Sabtu, 25 September 2021

BERKAH BELAJAR DI RUMAH

 

Jujur saja, aku sangat kesulitan belajar daring. Selain karena pelajaran kurang mengena, aku punya masalah lebih pelik. Kekurangan fasilitas internet. Gawai di rumahku hanya ada enam. Dipakai untuk delapan orang. Sebenarnya anggota keluargaku ada sembilan, tetapi adik bungsuku belum bersekolah. Mungkin sah-sah saja bagi kalian enam gawai  untuk delapan orang. Tetapi kalian harus tahu tentang hal ini sebelum kalian menyimpulkannya.

Jadi enam gawai tersebut terdiri dari empat handphone, itu pun sudah lama, kecuali handphone Ibu yang dibeli untuk keperluan bekerja (awalnya Ibu tidak memiliki handphone), dan dua laptop. Satu laptop Bapak, dan yang satunya adalah laptopku. Kubeli memakai uangku sendiri, hasil mengikuti beberapa lomba.

Yang sering dipakai untuk keperluan belajar adalah tiga gawai. Yaitu laptopku, handphone Ibu, juga handphone Bapak. Karena laptop Bapak dipakai untuk bekerja dan juga dua handphone lainnya adalah milik dua abangku, jarang mereka mengizinkan untuk memakai handphonenya. Yang memakai tiga gawai itu untuk keperluan belajar ada tiga orang. Aku dan dua adik laki-lakiku. Tetapi masalahnya, yang memakai untuk keperluan bekerja adalah orang tuaku. Jarang kami bisa memakainya untuk belajar. Yang tersisa hanya laptopku. Tetapi menjadi percuma, karena tidak memiliki jaringan.

***

 Aku memiliki banyak hambatan dalam belajar daring, karena ketiadaan gawai. Hanya saat ujian saja aku bisa memakainya. Di luar ujian, memakai gawai yang memiliki jaringan internet itu merupakan sesuatu yang sulit.

Karena aku tidak belajar, aku memutuskan untuk beralih ke kesibukan yang lain. Semenjak ibu bekerja, aku yang mengerjakan tugas rumah. Menyapu, mengepel, dan memasak. Menyapu dan mengepel paling menyebalkan. Aku memulainya dengan membereskan ruang keluarga. Mengusir orang yang masih santai sembari menonton Televisi. Menyuruhnya jangan bersantai-santai. Lakukan sesuatu, jemur baju, cuci piring, atau apalah. Lalu mulai menyapu, dilanjutkan dengan mengepel dan membereskan kamar.

Setelah kamarku bersih, aku pergi ke dapur. Yang pertama kulakukan adalah memindahkan piring, peralatan masak, yang sudah kotor ke bak cuci piring. Lalu menyusun peralatan yang sudah dicuci di rak kaca. Mengelap meja makan. Dan yang sungguh menyebalkan adalah mengelap kompor.

Sebenarnya tidak sulit membereskannya. Yang sulit adalah aku dengan perasaan lapang dada ketika mengelapnya. Aku keberatan sekali aku harus mengelap kompor. Karena, bukan aku yang menyebabkan kompor kotor. Aku selalu menggunakannya dengan hati-hati agar tidak ada noda yang jatuh ke kompor setelah aku bersihkan. Kalaupun ada noda yang mengenai kompor, aku langsung mengelapnya sampai bersih semula. Tetapi jika orang lain yang memakainya, kompor bertumpah banyak noda. Banyak sekali noda yang aku temukan disana. Bekas nasi goreng, noda bumbu, garam, minyak, tepung, dan noda-noda yang lainnya. Tetapi aku tetap mengelap kompor meskipun aku kurang senang melakukannya. Karena itu akan berdampak pada pekerjaanku. Aku tidak suka ketika aku memasak dengan dapur yang keadaannya berantakan.

Setelah ketiga ruangan itu bersih, aku melanjutkannya dengan memasak tentunya. Karena dapurnya telah aku bersihkan, memasak jadi lebih menyenangkan. Berhubung dengan memasak, tentu kita memerlukan bahan-bahan. Dan bahan-bahan itu didapatkan dengan membelinya. Jadi tugasku berbelanja. Untungnya, kami memiliki tukang sayur langganan. Yang setiap hari  mendatangi setiap rumah. Jadi aku tidak perlu repot-repot ke pasar untuk membeli bahan-bahan masakan. Karena kendaraan dirumahku jarang ada.

