menemuimu walaupun tidak lama”
“sehari?” ucapnya lesu “mengapa tidak lebih lama disini. Nanti aku akan kenalkan dengan sahabatku abid”
“abid. Pemuda yang kau ceritakan dalam surat itu?”
“iya”
“tapi sungguh aku tidak bisa lama bersamamu. Aku sangat menginginkan tinggal bersama kamu lebih lama disini. Tapi pekerjaan yang membuat aku tidak bisa lama disini. Nanti kalau ada cuti dari kantor pasti aku akan mengunjungimu lagi”
Lalu amar melihat kearah jam ditangannya. Kini amar akan pergi karena urusan kerjanya. Amar adalah sahabat yang baik.
“maaf mir. Aku harus pergi, klien aku sudah menunggu”
“oh, iya. Baiklah”
Dan kedua pemuda bersahabat itu pun saling berpelukan untuk mengakhiri pertemuan mereka. Rindu menjelma menjadi tawa dan canda dalam beberapa menit kebersamaan kedua pemuda yang bersahabat. Kini samir akan menjalankan hari-harinya seperti biasa. Lelah begitu terasa di pikiran samir, lelah akan pekerjaan dan lelah untuk memikirkan pemuda yang tinggal dirumahnya itu.
Rumah itulah yang menjadi tempat samir berteduh, dikala penat menghampiri, ketika masalah datang silih berganti, ketika rindu melanda dalam jiwa ia hanya bisa menghibur diri dalam rumah yang mewah itu. banyak cerita yang harus amar dengar darinya. Manisnya hidup yang dirasakan sekarang akan menjadi awal langkahnya untuk menjadi seorang pemuda yang kuat dan berpegang teguh dalam setiap katanya. Langkah samir menyusuri setiap jalan halaman rumahnya, buku karyanya yang baru terlihat menempel ditangannya buku itu akan diperlihatkan kepada abid sahabatnya. Langkah samir tak juga berhenti, beberapa langkah dari pintu rumahnya langkah samir terhenti karena ia mendengar teriakan beberapa orang anak laki-laki yang berdiri dihadapannya.
“kakak” ucapnya
Pandangan samir pun mengarah pada suara itu, betapa terkejutnya saat ia melihat anak-anak itu berdiri. Mereka adalah adik-adiknya, belahan jiwanya, jantung hatinya, matahari dalam hidupnya. Mata samir sedikit menutup untuk melihat lebih jelas anak-anak yang berdiri itu, dilihatnya wajah adiknya satu persatu. Betapa pilunya hati samir ketika teriakan itu kembali ia dengar dari adiknya tercinta firman.
“kak, ini cibon?”
Lalu buku ditangan samir pun terjatuh, tangannya merasa lemah hatinya bergetar hebat, tak pernah ia membayangkan akan berjumpa dengan adiknya. Kakinya bergetar hebat seolah tidak dapat berlari mendekati adik-adiknya. Namun samir berusaha melawan rasa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Rindu yang sangat mendalam membuat kakinya begitu ringan untuk berlari mendekati anak laki-laki yang tumbuh besar itu. anak laki-laki itu pun berlari mendekati samir yang mulai menangis itu. dan setelah sampai akhirnya samir dapat meraih adik-adiknya
“ya, Allah. Adik kakak” ucapnya
Terjatuh sudah air mata samir. Dipeluknya laki-laki itu dengan erat. Diciumnya pipi serta kepala adiknya itu. rindu tiada tara ingin berjumpa dengan adiknya kini telah di dapat oleh samir.
“ya, Allah apung. Sudah besar. Babas terlihat tampan, aa’ iqbal. Dan..” sebutnya memandang adik bungsungnya firman
Sesaat samir terdiam memandangi wajah adiknya yang ia tinggalkan selama dua tahun itu. dilihatnya dengan jelas rupa adiknya. Air mata samir bertambah membasahi pipinya.
