Sabtu, 25 September 2021

KUPU-KUPU DI NEGERI HITAM PUTIH

 

Orang-orang berlarian. Berlindung dari amarah yang sedang terjadi. Amarah tanpa alasan, membabi buta. Sekelompok orang mengusir orang berkulit hitam. Menyuruh mereka pergi dari desa itu. Dengan alasan mereka bukan penduduk asli desa. Bisa dibilang karena mereka berbeda. Sekelompok orang itu kesal, karena orang-orang hitam tidak mau pergi juga.

Malam itu mereka melakukannya dengan kasar. Mengusir mereka secara paksa. Api membumbung, menjalar di rumah-rumah. Orang- orang berkulit hitam itu melawan. Membuat pertengkaran. Dan saling pukul. Anak-anak dan wanita bersembunyi. Seorang pemilik toko berbaik hati menjadikan tokonya tempat berlindung bagi anak-anak dan wanita. Kericuhan sedang terjadi.

Tidak hanya terjadi di desa mereka. Dunia juga sedang terjadi huru-hara. Perbedaan yang membuat terpecah. Kelompok ini dan kelompok itu. Berpisah, saling beradu. Sampai terjadi penjarahan yang tidak perlu. Malam itu, sekelebat cahaya muncul. Cahaya itu kecil lalu kemudian semakin cerah dan berpencar. Dengan cepat, cahaya itu menyebar ke seluruh dunia.  Menyilaukan mata. Dan saat orang-orang membuka mata mereka kembali, warna di dunia telah lenyap. Tidak tersisa. Lalu mereka bertanya, untuk apa membedakan saat semua warna mereka sama. Hanya hitam dan putih.

***

Aku berjalan lesu. Sembari melihat-lihat hasil fotoku. Membosankan. Semuanya terlihat sama saja. Hanya hitam dan putih. Tidak ada objek lain yang menarik. Aku masuk ke toko peralatan petualang. Toko ini sudah jadi langgananku. Aku suka berpetualang, dan aku suka memotret. Dengan berpetualang aku melihat hal-hal menarik, dan aku suka memotretnya untuk mengabadikannya. Jika beruntung, aku bisa menjualnya.

Aku duduk di kursi. Menunggu pemilik toko datang. Kali ini, aku tidak ingin membeli peralatan. Aku hanya ingin mengobrol dengan pemilik toko. Aku dekat dengan pemilik toko ini. Namanya Gugum. Umurnya sudah kepala empat. Dulu, saat dunia masih berwarna dan saat kericuhan itu terjadi, dia yang menyelamatkanku. Aku yatim piatu sedari kecil, aku tidur di toko ini. Pak Gugum berbaik hati memberiku tempat tinggal.

Pak Gugum muncul. Mendekatiku yang duduk menunggunya.

“Kau bukan ingin membeli barang heh? Apa yang ingin kau bicarakan?” Pak Gugum memberiku secangkir kopi.

Aku menyeruputnya. “ Yah, aku hanya bosan dengan dunia yang seperti ini. Aku bosan berpetualang tanpa melihat hal baru. Dahulu orang berpetualang berharap bertemu hutan yang hijau, daun-daun yang gugur, mengering, sungai yang jernih, burung-burung cantik, tersesat di adiwarna alam yang memabukkanmu di dalamnya. Sekarang yang kulihat hanyalah hitam dan putih.”

Pak Gugum menyeruput kopinya. Terdiam sebentar. “Kau mau melihat sesuatu yang luar biasa. Ke tempat yang belum pernah dikunjungi siapapun.”

Aku mengangguk dengan bingung. Semakin bingung ketika Pak Gugum menutup pintu toko dan memasang tulisan ‘tutup’. Menutup semua jendela, mematikan lampu, mengambil korek dan menyalakan lilin. Mengangkat pot dan mengambil kunci yang ada di bawahnya. Lalu membuka laci, dan mengambil sebuah gulungan. Gulungan itu ia bentangkan di hadapanku. Aku terpana. Gulungan itu berwarna coklat dengan bercak menguning. Tidak berwarna hitam putih. Gulungan itu, menunjukkan sebuah jalan. Astaga! Ini sebuah peta. Peta ajaib!

“Kau lihat, peta ini?”

Aku mengangguk. Masih terpana.

“ Peta ini adalah jalan menuju pulau. Oh, bukan pulau biasa. Menuju pulau berwarna. Satu-satunya warna yang tersisa di dunia ini. Aku menemukan kertas ini jauh sebelum dunia ini hitam putih. Petualangan ini sangat berbahaya, dengan pemandangan yang mendebarkan. Jauh dari peradaban. Kau harus menyiapkan semuanya jika ingin pergi ke pulau ini.”

Tentu. Aku sangat ingin pergi ke pulau ini. Aku perhatikan dengan seksama lagi peta ini. Ah.. jauh dari peradaban dan sangat berbahaya kata Pak Gugum. Lihatlah, ini hanya memerlukan 3 hari perjalanan dengan berjalan kaki. Pak Gugum suka mendramatisir sesuatu. Aku hanya menggeleng pelan. Baiklah. Aku akan menyiapkan semuanya.

***

Aku beristirahat sejenak. Pulau itu sudah dekat. Aku duduk selonjor. Menatap sekitar. Sampai pandanganku terpaku pada sesuatu. Kupu-kupu. Tidak, bukan kupu-kupu biasa.                    Kupu-kupu itu memiliki motif yang cantik dengan warna hijau dan biru. Bukan hitam putih. Aku mengambil kamera. Perlahan, aku mendekati kupu-kupu itu. Setelah lumayan dekat, aku memencet tombol di kamera. Cekrek.

Ah! Kupu-kupu itu kabur. Aku mengejarnya. Mengikutinya. Melihat kupu-kupu itu sambil berlari melewati bebatuan dan rumput-rumput tinggi. Setelah berlari jauh, aku kehilangan kupu-kupu itu. Ah, sial. Sekarang apa? Aku tidak mengenali jalan ini. Namun, aku melihat ada mata air. Mungkin aku bisa meminumnya.