***

 Awalnya aku tidak bisa memasak lauk pauk. Jadi aku selalu membeli sesuai pesanan ibu ketika belanja, dan menanyakan cara mengolah bahan-bahan yang ibu pesan tadi. Awalnya yang paling sering aku masak adalah kangkung. Aku mengolahnya menjadi cah kangkung. Itu selalu enak. Bosan memasak kangkung, aku mulai bertanya pada ibu bagaimana cara membuat buncis tahu kecap. Ibu memberi tahu resepnya, lantas aku membeli bahan-bahannya dan mulai mencoba resep dari ibu. Ternyata berhasil. Mudah sekali. Aku mencoba membuat sop ayam. Aku meminta resepnya kepada ibu. Aku coba untuk membuatnya. Sukses. Aku mulai lihai dalam hal memasak.

Aku pun mulai tertarik untuk membuat berbagai macam kue dan roti. Untuk roti dan kue, resepnya tidak kudapatkan dari ibu. Karena ibuku kurang ahli dalam membuat roti dan kue bolu. Jadi aku berselancar di dunia maya. Mencari resep dari beberapa kanal Youtube. Aku membuatnya untuk keluargaku. Terkadang aku ingin memberi tetangga kue buatanku. Tetapi, aku malu karena boluku belum sebagus buatan tetanggaku.

 Seiring berjalannya waktu, karena aku selalu belajar untuk memperbaiki kesalahanku, boluku semakin hari semakin enak. Saat ibu membawanya ke tempat kerja, temannya tidak menyangka brownies yang ibu bawa adalah buatanku. Karena rasanya seperti yang dijual di gerai yang sudah terkenal di Indonesia. Seperti brownies Amanda.

Aku menjadi percaya diri untuk berjualan bolu dan roti. Awalnya aku mencoba untuk berjualan roti sobek. Ibu membelikan bahan-bahan yang aku perlukan. Aku menghitung modal dan menetapkan harga yang sesuai. Pelanggan pertamaku adalah teman ibu. Beliau membelinya agar aku semakin semangat berjualan. Beliau memesannya melalui via whatsapp.

Awalnya, aku yakin sekali roti sobekku akan matang dengan hasil yang memuaskan. Tetapi, ketika mengeluarkannya dari oven, ternyata rotiku mengkerut di bagian atasnya. Bagian bawahnya pun keras. Sepertinya karena terlalu lama di oven. Akhirnya roti sobek itu tidak jadi dijual. Roti sobek itu langsung diserbu dengan saudaraku. Mau hasilnya seperti apa juga, mereka tetap memakannya.

Apakah ada yang salah dengan adonannya? Atau mungkin teknik memanggangku yang salah. Aku tidak putus asa, aku mencobanya lagi. Dengan resep yang berbeda, yang lebih meyakinkan. Tetapi hasilnya sama saja.

Atau mungkin karena ovenku. Ovenku memakai oven tangkring. Agak sulit memang. Apalagi ovenku tidak ada api atas, jadi mungkin matangnya tidak merata. Itu yang menyebabkan bagian bawah roti, matang lebih cepat sehingga mengeras. Bagian atas rotinya malah mengkerut. Aku memilih untuk tidak melanjutinya. Masalahnya ada di ovennya. Itu berarti harus membeli oven yang memiliki api atas dan api bawah, agar roti matang sempurna. Tetapi aku belum memiliki uang untuk membeli oven. Aku harus mencari jenis makanan yang paling mudah aku buat dan paling digemari pembeli.

***

“Adinda, kamu sudah menemukan makanan untuk dijual? Ada sekolah berasrama yang belum memiliki jajanan. Mereka ingin menjual makanan yang sehat dan enak.”

Ibuku menawarkan lagi untuk berjualan. Nantinya daganganku dititipkan di toko sekolah tempat ibu mengajar. Aku mulai mencari-cari dagangan apa yang harus aku buat. Ketika mengutak-atik internet, aku menemukan sebuah resep yang cocok untuk berjualan.