“cibon?” ucapnya “adik apa kabar?”
“baik kak. Kita sehat. Kakak kemana saja. Kita rindu kakak”
Tak kuasa samir untuk berbicara, lidahnya tak kuasa untuk berucap karena terkunci oleh rindu yang tiada tara bergejolak dalam dada.
“kakak juga rindu adik-adik kakak”
Lalu keempat anak laki-laki itu pun kembali memeluk samir dengan erat. Tak puas rasanya mereka untuk melepas rindu yang masih melekat dalam dadanya.
“adik datang dengan siapa?” tanya samir dengan sangat ramah
“kakak” terdengar seseorang memanggil namanya dari kejauhan
Lalu samir menengok kearah suara yang memanggilnya. Betapa pilunya hati samir ketika melihat orang-orang yang dulu menyakitinya kini kembali hadir didalam hidupnya. Senyum dibibirnya menghilang, hanya terlihat matanya yang membesar terkejut karena kehadiran orang-orang itu. sesaat samir diam dalam hening, angin yang sepoi menerpa disetiap wajah samir yang tak dapat dibaca itu.
“semua datang. Mereka rindu dengan kakak” ucap rivandi sedih
Lalu samir melangkah mendekati orang-orang itu dengan perasaan yang tak dapat diterka. Lalu samir menyalami dan mencium tangan orang-orang itu dengan begitu ramah. Dipandanginya wajah abang dan adik-adiknya sesaat samir melihat adiknya Rahmat betapa pilu hatinya luka yang sempat sembuh kini kembali sakit karena kehadiran orang-orang yang tak diundang ini.
“kakak sehat?” tanya hadi pada samir
Dilihatnya pula wajah hadi yang menagis itu. wajah abangnya yang terlihat wajah menyesal akan perbuatannya. Lalu samir dipeluk dengan erat oleh hadi yang sangat rindu hingga ia sakit mengingat samir.
“saya sehat” ucapnya singkat
“muk rindu akan kakak”
“iya, saya juga rindu”
Betapa sakit hatinya mendengarkan ucapan dari hadi itu. rindu itu bukan membuatnya senang tetapi membuat luka dalam hatinya semakin sakit. Samir tak banyak berbicara sakit dalam dadanya membuat lidah yang tak bertulang itu semakin sulit untuk mengungkapkan kata-kata.
“ayo, masuk. Tidak enak dilihat oleh orang kalau melepas rindu diluar rumah. Ayo adik kita masuk” ajak samir pada orang-orang itu dan adik-adiknya.
Begitu baik dan budiman rupanya samir. Hatinya yang sakit tidak membuatnya benci dan dendam pada orang-orang itu walau telah membuatnya terbuang jauh.
“ilman. Ilman. Mari kesini” ucap samir pada pemuda yang sibuk bermain dengan anak-anak yatim itu.
“ini ilman, adik angkat saya. Dia yang membantu saya selama saya tinggal disini. Maaf, bila nanti tidak merasa nyaman, karena didalam rumah ini tidak hanya saya seorang yang tinggal tapi ada juga anak-anak yatim yang saya ajak untuk tinggal dirumah ini” sebutnya
Lalu ilman pemuda itu menyalami dengan ramah orang-orang itu. pemuda itu melihatnya sedikit ragu. Orang-orang yang ada didalam foto itu pikirnya. Ilman begitu menyukai sosok samir, pemuda itu begitu baik hati kepada sesama. Ia sangat melayani dengan baik orang-orang itu walau mereka sudah menyakiti hati pemuda itu.
“jangan sungkan, rumah dan seisinya milik kalian juga. Tapi satu saya minta ruang kerja saya jangan dimasukkan. Ruangan itu nanti akan ditunjuk sama ilman.” Pinta samir
“kamar cibon dimana kak?” sambung adiknya firman
“adik-adik tidur sama kakak”
“sama kakak? Cibonkan sudah besar, kok. Tidur sama kakak?” ledek adiknya lugu
“ya sudah, adik-adik boleh tidur dimana saja yang adik-adik inginkan” ucapnya kemudian “berapa lama tinggal disini?” tanya samir pada adiknya
“satu bulan kak” ucap iqbal
“ajaib, lama sekali. Sekolah adik bagaimana?”
“libur semester kak”
“bagus. Nanti kakak ajak adik-adik mengelilingi kota ini”
Semua berbahagia, samir tersenyum dengan lepas. Terlihat berbahagia dari luar namun hati samir sekian sakit menahan luka yang kembali mengoyak hatinya. Samir mencoba tidak menunjukkan sakit hatinya kepada orang-orang itu. Samir tidak banyak berbicara dengan orang-orang itu, sakit hati membuat lidahnya terkunci rapat untuk berbicara pada orang yang telah membuangnya.
Tiga minggu sudah orang-orang itu mencoba merayu hati samir yang sakit. Telah banyak tampak wajah penyesalan dari orang yang kejam itu untuk dapat mendengar kata maaf dari samir. malam yang sunyi sepi. Kelam malam tidak begitu terasa dirumah besar itu karena sinar lampu yang indah membuat cahaya yang terang. Malam yang berbintang, tampak orang-orang yang menyesal itu duduk bersama diruang keluarga. Tampak hadi sedari tadi duduk termenung diatas kursi, rahmat terlihat duduk disamping abangnya. Dimas malaikat samir selalu memandang bintang yang berkelip dilangit mata menerawang kosong ke arah langt yang kelam itu. ilman menyuguhkan segelas air kepada orang-orang itu.
“nak?” ucap wanita paruh baya itu
“iya, buk”
“ibu ingin bertanya padamu”
“bertanya apa bu?” pinta ramah ilman
“mengapa samir terlihat seperti orang ketakutan saja ketika melihat kami”
“tidak bu”
“sudah tiga minggu kita disini. Samir tak juga bersedia berbicara pada kita. Masihkah dia benci pada kita?” tanya hadi yang duduk termenung itu
“tidak mas. Kakak samir bukan orang seperti itu”
“lalu mengapa dia tidak ingin berbicara dengan kita. Tiga minggu dia mencoba untuk lari dari kami, disini kami bagaikan makan hati baulam jantung” sambung ibunya
“tidak bu. Kakak Samir tidaklah orang seperti itu. dia adalah laki-laki yang malang”
“malang?” sambung rahmat “bukankah kemashuran yang dia miliki ini adalah keberuntungannya?”
“ini rupa luarnya saja, tapi batinnya tetap saja dia anak yang malang. Apalah maksud untuk mencari hidup kalau keinginan tidak sampai?”
“lalu mengapa dia tidak mengizinkan kita untuk masuk kedalam ruang kerjanya? Apakah ada sesuatu yang dia sembunyikan?” ucap hadi
“tidak mas. Samir adalah pemuda malang. Dia mencoba untuk berdiri diatas batinnya yang tersakiti.” Ilman terdiam sesaat “mari mas ikut dengan saya keruang itu” ajak ilman pada orang-orang itu.
Kemudian orang-orang itu pun membangunkan diri dan mengikuti ilman keruang samir yang tidak jauh dari tempat mereka bercakap. Ilman menyusuri langkahnya menuju ruang kerja samir, terlihat pintu ruangan itu. begitu indah dan elok rupa ukiran disetiap pintu itu. dan ilman pun membuka pintu itu dengan perlahan dan mengajak masuk orang-orang itu.
“disinilah samir menghabiskan waktu-waktunya. Disinilah lahir karya-karya yang membuatnya termashur dinegeri ini”
Kemudian orang-orang itu melihat ruangan itu, dilihatnya setiap sudut ruang yang begitu indah dan bersih itu. mata orang-orang itu kosong menatap setiap benda yang aa diruangan itu.