 Aku menghampiri mata air itu. Meminumya. Aku tersedak. Astaga! Aku terkejut sekali melihat warna airnya. Air itu mengalir menjadi dua aliran. Satu aliran dengan warna pelangi. Unik sekali. Tunggu, sepertinya ada sesuatu di balik mata air ini. Aku menyibak tanaman liar yang menutupi di belakang mata air.

Wow! Ini, inilah pulau itu. Pulau yang dimaksud Pak Gugum. Pulau ini sangat berwarna. Dengan warna-warni bunga. Dan hijaunya pohon serta sungai indah yang berwarna pelangi. Aku melihat apel yang ranum. Dengan warna merah yang sangat menggoda. Perutku berontak. Aku menggoyangkan pohonnya, apel jatuh, aku menggigitnya. Manis. Ini enak sekali. Akan ku bawa beberapa untuk Pak Gugum. Aku mengambil kameraku.  Memotret pulau ini. Untuk menyimpannya sebagai tempat yang paling luar biasa. Aku harus memberitahu Pak Gugum kalau aku berhasil menemukan pulau ini.

***

Tunggu. Foto itu, foto yang kuambil saat di pulau berwarna itu. Dimana itu berada? Baru saja aku ingin menunjukkannya pada Pak Gugum. Aku menelusuri jalan yang tadi aku tempuh. Barangkali foto itu jatuh.

“Hey, kau mencari ini?” seseorang menghampiriku. Menunjukkan sebuah foto.

“Ah, Jen. Benar, foto itu milikku.” Celaka, foto itu ada di Jen. Aku ceroboh sekali. Sepertinya foto itu jatuh dan diambil olehnya.

“ Dimana kau mengambil foto ini? Tempat ini indah sekali kawan, dan sangat berwarna. Pulau ajaib kah?” Jen menjauhkan foto itu. Mencegahku mengambilnya.

“Berikan!”

“ Apakah ini peta menuju pulau ajaib itu?” Jen menunjukkan gulungan berwarna coklat, dengan bercak kuning.

Bodohnya aku. Peta itu jatuh di tangannya juga. Aku sudah tahu apa yang akan dilakukannya.

“ Aku akan pergi ke tempat ini. Menemukan sungai pelangi. Menimba air sungai, dan membawa air itu ke desa ini. Menemukan cara untuk memulihkan desa kita dari warna hitam putih.” Jen menatapku dan tersenyum menang.

“Kau gila. Menimba air dan membawanya ke desa? Itu tiga hari perjalanan pulang-pergi yang melelahkan. Melewati bebatuan dan rumput-rumput tinggi. Air itu akan tumpah di perjalanan, dan saat kau kembali kau hanya akan membawa tong kosong.”

“Aku kuat tidak sepertimu, lemah. Aku mempunyai otot. Aku dan teman-temanku akan membawa air ajaib itu kemari.” Jen meninggalkanku. Menghampiri teman-temannya dan menjelaskan rencananya dengan berapi-api.

***

Aku menghela napas. Jen mendapatkan air itu. Menunjukkannya padaku air ajaib itu. Aku tidak tahu apa yang dia rencanakan. Aku sedang duduk di toko peralatan. Pak Gugum melihatku yang sedari tadi melamun. Ada beberapa orang di toko ini. Kadang toko ini memang sering dipakai untuk tempat berkumpul.

“Apa yang tengah kau pikirkan?” Pak Gugum memecah lamunanku.

“Eh, ya. Kau membuatku terbangun.” Aku menyeruput kopi.”Aku…sedang memikirkan apa yang akan dilakukan Jen selanjutnya. Apakah ia akan cukup dengan air ajaib itu? Atau dia menginginkan yang lebih. Mengeruk pulau itu lagi dan lagi. Tapi, Jen telah banyak berubah. Kurasa dia hanya ingin mengubah dunia kembali normal. Dunia hitam putih membuatnya banyak berpikir. Yah, aku tidak tahu juga. Sifat orang cepat berubah,”

Terdiam. Hening sebentar. Satu orang menyentil kesunyian.

“ Kau tahu? Aku juga tidak senang dengan perbuatan mereka. Mereka seperti serakah sekali. Ingin memiliki semuanya, padahal apa, saat warna itu ada, mereka menyalahkan kita, mengatakan bahwa kita adalah warna yang tidak seharusnya ada. Warna itu berkumpul dengan warna itu. Jika semua terlihat sama, untuk apa warna itu ada”

Hening lagi.

“Mengapa kalian melawan perbuatan itu?” Pak Gugum menyela keheningan.

Semua pandangan tertuju pada Pak Gugum.

“Mengapa kalian tidak mendukungnya? Bukankah itu hal yang baik? Mereka ingin mengembalikan warna itu. Mengubah dunia menjadi berwarna kembali, cerah, dengan warna-warni kehidupan. Mengapa kalian menentangnya? Mengatakan mereka akan ini mereka akan itu. Sudah 10 tahun berlalu, dunia hitam putih saja. Kalian tidak ingin semua kembali normal?”

 “Tapi ketika dunia kembali normal, mereka akan melakukan hal yang sama. Membeda-bedakan lagi, memisah-misahkan lagi.” Bantah seseorang.

“Kalau begitu inilah kesempatannya. Kalian bisa bekerja sama. Menyatukan lagi warna itu, membuatnya indah kembali.”

Terdiam cukup lama. Lalu, satu-persatu wajah mereka mulai menunjukkan dukungan. Persetujuan untuk bekerja sama. Harapan bahwa warna itu masih ada. Akan bersinar pada waktunya.

***

Kerja sama itu dimulai. Setelah beberapa perbincangan berat, kami sepakat untuk bersama menemukan cara untuk mengubah dunia kembali normal. Seluruh desa membantu. Kami menimba air sungai, melakukan percobaan dengan cara menanam bibit hitam putih di tanah ajaib itu. Merawatnya. Jika gagal dengan tanaman itu tetap berwarna hitam putih, kami lakukan lagi. Menanam lagi, merawatnya lagi. Menyiramnya dengan air ajaib.

