Sabtu, 25 September 2021

PENANTI SANDYAKALA

 

            Deburan ombak yang begitu tenteram, secara perlahan menelisik gendang telingaku. Sembari menyaksikan hangatnya semburat tipis langit jingga, yang tampak terbentang dengan tenang di atas sana. Teriknya sinar matahari yang juga seakan ikut terasa teduh akibat terpantul buaian air pantai. Tanpa sadar, semua itu benar-benar melenakan pandangan.

            Siang menjelang petang yang indah, sangat disayangkan untuk sekedar dilewatkan. Sejujurnya, aku di sini tidak sendiri. Tentu saja ada cukup banyak pengunjung yang hilir mudik kesana kemari. Tidak mungkin pula jika aku terduduk seorang diri, menikmati kesunyian di sore hari. Di tepian pantai, membersamai irama air yang terus menerus berayun.

            Tidak, maksud ku tadi hanya bercanda. Pada kenyataannya, aku memang tidak sendiri untuk pergi bersantai kesini.

            Lihatlah, sekiranya berjarak lima meter di depan ku. Dengan tubuh rampingnya yang tengah menghadap ke satu arah yang sama, secara tidak langsung terlihat sedang membelakangi ku. Entah apa yang saat ini ia lakukan, satu hal pasti bahwa ia sedang menundukkan kepalanya.

            Suasana yang amat sangat menenangkan untukku, namun bisa saja tidak untuknya. Meskipun begitu, aku berusaha percaya padanya. Sebab ia yang lebih dulu mengajakku kesini. Setelah sekian lama tak lagi menginginkan sepasang kakinya untuk menapak kembali ke tempat seperti ini. Lalu, entah angin apa yang akhirnya memutar balikkan keinginannya itu.

*****

            Kejadian dua tahun yang lalu, ku rasa masih sangat melekat pada ingatannya. Meski ia telah berusaha, untuk melupakan dan berdamai dengan masa lalunya. Namun kenyataannya, semua kejadian menyenangkan hingga menyakitkan dalam hidup. Tidak semua dapat dengan mudah kita kendalikan begitu saja. Butuh proses, dengan waktu yang tidak dapat kita ketahui.

            Perlahan aku menghampirinya, dan menepuk pelan pundaknya dari belakang. Ia pun sedikit menggeser tubuhnya, seraya menatap sekilas wajahku. Ya hanya sekilas, hanya sesaat. Tidak sempat ku lihat dan ku tatap dengan jelas, bagaimana raut wajahnya.

            Hitungan persekian detik, setelah aku mencari kenyamanan untuk duduk.

            Terdengar helaan napas yang keluar dari mulutnya. Selanjutnya, aku hanya melihat jari jemari yang sedang mencoret-coret asal hamparan pasir di depannya. Dan kali ini juga, aku masih belum mengerti apa yang tengah ia rasakan, begitu pula apa yang harus ku lakukan..

            “Kak” panggilnya secara tiba-tiba. Tanpa mengalihkan atensi nya, pada pasir-pasir yang saat ini tengah ia genggam.

            Aku hanya menoleh, mencoba fokus pada setiap kata yang tampaknya ingin ia utarakan. Semakin aku menunggu, semakin cepat pula rasanya waktu berjalan.

            “Ya, ada apa?” tiga kata dariku yang akhirnya terucapkan.

            Itu pun hanya dibalasnya dengan gelengan kepala dan helaan napasnya.

            “Bukannya bakal lebih tenang kalo di keluarin?” kataku.

            “Lagi pula, kalem gini bukan kamu banget” sambung ku lagi.

            Nah! baru juga ku katakan. Cengiran itu perlahan terbit, walau lambat laun kembali menciut. Tidak mengapa, mungkin saja ia masih butuh jeda, untuk benar-benar mengatakannya.

            “Kalau suka ya biasa aja. Dan kalaupun ga suka, yaudah jangan sampai terlampau ga suka” katanya. Seakan meniru gayaku saat sedang menasehatinya.

            Aku berdehem, membenarkan sekaligus mengindahkan perkataanya. Bersamaan dengan semilir angin, yang tengah menerpa rambutnya dan rambutku. Mengisi kekosongan dialog di antara kami.

            “Rasanya, baru sekarang aku mengerti. Antara ditarik dan diulur keberanian yang ku punya. Dulu ku kira, pantai dan seluruh teman temannya sama sekali ga bisa ditolak pesonanya.” Ia menarik, dan menghembuskan napasnya kembali.

            “Tapi setelah kejadian itu, pandangan ku tentangnya seketika sirna. Masih ga nyangka si, kalau air yang keliatannya tenang, emang bener ya tanpa sadar bisa menghanyutkan. Seketika tampak seram dan kelam” ucapnya. Seraya menampilkan ekspresi bergidik ngeri.