“kalau ruang yang elok dan sebersih ini, mengapa dia tidak mengizinkan kami untuk tidak memasukinya”
“inilah sebabnya” ucap ilman
Lalu ilman melangkah mendekati meja kerja samir dan menarik sebuah tirai yang terbentang panjang di dinding ruang itu. dan lalu tirai itu pun terjatuh. Betapa terkejutnya orang-orang itu melihat foto-foto dibalik tirai itu. mata mereka termenung menatap foto itu, ibundanya tampak menangis menutupi mulutnya. Hadi hanya tegak berdiri tak bergerak menatap foto itu. rahmat dan abangnya tak bersuara begitu pun dengan dimas. Suasana ruang terlihat sunyi, tak terlihat suara dari orang-orang itu hanya terdengar nafas panjang disalah satu orang-orang yang terdiam itu. mereka tidak pernah menyangka akan melihat foto-foto itu sungguh foto yang menyentuh hati.
“dia sengaja memberi tulisan dibawah bingkai foto itu. foto yang pertama itu adalah almarhum ayah dan ibundanya dia sengaja memberi nama malaikatku yang hilang dia pernah berkata bahwa ayah dan ibundanya adalah malaikat dalam hidupnya, yang selalu memberi kasih sayang dan melindungi dirinya. Foto keluarga itu dia sengaja mengukir dengan tulisan mentariku yang kelam katanya dia pernah memiliki matahari yang memberi energi dalam hidupnya setelah malaiatnya hilang. Namun tatkala suatu hari mentarinya itu menjadi kelam karena tertutup oleh kabut hitam yang tebal. Dan dia memasangkan fotonya seorang diri dalam bingkai itu. dia telah terbuang oleh keluarga dia tidak menginginkan dirinya membuat nama baik keluarganya bercampur dengan dirinya yang hina” ucap ilman haru
Ruangan semakin sunyi. Angin sepoi terasa masuk disela-sela jendela yang terbuka.
“katanya. Dia sengaja memasang foto-foto itu. bila dia merindukan adik-adiknya maka dia akan segera pergi keruangan ini dan melihat foto-foto itu”
Begitu pilu dan sulit untuk dipercaya oleh orang-orang itu. hadi semakin kuat menangis hampir-hampir ia terjatuh lemah mendengar ucapan ilman pemuda dihadapannya itu. rasa menyesal rahmat tak berkesudahan. Dimas hanya terdiam memandang foto itu dengan mata berlinang. Lalu orang-ornag itu pun melarikan diri satu per satu dari ruang itu, karena tidak tahan mendengar dan melihat foto-foto itu dan juga membayangkan kekejamannya.
Pagi yang amat dingin, sekitar pukul 07 pagi samir sedang duduk meminum segelas kopi panas di salah satu ruang dirumah besar itu. Samir tidak dapat untuk mengartikan perasaan hatinya saat ini. Disaat angin sepoi menerpa wajahnya, seorang laki-laki datang menghampirinya
“kakak, bisakah kita berbicara?” pinta ayahnya pada samir
“ingin berbicara apa, yah?” sebutnya
“ayah ingin meminta kepastian dari kamu” ucapnya
Samir memandang wajah laki-laki yang berdiri itu, dan melangkah mendekati orang-orang yang menunggunya diruang keluarga. Samir melihat semua orang itu duduk dikursi dengan wajah yang harap cemas. Dan lalu samir pun duduk dikursi yang sengaja disediakan untuknya. Sesaat hadi melihat adiknya, lalu menundukkan kepalanya kembali. Rahmat tidak sudih untuk melihat samir karena rasa meyesalnya. Tak terlihat adik-adiknya hanya tampak rivandi yang duduk didalam lingkaran orang-orang itu.
 “kak. Sudah tiga minggu kita tinggal bersamamu. Tapi tidak juga kau pernah berbicara pada kami” sebut hadi abangnya
“tiga minggu menahan batin bagaikan makan hati baulam jantung. Apalagi yang akan kita lakukan?” sambung ibundanya
“iya, apa lagi yang akan kita lakukan?” sebut samir pelan
“kakak. Mohon, maafkanlah segala kesalah yang kami pernah lakukan?” pinta dimas yang melihat samir iba
Samir terdiam. Sesaat ia termenung mendengar ucapan malaikatnya itu. begitu sakit telinganya ketika kata maaf itu dilontarkan oleh pemuda yang iba hati itu. lalu samir mendorong kursinya pelan dan membangkitkan badannya sambil memandang pemuda yang berbicara itu.
“maaf? Setelah kau renggut masa depanku, setelah kau campakkan aku hingga jauh, setelah kau rampas hak aku. Setelah kau putuskan hubunganku dengan adik-adikku. Sekarang kau meminta maaf?” ucap samir dengan suara sedikit berat
Orang-orang itu terdiam. Tak pernah terpikir oleh orang-orang itu samir dapat berbicara seperti itu.
“mengapa kakak berbicara sekejam itu. masihkah kakak membenci kami setelah semua kesalahan yang pernah kami lakukan?” sambung rahmat “bukankah kakak dikenal seorang pemuda yang baik hati pemaaf dan budiman. Mengapa kakak berbicara sekejam itu?”
Samir melihat adiknya dan berkata “iya, begitulah manusia. Teringat akan kesalahan orang lain padanya walau kesalahan yang kecil dan lupa akan kesalahan yang pernah dilakukan pada orang lain walau begitu besar”
“kakak” ucap merendah hadi
“masih teringat dalam benak ini dua tahun yang lalu, betapa kejamnya kalian kepadaku. Masih teringat dibenak ketika aku meratap merendahkan diri memohon ampun kepada kalian namun kalian menendangku dengan semaunya.” cerita samir dengan wajah yang membayangkan masa lalunya
“kakak” ucap kembali hadi abangnya
Orang-orang itu mulai menangis, teringat membayangkan kekejamannya pada pemuda yang berdiri itu.
“setelah aku meratap memohon kasihan kepada matahari dan malaikatku namun darah yang mengalir dibalik bibir ini yang aku dapat. Bukan keinginanku untuk melakukan ini. Kau sendiri yang mengatakan kalau aku bukan adikmu lagi. Kalian memutus tali persaudaraan antara aku dan adikku. Kau berkata kalau aku tidaklah pantas berada diantara kalian, aku tidak pantas berada dirumah mewah yang indah itu karena aku adalah manusia yang hina dan tak suci. Sebagai adikmu aku patuh kepadamu karena kau adalah pengganti almarhum ayahku, untuk itu aku mengikuti apa keinginanmu. Kau hantarkanku kesimpang jalan dan kau tak menghentikan langkahku dengan mengabaikan teriakan adikku yang menangis. Setelah dua tahun aku mencoba untuk mengubur luka itu, namun luka itu kembali terasa sakit. Siapa diantara kita yang kejam, muk?” tegas samir
Wajah samir berubah merah. Hatinya begitu sakit untuk mengatakan hal itu. ia tak pernah berpikir akan bersanding berbicara dengan orang jahat itu.
“kak” sebut hadi
“tidak. Muk. Aku hanya mengikuti keinginan kalian. kalian putuskan pengaharapan anak yang malang untuk hidup dan mengharapkan keluarga yang menjadi pelindung dalam hidupnya.”sebut samir dengan nada yang menahan air matanya ”Sampai kapan kalian akan meratap merendahkan diri. Aku telah memaafkan dosa orang-orang yang telah menyakitiku. Pulanglah. Jangan mau meratap dan merendah pada orang yang hina”
Lalu samir pun melarikan diri dari orang-orang itu. tangisan terdengar dijelas diorang itu. beberapa langkah dari abangnya langkah samir pun terhenti.
“tidak. Muk tidak akan pulang sebelum kakak memaafkan kita. Begitukah keputusan kakak, mengusir kerabat keluarga. Yang sudah mencari kakak kemana-mana?”
Samir terlihat kuat. Tak tampak air mata yang mengalir dipipinya. Hati samir begitu hancur dan rapuh, tak kuasa dirinya mengatakan hal sedemikian. Rivandi adiknya hanya melihat samir yang berderai emoasi, ia tak pernah membayangkan samir dapat melakukan hal itu. lalu samir pun pergi meninggalkan orang-orang yang menyesal itu, deraian air mata semakin terlihat mengalir dipipi hadi. Pemuda itu ta kuasa menahan derasnya air mata setelah mendengar pernyataan yang pahit dari adiknya.
Setelah samir mengusir orang-orang itu. pagi yang sedikit mendung mengiringi langkah keluarga itu untuk pulang. Begitu kejam samir telah mengusir ayah, ibunda dan saudaranya. Setelah dua tahun perasaan rindu yang menjelma dalam dada dan setelah orang-orang yang dirindukan itu datang samir dengan hati yang sakit mengusir orang-orang itu.
“mengapa samir sekejam itu nak. Mengusir keluarganya sendiri” tanya wanita itu pada ilman
“tolong sampaikan maaf kami padanya” sebut merendah adiknya rahmat
Ilman hanya termenung dan terdiam melihat orang-orang itu pergi menaiki mobil hitam milik samir untuk mengantarkan ke stasiun. Beigitu berat hati ilman menghantarkan pemuda dan saudaranya itu.
“kakak. Saya tidak mengerti mengapa kakak berbicara sekejam itu? bukankah kakak selama ini merindukan orang-orang itu? setelah mereka datang menemukan kakak. Kakak malah mengusir mereka”
“kakak menyesal ilman telah mengusir saudara kakak. Rindu dalam dada kakak masih bergejolak dengan hebat”
Setelah beberapa hari kepergian orang-orang itu, samir mendapatkan surat dari adiknya rivandi. Dengan tergopoh-gopoh samir mengambil surat dari tangan ilman dan tak sabar dia untuk membaca surat itu.
“kak, surat dari rivandi untuk kakak”
“mana. aku ingin membacanya segera” pinta samir tergopoh
Tak tahan hatinya membaca surat itu. rasa rindu pada adiknya dan saudaranya tak juga hilang dalam dadanya. Rasa menyesal terbesit dalam benak samir telah membuang saudaranya.
Untuk kakakku tercinta.....
Tak pernah terpikir dalam benakku ketika kakak mengatakan hal yang sangat menyakitkan hati. Ketika deraian air mata mengalir dalam rasa menyesal kakak membalasnya dengan kata-kata yang melukai hati. Kakak, apung tahu perasaan  kakak. Sakit hati kakak dua tahun yang lalu  belum juga hilang karena kekejaman saudaramu. Wahai kakakku tercinta, setelah kakak mengusir kami dari rumah kakak, semua orang memahami keputusan yang kakak ambil. Sesungguhnya kakak sangat merindukan saudaramu, itu terlihat dari mata kakak yang indah itu. kakakku tercinta, sungguh hatimu kini telah berubah, hatimu begitu kuat dan tegar ketika engaku mengucap keputusan itu. wahai kakakku tercinta, pulanglah maafkanlah kami. Atas segala kesalahan yang pernah kami lakukan. Kakak, muk sedang sakit badannya kurus wajahnya terlihat pucat. Muk sangat berharap melihat wajah kakak, sungguh muk sangat merindukan kakak. Kakak semua orang telah menyesali akan perbuatannya dua tahun yang lalu. Apung percaya akan kebaikan hati kakak yang suci itu bila ada waktu tolonglah pulang untuk sejenak melihat muk yang sedang sakit. Kakakku tercinta, setiap malam muk tak tidur setelah pulang dari rumah kakak muk tak henti-hentinya memanggil nama kakak. Kakak, pulanglah. Kami sangat merindukan akan kedatangan kakak.
