Minggu, 27 Agustus 2023
Model dan Evaluasi Pembelajaran Sains: Peran Teknologi Dalam Dunia Pendidikan Saat Ini
Sabtu, 25 September 2021
BERKAH BELAJAR DI RUMAH
Jujur
saja, aku sangat kesulitan belajar daring. Selain karena pelajaran kurang
mengena, aku punya masalah lebih pelik. Kekurangan fasilitas internet. Gawai di
rumahku hanya ada enam. Dipakai untuk delapan orang. Sebenarnya anggota keluargaku
ada sembilan, tetapi adik bungsuku belum bersekolah. Mungkin sah-sah saja bagi
kalian enam gawai untuk delapan orang. Tetapi
kalian harus tahu tentang hal ini sebelum kalian menyimpulkannya.
Jadi
enam gawai tersebut terdiri dari empat handphone,
itu pun sudah lama, kecuali handphone Ibu
yang dibeli untuk keperluan bekerja (awalnya Ibu tidak memiliki handphone), dan dua laptop. Satu laptop
Bapak, dan yang satunya adalah laptopku. Kubeli memakai uangku sendiri, hasil
mengikuti beberapa lomba.
Yang
sering dipakai untuk keperluan belajar adalah tiga gawai. Yaitu laptopku, handphone Ibu, juga handphone Bapak. Karena laptop Bapak dipakai untuk bekerja dan juga
dua handphone lainnya adalah milik
dua abangku, jarang mereka mengizinkan untuk memakai handphonenya. Yang memakai tiga gawai itu untuk keperluan belajar
ada tiga orang. Aku dan dua adik laki-lakiku. Tetapi masalahnya, yang memakai
untuk keperluan bekerja adalah orang tuaku. Jarang kami bisa memakainya untuk
belajar. Yang tersisa hanya laptopku. Tetapi menjadi percuma, karena tidak
memiliki jaringan.
***
Aku memiliki banyak hambatan dalam belajar
daring, karena ketiadaan gawai. Hanya saat ujian saja aku bisa memakainya. Di
luar ujian, memakai gawai yang memiliki jaringan internet itu merupakan sesuatu
yang sulit.
Karena
aku tidak belajar, aku memutuskan untuk beralih ke kesibukan yang lain. Semenjak
ibu bekerja, aku yang mengerjakan tugas rumah. Menyapu, mengepel, dan memasak.
Menyapu dan mengepel paling menyebalkan. Aku memulainya dengan membereskan
ruang keluarga. Mengusir orang yang masih santai sembari menonton Televisi.
Menyuruhnya jangan bersantai-santai. Lakukan sesuatu, jemur baju, cuci piring,
atau apalah. Lalu mulai menyapu, dilanjutkan dengan mengepel dan membereskan
kamar.
Setelah
kamarku bersih, aku pergi ke dapur. Yang pertama kulakukan adalah memindahkan
piring, peralatan masak, yang sudah kotor ke bak cuci piring. Lalu menyusun
peralatan yang sudah dicuci di rak kaca. Mengelap meja makan. Dan yang sungguh
menyebalkan adalah mengelap kompor.
Sebenarnya
tidak sulit membereskannya. Yang sulit adalah aku dengan perasaan lapang dada
ketika mengelapnya. Aku keberatan sekali aku harus mengelap kompor. Karena,
bukan aku yang menyebabkan kompor kotor. Aku selalu menggunakannya dengan
hati-hati agar tidak ada noda yang jatuh ke kompor setelah aku bersihkan.
Kalaupun ada noda yang mengenai kompor, aku langsung mengelapnya sampai bersih
semula. Tetapi jika orang lain yang memakainya, kompor bertumpah banyak noda.
Banyak sekali noda yang aku temukan disana. Bekas nasi goreng, noda bumbu,
garam, minyak, tepung, dan noda-noda yang lainnya. Tetapi aku tetap mengelap
kompor meskipun aku kurang senang melakukannya. Karena itu akan berdampak pada
pekerjaanku. Aku tidak suka ketika aku memasak dengan dapur yang keadaannya berantakan.
Setelah
ketiga ruangan itu bersih, aku melanjutkannya dengan memasak tentunya. Karena
dapurnya telah aku bersihkan, memasak jadi lebih menyenangkan. Berhubung dengan
memasak, tentu kita memerlukan bahan-bahan. Dan bahan-bahan itu didapatkan
dengan membelinya. Jadi tugasku berbelanja. Untungnya, kami memiliki tukang
sayur langganan. Yang setiap hari mendatangi setiap rumah. Jadi aku tidak perlu
repot-repot ke pasar untuk membeli bahan-bahan masakan. Karena kendaraan
dirumahku jarang ada.
***
Awalnya aku tidak bisa memasak lauk pauk. Jadi
aku selalu membeli sesuai pesanan ibu ketika belanja, dan menanyakan cara
mengolah bahan-bahan yang ibu pesan tadi. Awalnya yang paling sering aku masak
adalah kangkung. Aku mengolahnya menjadi cah kangkung. Itu selalu enak. Bosan
memasak kangkung, aku mulai bertanya pada ibu bagaimana cara membuat buncis
tahu kecap. Ibu memberi tahu resepnya, lantas aku membeli bahan-bahannya dan
mulai mencoba resep dari ibu. Ternyata berhasil. Mudah sekali. Aku mencoba
membuat sop ayam. Aku meminta resepnya kepada ibu. Aku coba untuk membuatnya.
Sukses. Aku mulai lihai dalam hal memasak.
Aku
pun mulai tertarik untuk membuat berbagai macam kue dan roti. Untuk roti dan
kue, resepnya tidak kudapatkan dari ibu. Karena ibuku kurang ahli dalam membuat
roti dan kue bolu. Jadi aku berselancar di dunia maya. Mencari resep dari
beberapa kanal Youtube. Aku membuatnya
untuk keluargaku. Terkadang aku ingin memberi tetangga kue buatanku. Tetapi,
aku malu karena boluku belum sebagus buatan tetanggaku.
Seiring berjalannya waktu, karena aku selalu
belajar untuk memperbaiki kesalahanku, boluku semakin hari semakin enak. Saat
ibu membawanya ke tempat kerja, temannya tidak menyangka brownies yang ibu bawa
adalah buatanku. Karena rasanya seperti yang dijual di gerai yang sudah
terkenal di Indonesia. Seperti brownies Amanda.
Aku
menjadi percaya diri untuk berjualan bolu dan roti. Awalnya aku mencoba untuk
berjualan roti sobek. Ibu membelikan bahan-bahan yang aku perlukan. Aku
menghitung modal dan menetapkan harga yang sesuai. Pelanggan pertamaku adalah
teman ibu. Beliau membelinya agar aku semakin semangat berjualan. Beliau
memesannya melalui via whatsapp.
Awalnya,
aku yakin sekali roti sobekku akan matang dengan hasil yang memuaskan. Tetapi,
ketika mengeluarkannya dari oven, ternyata rotiku mengkerut di bagian atasnya.
Bagian bawahnya pun keras. Sepertinya karena terlalu lama di oven. Akhirnya
roti sobek itu tidak jadi dijual. Roti sobek itu langsung diserbu dengan
saudaraku. Mau hasilnya seperti apa juga, mereka tetap memakannya.
