Deburan
ombak yang begitu tenteram, secara perlahan menelisik gendang telingaku.
Sembari menyaksikan hangatnya semburat tipis langit jingga, yang tampak terbentang dengan tenang di atas sana. Teriknya sinar
matahari yang juga seakan ikut terasa teduh akibat terpantul buaian air pantai.
Tanpa sadar, semua itu benar-benar melenakan pandangan.
Siang
menjelang petang yang indah, sangat disayangkan untuk sekedar dilewatkan.
Sejujurnya, aku di sini tidak sendiri. Tentu saja ada cukup banyak pengunjung
yang hilir mudik kesana kemari. Tidak mungkin pula jika aku terduduk seorang
diri, menikmati kesunyian di sore hari. Di tepian pantai, membersamai irama air
yang terus menerus berayun.
Tidak,
maksud ku tadi hanya bercanda. Pada kenyataannya, aku memang tidak sendiri
untuk pergi bersantai kesini.
Lihatlah,
sekiranya berjarak lima meter di depan ku. Dengan tubuh rampingnya yang tengah
menghadap ke satu arah yang sama, secara tidak langsung terlihat sedang
membelakangi ku. Entah apa yang saat ini ia lakukan, satu hal pasti bahwa ia
sedang menundukkan kepalanya.
Suasana
yang amat sangat menenangkan untukku, namun bisa saja tidak untuknya. Meskipun
begitu, aku berusaha percaya padanya. Sebab ia yang lebih dulu mengajakku
kesini. Setelah sekian lama tak lagi menginginkan sepasang kakinya untuk
menapak kembali ke tempat seperti ini. Lalu, entah angin apa yang akhirnya
memutar balikkan keinginannya itu.
*****
Kejadian
dua tahun yang lalu, ku rasa masih sangat melekat pada ingatannya. Meski ia telah
berusaha, untuk melupakan dan berdamai dengan masa lalunya. Namun kenyataannya,
semua kejadian menyenangkan hingga menyakitkan dalam hidup. Tidak semua dapat
dengan mudah kita kendalikan begitu saja. Butuh proses, dengan waktu yang tidak
dapat kita ketahui.
Perlahan
aku menghampirinya, dan menepuk pelan pundaknya dari belakang. Ia pun sedikit
menggeser tubuhnya, seraya menatap sekilas wajahku. Ya hanya sekilas, hanya
sesaat. Tidak sempat ku lihat dan ku tatap dengan jelas, bagaimana raut
wajahnya.
Hitungan
persekian detik, setelah aku mencari kenyamanan untuk duduk.
Terdengar
helaan napas yang keluar dari mulutnya. Selanjutnya, aku hanya melihat jari
jemari yang sedang mencoret-coret asal hamparan pasir di depannya. Dan kali ini
juga, aku masih belum mengerti apa yang tengah ia rasakan, begitu pula apa yang
harus ku lakukan..
“Kak”
panggilnya secara tiba-tiba. Tanpa mengalihkan atensi nya, pada pasir-pasir
yang saat ini tengah ia genggam.
Aku
hanya menoleh, mencoba fokus pada setiap kata yang tampaknya ingin ia utarakan.
Semakin aku menunggu, semakin cepat pula rasanya waktu berjalan.
“Ya,
ada apa?” tiga kata dariku yang akhirnya terucapkan.
Itu
pun hanya dibalasnya dengan gelengan kepala dan helaan napasnya.
“Bukannya
bakal lebih tenang kalo di keluarin?” kataku.
“Lagi
pula, kalem gini bukan kamu banget” sambung ku lagi.
Nah!
baru juga ku katakan. Cengiran itu perlahan terbit, walau lambat laun kembali
menciut. Tidak mengapa, mungkin saja ia masih butuh jeda, untuk benar-benar
mengatakannya.
“Kalau
suka ya biasa aja. Dan kalaupun ga suka, yaudah jangan sampai terlampau ga
suka” katanya. Seakan meniru gayaku saat sedang menasehatinya.
Aku
berdehem, membenarkan sekaligus mengindahkan perkataanya. Bersamaan dengan
semilir angin, yang tengah menerpa rambutnya dan rambutku. Mengisi kekosongan
dialog di antara kami.
“Rasanya,
baru sekarang aku mengerti. Antara ditarik dan diulur keberanian yang ku punya.
Dulu ku kira, pantai dan seluruh teman temannya sama sekali ga bisa ditolak
pesonanya.” Ia menarik, dan menghembuskan napasnya kembali.
“Tapi
setelah kejadian itu, pandangan ku tentangnya seketika sirna. Masih ga nyangka
si, kalau air yang keliatannya tenang, emang bener ya tanpa sadar bisa
menghanyutkan. Seketika tampak seram dan kelam” ucapnya. Seraya menampilkan
ekspresi bergidik ngeri.
