Orang-orang
berlarian. Berlindung dari amarah yang sedang terjadi. Amarah tanpa alasan,
membabi buta. Sekelompok orang mengusir orang berkulit hitam. Menyuruh mereka
pergi dari desa itu. Dengan alasan mereka bukan penduduk asli desa. Bisa
dibilang karena mereka berbeda. Sekelompok orang itu kesal, karena orang-orang
hitam tidak mau pergi juga.
Malam
itu mereka melakukannya dengan kasar. Mengusir mereka secara paksa. Api
membumbung, menjalar di rumah-rumah. Orang- orang berkulit hitam itu melawan.
Membuat pertengkaran. Dan saling pukul. Anak-anak dan wanita bersembunyi.
Seorang pemilik toko berbaik hati menjadikan tokonya tempat berlindung bagi
anak-anak dan wanita. Kericuhan sedang terjadi.
Tidak
hanya terjadi di desa mereka. Dunia juga sedang terjadi huru-hara. Perbedaan
yang membuat terpecah. Kelompok ini dan kelompok itu. Berpisah, saling beradu.
Sampai terjadi penjarahan yang tidak perlu. Malam itu, sekelebat cahaya muncul.
Cahaya itu kecil lalu kemudian semakin cerah dan berpencar. Dengan cepat,
cahaya itu menyebar ke seluruh dunia.
Menyilaukan mata. Dan saat orang-orang membuka mata mereka kembali,
warna di dunia telah lenyap. Tidak tersisa. Lalu mereka bertanya, untuk apa
membedakan saat semua warna mereka sama. Hanya hitam dan putih.
***
Aku
berjalan lesu. Sembari melihat-lihat hasil fotoku. Membosankan. Semuanya
terlihat sama saja. Hanya hitam dan putih. Tidak ada objek lain yang menarik.
Aku masuk ke toko peralatan petualang. Toko ini sudah jadi langgananku. Aku
suka berpetualang, dan aku suka memotret. Dengan berpetualang aku melihat
hal-hal menarik, dan aku suka memotretnya untuk mengabadikannya. Jika beruntung,
aku bisa menjualnya.
Aku
duduk di kursi. Menunggu pemilik toko datang. Kali ini, aku tidak ingin membeli
peralatan. Aku hanya ingin mengobrol dengan pemilik toko. Aku dekat dengan
pemilik toko ini. Namanya Gugum. Umurnya sudah kepala empat. Dulu, saat dunia
masih berwarna dan saat kericuhan itu terjadi, dia yang menyelamatkanku. Aku
yatim piatu sedari kecil, aku tidur di toko ini. Pak Gugum berbaik hati
memberiku tempat tinggal.
Pak
Gugum muncul. Mendekatiku yang duduk menunggunya.
“Kau
bukan ingin membeli barang heh? Apa yang ingin kau bicarakan?” Pak Gugum
memberiku secangkir kopi.
Aku
menyeruputnya. “ Yah, aku hanya bosan dengan dunia yang seperti ini. Aku bosan
berpetualang tanpa melihat hal baru. Dahulu orang berpetualang berharap bertemu
hutan yang hijau, daun-daun yang gugur, mengering, sungai yang jernih,
burung-burung cantik, tersesat di adiwarna alam yang memabukkanmu di dalamnya.
Sekarang yang kulihat hanyalah hitam dan putih.”
Pak
Gugum menyeruput kopinya. Terdiam sebentar. “Kau mau melihat sesuatu yang luar
biasa. Ke tempat yang belum pernah dikunjungi siapapun.”
Aku
mengangguk dengan bingung. Semakin bingung ketika Pak Gugum menutup pintu toko
dan memasang tulisan ‘tutup’. Menutup semua jendela, mematikan lampu, mengambil
korek dan menyalakan lilin. Mengangkat pot dan mengambil kunci yang ada di
bawahnya. Lalu membuka laci, dan mengambil sebuah gulungan. Gulungan itu ia
bentangkan di hadapanku. Aku terpana. Gulungan itu berwarna coklat dengan
bercak menguning. Tidak berwarna hitam putih. Gulungan itu, menunjukkan sebuah
jalan. Astaga! Ini sebuah peta. Peta ajaib!
“Kau
lihat, peta ini?”
Aku
mengangguk. Masih terpana.
“
Peta ini adalah jalan menuju pulau. Oh, bukan pulau biasa. Menuju pulau
berwarna. Satu-satunya warna yang tersisa di dunia ini. Aku menemukan kertas
ini jauh sebelum dunia ini hitam putih. Petualangan ini sangat berbahaya, dengan
pemandangan yang mendebarkan. Jauh dari peradaban. Kau harus menyiapkan
semuanya jika ingin pergi ke pulau ini.”
Tentu.
Aku sangat ingin pergi ke pulau ini. Aku perhatikan dengan seksama lagi peta
ini. Ah.. jauh dari peradaban dan sangat berbahaya kata Pak Gugum. Lihatlah,
ini hanya memerlukan 3 hari perjalanan dengan berjalan kaki. Pak Gugum suka
mendramatisir sesuatu. Aku hanya menggeleng pelan. Baiklah. Aku akan menyiapkan
semuanya.
***
Aku
beristirahat sejenak. Pulau itu sudah dekat. Aku duduk selonjor. Menatap
sekitar. Sampai pandanganku terpaku pada sesuatu. Kupu-kupu. Tidak, bukan
kupu-kupu biasa. Kupu-kupu
itu memiliki motif yang cantik
dengan warna hijau dan biru. Bukan hitam putih. Aku mengambil kamera. Perlahan,
aku mendekati kupu-kupu itu. Setelah lumayan dekat, aku memencet tombol di
kamera. Cekrek.
Ah!
Kupu-kupu itu kabur. Aku mengejarnya. Mengikutinya. Melihat kupu-kupu itu
sambil berlari melewati bebatuan dan rumput-rumput tinggi. Setelah berlari
jauh, aku kehilangan kupu-kupu itu. Ah, sial. Sekarang apa? Aku tidak mengenali
jalan ini. Namun, aku melihat ada mata air. Mungkin aku bisa meminumnya.
Aku menghampiri mata air itu. Meminumya. Aku
tersedak. Astaga! Aku terkejut sekali melihat warna airnya. Air itu mengalir
menjadi dua aliran. Satu aliran dengan warna pelangi. Unik sekali. Tunggu,
sepertinya ada sesuatu di balik mata air ini. Aku menyibak tanaman liar yang
menutupi di belakang mata air.
Wow!
Ini, inilah pulau itu. Pulau yang dimaksud Pak Gugum. Pulau ini sangat
berwarna. Dengan warna-warni bunga. Dan hijaunya pohon serta sungai indah yang
berwarna pelangi. Aku melihat apel yang ranum. Dengan warna merah yang sangat
menggoda. Perutku berontak. Aku menggoyangkan pohonnya, apel jatuh, aku menggigitnya.
Manis. Ini enak sekali. Akan ku bawa beberapa untuk Pak Gugum. Aku mengambil
kameraku. Memotret pulau ini. Untuk
menyimpannya sebagai tempat yang paling luar biasa. Aku harus memberitahu Pak
Gugum kalau aku berhasil menemukan pulau ini.
***
Tunggu.
Foto itu, foto yang kuambil saat di pulau berwarna itu. Dimana itu berada? Baru
saja aku ingin menunjukkannya pada Pak Gugum. Aku menelusuri jalan yang tadi
aku tempuh. Barangkali foto itu jatuh.
“Hey,
kau mencari ini?” seseorang menghampiriku. Menunjukkan sebuah foto.
“Ah,
Jen. Benar, foto itu milikku.” Celaka, foto itu ada di Jen. Aku ceroboh sekali.
Sepertinya foto itu jatuh dan diambil olehnya.
“
Dimana kau mengambil foto ini? Tempat ini indah sekali kawan, dan sangat
berwarna. Pulau ajaib kah?” Jen menjauhkan foto itu. Mencegahku mengambilnya.
“Berikan!”
“
Apakah ini peta menuju pulau ajaib itu?” Jen menunjukkan gulungan berwarna
coklat, dengan bercak kuning.