Apakah
ada yang salah dengan adonannya? Atau mungkin teknik memanggangku yang salah.
Aku tidak putus asa, aku mencobanya lagi. Dengan resep yang berbeda, yang lebih
meyakinkan. Tetapi hasilnya sama saja.
Atau
mungkin karena ovenku. Ovenku memakai oven tangkring. Agak sulit memang.
Apalagi ovenku tidak ada api atas, jadi mungkin matangnya tidak merata. Itu
yang menyebabkan bagian bawah roti, matang lebih cepat sehingga mengeras.
Bagian atas rotinya malah mengkerut. Aku memilih untuk tidak melanjutinya.
Masalahnya ada di ovennya. Itu berarti harus membeli oven yang memiliki api
atas dan api bawah, agar roti matang sempurna. Tetapi aku belum memiliki uang
untuk membeli oven. Aku harus mencari jenis makanan yang paling mudah aku buat
dan paling digemari pembeli.
***
“Adinda,
kamu sudah menemukan makanan untuk dijual? Ada sekolah berasrama yang belum
memiliki jajanan. Mereka ingin menjual makanan yang sehat dan enak.”
Ibuku
menawarkan lagi untuk berjualan. Nantinya daganganku dititipkan di toko sekolah
tempat ibu mengajar. Aku mulai mencari-cari dagangan apa yang harus aku buat.
Ketika mengutak-atik internet, aku menemukan sebuah resep yang cocok untuk
berjualan.
Awalnya
aku ingin berjualan bolu, tapi setelah kupikir-pikir bolu terlalu biasa. Orang
mungkin bosan dengan bolu. Karena pangsaku adalah anak-anak asrama, mungkin
mereka membutuhkan sesuatu yang segar. Kutemukanlah resep puding sedot.
Aku
mencobanya terlebih dahulu. Pertama aku membuat puding sedot, ketika puding
sedotnya kumasukkan ke dalam kulkas dan setelah dingin, puding sedotnya pecah
dan menyebabkan warnanya terpisah, sehingga membuat pudingnya berair. Selain penampilannya menjadi kurang layak dan
kurang menarik, puding menjadi cepat basi.
Aku
mulai ragu, bisakah aku meneruskan usaha ini, atau aku menyerah saja…?
“Ibu,
sepertinya aku tidak mau membuat apapun lagi, aku tidak mau jualan, aku selalu
gagal, aku kesal….”
Ibu memberitahuku, mungkin karena aku tidak
mengaduknya secara terus menerus. Memang, aku meninggalkan panci yang berisi
puding yang sedang dimasak sampai mendidih. Aku tidak mengaduknya. Karena aku
merasa pegal jika mengaduknya terus menerus. Tetapi mau bagaimana lagi, hanya
itu kuncinya untuk membuat puding sedot menjadi tidak berair lagi.
Baiklah.
Aku mencobanya sekali lagi. Kali ini tanganku tangguh mengaduk panci yang
berisi puding. Aku mengaduknya dengan
whisk secara perlahan. Agar pudingku tidak bertumpahan. Lima menit cukup
untuk memasak puding menjadi matang. Aku memasukkannya ke dalam kulkas, setelah
aku menuangkan puding yang telah dimasak ke dalam kemasan. Aku menunggu
pudingku dingin. Kali ini bisakah pudingku menghasilkan penampilan yang bagus?
Harap-harap cemas aku menunggunya.
Aku
membuka kulkas, memastikan pudingku sudah dingin. Setelah aku cek, pudingku
sudah dingin. Aku tersenyum senang. Kali ini, pudingku tidak pecah, hasilnya
memuaskan. Aku semakin percaya diri untuk berjualan.
Setelah
kurasa aku sudah menemukan kunci untuk membuat puding sedot yang enak, Aku
meminta ibu untuk membeli bahan-bahan yang aku perlukan. Semuanya kulakukan
sendiri. Bermodalkan spidol permanen, aku menggambar kemasannya agar menarik.
Karena aku tidak terlalu pandai menggambar, aku suka menjiplak gambar yang ada
di sampul buku tulis. Atau yang mudah, aku menggambar wajah dengan ekspresi
yang berbeda-beda.
Tak
disangka, ternyata puding sedotku laku. Bahkan dalam sehari, 50 bungkus habis.
Uang hasil jualan itu aku tabung. Karena aku tergoda sekali untuk membeli logam
mulia. Karena ibu kerap mengatakan kepadaku kalau harga emas itu selalu naik
setiap tahunnya.
Aku
ingin mulai membelinya dari ukuran yang kecil. Seberat 1 gram. Tak mudah
perjuanganku untuk mewujudkan anganku. Aku setiap hari harus memproduksi 50
puding sedot. Dengan jumlah itu aku mengumpulkan uang lebih banyak. Setiap kemasan
kuhargai sebesar Rp 3000, 00 . Jadi omsetku Rp 150.000, 00 setiap harinya.
Waktu
yang kuperlukan untuk memproduksi 50 puding sedot rata-rata adalah sekitar 3
jam. Namun begitu, aku tetap melaksanakan tugas rumahku, yaitu menyapu,
mengepel, memasak. Karena itu jika malam tiba, adalah waktu yang paling nikmat
untuk merebahkan diri. Tubuhku pegal sekali seharian bekerja tiada henti.
***
“Ibu, ayo kita beli emas!”
“Uangmu
sudah cukup?” tanya ibu.
Aku
mengangguk mantap. Lalu menunjukkan uangku.
“Tentu sudah,” jawabku.
Akhirnya,
kerja kerasku terbayarkan. Ibu menghubungi temannya yang menjadi agen penjualan
emas batangan. Kami mendatangi rumahnya dan akhirnya, aku menggenggam emas 1
gram itu. Hasil kerja kerasku.
Selain
berjualan, aku pun kini berburu berbagai lomba. Rencananya, jika aku
memenangkan lomba tersebut, uangnya akan kubelikan sesuatu yang bermanfaat.
Disamping
membeli sesuatu yang bermanfaat, dan bernilai ekonomis juga dapat menghasilkan
sesuatu, aku suka membelanjakannya untuk menambah koleksi bukuku. Tetapi aku
membelinya bukan hanya untuk sekedar suka. Aku membelinya sebagai bahan amunisi
untuk menambah perbendaharan kosakata dan wawasanku dalam berkarya. Aku tidak
suka membeli sesuatu yang hanya untuk kesenangan sementara. Misalnya, gawai, yang
aku anggap belum aku perlukan untuk saat ini. Karena, aku bisa meminjamnya dari
orang tuaku. Gawai menurutku hanyalah suatu pemborosan uang dan waktu. Kita
jadi harus membeli kuota, dan menghabiskan waktu bermain gawai.
Namun,
masa pandemi ini merubah segalanya. Kegiatan belajar-mengajar tidak bisa lagi
dilakukan dengan tatap muka, atau datang langsung ke sekolah. Pembelanjaran
kini dilakukan dengan cara jarak jauh. Itu berarti diperlukan gawai sebagai
medianya. Karena itu aku merasa perlu untuk membeli gawai, agar aku dan
adik-adikku bisa mengikuti pelajaran yang diberikan guru-guru kami melalui
gawai. Gawai yang tadinya merupakan kebutuhan tersier, atau kebutuhan yang bisa
diabaikan, sekarang menjadi kebutuhan utama atau premier, bagiku sebagai
seorang pelajar.