Awalnya aku ingin berjualan bolu, tapi setelah kupikir-pikir bolu terlalu biasa. Orang mungkin bosan dengan bolu. Karena pangsaku adalah anak-anak asrama, mungkin mereka membutuhkan sesuatu yang segar. Kutemukanlah resep puding sedot.

Aku mencobanya terlebih dahulu. Pertama aku membuat puding sedot, ketika puding sedotnya kumasukkan ke dalam kulkas dan setelah dingin, puding sedotnya pecah dan menyebabkan warnanya terpisah, sehingga membuat pudingnya berair.  Selain penampilannya menjadi kurang layak dan kurang menarik, puding menjadi cepat basi.

Aku mulai ragu, bisakah aku meneruskan usaha ini, atau aku menyerah saja…?

“Ibu, sepertinya aku tidak mau membuat apapun lagi, aku tidak mau jualan, aku selalu gagal, aku kesal….”

 Ibu memberitahuku, mungkin karena aku tidak mengaduknya secara terus menerus. Memang, aku meninggalkan panci yang berisi puding yang sedang dimasak sampai mendidih. Aku tidak mengaduknya. Karena aku merasa pegal jika mengaduknya terus menerus. Tetapi mau bagaimana lagi, hanya itu kuncinya untuk membuat puding sedot menjadi tidak berair lagi.

Baiklah. Aku mencobanya sekali lagi. Kali ini tanganku tangguh mengaduk panci yang berisi puding. Aku mengaduknya dengan whisk secara perlahan. Agar pudingku tidak bertumpahan. Lima menit cukup untuk memasak puding menjadi matang. Aku memasukkannya ke dalam kulkas, setelah aku menuangkan puding yang telah dimasak ke dalam kemasan. Aku menunggu pudingku dingin. Kali ini bisakah pudingku menghasilkan penampilan yang bagus? Harap-harap cemas aku menunggunya.

Aku membuka kulkas, memastikan pudingku sudah dingin. Setelah aku cek, pudingku sudah dingin. Aku tersenyum senang. Kali ini, pudingku tidak pecah, hasilnya memuaskan. Aku semakin percaya diri untuk berjualan.

Setelah kurasa aku sudah menemukan kunci untuk membuat puding sedot yang enak, Aku meminta ibu untuk membeli bahan-bahan yang aku perlukan. Semuanya kulakukan sendiri. Bermodalkan spidol permanen, aku menggambar kemasannya agar menarik. Karena aku tidak terlalu pandai menggambar, aku suka menjiplak gambar yang ada di sampul buku tulis. Atau yang mudah, aku menggambar wajah dengan ekspresi yang berbeda-beda.

Tak disangka, ternyata puding sedotku laku. Bahkan dalam sehari, 50 bungkus habis. Uang hasil jualan itu aku tabung. Karena aku tergoda sekali untuk membeli logam mulia. Karena ibu kerap mengatakan kepadaku kalau harga emas itu selalu naik setiap tahunnya.

Aku ingin mulai membelinya dari ukuran yang kecil. Seberat 1 gram. Tak mudah perjuanganku untuk mewujudkan anganku. Aku setiap hari harus memproduksi 50 puding sedot. Dengan jumlah itu aku mengumpulkan uang lebih banyak. Setiap kemasan kuhargai sebesar Rp 3000, 00 . Jadi omsetku Rp 150.000, 00 setiap harinya. 

Waktu yang kuperlukan untuk memproduksi 50 puding sedot rata-rata adalah sekitar 3 jam. Namun begitu, aku tetap melaksanakan tugas rumahku, yaitu menyapu, mengepel, memasak. Karena itu jika malam tiba, adalah waktu yang paling nikmat untuk merebahkan diri. Tubuhku pegal sekali seharian bekerja tiada henti.

***

 “Ibu, ayo kita beli emas!”

“Uangmu sudah cukup?” tanya ibu.

Aku mengangguk mantap. Lalu menunjukkan uangku.

 “Tentu sudah,” jawabku.

Akhirnya, kerja kerasku terbayarkan. Ibu menghubungi temannya yang menjadi agen penjualan emas batangan. Kami mendatangi rumahnya dan akhirnya, aku menggenggam emas 1 gram itu. Hasil kerja kerasku.  

Selain berjualan, aku pun kini berburu berbagai lomba. Rencananya, jika aku memenangkan lomba tersebut, uangnya akan kubelikan sesuatu yang bermanfaat.

Disamping membeli sesuatu yang bermanfaat, dan bernilai ekonomis juga dapat menghasilkan sesuatu, aku suka membelanjakannya untuk menambah koleksi bukuku. Tetapi aku membelinya bukan hanya untuk sekedar suka. Aku membelinya sebagai bahan amunisi untuk menambah perbendaharan kosakata dan wawasanku dalam berkarya. Aku tidak suka membeli sesuatu yang hanya untuk kesenangan sementara. Misalnya, gawai, yang aku anggap belum aku perlukan untuk saat ini. Karena, aku bisa meminjamnya dari orang tuaku. Gawai menurutku hanyalah suatu pemborosan uang dan waktu. Kita jadi harus membeli kuota, dan menghabiskan waktu bermain gawai.

Namun, masa pandemi ini merubah segalanya. Kegiatan belajar-mengajar tidak bisa lagi dilakukan dengan tatap muka, atau datang langsung ke sekolah. Pembelanjaran kini dilakukan dengan cara jarak jauh. Itu berarti diperlukan gawai sebagai medianya. Karena itu aku merasa perlu untuk membeli gawai, agar aku dan adik-adikku bisa mengikuti pelajaran yang diberikan guru-guru kami melalui gawai. Gawai yang tadinya merupakan kebutuhan tersier, atau kebutuhan yang bisa diabaikan, sekarang menjadi kebutuhan utama atau premier, bagiku sebagai seorang pelajar.

Untuk meminta kepada orang tuaku, aku enggan. Karena bagiku, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Karena itu aku berburu berbagai lomba cerpen yang berhadiah uang, seperti lomba cerpen ini. Harapanku, jika aku memenangkan lomba ini, aku akan membelikan gawai untuk keperluan belajar, aku dan adik-adikku.

Dari semua kejadian itu aku belajar untuk terus produktif semasa di rumah. Masa di rumah bukanlah masa untuk berleha-leha. Tetapi masa untuk belajar, belajar untuk menjadi lebih baik. Masa untuk memikirkan bagaimana keadaan kita setelah pandemi berlalu. Apakah kita ingin tetap sama seperti saat ini. Atau kita akan berubah lebih maju.

Belajar tidak hanya di sekolah. Di rumah kita belajar untuk membantu orang tua. Mungkin dulu kita tidak pernah bisa memasak. Tapi karena di rumah kita lapar, dan terpaksa untuk memasak kita jadi bisa memasak. Kita belajar untuk mengurus rumah. Tetapi tentu saja pendidikan sekolah juga penting. Seimbang ilmu  yang kita miliki. Di sekolah kita belajar berhitung, pengetahuan. Di rumah kita membutuhkan ilmu yang tidak akan didapatkan hanya dari buku pelajaran. Seperti pengalaman. Ilmu bersabar. Ilmu untuk menghargai. Saling mencintai dan menghargai dengan sesama keluarga. Bukan hanya semata-mata tahu dan hapal tentang toleransi di mata pelajaran PKN, tapi kita dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari di rumah. Lingkungan dan rumah adalah tempat untuk kita mengaplikasikan ilmu yang kita pelajari di sekolah.

Kawan, jangan pandang pandemi dengan benci. Jadikan ia sebagai motivasi untuk terus berinovasi. Jangan hanya duduk tergugu. Tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tapi bangkitlah, dan tunjukkan bahwa kita masih tetap berkarya walau dari rumah. 

Tetaplah mematuhi protokol kesehatan. Demi keselamatan dan keamanan. Jangan lupa untuk olahraga, makan makanan yang bergizi, menjaga pola tidur dengan cara tidak tidur larut malam. Dan yang lebih penting adalah, meningkatkan iman, agar meningkat imun kita. Semoga pandemi cepat berlalu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Inovasi Media Pembelajaran Berbasis Android

PEMBELAJARAN IPA TERINTEGRASI ETNOSAINS Kurikulum merdeka belajar memiliki empat karakteristik utama untuk mendukung pemulihan pembelajaran ...