Jumat, 13 November 2020

CERPEN

 

Mutiara Kemingking

“Bagaimana mau sekolah tinggi-tinggi. Coba kau lihat, jangankan Bahasa Inggris, Bahasa gaul saja kau tidak bisa” suara Evan menggema.

Pagi itu, diskusi dimulai. Di dalam kelas itu terdengar riuh bagikan petir yang saling sahut menyahut. Ada yang menjerit karena kesal, ada yang marah karena pendapatnya tidak ditanggapi ada seribu tingkah. Pagi itu, sekitar pukul 07.15 mentari mulai meninggi, di ufuk timur cahayanya mulai bersembunyi di balik awan-awan putih. Hawa panas mulai terasa menyengat di kulit. Angin kecil mulai masuk ke dalam kelas disela-sela pentilasi hingga membuat tirai jendela bergelombang kecil.

Pagi itu di Kemingking udara terasa panas. Mungkin sudah masuk musim kemarau. Daun-daun yang hijau mulai menguning. Duku mulai membesar berjajar ditepi jalan utama. Candi Gumpung masih kokoh berdiri, Telago Rajo masih menyimpan airnya. Sungguh anugerah Tuhan yang luar biasa.

“Bahasa gaul? Untuk apa aku memakai Bahasa alay itu. Kita tinggal di Indonesia tanah melayu jangan kau bawakan Bahasa itu kesini” Zawati mulai memanas. Ia memang ahli dalam berdebat. Ia meladeni berdebat dengan Evan laki-laki yang bercita-cita kuliah di UGM.

Lintang. Laki-laki yang duduk termenung di sudut kelas menyaksikan perdebatan orang-orang itu. Ia memang tidak tertarik dengan pelajaran Bahasa Indonesia apalagi melihat gurunya, Pak Indra yang jadul dan tidak gaul. Baginya Bahasa Indonesia sulit untuk dipahami. Ia terbiasa menggunakan Bahasa daerahnya jika berkomunkasi dengan teman-temannya bahkan dengan gurunya sekalipun.

“Apa salahnya. Coba kau buka mato kau, Ti. Dunia sudah maju sekarang. Kau lihat, orang sudah pergi kebulan. Nah, kau masih saja tidak berkembang” ledek Evan pada Zawati.

Sejenak Zawati terdiam, ia menarik nafas dalam mencoba mencari pertolongan dari teman-temannya. Ia menoleh ke kanan ke kiri namun tidak ada satu pun yang peduli. Kini ia benar-benar sendiri. sementara itu, Pak Indra laki-laki paro baya itu melihat pergaulan siswa-siswanya. Ia hanya duduk memperhatikan dan mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari orang-orang itu. Sekali-kali ia menulis entah apa yang ia tulis.

“Walaupun dunia sudah maju tapi kita tidak boleh melupakan asal kita. Jangan seperti kacang lupa dengan kulitnya” wajah Zawati mulai memerah. Ia benar-benar marah.

“Lantas apa yang kau mau lakukan? Mau tunak di dusun ini? Seperti perempuan-perempuan desa lainnya? selesai sekolah nikah?”

“Banyak yang kita lakukan sebagai generasi muda. Salah satunya kita harus menjujung tinggi Bahasa kita. Bahasa daerah ini sebagai identitas kita. Agar kita tidak lupa dari mana kita berasal”

“Bahasa kita? Bahasa daerah kita yang kuno ini? Kenyok, belambun, kelagik. Itu? Mau kau pakai Bahasa nyai, datuk kau itu?” ucapnya kemudian “Pastilah orang-orang tertawa mendengarkan itu, Ti. Coba la buka pikiran kau itu. Kita harus lihat dunia. Buka mata. Dunia bukan hanya di Kemingking ini saja” Evan membalas. Kali ini ia benar-benar membuat Zawati mati suri tak berdaya.

“Sudahlah, Ti. Tidak Telap kau melawan Evan Dewekan. Dia itu keras kepala, tidak mau kalah” Husna berbisik kecil ditelinga Zawati. Ia melihat Zawati sudah lelah. Matanya merah, pandangannya hanya ada kebencian pada laki-laki itu.

“Tidak, Na. aku tidak terima dia merendahkan Bahasa kita. Bahasa nenek buyut kita”

“Iya kulo tahu. Tapi ini kau dewekan, Ti”

Zawati tidak pernah menghiraukan ucapan sahabatnya. Ia tidak marah jika dirinya diremehkan orang lain tapi ia akan marah jika sudah berkaitan dengan harga diri daerahnya, ia tidak pernah menyerah. Itu prinsipnya.

Mendengar itu, Lintang terperanjat. Ia memandang Evan. Matanya tajam sangat berisi. Ia melihatnya dengan benci. Ingin rasanya ia mematahkan ucapan Evan, ingin rasanya ia berdebat dengan Evan. Tapi, ia takut. Takut ditertawakan karena bahasanya.

“Aku tidak setuju dengan kau, Van! Kau boleh belajar Bahasa apa pun. Bahasa gaul, Bahasa asing sampai Bahasa binatang pun tidak apa. Tapi satu, Bahasa ibu kita jangan kau lupakan. Sebagai generasi muda, aku sangat mencintai Bahasa daerahku, aku bangga dengan Bahasa yang kau bilang kuno itu. Dengan Bahasa kuno itulah Kemingking ini berdiri, dengan Bahasa kuno itulah candi Gumpung masih berdiri kokoh sampai kini. Dengan Bahasa kuno itulah Telago Rago masih menyimpan airnya. Dengan Bahasa kuno itulah Kemingking dikenal. Selagi Kemingking ini berdiri selagi itulah aku mempertahankan Bahasa ibuku” suara Zawati menggema. Ia mencoba mempertahankan harga diri Bahasa daerahnya walau hatinya rapuh tak berdaya lagi.

“Orang desa bukan berarti tidak boleh punya cita-cita. Orang kota, orang desa sama saja. Kami juga punya cita-cita” Zawati sedikit tegar.

Evan terdiam. Ia melihat Zawati tidak enak. Matanya merah. Senyum sinisnya seketika menghilang. Hanya terlihat kebencian.

“Sudahlah, Ti. Lupakan saja cita-citamu itu. Kau urus saja Bahasa kunomu itu. Bahasa kuno kau itu tidak cocok dibawa ke kota. Malu Ti, malu” Evan tertawa kecil.

“Evan, Zawati cukup” Pak Indra melerai perdebatan.

Evan terdiam begitu pun dengan Zawati. Sejenak kelas sunyi tak bersuara. Hanya terdengar beberapa kali kicauan burung balam yang melompat dari satu ranting ke ranting yang lainnya. Harapan Zawati telah pupus. Laki-laki itu sudah menyakiti hatinya. Ia menggenggam tangannya agar tidak menangis. Ia mencoba tersenyum kecil melihat ke arah Pak Indra yang duduk di depan kelas. Dibalik senyumnya tersimpan luka di hatinya.

“Perdebatan ini tidak akan selesai kalau kalian seperti ini” ucap Pak Indra. Lalu kemudian.

“Evan” dari sudut kelas Lintang memanggil dengan suara yang keras.

Semua terdiam. Suara Lintang bagaikan gendang yang ditabuh. Dilihat dari raut wajahnya, sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu pada laki-laki itu. “Ayahku pernah bertanya padaku asal mula tanah Kemingking ini. Pernahkah kau tahu sejarah tanah ini, Van?”

Tiba-tiba lintang bangkit. Wajahnya serius. Matanya penuh dengan angan. Dia seperti orang lain pagi itu. Pak Indra hanya terdiam melihat Lintang berbicara. Matanya tertegun, mulut Pak Indra terkunci melihat bagaimana dengan lantangnya Lintang berbicara.

“Pernahkah kau tau sejarah Kemingking ini? Bagaimana para ninik mamak kita dahulu memperjuangkan tanah Kemingking dan mempertahankan Bahasa daerah ini? Kau seharusnya bijak dalam berkata. Walau kau tidak merasakan perjuangan mereka, setidaknya kau menghargai perjuangan mereka”

Evan terdiam. Tidak menyangka Lintang dengan begitu gagahnya berbicara seperti itu. Selama ini, ia hanya dikenal diam dan tidak peduli dengan pelajaran tapi kali ini dia mulai berbicara. Melihat itu, Zawati tersenyum kecil. Harapan dalam dadanya mulai timbul walau sedikit redup. Lintang harapan satu-satunya untuk memperjuangan argumennya untuk mempertahankan Bahasa daerah Kemingking.