 Dengan banyak tanaman yang gagal, ada satu yang tetap bertahan. Terus tumbuh setiap hari, warnanya pun berbeda. Hijau dengan batangnya yang coklat. Hari esoknya lagi pohon itu menumbuhkan bunga. Kami sangat bersemangat. Tanaman ini tumbuh dengan luar biasa. Melewati masa tumbuh yang seharusnya. Kami merayakannya dengan bersantai di pulau. Berendam di sungai ajaib, dan menikmati apel ranum. Rasanya nyaman dan menyenangkan.

                                                                     ***                 

“Siapa yang mencabut tanaman ini?!” Jen berteriak dengan sangat marah.

Baru saja kami sampai di pulau berwarna, ingin melanjutkan merawat tanaman itu, yang ingin dirawat telah rusak tercabut hingga akarnya. Semuanya hanya terdiam dengan pandangan kecewa. Menatap tanah, kosong.

“Baiklah Jen, kau jangan emosi dulu. Masalah ini tidak dapat diselesaikan dengan panas,” aku mencegah Jen yang hendak mengamuk.

“Pelakunya ada di antara kalian kan?!” Jen mulai menuduh.

“Hey, jangan asal tuduh kau!”

“Apa? Dari awal, kalian tidak mendukung ini dilakukan kan? Menentang kami, membicarakan di belakang. Pengecut!”

Buk! Satu orang memukul Jen. “Jangan sembarang kau!”

Jen yang tidak terima balas memukul. Yang lain membelanya, memukul yang lainnya. Wanita dan anak-anak berteriak histeris, menghindari gerombolan sebelum bertambah parah, dan terkena imbasnya. Buk! Aku terkena salah satu pukulan. Sakit. Aku harus keluar dari pertengkaran ini. Menyibak orang-orang yang ganas menyerang.

“ Hiks…huaaa, tolong…” aku mendengar tangisan anak kecil. Sepertinya dari pertengkaran itu.

“Berhenti! Berhenti semuanya!” aku mencoba menghentikan pertengkaran.

Mereka tetap saling memukul, mendorong. Baiklah, sekarang apa yang aku lakukan. Anak kecil itu ada di dalam pertengkaran, tidak bisa keluar. Aku menarik napas panjang.

“Semuanya, BERHENTI!” aku berteriak sekuat tenaga.

Pertengkaran terhenti. Pandangan mengarah padaku. Aku segera mencari anak kecil itu. Ketemu! Anak itu sedang meringkuk ketakutan, menangis. Aku menggendongnya. Ada banyak luka. Sepertinya dia tertindih.

“Ini, inilah hasil pertengkaran kalian! Hanya membuang waktu. Ayo kita kembali ke desa. Mengobati yang terluka,”

Aku mendekati seorang wanita, ia adalah dokter di desa kami. Memberikan anak itu padanya. Wanita itu mengobati anak itu dengan peralatan seadanya. Setelah keadaan anak itu membaik, kami semua kembali ke desa. Dengan kembali terpecah.

***

Aku menatap pulau ajaib. Masih dengan warnanya yang cantik. Namun aku tidak bersemangat lagi. Aku duduk di tanah, merentangkan tanganku, menyentuh rumput basah. Terpaku pada sebuah bunga. Sebentar, awalnya bunga itu berwarna. Sekarang, warna dari bunga itu seperti di gerogoti. Mulai hilang dari kelopaknya lalu berlanjut ke daunnya.

Aku mengerti, bukan air ajaib itu yang membuat warna itu ada, atau pun pulau ini. Bahkan pulau ini hanya pulau biasa. Tetapi saat bersatu. Warna itu ada. Berpencar, perlahan menyebar indah.

Aku memotret bunga itu. Lalu kembali ke desa.

***

            “Jen, aku perlu bicara denganmu. Dengan kalian semua”

            Aku mengumpulkan seluruh orang di desa. Mengajak semua bicara.

            “Tak ada lagi yang perlu dibicarakan,” Jen tampak acuh.

            “Sampai kapan kita seperti ini terus?”

            “Sampai pelaku yang mencabut seluruh kerja keras kita tertangkap” Jen menjawab.

            Ah..dia bahas masalah itu lagi

            “Hey, Jen aku sudah tahu siapa pelakunya. Pelaku yang membuat dunia hitam putih. Kita. Itu adalah kita kawan, tidak ada yang namanya pahlawan jika semuanya saling menyalahkan. Aku pun sama bersalahnya. Aku pengecut. Tidak pernah mau bekerja sama. Membiarkan kita terus hidup seperti ini.”

            Jen terdiam. Begitu juga yang lainnya.

            “Kita berbeda dengan orang kota, kawan. Kita punya kesempatan. Kita menemukan pulau itu. Kita semua pikir, pulau itu ajaib. Tidak, pulau itu hanya pulau biasa. Aku baru menyadarinya. Warna itu bisa hilang di pulau.Inilah buktinya.” Aku menunjukkan foto bunga yang setengah berwarna. Semua melihatnya. Lantas terdiam.

“ Kerja sama kita lah yang ajaib. Persatuan kita yang membuat warna itu. Indah bagai sihir.  Menakjubkan sekali rasanya,” aku mengambil jeda. “Mari kita lanjutkan apa yang telah kita mulai. Perbaiki warna itu dan menyatukannya.”

Termenung. Ada yang menatap tanah, menatap langit, lalu mereka mulai saling tatap. Tatapan untuk menyakinkan. Untuk melanjutkan lagi yang telah dimulai. Dan satu orang meningkatkan gelora itu.

“Nah, ayo kita mulai bekerja lagi!”

“Ayo!”  “Ayo!”

Kami tersenyum lantas tertawa. Saling bertepuk bahu.

            Mulai bekerja lagi. Kali ini, bukan untuk mendapatkan warna itu. Biar warna itu yang mendapatkan kita. Kali ini kami membenahi desa. Memperbaiki fasilitas yang rusak. Memasang lampu di setiap jalanan. Menerangi desa saat malam. Membuat tempat bersantai untuk berkumpul. Menanam bersama. Padi, jagung, apel, kami tanam semua. Lantas saat panen kami memasak bersama. Menyantapnya bersama. Menikmati pemandangan hitam putih.

***

            Desa kami makin indah. Nyaman dan menakjubkan. Tidak ada lagi membeda-bedakan. Untuk segera tahu kalau kita satu kesatuan. Anak-anak bermain saling berkejaran. Orang dewasa duduk menikmati makanan. Ibu-ibu menjaga anaknya tetap aman.

            Perlahan-lahan warna itu mulai menyebar. Merayap dari pulau itu hinggap di desa kami.

Aku melihat anak-anak yang berlari mengejar sesuatu. Kupu-kupu. Mereka mengejar kupu-kupu cantik dengan warna hijau dan biru. Sepertinya aku mengenali kupu-kupu itu. Dimana aku pernah bertemu? Kupu-kupu itu terbang ke arahku. Hinggap di jemariku. Cahaya muncul. Menyilaukan, cahaya itu berpencar memecah. Menyebar ke seluruh dunia.

Perlahan, aku membuka mata. Warna. Aku melihat warna. Melihat tubuhku, kulitku yang berwarna hitam dan bajuku yang berwarna coklat, sepatuku yang hitam mengkilap. Dan seluruh desa yang diterangi dengan lampu warna-warni. Semuanya tersenyum senang. Tertawa bahagia. Berseru riang. Warna itu telah kembali.

***

“Kau berhasil nak,” pak Gugum menepuk pundakku.

Aku tersenyum. Melihat desa yang dipenuhi lampu berwarna-warni. Dimana jalanan menghidupi malam.

“Tidak. Kita, kita semua berhasil.” Aku membalasnya.

Pak Gugum balas tersenyum.  

Jumat, 13 November 2020

CERPEN

 

Mutiara Kemingking

“Bagaimana mau sekolah tinggi-tinggi. Coba kau lihat, jangankan Bahasa Inggris, Bahasa gaul saja kau tidak bisa” suara Evan menggema.

Pagi itu, diskusi dimulai. Di dalam kelas itu terdengar riuh bagikan petir yang saling sahut menyahut. Ada yang menjerit karena kesal, ada yang marah karena pendapatnya tidak ditanggapi ada seribu tingkah. Pagi itu, sekitar pukul 07.15 mentari mulai meninggi, di ufuk timur cahayanya mulai bersembunyi di balik awan-awan putih. Hawa panas mulai terasa menyengat di kulit. Angin kecil mulai masuk ke dalam kelas disela-sela pentilasi hingga membuat tirai jendela bergelombang kecil.

Pagi itu di Kemingking udara terasa panas. Mungkin sudah masuk musim kemarau. Daun-daun yang hijau mulai menguning. Duku mulai membesar berjajar ditepi jalan utama. Candi Gumpung masih kokoh berdiri, Telago Rajo masih menyimpan airnya. Sungguh anugerah Tuhan yang luar biasa.

“Bahasa gaul? Untuk apa aku memakai Bahasa alay itu. Kita tinggal di Indonesia tanah melayu jangan kau bawakan Bahasa itu kesini” Zawati mulai memanas. Ia memang ahli dalam berdebat. Ia meladeni berdebat dengan Evan laki-laki yang bercita-cita kuliah di UGM.

Lintang. Laki-laki yang duduk termenung di sudut kelas menyaksikan perdebatan orang-orang itu. Ia memang tidak tertarik dengan pelajaran Bahasa Indonesia apalagi melihat gurunya, Pak Indra yang jadul dan tidak gaul. Baginya Bahasa Indonesia sulit untuk dipahami. Ia terbiasa menggunakan Bahasa daerahnya jika berkomunkasi dengan teman-temannya bahkan dengan gurunya sekalipun.

“Apa salahnya. Coba kau buka mato kau, Ti. Dunia sudah maju sekarang. Kau lihat, orang sudah pergi kebulan. Nah, kau masih saja tidak berkembang” ledek Evan pada Zawati.

Sejenak Zawati terdiam, ia menarik nafas dalam mencoba mencari pertolongan dari teman-temannya. Ia menoleh ke kanan ke kiri namun tidak ada satu pun yang peduli. Kini ia benar-benar sendiri. sementara itu, Pak Indra laki-laki paro baya itu melihat pergaulan siswa-siswanya. Ia hanya duduk memperhatikan dan mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari orang-orang itu. Sekali-kali ia menulis entah apa yang ia tulis.

“Walaupun dunia sudah maju tapi kita tidak boleh melupakan asal kita. Jangan seperti kacang lupa dengan kulitnya” wajah Zawati mulai memerah. Ia benar-benar marah.

“Lantas apa yang kau mau lakukan? Mau tunak di dusun ini? Seperti perempuan-perempuan desa lainnya? selesai sekolah nikah?”

“Banyak yang kita lakukan sebagai generasi muda. Salah satunya kita harus menjujung tinggi Bahasa kita. Bahasa daerah ini sebagai identitas kita. Agar kita tidak lupa dari mana kita berasal”

“Bahasa kita? Bahasa daerah kita yang kuno ini? Kenyok, belambun, kelagik. Itu? Mau kau pakai Bahasa nyai, datuk kau itu?” ucapnya kemudian “Pastilah orang-orang tertawa mendengarkan itu, Ti. Coba la buka pikiran kau itu. Kita harus lihat dunia. Buka mata. Dunia bukan hanya di Kemingking ini saja” Evan membalas. Kali ini ia benar-benar membuat Zawati mati suri tak berdaya.

“Sudahlah, Ti. Tidak Telap kau melawan Evan Dewekan. Dia itu keras kepala, tidak mau kalah” Husna berbisik kecil ditelinga Zawati. Ia melihat Zawati sudah lelah. Matanya merah, pandangannya hanya ada kebencian pada laki-laki itu.

“Tidak, Na. aku tidak terima dia merendahkan Bahasa kita. Bahasa nenek buyut kita”

“Iya kulo tahu. Tapi ini kau dewekan, Ti”

Zawati tidak pernah menghiraukan ucapan sahabatnya. Ia tidak marah jika dirinya diremehkan orang lain tapi ia akan marah jika sudah berkaitan dengan harga diri daerahnya, ia tidak pernah menyerah. Itu prinsipnya.

Mendengar itu, Lintang terperanjat. Ia memandang Evan. Matanya tajam sangat berisi. Ia melihatnya dengan benci. Ingin rasanya ia mematahkan ucapan Evan, ingin rasanya ia berdebat dengan Evan. Tapi, ia takut. Takut ditertawakan karena bahasanya.

“Aku tidak setuju dengan kau, Van! Kau boleh belajar Bahasa apa pun. Bahasa gaul, Bahasa asing sampai Bahasa binatang pun tidak apa. Tapi satu, Bahasa ibu kita jangan kau lupakan. Sebagai generasi muda, aku sangat mencintai Bahasa daerahku, aku bangga dengan Bahasa yang kau bilang kuno itu. Dengan Bahasa kuno itulah Kemingking ini berdiri, dengan Bahasa kuno itulah candi Gumpung masih berdiri kokoh sampai kini. Dengan Bahasa kuno itulah Telago Rago masih menyimpan airnya. Dengan Bahasa kuno itulah Kemingking dikenal. Selagi Kemingking ini berdiri selagi itulah aku mempertahankan Bahasa ibuku” suara Zawati menggema. Ia mencoba mempertahankan harga diri Bahasa daerahnya walau hatinya rapuh tak berdaya lagi.

“Orang desa bukan berarti tidak boleh punya cita-cita. Orang kota, orang desa sama saja. Kami juga punya cita-cita” Zawati sedikit tegar.

Evan terdiam. Ia melihat Zawati tidak enak. Matanya merah. Senyum sinisnya seketika menghilang. Hanya terlihat kebencian.

“Sudahlah, Ti. Lupakan saja cita-citamu itu. Kau urus saja Bahasa kunomu itu. Bahasa kuno kau itu tidak cocok dibawa ke kota. Malu Ti, malu” Evan tertawa kecil.

“Evan, Zawati cukup” Pak Indra melerai perdebatan.

Evan terdiam begitu pun dengan Zawati. Sejenak kelas sunyi tak bersuara. Hanya terdengar beberapa kali kicauan burung balam yang melompat dari satu ranting ke ranting yang lainnya. Harapan Zawati telah pupus. Laki-laki itu sudah menyakiti hatinya. Ia menggenggam tangannya agar tidak menangis. Ia mencoba tersenyum kecil melihat ke arah Pak Indra yang duduk di depan kelas. Dibalik senyumnya tersimpan luka di hatinya.

“Perdebatan ini tidak akan selesai kalau kalian seperti ini” ucap Pak Indra. Lalu kemudian.

“Evan” dari sudut kelas Lintang memanggil dengan suara yang keras.

Semua terdiam. Suara Lintang bagaikan gendang yang ditabuh. Dilihat dari raut wajahnya, sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu pada laki-laki itu. “Ayahku pernah bertanya padaku asal mula tanah Kemingking ini. Pernahkah kau tahu sejarah tanah ini, Van?”

Tiba-tiba lintang bangkit. Wajahnya serius. Matanya penuh dengan angan. Dia seperti orang lain pagi itu. Pak Indra hanya terdiam melihat Lintang berbicara. Matanya tertegun, mulut Pak Indra terkunci melihat bagaimana dengan lantangnya Lintang berbicara.

“Pernahkah kau tau sejarah Kemingking ini? Bagaimana para ninik mamak kita dahulu memperjuangkan tanah Kemingking dan mempertahankan Bahasa daerah ini? Kau seharusnya bijak dalam berkata. Walau kau tidak merasakan perjuangan mereka, setidaknya kau menghargai perjuangan mereka”

Evan terdiam. Tidak menyangka Lintang dengan begitu gagahnya berbicara seperti itu. Selama ini, ia hanya dikenal diam dan tidak peduli dengan pelajaran tapi kali ini dia mulai berbicara. Melihat itu, Zawati tersenyum kecil. Harapan dalam dadanya mulai timbul walau sedikit redup. Lintang harapan satu-satunya untuk memperjuangan argumennya untuk mempertahankan Bahasa daerah Kemingking.

“Sebagai generasi muda. Kalau bukan kita yang menjaga budaya kita siapa lagi? Kalau bukan kita yang melestarikan siapa lagi? Kita boleh saja menggunakan Bahasa asing tapi ingat Van, dengan Bahasa ibulah kau dibesarkan. Dengan Bahasa daerahlah kau mengenal Kemingking ini”

Evan tertegun. Begitu juga Pak Indra. Semua mata terbelalak melihat laki-laki itu. Ia begitu lihai membabat perkataan Evan. Zawati semakin lebar tersenyum ia tambah yakin akan mengalahkan Evan dalam perdebatan itu.

Suasana kelas semakin mencekam. Sunyi dan tak bersuara. Hanya suara Lintang yang terdengar. Hawa panas berubah menjadi dingin. Rimbunnya dedaun membawa angin sepoi masuk hingga menari-nari dikulit dinginnya terasa hingga ketulang.

“Aku tidak peduli sejarah Bahasa kuno ini. Bagiku Bahasa yang kau pakai itu kuno tidak ada kemajuan” Evan mencoba membela diri.

“Kalau begitu kau bukanlah generasi yang baik”

Evan bingung sekali-kali ia mengerutkan keningnya. “Maksudmu?” tanya Evan bingung

“Ingat kata Bung Karno jangan pernah melupakan sejarah. Ini akan membuat dan mengubah siapa diri kita. Kalau kau tidak tahu dan tidak menghargai sejarah Kemingking ini, maka kau tidak akan bisa mengubah bangsa ini. Asalkan kau tahu, Bangsa yang besar ialah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya. Begitupun dengan Kemingking ini. Sebagai generasi Indonesia kita wajib memperjuangkan tanah nenek buyut kita”

Suasana hening. Sesaat Lintang terdiam, ia mencoba menarik nafas dalam. Mencoba menenangkan dirinya agar tidak emosi. Zawati hanya tersenyum melihat kepandaian Lintang merangkai kata-kata. Evan tidak bersuara sekali-kali ia mencoba membantah namun suaranya tidak keluar. Lintang menjadi idola pagi itu.

“Kita wajib melestarikan budaya leluhur kita. Bahasa yang kita pakai inilah Kemingkingan sebenarnya. Kemingking tidak mengenal Bahasa yang kau sebutkan tadi. Kemingking tidak mengenal Bahasa alay yang kau utarakan tadi. Inilah kemingking dengan sejuta sejarah dan peradaban. Untuk Kemingking aku berdiri disini. Karena Kemingking aku hidup. Karena Kemingking aku bernafas. Selagi nyawa ada diraga maka Kemingking tetap ada. Selagi Telago Rajo menyimpan air, selagi Gumpung berdiri kokoh, selagi Astano tegak berdiri aku akan perjuangkan Bahasa Ibuku. Bahasa Kemingking. Bahasa pemersatu Bangsa” Lintang tak hanya dikenal pendiam, ternyata dia juga ahli sejarah. Ia banyak mengetahui sejarah daerah yang ia cintai, Kemingking.

“Apakah kau lupa Van. Ninik mamak, para tuo tuo tengganai dulu menitipkan Kemingking ini pada kita? Pada aku, kau kita semua. Jangan kau banggakan Bahasa alaymu itu. Jangan kau bangga dengan Bahasa penjajah kita dulu. Tapi banggalah dengan Bahasa daerahmu. Walau katamu kuno tapi ingat dengan Bahasa ibulah kau dibesarkan” tutupnya.

Sejenak semua terdiam. Beberapa detik tak terdengar suara apa pun. Zawati hanya tersenyum melihat Lintang, dia bagaikan pahlawan  pagi itu. Pak Indra senyum bangga, Lintang selama ini diam kini ia menunjukkan siapa dirinya. Dia adalah orang yang pertama menentang jika harga diri daerahnya di lecehkan, ia orang pertama memperjuangkan jiwanya jika harga diri daerahnya direndahkan. Evan hanya bisa tertunduk malu. Suaranya seketika menghilang.

Lintang, mutiara Kemingking. Didikan alam. Laki-laki lintas sejarah. Sang penjaga Kemingking. Pelindung negeri seribu candi. Ia terlahir dari alam Kemingking tanah Pusako Betuah wawarisan ninik mamak tuo-tuo tengganai.

CERPEN HARAPAN DARI KERTAS BURAM

 HARAPAN DARI KERTAS BURAM

Hujan terdengar riuh pecah ditelinga. Air yang berjatuhan mengenai setiap debu-debu yang bertaburan. Pagi itu, gerimis telah berubah menjadi hujan yang deras membuat gaduh setiap penduduk bumi, petir terdengar bersahut-sahutan diangkasa. Didalam kelasnya, Rangga duduk termenung sambil menatap ke langit biru yang telah berubah menjadi abu-abu.

Pagi itu suara hujan lebih enak didengar olehnya dari pada kertas putih yang bertinta hitam dihadapannya itu.

“Rangga?” panggil Bu Tina padanya. Rangga tidak menyadari panggilan itu, dia asik memandang langit nan jauh disana. Suara hujan sungguh enak di dengar olehnya.

“Rangga?” suara Bu Tina kembali menggema Rangga tak juga mendengarnya. Sepertinya hujan telah membawanya jauh pergi kenegeri fatamorgana, dunia hanya ada dirinya dan orang-orang yang dia sayangi.

“Ranggaaaa?” suara Bu Tina melengking terdengar keras hingga membuat semua siswa melihat kearah Rangga.  Mendengar suara keras itu Rangga terbangun dari lamunannya. Seketika ia kaget. Matanya terbelalak melihat wajah Bu Tina yang merah. Bagaikan singa yang siap menerkam.

Sesaat kelas sunyi hanya terdengar suara hujan dari pantulan atap kelas. Bu Tina terdiam sejenak mencoba mengatur nafasnya. Lalu kemudian “Apa kamu tuli? dari tadi saya manggil kamu?” suara lengkingan Bu Tina kembali menggema. Semua siswa tertunduk takut. Mereka sudah paham dengan Bu Tina kalau dia sedang marah.

 Apapun yang ada dihadapannya tidak akan lolos darinya. Jangankan Rangga gunung pun akan ia angkat kalau ia lagi marah begitu kata anak-anak pada Bu Tina yang dikenal dengan guru yang tegas itu.

“Mengapa kamu melamun? apa yang kamu pikirkan?” tanya Bu Tina pada Rangga. Raut wajahnya tidak berubah. Tetap menyeramkan bagi Rangga. Wajahnya memerah. Matanya membesar. “Apa kamu selesai ujiannya?” tanya Bu Tina kembali. Rangga menggelengkan kepalanya. Sekali-kali ia melihat kebawah menatap kertas putih yang belum ia sentuh dari tadi.

Sekolah bukanlah tempat yang nyaman bagi Rangga. Baginya, sekolah bagaikan jahanam yang membakar jiwanya. Dia benci ujian dia benci ulangan, dia benci tugas dia benci guru-gurunya yang jadul dan tidak gaul dia benci teman-temannya, dia benci bu Tina guru yang membuat hidupnya tidak nyaman disekolah.

Hujan mulai reda, hawa dingin perlahan menghilang kini mulai terasa panas masuk disela-sela jendela kelas. Rangga benar-benar tidak enak. Entah mengapa ia merasa hari ini terasa berbeda. Apa yang ia rasakan semuanya tidak enak dijiwanya. Ia melihat kearah bu tina yang sedang menulis, entah apa yang ia tulis. Rangga tidak peduli. Ia menengok ke kiri dan ke kanan. Semua orang tertunduk mulutnyanya komat kamit seperti lagi berzikir, matanya kenanan kekiri membaca setiap kalimat dikertas putih itu.

“Waktunya tinggal 20 menit lagi” suara bu Tina kembali menggema

Suara Bu Tina sungguh tidak enak didengar oleh Rangga. Ia ingin cepat-cepat keluar dari kelas yang membuatnya tidak enak itu.

“Ngga..Ngga” tiba-tiba bahu Rangga dipukul oleh Gery. Ia menoleh, Gery sepertinya cemas karena ia belum juga menyelesaikan ujiannya. Rangga tak bersuara. Ia hanya mengangkat sedikir kepalanya tanda memberi isyarat

“Apa”

“Kamu sudah selesai belum?”