Untuk
meminta kepada orang tuaku, aku enggan. Karena bagiku, tangan di atas lebih
baik daripada tangan di bawah. Karena itu aku berburu berbagai lomba cerpen
yang berhadiah uang, seperti lomba cerpen ini. Harapanku, jika aku memenangkan
lomba ini, aku akan membelikan gawai untuk keperluan belajar, aku dan
adik-adikku.
Dari
semua kejadian itu aku belajar untuk terus produktif semasa di rumah. Masa di
rumah bukanlah masa untuk berleha-leha. Tetapi masa untuk belajar, belajar
untuk menjadi lebih baik. Masa untuk memikirkan bagaimana keadaan kita setelah
pandemi berlalu. Apakah kita ingin tetap sama seperti saat ini. Atau kita akan
berubah lebih maju.
Belajar
tidak hanya di sekolah. Di rumah kita belajar untuk membantu orang tua. Mungkin
dulu kita tidak pernah bisa memasak. Tapi karena di rumah kita lapar, dan
terpaksa untuk memasak kita jadi bisa memasak. Kita belajar untuk mengurus
rumah. Tetapi tentu saja pendidikan sekolah juga penting. Seimbang ilmu yang kita miliki. Di sekolah kita belajar
berhitung, pengetahuan. Di rumah kita membutuhkan ilmu yang tidak akan
didapatkan hanya dari buku pelajaran. Seperti pengalaman. Ilmu bersabar. Ilmu
untuk menghargai. Saling mencintai dan menghargai dengan sesama keluarga. Bukan
hanya semata-mata tahu dan hapal tentang toleransi di mata pelajaran PKN, tapi
kita dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari di rumah. Lingkungan dan
rumah adalah tempat untuk kita mengaplikasikan ilmu yang kita pelajari di
sekolah.
Kawan,
jangan pandang pandemi dengan benci. Jadikan ia sebagai motivasi untuk terus
berinovasi. Jangan hanya duduk tergugu. Tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Tapi bangkitlah, dan tunjukkan bahwa kita masih tetap berkarya walau dari
rumah.
Tetaplah mematuhi protokol kesehatan. Demi keselamatan dan keamanan. Jangan lupa untuk olahraga, makan makanan yang bergizi, menjaga pola tidur dengan cara tidak tidur larut malam. Dan yang lebih penting adalah, meningkatkan iman, agar meningkat imun kita. Semoga pandemi cepat berlalu.
BENIH PESONA JORA
Matahari terbenam indah,
kawanan burung burung beranjak pulang, warna jingga menguasai langit, pesonanya
lekat dan menawan, senja tiba lagi, mengingatkan kembali atas pahit dan manis
sebuah pencapaian, seolah memutar kembali denyut waktu keadaan, dalam
sekejap membuat siapapun terhenyak oleh
syahdu, banyak yang berubah dalam hidupku, tapi aku masih Jora yang dulu, Jora
sepuluh tahun lalu, gadis keras kepala yang selalu ingin tahu.
***
Sepuluh tahun lalu,
Pagi baru saja menyapa,
matahari belum sempat memperlihatkan sinar terangnya, hujan membungkus kota
kami, nikmat yang diberikan oleh sang pencipta. Aku tidak akan bercerita
tentang pagi yang dipenuhi teriakan Ibu yang menyuruhku cepat untuk bersiap ke
sekolah, atau Ayah yang membunyikan klakson mobilnya berulang kali agar aku
mempercepat sarapanku. Hari ini, besok, atau besoknya lagi, aku tidak akan
berangkat ke sekolah, apa aku sedang liburan? Tentu tidak, aku benar benar
berada di rumah selama satu bulan ini, virus yang mewabah di negaraku, adalah
penyebabnya.
Corona virus,
kata-kata yang tidak asing di telingaku, atau bahkan sangat tidak asing. Aku
mendengarnya saat sedang menonton televisi di pagi, siang, dan sore hari, kata-kata itu tak pernah absen
diucapkan. Virus jahat yang membuat aku dan keluargaku mengurung diri, yang
membuat kami enggan menyapa dan menyalami satu sama lain, yang membuat sebuah
jarak antara kami, membuat semuanya memisahkan diri dari keramaian, dan yang
membuatku sangat amat merindukan ayahku, seorang garda terdepan, lelaki paling
hebat di mataku.
Setelah sarapan, aku
bersiap mengikuti pembelajaran online yang disediakan sekolahku, mengerjakan
berbagai tugas dan menonton video pembelajaran yang diberikan. Pembelajaran
menjadi sangat terbatas karena wabah virus ini, aku memutuskan untuk lebih
banyak belajar sendiri, membaca seluruh isi buku pelajaran dan menguasainya
secara mandiri tiap materinya, aku tidak akan kalah dari virus ini. Virus ini tidak akan bisa mengubah
Jora si gadis giat menjadi malas, aku menolak bersantai selama karantina, aku
memikirkan banyak hal, setelah ayahku menelepon dan berkata,
“Kau selalu bilang
ingin jadi orang hebat Jora, tapi apa yang kau lakukan untuk itu, nak? Virus
ini semakin mewabah, mengalahkan berbagai tubuh manusia, dan apa kau akan
biarkan dia mengalahkan semangatmu juga?”
Senja mulai pergi, malam
perlahan menjelang, para penghias langit malam mulai memunculkan diri, langit
semakin gelap, jutaan bintang bertebaran di penjuru langit, pesona bulan terlihat
indah, terang membulat. Aku masih memperhatikan bulan dari jendela kamarku.
Ibuku berteriak, membuyarkan lamunanku.
“Ayah..”
Tubuhku melemas saat
ibu menyebut nama ayah, penglihatanku menghitam, nafasku tersendat. Tidak ada
yang tahu kalau ayah terinfeksi, Ayah terinfeksi tanpa gejala. Ayah pergi, Aku
memeluk ibu dan menenangkan adikku. Menangis? Tidak sama sekali, putri sulung
di keluarga harus kuat, sesakit apapun hatinya. Aku, Jora Alana, putri sulung
keluarga, tidak akan mau kalah dari virus ini.
Keadaan semakin buruk, banyak
orang-orang tidak memakai masker karena tak
sanggup membelinya, setiap hari sabtu aku turun ke jalan membagikan
masker kain, mengunjungi rumah orang tidak mampu untuk berbagi makanan, mereka
kehilangan pekerjaan, aku berbincang sedikit dengan pedagang bakso bakar yang
jualannya tidak laku, aku merasa iba, virus ini benar benar membuat semua orang
kesusahan. Aku tidak tinggal diam, aku selalu berpikir bagaimana caranya gadis
15 tahun ini membantu memperbaiki keadaan.
Bagaimana dengan kartu
pendeteksi virus? Aku langsung membuka beberapa artikel tentang beberapa bahan
yang bisa mendeteksi virus, dan langsung membelinya. Apakah aku benar benar
bisa membuatnya? Tidak ada yang tahu jika aku belum mencoba bukan? malam
semakin larut, aku masih sibuk merancang kartuku. Apakah alat ini bisa menjadi
harapan baru di tengah pandemi? Aku sangat berharap alat ini membantu. Aku
mengusap muka,mengusir rasa kantuk.