“Sebagai generasi muda. Kalau bukan kita yang menjaga budaya kita siapa lagi? Kalau bukan kita yang melestarikan siapa lagi? Kita boleh saja menggunakan Bahasa asing tapi ingat Van, dengan Bahasa ibulah kau dibesarkan. Dengan Bahasa daerahlah kau mengenal Kemingking ini”

Evan tertegun. Begitu juga Pak Indra. Semua mata terbelalak melihat laki-laki itu. Ia begitu lihai membabat perkataan Evan. Zawati semakin lebar tersenyum ia tambah yakin akan mengalahkan Evan dalam perdebatan itu.

Suasana kelas semakin mencekam. Sunyi dan tak bersuara. Hanya suara Lintang yang terdengar. Hawa panas berubah menjadi dingin. Rimbunnya dedaun membawa angin sepoi masuk hingga menari-nari dikulit dinginnya terasa hingga ketulang.

“Aku tidak peduli sejarah Bahasa kuno ini. Bagiku Bahasa yang kau pakai itu kuno tidak ada kemajuan” Evan mencoba membela diri.

“Kalau begitu kau bukanlah generasi yang baik”

Evan bingung sekali-kali ia mengerutkan keningnya. “Maksudmu?” tanya Evan bingung

“Ingat kata Bung Karno jangan pernah melupakan sejarah. Ini akan membuat dan mengubah siapa diri kita. Kalau kau tidak tahu dan tidak menghargai sejarah Kemingking ini, maka kau tidak akan bisa mengubah bangsa ini. Asalkan kau tahu, Bangsa yang besar ialah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya. Begitupun dengan Kemingking ini. Sebagai generasi Indonesia kita wajib memperjuangkan tanah nenek buyut kita”

Suasana hening. Sesaat Lintang terdiam, ia mencoba menarik nafas dalam. Mencoba menenangkan dirinya agar tidak emosi. Zawati hanya tersenyum melihat kepandaian Lintang merangkai kata-kata. Evan tidak bersuara sekali-kali ia mencoba membantah namun suaranya tidak keluar. Lintang menjadi idola pagi itu.

“Kita wajib melestarikan budaya leluhur kita. Bahasa yang kita pakai inilah Kemingkingan sebenarnya. Kemingking tidak mengenal Bahasa yang kau sebutkan tadi. Kemingking tidak mengenal Bahasa alay yang kau utarakan tadi. Inilah kemingking dengan sejuta sejarah dan peradaban. Untuk Kemingking aku berdiri disini. Karena Kemingking aku hidup. Karena Kemingking aku bernafas. Selagi nyawa ada diraga maka Kemingking tetap ada. Selagi Telago Rajo menyimpan air, selagi Gumpung berdiri kokoh, selagi Astano tegak berdiri aku akan perjuangkan Bahasa Ibuku. Bahasa Kemingking. Bahasa pemersatu Bangsa” Lintang tak hanya dikenal pendiam, ternyata dia juga ahli sejarah. Ia banyak mengetahui sejarah daerah yang ia cintai, Kemingking.

“Apakah kau lupa Van. Ninik mamak, para tuo tuo tengganai dulu menitipkan Kemingking ini pada kita? Pada aku, kau kita semua. Jangan kau banggakan Bahasa alaymu itu. Jangan kau bangga dengan Bahasa penjajah kita dulu. Tapi banggalah dengan Bahasa daerahmu. Walau katamu kuno tapi ingat dengan Bahasa ibulah kau dibesarkan” tutupnya.

Sejenak semua terdiam. Beberapa detik tak terdengar suara apa pun. Zawati hanya tersenyum melihat Lintang, dia bagaikan pahlawan  pagi itu. Pak Indra senyum bangga, Lintang selama ini diam kini ia menunjukkan siapa dirinya. Dia adalah orang yang pertama menentang jika harga diri daerahnya di lecehkan, ia orang pertama memperjuangkan jiwanya jika harga diri daerahnya direndahkan. Evan hanya bisa tertunduk malu. Suaranya seketika menghilang.

Lintang, mutiara Kemingking. Didikan alam. Laki-laki lintas sejarah. Sang penjaga Kemingking. Pelindung negeri seribu candi. Ia terlahir dari alam Kemingking tanah Pusako Betuah wawarisan ninik mamak tuo-tuo tengganai.

CERPEN HARAPAN DARI KERTAS BURAM

 HARAPAN DARI KERTAS BURAM

Hujan terdengar riuh pecah ditelinga. Air yang berjatuhan mengenai setiap debu-debu yang bertaburan. Pagi itu, gerimis telah berubah menjadi hujan yang deras membuat gaduh setiap penduduk bumi, petir terdengar bersahut-sahutan diangkasa. Didalam kelasnya, Rangga duduk termenung sambil menatap ke langit biru yang telah berubah menjadi abu-abu.

Pagi itu suara hujan lebih enak didengar olehnya dari pada kertas putih yang bertinta hitam dihadapannya itu.

“Rangga?” panggil Bu Tina padanya. Rangga tidak menyadari panggilan itu, dia asik memandang langit nan jauh disana. Suara hujan sungguh enak di dengar olehnya.

“Rangga?” suara Bu Tina kembali menggema Rangga tak juga mendengarnya. Sepertinya hujan telah membawanya jauh pergi kenegeri fatamorgana, dunia hanya ada dirinya dan orang-orang yang dia sayangi.

“Ranggaaaa?” suara Bu Tina melengking terdengar keras hingga membuat semua siswa melihat kearah Rangga.  Mendengar suara keras itu Rangga terbangun dari lamunannya. Seketika ia kaget. Matanya terbelalak melihat wajah Bu Tina yang merah. Bagaikan singa yang siap menerkam.

Sesaat kelas sunyi hanya terdengar suara hujan dari pantulan atap kelas. Bu Tina terdiam sejenak mencoba mengatur nafasnya. Lalu kemudian “Apa kamu tuli? dari tadi saya manggil kamu?” suara lengkingan Bu Tina kembali menggema. Semua siswa tertunduk takut. Mereka sudah paham dengan Bu Tina kalau dia sedang marah.

 Apapun yang ada dihadapannya tidak akan lolos darinya. Jangankan Rangga gunung pun akan ia angkat kalau ia lagi marah begitu kata anak-anak pada Bu Tina yang dikenal dengan guru yang tegas itu.

“Mengapa kamu melamun? apa yang kamu pikirkan?” tanya Bu Tina pada Rangga. Raut wajahnya tidak berubah. Tetap menyeramkan bagi Rangga. Wajahnya memerah. Matanya membesar. “Apa kamu selesai ujiannya?” tanya Bu Tina kembali. Rangga menggelengkan kepalanya. Sekali-kali ia melihat kebawah menatap kertas putih yang belum ia sentuh dari tadi.

Sekolah bukanlah tempat yang nyaman bagi Rangga. Baginya, sekolah bagaikan jahanam yang membakar jiwanya. Dia benci ujian dia benci ulangan, dia benci tugas dia benci guru-gurunya yang jadul dan tidak gaul dia benci teman-temannya, dia benci bu Tina guru yang membuat hidupnya tidak nyaman disekolah.

Hujan mulai reda, hawa dingin perlahan menghilang kini mulai terasa panas masuk disela-sela jendela kelas. Rangga benar-benar tidak enak. Entah mengapa ia merasa hari ini terasa berbeda. Apa yang ia rasakan semuanya tidak enak dijiwanya. Ia melihat kearah bu tina yang sedang menulis, entah apa yang ia tulis. Rangga tidak peduli. Ia menengok ke kiri dan ke kanan. Semua orang tertunduk mulutnyanya komat kamit seperti lagi berzikir, matanya kenanan kekiri membaca setiap kalimat dikertas putih itu.

“Waktunya tinggal 20 menit lagi” suara bu Tina kembali menggema

Suara Bu Tina sungguh tidak enak didengar oleh Rangga. Ia ingin cepat-cepat keluar dari kelas yang membuatnya tidak enak itu.

“Ngga..Ngga” tiba-tiba bahu Rangga dipukul oleh Gery. Ia menoleh, Gery sepertinya cemas karena ia belum juga menyelesaikan ujiannya. Rangga tak bersuara. Ia hanya mengangkat sedikir kepalanya tanda memberi isyarat

“Apa”

“Kamu sudah selesai belum?”

“Belum”

“Nomor 7 apa jawabannya?”

“Aku belum selesai. Kertas aku masih kosong ni” tunjuk Rangga

“Wwaahh. Para kamu. 20 menit lagi waktunya mau selesai”

“Terus bagaimana?” sambung Ragga

“Oke. Aku ada ide?”

“Apa?” lanjutnya

“Sekarang keluarkan kertas itu!” bisik kecil Gery pada Rangga

“nanti ketahuan sama bu Tina. Jangan cari gara-gara kamu”

“Tidak Ngga, ayolah cepat lihat. Bu Tina tidak bakalan tahu kalau kamu tidak kasih tahu”

“Waktunya tinggal 5 menit lagi” suara bu Tina kembali terdengar mendesak ditelinga Rangga. Mendengar itu, kelas kembali riuh. Suara terdengar pecah. Semua panik. Suasana kelas tak menentu. Gery mencoba merayu Rangga. Ia mengeluarkan seribu jurusnya agar Rangga mau melihat kertas putih buram yang telah ia siapkan dari semalam. Namun, hati kecilnya berkata tidak. Ia tahu resiko yang akan ia dapat jika ketahuan menyalin dari kertas itu.

“Ayo, Ngga. Waktunya mau habis ni. Kamu mau nilai kamu jelek?” Gery mencoba merayu kembali kali ini ia sangat mendesakkan Rangga. Pikiran Rangga kacau. Ia gelisah. Ia melihat ke kanan dan ke kiri. Matanya tak menentu. Sekali-kali ia melihat ke Bu Tina yang sedang merapihkan mejanya dari buku-buku.

“Ayo, Ngga!”

“Aku takut, Ger”

“Tidak apa-apa. Tidak akan ketahuan. Waktunya mau habis ni”

Rangga tergoda. Jiwanya memberontak. Hati kecilnya tidak bisa ditahan atas rayuan Gery yang terus mendesaknya. Ia membukanya dengan perlahan. Ia menengok-nengok ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada yang melihatnya termasuk bu Tina. Hatinya bergetar hebat. Sekali-kali Terbesit dihatinya jika ia didapat oleh bu Tina tengah melihat jawaban dari kertas buram itu.  Ia menulis dengan cepat. Tanggannya bergoyang dengan hebatnya menulis setiap kata, setiap kalimat dari kertas buram itu. Harapannya terpenuh sudah. “aku pasti mendapatkan nilai yang bagus” gumamnya dalam hati.

Wajahnya yang tegang mulai menghilang, seiring dengan waktu berakhir. Ia semangat menulis begitu pun dengan Gery. Sungguh ia sangat beruntung. Waktu kian mendekati titik akhir ujian. Beberapa siswa telah menyelesaikan tugasnya. Tinggal beberapa siswa yang tertinggal. Kelas kembali kondusif. Hawa panas mulai masuk ke kulit terasa hingga ke ubun-ubun. Mata bu Tina melihat kemana-mana. Ia memastikan siswanya benar-benar bekerja dengan baik. Dan seketika ia berteriak.

“Ranggaa!”

Mendengar itu Rangga terbangun dari kekhusukkannya. Ia kaget. Dilihatnya Bu Tina yang berdiri di depan kelas.

“Apa itu, Rangga?” sambungnya

Rangga tak bersuara. Hatinya kecut. Wajahnya mulai pucat. Sekali-kali ia melihat kearah Gery. Ia mencoba menyembunyikan kertas buram itu dari tangannya. Namun, sayangnya bu Tina terlanjur melihatnya. Kaki bu Tina melangkah mendekati Rangga. Melihat itu, Rangga tertunduk takut. Ia merasa hidupnya tidak lama lagi. Bu Tina bagaikan malaikat maut yang siap menyabut nyawanya.

“Keluarkan!” pintanya Rangga tak berdaya. Ia hanya tertunduk malu dan takut. Keringat dingin mulai membasahi badannya. “t..t..tidak, bukan apa-apa bu” Rangga tergagap

“Keluarkan!” pinta bu Tina kembali dengan nada yang cukup tinggi

Wajah Rangga pucat pasih seperti cendawan dibasuh. Ia benar-benar tak berdaya. Darahnya terasa panas, jantungnya berdetak kencang. Matanya merah. Sungguh ia benar-benar tak berdaya. Lalu ia mengeluarkan kertas buram itu dari laci mejanya. Ia mengulurkan pada bu Tina. Lalu wanita itu pun mengambilnya. Perlahan ia membolak-balikkan kertas itu. Ia membacanya setiap kalimat. Lalu kemudian.

“Kamu mencontek, Ngga?”

Selesai sudah hidup Rangga. Ia tak berdaya. Ia tidak bisa menghela lagi. Harapan satu-satunya sudah ditangan bu Tina. Ia hanya bisa tertunduk malu. Suara bu Tina pecah ditelinga Rangga, suara itu lebih seram daripada suara petir. Sungguh Rangga tak berdaya.

“Saya minta maaf, Bu” mohonnya

Wajah Rangga sungguh iba. Suaranya parau tak berdaya. Ia hanya pasrah pada Bu Tina. Ia tak melihat wanit itu ia hanya menundukkan kepalanya dari tadi. Melihat Rangga, bu Tina menajdi iba. Ia merasa bersalah membuat Rangga seperti itu. Lalu ia berkata

“Untuk apa kamu berharap pada kertas buram ini. Ia tidak akan bisa membuat massa depanmu lebih baik. Yang mengubah massa depan kamu itu adalah diri kamu sendiri. kalua kamu tidak percaya dengan diri kamu sendiri bagaimana kamu bisa mengubah massa depanmu lebih baik. Lain kali jangan mencontek lagi. Kali ini ibu memaafkan kamu. Ibu yakin kamu bisa jika kamu berusaha keras. Lanjutkan ujiannya” tutup Bu Tina.

Rangga kaget. Matanya membesar. Bukan karena hukuman dari Bu Tina. Tapi ia benar-benar kaget. Hatinya tak bisa tergambarkan dengan apa-apa. Benarkah itu Bu Tina? Apakah itu malaikat penolong saya? Ataukah itu malaikat maut menjelma jadi Bu Tina? Gumamnya dalam hati. Hari itu memang hari keberuntungan baginya. Rangga selamat dari cengraman Bu Tina. Ia merasa lega. Nafasnya berhembus dengan lapang. Sungguh ia beruntung. Ia tertunduk malu. Ia merasa pesan Bu Tina memang ada benarnya ia sudah berharap pada kertas buram dan tidak percaya pada dirinya sendiri. Terima kasih Bu Tina.

 

Kamis, 17 September 2020

Berkarya Ditengah Pandemi

Corona Virus Disease

Mendengar kata ‘virus’ yang terbayang dibenak saya adalah organisme kecil yang menyerang kekebalan tubuh manusia. Jika virus menang maka manusia akan sakit dan bisa disembuhkan dalam bebarapa hari saja. Sejuah ini saya hanya mengenal beberapa virus saja seperti virus flu burung, SARS, MERS, ebola dan lainnya. Namun ketika akhir 2019, dunia dihebohkan dengan kemunculan virus baru yaitu Corona virus disease (covid-19) yang berasal dari negera tembok raksasa yaitu kota wuhan. Dalam pikiran saya, corona virus sama seperti virus lainnya tidak begitu berbahaya jika manusia terinfeksi. Tetapi, berbeda dengan kenyataannya sampai saat ini covid-19 sudah menyerang sekitar sekitar 29 juta orang di dunia. Termasuk Indonesia, hingga saat ini kasus di Indonesia terus meningkat. Ini membuat sebagian besar sekolah di Indonesia tutup dari awal April 2020.

Ilustrasi Virus Corona 2019-nCoV (Public Domain/Centers for Disease Control and Prevention's Public Health Image)

Covid-19 di Jambi

Kehadiran virus covid-19 di Jambi turut mewarnai kehidupan masyarakat dengan berbagai dampak dan fenomena yang ditimbulkannya. Salah satunya adalah berdampak pada ekonomi dan Pendidikan. Sekitar 3 bulan sekolah di Jambi tidak ada aktivitas belajar mengajar. Siswa dianjurkan belajar dari rumah. Hal tersebut merupakan tindak lanjut surat edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan Corona Virus Disease (Covid-19) pada satuan Pendidikan dan arah Direktur Jenderal Kebudayaan terkait area layanan publik serta sebagai upaya dalam menjaga dan melindungi masyarakat guna mengantisipasi penyebaran virus Covid-19.