Bodohnya
aku. Peta itu jatuh di tangannya juga. Aku sudah tahu apa yang akan dilakukannya.
“
Aku akan pergi ke tempat ini. Menemukan sungai pelangi. Menimba air sungai, dan
membawa air itu ke desa ini. Menemukan cara untuk memulihkan desa kita dari
warna hitam putih.” Jen menatapku dan tersenyum menang.
“Kau
gila. Menimba air dan membawanya ke desa? Itu tiga hari perjalanan pulang-pergi
yang melelahkan. Melewati bebatuan dan rumput-rumput tinggi. Air itu akan
tumpah di perjalanan, dan saat kau kembali kau hanya akan membawa tong kosong.”
“Aku
kuat tidak sepertimu, lemah. Aku mempunyai otot. Aku dan teman-temanku akan
membawa air ajaib itu kemari.” Jen meninggalkanku. Menghampiri teman-temannya
dan menjelaskan rencananya dengan berapi-api.
***
Aku
menghela napas. Jen mendapatkan air itu. Menunjukkannya padaku air ajaib itu.
Aku tidak tahu apa yang dia rencanakan. Aku sedang duduk di toko peralatan. Pak
Gugum melihatku yang sedari tadi melamun. Ada beberapa orang di toko ini.
Kadang toko ini memang sering dipakai untuk tempat berkumpul.
“Apa
yang tengah kau pikirkan?” Pak Gugum memecah lamunanku.
“Eh,
ya. Kau membuatku terbangun.” Aku menyeruput kopi.”Aku…sedang memikirkan apa
yang akan dilakukan Jen selanjutnya. Apakah ia akan cukup dengan air ajaib itu?
Atau dia menginginkan yang lebih. Mengeruk pulau itu lagi dan lagi. Tapi, Jen
telah banyak berubah. Kurasa dia hanya ingin mengubah dunia kembali normal.
Dunia hitam putih membuatnya banyak berpikir. Yah, aku tidak tahu juga. Sifat
orang cepat berubah,”
Terdiam.
Hening sebentar. Satu orang menyentil kesunyian.
“
Kau tahu? Aku juga tidak senang dengan perbuatan mereka. Mereka seperti serakah
sekali. Ingin memiliki semuanya, padahal apa, saat warna itu ada, mereka
menyalahkan kita, mengatakan bahwa kita adalah warna yang tidak seharusnya ada.
Warna itu berkumpul dengan warna itu. Jika semua terlihat sama, untuk apa warna
itu ada”
Hening
lagi.
“Mengapa
kalian melawan perbuatan itu?” Pak Gugum menyela keheningan.
Semua
pandangan tertuju pada Pak Gugum.
“Mengapa
kalian tidak mendukungnya? Bukankah itu hal yang baik? Mereka ingin
mengembalikan warna itu. Mengubah dunia menjadi berwarna kembali, cerah, dengan
warna-warni kehidupan. Mengapa kalian menentangnya? Mengatakan mereka akan ini
mereka akan itu. Sudah 10 tahun berlalu, dunia hitam putih saja. Kalian tidak
ingin semua kembali normal?”
“Tapi ketika dunia kembali normal, mereka akan
melakukan hal yang sama. Membeda-bedakan lagi, memisah-misahkan lagi.” Bantah
seseorang.
“Kalau
begitu inilah kesempatannya. Kalian bisa bekerja sama. Menyatukan lagi warna
itu, membuatnya indah kembali.”
Terdiam
cukup lama. Lalu, satu-persatu wajah mereka mulai menunjukkan dukungan.
Persetujuan untuk bekerja sama. Harapan bahwa warna itu masih ada. Akan
bersinar pada waktunya.
***
Kerja
sama itu dimulai. Setelah beberapa perbincangan berat, kami sepakat untuk bersama
menemukan cara untuk mengubah dunia kembali normal. Seluruh desa membantu. Kami
menimba air sungai, melakukan percobaan dengan cara menanam bibit hitam putih
di tanah ajaib itu. Merawatnya. Jika gagal dengan tanaman itu tetap berwarna
hitam putih, kami lakukan lagi. Menanam lagi, merawatnya lagi. Menyiramnya
dengan air ajaib.
Dengan banyak tanaman yang gagal, ada satu
yang tetap bertahan. Terus tumbuh setiap hari, warnanya pun berbeda. Hijau
dengan batangnya yang coklat. Hari esoknya lagi pohon itu menumbuhkan bunga.
Kami sangat bersemangat. Tanaman ini tumbuh dengan luar biasa. Melewati masa
tumbuh yang seharusnya. Kami merayakannya dengan bersantai di pulau. Berendam
di sungai ajaib, dan menikmati apel ranum. Rasanya nyaman dan menyenangkan.
***
“Siapa
yang mencabut tanaman ini?!” Jen berteriak dengan sangat marah.
Baru
saja kami sampai di pulau berwarna, ingin melanjutkan merawat tanaman itu, yang
ingin dirawat telah rusak tercabut hingga akarnya. Semuanya hanya terdiam
dengan pandangan kecewa. Menatap tanah, kosong.
“Baiklah
Jen, kau jangan emosi dulu. Masalah ini tidak dapat diselesaikan dengan panas,”
aku mencegah Jen yang hendak mengamuk.
“Pelakunya
ada di antara kalian kan?!” Jen mulai menuduh.
“Hey,
jangan asal tuduh kau!”
“Apa?
Dari awal, kalian tidak mendukung ini dilakukan kan? Menentang kami,
membicarakan di belakang. Pengecut!”
Buk! Satu
orang memukul Jen. “Jangan sembarang kau!”
Jen
yang tidak terima balas memukul. Yang lain membelanya, memukul yang lainnya.
Wanita dan anak-anak berteriak histeris, menghindari gerombolan sebelum
bertambah parah, dan terkena imbasnya. Buk!
Aku terkena salah satu pukulan. Sakit. Aku harus keluar dari pertengkaran
ini. Menyibak orang-orang yang ganas menyerang.
“
Hiks…huaaa, tolong…” aku mendengar tangisan anak kecil. Sepertinya dari
pertengkaran itu.
“Berhenti!
Berhenti semuanya!” aku mencoba menghentikan pertengkaran.
Mereka
tetap saling memukul, mendorong. Baiklah, sekarang apa yang aku lakukan. Anak
kecil itu ada di dalam pertengkaran, tidak bisa keluar. Aku menarik napas
panjang.
“Semuanya,
BERHENTI!” aku berteriak sekuat tenaga.
Pertengkaran
terhenti. Pandangan mengarah padaku. Aku segera mencari anak kecil itu. Ketemu!
Anak itu sedang meringkuk ketakutan, menangis. Aku menggendongnya. Ada banyak
luka. Sepertinya dia tertindih.
“Ini,
inilah hasil pertengkaran kalian! Hanya membuang waktu. Ayo kita kembali ke
desa. Mengobati yang terluka,”
Aku
mendekati seorang wanita, ia adalah dokter di desa kami. Memberikan anak itu
padanya. Wanita itu mengobati anak itu dengan peralatan seadanya. Setelah
keadaan anak itu membaik, kami semua kembali ke desa. Dengan kembali terpecah.
***
Aku
menatap pulau ajaib. Masih dengan warnanya yang cantik. Namun aku tidak
bersemangat lagi. Aku duduk di tanah, merentangkan tanganku, menyentuh rumput
basah. Terpaku pada sebuah bunga. Sebentar, awalnya bunga itu berwarna. Sekarang,
warna dari bunga itu seperti di gerogoti. Mulai hilang dari kelopaknya lalu
berlanjut ke daunnya.
Aku
mengerti, bukan air ajaib itu yang membuat warna itu ada, atau pun pulau ini.
Bahkan pulau ini hanya pulau biasa. Tetapi saat bersatu. Warna itu ada.
Berpencar, perlahan menyebar indah.
Aku
memotret bunga itu. Lalu kembali ke desa.
***
“Jen, aku perlu bicara denganmu.
Dengan kalian semua”
Aku mengumpulkan seluruh orang di
desa. Mengajak semua bicara.