“Belum”

“Nomor 7 apa jawabannya?”

“Aku belum selesai. Kertas aku masih kosong ni” tunjuk Rangga

“Wwaahh. Para kamu. 20 menit lagi waktunya mau selesai”

“Terus bagaimana?” sambung Ragga

“Oke. Aku ada ide?”

“Apa?” lanjutnya

“Sekarang keluarkan kertas itu!” bisik kecil Gery pada Rangga

“nanti ketahuan sama bu Tina. Jangan cari gara-gara kamu”

“Tidak Ngga, ayolah cepat lihat. Bu Tina tidak bakalan tahu kalau kamu tidak kasih tahu”

“Waktunya tinggal 5 menit lagi” suara bu Tina kembali terdengar mendesak ditelinga Rangga. Mendengar itu, kelas kembali riuh. Suara terdengar pecah. Semua panik. Suasana kelas tak menentu. Gery mencoba merayu Rangga. Ia mengeluarkan seribu jurusnya agar Rangga mau melihat kertas putih buram yang telah ia siapkan dari semalam. Namun, hati kecilnya berkata tidak. Ia tahu resiko yang akan ia dapat jika ketahuan menyalin dari kertas itu.

“Ayo, Ngga. Waktunya mau habis ni. Kamu mau nilai kamu jelek?” Gery mencoba merayu kembali kali ini ia sangat mendesakkan Rangga. Pikiran Rangga kacau. Ia gelisah. Ia melihat ke kanan dan ke kiri. Matanya tak menentu. Sekali-kali ia melihat ke Bu Tina yang sedang merapihkan mejanya dari buku-buku.

“Ayo, Ngga!”

“Aku takut, Ger”

“Tidak apa-apa. Tidak akan ketahuan. Waktunya mau habis ni”

Rangga tergoda. Jiwanya memberontak. Hati kecilnya tidak bisa ditahan atas rayuan Gery yang terus mendesaknya. Ia membukanya dengan perlahan. Ia menengok-nengok ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada yang melihatnya termasuk bu Tina. Hatinya bergetar hebat. Sekali-kali Terbesit dihatinya jika ia didapat oleh bu Tina tengah melihat jawaban dari kertas buram itu.  Ia menulis dengan cepat. Tanggannya bergoyang dengan hebatnya menulis setiap kata, setiap kalimat dari kertas buram itu. Harapannya terpenuh sudah. “aku pasti mendapatkan nilai yang bagus” gumamnya dalam hati.

Wajahnya yang tegang mulai menghilang, seiring dengan waktu berakhir. Ia semangat menulis begitu pun dengan Gery. Sungguh ia sangat beruntung. Waktu kian mendekati titik akhir ujian. Beberapa siswa telah menyelesaikan tugasnya. Tinggal beberapa siswa yang tertinggal. Kelas kembali kondusif. Hawa panas mulai masuk ke kulit terasa hingga ke ubun-ubun. Mata bu Tina melihat kemana-mana. Ia memastikan siswanya benar-benar bekerja dengan baik. Dan seketika ia berteriak.

“Ranggaa!”

Mendengar itu Rangga terbangun dari kekhusukkannya. Ia kaget. Dilihatnya Bu Tina yang berdiri di depan kelas.

“Apa itu, Rangga?” sambungnya

Rangga tak bersuara. Hatinya kecut. Wajahnya mulai pucat. Sekali-kali ia melihat kearah Gery. Ia mencoba menyembunyikan kertas buram itu dari tangannya. Namun, sayangnya bu Tina terlanjur melihatnya. Kaki bu Tina melangkah mendekati Rangga. Melihat itu, Rangga tertunduk takut. Ia merasa hidupnya tidak lama lagi. Bu Tina bagaikan malaikat maut yang siap menyabut nyawanya.

“Keluarkan!” pintanya Rangga tak berdaya. Ia hanya tertunduk malu dan takut. Keringat dingin mulai membasahi badannya. “t..t..tidak, bukan apa-apa bu” Rangga tergagap

“Keluarkan!” pinta bu Tina kembali dengan nada yang cukup tinggi

Wajah Rangga pucat pasih seperti cendawan dibasuh. Ia benar-benar tak berdaya. Darahnya terasa panas, jantungnya berdetak kencang. Matanya merah. Sungguh ia benar-benar tak berdaya. Lalu ia mengeluarkan kertas buram itu dari laci mejanya. Ia mengulurkan pada bu Tina. Lalu wanita itu pun mengambilnya. Perlahan ia membolak-balikkan kertas itu. Ia membacanya setiap kalimat. Lalu kemudian.

“Kamu mencontek, Ngga?”

Selesai sudah hidup Rangga. Ia tak berdaya. Ia tidak bisa menghela lagi. Harapan satu-satunya sudah ditangan bu Tina. Ia hanya bisa tertunduk malu. Suara bu Tina pecah ditelinga Rangga, suara itu lebih seram daripada suara petir. Sungguh Rangga tak berdaya.

“Saya minta maaf, Bu” mohonnya

Wajah Rangga sungguh iba. Suaranya parau tak berdaya. Ia hanya pasrah pada Bu Tina. Ia tak melihat wanit itu ia hanya menundukkan kepalanya dari tadi. Melihat Rangga, bu Tina menajdi iba. Ia merasa bersalah membuat Rangga seperti itu. Lalu ia berkata

“Untuk apa kamu berharap pada kertas buram ini. Ia tidak akan bisa membuat massa depanmu lebih baik. Yang mengubah massa depan kamu itu adalah diri kamu sendiri. kalua kamu tidak percaya dengan diri kamu sendiri bagaimana kamu bisa mengubah massa depanmu lebih baik. Lain kali jangan mencontek lagi. Kali ini ibu memaafkan kamu. Ibu yakin kamu bisa jika kamu berusaha keras. Lanjutkan ujiannya” tutup Bu Tina.