Kondisi Tugu Keris Siginjei Sepi (metrojambi.com)


Kondisi Jl. Gatot Subroto Jambi (metrojambi.com)

Ini membuat saya dan guru-guru yang lain harus memutar otak mencari cara agar proses pembelajaran online menarik dan tidak membosankan. Seribu cara yang dilakukan guru agar materi pembelajaran tersampaikan dengan baik. Mau tidak mau guru-guru harus beradaptasi dengan model pembelajaran berbasis digital. Kehadiran covid-19 ibarat seperti pedang bermata dua, jika guru memanfaatkan kondisi ini dengan baik, maka dalam membentuk karakter peserta didik akan tercapai, jika tidak dimanfaatkan dengan baik, maka pembentukan karakter peserta didik akan sulit tercapai. 
Kehadiran coronavirus ternyata membawa dampak positif terhadap dunia Pendidikan, bencana kesehatan ini memaksa semua pegiat pendidikan “hijrah” memanfaatkan teknologi dalam mengajar ditengah pandemi ini.

Indahnya menyapa melalui aplikasi zoom

Majelis Pagi bersama anak-anak dengan zoom

Tetap Tersenyum meski hati diselimut kerinduan

SMPIT Nurul ‘Ilmi Jambi

Nuansa sepi tanpa katifitas anak-anak terlihat disetiap sudut mata memandang. Hanya terlihat daun-daun yang bergoyang. Tidak terdengar hiruk pikuk suara anak-anak. Mereka dirumah, mereka belajar dari rumah. Setidaknya tiga bulan lamanya Nurul ‘ilmi sepi senyam tanpa lantunan Al-Quran terdengar. Ini membuat hati saya dan para guru lainnya merasa sedih tidak bisa menyapa dan bersalaman dengan sang penjaga wahyu Allah.

Kegiatan Siswa Sebelum Pandemi

Kegiatan Ikrar Pagi Sebelum Pandemi


Indahnya Shalat Dhuha sebelum pandemi








Belajar dan Bermain


Kunjungan Ke Panti Asuhan




Keseruan Kegiatan Pramuka Sebelum Pandemi

Menghafal Kosa Kata Asing

Corona benar-benar membuat saya memutar otak dalam mengajar bagaimana cara membuat pembelajaran menarik dilakukan selama anak-anak dirumah. Belajar dengan bermain mungkin menjadi solusi yang tepat dalam menciptakan suasana menarik selama belajar dirumah.

Pembelajaran berbasis proyek menjadi salah satu pembelajaran yang sering saya lakukan dalam menciptakan suasana baru ketika mengajar daring. Belajar berbasis proyek menanamkan karakter mandiri dan disiplin pada peserta didik.





Sekolah Tatap Muka di Massa Pandemi
Jambi merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang termasuk dalam zona kuning, pada tahun ajaran baru kementerian Pendidikan Indonesia memperbolehkan siswa sekolah di zona kuning dan hijau. Kabar ini sangat menggembirakan bagi saya dan anak-anak. Namun, siswa masuk dengan protokol kesehatan yang sangat ketat.







Harapan saya dan semua orang. Semoga para guru selalu memberikan yang terbaik pada anak bangsa dalam membentuk karakter peserta didik ditengah pandemi. Saya berdoa pandemi ini segera berlalu...

#CerdasBerkarakter, #BlogBerkarakter, #SeruBelajarKebiasaanBaru, dan #BahagiaBelajardiRumah 



Sabtu, 23 Desember 2017

Jambi, Surga Kecil yang Tersebunyi di Sumatera

Masih ingatkah pelajaran IPS kelas 6 SD dulu, sungai apakah yang terpanjang di pulau Sumatera? Jika kalian menjawab sungai musi di sumatera selatan, maka jawaban kalian salah. Sungai yang terpanjang di pulau sumatera adalah sungai Batanghari yang berada di Provinsi Jambi.

Batanghari adalah sungai besar yang menjadi urat nadi masyarakat jambi dari dahulu hingga sekarang. Sungai ini adalah sungai TERPANJANG di Sumatra, membentang sejauh 800 km, berhulu dari Sumatra Barat dan bermuara di Selat Berhala. Sebagai sungai utama, banyak sungai yang ukurannya relatif lebih kecil bergabung di Batang Hari antara lain Batang Sangir, Batang Tebo, Batang Tembesi. Semuanya membawa berbagai macam material dan mengendap di Batanghari. Salah satu material pentingnya adalah EMAS. Emas di batanghari ini bukan main banyaknya, pernah ada seorang nelayan menemukan bongkahan emas. Emas beneran! bukan emas yang bisa ngapung. Emas yang melimpah ruah di Batanghari inilah yang membuat sumatra mendapat julukan sebagai pulau emas (swarnadwipa). 

Sungai Batanghari
Batanghari juga salah satu sungai yang penting dalam sejarah nusantara. Batanghari pernah menjadi lintasan perdagangan dunia. Ini dibuktikan pada temuan benda bersejarah di sepanjang aliran sungai. Bukti itu bisa dilihat dari pecahan-pecahan keramik yang berasal dari Asia Tenggara di antaranya Kamboja, Thailand, dan Burma. Ada pula tembikar berglasir biru yang diyakini berasal dari Persia (kini Iran). Perhiasan dari emas banyak juga ditemukan di situs tersebut. Cincin, gelang, dan sabuk diyakini sebagai milik keluarga raja pada masa kerajaan Melayu kuno ataupun Kerajaan Sriwijaya. Kekayaan kandungan batanghari membuktikan bahwa Jambi dulunya adalah daerah penting di Sumatra.

Bukti fisik lainnya yang menunjukkan kejayaan Jambi masa lampau adalah Kompleks Percandian Muaro Jambi yang berada di tepian sungai Batanghari. Kompleks percandian ini kabarnya adalah yang TERLUAS se Asia Tenggara. Di antara semua candi di Sumatra, Candi Muaro Jambi yang paling terawat. Candi ini terdiri dari 80an candi namun hanya beberapa saja yang baru dipugar, sisanya masih berupa gundukan batu bata (menapo) penuh misteri di antara lebatnya pepohonan. Kompleks ini merupakan salah satu situs peninggalan Kerajaan Sriwijaya, selain sudah dikenal sebagai tempat ibadah, juga diprediksi sebagai pusat belajar. Bahkan diyakini bahwa, Kompleks candi muaro jambi adalah universitas TERTUA di Indonesia.

Candi Tinggi salah satu candi di kompleks candi Muaro Jambi

Bagi saya, sungai Batanghari memiliki kenangan indah semasa saya kecil. Berenang bersama teman-teman, memancing dan mencuci baju. Riwayatnya akan saya kenang sampai kapanpun.
Tidak hanya Sungai Batanghari yang menjadi ikon Jambi, masih banyak tempat-tempat yang menarik harus kalian tahu tentang jambi. Memang selama ini jambi jarang terekspos didunia televisi nasional, bukan karena jambi tidak memiliki tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi atau jambi tidak memiliki serajah menarik untuk dipublikasikan kemasyarakat ramai. Jambi jarang terekspos karena salah satunya kota jambi adalah kota yang damai, tentram, dan nyaman tidak memiliki catatan buruk ataupun bentuk kriminal lainnya.
Mungkin sebagian dari kalian tidak tahu dimana jambi berada. Mungkin sebagian dari kalian beranggapan kalau jambi merupakan nama Daerah dari suatu provinsi yang ada di Indonesia.
Jambi, layakkah dikunjungi? Mungkin itu adalah pertanyaan pertama ketika kalian mendengar kata Jambi.
Mungkin pertanyaan itu akan terjawab setelah kalian membaca tulisan ini.
Bagi saya Jambi adalah kota primadona, menjujung tinggi budaya melayu dan adat istiadat. Saya sering menyebut Jambi sebagai Heart of Sumatra alias jantungnya sumatra. Rasanya tidak berlebihan kalau saya memberikan julukan tersebut sebab lokasinya yang sangat strategis yaitu di tengah pulau Sumatra. Selain lokasinya, Jambi di dukung pula oleh kekayaan alam dan sejarah yang melimpah dan relatif  tak terjamah. Jambi adalah salah satu Propinsi di Indonesia yang memiliki Taman Nasional TERBANYAK.  Ada 4 Taman Nasional tersebar di 4 penjuru mata angin. Taman Nasional Kerinci Seblat di Barat, Taman Nasional Bukit 30 di Utara, Taman Nasional Bukit 12 di Selatan dan Taman Nasional Berbak di Timur. Masih kurang? di Perbatasan Jambi – Sumsel terdapat Harapan Rainforest yang merupakan restorasi ekosistem PERTAMA di Indonesia.
Kota ini sudah berumur ratusan tahun dan mempunyai sejarah yang panjang sebelum akhirnya menjadi seperti sekarang. Saat ini kota jambi pun masih terus berkembang untuk mengejar ketertiggalannya dengan kota lain khususnya di Pulau Sumatra. Sebagai kawasan yang sedang berkembang, Anda dapat melihat gaya hidup modern dan tradisional masih berjalan berdampingan.