“Tak ada lagi yang perlu
dibicarakan,” Jen tampak acuh.
“Sampai kapan kita seperti ini
terus?”
“Sampai pelaku yang mencabut seluruh
kerja keras kita tertangkap” Jen menjawab.
Ah..dia bahas masalah itu lagi
“Hey, Jen aku sudah tahu siapa
pelakunya. Pelaku yang membuat dunia hitam putih. Kita. Itu adalah kita kawan,
tidak ada yang namanya pahlawan jika semuanya saling menyalahkan. Aku pun sama
bersalahnya. Aku pengecut. Tidak pernah mau bekerja sama. Membiarkan kita terus
hidup seperti ini.”
Jen terdiam. Begitu juga yang
lainnya.
“Kita berbeda dengan orang kota,
kawan. Kita punya kesempatan. Kita menemukan pulau itu. Kita semua pikir, pulau
itu ajaib. Tidak, pulau itu hanya pulau biasa. Aku baru menyadarinya. Warna itu
bisa hilang di pulau.Inilah buktinya.” Aku menunjukkan foto bunga yang setengah
berwarna. Semua melihatnya. Lantas terdiam.
“
Kerja sama kita lah yang ajaib. Persatuan kita yang membuat warna itu. Indah
bagai sihir. Menakjubkan sekali
rasanya,” aku mengambil jeda. “Mari kita lanjutkan apa yang telah kita mulai.
Perbaiki warna itu dan menyatukannya.”
Termenung.
Ada yang menatap tanah, menatap langit, lalu mereka mulai saling tatap. Tatapan
untuk menyakinkan. Untuk melanjutkan lagi yang telah dimulai. Dan satu orang
meningkatkan gelora itu.
“Nah,
ayo kita mulai bekerja lagi!”
“Ayo!” “Ayo!”
Kami
tersenyum lantas tertawa. Saling bertepuk bahu.
Mulai bekerja lagi. Kali ini, bukan
untuk mendapatkan warna itu. Biar warna itu yang mendapatkan kita. Kali ini
kami membenahi desa. Memperbaiki fasilitas yang rusak. Memasang lampu di setiap
jalanan. Menerangi desa saat malam. Membuat tempat bersantai untuk berkumpul.
Menanam bersama. Padi, jagung, apel, kami tanam semua. Lantas saat panen kami
memasak bersama. Menyantapnya bersama. Menikmati pemandangan hitam putih.
***
Desa kami makin indah. Nyaman dan
menakjubkan. Tidak ada lagi membeda-bedakan. Untuk segera tahu kalau kita satu
kesatuan. Anak-anak bermain saling berkejaran. Orang dewasa duduk menikmati
makanan. Ibu-ibu menjaga anaknya tetap aman.
Perlahan-lahan warna itu mulai
menyebar. Merayap dari pulau itu hinggap di desa kami.
Aku
melihat anak-anak yang berlari mengejar sesuatu. Kupu-kupu. Mereka mengejar
kupu-kupu cantik dengan warna hijau dan biru. Sepertinya aku mengenali
kupu-kupu itu. Dimana aku pernah bertemu? Kupu-kupu itu terbang ke arahku.
Hinggap di jemariku. Cahaya muncul. Menyilaukan, cahaya itu berpencar memecah.
Menyebar ke seluruh dunia.
Perlahan,
aku membuka mata. Warna. Aku melihat warna. Melihat tubuhku, kulitku yang
berwarna hitam dan bajuku yang berwarna coklat, sepatuku yang hitam mengkilap.
Dan seluruh desa yang diterangi dengan lampu warna-warni. Semuanya tersenyum
senang. Tertawa bahagia. Berseru riang. Warna itu telah kembali.
***
“Kau
berhasil nak,” pak Gugum menepuk pundakku.
Aku
tersenyum. Melihat desa yang dipenuhi lampu berwarna-warni. Dimana jalanan
menghidupi malam.
“Tidak.
Kita, kita semua berhasil.” Aku membalasnya.
Pak Gugum balas tersenyum.





