Rangga kaget. Matanya membesar. Bukan karena hukuman dari Bu Tina. Tapi ia benar-benar kaget. Hatinya tak bisa tergambarkan dengan apa-apa. Benarkah itu Bu Tina? Apakah itu malaikat penolong saya? Ataukah itu malaikat maut menjelma jadi Bu Tina? Gumamnya dalam hati. Hari itu memang hari keberuntungan baginya. Rangga selamat dari cengraman Bu Tina. Ia merasa lega. Nafasnya berhembus dengan lapang. Sungguh ia beruntung. Ia tertunduk malu. Ia merasa pesan Bu Tina memang ada benarnya ia sudah berharap pada kertas buram dan tidak percaya pada dirinya sendiri. Terima kasih Bu Tina.

 

Kamis, 17 September 2020

Berkarya Ditengah Pandemi

Corona Virus Disease

Mendengar kata ‘virus’ yang terbayang dibenak saya adalah organisme kecil yang menyerang kekebalan tubuh manusia. Jika virus menang maka manusia akan sakit dan bisa disembuhkan dalam bebarapa hari saja. Sejuah ini saya hanya mengenal beberapa virus saja seperti virus flu burung, SARS, MERS, ebola dan lainnya. Namun ketika akhir 2019, dunia dihebohkan dengan kemunculan virus baru yaitu Corona virus disease (covid-19) yang berasal dari negera tembok raksasa yaitu kota wuhan. Dalam pikiran saya, corona virus sama seperti virus lainnya tidak begitu berbahaya jika manusia terinfeksi. Tetapi, berbeda dengan kenyataannya sampai saat ini covid-19 sudah menyerang sekitar sekitar 29 juta orang di dunia. Termasuk Indonesia, hingga saat ini kasus di Indonesia terus meningkat. Ini membuat sebagian besar sekolah di Indonesia tutup dari awal April 2020.

Ilustrasi Virus Corona 2019-nCoV (Public Domain/Centers for Disease Control and Prevention's Public Health Image)

Covid-19 di Jambi

Kehadiran virus covid-19 di Jambi turut mewarnai kehidupan masyarakat dengan berbagai dampak dan fenomena yang ditimbulkannya. Salah satunya adalah berdampak pada ekonomi dan Pendidikan. Sekitar 3 bulan sekolah di Jambi tidak ada aktivitas belajar mengajar. Siswa dianjurkan belajar dari rumah. Hal tersebut merupakan tindak lanjut surat edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan Corona Virus Disease (Covid-19) pada satuan Pendidikan dan arah Direktur Jenderal Kebudayaan terkait area layanan publik serta sebagai upaya dalam menjaga dan melindungi masyarakat guna mengantisipasi penyebaran virus Covid-19.

Kondisi Tugu Keris Siginjei Sepi (metrojambi.com)


Kondisi Jl. Gatot Subroto Jambi (metrojambi.com)

Ini membuat saya dan guru-guru yang lain harus memutar otak mencari cara agar proses pembelajaran online menarik dan tidak membosankan. Seribu cara yang dilakukan guru agar materi pembelajaran tersampaikan dengan baik. Mau tidak mau guru-guru harus beradaptasi dengan model pembelajaran berbasis digital. Kehadiran covid-19 ibarat seperti pedang bermata dua, jika guru memanfaatkan kondisi ini dengan baik, maka dalam membentuk karakter peserta didik akan tercapai, jika tidak dimanfaatkan dengan baik, maka pembentukan karakter peserta didik akan sulit tercapai. 
Kehadiran coronavirus ternyata membawa dampak positif terhadap dunia Pendidikan, bencana kesehatan ini memaksa semua pegiat pendidikan “hijrah” memanfaatkan teknologi dalam mengajar ditengah pandemi ini.

Indahnya menyapa melalui aplikasi zoom

Majelis Pagi bersama anak-anak dengan zoom

Tetap Tersenyum meski hati diselimut kerinduan

SMPIT Nurul ‘Ilmi Jambi

Nuansa sepi tanpa katifitas anak-anak terlihat disetiap sudut mata memandang. Hanya terlihat daun-daun yang bergoyang. Tidak terdengar hiruk pikuk suara anak-anak. Mereka dirumah, mereka belajar dari rumah. Setidaknya tiga bulan lamanya Nurul ‘ilmi sepi senyam tanpa lantunan Al-Quran terdengar. Ini membuat hati saya dan para guru lainnya merasa sedih tidak bisa menyapa dan bersalaman dengan sang penjaga wahyu Allah.

Kegiatan Siswa Sebelum Pandemi

Kegiatan Ikrar Pagi Sebelum Pandemi


Indahnya Shalat Dhuha sebelum pandemi








Belajar dan Bermain


Kunjungan Ke Panti Asuhan




Keseruan Kegiatan Pramuka Sebelum Pandemi

Menghafal Kosa Kata Asing

Corona benar-benar membuat saya memutar otak dalam mengajar bagaimana cara membuat pembelajaran menarik dilakukan selama anak-anak dirumah. Belajar dengan bermain mungkin menjadi solusi yang tepat dalam menciptakan suasana menarik selama belajar dirumah.

Pembelajaran berbasis proyek menjadi salah satu pembelajaran yang sering saya lakukan dalam menciptakan suasana baru ketika mengajar daring. Belajar berbasis proyek menanamkan karakter mandiri dan disiplin pada peserta didik.





Sekolah Tatap Muka di Massa Pandemi
Jambi merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang termasuk dalam zona kuning, pada tahun ajaran baru kementerian Pendidikan Indonesia memperbolehkan siswa sekolah di zona kuning dan hijau. Kabar ini sangat menggembirakan bagi saya dan anak-anak. Namun, siswa masuk dengan protokol kesehatan yang sangat ketat.







Harapan saya dan semua orang. Semoga para guru selalu memberikan yang terbaik pada anak bangsa dalam membentuk karakter peserta didik ditengah pandemi. Saya berdoa pandemi ini segera berlalu...

#CerdasBerkarakter, #BlogBerkarakter, #SeruBelajarKebiasaanBaru, dan #BahagiaBelajardiRumah 



Inovasi Media Pembelajaran Berbasis Android

PEMBELAJARAN IPA TERINTEGRASI ETNOSAINS Kurikulum merdeka belajar memiliki empat karakteristik utama untuk mendukung pemulihan pembelajaran ...