Peta Pariwisata Jambi
Kota Jambi dapat dicapai melalui darat, laut – sungai, dan udara. Melalui darat dapat dicapai dari kota terdekat, seperti palembang yang dapat ditempuh selama 5 jam. Melalui laut dapat dicapai dari Kota Batam, naik kapal cepat menuju Kota Kuala Tungkal selama 5-6 jam, dan dilanjutkan perjalanan darat ke kota jambi selama 3 jam.
Aerial View Pusat Kota Jambi
(Foto udara di ambil dari skyscraperity)
Saya sarankan, paling gampang kalau kalian ingin ke jambi melalui pesawat udara dari jakarta, Batam, Padang, maupun Palembang yang memakan waktu hanya kurang lebih 40-60 menit saja. Apalagi sekarang bandara Jambi yaitu Bandara Sultan Thaha sudah menjadi Bandara bertaraf International pada tahun 2013 yang lalu dengan demikian akan lebih memudahkan perjalanan kalian.
Bandara Sulthan Thaha Jambi sebelum renovasi

Wajah baru Sulthan Thaha Airport
Kota Jambi memiliki banyak sekali objek wisata yang patut dikunjungi. Tidak hanya wisata alam, wisata sejarah dan kulinernya juga menarik untuk dicari tahu sejarahnya. Dalam tulisan ini, saya akan menceritakan tempat-tempat yang menjadi objek wisata yang patut kalian kunjungi ketika kalian ke Jambi.

Taman Rimba (wisata Binatang)  
Salah satu kandang burung di taman rimba Jambi
Ketika kalian keluar dari pesawat, jangan heran jika kalian mendengar suara-suara hewan. Terutama ngauumnya harimau sumatera.Eetss.. Kalian tidak lagi didalam hutan kok. Kalian sedang berada didalam kawasan taman rimba yaitu kawasan yang menjadi objek wisata menarik untuk dikunjungi. Mendengar kata rimba, saya rasa kalian tahu bentuk didalamnya! Ya, banyak pohon yang besar, banyak binatang-binatang dan lain-lain.Ets, tapi tunggu dulu! Tamanrimba adalah kawasan objek wisata hewan yang terbesar di kota jambi (tapi pohonnya tidak serimba dihutan). Berbagai macam hewan kalian dapat jumpa di dalam taman rimba mulai dari yang kecil hingga yang besar. Sebelum menjadi satu kawasan, taman rimba dan bandara Sultan Thaha dua tempat terpisah (berjarak sekitar 1 km dari bandara). Pada tahun 1997, sebelum taman rimba menjadi satu dengan bandara Sultan Thaha tempat ini dahulunya digunakan sebagai tempat pelaksanaan MTQ Tingkat Nasional ke 18. Kawasan ex-MTQ ini sekarang dipergunakan untuk pergelaran berbagai event-event penting oleh pemerintah/swasta. Saat tidak ada event, tempat seluas 18 ha ini dijadikan sebagai tempat hiburan, rekreasi dan olahraga.

Dapatkan kalian bayangkan, ketika turun dari pesawat langsung disambut oleh binatang-binatang. Pasti seru thu....
Anjungan Kab. Batanghari di Taman Rimba Jambi
Arena ex-MTQ Taman Rimba
Selain itu dikawasan ini terdapat Kebun Binatang Taman Rimbo yang dihuni kurang lebih 180 binatang berbagai jenis primata, reptil, burung, dan mamalia. Yang menjadi primadona di kebun Binatang ini adalah Harimau Sumatra yang keberadaannya di alam kini mulai mengkhawatirkan. Habitat asli Harimau Sumatra ini berada di Seluruh kawasan Propinsi Jambi, terutama di daerah Taman Nasional seperti di Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Nasional Bukit 30 dan 12.
Harimau Sumatera sang primadona
Penghuni kebun binatang lainnya (monyet, rusa, kasuari, binturong)
Merak sang penakluk Hati
Sayangnya saat malam hari, kawasan Taman Rimba ini cenderung sepi dan gelap sehingga sering dijadikan tempat “nongkrong” anak anak muda jambi.

Kiri : Suasanya jalan menuju Taman Rimba saat malam hari
Kanan : Lampu jalan kota jambi yang berupa “lampu taman” dengan ukiran berbentuk Angso Duo
Selain dihuni oleh binatang-binatang, taman rimba juga disulap menjadi miniatur jambi. Disini, banyak terdapat replika rumah adat atau anjungan sekabupaten di Jambi. Inilah alasan saya, untuk berkunjung ke taman rimba selain melihat binatang saya juga tertarik melihat rumah adat dengan berbagai bentuk yang unik-unik. Disini juga terdapat replika candi tinggi (salah satu candi di kompleks candi Muaro Jambi) , replika patung, serta lapangan terbuka luas yang digunakan sebagai tempat berolahraga (joging) oleh masyarakat sekitar.  Cuma sayangnya tempat ini tampak terlantar, padahal kalau dikelola dengan baik, pasti bisa menarik wisatawan. 

Anjungan kabupaten kerinci di taman rimba
Anjungan ini adalah salah satu favorit saya, dengan bunga bangaki yang tumbuh di depannya menambah keindahan rumah adat dari kabupaten kerinci ini. Tapi sayangnya, saat saya berkunjung kesana tempatnya tampak tidak terawat. Rumput liar yang tinggi hidup dengan subur disekeliling anjungan.
Ukiran warna warni
Tips perjalan untuk kalian. Jika kalian ingin berkunjung ke taman rimba datanglah pada saat hari libur, seperti hari raya idul fitri atau idul adha. Biasanya pada saat hari libur seperti itu, wisatawan taman rimba “membludak”, tempat parkir? Jangan khawatir lapangan luas siap melayani kendaraan anda sekeluarga.

Disambut Patung Tarian Sekapur Sirih
Puas berkeliling taman rimba? Masih belum puas dengan satu tempat wisata dijambi? Mari kita melanjutkan ke tempat wisata lainya. 
Ketika keluar dari kawasan taman rimba dan bandara, kalian akan disambut dengan patung tarian sekapur sirih. Tarian sekapur sirih adalah tari khas dari jambi. Biasanya tarian ini bermaksud untuk menyambut tamu agung atau tamu besar, baik pemerintah pusat, pemerintah Provinsi maupun pemerintah daerah ataupun tamu penting dari jauh. Tarian sekapur sirih biasanya dilakukan 11 orang, 9 orang perempuan dan 2 orang laki-laki. 1 orang perempuan sebagai pemimpin 8 orang perempuan lainnya dibelakang dan 2 orang laki-laki membawa payung yang berdiri paling belakang. Biasanya, disaat terakhir tarian tamu akan dijamu dengan diberi “sirih dan kapur” untuk dimakan. Patung tarian sekapur sirih dibuat oleh pemerintah Jambi sebagai simbol “selamat datang” di kota Jambi.

Patung Tarian Sekapur Sirih
Jari nan sepuluh diberikan, dan kepala sedikit menunduk. Tanda kerendahan hati menerima kedatangan tamu di kota jambi.
Patung Tarian Sekapur Sirih
Patung tarian sekapur sirih tidak hanya kalian jumpa ketika keluar dari bandara saja, ada banyak patung tarian sekapur sirih di sudut jambi. Salah satunya dikawasan masjid agung Alfalah/masjid 1000 tiang. Tepatnya didepan jembatan makalam.

Selamat datang di Kota Jambi
Masjid Agung Al-Falah, tanpa Jendela dengan 1000 tiang penyangga
Objek wisata selanjutnya berada di sebelah barat kota jambi. Masjid Agung Al-Falah atau masjid 1000 tiang bisa menjadi referensi tempat wisata religi bagi kalian ketika mengunjungi Jambi. Masjid 1000 tiang ini adalah masjid teresar di Kota Jambi. Masjid yang menjadi kebanggaan masyarakat Jambi ini berada di Jalan Sultan Thaha di pusat kota Jambi. Disebut masjid 1000 tiang karena memang masjid ini memiliki banyak sekali tiang yang dapat langsung dilihat dari luar masjid. Walaupun jumlah sebenarnya hanya 256 tiang saja. Masjid ini tidak memiliki dinding dan pintu, mirip seperti sebuah pendopo yang terbuka luas dengan 1 kubah besar. Disampingnya terdapat menara yang cukup tinggi.

Masjid Agung Al-Falah/1000 tiang
Kiri: 1000 tiang
Kanan: dibatasi kolam
Walaupun tidak memiliki dinding/pintu, bukan berarti anda bisa masuk begitu saja kedalam masjid ini. Masjid ini dikelilingi kolam buatan dan dipagari sehingga tempat masuknyapun terbatas di depan dan samping kiri-kanan saja. Ohya, konon katanya lokasi masjid ini dulunya adalah bekas pusat kerjaan Malayu Jambi yang kemudian beralih menjadi benteng belanda, markas TNI, baru kemudian menjadi masjid.

Kiri: Menara masjid agung Al-Falah
Kanan: lampu gantung hias tepat dibawah kubah
Al-Falah Malam Hari
Lampu yang bersinar di sudut masjid
Museum Perjuangan Rakyat Jambi (Museum PRJ)
Di Jambi ada 2 Museum, yaitu museum PRJ dan Museum Siginjai. Pertama, saya akan bercerita tentang Museum Perjuangan Rakyat Jambi. Museum ini tepat berada di sebelah utara masjid 1000 tiang hanya berjarak 100 meter. Ketika keluar dari pintu utama masjid, maka kalian akan melihat pesawat yang ter-parkir didepan museum (hehe).

Replika pesawat Catalina RI 005
Museum Perjuangan Rakyat jambi yang tepat berada di depan Benteng belanda (yang kini berubah menjadi menara air). Sesuai namanya, museum ini menyimpan koleksi berharga hasil peninggalan perjuangan rakyat jambi dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Kalau di aceh ada pesawat RI 001, Didepan museum ini terdapat replika pesawat Catalina RI 005 yang dulunya menjadi penghubung Jambi dengan kota kota lainnya seperti Bukit Tinggi, Tanjung Karang, Prapat dan Banda Aceh.

Masuk kedalam, kalian disambut patung Pahlawan besar jambi, yaitu Sultan Thaha Saifuddin yang berdiri diantara 2 Harimau Sumatra. Ditengah museum terdapat Bedug besar yang dulunya digunakan Soeharto saat membuka MTQ nasional XVIII. Dilantai dasar berisi senjata senjata modern-tradisonal yang dulu digunakan selama perang. Di lantai 2 berisi diorama yang bercerita kejadian bersejarah yang di alami jambi dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. sedangkan lantai teratas berisi foto foto dan dokumen dokumen bersejarah.


Bedug besar yang dulunya digunakan Soeharto saat membuka MTQ nasional XVIII.



Museum ini dibuka untuk umum, jika kalian berkunjung ke jambi, jangan lupa mempir ke Museum PRJ ini. Hambar rasanya kalau kalian ke Jambi tidak tahu sejarah Jambi. Museum ini juga dibuka untuk pendidikan. Banyak sekolah-sekolah mengisi hari libur dengan mengunjungi museum ini.

Jembatan Gantung Pendestarian (Gentala Arasy)

Kota jambi yang dibelah oleh aliran sungai Batanghari dari barat ke timur membuat kota jambi terpisah menjadi Kota Jambi dan Kota Seberang Jambi. Untuk menghubungkannya, terdapat 4 Jembatan yang membelah Sungai Batanghari dan puluhan jembatan yang melintasi anak sungai batanghari. Salah satunya adalah Jembatan gantung Pendestarian biasanya masyarakat menyebutnya jembatan Gentala Arasy.

Maket Jembatan Gantung Jambi ( foto dari skyscrapercity)
Jembatan gantung ini berlokasi tepat di pusat kota, tepatnya didepan gubernuran Kota Jambi dan akan menghubungkan Pusat Kota Jambi dengan Kota Jambi Seberang (Sekoja). 



Jembatan Gentala Arasy
Kalau anda sekarang berada di pusat kota Jambi, anda akan melihat menara yang sangat tinggi di seberang Sungai Batanghari. Menara itu adalah Menara Gentala Arasy, sebuah Icon Pariwisata Baru di Kota, sekaligus Propinsi Jambi. Menara setinggi 85 meter ini tepatnya berada di daerah Arab Melayu, Seberang Koja Jambi (Sekoja).

Jembatan gantung ini baru dirampungkan beberapa tahun yang lalu tepatnya pada tahun 2014. Jembatan gantung ini bukan ditujukan untuk lalu lalang kendaraan (mobil), tapi dibuat untuk pejalan kaki yang ingin berwisata ke Kota Jambi Seberang (Sekoja). Memang Jembatan Gantung ini dibuat untuk menarik minat wisatawan ke Jambi sekaligus berwisata ke pusat pariwisata di Kota Jambi Seberang. 

Gentala Arasy Jambi yang sesungguhnya

Sore hari di Gentala Arasy


Menara Gentala Arasy
Kawasan Wisata Tanggo Rajo 

Ketika kalian menyeberangi jembatan gentala Arasy, dari kejauhan kalian akan melihat rumah dinas Gubernur Jambi (Gubernuran). Waktu terbaik mengunjungi kawasan ini adalah saat sore dan malam hari. 


Rumah Dinas Gubernur Jambi
Gubernuran Jambi
Di Tanggo Rajo ini kita bisa menikmati jagung bakar dan es tebu yang banyak dijual disepanjang sungai Batanghari. Saat sore hari jangan lewatkan  pemandangan sunset di sungai batanghari yang luar biasa. Saat malam hari anda bisa bersantai sambil menikmati keindahan kelap kelip lampu dari Kota Jambi Seberang yang memantul di permukaan sungai batanghari. Masyrakat Jambi menyebutkan tempat ini sebagai Ancolnya Jambi.

Kawasan Wisata Tanggo Rajo (Es Tebu, Kelap kelip pantulan lampu sungai di BatangHari, Sunset di Tanggo Rajo)
Jembatan Makalam


Jembatan Makalam
Jembatan ini merupakan jembatan kebanggan masyarakat kota jambi yang pertama, tepatnya disebelah timur tidak jauh dari museum PRJ dan masjid Agung Al-Falah. Jembatan Makalam berada di Pusat Kota Jambi, Jembatan ini menjadi penghubung jalan alternatif dari jalan Makalam ke Simpang Kapuk jika kita melewatinya dari arah Cempaka Putih. Jembatan Makalam diambil dari nama gubernur pertama provinsi jambi yaitu Makalam. Nama ini digunakan karena untuk mengenang jasa-jasa beliau pada saat lahirnya Provinsi Jambi. Tapi ada juga yang bilang Makalam itu kependekan dari Makam Lama.  Jembatan ini memiliki panjang ± 500 meter dan lebar ± 10 meter.

Makalam dimalam hari
Makalam dimalam hari
(sumber foto: 
pesona jambi.com )
Jembatan berwarna merah ini dijadikan tempat tongkrongan anak muda jambi pada sore dan malam hari. Sekarang jembatan Makalam lebih indah dan cantik dengan hiasan lampu warna warni diatasnya. Apabila dilihat pada malam hari, jembatan ini akan lebih cantik dengan ratusan lampu hias.


Balairung Sari 

Jika kalian ke Jambi, maka Balairung Sari ini tidak boleh dilewatkan. Apalagi jika kalian menyukai ukiran, arsitektur atau tempat kebudayaan Melayu Jambi. Tempat ini adalah markas lembaga adat melayu jambi. Setiap ada event yang melibat melayu jambi biasanya akan dilaksanakan ditempat ini. Salah satunya adalah saat penganugrahan gelar adat Melayu Jambi, Sri Paduko Maharajo Notonegoro kepada bapak presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Balairung Sari ini berada di Jalan M. Yusuf Singedekane No. 30, Tidak begitu jauh dari Museum Negeri Jambi (sekarang menjadi Museum Siginjai).

Balairung Sari – Lembaga Adat Melayu Jambi
Ukiran Melayu Jambi
Museum Siginjai
Selain Museum Perjuangan Rakyat Jambi (Museum PRJ), di Jambi ada satu lagi Museum yang menyimpan sejuta sejarah dan peninggalan-peninggalan senjata para pahlawan Jambi. Museum tersebut bernama museum Siginjai. Museum Negeri Siginjai yang terletak di persimpangan jalan Prof. Soedewi Sofwan. Dulunya museum ini bernama Museum Negeri Jambi kemudian diganti Menjadi Siginjai supaya lebih Iconik. Siginjei adalah nama keris kebanggaan masyarakat Jambi yang juga muncul di Lambang Propinsi Jambi. Museum Siginjei berbentuk rumah adat jambi, yaitu Rumah Kajang Lako dengan 2 buah patung menjaga di kiri dan kanan pintu masuk. Didepan museum ada replika patung Adityawarman yang sangat mencolok karena berdiri diatas tengkorak tengkorak manusia.


Patung Adityawarman
Museum Siginjei
Didalam museum, kalian diperkenalkan dengan profil Propinsi jambi dan Profil ke 9 kabupatennya yang cocok sekali dengan slogannya “Sepucuk jambi Sembilan Lurah”. Setelah itu baru kalian dapat melanjutkan melihat ribuan koleksi berharga di Museum ini. Koleksi koleksi ini di urutkan berdasarkan kelompok kelompok, seperti kekayaan alam Floran dan Fauna, Kekayaan Budaya dan Khasanah budaya jambi mulai dari masa malayu kuno sampai menjadi propinsi jambi sekarang.
Dilantai dasar kami melihat aneka satwa yang sudah di awetkan, ada Harimau Sumatra, Macan, Binturong, Beruang Madu, Buaya dan yang paling saya suka adalah Burung Kuau (Phasianus Cholcicus) yang sayapnya mirip merak. Naik tangga sedikit, kami berada di ruangan masa klasik Jambi dengan situs Percandian Muaro Jambi sebagai Primadonanya. Disini dijelaskan Bahwa dulu Jambi memegang peranan cukup penting dalam perdagangan internasional di Abad III-XIII dan sebagai pusat pembelajaran Agama Budha waktu itu.


Burung Kuau
Era klasik jambi
Peta kompleks candi muaro jambi
Khasanah budaya melayu jambi kami temukan dilantai paling atas. Isinya macam macam, mulai dari alat pertanian, alat musik, permainan anak anak, Perhiasan, batik khas jambi, aneka gaya Kuluk, Tenun, pelaminan dan perabotan, sampai baju baju adat dari setiap suku yang ada di Jambi. Suku yang ada di Jambi antara lain ; Suku Melayu Jambi, Suku Batin, Suku Penghulu, Suku Pindah, Suku Kerinci, Suku Melayu Pesisir dan Suku Anak Dalam. Disudut sudut atas ruangan ini terdapat aneka miniatur rumah adat jambi.


Alat pertanian
Membatik ala jambi
Alat pertanian
Temuan bawah air
Dari atas, kalian akan kembali turun kebawah melewati semacam goa buatan dan kembali ke lantai dasar menuju ruangan belakangan untuk melihat ratusan temuan keramik, guci, perhiasan, patung patung dan stupa yang ditemukan baik didaratan maupun di bawah air.


Kantor Gubernur Jambi
Kantor Gubernur Jambi
Kantor Gubernur Jambi
(foto dari udara, sumber: google.com pesona jambi)
Tidak hanya itu, di Jalan Ahmad Yani sendiri merupakan jalan yang sangat tertata rapi, pohon dikiri kanan yang lebat dengan sidewalk yang lebar disertai tempat duduk. Lampu jalalnnya pun berukir indah. Dahulu jalan ini sering dijadikan tempa balap liar, namun kini jalan ini terutama saat malam minggu dan minggu pagi berubah menjadi pusat kuliner masyarakat Jambi.

Jalan Ahmad Yani, Kantor Gubernur, dan Patung Sultan Thaha Saifuddin
Taman Anggrek Sri Soedewi

Tidak jauh dari kantor Gubernur Jambi, terdapat wisata alam yang menarik untuk dikunjungi. Tapi lebih tepatnya wisata bunga. Jika kalian pecinta bunga khususnya bunga Anggrek, tidak salah tempat ini dijadikan referensi.


Taman Anggrek Jambi



Taman Anggrek Sri Soedewi terletak disebelah selatan dari kantor Gubernur. Hanya 70 meter saja. Kalian bisa jalan kaki dari kantor gubernur.
Taman seluas 25.056 m2 ini berada di jalan Ahmad Yani tepat di depan patung Sulthan Thaha Saifuddin. Taman ini berisi kira 53 jenis anggrek lokal (dari jambi) maupun anggrek lain dari seluruh nusantara.  Tempat ini dibuka untuk umum dengan membayar uang masuk 2000 rupiah saja. Buat ada yang hobi berkebun dan bercocok tanam, tentunya tempat ini sangat menarik sekali karena disini anda bisa mengenal dan menikmati keindahan aneka anggrek dalam satu tempat. Selain itu anda dapat belajar cara merawat dan membudidayakan tanaman Anggrek yang baik dan benar.

Ragam Anggrek di Taman Anggrek Sri Soedewi
Selain buat pencinta anggrek, taman ini juga asik dijadikan tempat “pelarian” dari hiruk pikuknya kota Jambi. Suasana yang sepi, hijau dan penuh bunga warna warni membuat anda bisa bersantai dengan tenang. Kehadiran aneka pepohonan yang tumbuh subur dilengkapi kolam, jembatan dan anjungan menjadi kelebihan lain yang dimiliki taman anggrek ini.

Taman Agggrek Sri Soedewi

Sekoja, Wajah Asli Kota Jambi
Seberang Kota Jambi atau Sekoja adalah bagian utara Kota jambi yang dipisahkan oleh sungai Batanghari. Walaupun hanya berjarak beberapa ratus meter dari Pusat Kota, namun Sekoja jauh tertinggal dibandingkan dengan bagian Kota Jambi yang lain. Tidak  ada gedung tinggi,apalagi mall, yang ada hanyalah rumah rumah panggung khas Jambi. Seberang Kota Jambi adalah wajah Kota Jambi sebenarnya, tempat warga asli melayu jambi tinggal beserta adat istiadatnya, serta tempat peninggalan benda bersejarah yang masih bertahan dan terjaga baik dari gerusan zaman.

Jembatan Batanghari I (Auduri)
Jambi tidak habis-habisnya menyajikan tempat-tempat iconik yang menarik. Tidak kalah dengan dengan tempat wisata yang satu ini. Tempat wisata satu ini berada diseberang Kota Jambi. Ada beberapa alternatif jika kalian ingin mengunjungi kota seberang Jambi (Sekoja). Pertama kalian bisa lewat Jembatan gantung Gentala Arasy, kedua kalian bisa lewat Jembatan Auduri I yang terbentang lebar ditengah-tenggah sungai batanghari. Jembatan ini adalah berada di paling barat laut kota jambi. 
Jembatan Batanghari I (Auduri)
Malam yang indah di jembatan Auduri
Jembatan Auduri I memiliki panjang sekitar 1 km. Jembatan ini menghubungkan Kota Jambi dengan Kota Jambi Seberang, sekaligus menghubungkan ke Jalan Lintas Timur dan Lingkar Barat Kota Jambi. Jembatan ini merupakan jembatan yang paling pertama di bangun. Dengan padi hijau yang menghijau dibawahnya.

Alternatif Ketiga, jika ingin ke seberang, kalian bisa naik getek atau perahu air tradisional Jambi yaitu “kajang lako”. Kalian tidak bisa berenang, jangan khawatir setiap getek menyediakan baju pelampung. Perjalanan dengan Perahu dari Pusat Kota menuju Sekoja hanya membutuhkan waktu 10-15 menit saja dengan biaya 2ribu-5ribu saja .
Perahu Kajang Lako dan Ketek
Kalau anda takut menggunaka perahu, atau anda membawa mobil sendiri, anda bisa menggunakan jalur darat namun memakan waktu yang lebih lama yaitu sekitar 20-40 menit. Anda harus berkendara ke Barat dahulu untuk melintasi Jembatan Aurduri ( Batanghari I), baru kemudian memutar balik ke Arah Sekoja. Anda juga bisa lewat Jembatan batanghari II di sebelah timur, namun memakan waktu yang cukup lama.
Kawasan Penyeberangan Sekoja
 Begitu sampai di Sekoja, anda tidak akan merasa di dalam kota, namun terasa berada di tengah perkampungan tradisional. Sekoja memang seperti kampung di tengah Kota. Jika anda ingin melihat masyarakat melayu jambi disinilah tempatnya, disini mereka masih menjaga tradisi secara turun temurun. Mulai dari rumah yang mereka tempati yang sebagian besar masih berupa rumah panggung khas Jambi. Arsitektur rumah tradisional di Sekoja adalah perpaduan antara budaya Melayu, Tionghoa, dan Arab, karena ketiga budaya inilah yang memang sejak awal membentuk kawasan Sekoja menjadi seperti adanya sekarang.