Salam rindu tiada tara. Adikmu Rivandi......  

Rasa menyesal akan keputusannya terlihat diwajah samir ketika pemuda itu membaca sepucuk surat dari adiknya. Tangisan terdengar dari mulutnya. Begitu hatinya bermain hebat dengan rasa menyesal itu. lalu dengan segera ia membalas surat dari adiknya.

Kepada matahariku...
Segenap kesalahan yang telah aku lakukan kepada belahan jiwaku yang telah sudih meratap dan merendahkan diri kepada diriku yang tiada berdaya. Wahai belahan jiwaku, mohon maafkanlah segenap kesalahan yang telah aku lakukan kepada hatimu yang tersakiti. Tak kuasa tangan ini untuk menggores setiap kata dalam kertas putih ini hanya untuk memohon maaf kepada belahan jiwaku. Percayalah wahai belahan jiwaku, sungguh aku menyesal akan keputusan yang telah aku ambil. Setan telah bermain dalam hati ini untuk berkata sedemikian. Belahan jiwaku. Rindu yang amat dalam ini tiada akhir bermain hebat dalam jiwa ini. Kepada matahariku Rahmat Hadi Syaputra Wijaya. Telah aku susun jari nan sepuluh, telah aku hantarkan jari-jari ini dalam sepucuk surat ini memohon ampun dan maaf kepadamu atas segenap kesalahan dan kehilafan yang telah aku buat. Jangan bersedih hati wahai matahariku. Janganlah kau pikirkan segenap ucapan yang telah aku ucapkan. Janganlah kau benci terhadap diriku. Wahai matahariku, jangan kau khawatirkan akan diriku. Percayalah suatu saat nanti aku akan pulang menenmui matahariku untuk menghilangkan kabut kelam yang menghalangi sinarmu. Wahai matahariku, percayalah aku akan menjumpaimu, namun tidaklah untuk saat ini karena aku tidak ingin menjumpai matahariku dengan rasa bersalah yang bersarang dalam benak ini. Biarlah waktu yang menjawab segenap kerinduan yang bergejolak dalam dada ini. Wahai matahariku. Segenap hati ini, telah aku do’akan saudarku setiap kalimat dalam sholatku. Telah aku maaf atas segala kesalahan aku dan engkau yang telah perbuat. Semoga niscahaya tuhan senantiasa mengabulkan do’a dan harapan kita.
Dari aku yang terbuang, samir...........

Begitulah surat balasan samir kepada matarinya. Betapa rapuh hati segenap orang-orang itu. hadi pemuda yang sakit itu sedikit merasa kuat dan tegar ketika membaca surat balasan dari malaikatnya itu. terlihat senyum kecil keluar dari mulutnya, hatinya merasa tenang karena segenap kesalahannya telah dimaafkan oleh adiknya.
Begitulah akhir nasib samir pemuda yang malang itu, telah berubah menjadi seorang pemuda yang penyayang dan budiman hidaup  dalam kejayaan karena telah ia terima dari balasan hatinya yang ikhlas. Penyesalan demi penyesalan telah ia dapat dari orang-orang yang telah menyakitinya. Samir begitulah pemuda yang baik hati mengaharapkan segenap perlindungan dan kasih sayang dari orang-orang terdekatnya. Biarlah waktu yang menjawab segenap pertanyaan dirinya dan saudara-saudaranya.   
      






Inovasi Media Pembelajaran Berbasis Android

PEMBELAJARAN IPA TERINTEGRASI ETNOSAINS Kurikulum merdeka belajar memiliki empat karakteristik utama untuk mendukung pemulihan pembelajaran ...