            Sedari tadi aku hanya mendengarkannya. Tanpa menyela bahkan menyanggah perkataannya. Ia yang juga sepertinya masih ingin menyuarakan perasaannya, sengaja ku biarkan bersuara.

            “Dan ternyata, apa yang pernah kakak bilang emang bener ya. Segala sesuatu yang ada di dunia ini, sangat memerlukan keseimbangan kita. Kalau di pikir-pikir, udah seharusnya kali ya. Pas kita ngeliat sesuatu hal, harusnya ga cuman dari satu arah dan satu sisi doang. Ga seharusnya deh, kita menilai semua itu cuman dari satu sisi aja, terus cepet-cepet nyimpulinnya sendirian.”

            Aku pun tersenyum, mendengar penuturan panjang yang keluar langsung dari mulutnya.

            “Hm, ada perumpamaan yang lebih sederhana nih” ucapku. Sembari menggapai ranting kecil yang tergeletak di dekat ku.

             Ia memutarkan seluruh tubuhnya, hingga sepenuhnya menghadap ke arah ku. Lalu perlahan, mulai ku kikis hamparan pasir yang berada di antara kami. Menghasilkan dua goresan lengkung berbentuk angka enam. Berulang kali sengaja ku tebalkan garis pinggirnya, supaya terlihat jelas dengannya yang sedang duduk di seberang ku.

            “Ayo coba lihat! Kalau dari sana, keliatannya angka berapa?” tanyaku menggebu.

            “Sembilan-kan?” jawabnya, merasa pasti di awal. Namun tak lama kemudian tampak ia ragukan.

            “Sembilah dari sini dan juga enam dari sana..”

            Dengan cepat aku mengangguk. Entah ia sudah mengerti, akan mengarah kemana perbincangan ku kali ini. Atau masih belum sadar, jika hal ini bisa saja menjadi inti penutupnya.

            “Yaa bener banget, baru juga goresan kecil kaya gini. Tapi kalau kita ngeliatnya cuman dari satu sisi aja, hasilnya bakal jauh beda kan ya. Gimana kalau segala sesuatu di kehidupan ini, mencakup dunia beserta isinya. Eh ga, benda tiga dimensi aja dulu. Pas kita ngeliatnya cuman dari salah satu sisinya. Sedangkan orang lain juga punya sudut pandang yang lain. Apa kamu yakin untuk tetap dan terus mampu bertahan sama satu sudut pandang itu tadi?”

            “Ga perlu di perjelas lebih dalem. Karena setiap kita, punya caranya sendiri untuk nangkep berbagai makna juga pelajaran di setiap kejadian. Tapi satu hal yang penting banget buat kamu inget, sekalipun luasnya air itu—” jari telunjukku yang mengarah tepat ke depan sana.

            “Yang emang ga bisa dipungkiri, karena udah buat kamu takut setengah mati. Tapi dari itu, seharusnya kamu ga boleh lupa. Kalau setelahnya, sadar ga sadar kamu jadi punya nyali, begitu juga tingkat waspada yang lebih tinggi dari sebelumnya.”

            “Suasana yang terasa jadi semakin seimbang, itu juga bagian dari pembahasan kan?” balasnya dengan pertanyaan.

            “Rasanya waspada dan kehati-hatian terus mengitar di benakku. Meski rasa terpana itu masih akan selalu menduduki posisi pertamanya. Mwehhe..”

            Aku terkekeh, lelucon asal darinya, bisa saja membuat mataku sipit bahkan hampir mengeluarkan airnya. Isi dalam perut melilit tak jelas, dan tawa yang terdengar tersentak-sentak. Sebab apa lagi jika bukan karena muka konyolya itu. Mungkin kalau ingn jujur saja, ia terlalu menggemaskan et—tidak apa tadi katanya? Oh tentu saja teman semua khilaf mendengarkannya.

            “Oh manusia, lihat lah awan itu” teriaknya tiba-tiba sambil menepuk brutal badanku.

            Yap, itu dia. Gadis yang baru saja ku sadari, bahwa nyatanya ia sudah tak lagi menjadi bocah. Sedang maju dan memundurkan tubuhnya, seakan menjadi fotografer yang handal. Sibuk berlarian kesana kemari, guna memperlihatkan hasil jepretannya kepada ku.

            Segera ku pandangi dengan seksama, bergantian menatap paparan langit bersemburat merah. Yang benar-benar tampak indah. Ancang-ancang matahari terbenam pun, juga ku rasa tidak akan kalah indahya dari penampakan langit saat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Inovasi Media Pembelajaran Berbasis Android

PEMBELAJARAN IPA TERINTEGRASI ETNOSAINS Kurikulum merdeka belajar memiliki empat karakteristik utama untuk mendukung pemulihan pembelajaran ...