Salah satu Rumah Panggung di Sekoja

Rumah Batu Olak Kemang

Salah satu rumah tua yang sekarang menjadi benda cagar budaya adalah Rumah Batu Rumah yang berada di Jl KH Ibrahim RT 02 Kelurahan Olakkemang, Kecamatan Danau teluk. Rumah ini merupakan peninggalan Sayid Idrus , salah seorang penyiar agama Islam pertama yang masuk Jambi. Sayyid Idrus adalah sultan atau raja yang berkuasa di daerah itu pada dekade akhir abad ke-19 dengan gelar Pangeran Wiro Kusumo. Banyak orang bilang, rumah itu dulunya istana. Dari bangunan ini sangat nampak sekali perpaduan dari Melayu, Cina dan Arab.


Rumah Batu Olak Kemang
Namun sayangnya kondisi Rumah Batu ini sudah sangat memprihatinkan. Dinding-dindingnya sudah ditumbuhi lumut, tumbuh-tumbuan pakis, dan rerumputan. Papan pintu pun sudah terlihat lapuk dan berlubang. Sementara, daun-daun kering berserakan di halaman. Rumah yang sebenarnya megah dan cantik ini malah terkesan angker dan menyeramkan. Sebagian besar yang datang kemari hanya untuk ber foto Prewedding saja.

Rumah Batu Olak Kemang



Keadaan dalam rumah batu olak kemang
Sisa peninggalan di rumah batu olak kemang (kuali besi besar)
Eksisnya jangan Lupa..
Rumah Batu Olak kemang. Riwayatmu kini!
Suasana Islam sangat kental sekali di Sekoja, terbukti dengan banyaknya Masjid, Madrasah dan Pondok Pesantren. Disini terdapat Masjid tertua di Kota Jambi yaitu Masjid Ikhsaniyyah atau yang lebih dikenal dengan nama Masjid Batu. Selain itu banyak Madrasah -Pesantren Tua yang sudah berumur Puluhan tahun. Salah satunya adalah Madrasah Nurul Iman yang sudah berdiri sejak Tahun 1915 . Lulusan madrasah ini banyak menjadi pejabat penting seperti mantan Gubernur Jambi Abdurrahman Sayoeti, Gubernur Riau Rusli Zainal, dan tokoh penting lainnya.

Kiri : Madrasah Nurul Iman, Kanan Atas : Makam Pangeran Wirokusumo, Kanan Bawah Masjid Ikhsaniyyah (foto dr berbagai sumber)
Selain kental dengan nuansa Islami, masyarakat Sekoja juga kental dengan berbagai tradisi dan budaya. Salah satunya adalah Batik Khas Jambi.  Sekoja adalah pusat produksi Batik Jambi. Disini anda dapat melihat proses pembuatan batik bahkan dapat terlibat langsung dalam proses pembuatannya. Batik tulis jambi memiliki ciri khas yang unik dan eksotis. Baik dari segi warna maupun motifnya. Sebagian besar pewarna batik jambi diambil dari bahan-bahan alami, yaitu campuran dari aneka ragam kayu dan tumbuh-tumbuhan yang ada di jambi, seperti getah kayu lambato dan buah kayu bulian, daun pandan, kayu tinggi dan kayu sepang.
Batik Jambi
Motif yang ada diantaranya motif Durian Pecah, kaca piring, puncung rebung, angso duo bersayap mahkota, Tampuk Manggis, Kapal Nyanggat, dll. Di Sekoja banyak sanggar batik, salah satu diantaranya adalah Di Kreasi Batik Asmah, Milik Azmiah di Jl H Somad No 41, Olak Kemang, Danau Teluk Jambi. Ohya.. Tepat di depan tempat penyeberangan Sekoja, terdapat Bangunan khas jambi yang merupakan Balai Kerajinan Rakyat Selaras Pinang Masak. Disini anda dapat melihat berbagai kerajinan khas Jambi terutama Batik.

Balai Kerajinan
Suasana Perkampungan



Jembatan Batanghari II

Jembatan yang berada di sudut timur laut Kota Jambi ini, memiliki panjang sekitar 1,4 kilometer. Panjang memang karena jembatan ini  melintasi Sungai Batanghari dan juga Pulau Sijenjang. Jembatan ini dirancang sebagai  akses jalur transportasi terdekat menuju Muara Sabak-Pelabuhan Samudera yang berada di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Jembatan ini relatif baru ( selesain tahun 2010) dan menjadi icon baru jambi. Setiap sore hari banyak warga jambi yang berdiri di pinggir jembatan menyantap hangatnya jagung bakar sambil menikmati panorama sunset dari atas Jembatan.

Jembatan Batanghari II (dalam kabut pagi)
Jembatan Batanghari II dari Kejauhan

Jembatan Batanghari III

Jembatan batanghari III terletak di belahan timur kota jambi tepatnya di kabupaten tanjung jabung timur. Seperti jembatan-jembatan lainnya, jembatan batanghari III berfungsi sebagai akses masyarakat.




Jembatan Batanghari III

Hutan Pinus di Kota Jambi

Sebagai Kota yang berada di daratan rendah, tentunya agak sulit menemukan hutan pinus di Kota Jambi, karena biasanya pohon pinus tumbuh di dataran tinggi maupun pegunungan. Namun ternyata di Kota Jambi memang ada Hutan Pinus, tepatnya di Jl Jambi-Palembang Km 11 Kenali Asam Bawah, tepat berada di gerbang perbatasan Kota Jambi – Kab Muaro Jambi. Taman ini awalnya adalah tempat pembudidayaan tanaman Pinus, yang mulai dibangun pada tahun 1964 dan kemudian berkembang menjadi Taman.

Hutan Pinus Kota Jambi

Disini anda dapat melihat pohon pinus yang menjulang tinggi dengan susunan yang rapi. Selain pinus, anda dapat melihat pohon lain yang jarang ditemui ditempat lain seperti pohon Bulian, pohon Gaharu dan pohon Tembesu. Ditempat ini juga disediakan sejumlah pendopo untuk beristirahat dan bermain. Untuk memudahkan pengunjung, disediakan juga jalan setapak agar lebih leluasa mengeksplor Hutan ini.


Hutan Pinus Kota Jambi
Tugu Pers


Tugu ini selesai pada tahun 2012, berada di jantung Kota Jambi yaitu di Kawasan Simpang Pulai, Sebuah kawasan yang kaya kuliner terutama di malam hari. Tugu ini dibuat dalam rangka Hari Pers Nasional beberapa tahun lalu. Dibelakang tugu ini terdapat tempat dari kaca yang digunakan untuk menempelkan koran setiap hari.


Tuga Pers Jambi

Danau Solok Sipin
Penyeberangan di pasar Angso Duo
Dermaga penyebrangan
Tipikal rumah adat jambi
Tugu Monas 
Jangan heran kalau dijambi ternyata ada monas juga, tidak hanya di jakarta saja. Tugu “monas” ini berada di bundaran kota baru tepat di depan kantor walikota Jambi. Masyarakat sekitar menyamakan dengan Monas karena bentuk tugunya serta puncak “obor”nya yang mirip seperti Monas di Jakarta. Ditengah tengah tugu terdapat jam di ke empat sisinya, sayangnya sudah tidak berfungsi lagi. Dibawahnya lagi terdapat ukiran Angsa sebanyak 4 ekor. Ya, di jambi memang identik dengan angsa. Hampir disemua tempat anda akan menemukan ukiran/patung angsa. Hal ini tidak lepas dari sejarah berdirinya kota jambi yang punya kaitan dengan Angsa.
Monas Jambi
Tapi tugu monas ini sudah berubah menjadi tugu keris siginjai. Pada saat penulisan ini, tugu Keris Siginjai belum rampung. Tahun 2018 rencana akan terampungkan.



Maket Tugu Keris Siginjai
Hiasan Lampu Berbentuk Angso Duo
Patung Angso Duo
Sudah itu saja? Belum...... Itu mungkin sebagian dari Pesona Kota Jambi. Sebenarnya masih banyak lagi tempat yang menarik  untuk dikunjungi. Bukan hanya rumah-rumah tradisional atau tempat-tempat sejarah. Jambi juga memiliki wisata alam yang siap menguji adrenalin kalian.

Jambi bukanlah tentang laut biru dengan pasir selembut sutra, bukan pula tentang hotel bintang lima dengan pusat perbelanjaan mewah dan hingar bingar klub malam. Jambi adalah tentang budaya, alam dan petualangan!



Selamat menikmati Surga Kecil di Jambi

Inovasi Media Pembelajaran Berbasis Android

PEMBELAJARAN IPA TERINTEGRASI ETNOSAINS Kurikulum merdeka belajar memiliki empat karakteristik utama untuk mendukung pemulihan pembelajaran ...