Cahaya para penghias
langit malam hampir pudar, hari sudah subuh, dan aku sadar aku belum tidur
hingga pagi, kartuku sudah jadi, semoga ini benar benar berfungsi. Aku amat
gugup, tapi aku berharap lebih pada kartu ini. Aku tidak tahu ingin membawa
kartu ini kemana, dan aku memutuskan untuk ke rumah sakit ayah dulu, tempatnya
bekerja dan gugur. Aku ingin menemui temannya yang juga seorang dokter hebat
seperti ayah.
“Dia sedang sibuk, anda
ada perlu apa?”
Jawab seorang perawat, aku
bilang ini sangat mendesak, dan dia tetap tidak mengizinkan aku menemui om
Arai, aku bersikeras dan membuat kegaduhan di ruangan konsultasi. Mungkin ia
berpikir aku hanyalah anak kecil yang tidak tahu apa apa.
“Aku kenal dia!”
Seru om Arai
menghentikan aku yang sedang betengkar dengan perawat itu. Aku tersenyum penuh
kemenangan.
“Jora? Ada perlu apa?” Tanya
om Arai
Aku menyerahkan kartuku
dan menjelaskan kegunaannya.
“Kartu ini bekerja
untuk mendiagnosis virus corona secara cepat dan akurat dari jarak lima
meter, alat ini bekerja dengan mengambil sampel hembusan napas, jika ada yang
terjangkit dari jarak lima meter, sensor-sensor didalam sini akan menginderanya
dan berbunyi dengan sendirinya”
Aku menjelaskan lebih
banyak hal tentang kartuku yang bekerja dengan mengambil sampel hembusan napas
ini. Para perawat menggeleng tidak percaya meremehkan. Aku benar-benar kesal.
“Kami akan periksa lagi
kartu buatanmu Jora, aku benar-benar tidak bisa meremehkan anak dari dokter
hebat ini bukan?” Om Arai tersenyum.
“Yang benar saja, dok”
Seorang perawat protes
karena menganggap kartuku hanyalah lelucon anak-anak biasa, aku sudah bersiap
ingin adu debat dengannya, sampai seorang ibu-ibu datang dan ingin konsultasi
atas penyakitnya, dan tiba-tiba alatku berbunyi nyaring.
Para perawat saling
bertatapan, suasana tiba-tiba menjadi hening, aku memundurkan langkah menjauh, begitu pula yang lainnya. Semua
orang hampir panik sampai om Arai berseru memanggil beberapa garda terdepan, ibu
itu diminta diam dan menuruti protokol medis. Aku masih sangat kaget. Sore itu
juga, namaku dikenal dan diakui banyak orang, alatku ingin dibuat dalam bentuk
banyak yang akan dibagikan pada seluruh masyarakat, dan 97 persen dinyatakan
akurat.
Sore itu juga, senja
yang sama,senja keseribu dalam hidupku,langit benar benar mempesona,matahari
beranjak pergi,tenggelam di ufuk barat sana,namaku masuk di dalam berita,para
dokter berterimakasih kepada harapan baru ditengah pandemi yang
kuciptakan,apakah ayah disana juga akan tersenyum kepadaku? Aku
menangis,pertama kalinya sesudah ayah pergi. Ayah, aku tidak akan kalah dari
virus ini,dan apapun yang akan menghalangiku, Jora tidak akan berubah menjadi
gadis malas. Aku tersenyum pada langit yang sekarang terlihat sangat menawan.
Matahari beranjak
terbit di ufuk timur sana, pagi yang indah menyapaku, langit biru terbentang
luas diatas sana. Burung-burung mulai bersahut-sahutan. Aku mengikat rambut
ikalku, membereskan buku-buku belajarku,dan tersenyum.
Ibuku memanggilku
dengan girang, melihat namaku tertulis di televisi. Aku tertawa kecil lalu meminta izin kepada ibuku untuk
membagikan masker kain lagi karena hari ini aku tidak mengikuti pembelajaran
daring. Saat ingin bersiap membagikan masker, sekawanan remaja 15 tahun
menghampiriku. Masing masing mereka membawa satu kotak masker kain. Aku
tersenyum walau bingung. Apa namaku di televisi sudah memotivasi mereka?
“Jora kan? Kami akan
membantumu” Ujar seorang gadis berjaket ungu.
Aku tersenyum dan
mengangguk. Kami akhirnya bersama sama membagikan masker kain di jalan. Lalu
kami sepakat membuat komunitas perkumpulan remaja untuk membantu masyarakat
yang kesusahan ditengah pandemi. Dan mendapat respon bagus dari pemerintah
hingga akhirnya kami diberi biaya yang lebih banyak untuk berbagi sembako dan
masker pada yang tidak mampu. Komunitas
ini berjalan lancar dan benar benar memotivasi generasi muda lainnya.
Orang-orang mulai
membawa kartu masing-masing, kartu hasil ideku sudah di produksi dan dibagikan
oleh masyarakat banyak, kartu itu dinamakan Joradetector,
diambil dari namaku. Aku mendongakkan muka ke langit, hujan, aku bergegas
pulang ke rumah, meminta izin pada anggota komunitas lain dan pergi. Langit
mendung dan gelap, tapi hatiku terasa riang, cepat sembuh bumiku.
***
Kembali ke masa sekarang,
Aku kembali tersadar dari sebuah lamunan panjang, saat ini, corona virus bukan lagi virus yang mewabah, melainkan penyakit biasa yang umum di alami manusia, ekonomi kembali normal, bumi sudah sembuh, aku mengikuti jejak ayahku, menjadi garda terdepan. Aku teringat sesuatu, dengan berlari kecil aku memasuki gudang rumahku dan menemukan kartuku. Kartu yang dulu pernah membuat seorang Jora kecil diakui banyak orang, dan memiliki pesona indah atas giat kerjanya sendiri.
PENANTI SANDYAKALA
Deburan
ombak yang begitu tenteram, secara perlahan menelisik gendang telingaku.
Sembari menyaksikan hangatnya semburat tipis langit jingga, yang tampak terbentang dengan tenang di atas sana. Teriknya sinar
matahari yang juga seakan ikut terasa teduh akibat terpantul buaian air pantai.
Tanpa sadar, semua itu benar-benar melenakan pandangan.
Siang
menjelang petang yang indah, sangat disayangkan untuk sekedar dilewatkan.
Sejujurnya, aku di sini tidak sendiri. Tentu saja ada cukup banyak pengunjung
yang hilir mudik kesana kemari. Tidak mungkin pula jika aku terduduk seorang
diri, menikmati kesunyian di sore hari. Di tepian pantai, membersamai irama air
yang terus menerus berayun.
Tidak,
maksud ku tadi hanya bercanda. Pada kenyataannya, aku memang tidak sendiri
untuk pergi bersantai kesini.
Lihatlah,
sekiranya berjarak lima meter di depan ku. Dengan tubuh rampingnya yang tengah
menghadap ke satu arah yang sama, secara tidak langsung terlihat sedang
membelakangi ku. Entah apa yang saat ini ia lakukan, satu hal pasti bahwa ia
sedang menundukkan kepalanya.
Suasana
yang amat sangat menenangkan untukku, namun bisa saja tidak untuknya. Meskipun
begitu, aku berusaha percaya padanya. Sebab ia yang lebih dulu mengajakku
kesini. Setelah sekian lama tak lagi menginginkan sepasang kakinya untuk
menapak kembali ke tempat seperti ini. Lalu, entah angin apa yang akhirnya
memutar balikkan keinginannya itu.
*****
Kejadian
dua tahun yang lalu, ku rasa masih sangat melekat pada ingatannya. Meski ia telah
berusaha, untuk melupakan dan berdamai dengan masa lalunya. Namun kenyataannya,
semua kejadian menyenangkan hingga menyakitkan dalam hidup. Tidak semua dapat
dengan mudah kita kendalikan begitu saja. Butuh proses, dengan waktu yang tidak
dapat kita ketahui.
Perlahan
aku menghampirinya, dan menepuk pelan pundaknya dari belakang. Ia pun sedikit
menggeser tubuhnya, seraya menatap sekilas wajahku. Ya hanya sekilas, hanya
sesaat. Tidak sempat ku lihat dan ku tatap dengan jelas, bagaimana raut
wajahnya.
Hitungan
persekian detik, setelah aku mencari kenyamanan untuk duduk.
Terdengar
helaan napas yang keluar dari mulutnya. Selanjutnya, aku hanya melihat jari
jemari yang sedang mencoret-coret asal hamparan pasir di depannya. Dan kali ini
juga, aku masih belum mengerti apa yang tengah ia rasakan, begitu pula apa yang
harus ku lakukan..
“Kak”
panggilnya secara tiba-tiba. Tanpa mengalihkan atensi nya, pada pasir-pasir
yang saat ini tengah ia genggam.
Aku
hanya menoleh, mencoba fokus pada setiap kata yang tampaknya ingin ia utarakan.
Semakin aku menunggu, semakin cepat pula rasanya waktu berjalan.
“Ya,
ada apa?” tiga kata dariku yang akhirnya terucapkan.
Itu
pun hanya dibalasnya dengan gelengan kepala dan helaan napasnya.
“Bukannya
bakal lebih tenang kalo di keluarin?” kataku.
“Lagi
pula, kalem gini bukan kamu banget” sambung ku lagi.
Nah!
baru juga ku katakan. Cengiran itu perlahan terbit, walau lambat laun kembali
menciut. Tidak mengapa, mungkin saja ia masih butuh jeda, untuk benar-benar
mengatakannya.
“Kalau
suka ya biasa aja. Dan kalaupun ga suka, yaudah jangan sampai terlampau ga
suka” katanya. Seakan meniru gayaku saat sedang menasehatinya.
Aku
berdehem, membenarkan sekaligus mengindahkan perkataanya. Bersamaan dengan
semilir angin, yang tengah menerpa rambutnya dan rambutku. Mengisi kekosongan
dialog di antara kami.
“Rasanya,
baru sekarang aku mengerti. Antara ditarik dan diulur keberanian yang ku punya.
Dulu ku kira, pantai dan seluruh teman temannya sama sekali ga bisa ditolak
pesonanya.” Ia menarik, dan menghembuskan napasnya kembali.
“Tapi
setelah kejadian itu, pandangan ku tentangnya seketika sirna. Masih ga nyangka
si, kalau air yang keliatannya tenang, emang bener ya tanpa sadar bisa
menghanyutkan. Seketika tampak seram dan kelam” ucapnya. Seraya menampilkan
ekspresi bergidik ngeri.
Sedari
tadi aku hanya mendengarkannya. Tanpa menyela bahkan menyanggah perkataannya.
Ia yang juga sepertinya masih ingin menyuarakan perasaannya, sengaja ku biarkan
bersuara.
“Dan
ternyata, apa yang pernah kakak bilang emang bener ya. Segala sesuatu yang ada
di dunia ini, sangat memerlukan keseimbangan kita. Kalau di pikir-pikir, udah
seharusnya kali ya. Pas kita ngeliat sesuatu hal, harusnya ga cuman dari satu
arah dan satu sisi doang. Ga seharusnya deh, kita menilai semua itu cuman dari
satu sisi aja, terus cepet-cepet nyimpulinnya sendirian.”
Aku
pun tersenyum, mendengar penuturan panjang yang keluar langsung dari mulutnya.
“Hm,
ada perumpamaan yang lebih sederhana nih” ucapku. Sembari menggapai ranting
kecil yang tergeletak di dekat ku.
Ia memutarkan seluruh tubuhnya, hingga
sepenuhnya menghadap ke arah ku. Lalu perlahan, mulai ku kikis hamparan pasir
yang berada di antara kami. Menghasilkan dua goresan lengkung berbentuk angka
enam. Berulang kali sengaja ku tebalkan garis pinggirnya, supaya terlihat jelas
dengannya yang sedang duduk di seberang ku.
“Ayo
coba lihat! Kalau dari sana, keliatannya angka berapa?” tanyaku menggebu.
“Sembilan-kan?”
jawabnya, merasa pasti di awal. Namun tak lama kemudian tampak ia ragukan.
“Sembilah
dari sini dan juga enam dari sana..”
Dengan
cepat aku mengangguk. Entah ia sudah mengerti, akan mengarah kemana
perbincangan ku kali ini. Atau masih belum sadar, jika hal ini bisa saja
menjadi inti penutupnya.
“Yaa
bener banget, baru juga goresan kecil kaya gini. Tapi kalau kita ngeliatnya
cuman dari satu sisi aja, hasilnya bakal jauh beda kan ya. Gimana kalau segala
sesuatu di kehidupan ini, mencakup dunia beserta isinya. Eh ga, benda tiga
dimensi aja dulu. Pas kita ngeliatnya cuman dari salah satu sisinya. Sedangkan
orang lain juga punya sudut pandang yang lain. Apa kamu yakin untuk tetap dan
terus mampu bertahan sama satu sudut pandang itu tadi?”
“Ga
perlu di perjelas lebih dalem. Karena setiap kita, punya caranya sendiri untuk
nangkep berbagai makna juga pelajaran di setiap kejadian. Tapi satu hal yang
penting banget buat kamu inget, sekalipun luasnya air itu—” jari telunjukku
yang mengarah tepat ke depan sana.
“Yang
emang ga bisa dipungkiri, karena udah buat kamu takut setengah mati. Tapi dari
itu, seharusnya kamu ga boleh lupa. Kalau setelahnya, sadar ga sadar kamu jadi
punya nyali, begitu juga tingkat waspada yang lebih tinggi dari sebelumnya.”
“Suasana
yang terasa jadi semakin seimbang, itu juga bagian dari pembahasan kan?”
balasnya dengan pertanyaan.
“Rasanya
waspada dan kehati-hatian terus mengitar di benakku. Meski rasa terpana itu
masih akan selalu menduduki posisi pertamanya. Mwehhe..”
Aku
terkekeh, lelucon asal darinya, bisa saja membuat mataku sipit bahkan hampir
mengeluarkan airnya. Isi dalam perut melilit tak jelas, dan tawa yang terdengar
tersentak-sentak. Sebab apa lagi jika bukan karena muka konyolya itu. Mungkin
kalau ingn jujur saja, ia terlalu menggemaskan et—tidak apa tadi katanya? Oh tentu
saja teman semua khilaf
mendengarkannya.
“Oh
manusia, lihat lah awan itu” teriaknya tiba-tiba sambil menepuk brutal badanku.
Yap,
itu dia. Gadis yang baru saja ku sadari, bahwa nyatanya ia sudah tak lagi
menjadi bocah. Sedang maju dan memundurkan tubuhnya, seakan menjadi fotografer
yang handal. Sibuk berlarian kesana kemari, guna memperlihatkan hasil
jepretannya kepada ku.
Segera ku pandangi dengan seksama, bergantian menatap paparan langit bersemburat merah. Yang benar-benar tampak indah. Ancang-ancang matahari terbenam pun, juga ku rasa tidak akan kalah indahya dari penampakan langit saat ini.
KUPU-KUPU DI NEGERI HITAM PUTIH
Orang-orang
berlarian. Berlindung dari amarah yang sedang terjadi. Amarah tanpa alasan,
membabi buta. Sekelompok orang mengusir orang berkulit hitam. Menyuruh mereka
pergi dari desa itu. Dengan alasan mereka bukan penduduk asli desa. Bisa
dibilang karena mereka berbeda. Sekelompok orang itu kesal, karena orang-orang
hitam tidak mau pergi juga.
Malam
itu mereka melakukannya dengan kasar. Mengusir mereka secara paksa. Api
membumbung, menjalar di rumah-rumah. Orang- orang berkulit hitam itu melawan.
Membuat pertengkaran. Dan saling pukul. Anak-anak dan wanita bersembunyi.
Seorang pemilik toko berbaik hati menjadikan tokonya tempat berlindung bagi
anak-anak dan wanita. Kericuhan sedang terjadi.
Tidak
hanya terjadi di desa mereka. Dunia juga sedang terjadi huru-hara. Perbedaan
yang membuat terpecah. Kelompok ini dan kelompok itu. Berpisah, saling beradu.
Sampai terjadi penjarahan yang tidak perlu. Malam itu, sekelebat cahaya muncul.
Cahaya itu kecil lalu kemudian semakin cerah dan berpencar. Dengan cepat,
cahaya itu menyebar ke seluruh dunia.
Menyilaukan mata. Dan saat orang-orang membuka mata mereka kembali,
warna di dunia telah lenyap. Tidak tersisa. Lalu mereka bertanya, untuk apa
membedakan saat semua warna mereka sama. Hanya hitam dan putih.
***
Aku
berjalan lesu. Sembari melihat-lihat hasil fotoku. Membosankan. Semuanya
terlihat sama saja. Hanya hitam dan putih. Tidak ada objek lain yang menarik.
Aku masuk ke toko peralatan petualang. Toko ini sudah jadi langgananku. Aku
suka berpetualang, dan aku suka memotret. Dengan berpetualang aku melihat
hal-hal menarik, dan aku suka memotretnya untuk mengabadikannya. Jika beruntung,
aku bisa menjualnya.
Aku
duduk di kursi. Menunggu pemilik toko datang. Kali ini, aku tidak ingin membeli
peralatan. Aku hanya ingin mengobrol dengan pemilik toko. Aku dekat dengan
pemilik toko ini. Namanya Gugum. Umurnya sudah kepala empat. Dulu, saat dunia
masih berwarna dan saat kericuhan itu terjadi, dia yang menyelamatkanku. Aku
yatim piatu sedari kecil, aku tidur di toko ini. Pak Gugum berbaik hati
memberiku tempat tinggal.
Pak
Gugum muncul. Mendekatiku yang duduk menunggunya.
“Kau
bukan ingin membeli barang heh? Apa yang ingin kau bicarakan?” Pak Gugum
memberiku secangkir kopi.
Aku
menyeruputnya. “ Yah, aku hanya bosan dengan dunia yang seperti ini. Aku bosan
berpetualang tanpa melihat hal baru. Dahulu orang berpetualang berharap bertemu
hutan yang hijau, daun-daun yang gugur, mengering, sungai yang jernih,
burung-burung cantik, tersesat di adiwarna alam yang memabukkanmu di dalamnya.
Sekarang yang kulihat hanyalah hitam dan putih.”
Pak
Gugum menyeruput kopinya. Terdiam sebentar. “Kau mau melihat sesuatu yang luar
biasa. Ke tempat yang belum pernah dikunjungi siapapun.”
Aku
mengangguk dengan bingung. Semakin bingung ketika Pak Gugum menutup pintu toko
dan memasang tulisan ‘tutup’. Menutup semua jendela, mematikan lampu, mengambil
korek dan menyalakan lilin. Mengangkat pot dan mengambil kunci yang ada di
bawahnya. Lalu membuka laci, dan mengambil sebuah gulungan. Gulungan itu ia
bentangkan di hadapanku. Aku terpana. Gulungan itu berwarna coklat dengan
bercak menguning. Tidak berwarna hitam putih. Gulungan itu, menunjukkan sebuah
jalan. Astaga! Ini sebuah peta. Peta ajaib!
“Kau
lihat, peta ini?”
Aku
mengangguk. Masih terpana.
“
Peta ini adalah jalan menuju pulau. Oh, bukan pulau biasa. Menuju pulau
berwarna. Satu-satunya warna yang tersisa di dunia ini. Aku menemukan kertas
ini jauh sebelum dunia ini hitam putih. Petualangan ini sangat berbahaya, dengan
pemandangan yang mendebarkan. Jauh dari peradaban. Kau harus menyiapkan
semuanya jika ingin pergi ke pulau ini.”
Tentu.
Aku sangat ingin pergi ke pulau ini. Aku perhatikan dengan seksama lagi peta
ini. Ah.. jauh dari peradaban dan sangat berbahaya kata Pak Gugum. Lihatlah,
ini hanya memerlukan 3 hari perjalanan dengan berjalan kaki. Pak Gugum suka
mendramatisir sesuatu. Aku hanya menggeleng pelan. Baiklah. Aku akan menyiapkan
semuanya.
***
Aku
beristirahat sejenak. Pulau itu sudah dekat. Aku duduk selonjor. Menatap
sekitar. Sampai pandanganku terpaku pada sesuatu. Kupu-kupu. Tidak, bukan
kupu-kupu biasa. Kupu-kupu
itu memiliki motif yang cantik
dengan warna hijau dan biru. Bukan hitam putih. Aku mengambil kamera. Perlahan,
aku mendekati kupu-kupu itu. Setelah lumayan dekat, aku memencet tombol di
kamera. Cekrek.
Ah!
Kupu-kupu itu kabur. Aku mengejarnya. Mengikutinya. Melihat kupu-kupu itu
sambil berlari melewati bebatuan dan rumput-rumput tinggi. Setelah berlari
jauh, aku kehilangan kupu-kupu itu. Ah, sial. Sekarang apa? Aku tidak mengenali
jalan ini. Namun, aku melihat ada mata air. Mungkin aku bisa meminumnya.
Aku menghampiri mata air itu. Meminumya. Aku
tersedak. Astaga! Aku terkejut sekali melihat warna airnya. Air itu mengalir
menjadi dua aliran. Satu aliran dengan warna pelangi. Unik sekali. Tunggu,
sepertinya ada sesuatu di balik mata air ini. Aku menyibak tanaman liar yang
menutupi di belakang mata air.
Wow!
Ini, inilah pulau itu. Pulau yang dimaksud Pak Gugum. Pulau ini sangat
berwarna. Dengan warna-warni bunga. Dan hijaunya pohon serta sungai indah yang
berwarna pelangi. Aku melihat apel yang ranum. Dengan warna merah yang sangat
menggoda. Perutku berontak. Aku menggoyangkan pohonnya, apel jatuh, aku menggigitnya.
Manis. Ini enak sekali. Akan ku bawa beberapa untuk Pak Gugum. Aku mengambil
kameraku. Memotret pulau ini. Untuk
menyimpannya sebagai tempat yang paling luar biasa. Aku harus memberitahu Pak
Gugum kalau aku berhasil menemukan pulau ini.
***
Tunggu.
Foto itu, foto yang kuambil saat di pulau berwarna itu. Dimana itu berada? Baru
saja aku ingin menunjukkannya pada Pak Gugum. Aku menelusuri jalan yang tadi
aku tempuh. Barangkali foto itu jatuh.
“Hey,
kau mencari ini?” seseorang menghampiriku. Menunjukkan sebuah foto.
“Ah,
Jen. Benar, foto itu milikku.” Celaka, foto itu ada di Jen. Aku ceroboh sekali.
Sepertinya foto itu jatuh dan diambil olehnya.
“
Dimana kau mengambil foto ini? Tempat ini indah sekali kawan, dan sangat
berwarna. Pulau ajaib kah?” Jen menjauhkan foto itu. Mencegahku mengambilnya.
“Berikan!”
“
Apakah ini peta menuju pulau ajaib itu?” Jen menunjukkan gulungan berwarna
coklat, dengan bercak kuning.
Bodohnya
aku. Peta itu jatuh di tangannya juga. Aku sudah tahu apa yang akan dilakukannya.
“
Aku akan pergi ke tempat ini. Menemukan sungai pelangi. Menimba air sungai, dan
membawa air itu ke desa ini. Menemukan cara untuk memulihkan desa kita dari
warna hitam putih.” Jen menatapku dan tersenyum menang.
“Kau
gila. Menimba air dan membawanya ke desa? Itu tiga hari perjalanan pulang-pergi
yang melelahkan. Melewati bebatuan dan rumput-rumput tinggi. Air itu akan
tumpah di perjalanan, dan saat kau kembali kau hanya akan membawa tong kosong.”
“Aku
kuat tidak sepertimu, lemah. Aku mempunyai otot. Aku dan teman-temanku akan
membawa air ajaib itu kemari.” Jen meninggalkanku. Menghampiri teman-temannya
dan menjelaskan rencananya dengan berapi-api.
***
Aku
menghela napas. Jen mendapatkan air itu. Menunjukkannya padaku air ajaib itu.
Aku tidak tahu apa yang dia rencanakan. Aku sedang duduk di toko peralatan. Pak
Gugum melihatku yang sedari tadi melamun. Ada beberapa orang di toko ini.
Kadang toko ini memang sering dipakai untuk tempat berkumpul.
“Apa
yang tengah kau pikirkan?” Pak Gugum memecah lamunanku.
“Eh,
ya. Kau membuatku terbangun.” Aku menyeruput kopi.”Aku…sedang memikirkan apa
yang akan dilakukan Jen selanjutnya. Apakah ia akan cukup dengan air ajaib itu?
Atau dia menginginkan yang lebih. Mengeruk pulau itu lagi dan lagi. Tapi, Jen
telah banyak berubah. Kurasa dia hanya ingin mengubah dunia kembali normal.
Dunia hitam putih membuatnya banyak berpikir. Yah, aku tidak tahu juga. Sifat
orang cepat berubah,”
Terdiam.
Hening sebentar. Satu orang menyentil kesunyian.
“
Kau tahu? Aku juga tidak senang dengan perbuatan mereka. Mereka seperti serakah
sekali. Ingin memiliki semuanya, padahal apa, saat warna itu ada, mereka
menyalahkan kita, mengatakan bahwa kita adalah warna yang tidak seharusnya ada.
Warna itu berkumpul dengan warna itu. Jika semua terlihat sama, untuk apa warna
itu ada”
Hening
lagi.
“Mengapa
kalian melawan perbuatan itu?” Pak Gugum menyela keheningan.
Semua
pandangan tertuju pada Pak Gugum.
“Mengapa
kalian tidak mendukungnya? Bukankah itu hal yang baik? Mereka ingin
mengembalikan warna itu. Mengubah dunia menjadi berwarna kembali, cerah, dengan
warna-warni kehidupan. Mengapa kalian menentangnya? Mengatakan mereka akan ini
mereka akan itu. Sudah 10 tahun berlalu, dunia hitam putih saja. Kalian tidak
ingin semua kembali normal?”
“Tapi ketika dunia kembali normal, mereka akan
melakukan hal yang sama. Membeda-bedakan lagi, memisah-misahkan lagi.” Bantah
seseorang.
“Kalau
begitu inilah kesempatannya. Kalian bisa bekerja sama. Menyatukan lagi warna
itu, membuatnya indah kembali.”
Terdiam
cukup lama. Lalu, satu-persatu wajah mereka mulai menunjukkan dukungan.
Persetujuan untuk bekerja sama. Harapan bahwa warna itu masih ada. Akan
bersinar pada waktunya.
***
Kerja
sama itu dimulai. Setelah beberapa perbincangan berat, kami sepakat untuk bersama
menemukan cara untuk mengubah dunia kembali normal. Seluruh desa membantu. Kami
menimba air sungai, melakukan percobaan dengan cara menanam bibit hitam putih
di tanah ajaib itu. Merawatnya. Jika gagal dengan tanaman itu tetap berwarna
hitam putih, kami lakukan lagi. Menanam lagi, merawatnya lagi. Menyiramnya
dengan air ajaib.
Dengan banyak tanaman yang gagal, ada satu
yang tetap bertahan. Terus tumbuh setiap hari, warnanya pun berbeda. Hijau
dengan batangnya yang coklat. Hari esoknya lagi pohon itu menumbuhkan bunga.
Kami sangat bersemangat. Tanaman ini tumbuh dengan luar biasa. Melewati masa
tumbuh yang seharusnya. Kami merayakannya dengan bersantai di pulau. Berendam
di sungai ajaib, dan menikmati apel ranum. Rasanya nyaman dan menyenangkan.
***
“Siapa
yang mencabut tanaman ini?!” Jen berteriak dengan sangat marah.
Baru
saja kami sampai di pulau berwarna, ingin melanjutkan merawat tanaman itu, yang
ingin dirawat telah rusak tercabut hingga akarnya. Semuanya hanya terdiam
dengan pandangan kecewa. Menatap tanah, kosong.
“Baiklah
Jen, kau jangan emosi dulu. Masalah ini tidak dapat diselesaikan dengan panas,”
aku mencegah Jen yang hendak mengamuk.
“Pelakunya
ada di antara kalian kan?!” Jen mulai menuduh.
“Hey,
jangan asal tuduh kau!”
“Apa?
Dari awal, kalian tidak mendukung ini dilakukan kan? Menentang kami,
membicarakan di belakang. Pengecut!”
Buk! Satu
orang memukul Jen. “Jangan sembarang kau!”
Jen
yang tidak terima balas memukul. Yang lain membelanya, memukul yang lainnya.
Wanita dan anak-anak berteriak histeris, menghindari gerombolan sebelum
bertambah parah, dan terkena imbasnya. Buk!
Aku terkena salah satu pukulan. Sakit. Aku harus keluar dari pertengkaran
ini. Menyibak orang-orang yang ganas menyerang.
“
Hiks…huaaa, tolong…” aku mendengar tangisan anak kecil. Sepertinya dari
pertengkaran itu.
“Berhenti!
Berhenti semuanya!” aku mencoba menghentikan pertengkaran.
Mereka
tetap saling memukul, mendorong. Baiklah, sekarang apa yang aku lakukan. Anak
kecil itu ada di dalam pertengkaran, tidak bisa keluar. Aku menarik napas
panjang.
“Semuanya,
BERHENTI!” aku berteriak sekuat tenaga.
Pertengkaran
terhenti. Pandangan mengarah padaku. Aku segera mencari anak kecil itu. Ketemu!
Anak itu sedang meringkuk ketakutan, menangis. Aku menggendongnya. Ada banyak
luka. Sepertinya dia tertindih.
“Ini,
inilah hasil pertengkaran kalian! Hanya membuang waktu. Ayo kita kembali ke
desa. Mengobati yang terluka,”
Aku
mendekati seorang wanita, ia adalah dokter di desa kami. Memberikan anak itu
padanya. Wanita itu mengobati anak itu dengan peralatan seadanya. Setelah
keadaan anak itu membaik, kami semua kembali ke desa. Dengan kembali terpecah.
***
Aku
menatap pulau ajaib. Masih dengan warnanya yang cantik. Namun aku tidak
bersemangat lagi. Aku duduk di tanah, merentangkan tanganku, menyentuh rumput
basah. Terpaku pada sebuah bunga. Sebentar, awalnya bunga itu berwarna. Sekarang,
warna dari bunga itu seperti di gerogoti. Mulai hilang dari kelopaknya lalu
berlanjut ke daunnya.
Aku
mengerti, bukan air ajaib itu yang membuat warna itu ada, atau pun pulau ini.
Bahkan pulau ini hanya pulau biasa. Tetapi saat bersatu. Warna itu ada.
Berpencar, perlahan menyebar indah.
Aku
memotret bunga itu. Lalu kembali ke desa.
***
“Jen, aku perlu bicara denganmu.
Dengan kalian semua”
Aku mengumpulkan seluruh orang di
desa. Mengajak semua bicara.
“Tak ada lagi yang perlu
dibicarakan,” Jen tampak acuh.
“Sampai kapan kita seperti ini
terus?”
“Sampai pelaku yang mencabut seluruh
kerja keras kita tertangkap” Jen menjawab.
Ah..dia bahas masalah itu lagi
“Hey, Jen aku sudah tahu siapa
pelakunya. Pelaku yang membuat dunia hitam putih. Kita. Itu adalah kita kawan,
tidak ada yang namanya pahlawan jika semuanya saling menyalahkan. Aku pun sama
bersalahnya. Aku pengecut. Tidak pernah mau bekerja sama. Membiarkan kita terus
hidup seperti ini.”
Jen terdiam. Begitu juga yang
lainnya.
“Kita berbeda dengan orang kota,
kawan. Kita punya kesempatan. Kita menemukan pulau itu. Kita semua pikir, pulau
itu ajaib. Tidak, pulau itu hanya pulau biasa. Aku baru menyadarinya. Warna itu
bisa hilang di pulau.Inilah buktinya.” Aku menunjukkan foto bunga yang setengah
berwarna. Semua melihatnya. Lantas terdiam.
“
Kerja sama kita lah yang ajaib. Persatuan kita yang membuat warna itu. Indah
bagai sihir. Menakjubkan sekali
rasanya,” aku mengambil jeda. “Mari kita lanjutkan apa yang telah kita mulai.
Perbaiki warna itu dan menyatukannya.”
Termenung.
Ada yang menatap tanah, menatap langit, lalu mereka mulai saling tatap. Tatapan
untuk menyakinkan. Untuk melanjutkan lagi yang telah dimulai. Dan satu orang
meningkatkan gelora itu.
“Nah,
ayo kita mulai bekerja lagi!”
“Ayo!” “Ayo!”
Kami
tersenyum lantas tertawa. Saling bertepuk bahu.
Mulai bekerja lagi. Kali ini, bukan
untuk mendapatkan warna itu. Biar warna itu yang mendapatkan kita. Kali ini
kami membenahi desa. Memperbaiki fasilitas yang rusak. Memasang lampu di setiap
jalanan. Menerangi desa saat malam. Membuat tempat bersantai untuk berkumpul.
Menanam bersama. Padi, jagung, apel, kami tanam semua. Lantas saat panen kami
memasak bersama. Menyantapnya bersama. Menikmati pemandangan hitam putih.
***
Desa kami makin indah. Nyaman dan
menakjubkan. Tidak ada lagi membeda-bedakan. Untuk segera tahu kalau kita satu
kesatuan. Anak-anak bermain saling berkejaran. Orang dewasa duduk menikmati
makanan. Ibu-ibu menjaga anaknya tetap aman.
Perlahan-lahan warna itu mulai
menyebar. Merayap dari pulau itu hinggap di desa kami.
Aku
melihat anak-anak yang berlari mengejar sesuatu. Kupu-kupu. Mereka mengejar
kupu-kupu cantik dengan warna hijau dan biru. Sepertinya aku mengenali
kupu-kupu itu. Dimana aku pernah bertemu? Kupu-kupu itu terbang ke arahku.
Hinggap di jemariku. Cahaya muncul. Menyilaukan, cahaya itu berpencar memecah.
Menyebar ke seluruh dunia.
Perlahan,
aku membuka mata. Warna. Aku melihat warna. Melihat tubuhku, kulitku yang
berwarna hitam dan bajuku yang berwarna coklat, sepatuku yang hitam mengkilap.
Dan seluruh desa yang diterangi dengan lampu warna-warni. Semuanya tersenyum
senang. Tertawa bahagia. Berseru riang. Warna itu telah kembali.
***
“Kau
berhasil nak,” pak Gugum menepuk pundakku.
Aku
tersenyum. Melihat desa yang dipenuhi lampu berwarna-warni. Dimana jalanan
menghidupi malam.
“Tidak.
Kita, kita semua berhasil.” Aku membalasnya.
Pak Gugum balas tersenyum.
Inovasi Media Pembelajaran Berbasis Android
PEMBELAJARAN IPA TERINTEGRASI ETNOSAINS Kurikulum merdeka belajar memiliki empat karakteristik utama untuk mendukung pemulihan pembelajaran ...
-
Masih ingatkah pelajaran IPS kelas 6 SD dulu, sungai apakah yang terpanjang di pulau Sumatera? Jika kalian menjawab sungai musi di sumatera...
-
Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh. Selamat Pagi teman-teman semua. Apa kabar semuanya? Semoga dalam keadaan sehat wal afiat. AA...
-
HARU BIRU, HARI GURU DI SMANDA Hy sobat bloggers, kalian tahu kan Guru merupakan pahlawan tanpa tanda jasa. Guru memberikan segudang...