Sedari
tadi aku hanya mendengarkannya. Tanpa menyela bahkan menyanggah perkataannya.
Ia yang juga sepertinya masih ingin menyuarakan perasaannya, sengaja ku biarkan
bersuara.
“Dan
ternyata, apa yang pernah kakak bilang emang bener ya. Segala sesuatu yang ada
di dunia ini, sangat memerlukan keseimbangan kita. Kalau di pikir-pikir, udah
seharusnya kali ya. Pas kita ngeliat sesuatu hal, harusnya ga cuman dari satu
arah dan satu sisi doang. Ga seharusnya deh, kita menilai semua itu cuman dari
satu sisi aja, terus cepet-cepet nyimpulinnya sendirian.”
Aku
pun tersenyum, mendengar penuturan panjang yang keluar langsung dari mulutnya.
“Hm,
ada perumpamaan yang lebih sederhana nih” ucapku. Sembari menggapai ranting
kecil yang tergeletak di dekat ku.
Ia memutarkan seluruh tubuhnya, hingga
sepenuhnya menghadap ke arah ku. Lalu perlahan, mulai ku kikis hamparan pasir
yang berada di antara kami. Menghasilkan dua goresan lengkung berbentuk angka
enam. Berulang kali sengaja ku tebalkan garis pinggirnya, supaya terlihat jelas
dengannya yang sedang duduk di seberang ku.
“Ayo
coba lihat! Kalau dari sana, keliatannya angka berapa?” tanyaku menggebu.
“Sembilan-kan?”
jawabnya, merasa pasti di awal. Namun tak lama kemudian tampak ia ragukan.
“Sembilah
dari sini dan juga enam dari sana..”
Dengan
cepat aku mengangguk. Entah ia sudah mengerti, akan mengarah kemana
perbincangan ku kali ini. Atau masih belum sadar, jika hal ini bisa saja
menjadi inti penutupnya.
“Yaa
bener banget, baru juga goresan kecil kaya gini. Tapi kalau kita ngeliatnya
cuman dari satu sisi aja, hasilnya bakal jauh beda kan ya. Gimana kalau segala
sesuatu di kehidupan ini, mencakup dunia beserta isinya. Eh ga, benda tiga
dimensi aja dulu. Pas kita ngeliatnya cuman dari salah satu sisinya. Sedangkan
orang lain juga punya sudut pandang yang lain. Apa kamu yakin untuk tetap dan
terus mampu bertahan sama satu sudut pandang itu tadi?”
“Ga
perlu di perjelas lebih dalem. Karena setiap kita, punya caranya sendiri untuk
nangkep berbagai makna juga pelajaran di setiap kejadian. Tapi satu hal yang
penting banget buat kamu inget, sekalipun luasnya air itu—” jari telunjukku
yang mengarah tepat ke depan sana.
“Yang
emang ga bisa dipungkiri, karena udah buat kamu takut setengah mati. Tapi dari
itu, seharusnya kamu ga boleh lupa. Kalau setelahnya, sadar ga sadar kamu jadi
punya nyali, begitu juga tingkat waspada yang lebih tinggi dari sebelumnya.”
“Suasana
yang terasa jadi semakin seimbang, itu juga bagian dari pembahasan kan?”
balasnya dengan pertanyaan.
“Rasanya
waspada dan kehati-hatian terus mengitar di benakku. Meski rasa terpana itu
masih akan selalu menduduki posisi pertamanya. Mwehhe..”
Aku
terkekeh, lelucon asal darinya, bisa saja membuat mataku sipit bahkan hampir
mengeluarkan airnya. Isi dalam perut melilit tak jelas, dan tawa yang terdengar
tersentak-sentak. Sebab apa lagi jika bukan karena muka konyolya itu. Mungkin
kalau ingn jujur saja, ia terlalu menggemaskan et—tidak apa tadi katanya? Oh tentu
saja teman semua khilaf
mendengarkannya.
“Oh
manusia, lihat lah awan itu” teriaknya tiba-tiba sambil menepuk brutal badanku.
Yap,
itu dia. Gadis yang baru saja ku sadari, bahwa nyatanya ia sudah tak lagi
menjadi bocah. Sedang maju dan memundurkan tubuhnya, seakan menjadi fotografer
yang handal. Sibuk berlarian kesana kemari, guna memperlihatkan hasil
jepretannya kepada ku.
Segera ku pandangi dengan seksama, bergantian menatap paparan langit bersemburat merah. Yang benar-benar tampak indah. Ancang-ancang matahari terbenam pun, juga ku rasa tidak akan kalah indahya dari penampakan langit saat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar